Selamat 8 Tahun-an

September 29, 2017 § 2 Komentar

Pagi ini saya membuka wordpress, situs yang dalam beberapa bulan terakhir hanya sesekali saja dikunjungi. Ada rindu yang mendalam untuk bisa bergumul ria kembali, khusyuk menuangkan ide-ide ke dalam tulisan. Kerinduan tersebut berlalu begitu saja manakala realita menerpa. Ada pekerjaan yang tak bisa ditunda, ada anak-anak yang harus dibersamai setiap hari, ada lelah yang mendera. Semua alasan organik yang menjadikan wordpress sebagai entitas dunia ketiga.

Ada dua notifikasi pagi ini. Notifikasi pertama dari seseorang yang ping-back tulisan saya tentang ‘Mengapa Blow Menjadi Tempat Curhat yang Lebih Baik’ dan notifkasi lainnya adalah ucapan ‘selamat’ dari WordPress atas perayaan telah menjadi bagian dari situs ini untuk 8 tahun terakhir.

Gila, sih!

Ekspresi pertama saya ketika menyadari bahwa saya telah melalui 8 tahun bersama wordpress. Tak disangka. Mulanya ia hanya sekedar tempat untuk bereceritera tentang rekanan SMA yang menikah namun kini telah berevolusi menjadi tempat ngalor ngidul dan mematenkan ide-ide agar tidak hilang ditelan zaman. Persis seperti manusia-manusia lampau yang meninggalkan jejak-jejak kehidupan di dinding-dinding gua.

Miris rasanya ketika 8 tahun-an ditandai dengan kelesuan dalam menulis. Hanya sekedar memenuhi kuota satu tulisan per bulan. Itu pun di penghujung-nya. Semangat saya mulai meredup. Ada begitu banyak bahan yang bisa dijadikan tulisan. Hanya saja, ketiadaan motivasi menjadi alasan utama.

Dear wordpress,

Semoga setelah Bulan September, yang harusnya ceria, saya bisa kembali bermesraan denganmu seperti dahulu.

Kok jadi alay, ya? Haha…

Maaf, saya soalnya kids jaman now

Iklan

Vakum 2.0

Agustus 31, 2017 § Tinggalkan komentar

Sumber: Changeidentity.net

Hampir dua bulan terakhir saya vakum dari dunia per-blog-an. Vakum menulis berarti juga vakum membaca. Nyaris tidak ada buku yang selesai terbaca 60 hari terakhir. Buku yang nyaris tamat dibaca hingga ke halaman terakhir adalah Buku milik Hugh Goddard tentang sejarah interaksi Muslim-Kristen selama berabad-abad. Selain itu? Nihil.

Keengganan membaca ini dikarenakan enggan. Ambigu? Iya.

Tidak ada alasan rigid yang membuat saya begitu malas untuk membaca belakangan ini. Hanya kesibukan-kesibukan semu yang sebenarnya menjadi alasan klise untuk seorang bloger.

Namun, demi tekad untuk meninggalkan jejak di blog setidaknya satu tulisan setiap bulannya, saya memaksa diri, menembus kemalasan durjana agar tetap bisa konsisten dengan apa yang saya cita-citakan sedari lama.

Tulisan ini hanya untuk mempertegas kenyataan bahwa saya tengah vakum dalam menulis dan membaca. Entah sampai kapan. Semoga tidak lama dan tidak mengakar. Oh iya, mengapa judulnya vakum 2.0? Karena vakum 1.0 nya sudah dijalani pada bulan Juli. Semoga tidak ada vakum 3.0 dan seterusnya.

Namun, untuk saat ini saya vakum sejenak agar bisa kembali dengan ide-ide yang lebih segar.

Adios!!

Toleransi Umar

Juli 26, 2017 § Tinggalkan komentar

Sumber : Theweek.in

Oleh: Dr Hamid Fahmy Zarkasyi

Jika barometer toleransi abad 20 ini dideteksi di setiap penjuru dunia, maka Jerussalem mungkin adalah yang terburuk.

Pada akhir tahun 1987 saya sempat berkunjung ke kota Jerussalem lama. Kota kuno di atas bukit yang dikelilingi tembok raksasa itu menyimpan tempat suci utama tiga agama. Ketiganya adalah Masjid al-Aqsa, Wailing Wall (Dinding Ratapan) dan Gereja Holy Sepulchre (Kanisat al-Qiyamah). Di zaman modern tempat ini adalah daerah konflik yang paling menegangkan di dunia.

Ketika menapaki jalan-jalan di kota tua itu banyak perisiwa menegangkan. Saya menyaksikan seorang pendeta Katholik dan seorang rabbi Yahudi saling memaki dan sumpah serapah, nyaris saling bunuh.

Di lorong-lorong pasar saya melihat ceceran darah segar Yahudi dan Palestina. Di pintu masuk dinding ratapan saya bertemu seorang Yahudi Canada. Dengan pongah dan percaya diri dia teriak, “I come here to kill Muslims”. Di pintu gerbang masjid Aqsa, seorang tentara Palestina menangis selamatkan masjid al-Aqsa! Selamatkan masjid al-Aqsa!.

Namun jika deteksi toleransi itu dialihkan abad ke 7 dan seterusnya mungkin Jerussalem justru yang terbaik. Setidaknya sejak Muslim memimpin dan melindungi kota ini. Jika kita menelurusi lorong via dolorosa menuju Gereja Holy Sepulchre orang akan tersentak dengan bangunan masjid Umar. Masjid Umar itu terletak persis didepan gereja yang diyakini sebagai makam Jesus. Di situ semua sekte berhak melakukan kebaktian. Melihat lay-out dua bangunan tua ini orang akan segera berkhayal “ini pasti lambang konflik dimasa lalu”. Tapi khayalan itu ternyata salah. Fakta sejarah membuktikan masjid itu justru simbol toleransi.

Sejarahnya, umat Islam dibawah pimpinan Umar ibn Khattab mengambil alih kekuasaan Jerussalem dari penguasa Byzantium pada bulan Februari 638. Mungkin karena terkenal wibawa dan watak kerasnya Umar memasuki kota itu tanpa peperangan. Begitu Umar datang, Patriarch Sophronius, penguasa Jerussalem saat itu, segera “menyerahkan kunci” kota.

Syahdan diceritakan ketika Umar bersama Sophronius menginspeksi gereja tua itu ia ditawari shalat di dalam gereja. Tapi ia menolak dan berkata: “jika saya shalat di dalam, orang Islam sesudah saya akan menganggap ini milik mereka, hanya karena saya pernah shalat disitu”.

Umar kemudian mengambil batu dan melemparkannya keluar gereja. Ditempat batu itu jatuh ia kemudian melakukan shalat. Umar kemudian menjamin bahwa Gereja Holy Sepulchre tidak akan diambil atau dirusak pengikutnya, sampai kapanpun dan tetap terbuka untuk peribadatan umat Kristiani. Itulah toleransi Umar.

Toleransi ini kemudian diabadikan Umar dalam bentuk Piagam Perdamaian. Piagam yang dinamakan al-‘Uhda al-Umariyyah itu mirip dengan piagam Madinah. Dibawah kepemimpinan Umar non-Muslim dilindungi dan diatur hak serta kewajiban mereka.

Piagam itu di antaranya berisi sbb: Umar amir al-mu’minin memberi jaminan perlindungan bagi nyawa, keturunan, kekayaan, gereja dan salib, dan juga bagi orang-orang yang sakit dan sehat dari semua penganut agama.  Gereja mereka tidak akan diduduki, dirusak atau dirampas. Penduduk Ilia (maksudnya Jerussalem) harus membayar pajak (jizya) sebagaimana penduduk lainnya; dan seterusnya.

Sebagai ganti perlindungan terhadap diri, anak cucu, harta kekayaan, dan pengikutnya Sophorinus juga menyatakan jaminannya. “kami tidak akan mendirikan monastery, gereja, atau tempat pertapaan baru dikota dan pinggiran kota kami. Kami juga akan menerima musafir Muslim kerumah kami dan memberi mereka makan dan tempat tinggal untuk tiga malam… kami tidak akan menggunakan ucapan selamat yang digunakan Muslim; kami tidak akan menjual minuman keras; kami tidak akan memasang salib … di jalan-jalan atau di pasar-pasar milik umat Islam”.  (lihat al-Tabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk; juga History of al-Tabari: The Caliphate of Umar b. al-Khattab Trans. Yohanan Fiedmann, Albany, 1992, p. 191).

Bukan hanya itu. Salah satu poin dalam Piagam itu melarang Yahudi masuk ke wilayah Jerussalem. Ini atas usulan Sophorinus. Namun Umar meminta ini dihapus dan  Sophorinus pun setuju. Umar lalu mengundang 70 keluarga Yahudi dari Tiberias untuk tinggal di Jerussalam dan mendirikan synagogue. Konon Umar bahkan mengajak Sophorinus membersihkan synagog yang penuh dengan sampah. Itulah toleransi Umar.

Piagam Umar ternyata terus dilaksanakan dari sau khalifah ke khalifah lainnya. Umat Islam tetap menjadi juru damai antara Yahudi  dan Kristen serta antara sekte-sekte dalam Kristen. Ceritanya, karena sering terjadi perselisihan antar sekte di gereja Holy Sepulchre tentara Islam diminta berjaga-jaga di dalam gereja. Sama seperti Umar, para tentara juru damai itu pun ditawari shalat dalam gereja dan juga menolak. Untuk praktisnya mereka shalat dimana Umar dulu shalat.

Di tempat itulah kemudian Salahuddin al-Ayyubi pada tahun 1193, membangun masjid permanen. Jadi masjid Umar inilah saksi toleransi Islam di Jerussalem.

Namun, kini Jerussalem yang damai tinggal cerita lama. Belum ada jalan kembali menjadi kota toleransi. Lebih-lebih makna toleransi seperti dulu sudah mati oleh liberalisasi. Umar maupun Sophorinus tidak mungkin akan dinobatkan menjadi “Bapak pluralisme”. Sebab menghormati agama orang lain kini tidak memenuhi syarat toleransi. Toleransi kini ditambah maknanya menjadi menghormati dan mengimani kebenaran agama lain. Tapi “ini salah” kata Muhammad Lagenhausen. Kenneth R. Samples, pun sama “Ini penghinaan terhadap klaim kebenaran Kristen”. Biang keladinya adalah humanis sekuler yang ateis dan paham pluralisme agama (The Challenge of Religious Pluralism, Christian Research Journal). Bagi saya toleransi model pluralisme ini adalah utopia keberagamaan liberal yang paling utopis.

Bukber dan Turunannya

Juni 19, 2017 § Tinggalkan komentar

Sumber: Burhan Abe’s Blog

Entah siapa yang pertama kali memulai kegiatan kumpul-kumpul saat berbuka puasa di bulan ramadhan. Agenda tahunan ini seolah menjadi menu wajib Ramadhan di samping kolak pisang dan sop buah. Momen buka bersama adalah saat-saat paling tepat untuk bersilaturahim dengan teman TK, SD, SMP, SMA, hingga kuliah yang sudah lama tidak berjumpa. Lebih-lebih untuk kelas menengah di kota-kota besar. Buka bersama adalah momen di mana kita bisa mengumpulkan rekanan dalam jumlah banyak selain saat menghadiri pernikahan dan acara kematian.

Saya memiliki pengalaman yang sangat panjang sebagai ‘penyelenggara’ acara buka puasa bersama. Sejak lulus SMA, secara naluri, saya terpanggil untuk mengumpulkan kembali teman-teman yang sudah merantau ke berbagai penjuru negeri. Tanpa bantuan Bulma dan Goku tentunya. Hampir setiap tahun buka puasa bersama ini diadakan demi menjumpai wajah-wajah yang tak bersua bertahun atau bahkan bertahun-tahun lamanya.

Berbekal pengalaman menjadi juru acara buka bersama teman SMA, saya mendapuk diri saya sendiri untuk mengambil peran yang sama bagi teman-teman alumni kampus. Hampir setiap tahun setelah wisuda, saya menginisiasi buka bersama dengan tujuan yang sama, menghimpun teman-teman angkatan yang tercecer.

Menyelenggarakan acara buka bersama tidak semudah membuka bungkus bumbu indomie dengan gunting. Menentukan jadwal, tempat makan, dan sekelumit hal lainnya yang terkait adalah kerumitan-kerumitan yang hadir manakala kalian harus berdiskusi dengan 40 kepala dan 40 mulut. Pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa buka puasa bersama hanya akan dihadiri oleh mereka yang benar-benar niat. Seniat orang-orang yang ribut mana yang benar apakah Gajah Mada atau Gaj Ahmada.

Delapan puluh persen dari rangkaian kegiatan buka bersama diisi oleh wacana. Saya ulangi, wa..ca..na. Semua orang yang diajak terlibat pasti berwacana, berargumen, berdebat tentang jadwal yang harus disepakati. Si A bisanya sabtu pekan pertama puasa, si B tidak bisa karena harus buka bersama bekas calon pacar. Si C usul hari minggu pekan ketiga ramadhan, si D sudah mudik ke Papua Nugini. Ribet. Ujung-ujungnya yang bisa dateng ya Lo lagi Lo lagi. Polanya sama setiap tahun. Keribetan yang HQQ (baca: Hakiki).

Meskipun begitu tetap saja momen buka bersama selalu dinanti. Puncak dari kebahagiaan saat mengumpulkan kembali wajah yang tak lama bertemu adalah kita bisa kembali mengingat gurat kekonyolan yang pernah ada. Atmosfir yang hadir menyajikan nuansa yang menghantarkan kembali ingatan kita pada masa-masa dahulu saat masih berseragam abu-abu, saat praktikum, ketika kumpul angkatan dan sebagainya. Situasi ini yang membuat orang-orang mau dateng ke buka bersama. Reuni sederhana untuk menertawakan masa lalu.

Hanya saja tidak jarang terdengar narasi bahwa ajang buka bersama dijadikan wahana untuk pamer. Segala sesuatu dipamerkan hanya demi menunjukkan eksistensi dan kemapanan. Untungnya, sejauh ini teman-teman saya tidak begitu.

Ada yang unik dari momen buka bersama. Ada hikmah mendalam yang bisa kita petik. Ini bukan cerita orisinil saya. Ia adalah buah pikir dari Ronal Surapraja yang dimuat di salah satu koran nasional. Jika buka bersama adalah perwujudan dari sebuah reuni dalam skala kecil, maka sejatinya banyak orang menyengaja diri untuk tampil dengan sebaik mungkin sebelum bertemu rekanan yang sudah lama tidak berjumpa. Bahkan tak jarang banyak orang yang menyombongkan diri, bertingkah pongah agar dianggap lebih. Jika untuk reuni bertemu manusia kita harus sesiap itu. Bagaimana dengan reuni yang nantinya lebih sebenar-benarnya?. Reuni dengan sanak saudara dalam kondisi yang jauh berbeda. Bukankah kita harus lebih siap ketimbang reuni buka bersama?.

Shaf Sholatmu, Deritaku

Juni 5, 2017 § Tinggalkan komentar

Sumber: ibtimes.co.uk

Memang, sebelum kita bermegah-megahan dalam beramal, yang lebih utama daripadanya adalah ilmu. Dan sebaik-baik penuntut ilmu adalah mereka yang mendahulukan adab atasnya. “Jadikan ilmu sebagai garamnya, dan adab itulah tepungnya,” Kata Imam Syafi’i menggambarkan “roti” penopang kehidupan. Seperti dikutip oleh Ustad Salim A Fillah dalam Sunnah Sedirham Syurga. Ia menambahkan bahwa Imam Bin Al-Mubarak berkata “Hampir-hampir adab itu senilai dua pertiga agama”.

Omong-omong tentang ilmu sebelum amal, ada sebuah pemandangan unik setiap kali saya melakukan solat berjamaah di mesjid. Entah mengapa, sebagian jamaah mesjid yang saya temui di banyak tempat enggan untuk merapatkan shaf dalam solat. Keengganan ini banyak didominasi oleh kaum tua dan terjadi lebih masif di mesjid-mesjid di sudut kota. Atau kita jamak mengejanya sebagai ‘mesjid kampung’. Orang-orang tua lebih sulit untuk diajak berdiskusi. Keengganan karena memandang remeh si muda ataupun kebiasaan yang sudah melekat seumur-umur menjadikan hal-hal kecil namun penting dalam sholat ini sering kali dilewatkan. Sebenarnya anak-anak pun banyak yang tidak merapatkan shaf namun keadaan ini tidak genting mengingat mereka lebih mudah diarahkan.

Beberapa referensi menyampaikan pentingnya merapatkan shaf dalam sholat berjamaah. Bahkan hampir tiap kali imam menyengaja diri untuk mengingatkan jamaah agar merapatkan shafnya. Tapi nampaknya beberapa orang lebih percaya diri untuk menjaga jarak dengan jamaah di sebelah kanan dan kiri.

Saya mengalami dua kejadian unik dan miris sehubungan dengan merapatkan shaf. Pernah suatu waktu di sebuah mesjid sekitaran Cisitu Bandung, di saat sedang merapihkan shaf solat magrib, salah seorang bapak paruh baya yang tepat berada di sebelah saya senantiasa menjauhi ujung jarinya setiap kali saya mencoba merapatkan. Berkali-kali saya coba merapatkan shaf, berkali-kali pula ia menjauh. Puncaknya adalah saat solat tengah berlangsung. Merasa situasi sudah aman terkendali dan kemungkinan bapak itu menjauh akan mengecil saat solat sudah dilakukan, saya pelan-pelan merapatkan kembali shaf. Ternyata apa? Sang bapak nampaknya gerah. Buktinya, kaki saya yang mencoba menggapai kaki sang bapak demi rapatnya shaf, diinjek tanpa malu-malu. Di saat bersamaan saya merasa ingin tertawa. Untung masih inget kalo sedang sholat.

“Luar biasa” pikir saya.

Setelah adegan penginjakan kaki tersebut, saya tidak lagi memaksa diri untuk merapatkan shaf. Saya paham bahwa tidak semua orang ingin didekati. Yang pacaran lama aja bisa putus apalagi yang baru pendekatan, iya kan? Loh…

Lepas sholat, sang bapak menghilang tanpa jejak. Saya pun tidak berencana lebih lanjut mencarinya untuk menjelaskan perihal duduk perkara kemestian merapatkan shaf dalam sholat.

Cerita kedua terjadi saat sholat, lagi-lagi Maghrib, di mesjid sekitaran Bintaro. Meskipun mesjid ini ramai namun orang-orang tua yang mengerjakan sholat di mesjid ini acap kali bersikap kurang ramah. Terutama pada anak muda. Saya merasa ketidaknyamanan berada di antara jamaah mesjid ini. Semoga ini hanya sekedar firasat akibat ketidaktahuan saya sahaja.

Mirip dengan kejadian pertama, bapak yang berada di kanan saya, sedari iqomah, ogah merapatkan shafnya. Saya membaui mulut, tapi tidak bau. Meskipun tidak wangi. Maklum saya kehabisan permen penyegar mulut. Ingin menyemprotkan parfum baju ke mulut, rasanya kurang etis. Mulut saya tidak terbuat dari Nylon. Ditambah belum adanya fatwa halal menyemprotkan minyak wangi ke dalam deretan gigi. Saya juga tidak mengenal bapak ini sebelumnya. Lantas mengapa ada sentimen sehingga kita harus jauh-jauhan, pak. Jangan khawatir, saya bukan admin Lambe Turah.

Dan terjadi lagi…

Niat baik saya merapatkan shaf demi kesempurnaan sholat, seperti yang kerap didengungkan oleh imam, disalahartikan oleh jamaah di sebelah saya. Beliau tanpa ragu menyemprot saya, tepat sebelum imam takbir, dengan memberikan penekanan bahwa ia tidak mau merapatkan shaf dalam barisan sholat. “Kena deh” pikir saya. Belum puas, entah disengaja atau tidak bapak tersebut menyikutkan tangannya yang bersedekap dengan keras ke tangan saya. Ebuset. Begini banget yah. Kzl.

Dua kali mendapatkan jurus ‘mematikan’ dari jamaah sholat membuat saya sedikit banyak ‘kapok’ untuk bersemangat merapatkan shaf. Saya tidak mau mengalami kejadian serupa untuk ketiga kalinya. Sejak saat itu, tiap kali bersebelahan dengan bapak paruh baya, saya mengira-ngira seberapa besar probabilitas kaki saya diinjek atau disemprot jika harus merapatkan shaf. Saya menjadi cuek. Jika mau merapatkan silahkan, jika tidak, saya merelakan saja. Ampuni Baim, Ya Allah.

Pengetahuan yang kurang, ukuran sajadah yang terlalu besar, keengganan belajar menjadi kunci ketidaktahuan kita dalam beribadah. Oleh sebab itulah agama dan tatacara ibadahnya bukan lah sekedar warisan. Jika agama adalah warisan, maka bentu-bentuk tata-cara peribadatannya mengikuti, patuh, taqlid pada orang-orang terdahulu. Padahal landasan ibadah adalah ilmu bukan kebiasaan orang-orang terdahulu yang diwarisi.

Mari kita merapatkan shaf dalam sholat, ya.

سوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَفِّ مِنْ تَماَمِ الصَّلَاةِ

#34 Ragil Erna Liya

Mei 16, 2017 § Tinggalkan komentar

Tulisan ini saya awali dengan apresiasi terhadap  rekan-rekan angkatan saya selama menempuh sekolah menengah atas. Angkatan kami berhasil menorehkan prestasi cukup luar biasa dalam konteks pendidikan lanjutan. Terutama keluaran dari kelas tempat saya bermukim selama tiga tahun. Hampir semua universitas bergengsi terwakili. Kiprah mereka di dunia kerja pun menyisakan decak kagum yang tak putus.

Kegemilangan prestasi tidak membuat satu pun temen-temen SMA saya ini menjadi pongah. Mereka tetap menjadi pribadi yang sama dibandingkan dengan 10 tahun yang lalu. Tetap hangat, bersahabat, garing, dan membuat waktu berhenti berdetak seperkian detik saat canda tawa mulai terucap. Momen-momen berkumpul bersama adalah atmosfer yang selalu dinanti meskipun hanya bersua setaun sekali.

Waktu berpacu tanpa bisa ditahan-tahan. Tak terasa temen-temen SMA yang dulu begitu culun kini menjelma menjadi manusia-manusia yang lebih dewasa. Usia nyaris kepala tiga membuat kami harus mengenang sisa-sisa memori SMA dengan kerangka masa kini.

Ragil Erna Liya. Temen sejawat satu ini merengkuh nomor urutan pernikahan ke -34 dari 45 siswa secara keseluruhan. Ragil dalam Bahasa Jawa berarti anak terakhir atau bungsu. Saya baru sadar kenyataan ini setelah bertahun-tahun meninggalkan bangku SMA. Saya, awalnya, secara acak berpikir bahwa ra-gil adalah singkatan dari oRAng GILa. . . Haha. Bercanda ya, bu.

Tidak banyak momen SMA yang saya inget tentang Ragil. Karena meskipun tiga tahun satu kelas dan berada di satu wadah organisasi yang sama, interaksi kami sangat terbatas. Ragil lebih banyak bergumul dengan rekan-rekan akhawatnya. Lebih-lebih dengan Faiza yang tiga tahun menjadi teman satu bangku atau dengan Desni, teman kelas yang juga merupakan sang Girl Next Door. Menurut Desni, sejak masa pra sekolah dasar, mereka berdua sudah sering kongkow bareng. Kebersamaan mereka dimulai sejak jam 6 pagi saat berangkat ke sekolah lalu dilanjutkan 7 jam bersama-sama di kelas, dan masih bersambung dengan main karet sepulangnya. Jadi, jika kalian bosen melihat pasangan di rumah, coba bandingkan dengan kebosanan yang dialami mereka berdua.

Saya masih mengingat dengan baik bagaimana transformasi siswi temen kelas saya dahulu. Sedari awal masuk SMA, mereka dengan penuh kesadaran menjemput hidayah untuk mengenakan hijab. Satu per satu, secara perlahan mengganti pakaian mereka dengan busana muslimah. Saya yang terpesona melihat pemandangan demikian, nyaris saja secara sukarela mengenakan hijab yang sama sebagai bentuk dukungan. Saya terinsiprasi dari Bunda Dorce.

Ragil adalah sosok yang tidak banyak bicara. Tenang. Dan terlihat sangat matang dibandingkan temen-temen yang lain. Ia juga sosok yang sangat ramah. Tidak salah jika ia memiliki teman yang banyak karena Ragil kerap berlatih keras dan makan So N*ice…  Apeeeeu.

Tapi ia bisa menjadi sangat jutek manakala tidak suka pada suatu hal. Dan kejutekan itu ditunjukkan secara terang benderang. Seterang kasih ibu. Begitu menurut penjelasan sumber referensi saya. Sebut saja namanya Kenanga. Ragil juga merupakan sosok yang sangat ramah. Sumber saya menambahkan. Sifat ramah ini ditambah dengan kecintaan yang sangat besar pada anak-anak dan remaja. Ragil sepertinya adalah fans berat Kak Seto. Kecintaan tersebut berwujud pada aktifitas mengajar iqro bagi anak-anak di lingkungan rumahnya.

Meskipun terkenal pendiem, Ragil sangat aktif dalam mengikuti berbagai kegiatan. Mulai dari pramuka, kerohanian islam, balet, ikebana, parkour hingga membina remaja mesjid. Menjadi pengurus ikatan remaja mesjid bukanlah aktifitas sederhana. Di tengah arus modernisasi yang melaju dengan cepat, membina remaja-remaja agar memiliki pribadi yang tangguh dan kokoh merupakan agenda penting agar tersiapkan generasi bangsa yang cakap. Dan para pembina remaja mesjid ini melakukannya dengan sukarela. Tanpa iming-iming pundi berlimpah.

Masih dari Kenanga, Ragil merupakan sosok pencinta Boliwud garis keras. Alias Die-hard. Ia kenal artis india mulai dari era Mithun Chakraborty, Shahrukh Hhan, Hrithik Roshan, Raam Punjabi dan lainnya. Sungguh, saya bener-bener baru tahu informasi ini. Makanya saya sering heran mengapa saat SMA dulu Ragil sangat senang berada dekat dengan pohon atau pilar bangunan. Ternyata ini jawabannya.

Kecintaannya pada Boliwud sudah pada maqom ma’rifat. Setiap kali Kenanga singgah di rumah Ragil, musik Boliwud sudah pasti mengalir dengan merdu. Kenanga sampai harus menahan Ragil agar tidak ikut bergoyang dan mendatangi pohon sekonyong-konyong.

Seandainya saja saya tahu sedari awal maka seyogyanya saya akan menyarankan Ragil untuk melanjutkan kuliah di Mumbai atau New Delhi. Namun ternyata Ragil memilih melanjutkan kuliah di jurusan Teknologi Hasil Pertanian Universitas Sriwijaya.

Mungkin kalian berpikir lulus kuliah Ragil akan bekerja di ladang atau di laboratorium demi menciptakan palawija berbuah semangka. Jika kalian berpikir demikian, kalian salah. Kecintaan yang begitu besar pada anak-anak melabuhkannya pada pekerjaan yang membuatnya membersamai anak-anak setiap harinya. Bukan, bukan sebagai badut Dufan. Ragil kini menjelma menjadi guru di salah satu sekolah dasar di Palembang.

Tanggal 31 Mei Ragil secara sah disunting oleh seorang pria asal Karawang. Dua hari setelahnya walimatul ‘ursy dilaksanakan. Dan seperti yang sudah-sudah, saya kembali tidak bisa menghadiri secara fisik pernikahan temen-temen terbaik saya ini. Ada getir yang tertahan akibat keterbatasan. Tapi semoga doa saya dan doa rekan-rekan lainnya terijabah. Semoga pernikahan kalian berbuah keberkahan, Ragil dan suami.

Selamat atas gelar ke-34 nya 🙂

Capital Parenting

April 26, 2017 § Tinggalkan komentar

Ilustrasi: apa.org

Beberapa hari yang lalu istri gue mengabarkan bahwa Bu Een, ART kami, tengah mengalami masalah keluarga sehingga tidak bisa masuk kerja selama dua hari. Ibu ini diancam dibunuh (iya, dibunuh) oleh anak sulungnya akibat keengganan menjual rumah yang ia miliki. Sang anak melakukan hal demikian agar mendapatkan bagian dari hasil jual rumah tersebut. Karena takut, Bu Een dengan terpaksa menjual rumahnya agar terbebas dari bayang-bayang sang anak yang sudah kalap tak karuan.

Beberapa waktu sebelumnya, media sosial dan media cetak riuh akibat kisah tentang Ibu Rokayah  yang dituntut 1,8 milyar oleh sang anak karena perkara hutang. Sang anak secara tega mengekskalasi urusan utang-piutang ke ranah hukum. Sebuah tindakan amoral yang mengundang cacian dan sumpah serapah dari banyak orang. Bagaimana mungkin ada anak yang bersengketa perihal uang dan menjadikan sang ibu sebagai pesakitan.

Dua kejadian di atas bener-bener berhasil membuat geleng kepala. Jika dulu kita akrab dengan legenda Malin Kundang yang durhaka akibat ketakutan akan kehilangan kekuasaan dan harta maka kini legenda tersebut tidak lagi sebagai dongeng pengantar tidur. Anak-anak durhaka itu ada dan hidup dengan sebenar-benarnya. Anak-anak ini  dengan teganya bertindak secara keji karena perkara pundi-pundi. Apa yang salah sehingga perkara ikatan kuat ibu-anak dapat putus manakalah berbenturan dengan kapital, modal, uang dan materi sejenis. Sepertinya unsur-unsur kapital tidak hanya menggerus ideologi negara namun juga menular pada masyarakatnya.

Tetiba saja gue terpikir ada yang salah dengan kedua anak dalam paragraf awal tulisan ini. Perilaku dan karakter anak sangat dipengaruhi oleh pola pendidikan dan lingkungan tempat ia berinteraksi dan bersosialisasi. Mengacu pada ulasan J.J Rosseau dalam Emily bahwasanya seorang anak itu bagai kertas putih. Maka faktor eksternal yang membentuk karakter mereka. Meskipun gue tidak sepenuhnya percaya dengan apa yang dikatakan Rosseau. Ia nampaknya terlalu pandai berteori tentang filosofi pendidikan anak hingga menelantarkan lima anak kandungnya sendiri hasil hubungan gelap dengan Theressa Lavasseur.

Faktor eksternal yang membentuk karakter secara dominan dipengaruhi pola pendidikan yang diterapkan serta lingkungan tempat sang anak tumbuh. Dengan melupakan sejenak faktor lingkungan, saya tertarik untuk mengelaborasi kaitan pola parenting dalam pembentukan karakter.

Dewasa ini, isu parenting menjadi begitu seksi. Begitu banyak kenalan di dunia maya membagikan sekelumit informasi dan teori tentangnya. Parenting A, B, C dan derivasinya yang bervariasi.

Sehubungan dengan kegaduhan pada cerita di atas, saya terpikir akan sebuah model parenting baru yang membentuk anak-anak dengan mental materialistik. Menggunakan metode cocoklogi, akhirnya tercetuslah ide tentang ‘Capital Parenting’. Entah. Tiba-tiba saja saya terpikir untuk merumuskan hipotesis tentang Capital Parenting sebagai upaya mengawinkan pola parenting dengan nilai-nilai kapitalisme. Kapitalisme sebagai sebuah paham atau isme menjadikan uang dan privatisasi sebagai basis.

Saya tidak menemukan tautan ataupun keyword tentang capital parenting yang ter-indeks di google. Mungkin penggunaan capital di depan parenting terlalu lancang dan tidak tepat sasaran. Hanya saja untuk memberikan pendekatan pada pewarisan nilai kecintaan berlebih terhadap materi dan uang saya merasa ada kecocokan pengunaan terminologi tersebut.

Dalam kasus Bu Een ataupun Bu Rokayah kita bisa saja menyalahkan sang anak karena bertindak di luar kewajaran. Namun kita juga tidak salah jika harus mengelaborasi peran orang tua dalam menanamkan nilai-nilai kapitalisme liar yang terjewantah dan mendarah daging. Saya tidak men-justifikasi hanya saja bukan tidak mungkin anak tumbuh menjadi begitu lucah, mengkomparasi kasih orang tua terhadap nominal akibat pola pendidikan yang salah.

Bagi setiap orang tua yang selalu mengimingi anak dengan harta, menstandardisasi nilai dengan uang. mereplika fungsi kasih dengan benda, akan membentuk karakter kebendaan yang melekat begitu kuat. Dan mengutamakan harta ketimbang ibu yang melahirkan bisa jadi merupakan puncak pengejewantahan nilai-nilai materialisme yang paling brutal.

Pola-pola parenting dengan menjadikan kapitalisme sebagai garda depan akan mencetak manusia yang menghalalkan segala cara agar kantong-kantong mereka terpenuhi. Bisa jadi para koruptor adalah buah didikan capital parenting.

Children see children do. Anak-anak selalu mengimitasi perilaku orang-orang terdekat. Orang tua yang senantiasa memandang rendah orang lain karena status sosial, menghambakan diri pada materi, berorientasi pada uang berpotensi menghasilkan manusia se-level anaknya Bu Rokayah dan Bu Een.

Sejenak mari kita menengok kisah menyejarah dalam Al-Quran. Lukmanul Hakim namanya. Ia selalu disebut ketika membahas hubungan orang tua dan anak. Lukma dikisahkan meninggalkan wasiat-wasiat kebaikan. Di antara nasihat dan hikmah pada anaknya adalah jangan syirik, berbuat baik kepada orang tua, dirikan sholat dan lainnya. Jika orang tua senantiasa mengajarkan serta mewarisi nilai-nilai, adab serta akhlak yang menjauhi unsur-unsur kapitala dan segala penghambaan kepada dunia maka niscaya kisah-kisah anak yang durhaka karena unsur uang tidak akan ada.

Jadi, masih mau menjalankan Capital Parenting?

%d blogger menyukai ini: