5 Tahun Bersama WordPress

blogger

Wah, tak terasa lima tahun sudah gue berlalu lalang di wordpress. Selama lima tahun bloging, sudah banyak pengalaman dan cerita yang gue tuangkan melalui tulisan-tulisan tanpa genre yang rigid.

Gue lebih suka menulis tentang apa-apa yang lewat di otak gue sehingga tidak ada tema baku untuk setiap tulisan yang dihasilkan. Namun di antara semua kerandoman tersebut, gue masih menuliskan sebuah tema pokok tentang urutan pernikahan teman-teman SMA gue sebagai sebuah ‘persembahan’ dan cerita untuk mengenang masa lalu.

Di usia lima tahun ini, tulisan gue agak sedikit bertendensi mellow. Jelas, pernikahan membuat tulisan-tulisan tersebut kini diwarnai dengan corak keindahan dan segala problematika rumah tangga. Sesekali gue posting tentang keluarga dengan tone yang lebih serius dari biasanya. Bahkan cenderung menggunakan tulisan serius yang dipaksakan. Haha!.

Saat pertama kali menulis di wordpress, bahasa gue masih sangat formal dengan menggunakan kata ganti ‘aku’. Saat itu gue merefleksikan sebuah peristiwa menjadi sebuah tulisan berjudul ‘life is a mystery’. Gile, pertama kali nulis gue langsung menggunakan bahasa asing sebagai judulnya.

Perlahan tapi pasti, hingga saat ini, semua postingan yang ada di blog ini berjumlah 263. Sebagian besar adalah tulisan sendiri dan beberapa hasil saduran serta salin ulang dari artikel yang ada di web-web tertentu.  Gue sadar, tulisan yang ada di blog ini masih sebatas aktualisasi diri tanpa memandang nilai-nilai komersialisasi sama sekali.

Salah satu momen paling membahagiakan saat bloging adalah ketika jumlah pengunjung yang semakin meningkat serta banyak komen yang hinggap dan nyantol di tulisan yang kita buat. Keduanya adalah bentuk apresiasi yang memberikan transfer semangat kepada penulis.

Salah satu tulisan gue yang berjudul ‘Satu Hati Dua Cinta’ pernah terbit di salah satu rubrik eramuslim. Sementara tulisan tentang energi yang gue ikut sertakan untuk lomba di Pertamina, mendapatkan juara III. Lain waktu, gue dihubungi untuk menuliskan sebuah review tentang properti dengan imbalan 15 dolar. Beberapa bentuk feedback terhadap karya gue selalu menjadi pelecut untuk terus menghasilkan tulisan-tulisan yang lebih baik lagi.

Satu mimpi gue yang belum tercapai adalah menyusun dan menerbitkan buku gue sendiri. Setelah lima tahun bloging, gue masih berkutat pada tema-tema absurd tanpa benang merah antara satu tulisan dan tulisan lainnya. Semoga gue bisa segera menghasilkan sebuah buku yang bermanfaat bagi pembaca. Karena Scripta Manent Verba Volant. Apa-apa yang tertulis akan kekal, apa apa yang terucap akan menguap.

So, give me five!

Sumber Gambar dari sini

#20 Hasbullah Suliyansyah, Mr H

20140906_120309 (1)Banyak hal yang terjadi di dunia ini dan dianggap sebagai sebuah kebetulan. Padahal tidak ada terminologi ‘kebetulan’ dalam sebuah kehidupan. Bahkan setiap daun yang jatuh ke bumi adalah hasil rekayasa Sang Pencipta. Bukan kebetulan juga jika semakin banyak sinetron dengan nama-nama hewan. Setelah Ganteng-ganteng serigala dan Pacarku Manusia Harimau, kita mungkin ke depannya akan disajikan oleh sinetron Mertuaku Kera Tungpei atau Anakku Malu Menjadi Babi. Dengan begini kita akan jauh lebih mengenal dan menyayangi hewan di sekitar kita.

Perkara ‘kebetulan’ tidak hanya menghiasi layar kaca. Syahdan, pada tanggal 6 September 2014 selain sohib gue Periawan yang menikah, sahabat gue lainnya Hasbullah Suliyansyah alias Aas melakukan pernikahan pada tanggal yang sama.  Karena Ijab qabul Periawan 2,5 detik lebih cepet,  Aas mendapatkan prioritas di nomor lebih besar untuk postingan gue. *Sok penting lu do!*.

Gue mulai kenal baik Aas sejak kami bersama-sama nyemplung di Kelas 1 SMA. Saat itu Aas duduk persis di depan gue dan Peri. Tapi Aas curang, dia pergi ke sekolah ditemenin oleh bodyguard guede yang duduk di sebelahnya. Eh sorry, itu Dedy temen gue ding. Gue mulai susah membedakan mana temen gue mana yang bukan. Peace dedy *Kemudian diinjek-injek Dedy*.

Aas jadoel

Aas jadoel

Aas & Dedy

Aas & Dedy

Kontras. Itulah yang akan kalian rasakan jika kalian ada di posisi gue dan peri pada saat itu. Kalian akan menyaksikan sebuah pemandangan yang bertolak belakang antara Aas dan Dedy, terutama masalah postur. Aas yang kecil mungil dengan rambut belah tengah dan muka culunnya dan Dedy dengan ukuran dua (mungkin tiga) kali lebih besar. Saat berdiri bersebelahan, gue terbiasa terpana dengan angka 10 yang tidak simetris di depan bangku gue. Angka ‘1’ nya agak menciut. Mungkin minyak gorengnya kurang panas sehingga bentuknya bantet. Satu hal yang membuat perbedaan tersebut agak sedikit tereduksi adalah mereka sama-sama menggunakan kacamata.

Menikah di waktu yang bersamaan mungkin adalah sebuah kontrak kerja yang harus ditandatangani  mereka berdua saat dilantik menjadi ketua dan wakil ketua rohis SMA. Yes, Aas terpilih sebagai wakil ketua rohis untuk mendampingi Periawan. Posisi tersebut semakin mengukuhkan imej Aas sebagai cowo yang keren, shalih, dan berjiwa seni (Menurut fans Aas yang tersebar dari OSIS hingga PMR. Mulai dari Mawar, Melati hingga Bambang).

Wajib diakui, Aas memiliki imajinasi tinggi dalam sebuah nilai seni. Dia sukses membuat kaligrafi dalam bentuk drum dan juga menuliskan lafaz basmalah di bagian atas papan tulis kami yang masih bisa ditemukan hingga saat ini. Digital Camera

Jiwa seni Aas semakin menjadi – jadi. Karena imajinasinya yang kelewat batas, suara dua Aas selalu fals setiap saat kami latihan nasyid di mushola sekolah. Kami sadar bahwa kemampuan interpretasi musik tim nasyid kami yang rendah sehingga tidak mampu mengharmonisasi suara lead vocal dan suara dua oleh Aas. Bahahhaha.. this is absolutely not a compliment. Masih belum puas, Imajinasi yang meledak-ledak itu akhirnya mencapai klimaks ketika Aas dengan percaya diri mengendarai motor melewati turunan dil depan ruang guru sambil berucap ‘ternyata mudah ya naik motor’ dan diakhiri dengan bunyi.. brak.

Motor menabrak trotoar!!!

Teman kami Wahyu lalu memberikan sebuah kayu dan sebuah ban bekas untuk dipukul guna mengobati trauma aas mengendarai motor. Sakitnya di sini *tunjuk dada*.

Jiwa seni Aas bertolak belakang dengan fisiknya yang cenderung vulnerable atau bahasa indonesianya ringkih. Jangan ajak Aas melakukan olahraga berat karena asma yang ia derita bisa kapan saja menyerang. Gue sudah ingetin Aas buat pake Cha*m bod* fit biar asma nya tidak terus-terusan keluar. Tapi ia menolak. Dia lebih memilih mam* p*ko dengan alasan lebih hemat. Alasan inilah yang kerap kali diucapkan aas sehingga kami, dengan semangat 45, menggelari aas sebagai ‘Mr Hemat’ dengan kartu hematnya.

Berbicara tentang fans, udah gue sebutin di atas bahwa Aas diidolai oleh beberapa beberapa cewe di SMA. Sepengamatan gue, ada aja cewe yang tiba tiba menyatakan cintanya ke doi. Mulai dari nembak lewat surat kaleng hingga pake santet. Kadang ayam, tak jarang juga kambing. Garing woyyyy.. Itu sate bukan santet!!!!!

Tapi pada akhirnya Aas menolak mereka semua karena mereka terlalu baik sementara Aas ingin fokus belajar dan mengumpulkan uang untuk menaikkan haji tukang bubur.

Selesai SMA, Aas memilih jurusan arsitektur untuk melanjutkan semangat menggambarnya. Dia juga mulai menulis ke dalam blog. Tulisan-tulisan tersebut berkarakter melow, deksriptif, dengan tata bahasa yang rumit dan dirumit-rumitkan. Sebenarnya kemampuan Aas menulis sudah terlihat ketika ia menghasilkan sebuah cerpen yang menurut gue bagus. Ia, sama seperti gue, sangat menyukai hujan. Beberapa tulisannya memuat tema tersebut. Siapa sangka bahwa ‘hujan’ bak sebuah klu dengan siapa ia akan menikah kelak.

Di kampus, seorang Hasbullah memiliki reputasi yang cukup baik. Gue ga tau pasti apa amanah yang ia emban namun yang gue tahu adalah doi cukup dikenal di kampusnya. Bayangkan saja, hampir setiap lebaran ia silaturahim ke rumah wakil rektor. ‘wakil rektor suka bagi-bagi THR’ ujar Aas. LOL.

Banyak perubahan yang dialami aas setelah melepas seragam abu-abu. Aas yang sebelumnya hanya bisa memukul-mukul ban motor dengan kayu, kini bisa mengendarai motor, mobil, pesawat terbang bahkan siluman komodo indosiar.

Selepas lulus kuliah, Aas bertekad untuk tidak menjadi karyawan. Dengan bakat menggambar dan pengetahuan seputar dunia arsitektur, ia mencoba untuk membangun usahanya sendiri. Jika dulu karya gambarnya mampu menghiasi koran lokal, kini gambar tersebut bertransformasi sebagai sumber penghasilan. Lulus dari bangku kuliah adalah momen kampret di mana orang-orang ga berenti bertanya ‘KAPAN KAWIN?’. Aas pun berencana menggenapkan separuh agamanya.

Untuk ukuran pria, usia 25 tahun adalah fasa galau sudah mulai menjangkiti. Aas pun begitu. Saat gue tanya

‘As, teh nya manis apa ga?

Dia jawab ‘Ga penting manis, yang penting setia’ *muntah asam sulfat*

Sejak sering berdiskusi masalah pernikahan, Aas selalu berujar jika ia mengharapkan seorang dokter sebagai istri. Mengiyakan permohonan nenek, ujarnya. Pada akhirnya Aas memang menikahi seorang dokter. Dokter tersebut adalah adik ipar temen sekelas kami, Faizatul Mabruroh. Sementara Aas sebelumnya memang memiliki hubungan baik dengan kakak sang mempelai wanita. Gue menyimpulkan bahwa ada benarnya jika kita harus memvisualisasikan mimpi.

Mendekati hari pernikahan, Aas nampak semakin ekspresif di media sosial. karena kegemarannya memuat posting yang menstimulus orang-orang untuk reaktif. Kalian bisa trace akun facebook, Path nya di mana ia nampak sangat bersemangat mengakhiri masa lajangnya.

‘Alhamdulillah, buka puasa sendirian untuk terakhir kali’

‘Seneng banget, makan malam sendirian yang terakhir’

‘Akooh b4haGeeaA GhEEl4, BeC0g Ud4H b1$4 Sh0l4T s4m4 iStrEEE’

Akad nikah berlangsung dengan khidmat. Gue dateng ke kediaman setelah menghadiri ijab qabul peri karena waktu acara yang berdekatan. Sementara walimatul ursy dilansungkan sehari setelahnya.20140907_121422

Never Ending Selfie

Never Ending Selfie

Acara berlangsung dengan sangat meriah. Nampak seringai senyum menghiasi raut sang pengantin. Rona bahagia memenuhi atmosfir gedung. Sedikit canggung nampak terbersit oleh pengantin pria yang merasa ‘risih’ saat duduk bersanding bersama sang hujan. Namun semua kembali larut dalam harmonisasi suara yang dilantunkan oleh Senandung Hikmah. Gue bersyukur Aas tidak tiba-tiba meraih mikrofon dan memenuhi gedung dengan suara dua-nya. Mari berucap hamdalah :).

Walimatul ursy dihadiri oleh banyak orang penting mulai dari rektor, DPP PKS hingga tim nasyid. Selamat akhi, akhirnya ente tahu siapa yang menjadi rahasia Ar-Rahman. Selamat menari bersama hujan. Kini rahasia Ar-Rahman sudah terkuak. Membuka tabir yang selama ini hanya bisa diraba tanpa dirasa. Selamat juga buat Rian Hasni. Semoga keluarga kalian barokah. Selamat untuk gelar ke #20.

#19 Periawan

6 September 2014 boleh jadi merupakan hari paling membahagiakan dalam hidup seorang Periawan. Pada tanggal tersebut, Ia melangsungkan pernikahan dengan khidmat di kediaman mempelai wanita di salah satu sudut kota Palembang. Malam hari pada tanggal yang sama, pesta pernikahan meriah diselenggarakan di gedung PUSRI, tempat orang tua mereka bekerja.

Gue pun turut berbahagia dengan pernikahan salah seorang sahabat terbaik gue ini. Karenanya, gue akan mencoba menceritakan kembali sosok seorang Periawan yang gue kenal mulai dari sekolah menengah atas, kuliah hingga sekarang.

Peri dan Kudanya

Peri dan Kudanya

Pagi itu di sebuah sekolah yang terletak di pinggiran Jalan Jendral Sudirman, riuh oleh kehadiran siswa-siswa baru yang terlihat culun dan polos. Mereka nampak berbaris berjalan dengan patuh mendengarkan instruksi kakak-kakak OSIS yang terlihat lebih sangar daripada serigala keselek biji duren. Para senior tersebut ternyata menginspirasi gue untuk bergabung dengan OSIS agar kelak ketika jadi senior, gue pun bisa petantang-petenteng di depan junior yang kemana-mana memanggil gue dengan ‘kakak’. Gagal bergabung dengan OSIS, gue pun setiap hari menyengaja diri datang ke mangga dua karena di sana hampir tiap penjaja dagangan memanggil manggil gue dengan ‘kak’ lengkap dengan ‘dibeli kak barangnya’, ‘ini murah loh kak’ dsb. Asem!.

Saat itu gue kebagian kelas 10-B. Di sanalah gue bertemu dengan Periawan untuk pertama kalinya. Dia duduk persis di depan bangku gue. Kelang beberapa minggu, gue harus pindah ke kelas baru yang dikelompokkan berdasarkan nilai selama SMP. Di kelas baru ini gue kembali bertemu Peri dan untuk 3 tahun ke depan kami menjadi tablemate.

Kerasukan Jin Dragon Ball

Kerasukan Jin Dragon Ball

Yang paling gue inget selama menempuh pendidikan di SMA adalah Peri merupakan anak yang tidak neko-neko, cenderung pendiem, introvert, dan fans garis keras Liverpool. Saking introvertnya, dia kerap kali ketauan ngelamun sambil nyemil semut rang-rang. Selain itu, dia jagoan untuk pelajaran matematika. Beberapa soal yang sulit untuk gue kerjain ternyata dapat diselesaikan Peri dengan memejamkan mata sambil ngupas kulit bawang. Kampret, ini mah guenya aja yang oon :D.

Di kelas, Gue dan Peri dikenal dengan duo pencipta istilah-istilah ‘gaib’. Kami bahkan lebih dulu dikenal dibandingkan Sinta-Jojo. Sayangnya dulu youtube belum ada. Peri handal dalam mencipta dan gue berperan sebagai marketing dahsyat. Kolaborasi maut kami berdua berhasil menciptakan berbagai istilah mulai dari ‘mengenge’, ‘kecipak’, ‘kacang-kacang’ dan ribuan bahkan jutaan istilah yang tidak akan pernah kalian temui di KBBI nya Selo Soemardjan. Hanya siswa di kelas kami lah yang familiar dengan segala penyalahgunaan bahasa Indonesia yang kami ciptakan. Gue tak pernah tahu bagaimana Peri mendapatkan semua ilham dan wangsit untuk istilah-istilah tersebut. Sebagai seorang marketer, tugas gue hanya mendistribusikan semua istilah ke siswa kelas lainnya agar bisa terinternalisasi dalam sebuah simfoni yang mendamaikan hati. Hah, barusan gue ngomong apa? Tolong seseorang bangungkan aku. Tampar aku mas..tampar!.

Periawan memiliki jiwa seni yang sangat unik dan luar biasa. Selain piawai dalam membuat istilah, ia juga juara dalam meng(g)ubah lagu, mulai dari ‘menanti sebuah jawaban’ milik Padi hingga lagu-lagu pop-balad Naff. Lirik lagu yang dinyanyikan peri selalu diselipi dengan pernak-pernik detektif ternama, Conan Edogawa. Yoi, doi ngefans banget dengan sang detektif rekaan Aoyama Gosho sampai-sampai kami menyematkan kata ‘OGA’ di belakang kata ‘Peri’ yang diambil dari kata ‘Edogawa’. Peri harusnya menjadi seorang sutradara.

Merangkak ke kelas 2 SMA, periodisasi di sebuah organisasi mengharuskan dipilihnya ketua-ketua baru termasuk juga organisasi dimana gue dan Peri bernaung yakni Kerohanian Islam (Rohis). Dengan track record cenderung baik dan tingkah laku yang dianggap paling mewakili maka Peri dipilih menjadi ketua rohis yang baru setelah pemilihan dua putaran diselingi gugatan ke MK.

Sesaat setelah terpilih menjadi ketua rohis baru, mendadak muka peri memerah persis udang yang tengah direbus. Tiba-tiba Rudi Choirudin datang membawa penggorengan. ‘Angkat dan tiriskan’ ujarnya.

Di masa kepengurusannya, Rohis SMA 3 bisa dikatakan mengalami puncak kemajuan. Mulai dari anggota rohis yang berprestasi secara akademik maupun akhlak hingga berbagai pencapaian program kerja yang luar biasa. Karena prestasi tersebut, Periawan digelari dengan ‘Pak Wo’ alias singkatan untuk ‘Pak Ketua’ setelah sebelumnya ia dipanggil dengan ‘angel’ merujuk pada namanya ‘peri’ (angel). Agak maksa karena bahasa inggris untuk ‘peri’ harusnya ‘fairy’.

Mendekati masa-masa terakhir di SMA, Peri berniat melanjutkan pendidikan di Institut Teknologi Bandung. Where there is a will there is a way. Ia diterima di Jurusan Teknik Fisika ITB. Dan lagi-lagi, gue berjodoh setelah diterima di Jurusan Kimia di kampus yang sama. Bertiga bersama Vidia, kami mewakili SMA N 3 Palembang untuk menempuh pendidikan di Kampus para teknokrat.

Setelah lulus sarjana, Peri diterima bekerja di Malaysia untuk memerankan tokoh Upin. ‘Macem mane nih kak ros. Seronok Sangat’. Kira-kira seperti itulah dialog yang harus dimainkan Peri selama berada di Malaysia. 1 tahun di negeri jiran, Upin memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Upin harus berpisah dengan Kak Ros. ‘Sedih rasenye’ Cakap Upin.

peri

Sekembalinya ke Indonesia, Peri berniat melanjutkan studi ke jenjang magister. Tepat beberapa waktu sebelum pendaftaran ulang, Ia mengikuti rangkaian tes kerja di salah satu BUMN yang bergerak di bidang konstruksi, rekayasa, dan procurement. Sebut saja Wijaya Karya (WIKA). Dan Voila, Wika menerima Peri sebagai salah satu karyawannya. Bener-bener drama. Lebih drama daripada kisah Aliando dan Prilly. Doi akhirnya memilih Wika sebagai tambatan hati ketimbang melanjutkan studi.

Lebaran 2013 adalah salah satu momen di mana gue dan beberapa temen SMA termasuk Peri membulatkan tekad untuk menikah setahun setelahnya. Kami juga menggarisbawahi sebuah niatan untuk membawa istri masing-masing pada lebaran tahun 2014.

Setelah gue menikah pada April 2014, seperti tak mau kalah, Peri juga bersegera melancarkan misinya. Dalam suatu momen, Ia secara serius meminta bantuan teman kami yang bernama Hafiz untuk mencarikan seorang wanita yang bersegera ingin melengkapi separuh agama. Gayung bersambut, Hafiz membantu Peri untuk mencarikan apa yang dimaksud. Setelah beberapa waktu, Hafiz mengenalkan sesosok wanita teman kuliahnya.

Dengan gagah berani, Peri menyatakan niat untuk menikahi sang permaisuri hati. Bak Haruka yang melihat sosok Naruto, sang wanita pun mengiyakan sambil tersenyum malu disertai pipi yang kemerahan sambil sesekali menggigiti ujung kursi.

Yarra Azilzah nama sosok wanita. Seorang dokter muda dengan paras manis. Tak perlu waktu lama bagi mereka berdua untuk meyakinkan diri masing-masing guna melanjutkan mimpi bersama dalam romansa indah pernikahan.

Dalam balutan putih pakaian daerah, Peri dengan lantang mengucapkan ijab qabul untuk menyunting Yarrah. Alhamdulillah, akhirnya pada tanggal 6 September keduanya diikat oleh sebuah perjanjian yang berat. Gue pun turut senang berada di antara mereka. Menyaksikan seorang sahabat yang mengakhiri masa lajangnya adalah sebuah kebahagiaan karena mereka kini tidak lagi menjadi objek bully nomer satu mewakili kaum jomblo :D.

Sah...

Sah…

20140906_101452Namun tak ada hadiah dan persembahan seorang sahabat kecuali doa yang mengiringi sebuah pernikahan. Lebih-lebih doa yang saudaranya sendiri tidak tahu jika ia sedang didoakan. Congratulation my best buddy¸now you are a real man.

Acara Resepsi pun tak kalah heboh :D.20140906_20500420140906_203939

Maka Tersenyumlah

smile“Senyum manismu dihadapan saudaramu adalah shadaqah” (HR. Tirmidzi)

Berabad-abad yang lalu, Nabi Muhammad sudah menasihati kita untuk selalu tersenyum kepada sesama. Senyuman adalah penenang jiwa, pengikat rasa, penyejuk amarah. Rasul mengingatkan bahwa senyum adalah sedekah yang paling mudah yang dapat kita berikan kepada orang lain tanpa tenaga, biaya namun dapat menjadi rekening pahala. Bahwa parafrase ‘sedekah’ memberikan pengertian sebuah pewarisan nilai kebaikan. Jadi tak perlu menunggu kuat atau kaya untuk berbuat baik kepada orang lain.

Nasihat tersebut adalah murni pengingat agar kita selalu menghiasi hari dengan senyuman. Tidak perduli betapa berat masalah yang dihadapi, senyuman akan mampu mengurangi beban yang bertengger di pundak. Senyuman adalah bahasa universal. Ia berarti persahabatan, ketenangan dan ungkapan ketulusan yang menghapuskan segenap nelangsa atau duka berkala.

Dulu, belum ada pendekatan ilmiah tentang senyum, mekanisme dan dampaknya. Tanpa bermaksud untuk mencocok-cocokkan kaitan antara hadits tentang senyum dengan manfaatnya secara ilmiah, ternyata senyuman memang memiliki kekuatan tersembunyi. Dalam sebuah video TED yang ditayangkan pada Maret 2011, Ron Gutman menyampaikan presentasi yang berjudul ‘the hidden power of smiling’. Ron bercerita  banyak tentang rahasia-rahasia yang terkandung dalam senyuman.

Berdasarkan sebuah riset selama 30 tahun yang dilakukan di UC Berkeley, senyuman seseorang pada buku tahunannya dapat memprediksi tentang kehidupan berumah tangga, nilai ujian hingga bagaimana senyuman tersebut menerka pengaruh seseorang terhadap orang lain dalam kehidupan mendatang. Lebih hebatnya lagi, studi yang dilakukan di Wayne State University pada tahun 2010 menyebutkan bahwa lebar senyuman dapat memprediksi usia hidup seseorang. Mereka yang tersenyum dengan lebar memiliki rata-rata usia hidup 7 tahun lebih lama daripada yang tidak tersenyum.

Tersenyum mungkin adalah ekspresi tertua yang dilakukan oleh manusia. Kemampuan ini dianuegerahi tuhan bahkan sebelum seseorang dilahirkan. Dari data ultrasound 3-D nampak bahwa bayi di dalam rahim berada dalam kondisi tengah tersenyum. Hebatnya lagi, bayi yang terlahir secara tuna netra pun dapat merespon suara manusia dengan senyuman.

Tersenyum, sama halnya dengan tidur, bisa mengurangi stress yang dialami tubuh dan pikiran. Tersenyum juga membantu menghasilkan emosi yang lebih positif seseorang. Itulah mengapa kita akan merasa lebih bahagia jika berada di sekitar anak-anak karena mereka tersenyum rata-rata 400 kali per hari. Bandingkan dengan orang dewasa yang hanya sepersepuluhnya.

Senyuman bersifat menular. Coba lihat ke sebuah gambar atau foto atau bertemu langsung dengan orang yang tersenyum maka akan sangat mudah untuk kalian ikut ‘tertularkan’ oleh senyuman tersebut dan lalu secara sukarela membalas dengan senyuman yang sama. Senyuman itu menular karena bagian otak yang bertanggung jawab pada ekspresi senyum di wajah berada pada area yang memberikan respon secara tidak sadar. Itulah mengapa ketika ada orang tersenyum maka otak akan secara otomatis memberikan respon untuk membalas senyuman tersebut.

Mengapa orang-orang tersenyum?

Charles Darwin dan William James pada abad ke 19 melaporkan bahwa eksperesi wajah tidak hanya merefleksikan emosi tapi juga menciptakannya. Wajah tidak semata ‘monitor’ untuk menampilkan emosi. Sebaliknya, ekspresi wajah dapat mempengaruhi emosi itu sendiri.

Emosi seperti sedih atau bahagia adalah pengalaman subjektif yang berhubungan dengan perubahan psikologis dan tingkah laku. Misalnya perasaan bahagia akan diikuti oleh penurunan detak jantung, tersenyum dan tingkah laku ‘aneh’. Sementara ketakutan berhubungan dengan efek psikologi lainnya, peningkatan detak jantung dan gigi yang dirapatkan.

Hormon hormon baik seperti endorfin dan serotonin akan dilepaskan ketika seseorang tersenyum. Kondisi Ini tidak hanya membuat tubuh lebih santai namun juga mengurangi laju detak jantung dan tekanan darah. Endorfin juga mampu bertindak sebagai pengurang rasa sakit sementara serotonin sebagai anti depressan/peningkat mood.

Tersenyum dapat membuat kita bahagia. Satu senyuman dapat menghasilkan stimulasi otak sama seperti mengkonsumsi 2000 potong cokelat. Tersenyum juga menstimulasi otak serupa dengan keadaan dimana seseorang mendapatkan 16.000 pounds (sekitar 240 juta rupiah) tunai. Namun tidak seperti cokelat stimulasi otak melalui senyuman sifatnya jauh lebih sehat karena dapat mengurangi tingkat hormon yang berpengaruh pada peningkatan stress seperti kortisol, adrenalin dan dopamin.

Di luar itu semua, senyum juga bisa membuat seseorang terlihat lebih menarik. Studi yang dilakukan di Penn State University menyebutkan bahwa tersenyum dapat membuat seseorang nampak lebih disukai, sopan dan lebih kompeten.

Jadi, tersenyumlah di saat kalian tengah gelisah atau stress. Selain dapat meningkatkan mood dengan cara yang sehat, tersenyum juga adalah sedekah. Sehingga dua manfaat sekaligus bisa kita peroleh, dalam dimensi duniawi dan ukhrawi.

Bagaimana dengan senyum palsu?

Spot the difference

Spot the difference

Saat tersenyum, terdapat dua otot yang diaktifasi, (1) zygomaticus major yang mengontrol sudut mulut, setiap kali seseorang mengaktifasi otot ini, maka dipastikan senyumnya tidak tulus, dan (2) orbicularis occuli yang mengelilingi lekuk mata yang menunjukkan sebuah ketulusan. Dr. Niedenthal dalam risetnya menjelaskan bahwa manusia dapat membedakan senyum tulus dan senyum palsu karena otak manusia mengaktifasi area yang sama dengan mereka yang senyum sehingga kita bisa mengidentifikasi senyum mana yang datang dari hati dan senyuman mana yang penuh dengan paksaan.

Senyum yang tulus disebut juga sebagai Duchenne Smile, setelah seorang neurologisi Guillaume Duchenne, berhasil mengidentifikasi otot-otot yang ada di muka yang termasuk dalam senyuman spontan. Duchenne memetakan 100 otot wajah pada tahun 1962. Dia mendapati bahwa senyuman palsu, setengah hati hanya melibatkan otot di sekitar mulut. Sementara senyuman yang tulus mengaktifkan otot di sekitar mata.

Namun senyum yang dimanipulasi juga dapat membuat seseorang bahagia.. Hasil penelitian yang dipublikasi pada jurnal ilmiah dengan judul ‘Grin and bear it : the influence of manipulated facial expressions on the stress response’ menyebutkan bahwa telah dilakukan sebuah studi untuk memanipulasi senyuman. Para sukarelawan diminta untuk meletakkan sumpit di mulut lalu sebagian diminta senyum dan sebagian lagi dalam keadaan normal. Hasil studi menunjukkan bahwa mereka yang diberikan perintah tersenyum cenderung laju detak jantung yang lebih rendah daripada group sebelumnya yang tidak diminta untuk senyum secara tulus.

Jadi, jauh sebelum banyak penelitian yang dilakukan, kita sudah dinasihati untuk selalu tersenyum. Cobalah tersenyum untuk meningkatkan mood dan ‘memanipulasi’ emosi dan kebahagiaan yang tengah kita rasakan. Atau manfaatkanlah momen-momen lucu yang ada di labirin otak kita untuk menstimulus sebuah senyuman. Namun jangan terlalu sering tersenyum sendiri karena kita akan dianggap sakit jiwa atau bipolar. Apalagi kalo sampe lepas kerudung dan memaki-maki orang lain gegara diprotes saat nyerobot antrian di SPBU :D.20140530_074808Jadi apa lagi yang menghalangimu untuk tersenyum? Mari ciptakan dunia yang lebih ramah dengan senyuman dariku, darimu dan dari kita semua.

The world is simply a better place when you smile (anonymous).

“Sometimes your joy is the source of your smile, but sometimes your smile can be the source of your joy”
-Thich Nhat Hanh

*Sumber Gambar
(1) Quote Bunda Theresa sumbernya dari sini
 (2) Gambar Spongebob 
 (3) Fake vs Real Smile dari sini
 (4) Foto pribadi

Cerita di Balik Sebuah Foto

2 dari 3 foto oleh Frans Mendur

2 dari 3 foto oleh Frans Mendur

Berterimakasihlah pada Frans Mendoer (Mendur). Berkat Hasil jepretannya, kita setiap tahun masih dapat menyaksikan detik-detik bersejarah proklamasi kemerdekaan 1945. Frans bersama sang kakak, Alex, adalah juru foto yang bertepatan hadir pada momen di mana Bung Karno membebaskan Indonesia dari penjajahan selama bertahun-tahun. Sial bagi Alex, semua hasil dokumentasinya dirampas dan dihancurkan oleh tentara Jepang. Untungnya negatif foto hasil bidikan Frans disimpan di sebuah pohon di halaman kantor harian Asia Raya. Setelah Jepang pergi, negatif tersebut dipublikasi secara luas hingga kita bisa menikmatinya sampai sekarang.

Banyak momen penting lain yang sengaja diabadikan untuk mengenang sebuah peristiwa. Terkadang foto bercerita lebih banyak daripada kata-kata. Ia bahkan mampu mewakili sebuah sejarah. Maju sedikit ke tahun 1989, kita terbelakak oleh aksi berani seorang pria yang menghadang konvoi tank di dekat Tiananmen Square, Beijing. Foto tersebut mendapatkan perhatian yang sangat luas dari penduduk dunia. Pria tersebut sekarang melegenda dengan sematan “Tank Man”.

Gue ga akan bercerita tentang foto-foto lainnya karena blog ini bukan on the spot. Yang ingin gue tekankan adalah setiap foto yang kalian dokumentasikan mengandung ceritanya sendiri. Buat gue, Sebagian foto adalah sumber inspirasi. Gue terinspirasi memasang foto selfie gue di dapur dan loteng. Diharapkan hasilnya Lebih bagus untuk mengusir tikus, nyamuk dan kecoa daripada racun serangga komersial walaupun ga perlu bayar lebih mahal.

Foto-foto yang terdokumentasikan dalam setiap perangkat, ada baiknya dimanfaatkan untuk peristiwa yang bersejarah dalam hidup kalian. Sebelum hari-H pernikahan, gue berusaha membuat video dari foto-foto perjalanan gue dan istri. Video tersebut rencancanya diputar pada saat hari pernikahan dengan memanfaatkan salah satu layar di sudut gedung. Well, pembuatan video tersebut cukup menyita waktu. Selain harus memilah foto yang akan digunakan, mencari aplikasi yang cukup menunjang pembuatan video dari foto tidak semudah yang gue bayangkan sebelumnya. Walau memang tidak harus bayar lebih mahal. Oi, tadi udah dibahas.

Dari segenap foto yang ada, terpapar sebuah benang merah bahwa gue dan istri memang memiliki hobi jalan-jalan. Dia sangat menyukai pantai dan saya menambahkan gunung dalam destinasi perjalanan.

Untuk mengenang video tersebut, gue secara sengaja mempersembahkannya kembali ke dalam blog ini

Seorang Ayah, di Lapis Berkah

Sebagai seorang pria yang lika-liku hidupnya kelak akan diwarnai oleh pasangan, anak dan tatanan kehidupan yang lebih kompleks, adalah sangat elok untuk mendapatkan seputar nasihat tentang bagaimana hubungan peran seorang ayah dengan keimanan terhadap Allah agar kehidupan keluarga diwarnai oleh keberkahan. Ustad muda Salim A. Fillah telah membuat sebuah karya untuk para ayah dan calon ayah yang kelak akan menjadi pahlawan pertama putranya dan juga cinta pertama putrinya.

Mari kita simak tulisan berikut yang disadur dari blog beliau

*****

LLK 2a

Di lapis-lapis keberkahan, mari sejenak belajar dari seorang ayah, budak penggembala kambing yang bertubuh kurus, berkulit hitam, berhidung pesek, dan berkaki kecil. Tetapi manusia menggelar hamparan mereka baginya, membuka pintu mereka selebar-lebarnya, dan berdesak-desak demi menyimak kata-kata hikmahnya. Dia, Luqman ibn ‘Anqa’ ibn Sadun, yang digelari Al Hakim.

Seseorang pernah bertanya kepadanya, “Apa yang telah membuatmu mencapai kedudukan serupa ini?”

“Aku tahan pandanganku”, jawab Luqman, “Aku jaga lisanku, aku perhatikan makananku, aku pelihara kemaluanku, aku berkata jujur, aku menunaikan janji, aku hormati tamu, aku pedulikan tetanggaku, dan aku tinggalkan segala yang tak bermanfaat bagiku.”

Dia tak diberikan anugrah berupa nasab, kehormatan, harta, atau jabatan”, ujar Abud Darda’ Radhiyallahu ‘Anhu ketika menceritakan Luqman Al Hakim. “Akan tetapi dia adalah seorang yang tangguh, pendiam, pemikir, dan berpandangan mendalam. Dia tidak pernah terlihat oleh orang lain dalam keadaan tidur siang, meludah, berdahak, kencing, berak, menganggur, maupun tertawa seenaknya. Dia tak pernah mengulang kata-katanya, kecuali ucapan hikmah yang diminta penyebutannya kembali oleh orang lain.”

“Dan Kami telah mengaruniakan hikmah kepada Luqman, bahwasanya hendaklah engkau bersyukur kepada Allah. Dan barangsiapa bersyukur, maka hanyasanya dia bersyukur bagi dirinya. Dan barangsiapa mengkufuri nikmat, sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuja.” (QS Luqman [31]: 12)

“Hikmah”, tulis Imam Ibn Katsir dalam Tafsirnya, “Yakni pengetahuan, pemahaman, dan daya untuk mengambil pelajaran.” Inilah yang menjadikan Luqman berlimpah kebijaksanaan dalam kata maupun laku. Tetapi setinggi-tinggi hikmah itu adalah kemampuan Luqman untuk bersyukur dan kepandaiannya untuk mengungkapkan terimakasih.

“Kemampuan untuk mensyukuri suatu nikmat”, ujar ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz, “Adalah nikmat yang jauh lebih besar daripada nikmat yang disyukuri itu.” Dan pada Luqman, Allah mengaruniakannya hingga dia memahami hakikat kesyukuran secara mendalam. Bersyukur kepada Allah berarti mengambil maslahat, manfaat, dan tambahan nikmat yang berlipat-lipat bagi diri kita sendiri. Bersyukur kepada Allah seperti menuangkan air pada bejana yang penuh, lalu dari wadah itu tumpah ruah bagi kita minuman yang lebih lembut dari susu, lebih manis dari madu, lebih sejuk dari salju.

Adapun bagi yang mengkufuri Allah, adalah Dia Maha Kaya, tidak berhajat sama sekali pada para hambaNya, tidak memerlukan sama sekali ungkapan syukur mereka, dan tidak membutuhkan sama sekali balasan dari mereka. Lagi pula Dia Maha Terpuji, yang pujian padaNya dari makhluq tidaklah menambah pada kemahasempurnaanNya, yang kedurhakaan dari segenap ciptaanNya tidaklah mengurangi keagunganNya.

Maka Luqman adalah ahli syukur yang sempurna syukurnya kepada Allah. Dia mengakui segala nikmat Allah yang dianugrahkan padanya dan memujiNya atas karunia-karunia itu. Dia juga mempergunakan segala nikmat itu di jalan yang diridhai Allah. Dan dia pula berbagi atas nikmat itu kepada sesama sehingga menjadikannya kemanfaatan yang luas.

“Seseorang yang tidak pandai mensyukuri manusia”, demikian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam hadits riwayat Imam At Tirmidzi, “Sungguh dia belum bersyukur kepada Allah.” Maka asas di dalam mendidik dan mewariskan nilai kebaikan kepada anak-anak sebakda bersyukur kepada Allah sebagai pemberi karunia adalah bersyukur kepada sang karunia, yakni diri para bocah yang manis itu.

Di lapis-lapis keberkahan, rasa syukur yang diungkapkan kepada anak-anak kita adalah bagian dari bersusun-susun rasa surga dalam serumah keluarga.

“Nak, sungguh kami benar-benar beruntung ketika Allah mengaruniakan engkau sebagai buah hati, penyejuk mata, dan pewaris bagi kami. Nak, betapa kami sangat berbahagia, sebab engkaulah karunia Allah yang akan menyempurnakan pengabdian kami sebagai hambaNya dengan mendidikmu. Nak, bukan buatan kami amat bersyukur, sebab doa-doamulah yang nanti akan menyelamatkan kami dan memuliakan di dalam surga.”

Inilah Rasulullah yang mencontohkan pada kita ungkapan syukur itu bukan hanya dalam kata-kata, melainkan juga perbuatan mesra. “Ya Rasulallah, apakah kau mencium anak-anak kecil itu dan bercanda bersama mereka?”, tanya Al Aqra’ ibn Habis, pemuka Bani Tamim ketika menghadap beliau yang sedang direriung oleh cucu-cucu Baginda.

“Mereka adalah wewangian surga, yang Allah karuniakan pada kita di dunia”, jawab beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sembari tersenyum.

“Adalah aku”, sahut Al Aqra’ ibn Habis, “Memiliki sepuluh anak. Dan tak satupun di antara mereka pernah kucium.”

“Apa dayaku jika Allah telah mencabut rahmatNya dari hatimu? Barangsiapa yang tidak menyayangi, dia tidak akan disayangi.”

“Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya dan dia sedang memberi pengajaran kepadanya, ‘Duhai anakku tersayang, janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya kesyirikan adalah kezhaliman yang besar.” (QS Luqman [31]: 13)

Dengarlah Luqman memanggil putranya, Tsaran ibn Luqman dengan sapaan penuh cinta, “Ya Bunayya.. Anakku tersayang.” Alangkah besar hal yang akan dia ajarkan. Betapa agung nilai yang akan dia wariskan. Yakni tauhid. Bahwa Allah adalah Rabb, Dzat  yang telah mencipta, mengaruniakan rizqi, memelihara, memiliki, dan mengatur segala urusannya. Maka mempersekutukan Dia; dalam ibadah, pengabdian, dan ketaatan adalah sebuah kezhaliman yang besar.

Kenalkanlah Allah pada anak-anak kita sejak seawal-awalnya, dengan cara yang paling pantas bagi keagungan dan kemuliaanNya. Kenalkanlah Allah pada anak-anak kita dari semula-mulanya, dengan kalimat yang paling layak bagi kesucian dan keluhuranNya. Kenalkanlah Allah pada anak-anak kita mulai sepangkal-pangkalnya, dengan ungkapan dan permisalan yang paling sesuai bagi kesempurnaan dan kebesaranNya.

Sebab janji kehambaan seorang makhluq telah diikrarkan sejak di alam ruh, maka membisikkan tauhid ke dalam kandungan, melirihkannya pada telinga sang bayi dalam buaian, atau menyenandungkannya sebagai pengajaran adalah baik adanya.

“Dan Kami wasiatkan kepada manusia kebaikan terhadap kedua orangtuanya; ibunya yang telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, ‘Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua orangtuamu. KepadaKulah tempat kembalimu.”(QS Luqman [31]: 14)

Maha Mulia-lah Dzat yang dalam pembicaraan tentang keesaanNya dari pengajaran seorang ayah kepada putra, Dia meminta perhatian sejenak tentang hak kedua orangtua. Maha Agung-lah Dzat yang dalam penuturan tentang ketauhidanNya dari wasiat seorang bapak kepada anak, Dia mengingatkan kita tentang kebaikan yang wajib kita tanggung terhadap sosok yang telah mengandung, melahirkan, mendidik, dan menumbuhkan kita.

Sesungguhnya lisan perbuatan jauh lebih fasih daripada lisan perucapan. Maka apa yang dilihat oleh anak-anak kita akan terrekam lebih kokoh di dalam benak dan jiwa mereka dibanding semua kata-kata yang coba kita ajarkan padanya. Maka siapapun yang merindukan anak berbakti bakda ketaatannya kepada Allah, bagaimana dia memperlakukan kedua orangtua adalah cermin bagaimana kelak putra-putrinya berkhidmat kala usia telah menua.

Allah menyatukan antara kesyukuran padaNya dengan kesyukuran pada orangtua, sebab melalui ayah dan ibulah Dia mencipta kita, memelihara, mengaruniakan rizqi, serta mengatur urusan. Ayah dan ibu adalah sarana terjadinya kita, terjaganya, tercukupi keperluannya, serta tertata keadaannya. Maka Allah menganugerahkan kehormatan kepada mereka dengan doa yang indah, “Rabbighfirli wa li walidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira.

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tiada pengetahuan bagimu terhadapnya, maka janganlah kau taati keduanya. Dan persahabatilah mereka berdua di dunia dengan baik. Dan ikutilah jalan orang yang kembali bertaubat kepadaKu, kemudian hanya kepadaKulah tempat pulang kalian, maka akan Kuberitakan pada kalian apa-apa yang telah kalian kerjakan.” (QS Luqman [31]: 15)

Allah memberikan batas yang jelas tentang bakti kepada orangtua, yakni lagi-lagi tauhid itu sendiri. Tidak ada ketaatan kepada makhluq, siapapun dia, semulia apapun dia, dalam rangka bermaksiat kepada Al Khaliq. Tapi berbedanya keyakinan orangtua yang masih musyrik dengan kita yang mengesakan Allah sama sekali tak menggugurkan perlakuan yang patut dan sikap bakti yang terpuji terhadap mereka.

Jalan untuk menjadi orangtua yang mampu mendidik anaknya juga hendaknya mengikuti jalan orang-orang yang bertaubat nashuha. Sebab tak ada yang suci dari dosa selain Sang Nabi, maka sebaik-baik insan adalah yang menyesali salah, memohon ampun atasnya, memohon maaf kepada sesama, serta berbenah memperbaiki diri. Pun demikian terhadap anak-anak kita.

Banyakkan istighfar atas ucapan dan perlakuan kepada putra-putri kita. Jangan malu mengakui kekhilafan dan meminta maaf kepada mereka. Teruslah memperbaiki diri dengan ilmu dan pemahaman utuh bagaimana seharusnya menjadi seorang Ayah dan Ibu yang amanah. Sebab kelak, ketika seluruh ‘amal kita kembali tertampak, Allah pasti menanyakan segenap nikmat yang telah kita kecap, dan meminta pertanggungjawaban atas segala perbuatan. Pada hari itu, seorang anak yang tak dipenuhi hak-haknya oleh orangtua untuk mendapatkan ibunda yang baik, lingkungan yang baik, nama yang baik, serta pengajaran adab yang baik; berwenang untuk menggugat mereka.

“Duhai anakku tersayang, sungguh seandainya ada sesuatu yang seberat timbangan biji sawi tersembunyi di dalam sebuah batu, atau di lapis-lapis langit, atau di petala bumi; niscaya Allah akan mendatangkan balasannya. Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Tahu.” (QS Luqman [31]: 16)

Luqman melanjutkan pengajarannya dengan menjelaskan hakikat ‘amal baik dan buruk serta dasar dorongan beramal yang sejati. Ini dilakukannya sebelum memberi perintah tentang ‘amal shalih di kalimat berikutnya. Sungguh, menanamkan pada anak-anak kita bahwa Allah senantiasa ada, bersama, melihat, mendengar, mengawasi, dan mencatat perbuatan dan keadaan mereka, jauh lebih penting dibanding perintah ‘amal itu sendiri.

Sungguh memahamkan pada anak bahwa Allah-lah yang senantiasa hadir di setiap ‘amal maupun hal, bahwa Dia Maha Mengetahui segala yang tampak maupun tersembunyi, yang mereka lakukan kala ramai bersama maupun sunyi sendiri, adalah dasar terpenting sebelum memerintahkan kebajikan dan melarang dari kemunkaran. Dan bahwa Allah akan membalas semua itu dengan balasan yang setimpal dan sempurna.

Penting bagi kita untuk mengatakan pada mereka, “Nak, Ayah dan Ibu tak selalu bias bersamamu dan mengawasimu, tapi Allah senantiasa dekat dan mencatat perbuatanmu. Dia Maha Melihat dan Maha Mendengar. Jangan takut kalau kamu berlaku benar dan berbuat baik, sebab Dia akan selalu menolongmu. Jangan khawatir ketika kamu berlaku benar dan berbuat baik, sebab sekecil apapun ‘amal shalihmu, meski Ayah dan Ibu serta Gurumu tak tahu, tak dapat memuji maupun memberikan hadiah padamu; tetapi Allah selalu hadir dan balasan ganjaran dari Allah jauh lebih baik dari segala hal yang dapat diberikan oleh Ayah dan Ibu.”

“Demikian pula Nak, jika kamu berbuat keburukan atau berbohong, sekecil apapun itu, meski Ayah, Ibu, maupun Ustadzmu tak menyadarinya, sungguh Allah pasti tahu. Dialah Dzat yang tiada satu halpun lepas dari pengetahuan dan kuasaNya, hatta daun yang jatuh dan langkah seekor semut di malam gulita. Dan Allah juga pasti memberi balasan yang adil pada setiap kedurhakaan padaNya, juga atas keburukan yang kamu lakukan pada Ayah, Ibu, dan sesama manusia lainnya.”

Inilah dia pokok-pokok pengajaran; dari sejak rasa syukur, tauhid, bakti kepada orangtua, taubat, hingga pemahaman akan hakikat ‘amal di hadapan Allah. Ianya harus menjadi perhatian setiap orangtua bahkan sebelum memerintahkan ‘amal terpenting di hidup anak-anak mereka yang akan dihisab pertama kalinya, yakni shalat. Kini kita tepekur menganggukkan kepala, mengapa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberi arahan agar kita memerintahkan shalat kepada anak barulah ketika dia berumur tujuh, dan barulah orangtua diizinkan memberi pukulan yang tidak menyakitkan dan tidak menghinakan pada umur sepuluh tahun ketika anaknya menolak shalat.

Sebab sebelum tujuh tahun, ada hal-hal jauh lebih besar yang harus lebih didahulukan untuk ditanamkan padanya.

“Duhai anakku tersayang, tegakkanlah shalat, perintahkanlah yang ma’ruf, cegahlah dari yang munkar, dan bersabarlah atas apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara-perkara yang ditekankan.” (QS Luqman [31]: 17)

“Dirikanlah shalat dengan menegakkan batas-batasnya”, tulis Imam Ibn Katsir dalam Tafsirnya, “Menunaikan fardhu-fardhunya, serta menjaga waktu-waktunya.” Shalat yang mencegah perbuatan keji dan munkar pada diri selayaknya diikuti tindakan untuk mengajak dan menjaga manusia supaya tetap berada di dalam kebaikan dan terjauhkan dari keburukan. Shalat yang kita ajarkan pada anak-anak kita sudah selayaknya membentuk jiwa dakwah yang tangguh pada dirinya, hingga dia mampu bersabar atas segala yang menimpanya di dalam beriman, berislam, berihsan, berilmu, dan berdakwah.

“Dan janganlah engkau memalingkan muka dari manusia serta jangan berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah engkau dalam berjalan, serta tahanlah sebagian suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.” (QS Luqman [31]: 18-19)

Kata “Ash Sha’r”, menurut Imam Ath Thabari asalnya bermakna penyakit yang menimpa tengkuk seekor unta sehingga kepala dan punuknya melekat dengan wajah yang terangkat ke atas lagi bergerak ke kiri dan ke kanan di kala berjalan. Luqman melarang putranya dari mengangkat wajah dan memalingkan muka semacam itu dengan rasa sombong yang berjangkit di hati.

Inilah buah dari iman, ilmu, ‘amal, dan dakwah dari seorang putra yang dididik oleh ayahnya. Ialah akhlaq yang indah kepada sesama, berpangkal dari lenyapnya rasa angkuh dalam dada sebab mengenal dirinya dan merundukkan diri karena tahu bahwa dia hanya salah satu makhluq Allah yang memiliki banyak kelemahan serta kesalahan. Inilah akhlaq itu, yakni saripati yang manis, harum, dan lembut dari buah pohon yang akarnya kokoh menghunjam, batangnya tegak menjulang, dan cecabangnya rimbun menggapai langit.

Dan akhirnya, akhlaq itu disuguhkan dalam tampilan yang paling menawan berupa terjaganya Adab dengan cara berjalan yang sopan dan patut serta cara bicara yang lembut dan santun. Inilah pengajaran sempurna dari Luqman kepada putranya, digenapi dengan panduan mengejawantahkan akhlaq menjadi adab. Akhlaq adalah nilai kokoh yang menetap dalam jiwa. Adab mengenal zaman dan tempat yang bertepatan baginya.

Inilah bersusun-susun rasa surga di serumah keluarga, teladan dari Luqman dalam mewariskan nilai-nilai kebajikan pada anaknya, di lapis-lapis keberkahan yang penuh cinta.

sepenuh cinta,

-salim a. fillah-

Yang tak Berubah

Ada hal-hal yang tak berubah seiring menuanya usia bumi. Ia tetap bertahan dalam posisinya. Terkadang siklus kehidupan mengikis dimensi fisiknya namun secara makna ia rigid. Jauh lebih stabil daripada artis yang suka lepas-pasang jilbab. Idul fitri kemarin menjadi saksi bagaimana ‘kekekalan’ tersebut  berlaku. Bukan hanya termodinamika saja yang boleh memiliki hukum kekekalan. Beberapa hal ini juga ‘kekal’ setidaknya buat gue.

Selfie of the year

20140802_125424Dari tahun 2003, kekonyolan yang dibalut dengan rasa persahabatan yang lebih kental daripada kuah mie sedap kari ayam selalu menyelimuti pertemuan bersama teman-teman sekolah menengah atas. Katanya sih persahabatan tak mengenal usia. Tak perduli seberapa cepat waktu bergulir, segala kegilaan bersama sohib SMA adalah salah satu momen yang mengabadi. Bayangkan saja mulai dari hari-hari yang diisi wajah culun berseragam abu hingga sebagian sudah menikah dan membawa bayi, tingkah laku manusia-manusia pada gambar di atas tak berubah. Yang jayus tetap jayus. Yang heboh masih sama. Ya, karena bagi kami usia hanyalah angka angka yang berderet. Bertambahnya usia tak mengubah perilaku sosok yang pernah hadir setiap senin-jumat selama 3 tahun.

Selain momen bersama sahabat, kehangatan berkumpul bersama keluarga juga tak pernah berubah. Setiap tahun berkumpul bersama keluarga dalam momen idul fitri menjadi energi tersendiri untuk menapaktilasi kisah masa kecil, melihat tumbuh kembang keponakan dan canda-tawa renyah bersama ibu dan kakak-kakak diselingi tangis dan riuh rendah bocah-bocah yang bersautan.

Tahun ini kami tak bersama dengan ayah. Beliau selaku kepala keluarga yang senantiasa memimpin ‘seremoni’ idul fitri setiap tahunnya harus menghadap Allah terlebih dahulu. Kehadiran istri saya dalam keluarga besar kami semoga menjadi pelipur lara untuk menutupi kehilangan sosok sang jagoan pertama.

20140801_16141820140801_163640Keluarga dan sahabat adalah dua faktor yang menjadi magnet untuk selalu ingin kembali ke kampung halaman. Kehadiran mereka menjadi hawa dingin untuk menyejukkan teriknya Kota Palembang. Alhamdulillah gue ga butuh adem sari kalo begini.

Satu hal lagi yang tak berubah selama idul fitri adalah THR. Ssst.. Suka tidak suka, sadar tidak sadar, para kurcaci itu akan menghantui lo dengan todongan dan rengekan

‘Om, THRnya mana?’