Rohis dan Ingatan Tentang Mas Gagah

Sumber : facebook

Musola Bersejarah

Suatu hari di sekitaran awal tahun 2000, kakak puan gue membawakan sebuah novel bersampul siluet seorang pria nampak punggung dan sosok wanita berkerudung. Gue tidak yakin merk kerudungnya tapi sepertinya termasuk kerudung yang halal untuk dipakai.

Mulanya gue tidak pernah tertarik membaca segala rupa buku yang tidak bergambar karena mengingatkan gue pada pelajaran sekolah. Bacaan favorit gue sejak SD adalah komik Dragon ball, Kungfu Komang, dan tentunya serba-serbi ciptaan Tatang S. Tapi entah kenapa, novel tersebut nampak memiliki daya magis yang mengundang sesiapa yang melihat sejurus kemudian tergerak untuk membacanya. Jika Einstein berkata bahwa jangan menyalahkan gravitasi untuk jatuh cinta maka gue juga bingung siapa yang harus gue salahin saat terbuai dalam kisah mengharu yang ditulis oleh Helvy tiana Rosa berjudul ‘Ketika Mas Gagah Pergi’.

Novel ini unik. Tulisan di dalamnya sungguh sublim. Kisah yang mengalir begitu saja tentang kakak beradik Gagah dan Gita yang membuat gue terbuai dalam sebuah dialog yang bergelayut di memori.

“Mas Gagah berubah” ujar Gita.

Penggalan kalimat yang masih terngiang. Hingga saat ini.

Di luar segala tema yang diangkat Mbak Helvy dalam novelnya, ‘Ketika Mas Gagah Pergi’ untuk seterusnya berhasil ‘meracuni’ gue untuk cinta membaca.

Dan kini. Setelah 20 tahun, yang diselingi oleh lanjutan novel ‘Ketika Mas Gagah Pergi dan Kembali’, akhirnya film Ketika Mas Gagah Pergi diputar di bioskop. Film yang didanai secara crowdfunding ini mengundang antusiasme penantian bertahun-tahun pembacanya. Mereka tergerak untuk melihat bagaimana visualisasi Gagah, Gita. Termasuk gue.

Sosok Mas Gagah sempat disinggung oleh penulisnya dalam buku ‘Bukan di Negeri Dongeng’. Menurut beliau Mas Gagah terinspirasi dari seorang Nasir Djamil, salah seorang anggota DPR dari fraksi partai tertentu. Entahlah bagaimana kebenaran kisah itu. Sama halnya dengan orang-orang yang penasaran apakah sosok Fahri Abdullah, tokoh protagonis utama yang dihadirkan oleh Kang Abik dalam Ayat-Ayat Cinta, benar-benar hidup dan ada.

Gagah adalah personifikasi dari sebuah keteladanan, kearifan, dan kesalihan. Sebuah produk transformasi hijrah anak muda yang tak lazim pada zamannya. Memang pada saat itu gue ga terlalu ngeh dengan semua alur yang diceritakan Mbak Helvy. Gue tidak paham tentang konflik Palestina, terminologi Ikhwan-akhwat, makna hijrah hingga transformasi diri. Namun apa yang dibuat dengan hati sentiasa menyentuh hati. Anggitan kisah Mas Gagah lah yang pertama kali mengenalkan gue betapa tidak diperkenankannya seorang pria menyentuh wanita yang bukan muhrimnya, bagaimana kondisi umat muslim saat ini, tentang jilbab. Ya. Mas Gagah lah yang berhasil membuka cakrawala berpikir para pembacanya tentang kemunduran umat. Tentang bagaimana seharusnya sosok seorang muslim itu. Jadi tidak heran jika banyak muslimah yang memutuskan mengenakan jilbab pasca membaca kisah Mas Gagah. Novel ini sungguh revolusioner.

Mas Gagah jua yang sebenarnya secara tidak langsung memperkenalkan gue dengan kerohanian islam di SMA. Semangat untuk mengenal islam lebih dalam mengantarkan gue untuk bergabung dengan rohis sekolah. Gue ingin mengenal apa yang dikenal oleh Mas Gagah hingga membuatnya bener-bener berubah. Gue kepingin tahu apa itu ikhwan, akhwat, kondisi umat islam di belahan dunia lain, mengapa harus berjilbab dan segala dinamika agama yang tidak gue dapatkan secara intensif di tempat lain. Dan jika mungkin, gue bisa bertemu dengan sosok Mas Gagah itu sendiri.

Sekitar setahun lalu gue pernah menulis bahwa terminologi kebetulan sebenernya tidak ada karena daun yang jatuh ke bumi pun sudah ditulis di Lauhul Mahfudz. Bukan kebetulan jua manakala salah seorang ikhwah (baca : saudara) rohis SMA mengunggah salah sebuah foto mushola tempat kami dahulu pernah menjalin kemesraan dalam lingkaran ukhuwah.

Mushola tersebut nampak asri dengan warna putih bersih di setiap dindingnya. Jika tidak salah interiornya pun luar biasa bagusnya. Mushola ini didirikan dengan biaya udunan dari alumni dan sumber donasi lain. Lokasinya pun berpindah lebih ke bawah jika dibandingkan dengan mushola terdahulu.

Buat gue, mushola ini masih sama seperti dulu. Ada kenangan-kenangan manis yang tertinggal dengan menyisakan angin, pohon juga bumi sebagai saksi. Kami tidak bisa lagi menagih bukti pada setiap peninggalan fisik dari semen, dinding atau lantai yang dulu senantiasa kami duduki. Mereka sudah hancur bersamaan dengan relokasi. Tapi ingatan-ingatan tersebut tetap hidup.

Mushola ini menjadi saksi betapa keterbatasan tempat bukan halangan. Sehingga pengajian pekanan pun terus berjalan meskipun atap bocor sana-sini. Mushola ini menjadi saksi betapa di mana-mana wanita selalu benar. Setiap kali ada kericuhan di bilik ikhwan (pria) maka dari bilik wanita yang dibatasi oleh hijab cukup terdengar ‘ehem’ atau dengan sedikit sapaan ‘maaf akhi, ada yang sedang sholat’ maka kericuhan tersebut akan padam dengan sangat cepat. Berbicara soal hijab, salah seorang guru agama sempat memprotes keberadaan hijab yang ukurannya dianggap sangat tinggi. Beliau khawatir akhawat yang berada di balik hijab bermain petak umpet dan sejenisnya. Rasionalisasi kami mengapa diperlukan hijab tersebut tidak bisa beliau terima sehingga kami harus ikhlas hijab berubah menjadi pembatas kayu yang sangat rendah meskipun pada akhirnya dimensi hijab kembali seperti semula.

Mushola ini menjadi sejarah. Sejarah diselenggarakannya miniatur-miniatur musyawarah. Membahas urusan ummat dan dakwah. Mengatur ini itu persiapan festival kesenian islam pertama (dan terakhir?) di sepanjang kepenguruan rohis sekolah.

Mushola ini adalah bukti. Bukti pentingnya hijab sebagai pembatas diri setiap kali divisi kestari mengadakan syuro’. Divisi kesekretariatan adalah satu dari dua, satunya lagi bendahara, badan yang mengadakan rapat setiap harinya. “Afwan ada akhi Edy?” Begitulah sapaan mulia dari bilik akhwat yang bersiap untuk memulai rapat. Yang untuk seterusnya menjadi guyonan kami hingga saat ini.

Mushola ini mushola bernilai seni. Tak ubahnya studio rekaman atau dapur teater, aktifitas seni tak pernah mati. Setiap hari ada saja yang berlatih nasyid walaupun sumbang. Berlatih acapella meskipun lomba tak pernah menang. Malamnya disambung dengan latihan drama plus dubbing untuk mengisi acara penyambutan anggota rohis baru atau diminta oleh sekolah lain untuk menjadi tamu. Tentu saja kami tidak selalu berharap piala saat lomba, atau mendapat apresiasi saat menyajikan drama. Bagi kami berlatih nasyid bermuatan dakwah, menyajikan nilai-nilai islam dalam pentas sandiwara adalah sebuah tanggung jawab moral sebagai perwujudan semboyan ‘kami da’i sebelum segala sesuatunya’.

Mushola ini adalah cinta. Cinta di saat ada yang dihukum karena kesalahan bertindak. Cinta manakala suara ikhwan selama pemiihan ketua rohis hanya sebatas masukan sementara suara akhwat adalah mutlak kebenaran. Cinta dalam setiap lelah, letih, berpayah-payah menyiapkan pengajian, ta’lim, acara keagamaan untuk siswa satu sekolah. Cinta dalam setiap kerja keras dakwah dan kesolidan ikhwah. Cinta yang tumbuh dari benih-benih kesamaan visi, keterikatan hati, kedekatan fisik yang dipupuk oleh tarbiyah. Cinta di setiap friksi, uji, silang pendapat hingga debat tapi tak pernah dendam melekat. Cinta karena Allah pada setiap kalian.

Hari ini gue mencari kembali sosok Mas Gagah. Mas Gagah yang selalu ingin mewujudkan islam dalam kesehariannya. Mas Gagah yang ingin bermanfaat bagi sekitar. Yang menjadi da’i di atas segala sesuatu. Mas Gagah yang membawa pesan perubahan bagi keluarga hingga masyarakat.

Dan hari ini kutemukan Mas Gagah pada diri kalian. Pada sosok saudara-saudara seperjuangan yang terus menyalakan api kebaikan. Yang meneruskan cinta dari uswatun hasanah pada setiap insan nan terlihat mata walau kini nun jauh di sana.

Kutitipkan salam manis untuk kalian ikhwan dan akhwat fillah yang pernah menjalin cinta dalam kerohanian islam. Di manapun kalian berada gue yakin bahwa nilai-nilai Mas Gagah selalu ada dalam diri kalian semua.

Tabik!.

The Birthday Boy

20160116_134708Alhamdulillah. Alby berusia satu tahun pada 18 Januari 2016. Momen yang gue dan istri nantiin sejak sebelum 7 bola naga terkumpul akhirnya tiba. Alby menyentuh tahun pertama dalam sejarah kehidupannya.

Sabtu, 17 Januari 2015, bini gue mules-mules tanda bukaan satu. Setelah berdiskusi dengan dokter, kami disarankan untuk beristirahat di rumah karena jeda dari bukaan satu ke bukaan berikutnya relatif membutuhkan waktu. Sabtu sore mules itu semakin tidak tertahankan. Bini gue akhirnya dirawat sambil menanti saat-saat kelahiran sang buah hati. Lebih dari 12 jam tergeletak di ranjang dingin rumah sakit, bayi itu belum menunjukkan tanda-tanda akan keluar. Ia nampaknya betah berlama-lama di dalam rahim, menolak untuk bertemu dengan dunia yang kaku dan kejam.

Setelah bosan bersemayam di dalam perut akhirnya bayi tersebut, yang kami beri nama Alby Shofwan Moissani, memutuskan untuk keluar.

Hei, nak. Begitulah detik-detik pertemuan engkau dengan dunia. FYI son, momen dimana mengeluarkan engkau dari rahim adalah pertaruhan hidup dan mati. Bunda sekuat tenaga menemui engkau di dunia.

Perjalananmu dari nol hingga satu tahun kini kami abadikan dalam rekam gambar statis maupun dinamis agar kami tidak pernah terlewatkan momen-momen bersama engkau. Semoga ceritamu yang terekam baik dalam memori perangkat elektronik ini menjadi bahan kami untuk menapaktilasi perjalananmu di saat engkau kelak sudah dewasa.

1 Bulan

Momen-momen awal membersamaimu adalah masa yang cukup berat untuk kami lalui. Terutama bunda. Jadwal tidurmu berantakan. Siang tidur, malem begadang. Setiap dua jam kamu bangun dan minta susu. Wow, menjadi makhluk nokturnal itu tidak mudah, nak. Kebiasaanmu yang tidak bisa membedakan siang dan malam selama di kandungan membuat kami harus turut berpartisipasi dengan pola tersebut. Penglihatanmu pun belum sempurna. Kau belum bisa membedakan mana bunda mana ayah dan yang mana Ike Nurjanah.

Kami juga sempat khawatir ketika hasil cek darah menunjukkan bahwa kau terkena penyakit kuning karena asupan ASI yang kurang tepat satu pekan setelah hari persalinan. Padahal saat itu di rumah kita tengah dilaksanakan aqiqah. Bahagia dan haru bercampur aduk, nak.

Untungnya kamu segera pulih setelah dua hari ditangani oleh rumah sakit.

3 Bulan

Asupan ASI mu sepertinya bekerja dengan baik. Ditandai dengan berat badan yang meningkat dengan pesat setiap bulannya. Baru saja kami akan mengajak engkau untuk melakukan baby spa dan renang bayi tiba-tiba saja kamu menderita sakit (lagi). Alby males menyusu dan fesesmu juga berwarna hijau, nak. Mulanya orang-orang tua di sekitar rumah berucap bahwa feses berwarna hijau adalah sinyal akan bertambahnya kemampuan seroang bayi tapi kemudian ayah sadar bahwa ayah adalah bagian generasi Y sementara orang-orang tua itu adalah generasi X bahkan mungkin generasi O. Ada gap yang cukup jauh antar generasi sehingga tidak setiap masukan yang mereka sampaikan adalah sebuah doktrin kebenaran. Walau memang masih ada yang memiliki warisan nilai kebaikan.

Ternyata Alby menderita kolik, nak. Semacem gangguan pencernaan yang berakibat pada menghijaunya feses. Apa? Hulk juga menderita kolik? Iya mungkin sekali, nak. Koliknya Hulk menahun.

Di luar segala keresahan mengenai gangguan pencernaan, engkau mulai bisa bergumam dengan semangat. Seolah menandai satu tahun pernikahan ayah-bunda dengan omelanmu yang menyeracau.

5 bulan

Hore, Akhirnya Alby bisa tengkurep dan kembali ke posisi semula dengan sempurna. Sebenernya sejak usia 3 bulan Alby sudah mulai belajar untuk tengkurep. Tengkurepnya sih oke, hanya saja kau kesulitan untuk mengangkat kepala lebih-lebih untuk ngebalikin badan.

Kemampuan bayi memang berbeda-beda. Tetangga ayah bercerita bahwa anaknya sudah bisa duduk di usia 5 bulan. Tetangganya tetangga ayah bahkan lebih dahsyat. Di usia 5 bulan sudah bisa jualan hijab on-line. Luar biasa kan, nak?.

6 Bulan

Akhirnya… Bulan terakhir ASI eksklusif. Tepat dengan berlakunya MPASI, Alby mudik ke Palembang untuk silaturahim lebaran dengan om, tante, uwak, nenek dan keluarga besar di Palembang. Kepulangan ini terasa spesial karena menjadi momen pertama untuk menjumpai keluarga besar di belahan barat pulau jawa.

Kamu pasti senang kan bisa mencicipi rasa lain selain ASI? Akhirnya kamu bisa tahu betapa manisnya gula, betapa asinnya garam dan betapa pahitnya kalimat “kita temenan aja, ya!”.

Perkenalan pertama kamu dengan MPASI adalah saat di dalam pesawat. Untuk menghindari dengungan di telinga karena perbedaan tekanan, kamu mengunyah makanan sebagai pendamping ASI. Ayah lupa persisnya apa yang kamu makan. Antara durian atau nasi padang.

Kamu hebat, nak. Sejak bayi bahkan sejak dalam kandungan sudah wara-wiri ke Belitung, Palembang, Jakarta menggunakan pesawat terbang. Sementara ayah dan bunda mesti menunggu hingga usia belasan bahkan puluhan tahun untuk menggunakan moda transportasi yang sama. Duh, maaf nak ayah jadi curhat. Naluri keibuan ayah suka tiba-tiba muncul dalam situasi melankolis seperti ini *benerin lipstick*.

7 Bulan

Alby bisa duduk sendiri. Wah, melihat kamu bisa duduk sendiri menyajikan kebahagiaan buat kami. Kamu semakin bersemangat untuk mengacak-acak makanan yang ada di depanmu.

9 Bulan

Yeay. M.e.r.a.n.g.k.a.k.

Prestasi lainnya di usia sembilan bulanmu.

Tidak. Kamu tidak perlu merangkak keluar dari televisi. Itu tugasnya sadako. Kamu mah cukup merangkak mengelilingi rumah. Dan hasilnya adalah setiap sudut rumah kau jelajahi, nak. Mencari apa saja yang bisa ditelan. Rambut, pulpen, dorayaki. Asal jangan dompet ayah saja yang kamu telan. Karena jika iya, mohon hapus namamu dari kartu keluarga.

Sejak usia delapan bulan kamu juga gemar sekali tepuk tangan. Dalam setiap kesempatan kamu bisa tepuk tangan dengan semena-mena. Ayah sudah pernah mewanti-wanti bunda untuk tidak menonton ‘Bukan Empat Mata’ selama kau dalam kandungan :(.

Usia sembilan bulanmu juga bertepatan dengan wisuda pascasarjana bunda.

10 Bulan

Kamu tidak berhenti bergerak, nak. Untungnya kamu tidak punya peran mengelilingi matahari. Karena bisa-bisa satu tahun bukan 365 hari.

11 Bulan

Kamu mulai belajar berjalan. Mulanya dipegang dua tangan oleh bunda. Lalu berjalan dengan satu tangan dipegang ayah. Lalu perlahan berjalan merambat menggunakan media yang bisa kamu raih. Lama kelamaan kamu berjalan di atas air. Ah, yang terakhir ini bohong, nak. Tidak ada manusia yang bisa berjalan di atas air. Tidak pula Wiro Sableng atau Chris Angel. Wiro Sableng, sama halnya dengan artis mind freak, berjalan di atas air menggunakan sling, nak. Apa gunanya bisa berjalan di atas air jika tidak bisa berjalan di shirotolmustaqim. Subhanallah!.

12 Bulan

Akhirnya nak. 18 Januari 2016 menjadi saksi transformasi engkau dari seorang bayi yang lemah tak berdaya menjadi sosok balita yang lincah, sehat dan penuh semangat. Lidah yang tak berhenti berucap serta tangan, kaki dan badan yang tak berhenti bergerak.

*****

Sumber gambar : Facebook

Sumber gambar : Facebook

Nak, kini usiamu sudah 1 tahun. Semoga dengan bertambahnya usiamu bertambah pula segala apa-apa yang baik. Tidak ada yang lebih ayah dan bunda harapkan selain engkau kelak tumbuh menjadi anak yang sholeh, cerdas dan berwawasan luas. Tumbuh dengan baik dan sehat tanpa kekurangan satu apa pun.

Nak, maafkan kami jika dalam perjalanan membesarkan dan mendidikmu terselip kesalahan-kesalahan kata, khilaf tindakan, lacur perbuatan. Tak jarang kami kurang sabar menghadapi ulahmu sehingga rona-rona emosi terbersit nyala di hati. Padahal kau pun tak mengerti apa yang telah kau perbuat.

Nak, kami tahu bahwa setiap bisnis yang gagal maka selama ada upaya bisnis tersebut dapat bangkit kembali. Begitu pun dengan karir. Tapi jika kami salah mendidik engkau sedari dini maka tidak ada terminologi ‘diulang’ dalam parenting. Didikan kini adalah engkau di masa mendatang.

Kelak semakin bertambahnya usia, engkau akan semakin meniru apa yang kami lakukan. Kami tidak ingin engkau menjadi anak yang kikir karena kelalaian ayah bunda yang tak pernah mengajarkanmu makna berbagi. Kami enggan engkau menjadi anak pemarah disebabkan oleh perhatian kami yang tidak cukup untukmu. Kami berharap engkau tidak menjadi anak penakut akibat pembelaan membabi buta kami pada setiap kesalahan yang kau perbuat. Nak, di usia satu tahun ini. Doakan ayah juga bunda bisa senantiasa menjaga engkau. Menjadi role model orang tua terbaik untukmu. Memberikan asupan terbaik untuk jasmani maupun ruhani.

Dan semoga nasihat (alm) Ustad Rahmat Abdullah berikut mengiringi setiap pertambahan usiamu.

“Merendahlah, engkau akan seperti bintang gemintang. Berkilau dipandang orang di atas riak air dan sang bintang nan jauh tinggi. Janganlah seperti asap yang mengangkat diri tinggi di langit padahal dirinya rendah hina”.

Salam cinta untukmu, sayang.

-Ayah&Bunda-

*Menyambut pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean pada akhir tahun lalu, gue latah untuk ikut-ikutan. Hasilnya, judul tulisan gue nginggris biar tidak kalah bersaing dengan negara-negara di tenggara benua Asia.

Hanya Ada Dua

civil warCuma ada dua tipe manusia yang terpolarisasi dengan sangat di dunia ini. Tipe yang makan bubur diaduk atau tidak diaduk, pengguna Iphone atau pencinta Samsung, pendukung Iron man atau Captain America, Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi. Hanya dua tipe itu saja. Yang demen berantem di sosial media juga adalah satu dari dua tipe itu. Sementara sisanya, yang mendukung Ant Man, bukan pencinta bubur ayam atau pengguna Mito adalah pencilan yang tidak pernah menjadi bagian dari sejarah gontok-gontokan dua kubu yang bertikai.

Pun halnya dengan keberadaan tokoh, public figure, selebgram, artis twiter, artis facebook.

Gue sering mengamati bahwa di dunia media sosial ada dua tipe manusia dengan kecenderungan dan karakter yang bertolak belakang satu sama lainnya. Sebagian orang membagikan kata-kata mutiara pembuai jiwa ala-ala Mario Teguh sementara gue lebih seneng berbagi status humor serius Arham Rasyid. Beberapa orang temen gue sibuk mengunggah prestasi-prestasi bisnis, kekayaan, harta, pose dengan orang hebat. Sementara yang lainnya bekerja besar dalam diam. Tidak banyak berulah share ini itu agar yang lain tahu. Setengah orang tua penikmat facebook adalah pendukung garis keras anti vaksin. Sementara setengahnya lagi mengkampanyekan vaksin itu baik, sehat, tidak haram, bukan rekayasa zionis dan sebagainya.

Banyak temen gue memuja status-status romansa keluarga ala Fahd Pahdepie sambil tag pasangannya dengan caption ‘ini loh yah’, ‘begini loh sayang’ dan segala resonansi pesona tulisan tersebut yang menular bak endemi. Sementara gue dan mungkin yang lainnya lebih menyukai status-status cinta non picisan oleh Ustad Cahyadi Takariawan.

Gue menikmati aktiftias berselancar di dunia maya guna mencari pengetahuan baru, referensi, atau sekedar berburu artikel lucu dan nyinyir guna membuka cakrawala wawasan. Tidak lupa juga mengakses situs-situs komik dan meme guna mengusir kepenatan. Salah satu pengguna sosial yang paling gue tunggu-tunggu update-nya adalah Ustad Salim A. Fillah. Ustad Salim adalah ulama muda dengan kemampuan literasi yang sangat baik. Beliau sudah menghasilkan banyak buku dengan konten yang khas. Buat gue, buku-buku beliau bak suplemen karena tidak hanya mengisi ruhani dengan nilai-nilai religi yang kental namun juga mampu mengartikulasikan disiplin ilmu lain dalam setiap tulisan yang ia lahirkan. Sebagai contoh beliau sempat membahas tentang psikologi sosial di salah satu bukunya yang kemudian berhasil memotivasi gue untuk menyukai buku-buku bertipe sejenis. Selepas membaca buku Ustad Salim gue bergerilya mencari buku-buku psikologi praktis seperti Best Seller Blink, Outliers, Tipping Point karya Malcolm Gladwell.

Di jejaring sosial, Ustad Salim sering membuat status yang legit. Bahasanya yang santun dan isi tulisan yang memenuhi unsur-unsur ketuhanan dan wawasan keduniaan membuat status tersebut sangat renyah untuk disimak. Seperti beberapa waktu yang lalu beliau membahas tentang kereta, stasiun dan sejarah kemerdekaan yang tak luput menyinggung tentang salah satu novel oleh Agatha Christie. Dan komentar gue cuma ‘Wow’. Ada ya ustad yang referensi bacaannya sangat luas. Tidak terbatas pada kitab kuning atau literatur klasik tentang langit. Meskipun begitu beliau tidak pernah mengagung-agungkan atau menyentil kepekaan orang-orang untuk menyadari bahwa ia adalah pembaca yang rakus dan mempunyai banyak referensi.

Sementara di sisi lain gue sering menyimak kontributor sebuah web satir yang memuja-muja kepemilikan atas ribuan buku. Tak jarang merendahkan orang lain dengan mendewakan dirinya yang memiliki banyak literatur dengan Kalimat-kalimat semisal ‘ah, anda kurang referensi’ atau ‘sudah pernah baca ini belom?’. Entah mengapa gue kurang menaruh respek pada mereka yang mengerdilkan orang lain hanya karena punya bahan bacaan lebih banyak. Jika saja mereka menyimak ucapan Dalai Lama ‘when you talk, you are only repeating what you already know. But if you listen, you may hear something new’.

Ya, untuk mereka yang suka membaca pun ada dua jenis. Mereka yang membaca kemudian mengolahnya menjadi petuah indah yang disampaikan dengan baik dan santun. Atau mereka yang mereka kemudian menganggit tulisan dan bahasa-bahasa yang menyakiti hati dan menista.

Proses membanding-bandingkan akan selalu ada karena sudah menjadi template nya ras manusia. Kita tidak akan pernah berhenti pada suatu titik untuk menyamaratakan preferensi, selera, kecenderungan. Karena jika ada dua orang berjalan dan ide mereka selalu sama maka hanya satu orang yang berpikir. Tapi seperti yang pernah diajarkan oleh orang tua dan guru ngaji kita sejak lama bahwa seperti apa pun pilihan yang kita buat pastikan bahwa kita memilih untuk mendekatkan diri ke surga. Bukan memilih neraka. Itu pun jika kalian percaya.

Psst.. Jangan coba banding-bandingin Jokower dan Prabower. Dua tahun ga habis dibahas.

Sumber gambar dari sini

#30 Hafizzanovian

FB_IMG_1451886528876Ah, siapa yang tidak kenal Hafiz. Temen satu sekolah gue, SMA Negeri 3 Palembang masuk tahun 2003, pasti kenal nama tersebut. Cuma ada dua alesan temen angkatan gue ga kenal Hafiz. Yang pertama mereka ga ikut masa orientasi siswa dan yang kedua mereka tertabrak oleh truk sampah lalu hilang ingatan dan baru bisa inget kembali jika ditabrak oleh truk sampah yang sama untuk kedua kalinya *ter-sinetron endonesah*.

Ada beberapa cara untuk menjadi terkenal di sekolah. Sebelumnya gue sudah pernah jelasin bahwa menjadi berbeda secara fisik adalah cara umum untuk dapat dikenal oleh makhluk penghuni SMA. Siswa-siswi yang berbobot lebih, kurang tinggi, terlalu kurus, dan hal mencolok lainnya adalah alasan paling mudah untuk tersegregasi dengan ratusan atau bahkan ribuan siswa lain. Di luar itu, cara untuk menjadi populer di sekolah, selain menjadi member JKT48, adalah bikin ulah selama masa orientasi.

Jadi di sekolah gue dulu selama periode interaksi siswa baru, setiap kelas diwajibkan untuk mengikuti kegiatan senam poco-poco. Itu loh, senam pengganti SKJ dengan backsound lagu dari timur Indonesia yang dinyanyikan oleh Yopi Latul. Sifatnya yang wajib membuat semua siswa baru berpartisipasi dalam senam tersebut karena khawatir dengan embel-embel ‘wajib’ yang jika dikerjakan berpahala dan jika tidak dikerjakan berdosa. Sementara para pendosa kan bakal disiksa dan dilempar ke neraka. Gue khawatir kalo ga ikut senam nantinya gue bakalan disiksa joget poco-poco di atas bara api sambil nonton ‘Dahsyat’ 24 jam non-stop.

Nah, di suatu pagi saat gue tengah khusyu nyobain blush-on biar cakep kayak Laudya Cinthya Bella, terdengar suara riuh dari lapangan basket. Salah seorang siswa dari kelas sebelah melakukan senam poco-poco hingga nyaris pingsan. Yang gue denger sih siswa tersebut melakukan senam sembari ngemil paku payung. Sontak, peristiwa ini mendapatkan atensi dari sebagian besar siswa hingga sang pelaku kemudian terkenal di bumi hingga menggema ke langit. Yup, anak itu adalah Hafiz. Dia sudah bikin kehebohan dan menjadi terkenal di sekolah bahkan saat gue belum tahu nama temen sebangku gue.

Tapi, kejadian tersebut juga menjadi titik nadir bagi kehadiran senam poco-poco di sekolah kami. Selain karena suara Yopi Latul yang kelewat nyempreng, senam poco-poco dianggap berpotensi membahayakan keselamatan siswa. Sebagai gantinya kepala sekolah mengharuskan wajib militer bagi siswa baru. Lah?!.

Persis beberapa bulan setelah masa orientasi siswa, sekolah kami membentuk kelas baru yang katanya diproyeksikan sebagai kelas unggulan. Saat masuk ke kelas tersebut gue kaget karena melihat Yang Mulia Maha Diraja Baginda Gusti Tuanku Hafizzanovian yang terkenal se-satu kelurahan termasuk salah seorang siswa yang ada di kelas tersebut. Gue merasa bangga dan sujud syukur lalu langsung ke KUA.

Di SMA, Hafiz dikenal sebagai siswa yang ‘unik’. Karena keunikan tersebut ia menjadi begitu jamak dikenal orang lain. Kepopuleran Hafiz tidak sebatas ulah selama masa orientasi. Saking terkenalnya, tidak sulit mencari Hafiz di tengah kerumunan. Cari saja siswa yang sehari-hari, setiap waktu mengenakan topi kemana-mana. Kesetiaan Hafiz dengan topinya melebihi kesetiaan pria pada gebetannya. Topi adalah simbol Hafiz. Cuma saat wudhu ia melepas topi itu. Gue juga tidak terlalu paham mengapa dia terobsesi dengan topi. Kalo misalkan topi tersebut meningkatkan level kegantengannya dari beginner menjadi expert okelah. Tapi kan ga juga. Haha… Damai, bro!.

Sejak peristiwa pingsan yang melambungkan namanya, Hafiz memilih berkiprah di organisasi palang merah remaja sekolah. Ia tidak ingin adik-adik junior yang sedang senam unyu saat tampil unjuk gigi di depan senior kece harus berakhir dengan adegan pingsan, muntah hingga sulit buang air besar. Tidak hanya berkiprah sebagai anggota biasa, Hafiz menjelma menjadi ketua palang merah remaja.

Tidak hanya aktif di PMR, Hafiz kemudian menambah kesibukannya dengan menjadi bassist acapella tim nasyid terbaik yang pernah ada di SMA kami. Kehadiran Hafiz membuat eksistensi tim nasyid tersebut semakin berjaya. Hafiz menggantikan peran bassist sebelumnya yang memilih vakum sejenak dari hingar binger dunia hiburan. Alamak bahasa gue.

Gue mengenal Hafiz sebagai sosok yang tergila-gila dengan budaya Jepang. Gue selau di-update film, manga, tokusatsu semisal kamen rider, lagu-lagu Jepangnya L arc en ciel, dorama jepang dll. Saking nge fans-nya dengan budaya jepang ia pernah di suatu siang yang terik mengenakan jaket tebal ala ala akatsuki. Pas gue tanya

“Bro, ngapain siang-siang pake jaket tebel?”

Terus dia jawab dengan lempeng “Di jepang kan lagi musim dingin”.

Gue cuma bisa bengong sambil ancang-ancang Kamehameha.

Gegara kecintaannya pada anime, gue sempet ribut dengan Hafiz. Perkaranya adalah dia mau jadi Sasuke saat main berantem-beranteman, padahal kan gue juga pengen jadi Sasuke. Kenapa dia ga jadi Naruto aja atau jadi Neji hyuga. Hafiz akhirnya mengalah dan memilih menjadi Maria Ozawa Shizuka.

Meski tiga tahun duduk sebangku dengan Fachrie, menurut gue soulmate Hafiz sejatinya adalah sesosok makhluk astral bernama Hartawan. Mereka kompak. Di PMR Hartawan adalah tangan kanannya Hafiz. Sebelum masuk kelas unggulan mereka berdua berada di kelas yang sama. Kelak saat lulus SMA, keduanya pun masuk ke jurusan dan kampus yang lagi-lagi sama. Kurang mesra apa mereka berdua.

Hafiz pernah menjadi ketua kelas saat kelas dua SMA. Seinget gue ketua kelas kami dulu ga pernah ada yang bener. Karena yang bener hanyalah wanita. Eaa.

Yes, Hafiz diterima di jurusan Biologi Universitas Sriwijaya seusai lulus SMA. Tapi berkuliah di jurusan tersebut bukan lah yang diinginkan Hafiz karena gue tau persis dia sangat mengidam-idamkan profesi dokter. Satu tahun kemudian dia ikut kembali ujian masuk perguruan tinggi negeri dan diterima di fakultas kedokteran universitas sriwijaya.

Dokter satu ini kemudian menikah dengan salah seorang junior di kampusnya yang juga seorang dokter. Selamat hafiz untuk gelar ke-30.

Sudah 30 slot dari 45 temen kelas gue yang menikah. Semoga di tahun 2016 semakin banyak yang melengkapi separuh agamanya. Aamin.

2015 in review

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2015 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Aula konser di Sydney Opera House menampung 2.700 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 47.000 kali di 2015. Jika itu adalah konser di Sydney Opera House, dibutuhkan sekitar 17 penampilan terlaris bagi orang sebanyak itu untuk menontonnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

Sebelas Bulan

20151017_163728

Try harder, son

Gue awalnya bingung memberikan judul untuk tulisan ini. Mulanya gue berniat memberi judul ‘Karpet Alby’ merujuk pada interaksi Alby dengan karpet plastiknya. Akan tetapi judul tersebut tidak cukup seksi. Lalu muncul niatan memberi tajuk ‘Road to 1 Year’ sebagai persiapan menuju ulang tahun pertama putra gue. Tapi ya terlalu kebarat-baratan. Haram. Kurang Nasionalis. Cukuplah para pejabat yang akan memperpanjang kontrak kerja Freeport yang di-cap ‘Paling Nasionalis’. Kemudian gue berusaha menggantinya dengan ‘Perjalanan menuju 1 tahun’. Namun malah mirip-mirip misi suci kera sakti.

Setelah gue cermati, judul-judul di atas terlalu spesifik, mengkotak-kotakkan alias memisah-misahkan topik. Bisa-bisa gue diciduk sama Densus 88 karena membuat judul tulisan yang dianggap separatis dan diduga melakukan makar. Asa teu nyambung, jang!.

Setelah bertapa beberapa waktu di Kebun Bunga Amarlysis hingga berhasil diinjek-injek oleh Hesti dan generasi fakir eksistensi, akhirnya gue memberikan judul tulisan secara umum. Karena otak gue sudah ‘diracuni’ oleh tingkah laku Alby yang semakin hari bikin gue ngakak dan takjub menjadi seorang ayah, gue akhirnya membuat judul seperti di atas. Sebelas bulan.

Tentu saja tulisan ini tidak akan membahas jumlah bulan yang ada di bumi atau membahas jarak antara Phobos dan Demos yang rajin banget muterin Mars. Tidak juga membahas siklus periodik para wanita yang marahnya lebih serem daripada bacot Ahok. Bercerita tentang wanita, dalam salah satu meme di internet tertulis bahwa jika ada wanita yang berkata ‘tunggu ya 5 menit’ maka kamu bisa menggunakan 5 menit itu untuk menikah, backpackeran keliling dunia, ngumpulin 7 bola naga hingga menyelamatkan dunia bersama Power Ranger. Sadis memang.

Tulisan ini bercerita kembali tentang Alby yang memasuki usia ke sebelas bulan. Walau cuma dua hari dalam seminggu gue bisa ketemu jagoan gue, tapi dua hari itu menjadi dua hari yang selalu bisa membuat beban pekerjaan, permasalahan dan semua lelah terasa menguap begitu saja. Itu sebenernya beban apa air cucian ye.

Gue bingung formulasi apa yang gue gunain pas bikin Alby hingga ia bisa selucu dan semenggemaskan seperti sekarang. Di usia sebelas bulan ia memiliki kebiasaan baru yaitu menggigit dan mengunyah karpet puzzle yang terbuat dari plastik. Atau mungkin karet?. Atau mungkin terbuat dari bayang-bayang masa lalu?. Entahlah. Siapa yang perduli. Yang penting mainan tersebut bukan pemberian bawang merah. Dan yang jelas ia aman buat balita.

Bukan tanpa alasan setiap sudut rumah kami dipenuhi dengan karpet puzzle. Setiap saat Alby bermain dengan lincah hampir selalu diakhiri dengan persentuhan kulit pada bagian tubuh, terutama bagian kepala, dengan benda-benda yang lebih keras yang tersusun dari semen, bata dan cat atau bahasa sederhananya adalah kejedot. Bayi satu ini sangat mendalami peran kejedot dalam kesehariannya. Oleh karena itu, untuk mengurangi resiko cedera saat bermain, lantai rumah kami diramaikan dengan keberadaan karpet puzzle. Bukan berarti kami ingin selalu memberikan situasi aman bagi sang anak. Ada masanya kita harus melindungi mereka dengan sepenuh tenaga. Memberikan keamanan dan kenyamanan setiap saat. Dan ada kalanya kita harus membiarkan mereka terjatuh agar mereka tahu jatuh itu sakit. Dan tahu bagaimana caranya untuk bangkit setelah jatuh. Untuk saat ini, Alby masih dalam tahap pertama.

Alby punya caranya sendiri untuk membuat kami khawatir sekaligus terhibur. Bagian-bagian kecil dari puzzle dengan semena-mena ia lepas lalu dimasukkan ke mulut untuk kemudian dikunyah seperti permen. Kami cukup khawatir kalo sampe potongan puzzle tersebut tertelan. Puzzle itu kan lumayan mahal. Kami perlu menabung lagi untuk membelinya jika hilang. Apalagi yang motif angka. Itu lucu banget. Eh sori, gue salah fokus. Maksudnya puzzle tersebut berpotensi membahayakan kesehatan Alby jika sampe nyasar masuk tenggorokan. Beruntung, Alby tidak pernah (dan jangan sampe) menelan benda asing. Mekanisme sensor di mulutnya bekerja dengan cukup selektif. Itulah mengapa setiap kali gue kasih obeng, kunci inggris atau linggis, Alby tidak pernah menelannya. Good job, son.

Bayi gue masih seperti Alby yang pernah gue ceritain sebelumnya. Aktif tanpa batas. Keaktifan-nya sudah sampe maqom makrifat. Lebih aktif daripada Raffi Ahmad yang dalam satu hari bisa tampil di 3 stasiun tivi berbeda.

Alby kini sudah meninggalkan dunia per-baby walker-an karena lebih memilih merangkak atau berjalan merambat. Ia bisa pelan-pelan berpegangan pada apa yang bisa diraihnya seperti bangku, meja, cita-cita lalu berdiri sejenak dan kemudian merambat kesana kemari. Tapi bagian terbaiknya adalah manakala Alby merangkak dengan penuh passion menuju ke arah gue setiap kali gue panggil. Alby, sit. *kemudian digigit Alby dengan dua giginya*.

Sesekali gue bersembunyi di kamar sambil mengawasi ia celingak-celinguk mencari. Ekspresi kepolosan dengan pipi yang cubit-able ditambah senyum menawan membuat gue pengen selalu berlama-lama bermain bersama.

Alby tetap tak berhenti bergerak. Saat di mana Alby berhenti berorbit adalah saat sakit. Beberapa pekan lalu ia menghabiskan satu pekan di rumah aki/niniknya di Sindangbarang, 100 km sebelah selatan Cianjur kota. Wilayah ini berbatasan langsung dengan laut sehingga cuacanya relatif lebih panas. Sepulang dari Sindangbarang, Alby beberapa kali muntah seusai minum ASI. Bukan karena bundanya memberikan ASI basi. Kulitnya juga banyak bercak merah dan mengelupas. Usut punya usut dan setelah berkonsultasi dengan dokter, Alby diduga mengalami kondisi tersebut karena fisiknya tidak kuat menghadapi perubahan cuaca. Ditambah lagi kebimbangan Menteri Perhubungan menentukan apakah Gojek jadi dilarang atau tidak menambah buruk keadaan.

Kami cukup khawatir setiap kali melihat Alby tidak seaktif biasanya.

Saat ini Alby sudah sehat kembali. Sudah selincah sedia kala. Tapi ya itu. Sekarang dia sulit banget makan nasi. Dia bisa makan apa saja kecuali makanan full karbohidrat tersebut. Apa jangan-jangan Alby sedang diet karbo?. Atau dia ikutan OCD?. Buat Alby, karpet puzzle jauh lebih enak daripada makanan apa pun.

Gue sempet menyesalkan kenapa tidak ada karakter kartun Indonesia yang mirip Popeye. Kalo Popeye bisa kuat habis makan bayem, harusnya kartunis Indonesia membuat tokoh yang kuat menjomblo bertahun-tahun atau bisa berantem dengan serigala-serigala yang ganteng hanya dengan makan nasi. Gue yakin anak-anak balita sak Indonesia pasti ga ada yang emoh makan nasi. Apalagi kalo yang meranin karakternya Jeremy Teti atau Saiful Jamil. Beh. hacep banget pastinya.

Sekarang, kemana-mana Alby sering sekali bergumam ‘haaa’ dengan intonasi sok-sok diseremin. Persis dengan cara orang dewasa menakuti anak-anak. Sekonyong-konyong ia bisa bertingkah seperti itu di rumah, di mobil dan dimanapun ia mau. Bundanya bahkan tidak tahu dia belajar darimana atau mengimitasi siapa. Tidak semua hal baru yang dilakukan oleh anak-anak bisa diketahui dari mana ia belajar. Bertanya sumber imitasi balita sama aja kayak nonton pertandingan bola terus nanya mana yang jahat mana yang baik di antara dua tim yang tanding. Absurd. Pokoknya gumaman tersebut bisa membuat kami tertawa lepas karena menurut bundanya ekspresi tersebut cocok buat nakut-nakutin semut.

Bulan depan Alby setahun. Menikmati pertumbuhan Alby dari waktu ke waktu menyajikan spektrum kebahagiaan tersendiri buat gue dan istri sebagai orang tua. Semoga Alby tetap terus tumbuh dengan sehat dan cerdas. Semoga ia tumbuh menjadi anak yang shalih, berkarakter dan ber-adab.

Salam Cinta untukmu, nak.

Agama dan Kemajuan Sebuah Negara

abbas bin firnasBeberapa waktu lalu gue membaca status salah seorang kenalan di facebook yang diberi judul ‘Nalar HTRZ’. Ya, memang judulnya terkesan alay namun jika kita membaca isi status tersebut kita bisa mengira-ngira bahwa sang empu status adalah orang yang memiliki latar belakang pendidikan yang wah atau setidak-tidaknya ia adalah seorang pembaca yang baik. Status tersebut ditulis sebagai respon terhadap orang-orang di sosial media yang selalu membanding-bandingkan kemajuan sebuah negara terhadap kesalihan beragama. Disebutkan bahwa ada seorang netizen yang membandingkan kemajuan Korea Selatan dengan Indonesia. Indonesia dianggap sebagai negara tertinggal dalam segala aspek karena rakyatnya masih disibukkan dengan urusan remeh-temeh semacam mana yang lebih baik tarawih 8 atau 20 rakaat. Atau mana yang lebih shahih subuh pake qunut atau tidak. Mana yang lebih hebat Captain America atau Iron Man. Ia kesal karena terlalu banyak berhadapan dengan para adek-adek lucu pengguna sosial media yang sering menjadikan agama sebagai kambing hitam lambannya kemajuan sebuah negeri.

Sebagai antitesis, ia mengemukakan pandangan bahwa tidak sepatutnya kita menggunakan analisa cocoklogi untuk mengait-ngaitkan antara kesahihan beragama dengan kemunduran suatu bangsa. Karena pada dasarnya banyak faktor yang menyebabkan bangsa di dunia ini tidak memiliki kemajuan dalam ekonomi, teknologi maupun bidang lainnya. Si pemilik status yang kebetulan menyelesaikan studi master ekonomi di negerinya Geert Wilders lalu menyampaikan argumen-argumen dengan pendekatan konspirasi ekonomi. Ia memaparkan bahwa bisa jadi tanpa agama, khususnya Islam, maka Indonesia bisa jadi jauh lebih bobrok daripada kondisi saat ini dengan analisa-analisa yang bikin gue sebagai lulusan sains kimia cuma bisa mengangguk-angguk dan merasa iri mengapa ilmu kimia tidak bisa mengurai permasalahan kapitalisasi, komunisme dan ekonomi suatu negara.

Gue yang turut serta berpartisipasi membagikan status tersebut di dinding facebook sebagai bagian kampanye menentang kesoktauan para pemuja akal dan pendukung fremansory, illuminati, mamarika dan sebagainya mulanya bergairah dengan isi status tersebut. Tapi pada suatu titik gue mencoba berkontemplasi dan bertanya-tanya sendiri, apakah benar kemajuan sebuah negara dan agama bagaikan sepatu yang selalu bersama tapi tak bisa menyatu?.

Secara sederhana kita bisa dengan mudahnya mendapat bahwa negara-negara yang maju secara pengetahuan dan perekonomian adalah negara yang cenderung sekuler alias tak terlalu perduli terhadap agamanya. Amerika Serikat sebagai kiblat kemajuan negara-negara di dunia, setidaknya oleh negara di dunia ketiga, boleh mengaku bahwa sebagian besar pendudukny beragama Kristen/Katolik. Tapi apa lantas mereka menjadi umat yang religius ketika di negara tersebut terkenal dengan istilah four-wheel church alias gereja empat roda sebagai satir untuk menyindir orang-orang yang pergi ke gereja dengan menggunakan empat roda (mobil) hanya pada saat tiga waktu yakni pembaptisan, pernikahan dan kematian. Apakah dogma-dogma kristen memberikan semangat keilmuan yang menjadi dasar pengetahuan hanya karena George W.Bush mengatakan bahwa Yesus adalah sumber inspirasinya?.

Atau bagaimana Jepang yang mungkin mengaku masih menyembah matahari atau beragama Budha menjadikan agamanya sebagai worldview yang lalu menjadikan mereka semangat untuk menimba ilmu?.

Gue rasa tidak.

Masih berkaitan dengan status di atas, pada bagian komentar gue menemukan berbagai pendapat menarik yang sebagian besar sepakat dengan isi status. Di komen teratas gue mendapati komentar yang mengatakan bahwa majunya Korea Selatan saat ini disebabkan oleh dukungan penuh rakyat dan pemerintah untuk menggunakan produk lokal walau bagaimana pun jeleknya kualitas produk tersebut. Lalu melesatlah Samsung yang awalnya sebagai perusahaan pengeskpor ikan kering menjadi goliath teknologi. Berdasarkan komentar ini tidaklah tepat menjadikan alasan religiusitas masyarakat sebagai langkah mundur bagi suatu bangsa. Artinya agama tidak bisa dipaksa untuk dicocok-cocokkan menjadi dalil sebab-akibat yang berhubungan dengan kemajuan atau kemunduran suatu negeri.

Lalu di bagian lain komentar disebutkan bahwa memang pada kenyataannya agama seolah menjadi penyebab kemunduran sebuah negeri. Orang-orang beranggapan bahwa tidak mengapa hidup sulit di dunia asalkan mati masuk surga. Doktrin megah ini menjadi faktor yang mendemotivasi orang-orang agar tidak ngoyo dan pasrah saja terhadap semua keadaan yang dihadapi.

Jika sudah begini maka riwayat mengatakan bahwa orang-orang akan sibuk mencari argumen pembenaran bahwa memang ada suatu masa di mana agama dapat menjadi tulang punggung kemajuan suatu negara. Akan selalu ada proses membanding-bandingkan umat Islam sekarang dengan umat Islam di masa Kekhalifahan Abbasiyah dengan Baitul Hikmahnya dan juga kemegahan Dinasti Umayyah di Spanyol. Dan di lain kesempatan menjadikan trauma masyarakat barat terhadap kepongahan gereja yang menentang segala ilmu pengetahuan sebelum dan awal renaissance di mana Galileo menjadi tawanan rumah karena membuktikan bahwa bumi bukanlah pusat dari alam semesta.

Dua saja. Hanya dua argumen tersebut yang mendasari orang-orang zaman ini terus dininabobokan oleh kemegahan islam masa lalu tanpa ada upaya-upaya untuk meraihnya kembali. Dan juga menjadikan trauma kristen yang antagonis terhadap kemajuan peradaban di medieval age sebagai hikmah dan bahkan olok-olok.

Tapi apa iya kebangkitan peradaban islam dengan khazanah pengetahuannya yang bergelimang pada masa Dinasti Abbasiyah dan Umayyah spanyol berkorelasi kuat dengan kesalihan masyarakatnya?. Pertanyaan ini menggelayuti pikiran gue. Jika memang adagium ‘barat maju karena meninggalkan bibel sementara muslim tertinggal karena meninggalkan quran’ lantas apakah Ibnu sina, Ibnu rusyd, Alhazen, Alhaitam dan segudang ilmuwan muslim lain adalah orang-orang salih yang selain mendalami ilmu eksakta, sosial juga mendalami fiqih, tauhid dengan baik? Karena sepengetahuan gue seorang Imam Nawawi sangat tidak menyukai Canon Medicine atau Qanun Fi at Thib nya Ibn Sina. Baginya buku tersebut terlalu berbau filsafat dan dapat menjauhkan seseorang dari tuhan. Atau jangan-jangan sebagian besar ilmuwan tersebut bukan seorang muslim yang baik dalam konteks menjalankan agama sebagai entitas yang sacred. Bahasa kekiniannya mungkin semacam islam katepe atau mungkin Islam Liberal.

Maka para atheist akan meloncat gembira manakala mendapati Stephen Hawking dengan Theory of Everything atau Grand Design-nya adalah seorang yang tidak bertuhan. Atau secara halus disebutkan bahwa Stephen Hawking bukanlah seorang yang mempercayai tuhan secara personal melainkan impersonal. Sehingga Hawking tidak percaya konsep tuhan yang imanen. Atau sejak film tentang Alan Turing yang diperankan oleh Benedict Cumberbatch diputar di bioskop-bioskop, para pemuja akal bersatu padu membela patriotisme seorang Alan Turing yang meski memiliki kelainan seksual memiliki kontribusi besar mengakhiri Perang dunia II. Maka agama dianggap tidak selayaknya menghardik para pencinta sejenis. Lebih-lebih mereka yang berkontribusi pada aspek-aspek kemajuan dunia.

Sampai kapan pun akan tercipta polarisasi antara mereka yang percaya bahwa agama adalah bagian tak terpisahkan dari kemajuan suatu negara dan mereka yang bertahan dengan argumen bahwa agama hanya candu dan harus dibuang, dipisahkan dari kehidupan agar tercipta suatu kemajuan peradaban.

Dan gue pribadi termasuk golongan yang pertama.

*Sumber Gambar dari Sini