Keluh

Juli 26, 2010 § 2 Komentar

Maha Suci Allah yang senantiasa membolak-balikkan hati, yang Maha Mengetahui apa yang tersembunyi, yang selalu mewarnai dan merahmati dunia dengan kasihNya yang tiada pernah putus. Tulisan ini aku buat di tengah gelombang hati yang sedang galau, gundah gulana. Di saat badai ujian datang menerpa, menghantam karang iman yang mencoba bertahan dengan secuil ilmu dan sedikit Tausiyah.
Segala Puji dan takbir kepada Allah yang menciptakan cinta hingga membuat dunia menjadi indah. Dengannya kayu bisa menjadi bara, dan dengan cinta pula kayu mampu menjadi abu. Cinta selalu indah untuk dibicarakan. Cinta jua lah yang mampu menggoyahkan iman, merusak hapalan, menurunkan produktivitas amanah dan melemahkan jiwa.

Tidak ada yang sia-sia apa yang diciptakan Allah. Semuanya t’lah tertulis jelas dalam Lauh Mahfudz bahkan hingga hal-hal terkecil di luar alam khayal kita. Semuanya mendatangkan hikmah, tinggal bagaimana kita bisa menggali ibrah dari setiap kejadian hingga kisah itu bukan sebatas skenario kehidupan yang lenyap begitu saja dan tidak berbekas.
Beberapa bulan terakhir, penulis merasakan kehilangan jatidiri. Kehilangan arah dan tujuan dalam melangkah. Dan semuanya bermuara pada ketidakhadiran Rabb dalam keseharian. Semakin menjauh dari kedekatan pribadi dengan Sang Khalik. Lalu apa dampaknya??? Dampak terbesar yang penulis rasakan adalah tidak lagi nampak nikmatnya beribadah. Tidak lagi terasa nikmatnya menjalankan amanah. Tidak lagi bersemangat mengarungi samudra dawah. Hingga pada akhirnya fatamorgana dunia menjadi dimensi baru yang membingkai fragmen hati.

Virus merah jambu menyerang dengan sangat cepat. Merusak sel-sel kepekaan terhadap amalan-amalan harian. Ia masuk dan menguasai hati. Tanpa disadari diri ini jauh dan semakin jauh denganNya. Terlalu banyak amanah yang terlalaikan, tidak sedikit waktu yang sia-sia dan terbuang percuma. Semuanya terasa hampa. Malu dan menyesal pada Allah dan diri sendiri. Betapa tidak, masalah klasik seperti ini masih dapat terus menjangkiti. Seolah level keimanan belum meningkat karena sejatinya masalah VMJ adalah problematika seorang anak sekolahan. Tapi apa mau dikata, semuanya sudah terjadi. Karena bermain api pasti akan terbakar. Karena Allah lah yang menghadirkan segala dinamika kehidupan hambaNya maka sudah sewajarnya segala sesuatu dikembalikan kepada Sang Pemilik.

Satu hal yang pasti adalah ketika diri ini semakin jauh dari interaksi dengan Al-Quran, tidak lagi meraba kepekaan terhadap amanah dan menjaga kecintaan terhadapNya maka cinta-cinta palsu yang justru akan hadir dan meracuni taman hati. Ya Rabb, hanya Engkau yang maha menghadirkan cinta, dan Engkau jua lah yang mampu menghapuskannya. Dengan mudahnya Engkau mampu membolak-balikkan hati kami.

Iklan

§ 2 Responses to Keluh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Keluh at I Think, I Read, I Write.

meta

%d blogger menyukai ini: