Ketupat Lebaran

Alby

Satu hari usai tulisan ini diterbitkan oleh WordPress, ramadhan sudah berakhir untuk digantikan oleh idul fitri. Lebaran tahun 2015 Masehi atau 1436 Hijriah terasa spesial mengingat tidak perlu ada ‘perpecahan’ antara pemerintah dan ormas-ormas sehubungan dengan tanggal jatuhnya idul fitri. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya dimana pemerintah yang menentukan 1 Syawal dengan Ru’yatul Hilal harus ‘berhadapan’ dengan ormas seperti Muhammadiyah yang menggunakan metoda Hisab. Belum lagi aliran seperti Naqsabandiyah atau Jamaah Aboge yang menggunakan metoda lainnya.

Lebaran tahun ini juga menjadi lebaran pertama Alby. Walau mungkin di usia enam bulannya, ia belum mengerti tentang gegap gempita hari raya. Alby juga untuk pertama kali akan mudik ke Palembang. Pertama kali naik pesawat. Dan pertama kali juga bertemu dengan sepupu, nenek serta om-tante yang ada di Palembang. Sebuah ekskalasi yang hebat mengingat gue ataupun istri baru mencicipi pesawat terbang untuk pertama kali saat mengingjak usia belasan.

Saat berangkat ke kantor tadi pagi, gue sekilas melihat rombongan penjual dadakan yang menggantung ketupat untuk dijajakan di sepanjang jalan Veteran, Bintaro. Hari Raya memang menjadi suatu fenomena ekonomi yang mendorong  terjadinya bisnis-bisnis insidental. Pola yang sama dilakukan oleh penyedia jasa tukar uang untuk THR yang berada di pinggir-pinggir jalan kota besar. Meskipun pada praktiknya, mereka menjalankan bisnis riba.

Ketupat sudah menjadi bagian dari tradisi lebaran di Indonesia. Sejak kecil, keluarga gue tidak pernah melewatkan ketupat sebagai pelengkap momen idul fitri. Ketupat akan disajikan bersamaan dengan lauk pauk khas daerah masing-masing. Di Pariaman, ketupat biasanya ditemani oleh Tunjang. Sementara di Palembang kami biasanya menyantap ketupat bersama dengan Opor dan Malbi.

Gue mencoba mencari tahu apa yang melatarbelakangi ketupat hingga begitu lekat dengan momen lebaran. Dari referensi yang gue baca, ketupat menjadi simbol perayaan hari raya islam dimulai pada masa pemerintahan Kerajaan Islam Demak, awal abad ke-15. Penjelasan ini disampaikan oleh H.J. de Graff dalam Malay Annal. Ia menambahkan bahwa daun ketupat dari janur mendeskripsikan masyarakat pesisir yang ditumbuhi oleh banyak kelapa. Sementara warna kuning janur melambangkan identitas masyarakat Jawa untuk membedakan dengan warna hijau timur tengah atau warna merah asia timur.

Sunan Kalijaga menjadikan ketupat sebagai perayaan tersendiri dengan istilah Lebaran Ketupat seminggu setelah idul fitri atau setiap tanggal 8 syawal. Lebaran ketupat diangkat dari pemujaan Dewi Sri, Dewi pertanian dan kesuburan yang dipercaya oleh masyarakat pra islam. Asimilasi budaya selalu menjadi bagian dari tradisi keagamaan selalu menjadi instrumen penyebaran agama islam oleh wali songo.

Sementara Menurut Slamet Mulyono dalam Kamus Pepak Basa Jawa, Kata ‘ketupat’ berasal dari ‘kupat’ yang berarti ngaku lepat atau mengakui dosa. Sementara Janur adalah singkatan dari Jatining nur atau hati nurani. Beras yang dimasukkan ke dalam janur adalah simbol nafsu duniawi. Jadi ketupat melambangkan nafsu duniawi yang dibungkus oleh hati nurani. Bagi sebagian masyarakat jawa, bentuk persegi ketupat menggambarkan empat arah mata angin.

Pendapat lain menjelaskan bahwa anyaman bungkus ketupat adalah simbol kesalahan manusia yang rumit. Setelah dibuka akan nampak beras/nasi putih yang berarti kebersihan dan kesucian hati memohon ampun atas segala kesalahan. Gue Pribadi cenderung sepakat dengan pendapat kedua ini.

Apapun definisinya, ketupat lebaran selalu menjadi ciri khas lebaran di sebagian besar masyarakat Indonesia. Ia nya adalah penyemarak momen lebaran. Disantap bersama dengan kuah santan atau lauk-pauk khas daerah. Semoga lebaran kita tidak hanya menyemangati masak ketupat, atau bersibuk dengan segala hal yang baru mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Lebaran kita akan jauh lebih bermakna jika ramadhan kita sukses. Suksesnya dapat diinterpretasikan dari pribadi yang lebih baik nan bersahaja selepas melewati pesantren ramadhan.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H.

Taqobbalallahu minna wa minkum. Shiyamana wa shiyamakum.

Islam dan Syiar Dakwah Nusantara

Oleh : Ustad Salim A Fillah

Islam. Betapa kata ini  sederhana lagi sempurna, utuh dan menyeluruh, indah serta menyejarah.

Adalah Imam Al Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan sebuah kisah dari Thariq ibn Syihab, bahwa telah datang seorang laki-laki dari kalangan Ahli Kitab Yahudi kepada ‘Umar ibn Al Khaththab. Pria itu lalu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, ada sebuah ayat dalam kitab kalian dan kalian membacanya, sekiranya ayat itu turun kepada kami sungguh akan kami jadikan hari di waktu ayat itu turun sebagai hari raya tiap tahunnya”. Sayyidina ‘Umar bertanya kepadanya, “Ayat manakah yang engkau maksudkan?” Lelaki Ahli Kitab itu menjawab,

“..Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan atas kalian nikmat-nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam sebagai agama bagi kalian..” (QS Al Maidah [5]: 3)

Maka, Sayyidina ‘Umar menimpali, “Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui hari dan tempat ketika ayat itu turun kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, yaitu ketika hari Jumat bertepatan dengan hari ‘Arafah.”

Lihatlah betapa cemburu seorang Ahli Kitab, pada sebuah penyebutan dan penegasan yang gamblang dari Rabb semesta alam tentang agama yang diridhaiNya. Islam. Jadi nama risalah ini tersurat secara resmi di dalam ayat yang suci, sementara sejauh ini sulit menemukan agama lain yang mendapati namanya termaktub di kitab-kitab mereka. Umumnya, nama sebuah agama berasal dari penisbatan masyhur yang dilakukan oleh manusia dari sosok kunci atau ajaran.

Demikian pula sebutan untuk pemeluk agama ini, diumumkan dari langit dengan penuh kebanggaan, bahwa Allah sendiri yang memberi julukan sejak dahulu. Maka Islam adalah risalah seluruh Nabi dan Rasul, dan muslim adalah nama untuk para pengikut mereka di sepanjang zaman hingga kelak tiba masa pohon dan batu berbicara tentang musuh kebenaran yang bersembunyi di belakangnya.

“Dan berjihadlah kalian di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kalian, dan Dia tidak menjadikan kesukaran untuk kalian di dalam agama. Ikutilah agama bapak moyang kalian Ibrahim. Allah telah menamakan kalian sebagai para Muslim sejak dahulu, dan begitu pula dalam Al Quran ini, agar Rasul itu menjadi saksi atas kalian dan agar kalian semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka laksanakanlah shalat dan tunaikanlah zakat, dan berpegangteguhlah kepada Allah. Dialah pelindung kalian; sungguh sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.” (QS. Al Hajj [41]: 78)

Ialah tali Allah yang terentang teguh menjadi pegangan ummat manusia sepanjang zaman. Maka untuk mewakili matarantai Islam dan Muslim itu, Allah memilih nama Ibrahim ‘Alaihis Salam kekasihNya. Inilah sosok yang ketika Allah perintahkan padanya, “Aslim.. Islamlah engkau!”, bergegas dia menyambut, “Aku berislam pada Rabb semesta alam.” Maka inilah agama yang mudah, luas, dan tegas. Inilah risalah yang sederhana, indah, dan menyejarah.

Bahwa pengertiannya sederhana; yakni sebersahaja Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab ketika ditanya oleh Malaikat Jibril yang menyamar, apa itu Islam, dalam hadits panjang dari Sayyidina ‘Umar yang dibawakan oleh Imam Muslim. Adalah beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak berrumit-rumit dengan asal kata dan istilah. Tetapi menjawab dengan definisi ‘ilmiah yang ‘amaliah, “Islam itu bahwasanya engkau bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah dan Muhammad adalah RasulNya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah jika memampuinya.”

Berpunca jaminan Allah “Kusempurnakan agama kalian” hingga makna ‘amal yang bersahaja dari Rasulullah inilah, kata “Islam” itu telah cukup, utuh, lagi menyeluruh.

Maka memberi sandaran berupa sebuah kata ataupun frasa di belakang kata Islam rasanya tidak perlu, juga merepotkan. Bahkan kata segagah “kaaffah” dan frasa secantik “rahmatan lil ‘aalamiin” pun ketika digandengkan dengannya menjadi “Islam Kaaffah” serta “Islam Rahmatan lil ‘Aalamiin” telah bermasalah sejak pengambilan asalnya.

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaaffah.” (QS Al Baqarah [2]: 108)

Dalam susunan ayat ini, kata “kaaffatan.. secara keseluruhannya” adalah kata keterangan untuk “udkhuluu.. masuklah kalian.” Jadi yang kaaffah adalah masuknya. Yakni masuklah secara kaaffah ke dalam Islam. Adapun kata “As Silm.. kedamaian” yang oleh Imam Ath Thabari setelah menyampaikan banyak riwayat tentang tafsirnya dari Mujahid, Qatadah, Ibnu Abbas, As-Suddiy, Ibnu Zaid, dan Adh-Dhahhak disimpulkan sebagai “Islam”, di dalam ayat ini berdiri tunggal, tidak diberi sandaran apapun.

Sebagaimana riwayat yang disebutkan oleh Imam Al Baghawi bahwa ayat ini turun tentang sebagian Ahli Kitab yang ketika masuk Islam masih mengagungkan hari Sabtu dan bahkan meminta izin untuk tetap membaca Taurat dalam shalat dengan alasan bahwa ianya adalah Kalamullah; maka tuntutan ayat ini menunjukkan kesempurnaan dan kemenyeluruhan Islam yang menjadikan segala lain tak diperlukan sebab ia telah cukup lagi mencakup.

“Dan tidaklah Kami utus engkau wahai Muhammad melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” (QS Al Anbiya’ [21]: 107)

Pun di ayat ini, kita mendapati bahwa frasa “rahmatan lil ‘aalamiin” adalah keterangan untuk “arsalnaaka.. Kami utus engkau”. Dengan demikian maknanya, rahmat semesta alam itu adalah Rasulullah. Sehingga gabungan kata yang menjadi simpulannya adalah “Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam rahmat bagi semesta alam”, dan bukan “Islam Rahmatan lil ‘Alamin.”

Ini sebagaimana yang disampaikan Imam Ath Thabari dalam Jami’ul Bayan maupun Imam Al Qurthubi dalam Al Jami’ li Ahkamil Quran, bahwa; “Rahmat ini dalam makna umum dan merata bagi semuanya. Karena lafazh al ‘aalamiin menunjukkan makna mutlak dan menyeluruh, maksudnya rahmat untuk alam manusia, yang mukmin dan yang kafir; untuk alam Malaikat; rahmat untuk alam jin, yang mukmin dan yang kafir; dan rahmat untuk alam hewan.”

“Adapun rahmat untuk yang beriman, maka Allah telah memberikan hidayah kepada mereka, dan menanamkan iman ke dalam hati mereka. Kemudian juga memasukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat itu karena mereka telah mengamalkan ajaran yang dibawa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Sedangkan rahmat untuk orang-orang kafir, yaitu bahwa Allah ‘Azza wa Jalla tidak langsung mengadzab mereka di dunia ini seperti Dia telah membinasakan orang-orang kafir sebelum mereka yang telah mendustakan para Nabi dan Rasul dengan penenggelaman dan pembenaman, melainkan menundanya hingga hari akhirat.”

Jadi, jika kata segagah “kaaffah” dan frasa secantik “rahmatan lil ‘aalamiin” pun ketika digandengkan dengan Islam telah bermasalah sejak pengambilan asalnya; kita akan lebih kesulitan lagi memberi argumentasi pada penisbatan Islam terhadap kata lain yang tak diambil dari Al Quran semisal “Liberal”, “Progresif”, atau juga “Timur Tengah” dan “Nusantara.”

***

Islam. Betapa kata ini sederhana lagi sempurna, utuh dan menyeluruh, indah serta menyejarah. Adapun jika kita mentafakkuri tentang Islam di Nusantara, ada hutang besar yang sudah seharusnya kita bayar. Ialah syi’ar dakwah, untuk, oleh, dan dari Nusantara bagi seluruh ummat manusia.

Meski Islam telah hadir di negeri ini sejak abad pertama Hijriah, terlacak dari surat menyurat antara Maharaja Sri Indrawarman dari Kerajaan Sriwijaya dengan Mu’awiyah ibn Abi Sufyan dan ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz, barangkali yang dapat kita catat sebagai masa dakwah paling intensif dan massif di jazirah ini adalah enam abad lalu. Untuk menyebutnya, dalam sejarah peradaban Islam kita dikenalkan dengan istilah Futuhat.

Futuhat inilah pembebasan yang dibawakan oleh Rasulullah dan para sahabat, sebagaimana Allah istilahkan bagi perjanjian Hudaibiyah; “Inna fatahna laka fathan mubiinaa.. Sesungguhnya Kami telah bukakan bagimu kemenangan yang nyata..” (QS Al Fath [48]: 1); kota Makkah “Fa ja’ala min duuni dzalika fathan qariibaa.. Maka Dia jadikan di sebalik itu kemenangan yang dekat..” (QS Al Fath [48]: 27); dan juga seluruh jazirah, “Idzaa jaa-a nashrullaahi wal fath, wa ra-aitannaasa yadkhuluuna fii diinillaahi afwaajaa.. Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia berbondong-bondong memasuki agama Allah.” (QS An Nashr [110]: 1-2)

Melihat ketiga peristiwa tersebut, sungguh indah bahwasanya Allah menunjukkan kepada kita metode-metode bagi Futuhat yang tidak tunggal, apalagi sebagaimana sering dituduhkan yakni melulu melalui peperangan. Tampak bahwa ia bisa berbentuk perundingan damai yang selepas itu membawa begitu banyak kebaikan, atau juga pengerahan kekuatan militer dengan pertumpahan darah yang amat minimal, dan pula perutusan-perutusan yang membawakan kabar gembira, peringatan, seruan, serta cahaya ini ke segala penjuru dunia.

Lalu apa nilai pencerahan yang ditawarkan oleh Futuhat ini? Mari kita kenang sebuah kalimat bersejarah. “Kami adalah kaum yang dibangkitkan Allah; untuk membebaskan manusia:

1) dari penghambaan kepada sesama makhluq, menuju peribadahan pada Khaliq semata.

2) dari sempitnya dunia, menuju luasnya akhirat.

3) dari kezhaliman agama-agama, menuju keadilan Islam.”

Jawaban indah ini menjadi syi’ar Futuhat. Mulai dari Sa’d ibn Abi Waqqash sang panglima besar, Al Mughirah ibn Syu’bah sang komandan lapangan, hingga Ribi’ ibn Amir si prajurit kecil dalam kesempatan berbeda menyatakannya dengan amat kompak kepada Rustum, panglima agung Persia dalam pertempuran Qadisiyah.

Maka “tangan Allah bersama jama’ah”. Jika Musa ‘Alaihis Salaam yang berkata “Inna ma’iya Rabbi sayahdin.. Sesungguhnya Rabbku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk padaku” dibelahkan laut untuknya, hingga kaumnya menyeberang dalam takut diapit gelombang besar yang menggunung; pasukan Sa’d ibn Abi Waqqash bergandeng tangan menyeberangi lebar dan derasnya arus Dajlah dengan karamah yang membuat musuh terperangah. Selama tiga nilai Futuhat ini dipelihara; jadilah ia da’wah yang mencahayai semesta.

Tapi sejarah kita juga berisi pengalaman tentang bagaimana kiranya jika nilai-nilai Futuhat ini tidak dijaga.

Di Andalusia, saat raja-rajanya berrebut memperbudak kulit putih hingga jangat hitam dan rambut pirang hingga mata biru; kekuasaan 7 abad di sana jadi sedikit sekali membawakan ruh dakwah. Seperti digambarkan Ahmad Thompson dalam Islam in Andalus, kolam-kolam khamr direnangi dalam pesta, permainan optik dan air raksa menakutkan duta-duta Franka, bebangunan indah lagi rumit menjulang, ornamen-ornamen ukir dan keramik menakjubkan, pun Ziryab mengenalkan fine dining hingga mode pakaian tiap musim. Tapi bangsa keturunan Visigoth melihat itu semua sebagai lambang penjajahan.

alhambra-granada

Saat kuasanya rapuh dan antar penguasanya rusuh, Ferdinand dari Arragon dan Isabella dari Castillia memulai reconquesta. Satu per satu; Cordoba, Malaga, Huelva, Toledo, Sevilla, Almeria, dan akhirnya Granada jatuh. Maka tergulunglah muslimin nyaris tanpa sisa hingga bukit tempat sang Sultan terakhir menangisi lepasnya daulah terujung diberi nama “El Ultimo Sospiro del Moro”; desah nafas terakhir orang Mor. Dan hingga hari ini, Spanyol dan Portugal di semenanjung Iberia masih mencatatkan diri dalam tingkat Islamophobia yang amat tinggi.

andalusia_rondacanyon

Empat abad lamanya pula, muslim Mughal memerintah tiga perempat anak benua. Tapi seperti ditangisi Aurangzab Alamghir tentang Syah Jahan ayahnya; ketika cinta pada 1 perempuan mengorbankan 30.000 budak Hindu yang dibunuh sebakda diperas tenaganya untuk pembangunan kuburan mewah bernama Taj Mahal serta 3 tahun kas negara bangkrut dan pajak dipungut paksa demi pembangunannya. Hari ini, hanya sepuluh perratus kaum muslimin tersisa di negeri Bharata, India.

Adapun Nusantara ini diasasi berkah da’wah para Wali dan Sultan Demak. Inilah kesultanan yang mampu mengerahkan 300 kapal untuk berjihad melawan Portugis di Malaka; tapi bahkan sisa istananya tak ditemukan. Sebab, demikian menurut sebagian sejarawan, Sultannya amat bersahaja, hingga tempat tinggalnya pun tak jauh beda dengan rakyatnya. Ia menjadi kontras dengan Majapahit yang sudah lemah dan remuk oleh paregreg serta kesewenang-wenangan, tapi tetap bermewah-megah para penguasanya.

100_2727

Para Sultan inipun tunduk pada Majelis Syuraa para ‘Ulama di Masjidnya. Mereka, dengan gelar “Sunan” di depan nama, menjadi pelanjut dari generasi dakwah sebelumnya yang penuh hikmah. Dan sahibul hikayat berkisah, sejak catatan kelana Ibn Batuththah “Ar Rihlah” dihadiahkan Sultan Maroko kepada Muhammad I dari Daulah ‘Utsmaniyah di Turki, dengan penuh semangat sang Sultan-Ghazi mengirimkan da’i-da’i tangguh ke kepulauan ini.

Sebagai gambaran tentang betapa terrencana dan rapinya kerja tim Futuhat ini dalam merancang syi’ar dakwah Nusantara, sebuah Kropak rangkaian lontara yang tersimpan di Ferrara, Italia, ternyata mencatat isi rapat para Wali itu dan merangkum pengajaran-pengajaran yang mereka sepakati dalam mendakwahi masyarakat Jawa saat itu. Jauh sebelum itu, Het Boek van Bonang telah menjadi rujukan para sejarawan untuk melacak strategi dakwah yang dahsyat dari tim yang masyhur dikenal sebagai Wali Sanga ini.

Dahsyat, sebab, betapapun mereka belum sempurna menunaikan tugas dakwahnya, dan siapakah memangnya yang sempurna dalam dakwah selain Rasulullah; tapi hingga hari ini, belum ada lagi satu tim beranggotakan hanya beberapa mu’allim yang dalam waktu kurang dari 50 tahun atas izin Allah mampu menjadikan sebuah kerajaan besar yang tegak dengan Hindu dan Budha sebagai agama resmi, nyaris semua penduduk jazirah intinya bersyahadat. Belum lagi nantinya kita melihat, bagaimana pusat pendidikan mereka di Ampel, Giri, Kadilangu, Kudus, dan Cirebon  mendidik para calon ‘Ulama dan Sultan untuk Banten, Banjar, Mataram, Gowa, Ternate, Tidore, Bima, hingga Palembang.

Menyimak bagaimana misalnya Maulana Malik Ibrahim yang ahli irigasi dan persawahan menjawab persoalan pangan; bagaimana Maulana Maghribi I yang ahli ruqyah mengalahkan para dukun, klenik, tempat angker, dan sihir; bagaimana Maulana Ahmad Jumadil Kubra mendakwahi para penduduk gunung yang dikeramatkan; bagaimana Maulana ‘Aliyuddin dan Taqiyyuddin menekuni pengajaran di pelabuhan-pelabuhan; bagaimana Maulana ‘Ali Rahmatullah mendirikan sekolah kasatriyan di Ampeldenta untuk mengatasi krisis ketatanegaraan Majapahit; bagaimana Sunan Ngudung dan Maulana Ja’far Ash Shadiq menjawab persoalan strategi perang dan keprajuritan; hingga bagaimana Sunan Kalijaga menggubah budaya Islami untuk memassifkan tabligh; kita semakin takjub tentang bagaimana tim ini bekerja.

Maka inilah hutang besar kita, pada bangsa kita sendiri maupun dunia, sebuah syi’ar dakwah Nusantara.

Hutang terhadap diri sendiri sebab hari-hari ini kita berada di masa maraknya syi’ar namun sering tak terpimpin, tanpa arah, dan tak jelas hendak menuju mana dan meraih capaian apa; hingga kitapun susah menyebutnya “dakwah” apatah lagi “Futuhat”. Tak usah sejauh itupun, sejak kemerdekaan Republik Indonesia beberapa sensus telah digelar, dan prosentase jumlah ummat Islam terus menurun.

Litbang Kementerian Agama juga pernah merilis data, bahwa antara tahun 1970-an hingga 1990-an awal, buku-buku yang terbit di kalangan ummat Islam didominasi wacana Islamisasi pengetahuan, ekonomi Islam, hingga Politik Islam. Maka kitapun memanennya di akhir periode itu dengan tumbuhnya Ikatan Cendikiawan Muslim, ekonomi syari’ah, perbankan syari’ah, hingga kesadaran politik Islam.

Sebaliknya, antara tahun 1990-an akhir hingga hari ini, buku yang terbit kebanyakannya kembali mempertajam sisi-sisi khilafiyah furu’iyyah di kalangan ummat, antar ormas Islam, organisasi dakwah, dan antar harakah. Detail sekali peruncingan perbedaan itu hingga kitapun kembali memanennya dalam bentuk sensitifnya lagi soal-soal yang sebenarnya bertahun lalu telah diredam oleh para ‘Ulama dan Zu’ama dengan amat bijak.

Maka kalau hari ini dalam bingkai Islam Nusantara, tawassuth didengungkan dengan eksklusif seakan hanya kelompok kita yang moderat, tawazun didalilkan dengan jumawa seakan hanya kelompok kita yang seimbang, i’tidal dilanggamkan dengan nyaring seakan hanya kelompok kita yang tegak lurus, dan tasamuh didendangkan dengan nada tinggi seakan hanya kelompok kita yang toleran; kita justru sungguh khawatir ada bias terhadap syi’ar dakwah Nusantara yang menyentuh hati, merangkul, melayani, menyatukan, dan memberdayakan.

Belum lagi hutang kita pada Sultan Muhammad I yang mengirim da’i-da’inya ribuan mil, juga hutang kita pada para ‘ulama yang menempuh perjalanan jauh dan berbahaya, dan ukhuwah Islamiyah Mesir hingga Palestina yang diunjukkan penuh bangga mendukung kemerdekaan Indonesia. Seperti kaidah “Pay It Forward”, kita tertuntut pula membayarnya dengan membawa syi’ar dakwah Nusantara ini pada Eropa, Amerika, Australia, hingga Cina. Bahwa hari-hari ini, komunitas muslim Nusantara di berbagai negeri kian menunjukkan peran dakwah mereka bersama saudara-saudaranya dari berbagai bangsa, semoga ianya bagian dari kabar gembira untuk masa depan.

Sebagai penutup, izinkan kami menyampaikan sebuah kisah.

Imam Muhammad Abu 'Anzah (berblangkon) dari Gaza mengimami Tarawih di Jogokariyan.

Suatu saat kami sedang duduk di Masjid Jogokariyan, di hadirat Syaikh Dr. Abu Bakr Al ‘Awawidah, Wakil Ketua Rabithah ‘Ulama Palestina. Kami katakan pada beliau, “Ya Syaikh, berbagai telaah menyatakan bahwa persoalan Palestina ini takkan selesai sampai bangsa ‘Arab bersatu. Bagaimana pendapat Anda?”

Beliau tersenyum. “Tidak begitu ya Ukhayya“, ujarnya lembut. “Sesungguhnya Allah memilih untuk menjayakan agamanya ini sesiapa yang dipilihNya di antara hambaNya; Dia genapkan untuk mereka syarat-syaratnya, lalu Dia muliakan mereka dengan agama dan kejayaan itu.”

“Pada kurun awal”, lanjut beliau, “Allah memilih Bangsa ‘Arab. Dipimpin Rasulullah, Khulafaur Rasyidin, dan beberapa penguasa Daulah ‘Umawiyah, agama ini jaya. Lalu ketika para penguasa Daulah itu beserta para punggawanya menyimpang, Allahpun mencabut amanah penjayaan itu dari mereka.”

“Di masa berikutnya, Allah memilih bangsa Persia. Dari arah Khurasan mereka datang menyokong Daulah ‘Abbasiyah. Maka penyangga utama Daulah ini, dari Perdana Menterinya, keluarga Al Baramikah, hingga panglima, bahkan banyak ‘Ulama dan Cendikiawannya Allah bangkitkan dari kalangan orang Persia.”

“Lalu ketika Bangsa Persia berpaling dan menyimpang, Allah cabut amanah itu dari mereka; Allah berikan pada orang-orang Kurdi; puncaknya Shalahuddin Al Ayyubi dan anak-anaknya.”

“Ketika mereka juga berpaling, Allah alihkan amanah itu pada bekas-bekas budak dari Asia Tengah yang disultankan di Mesir; Quthuz, Baybars, Qalawun di antaranya. Mereka, orang-orang Mamluk.”

“Ketika para Mamalik ini berpaling, Allah pula memindahkan amanah itu pada Bangsa Turki; ‘Utsman Orthughrul dan anak turunnya, serta khususnya Muhammad Al Fatih.”

“Ketika Daulah ‘Aliyah ‘Utsmaniyah ini berpaling juga, Allah cabut amanah itu dan rasa-rasanya, hingga hari ini, Allah belum menunjuk bangsa lain lagi untuk memimpin penjayaan Islam ini.”

Beliau menghela nafas panjang, kemudian tersenyum. Dengan matanya yang buta oleh siksaan penjara Israel, dia arahkan wajahnya pada kami lalu berkata. “Sungguh di antara bangsa-bangsa besar yang menerima Islam, bangsa kalianlah; yang agak pendek, berkulit kecoklatan, lagi berhidung pesek”, katanya sedikit tertawa, “Yang belum pernah ditunjuk Allah untuk memimpin penzhahiran agamanya ini.”

“Dan bukankah Rasulullah bersabda bahwa pembawa kejayaan akhir zaman akan datang dari arah Timur dengan bendera-bendera hitam mereka? Dulu para ‘Ulama mengiranya Khurasan, dan Daulah ‘Abbasiyah sudah menggunakan pemaknaan itu dalam kampanye mereka menggulingkan Daulah ‘Umawiyah. Tapi kini kita tahu; dunia Islam ini membentang dari Maghrib; dari Maroko, sampai Merauke”, ujar beliau terkekeh.

“Maka sungguh aku berharap, yang dimaksud oleh Rasulullah itu adalah kalian, wahai bangsa Muslim Nusantara. Hari ini, tugas kalian adalah menggenapi syarat-syarat agar layak ditunjuk Allah memimpin peradaban Islam.”

“Ah, aku sudah melihat tanda-tandanya. Tapi barangkali kami, para pejuang Palestina masih harus bersabar sejenak berjuang di garis depan. Bersabar menanti kalian layak memimpin. Bersabar menanti kalian datang. Bersabar hingga kita bersama shalat di Masjidil Aqsha yang merdeka insyaallah.”

#26 Dedy Anugerah Rinaldy Adinegara (Bobon)

Dedy

“Setiap mimpi harus diceritakan ke orang lain agar kita termotivasi untuk meraihnya”.

Itu bukan kata-kata Mario Tega. Kalimat sakti penggugah jiwa gunda gulana tersebut diucapkan oleh temen gue Periawan pada suatu kesempatan. Entah abis ikut serta seminar motivasinya siapa atau mungkin habis diprospek oleh MLM, yang jelas kata-kata Peri tersebut terngiang-ngiang di otak gue. Sejak saat itu, gue bercerita ke nyokap tentang mimpi gue ketemu power ranger, solat berjamaah bareng raisa, hingga memimpin timnas Indonesia berlaga di Copa America.

Di antara mimpi yang sering gue ceritain ke temen-temen deket gue adalah ‘GUE MAU NIKAH SAMA ORANG SUNDA’. Temen-temen gue riuh. Mereka beranggapan bahwa niat gue menikahi orang sunda bukan murni karena cinta melainkan karena ingin memperbaiki keturunan. SIAL!. Apapun itu, yang jelas mimpi yang gue ceritain tersebut akhirnya terwujud setelah tahun 2014 gue bener-bener menikahi orang sunda. Dan, nampaknya anak gue memang tidak mirip gue.

Berbeda dengan temen gue Hasbullah (Aas). Sebelum Bolot pura-pura budeg, Aas sudah mendeklarasikan diri untuk menikahi seorang dokter. Aas berkelit bahwa menikahi dokter adalah amanat sang nenek yang ngidam seorang dokter dalam pohon keturunannya. Setelah pontang-panting mencari jodoh, akhirnya mimpi tersebut terwujud.

Dari dua contoh di atas gue percaya kalo mau mendapatkan jodoh, sebisa mungkin deskripsikan akan seperti apa jodoh kalian kelak. Walau memang agama harus menjadi landasan utama, namun rasanya tak mengapa mendeskripsikan secara global preferensi kita. Tapi jangan terlalu detil juga. Mentang-mentang bercerita mimpi, kalian ngarep jodoh yang cantik, sholehah, kaya, anak tunggal, bapaknya sakit-sakitan. Sampe JKT48 nyanyi dangdut koplo juga lo bakalan sulit dapetin jodoh dengan ciri-ciri demikian.

Hal yang sama mungkin pernah dilakuian oleh Dedy Anugerah Rinaldy Adinegara alias Bobon. Sohib gue satu ini rasanya pernah bermimpi agar berjodoh dengan teman sekelas. Sekelas? Banyak bener bro. Kisah cinta dedy cukup rumit. Lebih rumit daripada kabel yang masuk ke saku celana. Dalam jangka waktu beberapa tahun antara SMA dan awal masa kuliah, Bobon menjalin cinta dengan dua temen kelas kami yang berbeda. Sebut saja Mawar dan Melati. Semuanya Indah. Namun semuanya kandas di tengah jalan.

Bobon bukan satu-satunya ‘Dedy’ yang ada di kelas kami. Masih ada satu lagi yang bernama ‘Dedy’ yakni Dedy Efriliansyah. Untuk membedakan, kami biasa memanggil mereka dengan Dedy A dan Dedy E walaupun tidak jarang mereka dinamai dengan ‘Bobon’ dan ‘Macky’. Mereka berdua melewati masa kecil bersama. Menyukai gadis yang sama. Tumbuh di lingkungan yang sama. Tapi Dedy tumbuh ke atas sementara Dedy tumbuh ke samping. Mereka berdua pun sama-sama kelas berat walau Dedy E lebih berat 2 ons sehingga kedua Dedy tergolong makhluk dengan bobot paling berat di XII IPA A versi on the spot.

Sejak masa-masa pertama sekolah, gue sudah menduga bahwa Dedy datang dari keluarga yang cukup mampu. Selain penampilannya yang nampak seger dan terawat, dia setiap hari dianter-jemput dengan mobil pribadi. Gue sama. Bedanya mobil yang anter jemput gue ditumpangin juga oleh puluhan penumpang lainnya. Kebetulan sekolah kami dulu menganut sistem sosialis. Setiap siswa dilarang membawa mobil ke area parkir sekolah. Makanya gue ga pernah parkir bus kota ke dalam lingkungan sekolah. Pfft.

Ada satu momen fenomenal yang mungkin bakalan gue inget sepanjang masa sehubungan dengan aktifitas Dedy di sekolah. Siang itu tengah dilakukan pergantian mata pelajaran. Di saat menunggu guru matematika masuk kelas, kami pun melakukan aktiftitas khas ala siswa SMA lainnya. Ricuh sana-sini. Ada yang gosip, sikap lilin, salto 7 putaran hingga bermain peran 7 manusia kecebong. Sebagian lagi menyanyi dengan suara cempreng. Kebetulan saat itu dedy mendapatkan peran sebagai tukang gebuk meja layaknya Eno Netral.

Jackpot, bersamaan dengan musik yang ditabuh di meja, guru matematika yang tidak dinanti datang sekonyong-konyong. Beliau mendapati kelas gaduh akibat meja yang ditabuh. Gossiper dan vokalis dadakan sontak berhenti. Sayangnya Dedy terlambat. Pak Guru lebih dulu melihat aksi drummer bajakan. Seketika ia mendatangi meja Dedy dan bilang ‘Mana tangannya’. Gue tertegun. Adegan ini persis dengan yang sering gue lihat di TV, pikir gue. Seseorang meminta tangan untuk kemudian diberikan cincin lalu terjadi proses lamaran. But wait. Pak Guru kan cowo, Dedy pun begitu. Ternyata imajinasi gue salah total. Saat Dedy ‘menyerahkan’ tangannya, Pak Guru melayangkan pukulan lucu ke tangan Dedy sambil memperingatkan untuk tidak mengulang kegaduhan yang serupa.

Sebagai temen yang baik, gue iba dengan kejadian tersebut. Tapi sebagai sahabat, gue ketawa terbahak-bahak saat tahu temen gue menderita :P.

Dedy adalah salah satu sohib gue di SMA. Bukan secara tiba-tiba gue berteman baik dengan dia. Kami diakrabkan oleh sebuah roleplay saat pelajaran bahasa jerman. Kebetulan gue, Peri dan Dedy berada dalam satu kelompok untuk bermain peran yang agak-agak absurd. Lebih absurd daripada anak-anak yang niup rumah umang-umang atau pesawat dari kertas.

Kami memilih tema tentang hewan peliharaan dalam sebuah dialog bahasa jerman yang ‘mengagumkan’.

Gue : Dedy, Hast du haustiere zu haus?
Dedy : Ja, Ich Habe aine katze. Und ihnen, Peri?
(Gue yang nanya tapi die nanya ke Peri. Bangke!)
Peri : Ich habe zwai hunde, balto und tsukichan.

*Terus gue ga ditanya* hmm. Sudah kudungan.

Gue hapal banget selera musik Dedy karena setiap maen ke rumahnya atau nebeng mobilnya lagu yang disetel ga jauh-jauh antara Elemen, Lyla dan tentunya Ari Lasso. Ngomongin soal musik, di luar kebiasaan menjadikan meja sebagai instrumen, Dedy sejatinya adalah gitaris grup band kelas kami. Menjadi anak band adalah salah satu cara paling mudah untuk dikenal di seantero sekolah selain bergabung dengan OSIS. Tapi khusus di kelas kami, band tidak terlalu diminati. Karena sebagian besar penghuni kelas adalah anggota rohis sehingga nasyid dan timnya lebih disukai. Walaupun begitu, kelas kami mempunyai sebuah grup band yang diberi nama ‘definith’. Terinspirasi dari sebuah rumus matematika.

Sejak kelas 1 SMA, Dedy adalah temen sebangku Hartawan yang gue ceritain di kisah sebelumnya. Sebenernya penggunaan istilah ‘temen sebangku’ kurang tepat. Masa iya, dedy dan hartawan temen yang duduk di satu bangku. Mual ga sih bayanginnya?.

Lepas SMA, dedy menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Saat ujian masuk, bangku Dedy dan gue cukup berdekatan. Saat diterima, gue bener-bener ga nyangka anak satu ini harus kuliah di STAN karena setau gue dedy adalah anak versi rumahan yang ga bisa jauh dari ortu. Apa-apa mesti disediain. Ganti popok aja mesti dibantuin oleh ibunya. Eh, sori. Itu anak gue bukan Dedy. Dedy akhirnya membuktikan idiom ‘human was design to adapt. Problem existed not as a pit but a ladder’.

Setelah kisah cintanya yang ruwet, Dedy akhirnya menambatkan hati pada temen SD yang dipertemukan kembali di suatu acara buka bersama. Memang benar. Jodoh itu sangat mungkin adalah mereka yang justru sangat dekat posisinya dengan kita. Mungkin kita saja yang belum menyadari. SALAM SUPER.

Gue dateng ke nikahan Dedy karena momen dan waktunya pas. Selamat bro untuk gelar ke-26. Dan yang ke-8 buat cowonya.

p.s : Urutan Dedy satu strip di bawah Hartawan, temen ‘sebangku’ nya.

Siluet Ramadhan

PicsArt_1434959814287

Ramadhan sudah masuk hari kelima saat gue menuliskan postingan ini. Sayup-sayup masih terdengar nasihat dari pengisi ceramah di masjid kantor. Ia berujar bahwa salah satu tanda kiamat adalah perputaran waktu yang terasa semakin cepat. Ia menambahkan bahwa belum sempat kita melucuti diri dari dosa-dosa selepas ramadhan tahun lalu, dalam sekejap ramadhan baru sudah hadir dan kembali mendekap.

Siluet perjalanan ramadhan dari waktu ke waktu terselip di antara lamunan gue saat menyandarkan punggung usai mengerjakan laporan trial produk di customer. Terlintas bayang-bayang kisah menjalankan shaum di masa lampau. Ramadhan yang dihabiskan bersama keluarga. Dulu, gue selalu terdoktrin bahwa hari pertama puasa adalah hari paling berat dalam hidup hingga gue nyaris selalu batal puasa karena tidak tahan lapar. Di saat lain, gue berbuka puasa dengan menggunakan minuman rasa. Tak berselang lama, apa yang gue minum kembali gue keluarkan bersama dengan liur dan sisa-sisa makanan yang belum tercerna. Arggh!

Ramadhan di masa lalu juga berarti melaksanakan tarawih di mesjid plus bermain petasan hingga sumpah serapah mengalir dari mulut tetangga. Buku ramadhan yang dibagikan oleh guru agama juga harus diisi dengan konsep ‘siapa cepat dia dapat’. Yes, siapa yang lebih dulu menggapai imam sholat tarawih maka ia yang berhak menerima tanda-tangan berharga lebih awal di buku ramadahannya. Meskipun, tak jarang pak imam membalik tumpukan buku sehingga yang datang di awal malah mendapatkan urutan tanda tangan terakhir. Buat Pak Imam yang rela memberikan satu per satu tanda tangan ke bocah yang meramaikan masjid, YOU THE REAL MVP.

Kisah nan epik tidak berakhir sampai di situ. Masa-masa mengisi ramadhan dengan cara yang lebih dewasa mulai bersemi di bangku SMA. Berlomba dalam kebaikan atau ‘fastabiqul khairat’ menjadi momen yang selalu ditunggu. Tak jarang, temen gue berusaha dengan teknik kamuflase yang jauh lebih mahir dan rahasia daripada kawarimi demi mencuri tahu sudah sejauh apa mushaf yang dibaca penghuni mushola lainnya. Kami tak mau tertinggal dalam ibadah. Setidak-tidaknya dalam bacaan Al-Quran. Saat itu semangat begitu menggebu.

Dan kini, gue berdiri di antara tumpukan memori-memori ramadhan penuh kenangan. Memori yang hidup bersama dengan bayang-bayang orang terkasih. Terucap jua doa tulus untuk almarhum ayah yang tidak membersamai ramadhan kami dalam dua tahun terakhir. Semoga segala amal ibadahnya tak terputus akibat doa-doa yang kami panjatkan di sela waktu menunggu adzan maghrib saat doa terijabah.

Waktu berputar dengan terasa sangat cepat. Tak terasa satu tahun pernikahan sudah terlewati. Jika ramadhan lalu gue membersamai istri yang dilanda mual dan muntah karena hamil muda, kini kami sudah berkumpul bersama dengan sang bayi yang tengah masuk bulan kelima usianya tepat dengan 1 ramadhan.

Ramadhan selalu istimewa. Semoga segala kebaikan ramadhan selalu terlimpah untuk kita semua. Ramadhan Kareem!.

 p.s : Ditulis di saat gue kehilangan ide dan motivasi untuk bloging.

Rumah Kita

Simbol bangunan sebagai bukti peradaban kuno

Urusan papan masih menjadi satu dari tiga kebutuhan pokok manusia. Dari zaman dahulu kala, tempat tinggal menjadi bagian penting dari sebuah peradaban. Kebudayaan mesir mendunia dengan keberadaan piramida sebagai bangunan untuk menyimpan para raja yang sudah mati dan diawetkan. Jauh sebelumnya, punden berundak dipercayai sebagai tempat tinggal orang purba. Sementara di era lebih modern masyarakat yahudi mendiami ghetto-ghetto sebagai tempat bernaung.

Tidak berubah, saat ini pun setiap individu membutuhkan tempat berlindung dari panasnya matahari dan dinginnya udara malam. Orang-orang merasa tempat tinggal adalah kebutuhan primer terlepas dari status kepemilikannya. Sebagian memilih ngekos atau menempati rumah kontrakan. Sebagian lagi memilih untuk membeli walaupun harus bersusah payah dan tertatih guna melunasi. Alasan-alasan yang membuat developer rumah bisa menjual satu meter persegi tanah di segitiga emas Jakarta hingga puluhan juta rupiah.

Dalam konteks keluarga, rumah menjadi sangat vital untuk dimiliki. Makanya banyak pria dewasa menjadikan isu ini sebagai alasan untuk menunda pernikahan.

Sebagai keluarga kecil, gue adalah bagian dari hegemoni para kepala rumah tangga yang meyakini bahwa memiliki rumah adalah suatu keharusan. Tidak harus besar, yang penting aman dari panas dan hujan. Tidak harus mewah, setidaknya bisa menjadi ruang untuk bercanda dan bergegap gempita bersama keluarga. Karenanya beberapa bulan setelah pernikahan, gue dan istri bersepakat untuk membeli sebuah rumah. Memiliki sebuah rumah adalah impian gue sejak kecil karena gue memiliki pengalaman tidak enak sehubungan dengan kepemilikan tempat tinggal.

homeSejak gue lahir sampe saat ini, almarhum ayah tidak meninggalkan sebuah rumah untuk kami. Gue ga tau secara pasti mengapa. Rasanya tidak hanya terkait dengan faktor ekonomi. Pada kenyataannya, banyak keluarga dengan taraf hidup yang lebih rendah tetap dapat memiliki rumah. Yang jelas, gue pernah sekilas mendengar ayah yang menjelaskan dengan setengah bercanda bahwa ia tak ingin anak-anaknya saling sikut dan berpecah disebabkan oleh masalah harta waris berupa rumah. Fix, selama 26 tahun hidup di Palembang, gue sudah pindah sebanyak 3 kali. Kondisi ini jua yang membuat gue terkadang minder jika harus membawa teman berkunjung ke rumah.

Tempat tinggal di mana gue lahir adalah rumah kontrakan berukuran (sangat) kecil.  Canggihnya, rumah tersebut masih bisa menampung tujuh anak bersama dengan kedua orang tua. Bahkan ayah membawa serta bibi dan nenek ke rumah mungil itu guna melengkapi penghuninya menjadi sebelas orang. Ah, memang sebuah rumah tidak melulu dinilai dari ukurannya. Bukankah tidak jarang rumah yang besar dan mewah namun kosong secara nilai dan makna?. Justru di dalam rumah kontrakan kecil tersebut gue merasakan kehangatan sebuah keluarga.

Meskipun begitu, Gue tetep berkeyakinan bahwa memiliki rumah adalah sebuah keharusan.

Langkah awal yang gue dan istri lakukan sebelum membeli rumah adalah menentukan lokasi tempat tinggal. Tak perlu berdebat. Kami bisa dengan mudahnya menentukan bahwa ia haruslah berlokasi di bandung meskipun harus berjauh-jauhan dengan lokasi kerja gue saat ini. Kami memilih Bandung sebagai tempat tinggal karena Jakarta dan sekitarnya bukan pilihan yang tepat untuk didiami. Sesederhana itu. Masalah LDR adalah kasus tersendiri yang pelan-pelan perlu kami selesaikan.

Setelah menentukan wilayah global, kami memperkecil scope lokasi rumah tersebut. Ternyata memiliki rumah itu tidak mudah. Apalagi yang pas dengan selera dan kantong. Ada yang lokasinya pas, harganya kemahalan. Ada yang harganya pas, lokasinya kejauhan. Hidup ini memang pilihan. Setelah beberapa minggu dan berkeliling ke pameran rumah, mencari iklan di koran, dan mendatangi langsung perumahan-perumahan yang diiklankan, kami akhirnya mendapati sebuah perumahan baru dengan lokasi yang cukup masuk akal dan harga yang sesuai dengan kantong. Setelah mengucapkan bismillah, gue dan istri memantapkan hati untuk memilih perumahan tersebut.

Ada beberapa faktor yang diwasiatkan oleh agama kita melalui rasul dan ulama sebelum memilih dan memilah sebuah rumah sebagai tempat tinggal. Wasiat ini yang diharapkan menentukan keberkahan dari rumah tersebut. Di antaranya adalah lokasi rumah yang dekat dengan masjid, profil tetangga, pemilihan toilet yang tidak menghadap ke kiblat dan beberapa hal lainnya.

mesjid

Kami sangat bersyukur saat mengetahui bahwa perumahan yang kami taksir cukup berdekatan dengan masjid. Sekitar 100 meter. Lokasi rumah sangat mempengaruhi kemudahan penghuni untuk berinteraksi dengan masjid. Semakin jauh jarak rumah-masjid akan semakin menguatkan alasan seseorang meninggalkannya untuk beribadah. Karena perjalanan terberat seorang pria adalah perjalanan ke masjid. Begitu banyak orang yang bisa dengan mudahnya melangkahkan kaki ke eropa, amerika, afrika namun tersendat, berat saat harus menapaki langkah menuju masjid terdekat. Sehingga menurut salah seorang ustad bahwa keberkahan sebuah keluarga dapat dinilai dari bagaimana mereka menentukan lokasi rumah. Apakah mesjid menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan.

Faktor lain sebelum memilih tempat tinggal adalah kita harus mengetahui seperti apa profil tetangga kanan, kiri, depan dan belakang. Memilih tetangga yang baik terkadang dianggap sebagai hal yang sepele namun pada kenyataannya sangat berpengaruh pada kehidupan sosial keluarga. Tetangga yang gemar gosip, gunjing dan mempertontonkan kemewahan bukan tidak mungkin akan dapat mempengaruhi psikologis keluarga kita terutama istri. Teringat sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibu Hibban bahwa Rasul pernah bersabda

Salah satu dari empat kebahagiaan adalah tetangga yang shalih dan satu dari empat kesengsaraan adalah tetangga yang buruk.

Sejauh ini, perumahan yang kami tempati masih dihuni sebagian kecil saja sehingga kami belum bisa menyimpulkan seperti apa kehidupan bertetangga nantinya. Tapi setidaknya keluarga kami harus memberikan contoh keluarga dan tetangga yang baik ketika kelak perumahan tersebut diisi oleh lebih banyak penghuni.

Di antara panduan tentang hal-hal yang perlu diperhatikan namun sering dilupakan dari sebuah rumah adalah posisi toilet. Toilet tidak boleh menghadap atau berlawanan arah dengan kiblat. Sementara posisi ranjang saat tidur justru sebaiknya menghadap ke kiblat.

Setelah berhasil menentukan lokasi dengan mempertimbangkan hal-hal di atas, isu lain yang sangat penting sebelum membeli rumah adalah HARGA. Jangan sampai kita mengalami ‘LOKASI-ZONE’. Lokasi sudah oke tapi ternyata harga sangat tidak masuk akal. Setelah survey dan berdiskusi, gue berkesimpulan bahwa harga rumah saat ini sudah sangat tidak masuk akal. Khusunya di bandung maupun area penyanggah ibukota seperti Tangerang, Bekasi ataupun Depok. Di Bandung, gue mendapati hunian yang berada cukup jauh dari pusat kota ditaksir minimal tiga ratus juta. Artinya, jika harus mencicil maka dibutuhkan DP setidak-tidaknya 60 juta karena besarannya minimal 20% dari harga rumah. Ditambah lagi cicilan per bulan sekurang-kurangnya 30% dari penghasilan total suami-istri. Seketika gue mengkhayal pemilik Agung Podomoro menjadikan gue anak angkat.

Dengan harga yang ratusan juta rupiah, kelas menengah macam gue hanya sanggup untuk membeli rumah dengan sistem cicilan alias kredit perumahan rakyat. Untuk itu, gue dan istri sepakat menggunakan bank syariah. Terlebih setelah kami secara tidak sengaja mengikuti kajian tentang perbedaan antara bank syariah dan bank konvensional.

Gue yakin pasti akan terjadi friksi setiap kali kita membahas fiqih kontemporer tentang bank syariah. Sebagian orang beranggapan bahwa bank syariah adalah bank konvensional yang menghias diri dengan embel-embel ‘syariah’ sehingga mereka memutuskan untuk mengharamkan semua jenis bank dan turunannya. Sebagian lagi memilih untuk bertoleransi dengan bank konvensional karena kondisi yang darurat dan menganggap Indonesia tidak mengakomodasi undang-undang syariat. Sementara gue, dengan segala pendapat yang ada, memilih untuk menggunakan bank syariah sebagai jalan keluar untuk membantu proses pembayaran hunian yang akan dibeli. Urusan fiqih bukan domain gue. Biarlah Majelis Ulama Indonesia dan pihak-pihak yang kompeten yang memutuskan halal-haramnya bank syariah di saat bank konvensional sudah secara sah mengakomodasi praktik riba.

Kenyataannya bank syariah memang nampak lebih mahal dibandingkan dengan bank konvensional. Sedari awal, nominal pembayaran sudah ditentukan sejak akad hingga jangka waktu pelunasan KPR. Sistem ini membebaskan nasabah dari ketidakpastian akibat suku bunga yang terus-menerus berubah setiap tahunnya.

Akhirnya kami memilih menggunakan salah satu bank syariah swasta yang cukup kredibel berdasarkan rekomendasi salah seorang guru ngaji. Pihak bank membeli rumah dari developer dan kami sebagai nasabah diharuskan melunasi pembelian rumah selama 15 tahun dengan sistem pembayaran yang fixed setiap bulannya.

Akhirnya setelah akad, kami sah memiliki sebuah rumah di ujung timur kota bandung. Rumah yang sederhana untuk keluarga kecil kami dengan ukuran 36/84 m2. Gue merasa beruntung bisa membeli rumah dengan perbandingan ukuran tanah dan harga yang masih masuk akal. Karena temen gue yang tinggal di BIntaro sudah berkeliling kesana kemari namun akhirnya mentok dengan rumah tipe 36/60 seharga 400 juta lebih. Gila!. Tidak mudah mencari rumah murah di kota-kota besar. Kami lantas berpikir bahwa harga rumah tidak memberikan kesempatan untuk dipunyai oleh kelas menengah ke bawah. Ah, seharusnya pemerintah yang memikirkan solusi perumahan untuk rakyat.

Rumah kami langsung menghadap ke Gunung Manglayang. Kelak, ketika Alby sudah mampu berjalan dengan kakinya sendiri, gue akan mengajaknya turut serta mendaki gunung tersebut. Semoga rumah ini menjadi rumah yang berkah dengan senantiasa menebarkan manfaat bagi sekitar. Tantangan berikutnya adalah mengisi rumah tersebut dengan ini itu khas keluarga muda. Give me a break, please!.

Sumber Gambar (Klik link)
Gambar 1
Gambar 2
Gambar 3

Selamat Empat Bulanan, Alby

Alby

Halo Alby sayang

Assalamu’alaikum..

Lagi-lagi ayah mengingkari janji. Tulisan tentangmu yang seharusnya termuat tanggal delapanbelas tiap bulannya harus terpaksa mundur karena kesibukan ayah di kantor. Sepertinya ayah harus meminta kelonggaran agar tulisan tentang Alby tidak mesti termuat pada tanggal yang sama. Ayah khawatir tidak bisa menjaga konsistensi.

Nak, kini usiamu tengah memasuki bulan keempat. Tidak berasa memang. Rasanya baru kemarin bundamu merasakan kontraksi di perutnya. Tanpa terasa kau tumbuh dengan cepat meskipun saat ini tengkurep adalah masalah utamamu. Kau mirip ayah. Karena ayah juga mengalami kondisi yang sama saat seusia engkau. Tengkurep itu tidak mudah, jenderal.

Beberapa hari yang lalu ayah menyaksikan video-video yang ayah dan bunda rekam tiap minggunya. Menyimak perubahan-perubahan yang kau alami dari waktu ke waktu memaksa otot-otot di sekitar mulut ayah menyungging senyum dengan sendirinya. Semakin dewasa kau nampak semakin tampan.

Engkau semakin lancar berbicara. Di antaranya yang jelas terdengar adalah saat kau bergumam ‘eneng’ atau semacamnya setiap saat melihat sang bunda. Di lain waktu kau berkata ‘nde’ guna memanggil tantemu yang lazim kami panggil ‘dede’. Dan yang paling membuat ayah kaget adalah saat engkau berkata ‘mbing’ manakala ayah dan bunda berseru tentang kambing saat tengah menonton salah satu acara di televisi. Kami tak tahu apakah engkau benar-benar berkata seolah mengerti bahasa orang dewasa. Atau mungkin kau hanya berucap apa-apa yang mudah. Tapi apapun itu, kata-katamu menciptakan keriuhan sendiri di dalam rumah. Kami menanti-nanti gumaman seperti apa lagi yang akan diucapkan dari bibir mungilmu.

Sekitar dua minggu yang lalu engkau sakit pilek dan batuk, sayang. Kami khawatir dengan kondisimu yang terlihat sangat tidak nyaman. Engkau bahkan tidak bisa minum seraya tidur. bunda lah yang dengan sigap menyusui sambil menggendong engkau di kala jangkrik tengah bersenandung pilu. Bundamu memang hebat, bukan?

Kami tidak tega tiap kali mendengar suara dengkuranmu saat terlelap tidur. Seolah ada sesuatu yang mengganjal di hidung atau paru-paru. Ayah pun mencoba mencari tahu lebih banyak tentang itu. Setelah berdiskusi dengan mereka yang juga memiliki bayi ternyata kondisi tersebut adalah hal yang normal dialami bayi 3-4 bulan. Saat engkau baru lahir, masih terdapat kotoran dari rahim yang masih menyumbat di dalam saluran pernapasan. Kau harus lebih rajin minum ASI dan dijemur di sinar matahari agar segera sembuh. Seperti itulah teman kantor ayah memberikan informasi.

Tak berapa lama kemudian bundamu mengatakan bahwa fesesmu berwarna hijau dan sesekali kemerahan. Kami pun panik dan segera berkonsultasi pada dokter anak. Pak dokter berkata bahwa engkau mengalami alergi dari makanan yang dikonsumsi bunda. Kemungkinan besar alergi susu sapi. Bukan sekali ini saja kau alergi dengan makanan, nak. Sebelumnya kulit mukamu mendadak merah karena alergi terhadap kacang.

Nak, kelak kau akan tahu nak bahwa memiliki bayi adalah saat-saat dimana engkau menjadi begitu sedih tatkala sang buah hati sakit ataupun terluka meskipun kecil.

Bulan ini engkau juga akan segera divaksin. Saat engkau besar, mungkin perdebatan seputar boleh tidaknya vaksin akan terus bergulir. Masing-masing bertahan dengan pendapatnya. Ayah dan bunda ingin bersikap moderat terhadap isu ini. Beberapa ulama kontemporer memperbolehkan vaksin karenanya kami mengikuti fatwa mereka. Kelak jika kau memiliki pendapat lain silahkan saja, nak. Di era saat ini, orang-orang bisa dengan mudahnya menjatuhkan hanya karena perbedaan pendapat di antara mereka. Yang terpenting adalah bagaimana kita memiliki rujukan terhadap hal-hal yang khilafiyah dan tetap saling menghargai pendapat. Itulah kuncinya.

Selamat empat bulan sayang. Semoga engkau tumbuh menjadi anak yang shalih dan menjadi seorang penghapal Quran.

The ‘A’ Team

IMG-20150501-WA002718 April 2015 adalah hari yang spesial buat keluarga gue karena pada tanggal tersebut ada dua momen yang kami rayakan yaitu satu tahun pernikahan dan juga 3 bulan-an Alby. Satu tahun bisa dikatakan sebagai usia yang masih sangat belia untuk ukuran sebuah rumah tangga. Bahkan, orang-orang terdahulu berani menjamin bahwa setahun pertama menikah adalah fasa-fasa termudah yang dilewati oleh suami-istri. Ke depannya tantangan akan jauh lebih berat guna mengarahkan bahtera agar tidak karam terhantam karang.

Belum banyak hal yang bisa digambarkan atas periode 12 bulan setelah ijab qabul. Terlalu dini jika kita mencoba mengekstrapolasi keharmonisan rumah tangga hanya dengan mengambil kepingan-kepingan dari satu tahun pertama puzzle yang bernama pernikahan. Menikah bukan data-data eksakta yang bisa ditentukan dengan memasukkan variabel A dan B. Permasalahan tersulit manusia dari zaman dahulu kala, selain nasib jomblo ngenes (jones), adalah permasalahan yang ada dalam pernikahan sebab terdapat dua kepala yang isi dan pernak pernik kehidupan serta latar belakangnya bisa jadi benar-benar berbeda. Tiap-tiap diri punya ego. Maka ketika Qabil membunuh Habil, itu pun didasari atas sentimental untuk berpasang-pasangan. Qabil tidak rela menikahi Labudah.

Setidaknya setahun pernikahan bisa menjadi sedikit gambaran seperti apa wajah keutuhan sebuah pasangan. Buat gue pribadi, satu tahun terakhir adalah satu tahun terbaik yang pernah gue alami. Menikah dan mempunyai seorang bayi yang lucu benar-benar melengkapi episode kehidupan gue.

Sejauh ini, gue dan istri Alhamdulillah masih menjalani segala sesuatunya dengan baik dan lancar. Belum ada riak maupun onak yang benar-benar tajam yang mencederai keharmonisan keluarga kami. Kunci terbaik dalam mengatasi permasalahan rumah tangga adalah menahan egoisme dan menjalin komunikasi aktif serta selalu berprasangka baik terhadap pasangan. Selain kemampuan untuk meredam ego dan memformulasikan visi bersama, hal terpenting yang melandasi sebuah mahligai Indah rumah tangga adalah menikahi wanita shalihah. Karena syarat tersebut adalah langkah pertama yang sangat mungkin menentukan langkah-langkah berikutnya. Istri shalihah adalah jaminan keamanan, rasa nyaman dan cinta dalam keluarga. Benarlah jika Rasul menekankan agama sebagai dasar seseorang sebelum memilih dan memilah pasangan hidup.

Setelah satu tahun pernikahan, keluarga kami semakin kental dengan nuansa huruf pertama abjad latin. Dengan inisial huruf ‘A’ keluarga ini akan menjadi The ‘A’ team. Kelak anak kedua, tiga dan seterusnya akan mewarisi huruf ‘A’ di depan namanya.

A pertama adalah Annisa Martina. Setelah satu tahun, gue makin mengenal karakter doi. Gue dan istri punya banyak kesamaan. Kami sama-sama memiliki golongan darah O, kami seneng ngomong, kami berdua doyan makan dan yang paling penting adalah kami sama-sama bernapas. Meskipun begitu kami juga memiliki banyak perbedaan. Selain beda kelamin, istri gue cenderung tidak terlalu aktif di sosial media jika dibandingkan dengan gue yang setiap menit mengakses situs-situs facebook, instagram dkk. Keadaan tersebut sebenarnya menjadi anugerah tersendiri. Istri gue bukanlah orang yang suka curhat ini-itu di facebook. Atau pasang foto mesra-mesraan. Ia juga tidak sudi membuat status dan semua hal yang terjadi di dinding laman web besutan Zuckerberg. 008968 01 4R

Gue seneng nonton, suka update hal-hal yang kekinian, seneng baca buku-buku tentang pemikiran, ide dan pengetahuan. Sementara istri gue lebih seneng baca harga pa*mpers yang didiskon di Ele*nia. Hal itu sangat membantu masalah keuangan keluarga. Rasanya memang tidak perlu memaksakan kepada pasangan apa yang kita suka karena mereka memiliki hobi dan kecintaannya sendiri. Tidak perlu menjadi orang lain untuk menunjukkan rasa cinta.

Gue akui bahwa istri gue punya banyak kekuarangan tapi rasanya kelebihannya jauh lebih banyak. Salah satu kelebihan tersebut adalah dia mau menikah sama gue yang agak weird. Kalo kita berfokus pada kekurangan rasanya kita tidak akan pernah menemukan kebahagiaan dalam berumah tangga. Pasangan yang baik adalah mereka yang mendukung satu sama lain untuk berkembang dengan apa yang mereka suka dan menjadi diri mereka. Rasul pun adu lari dengan Aisyah, menggendong Aisyah di tengah keramaian. Arggh, kenapa gue jadi berasa Mario Teguh gini. Gue keinget dengan caption di instagram ‘we come to love not by finding a perfect person, but by learning to see an imperfect person perfectly’. Widih, gue mesra banget ya yang. Tolong masakin semur ayam ya sehabis baca tulisan ini :D.

A yang kedua adalah Alby Shofwan Moissani. Tepat di hari yang sama, Alby merayakan usia ketiga bulannya. Ia kini mampu berceloteh banyak hal. Mengajak kami berdiskusi seolah kami mengerti. Kami berharap Alby dapat menjadi anak yang sholeh, berbakti dan menjadi panutan bagi adik-adiknya kelak. 008968 02 4R

Memiliki bayi adalah pengalaman yang luar biasa. Saat melihat senyumnya, tawanya, tangisnya adalah momen-momen terbaik yang bisa menghidupkan hari. Setiap saat gue menanti hal-hal baru apa yang ia lakukan. Detik-detik pertama kali mendengar Alby berceloteh membuat gue meleleh. Belom lagi saat melihat ia belajar tengkurep, duduk di pangkuan emaknya, kehebohan saat mandi. Gue merasa bingung dengan negara-negara dengan angka kelahiran yang rendah. Mereka seolah terbebani dengan kehadiran seorang bayi. Mungkin dalam benak mereka memiliki bayi berarti merelakan diri untuk mengurus makhluk hidup yang lemah yang hanya bisa menangis dan merengek. Itu benar. Namun membersamai tumbuh kembang sang anak jauh melewati kelelahan fisik saat mengurus mereka. Gue yakin para ibu sedunia sepakat dengan hal ini.

Memiliki bayi juga berarti mencurahkan semua perhatian dan fokus pada mereka. Saat mereka sakit maka kita juga akan merasa sakit. Sekarang gue mengerti mengapa Lara dan Zor-el menyelamatkan Kal-el dari kehancuran planetnya. Gue juga mengerti pedihnya perasaan orang tua Son goku saat merelakan anaknya pergi ke bumi sebelum Planet Saiya meledak. Anakku Alby, maaf jika ayah terlalu banyak menonton kartun :D.

A terakhir tentulah gue sendiri, Andri Wijaya alias Andrew alias Jay atau Jayho. Gue sengaja menulis kisah gue di akhir cerita karena gue sangat mengidolakan Inspektur Vijay yang selalu hadir di saat penjahat sudah kalah. Sudah, tentang gue tidak usah banyak dibahas. Gue lebih enak diajak cerita daripada dibaca kisahnya. Tsah!.

Setelah satu tahun pernikahan, banyak rintangan yang akan terjadi ke depannya. Banyak ujian yang siap menanti. Namun semoga setiap permasalahan dapat diselesaikan. Karena menikah itu sebenarnya adalah seni untuk mencari solusi dalam setiap ruangan yang berisi permasalahan dan tantangan.