Rohis dan Ingatan Tentang Mas Gagah

Februari 5, 2016 § Tinggalkan komentar

Sumber : facebook

Musola Bersejarah

Suatu hari di sekitaran awal tahun 2000, kakak puan gue membawakan sebuah novel bersampul siluet seorang pria nampak punggung dan sosok wanita berkerudung. Gue tidak yakin merk kerudungnya tapi sepertinya termasuk kerudung yang halal untuk dipakai.

Mulanya gue tidak pernah tertarik membaca segala rupa buku yang tidak bergambar karena mengingatkan gue pada pelajaran sekolah. Bacaan favorit gue sejak SD adalah komik Dragon ball, Kungfu Komang, dan tentunya serba-serbi ciptaan Tatang S. Tapi entah kenapa, novel tersebut nampak memiliki daya magis yang mengundang sesiapa yang melihat sejurus kemudian tergerak untuk membacanya. Jika Einstein berkata bahwa jangan menyalahkan gravitasi untuk jatuh cinta maka gue juga bingung siapa yang harus gue salahin saat terbuai dalam kisah mengharu yang ditulis oleh Helvy tiana Rosa berjudul ‘Ketika Mas Gagah Pergi’.

Novel ini unik. Tulisan di dalamnya sungguh sublim. Kisah yang mengalir begitu saja tentang kakak beradik Gagah dan Gita yang membuat gue terbuai dalam sebuah dialog yang bergelayut di memori.

“Mas Gagah berubah” ujar Gita.

Penggalan kalimat yang masih terngiang. Hingga saat ini.

Di luar segala tema yang diangkat Mbak Helvy dalam novelnya, ‘Ketika Mas Gagah Pergi’ untuk seterusnya berhasil ‘meracuni’ gue untuk cinta membaca.

Dan kini. Setelah 20 tahun, yang diselingi oleh lanjutan novel ‘Ketika Mas Gagah Pergi dan Kembali’, akhirnya film Ketika Mas Gagah Pergi diputar di bioskop. Film yang didanai secara crowdfunding ini mengundang antusiasme penantian bertahun-tahun pembacanya. Mereka tergerak untuk melihat bagaimana visualisasi Gagah, Gita. Termasuk gue.

Sosok Mas Gagah sempat disinggung oleh penulisnya dalam buku ‘Bukan di Negeri Dongeng’. Menurut beliau Mas Gagah terinspirasi dari seorang Nasir Djamil, salah seorang anggota DPR dari fraksi partai tertentu. Entahlah bagaimana kebenaran kisah itu. Sama halnya dengan orang-orang yang penasaran apakah sosok Fahri Abdullah, tokoh protagonis utama yang dihadirkan oleh Kang Abik dalam Ayat-Ayat Cinta, benar-benar hidup dan ada.

Gagah adalah personifikasi dari sebuah keteladanan, kearifan, dan kesalihan. Sebuah produk transformasi hijrah anak muda yang tak lazim pada zamannya. Memang pada saat itu gue ga terlalu ngeh dengan semua alur yang diceritakan Mbak Helvy. Gue tidak paham tentang konflik Palestina, terminologi Ikhwan-akhwat, makna hijrah hingga transformasi diri. Namun apa yang dibuat dengan hati sentiasa menyentuh hati. Anggitan kisah Mas Gagah lah yang pertama kali mengenalkan gue betapa tidak diperkenankannya seorang pria menyentuh wanita yang bukan muhrimnya, bagaimana kondisi umat muslim saat ini, tentang jilbab. Ya. Mas Gagah lah yang berhasil membuka cakrawala berpikir para pembacanya tentang kemunduran umat. Tentang bagaimana seharusnya sosok seorang muslim itu. Jadi tidak heran jika banyak muslimah yang memutuskan mengenakan jilbab pasca membaca kisah Mas Gagah. Novel ini sungguh revolusioner.

Mas Gagah jua yang sebenarnya secara tidak langsung memperkenalkan gue dengan kerohanian islam di SMA. Semangat untuk mengenal islam lebih dalam mengantarkan gue untuk bergabung dengan rohis sekolah. Gue ingin mengenal apa yang dikenal oleh Mas Gagah hingga membuatnya bener-bener berubah. Gue kepingin tahu apa itu ikhwan, akhwat, kondisi umat islam di belahan dunia lain, mengapa harus berjilbab dan segala dinamika agama yang tidak gue dapatkan secara intensif di tempat lain. Dan jika mungkin, gue bisa bertemu dengan sosok Mas Gagah itu sendiri.

*****

Sekitar setahun lalu gue pernah menulis bahwa terminologi kebetulan sebenernya tidak ada karena daun yang jatuh ke bumi pun sudah ditulis di Lauhul Mahfudz. Bukan kebetulan jua manakala salah seorang ikhwah (baca : saudara) rohis SMA mengunggah salah sebuah foto mushola tempat kami dahulu pernah menjalin kemesraan dalam lingkaran ukhuwah.

Mushola tersebut nampak asri dengan warna putih bersih di setiap dindingnya. Jika tidak salah interiornya pun luar biasa bagusnya. Mushola ini didirikan dengan biaya udunan dari alumni dan sumber donasi lain. Lokasinya pun berpindah lebih ke bawah jika dibandingkan dengan mushola terdahulu.

Buat gue, mushola ini masih sama seperti dulu. Ada kenangan-kenangan manis yang tertinggal dengan menyisakan angin, pohon juga bumi sebagai saksi. Kami tidak bisa lagi menagih bukti pada setiap peninggalan fisik dari semen, dinding atau lantai yang dulu senantiasa kami duduki. Mereka sudah hancur bersamaan dengan relokasi. Tapi ingatan-ingatan tersebut tetap hidup.

Mushola ini menjadi saksi betapa keterbatasan tempat bukan halangan. Sehingga pengajian pekanan pun terus berjalan meskipun atap bocor sana-sini. Mushola ini menjadi saksi betapa di mana-mana wanita selalu benar. Setiap kali ada kericuhan di bilik ikhwan (pria) maka dari bilik wanita yang dibatasi oleh hijab cukup terdengar ‘ehem’ atau dengan sedikit sapaan ‘maaf akhi, ada yang sedang sholat’ maka kericuhan tersebut akan padam dengan sangat cepat. Berbicara soal hijab, salah seorang guru agama sempat memprotes keberadaan hijab yang ukurannya dianggap sangat tinggi. Beliau khawatir akhawat yang berada di balik hijab bermain petak umpet dan sejenisnya. Rasionalisasi kami mengapa diperlukan hijab tersebut tidak bisa beliau terima sehingga kami harus ikhlas hijab berubah menjadi pembatas kayu yang sangat rendah meskipun pada akhirnya dimensi hijab kembali seperti semula.

Mushola ini menjadi sejarah. Sejarah diselenggarakannya miniatur-miniatur musyawarah. Membahas urusan ummat dan dakwah. Mengatur ini itu persiapan festival kesenian islam pertama (dan terakhir?) di sepanjang kepenguruan rohis sekolah.

Mushola ini adalah bukti. Bukti pentingnya hijab sebagai pembatas diri setiap kali divisi kestari mengadakan syuro’. Divisi kesekretariatan adalah satu dari dua, satunya lagi bendahara, badan yang mengadakan rapat setiap harinya. “Afwan ada akhi Edy?” Begitulah sapaan mulia dari bilik akhwat yang bersiap untuk memulai rapat. Yang untuk seterusnya menjadi guyonan kami hingga saat ini.

Mushola ini mushola bernilai seni. Tak ubahnya studio rekaman atau dapur teater, aktifitas seni tak pernah mati. Setiap hari ada saja yang berlatih nasyid walaupun sumbang. Berlatih acapella meskipun lomba tak pernah menang. Malamnya disambung dengan latihan drama plus dubbing untuk mengisi acara penyambutan anggota rohis baru atau diminta oleh sekolah lain untuk menjadi tamu. Tentu saja kami tidak selalu berharap piala saat lomba, atau mendapat apresiasi saat menyajikan drama. Bagi kami berlatih nasyid bermuatan dakwah, menyajikan nilai-nilai islam dalam pentas sandiwara adalah sebuah tanggung jawab moral sebagai perwujudan semboyan ‘kami da’i sebelum segala sesuatunya’.

Mushola ini adalah cinta. Cinta di saat ada yang dihukum karena kesalahan bertindak. Cinta manakala suara ikhwan selama pemiihan ketua rohis hanya sebatas masukan sementara suara akhwat adalah mutlak kebenaran. Cinta dalam setiap lelah, letih, berpayah-payah menyiapkan pengajian, ta’lim, acara keagamaan untuk siswa satu sekolah. Cinta dalam setiap kerja keras dakwah dan kesolidan ikhwah. Cinta yang tumbuh dari benih-benih kesamaan visi, keterikatan hati, kedekatan fisik yang dipupuk oleh tarbiyah. Cinta di setiap friksi, uji, silang pendapat hingga debat tapi tak pernah dendam melekat. Cinta karena Allah pada setiap kalian.

Hari ini gue mencari kembali sosok Mas Gagah. Mas Gagah yang selalu ingin mewujudkan islam dalam kesehariannya. Mas Gagah yang ingin bermanfaat bagi sekitar. Yang menjadi da’i di atas segala sesuatu. Mas Gagah yang membawa pesan perubahan bagi keluarga hingga masyarakat.

Dan hari ini kutemukan Mas Gagah pada diri kalian. Pada sosok saudara-saudara seperjuangan yang terus menyalakan api kebaikan. Yang meneruskan cinta dari uswatun hasanah pada setiap insan nan terlihat mata walau kini nun jauh di sana.

Kutitipkan salam manis untuk kalian ikhwan dan akhwat fillah yang pernah menjalin cinta dalam kerohanian islam. Di manapun kalian berada gue yakin bahwa nilai-nilai Mas Gagah selalu ada dalam diri kalian semua.

Tabik!.

Mushola Al-Muttaqien

April 20, 2012 § 2 Komentar

Sesaat gw mengamati aktifitas bapak-bapak di Mesjid kantor seusai sholat Jumat.  Selembar demi selembar uang dari kotak amal mereka rapihkan dan dihitung dengan teliti. Perlahan tapi pasti gw teringat akan suatu memori di saat seragam gw masih berwarna putih abu-abu, saat dimana gw masih begitu lugu.

Lebih dari enam tahun yang lalu, setiap hari jumat di setiap minggunya agenda rutin gw dan temen-temen rohis SMA N 3 Palembang adalah keliling ke setiap kelas sambil bawa-bawa tas kosong. Penuh keceriaan saat kami dengan muka yang innocent menghampiri satu per satu bangku temen-temen kelas 1, senior kelas 2 ataupun kelas 3. Keceriaan itu pun berubah menjadi kesedihan saat senior bilang “Dek, kamu yang nasyidan cu cu itu ya???” :D.

Selesai menjemput kebaikan dari warga sekolah, jatah peran berikutnya pasti langsung di ambil oleh sang bendahara, Gunawan Rahmadi. Jikalau anda sedang mencari gunawan pada hari jumat, cari saja dia di mushola Al-Muttaqien. Anda akan bertemu dengan sosok berkacamata dengan selotip, uang receh dan gunting. Satu per satu uang receh dikumpulkan terus diplester untuk menjadi uang seribuan. Sesekali nasyid mengiringi aktifitas uniknya tersebut.

Di sudut lain mushola terdengar bunyi gaduh yang sulit dikatakan merdu. Yah, itulah saat saat tim nasyid pujaan SMA N 3 Palembang, tim nasyid Islah sedang latihan. Sekedar info, dulu saat kalian mendapati Islah sedang latihan nasyid maka itu adalah latihan pertama mereka sebelum lomba keesokan harinya, hahaha. Sesekali dup ditabuh, disambung acapella yang kurang harmoni, ditambah lagi adu bas antara gun sang vokalis dengan rudi sang basis. Keadaan semakin buruk saat Wakil Ketua Rohis kita, aas suara duanya tidak pernah padu :P.

Dan di tengah latihan nasyid di dalam mushola muncullah suara “afwan akhi, ada akhwat yang lagi sholat”. Suara siapa itu? Allahu ‘alam. Yang jelas saat “alarm” tersebut bunyi kami harus dengan ikhlas pindah ke luar mushola.

Sepertinya ROHIS SMA 3 dulu (zaman gw) kehabisan stok anggota. Tim nasyid, pengurus, kepanitiiaan dijalanin sama orang-orang itu lagi. Jadi jangan heran saat sedang latihan lagi-lagi ada yang memanggil dari balik layar hijau dengan tinggi nyaris 2 meter tersebut. Rata-rata panggilan tersebut setiap harinya berbunyi “afwan, akhi edy nya ada?”. Dan itu pertanda tim kesekretariatan akan rapat.

Kalo dulu ada award, mungkin kesekretariatan dapet medali untuk kategori departemen yang paling sering syuro,hehe.

Lalu bagaimana cerita Ketua Rohis?

Yang paling gw inget, pertama kali peri dinobatkan jadi ketua rohis mukanya merah. Seminggu pertama peri berubah total, tidak lagi gw denger istilah-istilah aneh yang dia buat, jadi lebih pendiem. Mungkin shock jadi ketua rohis. Tapi lepas seminggu, Peri kembali seperti sediakala dan kami pun senang berhasil meracuni peri lagi,wakkakakka.

Sering ikhwan-akhwat syuro bersama. Tapi kami para ikhwan lebih mengenal syuro tersebut sebagai sebuah sosialiasi keputusan, haha. Jadi setiap syuro dengan akhwat kami percaya bahwa apa yang dibahas lebih berupa sosialisasi kepada ikhwan. Kami yang dulu belum mengerti kenapa seperti itu, merasa jengkel. Tapi bawa enjoy aja.

Sidang, istilah ini sudah jauh gw kenal sebelum sidang sarjana. Di ROHIS dulu sidang itu sebagai sebuah “hukuman”untuk kami yang sering bikin ulah. Dan pastinya, tanpa menyombongkan diri, gw salah satu yang paling sering disidang *nangis*.

Gw yakin kebaikan itu menular. Dan salah satu faktornya adalah keberadaan mushola Al-Muttaqien dengan ROHISnya. Fenomena hijrah seorang akhwat menjadi pengalaman yang rutin terjadi, terlebih setelah idul fitri.

Alhamdulillah, memang Janji Allah itu yang paling sempurna. Muhammad ayat 7 seperti menjadi jampi-jampi kami kala itu. “Barangsiapa yang menolong agama Allah maka Allah akan menolong mereka”. Dan gw yakin bukti keberadaan kami sekarang adalah wujud dari apa yang Allah janjikan.

Mushola Al-Muttaqien itu bagai rumah bagi kami. Setiap hari kami menghabiskan waktu di sana. Banyak kenangan yang lahir. Mushola itu adalah tempat kami melahirkan ide-ide untuk menjalankan roda kepengurusan ROHIS. Ia menjadi saksi bagaimana FESTIVAL KESENIAN ISLAM dapat berlangsung dengan sangat baik dan meriah. Ia juga yang menjadi tempat berteduh kala kami bergadang demi latihan drama. Tempat kami bercengkrama, bercanda, berdiskusi, tersenyum, terenyuh. Membaurkan semua rasa, semua asa, semua karya.

Dan yang paling penting Mushola ini laksana rumah yang mempertemukan gw kalian.

Terimakasih saudaraku untuk semua kisah yang pernah terukir manis di mushola Al-Muttaqien.

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with SMA N 3 Palembang at I Think, I Read, I Write.

%d blogger menyukai ini: