Smile in Each Moment


smile

By Leo Babauta

There’s a tendency to get caught up in the tasks of our day, the urgency of what’s coming up, the distractions of being online.

And we forget to smile.

In the rush of the day, the stress of wanting things to happen a certain way, we lose the enjoyment of each moment.

In every moment, there’s the capacity for happiness. It’s not that we need to be ecstatic, full of pleasure, excited or even joyous each and every second of the day. Who needs that kind of pressure? And it’s not that we can never feel sadness or anger or stress. It’s that we can feel happiness, in some form, any moment we like, even in the midst of stress or sadness.

And it’s exceedingly simple. We just need to remember to smile.

You can smile in each and every moment.

OK, maybe you don’t need a smile on your face all day long — your cheeks will feel tired. But we can smile more, and in between physical smiles, we can have an internal smile.

Try an internal smile now: have a calm, unsmiling face, but think of the miracle of this moment, and find a thought to smile about. Feel the smiling feeling inside. Isn’t that amazing?

What do you have to smile about in this moment?

Some ideas:

  • You have someone in your life who cares about you.
  • There is beauty all around you, in many forms.
  • You are generous, compassionate, and good-hearted.
  • You have someone you can help.
  • You have eaten today.
  • You can move.
  • You can see the sun shining.
  • You can appreciate the leaves of a tree, rain falling, wind blowing.
  • You can taste chocolate.
  • You get to spend time with someone you love.
  • You have music in your life.
  • You get to create something.

And so on. You probably don’t have all of these, but you might have one or two, and if so, that’s a more than good enough cause to smile.

You’ll forget to smile in some moments, because your mind gets caught up in stories about the past, stresses about what might happen in the future. None of this is happening right now — it’s just movies playing in our heads.

Instead, remind yourself of what’s happening right now, and see the beauty in it, see the reason to smile. And then smile, externally and internally.

This changes your day, because now instead of being caught up in stress and stories, we are present, and happy. We can be content with every moment.

It changes your life, because too often we miss the smile-ability of life when we are not paying attention.

Source : Here

Kantin-Kantin di ITB

Berbicara mengenai kampus ITB tidak akan pernah ada habisnya. Terlalu banyak hal menarik dan memorable yang bisa terus dieksplorasi. Kali ini gue akan bercerita tentang beberapa kantin yang ada di sekitaran ITB.

Gue harap apa yang gue ceritain dapat menjadi gambaran bagi adik-adik yang akan melanjutkan studinya di kampus ini atau justru menjadi penyentil kembali ingatan bagai mereka yang mungkin pernah menghabiskan masa-masa terindahnya di Institut Terbaik Bangsa.

Tapi sori, gue ga menceritakan secara detail semua kantin yang ada. Hanya beberapa kantin yang terpilih yang akan gue tulis di sini. Kantin di ITB akan gue bedakan berdasarkan teritori, yang ada di dalam kampus dan di luar kampus. Semoga bisa jadi referensi

A. Kantin di dalam kampus

Kantin Bengkok

kantin bengkok

Kantin bengkok bisa diidiomkan dengan kantinnya anak kimia karena secara geografis letak kantin ini bersebelahan persis dengan gedung jurusan MIPA kimia. Mengapa disebut kantin bengkok?

Gue ga tau persis, bentuk kantin ini juga tidak bengkok sepenuhnya. Alasan yang paling rasional adalah karena terdapat beberapa kursi yang bentuknya bengkok berupa busur. Bisa jadi kantin bengkok ini menggambarkan bahwa sebagian besar konsumennya adalah wanita. Karena Alm Ust Zainudin M.Z pernah berujar bahwa wanita itu bak tulang rusuk yang bengkok. Nah lho!

Kalo misalkan dapet mandatnya, gue bakalan ngubah nama kantin ini menjadi “kantin reaktan” atau “kantin isolasi senyawa kimia”. Lo bayangin aja, ada kantin yang lokasinya berjarak tidak lebih dari 10 meter dengan laboratorium kimia. Which means hasil buang percobaan udah nyampur sama udara di sekitar kantin tersebut.

Gue serem ngebayanginnya, kalo sampe suatu ketika ada zat kimia berbahaya mengkontaminasi udara di sekitar kantin bengkok, dan semua orang jadi zombie sehabis makan di sana. Siapa yang mau tanggung jawab? ga mungkin will smith kan? masa dia mulu yang jadi “legend”.

Kantin bengkok menjual berbagai jenis makanan dan minuman. Harganya sih relatif mahal jika dibandingkan dengan kantin yang ada di luar kampus, tergolong sedang-sedang saja jika diadu dengan kantin lain yang berada di dalam kampus. Rasa makanannya pun biasa-biasa saja, malah cenderung sama semua. Ya iyalah, setiap makan di bengkok gue belinya batagor mulu.

Selain tempat makan, bengkok juga menjadi tempat belajar favorit. Mulai dari belajar kelompok, privat hingga belajar bolos mata kuliah.

Khusus untuk anak kimia, bengkok juga menjadi lokasi ideal untuk berkumpul bersama temen-temen setelah lelah beraktifitas di lab seharian. Sekedar bercengkrama dan bercanda kecil di kantin ini mampu melepaskan kepenatan atas praktikum yang gagal atau ketemu asisten yang galaknya ngalahin singa afrika yang lagi diet.

Bengkok juga menjadi saksi terburu-burunya praktikan menyelesaikan jurnal dan persiapan untuk tes awal sebelum praktikum dimulai. Pokoknya Kantin bengkok benar-benar berkesan.

Kantin Salman

kantin salman

Walau berada di luar kampus, kantin salman masih termasuk teritori ITB karena berada satu lokasi dengan Mesjid Salman ITB.

Kantin Salman identik dengan mahasiswa baru atau mahasiswa Tahap Persiapan Bersama (TPB). Kalo anda bukan mahasiswa dari kampus ini, sangat mudah sebenernya mengidentifikasi mahasiswa baru. Rerata mereka penampilannya masih culun banget, kemana-mana megang text book. Text booknya tidak jauh dari Kalkulus I, II atau Buku Kimia Dasarnya pak Hiskia Ahmad atau buku Fisika Dasarnya Tipler. Kalo lagi makan di Kantin salman pun obrolannya seputar UTS, unit, kecengan baru. Jarang-jarang ada mahasiswa baru berdiskusi tentang siapa nama istri keduanya eyang subur.

Mahasiswa baru belum punya basecamp seperti himpunan atau unit. Dengan demikian mereka menjadikan mesjid salman sebagai “tempat bernaung” selain perpustakaan tentunya. Secara praktis mereka pasti akan mencari tempat makan terdekat dengan mesjid salman pada jam istirahat. Sehingga sekali dayung, dua tiga properti dibeli. Jam istirahat dapat dihabiskan dengan makan di kantin, sholat dan istirahat di mesjidnya.

Jujur aja nih ye, makanan di kantin salman kurang menggugah selera. Rata-rata rasanya hambar, kurang garem. Entah apa yang gue rasain sama atau tidak dengan yang dirasain anak-anak baru lainnya. Kalo kalian ngerasain apa yang gue rasain berarti masa depan kalian cerah, hahaha.

Mungkin mba-mbak yang masak tahu kalo anak ITB pinter-pinter, jadi ga perlu ditambahin garem di masakannya. Lah, apa hubungannya ya? 

Buat gue dulu, harga makanan di kantin salman tergolong mahal. Berbagai lauk yang dihidangin secara prasmanan terkadang buat gue lupa diri dan ambil semaunya. Hasilnya? seminggu kemudian gue cuma makan mie rebus buat makan siang.

Kantin Borju

Nah, keren kan nama kantinnya. Masih inget sama boyband jadul “Neo”? Itu loh, yang judul lagunya “borju”. Gue rasa personel Neo makan di kantin ini sebelum bikin lagu yang cukup hits di akhir abad 20 tersebut.

Kantin borju berada di Labtek di deket gedung fisika dan GKU barat. Gue lupa nama labteknya. Harga makanan di kantin ini memang termasuk yang paling mahal dari kantin-kantin yang berada di sekitaran ITB. Dulu gue paling takut makan di kantin borju, takut ga bisa bayar. Gue kepikiran kalo makan di sini harus pake jas sama dasi, minimal naek Lexus atau Range Rover.

Ternyata setelah gue cobain, harga makanannya ga semahal yang gue kira sebelumnya. Rasa makanannya pun lebih enak dengan tempat yang lebih nyaman dibanding kantin lainnya. Bayarnya ga perlu pake kartu kredit kok.

Yang ngasih nama kantin ini sepertinya mengalami sindrom hiperbolik akut karena sudah secara berlebihan memberikan embel-embel borjuis.

Kantin borju akan lebih rasional jika diganti dengan “kantin lebih mahal sedikit dari kantin yang lain”. Alamak, itu nama kantin atau judul sinetron!

Kantin GKU barat

Kantin GKU barat, sesuai namanya kantin ini terletak di gedung kuliah umum (GKU) yang berada di pojokan kampus. GKU barat adalah gedungnya mahasiswa TPB. Gue yakin, kebanyakan anak ITB familiar dengan gedung ini. GKU adalah Satu dari lima gedung yang paling populer. Keempat lainnya adalah Oktagon-TVST, Perpustakaan, Masjid-kantin Salman, dan Comlabs.

Kantin GKU barat berada persis di tengah gedungnya. Kantin ini bener-bener strategis. Jadi pada saat mahasiswa baru kelelahan setelah berputer-puter mencari ruangan kelas akibat desain GKU yang sungguh amat sangat memusingkan, mereka tinggal loncat dari lantai empat buat mesen sarapan atau makan siang. Ide bagus, bukan? *bercanda

Harga makanan di GKU barat just so so. Menu-menuya lebih enak dibandingkan kantin Salman. Kalo saja ada Mesjid GKU barat, gue yakin mahasiswa TPB akan move on dari kantin salman.

Dulu, pas gue TPB, ada ibu-ibu kasir yang juteknya minta ampun. Leily Sagita mah lewat. Kalo pembeli adalah raja, maka ibu kasir ini adalah Ibu-nya raja.

Sebenernya masih ada beberapa kantin lagi yang ada di dalam kampus seperti kantin tambang, kantin barak. Tapi gue kurang familiar dengan kantin-kantin tersebut karena memang jarang makan di sana.

B. Kantin di luar kampus

Kantin Gerbang Belakang

Lokasi gedung kimia yang dekat dengan gerbang belakang ITB membuat  banyak mahasiswa kimia yang berlari menuju kantin di gerbang belakang guna memenuhi hasrat perut yang sudah lapar. Perut yang kelaperan karena seharian praktikum cuma diisi sama aroma etanol dan eter.

Memang sih ada kantin bengkok, namun di samping harganya mahal, makan di bengkok juga sama saja memindahkan limbah udara yang sudah bercampur dengan zat-zat buangan reaktan ke dalam perut.

Gue bingung, sama mereka yang menikmati makanan di bengkok. Menu yang mereka makan pastilah nasi goreng asetaldehid, soto ayam benzonfenon, jus kurkumin. Mending makan di kantin belakang ITB, walo sama-sama ga bersih, paling ga harganya lebih murah *hidup mahasiswa :D

Salah satu tempat favorit di kantin belakang ITB adalah kedai penjual Soto. Soto ayam-telor harganya 6.500, kuahnya enak, ayamnya pun banyak, walo memang tempat ini lebih mirip kantin di sekitar lokasi ledakan Chernobyl, berantakan dimana mana. Makannya sambil merem aja biar ga sadar dengan situasi.

Yang khas dari kantin ini adalah bapak penjualnya. Setiap nuangin kuah soto, tidak jarang rokoknya tetep nyala dan diselipin di mulut. Rasa gurih kuah soto adalah perpaduan bumbu-bumbu dengan abu rokok ditambah keringet dari tangan si bapak yang memegang pinggiran mangkok soto. Nyummy, isnt it?

Suatu ketika, temen gue bercerita. Di tengah asyik makan di tempat tersebut, ia ngeliat kecoa di dalem mangkok sotonya.

Exactly, it was disgusting cockroach inside your bowl. How do you feel if you undergo that experience? I bet you will vomit.

Tapi apa yang terjadi dengan temen gue? Kecoanya diangkat dari mangkok kemudian dibuang. Dengan santai dia cuma dan hanya minta ganti dengan soto yang baru. Damnnn… mungkin temen gue ini sodaranya limbad.

Cerita ini menyebar dengan cepet, temen-temen di jurusan gue udah pada tau tentang soto ayam plus kecoa. Ada yang langsung bersumpah palapa untuk tidak akan lagi makan di soto tersebut. Tidak sedikit juga yang ngerasa eneg pas denger cerita soto kecoa, namun besoknya mereka dateng lagi dan memesan soto sambil ketawa-ketawa. Seolah mereka mendadak amnesia dengan cerita yang membuat mereka eneg kemarin hari. Yang penting gue bisa makan murah dan enak, bro :D . Daging kecoa juga protein kan!.

Temen gue yang lain malah dengan santainya bercerita. “Gue kalo makan di sana nyantai aja tuh kalo ada tikus-tikus yang lewat”. Alhamdulillah seumur-umur gue makan disana, belum pernah gue menemukan hewan-hewan tersebut. Pura-pura ga tau aja lah.

Tapi sayang, warung ini sudah tutup sekarang. Bapak… kami kangen soto kecoa. Eh soto ayam maksudnya.

Gelap nyawang

Salah satu tempat favorit anak ITB dengan berbagai latar belakang ekonomi adalah kantin gelap nyawang. Kantin ini juga pernah masuk liputan Pak Bondan yang maknyus itu. Kantin gelap nyawang berupa foodcourt yang berjajar di sepanjang Jalan Ganeca ITB. Lokasinya di luar pagar Mesjid Salman hingga taman ganesha. Berbagai jenis makanan ada di sini. Mulai dari masakan sunda, masakan jawa, masakan padang hingga yang sedikit modern.

Harga makanan di kantin-kantin gelap nyawang sesuai dengan harga kantong mahasiswa, tempatnya pun lebih rapih dan sedikit lebih bersih daripada kantin gerbang belakang.

Makan di sini pun berasa sedang menonton serial “pendekar rajawali sakti versi 2012”. Soalnya ada banyak wisata kuda di sepanjang jalan yang memisahkan kantin dan masjid salman. Yang namanya kuda, pasti buang air sembarangan dong ya. Kecuali kuda catur mungkin. Meskipun kuda-kuda di sepanjang jalan ganeca ini sudah mengenakan “celana”, tetep aja kotoran mereka tercecer. Beginilah nasib kami.

Tapi kondisi sekarang lebih baik, celana kuda tersebut sudah diperbaiki. Sekarang kuda-kuda  bisa memilih untuk menggunakan denim atau celana bahan.

Salah satu kantin favorit di gelap nyawang adalah rumah makan padang. Rumah makan padang mengajari kami bagaimana prinsip ekonomi yang diajarkan di sekolah dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Nasi ambil sebanyak mungkin, kuah nya juga, lauk seadanya. Bagi mahasiswa, apalagi di hari tua, banyaknya nasi adalah variable yang paling penting pada saat makan. Sedangkan rasa adalah factor kesekian. Siapa tahu ga perlu makan malem lagi karena masih kenyang.

Rumah makan padang seolah bener-bener mengerti kebutuhan mahasiswa. Mereka adalah cinta kedua bagi anak kos setelah indomie dan segala turunannya.

Segitu aja sih pengalaman gue dengan kantin-kantin yang ada di ITB. Info terakhir yang gue dapet sih, kantin yang ada di gerbang belakang sudah direnovasi dengan menggunakan bangunan bambu. Jajaran tempat makan dan fotokopi tersebut sudah jauh lebih rapi daripada sebelumnya.

5 Alasan Kenapa Korea Utara Tidak Akan Menyerang

“Jar gimana kondisi di sana? Aman?”

“Eh gimana di Korea? Nggak serem tuh? Balik aja kenapa sih?”

“Selamat ultah Jar, semoga ga kena nuklir.”

OK, sebelum mulai bercerita, saya akui bahwa kalimat terakhir adalah ucapan selamat paling membuat merasa gagah yang pernah saya terima, yang maskulinitasnya mungkin hanya bisa ditandingi oleh mereka yang dulu berulang tahun di sekitar Chernobyl, dan saya menyukainya.

Mungkin sebenarnya saya harus berterimakasih kepada Kim Jong Un karena beliau telah membuat April tahun ini menjadi April yang paling menyenangkan dalam hidup saya; di mana saya sungguh merasa dicintai oleh teman-teman yang masih memperhatikan kelangsungan hidup saya. Thank you Dear Supreme Leader!

See? He’s not so bad. Gadis-gadis senang berada di dekatnya.

Walaupun begitu, sepertinya saya perlu menjelaskan ke teman-teman yang penasaran dan atau khawatir dengan keadaan di sini, agar teman-teman tidak terlalu takut (atau bahagia) akan ancaman perang nuklir.Plus, supaya teman-teman sekalian yang berada di Korea Selatan dan/atau sering ditanya handai taulan yang khawatir mengenai situasi di Korea Utara dapat menjawab dengan sistematis menggunakan artikel ini.

 

1. Kalau Kata Luna Maya : “Sudah Biasa”

 

“Korea Utara menyatakan perang! Mencabut perjanjian genjatan senjata! Mulai mengarahkan misil ke Korea Selatan, Guam, Washington DC dan Antartika!”

Well, bagi orang-orang yang tidak tinggal di Korea mungkin ancaman ini terdengar sangat serius dan mengkhawatirkan, apalagi bagi orang-orang yang tinggal di negara yang aman damai tenteram seperti Indonesia, yang konflik paling parahnya cuma memaki-maki negara lain di dunia maya. Namun bagi yang tinggal di Korea, ancaman-ancaman dan provokasi seperti ini sudah biasa. Sudah sering. Malah sebenarnya mungkin terlalu banyak, sampai ada halaman wikipedia yang khusus mendaftar provokasi-provokasi  iniSeriously.

Speakin’ bout missile, they actually FIRED some and hit South to provoke on 2010. Sudah biasa.

Seperti yang ditulis di halaman wikipedia tersebut, provokasi yang mereka lakukan beragam, mulai dari menembaki kapal nelayan Korsel, menginfiltrasi Seoul untuk membunuh Presiden, sampai yang aneh seperti “menyandera” sebuah kapal.

Di sini lah maksud “sudah biasa” kami tadi. Rakyat Korsel sudah sering menerima ancaman, bahkan sering disertai aksi provokasi yang “serius” menurut warga dunia lainnya. Namun bagi mereka ini biasa. Gimana nggak biasa? Dibandingkan ancaman kemarin yang cuma omdo, mereka sudah pernah merasakan ancaman lebih serius seperti ditembaki, istana presidennya diserang, pesawatnya diledakkan, dan lain lain. Sudah biasa.

Tetapi seperti dicontohkan oleh teman-teman dan keluarga saya yang budiman, dunia luar yang tidak biasa dengan kejadian seperti ini menanggapinya dengan panik dan berlebihan. Yah, siapa yang nggak takut dan terpengaruh kalau tiap hari detik.com bikin berita dengan judul aneh-aneh.

If I get the opportunity, I’ll roundhouse kick the editor for makin’ my mom panicked

Dan teman-teman pasti bingung apa maksud dari provokasi-provokasi dan ancaman-ancaman ini. Berdasarkan pengalaman, ujung dari ancaman-ancaman ini adalah harapan bahwa pemerintah Korea Selatan akan mencoba “menjinakkan” mereka dengan uang dan beras, seperti yang terjadi biasanya. Dan biasanya pemerintah Korea Selatan menyanggupinya. Kenapa? Well, mereka sadar bahwa keadaan ini sangat buruk bagi bisnis dan turisme. Sedikit banyak orang-orang akan terpengaruh oleh bombardir berita “mengerikan” tentang situasi di Semenanjung Korea dan menjadi enggan berbisnis atau berlibur di Korea

Yang akan membawa kita ke poin berikutnya.

 

2. Ini memang cuma Development Policy mereka.

 

Dunia adalah tempat di mana semua negara menawarkan apa yang mereka punya untuk dibarter dengan produk negara lain untuk menjamin kelangsungan hidupnya dan menarik keuntungan. Dunia bisa diibaratkan seperti sebuah kampung, sebuah komunitas di mana setiap penduduknya mengasah skill masing-masing dan bekerja sesuai keahlian dan visinya untuk menjamin dapur tetap mengepul. Penduduk yang memiliki keahlian dan visi akan mempunyai produk dan akhirnya bargaining position yang lebih baik.

As seen on TV.

Dan Korut, dengan segala kebijaksanaannya, dalam mencari apa yang menjadi keunggulannya untuk “ditawarkan” kepada dunia luar untuk mendapat profit, menurut saya jauh lebih bervisi dari Indonesia. Korut sangat cerdas dalam menempatkan dirinya di dunia, sebagai PREMAN.

Amerika jualan teknologi dan film, Cina jualan manufaktur murah, Jepang jualan robot seks semi-intelligent, Eropa jualan bangunan-bangunan indah, dan Indonesia masih bimbang antara jualan manusia atau sumber daya alam. Korut tidak mau pusing-pusing memikirkan itu semua. Mereka dengan tenang mengambil pilihan semua orang yang terhimpit keadaan di tengah tetangga-tetangganya yang kaya : Memalak!

Seperti Pelita dan Repelita jaman Jenderal Besar kita, Korea Utara juga mempunyai skema yang kurang lebih mirip dengan Indonesia, hanya saja mereka menambahkan kata “senjata” atau “perang” di semua tahapnya. Dan setelah melihat dan mempelajari polanya, kami harus mengakui bahwa strategi mereka sedikit lebih unggul dibanding Negeri Zamrud Khatulistiwa.

Rencana Pembangunan Lima Tahun Korea Utara. Jenius.

 

3. Namanya Juga Mass Media

Dan semua kegilaan ini, diperparah dengan provokasi media massa, yang tujuannya memang untuk mencari oplah demi meraih keuntungan juga.

Well, conspiracy theories aside, dengan logika sederhana saja, mana yang akan dipilih media saat mereka disuruh memilih antara berita berikut ini :

“Korea Utara lagi-lagi mencoba memalak untuk kesekian kalinya dalam rangka mencari beras gratisan. Silakan abaikan.”

Atau ini :

Kaskus, where 13 years old asocial dorks with laptop can become a popular journalist by using provocative words alone.

Jelas sekali bahwa media pasti akan memilih berita yang kedua, yang lebih meningkatkan oplah karena lebih besar sensasinya di masyarakat. Sudah pasti media tidak akan melaporkan bahwa situasi di Korea Selatan sangat biasa, damai, tenteram, dan cenderung tidak peduli dengan Korea Utara.

Tidak akan ada yang melaporkan bahwa di sini hampir tidak ada yang membahas tentang hal ini sama sekali. Pelajar tetap belajar, pekerja tetap bekerja, mahasiswa tetap menjadi budak profesor, TKI tetap jadi budak majikan, cewek-cewek Korea masih…..ah, sori malah curcol jadinya.

Eh, cewek-cewek Korea….AAARGH stupid brain stop mentioning them!!!

 

4. Mereka nggak punya uang.

 

Jawab cepat, apa komponen utama kesuksesan sebuah perang?

Kalau Anda menjawab keberanian dan semangat juang, well, saya akui dengan sepenuh hati bahwa Anda sangat idealis dan jantan, tapi sayangnya, sepertinya Anda tidak cocok menjadi Presiden.

Kecuali di Korea Utara, di mana keberanian dan semangat juang mengalahkan gelapnya malam.

What? You call me coward and not nationalist enough? Capitalist? Bagaimana dengan ini : total anggaran pendingin ruangan (AC) tentara Amerika di Irak dan Afghanistan setahun saja : 20.2 miliar dolar, yang sama dengan 2 kali lipat estimated national budgetnya Korea Utara (APBN), dan sama dengan subsidi BBM Indonesia tahun 2012-2013 yang sempat hampir membawa Indonesia ke anarki demonstrasi itu.

Perang itu mahal, saudara-saudara. Marcus Tullius Cicero tidak bohong ketika mengatakan, “The sinews of war are infinite money”, atau, “Otot dari peperangan adalah uang yang tidak terbatas.”

Keberanian, semangat juang, dan nasionalisme saja tidak akan cukup untuk memenangkan sebuah perang. Kamu membutuhkan uang untuk membiayai senjata, peluru, bahan bakar tank, sampai seragam prajurit. Buset, gimana kamu mau perang kalau tentaramu berisi pria-pria telanjang tanpa senjata? Mencoba menyuruh mereka lari ke garis depan sambil berharap musuh kabur karena ketakutan disodomi Kim Jong Un yang didandani semi-nude mirip Rodrigo Santoro di 300??

ah stupid brain don’t imagine it *#$^%&*$^%&*$^!!!

Untuk lebih memperjelas perspektif ini, sebuah negara adidaya bersenjata modern bernama USA membutuhkan uang sekitar 444 miliar dolar untuk memerangi sebuah negara kecil miskin yang hanya mempunyai senjata bekas Perang Dunia ke 2 bernama Afghanistan. Biaya sebesar ini hanya dapat dilunasi Korut dalam 11 tahun apabila selama itu negaranya menghapus semua anggaran negara lainnya sampai NOL. Dan dalam hal ini Korut bukan memerangi Afghanistan; mereka akan memerangi negara-negara kaya, modern, dan kuat seperti Korsel, Jepang, dan Amerika itu sendiri. So, you can say that they are digging their own graves if they start to attack.

Walaupun dibantu seekor monster bernama Dennis Rodman.

Walaupun mereka punya nuklir yang bisa menghancurkan area luas, tapi apalah gunanya menghancurkan negara lain saat negaramu hancur lebur juga setelahnya? Itu juga kalau nuklirnya kena sasaran, nggak hancur ditembak pertahanan anti rudal atau malah gagal meluncur seperti roket percobaannya kemarin. Dan melihat poin nomor 2 tentang maksud mereka sebelumnya, sepertinya kecil kemungkinan bahwa mereka berniat “hancur bersama-sama” seperti diberitakan media-media pencari sensasi.

Maka, karena Korut tidak punya modal sebanyak itu, sangatlah pantas jika kita bergerak ke poin berikutnya:

 

5. Big RED Brother belum bergerak.

 

Yes! It’s the BIG RED KAMERAD!

Perang Korea itu bukan kapitalis Korsel + USA melawan Korut sang lone wolf gagah yang menghancurkan ambisi imperialisme seperti diajarkan oleh buku-buku revolusioner dan “anti kapitalisme” yang banyak beredar di pasaran.

Perang Korea bahkan hampir tidak melibatkan kedua Korea sama sekali pada klimaks akhirnya. Perang Korea adalah USA vs People’s Liberation Army of the People’s Republic of CHINA.

And probably plus 1 Great Patriotic Red Giant.

Saat Perang Korea, saat tentara Korut pada akhirnya hancur lebur dipukul dengan mudahnya oleh Amerika sampai mendekati perbatasan Cina, Cina akhirnya memobilisasi kegilaan besar berupa satusetengah juta manusia untuk membantu adik kecilnya.

In the end, Cina bahkan kehilangan 150 sampai 400ribu pasukannya selama Perang Korea, jumlah yang fantastis karena totalnya hampir 2 kali kematian total prajurit Korsel + USA. Walaupun jumlah segitu sepertinya tidak terlalu signifikan, terutama bagi negara miskin berpenduduk 1 miliar.

We are pretty sure this awkward situation often happens there back then.

Sejauh ini Cina tidak mendukung sekutu tradisional mereka tersebut, bahkan ikut menulis kesepakatan embargo setelah Korut nekat meluncurkan roket uji coba tanpa seijin Beijing. Sejauh ini belum ada tanda-tanda bahwa mereka akan berubah sikap.

Jadi santai saja, teman-teman. Sebelum Tentara Pembebasan Rakyat bergerak, sebelum Xi Jinping bersabda, “Serbu!”, sepertinya kami-kami yang di Korea ini aman-aman dan nyaman-nyaman saja. Tetap bekerja, riset, belajar, dan dihajar sampai sekarat oleh Profesor. Just another peaceful spring, with some overtime works.


Sumber : Poskamling

 

Twitter Bapak Presiden

Welcome to twitland  bapak presiden tercinta, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Keberadaan jejaring sosial twitter,  kini sudah mulai menjamah orang no 1 republik Indonesia. Di masa jabatan yang tinggal 1 tahun lagi, banyak spekulasi yang muncul terkait latar belakang akun twitter presiden tersebut. Sebagian orang bersumsi bahwa twitter  hanyalah  media pencitraan, sama seperti pencitraan-pencitraan lain yang sering dilakukan oleh beliau. Pencitraan kali ini diarahkan guna memperbaiki nama demokrat sebagai partai penguasa.

Sah-sah saja bagi mereka yang punya pendapat seperti itu.

Istana bereaksi dan beralasan bahwa di antara 20 pemimpin Negara G-20, hanya tinggal beberapa yang belum mempunyai akun twitter. Diharapkan dengan adanya twitter ini, komunikasi antar pemimpin gerakan tersebut dapat lebih akrab dan intens.

G-20 is a group of finance ministers and central bank governors from 20 major economies: 19 countries plus the European Union, which is represented by the President of the European Council and by the European Central Bank (Wikipedia)

Selain itu, presiden diharapkan dapat lebih dekat dengan rakyat. Menyapa rakyat secara langsung, komunikatif serta interaktif. Tapi, kenapa baru sekarang ya? Kenapa ga 9 tahun lalu saat presiden pertama kali dilantik? Ya kali, twitter aja baru dibikin bulan Maret tahun 2006.

Banyak orang yang menanggapi kehadiran Bapak Presiden di timeline. Tidak sedikit yang menyapa, ada juga yang bersenda gurau dan mencoba akrab. Dalam waktu beberapa hari saja, akun ini sudah mendapatkan follower sekitar 1 juta lebih.

Ada yang unik dengan penampakan display picture maupun display background Pak SBY. Akun tsb mirip dengan akun barrack obama, presiden US. Lihatlah bagaimana display background yang menggambarkan presiden di tengah kerumunan massa. Atau memang visualisasi demikian adalah standardisasi buat presiden? Entahlah…

sbyobama

Selain keunikan display background, terdengar informasi lain yang menceritakan bahwa SBY belajar twitter bukan dengan pakar telematika, menkominfo, Jack Dorsey atau bahkan dari anggota keluarganya, melainkan dari sesosok makhluk yang mungkin sangat tidak disukai di dunia kaskus. Makhluk ini adalah member dari boyband yang suka robek robek baju di video klipnya. SBY dikabarkan belajar twitter dari seorang Bisma SM*** (gue ga tega nulis nama lengkap boyband ini).

Reaksi dari orang-orang yang tahu kondisi demikian adalah:

“Oh my God, Pindahkan aku dari negeri ini. Bawa aku bawa aku ke planet lain”

“Bapak Presiden kita ternyata Smashblast”

Dafuq!!!

“Yo dawg, challenge accepted. Bapak Presiden buatin lagu buat Sm*sh”..

Berbicara twitter tidak bisa terlepas dari twit serta follower dan following. Di awal udah gue sebutin bahwa follower SBY sudah mencapai sejuta lebih (pada saat tulisan ini dibuat). Di antara follower tersebut, ada yang berniat untuk mengkritik, membully, mendukung dan berbagai alasan lainnya.

Berbeda halnya dengan jumlah follower, jumlah following Pak SBY hanya beberapa puluh orang saja. tidak banyak memang. Beda halnya dengan following Obama yang mencapai ratusan ribu. Meskipun memang followernya Obama sudah sampe 30 jutaan sih :) .

Di antara akun akun following beliau, sudah dapat dipastikan ada nama “Bisma sm***”,  Sang guru spiritual twitter.

Berikut adalah klasifikasi akun yang difollow pak presiden menurut pengamatan gue

1. Akun motivator

Dari beberapa akun yang difollow beliau, terselip nama-nama seperti Ippho santosa, pakar otak kanan. Tung desem waringin, komunikator no 1 Indonesia. Gue juga ga tau apa yang menjadi landasan presiden memfollow akun para motivator. Mungkin beliau butuh motivasi pada saat rakyat membully akunnya di twitter.

 ”super sekali pak SBY, janganlah kita berkeluh kesah, kalau tak ada gunanya, berkeluh kesah boleh saja, kalau ada perlunya” *rhoma irama – begadang*

Jadi pak presiden kita tidak perlu galau saat akunnya ”diserang” oleh kritikan rakyat. Ada para motivator yang siap membangkitkan kembali semangat.

Sayang, akunnya Mario Teguh belum difollow. Karena semua masalah bisa jadi mudah di hadapan mario teguh :D .

2.  Artis

Wiihhh, gaul beud dah presiden kita. Beberapa nama artis diikuti kicauannya. Pak SBY tau juga nih yang cakep-cakep, ada julie estelle, masayu anastasia, Titi Rajo bintang, Olga syahputra (keselek!!). Ga lah, gila aje kalo Pak SBY follow Olga.

Menurut gue sih, Akun artis yang difollow beliau kurang strategis. Ada baiknya jika akun yang difollow adalah akun dengan follower yang jutaan. Seperti Sherina, Raditya Dika atau Lady Gaga (What, lady gaga???). Kan ok tuh, jika kebijakan yang disampein lewat twitter bisa dibaca oleh jutaan follower artis bersangkutan. Artis yang difollow juga sebaiknya folbek dong ya. Kurang ajar banget kalo sampe ga folbek Pak Presiden. Ntar beliau prihatin :p.

Ada juga nama Memes dan Addie M.S. Gue kepikiran aja, Addie M.S dan titi rajo bintang adalah dua orang juri IMB selain Deddy corbuzier dan Soimah. Apa iya SBY penggemar acara Indonesia Mencari Bakat? Sampe-sampe jurinya aja difollow.

Atau mungkin dapet masukan dari Bisma Sm*** juga?

3. Cendekiawan

Diantaranya ada nama-nama seperti Goenawan Mohamad, dedengkotnya Tempo; A.Mustofa bisri (Kyai NU plus mertua Ulil);  Komarudin Hidayat (Rektor UIN Syarif Hidayatullah). Entah kebetulan atau tidak, ketiga nama cendekiawan tersebut adalah orang-orang yang dikenal sedikit banyak mendukung gerakan islam liberal. Mungkin prediksi gue salah, gue yakin Pak SBY Islamnya mah lurus-lurus aja. Ga liberal kyk ketiga akun tersebut.

Untungnya beliau tidak memfollow akun dedengkot JIL, Ulil Abshar Abdala. Yang level ke-JIL an nya udah stadium 6.  yang berani mengatakan bahwa Al quran adalah produk budaya. Al quranpada beberapa poin sudah tidak relevan lagi dengan kondisi saat ini, ujarnya. Ulil mencoba menyelisihi ucapan Abu-Bakar, Sahabat Terbaik Rasul, yang berujar ”jikapun tali kekang untaku terlepas, maka akan kutemui ia di dalam Al quran”

4. Keluarga

Sudah seharusnya akun-akun keluarga harus menjadi prioritas untuk diikuti. Menunjukkan bahwa Pak Presiden adalah orang yang family-sentris. Tengok saja bagaimana Partai Demokrat bak sebuah Dinasti Yudhoyono, hehe. Ada nama Ibas, sang putra penerus estafet kekuasaan SBY di partai demokrat. Juga Aliya Rajasa, Istri Ibas, Menantu SBY, dan Anaknya Hatta Rajasa, Menko Perekonomian. Juga tentunya Annisa Pohan, Menantu lainnya dari Pak SBY.

Kok Ibu Ani belum punya akun twitter? Mungkin takut difollow sama Bang Haji Rhoma. ”tunggu aku, Ani”.

rhoma

 

5. Politikus

Ada nama Jusuf Kalla, mantan partner beliau di Kabinet Indonesia Bersatu Jilid Pertama yang juga menjadi kompetitor dalam usaha merebut RI 1 pada periode jabatan presiden 2009-2013.

Boediono, mungkin Boediono bukanlah seorang politikus namun ekonom yang diangkat menjadi wakil presiden SBY. Jika selama ini Pak Boediono tidak ketahuan dimana rimbanya, mungkin kita bisa mention Pak SBY untuk menitipkan salam agar disampaikan ke akun boediono. Pak Boediono mungkin masih menjalani peran sebagai Bang Toyib yang tak pulang pulang setelah tiga kali puasa dan tiga kali lebaran.

Yusril Ihza Mahendra, politikus PBB dan mantan menteri. Urgensinya apa memfollow beliau? Wallahu ’alam.

Di antara akun lain yang difollow SBY, ada nama penulis semisal Asma Nadia dan Helvi Tiana Rosa, dua orang kakak beradik penulis novel islami. Pak SBY tampaknya ingin belajar menjadi penulis, setelah sebelumnya mampu menunjukkan kebolehan sebagai penyanyi dan pencipta lagu.

Bapak,  Anda sepertinya lebih cocok menjadi pekerja seni karena sudah punya bekal untuk berekspresi. Ekspresi keprhiatinan terhadap masalah bangsa, sungguh sangat menggugah.

Juga ada akun twitter yang highly recommended buat difollow kita, rakyat twitter indonesia. Akun GNFI (good news from Indonesia). Dari namanya lo pasti tau bahwa akun ini adalah akun yang menyebarkan berita-berita bagus tentang Indonesia. Boleh jadi tentang prestasi anak bangsa, produk-produk dalam negeri di mata dunia dan semua yang membanggakan ktia sebagai keutuhan Indonesia.

Berita baik seperti ini perlu sebagai penyeimbang arus informasi yang hanya berisi berita-berita korupsi, pemerkosaan, pembunuhan yang memenuhi headline media-media cetak dan elektronik setiap hari.

Untuk akun sisanya gue ga punya ide mereka siapa. Bukan public figure. Atau mungkin gue yang kuper.  Kemungkinan sih mereka adalah teman presiden saat beliau masih pake seragam putih-merah.

Semoga dengan akun twitter, Presiden kita bisa lebih memahami keluh kesah rakyatnya. Tapi rakyat juga harus beretika dalam berdialog. Twit-twit ga penting yang biasanya dikirimkan untuk temen sekolah, rasanya tak perlu dimention pak presiden

”Follow akuh dong Pak SBY, entar aku traktir es pocong”. Bisa bisa lu yang dijadiin pocong sama paspampres.

”Pak, Kapan nih ngajarin aku jurus kagebunshin, biar bisa rangkap banyak tugas kyk bapak”.

”Wahai Bapak, poni lempar aku bagus ga?”

kagebunshin

Twit twit di atas dijamin tidak akan digubris. Gunakanlah bahasa yang baik dalam menyampaikan pendapat ataupun kritik. Karena temen gue pernah bilang ”Ngomong sama presiden sama aja kyk ngomong sama bapak kita, jadi mohon dihargai”. Bener apa yang temen gue sampein.

Gue sih sampe saat ini belum follow beliau. Gue harap Pak SBY juga bisa lebh banyak memfollow rakyat non alay, biar lebih terdengar jeritan rakyat kecil.

How Hard “R” is!

Huruf R oh huruf R

Salah satu “penyesalan” terbesar dalam keberadaan gue di dunia ini adalah gue, dengan penuh khidmat, sangat menyesali ketidakmampuan menyebutkan huruf “r” dengan baik dan benar.

Entah faktor apa yang mempengaruhi seorang manusia mampu/tidak menyebut huruf “r” secara sempurna. Faktor gen, faktor lingkungan, atau mungkin faktor x? who knows.

Kalo misalkan faktor gen, berarti ada gen yang mengalami mutasi dong ya? Which means gue adalah salah satu muridnya Professor Xavier. Yoi men, gue member X-men dan bakalan jadi temennya Cyclops, wolverine, jean grey dll.

But please, masa gue harus ngeluarin kemampuan “cadel” saat ngelawan magneto. Fungsinya apa?

Setelah bertapa mengharapkan wangsit dari mbah gugel, setidaknya ada empat faktor yang menyebabkan seseorang mengalami “cadel” dan tidak bisa melafalkan “r”

1. Kurang matangnya koordinasi lidah dengan bibir

Alamak, buat ngucapin “r” aja perlu koordinasi. Siapa korlapnya? siapa pletonnya? siapa danlapnya? kalo lidah ga mau ngikutin perintah bibir gimana? salah gue, salah temen-temen gue?

Karena huruf “r” memang sulit diucapin maka diperlukan koordinasi tingkat tinggi antara lidah, bibir dan langit-langit.

2. Kelainan fisiologis

Penyebabnya dibedakan menjadi 3: gangguan pendengaran, gangguan pada otak, gangguan di wilayah mulut. Gue ga akan bahas lebih jauh, karena memang bukan spesifikasi gue.

3. Faktor lingkungan

Para bayi yang baru belajar ngomong juga gagal mengucapkan huruf r dengan baik. “ma ma.. ma ma., abis huyuf “l” teyus huluf apa ya ma?”

Tuh…

Orang tua yang terbiasa menyebutkan benda-benda secara cadel, biasanya akan diikuti oleh sang anak yang baru belajar berbicara. Bisa jadi kondisi tersebut membuat sang anak terbiasa dan ngerasa nyaman hingga kebawa sampe dewasa. So dont blame me to be unable pronouncing “r” well…haha *denial

Sebagian toddler mengganti huruf “r” dengan “y” saat berbicara. Dengan penampilan fisik yang lucu dan gaya bicara cadel yang natulal (eh natural maksudnya) membuat mereka semakin nikmat buat dicubit.

Beda halnya dengan alay yang sok tampil unyu. Mereka juga bergaya-gaya lucu ala bayi. Bukankah kata “ciyus” adalah distorsi dari kata serius?

Atau ada muda-mudi labil yang berdialog.

“Ayang, peyut (perut) kamu sakit?”| “iya nih ayang, tadi peyut akyu nyangkut di pagel (pager) kantol  polisi” *tabok pake kuali*

Mohon dibedakan antara cadel karena bawaan, cadel karena usia, dan cadel karbitan.

Lantas apakah kami yang mengalami cadel bawaan adalah bayi bayi yang terjebak dalam tubuh dewasa? Siapa kami sebenernya? Tolong…tolong seseorang jelaskan.

4. Faktor psikologis

Seorang anak secara psikologis bisa “tertular” cadel. Misalkan karena kehadiran adik bayi yang berbicara dengan cara demikian sehingga anak tersebut bisa jadi ikut-ikutan bicara cadel. Karena perhatian orang tua yang terpecah, maka untuk meraih simpati kembali, anak-anak ini akan bertingkah mengimitasi adiknya.

Ok, ga masalah jikalau proses imitasi ini terjadi pada dua orang anak yang selisih usianya ga jauh beda. Jangan sampe kita gagal paham. Mentang mentang pengen dapet perhatian, lo yang udah tua gini ngiri sama adek bayi dan ikut-ikutan ngomong pake bahasa cadel. Lucu ga, eneg iya!!!

Tidak bisa mengartikulasikan huruf “r” secara sempurna, bisa menjadi sebuah “doomed” bagi sebagian orang. Pernah denger kisah cowo yang terus-terusan salah pilih menu hanya karena salah menyebut “nasi goreng” dengan “nasi goyeng”? padahal kan mirip-mirip. Sungguh, ini sebuah ketidakadilan.

Selaen itu, sebagus apapun teknik vocal anda, dengan oktaf yang ngalahin whitney Houston atau Mariah carey, selama menyanyikan lagu berbahasa Indonesia, suara lo bakalan tetep terdenger jelek. Karena aksen berbahasa Indonesia bisa dengan mudahnya membedakan konsonan “r” dengan non “r”.

Kalo ga percaya, coba deh yang cadel nyanyi lagu berbahasa Indonesia yang mengandung banyak huruf “r” di liriknya. Gue yakin, lagu tersebut lebih bakal kedengeran seperti bunyi kerupuk yang diremukin.  kroookk…kriukkk!

Beda halnya kalo orang cadel yang berbahasa perancis. Karena aksen perancis yang kental dengan penekanan pada intonasinya, maka huruf “R” malah seolah menjadi corak artikulasi bahasa perancis. Jadi buat kalian kalian yang gagal ngucapin “r”, jangan panik saudaraku, perancis siap menerima kita dengan tangan terbuka *welcome eifel :P

Mengapa huruf “r” harus sulit diucap? Mereka seolah didesain khusus biar kami yang cadel ini digolongkan sebagai manusia berkebutuhan khusus. Andai gue punya doraemon, gue mau minjem kotak pengandaian. Gue pengen berandai-andai, huruf “r” diilangin aja dari dunia.

Jadi kalo ada kalimat “kerupuk keripik dimakan kriuk kriuk” cukup diganti dengan “keupuk keipuk dimakan kiuk kiuk”. Bagus kan??

Jujur gue akui, somehow being cadel person itu kadang ga ngenakin. Perlu kepercayaan diri yang tinggi agar berani tampil di depan umum karena anda akan menjadi pusat perhatian atas penampilan dan apa yang anda sampaikan. Oleh sebab itu, seorang cadel harus belajar mengeluarkan setiap kata dengan sangat lantang.

Mencoba mengaburkan huruf ”r” dalam ucapan hanya membuat pendengar semakin bingung. Pede aja dengan “r” anda.

Dan hal penting lainnya adalah bicara dengan pelan. Karena orang cadel yang berbicara dengan kecepatan maksimum itu seperti superman naek sepatu roda.

Sunda Pisan Lah (F/V/P)

Nyaris enam tahun gue kuliah di kota kembang, Bandung. Ok gue akui dalam keseharian di kampus, sangat jarang mahasiswa ITB menggunakan bahasa sunda mengingat makhluk di kampus ini datang dari sabang sampe merauke. Bahkan dari negara lain pun ada.

Namun tidak jarang dalam dialog warga asli bumi parahyangan, baik itu di kampus maupun di lokasi lainnya, menggunakan bahasa sunda. Gue bisa mengidentifikasi bahasa sunda kasar dan bahasa sunda halus. Selain penggunaan diksi yang cukup berbeda, bahasa sunda kasar juga menyelipkan beberapa kata yang khas seperti “sia” “njing” “koplok maneh”

tah eta.. tong cicing wae maneh. ulah ningali tulisan ieu n*ing

Bahasa seperti ini sebenernya mirip dengan penggunaan kata kata “cuk” “ndasmu” masyarakat suroboyo.

Tapi walaupun secara pendekatan kosakata cukup berbeda, terdapat kesamaan dalam aksen/dialek orang sunda. Yup, seperti yang udah diketahui secara masif bahwa orang sunda sangat sulit menyebutkan hurup “F” dan “V”. Mereka hanya mengenal huruf “P”.

Setelah coba baca-baca artikel, ternyata kesulitan dalam mengucapkan huruf “F” dan “V” dikarenakan tidak terdapat kedua huruf tersebut dalam kosakata bahasa sunda sehingga masyarakatnya pun gamang.

Menurut sejarah, bahasa sundo kuno sudah ada sejak tahun 500 M yang dikenal dengan istilah Kaganga. Dalam kaganga, tidak dikenal huruf  fa dan Va, hanya terdapat huruf “pa”. Bahasa sundo kuno ini kemudian mempengaruhi kemampuan masyarakat sunda dalam melafalkan huruf  ”f” dan “v”. Meskipun infiltrasi dari berbagai bahasa mempengaruhi bahasa sunda, namun pikiran sunda ini tetap mengakar dalam kemampuan linguistik masyarakatnya.

gue yakin banyak orang sunda tidak tahu sejarah ini, hehe :P

Tapi, hemat gue sih biarin aja orang sunda tidak bisa melapalkan f dan v. Toh itu menjadi ciri khas mereka yang bisa dengan mudah diidentifikasi oleh orang indonesia lainnya.

Yang jelas di bioksop-bioskop, tidak akan ada judul pilem semacem “Fast furious” “Final Destination” dan “V for Vendetta” :D .

Sebenernya apa yang terjadi dalam kegagalan melafalkan beberapa huruf juga terjadi di negara lain. Jepang misalnya. Bahasa jepang secara general tidak memiliki alfabet yang persis menyerupai alfabet latin. Kita tidak akan menemukan huruf-huruf yang berdiri sendiri seperti “L” “M” dll. Mereka hanya mengenal suku kata yang dilekatkan pada huruf vokal, karena memang kaidah bahasa mereka tidak begitu mengakrabi huruf konsonan.

Orang jepang menggunakan suku suku kata seperti “Ma” “Mi” “Mu”. Pun halnya mereka tidak tahu huruf tunggal seperti “R” dan “L”. Silabel yang ada adalah “ra” “ri” “ru” “re” “ro” dan pengucapannya pun cukup berbeda dengan “r” yang kita kenal selama ini. Bunyi dari suara tersebut adalah hybrid atau pencampuran fonem dari huruf “L” dan “R”. Oleh karena itu kita sering mendengar bagaimana Chef Harada, Chef asli jepang yang sering nongol di TV, kesulitan menyebutkan kata kata yang ada huruf “L” nya. Lezat terdengar rezat, dsb.

Gitu sih menurut gue pelafalan huruf yang mungkin menurut sebagian orang lucu, unik dan ga biasa. Gue sih nyaman nyaman aja. Satu hal lagi, setelah gue amati, orang-orang yang tidak bisa menyebutkan huruf “r” ini biasanya mempunyai nama yang mengandung huruf “r” nya. What a drama!

So which one is harder, to pronounce “R” or “F”? for me, R is the hardest one. I realize how hard “R” is. Just like your initial :P

2 April Ke-24

24

Hip hip hip…

Gue melompat ke tangga ke-24 dalam kalender tahunan masehi. Setiap 2 April, gue dengan miris dan penuh syukur mengingat pertambahan usia dalam jumlah namun pengurangan dalam hakikat.

Hal pertama yang pengen gue lakuin semalem sebelum usia gue bertambah adalah mengubah judul blog ini. Pas banget ada ide sewaktu liat-liat lini masa. “Ikatlah ilmu dengan menulisnya”, judul blog jadul gue harus mengalami transformasi. Tanpa mengurangi makna dalam judul blog lama dan tanpa mengurangi relevansi dengan isi blog secara paripurna, gue memilih peribahasa latin “Scripta Manent Verba Volant”

Bukan, bukan berarti gue ga cinta Bahasa Indonesia dan sok-sok an bergaya latin. Ibroh kan bisa diambil dari mana saja. Karena menurut gue, judul tersebut sangat pas sebagai tema dari semua isi tulisan yang ada di blog untuk saat ini.

Biar ga penasaran, tagline (slogan) yang sebelumnya adalah “Dengan membaca kita mengenal dunia, dengan menulis dunia mengenal kita” yang notabene gue kutip dari blog Pak Jamil Azzaini, kini diganti dengan definisi literal dari judul blog itu sendiri yang berarti “Spoken words fly away, written words remain”.

Terjemahan bebasnya : Kata-kata itu mudah dilupakan, sementara apa-apa yang tertulis jauh lebih abadi. Sebuah peribahasa yang disampaikan oleh bangsa romawi.

Dan balik ke pertambahan usia yang memasuki usia 24

24 itu adalah simbol waktu. Lambang keperkasaan satuan “jam” dalam satu hari satu malam. Dengan gagah ia melibas semua asa yang tidak patuh pada aturannya. Bahwa masa lalu adalah hal yang sifatnya paling jauh.

Memasuki usia ke-24, gue harusnya makin menyadari bahwa waktu itu cuma 24 jam dalam sehari. Waktu yang tersedia tidaklah cukup mengisi semua lini-lini kedzoliman diri.

Jujur aja, gue masih ngerasa bahwa anak kelahiran tahun 1989 itu tergolong anak yang paling muda di angkatannya. Asumsi ini lahir karena gue belum bisa move on dari hegemoni sekolah. Selama di sekolah, anak 89′ selalu minoritas dibandingkan anak seangkatannya. Karena memang pada umumnya angkatan di sekolah kelahiran 88′.

So, waktu sadar kalo usia sekarang udah menginjak 24, gue cuma bisa bergumam “wow, time flies faster than gravity”

Potongan episode hidup sudah semakin banyak yang terlewati. Ada berjuta masa yang pengen diulang kembali. Mulai dari masa SD yang cuma bisa seneng-seneng, ketawa ketiwi. Lanjut ke SMP, SMA, kuliah dan seterusnya. Semua bisa terlalui dengan status sebagai manusia tunggal. Tidak terdampingi dan hidup bebas, mandiri bak layang-layang yang terbang mengikuti arah angin.

Kini di usia ke-24, sudah saatnya semua berevolusi. Merujuk diri yang terlanjur  tua. Tak pelak corak lain dari kehidupan harus mengisi. Pribadi santun yang didambakan, akhlak mulia yang diharapkan, menjadi sebuah langgam tuntunan yang senantiasa diikhtiarkan.

24 tahun sudah hidup dengan putusan-putusan atas logika yang cacat. Tanpa ada yang berkonfrontasi dengan pikiran namun dekat dalam perasaan. Yang menjadikan ibadah sentiasa lengkap, memenuhi separuh agama, mengikuti tuntunan sang nabi.

Ya Rabb, dengan bertambahnya usia, semoga Engkau berkenan menambahkan keberkahan dalam setiap langkah

Ya Rabb, dengan bertambahnya usia, Hamba memohon bertambah kebaikan yang membawa hamba pada kemuliaan dalam derajat orang bertakwa

Ya Rabb, dengan bertambahnya usia, semoga bertambah kedewasaan dalam segenap kealpaan dan kebodohan.

Semoga Engkau selalu melapangkan ilmu agar Aku termasuk orang yang berpikir.

2 April 2013

Bintaro, Tangerang Selatan

Tipe-Tipe Dosen (Ngasal)

Berikut adalah tipe tipe dosen yang gue kenal. Ga perlu klasifikasi khusus untuk mengelompokkan tipe dosen berdasarkan pengamatan gue.

  1. Dosen killer

Dosen ini sehari hari bawa pistol, sangkur, lengkap dengan seragam loreng-loreng. Buset dah, ini dosen apa TNI.

Dosen killer biasanya ditakuti sama mahasiswa. Dari radius 500 m pun baunya sudah tercium, sinyalnya udah kerasa, anti lelet, dan tidak perlu buffering saat streaming :D . Dosen killer adalah jaminan buat mahasiswa yang dengan segala kekuatan dan daya upaya menahan rasa kantuk pada saat doi mengajar. Tidak peduli gimana caranya, yang penting mata harus selalu terbuka. Ada yang ganjel pake spidol, ada yang minum jus jeruk nipis. Jerukunya diminum, kulit sama seratnya dioles ke mata. Ada juga yang megang saklar, biar dapet aliran listrik, ujarnya.

Sekali memejamkan mata, doi bisa nyadar. Bisa jadi kapur, atau spidol dilempar ke muka ngantuk lo. Ga sampe disitu, beliau juga nanyain pertanyaan tentang materi yang barusan dia jelasin.

“ton, apa nama enzim yang mengubah peter parker menjadi spiderman?”

jangan pernah sekalipun menjawab dengan jawaban “kasih tau ga ya” atau “mau tau aja apa mau tau banget”. Jawaban seperti itu hanya membuat lo meninggalkan kelas lebih cepat,  dan juga mendapatkan nilai dengan tidak kalah cepatnya, nilai lo dijamin E.

Dosen killer sebenernya lebih berorientasi kepada sikap atau attitude di dalam kelas. Mereka terkenal disiplin, anti deket-deket dengan mahasiswa. Tapi mereka bukan maho atau antisosial. Mereka memainkan peran itu untuk menjaga wibawa mereka baik di kelas ataupun di luar kelas. Siapa yang jamin, dosen paling galak segalaksi bima sakti, ga doyan sama harlem shake. Bisa jadi doi yang jadi leadernya, con los teroristas….

harlem shake

 

Pernah suatu ketika, temen gue masuk ke kelas pada saat salah seorang dosen X yang terkenal buas, sedang mengajar. Dengan tenang ia masuk kelas. Yang lebih dahsyat, appearance temen gue ini sungguh amat sangat keren. Dengan mengenakan kaos bertuliskan simbol moto GP dan celana panjang yang tertata rapi serta sendal swallow.. iya, sendal jepit yang terkenal itu loh. Dia melakukan dua kesalahan fatal, datang telat, dan salah kostum.

Dosen X adalah pengikut mazhab sepatu-iyah, ia sangat anti dengan mahasiswa yang mengenakan sendal pada saat di kelas. Mungkin iri karena tidak bisa melakukan hal yang sama.

Ga kebayang kalo ada dosen yang ngajar pake sendal jepit.

Dan diusirlah temen gue dari kelas. Untungnya dia ga diusir dari mata kuliah tersebut.  Terimakasih ya Allah,

Tapi di samping galak, dosen killer juga doyan nyanyi. Salah satu judul lagunya yang terkenal adalah Mrs brightside *wuk wuk*.

Dosen killer bukan the killers

Dosen killer bukan the killers

Dosen killer boleh jadi galak dalam keseharian, tapi untuk masalah nilai, mereka bener-bener fair. Mahasiswa yang sudah terdeteksi mendapatkan sikap kurang simpati pada saat di kelas, bisa dipastikan dengan rumusan avogadro kalo mahasiswa tersebut alamat dapet nilai jelek. Dan sebaliknya, mahasiswa yang duduk di depan, duduk manis diem sambil ngangguk-ngangguk mirip lumba-lumba di  sirkus, biasanya dikenal baik oleh dosen X dan tertanda nilai B minimal.

Cara terbaik untuk menghadapi dosen ini adalah dengan pencitraan. Upayakan selalu duduk di depan. Pura pura ngerti dan mengangguk pada saat beliau menjelaskan materi. Sesekali acungkan tangan, dan banyak berdoa di dalam hati agar pada saat lo tunjuk tangan, ada temen-temen yang lebih pinter ikutan tunjuk tangan, dengan harepan bukan lo yang ditunjuk sang dosen. Kan ceritanya pencitraan bro!!

Tentunya jangan pernah pasang muka ngantuk, lusuh di dalam kelas. Upayakan sehari sebelum masuk kelas pak/bu dosen iini, lo udah hibernasi seharian. Mandi air anget pagi-paginya, makan-makanan berserat, dan jangan lupa timbang badan.

Pencitraan terakhir adalah, jangan lupa mengucapkan kata ”saya prihatin” kalo perlu pake mic, pada saat ada temen lo yang gagal menjaawab pertanyaan dosen X. Dengan demikian lo akan dianggap mahasiswa yang penuh perhatian *mad*.

Dosen killer ini tipe dosen yang blak-blakan, serius, dan tegas. Sungguh dosen yang seperti ini jauh lebih detectable dibandingkan dosen ”killing me softly”

  1. Dosen killing me softly

Bukan..bukann… 4k00h bUk4Nd P3n6gM4r b4nD 4L4y yG n4m4Ny4 MiRiP2, ”Killing Me inside” (sumpah mennn, gue ga ngerti gimana caranya bangsa alay bisa nulis gede-kecil ditambah dengan angka angka menjadi suatu kalimat yang utuh, gue aja sampe maag selama dua jam bikin kalimat alay kyk diatas, SuMp3H Lo?).

Tipe dosen kedua adalah dosen yang berdarah dingin. Apakah A. Ular B. Burung atau C. Ikan,  hewan yang termasuk berdarah dingin?.

Ibarat timothy olyphant dalam  hitman, tipe dosen yang satu ini bisa “membunuh“ dalam diam. Entah apakah mereka mengalami DID syndrome atau tidak, yang jelas unguessable. Ga bisa ditebak.  Di satu sisi si dosen bisa dengan mudahnya bergaul dengan para mahasiswa. Bercanda, ketawa ketiwi, tanpa ada beban.

Para mahasiswa yang terlanjur dekat dengan sang dosen pasti berguman dalam hati ”nilai gue pasti ok, orang gue deket gini sama pak/bu dosen”. Kepercayaan yang berlebihan ternyata kadang menyakitkan.

Dengan tanpa ragu, dosen ini memutilasi rasa kepercayaan lo saat doi meriksa ujian. Tidak ada persahabatan, ketawa-ketiwi cuma sebatas gurauan, nilai ya nilai. Yang ga bisa ngerjain dijamin gagal lulus mata kuliahnya. Mungkin sang dosen masih ingin ketawa ketiwi bareng mahasiswa bandel. Jadi dibiarin aja ga lulus, biar bisa ngulang kuliah dan kongkow bareng pak/bu dosennya :D .

Kalo zaman sekarng, tipe dosen ini adalah tipe dosen yang suka PHP in mahasiswanya. Sakit tau di PHP in, beneran deh. ”woi, kok jadi curhat”

Pernah temen gue di PHP in sama dosennya. Doi bilang ” gue udah deket banget sama dosen A, Udah kyk temen malahan. Gue yakin nilai gue aman“.

Oh bagus deh”, ujar gue.

Semester depan, gue ketemu dia lagi. Dia nyapa gue dan gue berasa deja vu. Doi mengucapkan hal yang sama seperti semester kemaren.

“Gue masih deket loh sama pak A, udh kyk temen. Gue yakin nilai gue di mata kuliah ini pasti bagus”.

lah, bukannya lo ngambil mata kuliah yang sama, tong. Berarti lo ga lulus dong semester lalu?’. Dengan tersedu dia bilang, “semester lalu gue di PHP in sama bapaknya“.

Gue dengan bersedih bergumam, “lo di PHP in? Integrasi aja sama MySQL”.

Sebenernya dosen-dosen yang berkarakter “killing me softly” adalah dosen yang berkerja dengan secara profesional. Mereka bisa menempatkan diri dalam situasi. Ketika harus berinteraksi dan ketawa ketiwi dengan siswanya, itu menunjukkan sifat atau sikap keramahan beliau agar tercipta suasana yang cair, dengan harepan materi kuliah bisa dengan mudah tersampaikan.

Ketika ujian, dosen bertindak dengan adil. Dia sudah mengajar, sudah berteman baik, sudah memandikan jenazah (lhoo). Beliau menilai sesuai dengan keseriusan siswanya. Yang serius meskipun dalam keseharian tidak terlalu deket secara personal, tetep aja dapet nilai bagus. Sementara yang deket dalam keseharian, harus ikhlas menerima nilai yang kurang baik jika tidak serius dalam belajar.

Terkadang bukan dosen yang PHP in siswanya, namun siswanya yang terlalu ge to the er alias Geer atau gede rasa. Berharap nilai baik hanya dengan bermodalkan kedekatan dengan sang dosen. Kecuali lo adalah alysa soebandono yang bisa deket dengan christian soegiono di sinetron, jangan harep dengan modal kedeketan personal, bisa dapet nilai bagus saat face to face dengan dosen yang seperti ini.

  1. Dosen ogah-ogahanteach

Gue paham, gue sangat paham kalo ada masanya seseorang dewasa yang bekerja mengalami suatu titik jenuh. Bosan dengan keadaan dan mencari sesuatu yang baru. Ya kyk anak zaman sekarang yang galau aja. Ada masanya mereka galau. Galaunya pun klasik, ga jauh-jauh dari urusan cinta. Karena ada masanya, jangan sampe saat udah usia lanjut masih galau aja. Ga lucu kan kalo ada kakek-kakek yang stalking timeline gebetannya. Atau nenek nenek yang di friendzone-in sama kecengannya. Kan ga make sense tuh.

Wajar kalo sekali sekali kita pengen keluar dari steady state kita. Tapi jangan pernah lupa kita punya kewajiban yang berhubungan dengan apa yang kita kerjakan. Ini gue ngomong apa sih. Apa hubungannya dengan tipe dosen?

Super sekali pertanyaannya, sahabat yang budiman …

Maksud gue adalah, ada tipe dosen yang ogah-ogahan ngajar, ogah-ogahan masuk kelas tapi ga ogah-ogahan saat akhir bulan (gajian maksudnya). Ogah-ogahan dalam KBBI berarti malas melakuikan sesuatu, enggan. Tipe dosen yang satu ini menjadikan ogah-ogahan bukan sebagai pelarian, tapi menjadikan aktifitas mengajar di kelas sebagai pelarian ogah-ogahannya (ribet kan bahasa gue).

Ga nyambung sih sama dua paragraf awal, tapi biarin aja ya :D .

Setiap ngajar kurang dedikasi dalam pekerjaan. Tidak serius menyiapkan materi pelajaran. Yang penting mengugugurkan kewajiban. Masalah ngerti apa kagak, ya masalah lo.

Dosen ogah ogahan biasanya kebanyakan proyek di luar. Sehingga aktifitas mengajar dijadikan kegiatan sampingan. Kan yang kasian mahasiswanya juga. Tidak hanya pda saat mengajar di kelas. Dosen ogah-ogahan juga banyak yang menjadi pembimbing tugas akhir. Wah gue paham banget gimana menderitanya mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsinya saat mendapatkan dosen pembimbing dengan tipe seperti ini. Ibarat peribahasa, hidup segan mati pun bosan.

Kegiatan sehari-hari di kampus Cuma dihabiskan dengan mencari keberadaan sang dosen. GPS, waze seolah tak berguna. Sang dosen bisa menghilang dengan cepat. Kadang ia menggunakan kawarimi.  Sesekali meninggalkan pesan terselip pada kunai di depan pintu ruangnnya yang bertuliskan ”saya lagi di luar kota, seminggu lagi aja kalo mau ketemu saya”. Errrr, what is the heck with those nonsense. Susah banget dilacak keberadaannya. Sampe sampe liam neeson aja nyerah buat nyari tau dosen ini lagi dimana. Pengen rasanya gunain jurus edo tensei.

Gue ngerti kalo misalkan dosen punya kesibukan yang laen, tapi ga bisa juga ngelupain amanah nya sebagai dosen yang berperan dalam mencerdaskan bangsa. Lebih lebih kalo sudah ditunjuk menjadi dosen pembimbing.

Kalo di kelas, dosen ogah-ogahan menyampaikan materi sak karepnya. Mau lo ngerti, mau lo tidur, maen play station, itu urusan lo. Masalah nilai pun mereka lebih “liberal”. Sebagian mahasiswa penghuni bangku belakang (you know what I mean) senang dengan keberadaan dosen yang seperti ini. Mau maen bentengan atau futsal di kelas pun, dosennya ga akan protes. Yeahhh!!

Mungkin dosen akan menggubris kalo di dalam kelas, ada yang nonton dahsyat atau sinetron garuda jadi jadian di indosiar.

  1. Dosen dont know what to do

Duh, tipe dosen yang satu ini, gue juga bingung ngasih penjabarannya. Simpelnya gini, dosen yang don’t know what to do, belum siap menjadi dosen. Mungkin mereka adalah produk kompetisi semacam dosen idol, atau take dosen out.

Tipe dosen ini biasanya gelagapan saat berhadapan dengan mahasiswa. Mereka terlalu stick to textbook. So, pada saat ada siswa yang kritis dan bertanya pertanyaan terbuka, mereka cenderung memberikan jawaban standar seperti “ummm” “eeeee” “apa ya” atau “maaf ada ufo,.. *kemudian menghilang*”

Memang dosen tidak mengetahui semua hal, namun menjadi kewajiban dosen untuk melengkapi diri mereka dengan berbagai khazanah pengetahuan agar tidak tertinggal dari mahasiswanya. Pun pada saat gagal memberikan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan mahasiswa, pilihlah diksi yang cerdas, seperti :
“pertanyaan yang bagus, saya jadikan pertanyaan kamu menjadi pekerjaan rumah, yang bisa jawab langsung kasih tau saya”.

saya tidak menyangka kamu akan bertanya seperti ini, oleh karena itu marilah kita mengheningkan cipta sesaat

Seorang dosen yang don’t know what to do memang membutuhkan pengalaman lebih banyak. Lebih memperkaya diri dengan pengetahuan yang berkaitan maupun tidak berkaitan dengan disiplin ilmunya. Kita tidak pernah tahu apa yang akan ditanyakan oleh mahasiswa.

good question

good question

Jika tetiba ada mahasiswa yang bertanya “apa yang terjadi pada admantium jika didinginkan pada temperature 0 K? akankah wolverine bisa dengan mudah diklahkan?”

“Seberapa kuat radiasi gamma yang diterima oleh bruce banner hingga bisa mengubahnya menjadi hulk?”

Pertanyaan gini ga ada di buku fisika klasik ataupun fisika modern bro :P .

  1. Dosen ngocol
Dinosaurus punah karena babi

Dinosaurus punah karena babi

Lo pasti tau dengan tipe dosen yang seperti ini.. entah belajar stand up comedy dimana, tapi dosen yang lucu bisa membuat kelas menjadi lebih renyah, terlepas ngerti atau ga nya materi kuliah yang disampaikan, hehe.

Salah seorang dosen gue pernah menceritakan sebuah kisah tentang mengapa dinosaurus bisa punah.

Kalian pasti sering denger kalo zaman dinosaurus itu punah karena asteroid yang menghantam bumi jutaan tahun yang lalu, bukan? di sini gue pengen menyampaikan versi aneh dari kisah punahnya dinosaurus. Jangan terlalu serius bacanya, karena ini cuma cerita lucu lucuan dari dosen gue yang sekrang menjabat sebagai salah seorang petinggi kampus :) .

Suatu ketika, dosen memulai ceritanya, hiduplah semua jenis binatang di bumi. Pada saat itu, banjir bandang akan datang menyerang. Lalu binatang ini beserta manusia yang hidup pada masa itu, membangun sebuah kapal raksasa. Sesaat setelah kapal selesai dibuat, manusia dan semua jenis binatang memasukinya.

Karena kapal yang terlalu penuh dan bisa mengakibatkan kapal berlebihan muatan, maka diputuskanlah bahwa harus ada satu binatang yang dikeluarkan dari kapal. Lalu bagaimana cara menentukan siapa yang harus dieliminasi? Semua sepakat bahwa masing masing binatang harus mencertiakan kisah lucu dan membuat semua penghuni kapal tertawa.

Ok, dinosaurus ambil bagian sebagai peserta pertama. Dinosaurus menceritakan dengan sekuat tenaga semua kisah lucu yang dia punya. Hingga seisi kapal tertawa terpingkal-pingkal. Namun ada satu binatang yang tidak tertawa yaitu babi. Karena masih ada binatang yang tidak tertawa, maka dinosaurus dianggap gagal dan harus dikeluarkan dengan paksa dari kapal.

Tidak lama setelah dinosaurus dibuang dari kapal, sang babi tertawa dengan sekeras-kerasnya, ia tertawa sangat hebat. Lalu binatang yang lain heran dan bingung. Apa gerangan yang membuat babi bisa tertawa puas. Dengan ringan babi menjawab ”cerita dinosaurus tadi lucu banget ya”. Sejak saaat itu dinosaurus pun punah dari alam semesta.

Lucu ga? Kalo ga lucu, pura pura ketawa aja..

Dosen yang gemar membuat lelucon biasanya juga tidak terlalu pelit dengan nilai. Mereka cenderung mengajar dengan santai. Tidak terlalu kaku dan membuat ruangan kelas menjadi lebih seru.

Menurut gue sih, itu tipe tipe dosen yang pernah gue temui selama lima tahun kuliah. Ga semua cerita gue ini bener, dan ga semuanya juga salah. Kalo ada kesamaan nama dan tempat, itu hanyalah fiktif belaka. Ingat, kejahatan bukan hanya karena ada niat dari pelaku namun juga karena ada kesempatan.. waspadalah!!

Mungkin lo punya cerita yang laen? :D