Kontradiksi Ramadhan

Mei 31, 2018 § 1 Komentar

Sumber: Gettyimage

Beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke sebuah mall di area bintaro. Sebuah aktifitas yang tidak akan saya lakukan jika tanpa keperluan. Rencana awalnya adalah berburu sepatu sebelum mudik ke kampung halaman mengingat sepatu yang ada rasanya kurang sreg dipakai.

Sepatu doang?

Iya, kali ini saya hanya mencari sepatu karena pakaian saya dan anak-anak sudah dibeli lebih dulu via daring. Saya merasa beruntung memiliki istri yang memiliki skill mumpuni untuk menjelajahi semua situs belanja online demi mendapatkan diskon. Tidak tanggung-tanggung. Ia kadang-kadang memiliki lebih dari sepuluh akun demi mendapatkan potongan harga yang seyogyanya sangat membantu arus cashflow kami. Subhanallah.

Saya tidak pernah menyangka bahwa mall bisa begitu padat padahal ramadhan belum sampai setengahnya (saat saya membuat tulisan ini). Selama ini saya berasumsi bahwa pasar meliputi mall dan turunan lainnya akan ramai pada sekitar H-10 lebaran. Ternyata dugaan saya meleset. Orang-orang tampak begitu bersemangat dan lincah menelusuri setiap lorong etalase pakaian, sepatu, sendal, koko, kerudung, dan pernak-pernik lainnya. Mereka sepertinya menafikan penat dan dahaga bahkan mungkin lupa bahwa mereka tengah berpuasa. Saya hanya bisa mengelus dada sambil menikmati es kepal milo.

Karena kericuhan di dalam mall. Ditambah lagi sales yang berteriak begitu kencang lewat speaker menjajakan diskon, saya pun mengurungkan niat. Saya memilih pulang. . . untuk kemudian istirahat sebelum bergerilya mencari sepatu seperti semula. Haha!

Selepas solat isya berjamaah di masjid sekitaran tempat saya tinggal, pengisi ceramah menyampaikan materi yang begitu pas dengan fenomena yang saya temui di mall siang harinya. Saya yang biasanya mulai menguap, mengubah posisi duduk, dan sesekali tertunduk sebagai pertanda mengantuk, kali ini nampak berbeda. Ceramah ustad ini terlihat menarik bahkan sedari awal ia berucap.

Ia mengawali ceramah dengan sebuah pertanyaan dialogis tentang mengapa pada saat ramadhan terjadi dua hal yang kontradiktif. Yang pertama adalah uang belanja yang membengkak dan yang kedua berat badan yang bertambah. Dua kondisi ini kontradiksi dengan semangat dan atmosfir ramadhan.

Beliau melanjutkan bahwa sudah sewajarnya uang belanja sama saja atau bahkan lebih sedikit jika dibandingkan dengan bulan lain di luar ramadhan karena jadwal makan yang berkurang satu. Ingat, saat ramadhan kita mengurangi porsi makan siang. Kecuali mereka-mereka yang kakinya terlihat di balik warteg-warteg bertabir.

Selaras dengan itu, jika menggunakan logika linier maka seharusnya berat badan bagi mereka yang menjalani puasa sejatinya turun karena berkaitan erat dengan perubahan pola makan tersebut. Tapi narasi tersebut hanya isapan jempol.

Lalu apa faktor yang membuat ramadhan menjadi begitu kontradiktif dari semangat yang seharusnya?

Sang ustad menyampaikan bahwa ada korelasi yang erat antara ramadhan dengan perubahan perilaku umat muslim pada umumnya. Salah seorang sosiolog* melakukan studi di beberapa negara muslim untuk menyimpulkan bagaimana ramadhan telah menjadi sarana multi guna. Menurutnya ada setidaknya 3 tujuan atau sarana atau motif yang terjadi selama bulan ramadhan

  1. Tujuan konsumerisme

Sudah sangat jamak bagaimana perilaku konsumerisme begitu merajalela selama bulan puasa. Tengok saja bagaimana buka puasa menjadi ajang coba-coba. Semua menu makanan dicoba. Kolak, gorengan, candil, es kelapa dll. Belum lagi nasi dengan segala menu pelengkapnya. Balas dendam. Konon, frasa ini menjadi jawaban ketika ditanya mengapa begitu banyak makanan di atas meja makan selama berbuka. Yang pada akhirnya makanan-makanan tersebut hanya menjadi muatan di dalam tong sampah. Tak dimakan, tak disentuh. Kamu kejam, mas!.

Orang-orang yang menjalani puasa, terlebih kelas menengah, cenderung lebih boros. Rencana awal hidup hemat karena reduksi waktu makan ternyata tidak berlaku. Buka bareng TK hingga kuliah dan buka puasa bersama komunitas lain begitu menguras dompet. Kita menjadi begitu ‘rakus’. Konsumerisme merajalela.

Belum lagi saat mendekati lebaran. Persis seperti cerita saya pada pembukaan tulisan. Mall penuh. Masjid sepi. Orang-orang lebih tertarik mengenakan segala sesuatu yang baru. Mengganti baju. Mengganti cat rumah. Mengganti kendaraan. Kita menjadi begitu paranoid mengenakan apa-apa yang lama. Khawatir dengan komentar netizen. Semua seolah mesti menampilkan transformasi fisik. Mengikuti hawa nafsu. Padahal sejatinya puasa adalah ajang menahan hawa nafsu. Begitu kontradiktif.

  1. Tujuan komersialisme

Apa yang menjadi penanda bulan ramadhan akan tiba?

Tepat. Sirup marjan.

Sirup marjan adalah sebaik-baik pengingat bahwa bulan puasa akan segera tiba. Promosi iklan ini menjadi begitu gencar mendekati ramadhan. Marjan telah menjadi ikon yang lekat dengan keberadaan ramadhan itu sendiri. Seperti dekatnya ketupat dengan lebaran. Atau dekatnya gaji dengan cicilan. Hiks.

Selama ramadhan pula nyaris semua produk diiklankan dengan extravaganza, dengan meriah. Produk ini-itu dilabeli dengan embel-embel ramadhan. Semua didiskonkan. Karena pasar tahu bahwa pada bulan ini orang-orang menjadi begitu maniak dalam mengkonsumsi. Oleh karena itu mereka pun menyambut seruan ini dengan strategi yang mumpuni.

Tengoklah ke mall. Mereka bahkan bisa diskon produk dengan potongan yang tidak kira-kira. 50% + 40%. Maka nikmat diskon mana yang kita dustakan. Apa mereka rugi dengan promosi di luar nalar? Tidak. Saya sempat berdiskusi dengan salah seorang pemilik toko di tanah abang. Ia bercerita bahwa selama bulan puasa, keuntungan yang diperoleh bisa menutupi ongkos operasional  11 bulan lainnya. Ramadhan menjadi begitu komersil.

Bahkan, menurut cerita sang ustad, ada buah yang hanya muncul atau terkenal selama bulan puasa. Buah Timun Suri namanya. Buah ini persis Avatar. Saat dunia membutuhkannya, dia menghilang. Kemudian datang lagi berbondong-bondong selama bulan ramadhan. Sepandai-pandainya Tupai melompat, lebih pandai lagi timun suri bersembunyi hingga bulan puasa tiba. Padahal buah ini tidak seenak mangga atau apel atau buah pada umumnya tapi karena dikemas dengan komersial dan menjadi penambah ornamen ramadhan, orang-orang tetap membeli.

  1. Tujuan/sarana menjual ide politik

Ramadhan benar-benar ‘berkah’ bagi para poli-tikus. Mereka menjadikan momen ramadhan untuk menjual ide politiknya. Mengemas agenda politik dengan label-label keagamaan.  Bahkan mereka yang non-muslim pun penuh hingar bingar menebar propaganda berbau ramadhan. Mereka melakukan safari politik demi merangkul simpati umat muslim.

Belum lagi dengan tokoh-tokoh yang kesehariannya acapkali bersebrangan dengan kepentingan umat muslim pada umumnya. Kini selama bulan ramadhan berubah menjadi begitu religius. Secara fisik, para politikus ini mengenakan peci bahkan kerudung bagi perempuan. Ironis.

Bukan bermaksud pesimis dengan transformasi fisik mereka hanya saja jika melihat bagaimana kiprah bapak-ibu ini di luar ramadhan sungguh begitu ironi. Tapi hidayah milik Allah. Semoga saja mereka benar-benar menjadi muslim yang lebih baik.

Demikianlah tiga tujuan atau motif yang justru terjadi secara umum dalam konteks ramadhan. Ketiga hal ini yang selalu menjadi sasaran ramadhan kebanyakan orang. Padahal sejatinya bulan puasa secara filosofis berarti menahan diri. Menahan diri dari sifay mengkonsumsi yang berlebihan. Ramadhan selayaknya melatih diri kita agar mengontrol nafsu namun ketiga fenomena di atas justru yang menjadi utama. Begitu kontradiktif antara semangat puasa dan kenyataan yang terjadi di lapangan.

Ramadhan kita begitu kontradiktif. Dan ini berulang-ulang setiap tahunnya. Saya pun tertegun dan menyadari bahwa mengikuti hawa nafsu tidak akan mengantarkan kita kepada kepuasan. Saya tertunduk malu sambil sesekali buka website T*kopedia guna mencari sepatu yang sebelumnya gagal didapatkan.

*Menurut penceramah nama sosiolog tersebut adalah walter ambush namun sayangnya saya tidak berhasil mendapatkan referensi sosiolog dengan nama tersebut

 

Iklan

Hibernasi

April 27, 2018 § Tinggalkan komentar

123rf.com

 

29 September 2017 adalah tanggal terakhir saya menulis di blog ini.

Lama? Memang!

Saya pun tidak terlalu memahami kenapa vakum dalam dunia per-blog-an lebih dari 6 bulan Sejak pertama kali bloging tahun 2009, saya tidak pernah sama sekali meninggalkan blog selama ini. Sebelumnya pun saya berikrar untuk meninggalkan tulisan di blog minimal satu per bulannya bahkan menyinyiri mereka yang mengaku bloger namun enggan memutakhirkan halaman blog mereka. Kali ini saya harus menelan ludah saya sendiri.

Proses hibernasi yang sangat lama tidak disertai dengan produktifitas di sektor lain. Apa yang saya lakukan persis dengan vakumnya beruang selama masa hibernasinya. Selama masa hibernasi, aktifitas lain pun semakin memudar. Membaca misalnya. Keengganan membaca terlalu kuat. Puluhan buku menumpuk. Tak satu pun dijamah. Pun jika dibaca, hanya pada lembaran awalnya saja untuk kemudian berganti buku lain dan mengulang membaca pada beberapa halaman pertama.

Hidup saya kini lebih banyak diisi dengan kemubaziran. Tidak produktif.

Sekarang pun menulis hanya basa-basi. Demi menutup bulan April dengan setidaknya meninggalkan jejak di laman blog. Bukan diniatkan untuk menulis sepenuh hati. Lumayan memang. Setidaknya tulisan ini menjadi pemicu guna membangkitkan kembali semangat membaca dan menulis seperti sedia kala. Meskipun saya tidak yakin.

 

Jumat, 27 April 2018

Di kubikel yang riuh dengan segala cerita tentang Infinity Wars, gosip yang gaduh, serta bau makanan jepang di atas meja yang dibagikan oleh pimpinan perusahaan yang berulang tahun.

Selamat 8 Tahun-an

September 29, 2017 § 2 Komentar

Pagi ini saya membuka wordpress, situs yang dalam beberapa bulan terakhir hanya sesekali saja dikunjungi. Ada rindu yang mendalam untuk bisa bergumul ria kembali, khusyuk menuangkan ide-ide ke dalam tulisan. Kerinduan tersebut berlalu begitu saja manakala realita menerpa. Ada pekerjaan yang tak bisa ditunda, ada anak-anak yang harus dibersamai setiap hari, ada lelah yang mendera. Semua alasan organik yang menjadikan wordpress sebagai entitas dunia ketiga.

Ada dua notifikasi pagi ini. Notifikasi pertama dari seseorang yang ping-back tulisan saya tentang ‘Mengapa Blow Menjadi Tempat Curhat yang Lebih Baik’ dan notifkasi lainnya adalah ucapan ‘selamat’ dari WordPress atas perayaan telah menjadi bagian dari situs ini untuk 8 tahun terakhir.

Gila, sih!

Ekspresi pertama saya ketika menyadari bahwa saya telah melalui 8 tahun bersama wordpress. Tak disangka. Mulanya ia hanya sekedar tempat untuk bereceritera tentang rekanan SMA yang menikah namun kini telah berevolusi menjadi tempat ngalor ngidul dan mematenkan ide-ide agar tidak hilang ditelan zaman. Persis seperti manusia-manusia lampau yang meninggalkan jejak-jejak kehidupan di dinding-dinding gua.

Miris rasanya ketika 8 tahun-an ditandai dengan kelesuan dalam menulis. Hanya sekedar memenuhi kuota satu tulisan per bulan. Itu pun di penghujung-nya. Semangat saya mulai meredup. Ada begitu banyak bahan yang bisa dijadikan tulisan. Hanya saja, ketiadaan motivasi menjadi alasan utama.

Dear wordpress,

Semoga setelah Bulan September, yang harusnya ceria, saya bisa kembali bermesraan denganmu seperti dahulu.

Kok jadi alay, ya? Haha…

Maaf, saya soalnya kids jaman now

Vakum 2.0

Agustus 31, 2017 § Tinggalkan komentar

Sumber: Changeidentity.net

Hampir dua bulan terakhir saya vakum dari dunia per-blog-an. Vakum menulis berarti juga vakum membaca. Nyaris tidak ada buku yang selesai terbaca 60 hari terakhir. Buku yang nyaris tamat dibaca hingga ke halaman terakhir adalah Buku milik Hugh Goddard tentang sejarah interaksi Muslim-Kristen selama berabad-abad. Selain itu? Nihil.

Keengganan membaca ini dikarenakan enggan. Ambigu? Iya.

Tidak ada alasan rigid yang membuat saya begitu malas untuk membaca belakangan ini. Hanya kesibukan-kesibukan semu yang sebenarnya menjadi alasan klise untuk seorang bloger.

Namun, demi tekad untuk meninggalkan jejak di blog setidaknya satu tulisan setiap bulannya, saya memaksa diri, menembus kemalasan durjana agar tetap bisa konsisten dengan apa yang saya cita-citakan sedari lama.

Tulisan ini hanya untuk mempertegas kenyataan bahwa saya tengah vakum dalam menulis dan membaca. Entah sampai kapan. Semoga tidak lama dan tidak mengakar. Oh iya, mengapa judulnya vakum 2.0? Karena vakum 1.0 nya sudah dijalani pada bulan Juli. Semoga tidak ada vakum 3.0 dan seterusnya.

Namun, untuk saat ini saya vakum sejenak agar bisa kembali dengan ide-ide yang lebih segar.

Adios!!

Toleransi Umar

Juli 26, 2017 § Tinggalkan komentar

Sumber : Theweek.in

Oleh: Dr Hamid Fahmy Zarkasyi

Jika barometer toleransi abad 20 ini dideteksi di setiap penjuru dunia, maka Jerussalem mungkin adalah yang terburuk.

Pada akhir tahun 1987 saya sempat berkunjung ke kota Jerussalem lama. Kota kuno di atas bukit yang dikelilingi tembok raksasa itu menyimpan tempat suci utama tiga agama. Ketiganya adalah Masjid al-Aqsa, Wailing Wall (Dinding Ratapan) dan Gereja Holy Sepulchre (Kanisat al-Qiyamah). Di zaman modern tempat ini adalah daerah konflik yang paling menegangkan di dunia.

Ketika menapaki jalan-jalan di kota tua itu banyak perisiwa menegangkan. Saya menyaksikan seorang pendeta Katholik dan seorang rabbi Yahudi saling memaki dan sumpah serapah, nyaris saling bunuh.

Di lorong-lorong pasar saya melihat ceceran darah segar Yahudi dan Palestina. Di pintu masuk dinding ratapan saya bertemu seorang Yahudi Canada. Dengan pongah dan percaya diri dia teriak, “I come here to kill Muslims”. Di pintu gerbang masjid Aqsa, seorang tentara Palestina menangis selamatkan masjid al-Aqsa! Selamatkan masjid al-Aqsa!.

Namun jika deteksi toleransi itu dialihkan abad ke 7 dan seterusnya mungkin Jerussalem justru yang terbaik. Setidaknya sejak Muslim memimpin dan melindungi kota ini. Jika kita menelurusi lorong via dolorosa menuju Gereja Holy Sepulchre orang akan tersentak dengan bangunan masjid Umar. Masjid Umar itu terletak persis didepan gereja yang diyakini sebagai makam Jesus. Di situ semua sekte berhak melakukan kebaktian. Melihat lay-out dua bangunan tua ini orang akan segera berkhayal “ini pasti lambang konflik dimasa lalu”. Tapi khayalan itu ternyata salah. Fakta sejarah membuktikan masjid itu justru simbol toleransi.

Sejarahnya, umat Islam dibawah pimpinan Umar ibn Khattab mengambil alih kekuasaan Jerussalem dari penguasa Byzantium pada bulan Februari 638. Mungkin karena terkenal wibawa dan watak kerasnya Umar memasuki kota itu tanpa peperangan. Begitu Umar datang, Patriarch Sophronius, penguasa Jerussalem saat itu, segera “menyerahkan kunci” kota.

Syahdan diceritakan ketika Umar bersama Sophronius menginspeksi gereja tua itu ia ditawari shalat di dalam gereja. Tapi ia menolak dan berkata: “jika saya shalat di dalam, orang Islam sesudah saya akan menganggap ini milik mereka, hanya karena saya pernah shalat disitu”.

Umar kemudian mengambil batu dan melemparkannya keluar gereja. Ditempat batu itu jatuh ia kemudian melakukan shalat. Umar kemudian menjamin bahwa Gereja Holy Sepulchre tidak akan diambil atau dirusak pengikutnya, sampai kapanpun dan tetap terbuka untuk peribadatan umat Kristiani. Itulah toleransi Umar.

Toleransi ini kemudian diabadikan Umar dalam bentuk Piagam Perdamaian. Piagam yang dinamakan al-‘Uhda al-Umariyyah itu mirip dengan piagam Madinah. Dibawah kepemimpinan Umar non-Muslim dilindungi dan diatur hak serta kewajiban mereka.

Piagam itu di antaranya berisi sbb: Umar amir al-mu’minin memberi jaminan perlindungan bagi nyawa, keturunan, kekayaan, gereja dan salib, dan juga bagi orang-orang yang sakit dan sehat dari semua penganut agama.  Gereja mereka tidak akan diduduki, dirusak atau dirampas. Penduduk Ilia (maksudnya Jerussalem) harus membayar pajak (jizya) sebagaimana penduduk lainnya; dan seterusnya.

Sebagai ganti perlindungan terhadap diri, anak cucu, harta kekayaan, dan pengikutnya Sophorinus juga menyatakan jaminannya. “kami tidak akan mendirikan monastery, gereja, atau tempat pertapaan baru dikota dan pinggiran kota kami. Kami juga akan menerima musafir Muslim kerumah kami dan memberi mereka makan dan tempat tinggal untuk tiga malam… kami tidak akan menggunakan ucapan selamat yang digunakan Muslim; kami tidak akan menjual minuman keras; kami tidak akan memasang salib … di jalan-jalan atau di pasar-pasar milik umat Islam”.  (lihat al-Tabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk; juga History of al-Tabari: The Caliphate of Umar b. al-Khattab Trans. Yohanan Fiedmann, Albany, 1992, p. 191).

Bukan hanya itu. Salah satu poin dalam Piagam itu melarang Yahudi masuk ke wilayah Jerussalem. Ini atas usulan Sophorinus. Namun Umar meminta ini dihapus dan  Sophorinus pun setuju. Umar lalu mengundang 70 keluarga Yahudi dari Tiberias untuk tinggal di Jerussalam dan mendirikan synagogue. Konon Umar bahkan mengajak Sophorinus membersihkan synagog yang penuh dengan sampah. Itulah toleransi Umar.

Piagam Umar ternyata terus dilaksanakan dari sau khalifah ke khalifah lainnya. Umat Islam tetap menjadi juru damai antara Yahudi  dan Kristen serta antara sekte-sekte dalam Kristen. Ceritanya, karena sering terjadi perselisihan antar sekte di gereja Holy Sepulchre tentara Islam diminta berjaga-jaga di dalam gereja. Sama seperti Umar, para tentara juru damai itu pun ditawari shalat dalam gereja dan juga menolak. Untuk praktisnya mereka shalat dimana Umar dulu shalat.

Di tempat itulah kemudian Salahuddin al-Ayyubi pada tahun 1193, membangun masjid permanen. Jadi masjid Umar inilah saksi toleransi Islam di Jerussalem.

Namun, kini Jerussalem yang damai tinggal cerita lama. Belum ada jalan kembali menjadi kota toleransi. Lebih-lebih makna toleransi seperti dulu sudah mati oleh liberalisasi. Umar maupun Sophorinus tidak mungkin akan dinobatkan menjadi “Bapak pluralisme”. Sebab menghormati agama orang lain kini tidak memenuhi syarat toleransi. Toleransi kini ditambah maknanya menjadi menghormati dan mengimani kebenaran agama lain. Tapi “ini salah” kata Muhammad Lagenhausen. Kenneth R. Samples, pun sama “Ini penghinaan terhadap klaim kebenaran Kristen”. Biang keladinya adalah humanis sekuler yang ateis dan paham pluralisme agama (The Challenge of Religious Pluralism, Christian Research Journal). Bagi saya toleransi model pluralisme ini adalah utopia keberagamaan liberal yang paling utopis.

Bukber dan Turunannya

Juni 19, 2017 § Tinggalkan komentar

Sumber: Burhan Abe’s Blog

Entah siapa yang pertama kali memulai kegiatan kumpul-kumpul saat berbuka puasa di bulan ramadhan. Agenda tahunan ini seolah menjadi menu wajib Ramadhan di samping kolak pisang dan sop buah. Momen buka bersama adalah saat-saat paling tepat untuk bersilaturahim dengan teman TK, SD, SMP, SMA, hingga kuliah yang sudah lama tidak berjumpa. Lebih-lebih untuk kelas menengah di kota-kota besar. Buka bersama adalah momen di mana kita bisa mengumpulkan rekanan dalam jumlah banyak selain saat menghadiri pernikahan dan acara kematian.

Saya memiliki pengalaman yang sangat panjang sebagai ‘penyelenggara’ acara buka puasa bersama. Sejak lulus SMA, secara naluri, saya terpanggil untuk mengumpulkan kembali teman-teman yang sudah merantau ke berbagai penjuru negeri. Tanpa bantuan Bulma dan Goku tentunya. Hampir setiap tahun buka puasa bersama ini diadakan demi menjumpai wajah-wajah yang tak bersua bertahun atau bahkan bertahun-tahun lamanya.

Berbekal pengalaman menjadi juru acara buka bersama teman SMA, saya mendapuk diri saya sendiri untuk mengambil peran yang sama bagi teman-teman alumni kampus. Hampir setiap tahun setelah wisuda, saya menginisiasi buka bersama dengan tujuan yang sama, menghimpun teman-teman angkatan yang tercecer.

Menyelenggarakan acara buka bersama tidak semudah membuka bungkus bumbu indomie dengan gunting. Menentukan jadwal, tempat makan, dan sekelumit hal lainnya yang terkait adalah kerumitan-kerumitan yang hadir manakala kalian harus berdiskusi dengan 40 kepala dan 40 mulut. Pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa buka puasa bersama hanya akan dihadiri oleh mereka yang benar-benar niat. Seniat orang-orang yang ribut mana yang benar apakah Gajah Mada atau Gaj Ahmada.

Delapan puluh persen dari rangkaian kegiatan buka bersama diisi oleh wacana. Saya ulangi, wa..ca..na. Semua orang yang diajak terlibat pasti berwacana, berargumen, berdebat tentang jadwal yang harus disepakati. Si A bisanya sabtu pekan pertama puasa, si B tidak bisa karena harus buka bersama bekas calon pacar. Si C usul hari minggu pekan ketiga ramadhan, si D sudah mudik ke Papua Nugini. Ribet. Ujung-ujungnya yang bisa dateng ya Lo lagi Lo lagi. Polanya sama setiap tahun. Keribetan yang HQQ (baca: Hakiki).

Meskipun begitu tetap saja momen buka bersama selalu dinanti. Puncak dari kebahagiaan saat mengumpulkan kembali wajah yang tak lama bertemu adalah kita bisa kembali mengingat gurat kekonyolan yang pernah ada. Atmosfir yang hadir menyajikan nuansa yang menghantarkan kembali ingatan kita pada masa-masa dahulu saat masih berseragam abu-abu, saat praktikum, ketika kumpul angkatan dan sebagainya. Situasi ini yang membuat orang-orang mau dateng ke buka bersama. Reuni sederhana untuk menertawakan masa lalu.

Hanya saja tidak jarang terdengar narasi bahwa ajang buka bersama dijadikan wahana untuk pamer. Segala sesuatu dipamerkan hanya demi menunjukkan eksistensi dan kemapanan. Untungnya, sejauh ini teman-teman saya tidak begitu.

Ada yang unik dari momen buka bersama. Ada hikmah mendalam yang bisa kita petik. Ini bukan cerita orisinil saya. Ia adalah buah pikir dari Ronal Surapraja yang dimuat di salah satu koran nasional. Jika buka bersama adalah perwujudan dari sebuah reuni dalam skala kecil, maka sejatinya banyak orang menyengaja diri untuk tampil dengan sebaik mungkin sebelum bertemu rekanan yang sudah lama tidak berjumpa. Bahkan tak jarang banyak orang yang menyombongkan diri, bertingkah pongah agar dianggap lebih. Jika untuk reuni bertemu manusia kita harus sesiap itu. Bagaimana dengan reuni yang nantinya lebih sebenar-benarnya?. Reuni dengan sanak saudara dalam kondisi yang jauh berbeda. Bukankah kita harus lebih siap ketimbang reuni buka bersama?.

Shaf Sholatmu, Deritaku

Juni 5, 2017 § Tinggalkan komentar

Sumber: ibtimes.co.uk

Memang, sebelum kita bermegah-megahan dalam beramal, yang lebih utama daripadanya adalah ilmu. Dan sebaik-baik penuntut ilmu adalah mereka yang mendahulukan adab atasnya. “Jadikan ilmu sebagai garamnya, dan adab itulah tepungnya,” Kata Imam Syafi’i menggambarkan “roti” penopang kehidupan. Seperti dikutip oleh Ustad Salim A Fillah dalam Sunnah Sedirham Syurga. Ia menambahkan bahwa Imam Bin Al-Mubarak berkata “Hampir-hampir adab itu senilai dua pertiga agama”.

Omong-omong tentang ilmu sebelum amal, ada sebuah pemandangan unik setiap kali saya melakukan solat berjamaah di mesjid. Entah mengapa, sebagian jamaah mesjid yang saya temui di banyak tempat enggan untuk merapatkan shaf dalam solat. Keengganan ini banyak didominasi oleh kaum tua dan terjadi lebih masif di mesjid-mesjid di sudut kota. Atau kita jamak mengejanya sebagai ‘mesjid kampung’. Orang-orang tua lebih sulit untuk diajak berdiskusi. Keengganan karena memandang remeh si muda ataupun kebiasaan yang sudah melekat seumur-umur menjadikan hal-hal kecil namun penting dalam sholat ini sering kali dilewatkan. Sebenarnya anak-anak pun banyak yang tidak merapatkan shaf namun keadaan ini tidak genting mengingat mereka lebih mudah diarahkan.

Beberapa referensi menyampaikan pentingnya merapatkan shaf dalam sholat berjamaah. Bahkan hampir tiap kali imam menyengaja diri untuk mengingatkan jamaah agar merapatkan shafnya. Tapi nampaknya beberapa orang lebih percaya diri untuk menjaga jarak dengan jamaah di sebelah kanan dan kiri.

Saya mengalami dua kejadian unik dan miris sehubungan dengan merapatkan shaf. Pernah suatu waktu di sebuah mesjid sekitaran Cisitu Bandung, di saat sedang merapihkan shaf solat magrib, salah seorang bapak paruh baya yang tepat berada di sebelah saya senantiasa menjauhi ujung jarinya setiap kali saya mencoba merapatkan. Berkali-kali saya coba merapatkan shaf, berkali-kali pula ia menjauh. Puncaknya adalah saat solat tengah berlangsung. Merasa situasi sudah aman terkendali dan kemungkinan bapak itu menjauh akan mengecil saat solat sudah dilakukan, saya pelan-pelan merapatkan kembali shaf. Ternyata apa? Sang bapak nampaknya gerah. Buktinya, kaki saya yang mencoba menggapai kaki sang bapak demi rapatnya shaf, diinjek tanpa malu-malu. Di saat bersamaan saya merasa ingin tertawa. Untung masih inget kalo sedang sholat.

“Luar biasa” pikir saya.

Setelah adegan penginjakan kaki tersebut, saya tidak lagi memaksa diri untuk merapatkan shaf. Saya paham bahwa tidak semua orang ingin didekati. Yang pacaran lama aja bisa putus apalagi yang baru pendekatan, iya kan? Loh…

Lepas sholat, sang bapak menghilang tanpa jejak. Saya pun tidak berencana lebih lanjut mencarinya untuk menjelaskan perihal duduk perkara kemestian merapatkan shaf dalam sholat.

Cerita kedua terjadi saat sholat, lagi-lagi Maghrib, di mesjid sekitaran Bintaro. Meskipun mesjid ini ramai namun orang-orang tua yang mengerjakan sholat di mesjid ini acap kali bersikap kurang ramah. Terutama pada anak muda. Saya merasa ketidaknyamanan berada di antara jamaah mesjid ini. Semoga ini hanya sekedar firasat akibat ketidaktahuan saya sahaja.

Mirip dengan kejadian pertama, bapak yang berada di kanan saya, sedari iqomah, ogah merapatkan shafnya. Saya membaui mulut, tapi tidak bau. Meskipun tidak wangi. Maklum saya kehabisan permen penyegar mulut. Ingin menyemprotkan parfum baju ke mulut, rasanya kurang etis. Mulut saya tidak terbuat dari Nylon. Ditambah belum adanya fatwa halal menyemprotkan minyak wangi ke dalam deretan gigi. Saya juga tidak mengenal bapak ini sebelumnya. Lantas mengapa ada sentimen sehingga kita harus jauh-jauhan, pak. Jangan khawatir, saya bukan admin Lambe Turah.

Dan terjadi lagi…

Niat baik saya merapatkan shaf demi kesempurnaan sholat, seperti yang kerap didengungkan oleh imam, disalahartikan oleh jamaah di sebelah saya. Beliau tanpa ragu menyemprot saya, tepat sebelum imam takbir, dengan memberikan penekanan bahwa ia tidak mau merapatkan shaf dalam barisan sholat. “Kena deh” pikir saya. Belum puas, entah disengaja atau tidak bapak tersebut menyikutkan tangannya yang bersedekap dengan keras ke tangan saya. Ebuset. Begini banget yah. Kzl.

Dua kali mendapatkan jurus ‘mematikan’ dari jamaah sholat membuat saya sedikit banyak ‘kapok’ untuk bersemangat merapatkan shaf. Saya tidak mau mengalami kejadian serupa untuk ketiga kalinya. Sejak saat itu, tiap kali bersebelahan dengan bapak paruh baya, saya mengira-ngira seberapa besar probabilitas kaki saya diinjek atau disemprot jika harus merapatkan shaf. Saya menjadi cuek. Jika mau merapatkan silahkan, jika tidak, saya merelakan saja. Ampuni Baim, Ya Allah.

Pengetahuan yang kurang, ukuran sajadah yang terlalu besar, keengganan belajar menjadi kunci ketidaktahuan kita dalam beribadah. Oleh sebab itulah agama dan tatacara ibadahnya bukan lah sekedar warisan. Jika agama adalah warisan, maka bentu-bentuk tata-cara peribadatannya mengikuti, patuh, taqlid pada orang-orang terdahulu. Padahal landasan ibadah adalah ilmu bukan kebiasaan orang-orang terdahulu yang diwarisi.

Mari kita merapatkan shaf dalam sholat, ya.

سوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَفِّ مِنْ تَماَمِ الصَّلَاةِ

%d blogger menyukai ini: