Bukber dan Turunannya

Juni 19, 2017 § Tinggalkan komentar

Sumber: Burhan Abe’s Blog

Entah siapa yang pertama kali memulai kegiatan kumpul-kumpul saat berbuka puasa di bulan ramadhan. Agenda tahunan ini seolah menjadi menu wajib Ramadhan di samping kolak pisang dan sop buah. Momen buka bersama adalah saat-saat paling tepat untuk bersilaturahim dengan teman TK, SD, SMP, SMA, hingga kuliah yang sudah lama tidak berjumpa. Lebih-lebih untuk kelas menengah di kota-kota besar. Buka bersama adalah momen di mana kita bisa mengumpulkan rekanan dalam jumlah banyak selain saat menghadiri pernikahan dan acara kematian.

Saya memiliki pengalaman yang sangat panjang sebagai ‘penyelenggara’ acara buka puasa bersama. Sejak lulus SMA, secara naluri, saya terpanggil untuk mengumpulkan kembali teman-teman yang sudah merantau ke berbagai penjuru negeri. Tanpa bantuan Bulma dan Goku tentunya. Hampir setiap tahun buka puasa bersama ini diadakan demi menjumpai wajah-wajah yang tak bersua bertahun atau bahkan bertahun-tahun lamanya.

Berbekal pengalaman menjadi juru acara buka bersama teman SMA, saya mendapuk diri saya sendiri untuk mengambil peran yang sama bagi teman-teman alumni kampus. Hampir setiap tahun setelah wisuda, saya menginisiasi buka bersama dengan tujuan yang sama, menghimpun teman-teman angkatan yang tercecer.

Menyelenggarakan acara buka bersama tidak semudah membuka bungkus bumbu indomie dengan gunting. Menentukan jadwal, tempat makan, dan sekelumit hal lainnya yang terkait adalah kerumitan-kerumitan yang hadir manakala kalian harus berdiskusi dengan 40 kepala dan 40 mulut. Pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa buka puasa bersama hanya akan dihadiri oleh mereka yang benar-benar niat. Seniat orang-orang yang ribut mana yang benar apakah Gajah Mada atau Gaj Ahmada.

Delapan puluh persen dari rangkaian kegiatan buka bersama diisi oleh wacana. Saya ulangi, wa..ca..na. Semua orang yang diajak terlibat pasti berwacana, berargumen, berdebat tentang jadwal yang harus disepakati. Si A bisanya sabtu pekan pertama puasa, si B tidak bisa karena harus buka bersama bekas calon pacar. Si C usul hari minggu pekan ketiga ramadhan, si D sudah mudik ke Papua Nugini. Ribet. Ujung-ujungnya yang bisa dateng ya Lo lagi Lo lagi. Polanya sama setiap tahun. Keribetan yang HQQ (baca: Hakiki).

Meskipun begitu tetap saja momen buka bersama selalu dinanti. Puncak dari kebahagiaan saat mengumpulkan kembali wajah yang tak lama bertemu adalah kita bisa kembali mengingat gurat kekonyolan yang pernah ada. Atmosfir yang hadir menyajikan nuansa yang menghantarkan kembali ingatan kita pada masa-masa dahulu saat masih berseragam abu-abu, saat praktikum, ketika kumpul angkatan dan sebagainya. Situasi ini yang membuat orang-orang mau dateng ke buka bersama. Reuni sederhana untuk menertawakan masa lalu.

Hanya saja tidak jarang terdengar narasi bahwa ajang buka bersama dijadikan wahana untuk pamer. Segala sesuatu dipamerkan hanya demi menunjukkan eksistensi dan kemapanan. Untungnya, sejauh ini teman-teman saya tidak begitu.

Ada yang unik dari momen buka bersama. Ada hikmah mendalam yang bisa kita petik. Ini bukan cerita orisinil saya. Ia adalah buah pikir dari Ronal Surapraja yang dimuat di salah satu koran nasional. Jika buka bersama adalah perwujudan dari sebuah reuni dalam skala kecil, maka sejatinya banyak orang menyengaja diri untuk tampil dengan sebaik mungkin sebelum bertemu rekanan yang sudah lama tidak berjumpa. Bahkan tak jarang banyak orang yang menyombongkan diri, bertingkah pongah agar dianggap lebih. Jika untuk reuni bertemu manusia kita harus sesiap itu. Bagaimana dengan reuni yang nantinya lebih sebenar-benarnya?. Reuni dengan sanak saudara dalam kondisi yang jauh berbeda. Bukankah kita harus lebih siap ketimbang reuni buka bersama?.

Shaf Sholatmu, Deritaku

Juni 5, 2017 § Tinggalkan komentar

Sumber: ibtimes.co.uk

Memang, sebelum kita bermegah-megahan dalam beramal, yang lebih utama daripadanya adalah ilmu. Dan sebaik-baik penuntut ilmu adalah mereka yang mendahulukan adab atasnya. “Jadikan ilmu sebagai garamnya, dan adab itulah tepungnya,” Kata Imam Syafi’i menggambarkan “roti” penopang kehidupan. Seperti dikutip oleh Ustad Salim A Fillah dalam Sunnah Sedirham Syurga. Ia menambahkan bahwa Imam Bin Al-Mubarak berkata “Hampir-hampir adab itu senilai dua pertiga agama”.

Omong-omong tentang ilmu sebelum amal, ada sebuah pemandangan unik setiap kali saya melakukan solat berjamaah di mesjid. Entah mengapa, sebagian jamaah mesjid yang saya temui di banyak tempat enggan untuk merapatkan shaf dalam solat. Keengganan ini banyak didominasi oleh kaum tua dan terjadi lebih masif di mesjid-mesjid di sudut kota. Atau kita jamak mengejanya sebagai ‘mesjid kampung’. Orang-orang tua lebih sulit untuk diajak berdiskusi. Keengganan karena memandang remeh si muda ataupun kebiasaan yang sudah melekat seumur-umur menjadikan hal-hal kecil namun penting dalam sholat ini sering kali dilewatkan. Sebenarnya anak-anak pun banyak yang tidak merapatkan shaf namun keadaan ini tidak genting mengingat mereka lebih mudah diarahkan.

Beberapa referensi menyampaikan pentingnya merapatkan shaf dalam sholat berjamaah. Bahkan hampir tiap kali imam menyengaja diri untuk mengingatkan jamaah agar merapatkan shafnya. Tapi nampaknya beberapa orang lebih percaya diri untuk menjaga jarak dengan jamaah di sebelah kanan dan kiri.

Saya mengalami dua kejadian unik dan miris sehubungan dengan merapatkan shaf. Pernah suatu waktu di sebuah mesjid sekitaran Cisitu Bandung, di saat sedang merapihkan shaf solat magrib, salah seorang bapak paruh baya yang tepat berada di sebelah saya senantiasa menjauhi ujung jarinya setiap kali saya mencoba merapatkan. Berkali-kali saya coba merapatkan shaf, berkali-kali pula ia menjauh. Puncaknya adalah saat solat tengah berlangsung. Merasa situasi sudah aman terkendali dan kemungkinan bapak itu menjauh akan mengecil saat solat sudah dilakukan, saya pelan-pelan merapatkan kembali shaf. Ternyata apa? Sang bapak nampaknya gerah. Buktinya, kaki saya yang mencoba menggapai kaki sang bapak demi rapatnya shaf, diinjek tanpa malu-malu. Di saat bersamaan saya merasa ingin tertawa. Untung masih inget kalo sedang sholat.

“Luar biasa” pikir saya.

Setelah adegan penginjakan kaki tersebut, saya tidak lagi memaksa diri untuk merapatkan shaf. Saya paham bahwa tidak semua orang ingin didekati. Yang pacaran lama aja bisa putus apalagi yang baru pendekatan, iya kan? Loh…

Lepas sholat, sang bapak menghilang tanpa jejak. Saya pun tidak berencana lebih lanjut mencarinya untuk menjelaskan perihal duduk perkara kemestian merapatkan shaf dalam sholat.

Cerita kedua terjadi saat sholat, lagi-lagi Maghrib, di mesjid sekitaran Bintaro. Meskipun mesjid ini ramai namun orang-orang tua yang mengerjakan sholat di mesjid ini acap kali bersikap kurang ramah. Terutama pada anak muda. Saya merasa ketidaknyamanan berada di antara jamaah mesjid ini. Semoga ini hanya sekedar firasat akibat ketidaktahuan saya sahaja.

Mirip dengan kejadian pertama, bapak yang berada di kanan saya, sedari iqomah, ogah merapatkan shafnya. Saya membaui mulut, tapi tidak bau. Meskipun tidak wangi. Maklum saya kehabisan permen penyegar mulut. Ingin menyemprotkan parfum baju ke mulut, rasanya kurang etis. Mulut saya tidak terbuat dari Nylon. Ditambah belum adanya fatwa halal menyemprotkan minyak wangi ke dalam deretan gigi. Saya juga tidak mengenal bapak ini sebelumnya. Lantas mengapa ada sentimen sehingga kita harus jauh-jauhan, pak. Jangan khawatir, saya bukan admin Lambe Turah.

Dan terjadi lagi…

Niat baik saya merapatkan shaf demi kesempurnaan sholat, seperti yang kerap didengungkan oleh imam, disalahartikan oleh jamaah di sebelah saya. Beliau tanpa ragu menyemprot saya, tepat sebelum imam takbir, dengan memberikan penekanan bahwa ia tidak mau merapatkan shaf dalam barisan sholat. “Kena deh” pikir saya. Belum puas, entah disengaja atau tidak bapak tersebut menyikutkan tangannya yang bersedekap dengan keras ke tangan saya. Ebuset. Begini banget yah. Kzl.

Dua kali mendapatkan jurus ‘mematikan’ dari jamaah sholat membuat saya sedikit banyak ‘kapok’ untuk bersemangat merapatkan shaf. Saya tidak mau mengalami kejadian serupa untuk ketiga kalinya. Sejak saat itu, tiap kali bersebelahan dengan bapak paruh baya, saya mengira-ngira seberapa besar probabilitas kaki saya diinjek atau disemprot jika harus merapatkan shaf. Saya menjadi cuek. Jika mau merapatkan silahkan, jika tidak, saya merelakan saja. Ampuni Baim, Ya Allah.

Pengetahuan yang kurang, ukuran sajadah yang terlalu besar, keengganan belajar menjadi kunci ketidaktahuan kita dalam beribadah. Oleh sebab itulah agama dan tatacara ibadahnya bukan lah sekedar warisan. Jika agama adalah warisan, maka bentu-bentuk tata-cara peribadatannya mengikuti, patuh, taqlid pada orang-orang terdahulu. Padahal landasan ibadah adalah ilmu bukan kebiasaan orang-orang terdahulu yang diwarisi.

Mari kita merapatkan shaf dalam sholat, ya.

سوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَفِّ مِنْ تَماَمِ الصَّلَاةِ

#34 Ragil Erna Liya

Mei 16, 2017 § Tinggalkan komentar

Tulisan ini saya awali dengan apresiasi terhadap  rekan-rekan angkatan saya selama menempuh sekolah menengah atas. Angkatan kami berhasil menorehkan prestasi cukup luar biasa dalam konteks pendidikan lanjutan. Terutama keluaran dari kelas tempat saya bermukim selama tiga tahun. Hampir semua universitas bergengsi terwakili. Kiprah mereka di dunia kerja pun menyisakan decak kagum yang tak putus.

Kegemilangan prestasi tidak membuat satu pun temen-temen SMA saya ini menjadi pongah. Mereka tetap menjadi pribadi yang sama dibandingkan dengan 10 tahun yang lalu. Tetap hangat, bersahabat, garing, dan membuat waktu berhenti berdetak seperkian detik saat canda tawa mulai terucap. Momen-momen berkumpul bersama adalah atmosfer yang selalu dinanti meskipun hanya bersua setaun sekali.

Waktu berpacu tanpa bisa ditahan-tahan. Tak terasa temen-temen SMA yang dulu begitu culun kini menjelma menjadi manusia-manusia yang lebih dewasa. Usia nyaris kepala tiga membuat kami harus mengenang sisa-sisa memori SMA dengan kerangka masa kini.

Ragil Erna Liya. Temen sejawat satu ini merengkuh nomor urutan pernikahan ke -34 dari 45 siswa secara keseluruhan. Ragil dalam Bahasa Jawa berarti anak terakhir atau bungsu. Saya baru sadar kenyataan ini setelah bertahun-tahun meninggalkan bangku SMA. Saya, awalnya, secara acak berpikir bahwa ra-gil adalah singkatan dari oRAng GILa. . . Haha. Bercanda ya, bu.

Tidak banyak momen SMA yang saya inget tentang Ragil. Karena meskipun tiga tahun satu kelas dan berada di satu wadah organisasi yang sama, interaksi kami sangat terbatas. Ragil lebih banyak bergumul dengan rekan-rekan akhawatnya. Lebih-lebih dengan Faiza yang tiga tahun menjadi teman satu bangku atau dengan Desni, teman kelas yang juga merupakan sang Girl Next Door. Menurut Desni, sejak masa pra sekolah dasar, mereka berdua sudah sering kongkow bareng. Kebersamaan mereka dimulai sejak jam 6 pagi saat berangkat ke sekolah lalu dilanjutkan 7 jam bersama-sama di kelas, dan masih bersambung dengan main karet sepulangnya. Jadi, jika kalian bosen melihat pasangan di rumah, coba bandingkan dengan kebosanan yang dialami mereka berdua.

Saya masih mengingat dengan baik bagaimana transformasi siswi temen kelas saya dahulu. Sedari awal masuk SMA, mereka dengan penuh kesadaran menjemput hidayah untuk mengenakan hijab. Satu per satu, secara perlahan mengganti pakaian mereka dengan busana muslimah. Saya yang terpesona melihat pemandangan demikian, nyaris saja secara sukarela mengenakan hijab yang sama sebagai bentuk dukungan. Saya terinsiprasi dari Bunda Dorce.

Ragil adalah sosok yang tidak banyak bicara. Tenang. Dan terlihat sangat matang dibandingkan temen-temen yang lain. Ia juga sosok yang sangat ramah. Tidak salah jika ia memiliki teman yang banyak karena Ragil kerap berlatih keras dan makan So N*ice…  Apeeeeu.

Tapi ia bisa menjadi sangat jutek manakala tidak suka pada suatu hal. Dan kejutekan itu ditunjukkan secara terang benderang. Seterang kasih ibu. Begitu menurut penjelasan sumber referensi saya. Sebut saja namanya Kenanga. Ragil juga merupakan sosok yang sangat ramah. Sumber saya menambahkan. Sifat ramah ini ditambah dengan kecintaan yang sangat besar pada anak-anak dan remaja. Ragil sepertinya adalah fans berat Kak Seto. Kecintaan tersebut berwujud pada aktifitas mengajar iqro bagi anak-anak di lingkungan rumahnya.

Meskipun terkenal pendiem, Ragil sangat aktif dalam mengikuti berbagai kegiatan. Mulai dari pramuka, kerohanian islam, balet, ikebana, parkour hingga membina remaja mesjid. Menjadi pengurus ikatan remaja mesjid bukanlah aktifitas sederhana. Di tengah arus modernisasi yang melaju dengan cepat, membina remaja-remaja agar memiliki pribadi yang tangguh dan kokoh merupakan agenda penting agar tersiapkan generasi bangsa yang cakap. Dan para pembina remaja mesjid ini melakukannya dengan sukarela. Tanpa iming-iming pundi berlimpah.

Masih dari Kenanga, Ragil merupakan sosok pencinta Boliwud garis keras. Alias Die-hard. Ia kenal artis india mulai dari era Mithun Chakraborty, Shahrukh Hhan, Hrithik Roshan, Raam Punjabi dan lainnya. Sungguh, saya bener-bener baru tahu informasi ini. Makanya saya sering heran mengapa saat SMA dulu Ragil sangat senang berada dekat dengan pohon atau pilar bangunan. Ternyata ini jawabannya.

Kecintaannya pada Boliwud sudah pada maqom ma’rifat. Setiap kali Kenanga singgah di rumah Ragil, musik Boliwud sudah pasti mengalir dengan merdu. Kenanga sampai harus menahan Ragil agar tidak ikut bergoyang dan mendatangi pohon sekonyong-konyong.

Seandainya saja saya tahu sedari awal maka seyogyanya saya akan menyarankan Ragil untuk melanjutkan kuliah di Mumbai atau New Delhi. Namun ternyata Ragil memilih melanjutkan kuliah di jurusan Teknologi Hasil Pertanian Universitas Sriwijaya.

Mungkin kalian berpikir lulus kuliah Ragil akan bekerja di ladang atau di laboratorium demi menciptakan palawija berbuah semangka. Jika kalian berpikir demikian, kalian salah. Kecintaan yang begitu besar pada anak-anak melabuhkannya pada pekerjaan yang membuatnya membersamai anak-anak setiap harinya. Bukan, bukan sebagai badut Dufan. Ragil kini menjelma menjadi guru di salah satu sekolah dasar di Palembang.

Tanggal 31 Mei Ragil secara sah disunting oleh seorang pria asal Karawang. Dua hari setelahnya walimatul ‘ursy dilaksanakan. Dan seperti yang sudah-sudah, saya kembali tidak bisa menghadiri secara fisik pernikahan temen-temen terbaik saya ini. Ada getir yang tertahan akibat keterbatasan. Tapi semoga doa saya dan doa rekan-rekan lainnya terijabah. Semoga pernikahan kalian berbuah keberkahan, Ragil dan suami.

Selamat atas gelar ke-34 nya 🙂

Capital Parenting

April 26, 2017 § Tinggalkan komentar

Ilustrasi: apa.org

Beberapa hari yang lalu istri gue mengabarkan bahwa Bu Een, ART kami, tengah mengalami masalah keluarga sehingga tidak bisa masuk kerja selama dua hari. Ibu ini diancam dibunuh (iya, dibunuh) oleh anak sulungnya akibat keengganan menjual rumah yang ia miliki. Sang anak melakukan hal demikian agar mendapatkan bagian dari hasil jual rumah tersebut. Karena takut, Bu Een dengan terpaksa menjual rumahnya agar terbebas dari bayang-bayang sang anak yang sudah kalap tak karuan.

Beberapa waktu sebelumnya, media sosial dan media cetak riuh akibat kisah tentang Ibu Rokayah  yang dituntut 1,8 milyar oleh sang anak karena perkara hutang. Sang anak secara tega mengekskalasi urusan utang-piutang ke ranah hukum. Sebuah tindakan amoral yang mengundang cacian dan sumpah serapah dari banyak orang. Bagaimana mungkin ada anak yang bersengketa perihal uang dan menjadikan sang ibu sebagai pesakitan.

Dua kejadian di atas bener-bener berhasil membuat geleng kepala. Jika dulu kita akrab dengan legenda Malin Kundang yang durhaka akibat ketakutan akan kehilangan kekuasaan dan harta maka kini legenda tersebut tidak lagi sebagai dongeng pengantar tidur. Anak-anak durhaka itu ada dan hidup dengan sebenar-benarnya. Anak-anak ini  dengan teganya bertindak secara keji karena perkara pundi-pundi. Apa yang salah sehingga perkara ikatan kuat ibu-anak dapat putus manakalah berbenturan dengan kapital, modal, uang dan materi sejenis. Sepertinya unsur-unsur kapital tidak hanya menggerus ideologi negara namun juga menular pada masyarakatnya.

Tetiba saja gue terpikir ada yang salah dengan kedua anak dalam paragraf awal tulisan ini. Perilaku dan karakter anak sangat dipengaruhi oleh pola pendidikan dan lingkungan tempat ia berinteraksi dan bersosialisasi. Mengacu pada ulasan J.J Rosseau dalam Emily bahwasanya seorang anak itu bagai kertas putih. Maka faktor eksternal yang membentuk karakter mereka. Meskipun gue tidak sepenuhnya percaya dengan apa yang dikatakan Rosseau. Ia nampaknya terlalu pandai berteori tentang filosofi pendidikan anak hingga menelantarkan lima anak kandungnya sendiri hasil hubungan gelap dengan Theressa Lavasseur.

Faktor eksternal yang membentuk karakter secara dominan dipengaruhi pola pendidikan yang diterapkan serta lingkungan tempat sang anak tumbuh. Dengan melupakan sejenak faktor lingkungan, saya tertarik untuk mengelaborasi kaitan pola parenting dalam pembentukan karakter.

Dewasa ini, isu parenting menjadi begitu seksi. Begitu banyak kenalan di dunia maya membagikan sekelumit informasi dan teori tentangnya. Parenting A, B, C dan derivasinya yang bervariasi.

Sehubungan dengan kegaduhan pada cerita di atas, saya terpikir akan sebuah model parenting baru yang membentuk anak-anak dengan mental materialistik. Menggunakan metode cocoklogi, akhirnya tercetuslah ide tentang ‘Capital Parenting’. Entah. Tiba-tiba saja saya terpikir untuk merumuskan hipotesis tentang Capital Parenting sebagai upaya mengawinkan pola parenting dengan nilai-nilai kapitalisme. Kapitalisme sebagai sebuah paham atau isme menjadikan uang dan privatisasi sebagai basis.

Saya tidak menemukan tautan ataupun keyword tentang capital parenting yang ter-indeks di google. Mungkin penggunaan capital di depan parenting terlalu lancang dan tidak tepat sasaran. Hanya saja untuk memberikan pendekatan pada pewarisan nilai kecintaan berlebih terhadap materi dan uang saya merasa ada kecocokan pengunaan terminologi tersebut.

Dalam kasus Bu Een ataupun Bu Rokayah kita bisa saja menyalahkan sang anak karena bertindak di luar kewajaran. Namun kita juga tidak salah jika harus mengelaborasi peran orang tua dalam menanamkan nilai-nilai kapitalisme liar yang terjewantah dan mendarah daging. Saya tidak men-justifikasi hanya saja bukan tidak mungkin anak tumbuh menjadi begitu lucah, mengkomparasi kasih orang tua terhadap nominal akibat pola pendidikan yang salah.

Bagi setiap orang tua yang selalu mengimingi anak dengan harta, menstandardisasi nilai dengan uang. mereplika fungsi kasih dengan benda, akan membentuk karakter kebendaan yang melekat begitu kuat. Dan mengutamakan harta ketimbang ibu yang melahirkan bisa jadi merupakan puncak pengejewantahan nilai-nilai materialisme yang paling brutal.

Pola-pola parenting dengan menjadikan kapitalisme sebagai garda depan akan mencetak manusia yang menghalalkan segala cara agar kantong-kantong mereka terpenuhi. Bisa jadi para koruptor adalah buah didikan capital parenting.

Children see children do. Anak-anak selalu mengimitasi perilaku orang-orang terdekat. Orang tua yang senantiasa memandang rendah orang lain karena status sosial, menghambakan diri pada materi, berorientasi pada uang berpotensi menghasilkan manusia se-level anaknya Bu Rokayah dan Bu Een.

Sejenak mari kita menengok kisah menyejarah dalam Al-Quran. Lukmanul Hakim namanya. Ia selalu disebut ketika membahas hubungan orang tua dan anak. Lukma dikisahkan meninggalkan wasiat-wasiat kebaikan. Di antara nasihat dan hikmah pada anaknya adalah jangan syirik, berbuat baik kepada orang tua, dirikan sholat dan lainnya. Jika orang tua senantiasa mengajarkan serta mewarisi nilai-nilai, adab serta akhlak yang menjauhi unsur-unsur kapitala dan segala penghambaan kepada dunia maka niscaya kisah-kisah anak yang durhaka karena unsur uang tidak akan ada.

Jadi, masih mau menjalankan Capital Parenting?

Menua Bersamamu

April 12, 2017 § 2 Komentar

Ilustrasi: Pinterest

Wow…

Judulnya terasa begitu melankolis. Terkesan mendawamkan dan mengelu-elukan romantisme. Menua bersamamu selalu dikonotasikan sebagai sebuah frasa yang menggambarkan keutuhan rasa cinta. Membayangkan hidup bersama hingga tua bersama pasangan diiringi dentang musik ‘grow old with you’ Adam Sandler. Atau terbayang-bayang cuplikan Carl-Ellie yang begitu manis dalam film Up. Topik cinta-cintaan selalu laku untuk menjadi komoditi, bahan diskusi hingga perdebatan.

Tapi, tulisan ini tidaklah bernarasi tentang ke-menye-menyean demikian.

Menua bersamamu adalah makna denotatif yang dijalani oleh masyarakat di kota-kota besar. Ia berwujud dalam durasi waktu yang dihabiskan saat bermacet ria di jalan. Gue terinspirasi menulis kisah ini berdasarkan lima tahun lebih ‘nguli’ di Jakarta. Ya, meski tidak sampai semiris Armada yang rela pergi pagi pulang pagi. Bekerja di Jakarta dan kota besar lainnya membutuhkan mental dan fisik yang prima untuk bertarung dengan peluh dan penatnya kemacetan lalu lintas dan pengendara yang beringasnya lebih daripada ibu tiri.

Kemacetan adalah monster yang harus dihadapi sehari-hari. Kemacetan yang sangat parah berhasil memakan waktu hidup produktif seseorang hingga dua jam setiap harinya. Menurut data Castrol yang dirilis tahun 2015, Jakarta merupakan kota dengan tingkat kemacetan terburuk di dunia dengan indikator berupa jumlah injakan rem yang mencapai angka 33.240 kali dalam setahun mengungguli Turki, Meksiko, dan Surabaya. Dua kota besar di Indonesia masuk 5 besar kota termacet se-dunia versi Castrol. Keren!.

Belum lagi ditambah data oleh Numbeo yang menyebutkan bahwa berdasarkan traffic index, Indonesia berada di peringkat ketiga pada tahun 2017 di bawah Mesir dan Iran sebagai negara paling macet se-dunia. Jika melihat beberapa situs serupa, Indonesia acapkali menempati peringkat lima besar dalam urusan kemacetan.

Namun, bermacet ria bukanlah pilihan seperti daging atau lengkuas dalam menu lebaran. Ia adalah kepastian bagi sebagian penduduk kota besar. Lebih spesifik lagi Jakarta dalam ruang lingkup yang lebih kecil.

Jakarta sebagai sentra ekonomi menjadi magnet bagi para pencari kerja. Sebagai konsekuensi, pada umumnya nilai bangunan pasti akan mengalami kenaikan ter-ekstrapolasi. Maka area pinggiran adalah solusi paling tepat. Bak cawan cendawan di musim hujan, industri properti mulai dari Depok, Bogor, Tangerang, Bekasi dsb tumbuh subur. Dan efeknya adalah lokasi rumah berjauhan dengan tempat kerja mengharuskan masyarakat menua bersama kemacetan di jalan.

Belum lagi ditambah dengan jenis-jenis pekerjaan yang mengharuskan seseorang harus lebih mengakrabi kemacetan ibu kota di luar jam pulang-pergi tempat tinggal-kantor. Misalnya saja pekerjaan sebagai kurir atau supir taksi online. Atau bisa juga semisal gue yg harus menempuh jarak 32 km PP kantor-kontrakan. Ditambah resiko pekerjaan yang mengharuskan gue mengunjungi daerah se-JaBoDeTaBek hampir setiap hari sehingga gue bener-bener menua bersama jalanan ibu kota. Frasa ‘tua di jalan’ adalah kondisi mutlak yg tak bisa dielakkan.

Kondisi ini, buat gue pribadi, masih bertambah-tambah dengan keharusan menembus tol dalem kota kemudian lanjut ke Bekasi, Cikarang dan seterusnya hingga berujung di Bandung. Macetnya rute yang harus gue tempuh menghabiskan hampir 1/6 hari gue sekurang-kurangnya setiap Jumat dan Minggu setiap pekannya.

Gue mengamati bahwa jarak tempuh perjalanan dari dan ke Jakarta dan area satelitnya semakin hari semakin panjang. Jadi 24 jam sehari yang Tuhan kasih, kalo dirata-rata, seperempatnya gue habiskan di jalan. Kalo misalkan umur gue panjang dan sampe 60 tahun berarti 15 tahun terbuang menguap bersama bensin, debu dan sumpah serapah di jalan. Oh Tuhan, gue bener-bener menua bersama kemacetan ini. Kalo aja macet ini hidup dan berkelamin wanita, udah gue lamar deh.

Jika ditinjau dari perspektif lain, isu kemacetan beririsan dengan agenda politis. Terdapat banyak kepentingan dalam unsur kerumitan negara bernama kemacetan. Misalnya saja ada permainan industri kendaraan bermotor yang terus menjadikan Indonesia sebagai pasar produktif, atau bagi para megalomaniak, mereka menjadikan macet sebagai isu yang digoreng selama masa kampanye kepala pemerintahan. Dan kita sebagai warga tak berdosa yang lugu harus terjebak dalam kerumitan ini.

Pada akhirnya kemacetan ini harus dijalani. Suka atau tidak suka. Rela atau tidak rela. Tinggal bagaimana kita menyikapi segala bentuk kemacetan ini dengan cara-cara yang lebih produktif. Sehingga kita bisa menua dengan cara-cara yang lebih elegan ketimbang harus menegangkan urat dan mengendurkan kerut mata akibat umpatan selama kemacetan. Sambil sesekali mengenang kembali kata-kata Seno Gumira Aji Dharma

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas  rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pension tidak seberapa”.

Ketimbang harus menua bersama kemacetan, aku lebih memilih menua bersamamu, yang.

 

Kekhusyukan yang Tercecer

Maret 24, 2017 § Tinggalkan komentar

Sumber: Kingofwallpaper

Seperti ditulis oleh Ustad Salim A Fillah bahwasanya ada tiga revolusi dalam penyebaran pengetahuan. Kertas oleh Ts’ai Lun, mesin cetak oleh Gutenberg, dan Google oleh Larry Page-Sergey Brin. Dua nama awal menempati peringkat tujuh dan delapan secara berturutan sebagai manusia paling berpengaruh di dunia oleh Michael H. Hart. Hanya saja buku ini terbit pertama kali tahun 1978, jauh lebih tua ketimbang usia Google, sehingga Page-Brin tidak masuk dalam daftar isi bukunya. Gue yakin sosok Page-Brin yang ‘menemukan’ Google menjadi bagian tak terlepas dalam sejarah manusia paling berpengaruh.

Google, disusul oleh Facebook dkk, menandai era digital dengan kemajuan teknologi yang tak terbendung. Kemajuan tersebut dicirikan dengan arus informasi yang begitu masif dan super kilat. Kini industri teknologi semakin seksi. Selain menjadikan kisah manis Jobs, Bill Gates, Larry Elison hingga Elon Musk sebagai panutan, industri teknologi dirasa paling menjanjikan secara kapital. Daftar rilis Forbes tahun 2017 menunjukkan bahwa  10 orang terkaya di dunia masih didominasi para midas teknologi. Yang mengejutkan adalah sosok Marck Zuckerberg masuk dalam daftar tersebut menempati posisi 5 dengan kekayaan 56 miliar dolar dalam usia yang masih sangat muda.

Dan kini terjadi migrasi besar-besaran dari cara manusia berinteraksi akibat candu teknologi. Uber menggantikan taksi konvensional, belanja daring semakin menjamur, sapa dan senda gurau pun terasa begitu syahdu melalui layanan chat daring. Namun rasanya ada yang kurang dari semua interaksi yang melibatkan dunia maya.

Di balik semua kemegahan serta kemewahan yang ditawarkan oleh dunia maya dengan segala turunannya, menurut hemat gue, dewasa ini penggiat interaksi daring mengalami hilangnya kekhusyuan pada hal-hal yang mereka jalani. Dan kondisi ini cukup mengkhawatirkan.

Betapa seringnya kita mengingat ulang tahun sahabat, saudara, kolega dan orang-orang dekat dalam hidup kita. Tapi nampaknya kita lebih senang mengingat ultah mereka dengan cara latah. Ucapan-ucapan klise berseliweran di grup whatsapp. Cukup satu yang inget, yang lain hanya membebek ucapan serupa dengan sedikit modifikasi. Bahkan dalam banyak kasus ucapan tersebut di-copas persis dengan ucapan aslinya. Kita mengucapkan selamat ulang tahun sekedar menggugurkan kewajiban. Tidak ada kekhusyukan dalam ucapan yang kita sampaikan. Kita, bisa jadi, tidak mendoakan sebenar-benarnya.

Hai Alex, Happy Birthday ya. Semoga panjang umur dan sehat selalu

Selang beberapa saat

Hai Alex, Happy Birthday ya. Semoga panjang umur dan sehat selalu 🙂

Hai Alex, Happy Birthday ya. Semoga panjang umur dan sehat selalu

Hai Alex, Happy Birthday ya. Semoga panjang umur dan sehat selalu 🙂 😀

Hai Alex, Happy Birthday ya. Semoga panjang umur dan sehat selalu =)

Begitu seterusnya…

Atau kita sering kehilangan momen berharga bersama keluarga. Kita sibuk foto sana sini, swafoto gitu gini. Yang kemudian tidak wakof.  Swafoto itu kemudian disunting sedemikian rupa sehinga menghasilkan foto yang paling cantik mandraguna dan siap untuk diunggah ke sosial media. Derita kembali berlanjut saat harus membuat caption foto tersebut. Apakah harus dengan kata-kata mutiara yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan foto yang diunggah atau kata-kata bahasa inggris yang ditranslasi menggunakan google dengan tata bahasa ngalor ngidul. Lalu jika kita sudah dialihkan oleh ribetnya dunia maya, seberapa khusyu kita mampu menghayati momen bersama keluarga?.

Doa di atas meja makan kita ganti dengan foto yang berseliweran, disebarkan pada jejaring sosial. Dunia nampak perlu tahu apa yang kita kenakan. Kita lupa pakaian yang sejatinya berfungsi untuk menutup aurat dan menjaga kehormatan. Kita lupa makanan di hadapan untuk disyukuri bukan dipamerkan.

Gue juga sering bingung saat mendapati rekanan yang mengunggah foto atau kegiatan dalam atmosfer berduka. Misalnya sang anak tengah sakit atau kehilangan sesuatu. Respon seperti apa yang selayaknya gue berikan pada mereka yang tengah dirundung sedih seperti demikian. Apa gue harus me-like unggahan tersebut? Apakah hal demikian etis mengingat ‘like’ berkorelasi positif dengan kebahagiaan, rasa suka bukan pada kesedihan. Lalu jika duka seharusnya menjadi ajang kontemplasi maka apatah maknanya membagikan informasi tersebut ke khalayak ramai jika tujuannya hanya untuk merepot-repotkan diri memutakhirkan status di jejaring sosial yang kita punya.

Gue mengalami kegagapan serupa manakala banyak sebaran tentang donasi. Terkadang bukan tidak punya uang. Atau tidak punya waktu. Hanya saja gue sering melakukan pembenaran dan mengasumsikan bahwa membagikan kembali sebaran tersebut sudah cukup. Atau tindakan paling maksimal adalah menekan tombol ‘like’. Titik. Padahal sebelum teknologi sepesat ini, orang bisa tergerak hatinya dengan mudah untuk berdonasi sambil mendoakan dengan kesungguhan hati. Kini, ikut ‘mendoakan’ pun hanya sekedar caption yang ditambahkan di tautan yang turut serta kita bagikan agar lebih mendayu dan mengalami dramatisasi. Kekhusyuan-kekhusyuan aktifitas kita mulai memudar.

Ya patut diakui bahwa aspek positif keberadaan media sosial tidak kalah banyaknya. Hanya saja tulisan ini ingin menggugah kembali kekhusyukan kita dalam beraktifitas agar ia kembali bernyawa. Dalam sholat, kekhusyukan bukan faktor syarat sah. Orang yang solat, meskipun tidak khusyuk, sudah menggugurkan kewajibannya. Hanya saja sholat yang tidak disertai dengan kekhusyukan kehilangan mesranya berinteraksi dengan Tuhan. Ibadah tersebut kehilangan ruh yang menjadi inti dari ibadah. Dengan analogi sejenis, interaksi kita dengan sesama manusia tanpa diiringi kekhusyukan juga akan berakhir serupa.

Jadi, sudah saatnya kita memungut dan merangkai kembali kekhusyukan yang selama ini tercecer. Kita selayaknya kembali menghayati momen hari lahir kolega. Memaknai dengan iba semua berita duka. Menaruh perhatian pada makanan, pakaian dengan cara-cara beradab. Dengan demikian semoga hidup kita kembali bermakna.

 

Disclaimer : Tulisan ini dibuat sebagai pengingat untuk diri sendiri

6 Bulan Afnan

Maret 21, 2017 § Tinggalkan komentar

Uyeay. Afnan akhirnya memasuki usia 6 bulan. Periode penting dalam tumbuh kembang anak karena pada fasa ini mereka tidak lagi harus mengkonsumsi ASI sebagai asupan tunggal. Afnan akhirnya bisa mencicipi enaknya rendang, sedapnya ayam goreng, serta nikmatnya indomie rasa soto ayam di warung burjo terdekat.

Patut diakui nafsu makan afnan sangat besar. Sehari-hari ia menyusu dengan intensitas yang luar biasa sering. Makanya kini ia nampak begitu gempal dengan lingkar paha yang bahkan lebih besar daripada sang kakak yang satu setengah tahun lebih tua. Jeda antara mimik satu dan mimik lain dikira kurang dari satu jam. Sebuah rentang yang singkat mengingat bayi rata-rata dapat menyusu setidaknya dua jam sebelum disusui kembali.

Mengamati pola kembang dua orang anak, menurut gue, ASI memang jauh lebih baik ketimbang ASIP. Kondisi air susu yang lebih terjaga secara temperatur, tekanan, juga shear rate dan compression (ngomong opo?) juga adanya ‘bonding’ saat menyusi menjadikan anak yang menyusu langsung dengan ibunya menjadi lebih sehat dan memiliki antibodi yang lebih baik ketimbang harus menikmati ASI melalui dot atau bahkan menikmati susu sapi. Setidaknya dalam 6 bulan pertama.

Peranan ASI sangat penting dalam menjaga kesehatan bayi. Sejauh ini Afnan tidak menunjukkan tanda-tanda sakit. Hampir bisa dibilang tidak pernah sama sekali. Sesekali ia pilek namun langsung sembuh di hari yang sama. Beda halnya dengan Alby. Saat usia 6 bulan, Alby mengalami beberapa sakit mulai dari kolik, sakit mata, kulit dan sebagainya. Memang benar ada faktor lain, selain ASI, yang membedakan kondisi Alby dan Afnan sehingga yang satu lebih mudah sakit ketimbang yang lainnya. Misalnya saja kesiapan secara literatur dan psikologis dalam mengurus anak pertama dan anak kedua sangat berbeda. Meskipun demikian, gue tetep yakin bahwa ASI dan ASIP akan memberikan dampak yang berbeda terhadap tumbuh kembang anak.

Afnan kian hari kian lucu. Kepalanya yang botak dengan kontur sempurna, tidak peyang, disertai dengan muka yang bulet dan cubit-able, serta badan yang berisi membuat Afnan persis boneka hidup. Jika Alby kental dengan aspek fenotip orang sunda dengan senyum yang manis juga kulit yang putih bersih, maka Afnan lebih menunjukkan aura maskulin dengan garis muka yang tegas. Tidak terlalu putih tapi menjauhi corak warna ayahnya. Perih memang saat mendeksripsikan warna kulit. Gue bak anomali dalam keluarga. Deviasi warna kulit gue menyimpang jauh dari median.. haha.

Jika Alby, prediksi ayah, tumbuh menjadi seperti Nicholas saputra, maka Afnan kelak lebih mirip Rio Dewanto atau Chris Hemsworth. All hail, Thor!. Yang paling penting jangan menyerupai Young Lex ya, nak.

Hah, Alby dan Afnan tidak tahu Young Lex? Awkarin pun tak tahu? Baguslah kalo begitu.

Afnan, menurut dokter anak, mengalami tumbuh kembang yang normal. Ia sudah mahir tengkurep bahkan sudah nyaris duduk di usia 6 bulan. Permasalahannya adalah, lemak yang menimbun membuat Afnan males menggerakkan otot-otot agar bersinergi untuk membantunya membalikkan badan. Sehingga tengkurep adalah aktifitas yang mungkin paling ia benci. Memang, lemak berlebih adalah permasalahan setiap manusia. Ayah merasakan hal yang sama, nak. *liat perut*.

Sebelum tepat berusia 6 bulan pada 22 Maret, Afnan sudah melakukan trial beberapa buah untuk dicicipi. Ia sudah merasakan buah pir, pisang, apel dan alpuket. Afnan suka semua makanan yang ia cicipi. Bahkan ia menolak untuk berhenti mencicipi makanan-makanan tersebut. Ia mengekspresikan penolakan tersebut dengan menangis sekenceng mungkin agar bundanya takluk dan kembali menyuapi. Dasar licik kau, Fernandez.

Di usia mendekati setengah tahun, Afnan semakin sering bergumam. Ia acap kali menggumam ‘abuaaaa’ atau ‘mmaaaaa’. Sepertinya huruf ‘A’ adalah huruf yang paling diakrabi oleh bayi. Karena Alby maupun Afnan nyaris mendahului kemampuan bicara mereka dengan huruf ‘A. Seringnya sang bunda berinteraksi dengan anak, lebih-lebih saat menyusui, akan menstimulasi kemampuan bicara mereka. Belum lagi jika memasukkan variabel sang kakak, Alby, yang tidak pernah berhenti berceloteh setiap detiknya.

Alhamdulillah saat ini kedua jagoan gue sehat wal afiat. Gue harap mereka berdua terus tembuh menjadi anak yang kuat, sehat, cerdas, sholih dan beradab. Kelima aspek tersebut harus didahulukan ketimbang memasukkan variabel-variabel lain dalam berdoa.

Semoga kalian terus menjadi anak yang menyejukkan mata dan hati ayah serta bunda ya, sayang.

Don’t grow up too fast, son. Adulthood is a trap. Trust me!

p.s: Sejujurnya gue tidak begitu sering menuliskan kisah Afnan di blog ini. Tidak seperti halnya Alby yang nyaris per dua bulan kisahnya termuat dalam blog yang sama. Maafin ayah ya, Afnan.

 

%d blogger menyukai ini: