Selamat Empat Bulanan, Alby

Alby

Halo Alby sayang

Assalamu’alaikum..

Lagi-lagi ayah mengingkari janji. Tulisan tentangmu yang seharusnya termuat tanggal delapanbelas tiap bulannya harus terpaksa mundur karena kesibukan ayah di kantor. Sepertinya ayah harus meminta kelonggaran agar tulisan tentang Alby tidak mesti termuat pada tanggal yang sama. Ayah khawatir tidak bisa menjaga konsistensi.

Nak, kini usiamu tengah memasuki bulan keempat. Tidak berasa memang. Rasanya baru kemarin bundamu merasakan kontraksi di perutnya. Tanpa terasa kau tumbuh dengan cepat meskipun saat ini tengkurep adalah masalah utamamu. Kau mirip ayah. Karena ayah juga mengalami kondisi yang sama saat seusia engkau. Tengkurep itu tidak mudah, jenderal.

Beberapa hari yang lalu ayah menyaksikan video-video yang ayah dan bunda rekam tiap minggunya. Menyimak perubahan-perubahan yang kau alami dari waktu ke waktu memaksa otot-otot di sekitar mulut ayah menyungging senyum dengan sendirinya. Semakin dewasa kau nampak semakin tampan.

Engkau semakin lancar berbicara. Di antaranya yang jelas terdengar adalah saat kau bergumam ‘eneng’ atau semacamnya setiap saat melihat sang bunda. Di lain waktu kau berkata ‘nde’ guna memanggil tantemu yang lazim kami panggil ‘dede’. Dan yang paling membuat ayah kaget adalah saat engkau berkata ‘mbing’ manakala ayah dan bunda berseru tentang kambing saat tengah menonton salah satu acara di televisi. Kami tak tahu apakah engkau benar-benar berkata seolah mengerti bahasa orang dewasa. Atau mungkin kau hanya berucap apa-apa yang mudah. Tapi apapun itu, kata-katamu menciptakan keriuhan sendiri di dalam rumah. Kami menanti-nanti gumaman seperti apa lagi yang akan diucapkan dari bibir mungilmu.

Sekitar dua minggu yang lalu engkau sakit pilek dan batuk, sayang. Kami khawatir dengan kondisimu yang terlihat sangat tidak nyaman. Engkau bahkan tidak bisa minum seraya tidur. bunda lah yang dengan sigap menyusui sambil menggendong engkau di kala jangkrik tengah bersenandung pilu. Bundamu memang hebat, bukan?

Kami tidak tega tiap kali mendengar suara dengkuranmu saat terlelap tidur. Seolah ada sesuatu yang mengganjal di hidung atau paru-paru. Ayah pun mencoba mencari tahu lebih banyak tentang itu. Setelah berdiskusi dengan mereka yang juga memiliki bayi ternyata kondisi tersebut adalah hal yang normal dialami bayi 3-4 bulan. Saat engkau baru lahir, masih terdapat kotoran dari rahim yang masih menyumbat di dalam saluran pernapasan. Kau harus lebih rajin minum ASI dan dijemur di sinar matahari agar segera sembuh. Seperti itulah teman kantor ayah memberikan informasi.

Tak berapa lama kemudian bundamu mengatakan bahwa fesesmu berwarna hijau dan sesekali kemerahan. Kami pun panik dan segera berkonsultasi pada dokter anak. Pak dokter berkata bahwa engkau mengalami alergi dari makanan yang dikonsumsi bunda. Kemungkinan besar alergi susu sapi. Bukan sekali ini saja kau alergi dengan makanan, nak. Sebelumnya kulit mukamu mendadak merah karena alergi terhadap kacang.

Nak, kelak kau akan tahu nak bahwa memiliki bayi adalah saat-saat dimana engkau menjadi begitu sedih tatkala sang buah hati sakit ataupun terluka meskipun kecil.

Bulan ini engkau juga akan segera divaksin. Saat engkau besar, mungkin perdebatan seputar boleh tidaknya vaksin akan terus bergulir. Masing-masing bertahan dengan pendapatnya. Ayah dan bunda ingin bersikap moderat terhadap isu ini. Beberapa ulama kontemporer memperbolehkan vaksin karenanya kami mengikuti fatwa mereka. Kelak jika kau memiliki pendapat lain silahkan saja, nak. Di era saat ini, orang-orang bisa dengan mudahnya menjatuhkan hanya karena perbedaan pendapat di antara mereka. Yang terpenting adalah bagaimana kita memiliki rujukan terhadap hal-hal yang khilafiyah dan tetap saling menghargai pendapat. Itulah kuncinya.

Selamat empat bulan sayang. Semoga engkau tumbuh menjadi anak yang shalih dan menjadi seorang penghapal Quran.

The ‘A’ Team

IMG-20150501-WA002718 April 2015 adalah hari yang spesial buat keluarga gue karena pada tanggal tersebut ada dua momen yang kami rayakan yaitu satu tahun pernikahan dan juga 3 bulan-an Alby. Satu tahun bisa dikatakan sebagai usia yang masih sangat belia untuk ukuran sebuah rumah tangga. Bahkan, orang-orang terdahulu berani menjamin bahwa setahun pertama menikah adalah fasa-fasa termudah yang dilewati oleh suami-istri. Ke depannya tantangan akan jauh lebih berat guna mengarahkan bahtera agar tidak karam terhantam karang.

Belum banyak hal yang bisa digambarkan atas periode 12 bulan setelah ijab qabul. Terlalu dini jika kita mencoba mengekstrapolasi keharmonisan rumah tangga hanya dengan mengambil kepingan-kepingan dari satu tahun pertama puzzle yang bernama pernikahan. Menikah bukan data-data eksakta yang bisa ditentukan dengan memasukkan variabel A dan B. Permasalahan tersulit manusia dari zaman dahulu kala, selain nasib jomblo ngenes (jones), adalah permasalahan yang ada dalam pernikahan sebab terdapat dua kepala yang isi dan pernak pernik kehidupan serta latar belakangnya bisa jadi benar-benar berbeda. Tiap-tiap diri punya ego. Maka ketika Qabil membunuh Habil, itu pun didasari atas sentimental untuk berpasang-pasangan. Qabil tidak rela menikahi Labudah.

Setidaknya setahun pernikahan bisa menjadi sedikit gambaran seperti apa wajah keutuhan sebuah pasangan. Buat gue pribadi, satu tahun terakhir adalah satu tahun terbaik yang pernah gue alami. Menikah dan mempunyai seorang bayi yang lucu benar-benar melengkapi episode kehidupan gue.

Sejauh ini, gue dan istri Alhamdulillah masih menjalani segala sesuatunya dengan baik dan lancar. Belum ada riak maupun onak yang benar-benar tajam yang mencederai keharmonisan keluarga kami. Kunci terbaik dalam mengatasi permasalahan rumah tangga adalah menahan egoisme dan menjalin komunikasi aktif serta selalu berprasangka baik terhadap pasangan. Selain kemampuan untuk meredam ego dan memformulasikan visi bersama, hal terpenting yang melandasi sebuah mahligai Indah rumah tangga adalah menikahi wanita shalihah. Karena syarat tersebut adalah langkah pertama yang sangat mungkin menentukan langkah-langkah berikutnya. Istri shalihah adalah jaminan keamanan, rasa nyaman dan cinta dalam keluarga. Benarlah jika Rasul menekankan agama sebagai dasar seseorang sebelum memilih dan memilah pasangan hidup.

Setelah satu tahun pernikahan, keluarga kami semakin kental dengan nuansa huruf pertama abjad latin. Dengan inisial huruf ‘A’ keluarga ini akan menjadi The ‘A’ team. Kelak anak kedua, tiga dan seterusnya akan mewarisi huruf ‘A’ di depan namanya.

A pertama adalah Annisa Martina. Setelah satu tahun, gue makin mengenal karakter doi. Gue dan istri punya banyak kesamaan. Kami sama-sama memiliki golongan darah O, kami seneng ngomong, kami berdua doyan makan dan yang paling penting adalah kami sama-sama bernapas. Meskipun begitu kami juga memiliki banyak perbedaan. Selain beda kelamin, istri gue cenderung tidak terlalu aktif di sosial media jika dibandingkan dengan gue yang setiap menit mengakses situs-situs facebook, instagram dkk. Keadaan tersebut sebenarnya menjadi anugerah tersendiri. Istri gue bukanlah orang yang suka curhat ini-itu di facebook. Atau pasang foto mesra-mesraan. Ia juga tidak sudi membuat status dan semua hal yang terjadi di dinding laman web besutan Zuckerberg. 008968 01 4R

Gue seneng nonton, suka update hal-hal yang kekinian, seneng baca buku-buku tentang pemikiran, ide dan pengetahuan. Sementara istri gue lebih seneng baca harga pa*mpers yang didiskon di Ele*nia. Hal itu sangat membantu masalah keuangan keluarga. Rasanya memang tidak perlu memaksakan kepada pasangan apa yang kita suka karena mereka memiliki hobi dan kecintaannya sendiri. Tidak perlu menjadi orang lain untuk menunjukkan rasa cinta.

Gue akui bahwa istri gue punya banyak kekuarangan tapi rasanya kelebihannya jauh lebih banyak. Salah satu kelebihan tersebut adalah dia mau menikah sama gue yang agak weird. Kalo kita berfokus pada kekurangan rasanya kita tidak akan pernah menemukan kebahagiaan dalam berumah tangga. Pasangan yang baik adalah mereka yang mendukung satu sama lain untuk berkembang dengan apa yang mereka suka dan menjadi diri mereka. Rasul pun adu lari dengan Aisyah, menggendong Aisyah di tengah keramaian. Arggh, kenapa gue jadi berasa Mario Teguh gini. Gue keinget dengan caption di instagram ‘we come to love not by finding a perfect person, but by learning to see an imperfect person perfectly’. Widih, gue mesra banget ya yang. Tolong masakin semur ayam ya sehabis baca tulisan ini :D.

A yang kedua adalah Alby Shofwan Moissani. Tepat di hari yang sama, Alby merayakan usia ketiga bulannya. Ia kini mampu berceloteh banyak hal. Mengajak kami berdiskusi seolah kami mengerti. Kami berharap Alby dapat menjadi anak yang sholeh, berbakti dan menjadi panutan bagi adik-adiknya kelak. 008968 02 4R

Memiliki bayi adalah pengalaman yang luar biasa. Saat melihat senyumnya, tawanya, tangisnya adalah momen-momen terbaik yang bisa menghidupkan hari. Setiap saat gue menanti hal-hal baru apa yang ia lakukan. Detik-detik pertama kali mendengar Alby berceloteh membuat gue meleleh. Belom lagi saat melihat ia belajar tengkurep, duduk di pangkuan emaknya, kehebohan saat mandi. Gue merasa bingung dengan negara-negara dengan angka kelahiran yang rendah. Mereka seolah terbebani dengan kehadiran seorang bayi. Mungkin dalam benak mereka memiliki bayi berarti merelakan diri untuk mengurus makhluk hidup yang lemah yang hanya bisa menangis dan merengek. Itu benar. Namun membersamai tumbuh kembang sang anak jauh melewati kelelahan fisik saat mengurus mereka. Gue yakin para ibu sedunia sepakat dengan hal ini.

Memiliki bayi juga berarti mencurahkan semua perhatian dan fokus pada mereka. Saat mereka sakit maka kita juga akan merasa sakit. Sekarang gue mengerti mengapa Lara dan Zor-el menyelamatkan Kal-el dari kehancuran planetnya. Gue juga mengerti pedihnya perasaan orang tua Son goku saat merelakan anaknya pergi ke bumi sebelum Planet Saiya meledak. Anakku Alby, maaf jika ayah terlalu banyak menonton kartun :D.

A terakhir tentulah gue sendiri, Andri Wijaya alias Andrew alias Jay atau Jayho. Gue sengaja menulis kisah gue di akhir cerita karena gue sangat mengidolakan Inspektur Vijay yang selalu hadir di saat penjahat sudah kalah. Sudah, tentang gue tidak usah banyak dibahas. Gue lebih enak diajak cerita daripada dibaca kisahnya. Tsah!.

Setelah satu tahun pernikahan, banyak rintangan yang akan terjadi ke depannya. Banyak ujian yang siap menanti. Namun semoga setiap permasalahan dapat diselesaikan. Karena menikah itu sebenarnya adalah seni untuk mencari solusi dalam setiap ruangan yang berisi permasalahan dan tantangan.

Penaklukan Konstatinopel & Kabar Gembira Nabi

tanduk-emas

PROLOG

Kekaisaran Romawi bermula pada tahun 27 SM (Sebelum Masehi). Pada tahun 330 Masehi, Kekaisaran Romawi terpecah dua. Romawi Barat bertuturkan bahasa Latin dan kemudian mengikuti Katolik Roma. Kekaisaran Romawi Barat mengalami perpecahan dan keruntuhan pada abad ke-5 atau tahun 476 M.

Sedang Kekaisaran Romawi Timur, dengan penguasa pertama Kaisar Konstantinus I, bertuturkan bahasa Yunani dan kemudian mengikuti Gereja Ortodoks Timur dan Monofisitisme dengan ibukota Bizantium (maka disebut juga Kekaisaran Bizantium). Bizantium kemudian dirubah nama menjadi Konstantinopel untuk untuk menghormati sang Kaisar. Kekaisaran Romawi Timur berkembang dan maju hingga kira-kira seribu tahun sampai akhirnya ditaklukan oleh Kekhalifahan Turki Utsmaniyah pada tahun 1453 pada masa Kaisar Konstantinus XI. Selama sebagian besar masa keberadaannya, Kekaisaran Romawi Timur merupakan kekuatan ekonomi, budaya, dan militer yang paling berpengaruh di Eropa.

PENAKLUKAN KONSTANTINOPEL

Rasulullah SAW telah memberikan kabar gembira akan ‘Penaklukan Konstantinopel’.

Beliau bersabda: “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335].

Dari Abu Qubail berkata: Ketika kita sedang bersama Abdullah bin Amr bin al-Ash, dia ditanya: Kota manakah yang akan dibuka terlebih dahulu; Konstantinopel atau Rumiyah (Roma)? Abdullah kemudian meminta diambilkan kotak dengan lingkaran-lingkaran miliknya. Kemudian dia mengeluarkan kitab. Abdullah berkata: Ketika kita sedang menulis di sekitar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau ditanya: Dua kota ini manakah yang dibuka lebih dulu: Konstantinopel atau Rumiyah? Rasul menjawab, “Kota Heraklius dibuka lebih dahulu.” Yaitu: Konstantinopel.(HR. Ahmad, ad-Darimi, Ibnu Abi Syaibah dan al-Hakim)

Hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim. Adz-Dzahabi sepakat dengan al-Hakim. Sementara Abdul Ghani al-Maqdisi berkata: Hadits ini hasan sanadnya. Al-Albani sependapat dengan al-Hakim dan adz-Dzahabi bahwa hadits ini shahih. (Lihat al-Silsilah al-Shahihah 1/3, MS).

Rasulullah telah mengucapkan kata-kata itu sejak 850 tahun sebelum pembebasan Konstantinopel terjadi.

Ada dua kota yang disebut dalam Nubuwwat Nabi di hadits tersebut:

1. Konstantinopel

Kota yang hari ini dikenal dengan nama Istambul (awalnya dinamai ISLAMBUL/Kota Islam oleh Al-Fatih), Turki. Dulunya berada di bawah kekuasaan Byzantium yang beragama Kristen Ortodoks. Tahun 857 H/1453 M, kota dengan Benteng legendaris tak tertembus akhirnya runtuh di tangan Sultan Muhammad al-Fatih.

2. Rumiyah

Dalam kitab Mu’jam al-Buldan dijelaskan bahwa Rumiyah yang dimaksud adalah ibukota Italia hari ini, yaitu Roma. Para ulama termasuk Syekh al-Albani pun menukil pendapat ini dalam kitabnya al-Silsilah al-Ahadits al-Shahihah.

MUHAMMAD AL-FATIH ‘SANG PENAKLUK’

Benteng Konstaninopel sudah berusaha di taklukaan sejak sekitar 850 tahun sebelumnya, mulai dari Zaid bin Muawiyah. Akhirnya Konstantinopel ditaklukkan oleh Muhammad Al-Fatih pada 1453 M.

Sultan Utsmaniyah yang berumur 21 tahun ini memimpin penaklukan Konstantinopel melawan tentara bertahan yang dikomandoi oleh Kaisar Bizantium Konstantinus XI. Pengepungan berlangsung dari Jumat, 6 April 1453 sampai Selasa, 29 Mei 1453 (berdasarkan Kalender Julian).

Penaklukan Konstantinopel menandai berakhirnya Kekaisaran Romawi, sebuah negara yang telah berlangsung selama hampir 1.500 tahun, itu juga merupakan pukulan besar untuk Kristen. Intelektual Yunani dan non-Yunani beberapa meninggalkan kota Konstantinopel sebelum dan sesudah pengepungan, migrasi terutama ke Italia. Intelktual Yunani inilah membantu penanda dimulainya masa Renaisans di dunia barat.

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari Muhammad al Fatih?

1) Muhammad Al Fatih merupakan pemuda berusia kurang dari 21 tahun saat penaklukkan.

2) Pemuda yang sangat percaya dengan bisyaroh Rasulullah bahwa sebaik-baik pemimpin ialah yang memimpin  penaklukan Konstantinopel dan Roma.

3) Pemuda yang melayakkan dirinya setiap harinya di siang hari meningkatkan kapasitasnya dan di malam hari bertaqarub terus dengan ilahi. Tercatat, Al Fatih sejak baligh hingga wafat selalu menegakkan Tahajud dan sholat jamaah.

4) Dia mengumpulkan pasukan-pasukan terbaik di masa itu, yaitu pasukan Inkisariyah.

5) Dia menguasai geopolitik dengan mendirikan dua benteng di sekitar Konstantinopel sehingga memutus logistik Konstantinopel dari Eropa.

6) Al Fatih mempersiapannya dengan membangun benteng sepanjang 30 ribu km2 dalam waktu kurang dari 4 bulan. Ini yang membedakan orang serius dengan yang tidak serius.

7) Menyiapkan meriam raksasa yang terbesar di masa itu. Dia kerahkan hal-hal yang baru di masa itu dengan membariskan 250 ribu pasukan (2x lipat jumlah pasukan Alexander Agung).

8) Al Fatih mengerahkan segala cara, sisi darat dan laut

9) Memindahkan 70 kapal melewati bukit dalam waktu SEMALAM. HAL FENOMENAL dan menjadi horor bagi penduduk Konstantinopel.

10) Mendirikan menara-menara bergerak.

11) Membangun terowongan-terowong yang menggetarkan penduduk Konstantinopel.

Al Fatih di bimbang langsung dengan gurunya, Syaikh Syamsudin, sehingga saaat penaklukan Konstantinopel, Al Fatih satu-satunya orang yang tidak pernah meninggalkan sholat tahajud, tidak pernah masbuq sholat berjamaah, tidak pernah meninggalkan sholat dhuha. Ia satu-satunya.

Pelajaran berharga buat kita semua adalah modal keimanan/ketakwaan tidak cukup untuk menaklukkan dunia ini, namun juga menguasai hal-hal yang teknis secara expert, sangat serius untuk mempersiapkan hal itu semua.

Muhammad Al Fatih menguasai 7 bahasa, hafal peta semua kerajaan-kerajaan di Eropa beserta sejarah mereka semua, belajar siroh nabawiyah dan sejarah-sejarah generasi shahabat dan generasi selanjutnya,  mengumpulkan pasukan terbaik (pasukan elit inkisariyah), melatih keimanan pasukannya.

Sumber : PKSPiyungan

Jihad

Pada 11 September 2001 dua pesawat penumpang menabrak dua menara kembar World Trade Center di Amerika Serikat. Diduga pelakunya adalah Muslim, teroris Muslim, terutama Usama bin Ladin. Setelah itu beberapa Negara Islam dicurigai sebagai sumber terorisme. Tak ayal lagi Negara Afghanistan dan Irak diperangi dan dikuasai hingga kini.

Media Barat secara latah segera mengaitkan peristiwa ini dengan jihad umat Islam. Bush pun juga salah sangka dan teriak “This is new crusade” (ini perang salib baru).  Meski dianggap salah redaksi lalu dikoreksi, orang tahu apa yang dipikirkannya.

Jack Nelson-Pallmeyer,  menulis “Is Religion Killing Us?” Menuduh semua agama sebagai sumber peperangan dan malapetaka. Charles Kimbal, dalam bukunya “When Religion Becomes Evil” (Ketika Agama Menjadi Jahat) membuat lima kriteria agama jahat dan salah satunya adalah yang mendeklarasikan “jihad”. Menurutnya “Declaring war “holy” is a sure sign of corrupt religion”.

Ringkasnya perang atas nama agama di zaman sekarang ini “haram”. Tapi perang atas nama kemanusiaan boleh, meskipun lebih banyak membunuh dan mengorbankan nyawa.

Banyak terminologi perang dalam al-Qur’an. Kata netralnya adalah qital, yaitu perang dengan menggunakan senjata menghadapi musuh. Jika qital itu diniatkan untuk membela kebenaran agama Allah maka ia disebut jihad. Perang orang kafir disebut juga qital, tapi bukan jihad karena untuk membela tiran atau taghut (al-Nisa’, 76).

Istilah lain dari perang adalah “harb”. Harb adalah peperangan dalam arti umum disebut sebanyak 6 kali dalam al-Qur’an. Harb digunakan untuk perang Arab Jahiliyah, seperti perang al-Basus. Mungkin Perang Dunia I dan II lebih cocok disebut harb. Boleh jadi dalam harb zaman modern musuh tidak saling berhadapan. Karena makna negatifnya maka al-Qur’an tidak pernah menggunakan istilah harb untuk qital yang berarti jihad.

Harb lebih bermakna sekuler dan hanya untuk kepentingan dunia seperti untuk kekuasaan, ekonomi, politik, memperebutkan harta karun atau sumber alam dsb. Maka slogan para demonstran di Amerika yang berbunyi No War for Oil, tidak bisa diganti menjadi No Jihad for Oil (La Jihada lil Bitrul). Yang tepat La harba lil bitrul.

Makna lain dari perang adalah ghazwah yaitu qital umat Islam yang disertai Nabi. Sedangkan yang tidak disertai beliau disebut sariyyah. Makna-makna itu semua menunjukkan bahwa perang dalam Islam ada aturan dan akhlaqnya.

Meskipun peperangan mewarnai sejarah Islam, tapi Islam sangat membenci peperangan. Allah pun menghindarkan orang-orang beriman dari peperangan (al-Ahzab : 25). Ini tidak sebanding misalnya dengan “hobbi” perang bangsa Yunani yang mengagungkan Ares, sang dewa perang. Orang Romawi mensucikan Tuhan perang yang disebut Mars.

Apakah semua perang itu berarti jihad? Dan apakah jihad itu hanya berarti perang? Dalam al-Qur’an kata jihad disebut hanya sebanyak 34 kali. Arti “jihad” tidak seperti yang difahami orang Barat. Tidak bisa pula diterjemahkan menjadi Holy War. Para ulama mengartikan jihad sebagai mencurahkan kemampuan, tenaga dan usaha untuk menyebarkan dan membela dakwah Islam serta mengalahkan (musuh). Bisa juga berarti menanggung kesulitan.

Jihad tidak selalu berarti perang. al-Raghib al-Isfahani memahami jihad sebagai melawan tiga macam musuh: melawan musuh yang tampak, melawan godaan syetan, melawan hawa nafsu. Jihad melawan musuh yang tampak pun tidak mesti perang.  Sebab Nabi bersabda “berjihadlah kepada orang-orang kafir dengan tangan dan lisan kalian”.

Ibn Taymiyyah bahkan memaknai jihad menjadi empat. Pertama dengan hati yaitu berdakwah mengajak kepada syariat Islam; kedua dengan argumentasi untuk mencegah kebatilan atau kesesatan; ketiga dengan penjelasan untuk membeberkan pemikiran yang benar untuk umat Islam; dan keempat, dengan tubuh yaitu berperang.

Ibn al-Qayyim, dalam Zad al-Ma’ad menyimpulkan ayat-ayat jihad dalam al-Qur’an menjadi tiga belas tingkatan. Empat tingkatan melawan hawa nafsu, dua tingkatan melawan syetan, empat tingkatan melawan kaum kafir dan munafik, tiga tingkatan melawan kezaliman dan kefasikan.

Begitulah, makna jihad yang berarti perang fisik menurut al-Isfahani, Ibn Taymiyyah dan Ibn al-Qayyim hanyalah bagian terkecil dari arti jihad. Itupun tidak sama dengan perang sekuler atau Holy War di Barat yang sarat kebencian dan penistaan. Qital dalam arti Jihad masih terikat oleh aturan yang berdimensi akhlaq dan rasa kemanusiaan.

Senjata tidak boleh merusak tanaman, makhluk hidup, binatang ternak, dan sebagainya. Senjata pemusnah massal seperti kimia, nukler, bakteri, biologi tidak digunakan dalam perang Islam. Target serangan pun tidak boleh mengenai rumah ibadah, wanita, anak-anak, orang tua renta, orang cacat, orang buta, pendeta dan mereka yang tidak sedang perang. Jika pun telah menang bala tentara Islam tidak boleh menghina musuh yang kalah.

Jihad dalam arti perang menurut al-Qardhawi dibagi menjadi dua: jihad penyerangan (al-talab) dan jihad perlawanan (daf’). Yang pertama disebut futuhat (pembebasan). Maknanya menyerang untuk membebaskan negeri di sekitar negeri Islam dari penguasa zalim. Yang kedua melawan musuh yang secara militer memasuki negeri-negeri Islam. Berarti perang bangsa Indonesia melawan Belanda, bangsa Aljazair melawan Perancis, rakyat Palestina melawan Zionis adalah jihad.

Qardhawi juga memasukkan musuh dalam bentuk “pemikiran yang mengancam aqidah, yang membuat ide-ide sesat dalam agama, yang mempengaruhi umat Islam untuk meninggalkan agama”. Nampaknya al-Qardhawi setuju melawan “agresi” liberalisme, sekularisme, pluralisme agama, dan semacamnya yang mengancam aqidah dan syariah adalah jihad.*

Oleh: Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi

#25 Hartawan Mulya

Otak manusia bekerja dengan sangat selektif. Ingatan-ingatan, bacaan, momen yang penting dan berkesan akan tersimpan dalam otak besar. Sementara hal lainnya yang dianggap tak berguna tidak akan dijadikan ingatan jangka panjang, mungkin juga dihapus.

Di antara cuplikan cerita lampau, aktifitas bareng temen SMA adalah salah satu momen yang cukup mengabadi. Menurut salah satu artikel, sahabat di SMA akan menjadi temen sejati selamanya. Meskipun sepakat dengan isi tulisan tersebut namun terkadang gue cukup kesulitan buat retrieve cerita-cerita saat masih berseragam putih abu. Setidaknya ada dua faktor yang menghambat yaitu isi otak gue yang semakin penuh dan memaksa file-file lama tergusur dan faktor kedua adalah sedikitnya momen bareng si objek cerita. Lebih-lebih jika harus bercerita tentang temen-temen perempuan. Oleh karena itu, gue perlu melakukan observasi jika dan hanya jika objek cerita gue adalah Mawar, Indah, atau Santi.

Gue juga ingin menyampaikan disclaimer. Walau sebagian tulisan tentang temen-temen gue berdasarkan kisah nyata namun sebagiannya lagi adalah hasil rekaan guna menambah panjang jalan cerita dan agar tidak terkesan terlalu formal dan serius. Ini blog bukan jurnal ilmiah.

Cerita kali ini akan fokus membahas sosok bernama lengkap Hartawan Mulya Desra Amin, putra seorang polisi. Ia bisa dipanggil Harta, Wawan ataupun Hartawan. Namun di sekolah doi lebih diakrabi dengan panggilan ‘Boy’. Gue tidak terlalu inget asal mula Hartawan dipanggil dengan ‘Boy’. Yang jelas tidak ada hubungan dengan Ongky Alexander karena Boy yang satu ini kurang tampan. Hanya 3 orang yang pernah bilang bahwa Boy itu cakep yakni Ibunya, ayahnya dan satu lagi adalah bencong di warung pecel lele saat Boy ngasih receh seusai mereka ngamen. Itu pun di bawah ancaman banci yang memberikan pilihan uang receh atau grepe. Arghh!.

Gue yakin, jika tulisan ini dibuat 10 tahun lalu dan berisikan pertanyaan ‘hal apa yang paling kalian inget tentang Boy’ maka temen-temen kelas gue, tanpa komando, akan berseru… ‘MESUMMMM’. Yes, bersama dengan Hendra Nopriansyah, mereka berdua sangat terkenal dengan Batman-Robin nya hal-hal berbau pervert.

Boy adalah ketua kelas kami saat menginjak kelas 3. Secara bergiliran, setiap edisi kenaikan kelas, kami selalu mengganti perangkat kelas. Selama tiga tahun, Boy selalu duduk satu bangku dengan Dedy Anugerah Rinaldi. Prestasi sekolahnya tidak semencolok Marina, Marini maupun Marimar. Auw. Tapi untuk pelajaran biologi khususnya anatomi tubuh manusia dan proses reproduksi, mungkin boy jauh lebih menguasai daripada guru biologi itu sendiri.

Banyak hal kocak juga memalukan yang pernah dialami oleh Boy. Suatu ketika, Gue dan para siswa lainnya menghabiskan tahun baru di salah satu pantai di Bandar Lampung. Ini bukan tentang bromance atau lanjutan kisah Brokeback Mountain. Acara yang kami adakan bertujuan untuk menambah keakraban sekaligus refreshing setelah bagi raport pergantian semester. Guna menambah keseruan, kami menyewa satu gerbong kereta engkap dengan AC, TV kabel, Wifi 4G, hingga Jacuzzi. Sampai suatu ketika salah seorang Masinis jitak kepala gue karena sudah mengkhayal terlalu jauh.

Cerita kita skip hingga setibanya di pantai.

Di pantai kami mandi dan bermain pasir. SELESAI…..!.

APAAA??? Segitu doang? *Dilempar batu akik*.

.facebook_1429843234468
Setelah beberapa waktu bermain dengan pasir, kami kemudian mendatangi salah satu toko souvenir yang berjajar rapih. Kami berniat mengoleksi satu-dua pernak-pernik sebagai bukti bahwa kami benar-benar jalan-jalan ke lampung. Di tengah kekhusyukan memilih dan memilah, terdengar sedikit kericuhan. Ternyata Boy sedang meminta maaf kepada seorang ibu paruh baya.

“Apa yang terjadi” pikir kami.

Tak lama kemudian, setelah agak menjauhi toko, Boy berkisah bahwa saat ia tengah memilih souvenir yang letaknya di bagian bawah lemari sehingga mengharuskannya jongkok, ia mendapati sebuah betis di sebelahnya tengah berdiri kokoh. Boy merasa terganggu dengan keberadaan betis tersebut karena sangat merusak mood. Sontak saja, tanpa perlu menunggu Farhat Abbas tobat, Boy yang dengan pedenya mengganggap kaki itu milik periawan (salah seorang temen kami) menarik kaki tersebut untuk dijauhkan sambil berucap ‘minggir kauu’…. (Gue nulis ini sambil ngakak sendiri).

Boy lupa satu hal bahwa betis Peri berbulu lebat mirip kulit rambutan yang diolesi minyak firdaus. Setelah menyadari bahwa telah terjadi sebuah kesalahan, Boy pun mendongak dan mendapati seorang emak-emak tengah kebingungan dan speechless. Mungkin yang ada di benak dan lidah ibu itu hanyalah.

‘KUKUTUK KAU MALING KUNDANG’.

Sebelum dikutuk menjadi batu, Boy pun meminta maaf karena telah salah sangka. Kami yang mendengar cerita itu tak bisa menahan tawa dan bersorak hingga berderai air mata (lebaaay). Karena dari apa yang pernah gue denger, sahabat itu adalah orang yang menertawan kebodohan saat kalian dihinggapi sial tapi memuji kalian di saat kalian tak ada. Ah, gue emang jago ngeles :P. .facebook_1429843842436

Begitulah Boy. Jika 10 tahun lalu ia lekat dengan hal-hal yang rada mesum maka apabila pertanyaan ‘Apa yang paling kalian inget tentang Boy’ dimajukan 5 tahun setelahnya maka yang akan kami inget adalah sosok seorang Polisi. Yang MESUM :D.

Boy dan polisi tidur adalah dua sosok polisi yang tidak membuat kami takut jika melakukan pelanggaran lalu lintas.

Saat awal bertugas menjadi polisi, Boy mendapatkan tugas untuk memegang water canon, semacam semprotan air yang digunakan untuk memukul mundur demonstran. Untungnya Boy tidak pernah bertugas menjadi polisi lalu lintas. Karena gue khawatir setiap saat dia ngeliat plang ‘Hati-Hati di Jalan’ dia bakalan deketin plang tersebut dan bilang ‘MAKASIH YA UDAH PERHATIAN BANGET SAMA AKU’.

Sebelum menjadi polisi, Boy pernah terdaftar sebagai mahasiswa jurusan biologi universitas sriwijaya meskipun hanya bertahan selama dua semester.

Boy akhirnya menikahi wanita yang telah lama dikenalnya yang bernama Sisilia mey cintanya harta (Ini nama bukan kalimat). Dari nama yang ada di akun facebook-nya saja Mey nampak sangat mencintai hartawan. Setelah menikah gue percaya Boy akan mengganti namanya menjadi ‘Hartawan akan celalu menjaga cinta Mey’ atau ‘Boy Cayangh Mey Angedh Campe M4uT MeM1s4hk4N’ (tambah emot :* :*).

Selamat Pak Ketua Kelas, kamu berhak untuk gelar ke-25.

#24 Endang Tepo Palupi

Menulis itu tidak mudah, lebih-lebih bagian prolog. Makanya, gue terkadang kewalahan mencari preambule untuk cerita yang isi dan kesimpulan telah gue rampungkan sewindu sebelumnya. Pembukaan sebuah tulisan kadang lebih ribet daripada nemenin cewe belanja. Tapi kalo istri gue mah pengecualian. Dia ga suka keliling ke semua toko demi mencari harga baju yang hanya selisih lima ratus perak *kedip-kedip*.

Menulis itu mudah mungkin hanya ada dalam kisah Dijah Yellow dengan novel Rembulan Love-nya. Tahu Dijah Yellow? tahu novelnya?. Kalo lo ga tau, lo kebangetan. Penggiat media sosial sangat mengenal Dijah Yellow sebagai artis media sosial yang naik daun karena tingkat pede dengan level Bintang Canis Majoris. Selain foto-foto ‘mempesona’ di Instagram, Dijah telah menghasilkan sebuah novel yang diselesaikan hanya dalam waktu 10 hari. Iya, 10 hari. Lebih hebatnya lagi, novel ini rampung tanpa menggunakan editor. Amazing. Covernya tak kalah keren. Khas buku Teka-Teki Silang.

*****

Untuk kesekian kalinya, gue akan bercerita tentang temen kelas gue yang menikah. Setelah Chotimah yang lebih dulu berijab qabul pada awal Maret, dua minggu kemudian, temen gue lainnya menempuh jalan yang sama.

Nama lengkapnya Endang Tepo Palupi tapi biasa dipanggil dengan Marsha. Haha, Ndak lah. Doi sehari-hari dipanggil dengan Endang. Sosok mungil satu ini adalah satu dari tiga personel Lingua kelas kami. Duanya lagi, Aas dan Fachrie telah lebih dulu mengakhiri masa lajang. Bukan, mereka bertiga tidak membentuk grup vokal selama kami sekolah dulu. Endang, Aas dan Fachrie memiliki tanggal lahir yang sama yaitu 23 Maret 1989. Sebuah kebetulan mereka berkumpul di satu kelas selama menyelesaikan sekolah menengah atas.

Lihat gambar yang dilingkari merah

Lihat gambar yang dilingkari merah

Gue cukup memiliki hubungan akrab dengan Endang karena selama kepengurusan Kerohanian Islam di SMA, Endang adalah koordinator akhwat (perempuan) untuk divisi hubungan masyarakat sementara gue bertindak sebagai koordinator umum. Dengan jabatan yang sama, maka sangat mungkin gue banyak berinteraksi dengan doi. Gue paham betul kenapa gue dan Endang sama-sama ditugaskan untuk memegang jabatan sebagai divisi kehumasan Rohis. Kami berdua sama-sama berisik dan talkative sehingga ‘bakat’ tersebut diarahkan sesuai dengan kebutuhan.

Dari kacamata gue selama tiga tahun sekelas, Endang adalah sosok siswi yang teges, suaranya kenceng dan kalo jalan ga kenal istilah ‘rem’. Dia bisa jalan ngeloyor tau-tau muncul di Senegal.

Salah satu hal yang paling gue inget tentang Endang adalah saat pelajaran Bahasa Indonesia. Sang guru meminta kami memainkan sebuah roleplay. Kebetulan gue dan Endang berada di satu kelompok. Di tengah dialog, tetiba Endang menggunakan kata ‘absurd’ untuk mengekspresikan rasa kecewa pada lawan dialognya. Saat itu, ‘absurd’ belum menjadi kosakata yang familiar buat kami. Seusai pelajaran, ‘absurd’ terngiang-ngiang di otak gue. Mau makan teringet ‘absurd’. Mau tidur keinget ‘absurd’. Mau jogging keinget mantan. Eh maap. Mantan darimana, pacaran aja kagak pernah :(.

Di waktu yang lain saat pelajaran kesenian, ibu guru melakukan pengambilan nilai dengan membuat kelompok yang terdiri dari 8-10 orang untuk menyajikan penampilan musik seperti ‘koor’ atau, jika memungkinkan, menampilkan drama musikal semisal ‘glee’ atau sinetron ind*siar yang dikit-dikit nyanyi diiringi naga dengan special effect photoshop. Penilaian akan dilakukan berdasarkan kekompakan, harmonisasi dan juga kostum yang digunakan.

Setiap grup berbusana dengan baik dan rapih kecuali kelompok gue yang lebih mirip pemain lenong. Entah apa yang ada di pikiran kami waktu itu dan kenapa juga tidak ada yang protes dengan cara kami berpakaian yang sama sekali tidak mengikuti kaidah aturan berpakaian yang baik dan benar. Crap!.

Sebelum pengambilan nilai masing-masing kelompok, kami diberikan kesempatan untuk melakukan gladi resik guna memantapkan penampilan. Sayup terdengar oleh gue harmonisasi yang apik dari lagu dari Hadad Alwi. Diselingi oleh permainan gitar yang tak kalah baiknya, kelompok yang mengenakan seragam warna pink ini nampak sangat meyakinkan. Endang adalah salah satu personelnya. Sebagian besar personel grup ini adalah punggawa Rohis Sekolah sehingga wajar diisi oleh para akhwat-akhwat berjilbab. Agar kompak, semua anggota kelompok itu mengenakan jilbab. Iya, termasuk Fachrie, Idris, Hendra, dan Dedy :D. My beautiful picture

“Wah, kelompok ini pasti dapet nilai gede” pikir gue setelah melihat penampilan mereka pada saat latihan.

Yak, tibalah Endang bersama grupnya naik ke panggung.

“Jreng…” Fachrie mulai memainkan gitarnya. Yang kemudian disusul oleh paduan suara sepersekian detik kemudian.

‘Engkau mengenalnya, insan yang utama’.

‘Lelaki pilihan, menjadi utusan,.

Setelah lirik dinyanyikan, gue menangkap sinyal fals sejak huruf pertama terdengar. Ternyata bener. Ada satu jenis suara yang tidak harmonis dengan suara lainnya. Suara ini nampak one man show. Dan gue tau persis suara ini karena agak nyempreng tapi bass nya gede. Wah, tidak salah lagi pasti ini suara Momo Geisha. Ya ga mungkinlah. Itu suara Endang Tepo. Entah apa penyebabnya, harmonisasi yang ditampilkan pada saat latihan lenyap seketika saat berlangsungnya pengambilan nilai. Dan semua menjadi kalut.

Seusai tampil, kelompok ini nampak sangat lesu. Fachrie sibuk mengomel karena harmonisasi yang diciptakan saat latihan tidak berhasil ditularkan pada saat penampilan di panggung. Gue pun senyum-senyum sendiri.

Memang harus disadari bahwa seseorang yang memiliki suara bagus tidak selalu bisa tampil dalam grup. Karena Victoria Adams mungkin lebih ciamik tampil bersama Spice Girls tapi Beyonce sepertinya lebih memukau saat tampil sendiri. Terus apa hubungannya dengan Endang? Ga ada, gue cuma nambah-nambahin tulisan aja. Hahaha.

Ngomongin Endang maka kita tidak bisa terlepas dengan sosok bernama Agustin Rosalina alias Anggi karena mereka satu paket. Dari sejak awal SMA, bahkan SMP, mereka selalu bersama. Persis Ipin-Upin. Kemana-mana bareng. Akan sangat sulit menemukan Endang tanpa Anggi. Mereka berdua mengingatkan kita pada Si buta dari Goa hantu dengan Kliwon :D. Namun semenjak kuliah, mereka terpisah. Anggi memilih bergabung bersama Iko Uwais ke Padang, Sumatera Barat untuk berburu kitab suci. Sementara Endang setia bertahan di Palembang guna menyelesaikan pendidikan S-1 di Universitas Sriwijaya.

Selesai kuliah, Endang akhirnya mendapatkan pekerjaan di Lampung sebagai guru SMP. Ini yang dari dulu membuat gue khawatir. Khawatir kalo kalo orangtua murid sulit membedakan yang mana siswa yang mana guru. bahahaha. Ampun Ndang.

Endang akhirnya menikah pada tanggal 15 Maret 2015 dengan seorang pria asal Cirebon yang juga adalah pegawai bea cukai. Di tanggal yang sama, temen kami lainnya, Hartawan Mulya juga melakukan pernikahan. Cerita tentang pernikahan Hartawan akan gue bahas di tulisan berikutnya. Selamat Endang, kamu mendapatkan peringkat ke-23. Semoga menjadi keluarga yang barokah.

Sabtu Bersama Ayah

20150321_144643

Assalamu’alaikum, Nak

Beberapa saat sebelum menuliskan tulisan ini, ayah baru saja menyelesaikan sebuah novel yang berjudul ‘Sabtu Bersama Bapak’ karangan Adhitya Mulya. Sebuah novel keluarga yang intinya bercerita tentang bagaimana sosok seorang bapak di hadapan anaknya. Meskipun sang bapak telah tiada. Berangkat dari novel itulah, ayah membuat kisah ini dan menjadikannya sebagai judul tulisan.

Nak, perlu ayah sampaikan bahwa meskipun ayah suka membaca tapi novel tak pernah menarik perhatian ayah kecuali beberapa. Meskipun novel adalah bacaan, di luar buku pelajaran sekolah, yang pertama kali ayah baca dan membuat ayah menyenangi aktifitas tersebut sesudahnya. Waktu itu ayah membaca novel karangan Helvy Tiana Rosa yang berjudul ‘Ketika Mas Gagah Pergi’. Tapi, entah kenapa. Untuk berikutnya, ayah tak pernah menjadikan novel sebagai prioritas. Hanya beberapa saja novel yang ayah baca. Itu pun novel popular karangan Kang Abik dan Dewi Lestari. Jangan, Nak. Jangan paksa ayah membaca Da Vinci Code atau Larung Ayu Utami.

Kali ini ayah membaca novel yang, menurut beberapa teman ayah, sangat baik untuk melengkapi referensi sebagai pembekalan bagi seorang ayah dan calon ayah. Nak, kini ayah dan ibu sudah memilikimu. Artinya semua bekal yang bisa menambah pengetahuan tentang menjadi orangtua yang baik adalah sesuatu yang penting dan berharga.

Secara singkat, buku ini berkisah tentang sosok seorang bapak yang meninggalkan penggalan-penggalan cerita yang terekam dalam kaset handycam di tengah vonis kanker yang dideritanya. Sang bapak, sebelum wafatnya, menceritakan banyak hal dalam rekaman tersebut. Sebagian besar adalah nasihat bagi kedua putranya suatu saat ia telah tiada. Secara ajaib, pertanyaan-pertanyaan kehidupan yang bertambah seiring dengan semakin dewasanya sang anak telah terjawab dalam kaset peninggalan bapak. Tokoh ‘bapak’ adalah model orangtua yang visioner.

Banyak hikmah yang ayah petik sebakda membaca novel tersebut.

Nak, terinspirasi dari bacaan itu, ayah ingin meninggalkan jejak kisahmu dalam goretan-goretan kata yang termuat dalam blog ini. Biarlah ayah dianggap meniru atau lebih tepatnya terinspirasi novel tersebut. Tentu ayah tidak berharap bahwa ayah juga memiliki umur yang singkat seperti tokoh ‘bapak’ dalam novel. Ayah hanya ingin merekam setiap tumbuh kembangmu dalam tulisan-tulisan yang akan ayah muat setiap tanggal delapanbelas tiap bulannya. Iya Nak, delapan belas. Karena pada tanggal itulah engkau lahir ke dunia.

Kelak, ketika kau sudah besar, kau bisa menapaktilasi kisah hidupmu dari apa yang pernah ayah buat mulai dari saat ini hingga nanti di usia engkau tujuhbelas atau dua puluh.

Maafkan ayah, Nak. Jika tulisan ini dimulai dari bulan ketiga kelahiranmu. Sebelumnya sudah ada niatan ayah untuk melakukan hal yang serupa. Namun niat yang layuh karena berbagai kesibukan membuat semua rencana ini hanya termuat di angan.

Nak, ayah akan berusaha sekuat tenaga untuk bercerita tiap bulannya tentang engkau.

Ayah tidak berharap tulisan ini dibaca oleh banyak orang atau ada orang iseng menerbitkan kumpulan dari apa yang ayah tulis tentangmu. Semua itu mungkin penting. Tapi jauh lebih penting adalah ayah, juga ibu, bisa berkisah tentangmu lewat ingatan-ingatan yang terpatri dalam lembaran-lembaran di atas halaman putih layar ini. Karena apa yang terucap akan hilang dan apa yang tertulis akan mengabadi.

Salam cinta ayah untukmu, nak. Di tengah mulutmu yang tak berhenti berucap banyak hal yang kami pun hanya bisa menerka apa yang kau inginkan.

Semoga engkau tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas dan shalih.