7 Fakta Menyebalkan Dunia Kerja (Yang Sayangnya Benar)

Originally Copas from here

Saat mendengar kata “dunia kerja”, banyak bayangan yang terlintas: mulai dari pembuktian kedewasaan, pengejawantahan mimpi-mimpi, tidak adanya ujian, kebebasan finansial (baca : duit), free snacks, dll. Yah, tergantung siapa yang bilang, bekerja itu bisa enak dan tidak enak. Bagi yang sudah bekerja, entah suka atau tidak suka dengan pekerjaannya, bacalah artikel ini. Siapa tahu membawa pemahaman baru (entah positif atau negatif) bagi Anda. Bagi yang belum bekerja, ehm, kami sudah mengalami sekolah dan bekerja, dan percayalah, walaupun mungkin kalian merasa berat sekarang, sekolah jauh lebih menyenangkan dibandingkan dunia kerja. Percayalah.

1. Yang dibilang orang pelajaran di kampus ga guna? Buset, secara statistik terbukti benar.

Masa kuliah sangatlah berat untuk dilalui. Bayangkan, 4 tahun mempelajari sebuah ilmu sedalam mungkin sampai botak. 4 tahun dihabiskan untuk berhitung, berpikir, bermain kata-kata, ngeles, dll. 4 tahun membuang kenikmatan masa remaja demi menjadi ahli dalam sebuah bidang, mendapat ijazah pengakuan keahlian, dan nantinya bekerja sebagai expert sesuai dengan keahlian yang sudah dipelajari mati2an itu.

Mau pegang pistol laser? Kuliah hukum 4 tahun!

Emmm,, kalimat terakhir tidak sepenuhnya benar. Hampir setengah dari lulusan universitas bekerja di bidang yang benar2 berbeda dengan apa yang mereka pelajari di kampus.

Apaaaaa????

Yup, kamu tidak salah baca dan kami tidak salah ketik. Menurut berbagai survei dari dalam dan luar negeri, hanya sekitar 50% lulusan universitas yang bekerja di pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya. (Data yang dari Indonesia bervariasi mulai dari 25 sampai setinggi 80%, tapi, yah, kebanyakan 50% seperti ini). Jadi, yeah, sebagian besar dari kamu tidak akan memakai lagi seluruh pelajaran yang kamu pelajari di kampus, termasuk pelajaran-pelajaran paling susah yang memakan waktu bermain, pacaran, dan hidupmu.

Dan, well, dari setengah lainnya yang bekerja ‘sesuai dengan bidang studinya’, keadaannya juga tidak terlalu jauh berbeda. Karena yang dipelajari di kampus biasanya juga masih terlalu luas, maka walaupun bekerja sesuai bidangnya, biasanya sebagian besar dari yang kita pelajari juga tidak dipakai di dunia kerja. Terutama yang dulunya sangat susah dipelajari:

Buset, Prof, kita kan ga ngobrol pake huruf Yunani???

Gambar di atas adalah rumus yang bernama curl, atau  “infinitesimal rotation of a 3-dimensional vector field” menurut wikipedia, yang harus dipelajari sampai mengerti di luar kepala apabila kalian kuliah engineering. Kami tidak tahu bagaimana dengan Anda, tapi kami terus terang sangat emosi ketika mengetahui bahwa rumus sangat rumit yang sudah kami coba mengerti dengan air mata dan darah, bahkan sampai mencoba memamah biak kertas2 laknat itu, tidak akan pernah kami pakai lagi seumur hidup setelah ujian berakhir.

Sangatlah menyebalkan ketika kita tahu bahwa sebagian besar dari kita, ketika sudah bekerja, menyadari bahwa satu2 nya ilmu yang diberikan oleh kampus yang berguna bagi pekerjaan kita nantinya mungkin hanya:

Selamat datang! Sekretaris-sekretaris terbaik bangsa!

Kita tidak sedang bilang bahwa kuliah itu tidak perlu. Tapi, yah, karena secara statistik sebenarnya IP dan CV panjang hanya dibutuhkan sampai seleksi dokumen penerimaan kerja, ada baiknya kamu mempelajari bagian lain juga. Ada baiknya di samping pelajaran2 yang harus kamu hapal mati, kamu meningkatkan skill yang lain, yang berhubungan dengan sikap dan sifat, karena alasan2 yang akan kami kemukakan di bawah (so stay tuned).

2. Kamu harus bekerja keras. Literally.

Produktivitas ditentukan oleh kerasnya kerjamu. Ya, ya, ya, kita tahu bahwa semua orang bilang “work smart not work hard,” tapi bukan berarti kamu tidak perlu menambah jam jika ingin lebih produktif.

Memang, kerja sampai jam 10 atau 11 setiap hari dapat membuatmu kecapaian, sehingga kamu malah tidak bisa bekerja optimal. Tapi kalau kamu datang ke kantor jam 9, jam setengah 12 sudah makan, jam setengah 2 baru balik sholat, jam setengah 4 ngopi dulu setelah sholat, dan jam 5 langsung cabut begitu bel pulang berbunyi (emang sekolah ya pake bel), plus menghabiskan sebagian besar waktu di kantor ngobrolin kenaikan gaji, pangkat, dan siapa aja wanita yang disikat Ariel, well, you also won’t go anywhere, buddy.

Ga percaya? Lihatlah perbandingan antara bangsa yang masih sering bekerja lembur dibandingkan bangsa pemalas yang lagi bangkrut ini:

Nggak heran kenapa negara-negaranya bangkrut.

Sepertinya memang ada batas minimum kekerasan kerja untuk mencapai hasil maksimum, dan sepertinya tidak bisa dicapai dengan kerja hanya 40 jam seminggu seperti digembar-gemborkan orang2 Eropa pemalas pemakan keju itu selama ini. Smart is not enough. You have to be hard.

Gak mau? Well, hiduplah super santai dan menyampah, kami yakin bos Anda tidak akan melihat Anda sama sekali dan tidak pernah memberi Anda kerjaan penting atau promosi. Jadi kacung aja malas apalagi kalau jadi bos yang kekuasaannya lebih besar? Lebih malas lagi pastinya. Yah, siap2lah menerima kenyataan bahwa promosi paling cepat adalah 3-5 tahun lagi. Atau bahkan tidak pernah.

Really, dude?

Err,, yah,, emang ada pengecualian di mana kemampuan Texas Holdem’ Poker mungkin mempengaruhi penilaian atasanmu, sih. Tapi ya tetep, kamu harus bekerja keras memainkan Pokermu. RAISE!

OK. Kembali serius. Yang terakhir, bagi anak baru yang merasa, “Hei, bos awak belum ngasih kerjaan, tuh, gak pa pa lah ya gue main fesbuk atau tidur2an aja di kantor? Nganggur inih.”  Nah, di sini, yang paling penting adalah motivasimu di kantor. Kamu bekerja tidak hanya untuk menghabiskan waktu, atau mendapat uang, atau memuaskan bos, kan? Tidak. Yang harus kamu ingat adalah, apa pun yang kamu lakukan, pasti akan berpengaruh di masa depan.

Jadi, yah, ada bedanya antara menghabiskan waktu dengan main Farmville saat bos tidak memberi pekerjaan, dengan mencoba mempelajari hal-hal lain untuk menambah pengetahuan dan skill. Banyak kok yang bisa dipelajari, dan kamu tidak harus selalu menunggu bos menyuruhmu. Ada gunanya melihat2 dan mempelajari visi dan misi perusahaan, strategi perusahaan, daftar produk, dan melihat kemampuan praktis apa saja yang dibutuhkan di perusahaanmu. Be proactive. Siapa tahu nanti ketika bos tanya, “Siapa yang bisa mengoperasikan software optimasi penjualan kondom ke beruang kutub ini?”, si anak baru bisa mengangkat tangan dengan bangga sambil membusungkan dada. Dapet kerjaan penting, deh. Plus, pengetahuan dan skill mu terasah, yang pasti akan berguna di masa depan, entah di perusahaan atau di tempat lain.

Hafal nama semua rekan kerjamu? Kamu bisa jadi orang paling kuat di dunia. He knew it.

3. Tidak ada yang bahagia dengan pekerjaannya.

“Saya bahagia kok dengan pekerjaan saya, bosHansip.”

Hey, berbahagialah kalau Anda mencintai pekerjaan Anda. Namun, tunggu dulu. Kalau Anda masih merasa iri (walaupun cuma sedikiiit banget) saat melihat tawa lebar dan senyum bahagia teman2 Anda dengan pekerjaannya di fesbuk, twitter, dll, jangan dulu berkata seperti di atas.

Tidak perlu malu mengakuinya, dude / dudette. Toh menurut penelitian di Tanah Kebebasan (baca: United States of A******), 44% pekerja tidak bahagia dengan pekerjaannya. Freaking 44%!!! You’re definitely not alone.

Setengah dari bocah2 ini pengen ganti profesi. Pantes aja.

Gmana mau bahagia, di dunia perkuliahan biasa mengerjakan sesuatu yg serba modern dan ilmiah, tiba2 dapet pekerjaan di tengah hutan hujan tropis dan disuruh nyebokin truk2 kotor oleh senior2 gila yg mungkin udah bisa berfotosintesis karena kelamaan di hutan. Sungguh kegilaan ini namanya.

Biasanya sih perasaan tidak bahagia dengan pekerjaan ini disebabkan karena kenyataan yg ada di dunia kerja ternyata tidak sesuai dengan apa yg mahasiswa bayangkan saat masih kuliah. Ditambah lagi dengan semakin sedikitnya kesempatan kerja yg tersedia, jadi ya kadang mau ga mau sebagian lulusan akan melamar kemanapun asalkan cepat dapat kerja.

Telitilah saat membaca lowongan pekerjaan dan requirement-nya

Dan begitu dapat kerjaan, tiba-tiba Anda sadar bahwa Anda tidak begitu menyukai pekerjaan tersebut, tapi….

4. Tapi kamu akan bertahan karena……uang.

Uang, milord. Masih nanya lagi. Itu lho, mahluk aneh yg selalu dapat menolong kamu saat kamu kekurangan beras dan sayur di dapur. Dari mulai susu bayi sampe susu bison, semuanya pakai uang. Ketika Anda tidak suka dengan pekerjaan Anda, tapi kenyataannya Anda masih mengerjakannya, ya,  mungkin salah satu alasannya adalah UANG dan Benjamin Franklin.

Goddamnit!!! Stop smiling, Uncle Ben

Beberapa pekerjaan memang terlalu shitty bagi seorang lulusan universitas. Namun, mau dikata apalagi. Duit yg dihasilkan mampu membuat orang tua menangis terharu bahagia, dapat membuat dapur di rumah tetap hangat dan beraroma, dapat membuat anak2 tumbuh berkembang dengan sehat dan ceria.

Bagi beberapa orang, kondisi ini sangat menyebalkan. Bagaimana tidak? Ketika idealisme masih menggelora di dada, pada saat yg bersamaan orang tua dan orang2 tercinta menunggu uluran tangan Anda. Anda ingin menyelamatkan republik ini, tapi keluarga Anda juga ternyata perlu diselamatkan duluan. Bangsa Skrull sebentar lagi menginvasi bumi, tapi Anda masih sibuk menyiapkan powerpoint untuk bos Anda demi sesuap nasi. Gimana ini, Tuhaaann??

O Mighty Lord. Di luar sana rakyatku mati digigiti zombie, tapi gw malah stuck di sini.

Yah, mau bagaimana lagi. Sabarkan saja diri Anda di beberapa tahun pertama. Toh, Anda dibayar juga pake uang bukan pake ganja (dan bukan kerja sosial kayak kolumnis thePoskamling), jadi bisa Anda tabung buat buka usaha atau melanjutkan sekolah. Dan lagi, Anda juga mendapatkan sesuatu yg bernama pengalaman (yg mungkin tanpa Anda duga2, akan berguna di masa depan Anda kelak). Percayalah bahwa semua yg kamu alami saat ini pasti akan membawa kebaikan nantinya.

Untung dulu di hutan diajarin sama senior, gw jadi bisa buka usaha penyebokan Optimus Prime.

5. Kamu harus menjilat.

Bukan menjilat dalam arti literal dan bukan menjilat yang kamu harus menyembah2 bos dan senior2 perusahaan. OK, mungkin bukan menjilat istilahnya, tetapi “bersosialisasi”.

Yah, memang 4 tahun berada di universitas dan dicekoki idealisme bahwa kita adalah agen pembaharu, harapan bangsa, beda dari senior2 kita yang korup, blablabla ada sisi buruknya. Kita jadi terbiasa menganggap diri kita paling hebat dan tahu segalanya, lalu meremehkan orang lain. Akhirnya ujung-ujungnya kita menjadi bekerja secara individu karena tidak mempercayai orang lain.

Penulis: andri0204

Pragmatis-oportunis. Menulis ya menulis saja. Sebuah ekspresi dari kecerdasan berpikir

5 thoughts on “7 Fakta Menyebalkan Dunia Kerja (Yang Sayangnya Benar)”

  1. masa sih? makanya pake passion.. hahahaha.. setelah gw pikir2 yah dri.. emg paling bener itu jadi guru deh.. kekayaan cukup, kemuliaan bertambah. haha.. ga perlu menjilat,cuma perlu tulus. no seniority, gemana pun teknologi bkembang, junior lbh peka thdp itu😛

  2. Saya yakin dalam banyak situasi, sikut-sikutan, tendang-tendangan di dunia kerja itu hal biasa. Read it carefully, but you have,no matter what, survive due money. Most people do that.
    Kerja dgn passion atau tidak itu kan pilihan. Toh yang ga kerja dengan passion bisa jadi sedang mempersiapkan ke arah sana meski harus pahit menelan derita

  3. hahaha,, bener jugagan,, g semuanya lulusan dari perguruan tinggi akan bekerja sesuai lulusannya,, tapi memang karena rejekinya mau dibawa kemana.. hehe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s