Cockroach Theory

At a restaurant, a cockroach suddenly flew from somewhere and sat on a lady. She started screaming out of fear. With a panic stricken face and trembling voice, she started jumping, with both her hands desperately trying to get rid of the cockroach.

Her reaction was contagious, as everyone in her group also got panicky. The lady finally managed to push the cockroach away but …it landed on another lady in the group. Now, it was the turn of the other lady in the group to continue the drama.

The waiter rushed forward to their rescue. In the relay of throwing, the cockroach next fell upon the waiter.

The waiter stood firm, composed himself and observed the behavior of the cockroach on his shirt.
When he was confident enough, he grabbed it with his fingers and threw it out of the restaurant.

Sipping my coffee and watching the amusement, the antenna of my mind picked up a few thoughts and started wondering, was the cockroach responsible for their histrionic behavior?

If so, then why was the waiter not disturbed? He handled it near to perfection, without any chaos.

It is not the cockroach, but the inability of the ladies to handle the disturbance caused by the cockroach that disturbed the ladies.

I realized that, it is not the shouting of my father or my boss or my wife that disturbs me, but it’s my inability to handle the disturbances caused by their shouting that disturbs me. It’s not the traffic jams on the road that disturbs me, but my inability to handle the disturbance caused by the traffic jam that disturbs me.

More than the problem, it’s my reaction to the problem that creates chaos in my life.

Lessons learnt from the story: “Do not react in life. Always respond.

The women reacted, whereas the waiter responded.

Reactions are always instinctive whereas responses are always well thought of, just and right to save a situation from going out of hands, to avoid cracks in relationship, to avoid taking decisions in anger, anxiety, stress or hurry.

–  Sundar Pichai, CEO of Google

Ini Itu Teori Parenting

marshmallow

Pada tahun 1970 seorang psikolog bernama Walter Mischel melakukan serangkaian pengujian yang dikenal dengan Marshmallow test. Tes ini dilakukan dengan membiarkan sejumlah anak di dalam ruangan dan meminta mereka untuk menahan diri dari godaan kue atau terkadang marshmallow yang terdapat di ruangan tersebut. Bagi setiap anak yang dapat menahan diri untuk tidak makan kue dalam kurun waktu tertentu, mereka akan mendapatkan award berupa kue/marshmallow dua kali lebih banyak.

Pada akhir tes ditunjukkan bahwa hanya sebagian kecil anak saja yang menolak makan kue sementara yang lainnya tidak tahan godaan. Anak-anak yang berhasil menahan diri, berusaha mengalihkan rayuan marshmallow dengan melakukan aktifitas lain sebagai pengalihan perhatian.

Anak-anak tersebut dikumpulkan kembali beberapa tahun setelahnya. Hasil studi menunjukkan bahwa mereka yang mampu menahan diri untuk tidak segera memakan kue dapat menyelesaikan studinya dengan baik, memiliki pendapatan yang lebih besar dan berbagai hal positif lain dibandingkan anak-anak yang tergesa-gesa makan kue. Kemampuan menahan diri tersebut dikenal dengan delayed gratification. Studi ini juga mengajarkan bahwa kita bisa mengindahkan godaan terhadap suatu objek dengan mengalihkan fokus ke hal lain.

Lebih jauh, penelitian ini dihubung-hubungkan dengan kebiasaan yang membedakan antara orang perancis dan amerika. Ibu-ibu yang hidup di perancis cenderung tidak segera mengangkat bayi mereka saat merengek. Bayi tersebut dibiarkan untuk menangis sejenak sebelum ditimang. Pola seperti ini bertujuan untuk melatih self-control sehingga anak-anak di Perancis tumbuh menjadi anak yang lebih tenang dan tidak tergesa-gesa. Anak-anak tersebut akan lebih tahan menunggu orang tuanya selesai menelepon ketimbang menangis meminta perhatian. Kebiasaan yang tidak terjadi di Amerika.

Cuplikan di atas gue sadur dari status facebook seseorang yang kemudian gue bagikan kembali. Belakangan gue memang bersemangat untuk mengumpulkan informasi yang berkenaan dengan pendidikan anak dan pola asuh.

*****

Sejujurnya, menjadi orang tua di masa kini rasanya memiliki tantangan tersendiri yang berbeda dengan era sebelum-sebelumnya. Gue tidak akan berkata bahwa beban orang tua sekarang lebih berat daripada para pendahulu. Kenapa? Karena budaya, atmosfer, lingkungan yang dihadapi sangat spesifik. Jika tantangan kita sekarang adalah perang pemikiran di mana anak-anak kita harus dibentengi dengan segala serangan liberalisme atau homoseksual yang merajalela maka orang-orang terdahulu harus membesarkan anaknya di saat bumi ini belum aman untuk ditinggali. Perang, kelaparan, konflik menjadi pemandangan sehari-hari yang tidak akan kita temui saat ini.

Menjadi orangtua baru berarti melengkapi diri dengan segala bekal untuk bergaul dengan sesosok manusia lemah tak berdaya yang membutuhkan orang lain untuk bertahan hidup. Bekal tersebut tidak hanya berupa A-Z ilmu parenting yang belakangan semakin laris dijajakan. Modal kuat lainnya bagi ayah terutama ibu dalam mengasuh bayi adalah mental.

Jangan remehkan ketahanan mental kedua orang tua khususnya ibu. Ilmu parenting boleh terus berkembang namun mental adalah warisan genetis yang tercetak di DNA. Transformasi peran seorang istri menjadi seorang ibu berarti merubah ritme hidup menjadi lebih dinamis. Perhatikan saja bagaimana ibu-ibu baru dengan sigapnya mengganti popok tiap malem, menyusui di saat mata terkantuk lelah, ikhlas porsi kalsiumnya dipindahalihkan ke bayi demi tumbuh kembang mereka tanpa perduli bahwa tulang-tulang itu lebih cepat mengalami osteoporosis. Makanya, tidak jarang ibu-ibu yang tidak siap secara mental mengalami baby blues bahkan postpartum syndrome karena kelelahan yang memuncak. Sementara bagi ayah, beban mental yang dihadapi tidak akan pernah seberat itu.

Berkaitan dengan bekal pengetahuan, semua orang tua di dunia tidak harus membaca segala rupa dan judul buku parenting atau mengulik teori psikologi tabula rasa ala John Locke. Mungkin kita masih inget bagaimana orang-orang terdahulu mendidik anak-anaknya. Apa mereka mengaplikasikan segala teori ini itu. Teori positif dan lain lain? Gue rasa ga. Namun entah mengapa saat ini semakin banyak berkembang teori psikologi yang justru membuat kita, gue khususnya, sebagai orang tua bingung teori mana yang bener-bener sesuai dengan kebutuhan anak.

Baru-baru ini salah seorang temen membagikan tulisan tentang kontradiksi penggunaan kata ‘jangan’ dalam psikologi parenting. Penggunaan kata ‘jangan’ yang banyak digaungkan positive parenting seolah sudah melanggar dan mendelegitimasi ajaran-ajaran parenting kenabian. Belum lagi berbagai artikel-artikel di media sosial yang saling membenturkan antara kedua teori tersebut. Kondisi seperti ini bukan tidak mungkin membuat para orang tua baru menjadi ragu untuk mengambil pendekatan dalam mendidik anak. Untungnya di waktu lain salah seorang ustad yang mendalami persoalan ini membagikan pemahamannya yang cukup moderat. Ia berargumen bahwa tidak perlu terjadi friksi antara kelompok-kelompok yang pro ataupun yang kontra dengan penggunaan kata ‘jangan’. Baginya, kata ‘jangan’ sah-sah saja digunakan sebagai bagian dari upaya kita untuk mendidik dan melarang anak agar tidak melanggar nilai-nilai ketauhidan. Sementara di luar itu, dalam konteks yang lebih horizontal, para orang tua bisa menggunakan kata-kata positif ketimbang menggunakan kata larangan pada anak-anak mereka.

Kontradiksi di atas mungkin hanya satu dari sekian banyak ‘pertarungan’ dalam domain pola asuh anak. Belum lagi ribut-ribut antara ibu rumah tangga atau ibu pekerja, seberapa efektif pendidikan semiformal bagi balita dan banyak hal lainnya. Sejatinya semakin banyak teori parenting berarti semakin banyak pilihan yang bisa diterapkan oleh orang tua. Namun dalam teori psikologi, banyaknya pilihan justru dapat membuat bingung para pemilih.

Semakin maju peradaban semakin membuat orang berlomba untuk menjadi yang terdepan dan merasa kekinian dalam banyak hal. Termasuk perihal asuh-mengasuh. Padahal jika kita mau berkaca pada orang-orang era ‘pra-gadget’, kita bisa mendapati bahwa mereka tidak melengkapi diri dengan teori parenting yang jelimet. Mereka mengandalkan insting dalam merawat bayi. Insting tersebut yang menjadi default bagi para orangtua sejak zaman nabi adam hingga masa kini. Tanpa teori ini itu.

Buat gue pribadi segala macem teori tersebut tidak serta merta langsung diaplikasikan. Karena anak kita bukan kelinci percobaan yang bisa diuji untuk kebutuhan dan memvalidasi sebuah hasil penelitian. Sejelas-jelasnya teori parenting adalah yang termuat dalam beberapa buku tentang parenting nabawiyah walau tidak menutup kemungkinan dilengkapi dengan teori pola asuh kontemporer selama ia nya tidak menghapus nilai-nilai agama.

Jangan sampai kita menjadi seperti J.J Rosseau. Seorang pendidik, filsuf dan penulis novel hebat berjudul Emile yang disebut-sebut sebagai buku tentang pendidikan terbaik kedua setelah Republic­-nya Plato. Pak Rossesau nampak mapan dalam berteori tentang pendidikan namun pada realitanya ia menelantarkan anak-anaknya yang berjumlah empat dan meninggalkan mereka di panti asuhan.

Segala teori pendidikan dan pola asuh anak hanya isapan jempol jika para orang tua tidak mendandani pribadi mereka terlebih dahulu. Children see children do.

*Sumber Gambar dari link berikut

#27 Silvia ‘Kecik’ Prihety

Silvi&Ican
Silvi&Ican

Gue bener-bener paham bahwa ada beberapa cara untuk lebih dikenal oleh siswa satu sekolah atau setidak-tidaknya dikenal oleh guru-guru yang mengajar di kelas. Menjadi pinter dan berprestasi adalah cara paling umum untuk menjadi terkenal.

Sebutlah namanya Dalilah. Minus Samson. Sejak gue masih culun-culunnya di sekolah dasar sampe lulus dari SMP, nama doi selalu bergaung seantero kompleks sekolah. Guru dan pelajar mana yang tidak kenal Dalilah karena setiap pengumuman kenaikan kelas, dia selalu menjadi juara dengan nilai tertinggi. Sesekali gue ngarep doraemon itu nyata biar gue bisa minjem alat yang bisa nuker otak.

Butuh usaha untuk memenuhi variabel siswa cerdas sebagai syarat untuk menjadi terkenal. Bagi yang lain, mereka dengan mudahnya dikenal oleh guru-guru bukan karena kemampuan mengotak-atik aljabar atau menghafal sistem periodik. Kepopuleran mereka disebabkan oleh ‘keunikan’ personal. Bisa jadi karena ukuran tubuh, nama yang tidak lazim ataupun karena penampilan yang berbeda.

Gue Contohnya. Selama 12 tahun sekolah, gue tidak pernah menjadi siswa yang terlalu menonjol secara akademik. Namun, gue dapat dengan mudahnya diidentifikasi baik oleh guru ataupun siswa dari kelas lain karena ukuran tubuh gue yang imut. Iya, iya. Pendek maksudnya. Puas, lo?. Bayangin aja, setiap upacara bendera hari senin pagi selama enam tahun SD, tiga tahun SMP hingga tahun-tahun awal SMA, gue selalu berada di urutan terdepan. Gue rasanya pengen ngomelin hormon pertumbuhan ngehe yang kerjanya males-malesan sampe bikin pertumbuhan gue lambat.

Beda halnya dengan Chelesa Islan. Gue yakin dimanapun dia sekolah dulu, pasti semua siswa dan guru tahu pelajar mana lagi yang mukanya adem kayak ubin mesjid.

Sejak masuk SMA, gue merasa bersyukur karena tidak lagi berpredikat ‘siswa paling mungil’ hingga layak masuk MURI. Selain karena tinggi yang mulai bertambah, ada beberapa siswa yang jauh lebih kecil daripada gue. Sebutlah salah satunya adalah Silvia Prihety (Silvi).

Silvi cukup kecil. Tingginya mungkin cuma beberapa mili saja. Walaupun begitu, gue yang sudah jauh lebih tinggi, ga pernah bully Silvi sedikit pun. Karena gue khawatir bakal didatangi sama Komisi Perlindungan Anak bareng Kak Seto :P.

Silvi adalah salah satu temen terbaik gue sampe saat ini. Bukan karena rasa empati setelah pernah mengalami masa-masa ‘imut’ bersama. Atau sama-sama pernah ikut casting 7 dwarf nya Putri Salju. Gue menjadikan dia temen baik karena Silvi suka warna kuning. Kenapa kuning? Karena Spongebob berwarna kuning *kemudian senyap… krik*.

Sejak SMA, gue selalu menjadi tempat curhatan Silvi. Mulai dari cerita tentang tugas sekolah, tagihan listrik, hingga diskusi tentang siapa penerus Alam dan Vetty Vera, Sebenernya lebih banyak masalah cinta-cintaan. Walau sampe sekarang gue suka bingung kenapa Silvi dan banyak lainnya curcol masalah cinta sama gue yang jomblo parah.

Jangan remehkan orang kecil. Siapa kira Bapak Habibie yang kecil bisa memiliki paten paling banyak dalam domain aeronautika/penerbangan. Begitu juga dengan Silvi. Kalo selama ini pengibar bendera upacara identik dengan siswa-siswi yang tinggi semampai maka beda halnya dengan SMA gue. Silvi tidak jarang mendapatkan tugas sebagai pembawa bendera setiap hari senin pagi. Kalo saja cheribel sudah ada sejak dulu, gue yakin Silvi diterima jadi anggota tanpa seleksi. Kenapa? Karena spongebob berwarna kuning.. Argghh!!!!.

Dalam sebuah studi disebutkan bahwa jika sebuah persahabatan bertahan lebih dari 7 tahun maka persahabatan tersebut akan bertahan selamanya. Silvi bertemen baik dengan Yenni Arista dari SMP hingga SMA. Kami dulu bahkan mengira mereka anak kembar. Potongan rambutnya identik. Sama-sama terlibat di organisasi paskibra sekolah, kemana-mana berdua. Padahal gue udah sering ngingetin jangan jalan berdua karena yang ketiganya adalah setan. zZZz..

Lepas SMA, Silvi melanjutkan kuliah di Malaysia jurusan oleokimia. Satu-satunya siswa kelas kami yang menempuh studi sarjana di luar negeri. Ia menyusul sang kakak yang telah lebih dulu menjejaki negeri yang katanya ‘Truly Asia’. Tidak hanya sampai sarjana, Malaysia menjadi rumah kedua setelah ia melengkapi pendidikannya hingga master. Sejujurnya gue cukup kaget dengan keberanian Silvi bersekolah di Malaysia karena sepengetahuan gue, Ipin-Upin tidak ada versi ceweknya. Pfft.

Kegiatan curhat-mencurhati tidak berhenti saat kami lulus SMA. Sejak kuliah, Silvi tetep menjadi partner setia gue dalam hal per-chat-an mulai dari era Yahoo messenger hingga whatsaap.

Gue akui Silvi cukup jago dalam bahasa inggris. Sepulang dari Malaysia kemampuan bahasa inggrisnya pun semakin baik. Dia bisa cas cis cus mengeja satu sampe sepuluh dari one hingga ten sembari koprol Jakarta-Bogor.

Setelah lulus kuliah, Silvi mulanya bekerja di sebuah pabrik di Bekasi. Namun tak berselang lama, ia diterima bekerja di salah satu perusahaan semen milik negara hingga saat ini.

Setelah kisah cintanya kandas dengan temen sekolah, Silvi akhirnya menikah dengan pria yang biasa dipanggilnya dengan Ican. I can?!!. Sebelum bener-bener menikah, Silvi sekali dua kali suka mengigau. Pernah dia ngasih poto bareng gojek dengan caption

‘Duh Tukang Gojek So Sweet banget. Baru dibonceng sekali aja udah dikasih helm couple:D.

Dia juga sering baper. Ujarnya ‘cuma SIM yang gue ‘tembak’ terus gue diterima’ :D.

Pernikahannya berlangsung persis satu pekan setelah lebaran. Gue bersama istri dan anak menghadiri acara resepsi pernikahan tersebut. Mumpung masih berada di Palembang dalam rangka mudik lebaran. Sayangnya kami tidak sempet berfoto dengan pengantin karena riuhnya suasana di dalam gedung.

Ada yang lucu saat gue dan istri beranjak pulang. Temen gue yang juga dateng kondangan menyampaikan bahwa salah satu kotak yang berisi amplop dari para tamu undangan nyaris raib dibawa oleh sekelompok orang tanggung jawab. Untungnya maling tersebut berhasil ditangkap sebelum kabur dari lokasi. Gue bersyukur para maling tidak sempet ketemu gue. Jika tidak, gedung itu bakalan penuh dengan darah. Iya, gue yang digebukin oleh maling maksudnya :D.

Gue heran masih banyak aja orang yang memanfaatkan momen pernikahan untuk aksi-aksi kejahatan. Itulah mengapa gue selalu mengingat-ingat pesan Bang Napi bahwa kejahatan bukan hanya karena ada niat pelaku tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah.. Harga naik besok.

Congratulation for my little sister. I wish all the joy, goodness, barokah will always circling around you. May your wedding lead you both to Jannah.

Ketupat Lebaran

Alby

Satu hari usai tulisan ini diterbitkan oleh WordPress, ramadhan sudah berakhir untuk digantikan oleh idul fitri. Lebaran tahun 2015 Masehi atau 1436 Hijriah terasa spesial mengingat tidak perlu ada ‘perpecahan’ antara pemerintah dan ormas-ormas sehubungan dengan tanggal jatuhnya idul fitri. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya dimana pemerintah yang menentukan 1 Syawal dengan Ru’yatul Hilal harus ‘berhadapan’ dengan ormas seperti Muhammadiyah yang menggunakan metoda Hisab. Belum lagi aliran seperti Naqsabandiyah atau Jamaah Aboge yang menggunakan metoda lainnya.

Lebaran tahun ini juga menjadi lebaran pertama Alby. Walau mungkin di usia enam bulannya, ia belum mengerti tentang gegap gempita hari raya. Alby juga untuk pertama kali akan mudik ke Palembang. Pertama kali naik pesawat. Dan pertama kali juga bertemu dengan sepupu, nenek serta om-tante yang ada di Palembang. Sebuah ekskalasi yang hebat mengingat gue ataupun istri baru mencicipi pesawat terbang untuk pertama kali saat mengingjak usia belasan.

Saat berangkat ke kantor tadi pagi, gue sekilas melihat rombongan penjual dadakan yang menggantung ketupat untuk dijajakan di sepanjang jalan Veteran, Bintaro. Hari Raya memang menjadi suatu fenomena ekonomi yang mendorong  terjadinya bisnis-bisnis insidental. Pola yang sama dilakukan oleh penyedia jasa tukar uang untuk THR yang berada di pinggir-pinggir jalan kota besar. Meskipun pada praktiknya, mereka menjalankan bisnis riba.

Ketupat sudah menjadi bagian dari tradisi lebaran di Indonesia. Sejak kecil, keluarga gue tidak pernah melewatkan ketupat sebagai pelengkap momen idul fitri. Ketupat akan disajikan bersamaan dengan lauk pauk khas daerah masing-masing. Di Pariaman, ketupat biasanya ditemani oleh Tunjang. Sementara di Palembang kami biasanya menyantap ketupat bersama dengan Opor dan Malbi.

Gue mencoba mencari tahu apa yang melatarbelakangi ketupat hingga begitu lekat dengan momen lebaran. Dari referensi yang gue baca, ketupat menjadi simbol perayaan hari raya islam dimulai pada masa pemerintahan Kerajaan Islam Demak, awal abad ke-15. Penjelasan ini disampaikan oleh H.J. de Graff dalam Malay Annal. Ia menambahkan bahwa daun ketupat dari janur mendeskripsikan masyarakat pesisir yang ditumbuhi oleh banyak kelapa. Sementara warna kuning janur melambangkan identitas masyarakat Jawa untuk membedakan dengan warna hijau timur tengah atau warna merah asia timur.

Sunan Kalijaga menjadikan ketupat sebagai perayaan tersendiri dengan istilah Lebaran Ketupat seminggu setelah idul fitri atau setiap tanggal 8 syawal. Lebaran ketupat diangkat dari pemujaan Dewi Sri, Dewi pertanian dan kesuburan yang dipercaya oleh masyarakat pra islam. Asimilasi budaya selalu menjadi bagian dari tradisi keagamaan selalu menjadi instrumen penyebaran agama islam oleh wali songo.

Sementara Menurut Slamet Mulyono dalam Kamus Pepak Basa Jawa, Kata ‘ketupat’ berasal dari ‘kupat’ yang berarti ngaku lepat atau mengakui dosa. Sementara Janur adalah singkatan dari Jatining nur atau hati nurani. Beras yang dimasukkan ke dalam janur adalah simbol nafsu duniawi. Jadi ketupat melambangkan nafsu duniawi yang dibungkus oleh hati nurani. Bagi sebagian masyarakat jawa, bentuk persegi ketupat menggambarkan empat arah mata angin.

Pendapat lain menjelaskan bahwa anyaman bungkus ketupat adalah simbol kesalahan manusia yang rumit. Setelah dibuka akan nampak beras/nasi putih yang berarti kebersihan dan kesucian hati memohon ampun atas segala kesalahan. Gue Pribadi cenderung sepakat dengan pendapat kedua ini.

Apapun definisinya, ketupat lebaran selalu menjadi ciri khas lebaran di sebagian besar masyarakat Indonesia. Ia nya adalah penyemarak momen lebaran. Disantap bersama dengan kuah santan atau lauk-pauk khas daerah. Semoga lebaran kita tidak hanya menyemangati masak ketupat, atau bersibuk dengan segala hal yang baru mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Lebaran kita akan jauh lebih bermakna jika ramadhan kita sukses. Suksesnya dapat diinterpretasikan dari pribadi yang lebih baik nan bersahaja selepas melewati pesantren ramadhan.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H.

Taqobbalallahu minna wa minkum. Shiyamana wa shiyamakum.

Islam dan Syiar Dakwah Nusantara

Oleh : Ustad Salim A Fillah

Islam. Betapa kata ini  sederhana lagi sempurna, utuh dan menyeluruh, indah serta menyejarah.

Adalah Imam Al Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan sebuah kisah dari Thariq ibn Syihab, bahwa telah datang seorang laki-laki dari kalangan Ahli Kitab Yahudi kepada ‘Umar ibn Al Khaththab. Pria itu lalu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, ada sebuah ayat dalam kitab kalian dan kalian membacanya, sekiranya ayat itu turun kepada kami sungguh akan kami jadikan hari di waktu ayat itu turun sebagai hari raya tiap tahunnya”. Sayyidina ‘Umar bertanya kepadanya, “Ayat manakah yang engkau maksudkan?” Lelaki Ahli Kitab itu menjawab,

“..Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan atas kalian nikmat-nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam sebagai agama bagi kalian..” (QS Al Maidah [5]: 3)

Maka, Sayyidina ‘Umar menimpali, “Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui hari dan tempat ketika ayat itu turun kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, yaitu ketika hari Jumat bertepatan dengan hari ‘Arafah.”

Lihatlah betapa cemburu seorang Ahli Kitab, pada sebuah penyebutan dan penegasan yang gamblang dari Rabb semesta alam tentang agama yang diridhaiNya. Islam. Jadi nama risalah ini tersurat secara resmi di dalam ayat yang suci, sementara sejauh ini sulit menemukan agama lain yang mendapati namanya termaktub di kitab-kitab mereka. Umumnya, nama sebuah agama berasal dari penisbatan masyhur yang dilakukan oleh manusia dari sosok kunci atau ajaran.

Demikian pula sebutan untuk pemeluk agama ini, diumumkan dari langit dengan penuh kebanggaan, bahwa Allah sendiri yang memberi julukan sejak dahulu. Maka Islam adalah risalah seluruh Nabi dan Rasul, dan muslim adalah nama untuk para pengikut mereka di sepanjang zaman hingga kelak tiba masa pohon dan batu berbicara tentang musuh kebenaran yang bersembunyi di belakangnya.

“Dan berjihadlah kalian di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kalian, dan Dia tidak menjadikan kesukaran untuk kalian di dalam agama. Ikutilah agama bapak moyang kalian Ibrahim. Allah telah menamakan kalian sebagai para Muslim sejak dahulu, dan begitu pula dalam Al Quran ini, agar Rasul itu menjadi saksi atas kalian dan agar kalian semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka laksanakanlah shalat dan tunaikanlah zakat, dan berpegangteguhlah kepada Allah. Dialah pelindung kalian; sungguh sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.” (QS. Al Hajj [41]: 78)

Ialah tali Allah yang terentang teguh menjadi pegangan ummat manusia sepanjang zaman. Maka untuk mewakili matarantai Islam dan Muslim itu, Allah memilih nama Ibrahim ‘Alaihis Salam kekasihNya. Inilah sosok yang ketika Allah perintahkan padanya, “Aslim.. Islamlah engkau!”, bergegas dia menyambut, “Aku berislam pada Rabb semesta alam.” Maka inilah agama yang mudah, luas, dan tegas. Inilah risalah yang sederhana, indah, dan menyejarah.

Bahwa pengertiannya sederhana; yakni sebersahaja Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab ketika ditanya oleh Malaikat Jibril yang menyamar, apa itu Islam, dalam hadits panjang dari Sayyidina ‘Umar yang dibawakan oleh Imam Muslim. Adalah beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak berrumit-rumit dengan asal kata dan istilah. Tetapi menjawab dengan definisi ‘ilmiah yang ‘amaliah, “Islam itu bahwasanya engkau bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah dan Muhammad adalah RasulNya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah jika memampuinya.”

Berpunca jaminan Allah “Kusempurnakan agama kalian” hingga makna ‘amal yang bersahaja dari Rasulullah inilah, kata “Islam” itu telah cukup, utuh, lagi menyeluruh.

Maka memberi sandaran berupa sebuah kata ataupun frasa di belakang kata Islam rasanya tidak perlu, juga merepotkan. Bahkan kata segagah “kaaffah” dan frasa secantik “rahmatan lil ‘aalamiin” pun ketika digandengkan dengannya menjadi “Islam Kaaffah” serta “Islam Rahmatan lil ‘Aalamiin” telah bermasalah sejak pengambilan asalnya.

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaaffah.” (QS Al Baqarah [2]: 108)

Dalam susunan ayat ini, kata “kaaffatan.. secara keseluruhannya” adalah kata keterangan untuk “udkhuluu.. masuklah kalian.” Jadi yang kaaffah adalah masuknya. Yakni masuklah secara kaaffah ke dalam Islam. Adapun kata “As Silm.. kedamaian” yang oleh Imam Ath Thabari setelah menyampaikan banyak riwayat tentang tafsirnya dari Mujahid, Qatadah, Ibnu Abbas, As-Suddiy, Ibnu Zaid, dan Adh-Dhahhak disimpulkan sebagai “Islam”, di dalam ayat ini berdiri tunggal, tidak diberi sandaran apapun.

Sebagaimana riwayat yang disebutkan oleh Imam Al Baghawi bahwa ayat ini turun tentang sebagian Ahli Kitab yang ketika masuk Islam masih mengagungkan hari Sabtu dan bahkan meminta izin untuk tetap membaca Taurat dalam shalat dengan alasan bahwa ianya adalah Kalamullah; maka tuntutan ayat ini menunjukkan kesempurnaan dan kemenyeluruhan Islam yang menjadikan segala lain tak diperlukan sebab ia telah cukup lagi mencakup.

“Dan tidaklah Kami utus engkau wahai Muhammad melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” (QS Al Anbiya’ [21]: 107)

Pun di ayat ini, kita mendapati bahwa frasa “rahmatan lil ‘aalamiin” adalah keterangan untuk “arsalnaaka.. Kami utus engkau”. Dengan demikian maknanya, rahmat semesta alam itu adalah Rasulullah. Sehingga gabungan kata yang menjadi simpulannya adalah “Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam rahmat bagi semesta alam”, dan bukan “Islam Rahmatan lil ‘Alamin.”

Ini sebagaimana yang disampaikan Imam Ath Thabari dalam Jami’ul Bayan maupun Imam Al Qurthubi dalam Al Jami’ li Ahkamil Quran, bahwa; “Rahmat ini dalam makna umum dan merata bagi semuanya. Karena lafazh al ‘aalamiin menunjukkan makna mutlak dan menyeluruh, maksudnya rahmat untuk alam manusia, yang mukmin dan yang kafir; untuk alam Malaikat; rahmat untuk alam jin, yang mukmin dan yang kafir; dan rahmat untuk alam hewan.”

“Adapun rahmat untuk yang beriman, maka Allah telah memberikan hidayah kepada mereka, dan menanamkan iman ke dalam hati mereka. Kemudian juga memasukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat itu karena mereka telah mengamalkan ajaran yang dibawa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Sedangkan rahmat untuk orang-orang kafir, yaitu bahwa Allah ‘Azza wa Jalla tidak langsung mengadzab mereka di dunia ini seperti Dia telah membinasakan orang-orang kafir sebelum mereka yang telah mendustakan para Nabi dan Rasul dengan penenggelaman dan pembenaman, melainkan menundanya hingga hari akhirat.”

Jadi, jika kata segagah “kaaffah” dan frasa secantik “rahmatan lil ‘aalamiin” pun ketika digandengkan dengan Islam telah bermasalah sejak pengambilan asalnya; kita akan lebih kesulitan lagi memberi argumentasi pada penisbatan Islam terhadap kata lain yang tak diambil dari Al Quran semisal “Liberal”, “Progresif”, atau juga “Timur Tengah” dan “Nusantara.”

***

Islam. Betapa kata ini sederhana lagi sempurna, utuh dan menyeluruh, indah serta menyejarah. Adapun jika kita mentafakkuri tentang Islam di Nusantara, ada hutang besar yang sudah seharusnya kita bayar. Ialah syi’ar dakwah, untuk, oleh, dan dari Nusantara bagi seluruh ummat manusia.

Meski Islam telah hadir di negeri ini sejak abad pertama Hijriah, terlacak dari surat menyurat antara Maharaja Sri Indrawarman dari Kerajaan Sriwijaya dengan Mu’awiyah ibn Abi Sufyan dan ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz, barangkali yang dapat kita catat sebagai masa dakwah paling intensif dan massif di jazirah ini adalah enam abad lalu. Untuk menyebutnya, dalam sejarah peradaban Islam kita dikenalkan dengan istilah Futuhat.

Futuhat inilah pembebasan yang dibawakan oleh Rasulullah dan para sahabat, sebagaimana Allah istilahkan bagi perjanjian Hudaibiyah; “Inna fatahna laka fathan mubiinaa.. Sesungguhnya Kami telah bukakan bagimu kemenangan yang nyata..” (QS Al Fath [48]: 1); kota Makkah “Fa ja’ala min duuni dzalika fathan qariibaa.. Maka Dia jadikan di sebalik itu kemenangan yang dekat..” (QS Al Fath [48]: 27); dan juga seluruh jazirah, “Idzaa jaa-a nashrullaahi wal fath, wa ra-aitannaasa yadkhuluuna fii diinillaahi afwaajaa.. Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia berbondong-bondong memasuki agama Allah.” (QS An Nashr [110]: 1-2)

Melihat ketiga peristiwa tersebut, sungguh indah bahwasanya Allah menunjukkan kepada kita metode-metode bagi Futuhat yang tidak tunggal, apalagi sebagaimana sering dituduhkan yakni melulu melalui peperangan. Tampak bahwa ia bisa berbentuk perundingan damai yang selepas itu membawa begitu banyak kebaikan, atau juga pengerahan kekuatan militer dengan pertumpahan darah yang amat minimal, dan pula perutusan-perutusan yang membawakan kabar gembira, peringatan, seruan, serta cahaya ini ke segala penjuru dunia.

Lalu apa nilai pencerahan yang ditawarkan oleh Futuhat ini? Mari kita kenang sebuah kalimat bersejarah. “Kami adalah kaum yang dibangkitkan Allah; untuk membebaskan manusia:

1) dari penghambaan kepada sesama makhluq, menuju peribadahan pada Khaliq semata.

2) dari sempitnya dunia, menuju luasnya akhirat.

3) dari kezhaliman agama-agama, menuju keadilan Islam.”

Jawaban indah ini menjadi syi’ar Futuhat. Mulai dari Sa’d ibn Abi Waqqash sang panglima besar, Al Mughirah ibn Syu’bah sang komandan lapangan, hingga Ribi’ ibn Amir si prajurit kecil dalam kesempatan berbeda menyatakannya dengan amat kompak kepada Rustum, panglima agung Persia dalam pertempuran Qadisiyah.

Maka “tangan Allah bersama jama’ah”. Jika Musa ‘Alaihis Salaam yang berkata “Inna ma’iya Rabbi sayahdin.. Sesungguhnya Rabbku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk padaku” dibelahkan laut untuknya, hingga kaumnya menyeberang dalam takut diapit gelombang besar yang menggunung; pasukan Sa’d ibn Abi Waqqash bergandeng tangan menyeberangi lebar dan derasnya arus Dajlah dengan karamah yang membuat musuh terperangah. Selama tiga nilai Futuhat ini dipelihara; jadilah ia da’wah yang mencahayai semesta.

Tapi sejarah kita juga berisi pengalaman tentang bagaimana kiranya jika nilai-nilai Futuhat ini tidak dijaga.

Di Andalusia, saat raja-rajanya berrebut memperbudak kulit putih hingga jangat hitam dan rambut pirang hingga mata biru; kekuasaan 7 abad di sana jadi sedikit sekali membawakan ruh dakwah. Seperti digambarkan Ahmad Thompson dalam Islam in Andalus, kolam-kolam khamr direnangi dalam pesta, permainan optik dan air raksa menakutkan duta-duta Franka, bebangunan indah lagi rumit menjulang, ornamen-ornamen ukir dan keramik menakjubkan, pun Ziryab mengenalkan fine dining hingga mode pakaian tiap musim. Tapi bangsa keturunan Visigoth melihat itu semua sebagai lambang penjajahan.

alhambra-granada

Saat kuasanya rapuh dan antar penguasanya rusuh, Ferdinand dari Arragon dan Isabella dari Castillia memulai reconquesta. Satu per satu; Cordoba, Malaga, Huelva, Toledo, Sevilla, Almeria, dan akhirnya Granada jatuh. Maka tergulunglah muslimin nyaris tanpa sisa hingga bukit tempat sang Sultan terakhir menangisi lepasnya daulah terujung diberi nama “El Ultimo Sospiro del Moro”; desah nafas terakhir orang Mor. Dan hingga hari ini, Spanyol dan Portugal di semenanjung Iberia masih mencatatkan diri dalam tingkat Islamophobia yang amat tinggi.

andalusia_rondacanyon

Empat abad lamanya pula, muslim Mughal memerintah tiga perempat anak benua. Tapi seperti ditangisi Aurangzab Alamghir tentang Syah Jahan ayahnya; ketika cinta pada 1 perempuan mengorbankan 30.000 budak Hindu yang dibunuh sebakda diperas tenaganya untuk pembangunan kuburan mewah bernama Taj Mahal serta 3 tahun kas negara bangkrut dan pajak dipungut paksa demi pembangunannya. Hari ini, hanya sepuluh perratus kaum muslimin tersisa di negeri Bharata, India.

Adapun Nusantara ini diasasi berkah da’wah para Wali dan Sultan Demak. Inilah kesultanan yang mampu mengerahkan 300 kapal untuk berjihad melawan Portugis di Malaka; tapi bahkan sisa istananya tak ditemukan. Sebab, demikian menurut sebagian sejarawan, Sultannya amat bersahaja, hingga tempat tinggalnya pun tak jauh beda dengan rakyatnya. Ia menjadi kontras dengan Majapahit yang sudah lemah dan remuk oleh paregreg serta kesewenang-wenangan, tapi tetap bermewah-megah para penguasanya.

100_2727

Para Sultan inipun tunduk pada Majelis Syuraa para ‘Ulama di Masjidnya. Mereka, dengan gelar “Sunan” di depan nama, menjadi pelanjut dari generasi dakwah sebelumnya yang penuh hikmah. Dan sahibul hikayat berkisah, sejak catatan kelana Ibn Batuththah “Ar Rihlah” dihadiahkan Sultan Maroko kepada Muhammad I dari Daulah ‘Utsmaniyah di Turki, dengan penuh semangat sang Sultan-Ghazi mengirimkan da’i-da’i tangguh ke kepulauan ini.

Sebagai gambaran tentang betapa terrencana dan rapinya kerja tim Futuhat ini dalam merancang syi’ar dakwah Nusantara, sebuah Kropak rangkaian lontara yang tersimpan di Ferrara, Italia, ternyata mencatat isi rapat para Wali itu dan merangkum pengajaran-pengajaran yang mereka sepakati dalam mendakwahi masyarakat Jawa saat itu. Jauh sebelum itu, Het Boek van Bonang telah menjadi rujukan para sejarawan untuk melacak strategi dakwah yang dahsyat dari tim yang masyhur dikenal sebagai Wali Sanga ini.

Dahsyat, sebab, betapapun mereka belum sempurna menunaikan tugas dakwahnya, dan siapakah memangnya yang sempurna dalam dakwah selain Rasulullah; tapi hingga hari ini, belum ada lagi satu tim beranggotakan hanya beberapa mu’allim yang dalam waktu kurang dari 50 tahun atas izin Allah mampu menjadikan sebuah kerajaan besar yang tegak dengan Hindu dan Budha sebagai agama resmi, nyaris semua penduduk jazirah intinya bersyahadat. Belum lagi nantinya kita melihat, bagaimana pusat pendidikan mereka di Ampel, Giri, Kadilangu, Kudus, dan Cirebon  mendidik para calon ‘Ulama dan Sultan untuk Banten, Banjar, Mataram, Gowa, Ternate, Tidore, Bima, hingga Palembang.

Menyimak bagaimana misalnya Maulana Malik Ibrahim yang ahli irigasi dan persawahan menjawab persoalan pangan; bagaimana Maulana Maghribi I yang ahli ruqyah mengalahkan para dukun, klenik, tempat angker, dan sihir; bagaimana Maulana Ahmad Jumadil Kubra mendakwahi para penduduk gunung yang dikeramatkan; bagaimana Maulana ‘Aliyuddin dan Taqiyyuddin menekuni pengajaran di pelabuhan-pelabuhan; bagaimana Maulana ‘Ali Rahmatullah mendirikan sekolah kasatriyan di Ampeldenta untuk mengatasi krisis ketatanegaraan Majapahit; bagaimana Sunan Ngudung dan Maulana Ja’far Ash Shadiq menjawab persoalan strategi perang dan keprajuritan; hingga bagaimana Sunan Kalijaga menggubah budaya Islami untuk memassifkan tabligh; kita semakin takjub tentang bagaimana tim ini bekerja.

Maka inilah hutang besar kita, pada bangsa kita sendiri maupun dunia, sebuah syi’ar dakwah Nusantara.

Hutang terhadap diri sendiri sebab hari-hari ini kita berada di masa maraknya syi’ar namun sering tak terpimpin, tanpa arah, dan tak jelas hendak menuju mana dan meraih capaian apa; hingga kitapun susah menyebutnya “dakwah” apatah lagi “Futuhat”. Tak usah sejauh itupun, sejak kemerdekaan Republik Indonesia beberapa sensus telah digelar, dan prosentase jumlah ummat Islam terus menurun.

Litbang Kementerian Agama juga pernah merilis data, bahwa antara tahun 1970-an hingga 1990-an awal, buku-buku yang terbit di kalangan ummat Islam didominasi wacana Islamisasi pengetahuan, ekonomi Islam, hingga Politik Islam. Maka kitapun memanennya di akhir periode itu dengan tumbuhnya Ikatan Cendikiawan Muslim, ekonomi syari’ah, perbankan syari’ah, hingga kesadaran politik Islam.

Sebaliknya, antara tahun 1990-an akhir hingga hari ini, buku yang terbit kebanyakannya kembali mempertajam sisi-sisi khilafiyah furu’iyyah di kalangan ummat, antar ormas Islam, organisasi dakwah, dan antar harakah. Detail sekali peruncingan perbedaan itu hingga kitapun kembali memanennya dalam bentuk sensitifnya lagi soal-soal yang sebenarnya bertahun lalu telah diredam oleh para ‘Ulama dan Zu’ama dengan amat bijak.

Maka kalau hari ini dalam bingkai Islam Nusantara, tawassuth didengungkan dengan eksklusif seakan hanya kelompok kita yang moderat, tawazun didalilkan dengan jumawa seakan hanya kelompok kita yang seimbang, i’tidal dilanggamkan dengan nyaring seakan hanya kelompok kita yang tegak lurus, dan tasamuh didendangkan dengan nada tinggi seakan hanya kelompok kita yang toleran; kita justru sungguh khawatir ada bias terhadap syi’ar dakwah Nusantara yang menyentuh hati, merangkul, melayani, menyatukan, dan memberdayakan.

Belum lagi hutang kita pada Sultan Muhammad I yang mengirim da’i-da’inya ribuan mil, juga hutang kita pada para ‘ulama yang menempuh perjalanan jauh dan berbahaya, dan ukhuwah Islamiyah Mesir hingga Palestina yang diunjukkan penuh bangga mendukung kemerdekaan Indonesia. Seperti kaidah “Pay It Forward”, kita tertuntut pula membayarnya dengan membawa syi’ar dakwah Nusantara ini pada Eropa, Amerika, Australia, hingga Cina. Bahwa hari-hari ini, komunitas muslim Nusantara di berbagai negeri kian menunjukkan peran dakwah mereka bersama saudara-saudaranya dari berbagai bangsa, semoga ianya bagian dari kabar gembira untuk masa depan.

Sebagai penutup, izinkan kami menyampaikan sebuah kisah.

Imam Muhammad Abu 'Anzah (berblangkon) dari Gaza mengimami Tarawih di Jogokariyan.

Suatu saat kami sedang duduk di Masjid Jogokariyan, di hadirat Syaikh Dr. Abu Bakr Al ‘Awawidah, Wakil Ketua Rabithah ‘Ulama Palestina. Kami katakan pada beliau, “Ya Syaikh, berbagai telaah menyatakan bahwa persoalan Palestina ini takkan selesai sampai bangsa ‘Arab bersatu. Bagaimana pendapat Anda?”

Beliau tersenyum. “Tidak begitu ya Ukhayya“, ujarnya lembut. “Sesungguhnya Allah memilih untuk menjayakan agamanya ini sesiapa yang dipilihNya di antara hambaNya; Dia genapkan untuk mereka syarat-syaratnya, lalu Dia muliakan mereka dengan agama dan kejayaan itu.”

“Pada kurun awal”, lanjut beliau, “Allah memilih Bangsa ‘Arab. Dipimpin Rasulullah, Khulafaur Rasyidin, dan beberapa penguasa Daulah ‘Umawiyah, agama ini jaya. Lalu ketika para penguasa Daulah itu beserta para punggawanya menyimpang, Allahpun mencabut amanah penjayaan itu dari mereka.”

“Di masa berikutnya, Allah memilih bangsa Persia. Dari arah Khurasan mereka datang menyokong Daulah ‘Abbasiyah. Maka penyangga utama Daulah ini, dari Perdana Menterinya, keluarga Al Baramikah, hingga panglima, bahkan banyak ‘Ulama dan Cendikiawannya Allah bangkitkan dari kalangan orang Persia.”

“Lalu ketika Bangsa Persia berpaling dan menyimpang, Allah cabut amanah itu dari mereka; Allah berikan pada orang-orang Kurdi; puncaknya Shalahuddin Al Ayyubi dan anak-anaknya.”

“Ketika mereka juga berpaling, Allah alihkan amanah itu pada bekas-bekas budak dari Asia Tengah yang disultankan di Mesir; Quthuz, Baybars, Qalawun di antaranya. Mereka, orang-orang Mamluk.”

“Ketika para Mamalik ini berpaling, Allah pula memindahkan amanah itu pada Bangsa Turki; ‘Utsman Orthughrul dan anak turunnya, serta khususnya Muhammad Al Fatih.”

“Ketika Daulah ‘Aliyah ‘Utsmaniyah ini berpaling juga, Allah cabut amanah itu dan rasa-rasanya, hingga hari ini, Allah belum menunjuk bangsa lain lagi untuk memimpin penjayaan Islam ini.”

Beliau menghela nafas panjang, kemudian tersenyum. Dengan matanya yang buta oleh siksaan penjara Israel, dia arahkan wajahnya pada kami lalu berkata. “Sungguh di antara bangsa-bangsa besar yang menerima Islam, bangsa kalianlah; yang agak pendek, berkulit kecoklatan, lagi berhidung pesek”, katanya sedikit tertawa, “Yang belum pernah ditunjuk Allah untuk memimpin penzhahiran agamanya ini.”

“Dan bukankah Rasulullah bersabda bahwa pembawa kejayaan akhir zaman akan datang dari arah Timur dengan bendera-bendera hitam mereka? Dulu para ‘Ulama mengiranya Khurasan, dan Daulah ‘Abbasiyah sudah menggunakan pemaknaan itu dalam kampanye mereka menggulingkan Daulah ‘Umawiyah. Tapi kini kita tahu; dunia Islam ini membentang dari Maghrib; dari Maroko, sampai Merauke”, ujar beliau terkekeh.

“Maka sungguh aku berharap, yang dimaksud oleh Rasulullah itu adalah kalian, wahai bangsa Muslim Nusantara. Hari ini, tugas kalian adalah menggenapi syarat-syarat agar layak ditunjuk Allah memimpin peradaban Islam.”

“Ah, aku sudah melihat tanda-tandanya. Tapi barangkali kami, para pejuang Palestina masih harus bersabar sejenak berjuang di garis depan. Bersabar menanti kalian layak memimpin. Bersabar menanti kalian datang. Bersabar hingga kita bersama shalat di Masjidil Aqsha yang merdeka insyaallah.”

#26 Dedy Anugerah Rinaldy Adinegara (Bobon)

Dedy

“Setiap mimpi harus diceritakan ke orang lain agar kita termotivasi untuk meraihnya”.

Itu bukan kata-kata Mario Tega. Kalimat sakti penggugah jiwa gunda gulana tersebut diucapkan oleh temen gue Periawan pada suatu kesempatan. Entah abis ikut serta seminar motivasinya siapa atau mungkin habis diprospek oleh MLM, yang jelas kata-kata Peri tersebut terngiang-ngiang di otak gue. Sejak saat itu, gue bercerita ke nyokap tentang mimpi gue ketemu power ranger, solat berjamaah bareng raisa, hingga memimpin timnas Indonesia berlaga di Copa America.

Di antara mimpi yang sering gue ceritain ke temen-temen deket gue adalah ‘GUE MAU NIKAH SAMA ORANG SUNDA’. Temen-temen gue riuh. Mereka beranggapan bahwa niat gue menikahi orang sunda bukan murni karena cinta melainkan karena ingin memperbaiki keturunan. SIAL!. Apapun itu, yang jelas mimpi yang gue ceritain tersebut akhirnya terwujud setelah tahun 2014 gue bener-bener menikahi orang sunda. Dan, nampaknya anak gue memang tidak mirip gue.

Berbeda dengan temen gue Hasbullah (Aas). Sebelum Bolot pura-pura budeg, Aas sudah mendeklarasikan diri untuk menikahi seorang dokter. Aas berkelit bahwa menikahi dokter adalah amanat sang nenek yang ngidam seorang dokter dalam pohon keturunannya. Setelah pontang-panting mencari jodoh, akhirnya mimpi tersebut terwujud.

Dari dua contoh di atas gue percaya kalo mau mendapatkan jodoh, sebisa mungkin deskripsikan akan seperti apa jodoh kalian kelak. Walau memang agama harus menjadi landasan utama, namun rasanya tak mengapa mendeskripsikan secara global preferensi kita. Tapi jangan terlalu detil juga. Mentang-mentang bercerita mimpi, kalian ngarep jodoh yang cantik, sholehah, kaya, anak tunggal, bapaknya sakit-sakitan. Sampe JKT48 nyanyi dangdut koplo juga lo bakalan sulit dapetin jodoh dengan ciri-ciri demikian.

Hal yang sama mungkin pernah dilakuian oleh Dedy Anugerah Rinaldy Adinegara alias Bobon. Sohib gue satu ini rasanya pernah bermimpi agar berjodoh dengan teman sekelas. Sekelas? Banyak bener bro. Kisah cinta dedy cukup rumit. Lebih rumit daripada kabel yang masuk ke saku celana. Dalam jangka waktu beberapa tahun antara SMA dan awal masa kuliah, Bobon menjalin cinta dengan dua temen kelas kami yang berbeda. Sebut saja Mawar dan Melati. Semuanya Indah. Namun semuanya kandas di tengah jalan.

Bobon bukan satu-satunya ‘Dedy’ yang ada di kelas kami. Masih ada satu lagi yang bernama ‘Dedy’ yakni Dedy Efriliansyah. Untuk membedakan, kami biasa memanggil mereka dengan Dedy A dan Dedy E walaupun tidak jarang mereka dinamai dengan ‘Bobon’ dan ‘Macky’. Mereka berdua melewati masa kecil bersama. Menyukai gadis yang sama. Tumbuh di lingkungan yang sama. Tapi Dedy tumbuh ke atas sementara Dedy tumbuh ke samping. Mereka berdua pun sama-sama kelas berat walau Dedy E lebih berat 2 ons sehingga kedua Dedy tergolong makhluk dengan bobot paling berat di XII IPA A versi on the spot.

Sejak masa-masa pertama sekolah, gue sudah menduga bahwa Dedy datang dari keluarga yang cukup mampu. Selain penampilannya yang nampak seger dan terawat, dia setiap hari dianter-jemput dengan mobil pribadi. Gue sama. Bedanya mobil yang anter jemput gue ditumpangin juga oleh puluhan penumpang lainnya. Kebetulan sekolah kami dulu menganut sistem sosialis. Setiap siswa dilarang membawa mobil ke area parkir sekolah. Makanya gue ga pernah parkir bus kota ke dalam lingkungan sekolah. Pfft.

Ada satu momen fenomenal yang mungkin bakalan gue inget sepanjang masa sehubungan dengan aktifitas Dedy di sekolah. Siang itu tengah dilakukan pergantian mata pelajaran. Di saat menunggu guru matematika masuk kelas, kami pun melakukan aktiftitas khas ala siswa SMA lainnya. Ricuh sana-sini. Ada yang gosip, sikap lilin, salto 7 putaran hingga bermain peran 7 manusia kecebong. Sebagian lagi menyanyi dengan suara cempreng. Kebetulan saat itu dedy mendapatkan peran sebagai tukang gebuk meja layaknya Eno Netral.

Jackpot, bersamaan dengan musik yang ditabuh di meja, guru matematika yang tidak dinanti datang sekonyong-konyong. Beliau mendapati kelas gaduh akibat meja yang ditabuh. Gossiper dan vokalis dadakan sontak berhenti. Sayangnya Dedy terlambat. Pak Guru lebih dulu melihat aksi drummer bajakan. Seketika ia mendatangi meja Dedy dan bilang ‘Mana tangannya’. Gue tertegun. Adegan ini persis dengan yang sering gue lihat di TV, pikir gue. Seseorang meminta tangan untuk kemudian diberikan cincin lalu terjadi proses lamaran. But wait. Pak Guru kan cowo, Dedy pun begitu. Ternyata imajinasi gue salah total. Saat Dedy ‘menyerahkan’ tangannya, Pak Guru melayangkan pukulan lucu ke tangan Dedy sambil memperingatkan untuk tidak mengulang kegaduhan yang serupa.

Sebagai temen yang baik, gue iba dengan kejadian tersebut. Tapi sebagai sahabat, gue ketawa terbahak-bahak saat tahu temen gue menderita :P.

Dedy adalah salah satu sohib gue di SMA. Bukan secara tiba-tiba gue berteman baik dengan dia. Kami diakrabkan oleh sebuah roleplay saat pelajaran bahasa jerman. Kebetulan gue, Peri dan Dedy berada dalam satu kelompok untuk bermain peran yang agak-agak absurd. Lebih absurd daripada anak-anak yang niup rumah umang-umang atau pesawat dari kertas.

Kami memilih tema tentang hewan peliharaan dalam sebuah dialog bahasa jerman yang ‘mengagumkan’.

Gue : Dedy, Hast du haustiere zu haus?
Dedy : Ja, Ich Habe aine katze. Und ihnen, Peri?
(Gue yang nanya tapi die nanya ke Peri. Bangke!)
Peri : Ich habe zwai hunde, balto und tsukichan.

*Terus gue ga ditanya* hmm. Sudah kudungan.

Gue hapal banget selera musik Dedy karena setiap maen ke rumahnya atau nebeng mobilnya lagu yang disetel ga jauh-jauh antara Elemen, Lyla dan tentunya Ari Lasso. Ngomongin soal musik, di luar kebiasaan menjadikan meja sebagai instrumen, Dedy sejatinya adalah gitaris grup band kelas kami. Menjadi anak band adalah salah satu cara paling mudah untuk dikenal di seantero sekolah selain bergabung dengan OSIS. Tapi khusus di kelas kami, band tidak terlalu diminati. Karena sebagian besar penghuni kelas adalah anggota rohis sehingga nasyid dan timnya lebih disukai. Walaupun begitu, kelas kami mempunyai sebuah grup band yang diberi nama ‘definith’. Terinspirasi dari sebuah rumus matematika.

Sejak kelas 1 SMA, Dedy adalah temen sebangku Hartawan yang gue ceritain di kisah sebelumnya. Sebenernya penggunaan istilah ‘temen sebangku’ kurang tepat. Masa iya, dedy dan hartawan temen yang duduk di satu bangku. Mual ga sih bayanginnya?.

Lepas SMA, dedy menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Saat ujian masuk, bangku Dedy dan gue cukup berdekatan. Saat diterima, gue bener-bener ga nyangka anak satu ini harus kuliah di STAN karena setau gue dedy adalah anak versi rumahan yang ga bisa jauh dari ortu. Apa-apa mesti disediain. Ganti popok aja mesti dibantuin oleh ibunya. Eh, sori. Itu anak gue bukan Dedy. Dedy akhirnya membuktikan idiom ‘human was design to adapt. Problem existed not as a pit but a ladder’.

Setelah kisah cintanya yang ruwet, Dedy akhirnya menambatkan hati pada temen SD yang dipertemukan kembali di suatu acara buka bersama. Memang benar. Jodoh itu sangat mungkin adalah mereka yang justru sangat dekat posisinya dengan kita. Mungkin kita saja yang belum menyadari. SALAM SUPER.

Gue dateng ke nikahan Dedy karena momen dan waktunya pas. Selamat bro untuk gelar ke-26. Dan yang ke-8 buat cowonya.

p.s : Urutan Dedy satu strip di bawah Hartawan, temen ‘sebangku’ nya.

Siluet Ramadhan

PicsArt_1434959814287

Ramadhan sudah masuk hari kelima saat gue menuliskan postingan ini. Sayup-sayup masih terdengar nasihat dari pengisi ceramah di masjid kantor. Ia berujar bahwa salah satu tanda kiamat adalah perputaran waktu yang terasa semakin cepat. Ia menambahkan bahwa belum sempat kita melucuti diri dari dosa-dosa selepas ramadhan tahun lalu, dalam sekejap ramadhan baru sudah hadir dan kembali mendekap.

Siluet perjalanan ramadhan dari waktu ke waktu terselip di antara lamunan gue saat menyandarkan punggung usai mengerjakan laporan trial produk di customer. Terlintas bayang-bayang kisah menjalankan shaum di masa lampau. Ramadhan yang dihabiskan bersama keluarga. Dulu, gue selalu terdoktrin bahwa hari pertama puasa adalah hari paling berat dalam hidup hingga gue nyaris selalu batal puasa karena tidak tahan lapar. Di saat lain, gue berbuka puasa dengan menggunakan minuman rasa. Tak berselang lama, apa yang gue minum kembali gue keluarkan bersama dengan liur dan sisa-sisa makanan yang belum tercerna. Arggh!

Ramadhan di masa lalu juga berarti melaksanakan tarawih di mesjid plus bermain petasan hingga sumpah serapah mengalir dari mulut tetangga. Buku ramadhan yang dibagikan oleh guru agama juga harus diisi dengan konsep ‘siapa cepat dia dapat’. Yes, siapa yang lebih dulu menggapai imam sholat tarawih maka ia yang berhak menerima tanda-tangan berharga lebih awal di buku ramadahannya. Meskipun, tak jarang pak imam membalik tumpukan buku sehingga yang datang di awal malah mendapatkan urutan tanda tangan terakhir. Buat Pak Imam yang rela memberikan satu per satu tanda tangan ke bocah yang meramaikan masjid, YOU THE REAL MVP.

Kisah nan epik tidak berakhir sampai di situ. Masa-masa mengisi ramadhan dengan cara yang lebih dewasa mulai bersemi di bangku SMA. Berlomba dalam kebaikan atau ‘fastabiqul khairat’ menjadi momen yang selalu ditunggu. Tak jarang, temen gue berusaha dengan teknik kamuflase yang jauh lebih mahir dan rahasia daripada kawarimi demi mencuri tahu sudah sejauh apa mushaf yang dibaca penghuni mushola lainnya. Kami tak mau tertinggal dalam ibadah. Setidak-tidaknya dalam bacaan Al-Quran. Saat itu semangat begitu menggebu.

Dan kini, gue berdiri di antara tumpukan memori-memori ramadhan penuh kenangan. Memori yang hidup bersama dengan bayang-bayang orang terkasih. Terucap jua doa tulus untuk almarhum ayah yang tidak membersamai ramadhan kami dalam dua tahun terakhir. Semoga segala amal ibadahnya tak terputus akibat doa-doa yang kami panjatkan di sela waktu menunggu adzan maghrib saat doa terijabah.

Waktu berputar dengan terasa sangat cepat. Tak terasa satu tahun pernikahan sudah terlewati. Jika ramadhan lalu gue membersamai istri yang dilanda mual dan muntah karena hamil muda, kini kami sudah berkumpul bersama dengan sang bayi yang tengah masuk bulan kelima usianya tepat dengan 1 ramadhan.

Ramadhan selalu istimewa. Semoga segala kebaikan ramadhan selalu terlimpah untuk kita semua. Ramadhan Kareem!.

 p.s : Ditulis di saat gue kehilangan ide dan motivasi untuk bloging.