Kontradiksi Ramadhan

Mei 31, 2018 § 1 Komentar

Sumber: Gettyimage

Beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke sebuah mall di area bintaro. Sebuah aktifitas yang tidak akan saya lakukan jika tanpa keperluan. Rencana awalnya adalah berburu sepatu sebelum mudik ke kampung halaman mengingat sepatu yang ada rasanya kurang sreg dipakai.

Sepatu doang?

Iya, kali ini saya hanya mencari sepatu karena pakaian saya dan anak-anak sudah dibeli lebih dulu via daring. Saya merasa beruntung memiliki istri yang memiliki skill mumpuni untuk menjelajahi semua situs belanja online demi mendapatkan diskon. Tidak tanggung-tanggung. Ia kadang-kadang memiliki lebih dari sepuluh akun demi mendapatkan potongan harga yang seyogyanya sangat membantu arus cashflow kami. Subhanallah.

Saya tidak pernah menyangka bahwa mall bisa begitu padat padahal ramadhan belum sampai setengahnya (saat saya membuat tulisan ini). Selama ini saya berasumsi bahwa pasar meliputi mall dan turunan lainnya akan ramai pada sekitar H-10 lebaran. Ternyata dugaan saya meleset. Orang-orang tampak begitu bersemangat dan lincah menelusuri setiap lorong etalase pakaian, sepatu, sendal, koko, kerudung, dan pernak-pernik lainnya. Mereka sepertinya menafikan penat dan dahaga bahkan mungkin lupa bahwa mereka tengah berpuasa. Saya hanya bisa mengelus dada sambil menikmati es kepal milo.

Karena kericuhan di dalam mall. Ditambah lagi sales yang berteriak begitu kencang lewat speaker menjajakan diskon, saya pun mengurungkan niat. Saya memilih pulang. . . untuk kemudian istirahat sebelum bergerilya mencari sepatu seperti semula. Haha!

Selepas solat isya berjamaah di masjid sekitaran tempat saya tinggal, pengisi ceramah menyampaikan materi yang begitu pas dengan fenomena yang saya temui di mall siang harinya. Saya yang biasanya mulai menguap, mengubah posisi duduk, dan sesekali tertunduk sebagai pertanda mengantuk, kali ini nampak berbeda. Ceramah ustad ini terlihat menarik bahkan sedari awal ia berucap.

Ia mengawali ceramah dengan sebuah pertanyaan dialogis tentang mengapa pada saat ramadhan terjadi dua hal yang kontradiktif. Yang pertama adalah uang belanja yang membengkak dan yang kedua berat badan yang bertambah. Dua kondisi ini kontradiksi dengan semangat dan atmosfir ramadhan.

Beliau melanjutkan bahwa sudah sewajarnya uang belanja sama saja atau bahkan lebih sedikit jika dibandingkan dengan bulan lain di luar ramadhan karena jadwal makan yang berkurang satu. Ingat, saat ramadhan kita mengurangi porsi makan siang. Kecuali mereka-mereka yang kakinya terlihat di balik warteg-warteg bertabir.

Selaras dengan itu, jika menggunakan logika linier maka seharusnya berat badan bagi mereka yang menjalani puasa sejatinya turun karena berkaitan erat dengan perubahan pola makan tersebut. Tapi narasi tersebut hanya isapan jempol.

Lalu apa faktor yang membuat ramadhan menjadi begitu kontradiktif dari semangat yang seharusnya?

Sang ustad menyampaikan bahwa ada korelasi yang erat antara ramadhan dengan perubahan perilaku umat muslim pada umumnya. Salah seorang sosiolog* melakukan studi di beberapa negara muslim untuk menyimpulkan bagaimana ramadhan telah menjadi sarana multi guna. Menurutnya ada setidaknya 3 tujuan atau sarana atau motif yang terjadi selama bulan ramadhan

  1. Tujuan konsumerisme

Sudah sangat jamak bagaimana perilaku konsumerisme begitu merajalela selama bulan puasa. Tengok saja bagaimana buka puasa menjadi ajang coba-coba. Semua menu makanan dicoba. Kolak, gorengan, candil, es kelapa dll. Belum lagi nasi dengan segala menu pelengkapnya. Balas dendam. Konon, frasa ini menjadi jawaban ketika ditanya mengapa begitu banyak makanan di atas meja makan selama berbuka. Yang pada akhirnya makanan-makanan tersebut hanya menjadi muatan di dalam tong sampah. Tak dimakan, tak disentuh. Kamu kejam, mas!.

Orang-orang yang menjalani puasa, terlebih kelas menengah, cenderung lebih boros. Rencana awal hidup hemat karena reduksi waktu makan ternyata tidak berlaku. Buka bareng TK hingga kuliah dan buka puasa bersama komunitas lain begitu menguras dompet. Kita menjadi begitu ‘rakus’. Konsumerisme merajalela.

Belum lagi saat mendekati lebaran. Persis seperti cerita saya pada pembukaan tulisan. Mall penuh. Masjid sepi. Orang-orang lebih tertarik mengenakan segala sesuatu yang baru. Mengganti baju. Mengganti cat rumah. Mengganti kendaraan. Kita menjadi begitu paranoid mengenakan apa-apa yang lama. Khawatir dengan komentar netizen. Semua seolah mesti menampilkan transformasi fisik. Mengikuti hawa nafsu. Padahal sejatinya puasa adalah ajang menahan hawa nafsu. Begitu kontradiktif.

  1. Tujuan komersialisme

Apa yang menjadi penanda bulan ramadhan akan tiba?

Tepat. Sirup marjan.

Sirup marjan adalah sebaik-baik pengingat bahwa bulan puasa akan segera tiba. Promosi iklan ini menjadi begitu gencar mendekati ramadhan. Marjan telah menjadi ikon yang lekat dengan keberadaan ramadhan itu sendiri. Seperti dekatnya ketupat dengan lebaran. Atau dekatnya gaji dengan cicilan. Hiks.

Selama ramadhan pula nyaris semua produk diiklankan dengan extravaganza, dengan meriah. Produk ini-itu dilabeli dengan embel-embel ramadhan. Semua didiskonkan. Karena pasar tahu bahwa pada bulan ini orang-orang menjadi begitu maniak dalam mengkonsumsi. Oleh karena itu mereka pun menyambut seruan ini dengan strategi yang mumpuni.

Tengoklah ke mall. Mereka bahkan bisa diskon produk dengan potongan yang tidak kira-kira. 50% + 40%. Maka nikmat diskon mana yang kita dustakan. Apa mereka rugi dengan promosi di luar nalar? Tidak. Saya sempat berdiskusi dengan salah seorang pemilik toko di tanah abang. Ia bercerita bahwa selama bulan puasa, keuntungan yang diperoleh bisa menutupi ongkos operasional  11 bulan lainnya. Ramadhan menjadi begitu komersil.

Bahkan, menurut cerita sang ustad, ada buah yang hanya muncul atau terkenal selama bulan puasa. Buah Timun Suri namanya. Buah ini persis Avatar. Saat dunia membutuhkannya, dia menghilang. Kemudian datang lagi berbondong-bondong selama bulan ramadhan. Sepandai-pandainya Tupai melompat, lebih pandai lagi timun suri bersembunyi hingga bulan puasa tiba. Padahal buah ini tidak seenak mangga atau apel atau buah pada umumnya tapi karena dikemas dengan komersial dan menjadi penambah ornamen ramadhan, orang-orang tetap membeli.

  1. Tujuan/sarana menjual ide politik

Ramadhan benar-benar ‘berkah’ bagi para poli-tikus. Mereka menjadikan momen ramadhan untuk menjual ide politiknya. Mengemas agenda politik dengan label-label keagamaan.  Bahkan mereka yang non-muslim pun penuh hingar bingar menebar propaganda berbau ramadhan. Mereka melakukan safari politik demi merangkul simpati umat muslim.

Belum lagi dengan tokoh-tokoh yang kesehariannya acapkali bersebrangan dengan kepentingan umat muslim pada umumnya. Kini selama bulan ramadhan berubah menjadi begitu religius. Secara fisik, para politikus ini mengenakan peci bahkan kerudung bagi perempuan. Ironis.

Bukan bermaksud pesimis dengan transformasi fisik mereka hanya saja jika melihat bagaimana kiprah bapak-ibu ini di luar ramadhan sungguh begitu ironi. Tapi hidayah milik Allah. Semoga saja mereka benar-benar menjadi muslim yang lebih baik.

Demikianlah tiga tujuan atau motif yang justru terjadi secara umum dalam konteks ramadhan. Ketiga hal ini yang selalu menjadi sasaran ramadhan kebanyakan orang. Padahal sejatinya bulan puasa secara filosofis berarti menahan diri. Menahan diri dari sifay mengkonsumsi yang berlebihan. Ramadhan selayaknya melatih diri kita agar mengontrol nafsu namun ketiga fenomena di atas justru yang menjadi utama. Begitu kontradiktif antara semangat puasa dan kenyataan yang terjadi di lapangan.

Ramadhan kita begitu kontradiktif. Dan ini berulang-ulang setiap tahunnya. Saya pun tertegun dan menyadari bahwa mengikuti hawa nafsu tidak akan mengantarkan kita kepada kepuasan. Saya tertunduk malu sambil sesekali buka website T*kopedia guna mencari sepatu yang sebelumnya gagal didapatkan.

*Menurut penceramah nama sosiolog tersebut adalah walter ambush namun sayangnya saya tidak berhasil mendapatkan referensi sosiolog dengan nama tersebut

 

Sribulancer Untuk Penulis Lepas

Maret 14, 2016 § 5 Komentar

Otak gue mampet.

Ya. Beberapa bulan ke belakang daya kreasi otak gue untuk menghasilkan tulisan-tulisan ber-nas semakin berkurang. Ga ada lagi tuh tulisan bergaya naratif-eksplanatori saat gue membuat langkah-langkah jitu menghemat penggunaan BBM. Atau tulisan bernuansa melankolis penuh petualangan mendaki merbabu. Tulisan-tulisan gue kini tidak jauh-jauh dari urusan rumah tangga, bayi, nikahan temen, urusan rumah tangga tetangga, bayi tetangga beserta susu merek apa yang mereka minum dan uang siapa yang mereka gunakan untuk membeli susu tersebut. Apakah A, uang ayah. B, uang ibu. Atau C, uang sampah pada tempatnya. Hoamm….

Bukan berarti gue ga bahagia menuliskan perjalanan hidup Alby dari bayi nol bulan sampe saat ini. Gue bahagia kok. Tapi gue butuh topik baru untuk konten blog. Bahan bacaan gue pun ga banyak membantu. Lebih-lebih sejak kenal situs mojok gue malah berpura-pura satir dalam tulisan. Sok iye, kan?

Lagi-lagi gue mencari kambing hitam atas ketidakmampuan gue membuat tulisan dengan topik lain. Gue berkesimpulan bahwa blog yang kita asuh adalah perwujudan dari perjalanan hidup seseorang.

Saat kuliah gue banyak mengulas tentang serba-serbi kehidupan kampus, kisah jomblo dan tulisan ngalor ngidul ga jelas juntrungannya. Begitu juga waktu koneksi internet merajalela di rumah kontrakan, gue saban waktu mengulas banyak hal yang disajikan oleh situs semacem TED atau menceriterakan kembali paparan subtil oleh Dan Pink, Simon Sinek, Dan Ariely dan kroco-kroconya. Sekarang semua berbeda. Ritual kehidupan gue berputar antara kantor, kosan, rumah setiap akhir pekan, bercengkrama bersama keluarga, dan kembali ke kosan. Siklus ini membuat gue stagnan dalam berkreasi. Oke gue tahu membersamai keluarga adalah punchline dari narasi hidup. Yang jadi sorotan gue adalah bagian-bagian hari lainnya dalam seminggu. Inspirasi apa yang bisa didapat dari pekerjaan kantor? Menulis tentang troubleshooting ketidaksesuaian melt-flow-rate pada proses pembuatan plastik injection molding? Atau membuat tulisan korelasi antara kebahagiaan karyawan dengan warna kaos kaki bos? Tulisan-tulisan serius yang membuat dahi berkerut dan mulut mengerucut jelas-jelas bukan lapak gue.

Semakin lama konten blog rasanya semakin tersegmentasi. Temen SMA gue belakangan ini lebih sering menuliskan tentang tema-tema permainan anak beserta tips-tipsnya. Atau tutorial membuat gendongan dan cara menanam jagung tanpa lahan. Pokoknya yang soo emak-emak. Padahal dulu mah blognya berisi kontes cakep-cakepan (literally, ini judul tulisannya) juga berisi galau-galauan. Dunia berubah, manusia di dalamnya berubah, Power Ranger juga berubah. Yang ga berubah cuma cinta ibu pada anaknya dan belahan rambut Kak Seto.

Temen SMA gue lainnya juga mengikuti pola perubahan yang sama sehubungan dengan konten blog. Mulanya blog tersebut berisi doa-doa berharap jodoh, konten romansa jayus hingga kisah cinta syar’i. Tapi kini blognya berisi tentang doa-doa berharap jodoh, konten romansa jayus hingga kisah cinta syar’i.

Sori gue lupa. Temen gue yang ini jarang update blog.

Dan pada akhirnya gue harus memberi jeda tulisan-tulisan tentang bayi, urusan rumah tangga, parenting atau tulisan bertemakan ke-orang-tua-an lainnya.

Singkat cerita, temen kantor gue memberitahukan bahwa ada situs yang memberikan ruang bagi para freelancer termasuk penulis lepas abal-abal macam gue untuk berkarya. Nama situsnya Sribulancer *bukan blog berbayar*. Situs yang menghimpun para pencari kerja lepas maupun pemberi pekerjaan untuk dipertemukan dalam ikatan suci tanpa penghulu. Kalian bisa menemukan banyak sekali pekerjaan-pekerjaan menulis, web developer, penerjemahan dan lain-lain. Tentunya bukan pekerjaan yang serius seperti mengaudit harta kekayaan Budi Hartono. Pokoknya pekerjaan yang mengembalikan seorang freelancer pada khittahnya

Setelah melihat-lihat etalase situsnya, gue tertarik untuk bergabung. Bukan karena alesan nominal. Karena siapa sih gue. Nulis di Kompasiana aja kagak ada yang baca. Alesan utama buat join di situs ini adalah ia memberikan kesempatan buat tulisan-tulisan gue agar semakin tersebar di dunia maya dengan spektrum topik yang beragam. Semacam menambah portofolio. Mana tahu ada penerbit yang amnesia lalu secara tak sadar menerbitkan tulisan gue dan menjadikannya buku kemudian menarik buku tersebut dari peredaran setelah ingatannya pulih.

Demikianlah tulisan tidak penting gue kali ini.

*Ditulis dengan setengah sadar diakibatkan sepinya kantor*

Hanya Ada Dua

Januari 8, 2016 § Tinggalkan komentar

civil warCuma ada dua tipe manusia yang terpolarisasi dengan sangat di dunia ini. Tipe yang makan bubur diaduk atau tidak diaduk, pengguna Iphone atau pencinta Samsung, pendukung Iron man atau Captain America, Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi. Hanya dua tipe itu saja. Yang demen berantem di sosial media juga adalah satu dari dua tipe itu. Sementara sisanya, yang mendukung Ant Man, bukan pencinta bubur ayam atau pengguna Mito adalah pencilan yang tidak pernah menjadi bagian dari sejarah gontok-gontokan dua kubu yang bertikai.

Pun halnya dengan keberadaan tokoh, public figure, selebgram, artis twiter, artis facebook.

Gue sering mengamati bahwa di dunia media sosial ada dua tipe manusia dengan kecenderungan dan karakter yang bertolak belakang satu sama lainnya. Sebagian orang membagikan kata-kata mutiara pembuai jiwa ala-ala Mario Teguh sementara gue lebih seneng berbagi status humor serius Arham Rasyid. Beberapa orang temen gue sibuk mengunggah prestasi-prestasi bisnis, kekayaan, harta, pose dengan orang hebat. Sementara yang lainnya bekerja besar dalam diam. Tidak banyak berulah share ini itu agar yang lain tahu. Setengah orang tua penikmat facebook adalah pendukung garis keras anti vaksin. Sementara setengahnya lagi mengkampanyekan vaksin itu baik, sehat, tidak haram, bukan rekayasa zionis dan sebagainya.

Banyak temen gue memuja status-status romansa keluarga ala Fahd Pahdepie sambil tag pasangannya dengan caption ‘ini loh yah’, ‘begini loh sayang’ dan segala resonansi pesona tulisan tersebut yang menular bak endemi. Sementara gue dan mungkin yang lainnya lebih menyukai status-status cinta non picisan oleh Ustad Cahyadi Takariawan.

Gue menikmati aktiftias berselancar di dunia maya guna mencari pengetahuan baru, referensi, atau sekedar berburu artikel lucu dan nyinyir guna membuka cakrawala wawasan. Tidak lupa juga mengakses situs-situs komik dan meme guna mengusir kepenatan. Salah satu pengguna sosial yang paling gue tunggu-tunggu update-nya adalah Ustad Salim A. Fillah. Ustad Salim adalah ulama muda dengan kemampuan literasi yang sangat baik. Beliau sudah menghasilkan banyak buku dengan konten yang khas. Buat gue, buku-buku beliau bak suplemen karena tidak hanya mengisi ruhani dengan nilai-nilai religi yang kental namun juga mampu mengartikulasikan disiplin ilmu lain dalam setiap tulisan yang ia lahirkan. Sebagai contoh beliau sempat membahas tentang psikologi sosial di salah satu bukunya yang kemudian berhasil memotivasi gue untuk menyukai buku-buku bertipe sejenis. Selepas membaca buku Ustad Salim gue bergerilya mencari buku-buku psikologi praktis seperti Best Seller Blink, Outliers, Tipping Point karya Malcolm Gladwell.

Di jejaring sosial, Ustad Salim sering membuat status yang legit. Bahasanya yang santun dan isi tulisan yang memenuhi unsur-unsur ketuhanan dan wawasan keduniaan membuat status tersebut sangat renyah untuk disimak. Seperti beberapa waktu yang lalu beliau membahas tentang kereta, stasiun dan sejarah kemerdekaan yang tak luput menyinggung tentang salah satu novel oleh Agatha Christie. Dan komentar gue cuma ‘Wow’. Ada ya ustad yang referensi bacaannya sangat luas. Tidak terbatas pada kitab kuning atau literatur klasik tentang langit. Meskipun begitu beliau tidak pernah mengagung-agungkan atau menyentil kepekaan orang-orang untuk menyadari bahwa ia adalah pembaca yang rakus dan mempunyai banyak referensi.

Sementara di sisi lain gue sering menyimak kontributor sebuah web satir yang memuja-muja kepemilikan atas ribuan buku. Tak jarang merendahkan orang lain dengan mendewakan dirinya yang memiliki banyak literatur dengan Kalimat-kalimat semisal ‘ah, anda kurang referensi’ atau ‘sudah pernah baca ini belom?’. Entah mengapa gue kurang menaruh respek pada mereka yang mengerdilkan orang lain hanya karena punya bahan bacaan lebih banyak. Jika saja mereka menyimak ucapan Dalai Lama ‘when you talk, you are only repeating what you already know. But if you listen, you may hear something new’.

Ya, untuk mereka yang suka membaca pun ada dua jenis. Mereka yang membaca kemudian mengolahnya menjadi petuah indah yang disampaikan dengan baik dan santun. Atau mereka yang mereka kemudian menganggit tulisan dan bahasa-bahasa yang menyakiti hati dan menista.

Proses membanding-bandingkan akan selalu ada karena sudah menjadi template nya ras manusia. Kita tidak akan pernah berhenti pada suatu titik untuk menyamaratakan preferensi, selera, kecenderungan. Karena jika ada dua orang berjalan dan ide mereka selalu sama maka hanya satu orang yang berpikir. Tapi seperti yang pernah diajarkan oleh orang tua dan guru ngaji kita sejak lama bahwa seperti apa pun pilihan yang kita buat pastikan bahwa kita memilih untuk mendekatkan diri ke surga. Bukan memilih neraka. Itu pun jika kalian percaya.

Psst.. Jangan coba banding-bandingin Jokower dan Prabower. Dua tahun ga habis dibahas.

Sumber gambar dari sini

Kisah Seorang Pendamping Wisuda

Oktober 19, 2015 § 1 Komentar

IMG-20151017-WA0020Setidaknya ada dua momen di luar dimensi belajar-mengajar yang selalu ditunggu oleh (mungkin) setiap mahasiswa di salah satu kampus terkemuka di kota Bandung. Yang pertama adalah ospek himpunan. Hampir semua mahasiswa Tahap Persiapan Bersama (TPB) di kampus ini berharap bisa bergabung dengan himpunan yang ada di setiap jurusan. Menjadi ‘anak himpunan’ pasti jauh lebih menarik daripada menyambut seruan program bela negara.

Mahasiswa yang terdoktrinasi bahwa himpunan adalah segalanya, bahkan ada yel yang berisikan semangat patriotis membela himpunan sampai mati, merasa jauh lebih keren saat mengenakan jaket himpunan sekaligus bisa berkumpul dengan senior yang lagaknya sudah paling aktifis. Ospek jurusan (Osjur) sebagai gerbang diterimanya anggota himpunan baru selalu diikuti dengan penuh kesadaran dan keikhlasan walaupun sebagian besar kegiatannya hanya seputar agitasi, mobilisasi dan organisasi massa. Khas PKI. Gue juga bingung kegiatan untuk manusia terdidik tersebut lebih mirip dengan agenda PKI yang mempersenjatai buruh dan petani dengan palu dan arit. Jadi, kalian yang bangga-bangga melakukan agitasi ke junior tidak lebih dari senior yang membekali massa untuk melakukan revolusi. Kamerad!.

Momen kedua yang ditunggu-tunggu oleh mahasiswa di kampus ini adalah saat wisuda. Betul, wisuda adalah prosesi yang ditunggu-tunggu oleh setiap mahasiswa yang akan lulus. Mereka menanti-nanti mengenakan toga, riuh ricuh menyanyikan himne, lulus dan lalu menjadi penggangguran baru. Siklus yang cukup banal bagi seseorang yang dididik selama lebih dari 4 tahun dengan segenap bekal ilmu dan pelatihan ala PKI namun berakhir di kos-kosan sambil mengetuk-ngetuk pintu perusahaan agar menjadikan mereka sebagai karyawan. Termasuk gue.

Wisuda adalah momen sakral sekali seumur hidup yang begitu diagung-agungkan. Segala persiapan dilakukan guna menyambut prosesi ini. Buat para mahasiswi, wisuda adalah momen di mana mereka mewajibkan diri untuk diet super ketat agar kebaya yang sudah diukur sewindu sebelumnya masih bisa muat saat hari-H. Wisuda disambut dengan gegap gempita karena para wisudawan dan wisudawati ini telah merasakan bagaimana sulitnya meraih gelar akademis sehingga eksistensi selama wisuda adalah sebuah keniscayaan. Selain itu, pada momen inilah mereka bisa menggandeng pasangan yang lazim dikenal dengan Pendamping Wisuda (PW).

Secara definisi umum ‘pendamping wisuda’ berarti seseorang berlainan jenis di luar hubungan keluarga yang memainkan fungsinya sebagai pendamping wisudawan/ti. Sebagian besar tugasnya adalah senyum malu-malu saat ditanya oleh orang tua wisudawan “Ini calon kamu, nak?”.

Mencari pendamping wisuda sepertinya sudah menjadi kebiasaan yang mengakar di kampus ini. Setidaknya begitulah pengamatan gue yang lulus dari kampus yang sama beberapa tahun lalu. Keberadaan pendamping wisuda tersebut bak sebuah keharusan yang teramat sangat penting dan menempati skala prioritas pertama dan utama. Bahkan jauh lebih penting daripada mikirin IPK yang nyaris tiga atau mikirin perusahaan mana yang ‘sudi’ merekrut sarjana fakir nilai.

Para wisudawan/ti ini tidak menjadikan kedua orang tua sebagai pendamping wisuda. Mengapa? Karena tidak sesuai dengan terminologi ‘pendamping wisuda’ itu sendiri. Berbeda dengan gue yang menjadikan alasan ‘orang tua lebih pantas untuk menjadi pendamping wisuda dengan alasan apapun’. Menabrak definisi umum yang gue buat sendiri. Haha, ngeles. Gue sebenernya dulu punya gebetan yang jangankan jadi pendamping wisuda, mati demi gue aja dia rela. Dia bilang mending mati daripada sama gue. Bangke!.

Gue pribadi memiliki cerita sendiri seputar pendamping wisuda. Gue sempet dua kali diwisuda yakni saat mendapatkan gelar sarjana dan pascasarjana. Kedua prosesi tersebut selalu didampingi oleh kedua orang tua dan salah seorang saudara. Gue merasa bangga dengan sikap gue yang anti-mainstream meskipun cukup penasaran seperti apa rasanya menjadi seorang pendamping wisuda. Apakah gugup cantik seperti saat sidang sarjana. Atau bahagia yang terhibridisasi dengan malu-malu anjing?. Hmmm..

Peluang gue untuk menjadi pendamping wisuda akhirnya terbuka lebar saat gue menikah karena istri gue tengah menempuh pendidikan masternya.

Saat menikah, Istri gue tengah menempuh semester tiga studi pascasarjana. Beberapa bulan setelahnya, ia harus beradaptasi dengan ketatnya jadwal perkuliahan dan tugas karena pada saat bersamaan perutnya semakin membesar. Busung lapar? Bukan, bini gue HAMIL akibat perbuatan gue. Setelah berjuang dengan keras akhirnya ia menyelesaikan studinya dengan nilai memuaskan.

Yeay. Tereak gue dalem hati. Akhirnya gue dapet kesempatan untuk menjadi pendamping wisuda. Momen yang udah gue tunggu-tunggu sejak Mak Lampir masih muda.

Ternyata menjadi pendamping istri saat wisuda tidak lebih membuat adrenalin terpacu atau dopamin tersekresikan dengan brutal seperti saat menanti kelahiran putra pertama. Gue cukup membulatkan mulut untuk sekedar berseru “OOO, begini rasanya jadi pendamping wisuda”. Itu saja.

Gue akhirnya menyadari bahwa yang paling penting dari menjadi PW adalah kebahagiaan dapat membersamai orang yang kita cinta meraih apa yang selama ini dicitakannya. Sekedar memamerkan pendamping wisuda sebagai bentuk sosialisasi pasangan kepada orang tua atau khalayak rasanya cita-cita yang terlalu dangkal. Toh yang mendampingi kita wisuda sangat mungkin bukan yang menjadi pendamping hidup seterusnya. Atau memang sedari awal diniatkan begitu?.

Untungnya pas kuliah dulu gue ga ngebela-belain buat nyari pendamping saat wisuda. Selain karena ga ada yang mau, hakikatnya pendamping wisuda hanyalah kesenangan sementara belaka. Ada baiknya kita mencari seseorang yang lebih dari sekedar mendampingi saat wisuda yakni pendamping hidup dunia dan akhirat. Subhanallah, akhi!.

Demikianlah ngalor ngidul gue tentang kisah seorang pendamping wisuda. Sebenernya tulisan ini gue dedikasikan untuk istri tercinta yang minggu lalu diwisuda di seputaran jalan ganeca 10.

Untuk Neng Annisa Martina, Selamat sudah merengkuh gelar magister walau dilalui dengan kesusahan yang bertambah-tambah. Saat hamil, saat mengurusi Alby dan saat rumit lainnya. Insyaallah semua perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan untuk meraih ilmu tidak akan sia-sia. Karena Tuhan menjanjikan derajat yang lebih tinggi bagi orang-orang berilmu. Selamat sayang *wink*.

Favorit 2014

Desember 24, 2014 § Tinggalkan komentar

Well,

Beberapa hari lagi tahun 2014 akan berakhir. Banyak hal terjadi sepanjang tahun ini baik skala lokal maupun internasional, berita suka maupun duka. Bencana terjadi dimana-mana. Bukan hanya karena alam seperti Polar Vortex di Amerika namun juga bencana berupa kecelakaan mulai dari hilangnya pesawat Malaysia airlines hingga tenggelamnya kapal feri milik korea selatan. Kilas balik 2014 juga menyajikan gempita kala Jerman berhasil mengalahkan Argentina di Final Piala Dunia.

Untuk skala domestik, 2014 bisa jadi adalah tahun ‘disintegrasi’ bangsa akibat ‘perang’ yang digencarkan selama pemilihan umum, pemilihan presiden hingga saat sang pemimpin bangsa telah terpilih.

Secara pribadi, 2014 adalah tahun yang penuh dengan kejutan. Di awal tahun, berita duka datang menghampiri. Jagoan pertama dalam hidup gue wafat di subuh hari tanggal 21 Januari. Selang 3 bulan kemudian gue menikahi seorang wanita asli sunda dan di tahun yang sama kami tengah menanti kelahiran sang buah hati.

Untuk menapaktilasi segenap peristiwa dan apa saja yang berhasil mencuri perhatian selama 2014, Seth Godin yang kemudian digaungkan kembali oleh bloger Roni Yuzirman, menuliskan hal-hal yang menjadi favorit di tahun ini. Gue juga ingin berpartisipasi untuk melakukan hal yang sama.

Musik Tulus masih menjadi favorit seusai album barunya ‘Gajah’ dirilis. lantunan ‘Jangan Cintai Aku Apa Adanya’ menjadi tembang favorit di album tersebut. Kehadiran Tulus seakan membawa sebuah warna baru dalam musik popular. Liriknya yang kuat juga menjadi daya magis penyanyi bernama lengkap Muhammad Tulus ini.

tulus

Buku History of Arabs berhasil mengelaborasi semua pengetahuan tentang sejarah bangsa arab,Islam dan perkembangannya. Meskipun ada beberapa buku yang cukup bagus seperti History of Mankind Arnold J Toynbee atau Great Bait Al Hikmah, Sejarah Arab tetap layak mendapatkan kredit buku favorit 2014.

Film ‘Secret Life of Walter Mitty’ menyajikan banyak sekali pelajaran dalam kisahnya. Film ini berutur bahwa jangan terjebak dalam rutinitas yang menjemukan. Sekali-sekali lakukan hal-hal tak biasa yang bisa membuka cakrawala pemikiran kita

Akun Twitter Di antara sekian banyak akun twiter yang memiliki konten bagus dan menarik, pilihan gue jatuh pada Ragil Nugroho, aktifis kiri yang kerap kali mencuri perhatian netizen. Twit-twitnya berupa kritikan yang cerdas dibalut dengan humor dan cerita Jawa. Mirip Sudjiwo Tedjo.

AKun Facebook Akun Facebook favorit adalah Tarli Nugroho. Nama keduanya memang mirip. Tarli Nugroho banyak mengkritisi kebijakan pemerintah dengan penjabaran akademis yang apik. Banyak informasi yang dapat diperoleh dari status-status facebooknya.

Situs 1cak banyak memberikan meme-meme menghibur yang sangat efektif untuk mengusir semua kepenatan kerja. Banyak yang garing tapi tidak sedikit yang menghasilkan meme-meme yang sangat lucu.

Momen Momen terbaik dan terfavorit tahun ini berupa rangkaian proses menikahi istri. Mulai dari perkenalan, bertemu calon mertua hingga akad nikah. Semuanya terekam baik dalam tiga bulan proses. Selain itu, momen saat sang calon bayi menendang dan memukul dinding rahim istri juga tak akan terlewatkan. Keduanya adalah cuplikan momen terbaik sepanjang tahun.

Berita Berita internasional favorit di 2014 adalah agresi Israel ke Gaza. Israel terakhir kali melakukan invasi ke Gaza pada 2012. Korban tewas dari pihak sipil mencapai ribuan orang. Berita baiknya adalah Uni Eropa mencabut label ‘teroris’ ke HAMAS.

Bloger Sejak awal 2014, gue menikmati tulisan-tulisan yang dimuat dalam blog Himsa. Kumpulan cerpen yang nangkring di blognya ditulis dengan cukup baik. Cerpen tersebut akhirnya dibukukan dengan judul ‘Ephemera’.

Makanan/Minuman Semur telur buatan istri masih menjadi favorit sepanjang tahun ini. Semur tersebut sangat mirip dengan yang biasa disediakan oleh ibu di rumah.

Sosok Ken Robinson sejauh ini penuh inspirasi. Videonya di TED dengan judul ‘School kills creativity’ paling banyak ditonton. Sosok lainnya yang juga pantas mendapatkan kredit di tahun 2014 adalh Gilad Atzmon, seorang yahudi yang vokal menolak agresi militer israel ke Gaza.

Aplikasi Duolingo sempat mencuri perhatian di awal hingga pertengahan tahun 2014. Aplikasi ini memungkinkan penggunanya untuk mempelajari bahasa asing dengan metoda yang relatif tidak biasa. Di akhir 2014, Nike Running menjadi favorit sejak gue doyan joging guna mengurangi lemak yang ada di perut.

Sumber
Gambar Tulus

Dampak Sosial Perut Buncit

November 24, 2014 § 1 Komentar

Dari sekian banyak kebahagiaan yang gue peroleh paska menikah, kenaikan berat badan yang tak terkendali tetep aja bikin gue gerah. Oke, perlu gue akui bahwa bertambahnya berat badan adalah sejarah dalam fasa modern hidup gue. Bayangkan, selama lebih dari 25 tahun, timbangan-timbangan nista itu tidak pernah mau beranjak dari angka 55 atau 56. Tidak perduli berapa banyak gue makan. Gue masih bisa mentoleransi jika selama kuliah berat gue stabil pada angka yang sama. Makannya aja pake paket irit. Tempe sepotong buat tiga kali makan. Nasinya sepiring bertiga (sepiring berdua sudah terlalu mainstream). Kalo alesannya selama kuliah gue kurus, gue terima. Tapi efek kurus tersebut terus berlangsung hingga dua tahun pertama gue kerja yang seharusnya level kemakmuran semakin meningkat.

Semua berubah sejak gue menikah. Cukup enam bulan, berat badan gue naik hingga lebih dari 12 kilogram. Namun yang paling buruk dari semuanya adalah perut gue menjadi buncit. Hal yang selama ini sangat gue hindari. Meskipun apa yang gue alami sebenernya juga terjadi pada 58.6% pria menikah lainnya yang ada di muka bumi.

Istri gue senyum-senyum aja melihat kondisi gue sekarang. Bagaimana mungkin, dia yang hamil tapi perut gue yang membuncit. Oh God, Why?.

belly

Banyak alasan yang membuat pria menikah cenderung memiliki perut buncit. Salah satu alesan yang paling masuk akal berkaitan dengan apa yang dimakan dan apa yang dipikirkan. Dari riset yang dilakukan oleh De Jerica Berg, pria menikah merasakan kehidupan yang bahagia sehingga nafsu makan cenderung meningkat akibat masakan-masakan lezat yang dimasak oleh istri ditambah dengan frekuensi olahraga yang semakin berkurang. Jika melihat korelasi ini, pria menikah tapi tidak memiliki perut buncit berarti sangat mungkin istrinya tidak bisa memasak atau masakannya tidak enak :D.

Alasan lainnya adalah bagi setiap istri, perut buncit diharapkan akan menjauhkan suami mereka dari godaan wanita-wanita lain. Dengan demikian mereka sebisa mungkin ‘melayani’ kebutuhan pangan suami agar terus makan dan makan dan makan hingga akhirnya menjadi buncit dan kekurangan daya tarik bagi wanita lainnya. Sayangnya, 74% wanita lebih menyukai pria buncit ketimbang pria six-pack. Karena pria six-pack lebih disukai pria-pria lainnya… Maho woy!.

Perut buncit meninggalkan banyak permasalahan. Selain masalah kesehatan seperti kolesterol tinggi, penurunan fungsi paru-paru dan kerusakan pada pembuluh arteri, buncit juga berpengaruh terhadap permasalahan sosial.

Dengan lingkar perut yang berlebihan, para pria akan membutuhkan ruang lebih saat menempati kendaraan umum. Terlebih lagi di dalam sesaknya commuter line dan transjakarta.  Efeknya adalah muatan di dalam kendaraan jauh lebih sedikit sehingga dibutuhkan jumlah kendaraan umum yang lebih banyak untuk mengangkut penumpang dengan jumlah yang sama. Negara pastinya akan mengeluarkan anggaran lebih untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Karena sebagian besar APBN dialihkan untuk pembelian kendaraan umum, alokasi dana untuk pendidikan dan perbaikan infrastrutur pun berkurang. BBM bersubsidi akan lebih cepat dihapuskan. Gaji PNS dikurangi sehingga semakin banyak pengangguran. Negara kacau balau dan terjadilah kerusuhan dimana-mana. Negara tidak stabil dan tingkat kriminalitas semakin meningkat. Mengerikan bukan efek domino dari perut buncit?.

Permasalahan sosial lainnya adalah stereotip om-om hidung belang yang melekat pada pria dengan perut buncit. Jika kalian penikmat sinema elektronik, FTV, film bergenre misteri tapi banyakan mesumnya maka kalian akan sangat akrab dengan pemandangan para pria pencari kenikmatan dunia dengan penampilan perut buncit dan kumis tebal. Akibatnya adalah setiap pria dengan perut buncit akan dicurigai sebagai om-om girang. Mereka akan dihindari, dikucilkan dan dijauhi. Bahkan, bukan tidak mungkin mereka akan dipenjarakan karena penampakan mereka dianggap perbuatan yang tidak menyenangkan. Coba bayangkan bagaimana rasanya menjadi pria berperut buncit. Sakit mas..sakit.

Pria berperut buncit juga sangat berkorelasi dengan imej orang kaya. Padahal anak-anak penderita busung lapar pun perutnya buncit. Apa yang terjadi jika setiap orang bisa dengan mudahnya mengganggap kamu berduit hanya berdasarkan ukuran lingkar perut? Saudara dari segala penjuru bumi akan berdatangan meminta THR saat lebaran. Orang-orang akan mengaku sebagai kenalan lo dan meminjam meminta uang secara brutal. Para pengendara motor bahkan memintamu untuk mensubsidi uang untuk membeli premium. Gila ga tuh? Bagi mereka yang tidak kuat iman, cobaan ini terlalu berat. Lalu mereka akan stress dan kemudian bunuh diri. Tragis!.

Gue ngerasain banget betapa perut buncit sangat berpengaruh pada pakaian yang gue punya. Hampir semua baju kantor gue tidak muat saat hendak dikenakan. Awalnya gue ingin mengkambing hitam baju-baju tersebut karena menyusut dengan cepatnya. Tapi mereka membela diri dengan iringan backsound Cita Citata.

Dari dulu gue selalu membeli baju slim fit untuk memamerkan otot-otot bisep dan trisep yang bersemayam di tubuh gue. Tapi kini semua berubah semenjak buncit hinggap di perut. Semua baju itu terasa sempit dan gue dengan terpaksa harus membeli baju-baju baru. Sekarang gue harus memasukkan anggaran untuk membeli baju dengan ukuran lebih besar. Kondisi seperti ini tidak sehat karena bisa saja orang-orang buncit melakukan demonstrasi besar-besaran untuk menyaingi para buruh yang menuntut upah minimum menjadi 7 juta. Jika buruh tersebut memasukkan uang untuk nonton bioskop dan uang berdandan dalam angka-angka rasionalisasi UMR mereka, maka orang-orang buncit akan menuntut item uang untuk baju yang lebih besar dan uang fitness.

Dampak buruk lain dari perut buncit adalah kesulitan untuk berlari. Bagaimana mungkin mereka yang berperut buncit dapat menghindar dari kejaran apalagi dari kejaran bayang-bayang masa lalu. Jadi, masih mau buncit?.

Sumber gambar

Antara Istri, Sahabat dan Cacar Air

Oktober 24, 2014 § 2 Komentar

Satu minggu kemarin gue berkenalan dengan penyakit bernama Varicella Simplex. Keren kan nama penyakitnya?. Dalam Bahasa Indonesia, penyakit menular tersebut dikenal dengan cacar air. Yaelah keren banget penyakit lo!. 

Gue ga tahu apa hubungan antara cacar air dan cacar handika (itu caca). Ah bodo Amat. Pokoknya hidup gue menderita pas didiagnosa menderita sakit ini. Badan gue gatel, tenggorokan sakit, belom gajian. Kombinasi yang pas. Ditambah lagi gue harus makan-makan sendiri, cuci baju sendiri, tidur pun sendiri. Persis lagu si Cacar Handika itu.

Gue memang pelupa level kecamatan. Gue lupa kalo di Bandung ada seorang wanita yang siap menampung dan merawat gue selama sakit. Yes, dia adalah Sang Istri Tercinta… Kampret, sama bini aja lo bisa lupa. *Becanda yang*. Dan di tengah badan yang mulai dipenuhi oleh bentol bentol berisi oncom. Woi, itu cacar bukan comro. Gue pun menuju Bandung guna dirawat di sana. Dokter menyarankan gue untuk beristirahat selama paling tidak satu pekan.

Sebenernya gue ga enak harus ninggalin kantor dengan tugas yang menumpuk. Tapi bagaimana lagi. Daripada penyakit ini menular ke mereka yang belom pernah terjangkiti. Karena Virus Varicella-Zoster penyebab cacar air dapat menular melalui interaksi dengan penderita melalui sentuhan bahkan udara. Hal inilah yang dikhawatirkan akan terjadi kalo gue memaksa untuk masuk kantor.

Cacar air yang gue derita adalah warisan dari adik ipar gue yang terjangkiti virus tersebut sepekan sebelumnya. Gue yang awalnya sehat dan tidak menunjukkan gejala sakit apa pun, tiba tiba demam dan sukar menelan makanan apalagi saat gue nelen kulit duren. Saat bangun tidur, di tubuh gue banyak bintil-bintil. Terus kedua taring gue tumbuh lebih panjang dari biasa. Padahal gue ga ikutan casting sinetron ganteng-ganteng ngepet.

Setibanya di Bandung, gue langsung istirahat penuh. Semua obat yang diberikan oleh dokter langsung saja gue minum. Gue pake jaket dan tidur dengan lelap. Besok paginya, badan gue mandi keringat sebagai efek dari obat Asiklovir sebagai pembunuh virus yang juga bertindak sebagai antibiotik. Walau badan penuh keringat tapi istri gue bersikeras kalo penderita cacar air TIDAK DIPERBOLEHKAN MANDI. Itu berdasarkan pengalaman nyonya saat dia terkena cacar air zaman SMP dulu. Perilaku yang sama juga diterapkan ke adik ipar gue. Mandi hanya dianggap akan memperbanyak bintil di tubuh.

Oke, gue anak bawang. Gue ngikut aja petunjuk praktis dari sang istri daripada harus tidur di luar rumah.

Berbekal rasa penasaran yang tinggi, gue langsung berdiskusi dengan sohib SMA yang mengambil kuliah di jurusan kedokteran. Dalam kondisi seperti ini, gue merasa memiliki banyak teman adalah sebuah keberkahan tersendiri. Mempunyai sahabat dengan spektrum latar belakang yang sangat bervariasi memberikan kita sebuah akses dan kemudahan untuk mengatasai masalah-masalah yang tengah dihadapi. Contohnya saja pas gue tanyain tentang penyakit cacar ini, mereka memberikan masukan-masukan tersebut sangat bermanfaat. Ada yang menganjurkan gue harus mandi dengan air hangat dicampur dengan cairan ‘PK’ atau sabun antiseptik. Yang lain memberikan informasi bahwa ibu hamil yang belom pernah terkena cacar akan cukup rawan  ke janinnya jika berinteraksi langsung dengan penderita, hingga berkonsultasi masalah obat yang diberikan oleh dokter umum. Ada juga sih yang menyarankan gue mandi kembang tengah malam. #NowPlaying -Mandi Kembang (Cacar Handika)-.

Wait, Kenapa jadi Caca Handika lagi???

Well, coba lo bayangin. Kalo harus mendatangi dokter umum, paling tidak gue sudah harus membayar 150 ribu untuk konsultasi tersebut. Dan gue, menanyakan tiga orang dokter tanpa biaya sepeser pun. Ah, benarlah jika kita seharusnya memang harus memperpanjang tali silaturahim. Bukan sekali ini saja gue berkonsultasi masalah kesehatan dengan temen-temen dokter. Acapkali gue berkesempatan untuk bertanya-tanya masalah medis hingga jodoh. Ehhhh..

Bahagia jika kita bisa mempunyai sahabat dari ragam latar belakang mulai dari dokter, arsitek, polisi, analis, rampok (?). Dengan demikian kita bisa saling menunjang kebutuhan masing-masing.

Dan rasa syukur terbesar yang harus gue panjatkan selain kepada Allah dan Nabi Muhammad serta orang tua adalah keberadaan Istri Tercinta yang sangat penyabar (bukan buat dibaca oleh jomblo). Istri gue dengan sigap merawat gue mulai dari nyiapin makanan, bantuin nyari dokter kulit sampe milihin jilbab yang harus gue pake. KEBALIK WOI. EH iya!!

Di tengah kehamilannya yang enam bulan, ia masih begitu gesit merapihkan rumah dan merawat gue. I LOVE YOU HONEY. Terkadang dia juga tepar karena kelelahan. Istri shalihah bener-bener anugerah terindah yang dikaruniai Tuhan kepada kita. Masih lekat dalam ingatan gue gimana rasanya menjalani sakit di saat masih sendiri dulu. Di dalam kamar 3×4 m, gue menderita sakit gejala tipes. Ah, gue hanya bisa diam tergolek tanpa ada tenaga. ‘Mati juga ga bakalan ada yang tau’ piker gue dulu.

Mungkin salah satu keberkahan orang-orang yang sudah menikah adalah adanya perhatian dari suami/istri untuk merawat dan menjaga kita. Fase yang dulu saat kita kecil dapat diproleh dari kasih sayang ayah dan ibu yang mulai memudar saat kita tumbuh dewasa. Bukan kasih sayang ortu yang teralineasi namun wujud syukur kita sebagai seorang anak yang mulai menafikan cinta tersebut.

Saat gue menuliskan kisah ini, badan gue masih dipenuhi oleh ruam ruam merah yang cukup gatal. Tapi menurut dokter, penderita tidak boleh menggaruk ruam tersebut karena akan meninggalkan luka yang bisa terjangkiti infeksi sekunder. Luka tersebut tidak bisa hilang dan membekas di kulit kita. Sama seperti ingatan kalian tentang mantan…..tsahhh. Kayak gue pernah pacaran aja. Hih!.

Gue sebenernya kasihan kalo sampe ada harimau yang terkena cacar air. Kalo dibiarin gatel, digaruk bukan cuma cacar yang ilang tapi juga kulit beserta dagingnya.

Yang paling penting adalah jaga imunitas tubuh dengan banyak mengkonsumsi vitamin C dan jangan banyak beraktifitas. Saran gue, sebaiknya bagi mereka yang belum terkena cacar agar segera terjangkiti saja. Karena semakin bertambah usia biologis seseorang maka penyakit cacar ini akan semakin kompleks. FYI, Ustad Buya HAMKA juga terkena cacar air hingga menyebabkan banyak bekas di wajahnya.

Demikianlah ngalor ngidul gue tentang cacar air.

Disclaimer : Gambar di atas diambil dari web ini
Tapi itu gambar ‘pacar air’ bukan ‘cacar air’ (-__-)’

Afeksi Anti Dengki

Januari 1, 2014 § Tinggalkan komentar

Beberapa hari yang lalu gue melihat salah seorang teman share sebuah tulisan di blog dengan judul “Sudah Nikah Jangan Lebay Ahh”, sebuah satire yang mencoba menyentil kepekaan orang-orang yang sungguh amat sangat aktif berbagi kebahagiaan, kemesraan di media sosial.

Isi blog tersebut menceriterakan kegundahan sang penulis terhadap berbagai postingan para Newly-Wed yang terkadang terjebak dalam euforia perayaan kebahagiannya.

Sebenernya hal seperti ini sudah sering gue singgung. Tapi memang selama ini gue ga pernah membuat postingan yang secara langsung menohok pada exaggerated Newly-Couple. Dan tak lama berselang sejak gue re-post tulisan tersebut, beberapa orang memberikan berbagai spektrum respon. Beberapa setuju dengan isi blog tersebut yang terefleksi dari komentar maupun yang like dan sebagian mempunyai opini yang bersebrangan.

Perbedaan opini wajar-wajar saja menurut gue. Negara juga menjamin kebebasan berpendapat.

Salah satu kritik yang gue terima adalah “Kalo ga suka statusnya, remove friend aja”, baik oleh mereka yang menjawab di postingan tersebut ataupun yang membuat opini tandingan di status facebook mereka.

Hmm, menurut gue ide seperti itu bukan lah jawaban yang diplomatis. Mencoba memutilasi anggota tubuh tapi penyakitnya ternyata masih menjalar, menggerogoti.

Sekali lagi gue jelasin bahwa apa yang gue share tidak sama sekali bermaksud menyinggung siapapun. Don’t get me offended. Gue hanya mencoba membuka cakrawala berfikir kita bahwa banyak yang risih dengan foto-foto your shitty-share happiness. 

Dan lagi tolong digarisbawahi, yang membuat tulisan itu adalah orang yang sudah menikah, bukan jomblo yang selama ini kalian anggap IRI dengan kebahagiaan yang sudah kalian terima. Beberapa orang tidak cemburu dengan kebahagiaan kalian, kami ikut bahagia tapi kami merasa risih.

ITS TOTALLY LOGICAL FALLACY. Shame on you, dude. 

Ada dua jawaban atas tanggapan temen gue yang memberikan pilihan untuk remove orang-orang rese’ di jejaring sosial.

1. Lah kenapa lo nyuruh-nyuruh gimana gue harus bereaksi, tong. Akun facebook punya gue, kenapa pula lo yang sewot nyeramahin biar gue remove para penebar kebahagiaan di media sosial.

Gue merdeka dengan setiap keputusan yang gue ambil. Remove friend itu bertendensi pada dispute. Lebih baik saling debat diskusi opini biar lebih seru.

2. Kalo dibaca dengan seksama, tulisan yang gue share di facebook jelas-jelas menyoroti para lebaywan-lebaywati  (tolong digarisbawahi, highlight, dan CAPSLOCK) yang begitu aktif. Habis nikah share poto kawinan, bulan madu share lokasi, hamil share foto megang perut, punya anak share, bayinya gede dikit share.

“Kampret, lo pikir media sosial itu diary yang sifatnya publik”.

Padahal objek tulisan di blog tersebut adalah YANG BERLEBIHAN dalam berbagi Me, MySelf-nya tapi mengapa semua bak kebakaran jenggot?. Orang-orang akan merasa biasa jika kita bisa bersikap proporsional dalam ber-media sosial. Segala sesuatu yang berlebihan itu selalu bertendensi pada keburukan.

Entahlah kenapa orang-orang sekarang begitu sensitif. Apakah karena mereka terlalu banyak nonton kisah cintanya Jupe-Gaston yang tidak direstui orang tua?

Kalo ga merasa lebay, kenapa harus merasa tersudut dengan isi blog tersebut. Padahal oh padahal, obat hanya akan memberikan efek pada tubuh yang sakit.

Tapi memang hidup itu adil. Ada yang kalem-kalem aja ngejalanin hidup dan mereka bahagia. Ada juga yang perlu diumbar semuanya berharap orang-orang tahu dan ikut bahagia atau mendoakan agar mereka bisa meraih kebahagiaan yang sama.

Yah semoga semua berjalan seperti kalimat terakhir paragraf di atas. Tapi inget loh, tong. Apa-apa yang membuat orang mengarah ke berfikir suudzon juga kagak dibenerin.

Semuanya balik ke niat, katanya. Bab awal dalam melakukan segala sesuatu itu adalah niat. Mungkin ada yang cacat pada niatnya hingga kebahagiaan bersama orang yang dicinta menjadi euforia menghapus kesendirian yang tlah lama mendera.

Wallahu ‘alam.

Alasan Orang Indonesia Berbahasa Inggris

Desember 27, 2013 § 2 Komentar

Di sebuah kantor berlantai 20, seorang pria dengan setelan jas rapihnya tengah berbicara dengan kolega di salah satu kubikel yang riuh akibat lalu lalang pegawai lain yang nyaris terlambat.

“Iya nih, gue coba ensure customer kalo produk kita ini memang yang paling prominent

“Bener bro yang lo bilang, tapi sebisa mungkin kita harus bikin rencana yang visible (feasible maksudnya) biar kita bisa ambil keputusan yang lebih firm”.

“Hmmm.. Tapi gue harus nge report (?) secepatnya. Report gue harus disubmit (pfftt) besok malem paling lambat”.

meme

Yah seperti itulah salah satu contoh dialog Indonesia-Inggris dengan segala kesemrawutannya yang sering kita (gue) denger. Bahasa inggris sudah menjadi bagian dari masyarakat, terutama untuk mereka yang tinggal di perkotaaan dengan segala gaya hidupnya.

Pemerintah pun tak mau kalah, bahasa inggris dijadikan mata pelajaran pokok sebagai bagian kurikulum. Mendiknas beralasan agar siswa bisa menonton film barat tanpa subtitle. 

Gue pribadi pertama kali belajar bahasa inggris formal saat duduk di bangku kelas empat sekolah dasar. Kesan gue saat itu sungguh buruk. Entah belajar bahasa inggris dari mana, guru bahasa inggris gue, yang juga merangkap sebagai guru olahraga, menterjemahkan “good bye” sebagai “Selamat datang“. Crap!!.

Gue sudah mencoba menjelaskan. Tapi apa daya, Ia ga mau menerima penjelasan gue. Dia bilang gue terlalu kaku kayak kanebo kering. Lalu karena kesel, gue hantam guru tersebut dengan sinar laser pahlawan bertopeng bip bip bip bip…

Dewasa ini, akibat teori konspirasi dan konsep tatanan dunia baru (keselek), orang-orang sangat merasa perlu berbahasa inggris. Pengaruh globalisasi dimana sekat yang membatasi teritori suatu negara sudah dapat ditembus melalui aspek lain seperti pendidikan, kebudayaan hingga dunia kerja. Di era yang serba canggih dan semakin mendekati China-ASEAN Free Trade Association, bahasa inggris memang dianggap sangat vital.

Jadi jangan heran jika suatu saat lo naek ojek dari kuningan, tukang ojeknya adalah seorang bule afrika yang berbahasa Swahili plus Inggris sekaligus.

Kini para orang tua semakin gencar mendidik putra-putri mereka dengan bahasa inggris, di sekolah maupun lingkungan keluarga. Nanti akan ada anak usia 5 tahun berlari-lari memanggil tukang bakso yang lewat depan kompleknya sambil berujar

“Mang, Stop! please. Let me have a bowl of meatball. I am definitely hungry. Hurry, or I’ll kick you’re a** “(bocah salah asuhan).

Gue pun menyimpulkan beberapa alasan orang Indonesia berbahasa inggris dalam kesehariannya.

 1. Survival

Ya, “survival” adalah alasan paling mendasar mengapa orang Indonesia harus berbahasa inggris. Mengapa survival? Karena jika mereka menggunakan bahasa sunda atau jawa, mereka ga bisa bertahan hidup.

Alasan survival ini mengingatkan gue pada salah satu episode Spongebob saat tersesat bareng Squidward dan Patrick. Puja kerang ajaib!

Survival berlaku bagi orang Indonesia yang tinggal di luar negeri, misalnya buat mereka yang sedang menempuh pendidikan di eropa atau U.S.A. Mereka dituntut untuk mampu berbahasa inggris agar tahu caranya menawar harga cabe di pasar tradisional atau berdebat dengan bule, siapa yang lebih cocok jadi presiden Indonesia, Farhat Abas atau Bang Haji Rhoma.

Kampus-kampus  di negara tujuan pendidikan tersebut tidak akan memberikan pelajaran dalam bahasa Indonesia. Semua textbooknya pun didominasi oleh bahasa inggris.

“Terus kalo ga bisa bahasa inggris, gue ga bisa keluar negeri?”

Tenang, masih ada banyak negara yang mengakomodir kalian yang ingin kuliah atau menetap di luar negeri tanpa perlu menguasai bahasa inggris. Sebut saja kuliah ke India. Yang kalian perlukan hanya kepala yang bergoyang, bisa nyanyi dan tari khas negeri hindistan.

Jadi, saat lo mau ngobrol sama bangsa dravida kalian cukup bilang “aja, aja (sambil goyang kepala)”. Lalu segera cari tembok buat joget. Mission accomplished.

Gue inget banget salah satu scene kuch kuch hota hai yang fenomenal itu. Kajol masih bisa nyanyi di saat sedih bertemu kembali dengan rahul. Secepat kilat gue bbm Inul.

“Mbak, buru gih buka keroke di India. Dijamin laku” 

Inul dengan santainya menjawab

“Lo siape tong?”

2. Tuntutan Pekerjaan

Gue udah singgung di atas. Karena tuntutan pekerjaan, banyak orang Indonesia bercakap dalam bahasa inggris terutama untuk pekerjaan yang menuntut interaksi dengan bule. Lebih-lebih orang jawa. Hampir tiap hari mereka bertemu sama bule, pale juga.

Gue pernah menghadapi complain dari orang Taiwan. Parahnya, dia ga bisa bahasa inggris maupun bahasa Indonesia. Seketika gue nyesel kenapa dulu ga pernah nonton Serial Siluman Uler putih tanpa dubbing.

Akhirnya, siang itu gue berhasil mencampuradukkan bahasa inggris, bahasa Indonesia dan sedikit bahasa isyarat.

vicky

Saat meeting dengan sesama orang Indonesia pun sangat lazim untuk mendengarkan percakapan dengan beberapa diksi berbahasa inggris.  Kata-kata seperti “even” “totally”  sudah khatam gue denger. Dan lucunya, tanpa disadari banyak yang latah menggunakan bahasa inggris yang salah secara gramatikal. “worth it” dibilang “worthed”; “bored” diucap “boring”.

Yaelah bro, lo bukan Syahrini yang seenaknya ngomong comfortable jadi comfi, my husband berubah jadi my hubby, Vimes, Sun Fransisco.

What, “Sun”? kill me mom, kill me….

Banyak juga yang mencampur aduk bahasa inggris dengan bahasa Indonesia sehingga jadi rancu.

“Seharusnya dia diinvolve dalam persoalan ini”

Hey, heloo… Sejak Tersanjung belom jadi sinetron,“involve”  adalah bentuk aktif dengan makna “melibatkan”. Terus kalo “diinvolve” gimana gue ngartiinya? Di-melibatkan-?

Kalo maksudnya adalah “dilibatkan”, tolong jangan tambah imbuhan “di” lagi wahai para karyawan perusahaan yang pinter-pinter.

3. Lagi belajar

Salah satu alesan paling rasional mengapa orang Indonesia berbahasa inggris sehari-hari adalah “lagi belajar”, biar bisa ngomong sama bule. Padahal di saat bersamaan, Sacha Stevenson sedang ber-cas-cis-cus ria dengan bahasa indonesianya yang diunggah di youtube.

Bule ini fasih berbahasa indonesia

Bule ini fasih berbahasa indonesia

Belajar bahasa inggris itu tidak pernah lebih sulit daripada belajar bahasa Indonesia. Tengok saja nilai peserta ujian nasional. Kebanyakan mereka memiliki nilai bahasa inggris yang lebih baik daripada bahasa sendiri. Mungkin bocoran kunci jawabannya lebih akurat.

 Sebagai buktinya, lo pasti lebih sering ngeliat para pesohor dan pesolek di TV menyebut “endonesia” daripada “Indonesia”. Mereka lebih fasih berucap “annihilation” atau “exasperation” dengan logat English native.

Orang Indonesia lebih suka hal-hal yang praktis, karenanya mereka sebisa mungkin belajar bahasa inggris agar tidak perlu mengucapkan kalimat-kalimat yang panjang.

“Adi dan budi bermain bola dengan sangat baik. Mereka berdua sangat tangguh. Aku tidak senang melihat semua hal itu”

Lah, kalo ditranslasi ke bahasa inggris kan jadi gini

Adi and Budi Plays soccer well. Both are great. I don’t give a damn…”

Jauh lebih singkat, bukan?

 4. Keren-keren an

Yooo man, I aint  worried bout nothing.

Dengan mengucapkan kata-kata di atas, beberapa orang sudah merasa diri mereka keren badai. Entah kenapa, apapun alasannya, orang yang berbahasa inggris level ke-keren-an nya naik 5 level. Menurut mereka!.

Belum lagi di media sosial. Ngetwit akan jauh lebih afdol jika menggunakan bahasa inggris. Caption Instagram juga lebih terkesan “Wah” dengan #Cute #Excellent #Sunset dibandingkan #lucu #katro #kampret.

Bahasa inggris seolah sudah menjadi tren dan simbol kemapanan. Terlebih untuk para mereka yang menyematkan diri sebagai kaum urban, “Ga berbahasa inggris ga gaul menn”.

Kalo udah sok keren-keren an semua kalimat bahasa inggris yang dia punya bakalan dikeluarin. Hebohnya udah level Farhat Abbas.

Ngucapin Selamat pada hari raya pun pake bahasa inggris “Happy ied” “Happy eastern” “Merry X-mas”. Ngapain cape-cape, padahal udah ada Prabowo yang ngingetin kita jadwal hari besar keagamaan lewat iklan di TV.

Akhirnya, kalo cuma mau ngetop dengan bahasa slang atau istilah aneh, mending lo temenan sama Syahrini. Ulala, cetar membahana gegap gempita gelora asmara.

 5. Biar bisa jadi supir taksi

sumber : top10terbaik.blogspot.com

Nah buat lo yang kudet, sekarang udah ada sopir taksi yang jago berbahasa inggris. Namanya adalah Bapak Tarnedi.  Beliau sangat bersemangat bicara dalam bahasa inggris  dan “memaksa” penumpang berbicara dengan bahasa yang sama.

Beliau mencoba mengasah kemampuan berbahasa inggris dengan cara ngobrol bersama penumpang yang menaiki taksinya. Ia melakukan hal tersebut karena merasa selama ini sudah sangat tertinggal untuk belajar.

Berita tentang supir taksi ini sempat mengisi beberapa kolom di Koran dan majalah elektronik. Dan seperti biasa, fenomena seperti ini biasanya langsung menjadi objek wawancara di berbagai talkshow.

Jadi, sekarang bertambah lagi alasan orang berbahasa inggris yaitu agar mereka bisa mnjadi supir taksi. Gue rasa ke depannya seleksi supir taksi bakal lebih susah. Toefl minimal 600. anyone?

N1 Pre-Unboxing Experiences

Desember 4, 2013 § Tinggalkan komentar

N1 Pre-Unboxing Experiences

N1 Pre-Unboxing Experiences

Lomba blog #AkudanOPPON1 telah usai saat gue menyadari bahwa tulisan yang gue sertakan dalam lomba itu belum mampu menggoyahkan iman juri untuk menjadikan gue sebagai pemenang. Mengapa oh mengapa Tuhan bukan aku yang menang? Ingin rasanya ku berlari ke hutan dan berteriak di pantai.

Di tengah ketermenungan, notifikasi email gue menyala. “Wah, ternyata surel dari OPPO. Kenapa mereka tetiba mengirimkan gue email?. Apakah mereka baru menyadari bahwa tulisan gue yang seharusnya menang dalam lomba itu?. Pasti ada konspirasi dunia di balik semua ini”. Pikiran gue mengawang-awang tak karuan. Lalu gue merencanakan misi balas dendam dengan meretas sistem keamanan OPPO seperti yang dilakukan para anonymous dengan topeng Guy Fawkes-nya. Sesaat gue menyadari bahwa gue mengalami delusi akut.

Dengan rasa percaya diri, gue membuka email tersebut. Melalui emailnya, OPPO mengundang “orang-orang terpilih” untuk hadir di sebuah acara dengan tajuk “Pre-Unboxing OPPO N1 Experience”, sebuah acara pre-launching OPPO N1 dengan menghadirkan mereka yang mempunyai afiliasi terhadap OPPO mulai dari Ofans (OPPO user), kaskuser hingga peserta lomba blog #AkudanOPPON1 -termasuk gue di dalamnya-. Acara ini diadakan untuk memperkenalkan OPPO N1 dan berbagi sensasi serta pengalaman menggunakannya.

Menurut gue, langkah yang diambil oleh OPPO adalah sebuah teknik mass marketing yang baik dengan mengedepankan pembentukan opini yang kemudian akan tersebar lewat metoda “ketok-tular”, teknik marketing jadul dan paling efektif dengan memanfaatkan promosi dari mulut ke mulut melalui orang-orang yang mempunyai latar belakang jejaring sosial yang baik.

Seth Godin dalam sebuah video tentang marketing membagi tipe konsumen produk ke dalam 4 kelompok: Innovators, early adopters, early and late majority, laggards (Grafik di bawah). Masih menurut Seth, Mass marketing is how you convince the first and second terms in curve. Artinya adalah bagaimana sebuah produk dapat meyakinkan para Innovator dan Early adopter untuk menggunakannya dan jika beruntung, mereka akan menceritakan apa yang mereka dengar dan rasakan kepada orang-orang di bagian lain kurva hingga tersebar di keseluruhan kurva yang menggambarkan ketersebaran konsumen. Dan, menurut gue metoda inilah yang OPPO lakukan untuk mempromosikan OPPO N1.

Acara diadakan di FX lantai 7, berdekatan dengan theaternya JKT48. Acara dimulai dengan sambutan dari Pihak OPPO dilanjutkan dengan fortune cookiesnya nabila, melody dan kru JKT48 lainnya. Khayalan gue terlalu tinggi!.

Sambutan disampaikan oleh product brand manager, Bp Kevin, yang walaupun terbata namun perjuangannya untuk menyampaikan sambutan dalam Bahasa Indonesia patut diapresiasi. Acara berikutnya adalah sharing session dari salah seorang yang beruntung mendapatkan kesempatan menggunakan OPPO N1 versi beta dan menceritakan pengalamannya.

Bersama Bp Kevin

Momen yang paling penting dari acara tersebut adalah saat setiap peserta diberikan keleluasaan untuk mencoba unboxing OPPO N1. Kami seolah berperan sebagai pembeli baru yang mempunyai hak untuk mengotak atik hape anyar tersebut mulai dari membuka plastik dan segel hingga mencoba menjalankan aplikasinya. Wah kami senang bukan kepalang. Ada peserta yang tertawa menggelinjang, beberapa langsung kayang, tak sedikit yang langsung terbang, loncat dari lantai 7.

Setelah mengotak-atik dengan seksama serta dipandu penjelasan oleh panitia, gue menyimpulkan terdapat beberapa terobosan yang menurut gue menjadikan OPPO N1 berbeda dengan telepon seluler lainnya

1. Kamera

Seri “N” Oppo adalah tipe handphone yang kekuatannya ada pada kamera dengan resolusi 13 MP. Kamera OPPO N1 adalah kamera pertama dengan kemampuan berotasi hingga 206 derajat pada sumbu-x. Jika X2, Y2 adalah (2,6) dan X1,Y1 adalah (3,4), buatlah garis linier dari koordinat tersebut. *sigh*, Why you convert our discussion into holly mathematics? horrible. Ok skip!.

Dengan besaran sudut tersebut, kita bisa mengambil foto dari banyak posisi. Jangan khawatir, jika selama ini kalian hanya bisa berpose dengan bibir manyun dari sudut tertentu, dan leher lo sakit gegara menyesuaikan dengan posisi kamera handphone, OPPO menjawab jeritan hati kalian.

Hasil jepretan dengan kamera OPPO sangat jernih. Temen gue yang mempunyai sense of photography yang baik bener-bener kagum dengan hasil kamera OPPO.

Kekhawatiran terbesar dari konsumen ponsel ini adalah durability kamera yang digunakan dengan rotasi sedemikian rupa dapat mengalami penurunan kualitas. Berdasarkan klaim dari pihak OPPO, kamera tersebut sudah diuji hingga 100 ribu kali. Jadi jika lo photo-geek dengan level 40 kali jepret rata-rata per hari, maka jangan khawatir, lo bisa bernarsis ria hingga 7 tahun lamanya.

Kamera ini sungguh mensupport para narsiswan dan narsiswati. Di era media sosial yang memberikan ruang pada “exhibitonist” yang sering berbagi meme, foto diri via Instagram, Path dan Facebook, kebutuhan akan foto yang baik menjadi suatu domain yang penting. Itulah mengapa aplikasi photo editor berjamuran mulai dari Camera 360, Picsart, dan lain lain. Namun, dengan kamera OPPO N1, kamu ga perlu semua aplikasi itu. Cukup menggunakan mode “beauty” maka muka kalian bisa bersih dan mulus seperti Christian Soegiono. Tanpa perlu diedit, tanpa perlu Vase*ine (bukan blog berbayar)

Hasil Jepretan dengan mode "Beauty"

Hasil Jepretan dengan mode “Beauty”

Untuk mengaktifasi kamera pun dapat dilakukan dengan banyak shortcut. Bukan hanya “roma” saja yang bisa ditempuh dengan berbagai cara. Kamu bisa membuat motion lingkaran pada screen sebagai salah satu cara untuk mengaktifkan kamera.

2. Color OS

Color OS ini adalah operating system bawaan OPPO, turunan dari si robot hijau (android). Color OS membuat OPPO lebih apik terutama dengan fitur-fitur motion yang lebih banyak dan unik. Lo bisa menyalakan musik, hanya dengan membuat garis dengan dua jari pada saat black screen dan mengganti track lagu hanya dengan membuat goresan (swipe) “>” atau “<” untuk forward dan backward lagu tersebut. Canggih? Memang!. Bahkan Tony Stark dan Jarvisnya belum mampu membuat teknologi secanggih ini.

Saat menonton video, cukup dengan membuat motion dengan menggerakkan jari ke atas atau ke bawah pada layar, lo berarti memberikan instruksi untuk menaikkan/menurunkan volume dan atau kecerahan layar.

Motion yang disupport oleh perangkat lunak Color OS membuat handphone ini sangat customize-able. Selain gesture untuk mengganti track lagu, ia juga dilengkapi dengan fitur “Guess Mode”. Dengan mode ini kita bisa menjaga kerahasiaan file dan data yang disimpan di ponsel sehingga identitas kalian sebagai Power Ranger tidak terbongkar.

3. Desain

OPPO memiliki desain yang ramping dengan layar 5,9 inch, sangat menopang untuk kebutuhan display kamera, games dan juga nyaman untuk digenggam. Saat lo mulai memegangnya, lautan seakan berhenti menguap menolak menjadi awan dan awan pun enggan turun menjadi hujan. Ah, puitis dan lebay memang berbeda tipis.

Dengan warna putih glossy, membuat OPPO tampak gagah dan elegan. Desain yang unik tidak hanya diberikan oleh ponsel melainkan juga kotak (box) nya. Kotak tersebut terbuat dari bahan yang durable dengan bentuk persegi ramping dengan sudut melengkung pada setiap pojoknya.

OPPO N1

4. Baterai

Batere sungguh kritikal bagi pengguna handphone. Tidak salah jika kebutuhan manusia dewasa ini bukan lagi sandang, pangan dan papan melainkan sandan, pangan dan casan. Gue sering melihat orang-orang yang sibuk twit “mati lampu, huhuhu” saat aliran listrik di komplek perumahan mereka padam. Anehnya, mereka lebih memilih ngetwit dibandingkan menghubungi PLN. Logika yang sangat cerdas. Kondisi tersebut meyakinkan kita bahwa sebagian orang kehilangan daya nalarnya saat tidak ada listrik. No listrik, no casan. Yang artinya adalah tidak ada daya baterai.

Oleh karena itu, OPPO dibekali dengan batere 3500 mAH. Jadi kamu bisa mengaktifkan ponsel tersebut sambil menyalakan semua aplikasi dengan daya tahan baterai yang lebih lama.

5. O Click Control dan O Touch Panel

Dua fitur ini benar-benar menjadi terobosan untuk OPPO sebagai generasi baru handphone. O Touch Panel adalah sebuah teknologi untuk mengarahkan kursor lewat bagian belakang ponsel dengan luas area 12 cm kuadrat. Tim R n D OPPO terinspirasi dari trackpad laptop. Dengan adanya O Touch Panel, user bisa menggeser foto, scroll tanpa perlu menghalangi layar. Sebenarnya fitur ini tidak terlalu kritikal namun menjadi sebuah pembeda dengan handphone lain. Fitur yang bisa menjadi sebuah teknik positioning dan branding yang pas untuk OPPO guna meraih simpati masyarakat Indonesia.

Sementara O Click Control adalah teknologi nirkabel yang sedari awal difungsikan sebagai kendali pengambilan gambar kamera jarak jauh. Fitur ini memudahkan penggunanya untuk mengambil kamera dengan menggunakan koneksi Bluetooth. Jadi SAY NO! untuk timer.

Selain fungsi tersebut, O touch panel juga bisa digunakan sebagai “alarm” yang akan berbunyi jika jarak antara ponsel dan tombol ini berjauhan melebihi batas koneksi Bluetooth. “Om, om.. Hape aja pengennya deket-deketan. Masa Om ga!”.

Hi. My Name is Ollie :)

Hi. My Name is Ollie 🙂

Namun di balik kemewahan yang disiapkan oleh OPPO N1 hingga testernya menyebut ponsel ini sebagai genius phone, menurut gue peribadi masih terdapat kelemahan. OPPO menyediakan memori internal sebesar 16 GB. Sayang, memori ini tidak bisa diupgrade sehingga membatasi para gamer yang ingin memanfaatkannya untuk permainan-permainan yang memerlukan space memori cukup besar. Hal tersebut menjadi kritik saya terhadap keseluruhan OPPO N1.

Dina, Pemenang Doorprize

Selain itu, di tengah industri telepon seluler yang semakin gencar, OPPO harus terus gencar melakukan inovasi dan positioning produk untuk memberikan segmentasi agar produk mereka memiliki “kekhasan” tersendiri. Mengapa? Karena ponsel dengan fitur umum hanya akan ditelan oleh nama besar Samsung, Iphone dan Blackberry di kancah industri ponsel Indonesia.

Where Am I?

You are currently browsing the Iseng category at I Think, I Read, I Write.

%d blogger menyukai ini: