Keikhlasan Sang Guru Ngaji

belajar-mengaji

Pahlawan, ujar Anis Matta, adalah orang yang memiliki banyak pahala. Nasihat tersebut disampaikan oleh sang guru untuk mendeksripsikan sosok pahlawan yang kembali ia ceriterakan dalam salah satu bukunya. Itulah mengapa sosok guru dikenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Karena dari kerja keras mereka, dari setiap kata yang terucap, dari adab-adab yang diajarkan terkandung pahala saat ia berbuah ilmu yang bermanfaat bagi para murid.

Hampir semua orang yang menempuh pendidikan secara formal maupun non-formal pasti memiliki pengalaman tersendiri tentang guru mereka. Pada Butet Manurung, kita belajar makna pengabdian seorang guru yang tak dikenal media. Bekerja tanpa berharap muka disorot oleh kamera dengan kilatan cahaya. Untuknya, mengajar adalah transfer pengetahuan dari si tahu ke si tak tahu. Proses perpindahan ilmu yang tak disekat oleh batas-batas penilaian manusia, tak dijamah oleh pesona harta benda.

Buat saya pribadi, pernah ada sesosok manusia yang sangat menginspirasi. Seorang guru yang dalam diamnya mengajarkan keikhlasan. Dalam ucapnya menyampaikan kebaikan.

Entah mengapa saat ini saya sangat ingin membahas sosok beliau.

Kemarin sore, sebakda matahari mulai menginggalkan peraduan, saya melangkahkan kaki menuju masjid terdekat guna menunaikan sholat maghrib. Dalam perjalanan, terlihat sekumpulan bocah laki dan perempuan yang mengenakan pakaian muslim nan rapih tengah berkumpul di depan sebuah rumah yang sederhana. Sayup-sayup terdengar mereka mengeja ayat Al Quran dan melafazkan doa yang kelak mereka akan kenal sebagai doa sapu jagat. Di depannya nampak seorang wanita paruh baya memimpin lantunan ayat suci tersebut.

Takjub!

Dengah langkah yang tegas saya menapaki jalan sambil sesekali teringat pada masa-masa belajar mengaji di masjid dekat rumah. Kaki kecil kami berlarian, berlomba menggapai masjid dengan cepat dalam upaya merengkuh ilmu mengenali kitab mujizat nabi,

Namanya adalah Pak Mukhlis. Ia sudah mengajar di masjid tempat kami tinggal sejak kakak pertama saya, yang usianya 17 tahun lebih tua, masih duduk di bangku sekolah dasar. Pun halnya berturut-turut 5 kakak saya lainnya diajari membaca Al Quran oleh beliau. Artinya saya adalah generasi terakhir di keluarga kami yang belajar mengeja a, ba, ta dari kepiawaiannya mengajarkan.

Perawakannya tegap. Raut mukanya khas orang melayu atau orang minang. Dengan koko putuh dan peci hitam yang selalu setia menghiasi kepala, beliau hadir tepat waktu untuk membimbing kami kata per kata di lantai dua masjid Jamiatul Islamiyah.

Metoda belajar yang beliau ajarkan agak berbeda dengan yang secara umum didapatkan oleh anak-anak lain yang belajar membaca Al Quran. Kami tidak mulai dengan membaca buku iqro’ 1-6. Kami, sedari awal, langsung memegang Al Quran dan dituntun secara perlahan untuk mengenali satu per satu huruf Hijaiyah. Sesekali kami diperintahkan untuk membedah kata per kata dan huruf per huruf. Lalu dengan bimbingannya, diajarkanlah cara menghapal arti surat-surat pendek dengan irama lagu yang mengiringi.

‘Plak’

Sebilah penggaris panjang menghampiri kaki. Meninggalkan bekas merah yang sesaat kemudian padam. Pak Mukhlis memang terkenal tegas. Tak pernah berkompromi pada setiap ketidakdisiplinan maupun kemalasan-kemalasan muridnya. Tidak jarang, penggaris itulah yang menjadi saksi betapa kenalakan harus diluruskan. Kemampuan beliau mendidik kami dalam mempelajari Al Quran sungguh luar biasa. Beliau adalah sosok pengajar sejati. Tak pernah mengajar dengan emosi. Setiap kali kami melakukan pelanggaran maka ia tak marah pada sosok melainkan sifat kesembronoan individu.

Namun di balik itu semua, yang paling membuat saya kagum akan sosok beliau adalah pada bagimana ia menjadikan ikhlas bukan sekedar panduan dalam ibadah. Ikhlas telah berwujud dalam aktifitas bukan sekedar tulisan di atas kertas. Bagaimana mungkin, selama belasan mungkin puluhan tahun, ia tak pernah memungut bayaran dari kami, murid-murid yang jumlahnya puluhan. Mungkin ratusan. Kebenaran ini ditegaskan oleh para pendahulu yang pernah menjadi muridnya.

Ia tak meminta. Tak menjadikan aktifitas amalnya ternodai oleh tarif-tarif yang hanya bernilai dunia. Saat itu, saya tak mengerti bagaimana kebutuhan keluarganya tercukupi. Ia nampaknya juga bukan pegawai negeri atau pegawai swasta yang waktunya dibatasi. Setiap pagi, terkadang siang, ia kerap mengisi pengajian kami.

Sungguh, amal jariyah yang ia titipkan pada murid-muridnya akan selalu membekas. Dari setiap lantunan Al-Quran terdapat pahala-pahala untuk beliau Pahala yang tak terputus. Bahkan kelak ketika saya mengajarkan Al-Quran pada anak, maka warisan pahala untuknya akan terus mengalir menjadi penyambung ibadah dan kebaikan selepas nantinya terputus amal seseorang saat jasad telah tertanam di dalam tanah.

Saat ini saya tidak tahu di mana beliau berada. Sudah lama sekali tidak menjumpainya. Doa kami selalu menyertaimu, pak. Di manapun engkau berada. Semoga ilmu yang engkau ajarkan bermanfaat untuk kami dan menjadi amal jariah untuk engkau. Tidak hanya huruf hijaiyah namun juga tentang keikhlasan.

Sumber Gambar dari sini

Belajar Menjadi Seorang Ayah

“Bagi seorang wanita, ayah adalah cinta pertama”

“Dan bagi seorang pria, ayah adalah jagoan perdana”

Bagi anak perempuan, ayah adalah pria pertama yang hadir dan merayu dengan penuh mesra. Mengucapkan kata-kata cinta tanpa ada jeda untuk mengeja bualan dan romansa picisan. Pada seorang ayah, mereka menjatuhkan hati. Bermanja penuh kasih tanpa perlu takut merasa kecewa. Ayah adalah pangeran tampan berkuda yang selama ini hanya ada di imajinasi.

Untuk anak laki-laki, ayah adalah wujud ksatria sebenar-benarnya. Jauh mendahului jagoan bertopeng di tivi. Lebih-lebih pendekar mandraguna nan sakti. Pada pundaknya, tertumpah semua keluh kesah. Bercerita ini itu tentang perkelahian di sekolah, atau murid bandel yang selalu berulah.

Seperti itulah ungkapan yang pernah saya dengar tentang bagaimana seharusnya seorang ayah berperan dalam keluarga. Terma ‘ayah’ sudah selaiknya dilekatkan pada pribadi yang hanyasanya menjadi sosok teladan bagi anak-anak di rumah.

Beberapa waktu lalu, saya mendapati sebuah video yang dibagikan jejaring pertemanan daring. Bercerita tentang pengorbanan seorang ayah yang sungguh mengharu biru, Tak perlu waktu lama, selang beberapa menit setelah menyimak kisahnya, saya menumpahkan air mata meresapi pesan yang tertuang dalam video yang kini menjadi viral dan tersebar di ragam media sosial.

Cerita dalam video tersebut mengajarkan saya makna sejati seorang ayah. Karena pengorbanan yang kalah oleh ibu, maka sudah seharusnya ayah mencintai putra-putri mereka dengan cara yang berbeda. Diceritakan, sang ayah tega berbohong pada sang anak. Berbohong demi melihat seuntai senyum bahkan seringai tawa yang menghiasi wajah. Darinya, kita belajar bagaimana seorang ayah dapat menerima beban seberat apapun demi kebahagiaan sang buah hati.

*****

Baru beberapa pekan terakhir saya belajar menjadi seorang ayah. Sejak saat mendampingi istri memasuki ruang persalinan, bayang-bayang kehadiran buah hati sudah menghampiri. Ternyata, mendampingi istri melahirkan sungguh pengalaman yang tak terlupakan. Bagaimana tidak, kalian harus menghadapi situasi dimana wanita terkasih harus menahan sakit dan mules selama lebih dari 12 jam. Sungguh, saat terbaik untuk menyadari betapa banyak dosa kita pada kedua orang tua, khususnya ibu, adalah pada saat membersamai istri di detik-detik melahirkan. Kita tidak akan pernah bisa merasakan cinta kasih, suka duka, lemah bertambah-tambah orang tua jika kita tidak pernah menjadi mereka. parents

Semua sakit, sedih, gundah, was-was yang datang menghujam kelak akan sirna dalam sekejap sebakda sang buah hati lahir ke dunia. Saat itu pula peran sebagai ayah dan ibu sejatinya harus sudah siap dipikul.

Menjadi seorang ayah adalah pengalaman yang benar-benar berbeda daripada semua fasa kehidupan yang pernah dijalani. Sesosok bayi yang lemah, tak berdaya yang mengandalkan orang lain untuk bertahan hidup, kini hadir di depan mata. Pada bayi ini lah kita akan menyadari betapa gerak-gerik diri kini selalu diawasi dan dijadikan cermin.

Belajar menjadi seorang ayah berarti mengambil hikmah dan teladan dari orang-orang terdahulu agar tahu bagaimana seharusnya laku seorang pemimpin rumah tangga. Dalam geraknya. Dalam diamnya. Dalam nasihatnya. Dalam marahnya. Dalam senyumnya. Dalam imannya. Maka Rasulullah Muhammad, Luqman Al-Hakim dan ayah saya adalah sebaik-baik contoh yang paling layak untuk diikuti.

Pada Muhammad kita belajar makna sejati seorang ayah. Ia mengasihi, bersikap lemah lembut, diteladani dan tak pernah mencaci. Teringatlah kita pada ucapan Anas bin Malik yang berujar bahwa selama sepuluh tahun membersamai rasul, tak pernah sekalipun ia mendengar ucapan ‘mengapa kau melakukan ini?’ atau ‘mengapa tak kau lakukan itu’. Pada Rasul, kita belajar sebaik-baik akhlak seorang ayah.

Pada rasul kita meneladani sikap kasih sayang nan mulia. Rasul tahan berlama-lama diam sujud saat sang cucu menaiki pundaknya. Hampir-hampir para sahabat berpikir bahwa wahyu tengah turun di antara sujudnya.

Dari Luqman kita belajar sebenar ketakwaan. Agar diri terhindar dari sikap lacur. Tak banyak yang Luqman ajarkan pada sang anak namun itulah kunci-kunci keselamatan, bak dian di tengah kegelapan. Berimanlah kepada Allah, Jangan sekutukan ia. Mula-mula Luqman mendaraskan tauhid, lalu ihsan, kemudian mendidik sang putra untuk beribadah dan kemudian ditutup dengan peringatan menghindari sikap congkap. Sungguh mulia seorang Luqman. Yang kisahnya nan abadi termuat dalam Al-Quran.

Pada ayah, mari belajar tentang makna sabar dalam kesederhanaan. Senantiasa mengajarkan kejujuran dalam setiap aspek kehidupan. Bergaullah dengan baik dan tak memandang temeh siapapun. Dan hingga kini namanya masih tergaung kebaikan. Dari sosok ayah, saya memahami arti kesahajaan dan ringan tangan. Ayah, semoga amalmu tak terputus. Semoga segala kebaikan yang engkau wariskan menjadi penebus dosa, pengangkat derajat, penyambung pahala.

Dan akhirnya sebagai seorang ayah, senarai doa kami ucapkan untukmu, nak. Seperti doa yang dituliskan Salim A Fillah dalam salah satu bukunya

“Nak, sungguh kami benar-benar beruntung ketika Allah mengaruniakan engkau sebagai buah hati, penyejuk mata, dan pewaris bagi kami. Nak, betapa kami sangat berbahagia, sebab engkaulah karunia Allah yang akan menyempurnakan pengabdian kami sebagai hamba-Nya dengan mendidikmu. Nak, kami amat bersyukur, sebab doa-doamulah yang kelak akan menyelamatkan dan memuliakan kami di dalam surga.”

 

Paulus dan Abdullah bin Sabaa

syiahAlkisah, seorang Yahudi begitu bersedih. Dari ketiga putranya, yang bungsu pindah agama menjadi seorang Kristen. Dia termenung di sinagog besar, mengadu pada YHWH, Tuhannya. ”Tuhan, mengapa Kau biarkan salah satu anakku memasuki jalan sesat dengan menjadi seorang Kristen..” Pengaduannya terputus, tiba-tiba ia mendengar sebuah suara entah dari mana. ”Mendingan juga kamu, anak masih dua yang beriman. Lha Aku, anakKu satu-satunya saja masuk Kristen dan jadi Tuhan di sana..”

Adalah Gus Dur, yang pernah meriwayatkan guyon yang sebenarnya sensitif ini dengan amat smooth.

The first Christian. Begitulah Karen Armstrong menyebut Paulus. Lalu Yesus? Jelas, tulis Armstrong, Yesus seorang Yahudi. Dia lahir sebagai Yahudi, hidup sebagai Yahudi, dan –menurut Armstrong- mati sebagai Yahudi. Menelaah setiap kalimat yang keluar dari Yesus –sementara begitu saja saya menyebutnya-, dan membandingkannya dengan apa yang ‘dikredokan’ oleh Paulus sebagai pondasi besar kekristenan membuat terperangah. Keduanya selalu bertolak belakang.

Lukas 16:17 mencatat kata-kata Yesus, “Lebih mudah langit dan bumi lenyap daripada satu titik dari hukum Taurat batal.” Matius 5:17-18 juga mencatat, “Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para Nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapkannya. Karena aku berkata kepadamu, ‘Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” Sementara Yohannes 7:49 mencatat, “Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!”

Itu Yesus. Apa kata Paulus? Beda lagi. Dalam I Korintus 15:56, Paulus mengatakan, ”Sengat maut adalah dosa. Dan kuasa dosa adalah hukum Taurat.” Dalam Roma 4:15, ia berpandangan, ”Karena hukum Taurat membangkitkan murka, tetapi di mana tidak ada hukum Taurat, di situ tidak ada juga pelanggaran.”

Setelah beropini bahwa hukum Taurat itu menyusahkan, Paulus berkata dalam Roma 7:6, ”Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, sebab kita telah mati bagi dia yang mengurung kita, yang sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf hukum Taurat.” Sebelumnya, dalam Roma 6:14, Paulus mengatakan, ”Sebab kamu tidak akan lagi dikuasai oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.” Puncaknya, sambil menanamkan doktrin ketuhanan Yesus, Paulus berkata dalam Efesus 2:15, ”Sebab dengan matiNya sebagai manusia, Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala segi dan ketentuannya.”

Beberapa contoh kecil ini cukup membuat orang berkesimpulan, jika Yesus adalah Kristus, maka Paulus adalah Anti-Kristus. Bagaimana bisa Paulus, aslinya bernama Saul, seorang Yahudi dari Tarsus yang sebelumnya dikenal sebagai penganiaya murid-murid Yesus itu bisa memutar balik semua dasar kekristenan?

Karen Armstrong mencatat dalam The Spiral Staircase, My Climb Out of  Darkness, setelah penelusurannya bertahun-tahun terhadap sejarah awal kekristenan, ”..Saya kini mengetahui bahwa surat-surat rasul Paulus merupakan dokumen Kristen paling awal yang masih ada dan bahwa Injil, yang semuanya ditulis bertahun-tahun setelah kematian Paulus sendiri, ditulis oleh orang-orang yang telah mengadopsi versi Kristennya Paulus. Bukannya Paulus menyimpangkan Injil, tetapi –lebih dari itu-, Injil-lah yang justru memperoleh visinya dari Paulus..”

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan. (QS Al Baqarah [2]: 79)

Awalnya, inilah agama yang ditindas di seantero Imperium Romanum. Hingga, Konstantin, Kaisar cerdik itu membutuhkan stabilitas di negerinya yang mau tak mau harus dimulai dari perangkulan terhadap komunitas Kristen yang makin membesar. Atas prakarsanya, Konsili Nicea di tahun 327 M memvoting dasar-dasar kekristenan tentang ketuhanan Yesus, dosa waris, dan penebusan dosa. Semuanya hanyalah paganisasi sebagaimana dikehendaki oleh Konstantine. David Fiedler memberi sampul bukunya Ancient Cosmology and Early Christian Symbolism dengan tulisan plesetan dominan ”Jesus Christ, Sun of God.” Ya, karena semua yang diatributkan pada Yesus, -dari tanggal lahir, tempat lahir, hingga hari ibadah Sunday-, adalah atribut Sol Invictus, dewa matahari yang dipuja Konstantin.

Maka, walk out-lah Arius, Imam Alexandria dan pengikutnya yang tetap bersikukuh meyakini kenabian Yesus. Dia dan pengikutnya kemudian di-ekskomunikasi, ditindas, dan dibantai oleh para pengganti Konstantin yang telah mengambil hasil konsili sebagai agama negara. Maka ketika Rasulullah Muhammad menulis surat untuk Heraclius, kaisar Romawi di masanya, beliau tak lupa untuk menuliskan kalimat, “..Masuklah Islam, niscaya Allah akan melimpahkan kebaikan kepada tuan dua kali lipat. Namun jika tuan berpaling, maka tuan akan menanggung dosa atas Arisiyin..” Arisiyin berarti para pengikut Arius yang dipersekusi.

Unik juga. Modus operandi yang sama, dicobakan seorang Yahudi lain kepada agama Islam yang dibawa Muhammad Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Namanya ’Abdullah ibn Sabaa. Tetapi ia tak sesukses Paulus. Ia hanya berhasil membangun sebuah sistem kepercayaan yang di kemudian hari disebut sebagai Syi’ah. Jika objek Paulus adalah diri Yesus, maka ’Abdullah ibn Sabaa menggunakan ’Ali ibn Abi Thalib.

Al Qadhi Abu Ya’la ketika menjelaskan fitnah besar yang melanda kaum muslimin di masa khilafah ’Ali ibn Abi Thalib menyebut dengan jelas peran ’Abdullah ibn Sabaa. Satu kisahnya yang terkenal, ketika ’Ali dan pasukannya memasuki ’Iraq pasca tahkim (arbitrase), ’Abdullah menghasut sekelompok orang untuk bersujud pada ’Ali, yang disebutnya sebagai ’Pemegang washiat Nabi, orang yang dipilih untuk menggantikan beliau, imam junjungan kaum beriman, manifestasi Allah di muka bumi’.

Ketika mendapati orang-orang itu sujud, ’Ali sangat marah dan memerintahkan untuk membakar mereka. Maka ’Abdullah ibn Sabaa kembali beraksi, ”Aku telah mendengar hadits dari Nabi Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda, ”Tidak akan menyiksa dengan api kecuali Allah.” Adakah kita kenal ’Ali selain sebagai sosok ini?”

Inilah dasar bagi salah satu sekte paling ekstrim dalam Syi’ah; semisal Kaisaniyah, yang sampai menempatkan kedudukan ’Ali sebagai manifestasi Allah. Guntur adalah geramnya, dan halilintar adalah cambuk ’Ali yang murka pada para durjana. Tentu saja kerahasiaan keyakinan yang terlindungi oleh taqiyyah menyebabkan munculnya berbagai aliran Syi’ah yang sangat banyak dari yang paling moderat hingga paling ekstrim. Spektrum ajaran ini amat lebar, dari Zaidiyah di Yaman yang amat dekat dengan Ahlus Sunnah hingga Bathiniyah Nushairiyah di Suriah yang amat jauh.

Munculnya Syi’ah sama sekali bukan bersebab faktor tunggal. Sintesis antara ajaran ‘Abdullah ibn Sabaa dengan kezhaliman yang dialami keturunan Sayyidina ‘Ali, kelak ditambah faktor ketiga yang amat dominan; dendam Persia.

Leopold Weiss, Yahudi Polandia yang mengganti namanya menjadi Muhammad Assad setelah meraih hidayah mengisahkan perjalanannya di Iran dalam The Road to Mecca. Alangkah kontrasnya kegembiraan dan keriangan khas suku-suku Arab gurun yang ditemuinya di Hijjaz dan Najd dengan kemurungan dan kesayuan yang menjadi lekatan di wajah orang-orang Iran. Secara fisik mereka gagah, tapi tidak tegap. Kesedihan yang parah. Seolah mendung selalu bergayut di raut muka itu. Ada apa ini? Adakah hubungannya dengan perayaan ratap duka yang senantiasa mereka lakukan di tanggal 10 Muharram untuk mengenang syahidnya Husain di Karbala?

Ya. Tepatnya bukan hubungan sebab akibat, tapi sama-sama akibat. Akibat dari sebuah shock budaya dan shock peradaban. Sebuah frustrasi atas kekalahan peradaban mereka yang begitu agung dalam memori, peradaban Imperium Persia Sassaniyah. Ketika angkatan perang Khalifah ’Umar dipimpin Sa’d ibn Abi Waqqash menklukkan kekaisaran ini dan sekaligus membawakan Islam, kultus Zoroaster telah memasuki palung kebekuan, sehingga ia tak mampu melakukan perlawanan terhadap ide dinamis baru dari jazirah Arab. Peremajaan sosial dan intelektual yang sedang berkecambah di titik balik itu tiba-tiba larut oleh serbuan kekuatan baru yang sungguh-sungguh berbeda.

Islam hadir menghancurkan sistem kasta bangsa Iran kuno dan menghadirkan satu sistem sosial yang egaliter dan bebas. Islam membuka celah baru bagi berkembangnya energi-energi kebudayaan yang sejak lama menggelegak diam tak tentu bentuknya. Tetapi kultus keagungan keturunan Darius dan Xerxes yang tak serta merta terpinggir, seolah diputus, dipenggal antara hari kemarin dan esok. Hari ini, oleh Islam. Suatu bangsa yang memiliki watak begitu halus, telah mendapatkan ekspresinya dalam dualisme asing agama Zand dan pemujaan pantheistis terhadap keempat unsur –udara, air, api, dan tanah-, kini dihadapkan pada kesederhanaan Islam dengan monotheisme tak kenal kompromi. Peralihan itu, kata Assad, terlalu tajam dan perih.

Lebih dari itu, ada perasaan terpendam mendalam ketika mereka mengidentikkan kemenangan cita Islam sebagai kekalahan peradaban mereka. Perasaan sebagai bangsa yang dikalahkan dan kehancuran tak kenal ampun terhadap wadah warisan peradaban mereka memperparah keberantakan mereka, sehingga Islam, yang bagi bangsa-bangsa lain adalah pembebasan dan rangsang kemajuan, menjadi sebuah kerinduan supernatural dan simbolik yang samar.

Syi’ah, yang digarap ’Abdullah ibn Sabaa menawarkan sesuatu yang lebih dekat dengan masa lalu jiwa-jiwa kalah ini. Doktrin mistik, manifestasi Tuhan dalam jasad-jasad terpilih yang agung, kesemuanya disambut sebagai jalan tengah untuk Islam yang lebih ’ramah’ terhadap kejiwaan dan kemasyarakatan mereka. Syi’ah, yang hampir menyerupai pendewaan terhadap ’Ali dan keturunannya itu, menyembunyikan cita benih inkarnasi dan penjelmaan kembali terus menerus. Ini suatu cita yang sangat asing bagi Islam, tetapi sangat akrab bagi kalbu bangsa Iran. Syi’ah menawarkan ratap duka atas Husain sebagai cermin kepedihan atas kekalahan jiwa yang telah terjadi saat ’Umar menaklukkan peradaban lama mereka. Begitu seterusnya.

Dulu kita bertanya, mengapa Husain lebih diratapi daripada Al Hasan, atau bahkan ‘Ali? Mereka sama-sama terbunuh terzhalimi. Terlepas bahwa pembunuhan Husain memang tampak lebih dahsyat kezhalimannya, tapi ternyata Muharram punya makna tersendiri. Sepuluh Muharram bukan hanya tanggal terbunuhnya Husain. Pada tanggal yang kurang lebih sama di tahun 14 H, demikian menurut Saif ibn ‘Umar At Tamimi sebagaimana dikutip Ibn Katsir dalam Al Bidayah wan Nihayah, pasukan Sa’d ibn Abi Waqqash yang diutus ‘Umar ibn Al Khaththab untuk Futuhat Persia menghancurkan pasukan agung Imperium Sassaniyah di bawah pimpinan Rustum Farrakhzad di Qadisiyah. Muharram bukan cuma duka untuk Husain, ia juga ratapan untuk sebuah kekalahan yang takkan dilupakan.

Kini mudah menjawab, mengapa meski Syi’ah membenci Abu Bakr, ’Umar, dan ’Utsman sebagai perampas hak ’Ali, kebencian itu dibidikkan lebih ganas kepada ’Umar. ‘Hadits-hadits’ yang dikarang untuk menista ‘Umar sampai pada tingkat keterlaluan hingga risi menyebutnya. Mengapa bukan Abu Bakr si ’perampas’ pertama? Barangkali, karena ’Umarlah yang meleburkan kebanggaan psikologis bangsa Iran itu, sesuatu yang diterakan dalam jiwa sebagai kenangan pahit; Imperium Sassaniyah Persia.

Dan ’Umar pun, Allah ridha padanya, syahid di mihrab, di tangan seorang budak Persia bernama Firouz.

Buah karya Ustad Salim A. Fillah

#22 Maya the KID

IMG_0011Sekitar tahun 2008, dunia permusikan Indonesia diriuhkan dengan kehadiran lagu kepompong milik Sindentosca. Lagu yang berisi tentang persahabatan ini menjadi sangat viral hingga terdengar di setiap pelosok kota dan desa. Pada bagian reff  lagu terdapat nafas baru bagi ilustrasi sebuah persahabatan. Buat Jalu sang vokalis, persahabatan itu bagai kepompong. Yang satu kepo satunya lagi rempong. Gila lo cyn!.

Entah mengapa, buat gue, kepo dan rempong bak dualisme yang berada dalam satu tubuh. Ibarat dwitunggalnya Indonesia, Pak Soekarno dan Hatta. What the….

Gue sering terjebak dalam situasi dimana gue harus menjadi orang yang kepo untuk selanjutnya berubah menjadi rempong. Lebih-lebih untuk urusan pernikahan temen-temen SMA gue. Sudah lima tahun lebih sejak pertama kali tulisan tentang Suchi Marsely, alumni SMA kelas kami yang pertama kali menikah, termuat dalam blog ini. Dari lima tahun perjalanan tersebut, total sudah ada 21 orang yang menikah. Jumlah tulisan di kategori ‘IPA A’s Wedding’ memang berjumlah 22 karena tulisan tentang Vidia dipecah menjadi dua bagian. Kalian pun bisa menikmati eskalasi tulisan gue sejak tahun 2009 hingga kini.

Jika dirata-rata maka dalam setahun terdapat empat orang yang menggenapi separuh agamanya. Dari 21 orang tersebut, enam di antaranya adalah pria. Dan tulisan kali ini akan membahas pernikahan ke-22. Adalah Maya Savitri yang merengkuh gelar ke-22 tersebut.

*****

Sejak berkumpulnya kami di kelas 1 SMA, Maya hidup layaknya siswa biasa. Dia tinggal di dalam rumah nanas di bawah air, bekerja paruh waktu di restoran burger, memiliki teman yang menyebalkan dan punya hewan piaraan seekor siput.

‘Biar gue tebak, pasti dia punya temen seekor bintang laut warna merah muda, kan?’

‘Tepat sekali’

Maya menjalani kesehariannya dengan normal. Tidak ada yang aneh. Sampai sebuah kericuhan terjadi di kelas kami.

Suatu hari di kelas 3 SMA, kami tengah melakukan pengambilan nilai untuk mata kuliah kesenian dengan tugas pembacaan puisi atau semacamnya. Gue ga begitu inget detailnya. Di tengah keheningan dan kesyahduan puisi ‘hujan’ yang dibacakan oleh Peri, kami dikejutkan oleh sebuah sms misterius yang masuk ke inbox Edo (Al Ridho).

‘SIAL, ternyata undangan Line Let’s Get Rich’ *diludahin sekelas*.

Sms itu semacam teka-teki yang berisi soal-soal kimia. Yang paling gue inget adalah ada tulisan ‘rx’ yang merupakan singkatan untuk ‘reaksi’. Di ujung sms, terdapat inisial ‘1412’, jika tak salah. ‘Waduh. Hebat sekali’ pikir kami. Kami menduga pengirim sms ini adalah seorang psikopat yang teracuni zat kimia. Ia nyaris menang togel dengan memasang empat angka.

Tapi, apa motivasinya? Padahal UN masih jauh. Dan kenapa mesti Edo? Kenapa bukan Edi?. Benarkan ‘1412’ adalah kode togel empat angka?.

Peri langsung maju ke depan. Berbekal komik Detektif Conan, ia melakukan analisa-analisa sambil sesekali bergumam. Bagi penggemar berat detektif rekaan Aoyama Gosho, 1412 adalah identitas ‘Kid’, seorang tokoh misterius yang beberapa kali tampil dalam komik Conan. Kid digambarkan sebagai seorang pencuri yang memiliki kemampuan untuk memanipulasi suara dan kecerdikan lainnya hingga sangat sulit untuk ditangkap. Sangat mungkin, pelaku pengiriman sms misterius adalah seorang fans die-hard nya Detektif Conan dan Aoyama Gosho. Tiba-tiba, tanpa komando, mata kami serentak memandang ke arah Peri.

Ternyata, tidak hanya Edo yang mendapatkan ‘teror’. Temen satu kelas kami yang lain mendapatkan sms serupa. Kelas pun jadi ramai, mengadu sampai gaduh. Semua orang mulai menerka, siapakah pelaku pengiriman sms. Di saat tengah menganalisa kasus ini, hape gue berdering.

‘TINUNG’

‘Wah gue dapet sms terror juga’ pikir gue.

Tolong isiin mama pulsa dulu. Yang 50.000. Mama lagi di kantor polisi. Jangan hubungi mama dulu ya. Awas kalo ga. Mending mama minta pulsa daripada mama minta naik haji. Huft!’

‘Argh, demi naga indosiar. Sialun!’.

Tidak ada yang mengaku siapa pelaku dan apa motivasinya. Yang kami tahu hanyalah ia menggunakan nama samaran ‘kid’. Setelah melalui reka ulang kejadian yang cukup rumit (sebenernya gue lupa bagaimana kronologinya), sosok makhluk misterius tersebut mengerucut pada satu nama yaitu Maya. Seinget gue, ga ada klarifikasi dari Maya bahwa dia lah yang mengirimkan sms misterius tersebut. Ia juga tak melakukan pembelaan atas ‘tuduhan’ yang diberikan. Dan agar lebih mudah membuat kesimpulan, diasumsikan saja bahwasanya Maya Savitri lah yang menjadi pelaku pengiriman sms tersebut.

Sejak kejadian itu, kami menjuluki Maya dengan ‘Maya the Kid’.

Sosok anak satu ini bener-bener tak terduga. Di tengah kesibukan kami menyelesaikan soal-soal biologi dan kimia di kelas, ia tanpa basa-basi berhasil menorehkan sebuah prestasi dengan memenangkan sebuah karya illmiah tingkat nasional (kalo tidak salah). Pencapaian yang luar biasa untuk sekolah kami.

Di kelas, Maya setia untuk duduk satu bangku dengan Apria Mariyati sejak kelas 1 SMA. Sejak meninggalkan sekolah, ia menempuh pendidikan di sekolah farmasi walaupun pada saat bersamaan diterima di Institut Pertanian Bogor. Saat ini Maya bekerja di Rumah Sakit Umum Darah Sungai Liat, Sumatera Selatan.

Pada Hari Jumat tanggal 12 Desember 2014, Maya menikah dengan Pahlevi di Palembang. Sebuah kebahagiaan bagi kami saat mengetahui ada satu lagi temen kelas yang menikah. Alhamdulillah, undangannya tidak berupa sms misterius. Well, Selamat untuk Maya atas gelar ke-22 nya. Semoga menjadi keluarga yang barokah.

Tentang Sebuah Nama

PhotoGrid_1422770184316Apalah arti sebuah nama. Bahkan jika sekuntum mawar memiliki nama yang lain, ia akan tetap wangi.

Seperti itulah parafrase sajak William Shakespare yang termuat dalam kisah cinta picisan yang menyejarah antara keluarga Montague dan Capulet atau lebih dikenal dengan Romeo dan Juliet. Hebatnya, gaung sajak tersebut bisa kita rasakan hingga saat ini, setiap kali ‘nama’ menjadi sebuah topik pembahasan. Dan, sebagai anti teori dari penafian sebuah nama yang membawa ideologi ‘barat’ maka akan dipostulatkan ungkapan ‘nama adalah doa’. Bak pertarungan ideologis antara orient dan occident, keduanya mewakili seperti apa barat dan timur memandang sebuah nama.

Di negeri kita sendiri, masalah nama sempat menjadi sebuah kontroversi. Pada suatu masa di era orde baru, warga Indonesia keturunan Cina harus memiliki nama bercorak Indonesia atau setidaknya seperti nama seorang muslim sebagai identitas. Maka nama macam Husin, Ali, Wijaya sangat laku di pasaran. Salah seorang warga keturunan bahkan mengganti namanya menjadi Diponegoro yang artinya Dipokso Negoro.

Oprah Winfrey adalah contoh dari seseorang yang sempat mengalami kesalahan dalam namanya. Nama asli Oprah adalah ‘Orpah’ karena orang tuanya terinpirasi dari Alkitab. Namun karena kesalahan pada surat keterangan lahir maka kita mengenalnya dengan ‘Oprah’ hingga saat ini. Tak ada yang tahu apakah jika ia masih menyandang nama Orpah dia akan tetap terkenal seperti sekarang. Kalian juga bisa memilih nama-nama unik agar terkenal. Pilihlah nama yang anti-mainstream agar meninggalkan kesan buat orang lain. Ayu ting-ting dan Cita Citata melakukannya dengan baik.

Sehubungan dengan nama, gue sudah bahas di tulisan sebelumnya bahwa pemilihan nama bayi kami melalui sebuah mekanisme yang panjang. Jauh sebelum bayi kami lahir, gue sudah mencari-cari nama yang cocok untuknya. Lewat beberapa referensi dan interupsi hingga ada banyak nama tandingan, kami memutuskan bahwa sang bayi bernama ‘Alby Shofwan Moissani’. Dan kalian perlu tahu saat berhasil memperoleh nama yang baik untuk bayi kita rasanya seperti ingin berucap ‘Eureka’ ala Archimedes.

Saat duduk di bangku sekolah dasar, gue dan temen sepermainan pernah berandai andai jika nanti punya anak, siapa kira-kira namanya. Iya, gue memang alay sejak SD. Bukannya mikirin bagaimana membantu Kotaro Minami melawan Gorgom dan Jendral Jack, gue malah berleha-leha memilih nama calon anak. Tiba-tiba gue pengen minjem mesin waktunya doraemon buat balik ke masa sekolah dasar dan ketok kepala gue yang masih bocah tapi udah ngomongin anak.

Tapi ada yang unik. Saat itu, di tengah ke-alay-an tersebut, gue sadar bahwa belum ada nama-nama beken sepeti Aliando, Kenzo, Zahra. Nama-nama yang beredar masih sangat amat KONVENSIONAL. Hanya ada Suraji, Ahmad dan Joko. Sangat berbeda dengan nama-nama anak kekinian. Yes, saat gue bertanya pada temen-temen yang lebih dulu mempunyai bayi, nama anak mereka pun tak lazim di telinga. Mulai dari Alaric, Azkadina, Gibraltar. Wow! Gue berdecak kagum. Apa bapak-ibu muda ini membuka Sirah Nabawiyah sebelum memilih nama. Atau mereka terlebih dahulu mengkonsumsi biskuat biar semua bisa jadi macan? Entahlah.

Sudah sangat jarang nama-nama seperti Andri, Dedy, Putri menjadi pilihan para orang tua. Deretan nama tersebut nampak terlalu old school. Nama Dedy tak lagi menjual Karena public figure dengan berawalan ‘Dedy’ tidak mencolok secara fisik. Tengok saja Dedy Corbuzier, Dedy dukun hingga Dedy dores.

Memberikan nama yang baik adalah satu dari tiga kewajiban seorang ayah pada anaknya. Jika Juliet terlalu mabuk dalam cintanya pada romeo hingga sebuah nama nir arti. Maka memang, bagi seorang muslim nama adalah representasi dari harapan orang tua pada sang anak. Pada nama, kita bisa bercermin tentang sosok anak di masa depan.

Sebaik-baik nama adalah Abdullah. Itu kata rasul yang termuat dalam prophetic parenting karya Dr. Muhammad Nur Abdul Hafizh. Jangan mentang-mentang berharap nama keren lalu memberi nama yang dilarang atau agar nampak kearaban lalu dipilih ‘Abu Lahab’ atau ‘Abu Jahal’. Ulama juga melarang memberikan nama dengan nama seseorang yang masih hidup karena kita tidak mengetahui bagaimana akhir hidup seseorang. Jadi tidak disarankan untuk memberikan nama ‘Erdogan’ misalnya hanya karena ingin berharap sang anak memiliki sepak terjang layaknya Presiden Turki tersebut.

Saran gue, nama seorang anak sebaiknya terdiri dari minimal dua suku kata agar mereka tidak kesulitan saat mendaftar di jejaring sosial yang mensyaratkan dua kotak untuk nama usernya. Tapi juga jangan terlalu panjang seperti nama berikut

Red Wacky League Antlez Broke the Stereo Neon Tide Bring Back Honesty Coalition Feedback Hand of Aces Keep Going Captain Let’s Pretend Lost State of Dance Paper Taxis Lunar Road Up Down Strange All and I Neon Sheep Eve Hornby Faye Bradley AJ Wilde Michael Rice Dion Watts Matthew Appleyard John Ashurst Lauren Swales Zoe Angus Jaspreet Singh Emma Matthews Nicola Brown Leanne Pickering Victoria Davies Rachel Burnside Gil Parker Freya Watson Alisha Watts James Pearson Jacob Sotheran Darley Beth Lowery Jasmine Hewitt Chloe Gibson Molly Farquhar Lewis Murphy Abbie Coulson Nick Davies Harvey Parker Kyran Williamson Michael Anderson Bethany Murray Sophie Hamilton Amy Wilkins Emma Simpson Liam Wales Jacob Bartram Alex Hooks Rebecca Miller Caitlin Miller Sean McCloskey Dominic Parker Abbey Sharpe Elena Larkin Rebecca Simpson Nick Dixon Abbie Farrelly Liam Grieves Casey Smith Liam Downing Ben Wignall Elizabeth Hann Danielle Walker Lauren Glen James Johnson Ben Ervine Kate Burton James Hudson Daniel Mayes Matthew Kitching Josh Bennett Evolution Dreams.

Dan luar biasanya, kalian cukup memanggil nama yang terdiri dari 161 kata tersebut dengan ‘Red’. Silahkan menghela napas.

Hello World

dede

Hello world!!!

Please welcome me..

Namaku adalah Alby Shofwan Moissani. Aku lahir pada hari Ahad (Minggu) tanggal 18 Januari 2015 tepat sesaat setelah adzan dzuhur di Rumah Sakit Limijati dengan bantuan Prof Sofie dan para suster. Setelah ditimbang, suster memberi tahu ayah dan bunda kalo beratku 2.95 kg dengan panjang 51 cm dan diameter kepala 32 cm. Aku lahir dalam keadaan normal loh setelah bunda berjuang dengan sekuat tenaga menahan mules dan sakit selama lebih dari dua belas jam di rumah sakit.

Kata temen temen ayah dan bunda, mataku bagus. Mukaku juga mirip anak cewek karena saat ayah menginformasikan ke teman-temannya bahwa aku telah lahir, fotoku yang tersebar di whatsapp lebih mirip anak cewe karena suster yang membedong menutupi semua tubuh aku sampe kepala. Jadinya aku seolah-olah mereka kerudung.. hihihi. Tak lama kemudian, banyak yang mendoakan agar aku jadi anak sholehah. Loh kok sholehah? hiks.

Kata ayah, perjuangan mencari nama buatku tidaklah gampang. Ayah terus mencari referensi di internet untuk mendapatkan nama yang baik. Karena kata ayah, Khalifah Umar ra pernah berkata bahwa kewajiban seorang ayah atas anaknya ada 3 yaitu mencarikan ibu yang baik, memberikan nama yang baik serta mengajarkan al quran. Alhamdulillah ayah sudah mencarikan sosok ibu yang baik, ibu yang luar biasa agar aku bisa tumbuh dan bersemayam di rahimnya. Lalu tugas berikutnya sebelum aku lahir, ayah mencarikan sebaik-baik nama buatku. Awalnya, kata ayah, namaku harus terdiri dari 3 suku kata dengan berawalan huruf ‘A’ karena kami ingin membentuk keluarga ‘A’ setelah ayah dan ibuku namanya diawali abjad pertama alfabet tersebut. Selain itu, namaku juga harus terdiri dari Bahasa Arab, Bahasa Indonesia (Sansekerta) serta Bahasa asing lainnya atau nama yang modern.

Ayahku selalu berharap bahwa aku kelak dapat tumbuh menjadi anak yang soleh, cerdas namun tetap dengan identitas dalam negeri.

Setelah berdiskusi panjang dengan bunda, ayah kesulitan memadupadankan semua unsur tersebut sehingga setelah berselancar lebih jauh di dunia maya, namaku disepakati berawalan dengan ‘Alby’. Alby diambil dari Bahasa Jerman yang berarti mulia dan cerdas. Semoga aku kelak tumbuh menjadi anak yang cerdas seperti otak orang Jerman yang terkenal encer seperti Max Planck, Hertz, Heisenberg dan lainnya. Tapi, kata temen ayah, Alby juga adalah nama maskot lebah toko ritel yang menjamur di Indonesia. Tapi tak apa-apa, lebah juga kan banyak manfaat seperti termuat dalam surat AN-Nahl :D.

Kata ‘Shofwan’ sendiri diambil dari Bahasa Arab yang berarti ‘Teman yang baik’. Ayah ingin aku meniru sosoknya yang selalu berusaha menjadi teman yang baik bagi semua orang. Ayah berharap kelak aku dapat menjadi orang yang bersahabat bagi siapapun. Nama tengahku ini juga sangat dipengaruhi salah seorang penulis favorit ayah ‘Shofwan Al Bana’ yang tulisannya tentang dawah dan Palestina sangat menginspirasi.

Moissani. Unik ya nama belakangku. Moissani itu kalo mengacu ke referensi yang ada di internet, diambil dari Bahasa Arab ‘Al-Maisan’ yang berarti bintang paling terang di konstelasi Orion. Wow, keren ya!. Moissani juga adalah nama unsur kimia yang berasal dari batuan asteroid dan bernilai mahal. Kelak, ayah-bunda ingin aku menjadi seorang anak yang ‘bersinar’ di antara milyaran manusia di muka bumi.

Jadi, jika dirangkum, ayah dan bunda menitipkan doa pada namaku. Mereka berharap aku akan menjadi seorang anak yang cerdas, menonjol (berbakat, bersinar) dan juga sahabat yang baik bagi semua orang. Oh iya, namaku tidak mengandung unsur indonesianya. Tapi semoga aku tetap berupaya mengabdi dan cinta pada negara ini. Nanti di masa depan aku akan menjadi salah seorang yang bermanfaat dan berguna bagi negeri ini dengan tindakan-tindakan nyataku. Semoga aku akan menjadi salah seorang pemimpin bangsa. Aamin ya rabb

Ikut doain dong!!

Tragedi Paris: Mengkhianati Nabi Tanpa Sadar

Kejadian penembakan brutal di Prancis menyajikan ragam tanya bahkan di kalangan muslim sendiri. Di ranah twitter, kita bisa mendapati bagaimana guru-guru kita berbeda pendapat dengan hujjahnya masing-masing. Secara Pribadi, gue mengutuk ulah Charlie Hebdo yang terus-terusan menggambar karikatur Rasul sehingga menyulut gelombang protes dan berujung pada aksi penembakan. Walau begitu, gue juga tidak bisa mengamini tindakan semena-mena membunuhi orang-orang terlebih salah satu korban adalah juga seorang muslim. Di bawah ini adalah ulasan dari Muhammad Elvandi tentang peristiwa tersebut. Secara garis besar, gue setuju dengan pendapat beliau. latuff

Oleh Muhammad Elvandi

(Tulisan ini khususnya untuk warga muslim Indonesia di Eropa.)

Dunia berduka, atas tragedi penembakan di Charlie Hebdo, distrik 11, di sebuah kantor majalah satire yang sering memuat karton cemoohan terhadap nabi Muhammad. Tapi yang paling berduka atas tragedi ini adalah muslim di Eropa.

Puluhan tahun, da’i, ilmuwan, sastrawan, seniman muslim berusaha menampilkan wajah rahmatan lil ‘alamin Islam, mulai dari kesantunan, intelektualitas, produktivitas, dan keterbukaan mengajarkan Islam dengan semua cara yang elegan. Ia bukan tugas ringan, apalagi di Perancis, dimana Islamophobia sangat kental, tidak seperti di Inggeris yang ramah.

Sekularisme di Perancis adalah yang paling parah [laicité] dan lebih dirasakan dalam bentuk islamofobia. Namun, selama 3 tahun tinggal disana islamofobia itu mulai saya rasakan berkurang. Sekolah-sekolah SD hingga SMA muslim mulai bermunculan dan terbukti meraih banyak prestasi dan menunjukan kepada warga asli Perancis bahwa anak-anak muslim tidak berbeda dengan semua anak kulit putih eropa dalam kemampuan pendidikan. Universitas dan lembaga-lembaga kajian muslim bermunculan dan memjawab kebutuhan masyarakat muslim dan Perancis. Even-event akbar diadakan, seperti Rencontre annuelle des musulmans de France dan sangat terbuka mengundang non-muslim berpartispasi sehingga warga asli Perancis mulai merasakan kehangatan kehadiran muslim yang jauh berbeda dengan stigma yang mereka punya sebelumnya.

Usaha puluhan itu terancam lenyap hanya oleh aksi orang yang merasa sedang membela nabinya, dengan menyerang kantor majalah tersebut dan membunuh 12 orang. Padahal dampak kejahatan ini sangat signifikan.latuff 2

Saya memprediksi fenomena islamofobia itu akan kembali bangkit di seluruh Perancis. Dan dampaknya akan sangat terasa khususnya oleh muslimah dan oleh anak-anak muslim. Ruang gerak mereka akan lebih sempit kedepan, seperti dipersulit, dicemooh, dilecehkan, dll. Apalagi beberapa media-media mainstream memanfaatkan isu ini seperti menyoroti dengan sengaja kaitan ‘membela nabi dan pembunuhan’.

Tapi tragedi itu telah terjadi, dan ulama-ulama muslim Eropa berusaha turun tangan menghadirkan semua kemampuan intelektualitas dan reputasi mereka untuk meyakinkan dunia bahwa tragedi ini mengkhinati ajaran nabi kami dan Islam mengutuk kejahatan ini. Tariq Ramadhan, Professor Teologi Universitas Oxford, cucu Hasan al-Banna adalah yang paling vokal, dibantu oleh sederet ulama-ulama besar dari majelis fatwa Eropa, dan L’Union des Organisations Islamiques de France.

Namun sayang, di tanah air, beberapa situs seakan tidak mengerti situasi ini. Beberapa artiketl saya lihat menuliskan ‘alhamdulillah serangan di Charlie hebdo tepat sasaran’. Atau mempertanyakan kenapa kita bergerak saat nabi dihina?

Saya berbaik sangka bahwa mereka menulis dengan motiv membela nabi, namun saya katakan bahwa itu salah kaprah. Setelah tragedi ini, yang perlu dilakukan muslim seluruh dunia ada dua. Pertama mengutuk kejahatan ini dan menjelaskan bahwa Islam menentang kekerasan, bukan bersyukur. Kedua, bekerja lebih keras menampilkan produktivitas sebagai seorang muslim sehingga tercermin konsep rahmatan lil ‘alamin nya.

Mungkin anda menjawab, ‘para penghina nabi itu layak mati’. Atau mungkin anda memuji penembakan ini dengan mencari-cari dalil dari buku klasik seperti ‘Saiful Maslul ‘ala syatimirrasul’ yang artinya ‘pedang terhunus untuk penghina rasul’ karya Ibnu Taimiyyah. Saya sudah membacanya dalam bahasa aslinya maka saya katakan anda salah kaprah jika menafsirkan buku itu untuk membenarkan tragedi ini. Jika anda membenarkan tragedi ini dengan mengatakan ‘alhamdulillah’maka anda perlu keluar dari daerah anda dan berangkat ke Eropa untuk melihat kondisi muslim dan membayangkan konsekuensi yang akan dihadapi mereka pasca tragedi ini. Mungkin anda mengatakan ‘nabi kita dihina, kita harus marah’, saya katakan, memang harus marah. Karena kalau tidak marah, maka ada yang salah dengan iman kita. Namun ekspresikan kemarahan itu dengan produktivitas, banyak caranya, tapi bukan dengan pembunuhan.

Tulisan-tulisan yang bernada membela kejahatan di Charlie Hebdo ini sangat berbahaya dan mengkhawatikan, karena niat baik saja tidak cukup jika pada faktanya merugikan Islam. Sehingga seakan membela Islam padahal sedang merobohkannya.
Dalam tulisan ini, saya mengajak seluruh muslim Indonesia di Eropa untuk menjelaskan kepada masyarakat sekitar bahwa Islam mengutuk segala bentuk kejahatan seperti ini lalu tampilkan nilai-nilai Islam. Jangan hiraukan semua artikel-artikel yang bertebaran dan bernada seolah sedang membela nabi dengan memuji tindakan ini padahal mereka sedang mengkhianati nabi dan nilai suci Islam tanpa mereka sadari.

Masyarakat eropa, walaupun mengakses media-media mainstream namun mereka mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi akan kebenaran. Maka ini kesempatan kita untuk menjelaskan lebih banyak, tentang nilai-nilai agung Qur’an yang menjunjung kasih sayang. Pertumbuhan Islam di Amerika sangat tinggi setelah 11 september, karena orang-orang menjadi penasaran dan membaca Islam, semoga ini juga terjadi pada warga Perancis. Sehingga tragedi tidak meningkatkan islamofobia, tapi menyuburkan lahan dakwah.