Jihad

Pada 11 September 2001 dua pesawat penumpang menabrak dua menara kembar World Trade Center di Amerika Serikat. Diduga pelakunya adalah Muslim, teroris Muslim, terutama Usama bin Ladin. Setelah itu beberapa Negara Islam dicurigai sebagai sumber terorisme. Tak ayal lagi Negara Afghanistan dan Irak diperangi dan dikuasai hingga kini.

Media Barat secara latah segera mengaitkan peristiwa ini dengan jihad umat Islam. Bush pun juga salah sangka dan teriak “This is new crusade” (ini perang salib baru).  Meski dianggap salah redaksi lalu dikoreksi, orang tahu apa yang dipikirkannya.

Jack Nelson-Pallmeyer,  menulis “Is Religion Killing Us?” Menuduh semua agama sebagai sumber peperangan dan malapetaka. Charles Kimbal, dalam bukunya “When Religion Becomes Evil” (Ketika Agama Menjadi Jahat) membuat lima kriteria agama jahat dan salah satunya adalah yang mendeklarasikan “jihad”. Menurutnya “Declaring war “holy” is a sure sign of corrupt religion”.

Ringkasnya perang atas nama agama di zaman sekarang ini “haram”. Tapi perang atas nama kemanusiaan boleh, meskipun lebih banyak membunuh dan mengorbankan nyawa.

Banyak terminologi perang dalam al-Qur’an. Kata netralnya adalah qital, yaitu perang dengan menggunakan senjata menghadapi musuh. Jika qital itu diniatkan untuk membela kebenaran agama Allah maka ia disebut jihad. Perang orang kafir disebut juga qital, tapi bukan jihad karena untuk membela tiran atau taghut (al-Nisa’, 76).

Istilah lain dari perang adalah “harb”. Harb adalah peperangan dalam arti umum disebut sebanyak 6 kali dalam al-Qur’an. Harb digunakan untuk perang Arab Jahiliyah, seperti perang al-Basus. Mungkin Perang Dunia I dan II lebih cocok disebut harb. Boleh jadi dalam harb zaman modern musuh tidak saling berhadapan. Karena makna negatifnya maka al-Qur’an tidak pernah menggunakan istilah harb untuk qital yang berarti jihad.

Harb lebih bermakna sekuler dan hanya untuk kepentingan dunia seperti untuk kekuasaan, ekonomi, politik, memperebutkan harta karun atau sumber alam dsb. Maka slogan para demonstran di Amerika yang berbunyi No War for Oil, tidak bisa diganti menjadi No Jihad for Oil (La Jihada lil Bitrul). Yang tepat La harba lil bitrul.

Makna lain dari perang adalah ghazwah yaitu qital umat Islam yang disertai Nabi. Sedangkan yang tidak disertai beliau disebut sariyyah. Makna-makna itu semua menunjukkan bahwa perang dalam Islam ada aturan dan akhlaqnya.

Meskipun peperangan mewarnai sejarah Islam, tapi Islam sangat membenci peperangan. Allah pun menghindarkan orang-orang beriman dari peperangan (al-Ahzab : 25). Ini tidak sebanding misalnya dengan “hobbi” perang bangsa Yunani yang mengagungkan Ares, sang dewa perang. Orang Romawi mensucikan Tuhan perang yang disebut Mars.

Apakah semua perang itu berarti jihad? Dan apakah jihad itu hanya berarti perang? Dalam al-Qur’an kata jihad disebut hanya sebanyak 34 kali. Arti “jihad” tidak seperti yang difahami orang Barat. Tidak bisa pula diterjemahkan menjadi Holy War. Para ulama mengartikan jihad sebagai mencurahkan kemampuan, tenaga dan usaha untuk menyebarkan dan membela dakwah Islam serta mengalahkan (musuh). Bisa juga berarti menanggung kesulitan.

Jihad tidak selalu berarti perang. al-Raghib al-Isfahani memahami jihad sebagai melawan tiga macam musuh: melawan musuh yang tampak, melawan godaan syetan, melawan hawa nafsu. Jihad melawan musuh yang tampak pun tidak mesti perang.  Sebab Nabi bersabda “berjihadlah kepada orang-orang kafir dengan tangan dan lisan kalian”.

Ibn Taymiyyah bahkan memaknai jihad menjadi empat. Pertama dengan hati yaitu berdakwah mengajak kepada syariat Islam; kedua dengan argumentasi untuk mencegah kebatilan atau kesesatan; ketiga dengan penjelasan untuk membeberkan pemikiran yang benar untuk umat Islam; dan keempat, dengan tubuh yaitu berperang.

Ibn al-Qayyim, dalam Zad al-Ma’ad menyimpulkan ayat-ayat jihad dalam al-Qur’an menjadi tiga belas tingkatan. Empat tingkatan melawan hawa nafsu, dua tingkatan melawan syetan, empat tingkatan melawan kaum kafir dan munafik, tiga tingkatan melawan kezaliman dan kefasikan.

Begitulah, makna jihad yang berarti perang fisik menurut al-Isfahani, Ibn Taymiyyah dan Ibn al-Qayyim hanyalah bagian terkecil dari arti jihad. Itupun tidak sama dengan perang sekuler atau Holy War di Barat yang sarat kebencian dan penistaan. Qital dalam arti Jihad masih terikat oleh aturan yang berdimensi akhlaq dan rasa kemanusiaan.

Senjata tidak boleh merusak tanaman, makhluk hidup, binatang ternak, dan sebagainya. Senjata pemusnah massal seperti kimia, nukler, bakteri, biologi tidak digunakan dalam perang Islam. Target serangan pun tidak boleh mengenai rumah ibadah, wanita, anak-anak, orang tua renta, orang cacat, orang buta, pendeta dan mereka yang tidak sedang perang. Jika pun telah menang bala tentara Islam tidak boleh menghina musuh yang kalah.

Jihad dalam arti perang menurut al-Qardhawi dibagi menjadi dua: jihad penyerangan (al-talab) dan jihad perlawanan (daf’). Yang pertama disebut futuhat (pembebasan). Maknanya menyerang untuk membebaskan negeri di sekitar negeri Islam dari penguasa zalim. Yang kedua melawan musuh yang secara militer memasuki negeri-negeri Islam. Berarti perang bangsa Indonesia melawan Belanda, bangsa Aljazair melawan Perancis, rakyat Palestina melawan Zionis adalah jihad.

Qardhawi juga memasukkan musuh dalam bentuk “pemikiran yang mengancam aqidah, yang membuat ide-ide sesat dalam agama, yang mempengaruhi umat Islam untuk meninggalkan agama”. Nampaknya al-Qardhawi setuju melawan “agresi” liberalisme, sekularisme, pluralisme agama, dan semacamnya yang mengancam aqidah dan syariah adalah jihad.*

Oleh: Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi

#25 Hartawan Mulya

Otak manusia bekerja dengan sangat selektif. Ingatan-ingatan, bacaan, momen yang penting dan berkesan akan tersimpan dalam otak besar. Sementara hal lainnya yang dianggap tak berguna tidak akan dijadikan ingatan jangka panjang, mungkin juga dihapus.

Di antara cuplikan cerita lampau, aktifitas bareng temen SMA adalah salah satu momen yang cukup mengabadi. Menurut salah satu artikel, sahabat di SMA akan menjadi temen sejati selamanya. Meskipun sepakat dengan isi tulisan tersebut namun terkadang gue cukup kesulitan buat retrieve cerita-cerita saat masih berseragam putih abu. Setidaknya ada dua faktor yang menghambat yaitu isi otak gue yang semakin penuh dan memaksa file-file lama tergusur dan faktor kedua adalah sedikitnya momen bareng si objek cerita. Lebih-lebih jika harus bercerita tentang temen-temen perempuan. Oleh karena itu, gue perlu melakukan observasi jika dan hanya jika objek cerita gue adalah Mawar, Indah, atau Santi.

Gue juga ingin menyampaikan disclaimer. Walau sebagian tulisan tentang temen-temen gue berdasarkan kisah nyata namun sebagiannya lagi adalah hasil rekaan guna menambah panjang jalan cerita dan agar tidak terkesan terlalu formal dan serius. Ini blog bukan jurnal ilmiah.

Cerita kali ini akan fokus membahas sosok bernama lengkap Hartawan Mulya Desra Amin, putra seorang polisi. Ia bisa dipanggil Harta, Wawan ataupun Hartawan. Namun di sekolah doi lebih diakrabi dengan panggilan ‘Boy’. Gue tidak terlalu inget asal mula Hartawan dipanggil dengan ‘Boy’. Yang jelas tidak ada hubungan dengan Ongky Alexander karena Boy yang satu ini kurang tampan. Hanya 3 orang yang pernah bilang bahwa Boy itu cakep yakni Ibunya, ayahnya dan satu lagi adalah bencong di warung pecel lele saat Boy ngasih receh seusai mereka ngamen. Itu pun di bawah ancaman banci yang memberikan pilihan uang receh atau grepe. Arghh!.

Gue yakin, jika tulisan ini dibuat 10 tahun lalu dan berisikan pertanyaan ‘hal apa yang paling kalian inget tentang Boy’ maka temen-temen kelas gue, tanpa komando, akan berseru… ‘MESUMMMM’. Yes, bersama dengan Hendra Nopriansyah, mereka berdua sangat terkenal dengan Batman-Robin nya hal-hal berbau pervert.

Boy adalah ketua kelas kami saat menginjak kelas 3. Secara bergiliran, setiap edisi kenaikan kelas, kami selalu mengganti perangkat kelas. Selama tiga tahun, Boy selalu duduk satu bangku dengan Dedy Anugerah Rinaldi. Prestasi sekolahnya tidak semencolok Marina, Marini maupun Marimar. Auw. Tapi untuk pelajaran biologi khususnya anatomi tubuh manusia dan proses reproduksi, mungkin boy jauh lebih menguasai daripada guru biologi itu sendiri.

Banyak hal kocak juga memalukan yang pernah dialami oleh Boy. Suatu ketika, Gue dan para siswa lainnya menghabiskan tahun baru di salah satu pantai di Bandar Lampung. Ini bukan tentang bromance atau lanjutan kisah Brokeback Mountain. Acara yang kami adakan bertujuan untuk menambah keakraban sekaligus refreshing setelah bagi raport pergantian semester. Guna menambah keseruan, kami menyewa satu gerbong kereta engkap dengan AC, TV kabel, Wifi 4G, hingga Jacuzzi. Sampai suatu ketika salah seorang Masinis jitak kepala gue karena sudah mengkhayal terlalu jauh.

Cerita kita skip hingga setibanya di pantai.

Di pantai kami mandi dan bermain pasir. SELESAI…..!.

APAAA??? Segitu doang? *Dilempar batu akik*.

.facebook_1429843234468
Setelah beberapa waktu bermain dengan pasir, kami kemudian mendatangi salah satu toko souvenir yang berjajar rapih. Kami berniat mengoleksi satu-dua pernak-pernik sebagai bukti bahwa kami benar-benar jalan-jalan ke lampung. Di tengah kekhusyukan memilih dan memilah, terdengar sedikit kericuhan. Ternyata Boy sedang meminta maaf kepada seorang ibu paruh baya.

“Apa yang terjadi” pikir kami.

Tak lama kemudian, setelah agak menjauhi toko, Boy berkisah bahwa saat ia tengah memilih souvenir yang letaknya di bagian bawah lemari sehingga mengharuskannya jongkok, ia mendapati sebuah betis di sebelahnya tengah berdiri kokoh. Boy merasa terganggu dengan keberadaan betis tersebut karena sangat merusak mood. Sontak saja, tanpa perlu menunggu Farhat Abbas tobat, Boy yang dengan pedenya mengganggap kaki itu milik periawan (salah seorang temen kami) menarik kaki tersebut untuk dijauhkan sambil berucap ‘minggir kauu’…. (Gue nulis ini sambil ngakak sendiri).

Boy lupa satu hal bahwa betis Peri berbulu lebat mirip kulit rambutan yang diolesi minyak firdaus. Setelah menyadari bahwa telah terjadi sebuah kesalahan, Boy pun mendongak dan mendapati seorang emak-emak tengah kebingungan dan speechless. Mungkin yang ada di benak dan lidah ibu itu hanyalah.

‘KUKUTUK KAU MALING KUNDANG’.

Sebelum dikutuk menjadi batu, Boy pun meminta maaf karena telah salah sangka. Kami yang mendengar cerita itu tak bisa menahan tawa dan bersorak hingga berderai air mata (lebaaay). Karena dari apa yang pernah gue denger, sahabat itu adalah orang yang menertawan kebodohan saat kalian dihinggapi sial tapi memuji kalian di saat kalian tak ada. Ah, gue emang jago ngeles :P. .facebook_1429843842436

Begitulah Boy. Jika 10 tahun lalu ia lekat dengan hal-hal yang rada mesum maka apabila pertanyaan ‘Apa yang paling kalian inget tentang Boy’ dimajukan 5 tahun setelahnya maka yang akan kami inget adalah sosok seorang Polisi. Yang MESUM :D.

Boy dan polisi tidur adalah dua sosok polisi yang tidak membuat kami takut jika melakukan pelanggaran lalu lintas.

Saat awal bertugas menjadi polisi, Boy mendapatkan tugas untuk memegang canon water, semacam semprotan air yang digunakan untuk memukul mundur demonstran. Untungnya Boy tidak pernah bertugas menjadi polisi lalu lintas. Karena gue khawatir setiap saat dia ngeliat plang ‘Hati-Hati di Jalan’ dia bakalan deketin plang tersebut dan bilang ‘MAKASIH YA UDAH PERHATIAN BANGET SAMA AKU’.

Sebelum menjadi polisi, Boy pernah terdaftar sebagai mahasiswa jurusan biologi universitas sriwijaya meskipun hanya bertahan selama dua semester.

Boy akhirnya menikahi wanita yang telah lama dikenalnya yang bernama Sisilia mey cintanya harta (Ini nama bukan kalimat). Dari nama yang ada di akun facebook-nya saja Mey nampak sangat mencintai hartawan. Setelah menikah gue percaya Boy akan mengganti namanya menjadi ‘Hartawan akan celalu menjaga cinta Mey’ atau ‘Boy Cayangh Mey Angedh Campe M4uT MeM1s4hk4N’ (tambah emot :* :*).

Selamat Pak Ketua Kelas, kamu berhak untuk gelar ke-25.

#24 Endang Tepo Palupi

Menulis itu tidak mudah, lebih-lebih bagian prolog. Makanya, gue terkadang kewalahan mencari preambule untuk cerita yang isi dan kesimpulan telah gue rampungkan sewindu sebelumnya. Pembukaan sebuah tulisan kadang lebih ribet daripada nemenin cewe belanja. Tapi kalo istri gue mah pengecualian. Dia ga suka keliling ke semua toko demi mencari harga baju yang hanya selisih lima ratus perak *kedip-kedip*.

Menulis itu mudah mungkin hanya ada dalam kisah Dijah Yellow dengan novel Rembulan Love-nya. Tahu Dijah Yellow? tahu novelnya?. Kalo lo ga tau, lo kebangetan. Penggiat media sosial sangat mengenal Dijah Yellow sebagai artis media sosial yang naik daun karena tingkat pede dengan level Bintang Canis Majoris. Selain foto-foto ‘mempesona’ di Instagram, Dijah telah menghasilkan sebuah novel yang diselesaikan hanya dalam waktu 10 hari. Iya, 10 hari. Lebih hebatnya lagi, novel ini rampung tanpa menggunakan editor. Amazing. Covernya tak kalah keren. Khas buku Teka-Teki Silang.

*****

Untuk kesekian kalinya, gue akan bercerita tentang temen kelas gue yang menikah. Setelah Chotimah yang lebih dulu berijab qabul pada awal Maret, dua minggu kemudian, temen gue lainnya menempuh jalan yang sama.

Nama lengkapnya Endang Tepo Palupi tapi biasa dipanggil dengan Marsha. Haha, Ndak lah. Doi sehari-hari dipanggil dengan Endang. Sosok mungil satu ini adalah satu dari tiga personel Lingua kelas kami. Duanya lagi, Aas dan Fachrie telah lebih dulu mengakhiri masa lajang. Bukan, mereka bertiga tidak membentuk grup vokal selama kami sekolah dulu. Endang, Aas dan Fachrie memiliki tanggal lahir yang sama yaitu 23 Maret 1989. Sebuah kebetulan mereka berkumpul di satu kelas selama menyelesaikan sekolah menengah atas.

Lihat gambar yang dilingkari merah

Lihat gambar yang dilingkari merah

Gue cukup memiliki hubungan akrab dengan Endang karena selama kepengurusan Kerohanian Islam di SMA, Endang adalah koordinator akhwat (perempuan) untuk divisi hubungan masyarakat sementara gue bertindak sebagai koordinator umum. Dengan jabatan yang sama, maka sangat mungkin gue banyak berinteraksi dengan doi. Gue paham betul kenapa gue dan Endang sama-sama ditugaskan untuk memegang jabatan sebagai divisi kehumasan Rohis. Kami berdua sama-sama berisik dan talkative sehingga ‘bakat’ tersebut diarahkan sesuai dengan kebutuhan.

Dari kacamata gue selama tiga tahun sekelas, Endang adalah sosok siswi yang teges, suaranya kenceng dan kalo jalan ga kenal istilah ‘rem’. Dia bisa jalan ngeloyor tau-tau muncul di Senegal.

Salah satu hal yang paling gue inget tentang Endang adalah saat pelajaran Bahasa Indonesia. Sang guru meminta kami memainkan sebuah roleplay. Kebetulan gue dan Endang berada di satu kelompok. Di tengah dialog, tetiba Endang menggunakan kata ‘absurd’ untuk mengekspresikan rasa kecewa pada lawan dialognya. Saat itu, ‘absurd’ belum menjadi kosakata yang familiar buat kami. Seusai pelajaran, ‘absurd’ terngiang-ngiang di otak gue. Mau makan teringet ‘absurd’. Mau tidur keinget ‘absurd’. Mau jogging keinget mantan. Eh maap. Mantan darimana, pacaran aja kagak pernah :(.

Di waktu yang lain saat pelajaran kesenian, ibu guru melakukan pengambilan nilai dengan membuat kelompok yang terdiri dari 8-10 orang untuk menyajikan penampilan musik seperti ‘koor’ atau, jika memungkinkan, menampilkan drama musikal semisal ‘glee’ atau sinetron ind*siar yang dikit-dikit nyanyi diiringi naga dengan special effect photoshop. Penilaian akan dilakukan berdasarkan kekompakan, harmonisasi dan juga kostum yang digunakan.

Setiap grup berbusana dengan baik dan rapih kecuali kelompok gue yang lebih mirip pemain lenong. Entah apa yang ada di pikiran kami waktu itu dan kenapa juga tidak ada yang protes dengan cara kami berpakaian yang sama sekali tidak mengikuti kaidah aturan berpakaian yang baik dan benar. Crap!.

Sebelum pengambilan nilai masing-masing kelompok, kami diberikan kesempatan untuk melakukan gladi resik guna memantapkan penampilan. Sayup terdengar oleh gue harmonisasi yang apik dari lagu dari Hadad Alwi. Diselingi oleh permainan gitar yang tak kalah baiknya, kelompok yang mengenakan seragam warna pink ini nampak sangat meyakinkan. Endang adalah salah satu personelnya. Sebagian besar personel grup ini adalah punggawa Rohis Sekolah sehingga wajar diisi oleh para akhwat-akhwat berjilbab. Agar kompak, semua anggota kelompok itu mengenakan jilbab. Iya, termasuk Fachrie, Idris, Hendra, dan Dedy :D. My beautiful picture

“Wah, kelompok ini pasti dapet nilai gede” pikir gue setelah melihat penampilan mereka pada saat latihan.

Yak, tibalah Endang bersama grupnya naik ke panggung.

“Jreng…” Fachrie mulai memainkan gitarnya. Yang kemudian disusul oleh paduan suara sepersekian detik kemudian.

‘Engkau mengenalnya, insan yang utama’.

‘Lelaki pilihan, menjadi utusan,.

Setelah lirik dinyanyikan, gue menangkap sinyal fals sejak huruf pertama terdengar. Ternyata bener. Ada satu jenis suara yang tidak harmonis dengan suara lainnya. Suara ini nampak one man show. Dan gue tau persis suara ini karena agak nyempreng tapi bass nya gede. Wah, tidak salah lagi pasti ini suara Momo Geisha. Ya ga mungkinlah. Itu suara Endang Tepo. Entah apa penyebabnya, harmonisasi yang ditampilkan pada saat latihan lenyap seketika saat berlangsungnya pengambilan nilai. Dan semua menjadi kalut.

Seusai tampil, kelompok ini nampak sangat lesu. Fachrie sibuk mengomel karena harmonisasi yang diciptakan saat latihan tidak berhasil ditularkan pada saat penampilan di panggung. Gue pun senyum-senyum sendiri.

Memang harus disadari bahwa seseorang yang memiliki suara bagus tidak selalu bisa tampil dalam grup. Karena Victoria Adams mungkin lebih ciamik tampil bersama Spice Girls tapi Beyonce sepertinya lebih memukau saat tampil sendiri. Terus apa hubungannya dengan Endang? Ga ada, gue cuma nambah-nambahin tulisan aja. Hahaha.

Ngomongin Endang maka kita tidak bisa terlepas dengan sosok bernama Agustin Rosalina alias Anggi karena mereka satu paket. Dari sejak awal SMA, bahkan SMP, mereka selalu bersama. Persis Ipin-Upin. Kemana-mana bareng. Akan sangat sulit menemukan Endang tanpa Anggi. Mereka berdua mengingatkan kita pada Si buta dari Goa hantu dengan Kliwon :D. Namun semenjak kuliah, mereka terpisah. Anggi memilih bergabung bersama Iko Uwais ke Padang, Sumatera Barat untuk berburu kitab suci. Sementara Endang setia bertahan di Palembang guna menyelesaikan pendidikan S-1 di Universitas Sriwijaya.

Selesai kuliah, Endang akhirnya mendapatkan pekerjaan di Lampung sebagai guru SMP. Ini yang dari dulu membuat gue khawatir. Khawatir kalo kalo orangtua murid sulit membedakan yang mana siswa yang mana guru. bahahaha. Ampun Ndang.

Endang akhirnya menikah pada tanggal 15 Maret 2015 dengan seorang pria asal Cirebon yang juga adalah pegawai bea cukai. Di tanggal yang sama, temen kami lainnya, Hartawan Mulya juga melakukan pernikahan. Cerita tentang pernikahan Hartawan akan gue bahas di tulisan berikutnya. Selamat Endang, kamu mendapatkan peringkat ke-23. Semoga menjadi keluarga yang barokah.

Sabtu Bersama Ayah

20150321_144643

Assalamu’alaikum, Nak

Beberapa saat sebelum menuliskan tulisan ini, ayah baru saja menyelesaikan sebuah novel yang berjudul ‘Sabtu Bersama Bapak’ karangan Adhitya Mulya. Sebuah novel keluarga yang intinya bercerita tentang bagaimana sosok seorang bapak di hadapan anaknya. Meskipun sang bapak telah tiada. Berangkat dari novel itulah, ayah membuat kisah ini dan menjadikannya sebagai judul tulisan.

Nak, perlu ayah sampaikan bahwa meskipun ayah suka membaca tapi novel tak pernah menarik perhatian ayah kecuali beberapa. Meskipun novel adalah bacaan, di luar buku pelajaran sekolah, yang pertama kali ayah baca dan membuat ayah menyenangi aktifitas tersebut sesudahnya. Waktu itu ayah membaca novel karangan Helvy Tiana Rosa yang berjudul ‘Ketika Mas Gagah Pergi’. Tapi, entah kenapa. Untuk berikutnya, ayah tak pernah menjadikan novel sebagai prioritas. Hanya beberapa saja novel yang ayah baca. Itu pun novel popular karangan Kang Abik dan Dewi Lestari. Jangan, Nak. Jangan paksa ayah membaca Da Vinci Code atau Larung Ayu Utami.

Kali ini ayah membaca novel yang, menurut beberapa teman ayah, sangat baik untuk melengkapi referensi sebagai pembekalan bagi seorang ayah dan calon ayah. Nak, kini ayah dan ibu sudah memilikimu. Artinya semua bekal yang bisa menambah pengetahuan tentang menjadi orangtua yang baik adalah sesuatu yang penting dan berharga.

Secara singkat, buku ini berkisah tentang sosok seorang bapak yang meninggalkan penggalan-penggalan cerita yang terekam dalam kaset handycam di tengah vonis kanker yang dideritanya. Sang bapak, sebelum wafatnya, menceritakan banyak hal dalam rekaman tersebut. Sebagian besar adalah nasihat bagi kedua putranya suatu saat ia telah tiada. Secara ajaib, pertanyaan-pertanyaan kehidupan yang bertambah seiring dengan semakin dewasanya sang anak telah terjawab dalam kaset peninggalan bapak. Tokoh ‘bapak’ adalah model orangtua yang visioner.

Banyak hikmah yang ayah petik sebakda membaca novel tersebut.

Nak, terinspirasi dari bacaan itu, ayah ingin meninggalkan jejak kisahmu dalam goretan-goretan kata yang termuat dalam blog ini. Biarlah ayah dianggap meniru atau lebih tepatnya terinspirasi novel tersebut. Tentu ayah tidak berharap bahwa ayah juga memiliki umur yang singkat seperti tokoh ‘bapak’ dalam novel. Ayah hanya ingin merekam setiap tumbuh kembangmu dalam tulisan-tulisan yang akan ayah muat setiap tanggal delapanbelas tiap bulannya. Iya Nak, delapan belas. Karena pada tanggal itulah engkau lahir ke dunia.

Kelak, ketika kau sudah besar, kau bisa menapaktilasi kisah hidupmu dari apa yang pernah ayah buat mulai dari saat ini hingga nanti di usia engkau tujuhbelas atau dua puluh.

Maafkan ayah, Nak. Jika tulisan ini dimulai dari bulan ketiga kelahiranmu. Sebelumnya sudah ada niatan ayah untuk melakukan hal yang serupa. Namun niat yang layuh karena berbagai kesibukan membuat semua rencana ini hanya termuat di angan.

Nak, ayah akan berusaha sekuat tenaga untuk bercerita tiap bulannya tentang engkau.

Ayah tidak berharap tulisan ini dibaca oleh banyak orang atau ada orang iseng menerbitkan kumpulan dari apa yang ayah tulis tentangmu. Semua itu mungkin penting. Tapi jauh lebih penting adalah ayah, juga ibu, bisa berkisah tentangmu lewat ingatan-ingatan yang terpatri dalam lembaran-lembaran di atas halaman putih layar ini. Karena apa yang terucap akan hilang dan apa yang tertulis akan mengabadi.

Salam cinta ayah untukmu, nak. Di tengah mulutmu yang tak berhenti berucap banyak hal yang kami pun hanya bisa menerka apa yang kau inginkan.

Semoga engkau tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas dan shalih.

#23 Chotimah Agustia (Chimot)

FB_IMG_1427705008891

Belakangan ini kerjaan di kantor bener-bener lagi banyak. Hampir setiap hari gue mesti mengunjungi customer mulai dari trial, problem solving hingga memberikan training. Padatnya rutinitas itulah yang menjadi alasan gue untuk tidak bisa lebih sering mampir mengunjungi blog apalagi membuat tulisan baru. Walaupun begitu, gue tetap berusaha sekuat tenaga, sekuat kamehameha untuk setidaknya membuat satu atau dua tulisan baru setiap bulannya. Karena gue memegang teguh moto Jasamarga ‘Semua Ada Jalannya’.

Tulisan kali ini, seperti yang sudah-sudah, akan bercerita tentang temen kelas gue yang telah menikah. Sejujurnya gue sudah kehabisan ide untuk merangkai kata-kata menjadi kalimat yang akan bersimponi menjadi tulisan bertemakan pernikahan temen SMA gue. Maka saat temen gue Desni berkata bahwa tulisan tentang Maya sungguh jayus, gue pun hanya bisa terpaku. Walau sebenernya, dalam kacamata gue, tulisan tersebut tidaklah segaring itu. Tapi gue sadar, gue cowo. Cowo selalu salah. KZL!

Meskipun begitu, gue tetep berusaha menulis kembali kisah tentang temen-temen kelas gue yang telah menikah. Karena gue sadar, ganteng aja ga cukup buat kamu. Lah?!.

Kali ini tulisan gue akan membahas sosok perempuan. Tapi tidak berkalung sorban. Tidak juga jenggotan. Panggil saja ia bunga. Perempuan ini adalah temen SMP sekaligus temen SMA gue. Gue satu kelas sama doi sejak kelas 1 SMP. Tidak. Tidak ada benih-benih cinta di antara kami. Tolong jauhkan segala pernak-pernik FTV di otak kalian.

Nama lengkapnya adalah Chotimah Agustia namun lebih diakrabi dengan Cimoth. Dinamakan begitu karena dia adalah anak bungsu. Sering banget kan kita denger ‘khusnul khotimah’ yang artinya adalah akhir yang baik. Nah berangkat dari ucapan yang lazim kita dengar, gue bisa menyimpulkan bahwa ‘khotimah’ berarti penutupan/akhir.

Jujur, tidak banyak yang gue inget tentang Cimoth walaupun enam tahun kami satu kelas. Selain menjadi siswa sekolah di SMP kami dengan usia paling muda, hal lain yang gue inget adalah gue dan Cimoth pernah berada di satu genk.

Seperti anak-anak SMP lainnya yang labil dan sedang mencari jati diri, kami membuat sebuah klub eksklusif berdasarkan teritori posisi bangku kelas. Kami menamai genk ini dengan pensil-peruncing (rautan), Kelompok remaja yang terdiri dari 5 pria dan 4 wanita. Filosofi nama ini diambil dari asas saling melengkapi antara kedua benda tersebut. Tanpa peruncing, apatah arti sebatang pensil kayu. Ia tumpul tak bisa berfungsi dengan baik. Tak bisa digunakan untuk mengisi LJK. Tanpa rautan, pensil hanyalah seonggok makhluk tak bernyawa yang nista *drama*. Pun sebaliknya. Tanpa pensil, apa fungsi rautan itu. Apa yang mau diraut? jari?. Tanpa pensil, rautan hanyalah sebliah pisau tumpul yang cerminnya sering disalah gunakan para anak bermental bejat. IYKWIM.

Cimoth adalah anak yang cerdas dan selalu mendapatkan peringkat yang baik di SMP. Namun tak ada gading yang tak bertulang. Pernah suatu ketika sekolah kami tengah mengadakan ujian kenaikan. Gue inget banget ujian ini. Kenapa? Karena ada bintang kelas yang bertanya pada makhluk fakir nilai macem gue. Cimoth sekonyong-konyong bertanya.

“Psst, siapa penyanyi yang paling sedih?”

Gue kaget saat seorang Cimoth tiba-tiba nanya tentang penyanyi. Padahal saat itu ujian Penjaskes. Gue nyerah dan nanya balik.

“Siapa?”

“Melly” Jawabnya.

“Melly siapa?” Gue balik nanya.

“Mellyhatmu bahagia bersama dengan yang lain”

“…”

Sebenernya yang ditanyakan Cimoth waktu itu adalah bahasa Indonesianya fuel itu apa. Lah gue minder. Kalo doi yang pinter aja ga tahu apalagi gue. Gue sadar kalaupun gue tahu, jawaban gue pasti salah. Kenapa? karena lagi-lagi ini permasalahan gender. Cowo selalu salah, bukan? Padahal Cimoth bisa menjawab dengan ngasal semua pertanyaan saat ujian. KARENA WANITA SELALU BENAR.

Tapi, Kalo gue bilang ga tau, gue bakalan lebih akan menderita lagi saat mendengar ucapan “iya. Aku gapapa kok”. Cewek kan emang gitu. Pura-pura bilang ‘Tidak apa-apa’ padahal menyimpan dendam kesumat sambil ngasah piso.

Untuk menghindari kondisi yang lebih runyam. Sesaat setelah Cimoth nanya, gue pura-pura setep dan mulai kejang-kejang sambil mengaum suara macan. Saat ditanyai kenapa gue bisa jadi macan. Gue bilang “Dengan bisk*uat, semua bisa jadi macan”.

Sejak SMP, Cimoth dikenal sebagai anak yang pendiem. Berbeda dengan kakak-kakaknya yang lebih heboh. Walaupun pendiem, anak satu ini kalo ketawa pake double stereo plus bass. Sifat pendiem ini tak banyak berubah pun ketika ia menjadi temen kelas SMA gue selama tiga tahun. Walaupun pernah ngegenk bareng, hal itu tak membantu banyak interaksi kami saat SMA.

Gue tidak pernah mengamati Cimoth secara detail. Tapi menurut salah satu sumber, kerudung yang ia kenakan haruslah lancip di ujungnya. Lancipnya pun harus didesain sedemikian rupa sehingga terbentuk sudut 35 derajat dengan ketebalan kain 3 cm. Bahkan ia bisa pusing jika tidak mengenakan kerudung dengan model tersebut. Gue bingung, setau gue yang boleh pusing cuma kepalanya Barbie.

Lepas SMA, Cimoth melanjutkan pendidikannya ke Jurusan Arsitektur Universitas Sriwijaya. Ia berkumpul kembali dengan temen kelas kami lainnya, Aas. Empat tahun kuliah, ia lulus dan kemudian bekerja di sebuah developer perumahan. Pada tanggal 8 Maret 2015, ia menikah dengan seorang pemuda bernama Fatahilah di Palembang, Sumatera Selatan.

Walaupun gue ga bisa dateng, tapi doa terbaik selalu kami panjatkan agar kelak pernikahan kalian berbuah keberkahan seperti inti dari doa yang diajarkan Rasul kepada setiap insan yang menikah. Selamat Chotimah, kamu di posisi 23 :D.

Selamat Ulang Tahun, Sayang

IMG-20150311-WA0014

Selamat Ulang Tahun, Sayang.

7 maret menjadi hari yang spesial buatku. Setidaknya mulai dari tahun kemarin. Karena di tanggal ini, Tuhan mengizinkan engkau menyapa dunia bersama dengan segala catatan rezeki, jodoh dan takdir lainnya. Artinya, untuk tahun-tahun ke depan selama hayat masih di kandung badan (keselek), aku akan selalu menjadi orang pertama yang mengucapkan ‘selamat hari lahir’ buat engkau.

Selamat Ulang Tahun, Sayang.

Di tahun ini, engkau genap berusia 27 tahun. Segala harapan dan doa aku haturkan untukmu sebagai ungkapan cinta seorang suami atas segala perhatian, lelah, senyuman, dan kasih yang telah membersamai selama lebih kurang 10 bulan terakhir.

Tahun lalu, aku memberikan hadiah berupa buku dan miniatur eifel yang dibawa serta pada saat lamaran. Aku memang bukan suami yang romantis. Bahkan aku kebingungan untuk memberikan kado di hari ulang tahunmu. Entah kenapa, hadiah pertama yang aku bayangkan adalah memberikan sketsa dirimu dalam bentuk goretan berwarna. Jadilah, sketsa tersebut, walaupun tidak terlalu mirip, sebagai buah tangan yang aku berikan setibanya dari Jakarta. Lebih kurang jam dua belas lebih tiga puluh menit.

Selamat Ulang Tahun, Sayang.

Aku tidak bisa seperti suami lain yang membuatkan lagu di ulang tahun istrinya atau memberikan liontin mewah atau bahkan sekedar menggantikan pekerjaan rumah yang selama ini senantiasa kau kerjakan. Bukan karena ingin tampil berbeda namun karena memang aku tidak atau mungkin belum terbiasa dengan hal-hal demikian.

Sayang, tahukah engkau?. Menurut sumber yang aku baca, wanita senang diberikan hal-hal kecil namun simpatik. Lebih-lebih yang sifatnya kejutan. Kebetulan, sesaat sebelum menjemputmu di kampus, aku mengantongi tiga kuntum mawar merah dan putih sebagai buah tangan. Katanya mawar merah adalah simbol keindahan dan romantisme sementara mawar putih adalah simbol rasa cinta yang sejati dan keanggunan. Sejujurnya, sayang. Aku pun tak mengerti apa makna mawar-mawar itu. Tak usah jua kau berharap aku menambahkan prosa bersamaan dengannya. Aku tak pandai merangkai kata. Jangankan sebuah prosa, menganggit pantun pun aku alpa.

Aku mencoba menerka-nerka, apa lagi yang biasanya diberikan oleh seorang pria di hari ulang tahun wanita yang dicintainya. Ternyata simpel. Engkau doyan makan. Aku pun begitu. Maka mengajakmu ke tempat makan rasanya adalah pilihan yang sangat bijak. Alhamdulillah, engkau pun mengamini undangan makan yang aku ajukan. Tanpa sungkan engkau menunjuk hollycow sebagai tempat perayaan. Plus ada promo bagi sesiapa yang merayakan ulang tahun di Hollycow, ujarmu. Sungguh sebuah kebetulan yang sangat mencengangkan atau bahasa kerennya adalah serendipity. IMG-20150307-WA0026

Selamat Ulang Tahun, Sayang.

Kita pun menyadari bahwasanya ada yang lebih bermakna dari aneka hadiah yang nampak di mata. Ianya adalahi lantunan doa tulus sebagai harapan yang digantungkan di langit cinta. Berharap agar doa tersebut terijabah. Dipayungi oleh keberkahan-keberkahan atasnya. Karena keberkahan adalah puncak kebahagiaan. Tidak semua bahagia berarti berkah. Kebahagiaan yang semakin menjauhkan diri dan keluarga pada kecintaan terhadap Allah bukanlah sebuah ciri tanda keberkahan yang diharapkan.

Doa yang tulus aku persembahkan untukmu. Doa yang tertutur mesra agar engkau sentiasa menjadi wanita sholehah. Agar engkau meletakkan frasa istri dan anak pada posisi teratas dalam skalamu. Semoga kelak engkau menjadi wanita yang semakin dewasa. Tegar dalam menghadapi segala uji dan musibah. Selalu berada di sampingku di saat aku butuh maupun tidak butuh. Di usiamu yang semakin bertambah, aku mendoakan engkau menjadi wanita yang lebih tangguh hingga segenap masalah tak akan mudah menggoyangkanmu.

Aku berharap engkau menjadi ibu yang shalihah untuk anak-anak kita. Sekokoh cinta sang ibu, Fatimah pada Imam Syafi’i hingga sang faqih menamai karya terbaiknya dengan ‘Al-umm’. Iya Al Umm. Yang tak lain dan tak bukan artinya adalah ibu.

IMG-20150311-WA0015Dalam marahmu, hadirkan cinta. Seperti kisah Imam Sudais kecil yang menuangkan tanah ke dalam makanan yang disajikan untuk tamu. Besar kemurkaan sang ibu melihat polah anak yang memantik emosi. Namun sang ibu sadar bahwa setiap ucapan yang meluncur deras dari mulutnya bisa berarti adalah doa yang tak bersekat. Alih alih mengumpat atau mendoakan dengan ucapan semisal ‘anak durhaka’ atau ‘anak setan’, ia malah mendoakan sang anak menjadi Imam di Masjidil Haram. Dan Keridhoan Allah di atas keridhoan orang tua. Doa tersebut terijabah.

Sayang, rajin-rajin lah membaca. Karena anak-anak kita nanti menjadikan engkau sebagai guru pertama mereka. Ini-itu akan ditanya. Berulang kali dan berima.

Selamat Ulang Tahun, Sayang.

Semoga engkau selalu meneladanii khadijah yang dalam peluknya Muhammad merasa tentram. Juga laksana Aisyah yang cerdas dan menjadi teman terbaik berbagi cerita. Kepedulianmu pada setiap anggota keluarga yang akan menumbuhkan kami dalam cinta.

Berat bebanmu sebagai istri. Menanggung banyak hal, mendekapnya dengan erat. Ceritalah, saat engkau ingin cerita. Marahlah, jika engkau harus marah. Bahkan Umar pun hanya tertunduk diam saat istrinya memarahi.

‘Wahai Amirul Mukminin semula aku datang hendak mengadukan kejelekan akhlak istriku dan sikapnya yang membantahku. Lalu aku mendengar istrimu berbuat demikian, maka akupun kembali sambil berkata, ”Jika demikian keadaan Amirul Mukminin bersama istrinya, maka bagaimana dengan keadaanku?”
‘Wahai saudaraku, sesungguhnya aku bersabar atas sikapnya itu karena hak-haknya padaku demikian kata Umar’. “Dia yang memasakkan makananku, yang mencucikan pakaianku, yang menyusui anak-anaku dan hatiku tenang dengannya dari perkara yang haram. Karena itu aku bersabar atas sikapnya” lanjut Umar.

Dan akhirnya sayang, semoga kelak engkau terus membersamaiku dalam suka dan duka. Kelak kita akan menjadi tua bersama. Semoga dimudahkan setiap langkahmu untuk menempuh apa yang dicitakan. Dimudahkan studimu, dilancarkan proses mengemban amanah mencerdaskan ummat.

-Salam cinta untukmu-

Islamic Book Fair 2015

20150309_060307

Penulis yang hebat adalah pembaca yang rakus

Islamic Book Fair (IBF) hadir kembali mulai tanggal 27 Februari sampai 8 Maret 2015 di Istora Senayan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, gue selalu  bergembira dengan kehadiran pameran buku islam terbesar di Indonesia ini. Berada di tengah tumpukan buku adalah satu dari dua hal yang bisa dengan mudahnya membuat gue bahagia. Satunya lagi adalah menemukan jarum di dalam tumpukan jerami. Krik..krik!.

Masih jelas bayang-bayang kunjungan ke IBF tahun lalu. Saat itu, gue masih berstatus calon suami karena penyelenggaraan IBF 2014 berselisih beberapa hari dengan prosesi lamaran gue. Karena timing nya yang sangat pas, gue secara sengaja dan sadar membeli buku ‘kado pernikahan untuk istriku’ sebagai buah tangan yang dibawa turut serta pada saat lamaran. Lebih tepatnya, buku itu gue hadiahkan buat sang istri yang kebetulan berulang tahun satu hari sebelum kedatangan keluarga gue ke Cianjur untuk ngantri raskin. Menurut lo?!. Ya buat lamaran lah.

Beberapa buku yang gue beli tahun lalu masih tersampul rapih dan tersimpan di kardus di pojok kamar kontrakan. Mereka seolah tergugu. Tertunduk lesuh tak tersentuh. Buku Karen Armstrong tentang Perang Salib baru sepertujuhnya selesai dibaca. Biografi Malcolm X malah belum dijamah sama sekali. Di situ kadang buku saya merasa sedih.

Ada yang berbeda dengan IBF 2015 kali ini. Durasi gue untuk memburu buku tidak bisa seleluasa saat masih bersatus jomblo keren. Sekarang, gue harus mengunjungi anak dan istri tercinta yang ada di kota bunga setiap akhir pekan. Jadi, gue harus sempet-sempetin datang ke IBF sepulang jam kantor. Keterbatasan waktu ini juga yang menghalangi gue mencari buku dengan seksama.

Setelah berthawaf di sekitar Istora, gue memilih singggah di beberapa tenan. Tenan pertama yang gue kunjungi tidak lain dan tidak bukan adalah tenan pro u media. Memang, sudah sejak lama pro u media menjadi penerbit yang menghasilkan bacaan-bacaan sesuai dengan selera gue. Buku-bukunya ditulis oleh penulis yang relatif masih unyu dengan topik yang anak muda banget. Mulai dari Fadlan Al Ikhwani, Egha Zainur Ramadhani, Solikhin Abu Izzudin, hingga Salim A Fillah. Setelah melihat-lihat buku yang tersusun rapih di biliknya, tidak ada buku yang menarik perhatian saya dengan amat sangat. Berbeda dengan tahun lalu saat buku Lapis-Lapis Keberkahan Salim A Fillah mencuri perhatian banyak orang.

Sejak awal adanya IBF, gue sudah berazam dan berdiskusi dengan istri untuk mencari buku-buku bertemakan parenting. Jika tahun sebelumnya, gue sangat berapi-api untuk memperoleh buku bertemakan pernikahan maka kali ini gue lebih banyak memfokuskan diri untuk melengkapi koleksi buku tentang bagaimana cara mendidik anak dengan baik dan sesuai tuntunan Al-Quran. Karena segala sesuatu itu harus ada ilmunya. Seperti apa yang dinasihatkan oleh Ali bin Abi Thalib bahwa ibadah yang tidak ada ilmunya lebih besar potensi kerusakannya. Karena membimbing anak adalah sebuah ibadah maka diperlukan ilmu sebagai bekal. Berapa banyak orang tua yang mengaku memiliki anak tapi tidak tahu bagaimana cara mengurusnya. Berapa banyak di antara mereka percaya diri dengan melabeli ayah-ibu sebatas panggilan saja tanpa tahu bagaimana seharusnya seorang anak dibimbing dan diarahkan. Padahal ketahanan keluarga adalah pilar dalam membangun sebuah peradaban. 20150308_160504

Sebelumnya, gue sudah memiliki beberapa buku tentang Parenting seperti Prophetic Parenting, Buku karangan Ibnu Taimiyah hingga buah karya Ust Fauzil Adhim ‘Saat Terbaik Untuk Anak Kita’. Setibanya di Tenan Pro U Media, mata gue tertuju pada buku karangan Ust Fauzil Adhim yang berjudul ‘segenggam iman untuk anak kita’ dan ‘membuat anak gila membaca’. Fauzil Adhim sudah sangat dikenal dengan kemampuannya menganggit kata untuk disarikan menjadi nasihat bagi para orang tua agar menyadarkan orang tua akan pentingnya membekali anak-anak dengan iman, membangun jiwa anak-anak mereka. Dan kedua buku ini diharapkan menjadi wahana untuk mencapai tujuan tersebut.

Selain buku tentang parenting, sejujurnya tidak ada buku yang benar-benar menarik perhatian gue. Berbeda dengan tahun lalu saat buku milik Karen Armstrong dan Rapung Samuddin begitu menggoda untuk dibaca. Waktu berburu yang terbatas pun menjadi faktor utama ketidakbisaan gue melakukan pencarian buku secara mendalam,. Duh lebaynya!.

Di antara buku-buku yang bertebaran dan setelah mengelilingi hampir semua tenan yang ada, gue akhirnya menjatuhkan pilihan pada ‘wajah peradaban barat’ karangan Ust Adian Husaini. Gue sebenernya mengikuti tulisan-tulisan beliau sejak lama. Jauh sebelum negara api menyerang. Selama ini gue hanya bisa menyimak tulisan Ust Adian melalui Web Insist atau status-statusnya yang termuat di facebook. Tulisan beliau bagus dan bernas sebagai referensi untuk menghalau pemikiran-pemikiran liberal dan serangan-serangan orientalis terhadap islam.  Kebetulan sudah lama buku tersebut jadi target operasi.

Masih di rak buku yang sama, duduk manis ‘The Art of Deception’ nya Jerry D Gray. Buku yang memang gagal gue beli tahun lalu karena keterbatasan dana. The Art of Deception bercerita tentang peristiwa pembajakan WTC yang terjadi pada tahun 2001. Penulis memaparkan cerita dari sudut pandang ‘konspirasi’. Jadilah dua buku yang akan sangat berjasa menambah pengetahuan gue tentang peradaban barat serta wawasan tentang ‘penipuan’ yang selama ini terjadi di sekitar kita.

Di arena lain, gue mendapati tenan yang tenang nian sore itu. Tak banyak aktifitas kehidupan nampak di sana. Hanya ada penjaga tenan dan beberapa buku islami yang diobral 5-10 ribu. Sepintas gue melihat buku dengan judul ‘inilah politikku’ karangan Muhammad Elvandi. Gue sudah mengetahui sepak terjang sang penulis sejak menyelami tulisan di web yang ia asuh. Tulisannya sangat baik dengan referensi yang luas. Maklum, beliau adalah lulusan sarjana Mesir dan magister Prancis yang saat ini tengah menyelesaikan pendidikannya PHd nya di kampus Manchester, Inggris. Buku ini banyak bercerita tentang prinsip-prinsip politik islam di era modern. Sebuah tulisan yang cerdas dan sarat makna.

Sisanya, gue membeli buku tentang parenting lagi yang dijual secara paket. 4 buku seharga 100 ribu. Di antaranya bertemakan tentang pola asuh anak dan cara-cara menangani emosi anak. Lumayan, guna menambah referensi bagaimana cara menghadapi Alby, Si Jagoan. Ditambah lagi sebuah buku yang dibuat untuk meluruskan salah paham atas pemikiran dan aktifitas Sayyid Quthb. Pembela Ikhwanul Muslimin yang syahid di tiang gantungan setelah sebelumnya menggegerkan Mesir bahkan dunia dengan Tafsir fi Zhilail Quran dan buku ‘Petunjuk Jalan’.

Selain buku-buku yang berhamparan di rak-rak yang tersusun nan ajeg, hal lain yang membuat gue gembira selama berada di IBF adalah gue melihat kembali tenan yang menjual majalah Sabili dan Tarbawi. Sebagi informasi, Sabili sudah lama tidak hadir menemani pembacanya. Majalah umat yang berdiri sejak tahun 1994 ini sempat vakum selama beberapa tahun. Per Juni 2014, ia kembali hadir. Menurut mereka, selama ini terjadi kendala distribusi. Loper koran yang diamanahi menjual sabili banyak yang tidak menyetor uang kepada tim sabili. Untuk menghindari hal yang sama agar tidak terjadi lagi, Sabili kini tidak lagi dapat ditemui di loper-loper koran. Mereka menjual langsung kepada pembacanya.

Sabili adalah majalah yang sering gue baca sejak SMP. Dari majalah ini, gue banyak mendapatkan informasi tentang kondisi umat islam di berbagai belahan dunia. Betapa mencekamnya kehidupan di negeri-negeri non Muslim. Penindasan di Checnya, Palestina dan negara lain. Boleh dibilang Sabili adalah bacaan pertama yang membuka wawasan gue tentang betapa mirisnya nasib muslim di negara lain.

Majalah Tarbawi sendiri sudah 8 bulan tidak hadir menyapa pembacanya. Mereka berkilah bahwa tengah dilakukan evaluasi. Kini mereka hadir kembali untuk memperluas tsaqofah para pembacanya. Sejujurnya gue bukanlah pelanggan Tarbawi, namun mendapati majalah ini eksis kembali, gue ikut berbahagia.

Seperti itulah petualangan gue di IBF 2015. Semoga tahun-tahun berikutnya Islamic Book Fair tetap ada. Dan Semoga juga gue masih memiliki kesempatan untuk sowan untuk membeli buku-buku terbaik dengan harga miring.