Capital Parenting

April 26, 2017 § Tinggalkan komentar

Ilustrasi: apa.org

Beberapa hari yang lalu istri gue mengabarkan bahwa Bu Een, ART kami, tengah mengalami masalah keluarga sehingga tidak bisa masuk kerja selama dua hari. Ibu ini diancam dibunuh (iya, dibunuh) oleh anak sulungnya akibat keengganan menjual rumah yang ia miliki. Sang anak melakukan hal demikian agar mendapatkan bagian dari hasil jual rumah tersebut. Karena takut, Bu Een dengan terpaksa menjual rumahnya agar terbebas dari bayang-bayang sang anak yang sudah kalap tak karuan.

Beberapa waktu sebelumnya, media sosial dan media cetak riuh akibat kisah tentang Ibu Rokayah  yang dituntut 1,8 milyar oleh sang anak karena perkara hutang. Sang anak secara tega mengekskalasi urusan utang-piutang ke ranah hukum. Sebuah tindakan amoral yang mengundang cacian dan sumpah serapah dari banyak orang. Bagaimana mungkin ada anak yang bersengketa perihal uang dan menjadikan sang ibu sebagai pesakitan.

Dua kejadian di atas bener-bener berhasil membuat geleng kepala. Jika dulu kita akrab dengan legenda Malin Kundang yang durhaka akibat ketakutan akan kehilangan kekuasaan dan harta maka kini legenda tersebut tidak lagi sebagai dongeng pengantar tidur. Anak-anak durhaka itu ada dan hidup dengan sebenar-benarnya. Anak-anak ini  dengan teganya bertindak secara keji karena perkara pundi-pundi. Apa yang salah sehingga perkara ikatan kuat ibu-anak dapat putus manakalah berbenturan dengan kapital, modal, uang dan materi sejenis. Sepertinya unsur-unsur kapital tidak hanya menggerus ideologi negara namun juga menular pada masyarakatnya.

Tetiba saja gue terpikir ada yang salah dengan kedua anak dalam paragraf awal tulisan ini. Perilaku dan karakter anak sangat dipengaruhi oleh pola pendidikan dan lingkungan tempat ia berinteraksi dan bersosialisasi. Mengacu pada ulasan J.J Rosseau dalam Emily bahwasanya seorang anak itu bagai kertas putih. Maka faktor eksternal yang membentuk karakter mereka. Meskipun gue tidak sepenuhnya percaya dengan apa yang dikatakan Rosseau. Ia nampaknya terlalu pandai berteori tentang filosofi pendidikan anak hingga menelantarkan lima anak kandungnya sendiri hasil hubungan gelap dengan Theressa Lavasseur.

Faktor eksternal yang membentuk karakter secara dominan dipengaruhi pola pendidikan yang diterapkan serta lingkungan tempat sang anak tumbuh. Dengan melupakan sejenak faktor lingkungan, saya tertarik untuk mengelaborasi kaitan pola parenting dalam pembentukan karakter.

Dewasa ini, isu parenting menjadi begitu seksi. Begitu banyak kenalan di dunia maya membagikan sekelumit informasi dan teori tentangnya. Parenting A, B, C dan derivasinya yang bervariasi.

Sehubungan dengan kegaduhan pada cerita di atas, saya terpikir akan sebuah model parenting baru yang membentuk anak-anak dengan mental materialistik. Menggunakan metode cocoklogi, akhirnya tercetuslah ide tentang ‘Capital Parenting’. Entah. Tiba-tiba saja saya terpikir untuk merumuskan hipotesis tentang Capital Parenting sebagai upaya mengawinkan pola parenting dengan nilai-nilai kapitalisme. Kapitalisme sebagai sebuah paham atau isme menjadikan uang dan privatisasi sebagai basis.

Saya tidak menemukan tautan ataupun keyword tentang capital parenting yang ter-indeks di google. Mungkin penggunaan capital di depan parenting terlalu lancang dan tidak tepat sasaran. Hanya saja untuk memberikan pendekatan pada pewarisan nilai kecintaan berlebih terhadap materi dan uang saya merasa ada kecocokan pengunaan terminologi tersebut.

Dalam kasus Bu Een ataupun Bu Rokayah kita bisa saja menyalahkan sang anak karena bertindak di luar kewajaran. Namun kita juga tidak salah jika harus mengelaborasi peran orang tua dalam menanamkan nilai-nilai kapitalisme liar yang terjewantah dan mendarah daging. Saya tidak men-justifikasi hanya saja bukan tidak mungkin anak tumbuh menjadi begitu lucah, mengkomparasi kasih orang tua terhadap nominal akibat pola pendidikan yang salah.

Bagi setiap orang tua yang selalu mengimingi anak dengan harta, menstandardisasi nilai dengan uang. mereplika fungsi kasih dengan benda, akan membentuk karakter kebendaan yang melekat begitu kuat. Dan mengutamakan harta ketimbang ibu yang melahirkan bisa jadi merupakan puncak pengejewantahan nilai-nilai materialisme yang paling brutal.

Pola-pola parenting dengan menjadikan kapitalisme sebagai garda depan akan mencetak manusia yang menghalalkan segala cara agar kantong-kantong mereka terpenuhi. Bisa jadi para koruptor adalah buah didikan capital parenting.

Children see children do. Anak-anak selalu mengimitasi perilaku orang-orang terdekat. Orang tua yang senantiasa memandang rendah orang lain karena status sosial, menghambakan diri pada materi, berorientasi pada uang berpotensi menghasilkan manusia se-level anaknya Bu Rokayah dan Bu Een.

Sejenak mari kita menengok kisah menyejarah dalam Al-Quran. Lukmanul Hakim namanya. Ia selalu disebut ketika membahas hubungan orang tua dan anak. Lukma dikisahkan meninggalkan wasiat-wasiat kebaikan. Di antara nasihat dan hikmah pada anaknya adalah jangan syirik, berbuat baik kepada orang tua, dirikan sholat dan lainnya. Jika orang tua senantiasa mengajarkan serta mewarisi nilai-nilai, adab serta akhlak yang menjauhi unsur-unsur kapitala dan segala penghambaan kepada dunia maka niscaya kisah-kisah anak yang durhaka karena unsur uang tidak akan ada.

Jadi, masih mau menjalankan Capital Parenting?

Menua Bersamamu

April 12, 2017 § 2 Komentar

Ilustrasi: Pinterest

Wow…

Judulnya terasa begitu melankolis. Terkesan mendawamkan dan mengelu-elukan romantisme. Menua bersamamu selalu dikonotasikan sebagai sebuah frasa yang menggambarkan keutuhan rasa cinta. Membayangkan hidup bersama hingga tua bersama pasangan diiringi dentang musik ‘grow old with you’ Adam Sandler. Atau terbayang-bayang cuplikan Carl-Ellie yang begitu manis dalam film Up. Topik cinta-cintaan selalu laku untuk menjadi komoditi, bahan diskusi hingga perdebatan.

Tapi, tulisan ini tidaklah bernarasi tentang ke-menye-menyean demikian.

Menua bersamamu adalah makna denotatif yang dijalani oleh masyarakat di kota-kota besar. Ia berwujud dalam durasi waktu yang dihabiskan saat bermacet ria di jalan. Gue terinspirasi menulis kisah ini berdasarkan lima tahun lebih ‘nguli’ di Jakarta. Ya, meski tidak sampai semiris Armada yang rela pergi pagi pulang pagi. Bekerja di Jakarta dan kota besar lainnya membutuhkan mental dan fisik yang prima untuk bertarung dengan peluh dan penatnya kemacetan lalu lintas dan pengendara yang beringasnya lebih daripada ibu tiri.

Kemacetan adalah monster yang harus dihadapi sehari-hari. Kemacetan yang sangat parah berhasil memakan waktu hidup produktif seseorang hingga dua jam setiap harinya. Menurut data Castrol yang dirilis tahun 2015, Jakarta merupakan kota dengan tingkat kemacetan terburuk di dunia dengan indikator berupa jumlah injakan rem yang mencapai angka 33.240 kali dalam setahun mengungguli Turki, Meksiko, dan Surabaya. Dua kota besar di Indonesia masuk 5 besar kota termacet se-dunia versi Castrol. Keren!.

Belum lagi ditambah data oleh Numbeo yang menyebutkan bahwa berdasarkan traffic index, Indonesia berada di peringkat ketiga pada tahun 2017 di bawah Mesir dan Iran sebagai negara paling macet se-dunia. Jika melihat beberapa situs serupa, Indonesia acapkali menempati peringkat lima besar dalam urusan kemacetan.

Namun, bermacet ria bukanlah pilihan seperti daging atau lengkuas dalam menu lebaran. Ia adalah kepastian bagi sebagian penduduk kota besar. Lebih spesifik lagi Jakarta dalam ruang lingkup yang lebih kecil.

Jakarta sebagai sentra ekonomi menjadi magnet bagi para pencari kerja. Sebagai konsekuensi, pada umumnya nilai bangunan pasti akan mengalami kenaikan ter-ekstrapolasi. Maka area pinggiran adalah solusi paling tepat. Bak cawan cendawan di musim hujan, industri properti mulai dari Depok, Bogor, Tangerang, Bekasi dsb tumbuh subur. Dan efeknya adalah lokasi rumah berjauhan dengan tempat kerja mengharuskan masyarakat menua bersama kemacetan di jalan.

Belum lagi ditambah dengan jenis-jenis pekerjaan yang mengharuskan seseorang harus lebih mengakrabi kemacetan ibu kota di luar jam pulang-pergi tempat tinggal-kantor. Misalnya saja pekerjaan sebagai kurir atau supir taksi online. Atau bisa juga semisal gue yg harus menempuh jarak 32 km PP kantor-kontrakan. Ditambah resiko pekerjaan yang mengharuskan gue mengunjungi daerah se-JaBoDeTaBek hampir setiap hari sehingga gue bener-bener menua bersama jalanan ibu kota. Frasa ‘tua di jalan’ adalah kondisi mutlak yg tak bisa dielakkan.

Kondisi ini, buat gue pribadi, masih bertambah-tambah dengan keharusan menembus tol dalem kota kemudian lanjut ke Bekasi, Cikarang dan seterusnya hingga berujung di Bandung. Macetnya rute yang harus gue tempuh menghabiskan hampir 1/6 hari gue sekurang-kurangnya setiap Jumat dan Minggu setiap pekannya.

Gue mengamati bahwa jarak tempuh perjalanan dari dan ke Jakarta dan area satelitnya semakin hari semakin panjang. Jadi 24 jam sehari yang Tuhan kasih, kalo dirata-rata, seperempatnya gue habiskan di jalan. Kalo misalkan umur gue panjang dan sampe 60 tahun berarti 15 tahun terbuang menguap bersama bensin, debu dan sumpah serapah di jalan. Oh Tuhan, gue bener-bener menua bersama kemacetan ini. Kalo aja macet ini hidup dan berkelamin wanita, udah gue lamar deh.

Jika ditinjau dari perspektif lain, isu kemacetan beririsan dengan agenda politis. Terdapat banyak kepentingan dalam unsur kerumitan negara bernama kemacetan. Misalnya saja ada permainan industri kendaraan bermotor yang terus menjadikan Indonesia sebagai pasar produktif, atau bagi para megalomaniak, mereka menjadikan macet sebagai isu yang digoreng selama masa kampanye kepala pemerintahan. Dan kita sebagai warga tak berdosa yang lugu harus terjebak dalam kerumitan ini.

Pada akhirnya kemacetan ini harus dijalani. Suka atau tidak suka. Rela atau tidak rela. Tinggal bagaimana kita menyikapi segala bentuk kemacetan ini dengan cara-cara yang lebih produktif. Sehingga kita bisa menua dengan cara-cara yang lebih elegan ketimbang harus menegangkan urat dan mengendurkan kerut mata akibat umpatan selama kemacetan. Sambil sesekali mengenang kembali kata-kata Seno Gumira Aji Dharma

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas  rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pension tidak seberapa”.

Ketimbang harus menua bersama kemacetan, aku lebih memilih menua bersamamu, yang.

 

Kekhusyukan yang Tercecer

Maret 24, 2017 § Tinggalkan komentar

Sumber: Kingofwallpaper

Seperti ditulis oleh Ustad Salim A Fillah bahwasanya ada tiga revolusi dalam penyebaran pengetahuan. Kertas oleh Ts’ai Lun, mesin cetak oleh Gutenberg, dan Google oleh Larry Page-Sergey Brin. Dua nama awal menempati peringkat tujuh dan delapan secara berturutan sebagai manusia paling berpengaruh di dunia oleh Michael H. Hart. Hanya saja buku ini terbit pertama kali tahun 1978, jauh lebih tua ketimbang usia Google, sehingga Page-Brin tidak masuk dalam daftar isi bukunya. Gue yakin sosok Page-Brin yang ‘menemukan’ Google menjadi bagian tak terlepas dalam sejarah manusia paling berpengaruh.

Google, disusul oleh Facebook dkk, menandai era digital dengan kemajuan teknologi yang tak terbendung. Kemajuan tersebut dicirikan dengan arus informasi yang begitu masif dan super kilat. Kini industri teknologi semakin seksi. Selain menjadikan kisah manis Jobs, Bill Gates, Larry Elison hingga Elon Musk sebagai panutan, industri teknologi dirasa paling menjanjikan secara kapital. Daftar rilis Forbes tahun 2017 menunjukkan bahwa  10 orang terkaya di dunia masih didominasi para midas teknologi. Yang mengejutkan adalah sosok Marck Zuckerberg masuk dalam daftar tersebut menempati posisi 5 dengan kekayaan 56 miliar dolar dalam usia yang masih sangat muda.

Dan kini terjadi migrasi besar-besaran dari cara manusia berinteraksi akibat candu teknologi. Uber menggantikan taksi konvensional, belanja daring semakin menjamur, sapa dan senda gurau pun terasa begitu syahdu melalui layanan chat daring. Namun rasanya ada yang kurang dari semua interaksi yang melibatkan dunia maya.

Di balik semua kemegahan serta kemewahan yang ditawarkan oleh dunia maya dengan segala turunannya, menurut hemat gue, dewasa ini penggiat interaksi daring mengalami hilangnya kekhusyuan pada hal-hal yang mereka jalani. Dan kondisi ini cukup mengkhawatirkan.

Betapa seringnya kita mengingat ulang tahun sahabat, saudara, kolega dan orang-orang dekat dalam hidup kita. Tapi nampaknya kita lebih senang mengingat ultah mereka dengan cara latah. Ucapan-ucapan klise berseliweran di grup whatsapp. Cukup satu yang inget, yang lain hanya membebek ucapan serupa dengan sedikit modifikasi. Bahkan dalam banyak kasus ucapan tersebut di-copas persis dengan ucapan aslinya. Kita mengucapkan selamat ulang tahun sekedar menggugurkan kewajiban. Tidak ada kekhusyukan dalam ucapan yang kita sampaikan. Kita, bisa jadi, tidak mendoakan sebenar-benarnya.

Hai Alex, Happy Birthday ya. Semoga panjang umur dan sehat selalu

Selang beberapa saat

Hai Alex, Happy Birthday ya. Semoga panjang umur dan sehat selalu 🙂

Hai Alex, Happy Birthday ya. Semoga panjang umur dan sehat selalu

Hai Alex, Happy Birthday ya. Semoga panjang umur dan sehat selalu 🙂 😀

Hai Alex, Happy Birthday ya. Semoga panjang umur dan sehat selalu =)

Begitu seterusnya…

Atau kita sering kehilangan momen berharga bersama keluarga. Kita sibuk foto sana sini, swafoto gitu gini. Yang kemudian tidak wakof.  Swafoto itu kemudian disunting sedemikian rupa sehinga menghasilkan foto yang paling cantik mandraguna dan siap untuk diunggah ke sosial media. Derita kembali berlanjut saat harus membuat caption foto tersebut. Apakah harus dengan kata-kata mutiara yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan foto yang diunggah atau kata-kata bahasa inggris yang ditranslasi menggunakan google dengan tata bahasa ngalor ngidul. Lalu jika kita sudah dialihkan oleh ribetnya dunia maya, seberapa khusyu kita mampu menghayati momen bersama keluarga?.

Doa di atas meja makan kita ganti dengan foto yang berseliweran, disebarkan pada jejaring sosial. Dunia nampak perlu tahu apa yang kita kenakan. Kita lupa pakaian yang sejatinya berfungsi untuk menutup aurat dan menjaga kehormatan. Kita lupa makanan di hadapan untuk disyukuri bukan dipamerkan.

Gue juga sering bingung saat mendapati rekanan yang mengunggah foto atau kegiatan dalam atmosfer berduka. Misalnya sang anak tengah sakit atau kehilangan sesuatu. Respon seperti apa yang selayaknya gue berikan pada mereka yang tengah dirundung sedih seperti demikian. Apa gue harus me-like unggahan tersebut? Apakah hal demikian etis mengingat ‘like’ berkorelasi positif dengan kebahagiaan, rasa suka bukan pada kesedihan. Lalu jika duka seharusnya menjadi ajang kontemplasi maka apatah maknanya membagikan informasi tersebut ke khalayak ramai jika tujuannya hanya untuk merepot-repotkan diri memutakhirkan status di jejaring sosial yang kita punya.

Gue mengalami kegagapan serupa manakala banyak sebaran tentang donasi. Terkadang bukan tidak punya uang. Atau tidak punya waktu. Hanya saja gue sering melakukan pembenaran dan mengasumsikan bahwa membagikan kembali sebaran tersebut sudah cukup. Atau tindakan paling maksimal adalah menekan tombol ‘like’. Titik. Padahal sebelum teknologi sepesat ini, orang bisa tergerak hatinya dengan mudah untuk berdonasi sambil mendoakan dengan kesungguhan hati. Kini, ikut ‘mendoakan’ pun hanya sekedar caption yang ditambahkan di tautan yang turut serta kita bagikan agar lebih mendayu dan mengalami dramatisasi. Kekhusyuan-kekhusyuan aktifitas kita mulai memudar.

Ya patut diakui bahwa aspek positif keberadaan media sosial tidak kalah banyaknya. Hanya saja tulisan ini ingin menggugah kembali kekhusyukan kita dalam beraktifitas agar ia kembali bernyawa. Dalam sholat, kekhusyukan bukan faktor syarat sah. Orang yang solat, meskipun tidak khusyuk, sudah menggugurkan kewajibannya. Hanya saja sholat yang tidak disertai dengan kekhusyukan kehilangan mesranya berinteraksi dengan Tuhan. Ibadah tersebut kehilangan ruh yang menjadi inti dari ibadah. Dengan analogi sejenis, interaksi kita dengan sesama manusia tanpa diiringi kekhusyukan juga akan berakhir serupa.

Jadi, sudah saatnya kita memungut dan merangkai kembali kekhusyukan yang selama ini tercecer. Kita selayaknya kembali menghayati momen hari lahir kolega. Memaknai dengan iba semua berita duka. Menaruh perhatian pada makanan, pakaian dengan cara-cara beradab. Dengan demikian semoga hidup kita kembali bermakna.

 

Disclaimer : Tulisan ini dibuat sebagai pengingat untuk diri sendiri

6 Bulan Afnan

Maret 21, 2017 § Tinggalkan komentar

Uyeay. Afnan akhirnya memasuki usia 6 bulan. Periode penting dalam tumbuh kembang anak karena pada fasa ini mereka tidak lagi harus mengkonsumsi ASI sebagai asupan tunggal. Afnan akhirnya bisa mencicipi enaknya rendang, sedapnya ayam goreng, serta nikmatnya indomie rasa soto ayam di warung burjo terdekat.

Patut diakui nafsu makan afnan sangat besar. Sehari-hari ia menyusu dengan intensitas yang luar biasa sering. Makanya kini ia nampak begitu gempal dengan lingkar paha yang bahkan lebih besar daripada sang kakak yang satu setengah tahun lebih tua. Jeda antara mimik satu dan mimik lain dikira kurang dari satu jam. Sebuah rentang yang singkat mengingat bayi rata-rata dapat menyusu setidaknya dua jam sebelum disusui kembali.

Mengamati pola kembang dua orang anak, menurut gue, ASI memang jauh lebih baik ketimbang ASIP. Kondisi air susu yang lebih terjaga secara temperatur, tekanan, juga shear rate dan compression (ngomong opo?) juga adanya ‘bonding’ saat menyusi menjadikan anak yang menyusu langsung dengan ibunya menjadi lebih sehat dan memiliki antibodi yang lebih baik ketimbang harus menikmati ASI melalui dot atau bahkan menikmati susu sapi. Setidaknya dalam 6 bulan pertama.

Peranan ASI sangat penting dalam menjaga kesehatan bayi. Sejauh ini Afnan tidak menunjukkan tanda-tanda sakit. Hampir bisa dibilang tidak pernah sama sekali. Sesekali ia pilek namun langsung sembuh di hari yang sama. Beda halnya dengan Alby. Saat usia 6 bulan, Alby mengalami beberapa sakit mulai dari kolik, sakit mata, kulit dan sebagainya. Memang benar ada faktor lain, selain ASI, yang membedakan kondisi Alby dan Afnan sehingga yang satu lebih mudah sakit ketimbang yang lainnya. Misalnya saja kesiapan secara literatur dan psikologis dalam mengurus anak pertama dan anak kedua sangat berbeda. Meskipun demikian, gue tetep yakin bahwa ASI dan ASIP akan memberikan dampak yang berbeda terhadap tumbuh kembang anak.

Afnan kian hari kian lucu. Kepalanya yang botak dengan kontur sempurna, tidak peyang, disertai dengan muka yang bulet dan cubit-able, serta badan yang berisi membuat Afnan persis boneka hidup. Jika Alby kental dengan aspek fenotip orang sunda dengan senyum yang manis juga kulit yang putih bersih, maka Afnan lebih menunjukkan aura maskulin dengan garis muka yang tegas. Tidak terlalu putih tapi menjauhi corak warna ayahnya. Perih memang saat mendeksripsikan warna kulit. Gue bak anomali dalam keluarga. Deviasi warna kulit gue menyimpang jauh dari median.. haha.

Jika Alby, prediksi ayah, tumbuh menjadi seperti Nicholas saputra, maka Afnan kelak lebih mirip Rio Dewanto atau Chris Hemsworth. All hail, Thor!. Yang paling penting jangan menyerupai Young Lex ya, nak.

Hah, Alby dan Afnan tidak tahu Young Lex? Awkarin pun tak tahu? Baguslah kalo begitu.

Afnan, menurut dokter anak, mengalami tumbuh kembang yang normal. Ia sudah mahir tengkurep bahkan sudah nyaris duduk di usia 6 bulan. Permasalahannya adalah, lemak yang menimbun membuat Afnan males menggerakkan otot-otot agar bersinergi untuk membantunya membalikkan badan. Sehingga tengkurep adalah aktifitas yang mungkin paling ia benci. Memang, lemak berlebih adalah permasalahan setiap manusia. Ayah merasakan hal yang sama, nak. *liat perut*.

Sebelum tepat berusia 6 bulan pada 22 Maret, Afnan sudah melakukan trial beberapa buah untuk dicicipi. Ia sudah merasakan buah pir, pisang, apel dan alpuket. Afnan suka semua makanan yang ia cicipi. Bahkan ia menolak untuk berhenti mencicipi makanan-makanan tersebut. Ia mengekspresikan penolakan tersebut dengan menangis sekenceng mungkin agar bundanya takluk dan kembali menyuapi. Dasar licik kau, Fernandez.

Di usia mendekati setengah tahun, Afnan semakin sering bergumam. Ia acap kali menggumam ‘abuaaaa’ atau ‘mmaaaaa’. Sepertinya huruf ‘A’ adalah huruf yang paling diakrabi oleh bayi. Karena Alby maupun Afnan nyaris mendahului kemampuan bicara mereka dengan huruf ‘A. Seringnya sang bunda berinteraksi dengan anak, lebih-lebih saat menyusui, akan menstimulasi kemampuan bicara mereka. Belum lagi jika memasukkan variabel sang kakak, Alby, yang tidak pernah berhenti berceloteh setiap detiknya.

Alhamdulillah saat ini kedua jagoan gue sehat wal afiat. Gue harap mereka berdua terus tembuh menjadi anak yang kuat, sehat, cerdas, sholih dan beradab. Kelima aspek tersebut harus didahulukan ketimbang memasukkan variabel-variabel lain dalam berdoa.

Semoga kalian terus menjadi anak yang menyejukkan mata dan hati ayah serta bunda ya, sayang.

Don’t grow up too fast, son. Adulthood is a trap. Trust me!

p.s: Sejujurnya gue tidak begitu sering menuliskan kisah Afnan di blog ini. Tidak seperti halnya Alby yang nyaris per dua bulan kisahnya termuat dalam blog yang sama. Maafin ayah ya, Afnan.

 

Selamat Hari Lahir ke-29, Sayang

Maret 7, 2017 § Tinggalkan komentar

Selamat hari lahir yang ke-29, sayang.

Sebenernya belakangan ini aku mengalami masalah yang cukup akut dalam menulis. Sehingga ide-ide untuk menulis kata-kata romansa di tulisan ini menjadi terhambat. Tapi kita sedari awal tidak pernah menyengaja diri untuk bermanja-manja atawa bersenda gurau penuh cinta di sosial media. Jadi niatan untuk bermesra di blog aku urungkan.

Di usia 29 tahun ini rumah kita semakin diramaikan oleh Alby yang semakin cerdas berkata. Semakin lincah melangkah. Rasa penasarannya semakin menjadi-jadi. Pun halnya Afnan. Di tengah lemak yang menumpuk hebat, ia tetap mencoba menggerakkan otot-otot agar ‘diakui’ sebagai bayi berusia lima bulan. Terimakasih untuk semua itu.

Di usia yang sama, kita masih terpisah oleh Tol Cipularang dan JORR. Sulit memang. Tapi kita mulai terbiasa. Sebenarnya penggunaan kata ‘terbiasa’ dalam menjalani hubungan HJJ (Hubungan Jarak Jauh –red), LDR udah mainstream, bukan terminologi positif. Terbiasa berjauh-jauhan akan membuat seseorang merasa nyaman dengan kondisi berjarak. Padahal sesungguhnya visi-misi berkeluarga akan jauh lebih mudah tercapai jika hidup di bawah satu atap sehari-harinya. Sementara kita masih berkutat dengan jarak 150 km.

Tapi aku merasa aman dan nyaman meninggalkan kamu di hari kerja. Buktinya sejauh ini anak-anak kita terurus dengan baik. Rumah pun aman. Masih berada pada tempatnya, belum mengorbit ke bulan. Krik.. krik.

Di Usia 29 kamu semakin ‘Palembang’. Kamu makin jago bikin pindang. Dan terutama, pempek bikinan kamu ga kalah sama pempek candy atau pak raden. Ga persis banget sih. Tapi secara tekstur, komposisi, konfigurasi, persuasi, dan argumentasi, pempek buatan kamu, numero uno. Cukanya pun sedep. Sudah mendekati level cuka mpek-mpek mamang kantin di SMP aku dulu. Haha.. Becanda, yang. *jangan kunci rumah*.

Selain jago bikin masakan Palembang, kamu juga semakin pandai membuat makanan lainnya. Cookies, agar-agar, kue dan ragam menu yang bervariasi. Bu Sisca Soewitomo mungkin minder ketemu kamu. Gordon Ramsay bahkan belum tentu bisa bikin “Gabus soup with pineapple and yellow dressing” alias pindang ikan gabus.

Kamu juga semakin mahir menjahit. Banyak baju yang sudah tidak muat, berhasil dirombak sehingga lahirlah baju kreasi baru. Ivan Gunawan, Calvin Klein, Ralph Lauren. Huh, siapa itu?

Dari kesemua itu, yang paling terpenting adalah kamu tetap menjadi ibu terbaik buat Alby dan Afnan. Istri terbaik buat aku. Dan anak terbaik buat orang tua kita. Apalah arti semua kebaikan-kebaikan fisik jika keluarga terbengkalai. Semoga di usia yang semakin bertambah ini, kamu tetap menjadi wanita sholihah terbaik dunia-akhirat. Selalu menjadi manusia yang lebih baik.

Selamat hari lahir ke-29, sayang. Udah tua juga ya ternyata. Hahaha….

Komunisme

Februari 28, 2017 § Tinggalkan komentar

komunisme-marxisme-leninisme

Sumber: Muslimdaily.net

Di Barat ketika Katolik tidak bicara kehidupan di dunia, Protestan mulai menyoal “Mengapa agama tidak menjamin kemakmuran hidup”. Mereka pun bekerja keras untuk hidup makmur. Hidup makmur tidak cukup, makmur harus dijamin oleh kapital yang besar dan bertahan lama. Mereka pun terbukti sukses. Max Weber mencatat, bahwa ternyata di abad ke 16, di Jerman, kapitalis dan pengusaha besar serta pekerja yang terampil di perusahaan-perusahaan modern adalah kaum Protestan.

Jadi kapitalis-kapitalis itu hanya ingin hidup makmur. Tapi makmur ternyata perlu sistim dan kekuasaan yang melibatkan masyarakat. Dari sini sistim sosial, sistim pasar, sistim pemerintahan pun berkembang bersama kapitalisme. Singkatnya lahirlah kapitalisme sebagai sistim ekonomi dan sosial. Tujuan akhirnya kemakmuran.

Kemakmuran gaya kapitalisme bukan tanpa cacat. Maka pada awal abad ke 19 lahirlah gerakan sosialisme. Robert Owen (1771-1858) di Inggris dan Saint Simon (1760-1825) di Perancis adalah diantara perumusnya. Ide dasarnya tetap bagaiman hidup makmur.

Tapi makmur ala sosialis mengutamakan kebersamaan. Sistim dikontrol dan dicengkeram penguasa. Pribadi dikalahkan oleh rakyat dan buruh. Sosialisme pun diikuti oleh komunisme. Paham yang dicetuskan oleh Karl Marx ini memusuhi kapitalisme dan segala sistimnya. Kapitalis-kapitalis itu dianggap menindas kaum buruh.

Pimpinan Negara adalah borjuis dan kaum buruh adalah proletar. Keduanya diteorikan sebagai musuh abadi. Jika kapitalis bersaing dengan sistim pasar bebas, komunis melawan dengan cara apapun. Jika kapitalis menciptakan persaingan dengan cara kejam, komunis tidak kalah kejamnya menciptakan konflik dan jika perlu pertumpahan darah untuk mencapai tujuan.

Jika kapitalis tidak lagi mementing kan Tuhan, kaum komunis mengingkari adanya Tuhan. Jika kapitalis dengan sis tim ekonominya menciptakan masya rakat elitis, komunis menciptakan masya rakat tanpa kelas. Masalahnya, kapitalisme menghasilkan pertumbuhan ekonomi tapi melupakan pemerataan. Sedangkan komunisme mengobesikan pemerataan tapi tidak memikirkan partumbuhan.

Kini kapitalisme menguasai sistim ekonomi Negara-negara Eropah dan bahkan sistim ekonomi dunia. Namun, kesejahteraan dan kemakmuran yang dibawa sistim ini ternyata hanya dinik mati oleh segelintir orang. Sistim eko nomi kapitalis ternyata berdampak buruk pada tata sosial-politik. Persaingan pasar berdampak pada persaingan politik dan persaingan politik-ekonomi berujung pada pertumpahan darah pula.

Sedangkan komunisme sebagai sistim social ekonomi, belum memberi kan apa-apa kepada rakyat yang diperjuangkannya. Obsesi untuk bisa makmur bersama gagal. Hampir semua Negara komunis adalah miskin (proletar), sedang kan para pemimpinnya ternyata tidak beda dari borjuis-borjuis kapitalis.

Cita-cita ideologi komunis adalah membela rakyat kecil. Tapi di negerinegeri yang rakyatnya telah makmur, komunis kehilangan misinya. Dalam kondisi seperti ini perjuangan komunis bukan lagi membela rakyat lemah, tapi menghancurkan kapitalisme.

Menghancurkan kapitalisme tidak perlu menunggu hingga ia matang, kata Lenin, tapi setiap ada kesempatan kaum buruh harus merebut kekuasaan. Perebutan kekuasaan ujung-ujungnya adalah pertumpahan darah. Kapitalisme dan komunisme sama-sama anyir berbau darah.

Diakui atau tidak kapitalisme telah terbukti membawa kemakmuran materi lebih baik dari komunisme. Namun, ia telah gagal membawa sistim sosial-po litik yang membawa ketenangan jiwa dan kedamaian ruhani. Dengan kapitalisme dunia semakin tidak aman dan damai.

Jika komunisme ingin menggantikan peran kapitalisme dalam memakmurkan rakyat, maka komunisme akan mengganti kemakmuran dengan pemerataan. Pemerataan tidak akan menghasilkan kemakmuran. Jika komunisme tidak mampu memberi kesejahteraan dan kemakmuran material kepada rakyat du nia, bagaimana mungkin dengan atheismenya ia akan menjanjikan ketenangan jiwa dan kedamaian ruhani.

Di banyak negeri Islam, para tokohnya mengagumi sosialisme. Mereka berteriak seperti menemukan sesuatu “Islam adalah kiri”. “Nabi adalah pelindung orang lemah”, Nabi adalah pelindung anak yatim (sosial) alias orang miskin dan ia akan bersama mereka di sorga. Masih banyak lagi dalih untuk justifikasi kiri Islam.

Tapi orang lupa bahwa Islam bisa berbau kapitalis. Saudagar kaya (kapi talis) yang jujur, misalnya, akan berada di surga bersama para nabi dan syuhada. Nabi pun menyukai Muslim yang kaya dan kuat. Orang akan lengkap rukun Islamnya jika ia kaya dan mampu membayar zakatnya.

Masyarakat dunia kini sedang meng alamai kekeringan nilai, kehausan spiritual, dan kekosongan moral. Sistim apapun untuk mengatur kesejahteraan material, baik kapitalisme maupun komunisme, tidak akan menyelesaikan nestapa manusia modern. Dunia mulai menyadari ketidak mampuan kapitalis dan kegagalan komunis. Tapi mengapa Muslim dengan secara cerdas tidak segera menjadikan Islam sebagai alternatif dari dua sistim yang gagal itu.

Oleh: Dr Hamid Fahmy Zarkasyi

Dimuat di Republika online dan ISLAMIA Republika, Kamis 19 Mei 2016.

Balada Ipin Upin, K.H Zainuddin M.Z (Alm), dan Hoax yang Direkayasa

Februari 17, 2017 § Tinggalkan komentar

Sumber: Brilio.net

Sumber: Brilio.net

Gue tidak jarang menemani Alby menikmati Upin-Ipin. Kartun tentang anak kembar yang mirip tuyul ini sangat digemari oleh anak-anak se-usia Alby dan se-usia bapaknya. Di antara serbuan sinetron remaja dengan level alay yang semakin akut, Ipin-Upin bak penyelamat generasi kartun anak-anak ini. Masih ada beberapa kartun lain yang cukup baik sebenernya, hanya saja Upin-Ipin tetap menjelma menjadi idola. Selain Mars Perindo tentunya.

Di antara sekian banyak episode, ada satu kisah yang persis menggambarkan kehidupan manusia Indonesia dewasa ini dalam interaksinya dengan dunia maya.

Dalam salah satu episode diceritakan tentang kisah Penggembala dan Biri-Biri. Terkisah hiduplah penggembala yang bosan dengan rutinitas menggembalakan hewan ternaknya. Ia kemudian mencoba sesuatu yang baru. Ia berteriak minta tolong kepada warga desa, berteriak seakan-akan ada serigala yang tengah menyergap sang biri-biri. Penduduk yang panik kemudian mendatangi penggembala tersebut. Ternyata teriakan penggembala hanyalah tipuan belaka. Ia mencari perhatian warga dengan kebohongannya.

Tidak hanya sekali, merasa apa yang ia lakukan adalah sesuatu yang lucu, penggembala mereplika kekonyolan serupa. Penduduk yang masih percaya sekonyong-konyong datang kembali untuk menolong penggembala. Namun jauh panggang dari api. Penggembala ternyata berkutat dengan kebohongan yang sama. Kesal karena kepercayaan mereka dikhianati, penduduk beramai-ramai minta diceraikan. Eh maaf, maksudnya penduduk desa bersumpah tidak akan lagi berusaha menolong penggembala apa pun kondisinya.

Akhir cerita sudah dapat kita tebak. Sebenar-benar serigala datang menyergap biri-biri. Teriakan penggembala tidak digubris. Tidak peduli berapa kencang ia minta tolong.

Bagi kalian penikmat radio yang acap kali memutar ceramah K.H. Zainudin MZ (Alm), cerita penggembala yang berbohong ini bukan satu atau dua kali kita dengar. Hampir di sela-sela menunggu waktu berbuka puasa, kita mendengar narasi Almarhum tentang keisengan penggembala. Cerita ini sangat melekat di memori gue. Kisah yang tak pudar dan kerap menggema. Pesan moral yang berdengung adalah sebagai manusia kita tidak seharusnya berbohong apalagi berbohong yang kemudian tersebar luas. Karena pada akhirnya berbohong bagaikan melempar boomerang yang akan mengenai kita sendiri (Jika kita tidak pandai mengelak :)). Kalo pun terpaksa berbohong, lakukan cukup sampai dua kali saja. Belajarlah dari sang penggembala. *dikeplak*.

Terdengar familiar? Terasa dekat dengan kehidupan bermedia sosial kita belakangan ini? Kisah-kisah bohong yang tersebar luas di masyarakat sudah menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri. Dewasa ini dikenal dengan terminologi ‘Hoax’.

Hoax bukanlah cerita baru. Informasi-informasi hoax disebarkan sedari dulu. Kalian tidak pernah bisa membuat sejarah tanpa subjektifitas yang mengarah kepada hoax sebagai bagiannya. Siapa sangka opini yang sudah menjadi kebenaran publik semisal mengkonsumsi micin dapat menurunkan tingkat inteligensia manusia adalah hoax. Atau serupa dengan itu bagaimana ibu-ibu modern masih mendengarkan musik klasik bagi bayi di dalam kandungan karena ujar mereka Mozart mampu meningkatkan kecerdasan bayi. Duh!.

Belakangan isu hoax semakin santér. Informasi yang valid dan bohong menjadi sangat bias. Nyaris tidak ada pembatas yang jelas. Setiap hari ada saja berita yang dibumbui dengan kebohongan-kebohongan. Pemerintah pun sigap. Menyergap sesiapa yang dituduh menyebarkan informasi hoax. Meskipun tidak jarang berita hoax itu datang dari lingkaran istana sendiri.

Perkembangan hoax sejalan dengan situasi ekonomi atau politik yang terjadi. Masifnya serbuan berita hoax tidak jarang memang sengaja direkayasa untuk alasan-alasan politis tertentu.

Bila kita mengamati dengan seksama, media sosial sebagai tempat berbagi segala hal termasuk berita dan opini dapat menjadi ujung tombak ketersampaian informasi yang dapat membuat simpul-simpul polarisasi. Kita bisa mengamati adanya fenomena rekayasa berdasarkan pola-pola dalam kejadian.

Tengok saja. Beberapa informasi yang viral dan sering diributkan oleh netizen di media daring sering kali bertendensi pada hoax. Mulanya berita tersebut secara antah berantah disebarkan lalu kemudian menjadi viral saat berada di tangan yang ‘tepat’. Para penyebar informasi sukarela ini lah yang kemudian menjadi target empuk pembuat berita dan menjadi sasaran bulan-bulanan oleh pasukan digital yang memiliki opini berbeda yang secara sengaja atau tidak sudah siap dengan data-data untuk memutarbalikkan isu yang berkembang.

Lalu keesokan harinya, minggu kemudian, beberapa bulan setelahnya isu lain dilempar. Orang-orang kembali menanggapi dan dengan pola serupa, hoax tersebut disebarkan. Lalu ditanggapi oleh mereka yang berada pada opini bersebrangan. Setelah ribut-ribut tak kunjung usai, isu tersebut kembali dianggap sebagai hoax. Atau dianggap sekedar mengecek kedalaman air.

Ada setidaknya dua alasan mengapa hoax ini tersebar bagai api menyambar pertalite, ceritanya premium udah jarang di SPBU, terutama untuk isu-isu politis.

Yang pertama karena para pembuat, jika memang hoax ini direkayasa, sangat paham situasi rakyat kebanyakan. Mereka sebagian besar adalah masyarakat yang religius secara tradisional, anti-PKI, juga jengah dengan situasi perpolitikan di Indonesia saat ini. Suka atau tidak, wajah perpolitikan Indonesia sudah pecah menjadi dua sejak pemilu presiden 2014 yang berlanjut hingga sekarang. Sehingga sesiapa berada di lingkaran Jokowi, pasti lah dianggap musuh Prabowo. Dan sebaliknya.

Maka dibuatlah berita-berita tentang isu-isu PKI, berita-berita yang memantik sentimen warga, juga isu politis yang memuat berita tentang kinerja Jokowi sehingga rakyat dibenturkan dengan rakyat lain. Keren, bukan? Jason Bourne masih perlu belajar banyak.

Alasan kedua, para pembuat hoax sadar bahwa berita bohong tidak akan bisa menyentuh orang-orang yang suka membaca. Karena itu mereka mengincar para pegiat media sosial bersumbu pendek yang tidak mengakrabi buku dan sumber primer lainnya.

Rekayasa hoax ini berbahaya. Bagi orang-orang yang sering kali membagikan berita hoax, sama halnya dengan penggembala, akan membuat masyarakat khususnya pegiat media sosial akan antipati pada setiap sebaran yang mereka bagikan. Jika ini yang terjadi maka tujuan dari pembuat berita hoax tercapai. Membuat orang-orang kehilangan kepercayaan pada penyebar berita. Sehingga berita benar sekali pun akan dianggap sebagai kebohongan.

Jadi saran saya, banyak baca dan mengklarifikasi adalah dua langkah utama menghindarkan kita dari hoax yang terkutuk. Atau jika tidak tahan lagi untuk membagikan berita, pastikan kalian memiliki simpul pertemanan pada mereka yang memiliki kapasitas intelektual yang baik. Jika orang-orang tersebut tidak reaktif terhadap suatu isu maka ada baiknya kita pun sebaiknya tidak reaktif. Jadikan mereka sebagai cermin sebelum mulai membagikan berita. Ingat, semua berita adalah hoax sebelum ada pembuktian terbaliknya. Jadi, jangan lagi menjadi penggembala biri-biri yang dengan mudahnya membagikan informasi yang tidak valid kebenarannya. Saya tahu kalian kesal dengan situasi negeri, saya pun sama. Namun berbagi berita bohong hanya akan membuat runyam keadaan.

Mari kita bersantai sejenak sambil menikmati kembali Upin-Ipin dan mendengarkan ceramah Zainudin M.Z.

 

%d blogger menyukai ini: