Antara Istri, Sahabat dan Cacar Air

Satu minggu kemarin gue berkenalan dengan penyakit bernama Varicella Simplex. Keren kan nama penyakitnya?. Dalam Bahasa Indonesia, penyakit menular tersebut dikenal dengan cacar air. Yaelah keren banget penyakit lo!. 

Gue ga tahu apa hubungan antara cacar air dan cacar handika (itu caca). Ah bodo Amat. Pokoknya hidup gue menderita pas didiagnosa menderita sakit ini. Badan gue gatel, tenggorokan sakit, belom gajian. Kombinasi yang pas. Ditambah lagi gue harus makan-makan sendiri, cuci baju sendiri, tidur pun sendiri. Persis lagu si Cacar Handika itu.

Gue memang pelupa level kecamatan. Gue lupa kalo di Bandung ada seorang wanita yang siap menampung dan merawat gue selama sakit. Yes, dia adalah Sang Istri Tercinta… Kampret, sama bini aja lo bisa lupa. *Becanda yang*. Dan di tengah badan yang mulai dipenuhi oleh bentol bentol berisi oncom. Woi, itu cacar bukan comro. Gue pun menuju Bandung guna dirawat di sana. Dokter menyarankan bahwa gue harus beristirahat selama paling tidak satu pekan.

Sebenernya gue ga enak harus ninggalin kantor dengan tugas yang menumpuk. Tapi bagaimana lagi. Daripada penyakit ini menular ke mereka yang belom pernah terjangkiti. Karena Virus Varicella-Zoster penyebab cacar air dapat menular melalui interaksi dengan penderita melalui sentuhan bahkan udara. Hal inilah yang dikhawatirkan akan terjadi kalo gue memaksa untuk masuk kantor.

Cacar air yang gue derita adalah warisan dari adik ipar gue yang terjangkiti virus tersebut sepekan sebelumnya. Gue yang awalnya sehat dan tidak menunjukkan gejala sakit apa pun, tiba tiba demam dan sukar menelan makanan apalagi saat gue nelen kulit duren. Saat bangun tidur, di tubuh gue banyak bintil-bintil. Terus kedua taring gue tumbuh lebih panjang dari biasa. Padahal gue ga ikutan casting sinetron ganteng-ganteng ngepet.

Setibanya di Bandung, gue langsung istirahat penuh. Semua obat yang diberikan oleh dokter langsung saja gue minum. Gue pake jaket dan tidur dengan lelap. Besok paginya, badan gue mandi keringat sebagai efek dari obat Asiklovir sebagai pembunuh virus dan juga bertindak sebagai antibiotik. Walau badan penuh keringat tapi istri gue bersikeras kalo penderita cacar air TIDAK DIPERBOLEHKAN MANDI. Itu berdasarkan pengalaman nyonya saat dia terkena cacar air saat SMP. Perilaku yang sama juga diterapkan ke adik ipar gue. Mandi hanya akan memperbanyak bintil di tubuh.

Oke, gue anak bawang. Gue ngikut aja petunjuk praktis dari sang istri daripada harus tidur di luar rumah.

Berbekal rasa penasaran yang tinggi, gue langsung berdiskusi dengan sohib SMA yang mengambil kuliah di jurusan kedokteran. Dalam kondisi seperti ini, gue merasa memiliki banyak teman adalah sebuah keberkahan tersendiri. Mempunyai sahabat dengan spektrum latar belakang yang sangat bervariasi memberikan kita sebuah akses dan kemudahan untuk mengatasai masalah-masalah yang tengah dihadapi. Contohnya saja pas gue tanyain tentang penyakit cacar ini, mereka memberikan masukan-masukan tersebut sangat bermanfaat. Ada yang menganjurkan gue harus mandi dengan air hangat dicampur dengan cairan ‘PK’ atau sabun antiseptik. Yang lain memberikan informasi bahwa ibu hamil yang belom pernah terkena cacar akan cukup rawan  ke janinnya jika berinteraksi langsung dengan penderita, hingga berkonsultasi masalah obat yang diberikan oleh dokter umum. Ada juga sih yang menyarankan gue mandi kembang tengah malam. #NowPlaying -Mandi Kembang (Cacar Handika)-.

Wait, Kenapa jadi Caca Handika lagi???

Well, coba lo bayangin. Kalo gue mendatangi dokter umum, paling tidak gue sudah harus membayar 150 ribu untuk konsultasi tersebut. Dan gue, menanyakan tiga orang dokter tanpa biaya sepeser pun. Ah, benarlah jika kita seharusnya memang harus memperpanjang tali silaturahim. Bukan sekali ini saja gue berkonsultasi masalah kesehatan dengan temen-temen dokter. Acapkali gue berkesempatan untuk bertanya-tanya masalah medis hingga jodoh. Ehhhh..

Bahagia jika kita bisa mempunyai sahabat dari ragam latar belakang mulai dari dokter, arsitek, polisi, analis, rampok (?). Dengan demikian kita bisa saling menunjang kebutuhan masing-masing.

Dan rasa syukur terbesar yang harus gue panjatkan selain kepada Allah dan Nabi Muhammad serta orang tua adalah keberadaan Istri Tercinta yang sangat penyabar (bukan buat dibaca oleh jomblo). Istri gue dengan sigap merawat gue mulai dari nyiapin makanan, bantuin nyari dokter kulit sampe milihin jilbab yang harus gue pake. KEBALIK WOI. EH iya!!

Di tengah kehamilannya yang enam bulan, ia masih begitu gesit merapihkan rumah dan merawat gue. I LOVE YOU HONEY. Terkadang dia juga tepar karena kelelahan. Istri shalihah bener-bener anugerah terindah yang dikaruniai Tuhan kepada kita. Masih lekat dalam ingatan gue gimana rasanya menjalani sakit di saat masih sendiri dulu. Di dalam kamar 3×4 m, gue menderita sakit gejala tipes. Ah, gue hanya bisa diam tergolek tanpa ada tenaga. ‘Mati juga ga bakalan ada yang tau’ piker gue dulu.

Mungkin salah satu keberkahan orang-orang yang sudah menikah adalah adanya perhatian dari suami/istri untuk merawat dan menjaga kita. Fase yang dulu saat kita kecil dapat diproleh dari kasih sayang ayah dan ibu yang mulai memudar saat kita tumbuh dewasa. Bukan kasih sayang ortu yang teralineasi namun wujud syukur kita sebagai seorang anak yang mulai menafikan cinta tersebut.

Saat gue menuliskan kisah ini, badan gue masih dipenuhi oleh ruam ruam merah yang cukup gatal. Tapi menurut dokter, penderita tidak boleh menggaruk ruam tersebut karena akan meninggalkan luka yang bisa terjangkiti infeksi sekunder. Luka tersebut tidak bisa hilang dan membekas di kulit kita. Sama seperti ingatan kalian tentang mantan…..tsahhh. Kayak gue pernah pacaran aja. Hih!.

Gue sebenernya kasihan kalo sampe ada harimau yang terkena cacar air. Kalo dibiarin gatel, digaruk bukan cuma cacar yang ilang tapi juga kulit beserta dagingnya.

Yang paling penting adalah jaga imunitas tubuh dengan banyak mengkonsumsi vitamin C dan jangan bnyak beraktifitas. Saran gue, sebaiknya bagi mereka yang belum terkena cacar agar segera terjangkiti saja. Karena semakin bertambah usia biologis seseorang maka penyakit cacar ini akan semakin kompleks. FYI, Ustad Buya HAMKA juga terkena cacar air hingga menyebabkan banyak bekas di wajahnya.

Demikianlah ngalor ngidul gue tentang cacar air.

Disclaimer : Gambar di atas diambil dari web ini
Tapi itu gambar ‘pacar air’ bukan ‘cacar air’ (-__-)’

Kisah Satu Pekan

‘Distance means so little when someone means so much’

Adalah lumrah ketika dua manusia dalam suatu ikatan pernikahan menghabiskan waktu berdua dengan berjalan beriringan, merapatkan jemari saling berpegangan hingga kemudian salah seorang dari mereka terlelap dan merebahkan kepala ke atas pundak seorang lainnya.

Adalah biasa saat kita berharap berbagi cerita dengan mereka yang tercinta setiap malamnya dalam temaram yang diselingi saut-sautan jangkrik disusul parodi kerlap kerlip cahaya kunang-kunang yang berpendar. Sayup sayup kita meramalkan akan apa yang terjadi pada dunia esok hari, bagaimana hasil pertandingan sepakbola antara Indonesia melawan Australia. Mungkin pula kau bercerita apa menu sarapan esok yang harus kusantap. http://members.lovingfromadistance.com/showthread.php?8270-How-a-stranger-became-the-love-of-my-life

Boleh jadi hari ini kau berharap semua keindahan yang sama. Saat mata dapat saling bertatap dan raga begitu dekat tanpa perlu dihantui apakah besok adalah hari kerja. Kita mungkin terperangkap dalam sebuah situasi yang tidak memberikan keleluasaan untuk bercengkrama setiap hari. Namun kita mencoba menarik kesimpulan laksana ucapan orang-orang bijak yang termuat dalam kitab yang kita percaya bahwa ‘semua ada hikmahnya’.

Hari ini kita terpaksa menunda sajak yang telah dianggit dari setiap kata yang kau rencanakan untuk dibaca bersama. Ini hari senin. Masih ada empat hari lagi yang sengaja dibentangkan oleh dimensi bernama ‘ruang’ yang membuat jumlah pertemuan kita terbatas dalam satu pekan. Namun ‘waktu’ mencoba berbaik hati. Ia, selalu berjalan lebih cepat daripada apa yang kita kira. Setiap akhir minggu kita masih bisa menyusun agenda-agenda bersama mulai dari menghadiri pernikahan, berjalan tanpa arah , bersantai sambil bercerita di kedai kopi dengan segelas mocchacino dan wafel kesukaanmu. Ah iya, aku tak pernah perduli bahkan saat sadar bahwa kau tidak bisa berkompromi dengan kopi. Asamnya terlalu kuat untuk ditanggung oleh lambungmu. Kita juga menghabiskan sisa-sisa waktu bersama dengan bercanda ala remaja yang sedang di mabuk asmara.

Jarak yang memisahkan bukan menjadi sebuah halangan yang sanggup meluluhlantakkan indahnya pernikahan, bukan?. Boleh jadi kita terpisah oleh jarak ratusan kilometer, tapi bukankah udara yang kita hisap adalah udara yang sama. Rasi bintang orion yang kita pandang jua tetap serupa.

Tak ada sebuah ujian perpisahan yang lebih pedih dari seorang Hajar ketika ia harus ditinggal Ibrahim saat ismail, anak yang dinanti selama 70 tahun lamanya, baru saja lahir. Hajar harus menerima kenyataan harus berpisah dengan suami tercinta. Berat rasanya ditinggal oleh orang terkasih saat sang bayi masih merah. Tapi karena cinta jua, ia merelakan Ibrahim melangkah pergi. Jarak yang membentang antara Jakarta-Bandung bukanlah sebuah angka yang berarti jika kita melihat perjuangan bapak para nabi. Mereka terpisah Mekkah-Syam. Waktu itu Wright bersaudara belum bersepakat untuk membuat pesawat terbang pertama.

Hari ini masih selasa, masih ada tiga hari lagi untuk menjumpai sabtu pagi. Kita mulai terbiasa berbagi cerita melalui perangkat komunikasi yang ada. Untungnya tidak diperlukan secarik kertas dengan bubuhan alamat dan perangko yang diselipkan di atas amplop. Tapi sadarkah engkau, surat yang didasari cinta seorang istri atas sang suami atau sebaliknya adalah seindah-indah pesan yang pernah disampaikan. Ia mungkin tak dihiasi oleh emoticon-emoticon lucu namun setiap goresan pulpen dalam simfoni kata-kata justru mewakili sedalam dalamnya perasaan. Apa daya, kita hanyalah manusia yang tunduk pada teknologi.

Kita bisa membunuh waktu dengan melahirkan imaji dari kata-kata yang disisipkan ekspresi dalam setiap tekanan intonasi, diksi dan canda-canda melalui perangkat komunikasi. Aku senantiasa menanyakan bagaimana kuliahmu, apa kabar si jagoan, apa ia masih sibuk dengan keaktifannya di dalam rahim, bagaimana dengan makanan dan obat yang harus kau konsumsi serta apa yang terjadi hari itu. Iya benar. Pertanyaanku baku. Bahkan sepertinya pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat direkam dan diputar kembali setiap kali kita berbincang melalui telepon. Tapi kau selalu penuh semangat menjawab setiap retorika pertanyaan yang aku ucapkan.

Hari pun berganti rabu. Namun nampak mendung sedikit merundung. Kau tak berkabar sedikitpun. Aku pun mencoba menyapa. ‘Sedang banyak kuliah’ ujarmu. Aku mencoba memahami bahwa cinta itu berarti saling mengerti. Aku sadar bahwa bagi seorang pencinta, misinya adalah memberi. Memberi perhatian, memberikan segenap usaha dan hati bagi mereka yang dicinta. Karena cinta, sebut Anis Matta, adalah kata kerja sehingga kita akan mengupayakan semua kerja untuk mereka yang dicinta.

Tidak seperti kemarin. Pagi ini kau sudah menyapa dengan prosa. Aku rasa itu sudah cukup untuk membuat hariku lebih ceria. Melalui whatsapp kau pun berbagi kisah perjuangan nabi, aktifitas dawahmu yang tak kenal lelah, serta tausiyah-tausiyah dari para asatidz. Kamis terasa cepat saat kemudian aku terlelap dan berjumpa dengan jumat pagi. Bergegas waktu terasa melesat kencang. Tanpa disadari ia telah berganti malam.

Jumat malam selalu berbeda. Ia adalah saat di mana pekatnya langit memancarkan binar semangat yang akan menuntunku melepaskan penat dari padatnya ibu kota menuju sejuknya kota bunga. Travel yang senantiasa menanti di pool keberangkatan nampak lebih indah daripada kereta kencana bahkan lebih gagah daripada kuda asli eropa milik salah seorang mantan calon kepala camat di negeri ini. Ia melesat di antara himpitan truk-truk pembawa muatan yang akan berlabuh di pabrik-pabrik di sekitaran Cikarang.

Saat tiba di rumah, kau biasanya memasang senyum termanis yang membuat para bidadari cemburu. Kau menungguku sambil terkantuk-kantuk. Dalam sujud panjang di sepertiga malam terakhir, kita bermunajat dengan syahdu atas segala kenikmatan yang telah dianugerahi. Kita pun berharap keberkahan atas apa apa yang Ia berikan karena sebaik-baik nikmat adalah yang diberkahi oleh Nya.

Kita berharap sabtu hari ini berjalan lebih lambat agar tak terburu-buru berganti ahad. Kita benci ahad, lebih-lebih ahad sore karena ia dengan pongah merenggut semua kebersamaan kita. Tapi kita sadar bahwa menikmati waktu terbaik bukan dengan menghabiskan hari-hari panjang bersama namun bagaimana waktu yang sedikit dapat ditafakuri menjadi sebuah kesyukuran atas kesempatan untuk masih bisa kembali dipertemukan dalam kerangka cinta dan ibadah. Karena di luar sana, pertemuan fisik bukanlah jaminan kebahagiaan.

Hari ini kita masih bermunajat sendiri dalam bilik kamar dan di atas hamparan sajadah masing-masing. Sesekali aku juga merasakan kesepian yang menggelayuti. Tapi itulah uji keimanan. Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan hambanya yang berserah diri. Dan kini, mungkin kita tengah diuji dalam sekat jarak. Tapi kau harus selalu ingat bahwa tidak ada jarak atas sebuah doa. Ia terbang tinggi melayang-layang di angkasa. Berselip-selip di antara jutaan doa yang tiap harinya dipanjatkan oleh mereka yang memupuk rindu sama sepertimu, sepertiku.

Jika kau merindukanku dalam harimu. Pejamkan mata dan selipkan doa terindah untuk segala kebaikan dan keberkahan atas kita.

*Ditulis di dalam kamar kontrakan sambil menikmati momen ‘pacaran’ jarak jauh dengan istri*

Sumber gambar dari sini

Rizqi dan Ikhtiar

Mungkin kau tak tahu di mana rizqimu. Tapi rizqimu tahu di mana engkau. Dari langit, laut, gunung, & lembah; Rabb memerintahkannya menujumu.

Allah berjanji menjamin rizqimu. Maka melalaikan ketaatan padaNya demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijaminNya adalah kekeliruan berganda.

Tugas kita bukan mengkhawatiri rizqi atau bermuluk cita memiliki; melainkan menyiapkan jawaban “Dari Mana” & “Untuk Apa” atas tiap karunia.

Betapa banyak orang bercita menggenggam dunia; dia alpa bahwa hakikat rizqi bukanlah yang tertulis dalam angka; tapi apa yang dinikmatinya.

Betapa banyak orang bekerja membanting tulangnya, memeras keringatnya; demi angka simpanan gaji yang mungkin esok pagi ditinggalkannya mati.

Maka amat keliru jika bekerja dimaknai mentawakkalkan rizqi pada perbuatan kita. Bekerja itu bagian dari ibadah. Sedang rizqi itu urusanNya.

Kita bekerja tuk bersyukur, menegakkan taat & berbagi manfaat. Tapi rizqi tak selalu terletak di pekerjaan kita; Allah taruh sekehendakNya.

Bukankah Hajar berlari 7x bolak-balik dari Shafa ke Marwa; tapi Zam-zam justru terbit di kaki bayinya? Ikhtiar itu laku perbuatan. Rizqi itu kejutan.

Ia kejutan tuk disyukuri hamba bertaqwa; datang dari arah tak terduga. Tugasnya cuma menempuh jalan halal; Allah lah yang melimpahkan bekal.

Sekali lagi; yang terpenting di tiap kali kita meminta & Allah memberi karunia; jaga sikap saat menjemputnya & jawab soalanNya, “Buat apa?”

Betapa banyak yang merasa memiliki manisnya dunia; lupa bahwa semua hanya “hak pakai” yang halalnya akan dihisab & haramnya akan di’adzab.

Banyak yang mencampakkan keikhlasan ‘amal demi tambahan harta, plus dibumbui kata tuk bantu sesama; lupa bahwa ‘ibadah apapun semata atas pertolonganNya.

Dengan itu kita mohon “Ihdinash Shirathal Mustaqim”; petunjuk ke jalan orang nan diberi nikmat ikhlas di dunia & nikmat ridhaNya di akhirat.

Maka segala puji bagi Allah; hanya dengan nikmatNya-lah menjadi sempurna semua kebajikan.

Ya Allah mudahkanlah kami dalam mensyukuri karuniaMU..
Istiqomahkan kami dalam taat padaMU..
Matikanlah kami dalam keadaan ridho dan diridhoi..
Amiin…

*Tulisan ini adalah hasil saduran yang saya dapati dari lini masa salah seorang teman di facebook*

5 Tahun Bersama WordPress

blogger

Wah, tak terasa lima tahun sudah gue berlalu lalang di wordpress. Selama lima tahun bloging, sudah banyak pengalaman dan cerita yang gue tuangkan melalui tulisan-tulisan tanpa genre yang rigid.

Gue lebih suka menulis tentang apa-apa yang lewat di otak gue sehingga tidak ada tema baku untuk setiap tulisan yang dihasilkan. Namun di antara semua kerandoman tersebut, gue masih menuliskan sebuah tema pokok tentang urutan pernikahan teman-teman SMA gue sebagai sebuah ‘persembahan’ dan cerita untuk mengenang masa lalu.

Di usia lima tahun ini, tulisan gue agak sedikit bertendensi mellow. Jelas, pernikahan membuat tulisan-tulisan tersebut kini diwarnai dengan corak keindahan dan segala problematika rumah tangga. Sesekali gue posting tentang keluarga dengan tone yang lebih serius dari biasanya. Bahkan cenderung menggunakan tulisan serius yang dipaksakan. Haha!.

Saat pertama kali menulis di wordpress, bahasa gue masih sangat formal dengan menggunakan kata ganti ‘aku’. Saat itu gue merefleksikan sebuah peristiwa menjadi sebuah tulisan berjudul ‘life is a mystery’. Gile, pertama kali nulis gue langsung menggunakan bahasa asing sebagai judulnya.

Perlahan tapi pasti, hingga saat ini, semua postingan yang ada di blog ini berjumlah 263. Sebagian besar adalah tulisan sendiri dan beberapa hasil saduran serta salin ulang dari artikel yang ada di web-web tertentu.  Gue sadar, tulisan yang ada di blog ini masih sebatas aktualisasi diri tanpa memandang nilai-nilai komersialisasi sama sekali.

Salah satu momen paling membahagiakan saat bloging adalah ketika jumlah pengunjung yang semakin meningkat serta banyak komen yang hinggap dan nyantol di tulisan yang kita buat. Keduanya adalah bentuk apresiasi yang memberikan transfer semangat kepada penulis.

Salah satu tulisan gue yang berjudul ‘Satu Hati Dua Cinta’ pernah terbit di salah satu rubrik eramuslim. Sementara tulisan tentang energi yang gue ikut sertakan untuk lomba di Pertamina, mendapatkan juara III. Lain waktu, gue dihubungi untuk menuliskan sebuah review tentang properti dengan imbalan 15 dolar. Beberapa bentuk feedback terhadap karya gue selalu menjadi pelecut untuk terus menghasilkan tulisan-tulisan yang lebih baik lagi.

Satu mimpi gue yang belum tercapai adalah menyusun dan menerbitkan buku gue sendiri. Setelah lima tahun bloging, gue masih berkutat pada tema-tema absurd tanpa benang merah antara satu tulisan dan tulisan lainnya. Semoga gue bisa segera menghasilkan sebuah buku yang bermanfaat bagi pembaca. Karena Scripta Manent Verba Volant. Apa-apa yang tertulis akan kekal, apa apa yang terucap akan menguap.

So, give me five!

Sumber Gambar dari sini

#20 Hasbullah Suliyansyah, Mr H

20140906_120309 (1)Banyak hal yang terjadi di dunia ini dan dianggap sebagai sebuah kebetulan. Padahal tidak ada terminologi ‘kebetulan’ dalam sebuah kehidupan. Bahkan setiap daun yang jatuh ke bumi adalah hasil rekayasa Sang Pencipta. Bukan kebetulan juga jika semakin banyak sinetron dengan nama-nama hewan. Setelah Ganteng-ganteng serigala dan Pacarku Manusia Harimau, kita mungkin ke depannya akan disajikan oleh sinetron Mertuaku Kera Tungpei atau Anakku Malu Menjadi Babi. Dengan begini kita akan jauh lebih mengenal dan menyayangi hewan di sekitar kita.

Perkara ‘kebetulan’ tidak hanya menghiasi layar kaca. Syahdan, pada tanggal 6 September 2014 selain sohib gue Periawan yang menikah, sahabat gue lainnya Hasbullah Suliyansyah alias Aas melakukan pernikahan pada tanggal yang sama.  Karena Ijab qabul Periawan 2,5 detik lebih cepet,  Aas mendapatkan prioritas di nomor lebih besar untuk postingan gue. *Sok penting lu do!*.

Gue mulai kenal baik Aas sejak kami bersama-sama nyemplung di Kelas 1 SMA. Saat itu Aas duduk persis di depan gue dan Peri. Tapi Aas curang, dia pergi ke sekolah ditemenin oleh bodyguard guede yang duduk di sebelahnya. Eh sorry, itu Dedy temen gue ding. Gue mulai susah membedakan mana temen gue mana yang bukan. Peace dedy *Kemudian diinjek-injek Dedy*.

Aas jadoel

Aas jadoel

Aas & Dedy

Aas & Dedy

Kontras. Itulah yang akan kalian rasakan jika kalian ada di posisi gue dan peri pada saat itu. Kalian akan menyaksikan sebuah pemandangan yang bertolak belakang antara Aas dan Dedy, terutama masalah postur. Aas yang kecil mungil dengan rambut belah tengah dan muka culunnya dan Dedy dengan ukuran dua (mungkin tiga) kali lebih besar. Saat berdiri bersebelahan, gue terbiasa terpana dengan angka 10 yang tidak simetris di depan bangku gue. Angka ‘1’ nya agak menciut. Mungkin minyak gorengnya kurang panas sehingga bentuknya bantet. Satu hal yang membuat perbedaan tersebut agak sedikit tereduksi adalah mereka sama-sama menggunakan kacamata.

Menikah di waktu yang bersamaan mungkin adalah sebuah kontrak kerja yang harus ditandatangani  mereka berdua saat dilantik menjadi ketua dan wakil ketua rohis SMA. Yes, Aas terpilih sebagai wakil ketua rohis untuk mendampingi Periawan. Posisi tersebut semakin mengukuhkan imej Aas sebagai cowo yang keren, shalih, dan berjiwa seni (Menurut fans Aas yang tersebar dari OSIS hingga PMR. Mulai dari Mawar, Melati hingga Bambang).

Wajib diakui, Aas memiliki imajinasi tinggi dalam sebuah nilai seni. Dia sukses membuat kaligrafi dalam bentuk drum dan juga menuliskan lafaz basmalah di bagian atas papan tulis kami yang masih bisa ditemukan hingga saat ini. Digital Camera

Jiwa seni Aas semakin menjadi – jadi. Karena imajinasinya yang kelewat batas, suara dua Aas selalu fals setiap saat kami latihan nasyid di mushola sekolah. Kami sadar bahwa kemampuan interpretasi musik tim nasyid kami yang rendah sehingga tidak mampu mengharmonisasi suara lead vocal dan suara dua oleh Aas. Bahahhaha.. this is absolutely not a compliment. Masih belum puas, Imajinasi yang meledak-ledak itu akhirnya mencapai klimaks ketika Aas dengan percaya diri mengendarai motor melewati turunan dil depan ruang guru sambil berucap ‘ternyata mudah ya naik motor’ dan diakhiri dengan bunyi.. brak.

Motor menabrak trotoar!!!

Teman kami Wahyu lalu memberikan sebuah kayu dan sebuah ban bekas untuk dipukul guna mengobati trauma aas mengendarai motor. Sakitnya di sini *tunjuk dada*.

Jiwa seni Aas bertolak belakang dengan fisiknya yang cenderung vulnerable atau bahasa indonesianya ringkih. Jangan ajak Aas melakukan olahraga berat karena asma yang ia derita bisa kapan saja menyerang. Gue sudah ingetin Aas buat pake Cha*m bod* fit biar asma nya tidak terus-terusan keluar. Tapi ia menolak. Dia lebih memilih mam* p*ko dengan alasan lebih hemat. Alasan inilah yang kerap kali diucapkan aas sehingga kami, dengan semangat 45, menggelari aas sebagai ‘Mr Hemat’ dengan kartu hematnya.

Berbicara tentang fans, udah gue sebutin di atas bahwa Aas diidolai oleh beberapa beberapa cewe di SMA. Sepengamatan gue, ada aja cewe yang tiba tiba menyatakan cintanya ke doi. Mulai dari nembak lewat surat kaleng hingga pake santet. Kadang ayam, tak jarang juga kambing. Garing woyyyy.. Itu sate bukan santet!!!!!

Tapi pada akhirnya Aas menolak mereka semua karena mereka terlalu baik sementara Aas ingin fokus belajar dan mengumpulkan uang untuk menaikkan haji tukang bubur.

Selesai SMA, Aas memilih jurusan arsitektur untuk melanjutkan semangat menggambarnya. Dia juga mulai menulis ke dalam blog. Tulisan-tulisan tersebut berkarakter melow, deksriptif, dengan tata bahasa yang rumit dan dirumit-rumitkan. Sebenarnya kemampuan Aas menulis sudah terlihat ketika ia menghasilkan sebuah cerpen yang menurut gue bagus. Ia, sama seperti gue, sangat menyukai hujan. Beberapa tulisannya memuat tema tersebut. Siapa sangka bahwa ‘hujan’ bak sebuah klu dengan siapa ia akan menikah kelak.

Di kampus, seorang Hasbullah memiliki reputasi yang cukup baik. Gue ga tau pasti apa amanah yang ia emban namun yang gue tahu adalah doi cukup dikenal di kampusnya. Bayangkan saja, hampir setiap lebaran ia silaturahim ke rumah wakil rektor. ‘wakil rektor suka bagi-bagi THR’ ujar Aas. LOL.

Banyak perubahan yang dialami aas setelah melepas seragam abu-abu. Aas yang sebelumnya hanya bisa memukul-mukul ban motor dengan kayu, kini bisa mengendarai motor, mobil, pesawat terbang bahkan siluman komodo indosiar.

Selepas lulus kuliah, Aas bertekad untuk tidak menjadi karyawan. Dengan bakat menggambar dan pengetahuan seputar dunia arsitektur, ia mencoba untuk membangun usahanya sendiri. Jika dulu karya gambarnya mampu menghiasi koran lokal, kini gambar tersebut bertransformasi sebagai sumber penghasilan. Lulus dari bangku kuliah adalah momen kampret di mana orang-orang ga berenti bertanya ‘KAPAN KAWIN?’. Aas pun berencana menggenapkan separuh agamanya.

Untuk ukuran pria, usia 25 tahun adalah fasa galau sudah mulai menjangkiti. Aas pun begitu. Saat gue tanya

‘As, teh nya manis apa ga?

Dia jawab ‘Ga penting manis, yang penting setia’ *muntah asam sulfat*

Sejak sering berdiskusi masalah pernikahan, Aas selalu berujar jika ia mengharapkan seorang dokter sebagai istri. Mengiyakan permohonan nenek, ujarnya. Pada akhirnya Aas memang menikahi seorang dokter. Dokter tersebut adalah adik ipar temen sekelas kami, Faizatul Mabruroh. Sementara Aas sebelumnya memang memiliki hubungan baik dengan kakak sang mempelai wanita. Gue menyimpulkan bahwa ada benarnya jika kita harus memvisualisasikan mimpi.

Mendekati hari pernikahan, Aas nampak semakin ekspresif di media sosial. karena kegemarannya memuat posting yang menstimulus orang-orang untuk reaktif. Kalian bisa trace akun facebook, Path nya di mana ia nampak sangat bersemangat mengakhiri masa lajangnya.

‘Alhamdulillah, buka puasa sendirian untuk terakhir kali’

‘Seneng banget, makan malam sendirian yang terakhir’

‘Akooh b4haGeeaA GhEEl4, BeC0g Ud4H b1$4 Sh0l4T s4m4 iStrEEE’

Akad nikah berlangsung dengan khidmat. Gue dateng ke kediaman setelah menghadiri ijab qabul peri karena waktu acara yang berdekatan. Sementara walimatul ursy dilansungkan sehari setelahnya.20140907_121422

Never Ending Selfie

Never Ending Selfie

Acara berlangsung dengan sangat meriah. Nampak seringai senyum menghiasi raut sang pengantin. Rona bahagia memenuhi atmosfir gedung. Sedikit canggung nampak terbersit oleh pengantin pria yang merasa ‘risih’ saat duduk bersanding bersama sang hujan. Namun semua kembali larut dalam harmonisasi suara yang dilantunkan oleh Senandung Hikmah. Gue bersyukur Aas tidak tiba-tiba meraih mikrofon dan memenuhi gedung dengan suara dua-nya. Mari berucap hamdalah :).

Walimatul ursy dihadiri oleh banyak orang penting mulai dari rektor, DPP PKS hingga tim nasyid. Selamat akhi, akhirnya ente tahu siapa yang menjadi rahasia Ar-Rahman. Selamat menari bersama hujan. Kini rahasia Ar-Rahman sudah terkuak. Membuka tabir yang selama ini hanya bisa diraba tanpa dirasa. Selamat juga buat Rian Hasni. Semoga keluarga kalian barokah. Selamat untuk gelar ke #20.

#19 Periawan

6 September 2014 boleh jadi merupakan hari paling membahagiakan dalam hidup seorang Periawan. Pada tanggal tersebut, Ia melangsungkan pernikahan dengan khidmat di kediaman mempelai wanita di salah satu sudut kota Palembang. Malam hari pada tanggal yang sama, pesta pernikahan meriah diselenggarakan di gedung PUSRI, tempat orang tua mereka bekerja.

Gue pun turut berbahagia dengan pernikahan salah seorang sahabat terbaik gue ini. Karenanya, gue akan mencoba menceritakan kembali sosok seorang Periawan yang gue kenal mulai dari sekolah menengah atas, kuliah hingga sekarang.

Peri dan Kudanya

Peri dan Kudanya

Pagi itu di sebuah sekolah yang terletak di pinggiran Jalan Jendral Sudirman, riuh oleh kehadiran siswa-siswa baru yang terlihat culun dan polos. Mereka nampak berbaris berjalan dengan patuh mendengarkan instruksi kakak-kakak OSIS yang terlihat lebih sangar daripada serigala keselek biji duren. Para senior tersebut ternyata menginspirasi gue untuk bergabung dengan OSIS agar kelak ketika jadi senior, gue pun bisa petantang-petenteng di depan junior yang kemana-mana memanggil gue dengan ‘kakak’. Gagal bergabung dengan OSIS, gue pun setiap hari menyengaja diri datang ke mangga dua karena di sana hampir tiap penjaja dagangan memanggil manggil gue dengan ‘kak’ lengkap dengan ‘dibeli kak barangnya’, ‘ini murah loh kak’ dsb. Asem!.

Saat itu gue kebagian kelas 10-B. Di sanalah gue bertemu dengan Periawan untuk pertama kalinya. Dia duduk persis di depan bangku gue. Kelang beberapa minggu, gue harus pindah ke kelas baru yang dikelompokkan berdasarkan nilai selama SMP. Di kelas baru ini gue kembali bertemu Peri dan untuk 3 tahun ke depan kami menjadi tablemate.

Kerasukan Jin Dragon Ball

Kerasukan Jin Dragon Ball

Yang paling gue inget selama menempuh pendidikan di SMA adalah Peri merupakan anak yang tidak neko-neko, cenderung pendiem, introvert, dan fans garis keras Liverpool. Saking introvertnya, dia kerap kali ketauan ngelamun sambil nyemil semut rang-rang. Selain itu, dia jagoan untuk pelajaran matematika. Beberapa soal yang sulit untuk gue kerjain ternyata dapat diselesaikan Peri dengan memejamkan mata sambil ngupas kulit bawang. Kampret, ini mah guenya aja yang oon :D.

Di kelas, Gue dan Peri dikenal dengan duo pencipta istilah-istilah ‘gaib’. Kami bahkan lebih dulu dikenal dibandingkan Sinta-Jojo. Sayangnya dulu youtube belum ada. Peri handal dalam mencipta dan gue berperan sebagai marketing dahsyat. Kolaborasi maut kami berdua berhasil menciptakan berbagai istilah mulai dari ‘mengenge’, ‘kecipak’, ‘kacang-kacang’ dan ribuan bahkan jutaan istilah yang tidak akan pernah kalian temui di KBBI nya Selo Soemardjan. Hanya siswa di kelas kami lah yang familiar dengan segala penyalahgunaan bahasa Indonesia yang kami ciptakan. Gue tak pernah tahu bagaimana Peri mendapatkan semua ilham dan wangsit untuk istilah-istilah tersebut. Sebagai seorang marketer, tugas gue hanya mendistribusikan semua istilah ke siswa kelas lainnya agar bisa terinternalisasi dalam sebuah simfoni yang mendamaikan hati. Hah, barusan gue ngomong apa? Tolong seseorang bangungkan aku. Tampar aku mas..tampar!.

Periawan memiliki jiwa seni yang sangat unik dan luar biasa. Selain piawai dalam membuat istilah, ia juga juara dalam meng(g)ubah lagu, mulai dari ‘menanti sebuah jawaban’ milik Padi hingga lagu-lagu pop-balad Naff. Lirik lagu yang dinyanyikan peri selalu diselipi dengan pernak-pernik detektif ternama, Conan Edogawa. Yoi, doi ngefans banget dengan sang detektif rekaan Aoyama Gosho sampai-sampai kami menyematkan kata ‘OGA’ di belakang kata ‘Peri’ yang diambil dari kata ‘Edogawa’. Peri harusnya menjadi seorang sutradara.

Merangkak ke kelas 2 SMA, periodisasi di sebuah organisasi mengharuskan dipilihnya ketua-ketua baru termasuk juga organisasi dimana gue dan Peri bernaung yakni Kerohanian Islam (Rohis). Dengan track record cenderung baik dan tingkah laku yang dianggap paling mewakili maka Peri dipilih menjadi ketua rohis yang baru setelah pemilihan dua putaran diselingi gugatan ke MK.

Sesaat setelah terpilih menjadi ketua rohis baru, mendadak muka peri memerah persis udang yang tengah direbus. Tiba-tiba Rudi Choirudin datang membawa penggorengan. ‘Angkat dan tiriskan’ ujarnya.

Di masa kepengurusannya, Rohis SMA 3 bisa dikatakan mengalami puncak kemajuan. Mulai dari anggota rohis yang berprestasi secara akademik maupun akhlak hingga berbagai pencapaian program kerja yang luar biasa. Karena prestasi tersebut, Periawan digelari dengan ‘Pak Wo’ alias singkatan untuk ‘Pak Ketua’ setelah sebelumnya ia dipanggil dengan ‘angel’ merujuk pada namanya ‘peri’ (angel). Agak maksa karena bahasa inggris untuk ‘peri’ harusnya ‘fairy’.

Mendekati masa-masa terakhir di SMA, Peri berniat melanjutkan pendidikan di Institut Teknologi Bandung. Where there is a will there is a way. Ia diterima di Jurusan Teknik Fisika ITB. Dan lagi-lagi, gue berjodoh setelah diterima di Jurusan Kimia di kampus yang sama. Bertiga bersama Vidia, kami mewakili SMA N 3 Palembang untuk menempuh pendidikan di Kampus para teknokrat.

Setelah lulus sarjana, Peri diterima bekerja di Malaysia untuk memerankan tokoh Upin. ‘Macem mane nih kak ros. Seronok Sangat’. Kira-kira seperti itulah dialog yang harus dimainkan Peri selama berada di Malaysia. 1 tahun di negeri jiran, Upin memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Upin harus berpisah dengan Kak Ros. ‘Sedih rasenye’ Cakap Upin.

peri

Sekembalinya ke Indonesia, Peri berniat melanjutkan studi ke jenjang magister. Tepat beberapa waktu sebelum pendaftaran ulang, Ia mengikuti rangkaian tes kerja di salah satu BUMN yang bergerak di bidang konstruksi, rekayasa, dan procurement. Sebut saja Wijaya Karya (WIKA). Dan Voila, Wika menerima Peri sebagai salah satu karyawannya. Bener-bener drama. Lebih drama daripada kisah Aliando dan Prilly. Doi akhirnya memilih Wika sebagai tambatan hati ketimbang melanjutkan studi.

Lebaran 2013 adalah salah satu momen di mana gue dan beberapa temen SMA termasuk Peri membulatkan tekad untuk menikah setahun setelahnya. Kami juga menggarisbawahi sebuah niatan untuk membawa istri masing-masing pada lebaran tahun 2014.

Setelah gue menikah pada April 2014, seperti tak mau kalah, Peri juga bersegera melancarkan misinya. Dalam suatu momen, Ia secara serius meminta bantuan teman kami yang bernama Hafiz untuk mencarikan seorang wanita yang bersegera ingin melengkapi separuh agama. Gayung bersambut, Hafiz membantu Peri untuk mencarikan apa yang dimaksud. Setelah beberapa waktu, Hafiz mengenalkan sesosok wanita teman kuliahnya.

Dengan gagah berani, Peri menyatakan niat untuk menikahi sang permaisuri hati. Bak Haruka yang melihat sosok Naruto, sang wanita pun mengiyakan sambil tersenyum malu disertai pipi yang kemerahan sambil sesekali menggigiti ujung kursi.

Yarra Azilzah nama sosok wanita. Seorang dokter muda dengan paras manis. Tak perlu waktu lama bagi mereka berdua untuk meyakinkan diri masing-masing guna melanjutkan mimpi bersama dalam romansa indah pernikahan.

Dalam balutan putih pakaian daerah, Peri dengan lantang mengucapkan ijab qabul untuk menyunting Yarrah. Alhamdulillah, akhirnya pada tanggal 6 September keduanya diikat oleh sebuah perjanjian yang berat. Gue pun turut senang berada di antara mereka. Menyaksikan seorang sahabat yang mengakhiri masa lajangnya adalah sebuah kebahagiaan karena mereka kini tidak lagi menjadi objek bully nomer satu mewakili kaum jomblo :D.

Sah...

Sah…

20140906_101452Namun tak ada hadiah dan persembahan seorang sahabat kecuali doa yang mengiringi sebuah pernikahan. Lebih-lebih doa yang saudaranya sendiri tidak tahu jika ia sedang didoakan. Congratulation my best buddy¸now you are a real man.

Acara Resepsi pun tak kalah heboh :D.20140906_20500420140906_203939

Maka Tersenyumlah

smile“Senyum manismu dihadapan saudaramu adalah shadaqah” (HR. Tirmidzi)

Berabad-abad yang lalu, Nabi Muhammad sudah menasihati kita untuk selalu tersenyum kepada sesama. Senyuman adalah penenang jiwa, pengikat rasa, penyejuk amarah. Rasul mengingatkan bahwa senyum adalah sedekah yang paling mudah yang dapat kita berikan kepada orang lain tanpa tenaga, biaya namun dapat menjadi rekening pahala. Bahwa parafrase ‘sedekah’ memberikan pengertian sebuah pewarisan nilai kebaikan. Jadi tak perlu menunggu kuat atau kaya untuk berbuat baik kepada orang lain.

Nasihat tersebut adalah murni pengingat agar kita selalu menghiasi hari dengan senyuman. Tidak perduli betapa berat masalah yang dihadapi, senyuman akan mampu mengurangi beban yang bertengger di pundak. Senyuman adalah bahasa universal. Ia berarti persahabatan, ketenangan dan ungkapan ketulusan yang menghapuskan segenap nelangsa atau duka berkala.

Dulu, belum ada pendekatan ilmiah tentang senyum, mekanisme dan dampaknya. Tanpa bermaksud untuk mencocok-cocokkan kaitan antara hadits tentang senyum dengan manfaatnya secara ilmiah, ternyata senyuman memang memiliki kekuatan tersembunyi. Dalam sebuah video TED yang ditayangkan pada Maret 2011, Ron Gutman menyampaikan presentasi yang berjudul ‘the hidden power of smiling’. Ron bercerita  banyak tentang rahasia-rahasia yang terkandung dalam senyuman.

Berdasarkan sebuah riset selama 30 tahun yang dilakukan di UC Berkeley, senyuman seseorang pada buku tahunannya dapat memprediksi tentang kehidupan berumah tangga, nilai ujian hingga bagaimana senyuman tersebut menerka pengaruh seseorang terhadap orang lain dalam kehidupan mendatang. Lebih hebatnya lagi, studi yang dilakukan di Wayne State University pada tahun 2010 menyebutkan bahwa lebar senyuman dapat memprediksi usia hidup seseorang. Mereka yang tersenyum dengan lebar memiliki rata-rata usia hidup 7 tahun lebih lama daripada yang tidak tersenyum.

Tersenyum mungkin adalah ekspresi tertua yang dilakukan oleh manusia. Kemampuan ini dianuegerahi tuhan bahkan sebelum seseorang dilahirkan. Dari data ultrasound 3-D nampak bahwa bayi di dalam rahim berada dalam kondisi tengah tersenyum. Hebatnya lagi, bayi yang terlahir secara tuna netra pun dapat merespon suara manusia dengan senyuman.

Tersenyum, sama halnya dengan tidur, bisa mengurangi stress yang dialami tubuh dan pikiran. Tersenyum juga membantu menghasilkan emosi yang lebih positif seseorang. Itulah mengapa kita akan merasa lebih bahagia jika berada di sekitar anak-anak karena mereka tersenyum rata-rata 400 kali per hari. Bandingkan dengan orang dewasa yang hanya sepersepuluhnya.

Senyuman bersifat menular. Coba lihat ke sebuah gambar atau foto atau bertemu langsung dengan orang yang tersenyum maka akan sangat mudah untuk kalian ikut ‘tertularkan’ oleh senyuman tersebut dan lalu secara sukarela membalas dengan senyuman yang sama. Senyuman itu menular karena bagian otak yang bertanggung jawab pada ekspresi senyum di wajah berada pada area yang memberikan respon secara tidak sadar. Itulah mengapa ketika ada orang tersenyum maka otak akan secara otomatis memberikan respon untuk membalas senyuman tersebut.

Mengapa orang-orang tersenyum?

Charles Darwin dan William James pada abad ke 19 melaporkan bahwa eksperesi wajah tidak hanya merefleksikan emosi tapi juga menciptakannya. Wajah tidak semata ‘monitor’ untuk menampilkan emosi. Sebaliknya, ekspresi wajah dapat mempengaruhi emosi itu sendiri.

Emosi seperti sedih atau bahagia adalah pengalaman subjektif yang berhubungan dengan perubahan psikologis dan tingkah laku. Misalnya perasaan bahagia akan diikuti oleh penurunan detak jantung, tersenyum dan tingkah laku ‘aneh’. Sementara ketakutan berhubungan dengan efek psikologi lainnya, peningkatan detak jantung dan gigi yang dirapatkan.

Hormon hormon baik seperti endorfin dan serotonin akan dilepaskan ketika seseorang tersenyum. Kondisi Ini tidak hanya membuat tubuh lebih santai namun juga mengurangi laju detak jantung dan tekanan darah. Endorfin juga mampu bertindak sebagai pengurang rasa sakit sementara serotonin sebagai anti depressan/peningkat mood.

Tersenyum dapat membuat kita bahagia. Satu senyuman dapat menghasilkan stimulasi otak sama seperti mengkonsumsi 2000 potong cokelat. Tersenyum juga menstimulasi otak serupa dengan keadaan dimana seseorang mendapatkan 16.000 pounds (sekitar 240 juta rupiah) tunai. Namun tidak seperti cokelat stimulasi otak melalui senyuman sifatnya jauh lebih sehat karena dapat mengurangi tingkat hormon yang berpengaruh pada peningkatan stress seperti kortisol, adrenalin dan dopamin.

Di luar itu semua, senyum juga bisa membuat seseorang terlihat lebih menarik. Studi yang dilakukan di Penn State University menyebutkan bahwa tersenyum dapat membuat seseorang nampak lebih disukai, sopan dan lebih kompeten.

Jadi, tersenyumlah di saat kalian tengah gelisah atau stress. Selain dapat meningkatkan mood dengan cara yang sehat, tersenyum juga adalah sedekah. Sehingga dua manfaat sekaligus bisa kita peroleh, dalam dimensi duniawi dan ukhrawi.

Bagaimana dengan senyum palsu?

Spot the difference

Spot the difference

Saat tersenyum, terdapat dua otot yang diaktifasi, (1) zygomaticus major yang mengontrol sudut mulut, setiap kali seseorang mengaktifasi otot ini, maka dipastikan senyumnya tidak tulus, dan (2) orbicularis occuli yang mengelilingi lekuk mata yang menunjukkan sebuah ketulusan. Dr. Niedenthal dalam risetnya menjelaskan bahwa manusia dapat membedakan senyum tulus dan senyum palsu karena otak manusia mengaktifasi area yang sama dengan mereka yang senyum sehingga kita bisa mengidentifikasi senyum mana yang datang dari hati dan senyuman mana yang penuh dengan paksaan.

Senyum yang tulus disebut juga sebagai Duchenne Smile, setelah seorang neurologisi Guillaume Duchenne, berhasil mengidentifikasi otot-otot yang ada di muka yang termasuk dalam senyuman spontan. Duchenne memetakan 100 otot wajah pada tahun 1962. Dia mendapati bahwa senyuman palsu, setengah hati hanya melibatkan otot di sekitar mulut. Sementara senyuman yang tulus mengaktifkan otot di sekitar mata.

Namun senyum yang dimanipulasi juga dapat membuat seseorang bahagia.. Hasil penelitian yang dipublikasi pada jurnal ilmiah dengan judul ‘Grin and bear it : the influence of manipulated facial expressions on the stress response’ menyebutkan bahwa telah dilakukan sebuah studi untuk memanipulasi senyuman. Para sukarelawan diminta untuk meletakkan sumpit di mulut lalu sebagian diminta senyum dan sebagian lagi dalam keadaan normal. Hasil studi menunjukkan bahwa mereka yang diberikan perintah tersenyum cenderung laju detak jantung yang lebih rendah daripada group sebelumnya yang tidak diminta untuk senyum secara tulus.

Jadi, jauh sebelum banyak penelitian yang dilakukan, kita sudah dinasihati untuk selalu tersenyum. Cobalah tersenyum untuk meningkatkan mood dan ‘memanipulasi’ emosi dan kebahagiaan yang tengah kita rasakan. Atau manfaatkanlah momen-momen lucu yang ada di labirin otak kita untuk menstimulus sebuah senyuman. Namun jangan terlalu sering tersenyum sendiri karena kita akan dianggap sakit jiwa atau bipolar. Apalagi kalo sampe lepas kerudung dan memaki-maki orang lain gegara diprotes saat nyerobot antrian di SPBU :D.20140530_074808Jadi apa lagi yang menghalangimu untuk tersenyum? Mari ciptakan dunia yang lebih ramah dengan senyuman dariku, darimu dan dari kita semua.

The world is simply a better place when you smile (anonymous).

“Sometimes your joy is the source of your smile, but sometimes your smile can be the source of your joy”
-Thich Nhat Hanh

*Sumber Gambar
(1) Quote Bunda Theresa sumbernya dari sini
 (2) Gambar Spongebob 
 (3) Fake vs Real Smile dari sini
 (4) Foto pribadi