Cerita di Balik Sebuah Foto

2 dari 3 foto oleh Frans Mendur

2 dari 3 foto oleh Frans Mendur

Berterimakasihlah pada Frans Mendoer (Mendur). Berkat Hasil jepretannya, kita setiap tahun masih dapat menyaksikan detik-detik bersejarah proklamasi kemerdekaan 1945. Frans bersama sang kakak, Alex, adalah juru foto yang bertepatan hadir pada momen di mana Bung Karno membebaskan Indonesia dari penjajahan selama bertahun-tahun. Sial bagi Alex, semua hasil dokumentasinya dirampas dan dihancurkan oleh tentara Jepang. Untungnya negatif foto hasil bidikan Frans disimpan di sebuah pohon di halaman kantor harian Asia Raya. Setelah Jepang pergi, negatif tersebut dipublikasi secara luas hingga kita bisa menikmatinya sampai sekarang.

Banyak momen penting lain yang sengaja diabadikan untuk mengenang sebuah peristiwa. Terkadang foto bercerita lebih banyak daripada kata-kata. Ia bahkan mampu mewakili sebuah sejarah. Maju sedikit ke tahun 1989, kita terbelakak oleh aksi berani seorang pria yang menghadang konvoi tank di dekat Tiananmen Square, Beijing. Foto tersebut mendapatkan perhatian yang sangat luas dari penduduk dunia. Pria tersebut sekarang melegenda dengan sematan “Tank Man”.

Gue ga akan bercerita tentang foto-foto lainnya karena blog ini bukan on the spot. Yang ingin gue tekankan adalah setiap foto yang kalian dokumentasikan mengandung ceritanya sendiri. Buat gue, Sebagian foto adalah sumber inspirasi. Gue terinspirasi memasang foto selfie gue di dapur dan loteng. Diharapkan hasilnya Lebih bagus untuk mengusir tikus, nyamuk dan kecoa daripada racun serangga komersial walaupun ga perlu bayar lebih mahal.

Foto-foto yang terdokumentasikan dalam setiap perangkat, ada baiknya dimanfaatkan untuk peristiwa yang bersejarah dalam hidup kalian. Sebelum hari-H pernikahan, gue berusaha membuat video dari foto-foto perjalanan gue dan istri. Video tersebut rencancanya diputar pada saat hari pernikahan dengan memanfaatkan salah satu layar di sudut gedung. Well, pembuatan video tersebut cukup menyita waktu. Selain harus memilah foto yang akan digunakan, mencari aplikasi yang cukup menunjang pembuatan video dari foto tidak semudah yang gue bayangkan sebelumnya. Walau memang tidak harus bayar lebih mahal. Oi, tadi udah dibahas.

Dari segenap foto yang ada, terpapar sebuah benang merah bahwa gue dan istri memang memiliki hobi jalan-jalan. Dia sangat menyukai pantai dan saya menambahkan gunung dalam destinasi perjalanan.

Untuk mengenang video tersebut, gue secara sengaja mempersembahkannya kembali ke dalam blog ini

Seorang Ayah, di Lapis Berkah

Sebagai seorang pria yang lika-liku hidupnya kelak akan diwarnai oleh pasangan, anak dan tatanan kehidupan yang lebih kompleks, adalah sangat elok untuk mendapatkan seputar nasihat tentang bagaimana hubungan peran seorang ayah dengan keimanan terhadap Allah agar kehidupan keluarga diwarnai oleh keberkahan. Ustad muda Salim A. Fillah telah membuat sebuah karya untuk para ayah dan calon ayah yang kelak akan menjadi pahlawan pertama putranya dan juga cinta pertama putrinya.

Mari kita simak tulisan berikut yang disadur dari blog beliau

*****

LLK 2a

Di lapis-lapis keberkahan, mari sejenak belajar dari seorang ayah, budak penggembala kambing yang bertubuh kurus, berkulit hitam, berhidung pesek, dan berkaki kecil. Tetapi manusia menggelar hamparan mereka baginya, membuka pintu mereka selebar-lebarnya, dan berdesak-desak demi menyimak kata-kata hikmahnya. Dia, Luqman ibn ‘Anqa’ ibn Sadun, yang digelari Al Hakim.

Seseorang pernah bertanya kepadanya, “Apa yang telah membuatmu mencapai kedudukan serupa ini?”

“Aku tahan pandanganku”, jawab Luqman, “Aku jaga lisanku, aku perhatikan makananku, aku pelihara kemaluanku, aku berkata jujur, aku menunaikan janji, aku hormati tamu, aku pedulikan tetanggaku, dan aku tinggalkan segala yang tak bermanfaat bagiku.”

Dia tak diberikan anugrah berupa nasab, kehormatan, harta, atau jabatan”, ujar Abud Darda’ Radhiyallahu ‘Anhu ketika menceritakan Luqman Al Hakim. “Akan tetapi dia adalah seorang yang tangguh, pendiam, pemikir, dan berpandangan mendalam. Dia tidak pernah terlihat oleh orang lain dalam keadaan tidur siang, meludah, berdahak, kencing, berak, menganggur, maupun tertawa seenaknya. Dia tak pernah mengulang kata-katanya, kecuali ucapan hikmah yang diminta penyebutannya kembali oleh orang lain.”

“Dan Kami telah mengaruniakan hikmah kepada Luqman, bahwasanya hendaklah engkau bersyukur kepada Allah. Dan barangsiapa bersyukur, maka hanyasanya dia bersyukur bagi dirinya. Dan barangsiapa mengkufuri nikmat, sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuja.” (QS Luqman [31]: 12)

“Hikmah”, tulis Imam Ibn Katsir dalam Tafsirnya, “Yakni pengetahuan, pemahaman, dan daya untuk mengambil pelajaran.” Inilah yang menjadikan Luqman berlimpah kebijaksanaan dalam kata maupun laku. Tetapi setinggi-tinggi hikmah itu adalah kemampuan Luqman untuk bersyukur dan kepandaiannya untuk mengungkapkan terimakasih.

“Kemampuan untuk mensyukuri suatu nikmat”, ujar ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz, “Adalah nikmat yang jauh lebih besar daripada nikmat yang disyukuri itu.” Dan pada Luqman, Allah mengaruniakannya hingga dia memahami hakikat kesyukuran secara mendalam. Bersyukur kepada Allah berarti mengambil maslahat, manfaat, dan tambahan nikmat yang berlipat-lipat bagi diri kita sendiri. Bersyukur kepada Allah seperti menuangkan air pada bejana yang penuh, lalu dari wadah itu tumpah ruah bagi kita minuman yang lebih lembut dari susu, lebih manis dari madu, lebih sejuk dari salju.

Adapun bagi yang mengkufuri Allah, adalah Dia Maha Kaya, tidak berhajat sama sekali pada para hambaNya, tidak memerlukan sama sekali ungkapan syukur mereka, dan tidak membutuhkan sama sekali balasan dari mereka. Lagi pula Dia Maha Terpuji, yang pujian padaNya dari makhluq tidaklah menambah pada kemahasempurnaanNya, yang kedurhakaan dari segenap ciptaanNya tidaklah mengurangi keagunganNya.

Maka Luqman adalah ahli syukur yang sempurna syukurnya kepada Allah. Dia mengakui segala nikmat Allah yang dianugrahkan padanya dan memujiNya atas karunia-karunia itu. Dia juga mempergunakan segala nikmat itu di jalan yang diridhai Allah. Dan dia pula berbagi atas nikmat itu kepada sesama sehingga menjadikannya kemanfaatan yang luas.

“Seseorang yang tidak pandai mensyukuri manusia”, demikian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam hadits riwayat Imam At Tirmidzi, “Sungguh dia belum bersyukur kepada Allah.” Maka asas di dalam mendidik dan mewariskan nilai kebaikan kepada anak-anak sebakda bersyukur kepada Allah sebagai pemberi karunia adalah bersyukur kepada sang karunia, yakni diri para bocah yang manis itu.

Di lapis-lapis keberkahan, rasa syukur yang diungkapkan kepada anak-anak kita adalah bagian dari bersusun-susun rasa surga dalam serumah keluarga.

“Nak, sungguh kami benar-benar beruntung ketika Allah mengaruniakan engkau sebagai buah hati, penyejuk mata, dan pewaris bagi kami. Nak, betapa kami sangat berbahagia, sebab engkaulah karunia Allah yang akan menyempurnakan pengabdian kami sebagai hambaNya dengan mendidikmu. Nak, bukan buatan kami amat bersyukur, sebab doa-doamulah yang nanti akan menyelamatkan kami dan memuliakan di dalam surga.”

Inilah Rasulullah yang mencontohkan pada kita ungkapan syukur itu bukan hanya dalam kata-kata, melainkan juga perbuatan mesra. “Ya Rasulallah, apakah kau mencium anak-anak kecil itu dan bercanda bersama mereka?”, tanya Al Aqra’ ibn Habis, pemuka Bani Tamim ketika menghadap beliau yang sedang direriung oleh cucu-cucu Baginda.

“Mereka adalah wewangian surga, yang Allah karuniakan pada kita di dunia”, jawab beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sembari tersenyum.

“Adalah aku”, sahut Al Aqra’ ibn Habis, “Memiliki sepuluh anak. Dan tak satupun di antara mereka pernah kucium.”

“Apa dayaku jika Allah telah mencabut rahmatNya dari hatimu? Barangsiapa yang tidak menyayangi, dia tidak akan disayangi.”

“Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya dan dia sedang memberi pengajaran kepadanya, ‘Duhai anakku tersayang, janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya kesyirikan adalah kezhaliman yang besar.” (QS Luqman [31]: 13)

Dengarlah Luqman memanggil putranya, Tsaran ibn Luqman dengan sapaan penuh cinta, “Ya Bunayya.. Anakku tersayang.” Alangkah besar hal yang akan dia ajarkan. Betapa agung nilai yang akan dia wariskan. Yakni tauhid. Bahwa Allah adalah Rabb, Dzat  yang telah mencipta, mengaruniakan rizqi, memelihara, memiliki, dan mengatur segala urusannya. Maka mempersekutukan Dia; dalam ibadah, pengabdian, dan ketaatan adalah sebuah kezhaliman yang besar.

Kenalkanlah Allah pada anak-anak kita sejak seawal-awalnya, dengan cara yang paling pantas bagi keagungan dan kemuliaanNya. Kenalkanlah Allah pada anak-anak kita dari semula-mulanya, dengan kalimat yang paling layak bagi kesucian dan keluhuranNya. Kenalkanlah Allah pada anak-anak kita mulai sepangkal-pangkalnya, dengan ungkapan dan permisalan yang paling sesuai bagi kesempurnaan dan kebesaranNya.

Sebab janji kehambaan seorang makhluq telah diikrarkan sejak di alam ruh, maka membisikkan tauhid ke dalam kandungan, melirihkannya pada telinga sang bayi dalam buaian, atau menyenandungkannya sebagai pengajaran adalah baik adanya.

“Dan Kami wasiatkan kepada manusia kebaikan terhadap kedua orangtuanya; ibunya yang telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, ‘Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua orangtuamu. KepadaKulah tempat kembalimu.”(QS Luqman [31]: 14)

Maha Mulia-lah Dzat yang dalam pembicaraan tentang keesaanNya dari pengajaran seorang ayah kepada putra, Dia meminta perhatian sejenak tentang hak kedua orangtua. Maha Agung-lah Dzat yang dalam penuturan tentang ketauhidanNya dari wasiat seorang bapak kepada anak, Dia mengingatkan kita tentang kebaikan yang wajib kita tanggung terhadap sosok yang telah mengandung, melahirkan, mendidik, dan menumbuhkan kita.

Sesungguhnya lisan perbuatan jauh lebih fasih daripada lisan perucapan. Maka apa yang dilihat oleh anak-anak kita akan terrekam lebih kokoh di dalam benak dan jiwa mereka dibanding semua kata-kata yang coba kita ajarkan padanya. Maka siapapun yang merindukan anak berbakti bakda ketaatannya kepada Allah, bagaimana dia memperlakukan kedua orangtua adalah cermin bagaimana kelak putra-putrinya berkhidmat kala usia telah menua.

Allah menyatukan antara kesyukuran padaNya dengan kesyukuran pada orangtua, sebab melalui ayah dan ibulah Dia mencipta kita, memelihara, mengaruniakan rizqi, serta mengatur urusan. Ayah dan ibu adalah sarana terjadinya kita, terjaganya, tercukupi keperluannya, serta tertata keadaannya. Maka Allah menganugerahkan kehormatan kepada mereka dengan doa yang indah, “Rabbighfirli wa li walidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira.

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tiada pengetahuan bagimu terhadapnya, maka janganlah kau taati keduanya. Dan persahabatilah mereka berdua di dunia dengan baik. Dan ikutilah jalan orang yang kembali bertaubat kepadaKu, kemudian hanya kepadaKulah tempat pulang kalian, maka akan Kuberitakan pada kalian apa-apa yang telah kalian kerjakan.” (QS Luqman [31]: 15)

Allah memberikan batas yang jelas tentang bakti kepada orangtua, yakni lagi-lagi tauhid itu sendiri. Tidak ada ketaatan kepada makhluq, siapapun dia, semulia apapun dia, dalam rangka bermaksiat kepada Al Khaliq. Tapi berbedanya keyakinan orangtua yang masih musyrik dengan kita yang mengesakan Allah sama sekali tak menggugurkan perlakuan yang patut dan sikap bakti yang terpuji terhadap mereka.

Jalan untuk menjadi orangtua yang mampu mendidik anaknya juga hendaknya mengikuti jalan orang-orang yang bertaubat nashuha. Sebab tak ada yang suci dari dosa selain Sang Nabi, maka sebaik-baik insan adalah yang menyesali salah, memohon ampun atasnya, memohon maaf kepada sesama, serta berbenah memperbaiki diri. Pun demikian terhadap anak-anak kita.

Banyakkan istighfar atas ucapan dan perlakuan kepada putra-putri kita. Jangan malu mengakui kekhilafan dan meminta maaf kepada mereka. Teruslah memperbaiki diri dengan ilmu dan pemahaman utuh bagaimana seharusnya menjadi seorang Ayah dan Ibu yang amanah. Sebab kelak, ketika seluruh ‘amal kita kembali tertampak, Allah pasti menanyakan segenap nikmat yang telah kita kecap, dan meminta pertanggungjawaban atas segala perbuatan. Pada hari itu, seorang anak yang tak dipenuhi hak-haknya oleh orangtua untuk mendapatkan ibunda yang baik, lingkungan yang baik, nama yang baik, serta pengajaran adab yang baik; berwenang untuk menggugat mereka.

“Duhai anakku tersayang, sungguh seandainya ada sesuatu yang seberat timbangan biji sawi tersembunyi di dalam sebuah batu, atau di lapis-lapis langit, atau di petala bumi; niscaya Allah akan mendatangkan balasannya. Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Tahu.” (QS Luqman [31]: 16)

Luqman melanjutkan pengajarannya dengan menjelaskan hakikat ‘amal baik dan buruk serta dasar dorongan beramal yang sejati. Ini dilakukannya sebelum memberi perintah tentang ‘amal shalih di kalimat berikutnya. Sungguh, menanamkan pada anak-anak kita bahwa Allah senantiasa ada, bersama, melihat, mendengar, mengawasi, dan mencatat perbuatan dan keadaan mereka, jauh lebih penting dibanding perintah ‘amal itu sendiri.

Sungguh memahamkan pada anak bahwa Allah-lah yang senantiasa hadir di setiap ‘amal maupun hal, bahwa Dia Maha Mengetahui segala yang tampak maupun tersembunyi, yang mereka lakukan kala ramai bersama maupun sunyi sendiri, adalah dasar terpenting sebelum memerintahkan kebajikan dan melarang dari kemunkaran. Dan bahwa Allah akan membalas semua itu dengan balasan yang setimpal dan sempurna.

Penting bagi kita untuk mengatakan pada mereka, “Nak, Ayah dan Ibu tak selalu bias bersamamu dan mengawasimu, tapi Allah senantiasa dekat dan mencatat perbuatanmu. Dia Maha Melihat dan Maha Mendengar. Jangan takut kalau kamu berlaku benar dan berbuat baik, sebab Dia akan selalu menolongmu. Jangan khawatir ketika kamu berlaku benar dan berbuat baik, sebab sekecil apapun ‘amal shalihmu, meski Ayah dan Ibu serta Gurumu tak tahu, tak dapat memuji maupun memberikan hadiah padamu; tetapi Allah selalu hadir dan balasan ganjaran dari Allah jauh lebih baik dari segala hal yang dapat diberikan oleh Ayah dan Ibu.”

“Demikian pula Nak, jika kamu berbuat keburukan atau berbohong, sekecil apapun itu, meski Ayah, Ibu, maupun Ustadzmu tak menyadarinya, sungguh Allah pasti tahu. Dialah Dzat yang tiada satu halpun lepas dari pengetahuan dan kuasaNya, hatta daun yang jatuh dan langkah seekor semut di malam gulita. Dan Allah juga pasti memberi balasan yang adil pada setiap kedurhakaan padaNya, juga atas keburukan yang kamu lakukan pada Ayah, Ibu, dan sesama manusia lainnya.”

Inilah dia pokok-pokok pengajaran; dari sejak rasa syukur, tauhid, bakti kepada orangtua, taubat, hingga pemahaman akan hakikat ‘amal di hadapan Allah. Ianya harus menjadi perhatian setiap orangtua bahkan sebelum memerintahkan ‘amal terpenting di hidup anak-anak mereka yang akan dihisab pertama kalinya, yakni shalat. Kini kita tepekur menganggukkan kepala, mengapa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberi arahan agar kita memerintahkan shalat kepada anak barulah ketika dia berumur tujuh, dan barulah orangtua diizinkan memberi pukulan yang tidak menyakitkan dan tidak menghinakan pada umur sepuluh tahun ketika anaknya menolak shalat.

Sebab sebelum tujuh tahun, ada hal-hal jauh lebih besar yang harus lebih didahulukan untuk ditanamkan padanya.

“Duhai anakku tersayang, tegakkanlah shalat, perintahkanlah yang ma’ruf, cegahlah dari yang munkar, dan bersabarlah atas apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara-perkara yang ditekankan.” (QS Luqman [31]: 17)

“Dirikanlah shalat dengan menegakkan batas-batasnya”, tulis Imam Ibn Katsir dalam Tafsirnya, “Menunaikan fardhu-fardhunya, serta menjaga waktu-waktunya.” Shalat yang mencegah perbuatan keji dan munkar pada diri selayaknya diikuti tindakan untuk mengajak dan menjaga manusia supaya tetap berada di dalam kebaikan dan terjauhkan dari keburukan. Shalat yang kita ajarkan pada anak-anak kita sudah selayaknya membentuk jiwa dakwah yang tangguh pada dirinya, hingga dia mampu bersabar atas segala yang menimpanya di dalam beriman, berislam, berihsan, berilmu, dan berdakwah.

“Dan janganlah engkau memalingkan muka dari manusia serta jangan berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah engkau dalam berjalan, serta tahanlah sebagian suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.” (QS Luqman [31]: 18-19)

Kata “Ash Sha’r”, menurut Imam Ath Thabari asalnya bermakna penyakit yang menimpa tengkuk seekor unta sehingga kepala dan punuknya melekat dengan wajah yang terangkat ke atas lagi bergerak ke kiri dan ke kanan di kala berjalan. Luqman melarang putranya dari mengangkat wajah dan memalingkan muka semacam itu dengan rasa sombong yang berjangkit di hati.

Inilah buah dari iman, ilmu, ‘amal, dan dakwah dari seorang putra yang dididik oleh ayahnya. Ialah akhlaq yang indah kepada sesama, berpangkal dari lenyapnya rasa angkuh dalam dada sebab mengenal dirinya dan merundukkan diri karena tahu bahwa dia hanya salah satu makhluq Allah yang memiliki banyak kelemahan serta kesalahan. Inilah akhlaq itu, yakni saripati yang manis, harum, dan lembut dari buah pohon yang akarnya kokoh menghunjam, batangnya tegak menjulang, dan cecabangnya rimbun menggapai langit.

Dan akhirnya, akhlaq itu disuguhkan dalam tampilan yang paling menawan berupa terjaganya Adab dengan cara berjalan yang sopan dan patut serta cara bicara yang lembut dan santun. Inilah pengajaran sempurna dari Luqman kepada putranya, digenapi dengan panduan mengejawantahkan akhlaq menjadi adab. Akhlaq adalah nilai kokoh yang menetap dalam jiwa. Adab mengenal zaman dan tempat yang bertepatan baginya.

Inilah bersusun-susun rasa surga di serumah keluarga, teladan dari Luqman dalam mewariskan nilai-nilai kebajikan pada anaknya, di lapis-lapis keberkahan yang penuh cinta.

sepenuh cinta,

-salim a. fillah-

Yang tak Berubah

Ada hal-hal yang tak berubah seiring menuanya usia bumi. Ia tetap bertahan dalam posisinya. Terkadang siklus kehidupan mengikis dimensi fisiknya namun secara makna ia rigid. Jauh lebih stabil daripada artis yang suka lepas-pasang jilbab. Idul fitri kemarin menjadi saksi bagaimana ‘kekekalan’ tersebut  berlaku. Bukan hanya termodinamika saja yang boleh memiliki hukum kekekalan. Beberapa hal ini juga ‘kekal’ setidaknya buat gue.

Selfie of the year

20140802_125424Dari tahun 2003, kekonyolan yang dibalut dengan rasa persahabatan yang lebih kental daripada kuah mie sedap kari ayam selalu menyelimuti pertemuan bersama teman-teman sekolah menengah atas. Katanya sih persahabatan tak mengenal usia. Tak perduli seberapa cepat waktu bergulir, segala kegilaan bersama sohib SMA adalah salah satu momen yang mengabadi. Bayangkan saja mulai dari hari-hari yang diisi wajah culun berseragam abu hingga sebagian sudah menikah dan membawa bayi, tingkah laku manusia-manusia pada gambar di atas tak berubah. Yang jayus tetap jayus. Yang heboh masih sama. Ya, karena bagi kami usia hanyalah angka angka yang berderet. Bertambahnya usia tak mengubah perilaku sosok yang pernah hadir setiap senin-jumat selama 3 tahun.

Selain momen bersama sahabat, kehangatan berkumpul bersama keluarga juga tak pernah berubah. Setiap tahun berkumpul bersama keluarga dalam momen idul fitri menjadi energi tersendiri untuk menapaktilasi kisah masa kecil, melihat tumbuh kembang keponakan dan canda-tawa renyah bersama ibu dan kakak-kakak diselingi tangis dan riuh rendah bocah-bocah yang bersautan.

Tahun ini kami tak bersama dengan ayah. Beliau selaku kepala keluarga yang senantiasa memimpin ‘seremoni’ idul fitri setiap tahunnya harus menghadap Allah terlebih dahulu. Kehadiran istri saya dalam keluarga besar kami semoga menjadi pelipur lara untuk menutupi kehilangan sosok sang jagoan pertama.

20140801_16141820140801_163640Keluarga dan sahabat adalah dua faktor yang menjadi magnet untuk selalu ingin kembali ke kampung halaman. Kehadiran mereka menjadi hawa dingin untuk menyejukkan teriknya Kota Palembang. Alhamdulillah gue ga butuh adem sari kalo begini.

Satu hal lagi yang tak berubah selama idul fitri adalah THR. Ssst.. Suka tidak suka, sadar tidak sadar, para kurcaci itu akan menghantui lo dengan todongan dan rengekan

‘Om, THRnya mana?’

Setelah Hujan itu

after rainBukankah hujan tak pernah sama?

Apanya yang tak sama? Jatuhnya yang tak berirama ataukah emosi yang hadir setiap kali ia turun menyapa bumi dengan rinai dan basah yang menempel di depan kaca.

Kau bisa mentafsirkannya sendiri. Aku rasa tidak butuh thesaurus untuk mengerti kenapa hujan tak pernah sama. Yang kau perlukan hanyalah kecakapan untuk merekam semua peristiwa yang terjadi saat rinainya bertatapan mesra dengan tanah, dengan pohon dan mungkin denganmu saat engkau memaksa untuk memeluk hujan.

Bagiku hujan tak pernah sama. Namun di antara semua yang berbeda tetap satu yang dengan pongah bertengger gagah di antara sekian juta labirin memori tentang hujan.

Sini, aku ceritakan kepadamu tentang hujan yang mengubah segalanya. Karena setelah hujan itu, kehidupanku pun berubah. Tidak lagi berupa kisah tunggal yang goyah karena riuhnya angin, derasnya gelombang dan gemuruhnya petir. Setelah hujan itu, kisah lama perlahan memudar digantikan oleh babak baru yang kali ini aku berperan sebagai raja yang memimpin sebuah istana. Tentang raja yang berkomitmen pada janji dengan langit dan bumi menjadi saksi. Janji yang mengalahkan sumpah palapa milik seorang patih Gajah mada.

Aku masih ingat. Hari itu sabtu minggu kedua bulan Februari. Sabtu yang terasa begitu istimewa hingga malamnya pun mata ini tak bisa tertidur dengan lelap. Berbekal kepercayaan diri, kakiku melangkah dengan mantap. Awalnya langit begitu cerah. Tak nampak awan berarak apalagi yang bergumul membentuk sirus, cumulus ataupun stratus.

Tanpa basa-basi, tepat ketika kakiku melangkah turun dari bus yang aku tumpangi, hujan turun tanpa malu-malu. Ia turun dengan membawa pesan yang dititipkan oleh setiap orang yang memendam rindu dan berharap temu. Pesan itu terbang menuju awan untuk kemudian diantarkan kembali menuju bumi. Entahlah apakah pesan itu jatuh pada orang yang tepat atau malah melenceng jauh. Namun yang aku yakini, hujan kali ini membawa pesan yang dulu pernah aku selipkan dalam lantunan doa. Mungkin mereka mendengar doaku dan atas izin Sang Pencipta pesan tersebut diantarkan padamu.

Hujan ini tak memberikan kesempatan padaku untuk beranjak barang setapak. Aku pun menunggu dengan penuh haru. Mengiba kepada pemilik rumah untuk mengizinkanku berteduh hingga hujan lebih sedikit bermurah hati. Kelang beberapa saat, terlihat seorang gadis dengan gamis hijau menghampiri dan menawarkan salah satu payung miliknya. Ia lalu memintaku untuk berjalan lebih dulu karena tempat yang kami tuju adalah satu.

Tak lama, hujan pun menyengaja diri untuk berhenti. Yang tersisa hanyalah tanah basah yang ditinggali oleh jejak kaki anak-anak yang riuh bercanda di atasnya. Aroma khas hujan pun turut serta berdiaspora. Atmosfer ini berhasil mengunduh memori tentang hujan yang pernah hadir dan kini berserakan. Namun setelah hujan itu, aku akan menghapus semua cerita yang pernah hinggap di hati. Karena hujan ini akan menjadi sebuah awal dari langkah untuk sebuah pentas cinta, panggung pergolakan cerita dan emosi yang berbeda.

Setelah hujan itu, setelah aku sesaat berteduh, semua berubah. Tidak ada lagi aku. Ia berubah menjadi kita. Setelah hujan itu, langkah-langkah kita seolah dipermudah. Mungkin benar, kali ini hujan tahu kita tengah membangun cinta. Ia membawa segenap pesan yang terselip dalam doaku. Mungkin juga dalam doamu. Di bawah hujan itu kita bertemu.

Setelah hujan itu setiap langkah kita terharmoni dalam senandung yang merdu. Ia menggubah kata menjadi lagu. Setelah hujan itu, kita bersama menggapai surga.

Mengenang masa taaruf pertama ke keluarga istri pada tanggal 8 Februari 2014. Hujannya turun dengan deras tanpa ada ragu :)

 

Surat Terbuka untuk Anakku

Dear Anakku..

Sengaja ayah tuliskan sebuah surat terbuka untukmu karena fenomena ini sedang menjadi trend di Indonesia. Rasa-rasanya hampir setiap hari ayah melihat surat dengan label ‘terbuka’ berseliweran di media sosial. Beragam kalangan sudah mencoba mulai dari artis hingga pemain bola, dari para pemuka agama hingga rakyat biasa. Semua orang merasa berhak untuk menuangkan kekesalan, sumpah serapah dan opini dalam goresan-goresan tulisan yang dialamatkan pada suatu pihak namun ‘memaksa’ semua orang untuk membacanya. Isinya bermacam-macam nak. Ada yang berisi permohonan maaf, pendapat tentang pemimpin hingga sebuah harapan seperti apa yang sedang ayah lakukan.

Awalnya ayah ingin membuat surat kaleng. Tapi gagal. Karena pengirim surat ini sudah jelas ayahmu sendiri. Terbersit niatan mengirim surat tertutup lewat merpati tapi ia tengah merugi. Info terakhir merpati hampir saja dipensiunkan oleh Dahlan Iskan. Sedih ya nak :(.

Nak, saat ayah menulis surat ini kau masih berada dalam kandungan ibumu dengan usia lebih kurang tiga bulan. Bahkan jenis kelaminmu pun kami belum tahu. Kami adalah calon ibu-ayah muda yang pertama kali mengalami proses menanti kelahiran sang buah hati. Iya, kelahiran engkau yang kini kami harap-harapkan.

Betapa bahagianya kami ketika mengetahui engkau diam-diam sudah menjadi calon anggota keluarga baru. Lebih bahagia daripada ketemu coboy junior *plak*. Ayah seketika koprol sambil sujud syukur. Dokter yang meyakinkan kami. Ia berucap bahwa usia kandungan ibumu baru 4 minggu sementara ukuranmu hanya beberapa centimeter, tak lebih besar daripada biji apel.

Nak, tahukah engkau, kami menyadari keberadaanmu sepulang bulan madu ke selatan Pulau Sumatera. Itu pun modal tiket gratis dari temen-temen ayah. Bukannya ayah tidak mampu untuk berbulan madu ke tempat yang lebih jauh tapi bukankah lebih baik uangnya digunakan untuk bekal pendidikanmu nanti. Ayah memang jagonya ngeles, nak.

Nak, kelak kau harus bulan madu ke tempat yang lebih jauh. Kau mungkin bisa pergi ke Gaza. Saat ayah menulis surat ini, Gaza tengah berduka. Ratusan roket terbang lalu-lalang di atas langitnya. Negeri para mujahid berjuang dengan segenap air mata dan darah. Gaza, bisa jadi pilihanmu karena bulan madu tak melulu tentang menghabiskan malam-malam pertama nan indah dalam kamar yang dihiasi aroma bunga. Kau bisa menjadi relawan yang mengirimkan bantuan dan istrimu yang merawat para balita malang yang tercabik tubuh dan hatinya.

Nak, memang saat ini engkau belum mengerti apa maksud tulisan ini. Ayah pun sama. Tapi ada satu hal penting yang ingin ayah sampaikan padamu di tiap tumbuh kembang engkau di dalam rahim istriku yang kelak akan kau panggil ‘ibu’. Ayah menyaksikan sendiri bagaimana susahnya menjadi seorang wanita hamil. Sejak menyadari ada jiwa yang hidup di dalam tubuhnya, ibumu semakin menjaga apa yang ia konsumsi. Semua makanan ia seleksi. Tak ada lalapan, obat-obatan, bahkan ibumu sengaja tidak mengkonsumsi ekstrak kulit manggis. Padahal itu adalah sebuah kabar gembira. Semuanya dilakukan demi kesehatanmu, nak. Kami ingin engkau terlahir menjadi anak yang sehat, utuh sebagai manusia normal tanpa kekurangan satu apa pun. Selama kehamilan ibumu, ayah pun tak mengkonsumsi jengkol, pete, dan turunannya. Bukan karena takut terjadi apa-apa denganmu tapi karena memang ayah tak pernah suka makanan tersebut.

Kami menyadari bahwa tumbuh kembangmu tidak melulu mengenai aspek fisik. Karenanya kami semakin meningkatkan ibadah. Terucap harap dalam doa, semoga kelak kau akan menjadi anak yang soleh jika cowo, solehah jika cewek. Di Zaman sekarang jenis kelamin sering menjadi bias, nak. Semakin banyak cowo yang ‘sholehah’.

Dalam doa kami juga berharap kelak engkau menjadi salah seorang penghafal quran yang baik sejak usia mudamu seperti Musa peserta hafiz cilik dengan lantunan lagu syaikh rasyid yang membawakan Al Ghamidi dan Syaikh Sudais. Kami berharap padamu nak jika kelak kami pun lalai dalam menghapal kalam ilahi. Hapalanmu itulah yang nantinya akan memberi kami kesempatan bertahtakan mahkota saat kita berkumpul di syurga.

Jangan kau kira kami tak mendoakan engkau setampan Yusuf, segagah Umar, secerdas Ali. Ketampanan fisik itu perlu, tapi kau tetep harus jadi manusia. Karena banyak juga yang ganteng-ganteng serigala :D.

Ibumu tiap hari muntah, bukan karena melihat wajah ayah, tapi memang perubahan hormon yang tengah bekerja. Ditambah lagi maag yang diderita. Betapa pilu ketika melihat penderitaan seorang ibu yang mengandung. Ia lemah, tidak bisa beraktifitas seperti biasa. Lebih mengakrabi kamar dan kasur karena lelah yang didera. Setiap saat ia kelaparan karena asupan nutrisinya harus dibagi denganmu, nak.

Nak, kau harus berbakti. Ayah dulu tak pernah menyadari betapa sulitnya menjadi seorang ibu. Belum lagi jika engkau sudah menemui dunia dan menjadi bagiannya.

Di tengah kehamilannya, Ibumu memaksa diri untuk ikut berpuasa. Padahal ia tahu hal itu akan sangat melelahkan. Dalam lelah ia masih menyiapkan menu berbuka untuk ayah. Kau tak akan menemukan romantisme ini dalam kisah Romeo-Juliet sebab mereka tidak pernah berpuasa ramadhan.

Nak, ayah dulu bukan orang yang patuh pada orang tua, terutama terhadap ibu. Ayah baru menyadari semua saat menjadi calon orang tua. Ayah menyadari betapa berlemah-lemah ibu, bersusah payah mengandung dan membawa bayi dalam tubuh kemana-mana adalah sebuah cerita yang nyata. Ibu rela mengadu nyawa demi hadirnya engkau. Ayahnya ayah (bingung ya nak bacanya. Ayah juga), mulai sekarang kita sebut dengan ‘kakekmu’, juga mengusahakan sekuat tenaga agar bagaimana ayah dan anak yang lain lahir dengan sehat walafiat.

Jadi nak, jika engkau suatu saat ingin membangkang dan mencoba mengeluarkan sumpah serapah, ingatlah bahwa ada darah dan air mata dalam proses keberadaanmu ke dunia.

Nak, saat kau membaca surat ini. mungkin kau sudah besar, sudah bisa mengeja satu per satu huruf yang tersambung menjadi kata lalu kau rangkai menjadi kalimat dalam paragraf-paragraf. Kelak ketika kau dewasa, kau harus menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Manfaat itu dapat dituai jika engkau berbunga. Pupuklah dirimu dengan ilmu. Jika ada masalah ceritakan pada ayah dan ibu. Bukan pada Dewi Sandra, nak. Kecuali saat itu kau sudah menulis catatan hati seorang istri. Tapi kalo nantinya kau adalah pria, jangan coba-coba, nak.

Jika kelak engkau terlahir sebagai seorang pria maka kau harus memiliki kepribadian tangguh. Lahirlah sebagai pria yang kokoh bak Umar I dan sezuhud Umar II dengan lisan Amr bin Ash dan keshalihan para salafus salih. Jika engkau terlahir sebagai seorang wanita, kau boleh memiliki rupa berparas Atikah namun jangan kau lupa untuk menjaga ‘izzah’ seorang wanita laksana Sumayyah. Saat kau hadir dengan keceriaan, hiduplah seperti Aisyah. Namun jangan kau ikuti rasa cemburunya yang membuncah.

Berpegang teguhlah pada jalan Allah, nak. Kau boleh jadi apapun saat kau dewasa asal selalu ingat bahwa engkau adalah da’i/da’iyah sebelum segala sesuatunya. Kehidupanmu ke depan akan lebih berat daripada apa yang ayah alami saat ini.

Sampai di sini saja nak surat terbuka ayah padamu. Maaf jika ayah tidak menulis surat ini dengan serius. Jika serius langsung temui ortu aku aja. Semoga kamu nantinya memahami bahwa ayah hanya ingin engkau menjadi anak yang sehat walafiat dan soleh/solehah. Tetep semangat ya nak biar kita bisa kongkow di tempat biasa. Salam peace, love and gaul.

Wassalamualaikum wr wb

Dari calon ayah di tengah tiga bulan kehamilan sang istri. Sehat-sehat terus ya yang dan dede yang ada di kandungan ummi :). Ditulis tepat tiga bulan selepas hari pernikahan kami. 

Generasi Qurani

generasi quraniSejarah mencatat bahwa pada usia 7 tahun, seorang Imam Syafii telah menghafal 30 juz Al-Quran. Kegemilangannya berlanjut dengan menghafal kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik yang diperkirakakan mampu dihapal hanya dalam waktu 9 Malam. Kisah kecerdasan Muhammad bin Idris sudah sangat sering kita terdengar. Bahkan dalam riwayat lain disebutkan bahwa Syafii muda telah menjadi guru bagi banyak orang.

Dalam Kitab Fathul Majid karya Syeikh Muhammad Nawawi pun tercerita tentang seorang anak yang tak kalah hebat. Alkisah hiduplah seorang ulama sombong bernama Dahriyyah. Ia dikaruniai kemampuan lisan yang cakap untuk berdebat hingga tak seorangpun yang sanggup membantah. Keunggulan ini lantas menjadikan ia jumawa bahkan menghilangkan hakikat tuhan dalam kehidupannya. Singkat cerita, seorang anak berusia 7 tahun lantas mengajak Dahriyyah beradu argumen. Atas izin Allah, Imam Abu Hanifah kecil menghinakan Dahriyyah dengan kecakapan lidahnya.

Selama bulan ramadhan tahun ini, salah satu stasiun televisi swasta secara kontinu menayangkan acara bertajuk “Hafiz Cilik Indonesia”. Ia bak oase di tengah gersangnya tayangan yang berasas kebermanfaatan. Tidak mudah tegak berdiri dari gempuran sekian ratus acara yang hanya berisi guyonan, umbar syahwat dan kesia-siaan semata. Hafiz Cilik Indonesia berhasil mencuri perhatian pemirsa televisi yang peduli pada nilai dan keberkahan ramadhan.

Seperti judulnya, Hafiz Cilik Indonesia berupa tayangan anak-anak usia belia yang memamerkan kemampuan dalam menghafal kalamullah. Kita akan terkagum-kagum menyaksikan kekuatan hafalan mereka ketika murojaah, pun tak ketinggalan tajwid mereka terlatih dengan baik.

Dalam beberapa episode, gue tercekat ketika melihat seorang anak bernama Musa yang berusia 5 tahun lebih enam bulan mampu menghafal 29 juz. Subhanallah. Awalnya sang anak ditertawakan seisi ruangan ketika ia, sambil memamerkan gigi ompongnya, berkata bahwa hafalannya sudah 29 juz. Tapi semua terdiam saat sang ayah mengiyakan ucapan Musa. Penonton lalu larut dalam tangis tersedu dan terharu ketika menyaksikan dengan penuh takjub saat Musa berhasil dengan baik menyambung semua ayat-ayat yang ditanyakan oleh para juri bahkan oleh penonton.

Musa, ayahnya berujar, mampu menghafal 5 halaman per harinya. Kemampuan yang luar biasa karena menurut Syeikh Ali Jaber, salah seorang juri yang juga menjadi imam di salah satu kota di madinah, rata-rata kemampuan maksimal penghafal Al Quran di madinah saat dia tengah menempuh pendidikan hanya 1 halaman. Tak pelak, kedahsyatan seorang Musa membuat hati terenyuh dan kagum.

Masih menurut sang ayah, Musa terbiasa setiap harinya bangun jam setengah tiga pagi dan melakukan murojaah 8 jam per hari. Ia juga dijauhkan dari lingkungan yang kurang baik dan juga tontonan yang tidak bermanfaat. Musa lebih menyukai video Muhammad Thoha, Syaikh bin Baaz, nama-nama yang mungkin masih asing di telinga kita, ketimbang menyaksikan Spiderman, ipin-Upin dan Power ranger.

Beda Musa beda lagi dengan Rasyid, peserta asal Pekanbaru. Rasyid mampu membacakan Alquran dengan ‘lagu’ Imam Makkah, Syaikh Sudais dan Imam Madinah, Al Ghomidi. Selain itu, Rasyid secara otodidak menguasai bahasa arab baik lisan maupun tulisan. Menurut penuturan sang ibu, sejak usia 6 bulan rasyid sudah lantang berucap ‘Allah’. Untuk semua keluarbiasaannya, Syeikh Ali Jaber bahkan tak segan menyematkan ‘syaikh’ di depan namanya, dan meminta sang ibu memanggil Rasyid dengan ‘Syaikh Rasyid’.

Masih banyak lagi hafiz-hafiz cilik yang membuat kita takjub. Ada anak yatim, ada yang tuna netra, belum lagi sosok Muhammad Alvin, salah seorang juri yang masih berusia 10 tahun namun sudah mampu menghafal 17 Juz Alquran beserta artinya. Dan masih banyak keajaiban lainnya. Benarlah kiranya ketika Allah berfirman dalam Surat Al Qomar bahwa Ia telah memudahkan Al Quran untuk dapat dipelajari dan dipahami.

Acara semacam inilah yang sebenernya kita perlukan di tengah gempuran hegemoni hedonisme dan kapitalisme yang mengeruk iman dan adab bangsa Indonesia terutama generasi muda. Kita ingin anak-anak Indonesia hari ini lahir dengan lantunan merdu surat Ar-Rahman Syaikh Misairy sehingga mereka tumbuh menjadi generasi qurani. Generasi yang senantiasa dekat dengan Al quran dan menjadikannya sebagai pedoman kehidupan. Generasi yang diharapkan oleh ummat. Bukan generasi yang telah terceruk imannya, terjual akidahnya, terbuang fikrahnya oleh semua liberalisasi, semiotika, bahkan hermeunetika.

‘Mereka inilah, yang sangat mungkin membuat Indonesia dalam Rahmat-Nya” ujar syeikh Ali Jaber kepada anak-anak peserta Hafiz Cilik Indonesia.

Shalahudin Al Ayyubi, Muhammad Al Fatih, Hasan Al-Banna adalah para revolusioner yang berawal dengan mengakrabi Al-Quran. Tinta Emas agama ini selalu ditorehkan oleh para generasi qurani. Bukan generasi manja yang menangis saat mendengar lagu cinta.

Masa anak-anak memang fasa emas untuk tumbuh kembang dan pola pikir manusia. Sedari dini memang seharusnya seorang anak dibiasakan untuk berinteraksi dengan al quran dan ditanamkan nilai-nilai islami hingga mereka tumbuh menjadi generasi Qurani. Maka, peran orang tualah yang dominan dalam memfasilitasi anak untuk terus berkhalwat dengan kitab terbaik sepanjang zaman.

Sumber Gambar dari sini

Apa Kabarmu Ayah?

s3599 02Pertengahan tahun 2014. Tidak terasa, hampir separuh tahun sudah berjalan. Banyak yang terjadi dalam hidup gue sejak Janus, dewa bermuka dua, muncul di awal tahun ini. Seperti kelaziman dalam hidup, selalu ada yang datang namun selalu jua ada yang pergi. Hidup ini selalu berupa keseimbangan.

Awal tahun, gue kehilangan sosok Ayah. Sosok jagoan pertama dalam hidup gue. Ia menghembuskan nafas terakhir bada solat subuh, 21 Januari 2014. Tidak ada sakit yang mendahului. Bahkan sebelum wafatnya, Ia menyelesaikan amanah-amanah yang masih tertunda. Rabb, betapa Engkau memberikan pertanda bahwa ada pekerjaan yang belum terselesaikan. Dan Engkau membimbingnya untuk menutup apa yang masih terbuka sebelum jiwa terpisah dari raga.

Apa kabar, Ayah?

Masih terngiang di ingatan saat engkau sanggup memikul beban walau ia di luar batasan. Kau senantiasa tersenyum dalam setiap derita. Kau selalu membantu meskipun kau butuh. Ayah, tak pernah keluhmu mewarnai hari. Tak gagah tubuhmu ketika dipandang. Tak banyak uangmu jika dijumlahkan. Namun bukan itu yang selalu kau ajarkan.

Kau, dalam diammu, dalam tawamu, dalam senyummu selalu mengajarkan kami bahwa berbuat baiklah pada setiap orang, jalin silaturahim karena itulah kunci sebuah kebahagiaan. Mungkin kau tak pandai merangkai kata, atau berdansa dalam tulisan indah. Namun mata ini menjadi saksi bahwa setiap gerakmu adalah wujud dari katamu.

Apa kabar, Ayah?

Kehilanganmu masih meninggalkan sesak di dada. Belum lama engkau berpulang, keluarga baru pun datang. Ia adalah sosok gadis asli Sunda. Walau kami berasal dari fakultas di kampus yang sama, kami tak pernah mengenal satu sama lain. Hanya tahu sebatas nama. Tapi Allah lah yang menuntun langkah kami, yah. Dan 18 April 2014 menjadi hari sakral itu. Saat aku berjanji di depan wali untuk membersamainya dalam setiap langkah dan ucap. Momen ini lah yang sebelumnya engkau idam idamkan. Melihatku bersanding di pelaminan. Maaf ayah, ia tak terwujud ketika engkau masih ada.

Bukan, kedatangan keluarga baru bukan untuk menggantikan posisimu di hati kami. Ayah tetap ayah terhebat yang pernah ada.

Apa kabar, Ayah?

Mungkin engkau tak bisa melihat anggota baru keluarga kita. Namun kelak akan kuceritakan pada jagoan kecilku bahwa mereka mempunyai datuk, begitulah biasanya cucu yang lain memanggilmu, yang sangat hebat. Yang mampu mendidik ketujuh anaknya dalam kondisi serba minus.

Iya ayah, ramadhan kali ini kami akan tanpamu. Kami harus membiasakan diri. Selama ini engkau yang senantiasa memimpin buka puasa bersama. Engkau jua yang paling bersemangat menyiapkan menu ifthar untuk dibagikan kepada tetangga.

Ayah, apa kabarmu?

Semoga engkau tenang di alam sana. Dengan segala kebaikan dan kelapangan. Tak putus, doa selalu kami panjatkan.

-Bintaro, 29 Juni 2014-