Antara Istri, Sahabat dan Cacar Air

Satu minggu kemarin gue berkenalan dengan penyakit bernama Varicella Simplex. Keren kan nama penyakitnya?. Dalam Bahasa Indonesia, penyakit menular tersebut dikenal dengan cacar air. Yaelah keren banget penyakit lo!. 

Gue ga tahu apa hubungan antara cacar air dan cacar handika (itu caca). Ah bodo Amat. Pokoknya hidup gue menderita pas didiagnosa menderita sakit ini. Badan gue gatel, tenggorokan sakit, belom gajian. Kombinasi yang pas. Ditambah lagi gue harus makan-makan sendiri, cuci baju sendiri, tidur pun sendiri. Persis lagu si Cacar Handika itu.

Gue memang pelupa level kecamatan. Gue lupa kalo di Bandung ada seorang wanita yang siap menampung dan merawat gue selama sakit. Yes, dia adalah Sang Istri Tercinta… Kampret, sama bini aja lo bisa lupa. *Becanda yang*. Dan di tengah badan yang mulai dipenuhi oleh bentol bentol berisi oncom. Woi, itu cacar bukan comro. Gue pun menuju Bandung guna dirawat di sana. Dokter menyarankan gue untuk beristirahat selama paling tidak satu pekan.

Sebenernya gue ga enak harus ninggalin kantor dengan tugas yang menumpuk. Tapi bagaimana lagi. Daripada penyakit ini menular ke mereka yang belom pernah terjangkiti. Karena Virus Varicella-Zoster penyebab cacar air dapat menular melalui interaksi dengan penderita melalui sentuhan bahkan udara. Hal inilah yang dikhawatirkan akan terjadi kalo gue memaksa untuk masuk kantor.

Cacar air yang gue derita adalah warisan dari adik ipar gue yang terjangkiti virus tersebut sepekan sebelumnya. Gue yang awalnya sehat dan tidak menunjukkan gejala sakit apa pun, tiba tiba demam dan sukar menelan makanan apalagi saat gue nelen kulit duren. Saat bangun tidur, di tubuh gue banyak bintil-bintil. Terus kedua taring gue tumbuh lebih panjang dari biasa. Padahal gue ga ikutan casting sinetron ganteng-ganteng ngepet.

Setibanya di Bandung, gue langsung istirahat penuh. Semua obat yang diberikan oleh dokter langsung saja gue minum. Gue pake jaket dan tidur dengan lelap. Besok paginya, badan gue mandi keringat sebagai efek dari obat Asiklovir sebagai pembunuh virus yang juga bertindak sebagai antibiotik. Walau badan penuh keringat tapi istri gue bersikeras kalo penderita cacar air TIDAK DIPERBOLEHKAN MANDI. Itu berdasarkan pengalaman nyonya saat dia terkena cacar air zaman SMP dulu. Perilaku yang sama juga diterapkan ke adik ipar gue. Mandi hanya dianggap akan memperbanyak bintil di tubuh.

Oke, gue anak bawang. Gue ngikut aja petunjuk praktis dari sang istri daripada harus tidur di luar rumah.

Berbekal rasa penasaran yang tinggi, gue langsung berdiskusi dengan sohib SMA yang mengambil kuliah di jurusan kedokteran. Dalam kondisi seperti ini, gue merasa memiliki banyak teman adalah sebuah keberkahan tersendiri. Mempunyai sahabat dengan spektrum latar belakang yang sangat bervariasi memberikan kita sebuah akses dan kemudahan untuk mengatasai masalah-masalah yang tengah dihadapi. Contohnya saja pas gue tanyain tentang penyakit cacar ini, mereka memberikan masukan-masukan tersebut sangat bermanfaat. Ada yang menganjurkan gue harus mandi dengan air hangat dicampur dengan cairan ‘PK’ atau sabun antiseptik. Yang lain memberikan informasi bahwa ibu hamil yang belom pernah terkena cacar akan cukup rawan  ke janinnya jika berinteraksi langsung dengan penderita, hingga berkonsultasi masalah obat yang diberikan oleh dokter umum. Ada juga sih yang menyarankan gue mandi kembang tengah malam. #NowPlaying -Mandi Kembang (Cacar Handika)-.

Wait, Kenapa jadi Caca Handika lagi???

Well, coba lo bayangin. Kalo harus mendatangi dokter umum, paling tidak gue sudah harus membayar 150 ribu untuk konsultasi tersebut. Dan gue, menanyakan tiga orang dokter tanpa biaya sepeser pun. Ah, benarlah jika kita seharusnya memang harus memperpanjang tali silaturahim. Bukan sekali ini saja gue berkonsultasi masalah kesehatan dengan temen-temen dokter. Acapkali gue berkesempatan untuk bertanya-tanya masalah medis hingga jodoh. Ehhhh..

Bahagia jika kita bisa mempunyai sahabat dari ragam latar belakang mulai dari dokter, arsitek, polisi, analis, rampok (?). Dengan demikian kita bisa saling menunjang kebutuhan masing-masing.

Dan rasa syukur terbesar yang harus gue panjatkan selain kepada Allah dan Nabi Muhammad serta orang tua adalah keberadaan Istri Tercinta yang sangat penyabar (bukan buat dibaca oleh jomblo). Istri gue dengan sigap merawat gue mulai dari nyiapin makanan, bantuin nyari dokter kulit sampe milihin jilbab yang harus gue pake. KEBALIK WOI. EH iya!!

Di tengah kehamilannya yang enam bulan, ia masih begitu gesit merapihkan rumah dan merawat gue. I LOVE YOU HONEY. Terkadang dia juga tepar karena kelelahan. Istri shalihah bener-bener anugerah terindah yang dikaruniai Tuhan kepada kita. Masih lekat dalam ingatan gue gimana rasanya menjalani sakit di saat masih sendiri dulu. Di dalam kamar 3×4 m, gue menderita sakit gejala tipes. Ah, gue hanya bisa diam tergolek tanpa ada tenaga. ‘Mati juga ga bakalan ada yang tau’ piker gue dulu.

Mungkin salah satu keberkahan orang-orang yang sudah menikah adalah adanya perhatian dari suami/istri untuk merawat dan menjaga kita. Fase yang dulu saat kita kecil dapat diproleh dari kasih sayang ayah dan ibu yang mulai memudar saat kita tumbuh dewasa. Bukan kasih sayang ortu yang teralineasi namun wujud syukur kita sebagai seorang anak yang mulai menafikan cinta tersebut.

Saat gue menuliskan kisah ini, badan gue masih dipenuhi oleh ruam ruam merah yang cukup gatal. Tapi menurut dokter, penderita tidak boleh menggaruk ruam tersebut karena akan meninggalkan luka yang bisa terjangkiti infeksi sekunder. Luka tersebut tidak bisa hilang dan membekas di kulit kita. Sama seperti ingatan kalian tentang mantan…..tsahhh. Kayak gue pernah pacaran aja. Hih!.

Gue sebenernya kasihan kalo sampe ada harimau yang terkena cacar air. Kalo dibiarin gatel, digaruk bukan cuma cacar yang ilang tapi juga kulit beserta dagingnya.

Yang paling penting adalah jaga imunitas tubuh dengan banyak mengkonsumsi vitamin C dan jangan banyak beraktifitas. Saran gue, sebaiknya bagi mereka yang belum terkena cacar agar segera terjangkiti saja. Karena semakin bertambah usia biologis seseorang maka penyakit cacar ini akan semakin kompleks. FYI, Ustad Buya HAMKA juga terkena cacar air hingga menyebabkan banyak bekas di wajahnya.

Demikianlah ngalor ngidul gue tentang cacar air.

Disclaimer : Gambar di atas diambil dari web ini
Tapi itu gambar ‘pacar air’ bukan ‘cacar air’ (-__-)’

Penulis: andri0204

Pragmatis-oportunis. Menulis ya menulis saja. Sebuah ekspresi dari kecerdasan berpikir

2 thoughts on “Antara Istri, Sahabat dan Cacar Air”

  1. saran saya sih : bagi yang bujangan dan belum terjangkit cacar, segera lah menikah, supaya nanti ada yang ngurus saat sakit..
    bukan begitu kesimpulannya mas? hehehe😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s