Belajar Konsistensi dari Seth Godin

Sumber : Google

Sumber : Google

Setiap kali gue melihat profil seseorang atau mendengar presentasi dan ceramahnya atau membaca tulisannya maka hal pertama yang gue lakukan adalah mencari blog orang tersebut. Gue percaya bahwa kualitas seseorang dapat dilihat dari kualitas tulisannya. Itulah mengapa gue sangat menyayangkan jika mendapati orang-orang hebat tanpa keberadaan blog atau website sebagai etalase ide mereka.

Kemarin sore gue iseng-iseng blog surfing ke beberapa alamat yang sudah jarang dikunjungi. Ada blognya Goenawan Mohamad, Ustad Hamid Fahmi Zarkasy, Dan Ariely hingga blog miliknya Seth Godin. Sebenernya gue agak ragu buat berkunjung ke blog yang gue sebutin terakhir karena firewall internet kantor sempat secara anarkis dan tanpa konfirmasi dulu (lah, siapa gue?) memblokir blog tersebut. Jangan tanya alasan pemblokiran yang dilakukan. Sejatinya blog milik Seth Godin tidak mengajak orang bergabung dengan ISIS. Tidak berisi barang-barang jualan onlen. Juga tidak ikut memberikan opini terkait kericuhan penutupan warung makan di serang. Catet itu ya wahai kalian Divisi IT kantor gue!.

Sudah pernah tahu Seth Godin?

Gue pertama kali mengenal pria berkepala plontos ini melalui videonya di TED dengan judul ‘How to Get Ideas to Spread’. Videonya menarik dan masih menjadi salah satu favorit gue bersama dengan video milik Dan Ariely dan Sir Ken Robinson. Dalam presentasinya ia memaparkan bagaimana ide dapat tersebar dan mengklasifikasikan tipe-tipe orang berdasarkan kemampuan mereka menyebarkan dan menerima ide.

Selain melalui video, gue juga mendapati Seth Godin sebagai seorang bloger. Blognya banyak berisi tentang trik-trik marketing, organisasi, serta petuah-petuah kehidupan yang dikemas dengan bahasa singkat dan sederhana.

Setelah puluhan kali mampir ke blognya gue baru sadar bahwa ada hal unik yang ia coba kemukakan. Seth Godin sangat rajin memutakhirkan (update) blog yang ia asuh. Sepanjang pengetahuan Aliando, ia adalah salah satu bloger yang mengisi blognya hampir setiap hari.

Setiap hari?

Iya. Setiap hari.

Tiada satu hari pun ia lewatkan tanpa meramaikan blognya dengan konten. Kegiatan ini sudah dilakukan sejak awal blognya bergulir, sekitar tahun 2002. Sebuah aktifitas yang bahkan lebih sulit daripada menunggu nobita naik kelas. Emezing.

Memang, artikel yang dihasilkan sebagian besar berupa mini post alias tulisan-tulisan pendek. Tapi mini post yang berarti dan memiliki impak yang besar jauh lebih heits dibandingkan tulisan gue yang panjang sampe mars namun sering kali nir makna.

Mungkin Kalian bisa bilang ‘ah, kalo tulisan pendek kayak gitu mah gue juga bisa’. Nyinyir-an tersebut persis dengan para pelaut yang menghina Colombus sepulangnya ia dari berkelana menemukan amerika.

Atau berseru ‘ah gue kan sibuk. Mana mungkin bisa ngeblog sebanyak itu’.

Ketahuilah wahai kawan, Seth Godin itu bukan seorang bloger an sich. Ia juga entrepreneur, marketer, penulis hingga public speaker. Lha sampeyan itu apa? Bloger sekaligus Batman yang tiap malem kudu keliling Gotham City buat membasmi Joker, Penguin dan konco konconya?.

Alesan sebenar-benarnya mengapa kita, yang mendaku diri sebagai bloger, tidak bisa rajin nge-blog dan meninggalkan tulisan adalah karena kita miskin pengalaman dan ide. Seth Godin tidak sekedar ‘rajin’ menulis karena kalo sekedar rajin kita bisa menemukan ratusan blog abal-abal yang isinya copy-paste blas. Selain rajin, ia pun memikirkan konten yang sesuai dengan kapasitasnya. Istilah temen gue blognya memiliki niche-nya sendiri.

Seth Godin bisa dengan luwes membagi ide-idenya lewat blog, menurut gue, disebabkan juga oleh blog yang ia asuh bukan blog berbayar. Sehingga ia bisa tetap mempertahankan idealismenya dalam menulis tanpa takut ide-ide tersebut dipasung atau diarahkan oleh pihak sponsor.

Gue mencoba membandingkan blog Seth Godin dengan blog personal lainnya

Seth Godin bisa menjadi contoh yang baik perihal konsistensinya dalam menulis. Gue mencoba membandingkan konsistensi tersebut dengan para bloger Indonesia. Ternyata hasilnya cukup mencengangkan. Misalnya saja blog Enda Nasution yang diklaim sebagai ‘bapak bloger Indonesia’. Tahun ini blog tersebut baru menggulirkan dua buah tulisan. Belum lagi jika menyebut nama bloger Ndoro Kakung atau Raditya dika yang digadang-gadang sebagai kiblat para bloger ternyata tidak mampu menghasilkan tulisan yang konsisten.

Sejauh ini blog personal, yang berhasil radar gue tangkep, yang menunjukkan kekonsistenan dalam menulis adalah blog asuhan Bapak Rinaldi Munir, Sang Dosen Teknik Elektro ITB itu. Belio acap kali mengulas berbagai hal dalam blognya meskipun memang tidak serajin Seth Godin.

Konsistensi adalah suatu bentuk sikap yang paling sulit dijalankan oleh umat manusia. Berapa banyak sih orang yang semangat di awal namun layu di tengah perjalanan. Tidak cuma masalah tulis-menulis. Tapi dalam banyak hal lainnya.

Konsisten dalam menulis seperti yang dilakukan oleh Seth Godin adalah contoh sikap yang wajib ditiru jika kita ingin terus menyebarkan ide kita lewat tulisan. Tidak mudah memang. Tapi Seth Godin menunjukkan bahwa ia bisa. Ia juga mengajarkan bahwa impak dari sebuah tulisan tidak melulu dipengaruhi jumlah kata namun lebih kepada isi.

Jika penasaran silahkan kunjungi blog belio di link yang sudah gue sertakan di atas.

Jika tidak penasaran maka kalian pasti tidak punya kapasitas menjadi ilmuwan. Bye.

Revolusi Mimbar

Sumber: Google

Sumber: Google

Gue rasa sebelum adanya diskursus mengenai revolusi mental, yang pertama kali kudu direvolusi adalah ceramah-ceramah di atas mimbar. Hasil riset gue selama bertahun-tahun menjadi pendengar setia ceramah di beberapa masjid tempat gue berburu tajil, Isi dan penyampaian ceramah masih itu-itu saja. Riset ini didukung oleh pengamatan sejenis dari acara-acara ceramah semi reality show yang saban hari nongol di TV. Itulah kenapa perlu adanya semacam gebrakan untuk memikirkan topik ceramah baru. Apalagi momennya bertepatan dengan bulan puasa. Ramadhan kan bulannya segala sesuatu berubah menjadi islami. Iklan di tivi mendadak syar’i, artis-artis berbondong-bondong menggotong semua kain lap, gorden hingga terpal untuk membungkus kepala bahkan broadcast di media sosial pun isinya tidak jauh-jauh dari nasihat ustad ini-itu, amalan saat ramadhan sampai contoh undangan berbuka puasa.

Konten ceramah kita perlu direvolusi. Jamaah sudah jenuh dengan tema-tema klasik. Belum lagi ceramah di tivi yang nampak terlalu didominasi oleh si miskin ilmu kaya popularitas.

Ceramah yang banyak beredar di masyarakat masih terlalu konvensional. Masih dengan gaya bahasa yang sama dan konten yang sejenis. Ceramahnya masih beredar tentang pentingnya menjaga diri dan keluarga dari apa neraka, jangan ghibah, serta tafsir yang tekstual pada ayat-ayat mutaghayyirat. Mentok-mentoknya membahas tentang jangan pilih pemimpin cina, kristen pulak.

Pola ceramah saat ini masih banyak terpengaruh oleh retorika (alm) Ust Zainudin MZ. Generasi yang paling baper dan melow, generasi 90-an, pasti setidak-tidaknya pernah mendengar ceramah da’i sejuta umat ini. Suara yang lantang, materi yang tepat sasaran hingga guyonan segar menjadi senjata andalan beliau sehingga setiap hari ada saja salah satu ceramahnya mengorbit.

Nah, sebagian dari ceramah yang beredar masih berupa replika dari penyampaian dan materi yang disampaikan oleh Zainudin MZ seolah belio Karl-Marx nya tausiyah di atas mimbar. Memang, dunia per-ceramah-an sempat diwarnai oleh kehadiran wajah lain semisal Aa Gym atau mendiang Uje. Tapi sangat jarang, jika tidak mau dikatakan nihil, penceramah yang mengadopsi gaya mereka berdua dalam beretorika apalagi materi sekelas manajemen qalbu. Berat, komandan!. Jadilah Zainudin MZ bertahan sebagai patron.

Mengapa ceramah menjadi penting dan berpengaruh besar pada akhlak dan keimanan seorang muslim?

Wii… cadas.

Jadi gini, dek. Zaman sekarang ini semua manusia nampak begitu sibuk. Di kota, penduduknya sibuk berpacu dengan waktu. Sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk memenuhi siklus gajian-bayar tagihan-bokek-gajian. Orang-orang desa pun tak kalah sibuknya. Mereka sibuk bertani lebih giat agar stok pangan tidak berkurang sehingga pemerintah berhenti impor, sibuk digusur lahannya buat dialih fungsikan menjadi pertambangan, bahkan saking sibuknya mereka bisa sholat tarawih (plus witir) 23 rakaat hanya dalam 10 menit. Zuper. Barry Allen aja minder.

Di tengah semua lelah menjadi bagian dari dunia yang semakin kapitalis, rohani yang kosong tidak jarang menjerit. Orang-orang yang mengalami kehampaan spiritual merasa perlu mendapatkan siraman rohani dan ceramah agama adalah salah satu solusinya. Karena sesungguhnya training ESQ itu mahal sementara ceramah agama bisa diperoleh dengan gratis.

Ceramah itu sifatnya lebih inklusif, terbuka, dan tidak mengkotak-kotak kan pendengarnya. Siapa saja boleh turut serta. Beda halnya dengan liqo, halaqoh atau ikut pengajian jamaah-jamaah tertentu yang menyekat-nyekat orang berdasarkan preferensi mazhabnya. Tidak pernah ada sejarahnya ceramah jumat di masjid kantor diinterupsi oleh orang-orang salafi yang bikin ceramah sendiri atau tiba-tiba Felix Siauw muncul buat ngasih ceramah tandingan tentang khilafah.

Mestinya ada semacam selebaran informasi untuk meyakinkan para santri, ulama, kyai dan urtis, ustad alias artis. Meyakinkan mereka untuk mengubah pola berceramah di masyarakat. Nampaknya itu lebih luhur ketimbang melobi pemerintah untuk memblokir google.

Oke lah, dalam tataran penyampaian kita bisa menemukan secercah harapan pada ustad Maulana. Gayanya yang enerjik meruntuhkan imaji seorang penceramah yang terhormat, bermaqom ma’rifat dan penuh wibawa. Tapi itu pun baru sebatas apa yang ditunjukkan bukan apa yang disampaikan. Materi ceramahnya malah menurut gue lebih bersifat nilai-nilai yang universal yang bisa kita dapatkan setiap kali menonton Golden Ways.

Ceramah bermuatan tafsir kontekstual tentang peradaban madani, fiqh prioritas, muamalat, halal kah bank syariah dibarengi kemampuan public speaking ala Anthony Robbins bisa menjadi cukup penting untuk membangkitkan kembali kesadaran umat. Bernostalgia dengan kejayaan islam masa lampau seperti kisah Avicenna atau Baitul Hikmah sudah tidak up to date. Canon medicine sudah tidak lagi menjadi acuan buku-buku kedokteran. Aljabar pun sudah semakin kompleks. Berpura-pura bahagia dengan kisah masa lalu dan pasrah ketika sadar umat dalam keadaan terpuruk di masa kini seharusnya tidak menjadi pilihan yang logis.

Dulu, Muhammad Al-Fatih sering didongengkan nubuwat nabi perihal sebaik-baik pasukan adalah yang menakulukkan romawi. Tapi tidak berhenti di situ. Sultan Murad II, sang ayah, acapkali mengajak Muhammad muda untuk melihat benteng romawi timur yang kelak akan dihancurkannya. Jadi perubahan peradaban tidak terjadi hanya dengan mengulang dongeng lampau tanpa ada muatan visi.

Memang dibutuhkan pengetahuan yang mendalam untuk membahas hal-hal se-spesifik demikian. Maka sudah sepatutnya pihak yang memiliki otorisasi meng-upgrade dai-dai tersebut dengan khazanah pengetahuan yang luas yang lebih kontemporer.

Tapi jika ceramah, apalagi yang dibahas di tivi, masih diisi oleh dai yang merecoki urusan anak muda dibingkai dengan reality show murahan maka nampaknya umat harus menunggu lebih lama untuk dapat menjadi pemimpin peradaban. Jangan lagi ceramah hanya menjadi pelengkap acara tarawih atau obat mujarab pengantar tidur. Mimbar-mimbar ceramah harus direvolusi. Bukan begitu, Pak Ustad?

Sarkasme Anak

Sumber : Facebook

Sumber : Facebook

Minggu malem kemaren, di sela waktu menunggu travel yang siap membawa gue dari Bandung menuju Jakarta, gue menyaksikan sebuah pemandangan nanar.

Kejadiannya begitu singkat. Sekejap setelah mata gue berpaling dari TV yang memutar Mars Perindo, gue melihat seorang anak berusia sekitar 8 atau 9 tahun tengah bermuka masam. Ia menggerutu, menggumam dan tak henti-hentinya menyimpul bibir pertanda sedang marah. Di sebelahnya duduk sang adik yang berusia sekira 4 tahun lebih muda. Jelas terdengar dari ceracauannya, bocah dengan tubuh tambun ini marah kepada adik dan juga kakeknya yang berada di lokasi serupa.

Entah apa yang menjadi penyebab kemurkaan sang anak. Yang jelas ekspresi kemarahan terbesar ia tujukan ke kakeknya. Sang ibu merasa bersalah atas perilaku tidak sopan anak tersebut dan memaksanya untuk meminta maaf. Namun ia tetap bergeming. Drama yang gue saksiin terus berlanjut dengan si anak yang keras kepala masih menjadi tokoh antagonis. Kelakuannya mengingatkan gue pada Haji Muhidin versi under-age. Gusti, pengen rasanya gue bentak terus gue tabok pake kulkas dua pintu yang desainnya ergonomis. Gimana ga. Tampak jelas terlihat air muka sang kakek yang sedih dan kecewa melihat kelakuan sang cucu.

Kalo sudah ada adegan sedih-sedih seperti ini saya selalu teringat Hatchi. Lebah yang selalu kesepian dan terus-terusan mencari mamanya.

Mata gue tidak lepas mengamati tingkah sang bocah sambil sesekali ngasah cangkul yang sengaja gue beli di toko online. Siapa tahu sang kakek membutuhkan sukarelawan buat ngubur hidup-hidup anak di bawah umur tanpa ketahuan Kak Seto. Kronis, si bocah tambun tak henti menggerutu sambil terus menyalahkan sang kakek dengan gestur dan bahasa yang melebihi usianya. Sayang, belum ada legenda cucu dikutuk menjadi batu.

Kakek yang terlihat emosional, dari raut wajahnya, nampak berpikir bagaimana mungkin anaknya, yang berarti ibu dari bocah tambun, tidak bisa mendidik sang cucu dengan baik hingga bersikap demikian. Itu sih perkiraan gue. Bisa jadi juga ia berpikir bahwa hanya di era Jokowi sebagai presiden ada cucu yang bisa se-kurang ajar ini terhadap kakeknya. Andai saja Prabowo yang jadi presiden, pasti….*ilang sinyal*. Ternyata sang kakek adalah fans berat Abangnda Jonru.

*****

Lain lagi cerita temen gue. Saat terakhir kali ke bandara, ia duduk untuk memesan makanan di salah satu warung cepat saji. Sejenak kemudian di sudut lain ruangan ia melihat seorang bapak dan dua orang anaknya yang masih balita tengah menikmati es krim. Semua berjalan normal hingga salah seorang anak menjatuhkan es krim yang ia punya. Sang ayah yang kesal kemudian marah…. ‘Demi dewa!!!’. Ealah pak, ini bukan sinetron Uttaran.

Sang bapak marah karena anaknya tidak bisa menjaga dengan baik apa yang dia punya. Kalo menjaga es krim saja tidak bisa bagaimana mungkin ia bisa menjaga pasangan. Sang bapak baper mengenang masa-masa jomblo menahun.

Sontak saja. Kericuhan tersebut menarik perhatian orang-orang di sekitar.

Tak berselang lama, saat mereka beranjak pulang, es krim yang sempat terjatuh kini terinjak oleh anak yang lain. Semakin murka lah sang bapak. Tanpa berpikir panjang ia berteriak dengan lantang

‘Anjing semua!!!!’

Bapak dengan dua anak ini menghardik membabi-buta. Tak tahu kemana arah cacian tersebut ditujukan. Ia nampak begitu marah. Gue sebenernya ragu ada anjing berkeliaran di Soekarno-Hatta. Kalo ‘anjing’ yang dimaksud adalah kedua anaknya maka bapak itu apa? Mutan anjing yang menyamar menjadi manusia? Atau ia menikahi siluman anjing seperti dayang sumbi yang kawin dengan Tumang?.

Ada-ada saja. Manusia kok disamakan dengan anjing. Kesian kan anjingnya.

*****

Dua cuplikan cerita di atas mengajarkan gue bahwa mendidik anak itu tidak mudah.

Buat gue yang sudah berpredikat ‘ayah’, mendengar kata-kata kasar dari warisan genetis kita sendiri adalah situasi yang membuat emosi berkecamuk. Bagimana mungkin, anak-anak yang kita besarkan dengan lelah dan susah payah, berani bersikap kurang-ajar yang menohok harga diri sebagai orang tua. Namun, jika pada akhirnya anak-anak tidak berperilaku dengan baik maka keluarga sebagai lingkar terdekat adalah unsur yang pertama kali patut dipertanyakan.

Gue bukannya ga mau ber-husnudzon. Gue bisa saja berasumsi bocah tambun pada cerita pertama menjadi pemarah karena ia sedang nahan kentut sampe ke ubun-ubun atau kesal karena tidak tahu kemana Ultraman terbang sehabis berantem sama monster. Namun naluri alami kita sebagai manusia pasti mengasosiasikan perilaku negatif anak pada kegagalan orang tua dalam mendidik.

Gue sangat menyayangkan jika ada anak-anak yang tidak memiliki sopan-santun kepada orang yang lebih tua, lebih-lebih kakek atau orang tua kita sendiri. Tapi lebih disayangkan lagi jika melihat orang tua yang berperilaku minus di hadapan anak-anak. Apa yang diharapkan ayah serta ibu pada anaknya jika dalam keseharian mereka memberikan contoh yang negatif seperti mengucapkan ‘anjing’, ‘brengsek’, ‘bangsat’. Belum lagi ratusan cuplikan perilaku yang sama sekali tidak layak. Orang tua sering lupa bahwa ‘children see children do’.

Anak gue saat ini usianya 1,5 tahun. Di usianya saat ini, ia sudah bisa meniru gerakan solat yang kami lakukan meskipun, gue yakin, ia tidak sebenar-benarnya dalam tempo sesingkat-singkatnya tahu dan mengerti aktifitas apa yang tengah ia geluti. Sesekali pula ia mengangkat tangan meniru para muazin di TV yang seringkali membuat dia takzim dan takjub. Gue berpikir ulang. Anak-anak di usia sedini itu sudah bisa meniru apa yang dilakukan oleh orang terdekatnya. Jika lingkungannya baik maka ia baik. Ya meskipun kita sadar bahwa orang tua bukanlah faktor tunggal yang bisa membentuk karakter anak. Tapi setidaknya kita sudah berdamai dengan warisan genetis atas hal-hal yang tidak kita sukai yang berpotensi menjangkiti mereka.

Jadi kalo kita sebagai orang tua terlalu banyak menonton sinetron, berkata-kata kasar, mengumpat, merokok lalu bermuram durja saat anak-anak kita tawuran, melakukan kejahatan seksual. Siapa yang tolol?. Siapa? Coba jelaskan ke Hayati, bang!.

Kejadian-kejadian memilukan belakangan ini harusnya menyadarkan para orang-tua bahwa ada yang salah dengan remaja-remaja di sekitar kita. Sangat mungkin, perilaku negatif anak adalah sebuah bentuk sarkasme atas ketidakidealan orang tua dalam mendidik sehingga mereka melakukan hal yang serupa untuk ‘mengingatkan’ orang tua bahwa ‘ini loh, hasil didikan kalian selama ini’.

Gue juga ga tahu bakal seperti apa kelakuan anak-anak gue kelak. Tapi gue harus berikhtiar sekuat mungkin untuk setidak-tidaknya menghindari perilaku negatif di depan mereka. Gue emoh jika harus mendapati keturunan gue menampar keras hasil didikan orang-tuanya dengan rupa-rupa sarkasme yang brutal.

Seputar Mitos Tentang Kehamilan

Sumber : Google

Sumber : Google

Hamil dan memiliki anak adalah pekerjaan yang membutuhkan pengetahuan dan kemampuan. Sehingga menjadi kewajiban bagi setiap orang yang ingin mendapatkan predikat suami, istri, ibu atau ayah untuk membekali diri mereka dengan key competencies yang seharusnya. Tapi akan menjadi sumir manakala label ‘ayah’ atau ‘ibu’ tersebut harus diklasifikasi menjadi ‘ibu/ayah profesional’ merujuk kepada definisi profesional itu sendiri. Buat gue, tanpa embel-embel ‘profesional’ pun para orang tua sudah seharusnya menjalankan tugas-tugas tersebut.

Bini gue hamil lagi. Di kehamilan kedua ini gue dan istri sudah lebih siap secara mental. Kami belajar bagaimana seharusnya mempersiapkan kehamilan dengan baik berdasarkan pengalaman kehamilan pertama. Pengalaman adalah guru terbaik. Pengalaman adalah guru yang tidak menggurui. Sayang, gue ga pernah diajar oleh ‘pengalaman’ di sekolah.

Usia kehamilan istri gue tengah memasuki 20 pekan saat tulisan ini diterbitkan. Sang calon bayi sudah memberikan reaksi berupa hentakan-hentakan di perut meskipun tidak terlalu sering. Jika bukan disebabkan oleh faktor biologis maka sifat malu-malu calon anak kedua ini lebih disebabkan faktor psikologis.

Faktor paling membedakan kehamilan kedua dengan kehamilan pertama adalah morning sickness yang sangat intens. Dedek janin bisa membuat ibunya mengalami mual berbulan-bulan. Lebih daripada kehamilan pertama. Referensi menyebutkan bahwa kehamilan yang disertai morning sickness bisa menandakan tingginya IQ sang bayi.

Untuk menjaga kehamilan agar ibu dan sang janin tetap selalu sehat, istri gue sebisa mungkin memelihara makanan dan melakukan akftifitas yang tidak terlalu berat untuk menghindari resiko. Kehamilan kedua ini relatif lebih menguras tenaga karena istri juga diharuskan menjaga dan menemani Alby yang keaktifannya makin hari makin menjadi. Menjadi ibu juga berarti menjadikan kesabaran sebagai pijakan. Karena sangat rentan terhadap stress.

Isu stress selama kehamilan selalu berdampak buruk pada janin sudah dibantah oleh penelitian terakhir yang menunjukkan bahwa pada  level tertentu, stress baik untuk sistem syaraf dan mempercepat perkembangan janin. Wanita dengan level stress yang moderat selama kehamilan cenderung memiliki bayi dengan kemampuan kerja otak dua kali lebih cepat dibandingkan ibu tanpa stress sama sekali. Pertanyaannya adalah seberapa ‘moderat’ kah stress yang masih dapat ditoleransi?

Untuk menjaga otak agar tetap waras dan tidak terlalu stress akibat kelelahan mengurus bayi dan calon bayi, istri gue memilih untuk melanjutkan aktifitas jahit menjahit yang sudah dilakoninya sejak beberapa waktu yang lalu. Aktifitas bernama menjahit tidak semudah kelihatannya. Jika saat mengandung Alby istri gue dipusingkan dengan statistika dan derivasinya maka saat ini ia harus bersitegang dengan kain, mesin jahit, pola baju yang serumit bilangan-bilangan matematika.

Selain berurusan dengan aspek keindahan dan ekonomi, menjahit juga sering dikaitkan dengan unsur-unsur mitos dan mistisme. Orang-orang tua sering mengingatkan para wanita hamil untuk tidak menjahit karena dikaitkan dengan potensi melahirkan bayi yang cacat. Wajar jika mitos ini berkembang dengan pesat jika kita hidup di masa di mana Bell belum menemukan pesawat telepon. Karena keterbatasan informasi sangat mungkin menjadikan seseorang membuat kesimpulan yang tergesa-gesa. Tapi untuk era sekarang, mitos dan takhayul serupa perlu divalidasi kebenarannya. Selain karena bertendensi kepada syirik, mitos-mitos yang beredar di masyarakat sering kali hanya warisan turun-temurun yang sifatnya ‘wajib’ untuk diimani tanpa diperkenankan untuk dikritisi apalagi direvolusi.

Sebagai generasi yang hidup di persimpangan masa antara zaman takhayul penuh mitos dan era internet cepat, kami memahami kedua domain tersebut sebagai tantangan dalam mendidik generasi. Orang-orang terdahulu sangat mempercayai mistisme dalam setiap aspek kehidupan. Mereka selalu mengaitkan peristiwa dengan keanehan sebagai buntut dari pola pikir deduktif. Pola pikir yang sejak jauh-jauh hari telah ditolak mentah-mentah oleh Tan Malaka dengan konten ‘logika’ dalam wacana Madilog-nya. Sungguh berbeda dengan manusia masa kini yang lebih peka dengan teknologi dan melek informasi sehingga kebenaran sebuah informasi dapat dengan mudahnya divalidasi.

Ibu mertua gue memiliki pendapat lain. Beliau berkata bahwa larangan menjahit bagi wanita hamil disebabkan oleh getaran mesin jahit berpotensi membahayakan janin. Agak masuk akal memang. Tapi dokter anak tempat kami biasa berkonsultasi tidak memberikan larangan apa pun sehubungan dengan kegiatan jahit-menjahit. Referensi di beberapa artikel daring pun menyatakan hal serupa.

Banyak mitos yang tidak terbukti secara ilmiah tidak lantas menjadikan kita nyinyir atau melabeli syirik serta-merta kepada bentuk-bentuk ‘kuno’ nasehat seputar kehamilan. Boleh jadi kemasan wejangan bernada minor mistis seperti orang terdahulu sampaikan sudah tidak laku tergerus oleh kemajuan zaman. Hanya saja di balik wacana mistis tersebut tidak jarang terselip pesan moral yang sangat baik. Misalnya saja mitos wanita hamil dilarang makan di depan pintu. Larangan seperti ini pada dasarnya adalah himbauan agar orang-orang tidak menghalangi jalan masuk. Atau ibu hamil tidak boleh merendam baju kotor dan piring kotor karena dikhwatirkan anaknya kudisan. Bisa jadi muatan pesan dalam larangan tersebut adalah agar ibu hamil tidak kerja berat agar tidak membahayakan janin.

Mitos-mitos seputar kehamilan tidak hanya ada di negeri kita. Di Meksiko misalnya. Ibu yang menginginkan sesuatu selama ngidam harus dipenuhi kemauannya agar sang anak tidak memiliki tanda lahir seperti apa yang diminta. Atau di Bolivia, sama halnya di Indonesia, wanita hamil dilarang merajut karena dipercaya bisa menyebabkan tali pusar meliliti di leher bayi. Jepang, Mongol, Kenya, Jamaika, hingga Portugal juga memiliki mitos-mitos yang menjadi ‘kearifan budaya’ nya sendiri.

Jika mitos seputar kehamilan hanya dianggap laku di belahan negara ketiga maka pernyataan ini salah. Sampai saat ini jutaan orang di US masih percaya dengan mitos berbentuk pseudo-psychology perihal mendengarkan Mozart berpengaruh pada kecerdasan anak.  Jadi, mitos tidak secara langsung berhubungan dengan kemajuan IPTEK suatu negara.

Kisanak, mitos seputar kehamilan apa yang beredar di tempat anda?

Sang Nabi, Teladan Abadi

“Sungguh, dalam diri dan kehidupan Rasul (Muhammad saw) itu ada teladan yang baik, bagi orang-orang yang berharap pada Allah, Hari Akhir, dan banyak berzikir kepada Allah.” (Lihat, QS al-Ahzab:21).

Nabi Muhammad saw memang manusia biasa; makan dan minum laiknya manusia lainnya; berdagang ke pasar, memimpin negara dan keluarga; bertetangga dengan muslim dan non-Muslim; guru dan sekaligus teman bagi para muridnya; komandan perang dan inspirator saat perang. Beliau uswatun hasanah, suri tauladan yang agung dan abadi sepanjang zaman.

Seribu emat ratus lebih telah berlalu. Sang Nabi terasa hadir dalam setiap derap langkah kehidupan umat Islam. Sang Nabi jadi teladan dalam semua aspek kehidupan umat Islam. Uniknya, selama 24 jam, langit tidak pernah sepi dari lantunan zikir dan shalawat dari 1,3 milyar lebih kaum muslimin yang menyebut namanya. Shalat kaum Muslim tidak sah jika tidak membaca shalawat untuk Nabi. Tidak ada satu manusia pun yang menduduki tempat terhormat seperti ini.

Tidak ada satu umat, bangsa, atau peradaban, yang memiliki suri teladan yang senantiasa ’up to date’ sebagaimana kaum Muslim yang senantiasa meneladani Muhammad saw dalam semua aspek kehidupan. Mulai tidur sampai tidur lagi, berusaha contoh Nabi. Bangun tidur, muslim ikut cara dan doa Nabi. Sejak usia dini, anak-anak Muslim cara Nabi masuk amar mandi; adab dan doanya pula dihafal luar kepala.

Muslim yang jadi kepala negara tak hilang cara bina negara mulia. Sebab, Nabi jadi sumber inspiras dan teladan bangun negara utama, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Beliau pemimpin negara. Beliau panglima perang. Nabi pun suami teladan. Dalam Kitab Uqudul Lujain Fi Huquqi al-Zaujain, dikutip satu hadits Nabi: ”Sebaik-baik kamu adalah yang baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang terbaik terhadap keluargaku.”

Itulah makna dan fakta kedudukan Nabi Muhammad saw sebagai uswah hasanah; model yang hidup sepanjang zaman. Meskipun sudah 1400 tahun berlalu, keteladannnya tetap hidup dan relevan. Ini unik. Hanya kaum muslim yang memiliki model lengkap sepanjang zaman. Sekagum-kagumnya kaum komunis terhadap Karl Marx, mereka tidak menjadikan Karl Marx sebagai teladan dalam seluruh aspek kehidupan. Mereka tidak akan bertanya, bagaimana cara Karl Marx tidur, bagaimana cara Karl Marx berkeluarga, bagaimana cara Karl Marx bertetangga, dan bagaimana cara Karl Marx memimpin negara.

Bagi bangsa Amerika, Thomas Jefferson dianggap sebagai “the prophet of this country”. Tapi, mereka tidak akan bertanya bagaimana cara Thomas Jefferson menggosok gosok gigi? Kaum Yahudi mengagungkan David dan Solomon. Tapi, anehnya, mereka menggambarkan sosok David dalam Bibel sebagai seorang pezina, yang berselingkuh dengan Batsheba, istri panglima perangnya sendiri. Bahkan, dengan liciknya David menjerumuskan suami Batsheba, Uria, dalam peperangan sehingga menemui ajalnya. Itu dilakukan agar David bisa mengawini Batsheba. Sosok Solomon juga digambarkan dalam Bibel sebagai penyembah berhala, karena terpengaruh oleh istri-istrinya. Tokoh dan pemimpin Yahudi, Yehuda, pun merupakan pezina yang menghamili menantunya sendiri bernama Tamar.

Kaum Nasrani sangat mengagungkan Yesus Kristus. Tetapi, mereka juga tidak menjadikan sosok Yesus sebagai teladan dalam seluruh aspek kehidupan. Sebab, Yesus sudah mereka angkat sebagai Tuhan, dan bukan lagi manusia. Karena itu, mereka tidak akan bertanya, bagaimana cara Yesus membina rumah tangga dan mengasuh anak. Sebab, Yesus dalam kepercayaan mereka, bukanlah manusia, tetapi Tuhan atau “anak Tuhan”.

Karena itulah al-Quran menjelaskan, bahwa salah satu karunia Allah yang sangat besar kepada kaum mukmin adalah diutusnya seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri. Rasul itu manusia, bukan malaikat, dan bukan anak Tuhan atau setengah Tuhan. Bedanya, Rasul yang mulia itu menerima wahyu dari Allah. Sebesar apa pun cinta kaum Muslim kepada Sang Nabi, tak pernah terlintas di benak kaum Muslim untuk mengangkatnya sebagai manusia setengah Tuhan atau anak Tuhan. (Lihat, QS Ali Imran: 164, al-Kahfi:110).

Tantangan Kenabian

Sebagaimana para Nabi lainnya, tugas dan misi utama para Nabi adalah mengajak manusia untuk bertauhid, hanya menyembah Allah, dan meninggalkan sesembahan lainnya. (QS an-Nahl:36). Tegakkan Tauhid, tinggalkan kemusyrikan! Itulah misi utama kenabian. Manusia dibimbing untuk mengenal dan menyembah Tuhan yang sebenarnya. Misi utama dakwah inilah yang mendapatkan tantangan hebat dari berbagai kalangan musyrik dan kaum kafir.

Bisa dimaklumi, sejak awal menyampaikan misi dakwahnya, Nabi Muhammad saw telah menghadapi tantangan yang sangat keras dari kaum Yahudi dan Nasrani. Sebab, ajaran yang dibawanya membongkar dasar-dasar kepercayaan Yahudi dan Kristen. Bagi kaum Muslim, Nabi Isa adalah utusan Allah untuk kaum Bani Israel, yang secara tegas mengabarkan akan datangnya Nabi terakhir, yaitu Muhammad saw. Bahkan, orang-orang yang menuhankan Isa a.s. oleh Nabi Muhammad saw secara tegas dikatakan sebagai kaum kafir. (QS ash-Shaf:6, al-Maidah:72-75).

Dalam bukunya, Muhammad: A Biography of the Prophet, Karen Armstrong mengungkap bagaimana sejarah kebencian kaum Kristen Barat terhadap Muhammad saw, yang berurat berakar dalam sejarah. Dalam legenda-leganda di zaman pertengahan di Barat, Muhammad digambarkan sebagai tukang sihir, penderita penyakit epilepsi (ayan), seorang yang dikuasai roh jahat, dan penipu berdarah dingin. Kehidupan seksnya digambarkan penuh birahi. Tokoh-tokoh Kristen Barat ketika itu berusaha menciptakan legenda bahwa Islam adalah pecahan Kristen. Konon, ada seorang ’heretic’ (Kristen yang menyimpang) bernama Sergius yang bertemu Muhammad dan mengajarkan versi Kristen yang menyimpang.

Karen Armstrong menyebut sikap Barat terhadap Islam yang tidak sehat sebagai ’schizophrenic’ dan ’Islamophile’. Paus Clement V (1305-1314) menyebut kehadiran Islam di wilayah Kristen sebagai satu penghinaan terhadap Tuhan. Di abad pertengahan, banyak orang Kristen Barat masih menganggap bahwa kaum Muslim adalah penyembah Muhammad sebagaimana kaum Kristen menyembah Kristus. Dalam karyanya, History of Charlemagne, Pseudo-Turpin menggambarkan kaum muslim (Saracen) sebagai penyembah dewa Mahomet, Apollo, dan Tervagant.

Pada abad ke-12, Peter the Venerable dari biara Cluny, mulai melakukan kajian yang lebih serius tentang Islam. Peter membentuk tim penerjemah yang menerjemahkan buku-buku Islam ke dalam bahasa Latin. Proyek terjemahan al-Quran dalam bahasa Latin pertama selesai tahun 1143 dibawah koordinasi Robert of Ketton. Peter terkenal dengan semboyannya agar dalam menghadapi kaum Muslim, jangan menggunakan kekerasan, senjata, atau kebencian. Tetapi, gunakanlah logika, kata-kata, dan kasih. Tetapi, orang seperti Peter the Venerable pun, menurut Armstrong juga mengidap mentalitas ’schizophrenic’ yang anti-Islam. Ketika Raja Louis VII dari Perancis memimpin Perang Salib II tahun 1147, Peter mengirim surat yang meminta Louis membunuh sebanyak mungkin kaum Muslim sebagaimana Moses dan Joshua membunuh kaum Amorit dan Kanaan.

Di era modern, rasa dengki dan permusuhan terhadap Nabi Muhammad saw pun tak pernah pupus. Masih segar dalam ingatan muslim sedunia, pada edisi 30 September 2005 lalu, koran Jyllands-Posten Denmark memuat 12 gambar kartun yang sangat menghina dan melecehkan Nabi Muhammad saw. Dalam satu kartu digambarkan Nabi tampil dalam sorban yang bentuknya mirip bom yang dipasang pada bagian kepalanya. Tentu, maksudnya, si pembuat kartun berusaha menggambarkan Nabi terakhir itu sebagai sosok teroris. Pada kartun lain, Nabi saw digambarkan sedang berteriak kepada sejumlah orang, “Berhenti, kita sudah kehabisan perawan!”

Beberapa waktu sebelumnya, Ratu Denmark, Margrethe II, juga sudah mengumumkan perang terhadap Islam. Kata Sang Ratu: “Selama beberapa tahun terakhir ini, kita terus ditantang Islam, baik secara lokal maupun global. Ini adalah sebuah tantangan yang harus kita tangani dengan serius. Selama ini kita terlalu lama mengambangkan masalah ini karena kita terlalu toleran dan malas… Kita harus menunjukkan perlawanan kita kepada Islam dan pada saatnya, kita juga harus siap menanggung resiko mendapat sebutan yang tidak mengenakkan, karena kita tidak menunjukkan sikap toleran.” (Biografi Ratu Margrethe II, April 2003, dikutip dari Republika, 7/2/2006).

Konsili Vatikan II, 1962-1965, menjadi tonggak baru bagi Gereja Katolik dalam pendekatan terhadap agama-agama lain, termasuk kepada umat Islam. Doktrin Nostra Aetate memuat kata-kata simpatik terhadap umat Islam dan mengajak kaum Muslim melupakan konflik-konflik masa lalu. Tapi, secara teologis, tokoh Gereja Katolik tetap menegaskan perbedaan mendasar antara Islam dan Kristen.

Paus Benediktus XVI, yang mundur pada 2013, misalnya, dikenal tegas dan lugas pandangannya terhadap Islam. Dalam buku, The Rule of Benedict XVI (New York: HarperCollins Publisher, 2006), karya David Gibson, disebutkan, bahwa Paus Benediktus, yang ketika itu masih sebagai Kardinal Ratzinger, membuat pernyataan, bahwa Turki harus dicegah masuk Uni Eropa karena Turki lebih mewakili kultur Islam ketimbang kultur Kristen; juga karena sejarahnya yang penuh konflik dengan Eropa. Paus Benediktus ini dikenal sebagai sosok yang ingin mengembalikan identitas kekristenan Eropa.

Betapa pun berbagai kaum menolak kenabian Muhammad saw dan sebagian diantaranya melakukan tindakan caci-maki dan fitnah, bagi kaum Muslimin, Muhammad adalah utusan Allah SWT yang diutus untuk membawa rahmat bagi seluruh alam. Nabi Muhammad saw memang membawa rahmat, karena membawa agama Islam, yang mengandung ajaran-ajaran yang sesuai dengan fithrah manusia. Rasulullah, misalnya, menghalalkan perkawinan dan tidak memandang perkawinan sebagai penghalang untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bahkan, Rasulullah melarang sahabatnya yang hendak melakukan selibat – tidak kawin selamanya – dengan alasan agar bisa lebih tekun beribadah kepada Allah. Dalam Islam, nikah itu sendiri, dipandang sebagai sunnah Rasul, dan barangsiapa yang membenci sunnah Rasululllah, maka dia bukan termasuk golongan Nabi Muhammad saw.

Ajaran Nabi Muhammad saw ini memang berbeda dengan ajaran sejumlah agama yang melarang pemuka agamanya untuk menikah. Dalam Katolik, misalnya, masalah selibat – larangan kawin bagi pastur – masih terus menjadi bahan perdebatan. Dalam buku The Rule of Benedict XVI, David Gibson menyebutkan sebuah survei tentang selibat di kalangan pemeluk Katolik di AS. Pada tahun 1985, sebanyak 63 persen menyatakan, bahwa sebaiknya soal menikah atau tidak menikah adalah satu pilihan bagi pastor, bukan suatu paksaan. Tahun 2005, jumlah yang berpendapat seperti itu meningkat menjadi 75 persen; dan lebih dari 80 persen responden berpendapat, pastor yang sudah menikah dan keluar dari kepastoran sebaiknya diberi kesempatan menjadi pastor kembali.

Nabi Muhammad saw memang diutus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam (QS al-Anbiya:107). Sang Nabi akan tetap menjadi teladan abadi bagi manusia yang bersedia mendapatkan rahmat, sekalipun dimusuhi dan dibenci kaum musyrik. “Dialah Allah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan atas agama-agama lainnya, walaupun kaum musyrik benci.” (QS ash-Shaf: 9). (***)

Oleh : Dr. Adian Husaini

Menggeledah Alpa Copernicus

Ada yang menggelayuti pikiran Johannes Kepler (wafat 1630) saat mempelajari De revolutionibus orbium coelestium. Karya Nicolaus Copernicus (w. 1543) di hadapannya itu memang mengguncang Eropa. Meruntuhkan pandangan Claudius Ptolemeus yang berabad-abad mapan dianut kalangan gereja berikut jajaran ilmuwannya. Berbeda dengan Ptolemeus, Copernicus menetapkan matahari sebagai pusat peredaran planet-planet—yang dikenal heliosentris.

Buku setebal nyaris 600 pagina itu justru mengundang heran Kepler berkait model planet-planet jauh dan kaitannya dengan pergerakan matahari. Berabad lampau, Apollonius Pergaeus dari Yunani sudah membuat teorema soal ini, yang kemudian dipakai Ptolemeus. Teorema Apollonius ini disempurnakan oleh Mu’ayyad al-Din al-Urdi (w. 1266). Lemma al-Urdi dipakai luas oleh para astronomi sezaman maupun setelahnya. Kira-kira seabad kemudian, Ibnu as-Syatir (w. 1375) membuat model serupa untuk menjelaskan fenomena peredaran planet-planet luar dengan sedikit perbedaan.

Copernicus rupanya menggunakan model yang persis dengan model as-Syatir. Bedanya, matahari sebagai titik pusat alam semesta. Artinya, Copernicus juga menggunakan Lemma al-Urdi ini, seperti yang telah dilakukan as-Syatir sebelumnya. Hanya saja, entah mengapa komponen tambahan dari Apollonius dan al-Urdi (yang ada pada model as-Syatir) tidak disentuh arti fungsinya oleh Copernicus. ‘Kealpaan’ inilah yang membuat Kepler sampai harus menulis surat kepada gurunya, Michael Maestlin (wafat 1631).

Keterangan soal keheranan Kepler diungkap oleh George Saliba, profesor dalam Sains Arab dan Islam di Columbia University, dalam bukunya Islamis Science and the Making of European Renaissance (2007). Rangkaian Saliba membuka tabir pengaruh saintis Muslim pada Copernicus itu tertuang ulang dalam versi penerjemahan oleh Dr Syamsuddin Arif lewat karya suntingannya: Islamic Science (2015), halaman 98-114.

“Penggunaan Lemma al-Urdi oleh Copernicus ini—dalam konstruksi yang identik dengan model Ibnu as-Syatir minus heliosentrisme tentu saja—menimbulkan tanya tanya besar tentang pengetahuan Copernicus akan asal-usul model matematika yang tersedia waktu itu,” tulis Saliba.

“Apakah ia sendiri yang membuat teorema baru itu? Dan apakah ia juga sebenarnya memberikan pembuktian formal untuk teorema tersebut seperti yang diberikan oleh al-Urdi, sebagaimana ia lakukan untuk ‘Pasangan at-Tusi’? Adakah ia memperolehnya dari karya-karya saintis Muslim?” tanya lanjut Saliba.

Copernicus sendiri diyakini tidak bisa membaca bahasa Arab; bahasa yang digunakan para saintis yang modelnya diserupai olehnya. Saliba menduga peran para penerjemah sebagai asisten dalam kerja pengetahuan Copernicus. Besar kemungkinan juga, karena aspek bahasa ini, Copernicus ‘alpa’ memaparkan tuntas model as-Syatir yang dipandang turut memengaruhi tulisannya di De revolutionibus.

ADANYA KESAMAAN PADA GAGASAN-gagasan penting Copernicus di bukunya itu dengan karya para saintis Muslim akhirnya diungkap orang lain. Itu pun dalam rentang waktu lama dari masa hidupnya. Para ilmuwan abad ke-20-lah yang mengungkapkannya. Mari kita saksamai data yang dituliskan Saliba di bukunya yang sama.

Tahun 1957, Otto Eduard Neugebauer secara tidak sengaja menemukan kesamaan yang amat persis antara model pergerakan bulan yang dikemukakan oleh Copernicus dengan yang digambarkan oleh Ibnu as-Syatir. Sekalipun tidak mengerti bahasa Arab, Otto Neugebauer dengan jalas dapat melihat betapa diagram yang dibuat oleh Copernicus dalam De revolutionibus betul-betul identik dengan diagram yang terdapat dalam kitab Nihayat al-Sul fi Tashih al-Usul karya as-Syatir.

Nama berikutnya adalah Edward Stewart Kennedy, guru besar matematika di American University of Beirut. Sosok inilah yang menunjukkan fakta penting soal Copernicus kepada Otto Neugebauer. Uniknya, temuan Edward Kennedy juga tidak disengaja. Kala itu ia tengah meneliti di Perpustakaan Bodleian Oxford, yang lewat serangkaian diskusi penyertanya menghasilkan artikel ilmiah yang ditulis Victor Roberts. Judul artikel Roberts sendiri sudah bernada mencurigai Copernicus: “The Solar and Lunar Theory of Ibn al-Shatir: A pre-Copernican Copernican Model, yang dimuat dalam jurnal Isis volume 48 Nomor 4, Desember 1957. Temuan ini sontak menggegerkan kalangan ilmuwan Barat. Apa pasalnya?

“Kalau selama ini orang meyakini bahwa sains Eropa di zaman Renaissans itu muncul dengan sendirinya dari nol (ex nihilo), atau—jika berutang budi pun, hal itu karena terinspirasi oleh karya-karya saintis Yunani kuno, maka dengan adanya temuan penting ini, sejarah perkembangan sains di Eropa perlu ditulis ulang dengan mengaitkannya dengan perkembangan sains di dunia Islam,” papar Saliba.

“Bagi seorang Otto Neugebauer,” lanjut Saliba, “kesimpulan adanya koneksi langsung antara karya Copernicus dengan karya saintis Muslim itu cukup membuatnya tercengang dan masih sukar untuk dimengerti apalagi diterima oleh para sejarawan sains modern. Hanya sebagian kecil orang dapat memahami signifikasi dan implikasi temuan tersebut.”

Keterkejutan justru membuat Otto Neugebauer kian penasaran. Ia pun melebarkan cakupan riset. Meneliti lebih banyak lagi karya-karya saintis zaman Renaissans dan sebelum membandingkannya dengan karya-karya sainstis Muslim. Ia kemudian mengkaji kembali salah satu bab dari kitab at-Tadzkirah fi Ilm al-Hay’ah karya Nasiruddin at-Tusi (w. 1274), yang telah diterjemahkan ke bahasa Prancis oleh Bernard Carra de Vaux pada 1893.

Dalam kitab tersebut, at-Tusi merumuskan dan membuat generalisasi serta membuktikan secara matematis sebuah teorema yang kemudian diistilahkan sebagai “Pasangan Tusi” (the Tusi Couple) pertama kali oleh Edward Kennedy dalam artikelnya di jurnal Isis volume 57 tahun 1966, “Late Medieval Planetary Theory”. Teorema itu sebenarnya sudah jauh-jauh hari dikenalkan at-Tusi pada 1247 dalam kitabnya yang lain, Tahrir al-Majisti. Teorema ini dikemukakan at-Tusi sebagai jawaban atas kegagalan teori Ptolemeus mengenai latitud planet-planet. Namun karena latar belakang lahirnya teorema ini tidak dieksplisitkan oleh at-Tusi, Carra de Vaux pun tidak mengisyaratkannya sebagai temuan amat penting.

Kendati hanya membaca dari hasil terjemah Carra de Vaux yang sedikit dibumbui pandangan kurang positif dan meremehkan, Otto Neugebauer mampu menangkap petingnya persoalan yang ditangkap at-Tusi. Otto Neugebauer teringat bab III pasal 4 De revolutionibus tentang perlunya mekanisme yang memungkinkan dihasilkannya sebuah gerak lurus dari gabungan gerak-gerak berputar. Dan at-Tusi sudah mengungkapkan lebih awal dua abad sebelumnya daripada Copernicus. Otto Neugebauer tahu persis bahwa yang diperbuat at-Tusi betul-betul baru, tidak pernah ada dalam buku-buku astronomi Yunani.

Sebaliknya dengan Copernicus, simpul Otto Neugebauer, yakni diam-diam menggunakan teorema at-Tusi dan mengemukakan pembuktian yang sama persis namun tidak menyebutkan sumber rujukan. Andaikan temuan orisinal langsung dirinya, Copernicus pasti mengklaim dan menuliskannya. Ini justru tidak ia lakukan. Artinya, Copernicus memang sudah melakukan separuh tanggung jawab ilmiah, yakni dengan tidak mengakui langsung teorema dan pembuktian itu sebagai karyanya. Hanya saja, ia masih teranggap ‘berutang’ karena tidak mengungkap siapa rujukan pentingnya teorema itu. Alih-alih jujur, Copernicus malah mengutip Proclus dalam uraiannya untuk buku Euclid.

“Siapa pun yang membaca Proclus dengan teliti akan menangkap bahwa yang dibicarakan Proclus adalah garis-garis lengkung dan lurus yang dihasilkan oleh satu sama lain,” jelas Saliba, “dan bukan gerak berayun yang terhasil dari gerak putar sempurna yang diperlukan oleh at-Tusi maupun Copernicus untuk memecahkan persoalan astronomi tersebut di atas.”

Willy Hartner pada 1973 kian menguatkan temuan Otto Neugebauer, dengan menemukan ciri mencolok para pembuktian Copernicus yang ternyata “menyalin” karya at-Tusi. Copernicus sekadar mengganti huruf Arab dalam temuan at-Tusi!

PERJALANAN MENEMUKAN KEBENARAN DALAM pengetahuan sesungguhnya kerja-kerja kolektif. Terlebih ketika menyibak satu tabir yang masih dirasakan asing. Ada saling koneksi dengan temuan terdahulu dalam kerangka kerja berkesinambungan. Di sinilah letak penting tanggung jawab ilmiah. Ia karenanya bagian dari adab para penimba ilmu, terlepas pengetahuan terujuk itu berasal dari peradaban yang dimusuhi.

Namun budaya ilmu memang sering dihadapkan dengan prasangka-prasangka di benak kepala. Seperti Bernard Carra de Vaux, yang sekalipun andilnya besar dalam penerjemahan karya Nasiruddin at-Tusi, ternyata meluputkan satu fakta berharga. Misalkan saja prasangka ala kulit putih abad 19 tidak terjadi. Lebih-lebih kepada negeri berpenduduk dan saintis Islam. Kebanggaan pada kejayaan Renaissans Eropa menutup mata permata amat penting yang membuka fakta sebenarnya. Di lain pihak, Copernicus memang menggunakan temuan-temuan penting saintis Muslim. Sayangnya, ia tidak menerapkan penuh disiplin kejujuran. Ada alasan-alasan pribadi, apa pun itu, menutupi kesadaran diri dari bersikap ilmiah.

Ketika melontarkan gagasan matahari sebagai pusat tata surya, menggeser Bumi sebagaimana di alam berpikir dunia kala itu, Copernicus bak kesatria. Teorinya mengguncang kalangan gereja yang kadung meletakkan Bumi tidak sebatas sentral jagat tapi juga pusat teologi dan keakuan manusia. Ujian demi ujian pun dialaminya sampai kemudian ia meraih banyak pendukung. Dengan kondisi gereja yang masih memusuhi kalangan Moor (sebutan bagi orang Islam), bisa saja Copernicus memilih menyembunyikan andil mereka di balik karya pentingnya. Tanpa merujuk saintis Islam saja sudah dikecam gereja, apatah lagi jelas-jelas benderang mengekor pada teorema mereka.

Di sinilah kita paham makna penting firasat orang-orang yang hadir kemudian ketika memegang De revolutionibus. Tidak menjadikannya sebagai kitab suci dengan alibi ilmiah sekalipun tanpa berani mengungkap ada kealpaan. Kepler memang baru sebatas menulis surat penuh tanya kepada sang guru. Tapi ini sudah sebuah firasat akan adanya keganjilan di balik karya penting Copernicus. Di ulu benak Otto Neugebauer, Edward Kennedy, Willy Hartner, ataupun Victor Roberts, firasat tidak cukup dihentikan sebagai prasangka buruk. Mereka menindaklanjuti bisikan, ilham, intuisi, yang berkumulasi dengan pengalaman dan pengamatan selama ini sebagai aktivitas observasi.

Firasat bukanlah prasangka lantaran firasat bukan kalimat bertanda titik. Ia masih berlanjut untuk diteruskan dengan serangkaian aktivitas hingga titik itu tertemui, bahkan melahirkan titik-titik berikutnya. Berbeda dengan prasangka, ia sudah mengakhiri sebuah apriori dengan rasa malas bahkan sebelum aktivitas dilangsungkan.

Firasat tak ubahnya mekanisme penyelidikan sains ala Ibnu al-Haytsam, yang pengaruhnya juga tidak diragukan dalam lahirnya Renaissans. Firasat paralel dengan hipotesis yang tengah diperjuangkan. Adanya untuk membantah pandangan yang ada, memperbaiki ataupun menambah pandangan yang ada. Bisa juga untuk menyelesaikan perdebatan yang ada. Curiga di awal bukan untuk mengorek kekurangan pihak lain. Ia ingin meletakkan semua dan setiap subjek maupun objek dengan adil dan bijak. Karena itulah, berfirasat bukan saja indikasi kemajuan, namun juga mencirikan adab. Kelebihan inilah yang membedakannya dengan prasangka.

Ketertinggalan umat Islam dari negeri yang kita sebut Barat kiranya bisa dilihat dalam segi firasat. Mari kita posisikan sebagai nama-nama di atas yang menyelisik ‘kealpaan’ Copernicus. Akankah kita berhenti dan membuat kesimpulan bahwa sang saintis helosentris itu jahat dan pendusta. Atau malah sebaliknya, bekerja lebih jauh mencari tahu apa yang terjadi tanpa harus menuduh dan menyepelekan Copernicus.

Sementara di sana kerja-kerja apriori, skeptis, dan kritis berjalin erat dengan eksperimen atau observasi, kita—umat Islam—mencukupkan untuk kritis dan sinis. Meletakkan temuan awal sebagai kesimpulan. Dan ini sudah jadi kebiasaan dalam keseharian dalam praktik adab. Menilai seorang al-akh atau jamaah lain dari fakta-fakta yang ada, temuan yang tertangkap indrawi. Menilai dari yang lahiriah tanpa beranjak menguji lebih jauh gemuruh hati pada kalangan lain.

nico 2

KERJA-KERJA PARA SAINTIS mari kita petik dalam rangka membenahi adab dan amal dakwah kita. Melihat fenomena bukan menjadi dasar melahirkan kesimpulan final, bahkan abadi. Dari fakta yang ada di masa lalu dan sekarang, muncul stigma-stigma yang sebenarnya lemah. Yang ada barus sebatas menarik berdasar pada kerangka pikiran kita. Sementara kemauan menguji pihak lain terbentur fanatisme pada kerangka berpikir kelompok atau diri, yang dipandang pastilah benar. Di sinilah prasangka pun melahirkan stigma abadi ke saudara sendiri sebagai Wahabi, Khawarij, Murjiah, ahli bidah, kafir, penjilat penguasa, sufi berkedok khurafat, dan label-label semacamnya. Prasangka bahkan bisa hadir di internal satu kelompok untuk menyingkirkan atau melanggengkan kepentingan dengan predikat-predikat tidak elok. Memecat kader sejamaah karena satu perbedaan ringan, merupakan ilustrasi sederhananya.

Melihat ke dalam kelompok sendiri kiranya patut diperbuat sebelum umat kokoh berhadapan dengan kekuatan lain. Berawal dari menuntaskan peliknya membedakan prasangka dan firasat kendati agama sudah memberikan batasan dan norma jelas. Sangkaan buruk dari sandaran fakta secuil mestinya tidak perlu dianggap; lain ketika mendapati kesumat kalangan luar-Islam yang sudah aksioma. Di sinilah letak kontradiksi yang jamak ditemui. Lebih sibuk menyangka buruk saudara sendiri, namun menggandeng sangka amat baik pada kalangan yang memusuhi Islam.

Hadirnya pengoyak ukhuwah di tengah rajutan pelbagai anasir umat untuk menuntaskan keberingasan kerja Densus 88 merupakan contoh aktual. Mencari fakta untuk kemudian jadi bahan sangkaan ketimbang menjadi firasat yang berujung kritis pada pihak yang sebenarnya menabrak kemanusiaan. Contoh lain adalah tidak diletakkannya kekuatan mata-batin (bashirah) pada satu jamaah dakwah ketika menepikan jauh-jauh kader vokal. Padahal, firasat mampu membedakan mana dusta mana yang silap belaka kalau mau diseriusi menegakkan kebenaran.

Otto Neugebauer saja mau menepikan dulu pandangan alam (worldview) tak enak pada dunia Islam. Bagaimana bisa Renaissans di Eropa berjalin dengan dunia saintis Muslim? Kalau saja ia berniat jahat, bisa saja dengan menutup rapat penyelidikan soal Copernicus. Tapi ia memilih menanggalkan ego, termasuk untuk membedakan bahwa sosok semacam at-Tusi, as-Syatir, al-Urdi, merupakan representasi Muslim; bukan mereduksi jadi: Arab. Amat beda Islam dan Arab dalam soal ini meski sering saling berkaitan. Dan Otto Neugebauer lugas menyebut ini karya saintis Muslim, tidak lokal sebagai ke-Arab-an. Cara berpikir semacam ini diikuti juga oleh para peneliti lainnya kemudian, semisal George Saliba.

Sementara itu, kita temui hari ini sebuah realitas umat yang masih berjuang untuk jujur dalam firasat. Untuk sebatas menanggapi fakta yang ada dan menilai adil para al-akh atau jamaah sebelah. Bukan menjadi pengumbar kesimpulan secara cepat dari fakta yang ada, namun sebetulnya mewakili wajah penghakiman penuh prasangka. Kita terbiasa dengan berpikir deduktif, menilai salah lebih dulu baru kemudian mencari bukti dan apologi—andai dikritik. Bukan memintal fakta yang berceceran untuk kemudian dengan dingin menilai firasat yang hadir di awal.

Firasat hadir untuk diuji, tanpa harus jatuh pada skeptis atau syak wasangka, untuk menilai dan mengukur kebenaran. Syak dalam epistemologi Islam amat kontras dengan Barat. Bila Barat menyanjung syak sebagai pintu menuju kebenaran, maka Islam—menurut Muhammad Naquib al-Attas dalam Tinjauan Ringkas Peri Ilmu dan Pandangan Alam (2015), menempatkan hidayah sebagai sumber kebenaran. Dalam konteks ini firasat bukan untuk mengokohkan syak, melainkan untuk menjemput kebenaran atau menggapai hidayah.

Syak (shak) menurut al-Attas adalah “keadaan hati teragak-agak tiada menentu antara dua perkara yang bertentangan dan yang hati itu tiada memberat menyebelahi mana-mana satu di antaranya kedua; ia adalah suatu keadaan hati berdiam resah di tengah-tengah dua perkara bertentangan tanpa cenderung ke arah yang satu atau yang lain. Sekiranya hati cenderung ke arah yang satu sedangkan tiada jua ia menolak yang lain, maka itu adalah dugaan. Sekiranya hati itu tegas menolak yang lain, maka ia telah tiba pada makam yakin. Penolakan yang lain oleh hati itu bukan disebabkan oleh shak akan kebenarannya, akan tetapi ia merupakan pengenalan yang pasti tentang kesilapan dan kepalsuannya. Inilah hidayah.”

Ya, mengenal yang pasti mana silap dan mana palsu itu penting bagi aktivis Islam. Ia merupakan kerja aktif yang terangkai dari rasa heran penuh menyelidik—firasat. Rasa inilah yang kemudian dipertanggungjawabkan dengan kerja pembuktian di area nyata.

Sumber : Catatan Facebook Bapak Yusuf Maulana

Saat Alby Belajar Berkata

Sumber : Google

Sumber : Google

Tidak salah memang ketika Sergey Brin dan Larry Page memutuskan untuk mengganti ‘google’ dengan ‘Alphabet’ sebagai induk perusahaan. Menurut Page, Alphabet (atau alfabet dalam Bahasa Indonesia) adalah penemuan paling penting dalam sejarah peradaban manusia karena ia melingkupi semuanya dari A hingga Z. Keberadaan alfabet memungkinkan kita untuk berkomunikasi dengan cara-cara yang lebih mudah. Para makhluk kekinian tertolong dengan rentetan huruf yang 26 sehingga mereka bisa update status unyu di media sosial. Netizen bisa saling adu argumen dan ‘anjing-meng-anjingkan’ juga karena bantuan alfabet. Bandingkan saja jika kita harus menggunakan semaphore atau morse jika harus berkomunikasi setiap saat. Susunan kalimat dari alfabet ini yang kemudian membantu manusia untuk berkomunikasi, menyampaikan pesan ke lawan bicara.

Proses manusia berkomunikasi memang melalui tahapan-tahapan tertentu yang dimulai sejak dalam rahim. Janin bisa memberikan respon setiap kali ada yang mengajak mereka berbicara. Bayi usia 4 bulan bisa mengenali nama mereka sendiri dan membedakannya dengan kata lain. Usia 6 bulan, bayi sudah mengenali ‘ayah’ dan ‘ibu’. Hingga akhirnya mereka mengalami ledakan kata di usia dua tahun Tahapan-tahapan itu bahkan bisa dikelompokkan, berdasarkan referensi, menjadi ‘cooing’, ‘gurgling’, ‘babbling (berceracau)’ lalu berbicara. Gue sulit mengggunakan transliterasi untuk dua tahapan pertama.

Beberapa anak memang berbicara lebih cepat. Belum sampai usia satu tahun mereka sudah bisa menggunakan kata pertamanya. Beberapa lainnya membutuhkan waktu lebih lama. Alby, jagoan gue, termasuk yang kedua.

Kami sebagai orang tua sering mengajak Alby berbicara dengan topik apa pun. Mulai dari gosip artis hingga debat antara Zakir Naik dan William Campbell. Karena kami sadar proses berbicara selalu didahului dengan mendengar. Berdasarkan riset oleh Roberta Golinkoff, balita sangat menyukai suara dengan nada yang tinggi. Setiap saat mereka melakukan ‘cooing’ pada saat diajak bicara menandakan mereka tengah memperhatikan apa yang dibicarakan. Bahkan sebelum mereka bisa berbicara dengan jelas, para bayi sudah bisa menterjemahkan emosi yang ada dalam nada saat seseorang bicara.

Usia Alby kini masuk 15 bulan. Ia sudah lancar berjalan. Kemana-mana maunya jalan. Sebagai rangkaian dari proses pertumbuhan bayi maka berjalan seyogyanya dipadupadankan dengan kemampuan bayi untuk berbicara. Masa-masa di mana bayi bertransisi dari ‘berceracau’ menjadi mampu untuk berbicara dengan sebenar-benarnya adalah masa-masa kritis. Mereka berupaya untuk menyampaikan keinginannya namun terbatas pada ketidakmampuan mengartikulasikan kata sehingga hasil akhirnya adalah mereka mengekspresikan ketidakmampuan tersebut dengan merengek dan menangis manakala apa yang mereka ingin tidak dimengerti oleh orang dewasa.

Beberapa waktu belakangan Alby sering sekali menguji kesabaran gue. Ia bersikukuh menolak dimandikan. Entah apa sebabnya. Padahal sebelum melakukan aksi penolakan terhadap mandi pagi, ia tidak pernah se-drama saat ini. Setiap kali kami membuka pakaiannya, entah apakah itu diniatkan untuk mandi atau sekedar mengganti baju yang basah, ia berontak. Menangis meraung-meraung seolah-olah dihukum oleh ibu tiri.

Gue yang kebagian jatah mandiin Alby setiap akhir pekan, sering kehilangan akal kenapa ia bisa segarang itu menghindari aktifitas bernama mandi. Gue yakin Alby sebenarnya ingin menyampaikan alasan spesifik kenapa ia bisa berubah 180 derajat hingga harus membenci mandi sedemikian rupa. Mungkin Alby mendalami filosofi ‘Kenapa mandi kalau besok harus mandi lagi’. Atau ia mengalami paranoid, khawatir saat di dalam kamar mandi ia diculik, disekap dan saat bangun tiba-tiba berada di ruang sempit tanpa bisa melihat dunia luar. Oke gue berhalusinasi. Bagian terakhir paragraf ini adalah sketsa film ‘room’ yang apik itu. Alby sejatinya tidak mampu mengatakan apa yang membuatnya memboikot mandi. Ia hanya bisa mengekspresikannya dengan tangisan dan teriakan yang membabi buta.

Menurut sang ibu yang sempat mendatangi dokter anak, bayi memiliki memori yang kuat sehingga jika terjadi trauma secara psikologis maka bayi tersebut akan mampu mengingatnya dengan sangat baik. Masih menurut istri gue, Alby mungkin pernah mengalami kejadian tidak enak pada saat mandi yang membuatnya menjadi rewel seperti saat ini. Kami pun harus terbiasa dengan tangisan Alby setiap pagi hingga dia bisa menyampaikan alasan mengapa mandi pagi begitu menakutkan.

Aktifitas rewel sebagai wujud belum mampunya Alby mengkomunikasikan keingingan terulang lagi pekan lalu. Saat kami bertiga harus menempuh perjalanan lebih dari satu jam, Alby menangis menjadi-jadi di dalam mobil. Mulanya kami mengira ia kepanasan karena AC mobil sengaja dimatikan mengingat kondisi istri yang tidak kuat berdingin ria. Sejenak setelah AC nyala, tangis tersebut tidak berhenti. Kemudian kami berspekulasi bahwa Alby kelaparan. Lalu kami menyerahkan biskuit agar bisa segera ia makan. Tapi tangis tersebut tak berubah sedikit pun menjadi diam. Gue hampir ngebakar menyan dengan asumsi Alby lebih doyan menyan ketimbang biskuit.

Pasrah kehilangan ide, kami menghentikan mobil di alfamart untuk membeli susu dan menyeduhnya saat itu juga. Alby perlahan mulai berangsur tenang. Ternyata kericuhan itu disebabkan oleh panasnya cuaca Bandung yang dikombinasikan dengan ketiadaan susu yang senantiasa menjadi dopingnya. Gue tidak pernah tahu betapa susu bisa membuat bayi teradiksi dengan parah. Jadilah siang itu menjadi hari menangis sedunia.

Sebagai manusia dewasa yang tidak mengerti bahasa bayi, gue terkadang pasrah menghadapi segala tangis dan rengekan anak. Sesekali karena kekesalan yang memuncak, gue kehilangan bentuk-bentuk kesabaran. Nampaknya gue mesti membaca kembali kisah para Sahabat terutama Anas bin Malik yang tidak pernah mendengar sedikit pun kata-kata kasar selama lebih 10 tahun membersamai Nabi. Atau belajar kembali ketabahan Ibunda Imam Masjidil Haram, Syaikh Sudais, yang mendoakan kebaikan di tengah kemarahan.

Komunikasi selalu menjadi sumber konflik terbesar umat manusia. Jika para balita memiliki concern khusus untuk mengungkapkan apa yang di kepala namun dibatasi oleh fungsi anggota tubuh yang belum bekerja dengan sempurna maka orang dewasa memiliki masalah komunikasi yang lebih kompleks. Anak-anak yang berlari, membuat gaduh masjid setiap kali sholat berjamaah berlangsung sering kali mendapatkan ragam hardikan yang berkelindan dengan cacian. Orang-orang yang mendaku dirinya sebagai faqih, ulama acap kali lupa bagaimana dan dengan siapa mereka berkomunikasi. Orang-orang dewasa lainnya yang menikah pun bercerai karena masalah komunikasi. Jadi anakku Alby, jangan galau. Semua orang memiliki masalah yang sama.

Hingga saat tulisan ini dibuat, Alby masih berusaha dengan keras untuk membuat orang-orang dewasa mengerti apa yang mereka mau. Satu-satunya kata bermakna yang secara jelas berhasil ia ucapkan adalah kata ‘ayah’. Alby bisa dengan ‘semena-mena’ memanggil semua orang yang ia lihat dengan ‘ayah’. Kemampuan ini tidak terlepas dari kebiasaan kami yang sering mengajari Alby mengucapkan ‘ayah’ dan ‘bunda’ sedari awal. Hanya karena ‘bunda’ lebih sulit diartikulasikan maka ‘ayah’ adalah pilihan kata yang paling mudah untuk terucap.

Kami tidak menuntut Alby untuk sesegera mungkin berbicara. Apa-apa yang tumbuh dengan instan dan terpaksa tidak akan pernah bisa menyaingi semua yang tumbuh dengan alami. Semoga Alby terjaga dari berkata-kata yang tidak bermanfaat dan semoga lisannya mengandung hikmah.