Kontradiksi Ramadhan

Mei 31, 2018 § 1 Komentar

Sumber: Gettyimage

Beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke sebuah mall di area bintaro. Sebuah aktifitas yang tidak akan saya lakukan jika tanpa keperluan. Rencana awalnya adalah berburu sepatu sebelum mudik ke kampung halaman mengingat sepatu yang ada rasanya kurang sreg dipakai.

Sepatu doang?

Iya, kali ini saya hanya mencari sepatu karena pakaian saya dan anak-anak sudah dibeli lebih dulu via daring. Saya merasa beruntung memiliki istri yang memiliki skill mumpuni untuk menjelajahi semua situs belanja online demi mendapatkan diskon. Tidak tanggung-tanggung. Ia kadang-kadang memiliki lebih dari sepuluh akun demi mendapatkan potongan harga yang seyogyanya sangat membantu arus cashflow kami. Subhanallah.

Saya tidak pernah menyangka bahwa mall bisa begitu padat padahal ramadhan belum sampai setengahnya (saat saya membuat tulisan ini). Selama ini saya berasumsi bahwa pasar meliputi mall dan turunan lainnya akan ramai pada sekitar H-10 lebaran. Ternyata dugaan saya meleset. Orang-orang tampak begitu bersemangat dan lincah menelusuri setiap lorong etalase pakaian, sepatu, sendal, koko, kerudung, dan pernak-pernik lainnya. Mereka sepertinya menafikan penat dan dahaga bahkan mungkin lupa bahwa mereka tengah berpuasa. Saya hanya bisa mengelus dada sambil menikmati es kepal milo.

Karena kericuhan di dalam mall. Ditambah lagi sales yang berteriak begitu kencang lewat speaker menjajakan diskon, saya pun mengurungkan niat. Saya memilih pulang. . . untuk kemudian istirahat sebelum bergerilya mencari sepatu seperti semula. Haha!

Selepas solat isya berjamaah di masjid sekitaran tempat saya tinggal, pengisi ceramah menyampaikan materi yang begitu pas dengan fenomena yang saya temui di mall siang harinya. Saya yang biasanya mulai menguap, mengubah posisi duduk, dan sesekali tertunduk sebagai pertanda mengantuk, kali ini nampak berbeda. Ceramah ustad ini terlihat menarik bahkan sedari awal ia berucap.

Ia mengawali ceramah dengan sebuah pertanyaan dialogis tentang mengapa pada saat ramadhan terjadi dua hal yang kontradiktif. Yang pertama adalah uang belanja yang membengkak dan yang kedua berat badan yang bertambah. Dua kondisi ini kontradiksi dengan semangat dan atmosfir ramadhan.

Beliau melanjutkan bahwa sudah sewajarnya uang belanja sama saja atau bahkan lebih sedikit jika dibandingkan dengan bulan lain di luar ramadhan karena jadwal makan yang berkurang satu. Ingat, saat ramadhan kita mengurangi porsi makan siang. Kecuali mereka-mereka yang kakinya terlihat di balik warteg-warteg bertabir.

Selaras dengan itu, jika menggunakan logika linier maka seharusnya berat badan bagi mereka yang menjalani puasa sejatinya turun karena berkaitan erat dengan perubahan pola makan tersebut. Tapi narasi tersebut hanya isapan jempol.

Lalu apa faktor yang membuat ramadhan menjadi begitu kontradiktif dari semangat yang seharusnya?

Sang ustad menyampaikan bahwa ada korelasi yang erat antara ramadhan dengan perubahan perilaku umat muslim pada umumnya. Salah seorang sosiolog* melakukan studi di beberapa negara muslim untuk menyimpulkan bagaimana ramadhan telah menjadi sarana multi guna. Menurutnya ada setidaknya 3 tujuan atau sarana atau motif yang terjadi selama bulan ramadhan

  1. Tujuan konsumerisme

Sudah sangat jamak bagaimana perilaku konsumerisme begitu merajalela selama bulan puasa. Tengok saja bagaimana buka puasa menjadi ajang coba-coba. Semua menu makanan dicoba. Kolak, gorengan, candil, es kelapa dll. Belum lagi nasi dengan segala menu pelengkapnya. Balas dendam. Konon, frasa ini menjadi jawaban ketika ditanya mengapa begitu banyak makanan di atas meja makan selama berbuka. Yang pada akhirnya makanan-makanan tersebut hanya menjadi muatan di dalam tong sampah. Tak dimakan, tak disentuh. Kamu kejam, mas!.

Orang-orang yang menjalani puasa, terlebih kelas menengah, cenderung lebih boros. Rencana awal hidup hemat karena reduksi waktu makan ternyata tidak berlaku. Buka bareng TK hingga kuliah dan buka puasa bersama komunitas lain begitu menguras dompet. Kita menjadi begitu ‘rakus’. Konsumerisme merajalela.

Belum lagi saat mendekati lebaran. Persis seperti cerita saya pada pembukaan tulisan. Mall penuh. Masjid sepi. Orang-orang lebih tertarik mengenakan segala sesuatu yang baru. Mengganti baju. Mengganti cat rumah. Mengganti kendaraan. Kita menjadi begitu paranoid mengenakan apa-apa yang lama. Khawatir dengan komentar netizen. Semua seolah mesti menampilkan transformasi fisik. Mengikuti hawa nafsu. Padahal sejatinya puasa adalah ajang menahan hawa nafsu. Begitu kontradiktif.

  1. Tujuan komersialisme

Apa yang menjadi penanda bulan ramadhan akan tiba?

Tepat. Sirup marjan.

Sirup marjan adalah sebaik-baik pengingat bahwa bulan puasa akan segera tiba. Promosi iklan ini menjadi begitu gencar mendekati ramadhan. Marjan telah menjadi ikon yang lekat dengan keberadaan ramadhan itu sendiri. Seperti dekatnya ketupat dengan lebaran. Atau dekatnya gaji dengan cicilan. Hiks.

Selama ramadhan pula nyaris semua produk diiklankan dengan extravaganza, dengan meriah. Produk ini-itu dilabeli dengan embel-embel ramadhan. Semua didiskonkan. Karena pasar tahu bahwa pada bulan ini orang-orang menjadi begitu maniak dalam mengkonsumsi. Oleh karena itu mereka pun menyambut seruan ini dengan strategi yang mumpuni.

Tengoklah ke mall. Mereka bahkan bisa diskon produk dengan potongan yang tidak kira-kira. 50% + 40%. Maka nikmat diskon mana yang kita dustakan. Apa mereka rugi dengan promosi di luar nalar? Tidak. Saya sempat berdiskusi dengan salah seorang pemilik toko di tanah abang. Ia bercerita bahwa selama bulan puasa, keuntungan yang diperoleh bisa menutupi ongkos operasional  11 bulan lainnya. Ramadhan menjadi begitu komersil.

Bahkan, menurut cerita sang ustad, ada buah yang hanya muncul atau terkenal selama bulan puasa. Buah Timun Suri namanya. Buah ini persis Avatar. Saat dunia membutuhkannya, dia menghilang. Kemudian datang lagi berbondong-bondong selama bulan ramadhan. Sepandai-pandainya Tupai melompat, lebih pandai lagi timun suri bersembunyi hingga bulan puasa tiba. Padahal buah ini tidak seenak mangga atau apel atau buah pada umumnya tapi karena dikemas dengan komersial dan menjadi penambah ornamen ramadhan, orang-orang tetap membeli.

  1. Tujuan/sarana menjual ide politik

Ramadhan benar-benar ‘berkah’ bagi para poli-tikus. Mereka menjadikan momen ramadhan untuk menjual ide politiknya. Mengemas agenda politik dengan label-label keagamaan.  Bahkan mereka yang non-muslim pun penuh hingar bingar menebar propaganda berbau ramadhan. Mereka melakukan safari politik demi merangkul simpati umat muslim.

Belum lagi dengan tokoh-tokoh yang kesehariannya acapkali bersebrangan dengan kepentingan umat muslim pada umumnya. Kini selama bulan ramadhan berubah menjadi begitu religius. Secara fisik, para politikus ini mengenakan peci bahkan kerudung bagi perempuan. Ironis.

Bukan bermaksud pesimis dengan transformasi fisik mereka hanya saja jika melihat bagaimana kiprah bapak-ibu ini di luar ramadhan sungguh begitu ironi. Tapi hidayah milik Allah. Semoga saja mereka benar-benar menjadi muslim yang lebih baik.

Demikianlah tiga tujuan atau motif yang justru terjadi secara umum dalam konteks ramadhan. Ketiga hal ini yang selalu menjadi sasaran ramadhan kebanyakan orang. Padahal sejatinya bulan puasa secara filosofis berarti menahan diri. Menahan diri dari sifay mengkonsumsi yang berlebihan. Ramadhan selayaknya melatih diri kita agar mengontrol nafsu namun ketiga fenomena di atas justru yang menjadi utama. Begitu kontradiktif antara semangat puasa dan kenyataan yang terjadi di lapangan.

Ramadhan kita begitu kontradiktif. Dan ini berulang-ulang setiap tahunnya. Saya pun tertegun dan menyadari bahwa mengikuti hawa nafsu tidak akan mengantarkan kita kepada kepuasan. Saya tertunduk malu sambil sesekali buka website T*kopedia guna mencari sepatu yang sebelumnya gagal didapatkan.

*Menurut penceramah nama sosiolog tersebut adalah walter ambush namun sayangnya saya tidak berhasil mendapatkan referensi sosiolog dengan nama tersebut

 

Vakum 2.0

Agustus 31, 2017 § Tinggalkan komentar

Sumber: Changeidentity.net

Hampir dua bulan terakhir saya vakum dari dunia per-blog-an. Vakum menulis berarti juga vakum membaca. Nyaris tidak ada buku yang selesai terbaca 60 hari terakhir. Buku yang nyaris tamat dibaca hingga ke halaman terakhir adalah Buku milik Hugh Goddard tentang sejarah interaksi Muslim-Kristen selama berabad-abad. Selain itu? Nihil.

Keengganan membaca ini dikarenakan enggan. Ambigu? Iya.

Tidak ada alasan rigid yang membuat saya begitu malas untuk membaca belakangan ini. Hanya kesibukan-kesibukan semu yang sebenarnya menjadi alasan klise untuk seorang bloger.

Namun, demi tekad untuk meninggalkan jejak di blog setidaknya satu tulisan setiap bulannya, saya memaksa diri, menembus kemalasan durjana agar tetap bisa konsisten dengan apa yang saya cita-citakan sedari lama.

Tulisan ini hanya untuk mempertegas kenyataan bahwa saya tengah vakum dalam menulis dan membaca. Entah sampai kapan. Semoga tidak lama dan tidak mengakar. Oh iya, mengapa judulnya vakum 2.0? Karena vakum 1.0 nya sudah dijalani pada bulan Juli. Semoga tidak ada vakum 3.0 dan seterusnya.

Namun, untuk saat ini saya vakum sejenak agar bisa kembali dengan ide-ide yang lebih segar.

Adios!!

Toleransi Umar

Juli 26, 2017 § Tinggalkan komentar

Sumber : Theweek.in

Oleh: Dr Hamid Fahmy Zarkasyi

Jika barometer toleransi abad 20 ini dideteksi di setiap penjuru dunia, maka Jerussalem mungkin adalah yang terburuk.

Pada akhir tahun 1987 saya sempat berkunjung ke kota Jerussalem lama. Kota kuno di atas bukit yang dikelilingi tembok raksasa itu menyimpan tempat suci utama tiga agama. Ketiganya adalah Masjid al-Aqsa, Wailing Wall (Dinding Ratapan) dan Gereja Holy Sepulchre (Kanisat al-Qiyamah). Di zaman modern tempat ini adalah daerah konflik yang paling menegangkan di dunia.

Ketika menapaki jalan-jalan di kota tua itu banyak perisiwa menegangkan. Saya menyaksikan seorang pendeta Katholik dan seorang rabbi Yahudi saling memaki dan sumpah serapah, nyaris saling bunuh.

Di lorong-lorong pasar saya melihat ceceran darah segar Yahudi dan Palestina. Di pintu masuk dinding ratapan saya bertemu seorang Yahudi Canada. Dengan pongah dan percaya diri dia teriak, “I come here to kill Muslims”. Di pintu gerbang masjid Aqsa, seorang tentara Palestina menangis selamatkan masjid al-Aqsa! Selamatkan masjid al-Aqsa!.

Namun jika deteksi toleransi itu dialihkan abad ke 7 dan seterusnya mungkin Jerussalem justru yang terbaik. Setidaknya sejak Muslim memimpin dan melindungi kota ini. Jika kita menelurusi lorong via dolorosa menuju Gereja Holy Sepulchre orang akan tersentak dengan bangunan masjid Umar. Masjid Umar itu terletak persis didepan gereja yang diyakini sebagai makam Jesus. Di situ semua sekte berhak melakukan kebaktian. Melihat lay-out dua bangunan tua ini orang akan segera berkhayal “ini pasti lambang konflik dimasa lalu”. Tapi khayalan itu ternyata salah. Fakta sejarah membuktikan masjid itu justru simbol toleransi.

Sejarahnya, umat Islam dibawah pimpinan Umar ibn Khattab mengambil alih kekuasaan Jerussalem dari penguasa Byzantium pada bulan Februari 638. Mungkin karena terkenal wibawa dan watak kerasnya Umar memasuki kota itu tanpa peperangan. Begitu Umar datang, Patriarch Sophronius, penguasa Jerussalem saat itu, segera “menyerahkan kunci” kota.

Syahdan diceritakan ketika Umar bersama Sophronius menginspeksi gereja tua itu ia ditawari shalat di dalam gereja. Tapi ia menolak dan berkata: “jika saya shalat di dalam, orang Islam sesudah saya akan menganggap ini milik mereka, hanya karena saya pernah shalat disitu”.

Umar kemudian mengambil batu dan melemparkannya keluar gereja. Ditempat batu itu jatuh ia kemudian melakukan shalat. Umar kemudian menjamin bahwa Gereja Holy Sepulchre tidak akan diambil atau dirusak pengikutnya, sampai kapanpun dan tetap terbuka untuk peribadatan umat Kristiani. Itulah toleransi Umar.

Toleransi ini kemudian diabadikan Umar dalam bentuk Piagam Perdamaian. Piagam yang dinamakan al-‘Uhda al-Umariyyah itu mirip dengan piagam Madinah. Dibawah kepemimpinan Umar non-Muslim dilindungi dan diatur hak serta kewajiban mereka.

Piagam itu di antaranya berisi sbb: Umar amir al-mu’minin memberi jaminan perlindungan bagi nyawa, keturunan, kekayaan, gereja dan salib, dan juga bagi orang-orang yang sakit dan sehat dari semua penganut agama.  Gereja mereka tidak akan diduduki, dirusak atau dirampas. Penduduk Ilia (maksudnya Jerussalem) harus membayar pajak (jizya) sebagaimana penduduk lainnya; dan seterusnya.

Sebagai ganti perlindungan terhadap diri, anak cucu, harta kekayaan, dan pengikutnya Sophorinus juga menyatakan jaminannya. “kami tidak akan mendirikan monastery, gereja, atau tempat pertapaan baru dikota dan pinggiran kota kami. Kami juga akan menerima musafir Muslim kerumah kami dan memberi mereka makan dan tempat tinggal untuk tiga malam… kami tidak akan menggunakan ucapan selamat yang digunakan Muslim; kami tidak akan menjual minuman keras; kami tidak akan memasang salib … di jalan-jalan atau di pasar-pasar milik umat Islam”.  (lihat al-Tabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk; juga History of al-Tabari: The Caliphate of Umar b. al-Khattab Trans. Yohanan Fiedmann, Albany, 1992, p. 191).

Bukan hanya itu. Salah satu poin dalam Piagam itu melarang Yahudi masuk ke wilayah Jerussalem. Ini atas usulan Sophorinus. Namun Umar meminta ini dihapus dan  Sophorinus pun setuju. Umar lalu mengundang 70 keluarga Yahudi dari Tiberias untuk tinggal di Jerussalam dan mendirikan synagogue. Konon Umar bahkan mengajak Sophorinus membersihkan synagog yang penuh dengan sampah. Itulah toleransi Umar.

Piagam Umar ternyata terus dilaksanakan dari sau khalifah ke khalifah lainnya. Umat Islam tetap menjadi juru damai antara Yahudi  dan Kristen serta antara sekte-sekte dalam Kristen. Ceritanya, karena sering terjadi perselisihan antar sekte di gereja Holy Sepulchre tentara Islam diminta berjaga-jaga di dalam gereja. Sama seperti Umar, para tentara juru damai itu pun ditawari shalat dalam gereja dan juga menolak. Untuk praktisnya mereka shalat dimana Umar dulu shalat.

Di tempat itulah kemudian Salahuddin al-Ayyubi pada tahun 1193, membangun masjid permanen. Jadi masjid Umar inilah saksi toleransi Islam di Jerussalem.

Namun, kini Jerussalem yang damai tinggal cerita lama. Belum ada jalan kembali menjadi kota toleransi. Lebih-lebih makna toleransi seperti dulu sudah mati oleh liberalisasi. Umar maupun Sophorinus tidak mungkin akan dinobatkan menjadi “Bapak pluralisme”. Sebab menghormati agama orang lain kini tidak memenuhi syarat toleransi. Toleransi kini ditambah maknanya menjadi menghormati dan mengimani kebenaran agama lain. Tapi “ini salah” kata Muhammad Lagenhausen. Kenneth R. Samples, pun sama “Ini penghinaan terhadap klaim kebenaran Kristen”. Biang keladinya adalah humanis sekuler yang ateis dan paham pluralisme agama (The Challenge of Religious Pluralism, Christian Research Journal). Bagi saya toleransi model pluralisme ini adalah utopia keberagamaan liberal yang paling utopis.

Bukber dan Turunannya

Juni 19, 2017 § Tinggalkan komentar

Sumber: Burhan Abe’s Blog

Entah siapa yang pertama kali memulai kegiatan kumpul-kumpul saat berbuka puasa di bulan ramadhan. Agenda tahunan ini seolah menjadi menu wajib Ramadhan di samping kolak pisang dan sop buah. Momen buka bersama adalah saat-saat paling tepat untuk bersilaturahim dengan teman TK, SD, SMP, SMA, hingga kuliah yang sudah lama tidak berjumpa. Lebih-lebih untuk kelas menengah di kota-kota besar. Buka bersama adalah momen di mana kita bisa mengumpulkan rekanan dalam jumlah banyak selain saat menghadiri pernikahan dan acara kematian.

Saya memiliki pengalaman yang sangat panjang sebagai ‘penyelenggara’ acara buka puasa bersama. Sejak lulus SMA, secara naluri, saya terpanggil untuk mengumpulkan kembali teman-teman yang sudah merantau ke berbagai penjuru negeri. Tanpa bantuan Bulma dan Goku tentunya. Hampir setiap tahun buka puasa bersama ini diadakan demi menjumpai wajah-wajah yang tak bersua bertahun atau bahkan bertahun-tahun lamanya.

Berbekal pengalaman menjadi juru acara buka bersama teman SMA, saya mendapuk diri saya sendiri untuk mengambil peran yang sama bagi teman-teman alumni kampus. Hampir setiap tahun setelah wisuda, saya menginisiasi buka bersama dengan tujuan yang sama, menghimpun teman-teman angkatan yang tercecer.

Menyelenggarakan acara buka bersama tidak semudah membuka bungkus bumbu indomie dengan gunting. Menentukan jadwal, tempat makan, dan sekelumit hal lainnya yang terkait adalah kerumitan-kerumitan yang hadir manakala kalian harus berdiskusi dengan 40 kepala dan 40 mulut. Pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa buka puasa bersama hanya akan dihadiri oleh mereka yang benar-benar niat. Seniat orang-orang yang ribut mana yang benar apakah Gajah Mada atau Gaj Ahmada.

Delapan puluh persen dari rangkaian kegiatan buka bersama diisi oleh wacana. Saya ulangi, wa..ca..na. Semua orang yang diajak terlibat pasti berwacana, berargumen, berdebat tentang jadwal yang harus disepakati. Si A bisanya sabtu pekan pertama puasa, si B tidak bisa karena harus buka bersama bekas calon pacar. Si C usul hari minggu pekan ketiga ramadhan, si D sudah mudik ke Papua Nugini. Ribet. Ujung-ujungnya yang bisa dateng ya Lo lagi Lo lagi. Polanya sama setiap tahun. Keribetan yang HQQ (baca: Hakiki).

Meskipun begitu tetap saja momen buka bersama selalu dinanti. Puncak dari kebahagiaan saat mengumpulkan kembali wajah yang tak lama bertemu adalah kita bisa kembali mengingat gurat kekonyolan yang pernah ada. Atmosfir yang hadir menyajikan nuansa yang menghantarkan kembali ingatan kita pada masa-masa dahulu saat masih berseragam abu-abu, saat praktikum, ketika kumpul angkatan dan sebagainya. Situasi ini yang membuat orang-orang mau dateng ke buka bersama. Reuni sederhana untuk menertawakan masa lalu.

Hanya saja tidak jarang terdengar narasi bahwa ajang buka bersama dijadikan wahana untuk pamer. Segala sesuatu dipamerkan hanya demi menunjukkan eksistensi dan kemapanan. Untungnya, sejauh ini teman-teman saya tidak begitu.

Ada yang unik dari momen buka bersama. Ada hikmah mendalam yang bisa kita petik. Ini bukan cerita orisinil saya. Ia adalah buah pikir dari Ronal Surapraja yang dimuat di salah satu koran nasional. Jika buka bersama adalah perwujudan dari sebuah reuni dalam skala kecil, maka sejatinya banyak orang menyengaja diri untuk tampil dengan sebaik mungkin sebelum bertemu rekanan yang sudah lama tidak berjumpa. Bahkan tak jarang banyak orang yang menyombongkan diri, bertingkah pongah agar dianggap lebih. Jika untuk reuni bertemu manusia kita harus sesiap itu. Bagaimana dengan reuni yang nantinya lebih sebenar-benarnya?. Reuni dengan sanak saudara dalam kondisi yang jauh berbeda. Bukankah kita harus lebih siap ketimbang reuni buka bersama?.

Shaf Sholatmu, Deritaku

Juni 5, 2017 § Tinggalkan komentar

Sumber: ibtimes.co.uk

Memang, sebelum kita bermegah-megahan dalam beramal, yang lebih utama daripadanya adalah ilmu. Dan sebaik-baik penuntut ilmu adalah mereka yang mendahulukan adab atasnya. “Jadikan ilmu sebagai garamnya, dan adab itulah tepungnya,” Kata Imam Syafi’i menggambarkan “roti” penopang kehidupan. Seperti dikutip oleh Ustad Salim A Fillah dalam Sunnah Sedirham Syurga. Ia menambahkan bahwa Imam Bin Al-Mubarak berkata “Hampir-hampir adab itu senilai dua pertiga agama”.

Omong-omong tentang ilmu sebelum amal, ada sebuah pemandangan unik setiap kali saya melakukan solat berjamaah di mesjid. Entah mengapa, sebagian jamaah mesjid yang saya temui di banyak tempat enggan untuk merapatkan shaf dalam solat. Keengganan ini banyak didominasi oleh kaum tua dan terjadi lebih masif di mesjid-mesjid di sudut kota. Atau kita jamak mengejanya sebagai ‘mesjid kampung’. Orang-orang tua lebih sulit untuk diajak berdiskusi. Keengganan karena memandang remeh si muda ataupun kebiasaan yang sudah melekat seumur-umur menjadikan hal-hal kecil namun penting dalam sholat ini sering kali dilewatkan. Sebenarnya anak-anak pun banyak yang tidak merapatkan shaf namun keadaan ini tidak genting mengingat mereka lebih mudah diarahkan.

Beberapa referensi menyampaikan pentingnya merapatkan shaf dalam sholat berjamaah. Bahkan hampir tiap kali imam menyengaja diri untuk mengingatkan jamaah agar merapatkan shafnya. Tapi nampaknya beberapa orang lebih percaya diri untuk menjaga jarak dengan jamaah di sebelah kanan dan kiri.

Saya mengalami dua kejadian unik dan miris sehubungan dengan merapatkan shaf. Pernah suatu waktu di sebuah mesjid sekitaran Cisitu Bandung, di saat sedang merapihkan shaf solat magrib, salah seorang bapak paruh baya yang tepat berada di sebelah saya senantiasa menjauhi ujung jarinya setiap kali saya mencoba merapatkan. Berkali-kali saya coba merapatkan shaf, berkali-kali pula ia menjauh. Puncaknya adalah saat solat tengah berlangsung. Merasa situasi sudah aman terkendali dan kemungkinan bapak itu menjauh akan mengecil saat solat sudah dilakukan, saya pelan-pelan merapatkan kembali shaf. Ternyata apa? Sang bapak nampaknya gerah. Buktinya, kaki saya yang mencoba menggapai kaki sang bapak demi rapatnya shaf, diinjek tanpa malu-malu. Di saat bersamaan saya merasa ingin tertawa. Untung masih inget kalo sedang sholat.

“Luar biasa” pikir saya.

Setelah adegan penginjakan kaki tersebut, saya tidak lagi memaksa diri untuk merapatkan shaf. Saya paham bahwa tidak semua orang ingin didekati. Yang pacaran lama aja bisa putus apalagi yang baru pendekatan, iya kan? Loh…

Lepas sholat, sang bapak menghilang tanpa jejak. Saya pun tidak berencana lebih lanjut mencarinya untuk menjelaskan perihal duduk perkara kemestian merapatkan shaf dalam sholat.

Cerita kedua terjadi saat sholat, lagi-lagi Maghrib, di mesjid sekitaran Bintaro. Meskipun mesjid ini ramai namun orang-orang tua yang mengerjakan sholat di mesjid ini acap kali bersikap kurang ramah. Terutama pada anak muda. Saya merasa ketidaknyamanan berada di antara jamaah mesjid ini. Semoga ini hanya sekedar firasat akibat ketidaktahuan saya sahaja.

Mirip dengan kejadian pertama, bapak yang berada di kanan saya, sedari iqomah, ogah merapatkan shafnya. Saya membaui mulut, tapi tidak bau. Meskipun tidak wangi. Maklum saya kehabisan permen penyegar mulut. Ingin menyemprotkan parfum baju ke mulut, rasanya kurang etis. Mulut saya tidak terbuat dari Nylon. Ditambah belum adanya fatwa halal menyemprotkan minyak wangi ke dalam deretan gigi. Saya juga tidak mengenal bapak ini sebelumnya. Lantas mengapa ada sentimen sehingga kita harus jauh-jauhan, pak. Jangan khawatir, saya bukan admin Lambe Turah.

Dan terjadi lagi…

Niat baik saya merapatkan shaf demi kesempurnaan sholat, seperti yang kerap didengungkan oleh imam, disalahartikan oleh jamaah di sebelah saya. Beliau tanpa ragu menyemprot saya, tepat sebelum imam takbir, dengan memberikan penekanan bahwa ia tidak mau merapatkan shaf dalam barisan sholat. “Kena deh” pikir saya. Belum puas, entah disengaja atau tidak bapak tersebut menyikutkan tangannya yang bersedekap dengan keras ke tangan saya. Ebuset. Begini banget yah. Kzl.

Dua kali mendapatkan jurus ‘mematikan’ dari jamaah sholat membuat saya sedikit banyak ‘kapok’ untuk bersemangat merapatkan shaf. Saya tidak mau mengalami kejadian serupa untuk ketiga kalinya. Sejak saat itu, tiap kali bersebelahan dengan bapak paruh baya, saya mengira-ngira seberapa besar probabilitas kaki saya diinjek atau disemprot jika harus merapatkan shaf. Saya menjadi cuek. Jika mau merapatkan silahkan, jika tidak, saya merelakan saja. Ampuni Baim, Ya Allah.

Pengetahuan yang kurang, ukuran sajadah yang terlalu besar, keengganan belajar menjadi kunci ketidaktahuan kita dalam beribadah. Oleh sebab itulah agama dan tatacara ibadahnya bukan lah sekedar warisan. Jika agama adalah warisan, maka bentu-bentuk tata-cara peribadatannya mengikuti, patuh, taqlid pada orang-orang terdahulu. Padahal landasan ibadah adalah ilmu bukan kebiasaan orang-orang terdahulu yang diwarisi.

Mari kita merapatkan shaf dalam sholat, ya.

سوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَفِّ مِنْ تَماَمِ الصَّلَاةِ

Capital Parenting

April 26, 2017 § Tinggalkan komentar

Ilustrasi: apa.org

Beberapa hari yang lalu istri gue mengabarkan bahwa Bu Een, ART kami, tengah mengalami masalah keluarga sehingga tidak bisa masuk kerja selama dua hari. Ibu ini diancam dibunuh (iya, dibunuh) oleh anak sulungnya akibat keengganan menjual rumah yang ia miliki. Sang anak melakukan hal demikian agar mendapatkan bagian dari hasil jual rumah tersebut. Karena takut, Bu Een dengan terpaksa menjual rumahnya agar terbebas dari bayang-bayang sang anak yang sudah kalap tak karuan.

Beberapa waktu sebelumnya, media sosial dan media cetak riuh akibat kisah tentang Ibu Rokayah  yang dituntut 1,8 milyar oleh sang anak karena perkara hutang. Sang anak secara tega mengekskalasi urusan utang-piutang ke ranah hukum. Sebuah tindakan amoral yang mengundang cacian dan sumpah serapah dari banyak orang. Bagaimana mungkin ada anak yang bersengketa perihal uang dan menjadikan sang ibu sebagai pesakitan.

Dua kejadian di atas bener-bener berhasil membuat geleng kepala. Jika dulu kita akrab dengan legenda Malin Kundang yang durhaka akibat ketakutan akan kehilangan kekuasaan dan harta maka kini legenda tersebut tidak lagi sebagai dongeng pengantar tidur. Anak-anak durhaka itu ada dan hidup dengan sebenar-benarnya. Anak-anak ini  dengan teganya bertindak secara keji karena perkara pundi-pundi. Apa yang salah sehingga perkara ikatan kuat ibu-anak dapat putus manakalah berbenturan dengan kapital, modal, uang dan materi sejenis. Sepertinya unsur-unsur kapital tidak hanya menggerus ideologi negara namun juga menular pada masyarakatnya.

Tetiba saja gue terpikir ada yang salah dengan kedua anak dalam paragraf awal tulisan ini. Perilaku dan karakter anak sangat dipengaruhi oleh pola pendidikan dan lingkungan tempat ia berinteraksi dan bersosialisasi. Mengacu pada ulasan J.J Rosseau dalam Emily bahwasanya seorang anak itu bagai kertas putih. Maka faktor eksternal yang membentuk karakter mereka. Meskipun gue tidak sepenuhnya percaya dengan apa yang dikatakan Rosseau. Ia nampaknya terlalu pandai berteori tentang filosofi pendidikan anak hingga menelantarkan lima anak kandungnya sendiri hasil hubungan gelap dengan Theressa Lavasseur.

Faktor eksternal yang membentuk karakter secara dominan dipengaruhi pola pendidikan yang diterapkan serta lingkungan tempat sang anak tumbuh. Dengan melupakan sejenak faktor lingkungan, saya tertarik untuk mengelaborasi kaitan pola parenting dalam pembentukan karakter.

Dewasa ini, isu parenting menjadi begitu seksi. Begitu banyak kenalan di dunia maya membagikan sekelumit informasi dan teori tentangnya. Parenting A, B, C dan derivasinya yang bervariasi.

Sehubungan dengan kegaduhan pada cerita di atas, saya terpikir akan sebuah model parenting baru yang membentuk anak-anak dengan mental materialistik. Menggunakan metode cocoklogi, akhirnya tercetuslah ide tentang ‘Capital Parenting’. Entah. Tiba-tiba saja saya terpikir untuk merumuskan hipotesis tentang Capital Parenting sebagai upaya mengawinkan pola parenting dengan nilai-nilai kapitalisme. Kapitalisme sebagai sebuah paham atau isme menjadikan uang dan privatisasi sebagai basis.

Saya tidak menemukan tautan ataupun keyword tentang capital parenting yang ter-indeks di google. Mungkin penggunaan capital di depan parenting terlalu lancang dan tidak tepat sasaran. Hanya saja untuk memberikan pendekatan pada pewarisan nilai kecintaan berlebih terhadap materi dan uang saya merasa ada kecocokan pengunaan terminologi tersebut.

Dalam kasus Bu Een ataupun Bu Rokayah kita bisa saja menyalahkan sang anak karena bertindak di luar kewajaran. Namun kita juga tidak salah jika harus mengelaborasi peran orang tua dalam menanamkan nilai-nilai kapitalisme liar yang terjewantah dan mendarah daging. Saya tidak men-justifikasi hanya saja bukan tidak mungkin anak tumbuh menjadi begitu lucah, mengkomparasi kasih orang tua terhadap nominal akibat pola pendidikan yang salah.

Bagi setiap orang tua yang selalu mengimingi anak dengan harta, menstandardisasi nilai dengan uang. mereplika fungsi kasih dengan benda, akan membentuk karakter kebendaan yang melekat begitu kuat. Dan mengutamakan harta ketimbang ibu yang melahirkan bisa jadi merupakan puncak pengejewantahan nilai-nilai materialisme yang paling brutal.

Pola-pola parenting dengan menjadikan kapitalisme sebagai garda depan akan mencetak manusia yang menghalalkan segala cara agar kantong-kantong mereka terpenuhi. Bisa jadi para koruptor adalah buah didikan capital parenting.

Children see children do. Anak-anak selalu mengimitasi perilaku orang-orang terdekat. Orang tua yang senantiasa memandang rendah orang lain karena status sosial, menghambakan diri pada materi, berorientasi pada uang berpotensi menghasilkan manusia se-level anaknya Bu Rokayah dan Bu Een.

Sejenak mari kita menengok kisah menyejarah dalam Al-Quran. Lukmanul Hakim namanya. Ia selalu disebut ketika membahas hubungan orang tua dan anak. Lukma dikisahkan meninggalkan wasiat-wasiat kebaikan. Di antara nasihat dan hikmah pada anaknya adalah jangan syirik, berbuat baik kepada orang tua, dirikan sholat dan lainnya. Jika orang tua senantiasa mengajarkan serta mewarisi nilai-nilai, adab serta akhlak yang menjauhi unsur-unsur kapitala dan segala penghambaan kepada dunia maka niscaya kisah-kisah anak yang durhaka karena unsur uang tidak akan ada.

Jadi, masih mau menjalankan Capital Parenting?

Menua Bersamamu

April 12, 2017 § 2 Komentar

Ilustrasi: Pinterest

Wow…

Judulnya terasa begitu melankolis. Terkesan mendawamkan dan mengelu-elukan romantisme. Menua bersamamu selalu dikonotasikan sebagai sebuah frasa yang menggambarkan keutuhan rasa cinta. Membayangkan hidup bersama hingga tua bersama pasangan diiringi dentang musik ‘grow old with you’ Adam Sandler. Atau terbayang-bayang cuplikan Carl-Ellie yang begitu manis dalam film Up. Topik cinta-cintaan selalu laku untuk menjadi komoditi, bahan diskusi hingga perdebatan.

Tapi, tulisan ini tidaklah bernarasi tentang ke-menye-menyean demikian.

Menua bersamamu adalah makna denotatif yang dijalani oleh masyarakat di kota-kota besar. Ia berwujud dalam durasi waktu yang dihabiskan saat bermacet ria di jalan. Gue terinspirasi menulis kisah ini berdasarkan lima tahun lebih ‘nguli’ di Jakarta. Ya, meski tidak sampai semiris Armada yang rela pergi pagi pulang pagi. Bekerja di Jakarta dan kota besar lainnya membutuhkan mental dan fisik yang prima untuk bertarung dengan peluh dan penatnya kemacetan lalu lintas dan pengendara yang beringasnya lebih daripada ibu tiri.

Kemacetan adalah monster yang harus dihadapi sehari-hari. Kemacetan yang sangat parah berhasil memakan waktu hidup produktif seseorang hingga dua jam setiap harinya. Menurut data Castrol yang dirilis tahun 2015, Jakarta merupakan kota dengan tingkat kemacetan terburuk di dunia dengan indikator berupa jumlah injakan rem yang mencapai angka 33.240 kali dalam setahun mengungguli Turki, Meksiko, dan Surabaya. Dua kota besar di Indonesia masuk 5 besar kota termacet se-dunia versi Castrol. Keren!.

Belum lagi ditambah data oleh Numbeo yang menyebutkan bahwa berdasarkan traffic index, Indonesia berada di peringkat ketiga pada tahun 2017 di bawah Mesir dan Iran sebagai negara paling macet se-dunia. Jika melihat beberapa situs serupa, Indonesia acapkali menempati peringkat lima besar dalam urusan kemacetan.

Namun, bermacet ria bukanlah pilihan seperti daging atau lengkuas dalam menu lebaran. Ia adalah kepastian bagi sebagian penduduk kota besar. Lebih spesifik lagi Jakarta dalam ruang lingkup yang lebih kecil.

Jakarta sebagai sentra ekonomi menjadi magnet bagi para pencari kerja. Sebagai konsekuensi, pada umumnya nilai bangunan pasti akan mengalami kenaikan ter-ekstrapolasi. Maka area pinggiran adalah solusi paling tepat. Bak cawan cendawan di musim hujan, industri properti mulai dari Depok, Bogor, Tangerang, Bekasi dsb tumbuh subur. Dan efeknya adalah lokasi rumah berjauhan dengan tempat kerja mengharuskan masyarakat menua bersama kemacetan di jalan.

Belum lagi ditambah dengan jenis-jenis pekerjaan yang mengharuskan seseorang harus lebih mengakrabi kemacetan ibu kota di luar jam pulang-pergi tempat tinggal-kantor. Misalnya saja pekerjaan sebagai kurir atau supir taksi online. Atau bisa juga semisal gue yg harus menempuh jarak 32 km PP kantor-kontrakan. Ditambah resiko pekerjaan yang mengharuskan gue mengunjungi daerah se-JaBoDeTaBek hampir setiap hari sehingga gue bener-bener menua bersama jalanan ibu kota. Frasa ‘tua di jalan’ adalah kondisi mutlak yg tak bisa dielakkan.

Kondisi ini, buat gue pribadi, masih bertambah-tambah dengan keharusan menembus tol dalem kota kemudian lanjut ke Bekasi, Cikarang dan seterusnya hingga berujung di Bandung. Macetnya rute yang harus gue tempuh menghabiskan hampir 1/6 hari gue sekurang-kurangnya setiap Jumat dan Minggu setiap pekannya.

Gue mengamati bahwa jarak tempuh perjalanan dari dan ke Jakarta dan area satelitnya semakin hari semakin panjang. Jadi 24 jam sehari yang Tuhan kasih, kalo dirata-rata, seperempatnya gue habiskan di jalan. Kalo misalkan umur gue panjang dan sampe 60 tahun berarti 15 tahun terbuang menguap bersama bensin, debu dan sumpah serapah di jalan. Oh Tuhan, gue bener-bener menua bersama kemacetan ini. Kalo aja macet ini hidup dan berkelamin wanita, udah gue lamar deh.

Jika ditinjau dari perspektif lain, isu kemacetan beririsan dengan agenda politis. Terdapat banyak kepentingan dalam unsur kerumitan negara bernama kemacetan. Misalnya saja ada permainan industri kendaraan bermotor yang terus menjadikan Indonesia sebagai pasar produktif, atau bagi para megalomaniak, mereka menjadikan macet sebagai isu yang digoreng selama masa kampanye kepala pemerintahan. Dan kita sebagai warga tak berdosa yang lugu harus terjebak dalam kerumitan ini.

Pada akhirnya kemacetan ini harus dijalani. Suka atau tidak suka. Rela atau tidak rela. Tinggal bagaimana kita menyikapi segala bentuk kemacetan ini dengan cara-cara yang lebih produktif. Sehingga kita bisa menua dengan cara-cara yang lebih elegan ketimbang harus menegangkan urat dan mengendurkan kerut mata akibat umpatan selama kemacetan. Sambil sesekali mengenang kembali kata-kata Seno Gumira Aji Dharma

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas  rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pension tidak seberapa”.

Ketimbang harus menua bersama kemacetan, aku lebih memilih menua bersamamu, yang.

 

Kekhusyukan yang Tercecer

Maret 24, 2017 § Tinggalkan komentar

Sumber: Kingofwallpaper

Seperti ditulis oleh Ustad Salim A Fillah bahwasanya ada tiga revolusi dalam penyebaran pengetahuan. Kertas oleh Ts’ai Lun, mesin cetak oleh Gutenberg, dan Google oleh Larry Page-Sergey Brin. Dua nama awal menempati peringkat tujuh dan delapan secara berturutan sebagai manusia paling berpengaruh di dunia oleh Michael H. Hart. Hanya saja buku ini terbit pertama kali tahun 1978, jauh lebih tua ketimbang usia Google, sehingga Page-Brin tidak masuk dalam daftar isi bukunya. Gue yakin sosok Page-Brin yang ‘menemukan’ Google menjadi bagian tak terlepas dalam sejarah manusia paling berpengaruh.

Google, disusul oleh Facebook dkk, menandai era digital dengan kemajuan teknologi yang tak terbendung. Kemajuan tersebut dicirikan dengan arus informasi yang begitu masif dan super kilat. Kini industri teknologi semakin seksi. Selain menjadikan kisah manis Jobs, Bill Gates, Larry Elison hingga Elon Musk sebagai panutan, industri teknologi dirasa paling menjanjikan secara kapital. Daftar rilis Forbes tahun 2017 menunjukkan bahwa  10 orang terkaya di dunia masih didominasi para midas teknologi. Yang mengejutkan adalah sosok Marck Zuckerberg masuk dalam daftar tersebut menempati posisi 5 dengan kekayaan 56 miliar dolar dalam usia yang masih sangat muda.

Dan kini terjadi migrasi besar-besaran dari cara manusia berinteraksi akibat candu teknologi. Uber menggantikan taksi konvensional, belanja daring semakin menjamur, sapa dan senda gurau pun terasa begitu syahdu melalui layanan chat daring. Namun rasanya ada yang kurang dari semua interaksi yang melibatkan dunia maya.

Di balik semua kemegahan serta kemewahan yang ditawarkan oleh dunia maya dengan segala turunannya, menurut hemat gue, dewasa ini penggiat interaksi daring mengalami hilangnya kekhusyuan pada hal-hal yang mereka jalani. Dan kondisi ini cukup mengkhawatirkan.

Betapa seringnya kita mengingat ulang tahun sahabat, saudara, kolega dan orang-orang dekat dalam hidup kita. Tapi nampaknya kita lebih senang mengingat ultah mereka dengan cara latah. Ucapan-ucapan klise berseliweran di grup whatsapp. Cukup satu yang inget, yang lain hanya membebek ucapan serupa dengan sedikit modifikasi. Bahkan dalam banyak kasus ucapan tersebut di-copas persis dengan ucapan aslinya. Kita mengucapkan selamat ulang tahun sekedar menggugurkan kewajiban. Tidak ada kekhusyukan dalam ucapan yang kita sampaikan. Kita, bisa jadi, tidak mendoakan sebenar-benarnya.

Hai Alex, Happy Birthday ya. Semoga panjang umur dan sehat selalu

Selang beberapa saat

Hai Alex, Happy Birthday ya. Semoga panjang umur dan sehat selalu 🙂

Hai Alex, Happy Birthday ya. Semoga panjang umur dan sehat selalu

Hai Alex, Happy Birthday ya. Semoga panjang umur dan sehat selalu 🙂 😀

Hai Alex, Happy Birthday ya. Semoga panjang umur dan sehat selalu =)

Begitu seterusnya…

Atau kita sering kehilangan momen berharga bersama keluarga. Kita sibuk foto sana sini, swafoto gitu gini. Yang kemudian tidak wakof.  Swafoto itu kemudian disunting sedemikian rupa sehinga menghasilkan foto yang paling cantik mandraguna dan siap untuk diunggah ke sosial media. Derita kembali berlanjut saat harus membuat caption foto tersebut. Apakah harus dengan kata-kata mutiara yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan foto yang diunggah atau kata-kata bahasa inggris yang ditranslasi menggunakan google dengan tata bahasa ngalor ngidul. Lalu jika kita sudah dialihkan oleh ribetnya dunia maya, seberapa khusyu kita mampu menghayati momen bersama keluarga?.

Doa di atas meja makan kita ganti dengan foto yang berseliweran, disebarkan pada jejaring sosial. Dunia nampak perlu tahu apa yang kita kenakan. Kita lupa pakaian yang sejatinya berfungsi untuk menutup aurat dan menjaga kehormatan. Kita lupa makanan di hadapan untuk disyukuri bukan dipamerkan.

Gue juga sering bingung saat mendapati rekanan yang mengunggah foto atau kegiatan dalam atmosfer berduka. Misalnya sang anak tengah sakit atau kehilangan sesuatu. Respon seperti apa yang selayaknya gue berikan pada mereka yang tengah dirundung sedih seperti demikian. Apa gue harus me-like unggahan tersebut? Apakah hal demikian etis mengingat ‘like’ berkorelasi positif dengan kebahagiaan, rasa suka bukan pada kesedihan. Lalu jika duka seharusnya menjadi ajang kontemplasi maka apatah maknanya membagikan informasi tersebut ke khalayak ramai jika tujuannya hanya untuk merepot-repotkan diri memutakhirkan status di jejaring sosial yang kita punya.

Gue mengalami kegagapan serupa manakala banyak sebaran tentang donasi. Terkadang bukan tidak punya uang. Atau tidak punya waktu. Hanya saja gue sering melakukan pembenaran dan mengasumsikan bahwa membagikan kembali sebaran tersebut sudah cukup. Atau tindakan paling maksimal adalah menekan tombol ‘like’. Titik. Padahal sebelum teknologi sepesat ini, orang bisa tergerak hatinya dengan mudah untuk berdonasi sambil mendoakan dengan kesungguhan hati. Kini, ikut ‘mendoakan’ pun hanya sekedar caption yang ditambahkan di tautan yang turut serta kita bagikan agar lebih mendayu dan mengalami dramatisasi. Kekhusyuan-kekhusyuan aktifitas kita mulai memudar.

Ya patut diakui bahwa aspek positif keberadaan media sosial tidak kalah banyaknya. Hanya saja tulisan ini ingin menggugah kembali kekhusyukan kita dalam beraktifitas agar ia kembali bernyawa. Dalam sholat, kekhusyukan bukan faktor syarat sah. Orang yang solat, meskipun tidak khusyuk, sudah menggugurkan kewajibannya. Hanya saja sholat yang tidak disertai dengan kekhusyukan kehilangan mesranya berinteraksi dengan Tuhan. Ibadah tersebut kehilangan ruh yang menjadi inti dari ibadah. Dengan analogi sejenis, interaksi kita dengan sesama manusia tanpa diiringi kekhusyukan juga akan berakhir serupa.

Jadi, sudah saatnya kita memungut dan merangkai kembali kekhusyukan yang selama ini tercecer. Kita selayaknya kembali menghayati momen hari lahir kolega. Memaknai dengan iba semua berita duka. Menaruh perhatian pada makanan, pakaian dengan cara-cara beradab. Dengan demikian semoga hidup kita kembali bermakna.

 

Disclaimer : Tulisan ini dibuat sebagai pengingat untuk diri sendiri

Komunisme

Februari 28, 2017 § Tinggalkan komentar

komunisme-marxisme-leninisme

Sumber: Muslimdaily.net

Di Barat ketika Katolik tidak bicara kehidupan di dunia, Protestan mulai menyoal “Mengapa agama tidak menjamin kemakmuran hidup”. Mereka pun bekerja keras untuk hidup makmur. Hidup makmur tidak cukup, makmur harus dijamin oleh kapital yang besar dan bertahan lama. Mereka pun terbukti sukses. Max Weber mencatat, bahwa ternyata di abad ke 16, di Jerman, kapitalis dan pengusaha besar serta pekerja yang terampil di perusahaan-perusahaan modern adalah kaum Protestan.

Jadi kapitalis-kapitalis itu hanya ingin hidup makmur. Tapi makmur ternyata perlu sistim dan kekuasaan yang melibatkan masyarakat. Dari sini sistim sosial, sistim pasar, sistim pemerintahan pun berkembang bersama kapitalisme. Singkatnya lahirlah kapitalisme sebagai sistim ekonomi dan sosial. Tujuan akhirnya kemakmuran.

Kemakmuran gaya kapitalisme bukan tanpa cacat. Maka pada awal abad ke 19 lahirlah gerakan sosialisme. Robert Owen (1771-1858) di Inggris dan Saint Simon (1760-1825) di Perancis adalah diantara perumusnya. Ide dasarnya tetap bagaiman hidup makmur.

Tapi makmur ala sosialis mengutamakan kebersamaan. Sistim dikontrol dan dicengkeram penguasa. Pribadi dikalahkan oleh rakyat dan buruh. Sosialisme pun diikuti oleh komunisme. Paham yang dicetuskan oleh Karl Marx ini memusuhi kapitalisme dan segala sistimnya. Kapitalis-kapitalis itu dianggap menindas kaum buruh.

Pimpinan Negara adalah borjuis dan kaum buruh adalah proletar. Keduanya diteorikan sebagai musuh abadi. Jika kapitalis bersaing dengan sistim pasar bebas, komunis melawan dengan cara apapun. Jika kapitalis menciptakan persaingan dengan cara kejam, komunis tidak kalah kejamnya menciptakan konflik dan jika perlu pertumpahan darah untuk mencapai tujuan.

Jika kapitalis tidak lagi mementing kan Tuhan, kaum komunis mengingkari adanya Tuhan. Jika kapitalis dengan sis tim ekonominya menciptakan masya rakat elitis, komunis menciptakan masya rakat tanpa kelas. Masalahnya, kapitalisme menghasilkan pertumbuhan ekonomi tapi melupakan pemerataan. Sedangkan komunisme mengobesikan pemerataan tapi tidak memikirkan partumbuhan.

Kini kapitalisme menguasai sistim ekonomi Negara-negara Eropah dan bahkan sistim ekonomi dunia. Namun, kesejahteraan dan kemakmuran yang dibawa sistim ini ternyata hanya dinik mati oleh segelintir orang. Sistim eko nomi kapitalis ternyata berdampak buruk pada tata sosial-politik. Persaingan pasar berdampak pada persaingan politik dan persaingan politik-ekonomi berujung pada pertumpahan darah pula.

Sedangkan komunisme sebagai sistim social ekonomi, belum memberi kan apa-apa kepada rakyat yang diperjuangkannya. Obsesi untuk bisa makmur bersama gagal. Hampir semua Negara komunis adalah miskin (proletar), sedang kan para pemimpinnya ternyata tidak beda dari borjuis-borjuis kapitalis.

Cita-cita ideologi komunis adalah membela rakyat kecil. Tapi di negerinegeri yang rakyatnya telah makmur, komunis kehilangan misinya. Dalam kondisi seperti ini perjuangan komunis bukan lagi membela rakyat lemah, tapi menghancurkan kapitalisme.

Menghancurkan kapitalisme tidak perlu menunggu hingga ia matang, kata Lenin, tapi setiap ada kesempatan kaum buruh harus merebut kekuasaan. Perebutan kekuasaan ujung-ujungnya adalah pertumpahan darah. Kapitalisme dan komunisme sama-sama anyir berbau darah.

Diakui atau tidak kapitalisme telah terbukti membawa kemakmuran materi lebih baik dari komunisme. Namun, ia telah gagal membawa sistim sosial-po litik yang membawa ketenangan jiwa dan kedamaian ruhani. Dengan kapitalisme dunia semakin tidak aman dan damai.

Jika komunisme ingin menggantikan peran kapitalisme dalam memakmurkan rakyat, maka komunisme akan mengganti kemakmuran dengan pemerataan. Pemerataan tidak akan menghasilkan kemakmuran. Jika komunisme tidak mampu memberi kesejahteraan dan kemakmuran material kepada rakyat du nia, bagaimana mungkin dengan atheismenya ia akan menjanjikan ketenangan jiwa dan kedamaian ruhani.

Di banyak negeri Islam, para tokohnya mengagumi sosialisme. Mereka berteriak seperti menemukan sesuatu “Islam adalah kiri”. “Nabi adalah pelindung orang lemah”, Nabi adalah pelindung anak yatim (sosial) alias orang miskin dan ia akan bersama mereka di sorga. Masih banyak lagi dalih untuk justifikasi kiri Islam.

Tapi orang lupa bahwa Islam bisa berbau kapitalis. Saudagar kaya (kapi talis) yang jujur, misalnya, akan berada di surga bersama para nabi dan syuhada. Nabi pun menyukai Muslim yang kaya dan kuat. Orang akan lengkap rukun Islamnya jika ia kaya dan mampu membayar zakatnya.

Masyarakat dunia kini sedang meng alamai kekeringan nilai, kehausan spiritual, dan kekosongan moral. Sistim apapun untuk mengatur kesejahteraan material, baik kapitalisme maupun komunisme, tidak akan menyelesaikan nestapa manusia modern. Dunia mulai menyadari ketidak mampuan kapitalis dan kegagalan komunis. Tapi mengapa Muslim dengan secara cerdas tidak segera menjadikan Islam sebagai alternatif dari dua sistim yang gagal itu.

Oleh: Dr Hamid Fahmy Zarkasyi

Dimuat di Republika online dan ISLAMIA Republika, Kamis 19 Mei 2016.

Balada Ipin Upin, K.H Zainuddin M.Z (Alm), dan Hoax yang Direkayasa

Februari 17, 2017 § Tinggalkan komentar

Sumber: Brilio.net

Sumber: Brilio.net

Gue tidak jarang menemani Alby menikmati Upin-Ipin. Kartun tentang anak kembar yang mirip tuyul ini sangat digemari oleh anak-anak se-usia Alby dan se-usia bapaknya. Di antara serbuan sinetron remaja dengan level alay yang semakin akut, Ipin-Upin bak penyelamat generasi kartun anak-anak ini. Masih ada beberapa kartun lain yang cukup baik sebenernya, hanya saja Upin-Ipin tetap menjelma menjadi idola. Selain Mars Perindo tentunya.

Di antara sekian banyak episode, ada satu kisah yang persis menggambarkan kehidupan manusia Indonesia dewasa ini dalam interaksinya dengan dunia maya.

Dalam salah satu episode diceritakan tentang kisah Penggembala dan Biri-Biri. Terkisah hiduplah penggembala yang bosan dengan rutinitas menggembalakan hewan ternaknya. Ia kemudian mencoba sesuatu yang baru. Ia berteriak minta tolong kepada warga desa, berteriak seakan-akan ada serigala yang tengah menyergap sang biri-biri. Penduduk yang panik kemudian mendatangi penggembala tersebut. Ternyata teriakan penggembala hanyalah tipuan belaka. Ia mencari perhatian warga dengan kebohongannya.

Tidak hanya sekali, merasa apa yang ia lakukan adalah sesuatu yang lucu, penggembala mereplika kekonyolan serupa. Penduduk yang masih percaya sekonyong-konyong datang kembali untuk menolong penggembala. Namun jauh panggang dari api. Penggembala ternyata berkutat dengan kebohongan yang sama. Kesal karena kepercayaan mereka dikhianati, penduduk beramai-ramai minta diceraikan. Eh maaf, maksudnya penduduk desa bersumpah tidak akan lagi berusaha menolong penggembala apa pun kondisinya.

Akhir cerita sudah dapat kita tebak. Sebenar-benar serigala datang menyergap biri-biri. Teriakan penggembala tidak digubris. Tidak peduli berapa kencang ia minta tolong.

Bagi kalian penikmat radio yang acap kali memutar ceramah K.H. Zainudin MZ (Alm), cerita penggembala yang berbohong ini bukan satu atau dua kali kita dengar. Hampir di sela-sela menunggu waktu berbuka puasa, kita mendengar narasi Almarhum tentang keisengan penggembala. Cerita ini sangat melekat di memori gue. Kisah yang tak pudar dan kerap menggema. Pesan moral yang berdengung adalah sebagai manusia kita tidak seharusnya berbohong apalagi berbohong yang kemudian tersebar luas. Karena pada akhirnya berbohong bagaikan melempar boomerang yang akan mengenai kita sendiri (Jika kita tidak pandai mengelak :)). Kalo pun terpaksa berbohong, lakukan cukup sampai dua kali saja. Belajarlah dari sang penggembala. *dikeplak*.

Terdengar familiar? Terasa dekat dengan kehidupan bermedia sosial kita belakangan ini? Kisah-kisah bohong yang tersebar luas di masyarakat sudah menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri. Dewasa ini dikenal dengan terminologi ‘Hoax’.

Hoax bukanlah cerita baru. Informasi-informasi hoax disebarkan sedari dulu. Kalian tidak pernah bisa membuat sejarah tanpa subjektifitas yang mengarah kepada hoax sebagai bagiannya. Siapa sangka opini yang sudah menjadi kebenaran publik semisal mengkonsumsi micin dapat menurunkan tingkat inteligensia manusia adalah hoax. Atau serupa dengan itu bagaimana ibu-ibu modern masih mendengarkan musik klasik bagi bayi di dalam kandungan karena ujar mereka Mozart mampu meningkatkan kecerdasan bayi. Duh!.

Belakangan isu hoax semakin santér. Informasi yang valid dan bohong menjadi sangat bias. Nyaris tidak ada pembatas yang jelas. Setiap hari ada saja berita yang dibumbui dengan kebohongan-kebohongan. Pemerintah pun sigap. Menyergap sesiapa yang dituduh menyebarkan informasi hoax. Meskipun tidak jarang berita hoax itu datang dari lingkaran istana sendiri.

Perkembangan hoax sejalan dengan situasi ekonomi atau politik yang terjadi. Masifnya serbuan berita hoax tidak jarang memang sengaja direkayasa untuk alasan-alasan politis tertentu.

Bila kita mengamati dengan seksama, media sosial sebagai tempat berbagi segala hal termasuk berita dan opini dapat menjadi ujung tombak ketersampaian informasi yang dapat membuat simpul-simpul polarisasi. Kita bisa mengamati adanya fenomena rekayasa berdasarkan pola-pola dalam kejadian.

Tengok saja. Beberapa informasi yang viral dan sering diributkan oleh netizen di media daring sering kali bertendensi pada hoax. Mulanya berita tersebut secara antah berantah disebarkan lalu kemudian menjadi viral saat berada di tangan yang ‘tepat’. Para penyebar informasi sukarela ini lah yang kemudian menjadi target empuk pembuat berita dan menjadi sasaran bulan-bulanan oleh pasukan digital yang memiliki opini berbeda yang secara sengaja atau tidak sudah siap dengan data-data untuk memutarbalikkan isu yang berkembang.

Lalu keesokan harinya, minggu kemudian, beberapa bulan setelahnya isu lain dilempar. Orang-orang kembali menanggapi dan dengan pola serupa, hoax tersebut disebarkan. Lalu ditanggapi oleh mereka yang berada pada opini bersebrangan. Setelah ribut-ribut tak kunjung usai, isu tersebut kembali dianggap sebagai hoax. Atau dianggap sekedar mengecek kedalaman air.

Ada setidaknya dua alasan mengapa hoax ini tersebar bagai api menyambar pertalite, ceritanya premium udah jarang di SPBU, terutama untuk isu-isu politis.

Yang pertama karena para pembuat, jika memang hoax ini direkayasa, sangat paham situasi rakyat kebanyakan. Mereka sebagian besar adalah masyarakat yang religius secara tradisional, anti-PKI, juga jengah dengan situasi perpolitikan di Indonesia saat ini. Suka atau tidak, wajah perpolitikan Indonesia sudah pecah menjadi dua sejak pemilu presiden 2014 yang berlanjut hingga sekarang. Sehingga sesiapa berada di lingkaran Jokowi, pasti lah dianggap musuh Prabowo. Dan sebaliknya.

Maka dibuatlah berita-berita tentang isu-isu PKI, berita-berita yang memantik sentimen warga, juga isu politis yang memuat berita tentang kinerja Jokowi sehingga rakyat dibenturkan dengan rakyat lain. Keren, bukan? Jason Bourne masih perlu belajar banyak.

Alasan kedua, para pembuat hoax sadar bahwa berita bohong tidak akan bisa menyentuh orang-orang yang suka membaca. Karena itu mereka mengincar para pegiat media sosial bersumbu pendek yang tidak mengakrabi buku dan sumber primer lainnya.

Rekayasa hoax ini berbahaya. Bagi orang-orang yang sering kali membagikan berita hoax, sama halnya dengan penggembala, akan membuat masyarakat khususnya pegiat media sosial akan antipati pada setiap sebaran yang mereka bagikan. Jika ini yang terjadi maka tujuan dari pembuat berita hoax tercapai. Membuat orang-orang kehilangan kepercayaan pada penyebar berita. Sehingga berita benar sekali pun akan dianggap sebagai kebohongan.

Jadi saran saya, banyak baca dan mengklarifikasi adalah dua langkah utama menghindarkan kita dari hoax yang terkutuk. Atau jika tidak tahan lagi untuk membagikan berita, pastikan kalian memiliki simpul pertemanan pada mereka yang memiliki kapasitas intelektual yang baik. Jika orang-orang tersebut tidak reaktif terhadap suatu isu maka ada baiknya kita pun sebaiknya tidak reaktif. Jadikan mereka sebagai cermin sebelum mulai membagikan berita. Ingat, semua berita adalah hoax sebelum ada pembuktian terbaliknya. Jadi, jangan lagi menjadi penggembala biri-biri yang dengan mudahnya membagikan informasi yang tidak valid kebenarannya. Saya tahu kalian kesal dengan situasi negeri, saya pun sama. Namun berbagi berita bohong hanya akan membuat runyam keadaan.

Mari kita bersantai sejenak sambil menikmati kembali Upin-Ipin dan mendengarkan ceramah Zainudin M.Z.

 

Where Am I?

You are currently browsing the Serious Post category at I Think, I Read, I Write.

%d blogger menyukai ini: