Menggeledah Alpa Copernicus

Ada yang menggelayuti pikiran Johannes Kepler (wafat 1630) saat mempelajari De revolutionibus orbium coelestium. Karya Nicolaus Copernicus (w. 1543) di hadapannya itu memang mengguncang Eropa. Meruntuhkan pandangan Claudius Ptolemeus yang berabad-abad mapan dianut kalangan gereja berikut jajaran ilmuwannya. Berbeda dengan Ptolemeus, Copernicus menetapkan matahari sebagai pusat peredaran planet-planet—yang dikenal heliosentris.

Buku setebal nyaris 600 pagina itu justru mengundang heran Kepler berkait model planet-planet jauh dan kaitannya dengan pergerakan matahari. Berabad lampau, Apollonius Pergaeus dari Yunani sudah membuat teorema soal ini, yang kemudian dipakai Ptolemeus. Teorema Apollonius ini disempurnakan oleh Mu’ayyad al-Din al-Urdi (w. 1266). Lemma al-Urdi dipakai luas oleh para astronomi sezaman maupun setelahnya. Kira-kira seabad kemudian, Ibnu as-Syatir (w. 1375) membuat model serupa untuk menjelaskan fenomena peredaran planet-planet luar dengan sedikit perbedaan.

Copernicus rupanya menggunakan model yang persis dengan model as-Syatir. Bedanya, matahari sebagai titik pusat alam semesta. Artinya, Copernicus juga menggunakan Lemma al-Urdi ini, seperti yang telah dilakukan as-Syatir sebelumnya. Hanya saja, entah mengapa komponen tambahan dari Apollonius dan al-Urdi (yang ada pada model as-Syatir) tidak disentuh arti fungsinya oleh Copernicus. ‘Kealpaan’ inilah yang membuat Kepler sampai harus menulis surat kepada gurunya, Michael Maestlin (wafat 1631).

Keterangan soal keheranan Kepler diungkap oleh George Saliba, profesor dalam Sains Arab dan Islam di Columbia University, dalam bukunya Islamis Science and the Making of European Renaissance (2007). Rangkaian Saliba membuka tabir pengaruh saintis Muslim pada Copernicus itu tertuang ulang dalam versi penerjemahan oleh Dr Syamsuddin Arif lewat karya suntingannya: Islamic Science (2015), halaman 98-114.

“Penggunaan Lemma al-Urdi oleh Copernicus ini—dalam konstruksi yang identik dengan model Ibnu as-Syatir minus heliosentrisme tentu saja—menimbulkan tanya tanya besar tentang pengetahuan Copernicus akan asal-usul model matematika yang tersedia waktu itu,” tulis Saliba.

“Apakah ia sendiri yang membuat teorema baru itu? Dan apakah ia juga sebenarnya memberikan pembuktian formal untuk teorema tersebut seperti yang diberikan oleh al-Urdi, sebagaimana ia lakukan untuk ‘Pasangan at-Tusi’? Adakah ia memperolehnya dari karya-karya saintis Muslim?” tanya lanjut Saliba.

Copernicus sendiri diyakini tidak bisa membaca bahasa Arab; bahasa yang digunakan para saintis yang modelnya diserupai olehnya. Saliba menduga peran para penerjemah sebagai asisten dalam kerja pengetahuan Copernicus. Besar kemungkinan juga, karena aspek bahasa ini, Copernicus ‘alpa’ memaparkan tuntas model as-Syatir yang dipandang turut memengaruhi tulisannya di De revolutionibus.

ADANYA KESAMAAN PADA GAGASAN-gagasan penting Copernicus di bukunya itu dengan karya para saintis Muslim akhirnya diungkap orang lain. Itu pun dalam rentang waktu lama dari masa hidupnya. Para ilmuwan abad ke-20-lah yang mengungkapkannya. Mari kita saksamai data yang dituliskan Saliba di bukunya yang sama.

Tahun 1957, Otto Eduard Neugebauer secara tidak sengaja menemukan kesamaan yang amat persis antara model pergerakan bulan yang dikemukakan oleh Copernicus dengan yang digambarkan oleh Ibnu as-Syatir. Sekalipun tidak mengerti bahasa Arab, Otto Neugebauer dengan jalas dapat melihat betapa diagram yang dibuat oleh Copernicus dalam De revolutionibus betul-betul identik dengan diagram yang terdapat dalam kitab Nihayat al-Sul fi Tashih al-Usul karya as-Syatir.

Nama berikutnya adalah Edward Stewart Kennedy, guru besar matematika di American University of Beirut. Sosok inilah yang menunjukkan fakta penting soal Copernicus kepada Otto Neugebauer. Uniknya, temuan Edward Kennedy juga tidak disengaja. Kala itu ia tengah meneliti di Perpustakaan Bodleian Oxford, yang lewat serangkaian diskusi penyertanya menghasilkan artikel ilmiah yang ditulis Victor Roberts. Judul artikel Roberts sendiri sudah bernada mencurigai Copernicus: “The Solar and Lunar Theory of Ibn al-Shatir: A pre-Copernican Copernican Model, yang dimuat dalam jurnal Isis volume 48 Nomor 4, Desember 1957. Temuan ini sontak menggegerkan kalangan ilmuwan Barat. Apa pasalnya?

“Kalau selama ini orang meyakini bahwa sains Eropa di zaman Renaissans itu muncul dengan sendirinya dari nol (ex nihilo), atau—jika berutang budi pun, hal itu karena terinspirasi oleh karya-karya saintis Yunani kuno, maka dengan adanya temuan penting ini, sejarah perkembangan sains di Eropa perlu ditulis ulang dengan mengaitkannya dengan perkembangan sains di dunia Islam,” papar Saliba.

“Bagi seorang Otto Neugebauer,” lanjut Saliba, “kesimpulan adanya koneksi langsung antara karya Copernicus dengan karya saintis Muslim itu cukup membuatnya tercengang dan masih sukar untuk dimengerti apalagi diterima oleh para sejarawan sains modern. Hanya sebagian kecil orang dapat memahami signifikasi dan implikasi temuan tersebut.”

Keterkejutan justru membuat Otto Neugebauer kian penasaran. Ia pun melebarkan cakupan riset. Meneliti lebih banyak lagi karya-karya saintis zaman Renaissans dan sebelum membandingkannya dengan karya-karya sainstis Muslim. Ia kemudian mengkaji kembali salah satu bab dari kitab at-Tadzkirah fi Ilm al-Hay’ah karya Nasiruddin at-Tusi (w. 1274), yang telah diterjemahkan ke bahasa Prancis oleh Bernard Carra de Vaux pada 1893.

Dalam kitab tersebut, at-Tusi merumuskan dan membuat generalisasi serta membuktikan secara matematis sebuah teorema yang kemudian diistilahkan sebagai “Pasangan Tusi” (the Tusi Couple) pertama kali oleh Edward Kennedy dalam artikelnya di jurnal Isis volume 57 tahun 1966, “Late Medieval Planetary Theory”. Teorema itu sebenarnya sudah jauh-jauh hari dikenalkan at-Tusi pada 1247 dalam kitabnya yang lain, Tahrir al-Majisti. Teorema ini dikemukakan at-Tusi sebagai jawaban atas kegagalan teori Ptolemeus mengenai latitud planet-planet. Namun karena latar belakang lahirnya teorema ini tidak dieksplisitkan oleh at-Tusi, Carra de Vaux pun tidak mengisyaratkannya sebagai temuan amat penting.

Kendati hanya membaca dari hasil terjemah Carra de Vaux yang sedikit dibumbui pandangan kurang positif dan meremehkan, Otto Neugebauer mampu menangkap petingnya persoalan yang ditangkap at-Tusi. Otto Neugebauer teringat bab III pasal 4 De revolutionibus tentang perlunya mekanisme yang memungkinkan dihasilkannya sebuah gerak lurus dari gabungan gerak-gerak berputar. Dan at-Tusi sudah mengungkapkan lebih awal dua abad sebelumnya daripada Copernicus. Otto Neugebauer tahu persis bahwa yang diperbuat at-Tusi betul-betul baru, tidak pernah ada dalam buku-buku astronomi Yunani.

Sebaliknya dengan Copernicus, simpul Otto Neugebauer, yakni diam-diam menggunakan teorema at-Tusi dan mengemukakan pembuktian yang sama persis namun tidak menyebutkan sumber rujukan. Andaikan temuan orisinal langsung dirinya, Copernicus pasti mengklaim dan menuliskannya. Ini justru tidak ia lakukan. Artinya, Copernicus memang sudah melakukan separuh tanggung jawab ilmiah, yakni dengan tidak mengakui langsung teorema dan pembuktian itu sebagai karyanya. Hanya saja, ia masih teranggap ‘berutang’ karena tidak mengungkap siapa rujukan pentingnya teorema itu. Alih-alih jujur, Copernicus malah mengutip Proclus dalam uraiannya untuk buku Euclid.

“Siapa pun yang membaca Proclus dengan teliti akan menangkap bahwa yang dibicarakan Proclus adalah garis-garis lengkung dan lurus yang dihasilkan oleh satu sama lain,” jelas Saliba, “dan bukan gerak berayun yang terhasil dari gerak putar sempurna yang diperlukan oleh at-Tusi maupun Copernicus untuk memecahkan persoalan astronomi tersebut di atas.”

Willy Hartner pada 1973 kian menguatkan temuan Otto Neugebauer, dengan menemukan ciri mencolok para pembuktian Copernicus yang ternyata “menyalin” karya at-Tusi. Copernicus sekadar mengganti huruf Arab dalam temuan at-Tusi!

PERJALANAN MENEMUKAN KEBENARAN DALAM pengetahuan sesungguhnya kerja-kerja kolektif. Terlebih ketika menyibak satu tabir yang masih dirasakan asing. Ada saling koneksi dengan temuan terdahulu dalam kerangka kerja berkesinambungan. Di sinilah letak penting tanggung jawab ilmiah. Ia karenanya bagian dari adab para penimba ilmu, terlepas pengetahuan terujuk itu berasal dari peradaban yang dimusuhi.

Namun budaya ilmu memang sering dihadapkan dengan prasangka-prasangka di benak kepala. Seperti Bernard Carra de Vaux, yang sekalipun andilnya besar dalam penerjemahan karya Nasiruddin at-Tusi, ternyata meluputkan satu fakta berharga. Misalkan saja prasangka ala kulit putih abad 19 tidak terjadi. Lebih-lebih kepada negeri berpenduduk dan saintis Islam. Kebanggaan pada kejayaan Renaissans Eropa menutup mata permata amat penting yang membuka fakta sebenarnya. Di lain pihak, Copernicus memang menggunakan temuan-temuan penting saintis Muslim. Sayangnya, ia tidak menerapkan penuh disiplin kejujuran. Ada alasan-alasan pribadi, apa pun itu, menutupi kesadaran diri dari bersikap ilmiah.

Ketika melontarkan gagasan matahari sebagai pusat tata surya, menggeser Bumi sebagaimana di alam berpikir dunia kala itu, Copernicus bak kesatria. Teorinya mengguncang kalangan gereja yang kadung meletakkan Bumi tidak sebatas sentral jagat tapi juga pusat teologi dan keakuan manusia. Ujian demi ujian pun dialaminya sampai kemudian ia meraih banyak pendukung. Dengan kondisi gereja yang masih memusuhi kalangan Moor (sebutan bagi orang Islam), bisa saja Copernicus memilih menyembunyikan andil mereka di balik karya pentingnya. Tanpa merujuk saintis Islam saja sudah dikecam gereja, apatah lagi jelas-jelas benderang mengekor pada teorema mereka.

Di sinilah kita paham makna penting firasat orang-orang yang hadir kemudian ketika memegang De revolutionibus. Tidak menjadikannya sebagai kitab suci dengan alibi ilmiah sekalipun tanpa berani mengungkap ada kealpaan. Kepler memang baru sebatas menulis surat penuh tanya kepada sang guru. Tapi ini sudah sebuah firasat akan adanya keganjilan di balik karya penting Copernicus. Di ulu benak Otto Neugebauer, Edward Kennedy, Willy Hartner, ataupun Victor Roberts, firasat tidak cukup dihentikan sebagai prasangka buruk. Mereka menindaklanjuti bisikan, ilham, intuisi, yang berkumulasi dengan pengalaman dan pengamatan selama ini sebagai aktivitas observasi.

Firasat bukanlah prasangka lantaran firasat bukan kalimat bertanda titik. Ia masih berlanjut untuk diteruskan dengan serangkaian aktivitas hingga titik itu tertemui, bahkan melahirkan titik-titik berikutnya. Berbeda dengan prasangka, ia sudah mengakhiri sebuah apriori dengan rasa malas bahkan sebelum aktivitas dilangsungkan.

Firasat tak ubahnya mekanisme penyelidikan sains ala Ibnu al-Haytsam, yang pengaruhnya juga tidak diragukan dalam lahirnya Renaissans. Firasat paralel dengan hipotesis yang tengah diperjuangkan. Adanya untuk membantah pandangan yang ada, memperbaiki ataupun menambah pandangan yang ada. Bisa juga untuk menyelesaikan perdebatan yang ada. Curiga di awal bukan untuk mengorek kekurangan pihak lain. Ia ingin meletakkan semua dan setiap subjek maupun objek dengan adil dan bijak. Karena itulah, berfirasat bukan saja indikasi kemajuan, namun juga mencirikan adab. Kelebihan inilah yang membedakannya dengan prasangka.

Ketertinggalan umat Islam dari negeri yang kita sebut Barat kiranya bisa dilihat dalam segi firasat. Mari kita posisikan sebagai nama-nama di atas yang menyelisik ‘kealpaan’ Copernicus. Akankah kita berhenti dan membuat kesimpulan bahwa sang saintis helosentris itu jahat dan pendusta. Atau malah sebaliknya, bekerja lebih jauh mencari tahu apa yang terjadi tanpa harus menuduh dan menyepelekan Copernicus.

Sementara di sana kerja-kerja apriori, skeptis, dan kritis berjalin erat dengan eksperimen atau observasi, kita—umat Islam—mencukupkan untuk kritis dan sinis. Meletakkan temuan awal sebagai kesimpulan. Dan ini sudah jadi kebiasaan dalam keseharian dalam praktik adab. Menilai seorang al-akh atau jamaah lain dari fakta-fakta yang ada, temuan yang tertangkap indrawi. Menilai dari yang lahiriah tanpa beranjak menguji lebih jauh gemuruh hati pada kalangan lain.

nico 2

KERJA-KERJA PARA SAINTIS mari kita petik dalam rangka membenahi adab dan amal dakwah kita. Melihat fenomena bukan menjadi dasar melahirkan kesimpulan final, bahkan abadi. Dari fakta yang ada di masa lalu dan sekarang, muncul stigma-stigma yang sebenarnya lemah. Yang ada barus sebatas menarik berdasar pada kerangka pikiran kita. Sementara kemauan menguji pihak lain terbentur fanatisme pada kerangka berpikir kelompok atau diri, yang dipandang pastilah benar. Di sinilah prasangka pun melahirkan stigma abadi ke saudara sendiri sebagai Wahabi, Khawarij, Murjiah, ahli bidah, kafir, penjilat penguasa, sufi berkedok khurafat, dan label-label semacamnya. Prasangka bahkan bisa hadir di internal satu kelompok untuk menyingkirkan atau melanggengkan kepentingan dengan predikat-predikat tidak elok. Memecat kader sejamaah karena satu perbedaan ringan, merupakan ilustrasi sederhananya.

Melihat ke dalam kelompok sendiri kiranya patut diperbuat sebelum umat kokoh berhadapan dengan kekuatan lain. Berawal dari menuntaskan peliknya membedakan prasangka dan firasat kendati agama sudah memberikan batasan dan norma jelas. Sangkaan buruk dari sandaran fakta secuil mestinya tidak perlu dianggap; lain ketika mendapati kesumat kalangan luar-Islam yang sudah aksioma. Di sinilah letak kontradiksi yang jamak ditemui. Lebih sibuk menyangka buruk saudara sendiri, namun menggandeng sangka amat baik pada kalangan yang memusuhi Islam.

Hadirnya pengoyak ukhuwah di tengah rajutan pelbagai anasir umat untuk menuntaskan keberingasan kerja Densus 88 merupakan contoh aktual. Mencari fakta untuk kemudian jadi bahan sangkaan ketimbang menjadi firasat yang berujung kritis pada pihak yang sebenarnya menabrak kemanusiaan. Contoh lain adalah tidak diletakkannya kekuatan mata-batin (bashirah) pada satu jamaah dakwah ketika menepikan jauh-jauh kader vokal. Padahal, firasat mampu membedakan mana dusta mana yang silap belaka kalau mau diseriusi menegakkan kebenaran.

Otto Neugebauer saja mau menepikan dulu pandangan alam (worldview) tak enak pada dunia Islam. Bagaimana bisa Renaissans di Eropa berjalin dengan dunia saintis Muslim? Kalau saja ia berniat jahat, bisa saja dengan menutup rapat penyelidikan soal Copernicus. Tapi ia memilih menanggalkan ego, termasuk untuk membedakan bahwa sosok semacam at-Tusi, as-Syatir, al-Urdi, merupakan representasi Muslim; bukan mereduksi jadi: Arab. Amat beda Islam dan Arab dalam soal ini meski sering saling berkaitan. Dan Otto Neugebauer lugas menyebut ini karya saintis Muslim, tidak lokal sebagai ke-Arab-an. Cara berpikir semacam ini diikuti juga oleh para peneliti lainnya kemudian, semisal George Saliba.

Sementara itu, kita temui hari ini sebuah realitas umat yang masih berjuang untuk jujur dalam firasat. Untuk sebatas menanggapi fakta yang ada dan menilai adil para al-akh atau jamaah sebelah. Bukan menjadi pengumbar kesimpulan secara cepat dari fakta yang ada, namun sebetulnya mewakili wajah penghakiman penuh prasangka. Kita terbiasa dengan berpikir deduktif, menilai salah lebih dulu baru kemudian mencari bukti dan apologi—andai dikritik. Bukan memintal fakta yang berceceran untuk kemudian dengan dingin menilai firasat yang hadir di awal.

Firasat hadir untuk diuji, tanpa harus jatuh pada skeptis atau syak wasangka, untuk menilai dan mengukur kebenaran. Syak dalam epistemologi Islam amat kontras dengan Barat. Bila Barat menyanjung syak sebagai pintu menuju kebenaran, maka Islam—menurut Muhammad Naquib al-Attas dalam Tinjauan Ringkas Peri Ilmu dan Pandangan Alam (2015), menempatkan hidayah sebagai sumber kebenaran. Dalam konteks ini firasat bukan untuk mengokohkan syak, melainkan untuk menjemput kebenaran atau menggapai hidayah.

Syak (shak) menurut al-Attas adalah “keadaan hati teragak-agak tiada menentu antara dua perkara yang bertentangan dan yang hati itu tiada memberat menyebelahi mana-mana satu di antaranya kedua; ia adalah suatu keadaan hati berdiam resah di tengah-tengah dua perkara bertentangan tanpa cenderung ke arah yang satu atau yang lain. Sekiranya hati cenderung ke arah yang satu sedangkan tiada jua ia menolak yang lain, maka itu adalah dugaan. Sekiranya hati itu tegas menolak yang lain, maka ia telah tiba pada makam yakin. Penolakan yang lain oleh hati itu bukan disebabkan oleh shak akan kebenarannya, akan tetapi ia merupakan pengenalan yang pasti tentang kesilapan dan kepalsuannya. Inilah hidayah.”

Ya, mengenal yang pasti mana silap dan mana palsu itu penting bagi aktivis Islam. Ia merupakan kerja aktif yang terangkai dari rasa heran penuh menyelidik—firasat. Rasa inilah yang kemudian dipertanggungjawabkan dengan kerja pembuktian di area nyata.

Sumber : Catatan Facebook Bapak Yusuf Maulana

Saat Alby Belajar Berkata

Sumber : Google

Sumber : Google

Tidak salah memang ketika Sergey Brin dan Larry Page memutuskan untuk mengganti ‘google’ dengan ‘Alphabet’ sebagai induk perusahaan. Menurut Page, Alphabet (atau alfabet dalam Bahasa Indonesia) adalah penemuan paling penting dalam sejarah peradaban manusia karena ia melingkupi semuanya dari A hingga Z. Keberadaan alfabet memungkinkan kita untuk berkomunikasi dengan cara-cara yang lebih mudah. Para makhluk kekinian tertolong dengan rentetan huruf yang 26 sehingga mereka bisa update status unyu di media sosial. Netizen bisa saling adu argumen dan ‘anjing-meng-anjingkan’ juga karena bantuan alfabet. Bandingkan saja jika kita harus menggunakan semaphore atau morse jika harus berkomunikasi setiap saat. Susunan kalimat dari alfabet ini yang kemudian membantu manusia untuk berkomunikasi, menyampaikan pesan ke lawan bicara.

Proses manusia berkomunikasi memang melalui tahapan-tahapan tertentu yang dimulai sejak dalam rahim. Janin bisa memberikan respon setiap kali ada yang mengajak mereka berbicara. Bayi usia 4 bulan bisa mengenali nama mereka sendiri dan membedakannya dengan kata lain. Usia 6 bulan, bayi sudah mengenali ‘ayah’ dan ‘ibu’. Hingga akhirnya mereka mengalami ledakan kata di usia dua tahun Tahapan-tahapan itu bahkan bisa dikelompokkan, berdasarkan referensi, menjadi ‘cooing’, ‘gurgling’, ‘babbling (berceracau)’ lalu berbicara. Gue sulit mengggunakan transliterasi untuk dua tahapan pertama.

Beberapa anak memang berbicara lebih cepat. Belum sampai usia satu tahun mereka sudah bisa menggunakan kata pertamanya. Beberapa lainnya membutuhkan waktu lebih lama. Alby, jagoan gue, termasuk yang kedua.

Kami sebagai orang tua sering mengajak Alby berbicara dengan topik apa pun. Mulai dari gosip artis hingga debat antara Zakir Naik dan William Campbell. Karena kami sadar proses berbicara selalu didahului dengan mendengar. Berdasarkan riset oleh Roberta Golinkoff, balita sangat menyukai suara dengan nada yang tinggi. Setiap saat mereka melakukan ‘cooing’ pada saat diajak bicara menandakan mereka tengah memperhatikan apa yang dibicarakan. Bahkan sebelum mereka bisa berbicara dengan jelas, para bayi sudah bisa menterjemahkan emosi yang ada dalam nada saat seseorang bicara.

Usia Alby kini masuk 15 bulan. Ia sudah lancar berjalan. Kemana-mana maunya jalan. Sebagai rangkaian dari proses pertumbuhan bayi maka berjalan seyogyanya dipadupadankan dengan kemampuan bayi untuk berbicara. Masa-masa di mana bayi bertransisi dari ‘berceracau’ menjadi mampu untuk berbicara dengan sebenar-benarnya adalah masa-masa kritis. Mereka berupaya untuk menyampaikan keinginannya namun terbatas pada ketidakmampuan mengartikulasikan kata sehingga hasil akhirnya adalah mereka mengekspresikan ketidakmampuan tersebut dengan merengek dan menangis manakala apa yang mereka ingin tidak dimengerti oleh orang dewasa.

Beberapa waktu belakangan Alby sering sekali menguji kesabaran gue. Ia bersikukuh menolak dimandikan. Entah apa sebabnya. Padahal sebelum melakukan aksi penolakan terhadap mandi pagi, ia tidak pernah se-drama saat ini. Setiap kali kami membuka pakaiannya, entah apakah itu diniatkan untuk mandi atau sekedar mengganti baju yang basah, ia berontak. Menangis meraung-meraung seolah-olah dihukum oleh ibu tiri.

Gue yang kebagian jatah mandiin Alby setiap akhir pekan, sering kehilangan akal kenapa ia bisa segarang itu menghindari aktifitas bernama mandi. Gue yakin Alby sebenarnya ingin menyampaikan alasan spesifik kenapa ia bisa berubah 180 derajat hingga harus membenci mandi sedemikian rupa. Mungkin Alby mendalami filosofi ‘Kenapa mandi kalau besok harus mandi lagi’. Atau ia mengalami paranoid, khawatir saat di dalam kamar mandi ia diculik, disekap dan saat bangun tiba-tiba berada di ruang sempit tanpa bisa melihat dunia luar. Oke gue berhalusinasi. Bagian terakhir paragraf ini adalah sketsa film ‘room’ yang apik itu. Alby sejatinya tidak mampu mengatakan apa yang membuatnya memboikot mandi. Ia hanya bisa mengekspresikannya dengan tangisan dan teriakan yang membabi buta.

Menurut sang ibu yang sempat mendatangi dokter anak, bayi memiliki memori yang kuat sehingga jika terjadi trauma secara psikologis maka bayi tersebut akan mampu mengingatnya dengan sangat baik. Masih menurut istri gue, Alby mungkin pernah mengalami kejadian tidak enak pada saat mandi yang membuatnya menjadi rewel seperti saat ini. Kami pun harus terbiasa dengan tangisan Alby setiap pagi hingga dia bisa menyampaikan alasan mengapa mandi pagi begitu menakutkan.

Aktifitas rewel sebagai wujud belum mampunya Alby mengkomunikasikan keingingan terulang lagi pekan lalu. Saat kami bertiga harus menempuh perjalanan lebih dari satu jam, Alby menangis menjadi-jadi di dalam mobil. Mulanya kami mengira ia kepanasan karena AC mobil sengaja dimatikan mengingat kondisi istri yang tidak kuat berdingin ria. Sejenak setelah AC nyala, tangis tersebut tidak berhenti. Kemudian kami berspekulasi bahwa Alby kelaparan. Lalu kami menyerahkan biskuit agar bisa segera ia makan. Tapi tangis tersebut tak berubah sedikit pun menjadi diam. Gue hampir ngebakar menyan dengan asumsi Alby lebih doyan menyan ketimbang biskuit.

Pasrah kehilangan ide, kami menghentikan mobil di alfamart untuk membeli susu dan menyeduhnya saat itu juga. Alby perlahan mulai berangsur tenang. Ternyata kericuhan itu disebabkan oleh panasnya cuaca Bandung yang dikombinasikan dengan ketiadaan susu yang senantiasa menjadi dopingnya. Gue tidak pernah tahu betapa susu bisa membuat bayi teradiksi dengan parah. Jadilah siang itu menjadi hari menangis sedunia.

Sebagai manusia dewasa yang tidak mengerti bahasa bayi, gue terkadang pasrah menghadapi segala tangis dan rengekan anak. Sesekali karena kekesalan yang memuncak, gue kehilangan bentuk-bentuk kesabaran. Nampaknya gue mesti membaca kembali kisah para Sahabat terutama Anas bin Malik yang tidak pernah mendengar sedikit pun kata-kata kasar selama lebih 10 tahun membersamai Nabi. Atau belajar kembali ketabahan Ibunda Imam Masjidil Haram, Syaikh Sudais, yang mendoakan kebaikan di tengah kemarahan.

Komunikasi selalu menjadi sumber konflik terbesar umat manusia. Jika para balita memiliki concern khusus untuk mengungkapkan apa yang di kepala namun dibatasi oleh fungsi anggota tubuh yang belum bekerja dengan sempurna maka orang dewasa memiliki masalah komunikasi yang lebih kompleks. Anak-anak yang berlari, membuat gaduh masjid setiap kali sholat berjamaah berlangsung sering kali mendapatkan ragam hardikan yang berkelindan dengan cacian. Orang-orang yang mendaku dirinya sebagai faqih, ulama acap kali lupa bagaimana dan dengan siapa mereka berkomunikasi. Orang-orang dewasa lainnya yang menikah pun bercerai karena masalah komunikasi. Jadi anakku Alby, jangan galau. Semua orang memiliki masalah yang sama.

Hingga saat tulisan ini dibuat, Alby masih berusaha dengan keras untuk membuat orang-orang dewasa mengerti apa yang mereka mau. Satu-satunya kata bermakna yang secara jelas berhasil ia ucapkan adalah kata ‘ayah’. Alby bisa dengan ‘semena-mena’ memanggil semua orang yang ia lihat dengan ‘ayah’. Kemampuan ini tidak terlepas dari kebiasaan kami yang sering mengajari Alby mengucapkan ‘ayah’ dan ‘bunda’ sedari awal. Hanya karena ‘bunda’ lebih sulit diartikulasikan maka ‘ayah’ adalah pilihan kata yang paling mudah untuk terucap.

Kami tidak menuntut Alby untuk sesegera mungkin berbicara. Apa-apa yang tumbuh dengan instan dan terpaksa tidak akan pernah bisa menyaingi semua yang tumbuh dengan alami. Semoga Alby terjaga dari berkata-kata yang tidak bermanfaat dan semoga lisannya mengandung hikmah.

Cerita Tentang Kehamilan Kedua

'Are you sure? - I only remember creating TWO of them.'

Source : Google

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Indonesia (BPS), jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2010 adalah 237.641.326 jiwa yang mencakup 49,79 persen penduduk yang tinggal di perkotaan dan 50,21 persen penduduk tinggal di daerah pedesaan. Ketersebaran penduduk tersebut tidak merata. 60% penduduk terkonsentrasi di pulau jawa. Jika dijumlah dengan jumlah penduduk yang ada di Sumatra, angka tersebut bertambah menjadi 80%. Seks rasionya adalah 101, berarti terdapat 101 laki-laki di antara 100 perempuan. Alasan klise poligami untuk menjawab tantangan jumlah wanita lebih banyak daripada pria patah dengan sendirinya berdasarkan angka statistik ini.

Pada tahun 2035, berdasarkan proyeksi oleh BKKBN, angka penduduk Indonesia akan mencapai 305,6 juta penduduk. Banyak? Memang.

Omong-omong mengenai jumlah penduduk, kelahiran, kematian dikenal dengan istilah demografi. Urusan demografi menjadi penting karena berhubungan dengan perencaaan pendidikan, perpajakan, perekonomian, kesejahteraan dan pada ujungnya beririsan dengan eksistensi sebuah negara.

*****

Orang tua gue punya tujuh orang anak. Di era beliau, slogan ‘banyak anak banyak rezeki’ berhembus dengan kencang. Itulah mengapa era tersebut memberikan sumbangsih yang sangat signifikan pada anatomi penduduk Indonesia saat ini.

Jika saja emak gue mengikuti anjuran ‘dua anak cukup’ maka seyogyanya gue dan empat orang kakak gue lainnya tidak akan pernah melihat betapa kerennya Kotaro Minami. Tapi tidak. Nyokap ga berenti di dua anak karena pada saat itu beliau belum mendapatkan anak perempuan. Gue masih inget ucapan nyokap yang berujar bahwa memiliki anak perempuan memberikan rasa aman dan nyaman tersendiri bagi orang tua. Mereka sangat berharap kepada anak gadis sebagai jaminan hari tua mereka. Dan pada akhirnya gue memiliki 3 orang kakak laki dan 3 orang kakak perempuan secara berturutan.

Orang tua gue hebat. Mereka mesti ngurusin 7 orang anak tanpa ikut seminar parenting ini dan itu. Tanpa rupa-rupa jenis susu. Dan kami tetap tumbuh dengan sehat dan normal. Coba bandingkan dengan orang-orang generasi Y, Z. Memiliki anak berarti menyajikan peluang bisnis dan pundi-pundi uang bagi kaum kapitalis. Bayi-bayi yang baru lahir ke dunia sudah ditunggu oleh semua produk mulai dari makanan, popok hingga mainan. semua orang khawatir dengan tumbuh kembang anak sehingga mereka menjadi korban empuk pariwara yang berseliweran di televisi. They who can share opinion, can shape event.

Keluarga besar gue sedikit banyak bertolak belakang dengan istri. Ia hanya memiliki seorang adik. Perbedaan demografi keluarga tidak menghalangi kami untuk bersikap demokratis dalam menentukan jumlah anak yang akan kami miliki. Gue pribadi berharap memiliki empat orang buah hati. Sementara istri tidak memproyeksikan angka tertentu. Gue ga takut dengan ledakan populasi. Saat gue berusaha memiliki anak lebih daripada anjuran pemerintah, gue hanya berusaha menyeimbangkan jumlah penduduk Indonesia karena di belahan bumi lain Indonesia pasti ada keluarga yang kesulitan ber-regenerasi. Tidak percaya?.

Berdasarkan data dari BKKBN, pertumbuhan rata-rata per tahun penduduk Indonesia selama periode 2010-2035 menunjukkan kecenderungan terus menurun. Dalam periode 2010-2015 dan 2030-2035 laju pertumbuhan penduduk turun dari 1,38 persen menjadi 0,62 persen per tahun. Juga, persentase penduduk Indonesia yang tinggal di Pulau Jawa terus menurun dari sekitar 57,4 persen pada tahun 2010 menjadi 54,7 persen pada tahun 2035. Persentase kelahiran penduduk di pulau jawa relatif menurun tahun ke tahunnya. see?

Semenjak adanya Alby, kami tidak pernah mendiskusikan secara khusyuk kapan sebaiknya Alby memiliki adik. Sesekali kami hanya berdiskusi ringan bahwa memiliki anak kedua secepat mungkin adalah pilihan bijak karena kami selalu mengingat-ingat nasihat yang dituliskan di bagian bawah buku tulis ‘Jangan menunda sampai esok apa yang bisa kalian lakukan hari ini’. Lagian, kami khawatir jika harus menunda maka bisa saja ada potensi kesulitan untuk mendapatkan anak kedua. Kami satu suara bahwa setidak-tidaknya boleh memiliki dua orang anak dalam rentang waktu yang berdekatan. Anak-anak setelahnya akan diatur kembali berdasarkan syarat dan ketentuan yang berlaku.

Kami tidak menggunakan alat kontrasepsi apa pun selepas kelahiran anak pertama. Air susu ibu adalah alat kontrasepsi yang efektif. Selama 1 tahun setelah kelahiran Alby, istri gue belom pernah dapet menstruasi. Artinya selama masa itu ia dorman alias ga bisa hamil. Sebulan setelah mendapatkan ‘kiriman’ pertamanya istri gue mendadak sering pusing, lemes, tidak bertenaga. Apalagi abis liat dompet di tanggal tua. Lemesnya semakin menjadi-jadi. Gue curiga. Apa istri gue mengidap sindrom Olshopilia. Sebuah gangguan hasil imajinasi gue di mana seseorang mengalami gelisah apabila tidak bisa belanja onlen diakibatkan oleh bokek dan alasan lainnya. Tapi rasanya tidak mungkin. Tanpa bermaksud sombong, uang belanja tiga bulan yang lalu aja masih bisa beli tas hermes mirip punya Syahrini. Setelah berpikir keras, gue berkesimpulan ibunya Alby hamil lagi. Untuk memastikan gue minta ia buat testpack.

Saat testpack pertama, hasilnya negatif. Istri gue lupa bahwa testpack bekerja dengan menggunakan urin bukan air liur. Saat testpack kedua hasilnya ternyata POSITIF. Alhamdulillah. Alby bakalan punya adek.

Sejujurnya kehamilan kedua ini di luar dugaan kami. Saat tahu istri tengah mengandung untuk kedua kalinya, Alby baru berusia satu tahun lebih beberapa minggu. Jika saat mengandung Alby kami dikhawatirkan dengan persiapan menyambut anak pertama maka untuk hamil kedua yang menjadi konsentrasi adalah bagaimana mempersiapkan Alby menjadi kakak di usianya yang nanti belum genap dua tahun juga di saat bersamaan harus mengurusi kembali rupa-rupa tetek bengek keriweuhan bersama bayi yang baru dilahirkan. Tapi bagaimana pun kami sangat senang menyambut anggota keempat keluarga.

Sulit sebenarnya saat harus tetap memperjuangkan ASI untuk Alby namun di saat bersamaan harus mengandung. Setelah berdialog dengan dokter kandungan, dokter anak dan sms yang kami terima setelah mendaftar ke ‘reg <spasi> hamil’, kami dengan sangat terpaksa menghentikan pasokan ASI untuk Alby. Dan menurut gue Alby pun sepakat dengan keputusan ini. Buktinya waktu gue minta pendapat, Alby bergumam tidak jelas yang gue anggap sebagai sebuah bentuk persetujuan.

Menurut dokter kandungan, memaksakan diri untuk tetap menyusui di saat mengandung dapat memicu kontraksi. Memang ada beberapa kasus mereka yang berhasil melakukan keduanya dengan baik. Tapi demi keselamatan dan kenyamanan serta kesempurnaan cinta, kami pun memutuskan untuk tidak melanjutkan proses menyusui. Biarlah sapi yang selanjutnya menggantikan peran tersebut.

Masalah lain saat harus memutus ASI untuk Alby adalah mencari susu pengganti. Dan mencari susu pengganti ternyata tidak gampang. Sebagian orang pro susu UHT, sebagian lagi cenderung kepada susu bubuk. Mereka bertarung dengan argumennya masing-masing hingga salah seorang temen gue yang berprofesi sebagai dokter menjelaskan bahwa susu apa pun sama baiknya untuk balita. Suplai energi terbesar mereka ada pada makanan bukan susu. Susu hanya berperan sebagai pendamping. Mendengar penjelasan tersebut, gue semakin percaya diri untuk memilihkan Alby SUSU KUDA LIAR.

Awalnya kami memberikan susu UHT. Apa yang terjadi? Alby mencret. Perutnya belum bisa beradaptasi dengan susu sapi. Lalu kami memberikan susu bubuk. Ia tetep mencret. Makanan yang ia cerna keluar bersama dengan fesesnya. Dokter anak berkata bahwa kemungkinan besar Alby belum bisa mengkonsumsi susu dengan laktosa. Dokter merekomendasikan susu non-laktosa. Dan ternyata benar. Fesesnya kembali normal setelah minum susu tersebut. Sayang gue ga sempet mengabadikan bukti.

Kembali ke konteks kehamilan kedua.

Untuk kehamilan kali ini, istri gue lebih sensitif dibandingkan kehamilan pertama. Ia sangat tidak bisa membaui segala bentuk sabun, masakan, dan banyak aroma lainnya. semua bau tersebut membuatnya mudah mual dan muntah. Kehamilan kali ini juga ditandai dengan fisik yang semakin cepat lelah. Kondisi ini cukup berbeda saat mengandung Alby. Saat hamil pertama, Nisa (bini gue) juga mengalami mual parah namun hanya terjadi sesekali saja. Tidak sesering kehamilan yang sekarang. Kami menduga-duga apakah gejala kehamilan yang berbeda ini berhubungan dengan jenis kelamin bayi. Jika benar, berarti anak kedua kami berjenis kelamin perempuan. Ah, ini cuma logika cocoklogi gue aja. Yang paling penting anak tersebut lahir dengan sehat, Selamat tanpa kekurangan satu apa pun.

Gejala-gejala lain saat hamil kedua ini adalah untuk pertama kalinya bini gue ngidam. Ngidamnya kedondong. Untung cuma kedondong. Kebayang kalo dia ngidam durian botak atau salak tanpa biji atau ngidam kurma yang dipetik oleh Tapasya.

Yang bikin gue khawatir adalah bini gue bermasalah dengan makan selama kehamilan kali ini. Selain rentan muntah gejala lainnya adalah kesulitan minum. Ia harus memberi jeda beberapa menit hingga jam sebelum bisa menenggak air. Atau biasanya air mineral harus dicelupi teh, lemon atau bahan lain yang memberikan nuansa warna atau rasa berbeda. Sempet istri gue minum air teh setiap saat setelah makan namun air teh dikhawatirkan mengikat zat besi yang notabene seharusnya diperlukan oleh bayi.

Hingga akhir pekan kemarin usia kandungan Nisa sudah 13 pekan. Alhamdulillah janin tersebut nampak sehat dan terlihat bergerak saat alat USG menyentuh kulit ibunya. Sungguh sebuah kebahagiaan terbesar untuk kami saat diamanahkan kembali untuk merawat seorang anak.

Semoga dedek janin, A keempat dalam keluarga kami sehat selalu. Semoga ibunya pun diberikan semua kesehatan dan kebaikan. Semoga semua lelah, mual, letih, lemah yang didera menjadi penebus dosa. Semoga saya selaku kepala keluarga  mampu menjadi teladan untuk Alby dan adiknya. Dan semoga Alby mempunyai teman bermain dan bersedia membagi mainannya.

Sribulancer Untuk Penulis Lepas

Otak gue mampet.

Ya. Beberapa bulan ke belakang daya kreasi otak gue untuk menghasilkan tulisan-tulisan ber-nas semakin berkurang. Ga ada lagi tuh tulisan bergaya naratif-eksplanatori saat gue membuat langkah-langkah jitu menghemat penggunaan BBM. Atau tulisan bernuansa melankolis penuh petualangan mendaki merbabu. Tulisan-tulisan gue kini tidak jauh-jauh dari urusan rumah tangga, bayi, nikahan temen, urusan rumah tangga tetangga, bayi tetangga beserta susu merek apa yang mereka minum dan uang siapa yang mereka gunakan untuk membeli susu tersebut. Apakah A, uang ayah. B, uang ibu. Atau C, uang sampah pada tempatnya. Hoamm….

Bukan berarti gue ga bahagia menuliskan perjalanan hidup Alby dari bayi nol bulan sampe saat ini. Gue bahagia kok. Tapi gue butuh topik baru untuk konten blog. Bahan bacaan gue pun ga banyak membantu. Lebih-lebih sejak kenal situs mojok gue malah berpura-pura satir dalam tulisan. Sok iye, kan?

Lagi-lagi gue mencari kambing hitam atas ketidakmampuan gue membuat tulisan dengan topik lain. Gue berkesimpulan bahwa blog yang kita asuh adalah perwujudan dari perjalanan hidup seseorang. Saat kuliah gue banyak mengulas tentang serba-serbi kehidupan kampus, kisah jomblo dan tulisan ngalor ngidul ga jelas juntrungannya. Begitu juga waktu koneksi internet merajalela di rumah kontrakan, gue saban waktu mengulas banyak hal yang disajikan oleh situs semacem TED atau menceriterakan kembali paparan subtil oleh Dan Pink, Simon Sinek, Dan Ariely dan kroco-kroconya. Sekarang semua berbeda. Ritual kehidupan gue berputar antara kantor, kosan, rumah setiap akhir pekan, bercengkrama bersama keluarga, dan kembali ke kosan. Siklus ini membuat gue stagnan dalam berkreasi. Oke gue tahu membersamai keluarga adalah punchline dari narasi hidup. Yang jadi sorotan gue adalah bagian-bagian hari lainnya dalam seminggu. Inspirasi apa yang bisa didapat dari pekerjaan kantor? Menulis tentang troubleshooting ketidaksesuaian Melt-flow-rate pada proses pembuatan plastik injection molding? Atau membuat tulisan korelasi antara kebahagiaan karyawan dengan warna kaos kaki bos? Tulisan-tulisan serius yang membuat dahi berkerut dan mulut mengerucut jelas-jelas bukan lapak gue.

Semakin lama konten blog rasanya semakin tersegmentasi. Temen SMA gue belakangan ini lebih sering menuliskan tentang tema-tema permainan anak beserta tips-tipsnya. Atau tutorial membuat gendongan dan cara menanam jagung tanpa lahan. Pokoknya yang soo emak-emak. Padahal dulu mah blognya berisi kontes cakep-cakepan (literally, ini judul tulisannya) juga berisi galau-galauan. Dunia berubah, manusia di dalamnya berubah, Power Ranger juga berubah. Yang ga berubah cuma cinta ibu pada anaknya dan belahan rambut Kak Seto.

Temen SMA gue lainnya juga mengikuti pola perubahan yang sama sehubungan dengan konten blog. Mulanya blog tersebut berisi doa-doa berharap jodoh, konten romansa jayus hingga kisah cinta syar’i. Tapi kini blognya berisi tentang doa-doa berharap jodoh, konten romansa jayus hingga kisah cinta syar’i. Sori gue lupa. Temen gue yang ini jarang update blog.

Dan pada akhirnya gue harus memberi jeda tulisan-tulisan tentang bayi, urusan rumah tangga, parenting atau tulisan bertemakan ke-orang-tua-an lainnya.

Singkat cerita, temen kantor gue, akhirnya ada porsi dunia pekerjaan dalam tulisan gue, memberitahukan bahwa ada situs yang memberikan ruang bagi para freelancer termasuk penulis lepas abal-abal macam gue untuk berkarya. Nama situsnya Sribulancer *bukan blog berbayar*. Situs yang menghimpun para pencari kerja lepas maupun pemberi pekerjaan untuk dipertemukan dalam ikatan suci tanpa penghulu. Kalian bisa menamukan banyak sekali pekerjaan-pekerjaan menulis, web developer, penerjemahan dan lain-lain. Tentunya bukan pekerjaan yang serius seperti mengaudit harta kekayaan Budi Hartono. Pokoknya pekerjaan yang mengembalikan seorang freelancer pada khittahnya

Setelah melihat-lihat etalase situsnya, gue tertarik untuk bergabung. Bukan karena alesan nominal. Karena siapa sih gue. Nulis di Kompasiana aja kagak ada yang baca. Alesan utama buat join di situs ini adalah ia memberikan kesempatan buat tulisan-tulisan gue agar semakin tersebar di dunia maya dengan spektrum topik yang beragam. Semacam menambah portofolio. Mana tahu ada penerbit yang amnesia lalu secara tak sadar menerbitkan tulisan gue dan menjadikannya buku kemudian menarik buku tersebut dari peredaran setelah ingatannya pulih.

Demikianlah tulisan tidak penting gue kali ini.

*Ditulis dengan setengah sadar diakibatkan sepinya kantor*

Selamat Ulang Tahun, Bunda

IMG-20160208-WA0025Beberapa pekan sebelum tanggal 7 Maret 2016, gue sibuk mengubek-ubek internet perihal benda apa yang paling pas diberikan oleh suami pada istri tercinta di hari ulang tahunnya. Tidak ada informasi baru yang gue dapet dari internet. Hadiah-hadiah yang direkomendasikan terlalu umum. Masih seputar memberikan emas, sepatu hingga istri baru. Yang terakhir seriusan cuma bercanda, yang.

Berhubung artikel-artikel tersebut dicari oleh mesin yang notabene tidak memiliki afeksi maka sejatinya gue harus mencari referensi pada orang-orang yang sudah memiliki khasanah rumah tangga dan per-cinta-kasih-an yang sudah mapan. Oleh karena itu, gue, tanpa ragu, menghubungi Eyang Subur. Istrinya ada 8, bro. Satu orang lagi udah bisa bikin girl band nyaingin SNSD. Masalah rumah tangga? Jangan ditanya. Kuantitas menunjukkan segala-galanya. Tapi berhubung gue khawatir disamperin Arya Wiguna terus bikin dia terkenal lagi, niat tersebut gue batalin. Sudah cukup tipi gue dipenuhi sama orang-orang konyol yang menjadi popular karena ‘didukung’ oleh penonton dengan level kecerdasan yang sama.

Gue, pada akhirnya, berdiskusi dengan temen SMA gue yang sering gue anggap sebagai guru spiritual. Ceile.

Menurut temen gue ini, sebagai seorang istri dia sih ga pernah minta apa-apa kalo ulang tahun. Palingan minta dibeliin tas hermes mirip punyanya Syahrini. Dan saat itu juga gue berasa pengen nampol seseorang.

“Beliin aja sepatu atau tas atau baju” Ujar temen gue.

“Ohh!!” gumam gue.

Berarti inisiatif gue untuk ngebeliin istri baju, sepatu dan tas saat ultahnya ga melenceng dari nasehat temen gue yang udah punya buntut tiga ini.

Istri gue sebenernya juga ga pernah minta apa-apa. Gue udah pernah menyinggung perihal hadiah apa yang dia pengen saat ulang tahun tapi dia tidak pernah menyebut secara spesifik hadiah yang dia mau. Dia cuma bilang, dengan tersirat, bahwa kalo mau beliin hadiah jangan beliin tas. Kalo bisa sih sepatu. Soalnya sepatu sebelah kirinya tertinggal saat sedang ikut pesta bersama pangeran. Jadi dia ga punya stok sepatu lagi. Hmm… lucu ga, lucu ga? Ga ya?

Dari semua diksi tak berguna yang gue tulis di atas, gue menyimpulkan bahwa di hari ulang tahun bini tercinta, gue akan memberikan kado yang bukan tas. Bisa dipakai. Dan digunakan di kaki. Maukah kau membantuku menjawabnya?

Iya benar!.

Gue akan membelikan BAJU. B.A.J.U…

Dan juga sepatu.

Kenapa baju? Gue tahu persis bini gue belakangan ini sangat jarang membeli baju. Selepas menikah, ia lebih banyak menjahit bajunya sendiri mengingat baju-baju lamanya sudah memasuki fasa ‘kekecilan’. Berangkat dari realita tersebut ditambah dengan alasan tidak lama lagi istri gue akan membutuhkan baju dengan ukuran yang lebih besar, gue pun berinisiatif membelikan baju untuk berpergian.

Bicara mengenai baju, khusunya dress untuk berpegian wanita muslimah, pikiran gue tertohok pada bisnis baju onlen temen kuliah gue yang karena passi-on dan juga force-on (:p) rela meninggalkan kenyamanan bekerja sebagai PNS demi merengkuh mimpi bersama sang istri untuk mengembangkan bisnis baju muslimah onlen. Baju-baju tersebut berseliweran di Instagram gue. Dengan sigap gue hubungin dia untuk bertanya-tanya mengenai baju yang ia jual. Sebenarnya pada saat kehamilan pertama, istri gue sempet membeli salah satu baju di olshop yang sama sekaligus mengukuhkan predikatnya sebagai pelanggan pertama.

Gue berdiskusi baju yang cocok untuk sang istri. Pilihan gue akhirnya terhenti pada long-dress warna biru dengan corak hitam yang sangat manis. Ah, lagi-lagi jiwa melankolis gue keluar. Untung gue ga pernah ketemu Saipul Jamil. Oke. First Mission Completed!.

Tugas kedua gue adalah mencari kado bernama SEPATU. Seperti yang sudah gue jelasin di atas bahwa gue tertarik memberikan sepatu sebagai kado ulang tahun istri didasari oleh sedikitnya koleksi sepatu yang ia miliki. Gue langsung bergerilya mencari tahu seperti apa sepatu yang pas. Setelah berdiskusi dengan temen kantor dan mendapatkan berbagai masukan, gue akhirnya tercerahkan dan mendapatkan gambaran sepatu yang akan gue beli.

Ada banyak faktor yang sangat mempengaruhi kecocokan antara sepatu dan pemakainya. Berhubung gue berniat memberikan surprise ke istri, gue ngubek-ngubek toko sendirian bermodalkan contoh berupa sepatu istri yang gue simpen di dalam tas. Dan ternyata, mencari sepatu itu tidak semudah mencari jodoh (sok iye). Setelah berthawaf keliling toko selama beberapa putaran, gue nyerah. Gue khawatir sepatu yang gue beli tidak sesuai ukuran maupun bentuknya dengan preferensi istri. Karenanya niatan gue untuk menghadiahkan sepatu harus tertunda.

Dikarenakan ulang tahun istri jatuh di hari senin, kami merayakannya dengan makan-makan di Karnivor, Bandung, sehari sebelumnya. Buat kami berdua makan-makan adalah jalan keluar terbaik dari setiap permasalahan yang ada. Karena setelah makan, otak dapat kembali bekerja dengan baik sehingga solusi dari setiap permasalahan bisa muncul dengan sendirinya. Sepulang dari acara makan-makan tersebut, gue secara jujur mengakui bahwa gue sempet mencari-cari sepatu sebagai hadiah. Sayangnya niatan tersebut urung terealisasi karena masalah sepatu ini sangat berhubungan dengan selera sambil berjanji akan mencari sepatu bersama-sama manakala ia sudah semakin sehat dan tidak dihampiri kembali oleh rasa mual seperti saat ini.

Gue tidak pernah menjadi orang sabaran. Mungkin kalo ‘On The Spot’ bikin video ‘7 orang paling tidak sabar di dunia’ gue pasti menjadi salah satu nominasinya. Berangkat dari ketidaksabaran tersebut, rencana gue memberikan kado pada hari-H ulang tahun batal. Gue sekonyong-konyong memberikan kado berisikan baju yang sudah gue beli  setibanya di rumah sepulang dari makan-makan. Gue juga berpesan agar kotak kadonya jangan dibuang karena harganya mendekati harga baju. Iya, harga kotak buat kado hampir sama dengan isi kado itu sendiri.

Gue sadar bahwasanya segala rupa materi yang gue berikan untuk istri tidak akan berarti manakala tidak diiringi dengan doa yang tulus dari palung hati. Semua bentuk tas, sepatu, baju, berlian dan banyak lainnya hanyalah benda yang usang bersamaan dengan bertambahnya waktu. Kecuali berlian. Usangnya lama. Makanya gue ga pernah ngasih berlian.

Selamat hari lahir, sayang.

Semoga pertambahan usia ini dimaknai dengan pertambahan segala kebaikan dan keberkahan. Ayah dan Alby selalu mengharapkan yang terbaik buat, bunda. Terimakasih atas segala lelah, letih, payah yang bertambah-tambah selama mengurus keluarga. Semoga semua dibalas dengan pahala yang berlimpah.

Selamat hari lahir, sayang.

Semoga janin yang ada di kandunganmu terus tumbuh dalam keadaan sehat hingga hari dimana kelak ia dilahirkan. Semoga engkau juga selalu sehat dalam upaya mengandung sang adik. Semoga semua mual, rasa lemas selama kehamilan kedua ini menjadi penebus dosa.

Selamat hari lahir yang ke-28, bunda.

Langkah Pertama Alby

20160130_093053Apa yang lebih seru, rame, menyenangkan dan mengharukan daripada memiliki seorang bayi? Memiliki dua orang bayi. Iya bener, TAPI PERTANYAAN GUE RETORIS. Jadi ga usah dijawab.

Maksud gue, memiliki seorang bayi jauh lebih membahagiakan daripada diterima bekerja di Google menggantikan Sundar Pichai atau bahkan menikahi Jennifer Gates, putrinya orang paling kaya se-Planet Bumi. Itulah mengapa terkadang gue merasa heran dan sedih ketika membaca sejarah dimana ada masa saat semua bayi laki-laki harus dibunuh atau di saat bayi-bayi perempuan yang dianggap lemah harus dikubur hidup-hidup. Entah apa yang ada di pikiran kaum barbar di zaman baheula. Hanya demi sekedar aristokrasi, bayi-bayi yang tidak berbakat untuk menjadi ksatria harus dibunuh seperti terjadi oleh Bangsa Sparta.

Memiliki bayi dan mengamati setiap fasa pertumbuhan mereka selalu menghadirkan rona-rona kebahagiaan. Dalam setiap tahap perkembangannya, seorang bayi yang tumbuh menjadi balita selalu bertingkah menggemaskan yang mengundang decak kagum orang tua. Tanpa terkecuali. Begitu pun dengan Alby, jagoan gue.

Alby sekarang sudah melewati setahun pertamanya. Gue bersyukur ia tumbuh dengan sehat wal-afiat. Jumlah giginya sudah delapan. Empat di atas empat di bawah. Tingkat keaktifannya masih belum berkurang. Semakin sering menggumam dengan berbagai intonasi. Bahkan menurut gue Alby memiliki daya nalar yang cepet dan untuk saat ini gue mengganggap Alby anak yang cerdas.

Contohnya saja Alby bisa menuruni kasur dengan menggunakan pantat terlebih dahulu padahal di saat yang bersamaan, temen mainnya yang notabene seusia menuruni kasur yang sama dengan menggunakan kepala. Belum lagi di beberapa kesempatan dia secara sadar mencoba mengelabui gue dengan pura-pura bermain karpet. Saat gue meleng, dia langsung memasukkan sebuah benda antah berantah ke dalam mulut. Saat gue liatin lagi dia pura-pura maen karpet lagi. Saat gue meleng, dia masukin lagi bendanya ke mulut. Gitu aja terus sampe Haji Sulam maen lagi di Sinetron Tukang Bubur Naek Haji.

Alby juga pernah dengan sengaja melempar potongan puzzle demi bisa meraih stop- kontak yang ada di bawah box bayi. Iyes, dia sengaja melempar potongan tersebut biar gue ga curiga dan menghalangi dia mendekati stop-kontak. Sejujurnya gue ga tahu apakah anak di usia 1 tahun memang lazim melakukan hal tersebut atau memang Alby yang berpikir melebihi usianya.

Di luar segala kebisaan yang ada, Alby, di usia setahunnya, belum bisa berbicara dengan kata-kata yang jelas semisal memanggil ‘ayah’ dan ‘bunda’ juga belum bisa berjalan sendiri.

Kemampuan bicara pada anak-anak tidak selalu sama. Menurut referensi yang gue baca, di usia 12-15 bulan anak sudah bisa mengucapkan 1 hingga 3 kata. Terutama menggunakan panggilan untuk orang tua. Saat ini Alby lebih banyak menggumam dan belum bisa mengucapkan satu kata secara jelas. Dari referensi yang sama, anak yang terlambat bicara biasanya disebabkan oleh keaktifan sang anak yang tidak berhenti bergerak sehingga kurang konsentrasi dan fokus. Dengan demikian proses imitasi atau menirunya cenderung lebih lambat. Istilah kedokterannya adalah ADHD (Attention Deficit and Hyperactive Disorder). Deskripsi tersebut persis dengan kondisi Alby yang aktifnya sudah level premium.

Lambatnya Alby berbicara mungkin diwarisi oleh sang emak yang juga mengalami kemampuan berbicara agak sedikit lambat. Bundanya Alby baru bisa berbicara saat usia 2 tahun, itu pun langsung nyerocos, setelah sebelumnya menemui kendala yang sama dengan Alby.

Untuk urusan jalan, Alby sebenarnya belum bisa dikatakan ‘terlambat’ karena rata-rata anak belajar berjalan di usia 1 tahun. Tapi tetep saja gue was-was saat di usia 1 tahun lebih Alby belum menunjukkan tanda-tanda mampu untuk berjalan dengan kemampuannya sendiri. Lebih-lebih tetangga dan juga temen kantor bercerita bahwa anak mereka sudah dapat berjalan bahkan berlari di usia kurang dari setahun.

Berjalan itu tidak mudah, jenderal. Ia melibatkan kekuatan otot, keseimbangan dan tempramen anak.

Dan akhirnya gue menerapkan latihan berjalan intensif setelah tanpa sengaja saat gue menemani Alby bermain di sekitar rumah, tetangga gue tengah mengajak Arjuna, anaknya yang sebaya dengan Alby, belajar berjalan. Arjuna dituntun dengan dua tangan dan bahkan sesekali dengan satu tangan. Sejak saat itu Alby gue latih berjalan dengan penuh semangat. Mulanya gue tuntun dengan dua tangan, lalu perlahan gue tuntun dengan satu tangan meskipun kakinya belum begitu kuat untuk menapak.

Awal pekan kemarin istri gue membagikan sebuah video lewat LINE. Saat gue puter ternyata berisi rekaman Alby yang sedang berjalan. Iya berjalan. Tanpa dipegang dan tanpa merambat. Ekskalasi yang cukup cepat mengingat latihan intensifnya belum kelar. Dari dua video yang gue puter, Alby nampak begitu bahagia dengan kemampuan barunya. Ia mampu berjalan beberapa langkah untuk kemudian jatuh atau menjatuhkan diri. Berjalan lagi diiringi ketawa membahana dan lalu jatuh kembali. Dan pas, saat semalem gue scroll down Instagram, gue mendapati quote yang menarik dari 9gag

“When a child learns to walk and falls down 50 times, he never thinks himself : “maybe this isn’t for me?”

Ya, anak kecil menggajarkan kita dari betapa gigihnya mereka belajar berjalan. Tidak perduli berapa kali mereka jatuh mereka selalu bangkit kembali. Tak pernah sekalipun mereka merasa lelah dan berkata “ah, berjalan mungkin tidak cocok buat gue’. Tidak. Tidak pernah. Karena mereka tahu bahwa ketika mereka terus mencoba maka mereka akan mampu untuk berjalan seperti yang lainnya. Coba kalo mereka jalan lalu terjatuh dan tak bisa bangkit lagi. Tenggelam dalam lautan luka dalam. Ribet, kan?.

Dan lo nyerah buat nulis skripsi hanya karena bab 1 lo dicoret-coret sama pembimbing? Malu sama bayi, woi.

Sejak hari dimana Alby secara tiba-tiba melangkah tanpa bantuan ibu peri, Ia begitu bersemangat untuk berjalan di setiap tempat. Di atas karpet, di kasur, di atas kursi, di atas awan kinton. Semoga langkah pertama Alby dengan usahanya sendiri adalah langkah awal untuk menjelajahi segenap isi bumi dan langkah awalnya jua untuk menapaki langkah-langkah paling berat dalam sejarah kehidupan seorang anak laki-laki. Langkah menuju masjid.

p.s : Gambar tidak sesuai dengan tulisan. Gue awalnya berniat mengunggah video Alby tengah berjalan tapi nampaknya sulit secara teknis.

#31 Idries Tirta ‘Toke’ Husada

IdriesBeberapa tahun belakangan minat gue membaca buku sejarah semakin meningkat. Sebuah kontradiksi yang akut mengingat selama di sekolah pelajaran sejarah tidak pernah menjadi pelajaran yang membuat gue tergoda seperti halnya pelajaran memahami dan mencintaimu, dik. Hoek!.

Guru sejarah SMP gue dulu sebenernya memiliki citarasa sejarah yang sungguh warbyasa. Belio bisa dengan detailnya mengulas perjalanan Meganthropus, Phitecanthropus hingga Homo Sapiens dari jabang bayi hingga menutup mata. Tulisan belio pun antik. Gue sempet berpikir bahwa si ibu belajar menulis dari tulisan yang ada di artefak. Saat naik kelas, pelajaran sejarah tetap tidak menempati posisi spesial di hati gue. Gurunya bernama ‘Napoleon’. Beuh, kurang sejarah apa coba namanya. Saat doi ngajar, terdengar teriakan Napoleon Bonaparte sambil berucap slogan Liberte, Egalite, Fraternite. Namun tetap saja, asosiasi antara nama dengan mata pelajaran tidak lantas membuat pelajaran sejarah menarik untuk dinikmati.

Semua berbeda saat gue kuliah. Perlahan tapi pasti bacaan bermuatan sejarah menjadi cukup menarik. Mungkin karena gue membaca tanpa dihantui oleh ujian, PR dan semua pernak-pernik kengerian tugas sekolah. Gue sadar bahwa hanya dengan membaca sejarah maka cakrawala berpikir kita akan terbang ke ratusan hingga jutaan tahun lalu. Dengan demikian kita bisa mengambil hikmah dari semua sejarah dunia yang pernah ada. Mulanya gue membaca Sirah nabawiyah lalu sejarah arab, sejarah manusia, sejarah perang dunia II, sejarah genosida dan banyak lainnya. Ternyata membaca kisah sejarah meninggalkan ruang yang berkecamuk di pikiran. Ragam pertanyaan dengan sekejap hadir seputar mengapa Hitler begitu keji. Apa itu semit dan kaitannya dengan bangsa arab dan pertanyaan-pertanyaan lain yang hanya bisa ditemukan jawabannya dengan membaca referensi sejarah lainnya.

Nah, di antara banyak buku sejarah yang pernah gue baca salah satu yang paling menarik adalah buku berjudul ‘Api Sejarah’. Buku yang dibagi dalam dua jilid ini ditulis oleh Ahmad Mansyur Suryanegara. Api sejarah membahas banyak sekali penyelewengan sejarah yang sudah kadung tersebar luas. Khususnya terkait dengan peran Islam dalam sejarah Indonesia. Dalam salah satu pembahasannya, Pak Ahmad menggunakan kata ‘Tauke’. ‘Toke/Tauke’ merujuk pada sebutan untuk orang-orang keturunan Cina yang membiayai warga pribumi untuk menjadi ambtenaar atau pegawai negeri sipil jaman penjajahan. Ambtenaar yang berhutang pada para tauke ini memiliki kewajiban untuk melancarkan bisnis sang ‘tuan’. Dan di masa sekarang Tauke/toke menjadi istilah yang jamak dikenal oleh orang Indonesia untuk melabeli warga keturunan Cina/Tionghoa yang memiliki banyak harta.

Gue geli mendengar kata ‘Tauke/toke’ karena pernah ada salah satu temen SMA gue yang lebih sering kami panggil dengan ‘Toke’ ketimbang nama aslinya.

*****

Namanya adalah Idries Tirta husada. Sesiapa saja yang belum kenal pasti mengira Idries adalah warga keturunan. Padahal iya. Lebih-lebih saat tahu bahwa dia berasal dari Bangka. Salah satu provinsi yang ‘mengimpor’ banyak sekali warga keturunan Tionghoa. Idries adalah satu dari sedikit temen kelas gue yang datang dari perantauan. Dengan semua alasan tersebut ditambah kenyataan bahwa Idries berasal dari keluarga yang cukup berada maka tidak salah sekiranya kami memanggilnya ‘Toke’. Gue pribadi sih seneng-seneng aja jika harus mengganti panggilan ‘Idries’ dengan ‘Toke’ karena gue ga harus bersusah payah melapalkan huruf ‘r’ dengan fasih.

Perawakannya parlente. Rambut rapih nan tebal dengan pilihan menyisir ke samping. Meskipun saat itu Pomade belum jamak dikenal, rambut Idries nampak selalu basah dan mengkilat. Selama bertahun-tahun, model rambut itu tidak pernah berubah.

Kesan tajir Idries sangat terlihat. Bukan hanya karena penampilannya yang seger dan berbadan subur, tapi juga ponsel yang digunakannya termasuk salah satu ponsel paling canggih di masa itu. Di saat gue masih menggunakan warung telepon hingga sandi morse, Idries sudah dibekali ponsel Nokia 7650. Tau kan Nokia 7650? Ponsel slide yang cuanggih tenanan. Mungkin saat ini setara dengan Iphone 5. Mungkin loh ya.

Idries tergolong siswa yang anti mainstream dalam kaitannya dengan moda transportasi yang digunakan untuk sampai di sekolah. Jika yang lain nyaman diantar dengan mobil, motor atau menggunakan kendaraan umum maka Idries lebih memilih Becak sebagai pilihan utama. Iya becak. Kereta tak berkuda. Mengapa becak? Bukan. Bukan karena Idries ingin tamasya berkeliling keliling kota. Jarak antara tempat tinggalnya ke sekolah tidak terlalu jauh. Namun cukup membuat betis pecah jika harus ditempuh dengan jalan kaki. Becak menjadi pilihan paling bijak. Selain karena tidak menimbulkan polusi juga membagikan rezeki kepada mang becak.

Di kelas gue dulu Idries selalu duduk di bangku paling depan. Bareng Gunawan. Ini yang paling gue inget. Meskipun tiga tahun duduk sebangku, Idries sering menjahili Gunawan terutama untuk sindiran satir. Entah kenapa Gunawan betah. Mungkin Gun senang disakiti.

Seperti gue ceritakan di tulisan sebelumnya bahwa kelas kami punya grup band yang dinamai ‘Definith’. Idries menjadi drumnya. Eh, maksud gue drummer. Gue sebagai tim hore sering kali turut serta dalam latihan band temen-temen gue ini. Tiap kali latihan, sangat jarang satu buah lagu dimainkan sampe selesai. Pemain gitarnya sibuk nyari kunci dan ulik-ulik melodi. Bassist nya sibuk betot-betot senar ga jelas. Yah namanya juga band lucu-lucuan. Tampil pun cuma satu kali dengan penampilan yang luar biasa… hancurnya.

Lepas SMA Idries melanjutkan pendidikan di fakultas kedokteran salah satu universitas swasta di Jakarta. Inisialnya YARSI.

Siapa sangka Idries yang semasa SMA nya berpenampilan rambut klimis belah pinggir dengan perawakan tambun ala engkoh engkoh pasar glodok nampak sangat berubah. Tubuhnya terlihat lebih tirus. Dengan kacamata bergaya dan potongan rambut kekinian Idries bener-bener mirip artis pop masa kini. Hah, Didi Kempot?. Bukan. Idries sekilas nampak mirip Afgan. Iya Afgan yang sadis itu. yang lesung pipinya bisa dipake buat nyembunyiin komik kalo ada razia guru.

Di saat Idries terlihat banyak perubahan yang ke arah positif, gue pun begitu jika positif itu juga termasuk perubahan berat badan. Kalo Idries menyusut maka gue mengembang. Masalah kegantengan? Hmm.. Jika Idries semakin mirip Afgan maka perubahan fisik gue ga terlalu mencolok. Gue semakin hari semakin mirip Bradley Cooper. Uh yeah….

Di dunia ini memang banyak orang yang hidupnya terlihat sangat sempurna. Coba tengok aja Raisa. Cakep, jago nyanyi, tajir, baik, sholeah, punya pacar ganteng, mandiri, ikut MLM, punya kapal pesiar dan downlinenya banyak. Tuh, kurang sempurna apa hidupnya. Tapi lebih sempurna lagi hidupnya Keenan Pearce. Punya pacar Raisa, punya adek Pevita Pearce. Makanya kalo ada cewe yang kesel terus bilang ‘Semua cowo itu sama aja’, lo jangan sungkan untuk tiba-tiba merasa bahwa lo mirip Keenan Pearce atau Adam Levine.

Idries pun begitu. Selain tajir dari sononya, kuliah di kedokteran, ia juga selalu ‘memamerkan’ pasangan yang menarik secara fisik alias cantik. Tapi tidak sekedar cantik. Karena kalo cuma modal cantik, banci Thailand juga cantik. Bakat alami ini bahkan sudah ditunjukkan saat SMA manakala Idries berhasil menjalin hubungan dengan salah satu bunga sekolah. Iya, Idries berpacaran dengan Kembang sepatu dan rafflesia arnoldi di deket kantin SMA.

Jarangnya gue berinteraksi dengan Idries selepas SMA, lebih lagi selepas kuliah, membuat gue tidak tahu banyak perkembangannya selain informasi bahwa ia sudah menjadi dokter di Bangka. Tapi beberapa Display Picture yang ia pajang di Blackberry Messenger menunjukkan bahwa selera Idries tidak berubah. Calon istrinya cakep, broh.

Dan memasuki tahun 2016, Idries membuka lembaran baru bersama dengan drg. Mawar Putri Julica sehingga menambah anggota kelas kami yang menikah menjadi 31. Selamet Toke. Semoga pernikahannya barokah.