Rohis dan Ingatan Tentang Mas Gagah

Februari 5, 2016 § Tinggalkan komentar

Sumber : facebook

Musola Bersejarah

Suatu hari di sekitaran awal tahun 2000, kakak puan gue membawakan sebuah novel bersampul siluet seorang pria nampak punggung dan sosok wanita berkerudung. Gue tidak yakin merk kerudungnya tapi sepertinya termasuk kerudung yang halal untuk dipakai.

Mulanya gue tidak pernah tertarik membaca segala rupa buku yang tidak bergambar karena mengingatkan gue pada pelajaran sekolah. Bacaan favorit gue sejak SD adalah komik Dragon ball, Kungfu Komang, dan tentunya serba-serbi ciptaan Tatang S. Tapi entah kenapa, novel tersebut nampak memiliki daya magis yang mengundang sesiapa yang melihat sejurus kemudian tergerak untuk membacanya. Jika Einstein berkata bahwa jangan menyalahkan gravitasi untuk jatuh cinta maka gue juga bingung siapa yang harus gue salahin saat terbuai dalam kisah mengharu yang ditulis oleh Helvy tiana Rosa berjudul ‘Ketika Mas Gagah Pergi’.

Novel ini unik. Tulisan di dalamnya sungguh sublim. Kisah yang mengalir begitu saja tentang kakak beradik Gagah dan Gita yang membuat gue terbuai dalam sebuah dialog yang bergelayut di memori.

“Mas Gagah berubah” ujar Gita.

Penggalan kalimat yang masih terngiang. Hingga saat ini.

Di luar segala tema yang diangkat Mbak Helvy dalam novelnya, ‘Ketika Mas Gagah Pergi’ untuk seterusnya berhasil ‘meracuni’ gue untuk cinta membaca.

Dan kini. Setelah 20 tahun, yang diselingi oleh lanjutan novel ‘Ketika Mas Gagah Pergi dan Kembali’, akhirnya film Ketika Mas Gagah Pergi diputar di bioskop. Film yang didanai secara crowdfunding ini mengundang antusiasme penantian bertahun-tahun pembacanya. Mereka tergerak untuk melihat bagaimana visualisasi Gagah, Gita. Termasuk gue.

Sosok Mas Gagah sempat disinggung oleh penulisnya dalam buku ‘Bukan di Negeri Dongeng’. Menurut beliau Mas Gagah terinspirasi dari seorang Nasir Djamil, salah seorang anggota DPR dari fraksi partai tertentu. Entahlah bagaimana kebenaran kisah itu. Sama halnya dengan orang-orang yang penasaran apakah sosok Fahri Abdullah, tokoh protagonis utama yang dihadirkan oleh Kang Abik dalam Ayat-Ayat Cinta, benar-benar hidup dan ada.

Gagah adalah personifikasi dari sebuah keteladanan, kearifan, dan kesalihan. Sebuah produk transformasi hijrah anak muda yang tak lazim pada zamannya. Memang pada saat itu gue ga terlalu ngeh dengan semua alur yang diceritakan Mbak Helvy. Gue tidak paham tentang konflik Palestina, terminologi Ikhwan-akhwat, makna hijrah hingga transformasi diri. Namun apa yang dibuat dengan hati sentiasa menyentuh hati. Anggitan kisah Mas Gagah lah yang pertama kali mengenalkan gue betapa tidak diperkenankannya seorang pria menyentuh wanita yang bukan muhrimnya, bagaimana kondisi umat muslim saat ini, tentang jilbab. Ya. Mas Gagah lah yang berhasil membuka cakrawala berpikir para pembacanya tentang kemunduran umat. Tentang bagaimana seharusnya sosok seorang muslim itu. Jadi tidak heran jika banyak muslimah yang memutuskan mengenakan jilbab pasca membaca kisah Mas Gagah. Novel ini sungguh revolusioner.

Mas Gagah jua yang sebenarnya secara tidak langsung memperkenalkan gue dengan kerohanian islam di SMA. Semangat untuk mengenal islam lebih dalam mengantarkan gue untuk bergabung dengan rohis sekolah. Gue ingin mengenal apa yang dikenal oleh Mas Gagah hingga membuatnya bener-bener berubah. Gue kepingin tahu apa itu ikhwan, akhwat, kondisi umat islam di belahan dunia lain, mengapa harus berjilbab dan segala dinamika agama yang tidak gue dapatkan secara intensif di tempat lain. Dan jika mungkin, gue bisa bertemu dengan sosok Mas Gagah itu sendiri.

*****

Sekitar setahun lalu gue pernah menulis bahwa terminologi kebetulan sebenernya tidak ada karena daun yang jatuh ke bumi pun sudah ditulis di Lauhul Mahfudz. Bukan kebetulan jua manakala salah seorang ikhwah (baca : saudara) rohis SMA mengunggah salah sebuah foto mushola tempat kami dahulu pernah menjalin kemesraan dalam lingkaran ukhuwah.

Mushola tersebut nampak asri dengan warna putih bersih di setiap dindingnya. Jika tidak salah interiornya pun luar biasa bagusnya. Mushola ini didirikan dengan biaya udunan dari alumni dan sumber donasi lain. Lokasinya pun berpindah lebih ke bawah jika dibandingkan dengan mushola terdahulu.

Buat gue, mushola ini masih sama seperti dulu. Ada kenangan-kenangan manis yang tertinggal dengan menyisakan angin, pohon juga bumi sebagai saksi. Kami tidak bisa lagi menagih bukti pada setiap peninggalan fisik dari semen, dinding atau lantai yang dulu senantiasa kami duduki. Mereka sudah hancur bersamaan dengan relokasi. Tapi ingatan-ingatan tersebut tetap hidup.

Mushola ini menjadi saksi betapa keterbatasan tempat bukan halangan. Sehingga pengajian pekanan pun terus berjalan meskipun atap bocor sana-sini. Mushola ini menjadi saksi betapa di mana-mana wanita selalu benar. Setiap kali ada kericuhan di bilik ikhwan (pria) maka dari bilik wanita yang dibatasi oleh hijab cukup terdengar ‘ehem’ atau dengan sedikit sapaan ‘maaf akhi, ada yang sedang sholat’ maka kericuhan tersebut akan padam dengan sangat cepat. Berbicara soal hijab, salah seorang guru agama sempat memprotes keberadaan hijab yang ukurannya dianggap sangat tinggi. Beliau khawatir akhawat yang berada di balik hijab bermain petak umpet dan sejenisnya. Rasionalisasi kami mengapa diperlukan hijab tersebut tidak bisa beliau terima sehingga kami harus ikhlas hijab berubah menjadi pembatas kayu yang sangat rendah meskipun pada akhirnya dimensi hijab kembali seperti semula.

Mushola ini menjadi sejarah. Sejarah diselenggarakannya miniatur-miniatur musyawarah. Membahas urusan ummat dan dakwah. Mengatur ini itu persiapan festival kesenian islam pertama (dan terakhir?) di sepanjang kepenguruan rohis sekolah.

Mushola ini adalah bukti. Bukti pentingnya hijab sebagai pembatas diri setiap kali divisi kestari mengadakan syuro’. Divisi kesekretariatan adalah satu dari dua, satunya lagi bendahara, badan yang mengadakan rapat setiap harinya. “Afwan ada akhi Edy?” Begitulah sapaan mulia dari bilik akhwat yang bersiap untuk memulai rapat. Yang untuk seterusnya menjadi guyonan kami hingga saat ini.

Mushola ini mushola bernilai seni. Tak ubahnya studio rekaman atau dapur teater, aktifitas seni tak pernah mati. Setiap hari ada saja yang berlatih nasyid walaupun sumbang. Berlatih acapella meskipun lomba tak pernah menang. Malamnya disambung dengan latihan drama plus dubbing untuk mengisi acara penyambutan anggota rohis baru atau diminta oleh sekolah lain untuk menjadi tamu. Tentu saja kami tidak selalu berharap piala saat lomba, atau mendapat apresiasi saat menyajikan drama. Bagi kami berlatih nasyid bermuatan dakwah, menyajikan nilai-nilai islam dalam pentas sandiwara adalah sebuah tanggung jawab moral sebagai perwujudan semboyan ‘kami da’i sebelum segala sesuatunya’.

Mushola ini adalah cinta. Cinta di saat ada yang dihukum karena kesalahan bertindak. Cinta manakala suara ikhwan selama pemiihan ketua rohis hanya sebatas masukan sementara suara akhwat adalah mutlak kebenaran. Cinta dalam setiap lelah, letih, berpayah-payah menyiapkan pengajian, ta’lim, acara keagamaan untuk siswa satu sekolah. Cinta dalam setiap kerja keras dakwah dan kesolidan ikhwah. Cinta yang tumbuh dari benih-benih kesamaan visi, keterikatan hati, kedekatan fisik yang dipupuk oleh tarbiyah. Cinta di setiap friksi, uji, silang pendapat hingga debat tapi tak pernah dendam melekat. Cinta karena Allah pada setiap kalian.

Hari ini gue mencari kembali sosok Mas Gagah. Mas Gagah yang selalu ingin mewujudkan islam dalam kesehariannya. Mas Gagah yang ingin bermanfaat bagi sekitar. Yang menjadi da’i di atas segala sesuatu. Mas Gagah yang membawa pesan perubahan bagi keluarga hingga masyarakat.

Dan hari ini kutemukan Mas Gagah pada diri kalian. Pada sosok saudara-saudara seperjuangan yang terus menyalakan api kebaikan. Yang meneruskan cinta dari uswatun hasanah pada setiap insan nan terlihat mata walau kini nun jauh di sana.

Kutitipkan salam manis untuk kalian ikhwan dan akhwat fillah yang pernah menjalin cinta dalam kerohanian islam. Di manapun kalian berada gue yakin bahwa nilai-nilai Mas Gagah selalu ada dalam diri kalian semua.

Tabik!.

Iklan

Rohis Antara Tarbiyah dan Politik

April 6, 2014 § Tinggalkan komentar

Konstelasi politik yang semakin kental mendekati tanggal 9 April 2014 memberikan ruang bagi setiap kepala untuk menuangkan opini, kritik, pendapatnya tentang pilihan politik sebagai bagian dari kehidupan berdemokrasi. Perang opini di media sosial berkembang secara masif dengan mengelompokkan kubu-kubu yang saling beradu argumen antara partai A dan partai B. Tidak ketinggalan pula mereka yang memilih untuk menolak gagasan demokrasi dan menggunakan hak pilih untuk tidak memilih.

Rekam jejak politik praktis buat saya pribadi telah dipupuk sejak masa SMA. Walaupun saat itu saya tidak mengenal politik an sich.  Politik secara global mendekati saya melalui pintu pembinaan keislaman setiap pekan. Tarbiyah yang saya peroleh dari ekstrakurikluer Rohis memberikan pendekatan politik melalui pemahaman bagaimana seharusnya Islam menjadi rahmatan lil alamin dan menguasai setiap sendi kehidupan agar tercipta sebuah kehidupan yang madani.

Sejak pertama kali mengenakan seragam abu-abu, kakak puan saya yang jua merupakan alumni di sekolah yang sama, menyarankan agar saya memilih kerohanian islam (Rohis) sebagai pilihan kegiatan ekstrakurikuler siswa. Tanpa penolakan, saya seolah dengan ikhlas mengamini preferensi yang ia sarankan. Dan, Resmilah saya tergabung di organisasi Kerohanian Islam (Rohis) selama masa SMA. Organisasi yang membentuk karakter keislaman dan mencoba menghidupkan kembali nilai-nilai islami melalui para pengurus dan anggotanya.

Suatu hari di hari Ahad, Rohis mengadakan sebuah kegiatan yang biasa dikenal dengan Rihlah. Kegiatan hiburan yang berisi games lucu bersama para senior. Di sela acara, seorang pria dengan jenggot rapih mengguntai, senyum teduh menawan, tatapan tajam, dan aura ruhiyah yang terpancar mendatangi saya untuk mengajak berdiskusi renyah. Beliau memberikan penawaran untuk melakukan kajian islam. Penawaran yang sama juga ditujukan pada beberapa orang anggota rohis lainnya. Setelah bersepakat, ahad satu pekan setelahnya kami akan melakukan pengajian bersama beliau. Itulah saat pertama kali kami bersentuhan dengan tarbiyah.

Karena kesan pertama begitu menggoda, kami rutin menghadiri kajian pekanan tersebut. Mula-mula kami menyebutnya dengan ta’lim lalu bergeser menjadi halaqoh dan pada akhirnya kami lebih nyaman dengan liqoat atau ngajiPertemuan sekali sepekan memberikan wawasan tentang islam, ukhuwah islamiyah serta mengasah kembali sensitifitas kami terhadap kondisi umat islam saat ini. Perang pemikiran yang tidak bisa dihindari. Kami belajar kembali tentang akidah, sembari tetap memandang nanar terhadap realita umat.

Pertemuan setiap pekan selalu berhasil mengisi kembali ruhiyah kami yang kosong setelah satu pekan beraktifitas. Ada yang kurang saat kami absen atau bolos ngaji. Kondisi keimanan senantiasa drop karena kami menyadari bahwa iman itu yazid wa yankus.

Tidak jarang kami bermalam bersama (mabit), menghabiskan malam-malam dengan kesenduan saat tersimpuh doa di akhir solat malam. Pekatnya malam pecah oleh suara tangis kesyahduan saat sang imam melantunkan ayat dengan penuh kekhusyuan. Muhasabah selalu menjadi penutup akhir sholat. Air mata terasa mengering saat setiap renungan terucap. Dosa-dosa seolah terpampang hebat.

Kakak senior dengan ikhlas membimbing kami setiap pekannya.Untuk kemudian kami menyebutnya dengan murobbi sementara kami adalah mutarobbi. Kepedulian akan tegaknya kembali islam di bumi pertiwi yang mampu membakar semangatnya untuk menelurkan kader-kader yang kokoh secara fikrah dan jasad dari rahim tarbiyah. Karenanya ia tak pernah bosan untuk terus membina kami menjadi pribadi yang unggul.

“terlepas dari seperti apa pilihan hidup yang kalian ambil kelak, ingatlah bahwa kalian adalah dai sebelum segala sesuatunya. Sebarkanlah pesan-pesan kebaikan. Jadilah agen-agen perubahan”. Pesan yang terus membakar semangat berbuat kebajikan untuk kini dan selamanya.

Salah satu “doktrin” moral yang selalu diingatkan oleh murobbi adalah keteladanan selalu lebih baik daripada seribu nasihat. Jadilah teladan dalam setiap pilar kehidupan yang kita pilih. Di sekolah, berprestasilah hingga prestasi tersebut menjadi daya tarik bagi orang lain untuk menyadari bahwa muslim yang baik tidak melepaskan atribut dunia. Ia sholeh secara akhlak, ia juga bersinar dalam akal.

Kader-kader tarbiyah

Kader-kader tarbiyah

Menjadi santun dan memiliki attitude yang baik adalah buah dari tarbiyah yang menumbuhkan kami menjadi pribadi bersahaja.

Lalu tersiarlah anak-anak rohis dengan segudang prestasi. Hampir-hampir semua yang berprestasi secara akademik pernah tercelupi dengan syiar rohis sekolah. Lebih-lebih mereka yang terwarnai dengan tarbiyah. Mulai dari ketua rohis yang jago matematika, ketua divisi yang menokoh dan akhawat-akhawat yang memainkan peranannya di semua celah kebaikan.

Dan anak-anak rohis sukses besar dengan mengirimkan “agen” nya ke berbagai universitas negeri terbaik. Mereka tersebar mulai dari Jogja, Depok, Bandung, Bogor, hingga jurusan-jurusan favorit di kampus negeri lokal. Tolak ukur kecerdasan siswa dapat distandarkan dengan beberapa faktor. Selain melalui tes IQ dan angka-angka bisu yang tertuang pada buku raport, studi lanjutan siswa ke universitas favorit juga menjadi parameter yang sering didengungkan.

Prestasi mentereng tidak lantas membuat para pentolan rohis pongah.Kecerdasan dan segudang prestasi yang tersemat membuat kami menyadari bahwa keteladanan bukanlah imej yang dipaksakan. Keteladanan lahir dari ketulusan. Lalu kami mencoba mewariskan kebaikan dan segala motivasi kepada para junior di sekolah. Mengharapkan sebuah multi-level kebaikan laksana apa yang pernah murobbi kami pernah lakukan.

Sejak pertama kali kami berinteraksi dengan rohis hingga merasakan lezatnya hidangan tarbiyah, tak pernah sekalipun kami mengalami indoktrinasi dengan pilihan-pilihan politik. Selain pola pikir yang belum matang untuk meladeni domain tersebut, sang murobbi lebih menitikberatkan pada pentingnya Islam menguasai negara karena agama ini harus memenuhi semua sendi-sendi kehidupan. Agar tidak ada lagi umat yang dibantai seperti memori kelam ambon dan poso, palestina terbebas dari cengkraman zionis dan memutus mata rantai pemikiran islam nyeleneh yang akan menguasai pemerintahan.

Lambat laun, tanpa perlu dicekoki dengan berbagai hal tentang politik praktis dan segala pertimbangan baik dan buruknya, kami seolah tersadar dengan sendirinya bahwa Islam perlu menguasai parlemen. Referensi kami pun jatuh pada murobbi yang senantiasa membimbing kami. Yang memupuk dan menyinari jiwa dengan tausiyah dan segala taujih. Ia juga yang menautkan hati saya dan sodara seiman dalam ikatan ukhuwan. Ta’liful Qulub ujarnya.

“Kelak, kalian akan menemukan orang-orang yang tidak pernah kalian temui sebelumnya. Namun kecenderungan hati dan pancaran keimanan seolah menambatkan chemistry yang hadir tanpa perlu dikomandoi. Mereka adalah saudara-saudara yang akan selalu membantu dalam segala susah. Keluarga yang menempuh jalan yang sama yang kalian lalui. Sapalah mereka, senyumlah hingga pertemuan itu menjadi awal dari sebuah kejayaan”.

Saat kami menginjakkan kaki di kampus, benar apa yang diucapkan oleh Sang Murobbi. Begitu banyak orang-orang seperti apa yang beliau cirikan. Kehangatan, kesejukan berpadu menjadi elemen yang mampu membuat diri ini nyaman berlama-lama di dekat mereka. Dan ternyata mereka memiliki pandangan politik yang sama dengan murobbi semasa SMA.

Saya pun baru menyadari bahwa buah manis dari semua nilai islami yang saya peroleh semasa SMA dan kemudian berlanjut di bangku kuliah adalah kerja keras yang dilakukan oleh sebuah partai islam terbesar di Indonesia. Manusia-manusia di dalamnya sangat peduli terhadap generasi muda. Mereka membina kami dalam lingkaran-lingkaran ukhuwah sebagai upaya pembentukan karakter mulia dan mengeliminasi budaya permisif dari negeri adidaya.

pksOrang-orang dalam partai ini jua yang melahirkan sosok gagah nan soleh-solehah yang selalu mendidik kami menjadi manusia berguna. Kesantunan yang kami peroleh, prestasi yang kami raih adalah buah dari tarbiyah yang dengan rapih disusun oleh Partai Kita Semua.

Kini setelah bertahun-tahun saya menanggalkan seragam putih abu-abu, semangat memenangkan partai ini semakin menggelora. Kami ingin negeri ini terwarnai oleh semua kebaikan, panutan, kebaikan, kesolehan yang kami rasakan. Meskipun kami sadari fitnah dan caci datang silih berganti. Dan kami pahami bahwa mencemplungkan diri ke dalam politik adalah pilihan untuk mencelupkan tubuh ke dalam noda. Namun seberapa cepat kita bisa membersihkan diri dan lalu mengganti noda dengan cinta melalui kerja dalam harmoni menjadi kuncinya.

Setelah bertahun-tahun pula, mereka yang berprestasi tetap bertahan dengan gigih di jalan dawah ini. Alih-alih mundur teratur, beberapa orang teman SMA yang dulu terlihat gugu kini memilih langkah untuk bersatu dalam memenangkan islam di parlemen. Bahkan mereka kini memberikan dukungan tidak sendirian tapi berdua, bertiga bahkan berempat bersama pasangan dan jundi jundi yang berbicara pun masih tertatih.

Semoga kita menyadari bahwa tidak tegak islam tanpa sebuah negara dan tak tegak negara tanpa kepemimpinan. Saya mantap dengan pilihan untuk Partai Kita Semua pada Pemilu 2014. Salam 3 B3sar.

Sumber Foto :

Foto PKS dari sini
Foto Kader Tarbiyah dari koleksi pribadi 

Ramadhan Bersama Kalian

Juli 10, 2013 § Tinggalkan komentar

ukhuwahIndahnya ramadhan terukir jelas dari guratan wajahku ketika membersamai para sahabat seiman dalam ukhuwah yang terjalin kala berseragam abu-abu.

Kompetisi iman sungguh terasa. Fastabiqul khairat, ujar kalian. Bahkan lembaran juz al-quran yang tengah kau baca, sengaja ditutup-tutupi agar kami tidak bisa mengukur sudah berapa juz tilawahmu. Belum lagi ibadah-ibadah tersembunyi yang engkau lakukan. Bahkan mungkin semut pun tak tahu. Kisah itu hanyalah sepenggal dari ribuan ragam cerita ramadhan kita.

Aku terbayang bagaimana kompetisi kebaikan Umar R.A dengan sahabat terbaik sekaligus mertua rasululluah SAW, Abu Bakar As Siddiq. Suatu ketika, beberapa waktu setelah rasul wafat. Umar bertekad melanjutkan kebaikan rasul kepada orang-orang dhuafa. Engkau wahai Al Faruq, berusaha memikul gandum untuk kau bawakan kepada si fakir. Berharap engkaulah, hamba yang bisa meneruskan apa yang nabi telah mulai. Tapi apa daya, betapa tertegunnya dirimu, ketika engkau menyaksikan bahwa engkau kalah cepat. Seseorang sudah mendahului engkau wahai Umar. Seseorang yang tidaklah segagah engkau, namun memiliki keimanan yang menggetarkan angkasa.

Dengan kesahajaan, ia memangkul gandum dan membagikannya kepada para fakir. Iya Umar, itu adalah sahabatmu, sahabat terkasihmu, Abu bakar. Ia selalu selangkah mendahului engkau. Betapa manisnya ukhuwah yang kalian ciptakan. Mengharu biru hingga langit tak menyangsikan.

Aku mengingat kembali kenangan kisah ukhuwah terindah kita, sahabat. Mushola Al Muttaqin menjadi saksi di saat pundak bersentuhan rapat. Berharap aku adalah abu bakar, dan engkau adalah umar. Tapi kau tak mau kalah. Kau berucap engkaulah zaid bin tsabit, sementara aku adalah “tokichi” .

Tak luput, saat kita saling mendahulukan satu sama lain untuk menjadi imam. Bukan karena fastabiqol khairat, tapi cenderung karena keengganan kita pda waktu itu. Lalu kalian berkata “ayo akhi, latihan jadi imam, seblum menjadi imam keluarga”. Kala itu kita berkata sambil tertawa, bercanda tak terkira, tanpa terasa salah satu dari kita sudah menjadikannya sebagai sebuah kisah nyata.

Ramadhan adalah masa di kala kita beraksi. Bukan unjuk gigi dalam demo anarki. Kita memilih seni sebagai aktualisasi diri.

Masih segar terlintas, betapa fragmen kelam sesaat aku melantunkan “cucucucu” yang merdu. Yang menggemparkan satu sekolah. “Eh adek cucucucu” kata salah seorang senior. Kisah tak terlupa, hingga kelak anak-anak kita mampu bercerita.

Ramadhan adalah segala tentang perbaikan. Satu, dua, tiga, dan terus bertambah. Bukan dalam kelipatan biasa. Perlahan tapi pasti sekolah kita menjadi lautan hijrah. Banyak yang berubah. Mengenakan pakaian terindah sebagai perhiasan terbaik dunia. Di saat itu kita serentak berucap hamdalah. Apalagi ketika ia, sang primadona sekolah, mengenakan hijab rapih :D.

Lautan hijrah, tak usah bertanya siapa yang menjadi pelopor. Cukup kita saksikan bagaimana akhwat-akhwat tangguh yang tak kenal lelah, berjuang di tengah pandangan sinis tentang jilbab yang mengguntai, yang lebar. Bahkan kami pun mengira kalian adalah “ninja” yang bisa berpindah dalam sekejap kemanapun kalian suka. Tapi itu bukan ekspresi benci. Hanyalah media pelebur agar tak kaku dalam berinteraksi.

Kalian akhwat, adalah makhluk yang lebih terjaga. Dan kalian tak kalah, melabeli kami dengan ikhwan sepotong. Tapi itu bukan caci, kami anggap sebagai pengingat diri.

Ini bukan tentang aku, bukan tentang kamu, ini tentang kita. Tentang indahnya ukhuwah yang kita rajut.

Masih ingatkah engkau, saat kita masih begitu lucu dan lugu. Mendatangi masjid terbesar kota, menghadiri tabligh Akbar Aa Gym. Riuh suasananya, gegap gempita dada ketika bersama kita bertakbir. Ini bukan sekedar kebahagiaan biasa, bukanlah bias semata bak orang yang menyaksikan konser ataupun menonton pertandingan bola.

Mabit kita di masjid al aqobah, akhi. Tak terlupa jua kisah mabit dengan Murobbi tercinta. Murobbi kita, apa kabar ia? Semoga semua kebaikan tercurah untuk beliau. Tak terkira bagaimana hidayah tersampai oleh sang Murobbi terhebat. Ukhuwah ini, beliau perantaranya. Perantara semua keindahan dalam dekapan ukhuwah di jalan cinta para pejuang. Membungkus semua kebaikan, menafikan semua keburukan, menyatu dalam harmoni keikhlasan.

Setiap Ramadhan, aku berkontemplasi. Berhegemoni dalam kisah yang lalu. Lawas tapi tak mudah terlepas. Ia selalu menggelayuti neuron. Cerita ramadhan di SMA adalah masa tak terlupa. Saat kita bersatu padu membantu menyukseskan pesantren ramadhan. Mengisi mentoring di setiap kelas. Multi level marketing pahala. Konsep yang kini masih kita pegang dengan erat.

Mungkin engkau lupa, Muhammad ayat 7 “Barangsiapa yang menolong agama Allah, maka Allah akan menolongmu. Dan Dia akan meneguhkan kedudukanmu.”

Ayat ini adalah senjata kita. Bahwa tidak ada yang sia-sia. Setiap peluh yang menetes, setiap air mata yang mengalir, setiap jerih yang tertatih, semua terhitung. Dan Allah sebaik-baik pembalas kebaikan.

Ukhuwah itu indah dilihat manis dirasa. Ia dibangun atas pondasi keimanan. Ingin kembali menyambut ramadhan bersama kalian, ikhwah fillah. Sing teman sejatinya Brothers.

Ramadhan dari Masa ke Masa

Juli 22, 2012 § Tinggalkan komentar

Alhamdulillah, lidah ini kembali bersyukur. Ramadhan kembali hadir dengan segenap paket pahala dan gelombang ampunan. Segala puji hanya bagi Allah SWT, Ilah seluruh alam yang menjadikan ramadhan sebagai bulan spesial, bulan penuh keberkahan. Bahkan tidurnya pun bernilai pahala.

Setiap orang menjumpai ramadhan dengan jumlah yang berbeda. Ada si kecil yang mungkin berjumpa untuk pertama kalinya. Ditemani ayah dan bunda yang setia melantunkan kalamullah. Ada juga yang sudah bertemu ramadhan berpuluh-puluh kali jumlahnya. Tidak ketinggalan pasangan baru yang merasakan bagaimana ramadhan menjadi manifestasi dalam menyempurnakan agama. Di saat masa lajang banyak amalan yang tidak utuh karena diri yang masih lusuh.

Gue pribadi baru 23 kali bertemu dengan Ramadhan. Tahun-tahun pertama hidup gue masih skip ibadah puasa. Gila aja kalo misalnya pas usia 8 bulan, emak gue sibuk ngebangunin buat sahur bareng.

Gue baru mulai puasa kira-kira usia 5 tahun. Itu pun masih banyak yang bolong, yah itung-itung belajar. Dari 23 kali pertemuan gue dengan ramadhan, ada beberapa fase yang spesifik, yang hanya bisa ditemuin di masa-masa itu. Ga akan terulang untuk kedua kalinya. Mari disimak, jamaah oo jamaah #kemudianhening

1. Bawah Lima Tahun

Ada yang pernah sadar dan inget gimana aktifitas ramadhan para balita?. Gue sih lupa. Mungkin yang cewe-cewenya udah belajar nyiapin menu berbuka sambil ngemut botol susu? Atau yang cowo-cowonya sudh ngasih kajian mentoring sambil maen robot-robotan? haha,.. gue rasa sebagian besar dari kita lupa akan aktifitas selama bulan ramadhan di tahap ini.

Dari usia 1hari-lima tahun, kita hanya bisa menyaksikan bagaimana orang-orang dewasa menghabiskan waktunya tanpa makan dan minum. Di saat kita asyik menikmati makan siang, ayah dan ibu sibuk hanya bisa melihat kita menghabiskan makanan tersebut sambil sesekali menelan ludah. Suasana rumah penuh dengan lantunan ayat suci Al-quran. Dan kita hanya bisa bengong dengan mulut menganga. Ada apa dengan bulan ini??

Masa-masa ini adalah masa kita terbebas dari kewajiban berpuasa. Entah ya kalo sudah ada yang baligh sebelum lima tahun. Jadi, gue simpulin kalo balita itu saat-saat paling monoton dalam menjumpai bulan ramadhan. Kurang dinamis dan seru. Namanya juga balita :).

2. Masa anak-anak

Saat ngomongin masa anak-anak, yang hadir pertama kali dalam pikiran gue adalah rebutan minta tandatangan imam taraweh. What a mess. Usai solat tarawih (Tawarih kata Upin), anak-anak di mesjid siap dengan kuda-kuda dan berlari ke arah imam. Buku pesantren ramadhan ditumpuk dan dengan sabar bapak imam memberikan tandatangannya. Pikirnya lumayan, berasa jadi justin bieber sehari.

Buat anak-anak yang cerdas dan berbakat koruptor. Masalah tanda tangan di buku ramadhan bukanlah hal yang sulit. Toh, buku ceramah dijual banyak di pasar. Dan untuk tandatangan, helllooo… siapa yang mau meriksa dan memverifikasi tandatangan yang tertera di buku ramadhan, asli dan resmi kepunyaan pak imam. Kecuali ada panitia khusus untuk itu.

Pesen gue, anak kecil jangan dibiasakan melakukan perbuatan ini. Karena kalo dari kecil terbiasa dengan berbuat curang, gedenya bisa bisa korupsi dana pengadaan Al-Quran. 

Sehabis taraweh, pasti ada acara kumpul-kumpul nyiapin petasan. Mulai dari percon yang bunyinya kecil sampe yang besar hingga 10 db (baca : desibel) pun disiapin. Siapin juga kuping buat denger jeritan Pak-RT atau tetangga yang rumahnya jadi sasaran bunyi percon. Saat sumpah serapah sudah keluar beserta binatang-binatang, itu pertanda kalian harus kabur naek pesawat ulang alik nyusul Yuri Gagarin ngelilingi bulan, sebelum sendal, panci, parang melayang.

Kabur naek ini

Kabur naek ini

Periode anak-anak terkadang membuat orang dewasa malu dalam menyambut ramadhan. Imagine, those little maggot could wake up from their slumber faster than a man. Di saat orang dewasa masih terlelap, mereka sudah bersiap dengan kentongan, galon, beduk untuk keliling kampung demi ngebangunin kita-kita yang masih tidur.

Sahur….sahur, jentak jentak jentak. Sahur…sahur, jentak jentak jentak. Kira-kira seperti itulah iramanya. Tapi itu dulu, sebelum mereka mengenal boyband. Mungkin saat ini, melodinya sudah ganti. Sahur…. o o o o o, sahur..na na na na. Plus backsound sambil jingkrak jingkrak. Dan pastinya itu akan sangat mengganggu. *untung ga pake tarik-tarik baju*.

Gini nih yang bakal bangunin sahur

Gini nih yang bakal bangunin sahur

3. Teenager, please!

Ahh, masa remaja. Gue batesin dari SMP-SMA. Salah satu periode terheboh dalam menyambut ramadhan. Masa SMA tentunya yang paling berkesan buat gue pribadi karena gue mulai tergabung dalam kepanitiaan penyambutan ramadhan mulai dari latihan nasyid buat tampil di pesantren kilat hingga berlomba-lomba dalam kebaikan bersama saudara seiman. Pokoknya masa SMA itu menjadi titik dimana banyak awal dari kebaikan dalam menyambut ramadhan, terjadi. What about you?

Selama SMA, Menjadi pengisi acara lewat lantunan nasyid itu sebuah tantangan. Tampil di hadapan ratusan siswa dari kelas 1-3 bisa saja membuat lo mendadak terkenal. Dan itu yang gue alami. Tapi ironinya, gue terkenal bukan karena bagusnya performa tim nasyid kami, melainkan aksi lucu dan memalukan. Yakni aksi dimana suara microfon acapellist jauh lebih terdengar daripada suara vokalis itu sendiri sehingga yang terdengar seantero lapangan pesantren ramadhan tersebut hanyalah bunyi “cu, cu, cu, cu, cu, cu”. Luckily pelaku acapellist tersebut adalah gue. #Oksip #LoncatdariPetronasTower.

Loncat dari sini

Loncat dari sini

Yang pernah terlibat dalam aktifitas rohis selama masa SMA pasti pernah menjadi pengisi materi mentoring. Pengalaman ini sungguh luar biasa. Mentoring adalah wahana dimana lo dilatih buat berbicara di depan orang banyak. Dibutuhkan kepercayaan diri dan kapasitas pribadi untuk mengisi mentoring. Jadi jangan pandang sebelah mata para mentor-mentor di SMA. It’s not easy guys, and they do that voluntarily.

Rasa persahabatan begitu kental saat jadi panitia penyambutan ramadhan di sekolah. Mulai dari nyiapin acara, buka bareng, sahur bareng, ikut kajian bareng, and every single moment those can not be terminated forever. Jadi saran gue buat adik-adik di sekolah menengah atas, gabung ROHIS deh. Biar hidup lo lebih hidup. Inget pesen kakak *benerin peci*

Tapi inget, jadi panitia penyambutan ramadhan jangan terlalu bersemangat. Gue punya cerita. Suatu ketika temen gue, sebut saja Agus, diminta menjemput dan mengantar pulang ustad selaku pengisi acara. Selesai mengisi kajian, ustad tersebut bersiap pulang dibonceng Agus. Belum sempet ustad naek motor, sang temen udah melaju dengan kencangnya.

Aku duluan Pak Ustad

Aku duluan Pak Ustad

Gue rasa dia udah denger bunyi pistol dari lintasan, jadi dia melaju aja, takut didahului sama Valentino Rossi dan Dani Pedrosa.

Dan saat itu ustad, berjamaah dengan kami, hanya bisa melongo mencium bau asap dari knalpotnya, menunggu ia sadar kalo bangku belakang masih kosong.

4. Bangku kuliah

It’s time to explore Ramadhan in Campus. Banyak hal yang berbeda menghadapi ramadhan di kampus terutama bagi anak kos. Mungkin sebagian besar mahasiswa adalah perantau yang menghadapi ramadhan tanpa orang tua dan keluarga. Di saat seperti ini, kata “keluarga” mengalami ameliorasi. Tempat dimana kita merasa nyaman di dalamnya menjadi makna dari “keluarga“. Dan itu berarti, temen kosan lo, temen kampus lo, ibu kos, anak dari tetangganya ibu kos bisa menjadi keluarga.

Bagi anak kos, Ramadhan di kampus yang jaraknya bermil mil dari kampung halaman sungguh suatu pengalaman baru dan berbeda. Ini yang gue alami selama lima tahun menempuh pendidikan di Bandung. Ga usah ngarep pas bangun jam 3 pagi, nasi udah ada di atas meja beserta lauk-lauknya. Yang ada, lo harus keluar di suasana pagi yang dingin (apalagi kalo tinggal di bandung), nyari makan dengan kondisi setengah sadar. Yah, mirip-mirip walking dead, cuma lebih gantengan dikit. Penderitaan lo bertambah, saat warung makan di sebelah kosan ternyata tutup karena ada demo buruh keesokan harinya.

Warung deket kosan lagi demo buruh

Warung deket kosan lagi demo buruh

Itulah mengapa, lo harus baik dengan ibu/bapak kos karena kita ga tau rejeki dateng darimana. Siapa tau mereka lagi baik dan bisa ngasih makan sahur gratis. Ya paling disuruh nyuci piring sama bersihin lantai pake sikat gigi pagi-paginya.

Pas waktu berbuka, ga ada kolak atau variasi makanan di meja makan yang bisa dicicip satu per satu. Yang ada lo harus beli ke warung di saat energi tersisa 5%, Bahkan untuk bernapas aja butuh oksigen dalam tabung *toettt* *lebay*. Buat yang menerapkan prinsip ekonomi, Mesjid adalah solusi. Mesjid tidak lagi sekedar tempat beribadah, tapi menjadi elemen penting kesempurnaan puasa. Karena di mesjid lah, lo bisa dapet tajilan dan GRATIS. Walo ga sebanyak apa yang bisa didapetin di rumah, minimal ga ujug-ujug masukin nasi padang ke perut.

Temen gue, pernah menjadi tajil traveler. Keliling ke berbagai mesjid demi berburu tajil. Untungnya dia ga sempet bikin buku untuk mereview menu di mesjid-mesjid tersebut. Yang jelas, tajilan di mesjid bakal menghemat keuangan lo sebagai mahasiswa. Neraca keuangan ga bakal kritis-kritis amat pas bulan puasa.

Menjalani puasa sebagai mahasiswa sebenernya membuat kantong lebih tekor daripada hari biasa. Kondisi ini bertolak belakang dengan teori. Semestinya bulan puasa itu bisa menghemat karena kita tidak perlu sarapan dan makan siang. Artinya makan cuma dua kali sehari. Tajilan pun bisa didapat cuma-cuma di mesjid. Tapi kenyataannya, keuangan lebih seret di akhir ramadhan.

Keadaan ini terjadi karena menu buka puasa biasanya lebih heboh daripada bulan-bulan laen. Misalnya aja, hari senen lo buka puasa di Sushitei bareng temen kuliah. Selasa buka puasa di pizza hut sama temen ngaji. Rabu, buka puasa di Hanamasa dengan temen-temen himpunan. Kamis, icip-icip d’Cost ngajakin anak-anak Lab, dan Jumat heboh-hebohan di Racha. Coba diitung, berapa duit abis kalo buka puasanya kyk gitu. Pada akhirnya, Sabtu dan minggu lo cuma makan mie sama air putih, itu pun mienya ngutang dulu ke warung.

Makanan pas weekend ramadhan

Makanan pas weekend ramadhan

Dan, Solusinya adalah : Ga usah punya banyak temen di kampus, Jadi ga akan diajakin buka puasa di tempat-tempat yang mahal. Lo juga bisa puas menjelajah ke mesjid-mesjid terdekat…hahaha *becanda gue*.

5. After Campus

Sengaja gue kasih subjudul after campus. Gue pengen unifikasi ramadhan setelah kuliah menjadi jadi satu di sini. After campus bisa berarti cerita ramadhan buat mereka yang udah kerja, yang udah nikah, atau yang sedang mencari kerja tapi sudah ga di kampus.

Loh, cerita ramadhan buat yang udah nikah kan ga mesti setelah lulus kuliah? banyak kok yang masih kuliah tapi udah nikah dan mereka menjumpai ramadhan bersama-sama! dan gue cuma bisa bilang “Terus, gue mesti bilang wow gitu?”

Berhubung gue belom nikah, dan sekarang status gue masih kerja sambil bersiap ke arah sana, gue tidak bisa mengakomodir buat request yang di atas.

Ramadhan after campus gimana ya rasanya? Kalo gue sih, tahun ini adalah tahun perdana bertemu ramadhan setelah melepas status mahasiswa. Puasa pertama di ibu kota. Yang jelas panas dan ga seseru saat berada di kampus.

Ramadhan buat yang udah kerja pasti membosankan. Apalagi transisi dari status mahasiswa menjadi karyawan. Ga ada yang namanya kepanitiaan  ramadhan. Yang ada cuma kerja dari jam sekian sampe jam sekian. Ga fleksibel. Aneh aja jika di tengah jam kerja lo interupsi ke bos.

interupsi paling efektif

interupsi paling efektif

Maaf pak, saya ada rapat kepanitiaan ramadhan, saya jadi panitia buat mukulin bedug adzan maghrib“.

Yah paling abis rapat di atas meja lo akan menemukan sepucuk surat dengan judul “Surat Peringatan Pertama”, hahaha.

Pulang kerja maksimal bisa buka bersama dengan rekanan. Waktu pun terbatas mengingat besok pagi lo harus kembali kerja. Ga bisa nitip absen men. Bisa sih kalo lo insist buat bolos tapi pasti gaji lo bakal dipotong. Beda sama waktu kuliah, mau lo buka bareng sampe ketemu sahur ga bakalan masalah. Atau lo sahur sampe ketemu buka puasa juga ga masalah. Kan lo punya jatah 20% bolos, jadi manfaatkan itu baik-baik. Terlebih kalo punya dosen yang ga peduli mahasiswanya masuk atau ga, yang penting bisa ngerjain ujian. #BerkahRamadhan.

Lantas, gimana rasanya buat penganten baru. Yang bertemu ramadhan untuk pertama kalinya bersama dengan pelengkap separuh agama?

Gue sih ga tau gimana rasanya, karena jodoh belum bersahabat #nangis di pojokan. Tapi kalo yang gue amati, menjalani shaum berdua itu jauh lebih seru daripada sendirian. Bayangin aja, pas buka puasa, lo nyari tajil bareng istri. Lari-larian dari kosan ke mesjid, rebut-rebutan tajil. Sampe salah satu nangis.. “buset, ini suami istri atau bocah umur lima tahun“.

Berangkat taraweh bareng, tilawah saling menyimak, murojaah hapalan, Qiyamul lail berjamaah, dan sahur pun ada yang menemani. Keindahan yang hanya bisa diperoleh saat lo udah menikah. Jadi, tunggu apa lagi? hehe, ngingetin diri sendiri.

Itulah Ramadhan dari masa ke masa menurut primbon gw. Yaelah, zaman gini masih percaya primbon. Karena setiap tahap itu identik, jadi jangan sia-siakan ramadhan kita. Ga ada jaminan tahun depan ketemu ramadhan lagi, so be wise :).

Mushola Al-Muttaqien

April 20, 2012 § 2 Komentar

Sesaat gw mengamati aktifitas bapak-bapak di Mesjid kantor seusai sholat Jumat.  Selembar demi selembar uang dari kotak amal mereka rapihkan dan dihitung dengan teliti. Perlahan tapi pasti gw teringat akan suatu memori di saat seragam gw masih berwarna putih abu-abu, saat dimana gw masih begitu lugu.

Lebih dari enam tahun yang lalu, setiap hari jumat di setiap minggunya agenda rutin gw dan temen-temen rohis SMA N 3 Palembang adalah keliling ke setiap kelas sambil bawa-bawa tas kosong. Penuh keceriaan saat kami dengan muka yang innocent menghampiri satu per satu bangku temen-temen kelas 1, senior kelas 2 ataupun kelas 3. Keceriaan itu pun berubah menjadi kesedihan saat senior bilang “Dek, kamu yang nasyidan cu cu itu ya???” :D.

Selesai menjemput kebaikan dari warga sekolah, jatah peran berikutnya pasti langsung di ambil oleh sang bendahara, Gunawan Rahmadi. Jikalau anda sedang mencari gunawan pada hari jumat, cari saja dia di mushola Al-Muttaqien. Anda akan bertemu dengan sosok berkacamata dengan selotip, uang receh dan gunting. Satu per satu uang receh dikumpulkan terus diplester untuk menjadi uang seribuan. Sesekali nasyid mengiringi aktifitas uniknya tersebut.

Di sudut lain mushola terdengar bunyi gaduh yang sulit dikatakan merdu. Yah, itulah saat saat tim nasyid pujaan SMA N 3 Palembang, tim nasyid Islah sedang latihan. Sekedar info, dulu saat kalian mendapati Islah sedang latihan nasyid maka itu adalah latihan pertama mereka sebelum lomba keesokan harinya, hahaha. Sesekali dup ditabuh, disambung acapella yang kurang harmoni, ditambah lagi adu bas antara gun sang vokalis dengan rudi sang basis. Keadaan semakin buruk saat Wakil Ketua Rohis kita, aas suara duanya tidak pernah padu :P.

Dan di tengah latihan nasyid di dalam mushola muncullah suara “afwan akhi, ada akhwat yang lagi sholat”. Suara siapa itu? Allahu ‘alam. Yang jelas saat “alarm” tersebut bunyi kami harus dengan ikhlas pindah ke luar mushola.

Sepertinya ROHIS SMA 3 dulu (zaman gw) kehabisan stok anggota. Tim nasyid, pengurus, kepanitiiaan dijalanin sama orang-orang itu lagi. Jadi jangan heran saat sedang latihan lagi-lagi ada yang memanggil dari balik layar hijau dengan tinggi nyaris 2 meter tersebut. Rata-rata panggilan tersebut setiap harinya berbunyi “afwan, akhi edy nya ada?”. Dan itu pertanda tim kesekretariatan akan rapat.

Kalo dulu ada award, mungkin kesekretariatan dapet medali untuk kategori departemen yang paling sering syuro,hehe.

Lalu bagaimana cerita Ketua Rohis?

Yang paling gw inget, pertama kali peri dinobatkan jadi ketua rohis mukanya merah. Seminggu pertama peri berubah total, tidak lagi gw denger istilah-istilah aneh yang dia buat, jadi lebih pendiem. Mungkin shock jadi ketua rohis. Tapi lepas seminggu, Peri kembali seperti sediakala dan kami pun senang berhasil meracuni peri lagi,wakkakakka.

Sering ikhwan-akhwat syuro bersama. Tapi kami para ikhwan lebih mengenal syuro tersebut sebagai sebuah sosialiasi keputusan, haha. Jadi setiap syuro dengan akhwat kami percaya bahwa apa yang dibahas lebih berupa sosialisasi kepada ikhwan. Kami yang dulu belum mengerti kenapa seperti itu, merasa jengkel. Tapi bawa enjoy aja.

Sidang, istilah ini sudah jauh gw kenal sebelum sidang sarjana. Di ROHIS dulu sidang itu sebagai sebuah “hukuman”untuk kami yang sering bikin ulah. Dan pastinya, tanpa menyombongkan diri, gw salah satu yang paling sering disidang *nangis*.

Gw yakin kebaikan itu menular. Dan salah satu faktornya adalah keberadaan mushola Al-Muttaqien dengan ROHISnya. Fenomena hijrah seorang akhwat menjadi pengalaman yang rutin terjadi, terlebih setelah idul fitri.

Alhamdulillah, memang Janji Allah itu yang paling sempurna. Muhammad ayat 7 seperti menjadi jampi-jampi kami kala itu. “Barangsiapa yang menolong agama Allah maka Allah akan menolong mereka”. Dan gw yakin bukti keberadaan kami sekarang adalah wujud dari apa yang Allah janjikan.

Mushola Al-Muttaqien itu bagai rumah bagi kami. Setiap hari kami menghabiskan waktu di sana. Banyak kenangan yang lahir. Mushola itu adalah tempat kami melahirkan ide-ide untuk menjalankan roda kepengurusan ROHIS. Ia menjadi saksi bagaimana FESTIVAL KESENIAN ISLAM dapat berlangsung dengan sangat baik dan meriah. Ia juga yang menjadi tempat berteduh kala kami bergadang demi latihan drama. Tempat kami bercengkrama, bercanda, berdiskusi, tersenyum, terenyuh. Membaurkan semua rasa, semua asa, semua karya.

Dan yang paling penting Mushola ini laksana rumah yang mempertemukan gw kalian.

Terimakasih saudaraku untuk semua kisah yang pernah terukir manis di mushola Al-Muttaqien.

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with ROHIS at I Think, I Read, I Write.

%d blogger menyukai ini: