Surat Terbuka untuk Anakku

Dear Anakku..

Sengaja ayah tuliskan sebuah surat terbuka untukmu karena fenomena ini sedang menjadi trend di Indonesia. Rasa-rasanya hampir setiap hari ayah melihat surat dengan label ‘terbuka’ berseliweran di media sosial. Beragam kalangan sudah mencoba mulai dari artis hingga pemain bola, dari para pemuka agama hingga rakyat biasa. Semua orang merasa berhak untuk menuangkan kekesalan, sumpah serapah dan opini dalam goresan-goresan tulisan yang dialamatkan pada suatu pihak namun ‘memaksa’ semua orang untuk membacanya. Isinya bermacam-macam nak. Ada yang berisi permohonan maaf, pendapat tentang pemimpin hingga sebuah harapan seperti apa yang sedang ayah lakukan.

Awalnya ayah ingin membuat surat kaleng. Tapi gagal. Karena pengirim surat ini sudah jelas ayahmu sendiri. Terbersit niatan mengirim surat tertutup lewat merpati tapi ia tengah merugi. Info terakhir merpati hampir saja dipensiunkan oleh Dahlan Iskan. Sedih ya nak :(.

Nak, saat ayah menulis surat ini kau masih berada dalam kandungan ibumu dengan usia lebih kurang tiga bulan. Bahkan jenis kelaminmu pun kami belum tahu. Kami adalah calon ibu-ayah muda yang pertama kali mengalami proses menanti kelahiran sang buah hati. Iya, kelahiran engkau yang kini kami harap-harapkan.

Betapa bahagianya kami ketika mengetahui engkau diam-diam sudah menjadi calon anggota keluarga baru. Lebih bahagia daripada ketemu coboy junior *plak*. Ayah seketika koprol sambil sujud syukur. Dokter yang meyakinkan kami. Ia berucap bahwa usia kandungan ibumu baru 4 minggu sementara ukuranmu hanya beberapa centimeter, tak lebih besar daripada biji apel.

Nak, tahukah engkau, kami menyadari keberadaanmu sepulang bulan madu ke selatan Pulau Sumatera. Itu pun modal tiket gratis dari temen-temen ayah. Bukannya ayah tidak mampu untuk berbulan madu ke tempat yang lebih jauh tapi bukankah lebih baik uangnya digunakan untuk bekal pendidikanmu nanti. Ayah memang jagonya ngeles, nak.

Nak, kelak kau harus bulan madu ke tempat yang lebih jauh. Kau mungkin bisa pergi ke Gaza. Saat ayah menulis surat ini, Gaza tengah berduka. Ratusan roket terbang lalu-lalang di atas langitnya. Negeri para mujahid berjuang dengan segenap air mata dan darah. Gaza, bisa jadi pilihanmu karena bulan madu tak melulu tentang menghabiskan malam-malam pertama nan indah dalam kamar yang dihiasi aroma bunga. Kau bisa menjadi relawan yang mengirimkan bantuan dan istrimu yang merawat para balita malang yang tercabik tubuh dan hatinya.

Nak, memang saat ini engkau belum mengerti apa maksud tulisan ini. Ayah pun sama. Tapi ada satu hal penting yang ingin ayah sampaikan padamu di tiap tumbuh kembang engkau di dalam rahim istriku yang kelak akan kau panggil ‘ibu’. Ayah menyaksikan sendiri bagaimana susahnya menjadi seorang wanita hamil. Sejak menyadari ada jiwa yang hidup di dalam tubuhnya, ibumu semakin menjaga apa yang ia konsumsi. Semua makanan ia seleksi. Tak ada lalapan, obat-obatan, bahkan ibumu sengaja tidak mengkonsumsi ekstrak kulit manggis. Padahal itu adalah sebuah kabar gembira. Semuanya dilakukan demi kesehatanmu, nak. Kami ingin engkau terlahir menjadi anak yang sehat, utuh sebagai manusia normal tanpa kekurangan satu apa pun. Selama kehamilan ibumu, ayah pun tak mengkonsumsi jengkol, pete, dan turunannya. Bukan karena takut terjadi apa-apa denganmu tapi karena memang ayah tak pernah suka makanan tersebut.

Kami menyadari bahwa tumbuh kembangmu tidak melulu mengenai aspek fisik. Karenanya kami semakin meningkatkan ibadah. Terucap harap dalam doa, semoga kelak kau akan menjadi anak yang soleh jika cowo, solehah jika cewek. Di Zaman sekarang jenis kelamin sering menjadi bias, nak. Semakin banyak cowo yang ‘sholehah’.

Dalam doa kami juga berharap kelak engkau menjadi salah seorang penghafal quran yang baik sejak usia mudamu seperti Musa peserta hafiz cilik dengan lantunan lagu syaikh rasyid yang membawakan Al Ghamidi dan Syaikh Sudais. Kami berharap padamu nak jika kelak kami pun lalai dalam menghapal kalam ilahi. Hapalanmu itulah yang nantinya akan memberi kami kesempatan bertahtakan mahkota saat kita berkumpul di syurga.

Jangan kau kira kami tak mendoakan engkau setampan Yusuf, segagah Umar, secerdas Ali. Ketampanan fisik itu perlu, tapi kau tetep harus jadi manusia. Karena banyak juga yang ganteng-ganteng serigala :D.

Ibumu tiap hari muntah, bukan karena melihat wajah ayah, tapi memang perubahan hormon yang tengah bekerja. Ditambah lagi maag yang diderita. Betapa pilu ketika melihat penderitaan seorang ibu yang mengandung. Ia lemah, tidak bisa beraktifitas seperti biasa. Lebih mengakrabi kamar dan kasur karena lelah yang didera. Setiap saat ia kelaparan karena asupan nutrisinya harus dibagi denganmu, nak.

Nak, kau harus berbakti. Ayah dulu tak pernah menyadari betapa sulitnya menjadi seorang ibu. Belum lagi jika engkau sudah menemui dunia dan menjadi bagiannya.

Di tengah kehamilannya, Ibumu memaksa diri untuk ikut berpuasa. Padahal ia tahu hal itu akan sangat melelahkan. Dalam lelah ia masih menyiapkan menu berbuka untuk ayah. Kau tak akan menemukan romantisme ini dalam kisah Romeo-Juliet sebab mereka tidak pernah berpuasa ramadhan.

Nak, ayah dulu bukan orang yang patuh pada orang tua, terutama terhadap ibu. Ayah baru menyadari semua saat menjadi calon orang tua. Ayah menyadari betapa berlemah-lemah ibu, bersusah payah mengandung dan membawa bayi dalam tubuh kemana-mana adalah sebuah cerita yang nyata. Ibu rela mengadu nyawa demi hadirnya engkau. Ayahnya ayah (bingung ya nak bacanya. Ayah juga), mulai sekarang kita sebut dengan ‘kakekmu’, juga mengusahakan sekuat tenaga agar bagaimana ayah dan anak yang lain lahir dengan sehat walafiat.

Jadi nak, jika engkau suatu saat ingin membangkang dan mencoba mengeluarkan sumpah serapah, ingatlah bahwa ada darah dan air mata dalam proses keberadaanmu ke dunia.

Nak, saat kau membaca surat ini. mungkin kau sudah besar, sudah bisa mengeja satu per satu huruf yang tersambung menjadi kata lalu kau rangkai menjadi kalimat dalam paragraf-paragraf. Kelak ketika kau dewasa, kau harus menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Manfaat itu dapat dituai jika engkau berbunga. Pupuklah dirimu dengan ilmu. Jika ada masalah ceritakan pada ayah dan ibu. Bukan pada Dewi Sandra, nak. Kecuali saat itu kau sudah menulis catatan hati seorang istri. Tapi kalo nantinya kau adalah pria, jangan coba-coba, nak.

Jika kelak engkau terlahir sebagai seorang pria maka kau harus memiliki kepribadian tangguh. Lahirlah sebagai pria yang kokoh bak Umar I dan sezuhud Umar II dengan lisan Amr bin Ash dan keshalihan para salafus salih. Jika engkau terlahir sebagai seorang wanita, kau boleh memiliki rupa berparas Atikah namun jangan kau lupa untuk menjaga ‘izzah’ seorang wanita laksana Sumayyah. Saat kau hadir dengan keceriaan, hiduplah seperti Aisyah. Namun jangan kau ikuti rasa cemburunya yang membuncah.

Berpegang teguhlah pada jalan Allah, nak. Kau boleh jadi apapun saat kau dewasa asal selalu ingat bahwa engkau adalah da’i/da’iyah sebelum segala sesuatunya. Kehidupanmu ke depan akan lebih berat daripada apa yang ayah alami saat ini.

Sampai di sini saja nak surat terbuka ayah padamu. Maaf jika ayah tidak menulis surat ini dengan serius. Jika serius langsung temui ortu aku aja. Semoga kamu nantinya memahami bahwa ayah hanya ingin engkau menjadi anak yang sehat walafiat dan soleh/solehah. Tetep semangat ya nak biar kita bisa kongkow di tempat biasa. Salam peace, love and gaul.

Wassalamualaikum wr wb

Dari calon ayah di tengah tiga bulan kehamilan sang istri. Sehat-sehat terus ya yang dan dede yang ada di kandungan ummi :). Ditulis tepat tiga bulan selepas hari pernikahan kami. 

Generasi Qurani

generasi quraniSejarah mencatat bahwa pada usia 7 tahun, seorang Imam Syafii telah menghafal 30 juz Al-Quran. Kegemilangannya berlanjut dengan menghafal kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik yang diperkirakakan mampu dihapal hanya dalam waktu 9 Malam. Kisah kecerdasan Muhammad bin Idris sudah sangat sering kita terdengar. Bahkan dalam riwayat lain disebutkan bahwa Syafii muda telah menjadi guru bagi banyak orang.

Dalam Kitab Fathul Majid karya Syeikh Muhammad Nawawi pun tercerita tentang seorang anak yang tak kalah hebat. Alkisah hiduplah seorang ulama sombong bernama Dahriyyah. Ia dikaruniai kemampuan lisan yang cakap untuk berdebat hingga tak seorangpun yang sanggup membantah. Keunggulan ini lantas menjadikan ia jumawa bahkan menghilangkan hakikat tuhan dalam kehidupannya. Singkat cerita, seorang anak berusia 7 tahun lantas mengajak Dahriyyah beradu argumen. Atas izin Allah, Imam Abu Hanifah kecil menghinakan Dahriyyah dengan kecakapan lidahnya.

Selama bulan ramadhan tahun ini, salah satu stasiun televisi swasta secara kontinu menayangkan acara bertajuk “Hafiz Cilik Indonesia”. Ia bak oase di tengah gersangnya tayangan yang berasas kebermanfaatan. Tidak mudah tegak berdiri dari gempuran sekian ratus acara yang hanya berisi guyonan, umbar syahwat dan kesia-siaan semata. Hafiz Cilik Indonesia berhasil mencuri perhatian pemirsa televisi yang peduli pada nilai dan keberkahan ramadhan.

Seperti judulnya, Hafiz Cilik Indonesia berupa tayangan anak-anak usia belia yang memamerkan kemampuan dalam menghafal kalamullah. Kita akan terkagum-kagum menyaksikan kekuatan hafalan mereka ketika murojaah, pun tak ketinggalan tajwid mereka terlatih dengan baik.

Dalam beberapa episode, gue tercekat ketika melihat seorang anak bernama Musa yang berusia 5 tahun lebih enam bulan mampu menghafal 29 juz. Subhanallah. Awalnya sang anak ditertawakan seisi ruangan ketika ia, sambil memamerkan gigi ompongnya, berkata bahwa hafalannya sudah 29 juz. Tapi semua terdiam saat sang ayah mengiyakan ucapan Musa. Penonton lalu larut dalam tangis tersedu dan terharu ketika menyaksikan dengan penuh takjub saat Musa berhasil dengan baik menyambung semua ayat-ayat yang ditanyakan oleh para juri bahkan oleh penonton.

Musa, ayahnya berujar, mampu menghafal 5 halaman per harinya. Kemampuan yang luar biasa karena menurut Syeikh Ali Jaber, salah seorang juri yang juga menjadi imam di salah satu kota di madinah, rata-rata kemampuan maksimal penghafal Al Quran di madinah saat dia tengah menempuh pendidikan hanya 1 halaman. Tak pelak, kedahsyatan seorang Musa membuat hati terenyuh dan kagum.

Masih menurut sang ayah, Musa terbiasa setiap harinya bangun jam setengah tiga pagi dan melakukan murojaah 8 jam per hari. Ia juga dijauhkan dari lingkungan yang kurang baik dan juga tontonan yang tidak bermanfaat. Musa lebih menyukai video Muhammad Thoha, Syaikh bin Baaz, nama-nama yang mungkin masih asing di telinga kita, ketimbang menyaksikan Spiderman, ipin-Upin dan Power ranger.

Beda Musa beda lagi dengan Rasyid, peserta asal Pekanbaru. Rasyid mampu membacakan Alquran dengan ‘lagu’ Imam Makkah, Syaikh Sudais dan Imam Madinah, Al Ghomidi. Selain itu, Rasyid secara otodidak menguasai bahasa arab baik lisan maupun tulisan. Menurut penuturan sang ibu, sejak usia 6 bulan rasyid sudah lantang berucap ‘Allah’. Untuk semua keluarbiasaannya, Syeikh Ali Jaber bahkan tak segan menyematkan ‘syaikh’ di depan namanya, dan meminta sang ibu memanggil Rasyid dengan ‘Syaikh Rasyid’.

Masih banyak lagi hafiz-hafiz cilik yang membuat kita takjub. Ada anak yatim, ada yang tuna netra, belum lagi sosok Muhammad Alvin, salah seorang juri yang masih berusia 10 tahun namun sudah mampu menghafal 17 Juz Alquran beserta artinya. Dan masih banyak keajaiban lainnya. Benarlah kiranya ketika Allah berfirman dalam Surat Al Qomar bahwa Ia telah memudahkan Al Quran untuk dapat dipelajari dan dipahami.

Acara semacam inilah yang sebenernya kita perlukan di tengah gempuran hegemoni hedonisme dan kapitalisme yang mengeruk iman dan adab bangsa Indonesia terutama generasi muda. Kita ingin anak-anak Indonesia hari ini lahir dengan lantunan merdu surat Ar-Rahman Syaikh Misairy sehingga mereka tumbuh menjadi generasi qurani. Generasi yang senantiasa dekat dengan Al quran dan menjadikannya sebagai pedoman kehidupan. Generasi yang diharapkan oleh ummat. Bukan generasi yang telah terceruk imannya, terjual akidahnya, terbuang fikrahnya oleh semua liberalisasi, semiotika, bahkan hermeunetika.

‘Mereka inilah, yang sangat mungkin membuat Indonesia dalam Rahmat-Nya” ujar syeikh Ali Jaber kepada anak-anak peserta Hafiz Cilik Indonesia.

Shalahudin Al Ayyubi, Muhammad Al Fatih, Hasan Al-Banna adalah para revolusioner yang berawal dengan mengakrabi Al-Quran. Tinta Emas agama ini selalu ditorehkan oleh para generasi qurani. Bukan generasi manja yang menangis saat mendengar lagu cinta.

Masa anak-anak memang fasa emas untuk tumbuh kembang dan pola pikir manusia. Sedari dini memang seharusnya seorang anak dibiasakan untuk berinteraksi dengan al quran dan ditanamkan nilai-nilai islami hingga mereka tumbuh menjadi generasi Qurani. Maka, peran orang tualah yang dominan dalam memfasilitasi anak untuk terus berkhalwat dengan kitab terbaik sepanjang zaman.

Sumber Gambar dari sini

Apa Kabarmu Ayah?

s3599 02Pertengahan tahun 2014. Tidak terasa, hampir separuh tahun sudah berjalan. Banyak yang terjadi dalam hidup gue sejak Janus, dewa bermuka dua, muncul di awal tahun ini. Seperti kelaziman dalam hidup, selalu ada yang datang namun selalu jua ada yang pergi. Hidup ini selalu berupa keseimbangan.

Awal tahun, gue kehilangan sosok Ayah. Sosok jagoan pertama dalam hidup gue. Ia menghembuskan nafas terakhir bada solat subuh, 21 Januari 2014. Tidak ada sakit yang mendahului. Bahkan sebelum wafatnya, Ia menyelesaikan amanah-amanah yang masih tertunda. Rabb, betapa Engkau memberikan pertanda bahwa ada pekerjaan yang belum terselesaikan. Dan Engkau membimbingnya untuk menutup apa yang masih terbuka sebelum jiwa terpisah dari raga.

Apa kabar, Ayah?

Masih terngiang di ingatan saat engkau sanggup memikul beban walau ia di luar batasan. Kau senantiasa tersenyum dalam setiap derita. Kau selalu membantu meskipun kau butuh. Ayah, tak pernah keluhmu mewarnai hari. Tak gagah tubuhmu ketika dipandang. Tak banyak uangmu jika dijumlahkan. Namun bukan itu yang selalu kau ajarkan.

Kau, dalam diammu, dalam tawamu, dalam senyummu selalu mengajarkan kami bahwa berbuat baiklah pada setiap orang, jalin silaturahim karena itulah kunci sebuah kebahagiaan. Mungkin kau tak pandai merangkai kata, atau berdansa dalam tulisan indah. Namun mata ini menjadi saksi bahwa setiap gerakmu adalah wujud dari katamu.

Apa kabar, Ayah?

Kehilanganmu masih meninggalkan sesak di dada. Belum lama engkau berpulang, keluarga baru pun datang. Ia adalah sosok gadis asli Sunda. Walau kami berasal dari fakultas di kampus yang sama, kami tak pernah mengenal satu sama lain. Hanya tahu sebatas nama. Tapi Allah lah yang menuntun langkah kami, yah. Dan 18 April 2014 menjadi hari sakral itu. Saat aku berjanji di depan wali untuk membersamainya dalam setiap langkah dan ucap. Momen ini lah yang sebelumnya engkau idam idamkan. Melihatku bersanding di pelaminan. Maaf ayah, ia tak terwujud ketika engkau masih ada.

Bukan, kedatangan keluarga baru bukan untuk menggantikan posisimu di hati kami. Ayah tetap ayah terhebat yang pernah ada.

Apa kabar, Ayah?

Mungkin engkau tak bisa melihat anggota baru keluarga kita. Namun kelak akan kuceritakan pada jagoan kecilku bahwa mereka mempunyai datuk, begitulah biasanya cucu yang lain memanggilmu, yang sangat hebat. Yang mampu mendidik ketujuh anaknya dalam kondisi serba minus.

Iya ayah, ramadhan kali ini kami akan tanpamu. Kami harus membiasakan diri. Selama ini engkau yang senantiasa memimpin buka puasa bersama. Engkau jua yang paling bersemangat menyiapkan menu ifthar untuk dibagikan kepada tetangga.

Ayah, apa kabarmu?

Semoga engkau tenang di alam sana. Dengan segala kebaikan dan kelapangan. Tak putus, doa selalu kami panjatkan.

-Bintaro, 29 Juni 2014-

Belitung, Je t’Aime (Part 1)

 

IMG-20131026-WA0007

Jatuh cinta berjuta rasanya. Biar siang biar malam terbayang wajahnya.
Jatuh cinta berjuta indahnya. Biar hitam biar putih manislah nampaknya.

Puluhan tahun lalu Titiek Puspa menyanyikan lagu ini hingga membuai setiap telinga untuk larut mendengarkan. Lagu yang mengabadi, menyusuri lorong-lorong waktu hingga tiba di saat facebook, twitter dan path menjamur. Kini, soundtrack yang sama terngiang di otak gue, mengalun-alun merdu sambil sesekali Jangan Cintai Aku Apa Adanya milik tulus mengintersep playlist yang terputar secara acak di playlist winamp.

Jangan cintai aku apa adanya, jangan…
Tuntutlah sesuatu, biar kita jalan ke depan.

 

Tulus memilih kekuatan lirik dalam setiap tembang yang diresonansikan. Perpaduan dua lagu beda generasi tengah menggambarkan situasi hati gue. Begini katanya ketika orang sedang jatuh cinta. Hati yang sentiasa beroma. Jantung yang lebih cepat memompa hingga otak pun berhenti bekerja.

“Brain is most awesome organ. They work 24 hours a day and 365 days in 1 year. From birth until… You fall in love”.

And this is what’s happening to meI am truly falling in love.

20140531_061222

Klise? Pasti. Norak? Iya. Karena menurut temen gue, saat kalian jatuh cinta adalah saat dimana rasa malu, norak, aneh tidak lagi menjadi hal penting yang kalian perdulikan. Kalian akan mensintesa sebuah negasi yang memberikan ‘pembenaran’ atas semua kelakuan di luar kenormalan. Atau kalian mungkin bisa meng-kambinghitam-kan, katakanlah, semua dopamin, oksitosin, serotonin, norepinefrin yang disekresikan saat kalian jatuh cinta.

Dan gue sedang jatuh cinta. Setiap hari. Pada orang yang namanya tersebut dalam janji di depan saksi. Dan gue mau bercerita, ber-absurd ria. Namun gue berusaha konsisten. Setidak normal apapun, gue tidak akan pernah dengan sadar bermesraan, berucap hal-hal romantis nan menjengkelkan di media sosial yang bisa dengan mudahnya diakses. Kongruen dengan apa yang gue tulis sebelumnya.

*****

Waktu berlalu tanpa bisa diajak kompromi. Sebulan setelah pernikahan, fase-fase yang (katanya) paling membahagiakan dari semua penggalan penggalan cerita sebuah bahtera yang bernama rumah tangga, terasa berlalu begitu saja. Tibalah kami di penghujung Mei. Beberapa tanggal dengan corak warna merah menghiasi tanggalan. Terjadwal gue dan istri akan berkunjung ke negerinya Ikal, Arai dan para Rainbow troops lainnya. Kami akan menghabiskan 3 hari di Belitung untuk mengecat batu raksasa yang ada di pantai tanjung tinggi.

“Seriously?” 

Tentu tidak. Belitung menjadi destinasi honeymoon gue bareng istri yang tiket keberangkatan dan sebagian keperluan diakomodasi oleh rekan-rekan yang tidak bisa gue sebutkan satu per satu. Mulai dari Paijo, Parno, Markonah, umm.. Siapa lagi ya?.

“Siapa, Egi?”

“Eki?”

“Hah Edi?”

“C, om. Charlie!”

 “Oh Charlie, kok suaranya mirip cewe?” *Mati berdiri*

Sebelum terbang, kami sudah membuat rencana perjalanan dengan sangat detail. Hari pertama ke Belitung timur, Hari kedua dan ketiga ke Belitung Barat. Done. Detail sekali, bukan? :D.

20140528_054858Kami menumpang Pesawat Citilink dengan keberangkatan paling pagi, bahkan sebelum ayam terbangun dari tidurnya yang tak nyenyak. Ternyata ada hal unik yang kami temukan selama keberangkatan. Announcer maskapai menyapa penumpang dengan pantun sebagai warisan kebudayaan melayu. Untungnya pantun tersebut tidak berbalas. Gue takut pesawat yang kami gunakan sebenarnya sudah disewa untuk acara lamar-lamaran. Huft.

Satu jam perjalanan, kami tiba di bandara H. AS. Hanandjoeddin.

20140528_071031

Bandaranya imut

Setibanya di Bandara, kami menggunakan travel menuju Belitung Timur. Jalanan yang diaspal rapih dan lengang membuat perjalanan menuju bandara hanya ditempuh dalam 2 jam. Betapa kontradiktif dengan kemacetan yang ada di ibukota.

Kami menginap di sebuah penginapan hasil rekomendasi pengemudi travel. Ia juga berujar bahwa warga yang tinggal di Belitung terkenal jujur. Bahkan motor yang terparkir di depan rumah dengan kunci masih menggantung, dijamin akan aman.

Gue lalu meminjam motor untuk menelusuri Belitung timur, mengunjungi berbagai tempat khas Manggar mulai dari rumah kata Andrea Hirata, SD Muhammadiyah Laskar Pelangi dan Pantai Serdang. Dan ternyata memang benar. Penduduk di Manggar benar-benar ramah dan jauh dari kriminalitas. Di beberapa tempat gue melihat motor-motor dengan kunci yang masih bertengger manis di slotnya

Rumah Kata

Museum Kata

Museum Kata

Destinasi pertama kami setibanya di Manggar, Belitung timur, adalah Rumah Kata milik Andrea Hirata. Rumah kata bisa dikatakan sebagai museum tentang sekelumit hal seputar Laskar Pelangi yang fenomenal. Di dalamnya kita bisa menemukan cuplikan foto dari film Laskar Pelangi, quote-quote Andrea Hirata hingga koleksi buku Laskar pelangi dalam berbagai bahasa mulai dari Korea, Cina, Spanyol dan banyak lagi. Menurut penjelasan salah seorang penanggung jawab rumah tersebut, Laskar Pelangi sudah diterjemahkan ke lebih dari 10 bahasa di lebih 30 negara. Sebuah prestasi yang luar biasa dari seorang anak Indonesia yang lahir dan besar di sebuah kampung kecil di selatan Pulau Sumatera.

Semangat yang ingin ditularkan oleh Andrea Hirata sepertinya berhasil ditransmisikan hingga setiap orang yang singgah ke tempat ini dapat merasakan aura inspirasi. 

IMG_0114

Ruang depan rumah berisi banyak sekali kata-kata yang menginspirasi

IMG_0116Menengok ke luar jendela, kita akan mendapati selasar yang digunakan sebagai tempat belajar, berkreasi, berbagi, dan bercerita agar setiap anak, siapapun ia, tak pernah berhenti bermimpi. Karena mimpi adalah langkah awal untuk memulai langkah besar lainnya.

20140528_134411

Buku Laskar Pelangi dalam berbagai bahasa

20140528_134457

Ruang Tengah

Rumah ini terbagi menjadi beberapa ruangan meliputi ruang depan, ruang tengah dan ruang belakang. Ruang depan menjadi tempat registrasi bagi para pengunjung. Sementara di ruang tengah kita bisa menemukan kesederhanaan, ketenangan berbaur bersama teriknya matahari. Di dalam kamar-kamar yang terdapat di ruang tengah inilah kita bisa menemukan galeri foto adegan film Laskar Pelangi.

20140528_133643

20140528_133622

Galeri Foto yang diambil dari film Laskar Pelangi

Di ruang belakang bangunan terdapat sebuah warung kopi tradisional. Kaget kenapa ada warung kopi di sini? Sama. Gue juga kaget. Kopi manggar memang terkenal. Apapun alasan warung kopi berdiam di ruang belakang Rumah Kata, kalian tetap harus mencoba aroma dan nikmatnya kopi khas Belitung timur.

Mari Ngopi

Rumah kata tak pernah sepi. Saat kami datang berkunjung, tak kurang 5-10 pengunjung lain juga berada di tempat yang sama. Tak ketinggalan jurnalis melakukan wawancara dengan pengelola.

Rumah kata menjadi tempat yang sangat baik untuk menggali inspirasi. Buat gue dan istri, rumah kata menyajikan pengharapan, mimpi-mimpi yang jadi kenyataan, serta semua perjuangan. Nilai-nilai inilah yang nanti akan kami wariskan kepada anak-cucu kelak.

Replika SD Muhammadiyah

This slideshow requires JavaScript.

Bagi kalian yang berinteraksi dengan Andrea Hirata melalui bukunya Laskar Pelangi, atau melalui filmnya, SD Muhammadiyah sangat lekat dengan imajinasi. Di tempat inilah para laskar pelangi menempuh pendidikan sekolah dasar. Ia tak berupa Hogwarts dengan Griffindor dan Slyterin yang megah dan sakti mandraguna walau hanya dalam imajinasi belaka. Di SD Muhammadiyah, kita tidak akan menyaksikan sebuah fiksi. Di sini kita mendapati kisah nyata perjuangan heroik Bu Muslimah yang sekuat tenaga mendidik siswa yang jumlahnya tak sampai sepuluh.

Papan tulis serta bangku nan lusuh menghiasi sekolah yang terdiri dari dua ruangan dengan sekat dan dinding yang terbuat dari kayu. Tapi gue ga terlalu heran. Gue pernah melihat sekolah dengan kondisi yang lebih memprihatinkan. Dengan semua keprihatinan yang kita saksikan, Mendiknas masih kekeuh menstandardisasi inteligensia siswa dari Sabang hingga Merauke dengan Ujian Nasional meskipun infrastruktur sekolah tidak berimbang antara satu wilayah dan wilayah lain.IMG_0121

Lagi nunjuk apa, neng?

Lagi nunjuk apa, neng?

SD Muhammadiyah yang menjadi objek wisata hanya berupa replika, bukan bangunan asli. Ia direplikasi untuk menjadi saksi sejarah betapa kerja keras dapat menghancurkan semua persepsi-persepsi negatif dan mampu menempa karbon yang rapuh menjadi intan yang keras membaja.

Tak Lupa, kami bernarsis ria. Meninggalkan jejak bersama dinding-dingin yang mulai usang termakan rayap.

Potret perjuangan di SD Muhammadiyah Manggar layak menjadi tamparan bagi sekolah-sekolah parlente. Karena sejatinya prestasi tidak semata diukur dari seberapa bagus kurikulum pendidikan yang kalian punya. Atau seberapa berlimpah dana yang tersedia. Dari sekolah reot inilah, seorang penulis bisa menghasilkan karya yang mendunia.

Pantai Serdang

 

Selamat datang di Pantai Serdang

Selamat datang di Pantai Serdang


Tidak banyak orang yang tahu bahwa Belitung timur memiliki pantai. Memang, pantainya tidak seelok Belitung barat yang megah dengan batu batu raksasa yang menjulang. Pantai serdang mirip dengan pantai pada umumnya. Namun pantai ini lebih teduh dengan banyak pohon pinus di sepanjang bibir pantai. Terdapat beberapa spot yang dibangun untuk memfasilitasi aktifitas fotografi dadakan.

Destinasi tidak selalu menjadi variabel baku tentang indahnya sebuah perjalanan. Karena kata tanya “kemana” kini sudah disubstitusi oleh “dengan siapa”. Maka orang yang membersamai perjalanan kita akan jauh lebih penting daripada tujuan yang akan kita datangi.

Ketika hati sudah bertaut, janji telah tersebut maka kemana pun kaki melangkah akan terasa jauh lebih mudah. Karena akan ada pundak yang senantiasa tegak kokoh untuk bersandar. Ada telinga yang terpasang untuk selalu mendengar. Ada mata yang tak terlelap untuk terus menatap.

Wanita berkerudung merah

Wanita berkerudung merah

20140528_161001
20140528_161243Bukankah dulu Khadijah membersamai Muhammad dalam setiap kesulitan, himpitan, pergolakan. Hingga perempuan agung inilah yang mendapatkan titipan salam dari Allah melalui Jibril. Tak pernah sedikit pun ia mundur dari keyakinannya untuk terus mendampingi Muhammad. Karena ia sadar bahwa ujung dari perjalanan mereka akan berbuah surga.

Dan di Pantai Serdang pun menjadi begitu indah. Tak bisa lagi Pantai Kuta menjadi jumawa. Wanita di sebelah gue hanya bisa tersenyum manis. Memamerkan gigi yang tersekat oleh kawat-kawat. Hatta, lembayung senja pun kalah oleh pancaran keindahan senyumnya.

Dalam khidmatnya kami menatap langit, gue teringat kembali sebuah syair dari Sapardji Joko Pramono, Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana.

 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
kepada hujan yang menjadikannya tiada

 

 Sungguh. Belitung, Je’t Aime…

Akunmu adalah Asetmu

american revolution collage 1Pada suatu petang tanggal 18 April 1775, Paul Revere mendapatkan informasi dari seorang pemuda yang bekerja di sebuah tempat penyewaan kuda di Boston bahwa tentara Inggris akan segera melakukan serangan ke Lexington, barat daya Boston, untuk menangkapi para pimpinan milisia kemerdekaan seperti Samuel Adams dan John Hancock. Paul Revere menanggapinya dengan serius dan kemudian mengajak sahabatnya Joseph Warren untuk menyebarkan informasi tersebut ke seluruh penjuru Boston.

Upaya untuk menyebarluaskan berita serangan Inggris ternyata tidak mudah. Paul Revere dan Joseph Warren harus menaiki feri lalu dilanjutkan dengan perjalanan malam selama dua jam menggunakan kuda menuju Lexington. Di kota-kota yang disinggahi sepanjang perjalanan, mereka mengetuk pintu setiap rumah dan meminta mereka menyebarkan informasi ke semua pejuang kemerdekaan. Berita tersebut kemudian tersebar dengan cepat hingga pada pagi tanggal sembilan belas April, kedatangan tentara Inggris sudah disambut oleh pejuang kemerdekaan Amerika. Tentara inggris kalah telak dan peristiwa ini menjadi awal revolusi Amerika.

Cerita di atas diambil dari bab awal buku Tipping Point karya Malcolm Gladwell. Penulis dalam karyanya mengurai tentang orang-orang yang mempunyai kemampuan untuk menyebarkan berita hingga menjadi viral.

Sehebat dan secepat apapun kemampuan Paul Revere dalam menyebarkan berita, ia tetap terkendala oleh jarak. Jarak tempuh yang dilalui dari Boston menuju Lexington tidak kurang dari 1,487 km. Hebatnya, tidak sampai 24 jam, informasi sudah dapat tersebar di seluruh kota yang dilalui. Padahal peristiwa tersebut terjadi pada akhir abad 18 saat media elektronik dan media sosial belum lahir. Bayangkan jika Paul memiliki akun twitter. Hanya dalam waktu satu menit, informasi serangan inggris dapat tersebar tidak hanya di Amerika bahkan hingga ke seluruh dunia.

“Eh bok bok, Inggris mau nyerang kota kita besok. Tolong infoin ke yang laen ya. Jangan pake lama keleus soalnya serangan inggris bakalan gede gedean bingits”.

Kemajuan teknologi telah memangkas jarak. Dengan segala kemudahan yang ada, kita bisa menjangkau mereka yang dulu sulit dijamah. Informasi dapat tersebar dengan mudah dan cepat. Lebih-lebih keberadaan jejaring sosial semakin melengkapi atribut dalam berkomunikasi. Akun di media sosial kini telah bertransformasi menjadi aset yang sangat berharga.

Anything tangible or intangible that is capable of being owned or controlled to produce value and that is held to have positive economic value is considered an asset (Wikipedia).

Sebagai aset, akun-akun di media sosial dapat dimanfaatkan untuk hal hal positif mulai dari mencari kerja, menemukan kembali orang-orang ‘hilang’ yang pernah ada dalam hidup kita atau bahkan menyampaikan berita agresi seperti yang dilakukan oleh Paul dan Joseph Warren. Namun di sisi lain ia dapat menjadi sebuah pasiva jika kita tidak bijak dalam mengelola. Akun di media sosial juga yang mampu menghilangkan pekerjaan seseorang seperti yang pernah dialami oleh Justin Sacco karena menuliskan kicauan bersifat rasial. Atau yang terjadi pada Benhan yang dipidanakan gegara twitwar yang mengarah pada pencemaran nama baik.

Jika kita berpikir bahwa akun di media sosial merupakan aset maka kita akan menggunakannya dengan hati-hati dan sebijak mungkin. Coba pikirkan dengan baik semua kicauan yang akan diposting. Timbang, apakah dia layak untuk dipublikasikan atau tidak. Apakah ia akan mengkonstruksi sebuah perubahan atau malah berpotensi menjatuhkan.

Mungkin twit-twit atau status kita tidak akan seekstrim itu. Sebagian menggunakan media sosial hanya untuk menghilangkan stress dari kepenatan dan segala hiruk pikuk. Ya tidak masalah sebenarnya. Buat gue pribadi, gue lebih cenderung me-RT atau reshare berita, status, kultwit yang informatif jika dan hanya jika gue sedang tidak ada ide untuk posting sesuatu yang bermanfaat. Tapi sekali-sekali juga perlu meninggalkan status yang tidak terlalu serius biar tidak gampang terserang stroke.

Sebuah status/kicauan dapat tersebar dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya *lebay*. Ia akan bertransformasi menjadi meme atau skrinsut yang kemudian akan beranak pinak di berbagai media sosial mulai dari path, twiter, bbm dan alazakam.. kalian secara mendadak menjadi terkenal. Terkenal dalam konteks positif atau negatif tergantung dengan apa yang ‘diucapkan’.

Mendekati masa pemilihan presiden berulang kali gue melihat meme saling sindir antar capres-cawapres dan para pendukungnya. Media sosial telah menjadi ‘area perang’ antar akun yang mendukung masing-masing capres. Akun jejaring sosial dapat menjadi aset bagi capres A namun justru menjadi liabilitas bagi capres B dan sebaliknya jika dan hanya jika capres-capres tersebut melakukan blunder yang kemudian hari dapat menjadi senjata makan tuan.

Blunder-blunder seperti ini dapat dimanfaatkan oleh lawan politik untuk melakukan negative campaign. Tidak ada yang salah dengan negative campaign karena muatan dalam bentuk kampanye tersebut merupakan kritik moral dan sosial pada masing-masing capres dan pasangannya selama tidak menyinggung isu SARA dan pribadi.

Beberapa meme mengungkapkan tentang kemesraan yang ternoda. Misalkan timses capres A yang dulu mesra dengan Capres B kini malah berbalik memojokkan. Atau yang lebih parah adalah cawapres yang pernah menafikan kemampuan capresnya sendiri saat mereka masih belum bermesraan untuk satu kepentingan.

JK

Coba sedari awal seorang public figure menahan diri untuk tidak mengungkapkan hal-hal negatif tentang orang lain maka mereka tidak akan menahan malu karena menjilat ludahnya sendiri. Kini mereka semua tinggal menikmati serangan dari kubu kompetitor melalui akun media sosial dan media lainnya.

Yah seperti itulah peran media sosial. Akun kita dapat menjadi senjata yang berguna atau malah berbalik menjadi bumerang yang melukai. Hati-hati dengan twit dan statusmu saat ini jika kalian tidak mau malu di masa depan.

Gambar Revolusi amerika sumbernya dari sini
Gambar JK dari sini

Perjalanan ke Cina (Tiongkok)

shanghai
Cina, sebuah kata yang merujuk pada beragam makna. Sebagai negara, ia mahsyur sejak dahulu kala. Sebagai bangsa, banyak peninggalan bersejarah berhasil ditorehkan mulai dari penemuan teh, ditemukannya kertas oleh Cai Lun hingga berdirinya Great Wall pada masa Dinasti Ming. Dan sebagai bahasa, ia menjadi bahasa yang paling banyak digunakan di dunia. Tidak salah jika pepatah arab mensugesti seorang bani adam untuk menuntut ilmu hingga ke negeri ini.

Secara khusus Indonesia dan Cina memiliki banyak benang merah. Beberapa teori menyebutkan nenek moyang orang Indonesia berasal dari tiongkok.

Pertengahan April 2014, tepat dua hari setelah melepas status jomblo karatan selama 24 tahun, gue diharuskan berangkat ke Cina (tiongkok) sebagai perwakilan perusahaan menghadiri Chinaplast, pameran plastik terbesar yang diselenggarakan di Shanghai.

Gue sebenernya ragu untuk turut serta dalam keberangkatan ini mengingat lidah gue masih belum kering bekas ijab qabul. Di sisi lain gue sama ngebetnya untuk melihat dan menginjakkan kaki di negara selain Indonesia. FYI, paspor gue masih virgin. Belom pernah gue jamah sama sekali. Untungnya dia tidak minta cerai :D.

Dalam suatu kesempatan, gue hampir saja menggunakan paspor dengan cap imigrasi Korea Selatan. Gue diminta sutradara untuk menjadi stuntman Lee Min Ho yang berperan sebagai pria dengan luka bakar parah 70%. Tapi niatan tersebut gue urungkan karena gue merasa terhina, harusnya luka bakar 95%.

For real, gue batal ke Korea Selatan sebagai konsekuensi batalnya gue melanjutkan studi ke negeri ginseng. Selepas kuliah magister, gue mendaftarkan diri ke salah satu universitas di Seoul. Gue sudah mempersiapkan semuanya termasuk beasiswa, professor pembimbing hingga rambut ala K-pop. Namun beberapa waktu sebelum keberangkatan, gue membatalkan niatan tersebut dan memilih menjadi kuli di kantor membosankan tempat gue sekarang bekerja.

Dan, petualangan pertama gue ke luar negeri menguap seiring dengan profesi baru sebagai kacung.

Kemudian, tidak pernah lagi ada peluang untuk pergi ke luar negeri. Gue hanya bisa memandang nanar setiap foto yang terpajang di media sosial berisi aktifitas mereka di belahan bumi lain. Gue envy ngeliat mawar (bukan nama sebenarnya –red) kayang sambil ngupil di depan Patung Merlion. Sama irinya saat melihat mereka yang makan kelinci janda muda di Vietnam. Atau betapa pengennya gue pergi ke tempat temen gue selfie dengan latar belakang eifel yang bertambah miring tiap tahunnya. Itu…menara Pisa. Eifel ga pernah miring. Kecuali waktu kamu bilang ‘Eifel (I feel) I love you so much’ :p.

Dua tahun berselang, Maret 2014, bos gue menawarkan sebuah paket perjalanan ke negeri asalnya Panda.

Paket perjalanan tersebut sebagai bentuk apresiasi kepada karyawan agar mereka dapat terus berkembang dan bertambah wawasannya. Bos gue berceloteh. Gue pun mengangguk-angguk sebagai ekspresi (pura-pura) mengerti. Kantor hanya menyediakan dua buah tiket. Gue pun galau mengingat kami membutuhkan dua tiket tambahan karena perjalanan Tong Sam Cong ke barat selalu bersama ketiga muridnya.

kera sakti alfamartPerlu digarisbawahi bahwa keberangkatan gue ke Cina bukan dalam rangka hura-hura. Selama di Cina, gue harus menghadiri pameran mesin dan aditif yang berhubungan dengan plastik dalam acara bertajuk Chinaplast. Bayang-bayang petualangan ke Great Wall, belajar kung-fu dengan Jet Lee, dan berburu vampir harus sedari awal dikubur karena gue tau selama di sana gue bakalan kerja rodi.

*****

Keberangkatan gue ke Cina dilepas oleh istri tercinta. Perpisahan kami mengharu biru. Pasangan pengantin yang belum genap seminggu menikah harus dipisahkan oleh tugas negara. Dentingan melodi gitar tohpati diiringi gesekan biola idris Sardi mengiringi lambaian tangan istri gue. Ayam pun turut bersedih ketika gue menaiki taksi menuju travel yang akan membawa gue ke bandara. Mereka bersimpati dengan kemudian berkokok bersahutan.

Terbang dengan Cathay Pacific menempuh perjalanan selama 5-6 jam untuk transit di Hongkong, ternyata cukup melelahkan. Bandara internasional hongkong sangat luas dan modern dengan dikelilingi oleh bukit-bukit dan berada di pinggir lautan. Entah akan jadi apa bandara ini jika tsunami dan gempa datangnya janjian.

20140422_141654Satu jam transit, kami melanjutkan perjalanan menggunakan pesawat menuju Shanghai. Yang pertama kali terbayang di otak gue adalah semua orang di sini bisa menggunakan kung fu. Mereka mungkin berlari di atas daun-daun dengan jurus meringankan tubuh. Bermain sepakbola dengan tendangan tanpa bayangan. Atau mungkin menyalakan lampu-lampu taman menggunakan tenaga dalam sambil menyaksikan Chow yun fat dan Andy lau beradu tembak ala triad. Ahhh, membayangkannya saja gue sudah penasaran plus was-was terkena pukulan naga yang salah sasaran.

Setibanya di bandara Shanghai, yang tidak kalah bagusnya dibandingkan bandara hongkong, gue dan rombongan dari Indonesia disambut oleh travel agent yang akan menjadi guide selama kami berada di Tiongkok. Tidak ada pesta barongsai penyambutan atau vampir yang berkeliaran.

Ada hal menarik yang gue temukan di hotel tempat kami menginap. Para pramusaji tidak berpakaian dengan rapih. Baju mereka sepertinya tidak disetrika, terlihat kusut dan tidak dimasukkan ke dalam celana secara sempurna alias asimetri. Apa gaya berbusana tersebut adalah trend 2014 di Tiongkok? Entahlah. Yang jelas, gue sangat ingin mengambil setrika dan lalu menyetrika pakaian mereka satu per satu.

Selama di Shanghai gue harus bener-bener selektif memilih makanan. Makanan yang paling aman adalah yang tidak mengandung daging dan ayam. Sebenernya setiap masakan di negeri ini tidak terjamin kehalalannya mengingat kita tidak tahu apakah penggorengan untuk memasak babi dipisah atau tidak. Gue mencoba meminimalisir peluang untuk mengkonsumsi barang haram dengan tidak makan semua yang berbau daging.

Setibanya di area Chinaplast yang sangat luas, kami langsung mendatangi berbagai booth mulai dari mesin pembuat botol, pembuat container, resin, masterbatch, aditif dan banyak lagi. Kami pun mengamati satu per satu sebagai prasyarat jika nanti ditanya bos tentang apa yang kami peroleh. Setidaknya kami bisa mengarang bebas dengan sedikit referensi dari booth yang kami kunjungi. 20140424_093356

Selama beberapa hari di Shanghai, tidak banyak tempat yang didatangi. Kami hanya dibawa menyaksikan sirkus yang terkenal di Shanghai. Aksi-aksi kelenturan tubuh dibalut keberanian dengan resiko kematian jika terjadi sedikit saja kesalahan teknis.

Selain itu kami digiring ke tempat penjualan teh dan batu giok. Iya, tempat penjualan bukan tempat budidaya. Kami disuguhkan presentasi tentang jenis-jenis teh dan batu giok dengan bahasa Cina yang sangat fasih. Materi yang sebenernya bisa dengan mudah didapatkan di Google. Di tempat yang sama, para SPG “memaksa” para pengunjung membeli barang dagangan mereka. Kegigihannya membuat gue semakin yakin mengapa orang-orang Cina sangat pandai berdagang.

Orang Cina memiliki semua bekal untuk menjadi pedagang tangguh: Kegigihan dalam bekerja dan “kelicikan” dalam berpikir.

Salah satu keindahan Shanghai adalah Shanghai Tower yang menjulang tinggi ke angkasa dengan ketinggian mencapai 632 m. Shanghai Tower bukan satu-satunya menara yang berada di lokasi Pudong, Shanghai. Masih ada Shanghai World Financial Center dengan ketinggian 492 m dan Oriental Pearl Tower. Dan gue berkesempatan untuk bernarsis ria dengan berlatar belakang salah satu menara tersebut.

Gedung tertinggi di Shanghai

Gedung tertinggi di Shanghai

20140425_191741_LLS20140425_192328_LLSOrang Cina juga terkesan ‘jorok’. Mungkin gue terlalu mengeneralisir keadaan namun toilet toilet yang gue temui di tempat umum tidak jarang ditinggalkan dalam keadaan kotor. Kita tidak sedang berbicara mengencai terminal atau stasiun, karena gue yakin Indonesia pasti juara, namun kita sedang membicarakan sebuah tempat konvensi seperti JCC atau JI Expo.

Jalanan di Shanghai bersih dan lebar. Mereka berjalan di ruas kanan. Di siang hari, kota dengan jumlah penduduk puluhan juta ini terasa lengang. Ternyata, kehidupan sebagian besar warga shanghai banyak dilakukan di bawah tanah. Mereka mirip kura-kura ninja.

Sama halnya dengan orang Jepang dan Korea, negara-negara Asia Timur bangga dengan bahasa nasionalnya. Kebanggan itu juga yang membuat gue kewalahan saat menanyakan menu makanan yang halal.

20140424_193001Wifi sangat sulit dijangkau. Bahkan hotel 150 ribu yang gue tempati di Belitung menyediakan akses wifi 24 jam sementara di Cina para tamu masih harus membayar akses internet gratis saat menginap di hotel berbintang. Beberapa jejaring sosial juga diblokir. Google pun tidak bisa berkutik karena negara padat ini lebih percaya diri menggunakan mesin pencari lokal “baidu”.

Dengan jumlah penduduk yang hampir 2 milyar, Cina berhasil meyakinkan rakyatnya untuk menggunakan produk dalam negeri.

Hari terakhir di Shanghai dihabiskan dengan berbelanja di pasar yang mirip dengan tanah abang. Pedagang di pasar ini bisa berkomunikasi dengan bahasa inggris umum. Jangan coba-coba menawar terlalu murah atau batal membeli setelah melakukan tawar menawar karena mereka akan mengomel dan ‘menghina’ kalian dengan bahasa inggris berdialek mandarin. Pasar ini menjual semua produk KW. Persis dengan anekdot “Tuhan menciptakan dunia dalam 7 hari. Di hari keenam, Ia istirahat dan kemudian membuat orang cina. Sisanya, orang Cina yang menyelesaikan”.

Akhirnya, kesimpulan gue adalah Cina sekilas bukan tempat yang ‘wah’ untuk dikunjungi. Tidak termasuk negara yang unik dan spesial. Jika ada kesempatan lagi untuk pergi ke Cina, gue lebih baik tidak turut serta.

*Gambar Tong Samcong dkk dari sini
*
Gambar shanghai dari sini

Pesan Kyai Muhsin untuk Presiden RI 2014-2019

Ditulis oleh Dr Adian Husaini 

Kyai MuhsinOrang kampung memanggilnya Kyai Muhsin. Sehari-hari, ia berdagang di pasar kampungnya. Sepeda tuanya terkadang dinaikinya. Tapi lebih sering dituntunnya. Umurnya, diduga 70 tahunan. Hanya, ia belum pernah ia berurusan dengan rumah sakit. Tidak ada catatan resmi hari lahirnya. Kain sarung dan lantunan zikir menjadi ciri utamanya. Mengajar ngaji anak-anak adalah rutinitas kesahariannya. Tak pernah terlihat ia baca koran atau menonton berita. Hanya silaturrahim ke sana-sini menjadi hobinya. Uniknya, ia seperti paham kondisi politik negeri.  Sudah jadi tradisi, ia selalu bertanya tentang masalah politik kepada cucu-cucunya jika mereka berlibur dari kuliahnya.

 “Sopo Le sing arep dadi Presiden? Jokowi, Prabowo, opo Oma Irama?”  Mbah Muhsin bertanya kepada Sikirno, salah satu cucunya, saat liburan dari kuliahnya di Yogya.

Kirno gelagapan. Pertanyaan itulah yang hari-hari ini bergelayut di benaknya. Sebagai aktivis masjid kampus, ia juga diombang-ambingkan oleh berbagai informasi seputar para capres RI 2014-2019. Ia kebingungan, siapa yang seharusnya dipilih.  Maka, kesempatan itu pun ia manfaatkan untuk menggali informasi dari kakeknya, yang menurut ibunya, Mbahnya itu kadangkala memiliki pemikiran yang “aneh”, seperti bisa memahami masa depan.

“Bingung Mbah; kalau menurut Mbah siapa yang terbaik yang harus kita pilih?” tanya Kirno.

“Kalau kamu pilih siapa?” Mbah Muhsin bertanya balik ke cucunya.

“Ya, itu yang saya bingung Mbah. Teman-teman juga bingung. Seorang Ustad di kampus pernah bilang, pokoknya jangan pilih Jokowi, karena ia dikendalikan oleh kekuatan asing dan konglomerat hitam yang dulu merugikan keuangan negara ratusan trilyun. Amerika dan jaringan Yahudi juga katanya lebih mendukung Jokowi.  Kalau pilih Prabowo, katanya ia emosional, dan ada adiknya yang misionaris Kristen. Padahal saudaranya itu yang punya uang banyak. Prabowo juga dikabarkan kurang tekun ibadahnya. Tapi, ada beberapa tokoh Islam mengatakan ia suka membela orang Islam. Bagaimana ini Mbah. Bingung milihnya! Padahal, beberapa pengamat bilang, cuma dua calon itu yang kuat? Katanya, dulunya Jokowi diangkat untuk menjegal Prabowo; dan sebaliknya, hanya Prabowo yang bisa membendung Jokowi. Pokoknya, banyak sekali berita yang sulit bagi saya menerima atau menolaknya!”

“Yo, yo,yo…. , ngono yo Le…. wah pancen angel iki,” Mbah Muhsin bergumam sendiri, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya; kelihatan sedang merenungkan sesuatu.

“ Terus gimana Mbah? Apa tidak usah milih saja?” Kirno mendesak kakeknya.

“Kenapa tidak memilih?” tanya Mbah Muhsin.

“Ya, karena dua-duanya bisa merugikan Islam, karena mereka sekuler, tidak tulus ikhlas berpihak kepada aspirasi Islam?”

“ Kalau kamu tidak milih, apa lalu Presidennya bisa lebih baik?”

“Itulah Mbah yang membuat saya dan teman-teman bingung!”

“Ya, makanya,  jangan memutuskan tidak milih dulu! Dipikir yang baik. Nanti dulu, saya pikir baik-baik. Tunggu sebentar yo Le,” kata Mbah Muhsin yang berucap dalam bahasa Jawa campur bahasa Indonesia.

Kirno tidak tahu, apa yang dikerjakan Mbah Muhsin di dalam kamarnya. Sekitar 15 menit kemudian, Mbah Muhsin kembali menemui Kirno. “Kita ngomong di dalam saja, Kirno…, nggak enak didengar orang.”

Kirno menuruti langkah kakeknya. Tanpa diduganya, ia diajak memasuki kamar yang dipenuhi buku. Pemandangan di depannya nyaris membuatnya tak percaya. Kakeknya menyimpan begitu banyak koleksi buku. Penampilan kakeknya pun tak mencerminkan ia seorang peminat buku. Apalagi, tak pernah didengarnya sang kakek membicarakan masalah politik  dan keagamaan kontemporer.  Orang tuanya juga tidak pernah bercerita tentang hal ini.

“Kirno, sudah saatnya Mbah beritahu kamu satu rahasia. Ini kumpulan tulisan Mbah di sebuah majalah Islam tahun 1950-an.  Mbah gunakan nama samaran: Ki Sarmidi. Dulu Mbah aktif menulis tentang  pemikiran sekulerisme dan komunisme. Alhamdulillah, nama asli Mbah tidak pernah terbuka. Hanya redaksi saja yang tahu, dan mereka menyembunyikan identitas Mbah, sampai mereka semua meninggal dunia.”

Kirno hanya terdiam, terselimuti rasa takjub. Dibolak-baliknya lembaran-lembaran kliping artikel yang semakin mencoklat warnanya. Ada beberapa bagian sulit dibaca. Tatapannya terhenti pada sebuah artikel berjudul  “Jalan Kehancuran Negara Sekuler”. Sambil tetap berdiri, dibacanya pelan-pelan artikel yang sudah buram tulisannya itu. Hatinya takjub. Kalimat demi kalimat yang dibacanya terasa tajam dalam menguliti kekeliruan paham sekulerisme.

Melihat cucunya bersemangat membaca artikelnya, Mbah Muhsin mengambil sebuah diktat lusuh dari tumpukan koleksinya.  Diktat itu bertuliskan “Islam Sebagai Dasar Negara: Salinan dari buku Teks Pidato M. Natsir di muka sidang pleno Badan Konstituante, 20 Juli 1957 di Bandung.”  

“Ini kamu baca, Mbah tinggal dulu sebentar. Mbah  ada perlu.  InsyaAllah satu jam lagi kembali. Kita diskusikan isi diktat ini,” kata Mbah Muhsin, sambil bergegas meninggalkan cucunya. Dalam hatinya ia bersyukur, ada diantara garis keturunannya yang berminat memahami sejarah perjuangan Islam. Sudah lama ia menunggu-nunggu saat tepat untuk membuka tabir dirinya.

Sebagai aktivis mahasiswa Islam, Kirno sudah akrab dengan nama Mohammad  Natsir, tokoh dan pejuang Islam yang belakangan juga diakui sebagai salah satu Pahlawan Nasional.  Namanya sangat harum karena pemikiran dan akhlaknya bisa dijadikan teladan. Namun, Kirno belum membaca secara khusus pemikiran Pak Natsir dalam soal kenegaraan. Kini di tangannya terpampang dengan cukup jelas, uraian-uraian Pak Natsir tentang kekeliruan dan bahaya paham sekulerisme bagi bangsa Indonesia.  Uraian itu begitu mempesona dan mudah dipahami. Kalimat demi kalimat isi pidato Pak Natsir itu ia cerna dengan hati-hati:

*****

Pilihan kita, satu dari dua: sekulerisme atau agama….

Sdr. Ketua!

“Sejarah manusia umumnya pada tinjauan terakhirnya, memberikan kepada kita pada final analisisnya hanya dua alternatif  untuk meletakkan dasar negara dalam sikap asasnya (principle attitude-nya), yaitu: (1) faham sekulerisme (la-dieniyah) tanpa agama, atau (2) faham agama (dieny). 

Sdr. Ketua!

Apa itu sekulerisme, tanpa agama, la-dieniyah?

Sekulerisme adalah suatu cara hidup yang mengandung paham tujuan dan sikap hanya di dalam batas hidup keduniaan. Segala sesuatu dalam kehidupan kaum sekuleris tidak ditujukan kepada apa yang melebihi batas keduniaan. Ia tidak mengenal akhirat, Tuhan, dsb. Walaupun ada kalanya mereka mengakui akan adanya Tuhan, tapi dalam penghidupan perseorangan sehari-hari umpamanya, seorang sekuleris tidak menganggap perlu adanya hubungan jiwa dengan Tuhan, baik dalam sikap, tingkah laku dan tindakan sehari-hari, maupun hubungan jiwa dalam arti doa dan ibadah. Seorang sekuleris tidak mengakui adanya wahyu sebagai salah satu sumber kepercayaan dan pengetahuan. Ia menganggap bahwa kepercayaan dan nilai-nilai moral itu ditimbulkan oleh masyarakat semata-mata. Ia memandang bahwa nilai-nilai itu ditimbulkan oleh sejarah atau pun oleh bekas-bekas kehewanan manusia semata-mata, dan dipusatkan kepada kebahagiaan manusia dalam penghidupan saat ini belaka…

Di lapangan ilmu pengetahuan, Sdr. Ketua, sekulerisme menjadikan ilmu-ilmu terpisah daripada nilai-nilai hidup dan peradaban. Timbullah pandangan bahwa ilmu ekonomi harus dipisahkan dari etika. Ilmu sejarah harus dipisahkan dari etika. Ilmu sosial harus dipisahkan dari norma-norma moral, kultur dan kepercayaan. Demikian juga ilmu jiwa, filsafat, hukum, dsb. Sekedar untuk kepentingan obyektiviteit. Sikap memisahkan etika dari ilmu pengetahuan ada gunanya, tetapi ada batas-batas dimana kita tidak dapat memisahkan ilmu pengetahuan dari etika.

Kemajuan ilmu teknik dapat membuat bom atom. Apakah ahli-ahli ilmu pengetahuan yang turut menyumbangkan tenaga atas pembikinan bom tersebut harus ikut bertanggungjawab atas pemakaiannya atau tidak? Bagi yang memisahkan etika dari ilmu pengetahuan mudah saja untuk melepaskan tanggungjawab atas pemakaian  bom itu. Di sini kita lihat betapa jauhnya sekulerisme. Ilmu pengetahuan sudah dijadikan tujuan tersendiri, science for the sake of science. 

Di dalam penghidupan perseorangan dan masyarakat, sekulerisme la-dieniyah tidak memberi petunjuk-petunjuk yang tegas. Ukuran-ukuran yang dipakai oleh sekulerisme banyak macamnya. Ada yang berpendapat bahwa hidup bersama laki-laki dan wanita tanpa kawin tidak melanggar kesusilaan. Bagi satu negara menentukan sikap yang tegas terhadap hal ini adalah penting. Sekulerisme dalam hal ini tidak dapat memberi pandangan yang tegas, sedangkan agama dapat memberi keputusan yang terang. 

Pengakuan atas hak milik perseorangan, batas-batas yang harus ditentukan antara hak-hak buruh dan majikan, apa yang kita maksud dengan perkataan “adil dan makmur”, ini semua ditentukan oleh kepercayaan kita. Sekulerisme tidak mau menerima sumber ke-Tuhanan untuk menentukan soal-soal ini. Kalau demikian terpaksalah kita melihat sumber paham-paham dan nilai-nilai itu semata dari pertumbuhan masyarakat yang sudah berabad-abad berjalan sebagaimana yang didorongkan oleh sekulerisme. Ini tidak akan memberi pegangan yang teguh. Ada beribu-ribu masyarakat yang melahirkan bermacam-macam nilai. Ambillah, misalnya soal bunuh diri. Ada masyarakat yang mengijinkan dan ada yang melarang. Yang mana yang harus dipakai? Bagi suatu negara mengambil sikap yang menentukan adalah penting, karena hukum-hukum mengenai sikap yang menentukan adalah penting, karena hukum-hukum mengenai persoalan itu akan dipengaruhi oleh sikap tersebut. Lagi, disini sekulerisme tidap dapat memberikan pandangan yang positif. 

Jika timbul pertanyaan, apa arti penghidupan ini, sekulerisme tidak dapat menjawab dan tidak merasa perlu menjawabnya. Orang yang kehilangan arti tentang kehidupan, akan mengalami kerontokan rohani. Tidaklah heran, bahwa di dalam penghidupan perseorangan, sekulerisme menyuburkan penyakit syaraf  dan rohani. Manusia membutuhkan suatu pegangan hidup yang asasnya tidak berubah. Jika ini hilang, maka mudahlah baginya mengalami taufan rohani. Demikian akibat pemahaman sekulerisme dalam hidup orang perseorangan. Pengaruh agama terhadap kesehatan rohani ini telah diakui oleh ilmu jiwa jaman sekarang….

Ada satu pengaruh sekulerisme yang akibatnya paling berbahaya dibandingkan dengan yang saya telah sabut tadi. Sekuleris, sebagaimana kita telah terangkan, menurunkan sumber-sumber nilai hidup manusia dari taraf ke-Tuhanan kepada taraf  kemasyarakatan semata-mata. Ajaran tidak boleh membunuh, kasih sayang sesama manusia, semuanya itu menurut sekulerisme, sumbernya bukan wahyu Ilahi, akan tetapi apa yang dinamakan: Penghidupan masyarakat semata-mata. Umpamanya dahulu kala nenek moyang kita, pada suatu ketika, insaf bahwa jika mereka hidup damai dan tolong menolong tentu akan menguntungkan semua pihak. Maka dari situlah katanya timbul larangan terhadap membunuh dan bermusuhan.

Kita akan lihat betapa berbahayanya akibat pandangan yang demikian. Pertama, dengan menurunkan nulai-nilai adab dan kepercayaan ke taraf perbuatan manusia dalam pergolakan masyarakat, maka pandangan manusia terhadap nilai-nilai tersebut merosot. Dia merasa dirinya lebih tinggi daripada nilai-nilai itu! Ia menganggap nilai-nilai itu bukan sebagai sesuatu yang dijunjung tinggi, tapi sebagai alat semata-mata karena semua itu adalah ciptaan manusia sendiri… 

*****

Kirno terpekur merenungkan kalimat demi kalimat sebagian dari isi pidato Pak Natsir itu. Sebagai mahasiswa ilmu budaya, ia sangat akrab dengan pemikiran sekuler yang dikritik secara tajam oleh Pak Natsir.  Ia baru paham, mengapa di kampusnya ada Fakultas Ilmu Budaya, tetapi tidak ada Fakultas Ilmu Agama. Itulah sebagian pandangan sekulerisme yang sebenarnya telah menempatkan manusia sebagai “Tuhan”, karena merasa berhak menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang halal dan mana yang haram.

Belum tuntas ia melanjutkan renungannya, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Kakeknya segera menyapanya. “Pidato Pak Natsir itu yang menginspirasi tulisan Mbah tentang sekulerisme. Kamu boleh bawa diktat itu dengan hati-hati dan jangan bercerita kepada siapa pun, termasuk kepada bapak ibumu. Mbah tidak ingin rahasia ini terungkap sampai Mbah meninggal.”

Kirno diam. Hatinya dipenuhi banyak pertanyaan, tetapi ia enggan bertanya lebih jauh. Yang terpikir olehnya, bagaimana ia diijinkan kakeknya untuk membaca koleksi buku-bukunya. Seakan memahami keinginan cucunya, Mbah Muhsin pun berujar, “Kamu saya beri kunci kamar ini. Kapan saja ada waktu kamu boleh membaca di sini. Tapi, jangan sampai ada orang yang tahu. Itu syaratnya.”

Kirno mengangguk. Tapi, ia segera menukas, “Terus Mbah, untuk Presiden Indonesia tahun 2014 ini, pilih siapa? Jokowi, Prabowo, Oma Irama, atau Aburizal Bakrie, atau siapa?”

“Saya ini di kampung. Tidak banyak mendengar informasi politik. Hanya mendengar pembicaraan orang dari pasar dan warung-warung. Tapi kalau melihat informasi yang ada, sebelum memilih, mestinya tokoh-tokoh Islam mendatangi para calon Presiden itu. Semuanya mereka Muslim dan sudah haji. Tanyakan kepada mereka satu-satu, bagaimana komitmennya terhadap apirasi Islam dan khususnya sikap mereka terhadap sekulerisme. Kalau tidak ada yang ideal, maka pilih yang paling kecil mudharatnya bagi umat Islam. Minimal, ia tidak memusuhi dakwah Islam, tidak menindas umat Islam, dan tidak memberikan dukungan kepada kaum misionaris, kapitalis, dan sekuleris.”

“Itu masih terlalu normatif  Mbah. Kurang praktis!”

“Ijtihad politik bisa berbeda, tergantung informasi yang kita terima, karena calon-calon yang ada tidak secara jelas berlatarbelakang ulama atau aktivis Islam dan  mempunyai visi dan misi keislaman yang tersurat, sebagaimana Pak Natsir itu.”

“Kalau Oma Irama, Mbah?”

“Dari omongan orang, katanya belum pasti Oma Irama akan dimajukan sebagai capres. Mungkin ia selama ini hanya digunakan untuk menarik suara, karena sekarang artis sudah dipuja melebihi ulama.  Saya tidak meragukan komitmen Oma Irama terhadap Islam, karena saya tahu sejak tahun 1970-an ia punya komitmen yang tinggi terhadap partai Islam. Banyak lagunya yang bermuatan dakwah dan politik Islam. Nanti kalau sudah pasti siapa capresnya, kamu ke sini lagi.”

“Kalau antara Jokowi dan Prabowo siapa Mbah yang lebih baik dipilih?”

“Ada kyai di Solo, murid Pak Natsir yang kenal keduanya. Kamu tanya dia. Ia tokoh terkenal. Mudah mencarinya!”

“Saya ingin tahu dari Mbah sendiri. Dari mata batin Mbah sendiri. Siapa yang lebih baik dipilih, andaikan capresnya nanti cuma Jokowi dan Prabowo?”

“Disamping kelemahannya, kelebihan Prabowo itu tegas dan berani serta nekad. Ia sudah kaya raya sejak dulu, sehingga tidak butuh uang. Latar belakang tentaranya mungkin masih diperlukan untuk mengatasi berbagai ancaman separatisme. Saya dengar, ia kenal baik dengan Pak Natsir. Kalau Prabowo berjanji mau mengaji dan mendengar nasehat ulama-ulama yang soleh, itu sangat baik.”

“Kalau Jokowi. Mbah?”

“Mbah juga dengar, ia orang baik. Ia suka kerja keras dan dekat dengan rakyat. Beratnya, seperti yang kamu ceritakan, di belakang dan sekeliling dia, diberitakan ada orang-orang yang lebih berpihak kepada sekulerisme dan mungkin beberapa diantaranya kepanjangan tangan kepentingan Yahudi dan misionaris Kristen. Saya tidak tahu, apakah Jokowi bisa keluar dari jeratan para pendukungnya itu?   Yang berat juga, jika Jokowi jadi Presiden, maka yang jadi Gubernur Jakarta adalah orang kafir!  Tentu, itu sangat berat bagi para ulama dan umat Islam yang tidak sekuler dan sadar akan ajaran al-Quran.  Sebab, pemimpin dalam Islam itu mempunyai tanggung jawab dunia dan akhirat.  Bagaimana jika simbol pemimpin ibukota negara muslim terbesar di dunia adalah seorang kafir!  Apakah bumi Jakarta yang dimerdekakan dri penjajah kafir  dengan tetesan darah para syuhada itu ridho menerima kepemimpinan orang kafir? Solusinya mudah saja. Gubernur Jakarta mau belajar Islam dengan ikhlas dan membuka pintu hatinya menerima hidayah Allah, bersedia memeluk Islam. Ini bukan untuk kepentingan jabatan, tetapi lebih untuk keselamatan dia sendiri, di dunia dan akhirat. Menurut Islam, kasihan orang kafir, sudah bekerja keras, tetapi amalnya tidak bernilai di mata Allah, seperti fatamorgana. Kamu baca QS 24:39!”

 “Wah, kalau Mbah ngomong seperti itu di media massa sekarang, Mbah akan dituduh picik, sektarian, tidak pluralis, tidak berwawasan kebangsaan, dan lain-lain. Pokoknya akan dicemooh habis-habisan, Mbah!”

“Ya, Mbah ini orang kuno Le. Hanya bicara dari hati saja. Tidak mau munafik. Terserah orang mau ngomong apa. Tanggung jawab kita di akhirat kan masing-masing. Kita hanya wajib menyampaikan kebenaran. Itu sikap yang harusnya ditunjukkan para politisi Muslim, seperti kamu baca dalam pidato Pak Natsir itu! Kami dulu bangga sekali mempunyai pemimpin seperti Pak Natsir. Pemikirannya hebat,jujur, dan tegas. Bahkan, musuh-musuh ideologis Pak Natsir pun menghormatinya, karena integritas pribadinya yang sangat tinggi.”

“Jadi, Mbah, pilih Jokowi atau Prabowo?”

“Kamu kan mahasiswa. Mbah tidak kuliah seperti kamu. Kamu bisa menyimpulkan sendiri apa yang Mbah sampaikan. Sekarang, coba kamu usahakan ketemu Jokowi dan Prabowo! Sampaikan pesan Mbah: “Kalau jadi Presiden, ingat tanggung jawab kepada Allah di  akhirat. Jangan mikir dunia saja. Karena mengaku Muslim, maka ikhlaslah untuk menjadikan Nabi Muhammad saw sebagai teladan hidup dan kepemimpinan. Jangan membohongi umat Islam! Hanya dekat saat perlu dukungan mereka, tapi setelah itu mendukung sekulerisme, kemusyrikan dan kemaksiatan. Ingatkan mereka, agar mau belajar dari para pemimpin sebelumnya.Bagaimana nasib mereka yang berani menipu Allah dan Rasul-Nya serta umat Islam!”

“Tapi, Mbah… itu sangat susah Mbah. Bagaimana cara menyampaikannya?”

“Berjuang itu memang tidak mudah, Le! Kalau mau yang mudah-mudah terus, ya jangan berjuang!”

Kirno ingin terus bertanya, tetapi azan ashar terdengar mengalun. Mbah Muhsin pun mengajak cucunya ke surau sebelah rumah. Kirno menurut, diam. Tapi hatinya bergejolak; tertantang untuk menyampaikan pesan kakeknya itu ke semua capres RI 2014-2019.

**Gambar dan tulisan diambil dari web Dr. Adian Husaini dengan link berikut