Kontradiksi Ramadhan

Mei 31, 2018 § 1 Komentar

Sumber: Gettyimage

Beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke sebuah mall di area bintaro. Sebuah aktifitas yang tidak akan saya lakukan jika tanpa keperluan. Rencana awalnya adalah berburu sepatu sebelum mudik ke kampung halaman mengingat sepatu yang ada rasanya kurang sreg dipakai.

Sepatu doang?

Iya, kali ini saya hanya mencari sepatu karena pakaian saya dan anak-anak sudah dibeli lebih dulu via daring. Saya merasa beruntung memiliki istri yang memiliki skill mumpuni untuk menjelajahi semua situs belanja online demi mendapatkan diskon. Tidak tanggung-tanggung. Ia kadang-kadang memiliki lebih dari sepuluh akun demi mendapatkan potongan harga yang seyogyanya sangat membantu arus cashflow kami. Subhanallah.

Saya tidak pernah menyangka bahwa mall bisa begitu padat padahal ramadhan belum sampai setengahnya (saat saya membuat tulisan ini). Selama ini saya berasumsi bahwa pasar meliputi mall dan turunan lainnya akan ramai pada sekitar H-10 lebaran. Ternyata dugaan saya meleset. Orang-orang tampak begitu bersemangat dan lincah menelusuri setiap lorong etalase pakaian, sepatu, sendal, koko, kerudung, dan pernak-pernik lainnya. Mereka sepertinya menafikan penat dan dahaga bahkan mungkin lupa bahwa mereka tengah berpuasa. Saya hanya bisa mengelus dada sambil menikmati es kepal milo.

Karena kericuhan di dalam mall. Ditambah lagi sales yang berteriak begitu kencang lewat speaker menjajakan diskon, saya pun mengurungkan niat. Saya memilih pulang. . . untuk kemudian istirahat sebelum bergerilya mencari sepatu seperti semula. Haha!

Selepas solat isya berjamaah di masjid sekitaran tempat saya tinggal, pengisi ceramah menyampaikan materi yang begitu pas dengan fenomena yang saya temui di mall siang harinya. Saya yang biasanya mulai menguap, mengubah posisi duduk, dan sesekali tertunduk sebagai pertanda mengantuk, kali ini nampak berbeda. Ceramah ustad ini terlihat menarik bahkan sedari awal ia berucap.

Ia mengawali ceramah dengan sebuah pertanyaan dialogis tentang mengapa pada saat ramadhan terjadi dua hal yang kontradiktif. Yang pertama adalah uang belanja yang membengkak dan yang kedua berat badan yang bertambah. Dua kondisi ini kontradiksi dengan semangat dan atmosfir ramadhan.

Beliau melanjutkan bahwa sudah sewajarnya uang belanja sama saja atau bahkan lebih sedikit jika dibandingkan dengan bulan lain di luar ramadhan karena jadwal makan yang berkurang satu. Ingat, saat ramadhan kita mengurangi porsi makan siang. Kecuali mereka-mereka yang kakinya terlihat di balik warteg-warteg bertabir.

Selaras dengan itu, jika menggunakan logika linier maka seharusnya berat badan bagi mereka yang menjalani puasa sejatinya turun karena berkaitan erat dengan perubahan pola makan tersebut. Tapi narasi tersebut hanya isapan jempol.

Lalu apa faktor yang membuat ramadhan menjadi begitu kontradiktif dari semangat yang seharusnya?

Sang ustad menyampaikan bahwa ada korelasi yang erat antara ramadhan dengan perubahan perilaku umat muslim pada umumnya. Salah seorang sosiolog* melakukan studi di beberapa negara muslim untuk menyimpulkan bagaimana ramadhan telah menjadi sarana multi guna. Menurutnya ada setidaknya 3 tujuan atau sarana atau motif yang terjadi selama bulan ramadhan

  1. Tujuan konsumerisme

Sudah sangat jamak bagaimana perilaku konsumerisme begitu merajalela selama bulan puasa. Tengok saja bagaimana buka puasa menjadi ajang coba-coba. Semua menu makanan dicoba. Kolak, gorengan, candil, es kelapa dll. Belum lagi nasi dengan segala menu pelengkapnya. Balas dendam. Konon, frasa ini menjadi jawaban ketika ditanya mengapa begitu banyak makanan di atas meja makan selama berbuka. Yang pada akhirnya makanan-makanan tersebut hanya menjadi muatan di dalam tong sampah. Tak dimakan, tak disentuh. Kamu kejam, mas!.

Orang-orang yang menjalani puasa, terlebih kelas menengah, cenderung lebih boros. Rencana awal hidup hemat karena reduksi waktu makan ternyata tidak berlaku. Buka bareng TK hingga kuliah dan buka puasa bersama komunitas lain begitu menguras dompet. Kita menjadi begitu ‘rakus’. Konsumerisme merajalela.

Belum lagi saat mendekati lebaran. Persis seperti cerita saya pada pembukaan tulisan. Mall penuh. Masjid sepi. Orang-orang lebih tertarik mengenakan segala sesuatu yang baru. Mengganti baju. Mengganti cat rumah. Mengganti kendaraan. Kita menjadi begitu paranoid mengenakan apa-apa yang lama. Khawatir dengan komentar netizen. Semua seolah mesti menampilkan transformasi fisik. Mengikuti hawa nafsu. Padahal sejatinya puasa adalah ajang menahan hawa nafsu. Begitu kontradiktif.

  1. Tujuan komersialisme

Apa yang menjadi penanda bulan ramadhan akan tiba?

Tepat. Sirup marjan.

Sirup marjan adalah sebaik-baik pengingat bahwa bulan puasa akan segera tiba. Promosi iklan ini menjadi begitu gencar mendekati ramadhan. Marjan telah menjadi ikon yang lekat dengan keberadaan ramadhan itu sendiri. Seperti dekatnya ketupat dengan lebaran. Atau dekatnya gaji dengan cicilan. Hiks.

Selama ramadhan pula nyaris semua produk diiklankan dengan extravaganza, dengan meriah. Produk ini-itu dilabeli dengan embel-embel ramadhan. Semua didiskonkan. Karena pasar tahu bahwa pada bulan ini orang-orang menjadi begitu maniak dalam mengkonsumsi. Oleh karena itu mereka pun menyambut seruan ini dengan strategi yang mumpuni.

Tengoklah ke mall. Mereka bahkan bisa diskon produk dengan potongan yang tidak kira-kira. 50% + 40%. Maka nikmat diskon mana yang kita dustakan. Apa mereka rugi dengan promosi di luar nalar? Tidak. Saya sempat berdiskusi dengan salah seorang pemilik toko di tanah abang. Ia bercerita bahwa selama bulan puasa, keuntungan yang diperoleh bisa menutupi ongkos operasional  11 bulan lainnya. Ramadhan menjadi begitu komersil.

Bahkan, menurut cerita sang ustad, ada buah yang hanya muncul atau terkenal selama bulan puasa. Buah Timun Suri namanya. Buah ini persis Avatar. Saat dunia membutuhkannya, dia menghilang. Kemudian datang lagi berbondong-bondong selama bulan ramadhan. Sepandai-pandainya Tupai melompat, lebih pandai lagi timun suri bersembunyi hingga bulan puasa tiba. Padahal buah ini tidak seenak mangga atau apel atau buah pada umumnya tapi karena dikemas dengan komersial dan menjadi penambah ornamen ramadhan, orang-orang tetap membeli.

  1. Tujuan/sarana menjual ide politik

Ramadhan benar-benar ‘berkah’ bagi para poli-tikus. Mereka menjadikan momen ramadhan untuk menjual ide politiknya. Mengemas agenda politik dengan label-label keagamaan.  Bahkan mereka yang non-muslim pun penuh hingar bingar menebar propaganda berbau ramadhan. Mereka melakukan safari politik demi merangkul simpati umat muslim.

Belum lagi dengan tokoh-tokoh yang kesehariannya acapkali bersebrangan dengan kepentingan umat muslim pada umumnya. Kini selama bulan ramadhan berubah menjadi begitu religius. Secara fisik, para politikus ini mengenakan peci bahkan kerudung bagi perempuan. Ironis.

Bukan bermaksud pesimis dengan transformasi fisik mereka hanya saja jika melihat bagaimana kiprah bapak-ibu ini di luar ramadhan sungguh begitu ironi. Tapi hidayah milik Allah. Semoga saja mereka benar-benar menjadi muslim yang lebih baik.

Demikianlah tiga tujuan atau motif yang justru terjadi secara umum dalam konteks ramadhan. Ketiga hal ini yang selalu menjadi sasaran ramadhan kebanyakan orang. Padahal sejatinya bulan puasa secara filosofis berarti menahan diri. Menahan diri dari sifay mengkonsumsi yang berlebihan. Ramadhan selayaknya melatih diri kita agar mengontrol nafsu namun ketiga fenomena di atas justru yang menjadi utama. Begitu kontradiktif antara semangat puasa dan kenyataan yang terjadi di lapangan.

Ramadhan kita begitu kontradiktif. Dan ini berulang-ulang setiap tahunnya. Saya pun tertegun dan menyadari bahwa mengikuti hawa nafsu tidak akan mengantarkan kita kepada kepuasan. Saya tertunduk malu sambil sesekali buka website T*kopedia guna mencari sepatu yang sebelumnya gagal didapatkan.

*Menurut penceramah nama sosiolog tersebut adalah walter ambush namun sayangnya saya tidak berhasil mendapatkan referensi sosiolog dengan nama tersebut

 

Iklan

Tagged: , , ,

§ One Response to Kontradiksi Ramadhan

  • desni berkata:

    “Buka bareng TK hingga kuliah dan buka puasa bersama komunitas lain begitu menguras dompet. Kita menjadi begitu ‘rakus’. Konsumerisme merajalela.” Oke tahun ini kito dak jadi bukber ye bro.. :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Kontradiksi Ramadhan at I Think, I Read, I Write.

meta

%d blogger menyukai ini: