Mencari setitik air di Bima

Desember 1, 2012 § Tinggalkan komentar

 

12 Desember 2011, alarm di kamar gue berbunyi lebih awal. Tidak seperti biasanya, kali ini jam menunjukkan pukul 12.00 WIB dini hari. Dengan langkah goyah, sesekali menguap gue merapihkan kembali baju dan mengecek kembali koper beserta tas. Untungnya sudah mandi terlebih dahulu sebelum (ter)tidur. Pintu kamar mulai dikunci, perlahan di tengah keheningan malam gue menerobos cahaya lampu yang temaram.

Kemana gue akan pergi? Ini adalah cerita dari awal perjalanan menuju Bima, Nusa Tenggara Barat.

Menuju Bima (Titik A)

Semuanya berawal ketika salah seorang senior di kampus memberikan informasi terkait dengan proyek pengadaan air bersih untuk daerah-daerah  di pesisir pantai di seluruh Indonesia. Sebuah program kerja di bawah komando Dinas Kelautan dan Perikanan, Kementrian Kelautan dan Perikanan Indonesia untuk menyediakan air bersih dengan cara mengolah air laut menjadi air minum  menggunakan alat reverse osmosis, water purifier  berteknologi nanofilter yang mampu melakukan filtrasi air laut guna memisahkan bakteri, virus hingga mineral terlarut.

Guys, perlu kalian tahu bahwa sebagian besar penduduk di pesisir pantai negara tercinta kita ini, belum mendapatkan air layak minum. Oleh karena itu, pemerintah berusaha mengoptimalkan potensi air laut. Sebuah langkah yang dianggap lebih efektif dibandingkan mengalirkan air melalui PDAM.

Agenda besar ini ditujukan bagi alumni-alumni muda dari beberapa universitas termasuk ITB dan UI. Gue, sebagai salah seorang alumni muda ITB mendaftar untuk ikut berpartisipasi dalam proyek ini.

Program penyediaan air bersih meliputi 72 titik dari wilayah timur hingga barat Indonesia. Pihak dinas kelautan dan perikanan telah melakukan survey lapangan terlebih dahulu untuk menentukan daerah mana saja yang paling berhak untuk mendapatkan bantuan.  Setiap daerah akan dipantau oleh kami, para alumni muda, yang siap terjun ke masyarakat untuk menyaksikan secara visual, secara langsung kondisi nyata bagaimana sulitnya daerah-daerah di Indonesia yang kesulitan untuk mendapatkan air minum bersih, sehat dan layak konsumsi.

Setelah terkumpul 72 orang, gue bersama seorang relawan lainnya berkewajiban untuk meninjau provinsi NTB, Kabupaten Bima, Desa Dumu dan Desa Kangga. Batas waktu kerja kami adalah satu bulan.

Jam 10 pagi, pesawat perintis mendarat di bandara Sultan Salahudin, Bima. Setibanya di bandara, kami dijemput oleh dinas kementrian kelautan dan perikanan (KKP) setempat. 30 menit perjalanan dari bandara, kami tiba di kantor dinas KKP. Setelah sedikit berdiskusi mengenai progress proyek ini, kami sepakat untuk melakukan survey dan meninjau keadaan di lapangan keesokan harinya.

Narsis di Bandara Salahudin

Untuk mencapai desa dumu dan desa kangga, kami harus menempuh perjalanan selama dua jam dari Kota Bima dengan rute yang naik dan turun gunung, belum lagi jurang di sebelah kanan jalan. Benar-benar berasa tour de france.

Setelah dua jam menempuh perjalanan darat, tibalah kami di desa pertama yaitu Desa Dumu. Desa ini terdiri dari dusun-dusun yang letaknya saling berjauhan satu sama lain tanpa fasilitas listrik dari PLN. Hanya beberapa rumah yang terang benderang saat malam hari. Rumah-rumah tersebut mendapatkan bantuan solar cell dari pemerintah beberapa tahun lalu. Memang hanya segelintir rumah saja yang menikmati fasilitas solar cell, selebihnya bersenda gurau ria dengan cahaya bulan dan bintang.

Beberapa kilometer dari Desa Dumu terdapat Desa Kangga yang terletak paling timur kecamatan Langgudu. Akses jalan menuju desa tersebut sangat jelek. Belum diaspal dan berbatu. Terik matahari yang menyengat menambah berat perjalanan tersebut.  Sebagian besar warga yang berprofesi sebagai nelayan di kedua desa ini menggunakan sumur di sekitar rumah mereka sebagai sumber air  minum.

Setelah rehat sejenak di rumah kepala Desa Kangga, kami langsung bergegas menuju area dimana sumur penampung dan instalasi alat dibangun. Sumur tersebut akan dijadikan sebagai tempat menampung air laut sebelum difilitrasi dengan alat reverse osmosis.

sumur minum warga

Air  bersih untuk dikonsumsi sangat sulit untuk dicari. Warga di sini punya sumur multifungsi. Air sumur tersebut digunakan untuk mandi, mencuci dan yang lebih hebat lagi juga dipakai untuk minum.  Dimasak? ohhh, tentunya tidak. Mereka sudah terbiasa minum air sumur secara langsung tanpa diolah terlebih dahulu, kecuali diseduh untuk teh atau kopi. Padahal air tersebut rasanya sangat payau.

Dari awal, tujuan kedatangan kami ke kedua desa ini adalah memastikan keberjalanan instalasi mesin reverse osmosis dan menguji kualitas air minum warga. Uji kelayakan air akan dilakukan dengan mengevaluasi kondisi air umpan yang akan dibandingkan dengan air hasil pengolahannya.

1. Uji Kualitas air minum warga

Metodologi pekerjaan yang dilakukan adalah survey yang dilakukan secara acak kepada warga setempat untuk mendapatkan informasi awal tentang kondisi air minum mereka.

Pengamatan terhadap kualitas air sumur untuk minum warga dilakukan dengan menggunakan alat  TDS meter sederhana untuk mengetahui banyaknya mineral terlarut yang terkandung di dalam sumur tersebut. Diameter dan ketinggian sumur juga dihitung untuk mengetahui volume air. Data yang lebih komprehensif diperoleh melalui uji laboratorium. Berdasarkan hasil analisa di laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara menunjukkan bahwa air minum yang berasal dari sumur warga  tidak layak minum karena Total Dissolved Solution (TDS), total hardness dan chlorida melebihi batas maksimum yang ditentukan.

Hasil lab air sumur warga

2. Pembangunan instalasi alat reverse osmosis

Proses instalasi mesin dan pembuatan sumur sebagai komponen dalam proyek ini dijalankan dengan sangat lambat. Kondisi tanah yang berpasir cukup menyulitkan warga untuk menggali sumur. Sementara kedatangan mesin dan perlengkapan alat sedikit terlambat karena masalah transportasi.

Setelah hampir satu bulan, proses pembangunan instalasi alat reverse osmosis selesai dilakukan.

Tangki air dan gardu alat

Tangki air dan gardu alat

Berdasarkan info terakhir yang kami peroleh, pembangunan alat RO di Desa Dumu telah selesai dilakukan. Air hasil pengolahan alat Reverse Osmosis memiliki TDS sebesar 105 ppm yang diukur dengan TDS meter, nilai ini berada dalam toleransi air layak minum. Beberapa bulan yang lalu, kepala desa Dumu dan Kangga menginformasikan bahwa proyek konversi air laut menjadi air bersih sudah berjalan dengan baik. Kini mereka tidak kesulitan lagi untuk mendapatkan air bersih. Alhamdulilllah, gue berujar. Semoga di kota-kota lain juga menunjukkan sinyal-sinyal positif atas upaya pemerintah dalam mengatasi masalah kelangkaan air minum bagi warga pesisir.

Program ini benar-benar menjadi upaya pemberdayaan masyarakat karena dapat memenuhi kebutuhan air bersih warga dan menjadi sumber pemasukan dengan cara menjual air yang sudah dikemas dan memasarkannya ke desa terdekat, sehingga roda perekonomian desa setempat dapat terbantu. Selain itu limbah sebagai hasil buangan mesin reverse osmosis dapat digunakan untuk produksi garam.

layout lokasi alat reverse osmosis

layout lokasi alat reverse osmosis

Selalu ada hikmah di balik peristiwa yang terjadi. Segala keterbatasan yang gue peroleh selama beberapa hari  hidup di desa membuat gue jauh lebih bersyukur dengan kehidupan. Betapa beruntungnya kehidupan yang ada selama ini. Mau minum tinggal ambil, mau mandi tinggal menghidupkan kran, mau nonton, internet semuanya ada.

Saat pulsa modem habis, saat listik mati, saat pegawai PDAM lagi mogok kerja mungkin kita bisa merasakan bagaimana menderitanya kehidupan tanpa fasilitas itu, yang sebenernya keadaan tersebut sudah menjadi makanan sehari-hari penduduk di dumu, kangga dan desa-desa lainnya.

Yah kesimpulannya sih gue ngerasa bersyukur aja bisa ngerasain pengalaman ini. Jadi, mari berhemat air untuk masa depan. Karena dengan menghambur-hamburkannya, itu menunjukkan matinya hati kita untuk berempati terhadap saudara-saudara kita di belahan bumi Indonesia lain, yang kesulitan mendapatkan air bersih.

Journey to Bima (Part three -end-)

Januari 9, 2012 § Tinggalkan komentar

Akhirnya, berakhir juga petualangan gw di ujung timur Pulau Sumbawa. Pengalaman tiga minggu di Kabupaten Bima dengan Desa Dumu dan Kangganya meninggalkan kesan tersendiri. Walo pekerjaan belom sepenuhnya selesai karena masalah administrasi namun bima memberikan banyak pelajaran yang berharga.

Banyak hal unik yang gw alamin selama di bima. Sekarang bakal coba gw share ke temen-temen semua yang khas tentang bima yang pernah gw rasain. Cekidot!!!

1. Makan di Bima

Entah ini sbuah hipotesa singkat atau memang seperti itu adanya. Dalam kacamata pengamatan gw, setiap kali makan di kota/kabupaten bima ini sangat jarang kami dilayani dengan ramah. Pada dasarnya orang Bima ramah-ramah dan murah senyum. Selalu menunjukkan arah setiap kali gw nanya jalan. Tapi entah kenapa saat beli makanan gw selalu dapet pelayanan yang kurang memuaskan, apa waktu itu gw belom mandi yah? *ambil handuk plus sabun*

Pernah suatu ketika saat gue mau makan, pelayannya dengan santai dan lempeng mengacuhkan panggilan gue yang tengah memelas. Wah, waktu itu gue udah naik pitam karena yang gue tahu pelayannya ga budeg atau sedang menggunakan earphone.

Setelah menunggu beberapa lama barulah si pelayan dateng. Kita cuma bisa elus-elus dada sambil megang perut *kelaperan*. Kejadian seperti ini sangat sering kami alami setiap kali mau memesan makanan. Makanannya sih enak, tapi pelayanannya minus. Perlu ditambah senyum biar lebih ok 🙂

2. Penunjuk arah

Gw yakin kalian ga akan pernah nyasar selama berada di bima. Orang-orang di kota/kabupaten ini dapat dengan mudahnya menentukan dimana barat, timur, selatan dan utara. Setiap nanyain tempat, bukan lokasi yang paling terkenal di deket tempat yang kita tanyain yang bakal mereka jadiin klu, tapi di mana posisi tempat tersebut dari arah mata angin. Misal : G (Gw), P (Penduduk)

G : pak, kalo dinas kelautan dan perikanan kabupaten bima dimana ya?
P :  dari sini, masnya ke timur aja. nanti 45 derajat lintang selatan, masnya ambil arah diagonal ( dramatisir)
G: *hening*

Ilustrasinya kira-kira seperti itu. Jadi saran gw kalo mau jalan-jalan atau backpackeran mending ajak orang bima. Paling ga kita tau arah buat sholat. Kan mereka dengan mudahnya bisa tahu dimana barat berada. Dan satu hal lagi yang pasti. Kompas ga bakalan laku di bima.

3. Uang lembaran

Salah satu kesan yang ga bisa gw lupa dari bima adalah uang lembarannya. Selama tiga minggu di sana aye belom pernah nemuin uang lembaran yang ga lecek bin kusam. Paling sering gw temui duit pecahan seribu sama dua ribu yang udah dekil, kumel terus lecek parah. Ga ada tanda-tanda duitnya masuk dompet yang setidaknya ada bekas lipetan.

Jadi yah kudu pasrah kalo nerima uang kembalian yang sudah “menyedihkan” kondisinya. Yang lebih kasian uang lembaran tersebut kadang tidak cuma lecek tapi juga tambal sulam di beberapa bagiannya. Kasian kalian yah…hahaha. #money freak. Udah berasa mirip Eugene krab jadinya.

Sekian dulu yang bisa gw sampein tentang yang unik dari Bima. Walo pun kotanya panas tapi gw suka. Karena gw bisa kenal dengan keluarga yang super baiknya. Alhamdulillah bisa nambah keluarga baru di Bima yang pastinya bakalan ngangenin. 

Gw bakal kangen dengan nasihatnya Pak Basuki yang panjang dan tak kunjung usai, hahaha. Kalo dibuat novel mungkin serial HarPotnya J.K Rowling mah putus. Udah nyampe sepuluh sekuel kayaknya :).

Gw juga bakalan kangen sama Ito. Anaknya Pak basuki yang satu ini cocok banget jadi wartawan. Lo bayangin aja, dia bisa nanyain semua yang ga dia ketahui dari film yang lagi ditonton. Dan kalo dia sudah mulai bertanya, lo kudu siapin kesabaran ekstra buat ngejelasin. Pertanyaan ito ga mungkin bakalan habis. Gw yang ga sabaran udah pengen jitak aja bocah ini. Untungnya ada si partner yang dengan sabarnya ngeladenin ito… Kalo ane mah boro-boro, jawab  seperlunya aja.

Ga ngebayangin gimana nanti kalo gw punya anak yang  curiosity-nya luar biasa. Bagus sih sbenernya, pertanda kalo dia bukan anak yang cuma bisa nerima keadaaan. Ini berarti gw juga harus bisa lebih sabar menghadapi mereka. Aduh udah ngomongin anak aja deh (blush).

Dan pastinya ane juga rindu sama ibu basuki yang masakannya enak dan kak rini yang so childish :). Overall Keluarganya ummi tua emang luar biasa baiknya.

Yup, that’s all are my story about bima. Ga ada maksud buat nyinggung pihak mana pun dan jika pun ada yang tersinggung dengan tulisan ini saya minta maaf, :D.

Journey to Bima (Part two)

Desember 27, 2011 § 2 Komentar

Masih bersama gw Andri yang akan memberikan laporan langsung tentang update  penyediaan air bersih di Kabupaten Bima, Kecamatan Langgudu, Desa Dumu dan Kangga. Tapi kali ini gw ga akan banyak bercerita tentang kedua desa tersebut. Karena saatnya gw berbagi kisah sama pendengar semua tentang Pantai dengan ombak terbaik kedua di dunia yang -pasti kalian ga nyangka- ada di bima. Cekidot!!!! *VJ wanna be*

Lakey beach, pernah denger? gw yakin belum, sama halnya dengan gw dan partner yang baru pertama kali tahu kalo ada pantai yang sefonemenal itu. Kenapa fenomenal? soalnya dari web yang gw baca (orang indo sih yang posting) dan dari informasi yang ada di sana, Lakey beach ini punya ombak terbaik kedua di dunia setelah pantai di hawai (hawai atau hawaii yang bener?).

Pantai ini terletak di Kabupaten Dompu, dua jam perjalanan darat dengan kecepatan normal dari Kabupaten Bima. Jarak yang ditempuh sekitar 85 km. 35 km dari kabupaten bima hingga batas gerbang kabupaten Dompu dan 50 km lagi masuk ke desanya. Tidak ada kendaraan umum yang melintasi daerah ini. Jadi sebaiknya yang berminat kesana mending bawa kendaraan pribadi, naek motor juga ok kalo perginya cuma berdua.

Kebanyakan turis (asing/lokal) men-carter mobil dari bandara yang terletak di bima untuk mencapai lokasi lakey beach ini. Dari hasil interview gw dengan penjual di lakey beach, ongkosnya sekitar 600 ribu per-mobil.

Akses jalan untuk sampai ke lokasi cukup baik, sebagian besar jalan menuju desa sudah diaspal sehingga bisa mencapai kecepatan maksimum. Pada beberapa titik jalan masih berbatu dan sebagian besar berlubang sehingga untk spot ini harus berhati-hati. Jalan menuju desa tempat lakey beach berada dihiasi dengan pemandangan sawah yang membentang luas. Tidak jarang di beberapa desa mulai membiasakan menggunakan bahasa inggris. Terlihat dari gapura desa yang menggunakan tulisan berbahasa inggris seperti “Wellcome” dan “Goodbye”. Memang terlihat bahasa inggris sederhana, tapi cukup patut diapresiasi upaya mereka untuk membiasakan diri dengan bahasa inggris.

Sesampainya di Lakey beach tidak perlu khawatir dengan masalah penginapan karena banyak tempat yang dijadikan tempat bermalam bagi pelancong. Karena keterbatasan dana, kami memilih bermalam di Hotel Lestari. Hotel ini menawarkan tarif 100 ribu per kamar non-AC, dan 200-ribu untuk kamar AC. Kami memilih dua kamar yang non-AC. Hotel-hotel yang lain memiliki tarif yang gw rasa tidak jauh berbeda. Kalo mau yang eksklusif, bisa memilih Hotel Amangati yang merupakan hotel terbaik dan termahal dengan tarif 450 ribu per malam. Kamar-kamar hotel ini berada di pinggir pantai sehingga dapat langsung menikmati pantai dan ombaknya.

Dan jackpot. Kedatangan kami ke Lakey Beach tidak pada waktu yang tepat. Pada Bulan Desember dan Januari, ombak di pantai ini tidak seganas bulan lainnnya. Ombaknya rendah dan kurang menantang sehingga hanya beberapa turis asing saja yang datang dan menikmati surfing.

beberapa bule dan warga lokal memanfaatkan lakey peak yang ada di laut tersebut untuk melakukan aksi-aksi jumpalitan

Penonton pun merasa kecewa. Pantai yang digadang gadang memiliki ombak terbaik kedua di dunia ini menyisakan pemandangan yang biasa biasa saja. Menurut penjual makanan di sekitar pantai, kalo mau melihat ombak yang perkasa turis biasanya berkumpul pada bulan februari-Mei. Bulan-bulan tersebut menjadi magnet tersendiri yang mampu menarik kutub-kutub penasaran turis asing. Turisnya pun datang dari berbagai benua mulai dari australia, Perancis, Brasil dan negara lain.

Berbicara mengenai penjual makanan, ternyata mereka juga dateng dari Garut, Jawa Barat. Sudah tiga tahun ibu yang asli Garut ini menjual makan di Lakey Beach. Bersuamikan orang asli Bima, ibu ini harus ikut suami “terdampar” di pelosok NTB dan meninggalkan kota Depok yang telah lama ditinggali.

Ibu penjual makanan bercerita banyak tentang Lakey Beach, tentang turisnya, tentang kehidupannya dan cerita tentang Bandung. Kata mereka, Turis Australia yang paling baik. Ramah dan suka ngasih tip dalam jumlah besar. Sementara turis Brasil dan Perancis terkenal pelit. Bakan untuk makan di warung pinggir pantai aja mereka masih suka tawar-menawar. *Turis bule kok miskin pikir gw*

Satu hal lagi yang penting saat kalian berkunjung ke pantai ini dan berniat untuk bermalam. Pilih tempat yang baik dan ramai pengunjungnya. Karena berdasarkan pengalaman pribadi, pelayanan di tempat kami bermalam kurang memuaskan.

Dan pada akhirnya gw ga bisa bilang ke dunia kalo Lakey beach memang indah dengan ombak terbaik nomer dua di dunia. Karena memang kedatangan kami ke pantai itu pada saat ombaknya belum sebesar seperti yang dibicarakan. Kalo untuk pasir dan pantai sebenernya Lakey beach biasa saja dan terkesan tidak terkelola dengan baik meskipun banyak penginapan yang memanfaatkan pantai tersebut sebagai daya tarik.

Tapi yang hebat sebagian besar penduduk yang tinggal di sekitar Lakey beach terbiasa berbahasa inggris. Semoga pantai ini dapat terus dipromosikan dan bener-bener mendapat pengakuan sebagai pantai dengan ombak terbaik nomer dua di dunia. Amin

P.S : Kita ga bisa ambil poto ombaknya soale kejauhan dan kecil gelombangnya.

Journey to Bima (Part One)

Desember 16, 2011 § 1 Komentar

Here I am. Standing in a “something” Island. Nusa Tenggara Barat (NTB) is  a province where Bima is located.

10.00 PM our small plane depart on Sultan Salahudin Airport. Alhamdulillah, after spending two and half hours we reach Bima. Its airport is so tiny and simple. It is worth for a small town. Dijemput sama orang KKP (Kementrian Kelautan dan Perikanan) Kabupaten Bima dan ikut nebeng kendaraan mereka. Gw milih duduk di belakang pengen ngeliat situasi kota bima dan menyentuh (asekkk) angin lembutnya.

Bandara dan saya 🙂

Setibanya di KKP kabupaten Bima kami bertemu pihak-pihak terkait. Setelah ngobrol basa basi kami akan diantar ke lokasi keesokan harinya. So, kami harus menginap terlebih dahulu di hotel pada hari itu. Ngarepnya sih dibayarin soalnya gesture bapak itu yang menawarkan kami menginap di hotel seolah kami akan difasilitasi. Daripada gantung, gw tanya aja bapaknya langsug via sms

Gue : “pak, kita hotelnya dibayarin ga”
Orang KKP  :  “Dinas tidak punya dana untuk akomodasi”
Gue : (nelen ludah)

Ya udah lah, itung-itung pelesiran. Kapan lagi nginep di hotel kabupaten Bima.

Hotel Lila Graha

To reach our village, we must spent two hours with great route. Berasa lagi Tour de France soalnya kudu naek gunung, turun gunung, di seberangnya jurang. Perasaan Ninja Hattori aja ga seribet itu deh jalannya.

Setelah dua jam menempuh perjalanan darat tibalah tibalah kami di Desa pertama yang harus dikunjungi yaitu di Desa Dumu. Desa ini terdiri dari dusun-dusun yang letaknya saling berjauhan satu sama lain. Desa ini tidak mendapatkan fasilitas listrik dari PLN. Hanya beberapa rumah yang terang benderang saat malam hari. Rumah-rumah tersebut mendapatkan bantuan solar cell dari pemerintah beberapa tahun lalu. Tapi memang hanya segelintir rumah saja yang menikmati fasilitas tersebut. Selebihnya bersenda gurau ria dengan cahaya bulan dan bintang.

Beberapa kilometer dari Desa Dumu terdapat satu buah desa lagi yang terletak paling timur kecamatan Langgudu, namanya adalah Desa Kangga. Akses jalan menuju desa tersebut sangat jelek. Belom diaspal dan berbatu. Terik matahari yang menyengat menambah berat perjalanan tersebut.

Setiba di Kangga kami langsung  mengunjungi rumah kepala desa yang menjadi base camp alias tempat nginep selama kami berada di desa. Kepala desanya masih sangat muda dan paling muda se-kabupaten bima. Bayangkan (bayangin woi, jangan dilanjutin dulu bacanya) dalam usia 29 tahun ia sudah bisa menjadi pemimpin tertinggi di desa tersebut. Pak kepala desa hanya tinggal berdua dengan istrinya so kami tidak terlalu merepotkan mengingat keluarga kecil itu hanya akan diganggu oleh dua orang makhluk dari pulau seberang.

Where I live at

Setelah rehat sejenak di rumah kepala desa kami langsung bergegas menuju area dimana sumur dan instalasi alat dibangun. Sesampainya di lokasi kami sangat terkejut melihat lokasi tersebut masih nihil tanda-tanda pekerjaan. Sontak saja kami kaget melihat kondisi tersebut. Lalu kami menuju ke desa Dumu untuk melihat kondisi sumur di desa tersebut. Di desa ini kondisinya sedikit lebih baik daripada yang terdapat di Desa Kangga. Sumur sudah digali, hanya saja memang belum banyak airnya.

Lokasi Sumur Kangga

Bukan lubang buaya

Menghabiskan waktu bermalam di desa dengan penerangan seadanya memang sebuah pengalaman yang seru. Walo pun ada listrik tapi tetep gelep yang dominan. Belom lagi sulitnya mendapatkan sinyal telepon. Untuk bisa menggunakan handphone kami harus mendatangi pantai sambil rebut-rebutan sinyal dengan pemuda-pemuda asli desa yang juga berburu sinyal. Sekali sinyal dapet jangan pernah beranjak di tempat tersebut. Habiskan waktumu dengan handphone kesayangan sampe lo bosen buat sms an, bbm an dan nelpon. Melangkah sedikit saja artinya lo dengan ikhlas memberikan sinyal telepon ke orang lain dan itu rasanya sakit banget.. *mulai lebay*

Searching for signal

My partner

Jangan bicarakan internet di tempat gw tinggal. Internet itu barang langka. Sama langkanya dengan batagor, mpek-mpek dan tentunya air bersih.
Air bersih untuk dikonsumsi sulit banget nyarinya. Kalo air minum gampang dicari yah ngapain kita ke sana. Warga di sini punya sumur yang airnya bener-bener multifungsi. Pake mandi, bisa. Pake nyuci juga bisa. Dan yang lebih gaib yaitu dipake buat minum. Dimasak? ohhh, tentunya tidak. Mereka sudah terbiasa minum air sumur langsung tanpa diolah kecuali mau bikin teh atau kopi. Karena sudah terbiasa mungkin tubuh mengadaptasi kuman-kuman yang ada di air sumur tersebut. Secara fisik mungkin tidak terjadi perubahan bagi penikmat air sumur tapi mungkin mereka menderita penyakit yang ga keliatan sekarang.
Tapi selalu ada hikmah di balik peristiwa yang terjadi. Segala keterbatasan yang gw peroleh saat hidup di desa selama beberapa hari membuat gw jauh lebih bersyukur dengan kehidupan ini. Betapa beruntungnya kehidupan yang ada selama ini. Mau minum tinggal mompa air dari galon, mau mandi tinggal jebar-jebur aja, mau nonton, ngenet, nelpon semuanya ada. Saat pulsa modem abis, saat listik mati, saat pegawai PDAM lagi mogok kerja mungkin kita bisa merasakan gimana menderitanya kehidupan tanpa fasilitas itu yang sebenernya keadaan tersebut udah jadi makanan sehari-hari penduduk di sekitar desa ini dan mungkin di desa-desa lainnya.
Yah kesimpulannya sih gw ngerasa bersyukur aja bisa ngerasain pengalaman ini. Ternyata ga ada berisiknya Televisi, hebohnya internet dan ramenya telepon bisa memberikan sensasi baru. Tidur lebih cepet, lebih tenang dan tentunya lebih gelap… hehe

Journey to Bima

Desember 7, 2011 § 2 Komentar

It was December 12th when I woke from my early slumber. 12 pm clock silently told me. With full of passion I grab my bag and hold my luggage. Get through the solemn night and walk calmly. Where to go?
It was my early story regarding journey to Bima.

Everything is began when my senior announce small project related to clean water procurement throughout remote area in Indonesia. This Project  sponsored by Fishery and Oceanography Department whom concern on Reverse osmosis instrument to transform salty water from the ocean into drink water. It would run for a month and empower young alumni from ITB and UI.

At first I actually feel hesitate to join due something to do. However I lately get involved by visiting Bima and its remote village, Kangga and Dumu.
Wow, its terrific!!!

For this long I’ve just heard and imagined how NTB is. I simply study Lombok, Sumbawa Island, Bima in my geoghrapy class. But now, I experience by myself, though I less know about Bima and its daily life. Just wondering great place to visit whilst accomplish my project. Play in the beach, stare to sunset, and got new atmosphere, new peoples with new culture will be my great experience.

That’s all are my lame story about bima. I definetely just arrive to this City and got relax for a while. It is difficult to access internet in Bima and much more difficult on its village thus I will not frequently update my post. If only I reach Bandung I will keep posting about this (hopefully) wonderful journey.

Where Am I?

You are currently browsing the Journey to Bima category at I Think, I Read, I Write.

%d blogger menyukai ini: