Menjadi Liberalis Paruh Waktu

Sumber Gambar: right-of-center.com

Sumber Gambar: right-of-center.com

Membaca tulisan-tulisan para pentolan JIL memberikan kesempatan untuk menguji ketahanan argumen keimanan kita. Untuk kita yang sehari-hari terbiasa dengan pewarisan pemahaman agama yang tradisional dan literal dari orang tua, kita bisa menertawai pendapat ‘lucu’ mereka yang mengorbit jauh dari penjelasan para ulama. Atau kita dapat mengelus dada, marah, dan reaksi agresif lain saat mendapati mereka menafsirkan ayat suci dengan ‘serampangan’. Namun bagi mereka, upaya-upaya merevivalisasi tafsir adalah cara untuk membawa agama ini berkembang mengikuti kemajuan zaman.

Ada yang lebih menarik daripada sekedar wacana ilmiah para liberalis yang tersebar melalui tulisannya di media cetak maupun elektronik. Tanpa kita sadari kita dewasa ini sudah berperilaku liberal bahkan lebih liberal daripada tokoh-tokohnya.

Para cendekia menganggap liberalis sering memotong-motong ayat sesuai kepentingan temporal. Bagimana dengan kita? Bukankah kita sering menyitir ayat demi kepentingan kelompok, mazhab, preferensi politik kita sendiri?

Dalam Islam Liberal 101, Akmal Sjafril mengatakan bahwa orang-orang liberal sering menggunakan standar ganda dalam menetapkan keberpihakannya. Ada kalanya mereka memuji Ahmad Dahlan dan dalam kesempatan lain mereka mencacinya. Anda yang seturut membenci orang-orang liberal itu apakah pernah berkaca? Jika definisi tersebut mempertontonkan kelabilan penghuni islam liberal lalu bagaimana dengan kita?

Berapa sering kita mendukung seseorang, memuja dan membela setiap aksinya karena dilatarbelakangi kepentingan tertentu? Di waktu lain kita menghujat, mencerca setiap tindakannya karena ia berubah haluan. Tidak lagi seiya sekata dengan apa yang kita percayai?

Masih dari buku yang sama, Islam liberal disebut-sebut sebagai gerakan yang acap kali mendiskreditkan gerakan-gerakan dakwah penentang liberalisme. Kalian menghujat mereka? Bukankah kita pada posisi yang sama manakala orang tarbiyah memandang remeh pengikut ‘Salafi’ sebagai anti-sosial. Atau Hizbut Tahrir yang tidak pernah bosan melabeli penyambung gerakan ikhwan sebagai anjing demokrasi. Lalu apa itu bukan bagian dari modus operandi penggiat islam liberal itu sendiri?

Jadi mungkin saat ini kita adalah seorang liberalis paruh waktu. Kita memainkan peran dan mensukseskan virus liberalisme itu sendiri. Ya mungkin benar kita tidak mensosialisasikan islam liberal sebagai framework namun kita menjadikan ciri-ciri mereka melekat pada diri kita.

Membaca Apa yang Berbeda

Sumber: Google

Sumber: Google

Gue sangat percaya bahwa apa yang kita baca sangat mempengaruhi cara kita berpikir. Syaikh Ahmad Deedat tidak pernah mampu membalas argumen teologis dari para misionaris di sekitaran toko tempat ia bekerja. Hingga suatu hari ia membaca sebuah buku berjudul ‘Izharul Haq’. Buku yang kelak menjadikan ia seorang kristolog handal.

Ada begitu banyak buku lainnya yang bisa mengubah cara seseorang memandang dunia. Mulai dari Origin of Species milik Darwin hingga Principia kepunyaan Sir Issac Newton. Demikianlah kedahsyatan buku. Ia mampu mengubah arang menjadi intan. Andai saja takdir berkata lain. Ahmad Deedat misalkan di masa mudanya lebih memilih Das Kapital sebagai bahan bacaan maka mungkin saja saat ini ia dikenal sebagai pemimpin gerakan revolusi komunis di Afrika Selatan. Satu ideologi dengan Semaun, Nyoto, Mao dkk.

Selama ini bacaan gue bisa dikatakan nyaris seragam. Kental dengan nuansa  pergerakan islam, sejarah islam, perang pemikiran dan tema-tema yang homogen. Keberadaan buku-buku dengan topik yang satu membuat dimensi berpikir gue nyaris monokrom. Gue tidak bisa menganalisa suatu kejadian, konflik dengan spektrum yang beragam. Dunia ini nyaris hanya dua warna, hitam dan putih. Kalo misalkan suatu kejadian tidak selaras dengan bacaan yang gue geluti, maka gue akan mengutuk serta menggumam keras dalam hati. Semua harus sejalan dengan cara berpikir yang diadopsi dari buku-buku yang tertranskripsi di otak gue.

Tidak hanya buku, bacaan di media elektronik pun mengalami perlakukan serupa. Gue memilah-milah bacaan sesuai dengan apa yang gue suka. Cherry-picking itu benar adanya.

Tapi belakangan gue berubah. Salah satunya karena quote dari Haruki Murakami dalam Norwegian Wood If you only read the books that everyone else is reading, you can only think what everyone else is thinking”.

Bacaan gue sekarang lebih variatif. Gue mencoba mengakomodir tema dari dua sudut pandang yang bertolak belakang. Jika dulu gue anti membaca artikel dari mereka yang di-stempel sebagai Jaringan Islam Liberal (JIL), sekuler dan teman-temannya maka sekarang gue lebih akomodatif. Tulisan yang berhaluan ‘kiri’ pun kini gue jabanin.

Baru-baru ini gue membaca tulisan Burhanudin Muhtadi yang terbit di jurnal internasional berjudul “The Conspiracy of Jews: The Quest of Anti-Semitism in Media Dakwah”. Artikel karangan Burhan menceritakan bagaimana sebuah majalah bernama Media Dakwah di bawah asuhan Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) terlalu sering melakukan framing terhadap Yahudi (Zionis, Israel) dan ‘mengagungkan’ teori konspirasi dengan menempatkan mereka sebagai tersalah setiap kali terdapat kerusakan di dunia islam.

Tulisan Burhan cukup menarik. Ia memberikan wawasan serta sudut pandang lain untuk memberontak keluar dari hegemoni keajegan cara berpikir yang dominan di masyarakat.

Bersamaan dengan e-book mlik Burhan, gue juga mengunduh ­e-book dari para liberalis lain semisal “Ideologi Islam dan Utopia” milik Luthfie Assyaukanie. Tidak ketinggalan e-book dengan tema yang sangat kontroversial semisal “Begini Cara Berdebat Dengan Muslim” dan “Mengapa Aku Bukan Lagi Seorang Muslim” pun gue jabanin hanya demi mencari tahu seperti apa cara berpikir ‘mereka’.

Sebelumnya gue khusyu’ membaca argumen-argumen pro dan kontra perihal teori evolusi. Kalangan liberalis menyandarkan pendapat mereka pada penafsiran kontekstual yang lentur dan adaptatif pada perubahan zaman. Sementara kalangan ‘tradisional’ bersikukuh pada tafsir literalis yang bertahan dari masa ke masa. Gue menikmati adu pendapat dengan landasan ilmiah yang kokoh ketimbang harus saling adu pukul karena perbedaan penafsiran.

Tulisan-tulisan dari mereka yang mendaku sebagai bagian dari Islam Liberal cukup menarik untuk dikaji sebagai studi komparasi terhadap tafsir yang jamak hadir di masyarakat.

Ada pergolakan batin yang sangat kuat saat kita harus membaca ide-ide yang bersebrangan dengan nilai-nilai dasar yang kita yakini. Pilihannya hanya dua : terseret bersama dengan ide-ide baru tersebut atau menjadikan kita semakin yakin dengan pandangan, prinsip dan metodologi yang kita pilih. Gue percaya membaca dua hal dalam posisi diametral akan membuat kita bisa lebih bebas memilih yang mana yang lebih sesuai dengan nurani.

Dengan mengamati serta menganalisa tulisan Burhan misalnya maka kita menyadari bagaimana kaum liberalis menggunakan framework yang sangat kebarat-baratan. Ia banyak bersandar pada pendapat orientalis. Dengan demikian pendekatan-pendekatan teologis, fiqih yang konservatif dan literalis tidak akan menemukan titik terang setiap saat kita berdiskusi dengan mereka.

Sempet juga dalam beberapa waktu gue gandrung dengan beberapa tulisan Tan Malaka, Soe Hok Gie, bahkan Nietzsche. Gue awalnya berasumsi bahwa Tan Malaka adalah seorang kiri yang sangat islamis setelah membaca tulisannya serta mendengar pendapat seorang Buya Hamka. Semua berubah sejak gue mengunduh tulisan Dr Syed Alatas yang mengatakan bahwa pendapat tersebut keliru. Datuk Tan Malaka lebih condong ke atheis ketimbang islamis.

Andai saja gue hanya bergumul dengan buku-buku bernapaskan satu maka sejatinya gue tidak akan pernah tahu bagaimana sebenernya orang ‘kiri’ bekerja dan berpikir.

Kini gue lebih mampu merespon secara bijak tulisan yang sama sekali berbeda dengan bacaan pada umumnya sehingga menjadi referensi yang cukup baik sebagai antitesis argumen yang gue percayai. Dengan demikian gue memiliki wawasan gue lebih variatif dan komprehensif.

Gelar yang Semu

Sumber: Google

Sumber: Google

Gue tidak pernah tertarik dengan penyematan gelar di depan nama. Bahkan cenderung skeptis terhadap semua aksesoris predikat, gelar atau embel-embel sejenis. Makanya setiap kali mendapati orang-orang yang menuliskan predikat semacam ‘haji’ atau ‘ustad’ atau gelar-gelar akademik yang mereka punyai, gue langsung saja sinis. Apa untungnya orang-orang tahu dengan label-label tersebut.

Sebelum akad nikah, gue pernah wanti-wanti keluarga istri untuk tidak menyebutkan gelar saat akan memanggil pengantin pria oleh panitia pernikahan. Gue merasa tidak nyaman. Biarkanlah gue tampil apa-adanya tanpa perlu menyematkan predikat keilmuan gue. Karena toh apa efeknya ke dalam kehidupan berumah tangga kalo misalkan gue adalah seorang lulusan sarjana, atau master atau doktor sekalipun. Keharmonisan rumah tangga tidak ditentukan oleh hal demikian.

Daripada ‘memamerkan’ gelar gue lebih seneng memberi tahu orang-orang kalo gue bisa ngangkat galon ke dispenser tanpa numpahin air sedikitpun. Gue juga mampu memasang gas LPG ke kompor dalam satu kali percobaan. Kewl, kan?.

Gue bahkan nyaris tidak menyematkan gelar di undangan pernikahan. Karena menurut gue undangan pernikahan itu harusnya sekedar menyiarkan alias menyebarluaskan siapa yang nikah, waktu dan tempat. Itu saja. Sayangnya kebanyakan orang menyamaratakan undangan pernikahan dengan curriculum vitae. Semua gelar ditambahkan.

Rasanya cuma ada dua alasan gelar itu menjadi penting untuk dibubuhkan di depan nama

1. Saat mengisi seminar ilmiah
2. Saat pemilihan kepala daerah

Di luar kedua kegiatan tersebut, menyebut-nyebut gelar tidak akan memberikan efek signifikan pada kehidupan seseorang. Tidak akan menambah harta kekayaan. Apalagi menambah ketampanan.

Sangat lah wajar memberikan gelar di depan nama saat akan memberikan seminar ilmiah karena hal ini berhubungan dengan kredibilitas dari pembicara. Orang pun enggan mendatangi penyampaian pidato ilmiah jika yang menyampaikan adalah ‘orang biasa’ nir gelar.

Untuk kondisi kedua, pemilihan kepala daerah acapkali menjadi ajang pamer gelar. Percaya atau tidak, di luar segala praktek culas para politikus tengil selama periode pemilihan pucuk pimpinan, gelar akan sangat mempengaruhi psikologis para pemilihnya. Di luar faktor non-teknis lain semisal calon mana yang lebih cakep dan enak diliat. Calon mana yang lebih santun. Dan calon mana yang cuma bermodalkan mulut besar dan senang menjilat ludahnya sendiri.

Itulah mengapa setiap kali ada momen pemilihan kepada daerah, baliho dan pamflet yang terpampang manis di pohon serta tiang listrik selalu menampilkan gambar calon kepala daerah lengkap dengan nama serta gelarnya. Orang-orang masih selalu percaya bahwa gelar-gelar tersebut memproyeksikan tingkat intelektual serta kearifan.

Misalnya saja pembubuhan huruf ‘H’ sebagai singkatan gelar ‘Haji’ seolah memberikan kesan kedalaman ilmu agama sehingga menjadi komoditas untuk mempengaruhi para pemilih. Isu-isu religius masih laku untuk dijual oleh para politisi. Banyak yang beranggapan bahwa gelar haji berarti sinyal kesolehan sehingga berada pada kasta yang lebih tinggi dari mereka yang tidak memiliki gelar serupa. Padahal kita mengenal Haji Muhidin yang ngeselinnya minta ampun.

Gelar-gelar akademis juga selalu menjadi atribut yang siap dipasang para calon kepala daerah sehingga menjadi etalase untuk memamerkan intelektual. Padahal tidak selamanya orang-orang dengan seribu satu gelar memiliki kecakapan untuk memimpin. Andai saja gelar-gelar itu berkorelasi positif dengan kemampuan mengurusi urusan rumah tangga kenegaraan maka niscaya orang-orang akan mengumpulkan gelar sebanyak-banyaknya ketimbang memaparkan visi dan misi kepala daerah.

Gelar akademik kini bisa dibeli. Tidak lagi menjadi hak prerogatif orang-orang pinter. Siapa pun, asal punya duit, bisa mendapatkan gelar tanpa perlu bersusah payah kuliah dan kejer-kejeran sama dosen pembimbing demi revisi skripsi. Enak, toh?.

Lagian kalo kampanye gitu siapa yang mau nanyain sampeyan dapet gelarnya dari universitas mana. IPK berapa. Apa judul tugas akhir anda. Ini kampanye bung, bukan nyari kerja.

Jadi kesimpulannya tak usah lah kalian berbangga-bangga dengan segenap gelar yang kalian punya. Gelar itu semu, bang. Kalo kalian tidak sedang mengadakan pidato ilmiah atau tidak sedang bertarung memperebutkan kursi kepala daerah, simpan saja gelar-gelar akademik itu rapat-rapat. Tingkat intelektualitas, kecakapan, serta nilai diri kalian tidak ditentukan oleh gelar yang berlimpah itu.

Alby dan Adiknya

DSC_0158

Hai.. Halo apa kabar?

Nyaris sebulan gue ga memutakhirkan blog ini. Tidak lain tidak bukan alesannya karena gue harus menghabiskan waktu berkualitas gue yang dua minggu lebih itu bersama keluarga besar di bagian selatan pulau Sumatra.

Apa kabar jagat media sosial? Sesekali (baca: sering) menengok isi timeline facebook, gue masih mendapati medsosnya Jukerbek ini masih dipenuhi oleh makhluk-makhluk sumbu pendek dan para pelaku pro-kontra isu-isu sentimental. Apa kabar Erdogan? Sudah selesai kudetanya? Itu para fanboy garis keras masih ribut-ribut dan membahas dari A sampai Z faktor kegagalan kudeta? Apa sekarang sudah saling serang dan saling tuding dengan para pembela Fethullah Gulen?.

Itu yang suka pamer-pamer ini itu di jejaring sosial sudah pada tobatkah? Atau masih terjebak pada hegemoni ala bocah alay yang dikit-dikit mengemis perhatian dan like para jejaringnya? Kalo kehabisan ide dan bahan buat dipamerin, kalian mungkin bisa foto isi kulkas atau isi lemari terus diunggah ke semua media sosial yang kalian punya disertai dengan caption religius semisal ‘ah, nikmat Tuhan mana lagi yang kalian dustakan’ atau sedikit melankolik ‘isi kulkas boleh ganti-ganti. Tapi kang mas selalu di hati’. Iya gue tengah nyinyir.

Saat ini banyak-banyak berinteraksi dengan media sosial rasanya lebih ampuh bikin otak bego ketimbang nyemil mecin.

*****

Dalam beberapa bulan ke depan, Insyaallah keluarga kami akan kehadiran anggota baru. Berdasarkan hasil USG, calon bayi ini memiliki kelamin laki-laki. Tentu, hasil USG bukanlah suatu hal yang wajib diimani seratus persen layaknya rukun iman. Namun juga tidak bisa ditolak mentah-mentah dengan alasan mendahului ketetapan tuhan.

Hasil USG pekan kemarin menunjukkan kandungan istri saya memasuki usia 31 pekan. Beratnya sudah mencapai 1,5 kg dengan lingkar kepala dan kondisi yang sehat. Alhamdulillah. Berat yang sama juga dimiliki kakaknya, Alby, di usia serupa. Implikasi dari hasil USG tersebut adalah persiapan rupa-rupa untuk sang calon bayi. Mulai dari nama, pakaian yang disiapkan, hingga jumlah kambing untuk persiapan aqiqah.

Mulanya kami berniat untuk melakukan USG 4D. Kami mengupayakan 4D untuk melihat seperti apa kondisi detail dede janin sejauh ini. Namun sulitnya mendapatkan dokter perempuan membuat kami mengurungkan niat dan menunda hingga syaratnya terpenuhi. Menyadari kenyataan ini gue terkadang kesel dengan orang-orang yang berkoar-koar menolak wanita untuk bekerja. Dunia ini tetap membutuhkan wanita untuk profesi-profesi yang memang diperlukan. Mereka yang menghimbau agar wanita menjauhi keprofesian tak jarang juga ujung-ujungnya mencari dokter perempuan manakala sang istri akan melahirkan. Hypocrite as its best.

Untuk kehamilan kedua ini, kami sebagai orang tua lebih siap secara mental. Euforia menyambut kehadiran buah hati, gue akui, tidak segegap gempita seperti menyambut kehadiran putra pertama. Kami tidak menyiapkan perlengkapan secara berlebihan mengingat beberapa pakaian dan kebutuhan bayi masih bisa diwariskan dari kelahiran pertama karena jarak yang relatif cukup dekat. Hanya kelang kurang dari dua tahun. Gue juga tidak membuatkan surat terbuka di blog seperti yang gue lakuin sebelum kelahiran Alby.

Yang tetap sama antara kelahiran pertama dan kedua adalah doa yang kami panjatkan agar proses kehamilan hingga proses persalinan diberikan kemudahan dan kelancaran. Juga doa terpanjat agar calon bayi tersebut lahir dalam keadaan selamat, sehat wal afiat, normal dan tanpa kekurangan satu apa pun. Lebih jauh sedari dini kami mendoakan ia menjadi anak yang sholeh jika nantinya benar berkelamin pria dan solehah jika prediksi via USG ternyata salah.

Tokoh lainnya dalam tulisan ini adalah Alby. Alby Shofwan Moisaani.

Entah Alby sadar atau tidak bahwasanya sebentar lagi ia akan punya adik. Fase yang akan membuatnya kehilangan peran protagonis utama dalam keluarga. Keseluruhan perhatian dan kasih sayang orang tua akan terpecah dan tidak lagi menjadikan ia sebagai pusat gravitasi.

Sejauh ini Alby kerap kali bergumam ‘dede’ manakala melihat perut sang ibu yang semakin membuncit. Mulanya kami mengira ia benar-benar tahu bahwa ada janin bukan TV layar datar, yang bersemayam di dalam perut ibunya. Tapi ternyata ia menggunakan gumaman sejenis setiap kali melihat perut yang tidak rata. Ia memanggil perutnya sendiri sebagai dede. Perut teman sebayanya sebagai dede. Dan mutlak. Perut ayahnya sudah pasti dinamai dengan dede.

Di usia satu tahun lebih enam bulan Alby sudah bisa mengikuti perintah sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, mengambilkan barang, mendatangi kala dipanggil serta pulang tanpa diantar. Menurut dokter, tahap perkembangan Alby termasuk normal. Hanya saja ia perlu lebih banyak diajak berkomunikasi agar kosakatanya bertambah tidak hanya ‘ayah’, ‘aduh’, ‘dede’, dan ‘udah’. Kami hampir setiap hari mengajak Alby ngobrol mengenai pengaruh tax amnesty pada audisi tatanan dunia baru. Tapi Alby lebih senang menyimak ipin juga upin bercakap dalam Bahasa Melayu yang seronok sangat. Macem mane ini?.

Tapi sebenernya kami masih merasa cukup tenang mengingat tetangga kami yang memiliki anak sebaya dengan Alby memiliki laju perkembangan yang tidak jauh beda. Atau kami sering menggunakan alasan gender dengan menyebut bahwa balita perempuan memiliki tahap perkembangan yang lebih cepat ketimbang anak pria.

Satu hal yang masih sering dialami Alby adalah kejedot tembok. Hampir setiap hari ada saja aksi kepala bersentuhan mesra dengan dinding rumah dengan laju dan energi yang cukup untuk membuatnya menangis. Kami berupaya sebisa mungkin untuk menghindari Alby dari terbentur untuk yang kesekian kalinya guna menghindari cedera otak atau menjauhkan ia dari anak yang keras kepala.

Pada akhirnya Alby harus sadar bahwa ia akan mengemban peran baru sebagai kakak yang harus melindungi, mengayomi dan menjaga adik-adiknya. Peran baru yang menjadikan ia sebagai wakil saya sebagai kepala keluarga.

Belajar Konsistensi dari Seth Godin

Sumber : Google

Sumber : Google

Setiap kali gue melihat profil seseorang atau mendengar presentasi dan ceramahnya atau membaca tulisannya maka hal pertama yang gue lakukan adalah mencari blog orang tersebut. Gue percaya bahwa kualitas seseorang dapat dilihat dari kualitas tulisannya. Itulah mengapa gue sangat menyayangkan jika mendapati orang-orang hebat tanpa keberadaan blog atau website sebagai etalase ide mereka.

Kemarin sore gue iseng-iseng blog surfing ke beberapa alamat yang sudah jarang dikunjungi. Ada blognya Goenawan Mohamad, Ustad Hamid Fahmi Zarkasy, Dan Ariely hingga blog miliknya Seth Godin. Sebenernya gue agak ragu buat berkunjung ke blog yang gue sebutin terakhir karena firewall internet kantor sempat secara anarkis dan tanpa konfirmasi dulu (lah, siapa gue?) memblokir blog tersebut. Jangan tanya alasan pemblokiran yang dilakukan. Sejatinya blog milik Seth Godin tidak mengajak orang bergabung dengan ISIS. Tidak berisi barang-barang jualan onlen. Juga tidak ikut memberikan opini terkait kericuhan penutupan warung makan di serang. Catet itu ya wahai kalian Divisi IT kantor gue!.

Sudah pernah tahu Seth Godin?

Gue pertama kali mengenal pria berkepala plontos ini melalui videonya di TED dengan judul ‘How to Get Ideas to Spread’. Videonya menarik dan masih menjadi salah satu favorit gue bersama dengan video milik Dan Ariely dan Sir Ken Robinson. Dalam presentasinya ia memaparkan bagaimana ide dapat tersebar dan mengklasifikasikan tipe-tipe orang berdasarkan kemampuan mereka menyebarkan dan menerima ide.

Selain melalui video, gue juga mendapati Seth Godin sebagai seorang bloger. Blognya banyak berisi tentang trik-trik marketing, organisasi, serta petuah-petuah kehidupan yang dikemas dengan bahasa singkat dan sederhana.

Setelah puluhan kali mampir ke blognya gue baru sadar bahwa ada hal unik yang ia coba kemukakan. Seth Godin sangat rajin memutakhirkan (update) blog yang ia asuh. Sepanjang pengetahuan Aliando, ia adalah salah satu bloger yang mengisi blognya hampir setiap hari.

Setiap hari?

Iya. Setiap hari.

Tiada satu hari pun ia lewatkan tanpa meramaikan blognya dengan konten. Kegiatan ini sudah dilakukan sejak awal blognya bergulir, sekitar tahun 2002. Sebuah aktifitas yang bahkan lebih sulit daripada menunggu nobita naik kelas. Emezing.

Memang, artikel yang dihasilkan sebagian besar berupa mini post alias tulisan-tulisan pendek. Tapi mini post yang berarti dan memiliki impak yang besar jauh lebih heits dibandingkan tulisan gue yang panjang sampe mars namun sering kali nir makna.

Mungkin Kalian bisa bilang ‘ah, kalo tulisan pendek kayak gitu mah gue juga bisa’. Nyinyir-an tersebut persis dengan para pelaut yang menghina Colombus sepulangnya ia dari berkelana menemukan amerika.

Atau berseru ‘ah gue kan sibuk. Mana mungkin bisa ngeblog sebanyak itu’.

Ketahuilah wahai kawan, Seth Godin itu bukan seorang bloger an sich. Ia juga entrepreneur, marketer, penulis hingga public speaker. Lha sampeyan itu apa? Bloger sekaligus Batman yang tiap malem kudu keliling Gotham City buat membasmi Joker, Penguin dan konco konconya?.

Alesan sebenar-benarnya mengapa kita, yang mendaku diri sebagai bloger, tidak bisa rajin nge-blog dan meninggalkan tulisan adalah karena kita miskin pengalaman dan ide. Seth Godin tidak sekedar ‘rajin’ menulis karena kalo sekedar rajin kita bisa menemukan ratusan blog abal-abal yang isinya copy-paste blas. Selain rajin, ia pun memikirkan konten yang sesuai dengan kapasitasnya. Istilah temen gue blognya memiliki niche-nya sendiri.

Seth Godin bisa dengan luwes membagi ide-idenya lewat blog, menurut gue, disebabkan juga oleh blog yang ia asuh bukan blog berbayar. Sehingga ia bisa tetap mempertahankan idealismenya dalam menulis tanpa takut ide-ide tersebut dipasung atau diarahkan oleh pihak sponsor.

Gue mencoba membandingkan blog Seth Godin dengan blog personal lainnya

Seth Godin bisa menjadi contoh yang baik perihal konsistensinya dalam menulis. Gue mencoba membandingkan konsistensi tersebut dengan para bloger Indonesia. Ternyata hasilnya cukup mencengangkan. Misalnya saja blog Enda Nasution yang diklaim sebagai ‘bapak bloger Indonesia’. Tahun ini blog tersebut baru menggulirkan dua buah tulisan. Belum lagi jika menyebut nama bloger Ndoro Kakung atau Raditya dika yang digadang-gadang sebagai kiblat para bloger ternyata tidak mampu menghasilkan tulisan yang konsisten.

Sejauh ini blog personal, yang berhasil radar gue tangkep, yang menunjukkan kekonsistenan dalam menulis adalah blog asuhan Bapak Rinaldi Munir, Sang Dosen Teknik Elektro ITB itu. Belio acap kali mengulas berbagai hal dalam blognya meskipun memang tidak serajin Seth Godin.

Konsistensi adalah suatu bentuk sikap yang paling sulit dijalankan oleh umat manusia. Berapa banyak sih orang yang semangat di awal namun layu di tengah perjalanan. Tidak cuma masalah tulis-menulis. Tapi dalam banyak hal lainnya.

Konsisten dalam menulis seperti yang dilakukan oleh Seth Godin adalah contoh sikap yang wajib ditiru jika kita ingin terus menyebarkan ide kita lewat tulisan. Tidak mudah memang. Tapi Seth Godin menunjukkan bahwa ia bisa. Ia juga mengajarkan bahwa impak dari sebuah tulisan tidak melulu dipengaruhi jumlah kata namun lebih kepada isi.

Jika penasaran silahkan kunjungi blog belio di link yang sudah gue sertakan di atas.

Jika tidak penasaran maka kalian pasti tidak punya kapasitas menjadi ilmuwan. Bye.

Revolusi Mimbar

Sumber: Google

Sumber: Google

Gue rasa sebelum adanya diskursus mengenai revolusi mental, yang pertama kali kudu direvolusi adalah ceramah-ceramah di atas mimbar. Hasil riset gue selama bertahun-tahun menjadi pendengar setia ceramah di beberapa masjid tempat gue berburu tajil, Isi dan penyampaian ceramah masih itu-itu saja. Riset ini didukung oleh pengamatan sejenis dari acara-acara ceramah semi reality show yang saban hari nongol di TV. Itulah kenapa perlu adanya semacam gebrakan untuk memikirkan topik ceramah baru. Apalagi momennya bertepatan dengan bulan puasa. Ramadhan kan bulannya segala sesuatu berubah menjadi islami. Iklan di tivi mendadak syar’i, artis-artis berbondong-bondong menggotong semua kain lap, gorden hingga terpal untuk membungkus kepala bahkan broadcast di media sosial pun isinya tidak jauh-jauh dari nasihat ustad ini-itu, amalan saat ramadhan sampai contoh undangan berbuka puasa.

Konten ceramah kita perlu direvolusi. Jamaah sudah jenuh dengan tema-tema klasik. Belum lagi ceramah di tivi yang nampak terlalu didominasi oleh si miskin ilmu kaya popularitas.

Ceramah yang banyak beredar di masyarakat masih terlalu konvensional. Masih dengan gaya bahasa yang sama dan konten yang sejenis. Ceramahnya masih beredar tentang pentingnya menjaga diri dan keluarga dari apa neraka, jangan ghibah, serta tafsir yang tekstual pada ayat-ayat mutaghayyirat. Mentok-mentoknya membahas tentang jangan pilih pemimpin cina, kristen pulak.

Pola ceramah saat ini masih banyak terpengaruh oleh retorika (alm) Ust Zainudin MZ. Generasi yang paling baper dan melow, generasi 90-an, pasti setidak-tidaknya pernah mendengar ceramah da’i sejuta umat ini. Suara yang lantang, materi yang tepat sasaran hingga guyonan segar menjadi senjata andalan beliau sehingga setiap hari ada saja salah satu ceramahnya mengorbit.

Nah, sebagian dari ceramah yang beredar masih berupa replika dari penyampaian dan materi yang disampaikan oleh Zainudin MZ seolah belio Karl-Marx nya tausiyah di atas mimbar. Memang, dunia per-ceramah-an sempat diwarnai oleh kehadiran wajah lain semisal Aa Gym atau mendiang Uje. Tapi sangat jarang, jika tidak mau dikatakan nihil, penceramah yang mengadopsi gaya mereka berdua dalam beretorika apalagi materi sekelas manajemen qalbu. Berat, komandan!. Jadilah Zainudin MZ bertahan sebagai patron.

Mengapa ceramah menjadi penting dan berpengaruh besar pada akhlak dan keimanan seorang muslim?

Wii… cadas.

Jadi gini, dek. Zaman sekarang ini semua manusia nampak begitu sibuk. Di kota, penduduknya sibuk berpacu dengan waktu. Sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk memenuhi siklus gajian-bayar tagihan-bokek-gajian. Orang-orang desa pun tak kalah sibuknya. Mereka sibuk bertani lebih giat agar stok pangan tidak berkurang sehingga pemerintah berhenti impor, sibuk digusur lahannya buat dialih fungsikan menjadi pertambangan, bahkan saking sibuknya mereka bisa sholat tarawih (plus witir) 23 rakaat hanya dalam 10 menit. Zuper. Barry Allen aja minder.

Di tengah semua lelah menjadi bagian dari dunia yang semakin kapitalis, rohani yang kosong tidak jarang menjerit. Orang-orang yang mengalami kehampaan spiritual merasa perlu mendapatkan siraman rohani dan ceramah agama adalah salah satu solusinya. Karena sesungguhnya training ESQ itu mahal sementara ceramah agama bisa diperoleh dengan gratis.

Ceramah itu sifatnya lebih inklusif, terbuka, dan tidak mengkotak-kotak kan pendengarnya. Siapa saja boleh turut serta. Beda halnya dengan liqo, halaqoh atau ikut pengajian jamaah-jamaah tertentu yang menyekat-nyekat orang berdasarkan preferensi mazhabnya. Tidak pernah ada sejarahnya ceramah jumat di masjid kantor diinterupsi oleh orang-orang salafi yang bikin ceramah sendiri atau tiba-tiba Felix Siauw muncul buat ngasih ceramah tandingan tentang khilafah.

Mestinya ada semacam selebaran informasi untuk meyakinkan para santri, ulama, kyai dan urtis, ustad alias artis. Meyakinkan mereka untuk mengubah pola berceramah di masyarakat. Nampaknya itu lebih luhur ketimbang melobi pemerintah untuk memblokir google.

Oke lah, dalam tataran penyampaian kita bisa menemukan secercah harapan pada ustad Maulana. Gayanya yang enerjik meruntuhkan imaji seorang penceramah yang terhormat, bermaqom ma’rifat dan penuh wibawa. Tapi itu pun baru sebatas apa yang ditunjukkan bukan apa yang disampaikan. Materi ceramahnya malah menurut gue lebih bersifat nilai-nilai yang universal yang bisa kita dapatkan setiap kali menonton Golden Ways.

Ceramah bermuatan tafsir kontekstual tentang peradaban madani, fiqih prioritas, muamalat, halal-kah bank syariah dibarengi kemampuan public speaking ala Anthony Robbins bisa menjadi cukup penting untuk membangkitkan kembali kesadaran umat. Bernostalgia dengan kejayaan islam masa lampau seperti kisah Avicenna atau Baitul Hikmah sudah tidak up to date. Canon medicine sudah tidak lagi menjadi acuan buku-buku kedokteran. Aljabar pun sudah semakin kompleks. Berpura-pura bahagia dengan kisah masa lalu dan pasrah ketika sadar umat dalam keadaan terpuruk di masa kini seharusnya tidak menjadi pilihan yang logis.

Dulu, Muhammad Al-Fatih sering didongengkan nubuwat nabi perihal sebaik-baik pasukan adalah yang menakulukkan romawi. Tapi tidak berhenti di situ. Sultan Murad II, sang ayah, acapkali mengajak Muhammad muda untuk melihat benteng romawi timur yang kelak akan dihancurkannya. Jadi perubahan peradaban tidak terjadi hanya dengan mengulang dongeng lampau tanpa ada muatan visi.

Memang dibutuhkan pengetahuan yang mendalam untuk membahas hal-hal se-spesifik demikian. Maka sudah sepatutnya pihak yang memiliki otorisasi meng-upgrade dai-dai tersebut dengan khazanah pengetahuan yang luas yang lebih kontemporer.

Tapi jika ceramah, apalagi yang dibahas di tivi, masih diisi oleh dai yang merecoki urusan anak muda dibingkai dengan reality show murahan maka nampaknya umat harus menunggu lebih lama untuk dapat menjadi pemimpin peradaban. Jangan lagi ceramah hanya menjadi pelengkap acara tarawih atau obat mujarab pengantar tidur. Mimbar-mimbar ceramah harus direvolusi. Bukan begitu, Pak Ustad?

Sarkasme Anak

Sumber : Facebook

Sumber : Facebook

Minggu malem kemaren, di sela waktu menunggu travel yang siap membawa gue dari Bandung menuju Jakarta, gue menyaksikan sebuah pemandangan nanar.

Kejadiannya begitu singkat. Sekejap setelah mata gue berpaling dari TV yang memutar Mars Perindo, gue melihat seorang anak berusia sekitar 8 atau 9 tahun tengah bermuka masam. Ia menggerutu, menggumam dan tak henti-hentinya menyimpul bibir pertanda sedang marah. Di sebelahnya duduk sang adik yang berusia sekira 4 tahun lebih muda. Jelas terdengar dari ceracauannya, bocah dengan tubuh tambun ini marah kepada adik dan juga kakeknya yang berada di lokasi serupa.

Entah apa yang menjadi penyebab kemurkaan sang anak. Yang jelas ekspresi kemarahan terbesar ia tujukan kepada kakeknya. Sang ibu merasa tidak enak atas ulah anak tersebut dan memaksanya untuk meminta maaf. Namun ia tetap bergeming. Drama yang gue saksiin terus berlanjut dengan si anak yang keras kepala masih menjadi tokoh antagonis. Kelakuannya mengingatkan gue pada Haji Muhidin versi under-age. Gusti, pengen rasanya gue bentak terus gue tabok pake kulkas dua pintu yang desainnya ergonomis. Gimana ga. Tampak jelas terlihat air muka sang kakek yang sedih dan kecewa melihat kelakuan sang cucu.

Kalo sudah ada adegan sedih-sedih seperti ini saya selalu teringat Hatchi. Lebah yang selalu kesepian dan terus-terusan mencari mamanya.

Mata gue tidak lepas mengamati tingkah sang bocah sambil sesekali ngasah cangkul yang sengaja gue beli di toko online. Siapa tahu kakek itu membutuhkan sukarelawan buat ngubur hidup-hidup anak di bawah umur tanpa ketahuan Kak Seto.

Kronis, si bocah tambun tak henti menggerutu sambil terus menyalahkan sang kakek dengan gestur dan bahasa yang melebihi usianya. Sayang, belum ada legenda cucu dikutuk menjadi batu.

Kakek yang terlihat emosional, dari raut wajahnya, nampak berpikir bagaimana mungkin anaknya, yang berarti ibu dari bocah tambun, tidak bisa mendidik sang cucu dengan baik hingga bersikap demikian. Itu sih perkiraan gue. Bisa jadi juga ia berpikir bahwa hanya di era Jokowi sebagai presiden ada cucu yang bisa se-kurang ajar ini terhadap kakeknya. Andai saja Prabowo yang jadi presiden, pasti….*ilang sinyal*. Ternyata sang kakek adalah fans berat Abangnda Jonru.

*****

Lain lagi cerita temen gue. Saat terakhir kali ke bandara, ia duduk untuk memesan makanan di salah satu warung cepat saji. Sejenak kemudian di sudut lain ruangan ia melihat seorang bapak dan dua orang anaknya yang masih balita tengah menikmati es krim. Semua berjalan normal hingga salah seorang anak menjatuhkan es krim yang ia punya. Sang bapak yang kesal kemudian marah dengan kerasnya.

Bapak ini marah karena anaknya tidak bisa menjaga dengan baik apa yang dia punya. Kalo menjaga es krim saja tidak bisa bagaimana mungkin ia bisa menjaga pasangan. Sang bapak baper mengenang masa-masa jomblo menahun.

Sontak saja. Kericuhan tersebut menarik perhatian orang-orang di sekitar.

Tak berselang lama, saat mereka beranjak pulang, es krim yang sempat terjatuh kini terinjak oleh anak yang lain. Semakin murka lah sang bapak. Tanpa berpikir panjang ia berteriak dengan lantang

‘Anjing semua!!!!’

Bapak dengan dua anak ini menghardik membabi-buta. Tak tahu kemana arah cacian tersebut ditujukan. Ia nampak begitu marah. Gue sebenernya ragu ada anjing berkeliaran di Bandara Soekarno-Hatta. Kalo ‘anjing’ yang dimaksud adalah kedua anaknya maka bapak itu apa? Mutan anjing yang menyamar menjadi manusia? Atau ia menikahi siluman anjing seperti dayang sumbi yang kawin dengan Tumang?.

Ada-ada saja. Manusia kok disamakan dengan anjing. Kesian kan anjingnya.

*****

Dua cuplikan cerita di atas mengajarkan gue bahwa mendidik anak itu tidak mudah.

Buat gue yang sudah berpredikat ‘ayah’, mendengar kata-kata kasar dari warisan genetis kita sendiri adalah situasi yang membuat emosi berkecamuk. Bagimana mungkin, anak-anak yang kita besarkan dengan lelah dan susah payah, berani bersikap kurang-ajar yang menohok harga diri sebagai orang tua. Namun, jika pada akhirnya anak-anak tidak berperilaku dengan baik maka keluarga sebagai lingkar terdekat adalah unsur yang pertama kali patut dipertanyakan.

Gue bukannya ga mau ber-husnudzon. Gue bisa saja berasumsi bocah tambun pada cerita pertama menjadi pemarah karena ia sedang nahan kentut sampe ke ubun-ubun atau kesal karena tidak tahu kemana Ultraman terbang sehabis berantem sama monster. Namun naluri alami kita sebagai manusia pasti mengasosiasikan perilaku negatif anak pada kegagalan orang tua dalam mendidik.

Gue sangat menyayangkan jika ada anak-anak yang tidak memiliki sopan-santun kepada orang yang lebih tua, lebih-lebih kakek atau orang tua kita sendiri. Tapi lebih disayangkan lagi jika melihat orang tua yang berperilaku minus di hadapan anak-anak. Apa yang diharapkan ayah serta ibu pada anaknya jika dalam keseharian mereka memberikan contoh yang negatif seperti mengucapkan ‘anjing’, ‘brengsek’, ‘bangsat’. Belum lagi ratusan cuplikan perilaku yang sama sekali tidak layak. Orang tua sering lupa bahwa ‘children see children do’.

Anak gue saat ini usianya 1,5 tahun. Di usianya saat ini, ia sudah bisa meniru gerakan solat yang kami lakukan meskipun, gue yakin, ia tidak sebenar-benarnya dalam tempo sesingkat-singkatnya tahu dan mengerti aktifitas apa yang tengah ia geluti. Sesekali pula ia mengangkat tangan meniru para muazin di TV yang seringkali membuat dia takzim dan takjub. Gue berpikir ulang. Anak-anak di usia sedini itu sudah bisa meniru apa yang dilakukan oleh orang terdekatnya. Jika lingkungannya baik maka ia baik. Ya meskipun kita sadar bahwa orang tua bukanlah faktor tunggal yang bisa membentuk karakter anak. Tapi setidaknya kita sudah berdamai dengan warisan genetis atas hal-hal yang tidak kita sukai yang berpotensi menjangkiti mereka.

Jadi kalo kita sebagai orang tua terlalu banyak menonton sinetron, berkata-kata kasar, mengumpat, merokok lalu bermuram durja saat anak-anak kita tawuran, melakukan kejahatan seksual. Siapa yang tolol?. Siapa? Coba jelaskan ke Hayati, bang!.

Kejadian-kejadian memilukan belakangan ini harusnya menyadarkan para orang-tua bahwa ada yang salah dengan remaja-remaja di sekitar kita. Sangat mungkin, perilaku negatif anak adalah sebuah bentuk sarkasme atas ketidakidealan orang tua dalam mendidik sehingga mereka melakukan hal yang serupa untuk ‘mengingatkan’ orang tua bahwa ‘ini loh, hasil didikan kalian selama ini’.

Gue juga ga tahu bakal seperti apa kelakuan anak-anak gue kelak. Tapi gue harus berikhtiar sekuat mungkin untuk setidak-tidaknya menghindari perilaku negatif di depan mereka. Gue emoh jika harus mendapati keturunan gue menampar keras hasil didikan orang-tuanya dengan rupa-rupa sarkasme yang brutal.