Kitab yang Menguji Ketulusan

Sumber: azquotes.com
Sumber: azquotes.com

Hampir 40 tahun usianya ia habiskan mempelajari-menyusun-menulis syarah al-Musnad al-Imam bin Ahmad al-Syaibani. Kitab susunan Imam Ahmad ini memerlukan ketekunan luar biasa bagi sesiapa yang ingin mempelajarinya. Sebab, al-Musnad ibarat samudra tak bertepi. Demikian ditutur Ibnu Katsir. Ibnu Katsir pun hingga akhir hayatnya belum sempat menulis satu karya terkait al-Musnad. Awalnya, ia hanya ingin mengelompokkan hadits-hadits dalam al-Musnad menurut tema sejenis dan urutan tertentu. Sayang, upaya membuat tartib pun belum tercapai.

Perlu sepuluh abad sejak al-Musnad disusun Imam Ahmad, seorang mekanik jam di Mahmudiyah (Mesir) bernama Ahmad Abdurrahman merintis upaya pengelompokan hadits. Awalnya sekadar membuat tartib, yang dikelompokkan dalam tujuh bagian: tauhid dan ushuluddin, fiqih, tafsir, targhib (pahala bagi yang beramal saleh), tarhib (ancaman bagi para pendosa), tarikh, serta hari kiamat dan alam akhirat. Sekira tiga tahun Ahmad membuat draf tartib. Dilanjutkan penulisannya. Saat penulisan itulah ia merasa ada yang kurang. Dibacanya lagi al-Musnad, hingga ia pun bertekad membuat syarah dan istinbath—membuat satu simpulan hukum berdasarkan hadits. Sembari melanjutkan aktivitas penyelidikan dan penulisan hadits, bagian yang sudah disyarah oleh Ahmad dicetak. Karena keterbatasan dana, ia mencetak sendiri karyanya itu.

Karya seorang yang sekadar mekanik jam dan imam tidak tetap di Masjid Mahmudiyah (sebelum pindah mukim ke Kairo) itu mendapat perhatian para ulama di negerinya. Dua ulama terpandang di Mesir kala itu, Muhammad Rasyid Ridha dan Ahmad Muhammad Syakir, berpolemik atas satu hadits. Ahmad Abdurrahmanlah yang menengahi keduanya dengan santun dan mewibawakan kedua alim besar tersebut. Bagian Kementerian Wakaf Mesir juga mengapresiasi karyanya.

Dalam keterbatasan yang mendera sehari-hari, Ahmad Abdurrahman tidak pernah beranjak untuk lepas dari mengkaji al-Musnad. Penghasilan sebagai mekanik jam dihentikannya karena berfokus pada al-Musnad. Alhamdulillah, Allah karuniakan ia putra sulung, seorang guru, yang sangat berbakti. Darinya ia rutin dikirimi uang untuk sekadar menegakkan tulang punggung.

Terpujilah karya gemilang dalam kesabaran Ahmad Abdurrahman. Kecintaan pada karya Imam Ahmad bukan lantaran ia pengikut mazhabnya. Ia memang cinta karya itu sebagai warisan umat. Maka, derita dan perjuangan menyusun-menulis-mencetak-menjual karyanya tak sebanding dengan kebesaran al-Musnad. Jadilah al-Fath al-Rabbani li Tartib Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal al-Syaibani semerbak ilmu dari lelaki bersahaja yang biasa disapa ‘tukang jam’.

Kitabnya melintasi perbedaan mazhab. Pada masa Ahmad Abdurrahman hidup, al-Fath al-Rabbani mendapat apresiasi dari Muhammad bin Abdul Lathif, anak keturunan langsung Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman al-Tamimi. Raja Abdul Aziz dari Arab Saudi memborong 100 eksemplar untuk dibagikan kepada para ulama. Dari Madinah, ulama hadits Mahmud Syuwail memberikan pujian atas al-Fath al-Rabbani. Karya yang sama ini tidak dimonopoli sebagai referensi ulama Hanbaliyah. Yusuf al-Dijawi, seorang anggota Hai’ah Kibar al-Ulama yang juga kontra pemikiran Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab, termasuk yang memetik manfaat al-Fath al-Rabbani.

Sayangnya, meski diakui manfaatnya oleh ulama-ulama terpandang, di Mesir sendiri sebagian ulama kurang ramah menanggapi karya Ahmad Abdurrahman. Al Azhar salah satunya. Meski Kementerian Wakaf pernah membeli beberapa edisi al-Fath al-Rabbani, ini tak diikuti dengan tanggapan memadai pada penulisnya. Termasuk ketika Ahmad Abdurrahman wafat dan menyisakan beberapa juz yang belum disyarah, ulama Al Azhar yang awalnya dimintai keluarga almarhum menolak. Alasannya selain merasa tidak mampu juga ingin ada kompensasi bayaran atas kerja mereka!

Ada 24 juz yang akhirnya terselesaikan dari al-Fath al-Rabbani. Sebanyak 21 juz dan separuh juz 22 dikerjakan sepenuhnya oleh Ahmad Abdurrahman. Setengah juz 22 dilanjutkan oleh rekan penulis. Dua juz tersisa dikerjakan oleh tim yang dipimpin salah satu putra almarhum. Kitab inilah yang hari ini masih bisa kita petik manfaatnya, termasuk versi daring. Ada jasa seorang Ahmad Abdurrahman. Lelaki yang warisannya mutu manikam tak tertandingi. Yang bahkan seorang Syekh Utsaimin tak malu memuji kualitas karyanya itu.

Hari ini, kitab itu menjadi saksi, betapa ketulusan dan kecintaan pada ilmu semestinya tak boleh didiskriminasi. Mestilah ada adab adil menilai tanpa fanatik golongan. Apakah mereka yang hari ini mendaku Hanbaliyah dengan manhaj Salafi enggan membuka hati kalau tahu penulis al-Fath al-Rabbani adalah seorang Ikhwani! Betapa tajam dan beringas kata-kata di rekaman dan tulisan para dai dan murid Salafy di sini terhadap organisasi Ikhwanul Muslimin.

Entah bagaimana para alim dan awam tersebut begitu tahu fakta di balik kitab induk yang jadi rujukan ulama-ulama besar mereka yang adil itu di masa lalu. Ahmad Abdurrahman adalah saksi bagaimana perjuangan putranya, Hasan al-Banna. Ia relakan rumahnya jadi markas Ikhwan. Ia pula yang jadi penanggung jawab keberlangsungan majalah organisasi bentukan putranya ini. Ia pula yang harus menunda beberapa hari penulisan al-Fath al-Rabbani pada saat Hasan ditembak mati. Penulis kitab yang dihargai penuh hormat oleh raja dan keturunan ulama di negeri yang mendaku Salafi itu, adakah masih engkau terima dengan lapang? Dialah yang tangannya dipakai menulis kitab rujukan manhajmu, dan tangan yang sama pula pernah membopong sendiri jenazah putranya ke liang lahat dalam awasan tentara!  Apakah tangan yang sama untuk memboyong lelaki yang acap engkau bid’ah-kan itu masih diperhinakan?

Di tanah airnya, sebagian ulama Syafi’iyah memang masih menaruh curiga pada Ikhwan. Dari Hasan masih hidup hingga kini, selalu ada curiga. Entah mengapa, dalam kebesaran mengarusi zaman, Al Azhar lewat polah sebagian ulamanya malah perlihatkan sikap tak elok. Dulu al-Fath al-Rabbani seperti diremehkan. Mungkin hanya karena penyusun-penulisnya seorang mekanik jam! Berikutnya, ia ayahanda dari pendiri Ikhwan, organisasi yang dipandang seteru penguasa. Bahkan Ahmad Abdurrahman juga tak menutupi fakta sebagai bagian dari Ikhwan. Kalaulah hari ini sebagian alim dan penyokong Al Azhar termasuk di sini, acap teriakkan keharmonian umat dan persatuan antar0mazhab, adakah nama ayah-anak di balik al-Fath al-Rabbani mesti diluputkan?

Saya tulis ini, 19 November 2016, tepat 58 tahun lalu ketika Ahmad Abdurrahman al-Banna as-Sa’ati wafat. Lelaki yang mengarungi Kairo lewat karya yang ulama sekaliber Ibnu Katsir tak sempat menuangkan. Al-Fath al-Rabbani li Tartib Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal al-Syaibani  menjadi saksi permata warisan pertamanya. Dan warisan kedua tak lain sang putra, Hasan al-Banna, yang darinya sebuah pergerakan dakwah menyebar ke banyak negara dengan banyak pengikut dan pengaruh.

Referensi: Ahmad Jamaluddin, Khitabat Hasan al-Banna al-Shab li Abihi, (edisi bahasa Indonesia: Lelaki Penggenggam Kairo, 2009.

*Disalin dari status facebook-nya bapak Yusuf Maulana

Media Sosial dan Kemuakan yang Membabi Buta

Sumber: http://www.relatably.com/q/sarcastic-relationship-quotes-funny
Sumber: http://www.relatably.com/q/sarcastic-relationship-quotes-funny

Sejujurnya saya sudah muak dengan segala bentuk peperangan di jagat media sosial. Kanal yang seharusnya menjadi tempat berinteraksi secara positif berubah menjadi arena gontok-gontokan maha dahsyat.

Gue memutuskan berhenti berkelindan di linimasa twitter disebabkan perang kata-kata yang tak urung habisnya. Para cendekia, alim ulama, intelektual saling beradu debat. Kedaan semakin runyam manakala si miskin ilmu turut meramaikan dengan cacian dan bentuk-bentuk serangan verbal yang banal. Tidak ada yang salah dengan perdebatan dan adu argumen. Namun manakala setiap saat kita mengakses halaman media bersangkutan isinya tidak lebih dari unjuk ego dan kepongahan maka yang tersisa hanyalah kemuakan membabi-buta.

Dua tahun lalu gue men-talak tiga twitter. Tanpa sepatah kata pun gue sampaikan pada Jack Dorsey dan kolega. Andai bisa, gue berharap para pendebat maniak itu dikurung di penjara virtual dan bertarung sampai mati layaknya para gladiator bertaruh nyawa di Colosseum.

Gue enggan membahas Path. Path tidak begitu layak untuk dinarasikan lebih lanjut karena konfigurasi di dalamnya hanya lah tentang orang-orang kesepian yang kehabisan akal untuk menghayati makanan yang mereka punya, musik yang ingin mereka dengar, dan tempat yang mereka kunjungi.

Maka Facebook yang mulanya tempat berbagi interaksi sosial kini berevolusi menjadi wahana gesek-gesekan. Apa saja sepertinya layak diperdebatkan. Lebih-lebih menyangkut sensitifas terkait ras, agama, juga kontestasi politik. Entah kenapa keramah-tamahan bangsa yang gemah ripah loh jinawi ini lenyap setiap saat mereka login di akun facebook masing-masing.

Kegundahan gue semakin menjadi-jadi seiring dengan seteru pernyataan Ahok yang didakwa menghina Al-Quran. Mungkin sudah ratusan argumen serta wacana pro-kontra yang mengiringinya. Yang bikin gue semakin menggeram adalah semakin liarnya isu ini. Tautan-tautan di facebook dibagikan dengan meruah. Yang mendukung, yang mencaci, yang menolak. Semua tumplak, blas. Jadi satu. Belum lagi kolom komentar yang tidak kalah mendidih. Mungkin saat kita bersilat kata, Mark sedang tertawa terbahak-bahak menyaksikan bagaimana tolol-nya manusia-manusia penggiat media sosial yang terus berseteru.

Gue pada posisi mendukung penuh proses hukum untuk Ahok. Tapi subjektifitas ini tidak lantas harus di-tuhankan hingga menghilangkan akal sehat. Tahan sejenak nafsu hewani untuk menghabisi. Bersantai lah dengan sesaat dengan tautan-tautan lucu. Jika dan hanya jika facebook ini berisi racauan kalian yang  ‘berperang’ seenak jidat. Ada baiknya kalian membuat media sosial baru.

Gue menggaris-bawahi rekan-rekan facebook yang acapkali membagikan berita hoax, ngaco, dan tautan-tautan keilmuan yang entah seperti apa matan dan sanadnya. Dari cara mereka menarasikan argumen atau konten yang terbagi, gue percaya mereka bukan orang yang mengakrabi buku dalam keseharian.

Sekarang gue juga pengen berpendapat di media sosial untuk mengimbangi wacana-wacana yang berseliweran. Perihal penistaan agama sudah dengan apik dibahas oleh Ustad Hamid Fahmi Zarkasyi dalam bukunya, Misykat. Ia berujar bahwa di dunia barat, penghinaan agama disematkan dengan istilah ‘Blasphemy’. Barat sangat menghargai kebebasan berpendapat. Semua orang boleh mengatakan apa-pun. Termasuk menghina agama lain. Tidak boleh ada hukuman atas kebebasan berdemokrasi.

Lanjut beliau, kalau menyerahkan penyelesaian urusan blasphemy  ke masyarakat, akan mengakibat chaos atau kegaduhan. Benar saja. Banyak kasus penistaan yang berakhir dengan tidak baik jika menjadikan masyarakat sipil sebagai hakim. Theo Van Gogh dibunuh oleh Muhammad Bouyeri, penembakan di Charlie Hebdo, hingga dakwaan mati oleh Khomenei pada Salman Rushdie yang membuat Satanic Verses.

Seharusnya pemerintah bergerak aktif untuk menyudahi polemik penistaan agama ini. Di Bangladesh, Taslima Nasrin difatwa mati karena menyatakan Al-Quran harus direvisi seluruhnya. Juga Ghulam Ahmad yang dihukum mati karena menghina Nabi Muhammad.

Urusan agama sudah melekat mendarah daging bagi masyarakat Indonesia. Mereka yang paling blangsak pun dapat tergerak hatinya membela jika agama mereka terhina. Itu Ghiroh namanya. Ujar Buya Hamka. Maka sebelum isu ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang jelas akan mengganggu stabilitas negara, sebaiknya proses hukum segera dilaksanakan.

Sebenernya gue ogah merespon pembahasan-pembahasan jamak yang beredar. Tulisan ini juga didedikasikan atas kekesalan gue melihat ragam informasi monokrom yang menghiasi laman facebook. Ada kalanya facebook pengen gue deaktifasi. Hanya saja masih ada satu, dua informasi penting yang tidak bisa gue lewatkan sekonyong-konyong.

Jika sudah begini gue harus lebih banyak menelan ludah dan menghela napas lebih dalam setiap saat mengakses facebook. Semoga facebook dan media sosial lainnya bisa jauh lebih aman, damai seperti sebelum negara api menyerang.

Tabik!.

1 Bulan Afnan

Sudah sebulan sejak anak kedua kami, Afnan, menangis dengan keras untuk pertama kalinya. Hari-hari awal dalam kehidupan Afnan menyisakan banyak cerita.

Afnan mengalami kesulitan minum ASI sehingga menyebabkan berat badannya menurun drastis beberapa hari setelah kelahiran. Meskipun begitu Afnan tidak ‘menguning ‘seperti halnya sang kakak. Fenomena menguning pada anak memang hal lumrah yang terjadi. Dulu kami sempat panik karena satu minggu setelah keluar dari rumah sakit, hasil laboratorium menunjukkan bahwa kadar bilirubin Alby masih cukup tinggi sehingga harus dirawat beberapa hari. Sebagai orang tua baru, kami sangat gagap dan panik menghadapi keadaan tersebut. Untungnya kali ini kami tidak harus menghadapi keadaan serupa.

Di usia satu bulan kami mendapati Afnan tumbuh layaknya bayi pada umumnya. Dengan memperkecil ruang lingkup, kami serta merta ‘membandingkan’ bagaimana tumbuh kembang Afnan dengan menjadikan sang kakak, Alby sebagai referensi. Tidak hanya perihal tumbuh kembang namun juga kebiasaan dan perilaku di awal kehidupan mereka.

Pada beberapa hal, Afnan terlihat cukup berbeda dengan Alby. Secara fisik mereka bisa dikatakan tidak mirip. Meskipun terlalu dini memprediksi fisik seorang anak berdasarkan penampakan bayinya. Coba saja tengok gimana transformasi Aurel dari bayi, balita, hingga menginjak usia remajanya. Beda Angeeet.

Bentuk muka Afnan lebih ‘sumatra’ ketimbang Alby yang ‘nyunda’. Afnan sangat mirip muka sepupu-sepupu dari garis keluarga sang ayah (gue maksudnya). Ia mirip Akbar, Fathia, Muthia dan sepupu-sepupu yang ada di Palembang. Sementara Alby semakin besar semakin mirip dengan sang nenek dari garis ibu. Sejauh ini keduanya memang tidak mewarisi fenotip dari gue maupun emak-nya. Hiks.

Secara fisik Afnan nampak tegas dan jauh dari kesan ambiguitas. Maksudnya sesiapa yang pertama kali melihat pasti ngeh kalo Afnan adalah bayi laki-laki. Beda halnya dengan Alby yang sangat sering disangka anak perempuan.

Alby termasuk anak yang sensitif dengan kulit dan pencernaan. Sedari lahir mukanya acap kali bermasalah. Ditambah dengan kebiasaannya mencakar-cakar muka dengan kuku yang tumbuh belum seberapa. Untungnya Alby adalah anak manusia tulen. Coba kalo misalkan dia anak mutan macem X-Men. Lebih-lebih anaknya Logan. Kebayang tuh nyakar muka pake cakar adamantium.

Belum lagi kelenjar air mata yang belum berfungsi sempurna sehingga saban hari harus dirangsang dengan pijatan untuk menghindari belek yang datang silih berganti. Pusernya pun sempat bermasalah. Beberapa saat setelah puput sisa kulit di puser Alby belum bersih sempurna sehingga harus disempurnakan dengan separuh agama. . . Pusernya harus diolesi dengan Albotyl. Yes, Albotyl yang perihnya lebih-lebih daripada ditinggal kawin oleh mantan.

Untuk perilaku keseharian, Afnan relatif tidak rewel. Dia hanya merengek mana kala lapar, dan tidak sepanjang malam. Pun jika harus terjaga maka ia akan bermain sendiri tanpa perlu melibatkan ibunya. Sebuah kondisi yang setidak-tidaknya membuat sang ibu bisa lebih banyak ber-istirahat.

Di satu bulan pertamanya Afnan relatif lebih aman dari semua keluhan di atas. Tentu gue tidak berusaha membanding-bandingkan an sich antara Alby dengan Afnan karena pada dasarnya semua anak berbeda dan unik. Sebagai anak kedua, kami lebih memiliki persiapan untuk mengurus Afnan. Dibandingkan Alby yang mana pengetahuan kami tentang mengurus anak masih terbatas. Sehingga banyak variabel yang menentukan perbedaan fisik dan psikologis keduanya.

Lepas satu bulan Afnan diharuskan kontrol untuk mengevaluasi pertumbuhan serta menerima jatah vaksin wajibnya. Grafik pertumbuhan menunjukkan berat Afnan naik sekitar 600-700 gram dari berat lahir. Namun jika ditilik dari berat saat keluar dari rumah sakit maka terjadi peningkatan sekitar 1 kg. Menurut dokter pertambahan berat harus didasarkan pada berat lahir sehingga kenaikan 700 gram masih berada batas bawah angka kenaikan normal berat badan. Karenanya dokter ‘memaksa’ Afnan agar bergerilya minum ASI dengan lebih semangat lagi.

Saat kontrol wajib, dokter berseru bahwa Afnan sudah bisa dilatih tengkurep. Komando tersebut lantas memberikan lampu hijau bagi kami untuk senantiasa memposisikan Alby dengan posisi demikian. Dan di saat Afnan tengkurep lah gue punya kesempatan untuk memegang TOA dan berteriak keras.

“Ayo merayap lebih cepat, kopral”. “Lamban, kamu!”.

Disertai tangis keras Afnan dan omelan bundanya ke telinga gue.

Oh iya, bini gue lagi demen foto-foto Afnan dengan berbagai kostum. Foto di atas diambil dengan peralatan seadanya. Biar mirip-mirip foto bayi yang lagi heitz macam berikut.

#32 Zeniferd Simangunsong

zeniferdNyaris. Gue nyaris luput buat mengejar cita-cita menuliskan satu per satu kisah temen SMA gue yang melanjutkan jenjang kehidupannya ke arena pernikahan. Terakhir tema ini gue tulis di Bulan Februari saat membahas pernikahan Idries. Pernikahan temen kelas gue yang ke-31.

Melihat tren yang ada, masa emas pernikahan untuk generasi gue adalah di sekitar usia 23 hinggga 27 tahun. Mediannya adalah 24 atau 25. Di atas rentang tersebut, banyak yang sudah mulai panik. Lebih-lebih kaum hawa. Semisal Ultraman, lampu yang ada di dada mereka sudah kedap-kedip dengan bunyi yang kita sudah hapal bersama. Pada periode yang cukup kritis ini, laju pertambahan rekanan yang menikah menukik dengan sangat tajam. Jika di usia ‘emas’ jumlah kondangan yang bisa kita hadiri bisa mencapai 6-10 kali maka pada periode tersebut menurun hingga 1 atau dua sahaja setiap tahunnya.

Di tahun 2016 baru ada dua orang temen kelas gue yang menikah. Termasuk yang akan gue ulas. Sementara pada periode yang sama di tahun sebelumnya lebih kurang ada 10 orang.

Tapi tidak ada kata terlambat dalam menikah. Juga tidak perlu panik jika memang jodoh belum datang menghampiri. Karena hanya dua jenis terlambat yang harus diwaspadai. Yang pertama adalah terlambat masuk saat dosen killer tengah mengajar. Dan yang kedua adalah terlambat datang bulan bagi ABG-ABG yang belum menikah karena mereka akan sibuk meraung-raung menangis meminta pertanggung jawaban. Kasihani Hayati, bang.

*****

Temen yang akan gue ceritain selanjutnya adalah Zeniferd Simangunsong. Dari namanya kita bisa menebak dari mana Zeniferd berasal. Dia asli batak. Hanya ada tiga orang keturunan batak yang ada di kelas gue dulu. Satu orang pria dan dua orang wanita. Tapi tidak ada satu orang pun dari mereka yang berbicara dengan keras seperti orang batak yang sering kita saksikan di TV juga di terminal.

Di setiap kelas, kalian pasti bisa menemukan siswa-siswi yang beragam. Si kutu buku, drama queen, temen yang nyaman untuk bersandar (gendut maksudnya), dan korban pembulian. Zeniferd termasuk yang terakhir. Bentuk-bentuk pembulian yang sering ia terima berupa ‘pujian’ secara verbal menyangkut warna kulit dan bobot badan. Tapi pada saat itu kami sudah sangat terbiasa untuk ‘menghina’ satu sama lain dengan panggilan-panggilan yang tidak lazim. Seolah-olah ekspresi pertemanan kami disampaikan dengan cara demikian. Meskipun kadang marah dan kesal tapi tidak satu pun dari kami datang ke komisi HAM atau amnesti internasional dengan delik aduan berupa penghinaan yang berujung pada sakit hati menahun. *Peluk temen gue satu-satu*

Buli yang kami lakukan adalah semacam buli positif. Karena kami yakin bahwa Zeniferd akan menjadi manusia yang lebih baik hanya dengan cara demikian. Coba saja dengarkan bagaimana Tulus mengapresiasi ejekan teman-temannya yang memanggilnya ‘Gajah’ sebagai sebuah bentuk motivasi. Nah kira-kira seperti itulah situasi yang hadir antara Zeniferd dan para pembuli. Hahaha.. Gue bohong.

Kalo ada makhluk yang doanya paling makbul, mungkin Zeniferd adalah salah satunya. Dia teramat sangat sering dizalimi. Dan seperti yang kita ketahui bahwa doa orang terzalimi itu makbul. Lebih makbul daripada sedekah lima ribu terus ngarep diganti 5 juta. Itu transaksi sama tuhan atau ngepet ya.

Dulu, di masa kami menempuh pendidikan SMA, asap hutan yang dibakar secara semena-mena juga tak pernah mencapai Palembang. Itu pun gue rasa disebabkan oleh doa Zeniferd yang teraniaya. Dan kini gue menyesal mengapa dulu tidak pernah menitip doa.

Zeniferd pernah dianggap menjadi anak kesayangan salah seorang guru biologi. Ibu ini biar pun dikenal cukup galak namun bisa menjadi sangat ramah jika bertemu dengan Zeniferd. Karenanya saban hari doi kerap di-ceng-ceng-in oleh gue dan yang lain. Kebetulan saat itu guru biologi tersebut diketahui belum menikah. Ah, andai saja saat itu gayung bersambut, gue yakin nilai biologi kami tidak ada yang jeblok. Kami pun tidak masalah jika salah seorang dikorbankan asal tidak ada nilai 5 untuk mata pelajaran biologi. Haha…

Lepas SMA, Zeni melanjutkan studi ke Bogor. Gue tidak begitu ingat jurusan apa yang ia tempuh. Yang jelas sejak lulus SMA kami sudah jarang bertatap muka. Hanya sesekali saja. Untungnya media sosial bisa memberitahu semuanya. Siapa yang butuh kaca ajaib atau kerang ajaib jika google dan facebook bisa diakses dengan modal internet ceban.

Foto-foto di Facebook menunjukkan bahwa Zeniferd sudah jauh berbeda daripada sejak terakhir kami bertemu. Ia nampak lebih putih dan tidak lagi se-kurus dulu. Gue penasaran sabun pemutih apa yang ia gunakan. Selain itu, gue juga baru sadar bahwa ia tidak menggunakan nama ‘Zeniferd’ di Facebook-nya melainkan ‘Zeny’ dengan tetap mempertahankan marga. Saya pun tidak paham apa yang melatarbelakangi. Mungkin ‘Zeniferd’ terlalu panjang sehingga perlu diringkas. Semacam Ayu Rosmalina yang mengganti nama menjadi Ayu Ting-Ting.

Pada akhirnya, Zeniferd harus berterima kasih pada gue dan yang lainnya. ‘Buli’ yang kami lakukan semasa SMA ternyata benar-benar buli positif. Buktinya kini Zeniferd berhasil memutarbalikkan fakta terdahulu. Lagi-lagi persis dengan lagu Gajah-nya Tulus. Andai saja sejak dulu kami terbiasa memuji-muji Zeniferd maka kelak dia tidak akan se-gagah dan se-tampan sekarang. Cieeee!!!.

Setelah beberapa tahun bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta, ia mempersunting seorang gadis yang juga ber-suku Batak. Pernikahan diadakan pada tanggal 9 September 2016 di Palembang. Sayang, gue tidak bisa menghadiri acara bahagia tersebut. Namun doa terbaik selalu kami haturkan untuk temen yang dulu sering kami zalimi ini. Semoga pernikahannya bahagia dan langgeng.

Selamat Bro Zeniferd untuk gelar ke-32 nya.

 

Maaf, Saya Sedang Nyetir

Sumber: kars4kids.org

Dalam bukunya yang berjudul ‘Ayah’, Irfan Hamka bercerita bahwa ia suatu waktu pernah berbohong. Ia sangat paham resikonya karena di dalam keluarga mereka nilai-nilai kejujuran dan integritas sangat dijunjung tinggi. Tapi rasa takut yang menjalar membuat ia secara otomatis menekan tombol auto-pilot guna menyelamatkan diri. Tahu bahwa Irfan mencoba menjadi kriminal cilik, Buya Hamka dengan tenang menasihati sang anak bahwa setidaknya ada tiga syarat agar berbohong itu dapat berjalan dengan baik.

Syarat pertama adalah adanya rasa percaya diri yang tinggi. Jangan pernah meninggalkan keraguan sedikit pun terhadap kebohongan yang tengah kita lakukan jika tidak ingin orang lain bisa dengan mudahnya mengendus dusta di antara kita.

Syarat kedua adalah tidak lupa dengan kebohongan tersebut. Jangan pernah lupa. Alpa dengan kebohongan yang pernah kita buat hanya akan menjadi bumerang. Meskipun saat ini ruang bagi para pembohong semakin sempit. Hampir setiap gerak-gerik kita diawasi oleh sebaran yang viral di media sosial. Jadi alibi ‘lupa’ pada kebohongan yang kita lakukan adalah kebohongan paling gagal dalam sejarah.

Syarat ketiga dan paling penting adalah kita punya kebohongan lain untuk menutupi kebohongan yang sudah ada. Semacam multi-level marketing. Konsep dasar ini lah yang digunakan oleh Dimas Kanjeng Taat Istri untuk menggandakan uang.

Dewasa ini, tiga syarat ketat perihal ‘kebolehan’ berbohong yang pernah diujarkan oleh Buya Hamka sudah tidak lagi dianggap relevan. Dalam kehidupan bermasyarakat kita sering mendapati perilaku kaum urban yang mengganggap remeh sebuah kebohongan.

Pada banyak interaksi, kebanyakan dari kita tidak jarang berbohong untuk mengalihkan pembicaraan atau meredam sebuah isu. Mereka sering berdalih dengan kalimat sakti semisal “saya sedang rapat” atau “saya sedang menyetir” setiap saat hendak mengakhiri dengan cepat dialog dengan orang-orang yang tidak dikehendaki, semisal telepon dari perusahaan asuransi atau customer service TV berbayar. Dua kalimat “sedang” tersebut menjadi jaminan ampuh untuk menyudahi percakapan mas/mbak di ujung telepon yang semakin handal menunda closing dari calon pelanggan.

Maka simplifikasi dialog menjadi sebuah kebiasaan. Setiap saat mendapati diskusi, banyak dari kita menyudahinya dengan kebohongan-kebohongan sederhana. Memang, tidak akan ada sales asuransi yang menyocor pertanyaan dan mematahkan argumen-argumen kebohongan yang tengah kita bangun. Tidak juga memaksa kita untuk membuat kebohongan baru. Karena ucapan “saya sedang rapat” adalah senjata sakti mandraguna yang tidak bisa meninggalkan koma.

Sebagian kita dengan sukarela memanfaatkan aktifitas menyetir dan rapat sebagai kamuflase untuk menghindari percakapan lebih lanjut. Padahal apa salahnya jika kita mengakhiri basa-basi diskusi dengan kata-kata yang aktual, tajam, terpercaya. Kita bisa saja mengatakan dengan jujur dan tegas bahwa diskusi tidak bisa lagi dilanjutkan dengan mengemukakan alasan-alasan rasional. Namun sayangnya budaya basa-basi sudah menjalar mendarah daging sehingga rasa tidak enak mengakhiri percakapan harus diakhiri dengan kebohongan.

Nampaknya sudah menjadi kebiasaan orang Indonesia untuk meninggalkan cerita bohong. Saat sedang santai mau pun saat genting.

Dulu, sebelum ada ribut-ribut surat Al-Maidah ayat 51, para pendiri bangsa juga ribut-ribut tentang dasar negara. Terjadilah gontok-gontokan antara kaum nasionalis dan islamis. Saat menyepakati dasar negara, tersiar rumor bahwasanya rakyat Indonesia timur lebih memilih lepas dari Indonesia ketimbang harus menyepakati Piagam Jakarta. Menurut Bung Hatta, ada orang Jepang yang mengabarkan demikian. Kelak, informasi tidak jelas ini menghapus tujuh kata piagam Jakarta yang kini menjadi pembukaan UUD 1945.

Bung Hatta, oleh beberapa sejarawan, dianggap berbohong atas penggorengan isu di atas. Ya, ternyata perkara berbohong anak negeri memang sudah diwariskan bahkan sejak proklamasi belum berkumandang.

Perlu diingat bahwa semakin mudah kita berbohong pada hal yang sederhana maka kita tengah mempersiapkan diri untuk berbohong pada hal-hal yang lebih rumit. Jika memang harus berbohong, gunakanlah alasan-alasan lain yang lebih masuk akal semisal “Kucing tetangga tengah sesak napas, saya sibuk memberikan napas buatan” atau “saya sedang menyiapkan calon pengantin untuk Annabelle”.

Meminjam ucapan Lenin bahwa kebohongan yang disampaikan terus menerus akan menjadi sebuah kebenaran. Silahkan jika tetap ingin hidup dalam kebenaran hasil rekayasa kebohongan.

Afnan Sakha Avicenna

Di era digital, bayi-bayi yang baru lahir ke dunia terbebani dengan nama-nama yang njelimet tidak karuan. Para orang tua berlomba-lomba memberikan nama unik, tidak pasaran dan berbeda daripada generasi sebelumnya. Tulisan di mojok sudah membahas dengan apik perihal betapa rempongnya nama-nama bayi yang lahir belakangan ini.

Beberapa bulan sebelum kelahiran bayi kedua, gue dan istri  gencar bergerilya mencari nama yang pas. Patokannya jelas, nama anak kami haruslah berawalan huruf ‘A’ biar kompak dengan tiga penghuni rumah lainnya. Selain itu harus terdiri dari tiga kata biar se-rima dengan anak pertama. Ternyata memilih nama dengan memadu-padankan dua unsur tersebut tidaklah mudah. Langkah pertama yang kami lakukan adalah mencari nama depan yang berawalan ‘A’.

Ada begitu banyak nama anak pria yang berawalan dengan huruf ‘A’. Meskipun hampir setiap referensi tidak pernah lagi merekomendasikan nama-nama ‘konvensional’ semisal Agus, Andi atau Ahmad. Gue dan istri mengerucutkan kandidat-kandidat nama berawalan ‘A’ menjadi beberapa saja. Ada Ahza, Agha, Abyan dan beberapa lainnya. Istri gue tidak bersepakat dengan Agha karena menurutnya penggunaan nama ‘Agha’ sedikit sulit untuk dieja. Sama halnya dengan Abyan. Ia jatuh hati dengan ‘Ahza’.

Saat gue dan anak pertama kami Alby berkeliling perumahan, gue bertemu dengan penghuni baru komplek. Ia tinggal bersama dengan seorang istri dan seorang anak berusia 1,5 tahun. Saat gue tanya siapa nama anak tersebut, bapaknya berkata . . . Ahza!.

Mengetahui hal tersebut, istri gue langsung bersegera mencari nama pengganti.  Kami mendapati nama Afnan dan Affan. Nama Affan terlalu melekat pada sosok Usman. Bukan berarti kami tidak mau menjadikan kesalihan dan kedermawanan utsman sebagai contoh. Kami hanya sekedar menyiapkan nama yang unik karena unsur kesalihan yang kami selipkan dalam doa bisa direkayasa pada nama lengkapnya. Jadilah kami memilih ‘Afnan’ sebagai nama depan. Afnan terkesan mudah untuk diucapkan. Afnan diambil dari Bahasa Arab yang berarti tampan.

Lalu untuk kata kedua kami memiliki kendala yang sama. Awalnya gue menyarankan nama ‘Faqih’ yang berarti berwawasan luas. Setelah ditelaah kembali ada baiknya nama tengah anak kedua kami berawalan ‘S’ seperti halnya Alby dengan ‘Shofwan’nya. Entah dapat Ilham dari mana gue tetiba kepikiran nama ‘Sakha’. Mungkin akibat novel ‘Sabtu Bersama Bapak’ di mana salah seorang tokohnya dinamai dengan Sakha. Gue juga sempat kagum dengan pemain Arsenal, Granit Xhaka. Selain karena permainannya yang ciamik namanya pun oke.

Sakha berarti dermawan. Gue berharap anak gue kelak menjadi anak yang menyantuni orang lain. Ya, mengikuti jejak Usman bin Affan dalam hal memposisikan harta.

Wajib kami akui bahwa penamaan Alby menjadi patron untuk nama anak berikutnya. Jika kami dulu memberikan Moissani pada Alby maka kata terakhir untuk anak kedua gue harus terdiri dari empat suku. Akan tetapi mencari nama berawalan huruf ‘M’ dan terdiri dari empat suku kata tidaklah mudah. Akhirnya kami berkesimpulan bahwa kata terakhirnya cukup memenuhi syarat jumlah suku kata. Setelah tetap mentok karena tidak menemukan pilihan yang pas, gue menyarankan ‘Avicenna’ sebagai kata terakhir.

Telah kita ketahui bersama bahwa Avicenna adalah sebutan oleh orang eropa untuk Ibnu Sina, bapak kedokteran islam yang kitabnya pernah menjadi rujukan kedokteran hingga abad ke-19. Ibnu Sina terkenal dengan kecerdasannya yang mendunia. Patut disadari bahwa kehidupan Ibnu Sina tidak lepas dari kontroversi. Imam Ghazali bahkan pernah ‘menyerang’ pemikiran filsafat Ibnu Sina dalam Tahafut al-falasifah. Gue, sejatinya, berniat mengadopsi semangat, ketekunan dan inteligensia seorang ibnu sina sahaja. Sementara unsur-unsur kontroversi seorang Ibnu Sina sebisa mungkin menjauh dari orbit kehidupan Afnan.

Jadi demikianlah asal-usul nama anak kedua kami, Afnan Sakha Avicenna. Semoga kelak Afnan menjadi anak yang tidak hanya menarik secara fisik namun juga memiliki nilai-nilai keluhuran budi juga kecerdasan yang bermanfaat untuk sesama juga memiliki kedermawanan serta zuhud dalam memandang dan memperlakukan harta.

Sehat-sehat terus ya dedek Afnan biar bisa main bareng kakak Alby.

A yang Keempat

Gue mesti berterima kasih kepada Vina Panduwinata. Vina, seperti halnya Armand Maulana, telah memberikan semangat kebahagiaan dan kasih sayang pada bulan-bulan yang mereka jadikan sebagai tembang. Seturut terimakasih kasih juga tersampaikan pada Sapardi Djoko Darmono karena telah menyusun ‘Hujan Bulan Juni’ dengan sangat apik. Khusus untuk Vina, lagu September Ceria nya menjadi  backsound  yang tepat buat gue dan keluarga karena pada 22 September 2016 jam 08:28, anak kedua kami lahir dengan sehat wal-afi’at.

Sebuah kebahagiaan lagi untuk saya dan istri untuk diamanahi Putra kedua setelah 20 bulan sebelumnya kehidupan kami dilengkapi oleh kehadiran Alby. Kini rumah kecil kami akan kembali diramaikan oleh tangis bayi. Malam-malam gue, oopss.. Malam-malam istri gue, maksudnya (gue cuma kebagian pas wiken doang) akan kembali gaduh.

Selamat kembali menjadi manusia nokturnal, sayang.

Untuk merekam memori detik-detik proses persalinan, gue akan mengulasnya dengan rincian sebagai berikut.

22 September 2016, 03:30 WIB

Gue terbangun dari tidur lalu menuju kamar mandi untuk menunaikan hajat. Saat sedang khusyu’ ponsel gue berdering. Ternyata dari bini gue. Gue curiga ia akan segera lahiran karena belom pernah ada riwayatnya bini gue nelpon se-pagi itu. Telkomsel malah lebih perhatian. Subuh-subuh aja mereka ngirim SMS.

Gue telepon balik dan benar saja ia sudah pembukaan tiga dan tengah menunggu pembukaan berikutnya di rumah sakit.

05:30 WIB

Gue menuju Bandung menggunakan travel dengan keberangkatan paling awal. Tak lupa gue terus menelepon istri guna menanyakan kondisinya. Ia bilang bahwa mulesnya semakin menjadi. Namun belum diperiksa oleh dokter kandungan.

06:00 WIB

Bukaan lima!

Dokter kandungan menjelaskan bahwa sang anak mungkin lahir sekitar jam 10 atau 11 pagi. Gue merasa tenang karena dengan asumsi perjalanan Bintaro-Bandung memakan waktu paling lama 3 sampai 4 jam maka gue bisa tiba sebelum proses melahirkan. Gue merasa menjadi ayah terkutuk jika tiba tidak tepat pada waktunya.

06: 30 WIB

Jadwal Spongebob di Global TV

*ngapain lo tulis*

06:40 WIB

Masih bukaan lima. Bawel, lo.

07:00 WIB

Istri gue sudah berada di ruang persalinan. Nampaknya pembukaan jalan keluar bayi sudah semakin besar. Kontraksi semakin menjadi. Gue tidak bisa membantu apa-apa selain doa. Andai bisa, biarkan rasa sakit itu berpindah ke tubuh Jessica. Iya, Jessica yang sidang pembunuhannya tiap hari tayang di tivi. Biar Jessica merasakan bagaimana sakitnya empat puluh tulang dipatahkan sekaligus. Biar tidak ada lagi sidang-sidang nista itu.

08:00 WIB

Gue tiba di Bandung. Dan segera saja menuju ke rumah sakit. Ternyata dokter salah perkiraan. Proses persalinan yang diprediksi pukul 10.00 WIB ternyata meleset. Dedek bayi nya pengen keluar lebih cepat dan mematahkan asumsi dan perkiraan-perkiraan manusia. Istri gue tengah berupaya dengan sekuat tenaga untuk mendorong bayi keluar. Gue di sampingnya untuk membantu menguatkan dan memberikan semangat serta doa agar proses persalinan tersebut dimudahkan.

Sejujurnya proses persalinan kedua ini meninggalkan sedikit rasa khawatir, takut, cemas akan keselamatan ibu dan bayinya. Meskipun memang tidak se-intens saat menanti kelahiran Putra pertama.

Dokter dan perawat yang empat orang terus memberikan aba-aba kapan harus mendorong, kapan harus menarik napas, kapan harus menghembuskan nafas. Mereka terus mengarahkan agar pandangan sang ibu terus tertuju ke arah tempat keluarnya bayi agar sang ibu tidak teralihkan oleh hal-hal lain. Toko on-line misalnya.

08:28 WIB

Terdengar tangisan bayi yang pecah. Anak kedua kami, Alhamdulillah, terlahir dengan selamat. Begitu pun ibunya. Proses persalinannya terlihat lancar jaya. Perawat tidak perlu naik ke atas ranjang dan bersanggah pada dinding guna mendorong bayi keluar dari perut seperti pada proses persalinan pertama.

Anak kedua kami lahir dengan berat badan 3380 gram dengan panjang 48 cm. Ia terlihat gemuk dengan pipi yang cubit-able. Namun seperti Alby, anak kedua kami sepintas tidak mencetak fenotip ayah maupun ibunya. Ia terlihat seperti bayi oriental dengan mata yang agak sipit.

Usai Adzan di telingan kanan dan iqomah di telinga kiri, bayi tersebut kemudian didekatkan kepada sang ibu untuk proses IMD. Penting untuk bayi yang baru lahir, terlebih melalui proses persalinan dengan operasi, untuk mendapatkan inisiasi menyusui dini selama 1 jam pertama kehidupan bayi, menurut rekomendasi WHO.

Bayi lucu yang kini menjadi anggota keempat dalam keluarga kami diberi nama dengan inisial ‘A’ untuk melengkapi tiga A yang sudah terlebih dahulu hadir. Ia dinamai dengan Afnan Sakha Avicenna. Makna dari nama tersebut akan diurai pada tulisan lainnya. Yang jelas terselip doa sebesar-besarnya agar Afnan menjadi anak sholih, penyejuk mata dan hati kedua orang tua.

Welcome to the club, pal.