Alby dan Pok Ame-Ame

September 30, 2015 § Tinggalkan komentar

20150830_061833

“Alby, bilang A……yah”

Lalu Alby dengan sigap mengambil ancang-ancang pok ame-ame.

Oke!.

“Alby, coba bilang Bun…..da”

Lagi-lagi Alby, tanpa ba bi bu, mulai bertepuk-tepuk pok ame-ame dengan senyum menggemaskan.

“Oke sayang, Alby disuruh tante pok ame-ame”

“AYAH!!!” lalu melengos dengan mainan rodanya.

“…”

Alby sekarang sudah 8 bulan loh. Ga kerasa memang. Gue juga nelen ludah sendiri karena sebelumnya sudah berikrar buat nulis kisah Alby di blog ini minimal satu tiap bulannya. Tapi apa daya, nak. Ayahmu ini hanyalah makhluk dhaif yang tak luput dari noda dan dosa. Cih.

Sekarang sudah semakin banyak aktifitas yang bisa Alby lakuin. Kalo dulu cuma bisa tergeletak pasrah di kasur sambil bilang ‘aaaa’ perlahan ia mulai bisa tengkurep, gigitin jempol tangan maupun kaki, hingga garuk-garuk di sekujur badan. Kini Alby sudah bisa duduk (dengan bantuan) sambil sesekali belanja on-line dan pastinya jurus pamungkas  POK AME-AME.

Jujur dari lubuk hati yang paling dalam. Dih lebay. Bini gue ga tau Alby belajar dari mana aktifitas bernama pok ame-ame. Lah kalo bini gue yang tiap detik bareng Alby aja ga tau, apalagi gue yang cuma dua hari dalam seminggu ada di rumah. Terus salah gue? Salah JKT48 yang saban pekan manggung di teater?. Aku tuh ga bisa diginiin, mas!.

Dengan atau tanpa komando, Alby akan melakukan pok ame-ame secara tulus dan ikhlas plus menyeringai dengan senyuman paling manis sedunia. Gue buru-buru nyari kulkas biar ga meleleh tiap kali melihat senyuman itu.

Ah senangnya menjadi bayi. Kerjaannya cuma ketawa-ketawa, nangis kalo laper, poop aja ada yang ngurusin. Kurang enak apa coba jadi bayi. Mereka ga perlu mikirin cicilan rumah, panci, kulkas. Atau pusing-pusing mikirin downline MLM, ekonomi yang meroket, asep yang ga kelar-kelar bahkan usai presiden yang PEMBERANI GAGAH PERKASA itu dateng ke TKP hingga nasib petani yang disetrum, diiket terus mati digebukin warga.

Kami jarang menyalakan televisi di rumah. Pun jika iya, acara yang gue kami tonton adalah pertandingan sepakbola atau Reportase Investigasi. Sepanjang kedua acara tersebut berlangsung rasanya tidak pernah ada lakon pok ame-ame. Jadi televisi memiliki alibi yang kuat untuk tidak menjadi kambing hitam.

Sebenernya tingkah lucu dan spontan Alby atau bayi-bayi lainnya bisa jadi adalah respon dari semakin kompleksnya entitas sebagai manusia. Untuk itu mereka bereaksi dengan hal-hal yang paling mudah menurut mereka. Karena jika ditelaah, tidak pernah ada yang mengajari secara langsung aktifitas-aktifitas tersebut. Argumen imitasi anak terhadap orang tua rasanya juga tidak begitu valid mengingat penglihatan bayi jauh dari sempurna di bulan-bulan awal kelahiran. Sebagai informasi, setiap orang akan mengangkat kedua tangannya membentuk ‘V’ atau ‘victory’ manakalah mereka merayakan kemenangan. Gesture tersebut bahkan dilakukan oleh orang-orang yang terlahir dengan keadaan tuna netra. Artinya, banyak bahasa tubuh, aktifitas-aktifitas yang berupa ‘gift’ bukan produk imitasi.

Kembali ke Alby. Sebelum ini, Alby sering melakukan gesture menggetarkan badan seperti angkatan bersenjata dalam posisi sigap. Gue dan istri memberikan judul gesture untuk menakut-nakuti kucing. Walaupun kucing tetangga ga pernah takut. Spontanitas yang bisa membuat kami tertawa lepas.

Saat sekarang adalah periode dimana bayi mungkin menjadi makhluk paling lucu dan menggemaskan. Tawanya, suaranya, tangisnya adalah oase tersendiri untuk membuat keriuhan di dalam rumah. Mereka sudah bisa diajak bermain dan bercanda bahkan nongkrong di kafe-kafe deket rumah.

Alhamdulillah, Alby tumbuh dengan sehat. Meskipun emaknya penuh perjuangan ngurusin Alby di tengah padatnya jadwal kuliah dan runyamnya menyelesaikan tesis. Tapi nampaknya Alby sudah terbiasa dengan jadwal striping karena sejak dalam kandungan ia dicekoki dengan statistika, aljabar di antara waktu kuliah yang menguras tenaga.

Sehat terus ya, nak. Semoga tumbuh menjadi anak yang sholeh. Jangan lupa pok ame-ame.

Love you as always

-Bukan Mario Teguh-

Tagged:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Alby dan Pok Ame-Ame at I Think, I Read, I Write.

meta

%d blogger menyukai ini: