#23 Chotimah Agustia (Chimot)

FB_IMG_1427705008891

Belakangan ini kerjaan di kantor bener-bener lagi banyak. Hampir setiap hari gue mesti mengunjungi customer mulai dari trial, problem solving hingga memberikan training. Padatnya rutinitas itulah yang menjadi alasan gue untuk tidak bisa lebih sering mampir mengunjungi blog apalagi membuat tulisan baru. Walaupun begitu, gue tetap berusaha sekuat tenaga, sekuat kamehameha untuk setidaknya membuat satu atau dua tulisan baru setiap bulannya. Karena gue memegang teguh moto Jasamarga ‘Semua Ada Jalannya’.

Tulisan kali ini, seperti yang sudah-sudah, akan bercerita tentang temen kelas gue yang telah menikah. Sejujurnya gue sudah kehabisan ide untuk merangkai kata-kata menjadi kalimat yang akan bersimponi menjadi tulisan bertemakan pernikahan temen SMA gue. Maka saat temen gue Desni berkata bahwa tulisan tentang Maya sungguh jayus, gue pun hanya bisa terpaku. Walau sebenernya, dalam kacamata gue, tulisan tersebut tidaklah segaring itu. Tapi gue sadar, gue cowo. Cowo selalu salah. KZL!

Meskipun begitu, gue tetep berusaha menulis kembali kisah tentang temen-temen kelas gue yang telah menikah. Karena gue sadar, ganteng aja ga cukup buat kamu. “Apa hubungannnya, tong?”.

Kali ini tulisan gue akan membahas sosok perempuan. Tapi tidak berkalung sorban. Tidak juga jenggotan. Panggil saja ia bunga. Perempuan ini adalah temen SMP sekaligus temen SMA gue. Gue satu kelas sama doi sejak kelas 1 SMP. Tidak. Tidak ada benih-benih cinta di antara kami. Tolong jauhkan segala pernak-pernik FTV di otak kalian.

Nama lengkapnya adalah Chotimah Agustia namun lebih diakrabi dengan Cimoth. Dinamakan begitu karena dia adalah anak bungsu. Sering banget kan kita denger ‘khusnul khotimah’ yang artinya adalah akhir yang baik. Nah berangkat dari ucapan yang lazim kita dengar, gue bisa menyimpulkan bahwa ‘khotimah’ berarti penutupan/akhir.

Jujur, tidak banyak yang gue inget tentang Cimoth walaupun enam tahun kami satu kelas. Selain menjadi siswa sekolah di SMP kami dengan usia paling muda, hal lain yang gue inget adalah gue dan Cimoth pernah berada di satu genk.

Seperti anak-anak SMP lainnya yang labil dan sedang mencari jati diri, kami membuat sebuah klub eksklusif berdasarkan teritori posisi bangku kelas. Kami menamai genk ini dengan pensil-peruncing (rautan), Kelompok remaja yang terdiri dari 5 pria dan 4 wanita. Filosofi nama ini diambil dari asas saling melengkapi antara kedua benda tersebut. Tanpa peruncing, apatah arti sebatang pensil kayu. Ia tumpul tak bisa berfungsi dengan baik. Tak bisa digunakan untuk mengisi LJK. Tanpa rautan, pensil hanyalah seonggok makhluk tak bernyawa yang nista *drama*. Pun sebaliknya. Tanpa pensil, apa fungsi rautan itu. Apa yang mau diraut? jari?. Tanpa pensil, rautan hanyalah sebliah pisau tumpul yang cerminnya sering disalah gunakan para anak bermental bejat. IYKWIM.

Cimoth adalah anak yang cerdas dan selalu mendapatkan peringkat yang baik di SMP. Namun tak ada gading yang tak bertulang. Pernah suatu ketika sekolah kami tengah mengadakan ujian kenaikan. Gue inget banget ujian ini. Kenapa? Karena ada bintang kelas yang bertanya pada makhluk fakir nilai macem gue. Cimoth sekonyong-konyong bertanya.

“Psst, siapa penyanyi yang paling sedih?”

Gue kaget saat seorang Cimoth tiba-tiba nanya tentang penyanyi. Padahal saat itu ujian Penjaskes. Gue nyerah dan nanya balik.

“Siapa?”

“Melly” Jawabnya.

“Melly siapa?” Gue balik nanya.

“Mellyhatmu bahagia bersama dengan yang lain”

“…”

Sebenernya yang ditanyakan Cimoth waktu itu adalah bahasa Indonesianya fuel itu apa. Lah gue minder. Kalo doi yang pinter aja ga tahu apalagi gue. Gue sadar kalaupun gue tahu, jawaban gue pasti salah. Kenapa? karena lagi-lagi ini permasalahan gender. Cowo selalu salah, bukan? Padahal Cimoth bisa menjawab dengan ngasal semua pertanyaan saat ujian. KARENA WANITA SELALU BENAR.

Tapi, Kalo gue bilang ga tau, gue bakalan lebih akan menderita lagi saat mendengar ucapan “iya. Aku gapapa kok”. Cewek kan emang gitu. Pura-pura bilang ‘Tidak apa-apa’ padahal menyimpan dendam kesumat sambil ngasah piso.

Untuk menghindari kondisi yang lebih runyam. Sesaat setelah Cimoth nanya, gue pura-pura setep dan mulai kejang-kejang sambil mengaum suara macan. Saat ditanyai kenapa gue bisa jadi macan. Gue bilang “Dengan bisk*uat, semua bisa jadi macan”.

Sejak SMP, Cimoth dikenal sebagai anak yang pendiem. Berbeda dengan kakak-kakaknya yang lebih heboh. Walaupun pendiem, anak satu ini kalo ketawa pake double stereo plus bass. Sifat pendiem ini tak banyak berubah pun ketika ia menjadi temen kelas SMA gue selama tiga tahun. Walaupun pernah ngegenk bareng, hal itu tak membantu banyak interaksi kami saat SMA.

Gue tidak pernah mengamati Cimoth secara detail. Tapi menurut salah satu sumber, kerudung yang ia kenakan haruslah lancip di ujungnya. Lancipnya pun harus didesain sedemikian rupa sehingga terbentuk sudut 35 derajat dengan ketebalan kain 3 cm. Bahkan ia bisa pusing jika tidak mengenakan kerudung dengan model tersebut. Gue bingung, setau gue yang boleh pusing cuma kepalanya Barbie.

Lepas SMA, Cimoth melanjutkan pendidikannya ke Jurusan Arsitektur Universitas Sriwijaya. Ia berkumpul kembali dengan temen kelas kami lainnya, Aas. Empat tahun kuliah, ia lulus dan kemudian bekerja di sebuah developer perumahan. Pada tanggal 8 Maret 2015, ia menikah dengan seorang pemuda bernama Fatahilah di Palembang, Sumatera Selatan.

Walaupun gue ga bisa dateng, tapi doa terbaik selalu kami panjatkan agar kelak pernikahan kalian berbuah keberkahan seperti inti dari doa yang diajarkan Rasul kepada setiap insan yang menikah. Selamat Chotimah, kamu di posisi 23 :D.

Selamat Ulang Tahun, Sayang

IMG-20150311-WA0014

Selamat Ulang Tahun, Sayang.

7 maret menjadi hari yang spesial buatku. Setidaknya mulai dari tahun kemarin. Karena di tanggal ini, Tuhan mengizinkan engkau menyapa dunia bersama dengan segala catatan rezeki, jodoh dan takdir lainnya. Artinya, untuk tahun-tahun ke depan selama hayat masih di kandung badan (keselek), aku akan selalu menjadi orang pertama yang mengucapkan ‘selamat hari lahir’ buat engkau.

Selamat Ulang Tahun, Sayang.

Di tahun ini, engkau genap berusia 27 tahun. Segala harapan dan doa aku haturkan untukmu sebagai ungkapan cinta seorang suami atas segala perhatian, lelah, senyuman, dan kasih yang telah membersamai selama lebih kurang 10 bulan terakhir.

Tahun lalu, aku memberikan hadiah berupa buku dan miniatur eifel yang dibawa serta pada saat lamaran. Aku memang bukan suami yang romantis. Bahkan aku kebingungan untuk memberikan kado di hari ulang tahunmu. Entah kenapa, hadiah pertama yang aku bayangkan adalah memberikan sketsa dirimu dalam bentuk goretan berwarna. Jadilah, sketsa tersebut, walaupun tidak terlalu mirip, sebagai buah tangan yang aku berikan setibanya dari Jakarta. Lebih kurang jam dua belas lebih tiga puluh menit.

Selamat Ulang Tahun, Sayang.

Aku tidak bisa seperti suami lain yang membuatkan lagu di ulang tahun istrinya atau memberikan liontin mewah atau bahkan sekedar menggantikan pekerjaan rumah yang selama ini senantiasa kau kerjakan. Bukan karena ingin tampil berbeda namun karena memang aku tidak atau mungkin belum terbiasa dengan hal-hal demikian.

Sayang, tahukah engkau?. Menurut sumber yang aku baca, wanita senang diberikan hal-hal kecil namun simpatik. Lebih-lebih yang sifatnya kejutan. Kebetulan, sesaat sebelum menjemputmu di kampus, aku mengantongi tiga kuntum mawar merah dan putih sebagai buah tangan. Katanya mawar merah adalah simbol keindahan dan romantisme sementara mawar putih adalah simbol rasa cinta yang sejati dan keanggunan. Sejujurnya, sayang. Aku pun tak mengerti apa makna mawar-mawar itu. Tak usah jua kau berharap aku menambahkan prosa bersamaan dengannya. Aku tak pandai merangkai kata. Jangankan sebuah prosa, menganggit pantun pun aku alpa.

Aku mencoba menerka-nerka, apa lagi yang biasanya diberikan oleh seorang pria di hari ulang tahun wanita yang dicintainya. Ternyata simpel. Engkau doyan makan. Aku pun begitu. Maka mengajakmu ke tempat makan rasanya adalah pilihan yang sangat bijak. Alhamdulillah, engkau pun mengamini undangan makan yang aku ajukan. Tanpa sungkan engkau menunjuk hollycow sebagai tempat perayaan. Plus ada promo bagi sesiapa yang merayakan ulang tahun di Hollycow, ujarmu. Sungguh sebuah kebetulan yang sangat mencengangkan atau bahasa kerennya adalah serendipity. IMG-20150307-WA0026

Selamat Ulang Tahun, Sayang.

Kita pun menyadari bahwasanya ada yang lebih bermakna dari aneka hadiah yang nampak di mata. Ianya adalahi lantunan doa tulus sebagai harapan yang digantungkan di langit cinta. Berharap agar doa tersebut terijabah. Dipayungi oleh keberkahan-keberkahan atasnya. Karena keberkahan adalah puncak kebahagiaan. Tidak semua bahagia berarti berkah. Kebahagiaan yang semakin menjauhkan diri dan keluarga pada kecintaan terhadap Allah bukanlah sebuah ciri tanda keberkahan yang diharapkan.

Doa yang tulus aku persembahkan untukmu. Doa yang tertutur mesra agar engkau sentiasa menjadi wanita sholehah. Agar engkau meletakkan frasa istri dan anak pada posisi teratas dalam skalamu. Semoga kelak engkau menjadi wanita yang semakin dewasa. Tegar dalam menghadapi segala uji dan musibah. Selalu berada di sampingku di saat aku butuh maupun tidak butuh. Di usiamu yang semakin bertambah, aku mendoakan engkau menjadi wanita yang lebih tangguh hingga segenap masalah tak akan mudah menggoyangkanmu.

Aku berharap engkau menjadi ibu yang shalihah untuk anak-anak kita. Sekokoh cinta sang ibu, Fatimah pada Imam Syafi’i hingga sang faqih menamai karya terbaiknya dengan ‘Al-umm’. Iya Al Umm. Yang tak lain dan tak bukan artinya adalah ibu.

IMG-20150311-WA0015Dalam marahmu, hadirkan cinta. Seperti kisah Imam Sudais kecil yang menuangkan tanah ke dalam makanan yang disajikan untuk tamu. Besar kemurkaan sang ibu melihat polah anak yang memantik emosi. Namun sang ibu sadar bahwa setiap ucapan yang meluncur deras dari mulutnya bisa berarti adalah doa yang tak bersekat. Alih alih mengumpat atau mendoakan dengan ucapan semisal ‘anak durhaka’ atau ‘anak setan’, ia malah mendoakan sang anak menjadi Imam di Masjidil Haram. Dan Keridhoan Allah di atas keridhoan orang tua. Doa tersebut terijabah.

Sayang, rajin-rajin lah membaca. Karena anak-anak kita nanti menjadikan engkau sebagai guru pertama mereka. Ini-itu akan ditanya. Berulang kali dan berima.

Selamat Ulang Tahun, Sayang.

Semoga engkau selalu meneladanii khadijah yang dalam peluknya Muhammad merasa tentram. Juga laksana Aisyah yang cerdas dan menjadi teman terbaik berbagi cerita. Kepedulianmu pada setiap anggota keluarga yang akan menumbuhkan kami dalam cinta.

Berat bebanmu sebagai istri. Menanggung banyak hal, mendekapnya dengan erat. Ceritalah, saat engkau ingin cerita. Marahlah, jika engkau harus marah. Bahkan Umar pun hanya tertunduk diam saat istrinya memarahi.

‘Wahai Amirul Mukminin semula aku datang hendak mengadukan kejelekan akhlak istriku dan sikapnya yang membantahku. Lalu aku mendengar istrimu berbuat demikian, maka akupun kembali sambil berkata, ”Jika demikian keadaan Amirul Mukminin bersama istrinya, maka bagaimana dengan keadaanku?”
‘Wahai saudaraku, sesungguhnya aku bersabar atas sikapnya itu karena hak-haknya padaku demikian kata Umar’. “Dia yang memasakkan makananku, yang mencucikan pakaianku, yang menyusui anak-anaku dan hatiku tenang dengannya dari perkara yang haram. Karena itu aku bersabar atas sikapnya” lanjut Umar.

Dan akhirnya sayang, semoga kelak engkau terus membersamaiku dalam suka dan duka. Kelak kita akan menjadi tua bersama. Semoga dimudahkan setiap langkahmu untuk menempuh apa yang dicitakan. Dimudahkan studimu, dilancarkan proses mengemban amanah mencerdaskan ummat.

-Salam cinta untukmu-

Islamic Book Fair 2015

20150309_060307

Penulis yang hebat adalah pembaca yang rakus

Islamic Book Fair (IBF) hadir kembali mulai tanggal 27 Februari sampai 8 Maret 2015 di Istora Senayan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, gue selalu  bergembira dengan kehadiran pameran buku islam terbesar di Indonesia ini. Berada di tengah tumpukan buku adalah satu dari dua hal yang bisa dengan mudahnya membuat gue bahagia. Satunya lagi adalah menemukan jarum di dalam tumpukan jerami. Krik..krik!.

Masih jelas bayang-bayang kunjungan ke IBF tahun lalu. Saat itu, gue masih berstatus calon suami karena penyelenggaraan IBF 2014 berselisih beberapa hari dengan prosesi lamaran gue. Karena timing nya yang sangat pas, gue secara sengaja dan sadar membeli buku ‘kado pernikahan untuk istriku’ sebagai buah tangan yang dibawa turut serta pada saat lamaran. Lebih tepatnya, buku itu gue hadiahkan buat sang istri yang kebetulan berulang tahun satu hari sebelum kedatangan keluarga gue ke Cianjur untuk ngantri raskin. Menurut lo?!. Ya buat lamaran lah.

Beberapa buku yang gue beli tahun lalu masih tersampul rapih dan tersimpan di kardus di pojok kamar kontrakan. Mereka seolah tergugu. Tertunduk lesuh tak tersentuh. Buku Karen Armstrong tentang Perang Salib baru sepertujuhnya selesai dibaca. Biografi Malcolm X malah belum dijamah sama sekali. Di situ kadang buku saya merasa sedih.

Ada yang berbeda dengan IBF 2015 kali ini. Durasi gue untuk memburu buku tidak bisa seleluasa saat masih bersatus jomblo keren. Sekarang, gue harus mengunjungi anak dan istri tercinta yang ada di kota bunga setiap akhir pekan. Jadi, gue harus sempet-sempetin datang ke IBF sepulang jam kantor. Keterbatasan waktu ini juga yang menghalangi gue mencari buku dengan seksama.

Setelah berthawaf di sekitar Istora, gue memilih singggah di beberapa tenan. Tenan pertama yang gue kunjungi tidak lain dan tidak bukan adalah tenan pro u media. Memang, sudah sejak lama pro u media menjadi penerbit yang menghasilkan bacaan-bacaan sesuai dengan selera gue. Buku-bukunya ditulis oleh penulis yang relatif masih unyu dengan topik yang anak muda banget. Mulai dari Fadlan Al Ikhwani, Egha Zainur Ramadhani, Solikhin Abu Izzudin, hingga Salim A Fillah. Setelah melihat-lihat buku yang tersusun rapih di biliknya, tidak ada buku yang menarik perhatian saya dengan amat sangat. Berbeda dengan tahun lalu saat buku Lapis-Lapis Keberkahan Salim A Fillah mencuri perhatian banyak orang.

Sejak awal adanya IBF, gue sudah berazam dan berdiskusi dengan istri untuk mencari buku-buku bertemakan parenting. Jika tahun sebelumnya, gue sangat berapi-api untuk memperoleh buku bertemakan pernikahan maka kali ini gue lebih banyak memfokuskan diri untuk melengkapi koleksi buku tentang bagaimana cara mendidik anak dengan baik dan sesuai tuntunan Al-Quran. Karena segala sesuatu itu harus ada ilmunya. Seperti apa yang dinasihatkan oleh Ali bin Abi Thalib bahwa ibadah yang tidak ada ilmunya lebih besar potensi kerusakannya. Karena membimbing anak adalah sebuah ibadah maka diperlukan ilmu sebagai bekal. Berapa banyak orang tua yang mengaku memiliki anak tapi tidak tahu bagaimana cara mengurusnya. Berapa banyak di antara mereka percaya diri dengan melabeli ayah-ibu sebatas panggilan saja tanpa tahu bagaimana seharusnya seorang anak dibimbing dan diarahkan. Padahal ketahanan keluarga adalah pilar dalam membangun sebuah peradaban. 20150308_160504

Sebelumnya, gue sudah memiliki beberapa buku tentang Parenting seperti Prophetic Parenting, Buku karangan Ibnu Taimiyah hingga buah karya Ust Fauzil Adhim ‘Saat Terbaik Untuk Anak Kita’. Setibanya di Tenan Pro U Media, mata gue tertuju pada buku karangan Ust Fauzil Adhim yang berjudul ‘segenggam iman untuk anak kita’ dan ‘membuat anak gila membaca’. Fauzil Adhim sudah sangat dikenal dengan kemampuannya menganggit kata untuk disarikan menjadi nasihat bagi para orang tua agar menyadarkan orang tua akan pentingnya membekali anak-anak dengan iman, membangun jiwa anak-anak mereka. Dan kedua buku ini diharapkan menjadi wahana untuk mencapai tujuan tersebut.

Selain buku tentang parenting, sejujurnya tidak ada buku yang benar-benar menarik perhatian gue. Berbeda dengan tahun lalu saat buku milik Karen Armstrong dan Rapung Samuddin begitu menggoda untuk dibaca. Waktu berburu yang terbatas pun menjadi faktor utama ketidakbisaan gue melakukan pencarian buku secara mendalam,. Duh lebaynya!.

Di antara buku-buku yang bertebaran dan setelah mengelilingi hampir semua tenan yang ada, gue akhirnya menjatuhkan pilihan pada ‘wajah peradaban barat’ karangan Ust Adian Husaini. Gue sebenernya mengikuti tulisan-tulisan beliau sejak lama. Jauh sebelum negara api menyerang. Selama ini gue hanya bisa menyimak tulisan Ust Adian melalui Web Insist atau status-statusnya yang termuat di facebook. Tulisan beliau bagus dan bernas sebagai referensi untuk menghalau pemikiran-pemikiran liberal dan serangan-serangan orientalis terhadap islam.  Kebetulan sudah lama buku tersebut jadi target operasi.

Masih di rak buku yang sama, duduk manis ‘The Art of Deception’ nya Jerry D Gray. Buku yang memang gagal gue beli tahun lalu karena keterbatasan dana. The Art of Deception bercerita tentang peristiwa pembajakan WTC yang terjadi pada tahun 2001. Penulis memaparkan cerita dari sudut pandang ‘konspirasi’. Jadilah dua buku yang akan sangat berjasa menambah pengetahuan gue tentang peradaban barat serta wawasan tentang ‘penipuan’ yang selama ini terjadi di sekitar kita.

Di arena lain, gue mendapati tenan yang tenang nian sore itu. Tak banyak aktifitas kehidupan nampak di sana. Hanya ada penjaga tenan dan beberapa buku islami yang diobral 5-10 ribu. Sepintas gue melihat buku dengan judul ‘inilah politikku’ karangan Muhammad Elvandi. Gue sudah mengetahui sepak terjang sang penulis sejak menyelami tulisan di web yang ia asuh. Tulisannya sangat baik dengan referensi yang luas. Maklum, beliau adalah lulusan sarjana Mesir dan magister Prancis yang saat ini tengah menyelesaikan pendidikannya PHd nya di kampus Manchester, Inggris. Buku ini banyak bercerita tentang prinsip-prinsip politik islam di era modern. Sebuah tulisan yang cerdas dan sarat makna.

Sisanya, gue membeli buku tentang parenting lagi yang dijual secara paket. 4 buku seharga 100 ribu. Di antaranya bertemakan tentang pola asuh anak dan cara-cara menangani emosi anak. Lumayan, guna menambah referensi bagaimana cara menghadapi Alby, Si Jagoan. Ditambah lagi sebuah buku yang dibuat untuk meluruskan salah paham atas pemikiran dan aktifitas Sayyid Quthb. Pembela Ikhwanul Muslimin yang syahid di tiang gantungan setelah sebelumnya menggegerkan Mesir bahkan dunia dengan Tafsir fi Zhilail Quran dan buku ‘Petunjuk Jalan’.

Selain buku-buku yang berhamparan di rak-rak yang tersusun nan ajeg, hal lain yang membuat gue gembira selama berada di IBF adalah gue melihat kembali tenan yang menjual majalah Sabili dan Tarbawi. Sebagi informasi, Sabili sudah lama tidak hadir menemani pembacanya. Majalah umat yang berdiri sejak tahun 1994 ini sempat vakum selama beberapa tahun. Per Juni 2014, ia kembali hadir. Menurut mereka, selama ini terjadi kendala distribusi. Loper koran yang diamanahi menjual sabili banyak yang tidak menyetor uang kepada tim sabili. Untuk menghindari hal yang sama agar tidak terjadi lagi, Sabili kini tidak lagi dapat ditemui di loper-loper koran. Mereka menjual langsung kepada pembacanya.

Sabili adalah majalah yang sering gue baca sejak SMP. Dari majalah ini, gue banyak mendapatkan informasi tentang kondisi umat islam di berbagai belahan dunia. Betapa mencekamnya kehidupan di negeri-negeri non Muslim. Penindasan di Checnya, Palestina dan negara lain. Boleh dibilang Sabili adalah bacaan pertama yang membuka wawasan gue tentang betapa mirisnya nasib muslim di negara lain.

Majalah Tarbawi sendiri sudah 8 bulan tidak hadir menyapa pembacanya. Mereka berkilah bahwa tengah dilakukan evaluasi. Kini mereka hadir kembali untuk memperluas tsaqofah para pembacanya. Sejujurnya gue bukanlah pelanggan Tarbawi, namun mendapati majalah ini eksis kembali, gue ikut berbahagia.

Seperti itulah petualangan gue di IBF 2015. Semoga tahun-tahun berikutnya Islamic Book Fair tetap ada. Dan Semoga juga gue masih memiliki kesempatan untuk sowan untuk membeli buku-buku terbaik dengan harga miring.

Keikhlasan Sang Guru Ngaji

belajar-mengaji

Pahlawan, ujar Anis Matta, adalah orang yang memiliki banyak pahala. Nasihat tersebut disampaikan oleh sang guru untuk mendeksripsikan sosok pahlawan yang kembali ia ceriterakan dalam salah satu bukunya. Itulah mengapa sosok guru dikenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Karena dari kerja keras mereka, dari setiap kata yang terucap, dari adab-adab yang diajarkan terkandung pahala saat ia berbuah ilmu yang bermanfaat bagi para murid.

Hampir semua orang yang menempuh pendidikan secara formal maupun non-formal pasti memiliki pengalaman tersendiri tentang guru mereka. Pada Butet Manurung, kita belajar makna pengabdian seorang guru yang tak dikenal media. Bekerja tanpa berharap muka disorot oleh kamera dengan kilatan cahaya. Untuknya, mengajar adalah transfer pengetahuan dari si tahu ke si tak tahu. Proses perpindahan ilmu yang tak disekat oleh batas-batas penilaian manusia, tak dijamah oleh pesona harta benda.

Buat saya pribadi, pernah ada sesosok manusia yang sangat menginspirasi. Seorang guru yang dalam diamnya mengajarkan keikhlasan. Dalam ucapnya menyampaikan kebaikan.

Entah mengapa saat ini saya sangat ingin membahas sosok beliau.

Kemarin sore, sebakda matahari mulai menginggalkan peraduan, saya melangkahkan kaki menuju masjid terdekat guna menunaikan sholat maghrib. Dalam perjalanan, terlihat sekumpulan bocah laki dan perempuan yang mengenakan pakaian muslim nan rapih tengah berkumpul di depan sebuah rumah yang sederhana. Sayup-sayup terdengar mereka mengeja ayat Al Quran dan melafazkan doa yang kelak mereka akan kenal sebagai doa sapu jagat. Di depannya nampak seorang wanita paruh baya memimpin lantunan ayat suci tersebut.

Takjub!

Dengah langkah yang tegas saya menapaki jalan sambil sesekali teringat pada masa-masa belajar mengaji di masjid dekat rumah. Kaki kecil kami berlarian, berlomba menggapai masjid dengan cepat dalam upaya merengkuh ilmu mengenali kitab mujizat nabi,

Namanya adalah Pak Mukhlis. Ia sudah mengajar di masjid tempat kami tinggal sejak kakak pertama saya, yang usianya 17 tahun lebih tua, masih duduk di bangku sekolah dasar. Pun halnya berturut-turut 5 kakak saya lainnya diajari membaca Al Quran oleh beliau. Artinya saya adalah generasi terakhir di keluarga kami yang belajar mengeja a, ba, ta dari kepiawaiannya mengajarkan.

Perawakannya tegap. Raut mukanya khas orang melayu atau orang minang. Dengan koko putuh dan peci hitam yang selalu setia menghiasi kepala, beliau hadir tepat waktu untuk membimbing kami kata per kata di lantai dua masjid Jamiatul Islamiyah.

Metoda belajar yang beliau ajarkan agak berbeda dengan yang secara umum didapatkan oleh anak-anak lain yang belajar membaca Al Quran. Kami tidak mulai dengan membaca buku iqro’ 1-6. Kami, sedari awal, langsung memegang Al Quran dan dituntun secara perlahan untuk mengenali satu per satu huruf Hijaiyah. Sesekali kami diperintahkan untuk membedah kata per kata dan huruf per huruf. Lalu dengan bimbingannya, diajarkanlah cara menghapal arti surat-surat pendek dengan irama lagu yang mengiringi.

‘Plak’

Sebilah penggaris panjang menghampiri kaki. Meninggalkan bekas merah yang sesaat kemudian padam. Pak Mukhlis memang terkenal tegas. Tak pernah berkompromi pada setiap ketidakdisiplinan maupun kemalasan-kemalasan muridnya. Tidak jarang, penggaris itulah yang menjadi saksi betapa kenalakan harus diluruskan. Kemampuan beliau mendidik kami dalam mempelajari Al Quran sungguh luar biasa. Beliau adalah sosok pengajar sejati. Tak pernah mengajar dengan emosi. Setiap kali kami melakukan pelanggaran maka ia tak marah pada sosok melainkan sifat kesembronoan individu.

Namun di balik itu semua, yang paling membuat saya kagum akan sosok beliau adalah pada bagimana ia menjadikan ikhlas bukan sekedar panduan dalam ibadah. Ikhlas telah berwujud dalam aktifitas bukan sekedar tulisan di atas kertas. Bagaimana mungkin, selama belasan mungkin puluhan tahun, ia tak pernah memungut bayaran dari kami, murid-murid yang jumlahnya puluhan. Mungkin ratusan. Kebenaran ini ditegaskan oleh para pendahulu yang pernah menjadi muridnya.

Ia tak meminta. Tak menjadikan aktifitas amalnya ternodai oleh tarif-tarif yang hanya bernilai dunia. Saat itu, saya tak mengerti bagaimana kebutuhan keluarganya tercukupi. Ia nampaknya juga bukan pegawai negeri atau pegawai swasta yang waktunya dibatasi. Setiap pagi, terkadang siang, ia kerap mengisi pengajian kami.

Sungguh, amal jariyah yang ia titipkan pada murid-muridnya akan selalu membekas. Dari setiap lantunan Al-Quran terdapat pahala-pahala untuk beliau Pahala yang tak terputus. Bahkan kelak ketika saya mengajarkan Al-Quran pada anak, maka warisan pahala untuknya akan terus mengalir menjadi penyambung ibadah dan kebaikan selepas nantinya terputus amal seseorang saat jasad telah tertanam di dalam tanah.

Saat ini saya tidak tahu di mana beliau berada. Sudah lama sekali tidak menjumpainya. Doa kami selalu menyertaimu, pak. Di manapun engkau berada. Semoga ilmu yang engkau ajarkan bermanfaat untuk kami dan menjadi amal jariah untuk engkau. Tidak hanya huruf hijaiyah namun juga tentang keikhlasan.

Sumber Gambar dari sini

Belajar Menjadi Seorang Ayah

“Bagi seorang wanita, ayah adalah cinta pertama”

“Dan bagi seorang pria, ayah adalah jagoan perdana”

Bagi anak perempuan, ayah adalah pria pertama yang hadir dan merayu dengan penuh mesra. Mengucapkan kata-kata cinta tanpa ada jeda untuk mengeja bualan dan romansa picisan. Pada seorang ayah, mereka menjatuhkan hati. Bermanja penuh kasih tanpa perlu takut merasa kecewa. Ayah adalah pangeran tampan berkuda yang selama ini hanya ada di imajinasi.

Untuk anak laki-laki, ayah adalah wujud ksatria sebenar-benarnya. Jauh mendahului jagoan bertopeng di tivi. Lebih-lebih pendekar mandraguna nan sakti. Pada pundaknya, tertumpah semua keluh kesah. Bercerita ini itu tentang perkelahian di sekolah, atau murid bandel yang selalu berulah.

Seperti itulah ungkapan yang pernah saya dengar tentang bagaimana seharusnya seorang ayah berperan dalam keluarga. Terma ‘ayah’ sudah selaiknya dilekatkan pada pribadi yang hanyasanya menjadi sosok teladan bagi anak-anak di rumah.

Beberapa waktu lalu, saya mendapati sebuah video yang dibagikan jejaring pertemanan daring. Bercerita tentang pengorbanan seorang ayah yang sungguh mengharu biru, Tak perlu waktu lama, selang beberapa menit setelah menyimak kisahnya, saya menumpahkan air mata meresapi pesan yang tertuang dalam video yang kini menjadi viral dan tersebar di ragam media sosial.

Cerita dalam video tersebut mengajarkan saya makna sejati seorang ayah. Karena pengorbanan yang kalah oleh ibu, maka sudah seharusnya ayah mencintai putra-putri mereka dengan cara yang berbeda. Diceritakan, sang ayah tega berbohong pada sang anak. Berbohong demi melihat seuntai senyum bahkan seringai tawa yang menghiasi wajah. Darinya, kita belajar bagaimana seorang ayah dapat menerima beban seberat apapun demi kebahagiaan sang buah hati.

*****

Baru beberapa pekan terakhir saya belajar menjadi seorang ayah. Sejak saat mendampingi istri memasuki ruang persalinan, bayang-bayang kehadiran buah hati sudah menghampiri. Ternyata, mendampingi istri melahirkan sungguh pengalaman yang tak terlupakan. Bagaimana tidak, kalian harus menghadapi situasi dimana wanita terkasih harus menahan sakit dan mules selama lebih dari 12 jam. Sungguh, saat terbaik untuk menyadari betapa banyak dosa kita pada kedua orang tua, khususnya ibu, adalah pada saat membersamai istri di detik-detik melahirkan. Kita tidak akan pernah bisa merasakan cinta kasih, suka duka, lemah bertambah-tambah orang tua jika kita tidak pernah menjadi mereka. parents

Semua sakit, sedih, gundah, was-was yang datang menghujam kelak akan sirna dalam sekejap sebakda sang buah hati lahir ke dunia. Saat itu pula peran sebagai ayah dan ibu sejatinya harus sudah siap dipikul.

Menjadi seorang ayah adalah pengalaman yang benar-benar berbeda daripada semua fasa kehidupan yang pernah dijalani. Sesosok bayi yang lemah, tak berdaya yang mengandalkan orang lain untuk bertahan hidup, kini hadir di depan mata. Pada bayi ini lah kita akan menyadari betapa gerak-gerik diri kini selalu diawasi dan dijadikan cermin.

Belajar menjadi seorang ayah berarti mengambil hikmah dan teladan dari orang-orang terdahulu agar tahu bagaimana seharusnya laku seorang pemimpin rumah tangga. Dalam geraknya. Dalam diamnya. Dalam nasihatnya. Dalam marahnya. Dalam senyumnya. Dalam imannya. Maka Rasulullah Muhammad, Luqman Al-Hakim dan ayah saya adalah sebaik-baik contoh yang paling layak untuk diikuti.

Pada Muhammad kita belajar makna sejati seorang ayah. Ia mengasihi, bersikap lemah lembut, diteladani dan tak pernah mencaci. Teringatlah kita pada ucapan Anas bin Malik yang berujar bahwa selama sepuluh tahun membersamai rasul, tak pernah sekalipun ia mendengar ucapan ‘mengapa kau melakukan ini?’ atau ‘mengapa tak kau lakukan itu’. Pada Rasul, kita belajar sebaik-baik akhlak seorang ayah.

Pada rasul kita meneladani sikap kasih sayang nan mulia. Rasul tahan berlama-lama diam sujud saat sang cucu menaiki pundaknya. Hampir-hampir para sahabat berpikir bahwa wahyu tengah turun di antara sujudnya.

Dari Luqman kita belajar sebenar ketakwaan. Agar diri terhindar dari sikap lacur. Tak banyak yang Luqman ajarkan pada sang anak namun itulah kunci-kunci keselamatan, bak dian di tengah kegelapan. Berimanlah kepada Allah, Jangan sekutukan ia. Mula-mula Luqman mendaraskan tauhid, lalu ihsan, kemudian mendidik sang putra untuk beribadah dan kemudian ditutup dengan peringatan menghindari sikap congkap. Sungguh mulia seorang Luqman. Yang kisahnya nan abadi termuat dalam Al-Quran.

Pada ayah, mari belajar tentang makna sabar dalam kesederhanaan. Senantiasa mengajarkan kejujuran dalam setiap aspek kehidupan. Bergaullah dengan baik dan tak memandang temeh siapapun. Dan hingga kini namanya masih tergaung kebaikan. Dari sosok ayah, saya memahami arti kesahajaan dan ringan tangan. Ayah, semoga amalmu tak terputus. Semoga segala kebaikan yang engkau wariskan menjadi penebus dosa, pengangkat derajat, penyambung pahala.

Dan akhirnya sebagai seorang ayah, senarai doa kami ucapkan untukmu, nak. Seperti doa yang dituliskan Salim A Fillah dalam salah satu bukunya

“Nak, sungguh kami benar-benar beruntung ketika Allah mengaruniakan engkau sebagai buah hati, penyejuk mata, dan pewaris bagi kami. Nak, betapa kami sangat berbahagia, sebab engkaulah karunia Allah yang akan menyempurnakan pengabdian kami sebagai hamba-Nya dengan mendidikmu. Nak, kami amat bersyukur, sebab doa-doamulah yang kelak akan menyelamatkan dan memuliakan kami di dalam surga.”

 

Paulus dan Abdullah bin Sabaa

syiahAlkisah, seorang Yahudi begitu bersedih. Dari ketiga putranya, yang bungsu pindah agama menjadi seorang Kristen. Dia termenung di sinagog besar, mengadu pada YHWH, Tuhannya. ”Tuhan, mengapa Kau biarkan salah satu anakku memasuki jalan sesat dengan menjadi seorang Kristen..” Pengaduannya terputus, tiba-tiba ia mendengar sebuah suara entah dari mana. ”Mendingan juga kamu, anak masih dua yang beriman. Lha Aku, anakKu satu-satunya saja masuk Kristen dan jadi Tuhan di sana..”

Adalah Gus Dur, yang pernah meriwayatkan guyon yang sebenarnya sensitif ini dengan amat smooth.

The first Christian. Begitulah Karen Armstrong menyebut Paulus. Lalu Yesus? Jelas, tulis Armstrong, Yesus seorang Yahudi. Dia lahir sebagai Yahudi, hidup sebagai Yahudi, dan –menurut Armstrong- mati sebagai Yahudi. Menelaah setiap kalimat yang keluar dari Yesus –sementara begitu saja saya menyebutnya-, dan membandingkannya dengan apa yang ‘dikredokan’ oleh Paulus sebagai pondasi besar kekristenan membuat terperangah. Keduanya selalu bertolak belakang.

Lukas 16:17 mencatat kata-kata Yesus, “Lebih mudah langit dan bumi lenyap daripada satu titik dari hukum Taurat batal.” Matius 5:17-18 juga mencatat, “Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para Nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapkannya. Karena aku berkata kepadamu, ‘Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” Sementara Yohannes 7:49 mencatat, “Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!”

Itu Yesus. Apa kata Paulus? Beda lagi. Dalam I Korintus 15:56, Paulus mengatakan, ”Sengat maut adalah dosa. Dan kuasa dosa adalah hukum Taurat.” Dalam Roma 4:15, ia berpandangan, ”Karena hukum Taurat membangkitkan murka, tetapi di mana tidak ada hukum Taurat, di situ tidak ada juga pelanggaran.”

Setelah beropini bahwa hukum Taurat itu menyusahkan, Paulus berkata dalam Roma 7:6, ”Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, sebab kita telah mati bagi dia yang mengurung kita, yang sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf hukum Taurat.” Sebelumnya, dalam Roma 6:14, Paulus mengatakan, ”Sebab kamu tidak akan lagi dikuasai oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.” Puncaknya, sambil menanamkan doktrin ketuhanan Yesus, Paulus berkata dalam Efesus 2:15, ”Sebab dengan matiNya sebagai manusia, Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala segi dan ketentuannya.”

Beberapa contoh kecil ini cukup membuat orang berkesimpulan, jika Yesus adalah Kristus, maka Paulus adalah Anti-Kristus. Bagaimana bisa Paulus, aslinya bernama Saul, seorang Yahudi dari Tarsus yang sebelumnya dikenal sebagai penganiaya murid-murid Yesus itu bisa memutar balik semua dasar kekristenan?

Karen Armstrong mencatat dalam The Spiral Staircase, My Climb Out of  Darkness, setelah penelusurannya bertahun-tahun terhadap sejarah awal kekristenan, ”..Saya kini mengetahui bahwa surat-surat rasul Paulus merupakan dokumen Kristen paling awal yang masih ada dan bahwa Injil, yang semuanya ditulis bertahun-tahun setelah kematian Paulus sendiri, ditulis oleh orang-orang yang telah mengadopsi versi Kristennya Paulus. Bukannya Paulus menyimpangkan Injil, tetapi –lebih dari itu-, Injil-lah yang justru memperoleh visinya dari Paulus..”

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan. (QS Al Baqarah [2]: 79)

Awalnya, inilah agama yang ditindas di seantero Imperium Romanum. Hingga, Konstantin, Kaisar cerdik itu membutuhkan stabilitas di negerinya yang mau tak mau harus dimulai dari perangkulan terhadap komunitas Kristen yang makin membesar. Atas prakarsanya, Konsili Nicea di tahun 327 M memvoting dasar-dasar kekristenan tentang ketuhanan Yesus, dosa waris, dan penebusan dosa. Semuanya hanyalah paganisasi sebagaimana dikehendaki oleh Konstantine. David Fiedler memberi sampul bukunya Ancient Cosmology and Early Christian Symbolism dengan tulisan plesetan dominan ”Jesus Christ, Sun of God.” Ya, karena semua yang diatributkan pada Yesus, -dari tanggal lahir, tempat lahir, hingga hari ibadah Sunday-, adalah atribut Sol Invictus, dewa matahari yang dipuja Konstantin.

Maka, walk out-lah Arius, Imam Alexandria dan pengikutnya yang tetap bersikukuh meyakini kenabian Yesus. Dia dan pengikutnya kemudian di-ekskomunikasi, ditindas, dan dibantai oleh para pengganti Konstantin yang telah mengambil hasil konsili sebagai agama negara. Maka ketika Rasulullah Muhammad menulis surat untuk Heraclius, kaisar Romawi di masanya, beliau tak lupa untuk menuliskan kalimat, “..Masuklah Islam, niscaya Allah akan melimpahkan kebaikan kepada tuan dua kali lipat. Namun jika tuan berpaling, maka tuan akan menanggung dosa atas Arisiyin..” Arisiyin berarti para pengikut Arius yang dipersekusi.

Unik juga. Modus operandi yang sama, dicobakan seorang Yahudi lain kepada agama Islam yang dibawa Muhammad Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Namanya ’Abdullah ibn Sabaa. Tetapi ia tak sesukses Paulus. Ia hanya berhasil membangun sebuah sistem kepercayaan yang di kemudian hari disebut sebagai Syi’ah. Jika objek Paulus adalah diri Yesus, maka ’Abdullah ibn Sabaa menggunakan ’Ali ibn Abi Thalib.

Al Qadhi Abu Ya’la ketika menjelaskan fitnah besar yang melanda kaum muslimin di masa khilafah ’Ali ibn Abi Thalib menyebut dengan jelas peran ’Abdullah ibn Sabaa. Satu kisahnya yang terkenal, ketika ’Ali dan pasukannya memasuki ’Iraq pasca tahkim (arbitrase), ’Abdullah menghasut sekelompok orang untuk bersujud pada ’Ali, yang disebutnya sebagai ’Pemegang washiat Nabi, orang yang dipilih untuk menggantikan beliau, imam junjungan kaum beriman, manifestasi Allah di muka bumi’.

Ketika mendapati orang-orang itu sujud, ’Ali sangat marah dan memerintahkan untuk membakar mereka. Maka ’Abdullah ibn Sabaa kembali beraksi, ”Aku telah mendengar hadits dari Nabi Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda, ”Tidak akan menyiksa dengan api kecuali Allah.” Adakah kita kenal ’Ali selain sebagai sosok ini?”

Inilah dasar bagi salah satu sekte paling ekstrim dalam Syi’ah; semisal Kaisaniyah, yang sampai menempatkan kedudukan ’Ali sebagai manifestasi Allah. Guntur adalah geramnya, dan halilintar adalah cambuk ’Ali yang murka pada para durjana. Tentu saja kerahasiaan keyakinan yang terlindungi oleh taqiyyah menyebabkan munculnya berbagai aliran Syi’ah yang sangat banyak dari yang paling moderat hingga paling ekstrim. Spektrum ajaran ini amat lebar, dari Zaidiyah di Yaman yang amat dekat dengan Ahlus Sunnah hingga Bathiniyah Nushairiyah di Suriah yang amat jauh.

Munculnya Syi’ah sama sekali bukan bersebab faktor tunggal. Sintesis antara ajaran ‘Abdullah ibn Sabaa dengan kezhaliman yang dialami keturunan Sayyidina ‘Ali, kelak ditambah faktor ketiga yang amat dominan; dendam Persia.

Leopold Weiss, Yahudi Polandia yang mengganti namanya menjadi Muhammad Assad setelah meraih hidayah mengisahkan perjalanannya di Iran dalam The Road to Mecca. Alangkah kontrasnya kegembiraan dan keriangan khas suku-suku Arab gurun yang ditemuinya di Hijjaz dan Najd dengan kemurungan dan kesayuan yang menjadi lekatan di wajah orang-orang Iran. Secara fisik mereka gagah, tapi tidak tegap. Kesedihan yang parah. Seolah mendung selalu bergayut di raut muka itu. Ada apa ini? Adakah hubungannya dengan perayaan ratap duka yang senantiasa mereka lakukan di tanggal 10 Muharram untuk mengenang syahidnya Husain di Karbala?

Ya. Tepatnya bukan hubungan sebab akibat, tapi sama-sama akibat. Akibat dari sebuah shock budaya dan shock peradaban. Sebuah frustrasi atas kekalahan peradaban mereka yang begitu agung dalam memori, peradaban Imperium Persia Sassaniyah. Ketika angkatan perang Khalifah ’Umar dipimpin Sa’d ibn Abi Waqqash menklukkan kekaisaran ini dan sekaligus membawakan Islam, kultus Zoroaster telah memasuki palung kebekuan, sehingga ia tak mampu melakukan perlawanan terhadap ide dinamis baru dari jazirah Arab. Peremajaan sosial dan intelektual yang sedang berkecambah di titik balik itu tiba-tiba larut oleh serbuan kekuatan baru yang sungguh-sungguh berbeda.

Islam hadir menghancurkan sistem kasta bangsa Iran kuno dan menghadirkan satu sistem sosial yang egaliter dan bebas. Islam membuka celah baru bagi berkembangnya energi-energi kebudayaan yang sejak lama menggelegak diam tak tentu bentuknya. Tetapi kultus keagungan keturunan Darius dan Xerxes yang tak serta merta terpinggir, seolah diputus, dipenggal antara hari kemarin dan esok. Hari ini, oleh Islam. Suatu bangsa yang memiliki watak begitu halus, telah mendapatkan ekspresinya dalam dualisme asing agama Zand dan pemujaan pantheistis terhadap keempat unsur –udara, air, api, dan tanah-, kini dihadapkan pada kesederhanaan Islam dengan monotheisme tak kenal kompromi. Peralihan itu, kata Assad, terlalu tajam dan perih.

Lebih dari itu, ada perasaan terpendam mendalam ketika mereka mengidentikkan kemenangan cita Islam sebagai kekalahan peradaban mereka. Perasaan sebagai bangsa yang dikalahkan dan kehancuran tak kenal ampun terhadap wadah warisan peradaban mereka memperparah keberantakan mereka, sehingga Islam, yang bagi bangsa-bangsa lain adalah pembebasan dan rangsang kemajuan, menjadi sebuah kerinduan supernatural dan simbolik yang samar.

Syi’ah, yang digarap ’Abdullah ibn Sabaa menawarkan sesuatu yang lebih dekat dengan masa lalu jiwa-jiwa kalah ini. Doktrin mistik, manifestasi Tuhan dalam jasad-jasad terpilih yang agung, kesemuanya disambut sebagai jalan tengah untuk Islam yang lebih ’ramah’ terhadap kejiwaan dan kemasyarakatan mereka. Syi’ah, yang hampir menyerupai pendewaan terhadap ’Ali dan keturunannya itu, menyembunyikan cita benih inkarnasi dan penjelmaan kembali terus menerus. Ini suatu cita yang sangat asing bagi Islam, tetapi sangat akrab bagi kalbu bangsa Iran. Syi’ah menawarkan ratap duka atas Husain sebagai cermin kepedihan atas kekalahan jiwa yang telah terjadi saat ’Umar menaklukkan peradaban lama mereka. Begitu seterusnya.

Dulu kita bertanya, mengapa Husain lebih diratapi daripada Al Hasan, atau bahkan ‘Ali? Mereka sama-sama terbunuh terzhalimi. Terlepas bahwa pembunuhan Husain memang tampak lebih dahsyat kezhalimannya, tapi ternyata Muharram punya makna tersendiri. Sepuluh Muharram bukan hanya tanggal terbunuhnya Husain. Pada tanggal yang kurang lebih sama di tahun 14 H, demikian menurut Saif ibn ‘Umar At Tamimi sebagaimana dikutip Ibn Katsir dalam Al Bidayah wan Nihayah, pasukan Sa’d ibn Abi Waqqash yang diutus ‘Umar ibn Al Khaththab untuk Futuhat Persia menghancurkan pasukan agung Imperium Sassaniyah di bawah pimpinan Rustum Farrakhzad di Qadisiyah. Muharram bukan cuma duka untuk Husain, ia juga ratapan untuk sebuah kekalahan yang takkan dilupakan.

Kini mudah menjawab, mengapa meski Syi’ah membenci Abu Bakr, ’Umar, dan ’Utsman sebagai perampas hak ’Ali, kebencian itu dibidikkan lebih ganas kepada ’Umar. ‘Hadits-hadits’ yang dikarang untuk menista ‘Umar sampai pada tingkat keterlaluan hingga risi menyebutnya. Mengapa bukan Abu Bakr si ’perampas’ pertama? Barangkali, karena ’Umarlah yang meleburkan kebanggaan psikologis bangsa Iran itu, sesuatu yang diterakan dalam jiwa sebagai kenangan pahit; Imperium Sassaniyah Persia.

Dan ’Umar pun, Allah ridha padanya, syahid di mihrab, di tangan seorang budak Persia bernama Firouz.

Buah karya Ustad Salim A. Fillah

#22 Maya the KID

IMG_0011Sekitar tahun 2008, dunia permusikan Indonesia diriuhkan dengan kehadiran lagu kepompong milik Sindentosca. Lagu yang berisi tentang persahabatan ini menjadi sangat viral hingga terdengar di setiap pelosok kota dan desa. Pada bagian reff  lagu terdapat nafas baru bagi ilustrasi sebuah persahabatan. Buat Jalu sang vokalis, persahabatan itu bagai kepompong. Yang satu kepo satunya lagi rempong. Gila lo cyn!.

Entah mengapa, buat gue, kepo dan rempong bak dualisme yang berada dalam satu tubuh. Ibarat dwitunggalnya Indonesia, Pak Soekarno dan Hatta. What the….

Gue sering terjebak dalam situasi dimana gue harus menjadi orang yang kepo untuk selanjutnya berubah menjadi rempong. Lebih-lebih untuk urusan pernikahan temen-temen SMA gue. Sudah lima tahun lebih sejak pertama kali tulisan tentang Suchi Marsely, alumni SMA kelas kami yang pertama kali menikah, termuat dalam blog ini. Dari lima tahun perjalanan tersebut, total sudah ada 21 orang yang menikah. Jumlah tulisan di kategori ‘IPA A’s Wedding’ memang berjumlah 22 karena tulisan tentang Vidia dipecah menjadi dua bagian. Kalian pun bisa menikmati eskalasi tulisan gue sejak tahun 2009 hingga kini.

Jika dirata-rata maka dalam setahun terdapat empat orang yang menggenapi separuh agamanya. Dari 21 orang tersebut, enam di antaranya adalah pria. Dan tulisan kali ini akan membahas pernikahan ke-22. Adalah Maya Savitri yang merengkuh gelar ke-22 tersebut.

*****

Sejak berkumpulnya kami di kelas 1 SMA, Maya hidup layaknya siswa biasa. Dia tinggal di dalam rumah nanas di bawah air, bekerja paruh waktu di restoran burger, memiliki teman yang menyebalkan dan punya hewan piaraan seekor siput.

‘Biar gue tebak, pasti dia punya temen seekor bintang laut warna merah muda, kan?’

‘Tepat sekali’

Maya menjalani kesehariannya dengan normal. Tidak ada yang aneh. Sampai sebuah kericuhan terjadi di kelas kami.

Suatu hari di kelas 3 SMA, kami tengah melakukan pengambilan nilai untuk mata kuliah kesenian dengan tugas pembacaan puisi atau semacamnya. Gue ga begitu inget detailnya. Di tengah keheningan dan kesyahduan puisi ‘hujan’ yang dibacakan oleh Peri, kami dikejutkan oleh sebuah sms misterius yang masuk ke inbox Edo (Al Ridho).

‘SIAL, ternyata undangan Line Let’s Get Rich’ *diludahin sekelas*.

Sms itu semacam teka-teki yang berisi soal-soal kimia. Yang paling gue inget adalah ada tulisan ‘rx’ yang merupakan singkatan untuk ‘reaksi’. Di ujung sms, terdapat inisial ‘1412’, jika tak salah. ‘Waduh. Hebat sekali’ pikir kami. Kami menduga pengirim sms ini adalah seorang psikopat yang teracuni zat kimia. Ia nyaris menang togel dengan memasang empat angka.

Tapi, apa motivasinya? Padahal UN masih jauh. Dan kenapa mesti Edo? Kenapa bukan Edi?. Benarkan ‘1412’ adalah kode togel empat angka?.

Peri langsung maju ke depan. Berbekal komik Detektif Conan, ia melakukan analisa-analisa sambil sesekali bergumam. Bagi penggemar berat detektif rekaan Aoyama Gosho, 1412 adalah identitas ‘Kid’, seorang tokoh misterius yang beberapa kali tampil dalam komik Conan. Kid digambarkan sebagai seorang pencuri yang memiliki kemampuan untuk memanipulasi suara dan kecerdikan lainnya hingga sangat sulit untuk ditangkap. Sangat mungkin, pelaku pengiriman sms misterius adalah seorang fans die-hard nya Detektif Conan dan Aoyama Gosho. Tiba-tiba, tanpa komando, mata kami serentak memandang ke arah Peri.

Ternyata, tidak hanya Edo yang mendapatkan ‘teror’. Temen satu kelas kami yang lain mendapatkan sms serupa. Kelas pun jadi ramai, mengadu sampai gaduh. Semua orang mulai menerka, siapakah pelaku pengiriman sms. Di saat tengah menganalisa kasus ini, hape gue berdering.

‘TINUNG’

‘Wah gue dapet sms terror juga’ pikir gue.

Tolong isiin mama pulsa dulu. Yang 50.000. Mama lagi di kantor polisi. Jangan hubungi mama dulu ya. Awas kalo ga. Mending mama minta pulsa daripada mama minta naik haji. Huft!’

‘Argh, demi naga indosiar. Sialun!’.

Tidak ada yang mengaku siapa pelaku dan apa motivasinya. Yang kami tahu hanyalah ia menggunakan nama samaran ‘kid’. Setelah melalui reka ulang kejadian yang cukup rumit (sebenernya gue lupa bagaimana kronologinya), sosok makhluk misterius tersebut mengerucut pada satu nama yaitu Maya. Seinget gue, ga ada klarifikasi dari Maya bahwa dia lah yang mengirimkan sms misterius tersebut. Ia juga tak melakukan pembelaan atas ‘tuduhan’ yang diberikan. Dan agar lebih mudah membuat kesimpulan, diasumsikan saja bahwasanya Maya Savitri lah yang menjadi pelaku pengiriman sms tersebut.

Sejak kejadian itu, kami menjuluki Maya dengan ‘Maya the Kid’.

Sosok anak satu ini bener-bener tak terduga. Di tengah kesibukan kami menyelesaikan soal-soal biologi dan kimia di kelas, ia tanpa basa-basi berhasil menorehkan sebuah prestasi dengan memenangkan sebuah karya illmiah tingkat nasional (kalo tidak salah). Pencapaian yang luar biasa untuk sekolah kami.

Di kelas, Maya setia untuk duduk satu bangku dengan Apria Mariyati sejak kelas 1 SMA. Sejak meninggalkan sekolah, ia menempuh pendidikan di sekolah farmasi walaupun pada saat bersamaan diterima di Institut Pertanian Bogor. Saat ini Maya bekerja di Rumah Sakit Umum Darah Sungai Liat, Sumatera Selatan.

Pada Hari Jumat tanggal 12 Desember 2014, Maya menikah dengan Pahlevi di Palembang. Sebuah kebahagiaan bagi kami saat mengetahui ada satu lagi temen kelas yang menikah. Alhamdulillah, undangannya tidak berupa sms misterius. Well, Selamat untuk Maya atas gelar ke-22 nya. Semoga menjadi keluarga yang barokah.