Mak Comblang

September 6, 2013 § 4 Komentar

cat“Cinta Sejati selalu menemukan jalan. Ada saja kebetulan, nasib, atau apalah sebutannya, Tapi sayangnya, orang orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya. Jika berjodoh, tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Kebetulan yang menakjubkan”.

Paragraf di atas merupakan kutipan dari novel Tere liye. Mengapa gue jadikan sebagai awalan? karena menurut gue, apa yang Bang Tere bilang bener-bener mengena. Tepat sasaran, melesak menghujam dan menohok perlahan. Bukankah banyak dari kita yang dengan tergesa memaksakan apa yang mereka sebut sebagai cinta?

Kisah cinta dalam film “serendipity” gue rasa bukan sekedar peran belaka. Bukankah dikisahkan bahwa jodoh tidak perlu dipaksa atau diada-adakan. Ia sudah didesain dengan serupawan mungkin.

Banyak kisah bagaimana seseorang menemukan pasangan hidupnya dengan cara tak terduga. Ada sahabat sepanjang masa kemudian bersatu dalam ikatan cinta, ada yang bertemu di jejaring sosial dan tertarik karena kemiripan nama, dan yang paling pasaran adalah kisah jatuh cintanya seorang wanita pada pria yang menabraknya. Kok bisa-bisanya habis ditabrak malah saling pandang hingga timbul benih-benih asmara.

Kalo saja mereka yang tertabrak bisa dengan mudahnya jatuh cinta dengan si pengendara, Apriyani bakalan bikin acara kawinan massal di sekitar tugu tani.

Dan di antara berbagai misteri bagaimana seseorang bertemu dengan pasangannya adalah melalui proses perjodohan melalui orang ketiga atau kita sering menyebutnya dengan mak comblang.

Entahlah dari mana istilah “mak comblang” lahir. Gue search di gugel, gugelnya geleng kepala, “nyerah mas” kata mbah gugel sambil melambaikan tangan ke arah hary pantja.

Gue Dijodohin!!!

Belakangan ini gue sering banget dijodohin. Mulai dari temen SMP, sahabat SMA, rekan kuliah hingga komunitas ngetrip. Mulai dari penawaran yang baik sampe yang paling ngaco. Masa mereka mau ngejodohin gue sama mannequin jilbaban yang dipajang di tanah abang. Gue ga sedesperate itu juga meenn!!.

Gue sebenernya terharu sekaligus miris dengan kelakuan temen-temen yang sibuk mencarikan jodoh. Can you imagine, Setiap ada cewe berusia 18-25 tahun yang mereka temui di jalan, di tempat makan, di gorong-gorong, selokan, maka mereka dengan sukarela mengambil foto wanita-wanita malang tersebut dan berbagi fotonya ke grup whatsapp  sambil teriak “dooo (nama panggilan gue), ada cewe berjilbab nih”. Dan gue dengan lidah terjulur dan berliur menjawab “mana, mana, mana?”.

Sebenernya salah gue juga yang terlalu bersemangat membahas sesuatu yang berbau jodoh. Apa-apa yang berkorelasi dengan wanita berjilbab, pernikahan, buku nikah, katering, pre wedding kini selalu dikait-kaitin sama gue. Padahal terkadang gue ngelakuin itu semua agar grup ngobrol menjadi lebih hidup dan seru (ngeles).

Yang terprogram dalam otak bawah sadar temen gue adalah, prasayarat cewe yang disukai dodo mutlak harus  berjilbab/kerudung. Jadi ketika ada seseorang yang terindikasi perempuan dan mengenakan jilbab, semua aja disodorin.

“Udah dua kali nikah dan solehah banget, mirip mamah dedeh”, ujar temen gue menawarkan nenek-nenek di sebelah rumahnya. Kamprettt. Ga nenek-nenek juga kali.

Lain waktu ada yang mencoba memasangkan jilbab pada bencong taman surapati, “kan yang penting jilbab” mereka berkata seraya tertawa terbahak. Gue pun nangis darah.

Tapi tidak sedikit juga yang mencoba menjodohkan wanita tulen. Paling tidak, di potonya mereka tidak kekar dan keriputan, apalagi kaku bak patung. Semoga foto tersebut bukan hasil editan photosop. Temen-temen gue ini baik pisan. Ada yang japri no hape plus foto temen deketnya, ada yang mau ngenalin temen kampus hingga temen kosannya. Mereka beranggapan gue sedang dikejer deadline, kebeleter kawin. Kalo ga nikah dalam waktu deket, gue bakal balik lagi jadi manusia. Seketika gue berasa seekor babi ngepet.

Sebenernya jodoh-jodohan melalui orang ketiga adalah aktifitas yang sudah dilakukan sejak zaman dahulu kala. Proses penjodohan lewat perantara bisa bertendensi pada kebaikan dan sebaliknya. Kenapa? Karena pada dasarnya, proses penjodohan ini melalui tahap seleksi, paling tidak dari mereka yang menjodohkan. Tidak mungkin perantara/mak comblang menjodohkan seseorang dengan orang lain yang tidak dikenalnya dengan baik.

Tapi kepercayaan yang berlebih terhadap perantara juga bisa menjadi bumerang, ketika jodoh di hadapan tidak sesuai dengan harapan. Yah ibarat poto, hasil jepretannya diambil dengan aplikasi kamera 360 terus dipoles pake photo editor. Anglenya sekecilll mungkin, sampe yang keliat cuma ujung idung sama ujung bibir. Bagi mereka yang berharap terlalu tinggi, poto tersebut seolah dianggap mewakili. Nah, ekspektasi berlebihan ini terkadang menjatuhkan.

Hakikatnya, proses memilihkan jodoh adalah kewajiban orang tua agar anak mereka mendapatkan jodoh layak nan pantas. Namun proses penjodohan melalui teman, guru ngaji, dan relasi lainnya yang berhubungan baik menjadi sebuah opsi tersendiri.

Gue kenal banyak orang yang menikah melalui perantara orang ketiga. Mereka diperkenalkan satu sama lain, berinteraksi secukupnya dan kemudian menikah dengan kebahagiaan yang terpancar dari binar mata ketika ijab qabul meluncur deras dari lisan mempelai pria. Sudah tidak ada lagi stigma negatif pada proses penjodohan seperti terdongeng dalam kisah siti nurbaya dan datuk maringgi. Kini, saat elo males mencari, atau memang jodoh tak kunjung mendekati diri, maka penjodohan adalah salah satu jalan terbaik.

Jodoh, bagaimanapun cara kita memperolehnya, sejatinya haruslah bermuara pada kebaikan-kebaikan yang tersumber dari koridor-koridor agama dan etika. Gue sering, bahkan terlalu sering “disentil” tentang, “mana cewe lo”? “Mana calon lo”? “Usia segini belom ada calon”?

Menurut salah seorang temen, calon istri gue malah belom lahir. Hahaha…asem banget dah. Tapi gue mah nyantai aja menanggapinya. Gue bilang, “jodoh gue masih di lauhul mahfudz”. Dan seketika mereka buka google maps guna mencari koordinatnya :(.

Kisah Salman Al-Farisi

Salah satu kisah terbaik dalam proses mencarikan jodoh orang lain adalah kisah salman al farisi yang suatu ketika sedang mencari jodoh. Terkisah kemudian sang sahabat, Abu Darda, mengantarkan Salman Al-Farisi pada gadis yang ingin disunting. “Saya datang untuk meminang putri anda, untuk saudara saya ini Salman Al Farisi”, Abu Darda melanjutkan.

Ternyata, sang putri sholehah telah mendengar percakapan ini di balik tabir. Sang Ayah wanita pun bercakap bahwa segala keputusan diserahkan kepada sang anak tercinta. Malang tak dapat ditolak, sang wanita nan sholehah menolak pinangan tersebut.

Tapi ada yang lebih mengejutkan. Prosesi pinangan tidak terhenti pada “penolakan” secara halus sang wanita. Ibunda tercinta kemudian melanjutkan kata, “Namun jika Abu Darda memiliki tujuan yang sama, maka putri kami lebih memilih Abu Darda sebagai calon suaminya”.

Wow… Terbayangkah oleh kalian, bro. Betapa kalau kita pada posisi yang sama. Hancur hati, lebur, sedih tak terukur. Ketika pinangan telah tertolak, cinta bertepuk tak berbalas. Dan kini, ternyata sang wanita mengidamkan sahabat kita, sahabat yang menjadi perantara dalam pinangan terindah, mengidamkan ia sebagai pendamping hati.

Tapi disinilah letak kemuliaan seorang salman al farisi. Arsitek perang khandak, sang pemuda parsi tidak larut bersedih. Ia dengan lantang berujar ” Allahu Akbar!”, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini, akan aku serahkan pada Abu Darda, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!seru Salman.

Waduh, kisah ini kemudian termaktub dalam sejarah.  Jika saja Salman berputus asa, lalu mengakhiri nyawa dengan menghujamkan pisau ke dada, maka kisah ini hanya akan menjadi sebuah romansa picisan yang menjadikan cinta wanita sebagai sesembahan.

Berangkat dari kisah ini, ada hikmah yang bisa kita petik. “Pastiin, ketika melamar seseorang, jangan pernah melalui perantara seorang teman. Atau, kalo memang harus diperlukan, pastikan orang tersebut tidak lebih keren, tidak lebih ganteng, dan tidak lebih kaya daripada elo :D.

Ego-Sentris

November 23, 2011 § 4 Komentar

Egosentris? Pernah denger istilah ini?

Yang jelas ga ada hubungan sama Teori Geosentrisnya Ptolemy yang menjadikan bumi sebagai pusat alam semesta dan juga ga berkorelasi sama teori Heliosentrisnya Nicolas Copernicus (Jago ya gw).

Entah kenapa gw jadi pengen membahas tentang apa yang disebut dengan Egosentris. Kalo berdasarkan definisi dari mbah gugel sih egosentris berarti menjadikan diri sebagai pusat pemikiran atau perbuatan. Tapi kalo bagi gw egosentris secara simpel berarti melakukan segala sesuatu untuk diri pribadi. Kalo ga setuju dengan definisi ini, monggo buat tulisan dengan definisi sendiri :D.

Berdasarkan pengamatan dari kacamata gw pribadi, tidak ada satu pun makhluk yang bernama manusia melakukan suatu tindakan, kegiatan, kerja, aktifitas bukan untuk dirinya sendiri. Mari kita amati!!!

Mari tengok yang terjadi pada Filantropis. Kebanyakan para filantropis mengaku bahwa mereka melakukan semua tindakan untuk orang lain. Mereka mungkin beratikulasi bahwa tindakan yang dilakukan berdasarkan kasih sayang dan tidak mendapatkan apa-apa atas apa yang mereka lakukan. Apakah benar begitu? Menurut gw sih kagak.

Orang yang melakukan kebaikan untuk orang lain pada dasarnya melakukan kebaikan untuk dirinya sendiri. Bohong jika mereka berkata bahwa mereka got nothing. Kepuasan diri, aktualisasi, kebahagiaan personal adalah manifestasi dari setiap aktifitas yang mereka kerjakan. Jika yang dijadikan parameter adalah wujud fisik mungkin para filantropis tidak memperoleh apa-apa. Namun jauh melebihi itu mereka memperoleh kebahagiaan yang memang kembali pada diri mereka pribadi.

Lalu bagaimana dengan pengabdian seseorang untuk daerah tertinggal misalnya, seperti yang sering kita saksikan dalam Program KickAndy Show. Melakukan kerja besar walau tak seorang pun yang peduli. Apakah mereka melakukan tindakan egosentris? Kalo gw yang ditanya maka jawabannya “iya”.

Tanyakan kembali pada mereka yang melakukan kerja keras, kerja ikhlas tanpa tanda jasa. Apa yang mereka rasakan ketika mandi keringat berusaha mati-matian untuk orang lain? Gw yakin pasti mereka senang melakukan itu. Mereka memiliki mimpi-mimpi atas kerja yang mereka lakukan. Paling tidak, sebagai makhluk beragama, mereka yakin akan pembalasan yang jauh lebih baik atas apa yang mereka kerjakan. Dan lagi lagi bukankah itu tindakan yang dilakukan untuk diri pribadi?

Bahkan gw berani berkata bahwa cinta kasih kedua orang tua kepada anaknya juga bersumber untuk kepentingan pribadi. Melihat anaknya tumbuh dewasa. Mengajari mereka berbicara walo kini kata-kata pedas yang sering mereka terima. Menjawab pertanyaan yang sama yang kita tanyakan berulang-ulang. Fragmen kisah seorang anak adalah lentera jiwa bagi orang tua. Walo belom pernah ngerasa jadi orang tua, setidaknya itu yang pernah gw denger.
Semua cinta, pengorbanan dan kasih sayang orang tua memang tidak berbalas. Pun halnya mereka tidak mengharapkan balasan dari kita. Karena bagi mereka, cinta itu adalah memberi bukan menerima.
Dan di saat mereka memberi maka kuncup cinta itu lahir, mekar dan berkembang. Mereka pun bahagia luar biasa saat si kecil mulai berkata. Tak bisa tertutupi rona saat kita berjalan terbata-bata. Saat kita diwisuda pun terpancar senyum terindah penuh warna.

Hierarchyo of Needs

Itulah egosentris. Semua bersumber untuk diri sendiri. Hal sekecil apapun dilakukan sejatinya  bukan untuk orang lain. Bahkan teori Hierarchy of Needsnya Abraham Maslow yang menjadikan Self Actualization di Puncak piramida bersumber atas kebutuhan untuk memenuhi kepuasan pribadi.

Jadi Kesimpulannya kalo kita melakukan sesuatu kebaikan untuk orang lain pada dasarnya kita terlebih dahulu merefleksikan kebaikan yang terjadi untuk diri kita.

Bahkan Al-Quran dalam salah satu ayatnya berbunyi (Lupa redaksi)
In ahsantum ahsantum li anfusikum, wa in asa’tum falahayang artinya kalo kita melakukan kebaikan maka kebaikan itu untuk diri kita sendiri dan kalo kita melakukan keburukan maka keburukan itu juga untuk diri kita sendiri.

Setuju dengan gw? Harus….. 😀

New Thing New Experience

November 5, 2011 § Tinggalkan komentar

Everything is happened for a reason. Stupendous thing, vague one, intricate problem has their own secret those must be dig in, must be revealed. Somehow we are not patient enough to gain great result and concede in the middle of “war”. Halt in unproper spot.

New thing always be new experience. That’s how the world works. Never let anyone tease you with great work you did, just move on.

As an early entrepeneur, play my role as a courier was a remarkable stuff. To wander around Bandung whilst observe a new place was great. I used to pass the same area but never stick my head nor memorize what street that was. But now, I feel know Bandung more than before.

So, great adventure became my first new experience after transforming into entrepeneur (Courier).

Now I know where to buy korean food ingredient. More alert to every house ordering our food. Realizing route to Cijerah, Pak Gatot, Cijagra, Gunung Putri and much more unimagine place in which I have never heard before.

New thing is new experience. Stop at mart and traditional mart to buy tteokbokki, Gochujang, Zuchini, meat, onion and etc is my another new experience. I definetely seldom visit mart to obtain several ingredients and negotiate with butcher but now enforced to do. That’s my duty.

I would like to self smile to look deep within my self. I pat my cheek and feel hurts. Realizing that I am not slumber. I go shopping to traditional mart and I made it.

As a courier, weaving new connection seems good. Chat with customer, spread relation, build communication will raise our bargaining position.

That’s all are my new experience after dwell with entrepreneurship atmosphere. What about you?
Do not keep nagging with your recent condition. Go for change it if only you do not want the same life. Just focus on your success. Your succes rely on your faith.

Good bye Jobs

Oktober 6, 2011 § Tinggalkan komentar

“Your work is going to fill a large part of your life, and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work. And the only way to do great work is to love what you do.” 

Steve Jobs recite those sequence while he preach at Stanford University. It is all about passion and inspiration for us to love what we do and to do what we love. Now, this world loss one of the best man, the most innovative guy Steven Paul Jobs or mostly known as Steve Jobs. Steve Jobs passed away on 5th October 2011. World sent its deepest condolence, mourn his demise.

For me, he is always inspiring. With his creation, he transformed conventional gadget into beyond our imagination. He discover iPhone, iPad, iPod, Mac and different things with sophistipicated technology, lead us to a new world. Never stop innovating and always do what your passion is. Moreover we could enjoy Toy Story due to his endeavour to develop Pixar after kicked out from Apple.

As another great man, He commence everything with hardworking and deep thinking and surely with remarkable strive till he survive and never surrender for what he believe. Jobs Says “”I didn’t have a dorm room, so I slept on the floor in friends’ rooms, I returned coke bottles for the 5¢ deposits to buy food with, and I would walk the 7 miles across town every Sunday night to get one good meal a week at the Hare Krishna temple”.

Jobs, now you left us.  I bet you’re busy right now revolutionizing and redesigning the afterlife for all of us to enjoy when our time comes -Joe Satriani-

It is true, your work leads us to another dimension of life. You inspire peoples not only about your creative technology yet further about your passion, your words to burn our motivation. That we always need to stay hungry, to stay foolish. No one wants to die.  Even people who want to go to heaven don’t want to die to get there.  And yet death is the destination we all share.  No one has ever escaped it.  And that is as it should be, because Death is very likely the single best invention of Life,.. Good Bye Jobs.

Let’s inspiring Let’s care

September 20, 2011 § 2 Komentar

To look over my recent and old post in this blog ensure me that it is not worth enough to inspire peoples. After visiting kickandy web and browsing great blogs within, I felt disgrace by comparing our writing. There, I could easily find inspiring blogs. I could access Imanusman, 19 years old youth with remarkable achievement. Muhammad Assad, author of Notes from Qatar. Yoris Sebastian, Creative minded guy and so on. One certain thing is their writing deemed as inspiring one indeed.

While these young man have changed the world by their own means, I remain step on the same place. My articles has not contained great ideas. It is fed up with vague things. So far from inspiring words. I want to be such ImanUsman with his passion, affection could encompass so many youngster to support Indonesian Future Leader. I want to resemble Muhammad Assad, whom travel around the world and create super book.

I, you and everyone reading this articles should realize that we could do something for better Indonesia, for better world. We are possibly not a people with thousand prodigy but we are people with million dreams. So, let’s rock Indonesia, let’s Change Indonesia into better life with every single things we could commit to. Let’s see around us, what can we do for people surrounding. Start from the smallest, from ourselves, and start from now on.
Let’s inspiring, Let’s care….

KickAndy Guess Star

Agustus 17, 2011 § Tinggalkan komentar

To be bewildered facing your future after fed up by so many subject in your university is a normal stuff. You got trouble where to step, what to do, what to act, somehow you made sudden decision. To play safely. It seems that you could take your part in multinational company at first, then you’ll stay there for few times. After that you resign and then build your own company. Yup, that’s my dream….

My another dream which is little bit unusual is to be Guess Star for Kick Andy programme. One day I must sit on that chair, gotta kicked by andy, talk to camera, inspire people. That is what I want…

Why? Because Kick Andy has inspired so many peoples with his guess star, and how he share sadness, inspiration, motivation which are so remarkable. In terms of inspiring,, It is great to able to inspire other people. With your own hand, with your own idea, with your own capacity you able to enlighten another mind, to enrich another idea, to motivate peoples. At that time you become Kick Andy Guess Star, you can conduct everything I said.

So, to be Guess Star I must do something great. Excellence work. Inspiring idea. And I hope Kick Andy would still alive till I made great things for Indonesia. Don’t be startled suppose one day I will be announce as guess star for kick andy. Trust me indeed

Jalan yang mana?

Juni 19, 2011 § 4 Komentar

Hidup ini tidak pernah terlepas dari segala pilihan. Tidak ada pilihan yang benar atau salah selama kita punya alasan rasional dan mau bertanggung jawab atas pilihan tersebut. Pun halnya bagi seorang sarjana. Dilema tak jarang menghinggapi, kegalauan akan masa depan selalu menghantui.

Menjadi sarjana tidak serta merta melepas beban atau tanggung jawab, justru sebaliknya. Dunia sebenarnya terpampang jelas di hadapan mata. Tinggal dipilah pilah jalan mana yang akan diikuti, dan mana yang akan ditinggali. Tidak banyak pilihan bagi seorang sarjana, dengan beban yang melekat erat di pundak, terlebih sarjana dari kampus terkemuka. Menjadi pekerja, melanjutkan sekolah, membuka lapangan kerja atau bahkan menjadi hamba bermuram durja yang tidak tahu arah untuk melangkah.

Menjadi pekerja sepertinya jalan teraman yang dipilih. Tidak masalah jika opsi pertama yang menjadi tambatan hati. Pada dasarnya toh memang kampus-kampus yang ada mencetak pekerja-pekerja yang ahli  di bidangnya. Tinggal kita memilih mau menjadi pekerja seperti apa, occupation, profesion, atau vacation. Ketiga definisi kerja ini didasarkan atas bagaimana seseorang memandang pekerjaannya tersebut seperti yang tertuang dalam bukunya mas Marpaung Parlindungan, Fulfilling life. « Read the rest of this entry »

Pasti ada yang bisa dipertaruhkan

September 28, 2010 § Tinggalkan komentar

Wow, ini pertama kalinya gw nulis lagi sejak bulan Agustus. Hampir sebulan gw nganggurin ni blog. Kagak diupdate, kagak dibuka dan kagak disentuh. Secara libur dua minggu dan lebih banyak dihabisin waktunya buat ngumpul bareng keluarga ato temen. Sempet sih gw nulis tapi males dipost, tulisannya ga menarik.

Hari ini gw pengen nulis, entah apapun yang penting blog ini terus update. Ternyata eh ternyata, masih ada juga yang ngunjungin ini blog walo ga diupdate. gw liat aj di blog statnya. Lumayan sih yang ngunjunginnya kadang 16 hit paling kecil 5 hit-an. hehe, lumayan buat blog yang kagak pernah diurus lagi kek blog ini selama lebih dari sebulan. Cukup basa-basinya yap. Pokoknya waktu gw lagi bikin nih tulisan gw ga sepenuhnya niat buat nulis. gw sebenernya lagi nungguin donloatan yang kagak selese2. coba bayangin??? 3 jam lebih gw dah nunggu donloatan office 2010 ampir 4 giga. Gw pikir daripada gw kesel nungguin noh donloatan mending gw update nih blog siapa tau ga kerasa ngedonloatnya en cring….tiba-tiba donloatannya selesai dengan sendirinya.. hehe, dongeng banget! « Read the rest of this entry »

Tesis dan Orisinalitasnya

Agustus 19, 2010 § 1 Komentar

Berbicara mengenai tesis akan membawa kita pada sebuah dimensi akademik dengan strata yang tinggi. Tesis sebagai bentuk karya tulis haruslah memiliki unsut-unsur kelayakan dan kepantasan hingga layak dijadikan sebagai perwujudan dari kesiapan seorang mahasiswa magister. Hal ini tidak hanya berkaitan dengan aspek kognitif seperti kualitas analisis, keakuratan dalam pengolahan data melainkan juga perlu ditonjolkan aspek “attitude” atau sikap dalam melahirkan tesis dari rahim ide seorang mahasiswa.

Sikap seorang mahasiswa dalam kesehariannya dapat termanifestasi dalam keaslian atau orisinalitas tesis yang dihasilkan. Orisinalitas bermain dalam setiap domain kualitas baik itu pengumpulan data, pengolahannya, sumber data (referensi) hingga aspek terkecil pun harus tetap memegang teguh nilai-nilai keorisinilan. Dengan demikian karya yang dihasilkan tidak hanya memenuhi aspek inteligensia melainkan juga mengakomodasi nilai nilai moral sehingga insan akademis yang lahir bukan produk perguruan tinggi yang sekuler namun manusia pembelajar yang berakhlak.

Pentingnya menjaga orisinalitas karena hal ini dapat menjadi cermin dari perilaku seseorang. Mahasiswa yang selalu memagari tulisan-tulisannya dengan koridor orisinalitas akan senantiasa mewarnai kehidupannya dengan kejujuran dan kedewasaan. Dua poin penting ini merupakan nilai moral yang harus dipenuhi untuk tetap berada pada jalur yang baik dan benar dalam berkarya. Kejujuran akan menuntun seorang mahasiswa untuk tidak memanipulasi data, plagiat maupun tindakan curang lainnya karena ia yakin setiap tindakan yang dilakukan pasti ada yang mengawasi. Kejujuran akan dilengkapi oleh sebuah kedewasaan. Kedewasaan dalam berpikir maupun kedewasaan dalam bertindak. Kedewasaan akan membuat segalanya tampak lebih mudah dan kedewasaan juga dapat terus memupuk semangat optimisme dalam membuat tesis. Pada akhirnya keaslian sebuah tesis tidak hanya akan dipertanggungjawabkan di dunia namun lebih besar lagi tanggung jawab di akhirat..

Bukan sarjana biasa

Juli 1, 2010 § 1 Komentar

Menjadi seorang sarjana mungkin saja mimpi setiap orang. Lulus dengan disematkan toga, menyandang gelar sarjana di belakang nama hingga jaminan pekerjaan yang menggiurkan merupakan visualisasi indah gelar akademik tersebut. Tidak semua orang bisa merasakan duduk di bangku kuliah. Terutama bagi mereka yang duduk  di universitas negeri. Salah seorang dosen yang kini menjadi rektor pernah berkata

Dik, kalian itu jadi mahasiswa karena bantuan orang lain. Kalian bisa bayar uang kuliah dengan murah karena para pedagang di pasar, karena tukang becak, karena sopir angkot yang membayar pajak hingga bisa meringankan biaya kuliah kalian. Oleh karena itu, sudah seharusnya kalian mengabdi pada masyarakat ketika kelak kalian sudah lulus.

Sebuah nasihat yang sangat bijak dan kembali menyengat empati kami saat itu. Bahwa menjadi seorang sarjana bukanlah demi kepentingan individu karena ada keringat para kuli di pasar, ada tangis para petani yang secara tidak langsung berperan mentransformasi seorang mahasiswa menjadi seorang sarjana.

Perlahan namun pasti gelar sarjana kehilangan esensinya. Sejatinya seorang sarjana dituntut lebih dengan kapasitas pribadi yang dimiliki. Karena seorang sarjanawan harus mampu mempertanggungjawabkan kesarjanaannya tersebut tidak hanya di hadapan para dosen penguji namun lebih jauh bagi masyarakat luas. Namun kini gelar sarjana tidak lagi menjadi gelar “kehormatan” bagi para akademisi. Dengan mudahnya kita bisa melihat bahwa berbagai macam spionase dilakukan dalam upaya membubuhi kata sarjana di belakang nama asli. Mulai dari tindakan-tindakan kecurangan selama proses menuju kelulusan hingga dibukanya kelas kilat menjadi seorang sarjana. Di antara berbagai alasan mereka yang menempuh proses instan menjadi seorang sarjana adalah kebutuhan yang mendesak guna kenaikan jabatan yang membutuhkan sertifikasi seorang sarjana. Masalah kapasitas keilmuan merupakan variabel kesekian karena yang dibutuhkan memang secarik kertas dengan cap sah telah menjadi seorang sarjana. Kondisi yang memang membuat kita miris.

Sarjana bukanlah sebuah hasil tapi merupakan proses panjang yang melelahkan. Empat tahun atau lebih waktu yang dibutuhkan seorang mahasiswa untuk belajar, berkompetisi dan bermandikan peluh demi tercapainya sebuah cita, menjadi sarjana yang utuh. Tahap-tahap yang dilalui inilah yang meninggalkan pengalaman, mewarisi pengetahuan, membentuk karakter dan mental seorang mahasiswa hingga pada akhirnya gelar itu memang layak untuk disandang. Bukan sekedar gelar bualan yang dipenuhi dengan kebohongan. Tidak sulit menemui mahasiswa yang kekurangan tidur, sakit, bermalam-malam di laboratorium demi tugas akhir, demi kelulusan yang dinanti-nanti. Akan tetapi semua duka, lelah, amarah terhapuskan seketika saat kita dinyatakan sebagai seorang sarjana baru.

Lalu tidak jarang seorang yang dinyatakan lulus dari kampusnya gamang dengan status yang disandang saat itu. Meninggalkan dunia kampus yang begitu dinamis menuju dunia kerja yang keras. Bahkan tidak sedikit dari sarjana-sarjana yang masih segar itu kebingungan menentukan orientasi. Menjadi sarjana di satu sisi namun tuna karya di sisi lainnya. Seolah bekal yang dibawa selama menempuh pendidikan menguap tak bersisa. Sangat amat disayangkan seorang sarjana yang diharapkan mampu menjadi agent of change bagi masyarakat luas ternyata tumpul dalam berkarya, mandul dalam mencipta. Beberapa artikel pun sempat bercerita bagaimana seorang sarjana dari perguruan tinggi tidak mendapatkan pekerjaan apalagi menciptakan pekerjaan. Apa yang salah dengan fenomena seperti ini?

Masalah di atas menjadi sebuah ironi ketika kita menyadari tugas perguruan tinggi seperti yang diucapkan oleh Muhammad Hatta. Perguruan tinggi (kampus) merupakan wahana yang sangat tepat dalam mengembangkan segala potensi baik itu akademik, organisasi maupun jaringan. Terasa pincang ketika kampus hanya dijadikan sebagai wadah mengembangkan karir akademik semata. Seorang mahasiswa harusnya mampu mengasah kecerdasannya dalam aspek lain yang bisa diakses dari kampus tersebut. Memperkokoh jaringan menjadi penting karena dalam sebuah penelitian yang disebutkan dalam buku tipping point bahwa sebagian besar pekerjaan yang diperoleh seseorang tidaklah berasal dari seorang teman melainkan oleh kenalan. Fenomena yang cukup mengejutkan memang. Pun halnya dengan peranan organisasi kampus yang mampu menjadi instrumen guna mengasah kecerdasan kita dalam berbagai hal yang semestinya mendukung performa kita dalam berinteraksi, berkomunikasi dengan orang lain sehingga menjadi nilai plus tersendiri.

Dengan memanfaatkan segala potensi yang ada di kampus kita selayaknya menjadi seorang sarjana yang siap. Sarjana yang siap menjadi profesional dalam segala bidang hingga peranan seorang sarjana benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas. Bukan sarjana sebagai gelar tapi sarjana sebagai pembuktian. Sehingga kita bisa berujar bahwa kita bukan sarjana biasa.

Where Am I?

You are currently browsing the Motivasi category at I Think, I Read, I Write.

%d blogger menyukai ini: