Hujan Tak Pernah Sama

rain

Hujan tak pernah sama. Suatu waktu rinainya menari menggelayuti ranting dan dedaunan. Ia betah berlama lama di sana. Enggan turun hingga bosan.

Kay, waktu itu kau yang bersikeras menggoyang rantingnya. Agar lekas goyah rinainya, ujarmu.

“Aku tak suka saat rasa bersemayam terlalu lama. Aku ingin ia bebas. Seperti kita. Rasa ini bukan cinta. Ia hanya rindu yang terpupuk oleh frekuensi temu“.

Kau juga kay yang bersikukuh menafikan apa yg kita rasakan. Atau mungkin lebih tepatnya apa yng aku rasakan. Karena hingga saat ini, saat dimana planet menjauhi orbitalnya, aku masih tidak mengerti apa yang kau pikirkan. Di saat yg sama kau tau seperti apa aku.

Lain waktu, hujan turun dengan derasnya. Turunnya tak malu-malu. Kala itu kita bersengaja diri meneduh di salah satu mesjid di sekitaran kebayoran. Kita tersenyum kecil sambil menahan malu karena kekonyolan kita adu lari menjangkau halte yang kita tuju.

Belom tampak halte, hujan turun lebih cepat. Kau mengeluh. Mengapa hujan terlalu digdaya. Kita berlari adu kencang. Kau lupa kerudung birumu basah kuyup oleh cipratan air yang terinjak oleh setiap deru. Aku pun lupa, sepatu yongki komaladi yang senantiasa kupakai kini lepek.

Ah kay, kala itu hujan bukanlah tandingan.

Aku aneh denganmu kay. Kau tak pernah membawa payung yang mampu menjagamu dari ganasnya air yg turun dari langit dengan pongah. Tapi suatu hari kau justru yang membuatku terdiam tanpa kata di saat hujan yang lagi tak sama.

“Sini, aku payungi kamu!!”

“Kay, kau bawa payung? Wah, tumben sekali”. Ujarku yang mash bingung dengan kelakuan Kay saat hujan kembali menyapa.

“Iya, aku bosan bermandikan hujan. Tidak setiap saat dia datang, aku hanya bisa pasrah. Menerima basah dengan tangn terbuka. Aku punya hak untuk memilih”.

“Kay, bukankah kau bisa berlindung di bawah gedung atau mengendap menikmati hangatnya latte di kafe terdekat hingga ia reda?”

“Kau tahu? Berlindung mungkin tidak akan membasahimu. Tapi sadarkah, berlindung tidak akan mengubah situasi. Apalagi untuk setiap orang yg punya tujuan dari setiap perjalanannya. Tembok tembok itu hanya menghalusinasi dan menghambat langkah”.

“Oke Kay, kau memang dilahirkan untuk berdebat. Kau cocok menggantikan Marty Natalegawa untuk berdiplomasi dengan negara tetangga atau mensomasi amerika yang berjalan di atas bumi dengan seenak jidat”.

Kali ini kau hanya diam. Menyesuaikan gerak kakiku, berjalan di bawah payung. Meniti setiap jalanan yang tergenang.

Hari ini aku memandangi hujan dari balik kaca. Perciknya jatuh tak berirama. Sesaat ia turun dengan perlahan namun selang seperkian waktu, ia lalu turun bak air bah untuk kemudian kembali meluruh menjadi gemericik mesra. Hujan hujan ini membawa memori yang dulu pernah kita sintesa.

Segelas coklat mencoba menghangatkanku hingga aku tertawa sendiri mengenang betapa dialog kita dulu sangat hidup. Kau seolah memberikan jiwa pada setiap penggalan kata. Aku hanya bisa terdiam mendengarkanmu bercerita dengan penuh semangat.

Kay, hujan ini tak pernah sama.

Dulu kita menikmatinya dengan sejuta pengharapan dan rasa. Kita sadar bahwa cinta yang kurasa hanya bisa diterjemahkan oleh rasa yang sama. Dan tak ada cinta tanpa ijab qabul yg mendahului. Kau bersikukuh.

Sepatu-nya tulus masih melantun merdu dari salah satu speaker di kafe ini. Tulus, kau juga yang mengenalkanku padanya. Waktu itu kau memaksaku menyukai Sewindu.

Sambil termangu dan bernyanyi mengikuti dentingan lagu, gelas coklatku diserobot oleh makhluk mungil dengan cincin emas putih tersemat di jari manisnya.

Kamu selalu mengenang hujan ‘kita’ mas?

Kau selalu cerdas Kay sayang!!

Sumber Foto :

Foto Danbo keujanan dari sini

Rohis Antara Tarbiyah dan Politik

Konstelasi politik yang semakin kental mendekati tanggal 9 April 2014 memberikan ruang bagi setiap kepala untuk menuangkan opini, kritik, pendapatnya tentang pilihan politik sebagai bagian dari kehidupan berdemokrasi. Perang opini di media sosial berkembang secara masif dengan mengelompokkan kubu-kubu yang saling beradu argumen antara partai A dan partai B. Tidak ketinggalan pula mereka yang memilih untuk menolak gagasan demokrasi dan menggunakan hak pilih untuk tidak memilih.

Rekam jejak politik praktis buat saya pribadi telah dipupuk sejak masa SMA. Walaupun saat itu saya tidak mengenal politik an sich.  Politik secara global mendekati saya melalui pintu pembinaan keislaman setiap pekan. Tarbiyah yang saya peroleh dari ekstrakurikluer Rohis memberikan pendekatan politik melalui pemahaman bagaimana seharusnya Islam menjadi rahmatan lil alamin dan menguasai setiap sendi kehidupan agar tercipta sebuah kehidupan yang madani.

Sejak pertama kali mengenakan seragam abu-abu, kakak puan saya yang jua merupakan alumni di sekolah yang sama, menyarankan agar saya memilih kerohanian islam (Rohis) sebagai pilihan kegiatan ekstrakurikuler siswa. Tanpa penolakan, saya seolah dengan ikhlas mengamini preferensi yang ia sarankan. Dan, Resmilah saya tergabung di organisasi Kerohanian Islam (Rohis) selama masa SMA. Organisasi yang membentuk karakter keislaman dan mencoba menghidupkan kembali nilai-nilai islami melalui para pengurus dan anggotanya.

Suatu hari di hari Ahad, Rohis mengadakan sebuah kegiatan yang biasa dikenal dengan Rihlah. Kegiatan hiburan yang berisi games lucu bersama para senior. Di sela acara, seorang pria dengan jenggot rapih mengguntai, senyum teduh menawan, tatapan tajam, dan aura ruhiyah yang terpancar mendatangi saya untuk mengajak berdiskusi renyah. Beliau memberikan penawaran untuk melakukan kajian islam. Penawaran yang sama juga ditujukan pada beberapa orang anggota rohis lainnya. Setelah bersepakat, ahad satu pekan setelahnya kami akan melakukan pengajian bersama beliau. Itulah saat pertama kali kami bersentuhan dengan tarbiyah.

Karena kesan pertama begitu menggoda, kami rutin menghadiri kajian pekanan tersebut. Mula-mula kami menyebutnya dengan ta’lim lalu bergeser menjadi halaqoh dan pada akhirnya kami lebih nyaman dengan liqoat atau ngajiPertemuan sekali sepekan memberikan wawasan tentang islam, ukhuwah islamiyah serta mengasah kembali sensitifitas kami terhadap kondisi umat islam saat ini. Perang pemikiran yang tidak bisa dihindari. Kami belajar kembali tentang akidah, sembari tetap memandang nanar terhadap realita umat.

Pertemuan setiap pekan selalu berhasil mengisi kembali ruhiyah kami yang kosong setelah satu pekan beraktifitas. Ada yang kurang saat kami absen atau bolos ngaji. Kondisi keimanan senantiasa drop karena kami menyadari bahwa iman itu yazid wa yankus.

Tidak jarang kami bermalam bersama (mabit), menghabiskan malam-malam dengan kesenduan saat tersimpuh doa di akhir solat malam. Pekatnya malam pecah oleh suara tangis kesyahduan saat sang imam melantunkan ayat dengan penuh kekhusyuan. Muhasabah selalu menjadi penutup akhir sholat. Air mata terasa mengering saat setiap renungan terucap. Dosa-dosa seolah terpampang hebat.

Kakak senior dengan ikhlas membimbing kami setiap pekannya.Untu k kemudian kami menyebutnya dengan murobbi sementara kami adalah mutarobbi. Kepedulian akan tegaknya kembali islam di bumi pertiwi yang mampu membakar semangatnya untuk menelurkan kader-kader yang kokoh secara fikrah dan jasad dari rahim tarbiyah. Karenanya ia tak pernah bosan untuk terus membina kami menjadi pribadi yang unggul.

“terlepas dari seperti apa pilihan hidup yang kalian ambil kelak, ingatlah bahwa kalian adalah dai sebelum segala sesuatunya. Sebarkanlah pesan-pesan kebaikan. Jadilah agen-agen perubahan”. Pesan yang terus membakar semangat berbuat kebajikan untuk kini dan selamanya.

Salah satu “doktrin” moral yang selalu diingatkan oleh murobbi adalah keteladanan selalu lebih baik daripada seribu nasihat. Jadilah teladan dalam setiap pilar kehidupan yang kita pilih. Di sekolah, berprestasilah hingga prestasi tersebut menjadi daya tarik bagi orang lain untuk menyadari bahwa muslim yang baik tidak melepaskan atribut dunia. Ia sholeh secara akhlak, ia juga bersinar dalam akal.

Kader-kader tarbiyah

Kader-kader tarbiyah

Menjadi santun dan memiliki attitude yang baik adalah buah dari tarbiyah yang menumbuhkan kami menjadi pribadi bersahaja.

Lalu tersiarlah anak-anak rohis dengan segudang prestasi. Hampir-hampir semua yang berprestasi secara akademik pernah tercelupi dengan syiar rohis sekolah. Lebih-lebih mereka yang terwarnai dengan tarbiyah. Mulai dari ketua rohis yang jago matematika, ketua divisi yang menokoh dan akhawat-akhawat yang memainkan peranannya di semua celah kebaikan.

Dan anak-anak rohis sukses besar dengan mengirimkan “agen” nya ke berbagai universitas negeri terbaik. Mereka tersebar mulai dari Jogja, Depok, Bandung, Bogor, hingga jurusan-jurusan favorit di kampus negeri lokal. Tolak ukur kecerdasan siswa dapat distandarkan dengan beberapa faktor. Selain melalui tes IQ dan angka-angka bisu yang tertuang pada buku raport, studi lanjutan siswa ke universitas favorit juga menjadi parameter yang sering didengungkan.

Prestasi mentereng tidak lantas membuat para pentolan rohis pongah.Kecerdasan dan segudang prestasi yang tersemat membuat kami menyadari bahwa keteladanan bukanlah imej yang dipaksakan. Keteladanan lahir dari ketulusan. Lalu kami mencoba mewariskan kebaikan dan segala motivasi kepada para junior di sekolah. Mengharapkan sebuah multi-level kebaikan laksana apa yang pernah murobbi kami pernah lakukan.

Sejak pertama kali kami berinteraksi dengan rohis hingga merasakan lezatnya hidangan tarbiyah, tak pernah sekalipun kami mengalami indoktrinasi dengan pilihan-pilihan politik. Selain pola pikir yang belum matang untuk meladeni domain tersebut, sang murobbi lebih menitikberatkan pada pentingnya Islam menguasai negara karena agama ini harus memenuhi semua sendi-sendi kehidupan. Agar tidak ada lagi umat yang dibantai seperti memori kelam ambon dan poso, palestina terbebas dari cengkraman zionis dan memutus mata rantai pemikiran islam nyeleneh yang akan menguasai pemerintahan.

Lambat laun, tanpa perlu dicekoki dengan berbagai hal tentang politik praktis dan segala pertimbangan baik dan buruknya, kami seolah tersadar dengan sendirinya bahwa Islam perlu menguasai parlemen. Referensi kami pun jatuh pada murobbi yang senantiasa membimbing kami. Yang memupuk dan menyinari jiwa dengan tausiyah dan segala taujih. Ia juga yang menautkan hati saya dan sodara seiman dalam ikatan ukhuwan. Ta’liful Qulub ujarnya.

“Kelak, kalian akan menemukan orang-orang yang tidak pernah kalian temui sebelumnya. Namun kecenderungan hati dan pancaran keimanan seolah menambatkan chemistry yang hadir tanpa perlu dikomandoi. Mereka adalah saudara-saudara yang akan selalu membantu dalam segala susah. Keluarga yang menempuh jalan yang sama yang kalian lalui. Sapalah mereka, senyumlah hingga pertemuan itu menjadi awal dari sebuah kejayaan”.

Saat kami menginjakkan kaki di kampus, benar apa yang diucapkan oleh Sang Murobbi. Begitu banyak orang-orang seperti apa yang beliau cirikan. Kehangatan, kesejukan berpadu menjadi elemen yang mampu membuat diri ini nyaman berlama-lama di dekat mereka. Dan ternyata mereka memiliki pandangan politik yang sama dengan murobbi semasa SMA.

Saya pun baru menyadari bahwa buah manis dari semua nilai islami yang saya peroleh semasa SMA dan kemudian berlanjut di bangku kuliah adalah kerja keras yang dilakukan oleh sebuah partai islam terbesar di Indonesia. Manusia-manusia di dalamnya sangat peduli terhadap generasi muda. Mereka membina kami dalam lingkaran-lingkaran ukhuwah sebagai upaya pembentukan karakter mulia dan mengeliminasi budaya permisif dari negeri adidaya.

pksOrang-orang dalam partai ini jua yang melahirkan sosok gagah nan soleh-solehah yang selalu mendidik kami menjadi manusia berguna. Kesantunan yang kami peroleh, prestasi yang kami raih adalah buah dari tarbiyah yang dengan rapih disusun oleh Partai Kita Semua.

Kini setelah bertahun-tahun saya menanggalkan seragam putih abu-abu, semangat memenangkan partai ini semakin menggelora. Kami ingin negeri ini terwarnai oleh semua kebaikan, panutan, kebaikan, kesolehan yang kami rasakan. Meskipun kami sadari fitnah dan caci datang silih berganti. Dan kami pahami bahwa mencemplungkan diri ke dalam politik adalah pilihan untuk mencelupkan tubuh ke dalam noda. Namun seberapa cepat kita bisa membersihkan diri dan lalu mengganti noda dengan cinta melalui kerja dalam harmoni menjadi kuncinya.

Setelah bertahun-tahun pula, mereka yang berprestasi tetap bertahan dengan gigih di jalan dawah ini. Alih-alih mundur teratur, beberapa orang teman SMA yang dulu terlihat gugu kini memilih langkah untuk bersatu dalam memenangkan islam di parlemen. Bahkan mereka kini memberikan dukungan tidak sendirian tapi berdua, bertiga bahkan berempat bersama pasangan dan jundi jundi yang berbicara pun masih tertatih.

Semoga kita menyadari bahwa tidak tegak islam tanpa sebuah negara dan tak tegak negara tanpa kepemimpinan. Saya mantap dengan pilihan untuk Partai Kita Semua pada Pemilu 2014. Salam 3 B3sar.

Sumber Foto :

Foto PKS dari sini
Foto Kader Tarbiyah dari koleksi pribadi 

Our Turn

Setelah berulang kali menerima undangan pernikahan. Setelah bertahun menanti kapan menaut hati. Kini giliran saya untuk membagikan sepucuk undangan mewakili segala perasaan.

20140329_090207[1]

“Saat sebagian orang memilih untuk jatuh cinta, kami memilih menahan diri untuk berkasih dalam pernikahan barokah

saat sebagian orang memilih untuk jatuh cinta, kami menganggit kasih untuk membangunnya

karena,

Jodoh bukanlah tentang berapa lama engkau mengenal dia.
tapi berapa dekat dan ikhlas engkau mengharapkn keridhaanNya”

 

Assalamu’alaikum wr.wb.

Tanpa mengurangi rasa hormat, izinkan kami mengundang teman-teman untuk hadir pada acara pernikahan kami,

ANNISA MARTINA
(Matematika ITB 2006)
&
ANDRI WIJAYA
(Kimia ITB 2006)

Akad nikah:
Jumat, 18 April 2014
Pukul 13.00
Di Jl.Raya Cugenang No.70 (Depan kantor Kecamatan Cugenang, Cianjur)

Resepsi:
Sabtu, 19 April 2014
Pukul 11.00-14.00
Di Gd. Balerancage Jl.Siliwangi No.42, Sawah Gede, Cianjur Kota (Samping Kantor Polsek Cianjur Kota)

Merupakan suatu Kehormatan dan kebahagiaan bagi kami apabila teman-teman berkenan hadir dan memberikan doa restu agar menjadi keluarga yg sakinah, mawaddah, warohmah.

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Mengenangmu

Tanggal 21, dua bulan yang lalu. Tidur gue terganggu oleh dering telepon yang terdengar nyaring. Tak seperti biasanya, gue dengan sigap mengangkat telepon tersebut dan terlihat “Yuk Mala”, kakak perempuanku yang melakukan panggilan di pagi buta. Tumben, ujarku dalam hati.

Gue angkat telepon dan mengucapkan salam. Kakak gue membalas salam dan lalu dengan suara parau berkata “Ayah sudah tiada”. Lidah gue tercekat, tenggorokan gue berasa kering, mata gue nanar. Baru kemarin pagi kami bersapa, bertanya kabar seperti biasa. Tak ada tanda-tanda, pesan cinta, ataupun keluh kesah. Ia hanya mendoakan yang terbaik untuk saya sesaat sebelum menutup telepon.

Rabb, benarlah kiranya. Tak ada yang bisa memaju atau mundurkan ajal barang sesaat pun.

Hari ini, gue menyaksikan sebuah video yang sangat menyentuh. Kisah yang menggambarkan kasih seorang ayah yang sungguh menginspirasi. Cerita tentang seorang ayah yang mendermakan dirinya bagi kebahagiaan orang lain. Being rich is not about what you have; it’s about what you give

Kisah dalam video tersebut benar-benar menohok. Gue seolah merasa anak yang diperankan dalam video tersebut. Fragmen yang tersaji bak penggalan dari episode kehidupan yang gue jalani.

Pada beberapa poin, gue merasa menjadi anak yang ada dalam film tersebut dengan sosok ayah yang mirip secara karakter dengan ayah saya.

Gue memang tidak terlahir dari ayah yang kaya secara materi. Tapi beliau selalu mengajarkan untuk berbuat baik pada orang lain. Selalu melibatkan diri untuk setiap kebaikan yang dilakukan untuk sesama.

2 bulan sudah hari sudah sejak kepergiannya, nasihatnya masih terngiang. Ia adalah inspirasi terbesar gue untuk berempati. Ia mewariskan kebaikan yang tercetak pada  DNA gue.

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ

Ya Alloh ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku
(QS.Nuh 28)

رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِـيْراً

serta kasihilah mereka berdua seperti mereka mengasihiku sewaktu kecil
(QS. Al-Isro’ 24)

Pertemukanlah kami kembali di surga Engkau Ya Mujiib.

Islamic Book Fair 2014

IBF

Tidak pernah ada tokoh hebat, pemikir ulung, orang-orang besar terpisahkan dari aktifitas membaca. Seorang Anis Matta menghabiskan 10 jam sehari saat masa liburan sekolah dengan membaca varian jenis buku di saat teman-teman sebayanya tengah asik bermain. Para jenius di bidangnya adalah seorang yang gemar membaca. Membaca dapat meningkatkan kemampuan verbal, membantu menyampaikan ide, meningkatkan kemampuan mengatasi masalah, meningkatkan konsentrasi, meningkatkan kemampuan menulis, serta meningkatkan daya ingat.

Membaca adalah aktifitas yang sudah dilakukan oleh para pendahulu manusia. Dalam sebuah riwayat disebutkan bagaimana Qabil yang kebingungan menguburkan jasad saudaranya tampak tertegun ketika seekor gagak menggali dan membenamkan mayat gagak yang mati ke dalam tanah. Qabil mampu membaca tanda-tanda alam dan menggunakannya sebagai tools menghadapi permasalahan yang dihadapi. Generasi pertama manusia pun sudah berhasil “membaca” dengan caranya sendiri.

Membaca tidak terbatas pada teks yang tertuang di kertas atau layar laptop. Membaca pada masa tersebut berarti menterjemahkan, mentranslasi fenomena yang terjadi di sekitar menjadi sebuah pelajaran berharga.

Semenjak Cai Lun menemukan kertas 2 abad sebelum masehi dan kemudian disempurnakan oleh Johannes Gutenberg dengan mesin cetaknya 17 abad kemudian, aktifitas membaca mengerucut pada interaksi manusia dan buku yang menghasilkan ide-ide.

***

Mulai tanggal 28 Februari-9 Maret 2014, Islamic Book Fair (IBF) kembali menghiasi Istora, Senayan, Jakarta. Pameran buku islam terbesar yang diadakan setahun sekali di Jakarta ini memberikan kesempatan bagi para penikmat buku untuk berburu buku dengan harga yang cukup miring.

Buat gue, IBF kali ini adalah yang kedua setelah setahuh sebelumnya gue juga menghadiri IBF di tempat yang sama. Ga Nanya ya? Yaudah gapapa. Blog blog gue ini..haha.

Berbekal semangat mencari ilmu dan rekening yang masih utuh (habis gajian ceritanya), gue langsung melancong ke IBF pada hari pertama mereka buka. Gue harus menyusun strategi dan memilah terlebih dahulu buku apa saja yang menjadi prioritas untuk dibeli yang sesuai dengan kebutuhan dan kantong. Buat gue, berada di lautan buku adalah kebahagiaan yang sangat luar biasa, dikelilingi oleh khazanah pengetahuan yang membuncah.

Gue berhasil memindai beberapa buku yang sangat direkomendasikan untuk dibaca. Salah satu buku yang paling dicari oleh gue dan banyak orang lainnya adalah buku terbarunya Ust Salim A. Fillah Lapis-lapis keberkahan. Cuplikan adegan beberapa orang yang menyengaja diri mampir ke stand proumedia untuk sekedar melihat dan bertanya kepada penjaganya seputar kapan buku terbaru Ust Salim terbit, masih terekam jelas di memori gue.

Sambil mencari-cari, sesekali gue melihat stand-stand yang berjajar di bilik-bilik tersusun nan ajeg. Stand Mizan masih menggurita. Koleksi buku yang berlimpah dari penulis ternama menghiasi stand yang berada di beberapa titik. Buku Ust Felix Siauw masih menjadi santapan iman yang paling laris. Bertutut-turut Stand Republika dan gema insani menjadi beberapa stand yang paling diminati oleh pengunjung.

momentumWajah anis matta juga turut meramaikan pameran buku. Dengan siluet setengah badannya yang tengah mengepalkan tangan bak orang yang sedang berorasi memenuhi rak-rak buku di beberapa stand. Anis matta kembali menuangkan gagasan cemerlangnya dalam buku “momentum kebangkitan”. Buku yang berisi enam orasi dan tiga narasi Anis matta dalam berbagai forum publik dan kepartaian. Sejujurnya, saya pun masih belum tertarik membeli buku ini karena masih ada antrian panjang wishlist book yang harus dibeli.

Di tengah sesak dan padatnya manusia, ada kebahagian tersendiri saat gue berada di tengah pameran.  IBF memberikan ruang bagi semua buku bernafaskan islam dari semua aliran/gerakan/manhaj atau apapun klasifikasi yang orang-orang sematkan untuk pemahaman tarbiyah ikhwan, khilafah HTI, Salafi dll.  Buku-buku dari berbagai pergerakan hadir dengan daya tariknya masing-masing. Yang paling mencolok adalah stand ikhwan dan HT. Stand ikhwan dapat dicirikan dari buku-buku yang mengusung ide demokrasi dalam islam, tentang PKS, buku-buku karangan kader. Sementara HTI dapat dicirikan dari konten bukunya yang berbau khilafah dan strateginya. Salafi, JT bisa dikelompokkan berdasarkan jenis buku yang lebih menitikberatkan pada fiqh kontemporer dan buku-buku yang apolitis.

Melihat toko buku tersebut berjajar berdampingan, yang bisa jadi buku-buku di sana saling menjawab ide pergerakan masing-masing, adalah gambaran bahwa semestinya setiap harokah yang ada di bumi Indonesia maupun di dunia haruslah hidup damai, rukun tanpa perlu saling sikut dan saling menyudutkan. Silahkan setiap harokah berpegang teguh pada metoda pergerakan yang dilakukan tapi harus lebih terbuka terhadap kritik. Pun bagi mereka yang bersebrangan, haruslah saling menghargai karena bagaimanapun kita semua adalah tetap bertuhan Allah, berasulkan Muhammad dan berkitabkan Al-Quran.

Foto Bareng Ust Salim

Foto Bareng Ust Salim

Ah kenapa gue berceloteh ngalor ngidul. Sok ngerti masalah pergerakan islam.

Jelas, yang paling membahagiakan setiap ada book fair adalah harga buku yang diskon besar-besaran. Salah satu stand yang memberikan diskon secara dramatis adalah toko buku Zaman dengan potongan harga hingga 40%.

Apa? 40%?? *kamera zoom in, kamera zoom out*

Beberapa waktu lalu, gue tertarik untuk membeli buku Sejarah Perang Salib  karangan Karen Armstrong dan history of Arab karya Philip. K Hitti. Sayang, saat itu harga buku di gramedia masih selangit. Gue coba rayu Gayus Lumbuun buat minjemin gue duit, dia masih di penjara. Gue batalin niat tersebut dan lalu mengirimkan personal message ke akun facebooknya Zuckerberg, berharap doi menjadi begitu bodohnya memberikan gue duit secara cuma-cuma.

Beruntungnya, penerbit kedua buku tersebut, Zaman, mengisi salah satu booth di IBF 2014. Harga keduanya didiskon hingga 40%. Tanpa perlu pikir panjang, gue beli buku tersebut. Alhamdulillah, kalo jodoh emang ga kemana.

Perburuan gue berlanjut. Mata gue kemudian tertuju pada salah satu buku berjudul “Rockefeller’s files”. Ada yang pernah denger nama John D. Rockefeller? Atau pernah denger standard oil? Yup, doi adalah taipan minyak asal A.S yang berhasil melahirkan standard oil yang kini pecah menjadi Chevron, Exxon. Buku ini bertutur tentang kisah Rockefeller yang mengatur dunia, tandemnya Rothscild.

Saat tengah khusyuk mengamati, gue tanpa sengaja tersandung sebuah buku tebal dengan cover bergambar seorang pria afro-amerika yang mengenakan kacamata hitam dan jas nan gagah. Sosok seorang Malcolm-X, muslim revolusioner amerika yang memperjuangkan prinsip egaliter bagi warga kulit hitam di amerika. Sama halnya dengan Martin Luther King. Preferensi gue berubah. Gue tinggalkan Rockefeller untuk selanjutnya memilih Malcolm-X. Alasan utama gue berpindah ke lain hati adalah karena harga buku otobiografi tersebut hanya dibandrol 25.000 IDR. Tanpa menunggu Saiful Jamil nyanyi reggae, gue langsung ke kasir.

Hasil Buruan

Hasil Buruan

Tak lupa gue membeli buku Bahagianya Merayakan Cinta Ust Salim A. Fillah sebagai kado terindah buat temen kosan gue yang menikah. Sebuah buku suplemen yang akan membantu keluarga baru membangun cinta mereka dengan panduan kehidupan secara islami.

Untuk menutup perburuan, gue memilih buku Fiqih Demokrasi karangan Rapung Samuddin, LC. Buku yang memberikan opini tentang demokrasi dari sudut pandang fiqih. Buku ini gue jadiin sebagai referensi kalo ada orang-orang yang petantang petenteng berkoar koar demokrasi haram, mari golput, mengkafirkan mereka yang mengikuti alur demokrasi. Semoga dengan adanya buku ini, pemahaman gue menjadi semakin kokoh dan memberikan jawaban mengapa islam masih bertoleransi pada demokrasinya yunani.

Sebenernya ada satu lagi buku yang gue beli. Sebuah buku karya Ust. Muhammad Fauzil Adhim. Buku yang gue persembahkan buat seseorang di hari lahirnya yang ke-26. Semoga buku tersebut benar-benar menjadi kado terindah untuk dia. *judul buku masih dirahasiakan* :D.

Demikianlah hasil pertualangan gue di Islamic Book Fair 2014. Semoga buku-buku yang terbeli bisa diselesaikan lebih cepat. Buku yang dibeli saat IBF 2013 masih ada yang terbungkus rapih dengan plastik. Memang, membeli buku tidak selalu linier dengan membacanya. Sekian saja cerita gue, terus pantengin channel ini dan jangan lupa follow atau subscribe. Peace, love and Gaul. *lo kira youtube*.

Sumber Gambar

Banner Islamic Book Fair saya unduh di sini
Gambar Anis Matta dari sini

Refleksi

Menyaksikan wawancara walikota surabaya, Bu Risma, dengan Najwa Shihab dalam talkshow yang ditayangkan oleh salah satu tv swasta memberikan gambaran tentang betapa bobrok dan boroknya moral muda-mudi di negeri ini. Dalam salah satu cuplikan ditunjukkan betapa pilunya hati Bu Risma selaku narasumber maupun kami yang memandang dari layar kaca saat beliau menceriterakan bagaimana siswa SD dan SMP di Surabaya sudah mengenal baik dunia gelap prostitusi. Kisah yang membuat mulut menganga dan hati teriris saat tahu bahwa pelanggan PSK yang sudah over-aged adalah bocah-bocah yang baru beranjak remaja.

kenakalan remajaSudah separah itukah kondisi mental anak-anak saat ini? kemana orang tua mereka? Apakah mereka tidak berada dalam pengawasan yang baik?. Semua pertanyaan tersebut bergulat hebat di otak gue.

Berkaca dengan apa yang pernah gue rasain selama hampir 25 tahun gue hidup, hal-hal yang beririsan dengan kriminal, seks bebas, narkoba sangat jauh dari situasi yang pernah gue alami. Gue hanya berada dalam terminologi “tahu” namun tidak untuk mendekati apalagi mencoba. Gue pun menyadari bahwa keluarga dan lingkungan adalah faktor utama yang mampu melindungi seseorang semua bentuk kenakalan remaja.

Keluarga adalah faktor penting yang pertama kali mendapat sorotan. Orang tua gue tidak mewarisi harta berlimpah. Tidak juga mengasuh gue dalam kehidupan serba ada. Beruntungnya gue mempunyai kakak-kakak yang selalu membimbing gue ke jalan yang bener. Gue selalu dididik untuk menjadi orang yang baik dalam perspektif agama dan sosial.

Kakak gue melakukan proteksi yang “keras” dengan memarahi bahkan menampol jika gue melakukan hal-hal nakal yang mencoreng nama baik keluarga. Mungkin sebagian orang beranggapan bahwa kekerasan fisik akan membentuk karakter pendendam dan pemberontak, tapi tidak juga. Karakter yang keras berhasil membentuk gue jadi resisten terhadap kenakalan remaja. Namun pendidikan karakter yang keras harus diimbangi dengan doktrin agama yang juga memadai. Walau gue tidak berada di lingkungan pesantren, keluarga gue selalu mendoktrin untuk mendirikan sholat dimanapun berada. Kami tidak mengaji kitab kuning, tapi setidaknya sholat lima waktulah yang turut menjaga kami dari segala keburukan.

Gue tidak berasal dari keluarga parlente atau mewah. Malah bisa dibilang gue datang dari keluarga biasa-biasa saja jika tidak mau dibilang kere. Gue sudah terbiasa berada dalam kondisi yang serba sulit.

Keadaan yang membentuk mental gue menjadi lebih terlatih bahwa dalam setiap kepingan kebahagiaan yang lo peroleh, ada keringat dan darah orang lain di baliknya.

Dengan menyadari itu, gue tidak tumbuh menjadi anak yang manja dan berleha-leha dan secara otomatis, gue membentengi diri dari hal-hal negatif.

Gambar dari Group Whatsapp

Gambar dari Group Whatsapp

Level kenakalan terparah gue selama hidup terhenti pada merokok secara sembunyi-sembunyi. Itupun gue bakal dirajam sampe bego kalo ketauan oleh kakak gue. Bersyukurnya, gue tidak menemukan kenikmatan atau lebih tepatnya belum sampai pada level menyadari nikmatnya menghisap nikotin dan tar sehingga terhindar dari adiksi yang “mengikat”.

Faktor kedua adalah lingkungan. Bagi mereka yang hidup merantau, bekal yang ditanamkan  oleh keluarga adalah pondasi yang menguatkan ketahanan moral. Pondasi ini akan diperkuat atau diperlemah tergantung dari bagaimana kita memilih lingkungan tempat bernaung. Karena teman dan lingkungan adalah refleksi dari diri kita. Berteman dengan penjual parfum, kita akan kecipratan wanginya. Berteman dengan pandai besi, kita akan ikut gosong.

Dari kecil, lingkungan tempat gue bergaul adalah lingkungan yang tidak pernah membawa gue pada kenakalan yang mencemaskan. Mungkin kenakalan dalam level minimum tidak bisa dihindari. Mencuri klep motor, memainkan petasan di tengah kampung adalah beberapa kejahatan kecil yang sering kami lakukan. Tapi tidak lebih dari itu. Gue sangat anti dengan tawuran, minuman keras, narkoba, free seks.

Dunia kampus memberikan akses yang lebih luas untuk memilih lingkungan dengan segala jenis penawaran. Lingkungan para aktifis, lingkungan kebaikan, atau lingkungan yang berada dalam domain keburukan. Kita yang memilih itu semua. Lagi-lagi, pondasi yang kuat yang pernah ditanamkan oleh keluarga gue sangat berpengaruh pada lingkungan seperti apa yang akan kita pilih.

Pandai pandailah memilih teman bergaul. Berbaur boleh tapi jangan sampai tercampur. Menjadi minyak di tengah lautan akan menyelamatkan lo ketimbang memaksa diri menjadi alkohol yang kemudian pasrah bercampur bersama air.

Gue merasa sangat bersyukur tidak mengenal dunia kelam prostitusi atau narkoba karena gue ga bisa menjamin bahwa ketika satu kaki gue berada di dalam kubangan lumpur, gue hanya akan mencelupkan sedikit ujung jari untuk merasakan seperti apa kotornya ia. Alih alih, gue malah khawatir jatuh terjerembab hingga sekujur tubuh gue dipenuhi oleh noda. Bukan berarti gue menegasikan tagline ga ada noda ga belajar tapi gue takut kalo gue hanya berhenti pada level “noda” tidak merangkak naik ke level “belajar”.

Gue pun merefleksikan kehidupan yang gue rasakan dengan kondisi anak-anak seperti yang diceritakan oleh Bu Risma. Bahagia itu gue rasakan menjadi semakin sederhana. Ia bukanlah berbentuk materi dan segala turunannya. Bahagia bisa dirasa saat kehidupan kita, iman kita, kondisi keluarga kita jauh lebih baik dari orang-orang di luar sana.

Seperti inilah keluarga saya membentuk kepribadian saya, juga bagaimana saya memilih lingkungan. Saya akan menjadikan standar kehidupan ini sebagai refleksi yang akan saya gunakan buat anak dan cucu saya kelak. Meskipun dunia berbeda, namun substansi pendidikan karakter ini akan tetap saya pertahankan.

Gue yakin keluarga kalian melakukan hal yang sama, bukan? So, don’t disappoint them

Paling tidak, seminimal mungkin anak-anak gue nantinya harus mendapatkan pendidikan moral seperti apa yang pernah gue dapetin dulu.

Sumber Gambar

Gambar 1 diambil dari sini
Gambar 2 dari group Whastaap (untraceable)

#16 Muhammad Fachrie

IMG-20140220-WA0004[1]Gue menuliskan kisah ini di bawah tekanan hebat. Orang yang namanya gue tulis sebagai judul tulisan terus menerus memaksa gue untuk meninggalkan kisahnya di blog sederhana ini. *Tetot, majas litotes!*. Gue pun menulis di bawah todongan pistol dan senapan mesin. Entah perasaan apa yang menjalar, untuk beberapa saat gue merasakan sensasi menjadi penulis yang dinanti-nanti karyanya namun di satu sisi keselamatan gue terancam. Kenapa gue jadi mabok gini.

Gue mulai dari mana ya… Hmmm!!

Suatu hari di sebuah sekolah menengah atas, terlihat beberapa orang pemuda dengan rona wajah yang ceria, baju rapih terselip ke dalam celana, bekas air wudhu masih membasahi rambut dan sela sela jari. Sambil mengibaskan rambut hingga percikan air tersebar kemana-mana, mereka serentak bersorak “ketombe, siapa takut?”

Para pemuda ramah ini tengah mencoba mengharmonisasi suara untuk turut serta dalam lomba nasyid di salah satu SMA di pojok Kota Palembang. Perlahan tapi pasti, salah seorang siswa yang mengenakan kacamata mengambil ancang-ancang untuk mengambil nada dan mengeluarkan cengkok mautnya. Di saat ia sedang bersiap, salah seorang anggota tim nasyid mencoba menginterupsi. Sontak saja, vokalis dan anggota tim yang lain sewot  bertanya-tanya kenapa ada interupsi di saat lagu akan mulai dinyanyikan.

“Gue ga mau jadi perkusi. Gue maunya jadi Elang”

“Hah, perkusi? perkutut maksud lo? Jangkrik, jauh banget!”

“Garing ye? Hahaha.. biarin aja dah. Maksud gue, gue ga mau jadi perkusi alias akapelis di grup nasyid ini. Gue maunya jadi vokalis biar eksis dan bisa dilihat orang-orang. Gimana menurut kalian?”.

Gue pelan-pelan memandang pemuda ini. Sambil mengernyitkan dahi, gue spontan bilang

“Kalo aku sih oke aja. Ga tau kalo Mas Dani dan Mas Anang”.

Alamak, anak satu ini pengen dijitak. Interupsi di tengah latihan cuma buat menyampaikan hal yang peluang terwujudnya sama kayak peluang Meyda Safira nikah sama gue. Nol besar. Hampir saja latihan nasyid tersebut berubah menjadi latihan menguliti siswa. Untungnya kami tengah berada di musola. Alarm di balik hijab jauh lebih mengerikan daripada apapun. Akhwat-akhwat akan berkicau “afwan akhi, ada yang lagi sholat”  jika ada sedikit saja kegaduhan di area ikhwan.

Personel nasyid yang tega-teganya menginterupsi latihan demi menyerukan aspirasi yang geje, kini dikenal dengan Muhammad Fachrie.

fahriJangan banding-bandingin Fachrie temen gue dengan Fahri yang membuat Maria serta Aisyah jatuh cinta ye. Kalian akan kecewa!. *Kabur sebelum ditampol*

Sebut Saja Mawar Fachrie. Pria jangkung yang sangat menyukai dunia per-IT an. Sejak masuk SMA, dia langsung bergabung ke salah satu organisasi sekolah yang memfasilitasi siswanya untuk mengenal jauh programming, hardware, software dan teman-teman seperjuangannya.

Semasa SMA, dia adalah anak yang konyol atau bahasa inggrisnya “ucak-ucak”. Dengan mudahnya, tanpa menunggu komando dari batalyon atau resimen mahasiswa, Fachrie bisa sekonyong-konyong membahas tentang pempek, pempek rasa ayam, dimana ada penjual pempek, saat yang lain tengah berdiskusi tentang gerak lurus berubah beraturan. Kami pun hanya bisa menerka apa yang terjadi dengan anak ini. Apakah aliran informasi ke otaknya sudah tersumbat oleh cuka pempek. Atau jangan-jangan, ia tengah berfantasi, berada di dunia paralel yang berisi pempek-man, iron-pempek, spiderpempek dan galau membedakan dunia nyata dan alam pempek fantasinya.

Orientasi fachrie dengan pempek sudah sampai pada tahap mengkhawatirkan. Jika discan dengan MRI, gue khawatir dia mengalami delusi akut. Pempek seolah mensekresikan oksitosin yang membuat dia nyaman.. haha.

Keanehan Fachrie tidak berhenti sampai di sini. Setiap kali makan siang, gue dan temen-temen menempuh jarak yang cukup jauh. Dua kali bolak-balik perjalanan Tong Sam Cong dan Sun Go Kong mencari kitab ke barat. Resiko tersebut harus kami tempuh demi mendapatkan harga yang pas dengan kantong kami sebagai siswa SMA yang kere.

Dengan jarak tempat makan yang berada di seberang sekolah, kami harus melalui jembatan dan area yang terpapar oleh sinar matahari. Di sinilah kita bisa menemukan betapa uniknya seorang bani adam bernama MUHAMMAD FACHRIE.

Berasa seorang count drakula, Fachrie selalu berusaha menghindari sinar matahari yang menyinari tubuhnya. Entah dengan alasan kulitnya bisa berfotosintesis lalu perlahan menguap menyisakan Fachrie dan tulangnya atau ia takut kulitnya menjadi semakin gelap. Dia lupa bahwa Vas*line sudah melakukan inovasi dengan SPF 46 yang mencegah radiasi kulit dan memperlambat penuaan *bukan blog berbayar*.

Nah, kalian mungkin bisa membayangkan bagaimana perasaan kami. Saat terkena sinar matahari, Fachrie perlahan bersembunyi di balik bangunan menjulang sambil lari berjinjit dan menutupi kepala dan wajahnya dengan tangan. Jika kondisi sudah begini, gue juga yang kesulitan buat memberikan klarifikasi kepada wartawan-wartawan.

dulur2 SMA (5)Semasa SMA, Fachrie adalah salah satu pentolan ROHIS dan Nasyid SMA 3. Dia juga berada pada kondisi intelektual yang tidak berbeda jauh dengan gue. Kami berada pada kelas bulu terbang. Selama tiga tahun setia duduk sebangku dengan Hafizzanovian. Sangat mengidolakan Sheila On 7. Saking ngefansnya, dia bisa memainkan beberapa melodi lagu SO7 serta mengimitasi sosok Eros. Kurusnya sama broo!.

Oh iya, Gue hampir lupa. Fachrie juga kerap kali dipanggil dengan “nyit-nyit”. Wallahu ‘alam kenapa panggilan yang awckward tersebut bisa tersematkan, hanya Fachrie dan ibu peri yang tau. Yang jelas kami nyaman memanggil fachrie dengan nyit-nyit bahkan sampai saat ini.

Seusai menempuh pendidikan di sekolah menengah atas, doi melanjutkan kuliah ke Institut Teknologi Telkom, Bandung. Di kampus inilah Fachrie mampu memaksimalkan segenap potensinya. Dia melejit dengan menorehkan berbagai prestasi dan yang paling utama, anak yang semasa SMA nya jauh dari kesan serius, mampu bertransformasi menjadi pemuda soleh yang merengkuh jabatan sebagai Sekjen LDK di kampusnya. Wow, sebuah prestasi yang luar biasa. Bener-bener gambaran perubahan yang keren bingits.

Setiap kali berkunjung ke IT Telkom, Gue sering bertemu doi tengah ngadem di masjid kampus entah sebagai jamaah atau menemukan Fachrie sedang berebut tajil sambil sikut-sikutan dengan bocah sekitaran Dayeuh Kolot. Aura Fachrie (bukan aura kasih) nampak berubah. Dia terkesan lebih dewasa dan gosong matang dengan pemahaman keagamaan yang semakin baik.

Selesai kuliah, Fachrie tidak serta merta memutuskan untuk bekerja. Ia lebih memilih melanjutkan pendidikan tentang Artificial Intelligence di kampus UGM.  Belum sempat menyelesaikan studinya, Fachrie sudah diterima menjadi dosen di tempat ia meraih gelar sarjana. Dia kebagian jatah untuk mengisi posisi dosen ilmu pempek dan percuka-an. Hahhaa.

Fachrie, Hani dan Perwakilan IPA A

Fachrie, Hani dan Perwakilan IPA A

Januari 2014, Fachrie mempersunting seorang Gadis Jawa yang Ayahnya merupakan salah seorang Guru Besar di UGM. Gadis ini sempat menempuh kuliah di Institut Teknolog Bandung. Kisah cinta Fachrie sungguh unik jika dirunut. Kuliah di Bandung, Nyari jodoh di Bandung, melanjutkan kuliah di jogja, jodohnya orang Jogja. Sungguh (bukan) sebuah kebetulan.

Selamet akhe, ente meraih gelar ke-16 member IPA A yang sudah menikah dan yang ketiga di antara para jejaka.