Mushola Al-Muttaqien

April 20, 2012 § 2 Komentar

Sesaat gw mengamati aktifitas bapak-bapak di Mesjid kantor seusai sholat Jumat.  Selembar demi selembar uang dari kotak amal mereka rapihkan dan dihitung dengan teliti. Perlahan tapi pasti gw teringat akan suatu memori di saat seragam gw masih berwarna putih abu-abu, saat dimana gw masih begitu lugu.

Lebih dari enam tahun yang lalu, setiap hari jumat di setiap minggunya agenda rutin gw dan temen-temen rohis SMA N 3 Palembang adalah keliling ke setiap kelas sambil bawa-bawa tas kosong. Penuh keceriaan saat kami dengan muka yang innocent menghampiri satu per satu bangku temen-temen kelas 1, senior kelas 2 ataupun kelas 3. Keceriaan itu pun berubah menjadi kesedihan saat senior bilang “Dek, kamu yang nasyidan cu cu itu ya???” :D.

Selesai menjemput kebaikan dari warga sekolah, jatah peran berikutnya pasti langsung di ambil oleh sang bendahara, Gunawan Rahmadi. Jikalau anda sedang mencari gunawan pada hari jumat, cari saja dia di mushola Al-Muttaqien. Anda akan bertemu dengan sosok berkacamata dengan selotip, uang receh dan gunting. Satu per satu uang receh dikumpulkan terus diplester untuk menjadi uang seribuan. Sesekali nasyid mengiringi aktifitas uniknya tersebut.

Di sudut lain mushola terdengar bunyi gaduh yang sulit dikatakan merdu. Yah, itulah saat saat tim nasyid pujaan SMA N 3 Palembang, tim nasyid Islah sedang latihan. Sekedar info, dulu saat kalian mendapati Islah sedang latihan nasyid maka itu adalah latihan pertama mereka sebelum lomba keesokan harinya, hahaha. Sesekali dup ditabuh, disambung acapella yang kurang harmoni, ditambah lagi adu bas antara gun sang vokalis dengan rudi sang basis. Keadaan semakin buruk saat Wakil Ketua Rohis kita, aas suara duanya tidak pernah padu :P.

Dan di tengah latihan nasyid di dalam mushola muncullah suara “afwan akhi, ada akhwat yang lagi sholat”. Suara siapa itu? Allahu ‘alam. Yang jelas saat “alarm” tersebut bunyi kami harus dengan ikhlas pindah ke luar mushola.

Sepertinya ROHIS SMA 3 dulu (zaman gw) kehabisan stok anggota. Tim nasyid, pengurus, kepanitiiaan dijalanin sama orang-orang itu lagi. Jadi jangan heran saat sedang latihan lagi-lagi ada yang memanggil dari balik layar hijau dengan tinggi nyaris 2 meter tersebut. Rata-rata panggilan tersebut setiap harinya berbunyi “afwan, akhi edy nya ada?”. Dan itu pertanda tim kesekretariatan akan rapat.

Kalo dulu ada award, mungkin kesekretariatan dapet medali untuk kategori departemen yang paling sering syuro,hehe.

Lalu bagaimana cerita Ketua Rohis?

Yang paling gw inget, pertama kali peri dinobatkan jadi ketua rohis mukanya merah. Seminggu pertama peri berubah total, tidak lagi gw denger istilah-istilah aneh yang dia buat, jadi lebih pendiem. Mungkin shock jadi ketua rohis. Tapi lepas seminggu, Peri kembali seperti sediakala dan kami pun senang berhasil meracuni peri lagi,wakkakakka.

Sering ikhwan-akhwat syuro bersama. Tapi kami para ikhwan lebih mengenal syuro tersebut sebagai sebuah sosialiasi keputusan, haha. Jadi setiap syuro dengan akhwat kami percaya bahwa apa yang dibahas lebih berupa sosialisasi kepada ikhwan. Kami yang dulu belum mengerti kenapa seperti itu, merasa jengkel. Tapi bawa enjoy aja.

Sidang, istilah ini sudah jauh gw kenal sebelum sidang sarjana. Di ROHIS dulu sidang itu sebagai sebuah “hukuman”untuk kami yang sering bikin ulah. Dan pastinya, tanpa menyombongkan diri, gw salah satu yang paling sering disidang *nangis*.

Gw yakin kebaikan itu menular. Dan salah satu faktornya adalah keberadaan mushola Al-Muttaqien dengan ROHISnya. Fenomena hijrah seorang akhwat menjadi pengalaman yang rutin terjadi, terlebih setelah idul fitri.

Alhamdulillah, memang Janji Allah itu yang paling sempurna. Muhammad ayat 7 seperti menjadi jampi-jampi kami kala itu. “Barangsiapa yang menolong agama Allah maka Allah akan menolong mereka”. Dan gw yakin bukti keberadaan kami sekarang adalah wujud dari apa yang Allah janjikan.

Mushola Al-Muttaqien itu bagai rumah bagi kami. Setiap hari kami menghabiskan waktu di sana. Banyak kenangan yang lahir. Mushola itu adalah tempat kami melahirkan ide-ide untuk menjalankan roda kepengurusan ROHIS. Ia menjadi saksi bagaimana FESTIVAL KESENIAN ISLAM dapat berlangsung dengan sangat baik dan meriah. Ia juga yang menjadi tempat berteduh kala kami bergadang demi latihan drama. Tempat kami bercengkrama, bercanda, berdiskusi, tersenyum, terenyuh. Membaurkan semua rasa, semua asa, semua karya.

Dan yang paling penting Mushola ini laksana rumah yang mempertemukan gw kalian.

Terimakasih saudaraku untuk semua kisah yang pernah terukir manis di mushola Al-Muttaqien.

Tagged: , ,

§ 2 Responses to Mushola Al-Muttaqien

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Mushola Al-Muttaqien at I Think, I Read, I Write.

meta

%d blogger menyukai ini: