Balada Ipin Upin, K.H Zainuddin M.Z (Alm), dan Hoax yang Direkayasa

Februari 17, 2017 § Tinggalkan komentar

Sumber: Brilio.net

Sumber: Brilio.net

Gue tidak jarang menemani Alby menikmati Upin-Ipin. Kartun tentang anak kembar yang mirip tuyul ini sangat digemari oleh anak-anak se-usia Alby dan se-usia bapaknya. Di antara serbuan sinetron remaja dengan level alay yang semakin akut, Ipin-Upin bak penyelamat generasi kartun anak-anak ini. Masih ada beberapa kartun lain yang cukup baik sebenernya, hanya saja Upin-Ipin tetap menjelma menjadi idola. Selain Mars Perindo tentunya.

Di antara sekian banyak episode, ada satu kisah yang persis menggambarkan kehidupan manusia Indonesia dewasa ini dalam interaksinya dengan dunia maya.

Dalam salah satu episode diceritakan tentang kisah Penggembala dan Biri-Biri. Terkisah hiduplah penggembala yang bosan dengan rutinitas menggembalakan hewan ternaknya. Ia kemudian mencoba sesuatu yang baru. Ia berteriak minta tolong kepada warga desa, berteriak seakan-akan ada serigala yang tengah menyergap sang biri-biri. Penduduk yang panik kemudian mendatangi penggembala tersebut. Ternyata teriakan penggembala hanyalah tipuan belaka. Ia mencari perhatian warga dengan kebohongannya.

Tidak hanya sekali, merasa apa yang ia lakukan adalah sesuatu yang lucu, penggembala mereplika kekonyolan serupa. Penduduk yang masih percaya sekonyong-konyong datang kembali untuk menolong penggembala. Namun jauh panggang dari api. Penggembala ternyata berkutat dengan kebohongan yang sama. Kesal karena kepercayaan mereka dikhianati, penduduk beramai-ramai minta diceraikan. Eh maaf, maksudnya penduduk desa bersumpah tidak akan lagi berusaha menolong penggembala apa pun kondisinya.

Akhir cerita sudah dapat kita tebak. Sebenar-benar serigala datang menyergap biri-biri. Teriakan penggembala tidak digubris. Tidak peduli berapa kencang ia minta tolong.

Bagi kalian penikmat radio yang acap kali memutar ceramah K.H. Zainudin MZ (Alm), cerita penggembala yang berbohong ini bukan satu atau dua kali kita dengar. Hampir di sela-sela menunggu waktu berbuka puasa, kita mendengar narasi Almarhum tentang keisengan penggembala. Cerita ini sangat melekat di memori gue. Kisah yang tak pudar dan kerap menggema. Pesan moral yang berdengung adalah sebagai manusia kita tidak seharusnya berbohong apalagi berbohong yang kemudian tersebar luas. Karena pada akhirnya berbohong bagaikan melempar boomerang yang akan mengenai kita sendiri (Jika kita tidak pandai mengelak :)). Kalo pun terpaksa berbohong, lakukan cukup sampai dua kali saja. Belajarlah dari sang penggembala. *dikeplak*.

Terdengar familiar? Terasa dekat dengan kehidupan bermedia sosial kita belakangan ini? Kisah-kisah bohong yang tersebar luas di masyarakat sudah menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri. Dewasa ini dikenal dengan terminologi ‘Hoax’.

Hoax bukanlah cerita baru. Informasi-informasi hoax disebarkan sedari dulu. Kalian tidak pernah bisa membuat sejarah tanpa subjektifitas yang mengarah kepada hoax sebagai bagiannya. Siapa sangka opini yang sudah menjadi kebenaran publik semisal mengkonsumsi micin dapat menurunkan tingkat inteligensia manusia adalah hoax. Atau serupa dengan itu bagaimana ibu-ibu modern masih mendengarkan musik klasik bagi bayi di dalam kandungan karena ujar mereka Mozart mampu meningkatkan kecerdasan bayi. Duh!.

Belakangan isu hoax semakin santér. Informasi yang valid dan bohong menjadi sangat bias. Nyaris tidak ada pembatas yang jelas. Setiap hari ada saja berita yang dibumbui dengan kebohongan-kebohongan. Pemerintah pun sigap. Menyergap sesiapa yang dituduh menyebarkan informasi hoax. Meskipun tidak jarang berita hoax itu datang dari lingkaran istana sendiri.

Perkembangan hoax sejalan dengan situasi ekonomi atau politik yang terjadi. Masifnya serbuan berita hoax tidak jarang memang sengaja direkayasa untuk alasan-alasan politis tertentu.

Bila kita mengamati dengan seksama, media sosial sebagai tempat berbagi segala hal termasuk berita dan opini dapat menjadi ujung tombak ketersampaian informasi yang dapat membuat simpul-simpul polarisasi. Kita bisa mengamati adanya fenomena rekayasa berdasarkan pola-pola dalam kejadian.

Tengok saja. Beberapa informasi yang viral dan sering diributkan oleh netizen di media daring sering kali bertendensi pada hoax. Mulanya berita tersebut secara antah berantah disebarkan lalu kemudian menjadi viral saat berada di tangan yang ‘tepat’. Para penyebar informasi sukarela ini lah yang kemudian menjadi target empuk pembuat berita dan menjadi sasaran bulan-bulanan oleh pasukan digital yang memiliki opini berbeda yang secara sengaja atau tidak sudah siap dengan data-data untuk memutarbalikkan isu yang berkembang.

Lalu keesokan harinya, minggu kemudian, beberapa bulan setelahnya isu lain dilempar. Orang-orang kembali menanggapi dan dengan pola serupa, hoax tersebut disebarkan. Lalu ditanggapi oleh mereka yang berada pada opini bersebrangan. Setelah ribut-ribut tak kunjung usai, isu tersebut kembali dianggap sebagai hoax. Atau dianggap sekedar mengecek kedalaman air.

Ada setidaknya dua alasan mengapa hoax ini tersebar bagai api menyambar pertalite, ceritanya premium udah jarang di SPBU, terutama untuk isu-isu politis.

Yang pertama karena para pembuat, jika memang hoax ini direkayasa, sangat paham situasi rakyat kebanyakan. Mereka sebagian besar adalah masyarakat yang religius secara tradisional, anti-PKI, juga jengah dengan situasi perpolitikan di Indonesia saat ini. Suka atau tidak, wajah perpolitikan Indonesia sudah pecah menjadi dua sejak pemilu presiden 2014 yang berlanjut hingga sekarang. Sehingga sesiapa berada di lingkaran Jokowi, pasti lah dianggap musuh Prabowo. Dan sebaliknya.

Maka dibuatlah berita-berita tentang isu-isu PKI, berita-berita yang memantik sentimen warga, juga isu politis yang memuat berita tentang kinerja Jokowi sehingga rakyat dibenturkan dengan rakyat lain. Keren, bukan? Jason Bourne masih perlu belajar banyak.

Alasan kedua, para pembuat hoax sadar bahwa berita bohong tidak akan bisa menyentuh orang-orang yang suka membaca. Karena itu mereka mengincar para pegiat media sosial bersumbu pendek yang tidak mengakrabi buku dan sumber primer lainnya.

Rekayasa hoax ini berbahaya. Bagi orang-orang yang sering kali membagikan berita hoax, sama halnya dengan penggembala, akan membuat masyarakat khususnya pegiat media sosial akan antipati pada setiap sebaran yang mereka bagikan. Jika ini yang terjadi maka tujuan dari pembuat berita hoax tercapai. Membuat orang-orang kehilangan kepercayaan pada penyebar berita. Sehingga berita benar sekali pun akan dianggap sebagai kebohongan.

Jadi saran saya, banyak baca dan mengklarifikasi adalah dua langkah utama menghindarkan kita dari hoax yang terkutuk. Atau jika tidak tahan lagi untuk membagikan berita, pastikan kalian memiliki simpul pertemanan pada mereka yang memiliki kapasitas intelektual yang baik. Jika orang-orang tersebut tidak reaktif terhadap suatu isu maka ada baiknya kita pun sebaiknya tidak reaktif. Jadikan mereka sebagai cermin sebelum mulai membagikan berita. Ingat, semua berita adalah hoax sebelum ada pembuktian terbaliknya. Jadi, jangan lagi menjadi penggembala biri-biri yang dengan mudahnya membagikan informasi yang tidak valid kebenarannya. Saya tahu kalian kesal dengan situasi negeri, saya pun sama. Namun berbagi berita bohong hanya akan membuat runyam keadaan.

Mari kita bersantai sejenak sambil menikmati kembali Upin-Ipin dan mendengarkan ceramah Zainudin M.Z.

 

Ignorance is bliss

Januari 10, 2017 § Tinggalkan komentar

my-wall-decal.com

my-wall-decal.com

Gue pertama kali mendapati istilah ini saat melihat status whatsaap salah seorang rekanan beberapa tahun yang lalu. Ignorance is bliss berarti ketidaktahuan atau ketidakpeduluan adalah sebuah kebahagiaan. Sebuah satir yang pertama kali diucapkan oleh Thomas Gray, pembuat puisi asal Inggris pada permulaan abad ke-18. Jika kita membuka Wikipedia, akan banyak sekali tautan yang menunjukkan bagaimana istilah ini sering kali digunakan oleh penyanyi sebagai bagian dari lirik mereka.

Saat kecil, apa yang membuat kita takut akan hantu? Ya. Informasi-informasi seputar hantu yang membuat kita tidak berani melewati kuburan atau tidur di kamar yang gelap. Personifikasi pocong sebagai mayat yang gagal beralih dunia atau kuntilanak dengan ketawa yang unik membuat otak kita dipenuhi oleh aspek kognitif tentang hantu. Misalkan saja sedari kecil kita tidak pernah diceritakan cerita serem tentang hantu atau setidak-tidaknya ilustrasi hantu itu lebih menyerupai Kaonashi (no face) dalam animasi ‘spiritted away’ gue yakin kita tidak akan merinding jika mencium bau kamboja atau melihat sosok putih sekelebat di rumah kosong.

Thomas L. Friedman dalam ‘world is flat’ mengatakan bahwa bumi ini datar. Namun ‘datar’ dalam konteks ini tidak serupa dengan teori ‘flat earth’ yang menentang keajegan teori bumi itu bulat (nyaris bulat). Buat Friedman dunia ini semakin ‘datar’ sehingga interaksi antara orang di India, Frankfurt, Nigeria tidak lagi tersekat. Globalisasi membuat bumi nampak seperti hamparan kertas. Seorang bisa melintasi tiga benua hanya dalam waktu 1×24 jam.

Narasi Thomas L. Friedman menyadarkan kita bahwa bumi yang seolah datar ini membuat orang-orang mengetahui semua hal. Orang-orang bodoh pun sama. Mereka dengan mudahnya saling berargumen didasari oleh pengetahuan yang secara membabi-buta dicuplik dari segala tautan yang ada di Google. Perilaku demikian semakin diperparah dengan seringnya media sosial menjadi ajang berbagi tautan-tautan dari situs-situs antah berantah yang tidak diketahui seperti apa etika jurnalistik maupun sanad beritanya.

Ketidaktahuan memang sering kali memberikan kedamaian dan ketenangan. Di dalam dunia tanpa sekat seperti yang terjadi saat ini, ketidaktahuan bisa menjadi aset yang penting. Di saat orang berlomba unjuk kemapanan pengetahuan bermodalkan internet yang serba cepat, menjadi tidak tahu bisa adalah sebuah kemuliaan. Kita bisa berleha-leha menyuarakan kembali kata-kata Kurt Cobain “You laugh at me because I am different. And I laugh at you because you all are the same”.

Ketidaktahuan itu adalah kebahagiaan. Bukankah kita bisa menjadi manusia merdeka yang terlepas dari semua subjektifitas liar yang lalu-lalang di jagat maya maupun nyata?.

Ketidakpedulian atau ketidaktahuan pada hal-hal yang tidak terlalu penting membuat hidup kita jauh dari prasangka. Kenapa ada manusia yang keponya maksimal? Karena mereka merasa mengetahui banyak hal itu berguna. Padahal semakin banyak tahu semakin kita dibebani oleh pengetahuan tersebut. Lebih-lebih jika pengetahuan itu tidaklah berguna dalam menjalani kehidupan yang fana ini. *cuih*

Banyak orang yang gagal move-on saat ditinggal kawin. Mereka sibuk mencari tahu sang mantan lagi dimana, dengan siapa, semalam berbuat apa. Padahal dengan mengetahui hal-hal demikian tidak akan mengubah keadaan.

Bersikap tidak peduli memang perlu dilatih. Jangan sampai kita menjadi orang yang tidak peduli pada hal-hal yang penting dan di saat yang genting. Dalam dunia psikologi ada sebuah keadaan yang dikenal dengan terminologi bystander effect atau bystander apathy. Sebuah kondisi dimana orang-orang menjadi skeptis atau tidak perduli pada keadaan sekitar dalam kondisi genting. Terminologi ini diangkat dari kasus Kitty Genovese yang dibunuh tanpa ada sedikit pun orang yang berniat menolong karena ketidakpedulian mereka.

Bukan jenis ketidakpedulian seperti ini yang harus kita tumbuh-kembangkan melainkan ketidakpedulian pada kebodohan yang diinstitusikan. Pada berita bohong yang disebar-luaskan. Pada nilai-nilai yang diliberalkan.

Dalam dunia penuh dengan citra dan polesan ada baiknya kita juga bersikap tidak peduli. Tidak peduli pada presiden yang mengenakan sarung. Tukang sate yang dipanggil ke istana presiden. Atau bentuk-bentuk fisik penjelmaan kerakyatan namun alpa dalam kebijakan. Siapa yang peduli dengan sandiwara kepedulian sementara harga bahan bakar naik dalam diam. Tarif ini itu terus disesuaikan.

Lebih baik tidak perduli ketimbang harus menjerit dalam hati.

 

Halal dan Haram

Januari 6, 2017 § 1 Komentar

Prinsip-prinsip Islam Menyangkut Halal dan Haram oleh Dr Yusuf Qaradhawi

  1. Pada dasarnya semua hal itu diperbolehkan
  2. Menghalalkan dan mengharamkan sesuatu hanyalah milik Allah
  3. Mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram sama dengan perbuatan syirik
  4. Larangan atas sesuatu dikarenakan keburukan dan bahayanya
  5. Yang halal mencukupi, yang haram tidak berguna
  6. Apapun yang menyebabkan kepada yang haram, termasuk haram
  7. Menyiasati yang haram, hukumnya haram
  8. Niat baik tidak dapat membatalkan yang haram
  9. Hal yang meragukan harus dijauhi
  10. Hal yang haram dilarang bagi semua manusia tanpa kecuali
  11. Hal yang haram diperbolehkan dalam keadaan darurat

Curhat Mang Angkot : Sebuah Catatan

Desember 30, 2016 § Tinggalkan komentar

Persis beberapa malam lalu gue menaiki angkot tujuan Cileunyi-Cicaheum. Tak berapa lama, angkot tersebut menyisakan gue berdua saja dengan sang sopir. Khawatir ada setan sebagai pihak ketiga, gue mencairkan suasana dengan membahas situasi per-angkotan di Bandung saat ini.

Mang angkot ini benar nampak lusuh. Karenanya gue urungkan niatan untuk meminta ‘telolet’. Ia mengeluhkan pendapatan yang kian hari kian menukik tajam. Menurutnya beberapa waktu belakangan pengguna angkot semakin berkurang. Banyak faktor yang melatar-belakangi. Mulai dari keberadaan ojek online, murahnya harga motor, hingga kemajuan infrastruktur yang menyebabkan berkurangnya jumlah penumpang akibat hilangnya sentra ekonomi semisal pasar rakyat yang notabene menggunakan angkot sebagai sarana transportasi tepat guna.

Sebagai orang luar, gue nyaris tidak pernah terpikir bahwa keberadaan ojek online berdampak se-signifikan itu pada pendapatan supir angkot. Selama ini gue berasumsi bahwa Gojek dan sejenisnya hanya akan berkompetisi dengan ojek pangkalan. Ternyata salah. Imbas keberadaan ojek online juga terasa pada supir angkutan kota. Kita sering ber-eufimisme bahwa keberadaan ojek online sudah ‘sepatutnya’ menggeser moda transportasi lama yang tidak kunjung bertransformasi. Ternyata banyak hal tidak se-sederhana itu.

Keadaan semakin runyam jika kita memasukkan variabel murahnya harga motor sehingga sebagian besar masyarakat meninggalkan sarana transportasi tersebut.

Di Bandung, menurut sang supir, banyaknya pembangunan seiring dengan bergesernya kluster-kluster area transaksi jual-beli masyarakat. Pembangunan jalan berdampak pada berkurangnya arus hilir mudik pedagang dari dan ke pasar yang melalui trayek tersebut. Gue tidak bisa memvalidasi argumen mang angkot. Gue hanya bisa mengangguk setuju pada curhatannya.

Buat si mang angkot, yang tidak sempet gue tanya siapa namanya, pemerintahan Pak Jokowi adalah separah-parah nasib tukang supir angkutan kota. Bagaimana tidak, mereka dipaksa berpindah bahan bakar dengan cara halus demi meredam gejolak di masyarakat.

Ia menambahkan, perlahan-lahan masyarakat miskin semakin dimiskinkan. Premium sebagai variabel penting dalam kehidupan profesionalisme mereka pelan-pelan dimutilasi. Semakin banyak SPBU menghilangkan premium dari daftar jual. Bagi gue, kalian, kelas menengah ngehe yang terbiasa menggunakan pertalite atau bahkan pertamax, rasionalisasi kinerja mesin kendaraan acap kali menjadi latar belakang penggunaan BBM dengan angka oktan minimal 90. Namun bagi mang angkot, selisih beberapa ratus rupiah antara premium, pertalite dan pertamax akan berdampak pada tercapai tidak setoran, bawa uang buat makan atau tidak untuk hari itu.

Gue selama ini ngeh bahwasanya premium pelan-pelan mundur teratur dari peredaran. Ia bak mantan yang ogah balikan. Namun karena empati yang minus, gue tidak pernah menyangka eksesnya bener-bener terasa untuk kelas menengah ke bawah. Bagi mang supir, setoran 110 ribu kini semakin berat tergapai. ‘Pemaksaan’ pengalihan penggunaan energi mengharuskan mereka memutar otak agar pulang ke rumah tidak hanya membawa lelah dan keringat.

Mang supir ini sudah berprofesi sebagai tukang angkot saat gue masih kencing di popok. Supir angkot adalah profesi yang ia tekuni sejak Pak Harto masih menjabat. Artinya ia konsisten dan istiqomah menjadi supir angkot hingga pernah mengalami semua masa kepresidenan RI, kecuali Bung Karno.

Buatnya, titik nadir nasib supir angkot dimulai sejak Mega berkuasa, dilanjut saat Gusdur dan paling parah saat ini. Ia tidak menggunakan pendekatan ilmiah yang njelimet. Tidak ada hitung-hitungan inflasi, Gini Ratio, GDP, BEP, BTP atau apa pun yang sering didengung-dengungkan para intelektual saat mengevaluasi nasib rakyat kecil. Hanya sekedar naluri untuk bertahan hidup hingga mampu mengendus bagaimana pemerintah berkuasa hingga teresonasi pada lapisan masyarakat paling bawah.

Diskusi malem kemarin juga menyadarkan gue bahwa pada dasarnya tidak ada angkot yang secara sukarela ngetem berlama-lama di pinggir jalan. Ada motif ekonomi yang kuat yang mendasari mereka mencari penumpang dengan cara demikian. Jadi bolehlah kita memaafkan angkot-angkot yang sering ngetem dengan dalih empati. Tapi kalo ngetemnya kelamaan, silahkan misuh sepuas hati.

Selayaknya juga bagi kita yang berekecukupan untuk melebihkan bayaran. Setidak-tidaknya mengikhlaskan kembalian jika hanya berselisih 500-an. Toh, tidak akan membuat kita miskin dan tidak akan membuat mereka kaya.

Gue juga menyadari bahwa perspektif kita sangat dipengaruhi oleh ruang-ruang subjektifitas. Banyak kondisi di mana kita memang harus lebih banyak mendengar ketimbang berbicara. Meminjam ucapan Dalai Lama bahwa saat berbicara kita hanya mengulang hal-hal yang pernah ada. Namun saat mendengar, kita bisa mendapatkan hal-hal yang baru. Itulah yang gue rasakan.

#33 Lili Anggraini

Desember 20, 2016 § 1 Komentar

liliMasa-masa SMA kerap kali disematkan sebagai salah satu fasa terbaik dalam kehidupan manusia. Di dalamnya berisi dengan pernak-pernik memorabilia yang dapat menghidupkan kembali ingatan setiap kali satu-dua kejadian-kejadian lucu, sedih, konyol, hingga yang memalukan diceritakan bertahun-tahun selepas kelulusan.

Setiap generasi memiliki kekhasan dalam menjalani momen saat mengenakan seragam putih abu-abu. Jika generasi centennial gandrung dengan segala kesemrawutan internet maka generasi milenial menghayati dengan cara berbeda. Gen-Y adalah generasi transisi antara Gen-X yang memiliki kecendrungan gagap dalam teknologi dan Gen-Z yang melek teknologi hingga ke tulang-tulangnya. Oleh karena itu, Gen-Y masih mendapati momen-momen bersejarah menggunakan teknologi nir-kabel semisal SMS namun tetap tidak melewati indahnya berbalas kisah melalui surat juga telepon umum. Jadi tidak heran jika Gen-Y yang acapkali diwakilkan oleh generasi 90-an dianggap sebagai generasi ter-baper se-abad ini. Bagaimana tidak. Generasi ini selalu membanding-bandingkan masa yang mereka alami dengan kejumudan generasi setelahnya terhadap gadget mereka.

Gue yakin, Jika mau, Gen-X dapat dengan mudahnya melahap semua argumen pongah Gen-Y tentang definisi kebahagiaan. Saat Gen-Y riuh dengan adegan mendayu-dayu rangga-cinta maka Gen-X sudah lebih dulu termehek-mehek dengan Galih-Ratna yang cintanya abadi. Jika Gen-Y bangga dengan Coldplay, Nirvana hingga Maroon 5 maka sesungguhnya mereka lupa bahwa The Beatles, Queen hingga The Rolling Stones telah lama menggema seantero raya. Bahkan konser Rod Stewart di Brazil mampu menghadirkan lebih dari 4 juta pasang mata.

Jadi wahai Gen-Y, kurangi baper, perbanyak istighfar. Subhanallah!.

Dan Gen-Y yang akan gue ulas kali ini adalah temen SD yang dipertemukan kembali di SMA. Karena awal bulan Desember ia menikah maka sebagai temen yang baik, gue akan mengulas kisah beliau sebagai satu dari rangkaian tulisan tentang temen-temen SMA gue yang mengakhiri masa lajangnya.

Nama lengkapnya Lili Anggraini. Tidak seperti yang lain, doi nyaman dipanggil dengan nama asli, Lili. Gue kenal Lili sejak kelas, kalo tidak salah, 4 SD. Seinget gue . . . Duh, gue hampir lupa semua cerita di sekolah dasar. Pokoknya doi pinter dan sering menjadi saingan berat gue untuk meraih tiga besar di kelas. Kami juga akrab di luar aktifitas belajar. Tidak jarang kami bersilaturahim ke rumah guru saat lebaran tiba. Lili juga gemar mengkoleksi kertas warna-warni. Bener ga sih, Li? Haha . . . Gue beneran lupa.

Yang paling membekas di ingetan gue adalah Lili merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya, pas gue SD, masih sangat kecil. Namanya pun masih gue apal. Karenanya pas belakangan ini Lili sering memajang foto sang adek di jejaring sosial, gue sontak kaget. Sang adek sudah tumbuh dewasa.

“Aelah, anak lo aja udah dua”.

Iya sih. . .

Lepas sekolah dasar, gue melanjutkan SMP di kompleks yang sama dengan sekolah dasar. Sementara Lili memilih sekolah yang berbeda. Sekolah pra-nikah. Busetttt . . .

Kami bertemu kembali saat menginjak Sekolah Menengah Atas. Lili adalah satu dari sedikit temen SD gue yang masuk SMA yang sama. Mulanya gue dan Lili ditempatkan di kelas 10 B. Lalu saat pembentukan kelas baru yang diproyeksikan sebagai ‘kelas unggulan’ lagi-lagi gue ditakdirkan menempati kelas yang sama. Untung saja kebetulan itu tidak terendus oleh media. Bisa-bisa gue masuk infotainment setiap hari mulai dari insert pagi, Silet, Kabar-Kabari, Seputar Indonesia, Laptop Si Unyil, Reportase Investigasi, American Next Top Model. Lah?

Di SMA, gue dan Lili tidak se-akrab saat SD. Kami tidak lagi bermain petak umpet bareng atau tukar-tukaran kerudung. Zona nyaman kami berbeda. Jika gue lebih banyak berinteraksi dengan akhi-ukhti di organisasi kerohanian islam (ROHIS) maka Lili lebih banyak beredar di Wahana Siswa Gemar Matematika (WASIGMA), organisasi tempat mereka yang menggemari pitagoras, bangun tiga dimensi dan aritmatika. Belakangan gue takjub dengan organisasi sekolah yang disebut terakhir. Betapa tidak. Masih ada sekelompok manusia yang menjadikan ‘matematika’ sebagai sesuatu yang harus digemari. Bukan Raissa, Pevita, atau Elly Sugigi. *Cium satu-satu tangan anggota WASIGMA*.

Selain itu, SMA tempat gue bersekolah, merupakan semacam sekolah lanjutan bagi siswa-siswi SMP Negeri 3 Palembang. Jadi wajar sesiapa yang dulunya bersekolah di SMP N 3 memiliki banyak teman di SMA N 3. Sementara gue yang berasal dari MTs N 1 adalah kaum marjinal yang terseok-seok mencari pengakuan eksistensial dari mayoritas yang angkuh. Wow. Keren ye narasi gue? 😀

Dilatarbelakangi oleh kondisi tersebut spektrum pergaulan Lili menjadi sangat luas. Ia bisa melenggang dengan leluasa ke kelas-kelas lain mengingat ada banyak temen SMP-nya di kelas tersebut. Sementara gue masih sibuk menghapal satu-satu nama makhluk yang ada di kelas.

“Yang gede itu namanya Dedy. Tapi . . . ada dua Dedy. Dan dua-duanya gede. Yang lebih gede berarti Dedy 1, yang gede (aja) Dedy 2. Yang kurus dan eksotis (amelioratif dari ‘gelep’ :p) itu Zeniferd. Yang jayus itu Hendra. Yang kecil . . . umm. Oh itu Bu Da*lis!. Oops. Maaf, bu.”

Lili tidak meledak-ledak di kelas. Tidak sepinter Mariska atau Marini memang. Namun ia tergolong siswi yang rajin. Jika dulu gue dan Lili kerap bersaing untuk berebut tiga besar di kelas maka hal tersebut tidak berlaku lagi saat di SMA. Sesaknya kelas dengan siswa-siswi cerdas dari segenap Palembang membuat persaingan semakin sengit. Tidak lagi menjadikan gue atau Lili sebagai pesaing kuat untuk meraih mahkota siswa dengan nilai terbaik.

Lili kemudian melanjutkan ke sekolah kebidanan di ujung sumatra. Ia ingin mengabdi pada ibu-ibu hamil. Buat gue yang sudah menyaksikan secara langsung, proses melahirkan itu benar-benar kondisi antara hidup dan mati. Maka terpujilah orang-orang yang menjadikan ‘bidan’ sebagai profesi. Dan buat para die hard pembela argumen wanita tidak boleh bekerja dengan apapun alasannya, silahkan mencari bidan pria saat keluarga anda melahirkan. Atau jika tidak, bolehlah ngarep dapet hadiah anak dari bungkus chiki. Semacem Tazos gitu.

Sejak SMA kisah cinta Lili nyaris tidak terdeteksi. Namun saat kuliah gue sesekali mendapati informasi bahwa Lili tengah deket dengan temen kelas gue. Di waktu lain informasi yang gue dapet ia deket dengan temen kelas gue lainnya. Entahlah bagaimana derajat kesahihan informasi itu. Yang jelas waktu membuktikan bahwa tidak pernah secara kasat mata ada semacam press release oleh Lili bahwa ia menjalin suatu hubungan dengan siapa pun itu. Entah itu Rangga, Boy, atau Emon.

Hingga akhirnya akhir November kemarin Lili secara resmi mengundang gue ke akad nikah dan resepsinya. Meskipun tidak dapat hadir ke acara tersebut, gue panjatkan setulus doa untuk Lili dan sang suami. Semoga pernikahan tersebut penuh dengan keberkahan.

Setiap mendengar pernikahan, lebih-lebih yang datang dari orang terdekat, gue selalu berbahagia. Kini sudah 33 dari mereka yang menikah. Meninggalkan 12 slot tersisa dengan tiga di antaranya pria. Kami doakan semoga dimudahkan untuk yang tersisa. Semoga Tuhan selalu memudahkan niat baik kalian.

Jadi, ada yang berniat menjadi nomor 45? 😀

*Referensi bacaan:

http://socialmarketing.org/archives/generations-xy-z-and-the-others/

Kitab yang Menguji Ketulusan

November 22, 2016 § Tinggalkan komentar

Sumber: azquotes.com

Sumber: azquotes.com

Hampir 40 tahun usianya ia habiskan mempelajari-menyusun-menulis syarah al-Musnad al-Imam bin Ahmad al-Syaibani. Kitab susunan Imam Ahmad ini memerlukan ketekunan luar biasa bagi sesiapa yang ingin mempelajarinya. Sebab, al-Musnad ibarat samudra tak bertepi. Demikian ditutur Ibnu Katsir. Ibnu Katsir pun hingga akhir hayatnya belum sempat menulis satu karya terkait al-Musnad. Awalnya, ia hanya ingin mengelompokkan hadits-hadits dalam al-Musnad menurut tema sejenis dan urutan tertentu. Sayang, upaya membuat tartib pun belum tercapai.

Perlu sepuluh abad sejak al-Musnad disusun Imam Ahmad, seorang mekanik jam di Mahmudiyah (Mesir) bernama Ahmad Abdurrahman merintis upaya pengelompokan hadits. Awalnya sekadar membuat tartib, yang dikelompokkan dalam tujuh bagian: tauhid dan ushuluddin, fiqih, tafsir, targhib (pahala bagi yang beramal saleh), tarhib (ancaman bagi para pendosa), tarikh, serta hari kiamat dan alam akhirat. Sekira tiga tahun Ahmad membuat draf tartib. Dilanjutkan penulisannya. Saat penulisan itulah ia merasa ada yang kurang. Dibacanya lagi al-Musnad, hingga ia pun bertekad membuat syarah dan istinbath—membuat satu simpulan hukum berdasarkan hadits. Sembari melanjutkan aktivitas penyelidikan dan penulisan hadits, bagian yang sudah disyarah oleh Ahmad dicetak. Karena keterbatasan dana, ia mencetak sendiri karyanya itu.

Karya seorang yang sekadar mekanik jam dan imam tidak tetap di Masjid Mahmudiyah (sebelum pindah mukim ke Kairo) itu mendapat perhatian para ulama di negerinya. Dua ulama terpandang di Mesir kala itu, Muhammad Rasyid Ridha dan Ahmad Muhammad Syakir, berpolemik atas satu hadits. Ahmad Abdurrahmanlah yang menengahi keduanya dengan santun dan mewibawakan kedua alim besar tersebut. Bagian Kementerian Wakaf Mesir juga mengapresiasi karyanya.

Dalam keterbatasan yang mendera sehari-hari, Ahmad Abdurrahman tidak pernah beranjak untuk lepas dari mengkaji al-Musnad. Penghasilan sebagai mekanik jam dihentikannya karena berfokus pada al-Musnad. Alhamdulillah, Allah karuniakan ia putra sulung, seorang guru, yang sangat berbakti. Darinya ia rutin dikirimi uang untuk sekadar menegakkan tulang punggung.

Terpujilah karya gemilang dalam kesabaran Ahmad Abdurrahman. Kecintaan pada karya Imam Ahmad bukan lantaran ia pengikut mazhabnya. Ia memang cinta karya itu sebagai warisan umat. Maka, derita dan perjuangan menyusun-menulis-mencetak-menjual karyanya tak sebanding dengan kebesaran al-Musnad. Jadilah al-Fath al-Rabbani li Tartib Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal al-Syaibani semerbak ilmu dari lelaki bersahaja yang biasa disapa ‘tukang jam’.

Kitabnya melintasi perbedaan mazhab. Pada masa Ahmad Abdurrahman hidup, al-Fath al-Rabbani mendapat apresiasi dari Muhammad bin Abdul Lathif, anak keturunan langsung Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman al-Tamimi. Raja Abdul Aziz dari Arab Saudi memborong 100 eksemplar untuk dibagikan kepada para ulama. Dari Madinah, ulama hadits Mahmud Syuwail memberikan pujian atas al-Fath al-Rabbani. Karya yang sama ini tidak dimonopoli sebagai referensi ulama Hanbaliyah. Yusuf al-Dijawi, seorang anggota Hai’ah Kibar al-Ulama yang juga kontra pemikiran Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab, termasuk yang memetik manfaat al-Fath al-Rabbani.

Sayangnya, meski diakui manfaatnya oleh ulama-ulama terpandang, di Mesir sendiri sebagian ulama kurang ramah menanggapi karya Ahmad Abdurrahman. Al Azhar salah satunya. Meski Kementerian Wakaf pernah membeli beberapa edisi al-Fath al-Rabbani, ini tak diikuti dengan tanggapan memadai pada penulisnya. Termasuk ketika Ahmad Abdurrahman wafat dan menyisakan beberapa juz yang belum disyarah, ulama Al Azhar yang awalnya dimintai keluarga almarhum menolak. Alasannya selain merasa tidak mampu juga ingin ada kompensasi bayaran atas kerja mereka!

Ada 24 juz yang akhirnya terselesaikan dari al-Fath al-Rabbani. Sebanyak 21 juz dan separuh juz 22 dikerjakan sepenuhnya oleh Ahmad Abdurrahman. Setengah juz 22 dilanjutkan oleh rekan penulis. Dua juz tersisa dikerjakan oleh tim yang dipimpin salah satu putra almarhum. Kitab inilah yang hari ini masih bisa kita petik manfaatnya, termasuk versi daring. Ada jasa seorang Ahmad Abdurrahman. Lelaki yang warisannya mutu manikam tak tertandingi. Yang bahkan seorang Syekh Utsaimin tak malu memuji kualitas karyanya itu.

Hari ini, kitab itu menjadi saksi, betapa ketulusan dan kecintaan pada ilmu semestinya tak boleh didiskriminasi. Mestilah ada adab adil menilai tanpa fanatik golongan. Apakah mereka yang hari ini mendaku Hanbaliyah dengan manhaj Salafi enggan membuka hati kalau tahu penulis al-Fath al-Rabbani adalah seorang Ikhwani! Betapa tajam dan beringas kata-kata di rekaman dan tulisan para dai dan murid Salafy di sini terhadap organisasi Ikhwanul Muslimin.

Entah bagaimana para alim dan awam tersebut begitu tahu fakta di balik kitab induk yang jadi rujukan ulama-ulama besar mereka yang adil itu di masa lalu. Ahmad Abdurrahman adalah saksi bagaimana perjuangan putranya, Hasan al-Banna. Ia relakan rumahnya jadi markas Ikhwan. Ia pula yang jadi penanggung jawab keberlangsungan majalah organisasi bentukan putranya ini. Ia pula yang harus menunda beberapa hari penulisan al-Fath al-Rabbani pada saat Hasan ditembak mati. Penulis kitab yang dihargai penuh hormat oleh raja dan keturunan ulama di negeri yang mendaku Salafi itu, adakah masih engkau terima dengan lapang? Dialah yang tangannya dipakai menulis kitab rujukan manhajmu, dan tangan yang sama pula pernah membopong sendiri jenazah putranya ke liang lahat dalam awasan tentara!  Apakah tangan yang sama untuk memboyong lelaki yang acap engkau bid’ah-kan itu masih diperhinakan?

Di tanah airnya, sebagian ulama Syafi’iyah memang masih menaruh curiga pada Ikhwan. Dari Hasan masih hidup hingga kini, selalu ada curiga. Entah mengapa, dalam kebesaran mengarusi zaman, Al Azhar lewat polah sebagian ulamanya malah perlihatkan sikap tak elok. Dulu al-Fath al-Rabbani seperti diremehkan. Mungkin hanya karena penyusun-penulisnya seorang mekanik jam! Berikutnya, ia ayahanda dari pendiri Ikhwan, organisasi yang dipandang seteru penguasa. Bahkan Ahmad Abdurrahman juga tak menutupi fakta sebagai bagian dari Ikhwan. Kalaulah hari ini sebagian alim dan penyokong Al Azhar termasuk di sini, acap teriakkan keharmonian umat dan persatuan antar0mazhab, adakah nama ayah-anak di balik al-Fath al-Rabbani mesti diluputkan?

Saya tulis ini, 19 November 2016, tepat 58 tahun lalu ketika Ahmad Abdurrahman al-Banna as-Sa’ati wafat. Lelaki yang mengarungi Kairo lewat karya yang ulama sekaliber Ibnu Katsir tak sempat menuangkan. Al-Fath al-Rabbani li Tartib Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal al-Syaibani  menjadi saksi permata warisan pertamanya. Dan warisan kedua tak lain sang putra, Hasan al-Banna, yang darinya sebuah pergerakan dakwah menyebar ke banyak negara dengan banyak pengikut dan pengaruh.

Referensi: Ahmad Jamaluddin, Khitabat Hasan al-Banna al-Shab li Abihi, (edisi bahasa Indonesia: Lelaki Penggenggam Kairo, 2009.

*Disalin dari status facebook-nya bapak Yusuf Maulana

Media Sosial dan Kemuakan yang Membabi Buta

November 4, 2016 § Tinggalkan komentar

Sejujurnya saya sudah muak dengan segala bentuk peperangan di jagat media sosial. Kanal yang seharusnya menjadi tempat berinteraksi secara positif berubah menjadi arena gontok-gontokan maha dahsyat.

Gue memutuskan berhenti berkelindan di linimasa twitter disebabkan perang kata-kata yang tak urung habisnya. Para cendekia, alim ulama, intelektual saling beradu debat. Kedaan semakin runyam manakala si miskin ilmu turut meramaikan dengan cacian dan bentuk-bentuk serangan verbal yang banal. Tidak ada yang salah dengan perdebatan dan adu argumen. Namun manakala setiap saat kita mengakses halaman media bersangkutan isinya tidak lebih dari unjuk ego dan kepongahan maka yang tersisa hanyalah kemuakan membabi-buta.

Dua tahun lalu gue men-talak tiga twitter. Tanpa sepatah kata pun gue sampaikan pada Jack Dorsey dan kolega. Andai bisa, gue berharap para pendebat maniak itu dikurung di penjara virtual dan bertarung sampai mati layaknya para gladiator bertaruh nyawa di Colosseum.

Gue enggan membahas Path. Path tidak begitu layak untuk dinarasikan lebih lanjut karena konfigurasi di dalamnya hanya lah tentang orang-orang kesepian yang kehabisan akal untuk menghayati makanan yang mereka punya, musik yang ingin mereka dengar, dan tempat yang mereka kunjungi.

Maka Facebook yang mulanya tempat berbagi interaksi sosial kini berevolusi menjadi wahana gesek-gesekan. Apa saja sepertinya layak diperdebatkan. Lebih-lebih menyangkut sensitifas terkait ras, agama, juga kontestasi politik. Entah kenapa keramah-tamahan bangsa yang gemah ripah loh jinawi ini lenyap setiap saat mereka login di akun facebook masing-masing.

Kegundahan gue semakin menjadi-jadi seiring dengan seteru pernyataan Ahok yang didakwa menghina Al-Quran. Mungkin sudah ratusan argumen serta wacana pro-kontra yang mengiringinya. Yang bikin gue semakin menggeram adalah semakin liarnya isu ini. Tautan-tautan di facebook dibagikan dengan meruah. Yang mendukung, yang mencaci, yang menolak. Semua tumplak, blas. Jadi satu. Belum lagi kolom komentar yang tidak kalah mendidih. Mungkin saat kita bersilat kata, Mark sedang tertawa terbahak-bahak menyaksikan bagaimana tolol-nya manusia-manusia penggiat media sosial yang terus berseteru.

Gue pada posisi mendukung penuh proses hukum untuk Ahok. Tapi subjektifitas ini tidak lantas harus di-tuhankan hingga menghilangkan akal sehat. Tahan sejenak nafsu hewani untuk menghabisi. Bersantai lah dengan sesaat dengan tautan-tautan lucu. Jika dan hanya jika facebook ini berisi racauan kalian yang  ‘berperang’ seenak jidat. Ada baiknya kalian membuat media sosial baru.

Gue menggaris-bawahi rekan-rekan facebook yang acapkali membagikan berita hoax, ngaco, dan tautan-tautan keilmuan yang entah seperti apa matan dan sanadnya. Dari cara mereka menarasikan argumen atau konten yang terbagi, gue percaya mereka bukan orang yang mengakrabi buku dalam keseharian.

Sekarang gue juga pengen berpendapat di media sosial untuk mengimbangi wacana-wacana yang berseliweran. Perihal penistaan agama sudah dengan apik dibahas oleh Ustad Hamid Fahmi Zarkasyi dalam bukunya, Misykat. Ia berujar bahwa di dunia barat, penghinaan agama disematkan dengan istilah ‘Blasphemy’. Barat sangat menghargai kebebasan berpendapat. Semua orang boleh mengatakan apa-pun. Termasuk menghina agama lain. Tidak boleh ada hukuman atas kebebasan berdemokrasi.

Lanjut beliau, kalau menyerahkan penyelesaian urusan blasphemy  ke masyarakat, akan mengakibat chaos atau kegaduhan. Benar saja. Banyak kasus penistaan yang berakhir dengan tidak baik jika menjadikan masyarakat sipil sebagai hakim. Theo Van Gogh dibunuh oleh Muhammad Bouyeri, penembakan di Charlie Hebdo, hingga dakwaan mati oleh Khomenei pada Salman Rushdie yang membuat Satanic Verses.

Seharusnya pemerintah bergerak aktif untuk menyudahi polemik penistaan agama ini. Di Bangladesh, Taslima Nasrin difatwa mati karena menyatakan Al-Quran harus direvisi seluruhnya. Juga Ghulam Ahmad yang dihukum mati karena menghina Nabi Muhammad.

Urusan agama sudah melekat mendarah daging bagi masyarakat Indonesia. Mereka yang paling blangsak pun dapat tergerak hatinya membela jika agama mereka terhina. Itu Ghiroh namanya. Ujar Buya Hamka. Maka sebelum isu ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang jelas akan mengganggu stabilitas negara, sebaiknya proses hukum segera dilaksanakan.

Sebenernya gue ogah merespon pembahasan-pembahasan jamak yang beredar. Tulisan ini juga didedikasikan atas kekesalan gue melihat ragam informasi monokrom yang menghiasi laman facebook. Ada kalanya facebook pengen gue deaktifasi. Hanya saja masih ada satu, dua informasi penting yang tidak bisa gue lewatkan sekonyong-konyong.

Jika sudah begini gue harus lebih banyak menelan ludah dan menghela napas lebih dalam setiap saat mengakses facebook. Semoga facebook dan media sosial lainnya bisa jauh lebih aman, damai seperti sebelum negara api menyerang.

Tabik!.

%d blogger menyukai ini: