Bukan sarjana biasa

Juli 1, 2010 § 1 Komentar

Menjadi seorang sarjana mungkin saja mimpi setiap orang. Lulus dengan disematkan toga, menyandang gelar sarjana di belakang nama hingga jaminan pekerjaan yang menggiurkan merupakan visualisasi indah gelar akademik tersebut. Tidak semua orang bisa merasakan duduk di bangku kuliah. Terutama bagi mereka yang duduk  di universitas negeri. Salah seorang dosen yang kini menjadi rektor pernah berkata

Dik, kalian itu jadi mahasiswa karena bantuan orang lain. Kalian bisa bayar uang kuliah dengan murah karena para pedagang di pasar, karena tukang becak, karena sopir angkot yang membayar pajak hingga bisa meringankan biaya kuliah kalian. Oleh karena itu, sudah seharusnya kalian mengabdi pada masyarakat ketika kelak kalian sudah lulus.

Sebuah nasihat yang sangat bijak dan kembali menyengat empati kami saat itu. Bahwa menjadi seorang sarjana bukanlah demi kepentingan individu karena ada keringat para kuli di pasar, ada tangis para petani yang secara tidak langsung berperan mentransformasi seorang mahasiswa menjadi seorang sarjana.

Perlahan namun pasti gelar sarjana kehilangan esensinya. Sejatinya seorang sarjana dituntut lebih dengan kapasitas pribadi yang dimiliki. Karena seorang sarjanawan harus mampu mempertanggungjawabkan kesarjanaannya tersebut tidak hanya di hadapan para dosen penguji namun lebih jauh bagi masyarakat luas. Namun kini gelar sarjana tidak lagi menjadi gelar “kehormatan” bagi para akademisi. Dengan mudahnya kita bisa melihat bahwa berbagai macam spionase dilakukan dalam upaya membubuhi kata sarjana di belakang nama asli. Mulai dari tindakan-tindakan kecurangan selama proses menuju kelulusan hingga dibukanya kelas kilat menjadi seorang sarjana. Di antara berbagai alasan mereka yang menempuh proses instan menjadi seorang sarjana adalah kebutuhan yang mendesak guna kenaikan jabatan yang membutuhkan sertifikasi seorang sarjana. Masalah kapasitas keilmuan merupakan variabel kesekian karena yang dibutuhkan memang secarik kertas dengan cap sah telah menjadi seorang sarjana. Kondisi yang memang membuat kita miris.

Sarjana bukanlah sebuah hasil tapi merupakan proses panjang yang melelahkan. Empat tahun atau lebih waktu yang dibutuhkan seorang mahasiswa untuk belajar, berkompetisi dan bermandikan peluh demi tercapainya sebuah cita, menjadi sarjana yang utuh. Tahap-tahap yang dilalui inilah yang meninggalkan pengalaman, mewarisi pengetahuan, membentuk karakter dan mental seorang mahasiswa hingga pada akhirnya gelar itu memang layak untuk disandang. Bukan sekedar gelar bualan yang dipenuhi dengan kebohongan. Tidak sulit menemui mahasiswa yang kekurangan tidur, sakit, bermalam-malam di laboratorium demi tugas akhir, demi kelulusan yang dinanti-nanti. Akan tetapi semua duka, lelah, amarah terhapuskan seketika saat kita dinyatakan sebagai seorang sarjana baru.

Lalu tidak jarang seorang yang dinyatakan lulus dari kampusnya gamang dengan status yang disandang saat itu. Meninggalkan dunia kampus yang begitu dinamis menuju dunia kerja yang keras. Bahkan tidak sedikit dari sarjana-sarjana yang masih segar itu kebingungan menentukan orientasi. Menjadi sarjana di satu sisi namun tuna karya di sisi lainnya. Seolah bekal yang dibawa selama menempuh pendidikan menguap tak bersisa. Sangat amat disayangkan seorang sarjana yang diharapkan mampu menjadi agent of change bagi masyarakat luas ternyata tumpul dalam berkarya, mandul dalam mencipta. Beberapa artikel pun sempat bercerita bagaimana seorang sarjana dari perguruan tinggi tidak mendapatkan pekerjaan apalagi menciptakan pekerjaan. Apa yang salah dengan fenomena seperti ini?

Masalah di atas menjadi sebuah ironi ketika kita menyadari tugas perguruan tinggi seperti yang diucapkan oleh Muhammad Hatta. Perguruan tinggi (kampus) merupakan wahana yang sangat tepat dalam mengembangkan segala potensi baik itu akademik, organisasi maupun jaringan. Terasa pincang ketika kampus hanya dijadikan sebagai wadah mengembangkan karir akademik semata. Seorang mahasiswa harusnya mampu mengasah kecerdasannya dalam aspek lain yang bisa diakses dari kampus tersebut. Memperkokoh jaringan menjadi penting karena dalam sebuah penelitian yang disebutkan dalam buku tipping point bahwa sebagian besar pekerjaan yang diperoleh seseorang tidaklah berasal dari seorang teman melainkan oleh kenalan. Fenomena yang cukup mengejutkan memang. Pun halnya dengan peranan organisasi kampus yang mampu menjadi instrumen guna mengasah kecerdasan kita dalam berbagai hal yang semestinya mendukung performa kita dalam berinteraksi, berkomunikasi dengan orang lain sehingga menjadi nilai plus tersendiri.

Dengan memanfaatkan segala potensi yang ada di kampus kita selayaknya menjadi seorang sarjana yang siap. Sarjana yang siap menjadi profesional dalam segala bidang hingga peranan seorang sarjana benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas. Bukan sarjana sebagai gelar tapi sarjana sebagai pembuktian. Sehingga kita bisa berujar bahwa kita bukan sarjana biasa.

Tagged: , , ,

§ One Response to Bukan sarjana biasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Bukan sarjana biasa at I Think, I Read, I Write.

meta

%d blogger menyukai ini: