Journey to Bima (Part two)

Desember 27, 2011 § 2 Komentar

Masih bersama gw Andri yang akan memberikan laporan langsung tentang update  penyediaan air bersih di Kabupaten Bima, Kecamatan Langgudu, Desa Dumu dan Kangga. Tapi kali ini gw ga akan banyak bercerita tentang kedua desa tersebut. Karena saatnya gw berbagi kisah sama pendengar semua tentang Pantai dengan ombak terbaik kedua di dunia yang -pasti kalian ga nyangka- ada di bima. Cekidot!!!! *VJ wanna be*

Lakey beach, pernah denger? gw yakin belum, sama halnya dengan gw dan partner yang baru pertama kali tahu kalo ada pantai yang sefonemenal itu. Kenapa fenomenal? soalnya dari web yang gw baca (orang indo sih yang posting) dan dari informasi yang ada di sana, Lakey beach ini punya ombak terbaik kedua di dunia setelah pantai di hawai (hawai atau hawaii yang bener?).

Pantai ini terletak di Kabupaten Dompu, dua jam perjalanan darat dengan kecepatan normal dari Kabupaten Bima. Jarak yang ditempuh sekitar 85 km. 35 km dari kabupaten bima hingga batas gerbang kabupaten Dompu dan 50 km lagi masuk ke desanya. Tidak ada kendaraan umum yang melintasi daerah ini. Jadi sebaiknya yang berminat kesana mending bawa kendaraan pribadi, naek motor juga ok kalo perginya cuma berdua.

Kebanyakan turis (asing/lokal) men-carter mobil dari bandara yang terletak di bima untuk mencapai lokasi lakey beach ini. Dari hasil interview gw dengan penjual di lakey beach, ongkosnya sekitar 600 ribu per-mobil.

Akses jalan untuk sampai ke lokasi cukup baik, sebagian besar jalan menuju desa sudah diaspal sehingga bisa mencapai kecepatan maksimum. Pada beberapa titik jalan masih berbatu dan sebagian besar berlubang sehingga untk spot ini harus berhati-hati. Jalan menuju desa tempat lakey beach berada dihiasi dengan pemandangan sawah yang membentang luas. Tidak jarang di beberapa desa mulai membiasakan menggunakan bahasa inggris. Terlihat dari gapura desa yang menggunakan tulisan berbahasa inggris seperti “Wellcome” dan “Goodbye”. Memang terlihat bahasa inggris sederhana, tapi cukup patut diapresiasi upaya mereka untuk membiasakan diri dengan bahasa inggris.

Sesampainya di Lakey beach tidak perlu khawatir dengan masalah penginapan karena banyak tempat yang dijadikan tempat bermalam bagi pelancong. Karena keterbatasan dana, kami memilih bermalam di Hotel Lestari. Hotel ini menawarkan tarif 100 ribu per kamar non-AC, dan 200-ribu untuk kamar AC. Kami memilih dua kamar yang non-AC. Hotel-hotel yang lain memiliki tarif yang gw rasa tidak jauh berbeda. Kalo mau yang eksklusif, bisa memilih Hotel Amangati yang merupakan hotel terbaik dan termahal dengan tarif 450 ribu per malam. Kamar-kamar hotel ini berada di pinggir pantai sehingga dapat langsung menikmati pantai dan ombaknya.

Dan jackpot. Kedatangan kami ke Lakey Beach tidak pada waktu yang tepat. Pada Bulan Desember dan Januari, ombak di pantai ini tidak seganas bulan lainnnya. Ombaknya rendah dan kurang menantang sehingga hanya beberapa turis asing saja yang datang dan menikmati surfing.

beberapa bule dan warga lokal memanfaatkan lakey peak yang ada di laut tersebut untuk melakukan aksi-aksi jumpalitan

Penonton pun merasa kecewa. Pantai yang digadang gadang memiliki ombak terbaik kedua di dunia ini menyisakan pemandangan yang biasa biasa saja. Menurut penjual makanan di sekitar pantai, kalo mau melihat ombak yang perkasa turis biasanya berkumpul pada bulan februari-Mei. Bulan-bulan tersebut menjadi magnet tersendiri yang mampu menarik kutub-kutub penasaran turis asing. Turisnya pun datang dari berbagai benua mulai dari australia, Perancis, Brasil dan negara lain.

Berbicara mengenai penjual makanan, ternyata mereka juga dateng dari Garut, Jawa Barat. Sudah tiga tahun ibu yang asli Garut ini menjual makan di Lakey Beach. Bersuamikan orang asli Bima, ibu ini harus ikut suami “terdampar” di pelosok NTB dan meninggalkan kota Depok yang telah lama ditinggali.

Ibu penjual makanan bercerita banyak tentang Lakey Beach, tentang turisnya, tentang kehidupannya dan cerita tentang Bandung. Kata mereka, Turis Australia yang paling baik. Ramah dan suka ngasih tip dalam jumlah besar. Sementara turis Brasil dan Perancis terkenal pelit. Bakan untuk makan di warung pinggir pantai aja mereka masih suka tawar-menawar. *Turis bule kok miskin pikir gw*

Satu hal lagi yang penting saat kalian berkunjung ke pantai ini dan berniat untuk bermalam. Pilih tempat yang baik dan ramai pengunjungnya. Karena berdasarkan pengalaman pribadi, pelayanan di tempat kami bermalam kurang memuaskan.

Dan pada akhirnya gw ga bisa bilang ke dunia kalo Lakey beach memang indah dengan ombak terbaik nomer dua di dunia. Karena memang kedatangan kami ke pantai itu pada saat ombaknya belum sebesar seperti yang dibicarakan. Kalo untuk pasir dan pantai sebenernya Lakey beach biasa saja dan terkesan tidak terkelola dengan baik meskipun banyak penginapan yang memanfaatkan pantai tersebut sebagai daya tarik.

Tapi yang hebat sebagian besar penduduk yang tinggal di sekitar Lakey beach terbiasa berbahasa inggris. Semoga pantai ini dapat terus dipromosikan dan bener-bener mendapat pengakuan sebagai pantai dengan ombak terbaik nomer dua di dunia. Amin

P.S : Kita ga bisa ambil poto ombaknya soale kejauhan dan kecil gelombangnya.

Iklan

Tagged: , , , ,

§ 2 Responses to Journey to Bima (Part two)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Journey to Bima (Part two) at I Think, I Read, I Write.

meta

%d blogger menyukai ini: