Media Sosial dan Kemuakan yang Membabi Buta

November 4, 2016 § 1 Komentar

Sejujurnya saya sudah muak dengan segala bentuk peperangan di jagat media sosial. Kanal yang seharusnya menjadi tempat berinteraksi secara positif berubah menjadi arena gontok-gontokan maha dahsyat.

Gue memutuskan berhenti berkelindan di linimasa twitter disebabkan perang kata-kata yang tak urung habisnya. Para cendekia, alim ulama, intelektual saling beradu debat. Kedaan semakin runyam manakala si miskin ilmu turut meramaikan dengan cacian dan bentuk-bentuk serangan verbal yang banal. Tidak ada yang salah dengan perdebatan dan adu argumen. Namun manakala setiap saat kita mengakses halaman media bersangkutan isinya tidak lebih dari unjuk ego dan kepongahan maka yang tersisa hanyalah kemuakan membabi-buta.

Dua tahun lalu gue men-talak tiga twitter. Tanpa sepatah kata pun gue sampaikan pada Jack Dorsey dan kolega. Andai bisa, gue berharap para pendebat maniak itu dikurung di penjara virtual dan bertarung sampai mati layaknya para gladiator bertaruh nyawa di Colosseum.

Gue enggan membahas Path. Path tidak begitu layak untuk dinarasikan lebih lanjut karena konfigurasi di dalamnya hanya lah tentang orang-orang kesepian yang kehabisan akal untuk menghayati makanan yang mereka punya, musik yang ingin mereka dengar, dan tempat yang mereka kunjungi.

Maka Facebook yang mulanya tempat berbagi interaksi sosial kini berevolusi menjadi wahana gesek-gesekan. Apa saja sepertinya layak diperdebatkan. Lebih-lebih menyangkut sensitifas terkait ras, agama, juga kontestasi politik. Entah kenapa keramah-tamahan bangsa yang gemah ripah loh jinawi ini lenyap setiap saat mereka login di akun facebook masing-masing.

Kegundahan gue semakin menjadi-jadi seiring dengan seteru pernyataan Ahok yang didakwa menghina Al-Quran. Mungkin sudah ratusan argumen serta wacana pro-kontra yang mengiringinya. Yang bikin gue semakin menggeram adalah semakin liarnya isu ini. Tautan-tautan di facebook dibagikan dengan meruah. Yang mendukung, yang mencaci, yang menolak. Semua tumplak, blas. Jadi satu. Belum lagi kolom komentar yang tidak kalah mendidih. Mungkin saat kita bersilat kata, Mark sedang tertawa terbahak-bahak menyaksikan bagaimana tolol-nya manusia-manusia penggiat media sosial yang terus berseteru.

Gue pada posisi mendukung penuh proses hukum untuk Ahok. Tapi subjektifitas ini tidak lantas harus di-tuhankan hingga menghilangkan akal sehat. Tahan sejenak nafsu hewani untuk menghabisi. Bersantai lah dengan sesaat dengan tautan-tautan lucu. Jika dan hanya jika facebook ini berisi racauan kalian yang  ‘berperang’ seenak jidat. Ada baiknya kalian membuat media sosial baru.

Gue menggaris-bawahi rekan-rekan facebook yang acapkali membagikan berita hoax, ngaco, dan tautan-tautan keilmuan yang entah seperti apa matan dan sanadnya. Dari cara mereka menarasikan argumen atau konten yang terbagi, gue percaya mereka bukan orang yang mengakrabi buku dalam keseharian.

Sekarang gue juga pengen berpendapat di media sosial untuk mengimbangi wacana-wacana yang berseliweran. Perihal penistaan agama sudah dengan apik dibahas oleh Ustad Hamid Fahmi Zarkasyi dalam bukunya, Misykat. Ia berujar bahwa di dunia barat, penghinaan agama disematkan dengan istilah ‘Blasphemy’. Barat sangat menghargai kebebasan berpendapat. Semua orang boleh mengatakan apa-pun. Termasuk menghina agama lain. Tidak boleh ada hukuman atas kebebasan berdemokrasi.

Lanjut beliau, kalau menyerahkan penyelesaian urusan blasphemy  ke masyarakat, akan mengakibat chaos atau kegaduhan. Benar saja. Banyak kasus penistaan yang berakhir dengan tidak baik jika menjadikan masyarakat sipil sebagai hakim. Theo Van Gogh dibunuh oleh Muhammad Bouyeri, penembakan di Charlie Hebdo, hingga dakwaan mati oleh Khomenei pada Salman Rushdie yang membuat Satanic Verses.

Seharusnya pemerintah bergerak aktif untuk menyudahi polemik penistaan agama ini. Di Bangladesh, Taslima Nasrin difatwa mati karena menyatakan Al-Quran harus direvisi seluruhnya. Juga Ghulam Ahmad yang dihukum mati karena menghina Nabi Muhammad.

Urusan agama sudah melekat mendarah daging bagi masyarakat Indonesia. Mereka yang paling blangsak pun dapat tergerak hatinya membela jika agama mereka terhina. Itu Ghiroh namanya. Ujar Buya Hamka. Maka sebelum isu ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang jelas akan mengganggu stabilitas negara, sebaiknya proses hukum segera dilaksanakan.

Sebenernya gue ogah merespon pembahasan-pembahasan jamak yang beredar. Tulisan ini juga didedikasikan atas kekesalan gue melihat ragam informasi monokrom yang menghiasi laman facebook. Ada kalanya facebook pengen gue deaktifasi. Hanya saja masih ada satu, dua informasi penting yang tidak bisa gue lewatkan sekonyong-konyong.

Jika sudah begini gue harus lebih banyak menelan ludah dan menghela napas lebih dalam setiap saat mengakses facebook. Semoga facebook dan media sosial lainnya bisa jauh lebih aman, damai seperti sebelum negara api menyerang.

Tabik!.

Mengapa Blog Menjadi Tempat Curhat yang Lebih Baik

Februari 2, 2014 § 13 Komentar

Joni ga sayang aku lagi. Dia udah ga mau diajakin jalan bareng. Kemarin, waktu dia jalan sama emaknya ke pasar naek sepeda, aku ga dibolehin bonceng tiga. Kalo begini aku lebih baik ngelupain dia. Udah ga ada lagi orang yang sayang sama aku. Lebih baik mati saja *pasang foto tangan yang disilet* pake hestek #luka #korbancinta #merahmerona #gudbye (Posted on Wed, 08:00 AM) 

Masih ada aja makhluk norak bernama manusia yang lalu lalang memajang status curhat. Padahal udah sering gue ingetin bahwa ga ada orang yang akan peduli. Emaknya aja belum tentu ngeh. Orang-orang sadar bahwa mereka yang curhat dan galau putus cinta hingga harus update status di jejaring sosial sebelum bunuh diri tidak pernah benar-benar serius untuk menemui Sang Pencipta lebih cepat. Alih-alih mendapatkan dukungan moral, banyak orang yang mendukung bunuh diri tersebut benar-benar dilakukan, tidak sebatas wacana di status sahaja.

status alay

For God Sake, Gue bisa dengan mudahnya mencari status curhat di media sosial yang bergentayangan di mesin pencari. Dan yang biasanya curhat di facebook punya username yang umm.. *speechless*.

Jejaring sosial mainstream masih mendapatkan porsi perhatian yang besar dari curhat-ers. Posting kegalauan di facebook sudah mirip minum obat, 3x shari, 1×24 jam tamu wajib lapor. Namun kini seiring dengan majunya rhoma irama sebagai capres, status-status curhat di facebook semakin berkurang dan berpindah menjadi twit galau yang menjamah dunia twitter bikinan Jack Dorsey.

Sepertinya ada korelasi yang kuat antara media sosial dengan curhat. Ikatan yang terjalin ini bahkan lebih kuat dari hubungan gelap Tuan Krab yang entah bagaimana bisa melahirkan anak seekor paus.

Bersyukurnya Twitter dibatasi dengan 140 karakter (ada rimanya –ter). Dengan demikian para curhat-ers tidak bisa menceritakan kegalauan mereka dengan semena-mena. Tapi tetap saja. Limitation drives your creativity. Mereka bisa membuat twit bersambung dengan hestek tertentu, curhatnya dikasih nomor sampe sekian ratus yang berisi kisah cinta remaja. In the name of God, Please annihilate them.

Path jauh lebih strict terhadap status-status labil. Kecenderungan user path memanfaatkan media ini untuk posting meme dan update buku, film atau musik yang sedang dinikmati. Sangat jarang ditemui user yang membuat status galau. Kalaupun ada, makhluk tersebut pasti sudah galau akut dan kronis. Mereka perlu diruqyah!

Gue khawatir, kerjasama Dave Morin (yang punya path) dengan Bakrie group justru akan membuat mandul path dalam mengatasi curhat jamaah. ARB jangan sampe memanfaatkan path untuk curhat tentang kondisi perpolitikan dan kansnya jadi presiden (Lah siapa gue). Meme-Path-Bakrie-3

Jauh sebelum jejaring sosial menjamur sebagai tempat berbagi semua keluh kesah dan cerita, orang-orang terdahulu lebih banyak bersikap introvert untuk hal-hal yang sifatnya pribadi. Generasi 80 dan 90 an cenderung memanfaatkan diary untuk bercerita, terutama buat cewe. Diary sifatnya sangat pribadi dan disimpan di tempat yang lebih rahasia daripada lokasi Davy Jones menyimpan harta karunnya.

Berkembangnya internet mengubah perilaku sosial dan budaya masyarakat. Orang-orang lebih terbuka dalam menuangkan ide dan perasaan. Pada tahun 1997, Jorn Barger mengenalkan istilah Web log yang kemudian dengan setengah bercanda, Peter Merholz menyingkatnya menjadi “We blog”. Akhirnya Evan Williams dan Pyra labs menggunakan istilah “blog” sebagai kata benda maupun kata kerja untuk aktifitas bloging yang dikenal hingga saat ini (Wikipedia).

Nah kebiasaan menulis hal-hal penting, krusial, sampe yang paling bizarre pun kemudian berpindah dari pulpen ke tuts keyboard, yang awalnya tertulis di kertas kini tercetak di monitor PC/laptop. Namun esensinya tetap sama, bercerita suka-suka.

WRITEBlog bukan didesain untuk para penulis profesional semata, karena pada dasarnya mereka yang bisa membaca pasti bisa menulis. Penulis terkesan seseorang yang mendedikasikan hidupnya untuk membuat tulisan-tulisan megah, dengan gaya bahasa digdaya. Padahal ga. Lo yang demen curhat di status juga bisa menjadi penulis. Lo tinggal copy-paste aja status alay lo itu ke blog dan tara.. lo seketika menjadi bloger. That simple!

Jangan bayangin ngeblog itu adalah selalu bicara tentang penulis hebat. Ga usah ngarep juga setiap kali posting tulisan, ada penerbit yang ngeliat tulisan lo lalu postingan curhat lo yang miris, lebih sedih daripada kisah cinta Asmirandah-Jonas Rivano, dijadiin buku yang lepas beberapa bulan kemudian dibuat filmnya. Lalu buku lo terbit sekuelnya, filmnya dibuat lagi, lalu dibuat sinetronnya sampe 700 episode dan lo tiba-tiba jadi milyuner menyaingi J.K Rowling atau Stephen King hanya dengan menceritakan cerita cinta lo yang kandas.

Ada beberapa alasan yang menjadikan blog sebagai tempat yang lebih layak, lebih pantas untuk menceritakan semua kisah dan cerita yang kita alami sehari-hari.

1. Lebih Menjaga Privasi

Alasan pertama adalah blog sifatnya jauh lebih privasi daripada facebook dkk. Maksud gue, setiap tulisan berisi curhatan lo tidak dengan mudahnya dapat dibaca oleh pengguna internet yang lain. Jumlah bloger yang tidak semasif penggunaan media sosial mainstream juga turut serta dalam menjaga privasi muatan yang ditulis di blog pribadi. 

Meskipun blog tidak se-strict diary dalam menjaga kerahasiaan tulisan, karena pada dasarnya blog adalah tempat berbagi, namun tetap saja curhatan di blog tidak leluasa diakses. Untuk setiap blog yang terintegrasi dengan twitter, linkedin, G+ dll mengharuskan orang-orang membuka link yang tertaut di akun jejaring sosial kita. Kondisi ini sedikit banyak membuat orang tidak serta merta membaca curahan hati yang menohok yang termuat dalam blog. Tidak seperti facebook yang semua orang bisa dengan mudahnya membaca status yang kita buat.

“Apa ruginya jika orang lain membaca status curhatan kita”?

Ga ada sih. Paling lo dianggap makhluk paling merana dan masuk dalam list 7 makhluk paling menyedihkan di dunia versi on the spot.

2. Lebih Berkelas 

Saat curhat di facebook dan twitter lekat dengan kesan remaja alay dan labil maka curhat di blog terkesan lebih berkelas. Setiap orang yang menuliskan curhatan di blog dituntut untuk meninggalkan jejak tulisan yang baik. Tidak seperti curhat di facebook atau twitter yang cenderung seenaknya saja tanpa dipikir panjang terlebih dahulu.

Mereka yang memuat jeritan hati lewat blog mampu menggubah puisi paling indah, menyisakan prosa paling bijaksana dan merangkai kata penuh romansa. Bukan curhat tidak jelas yang dipenuhi dengan makian dan sumpah serapah nista.

Curhatlah di blog, siapa tau kalian akan menjadi the next Raditya Dika atau paling tidak kalian mengurangi populasi orang bodoh yang curhat ga jelas di facebook, twitter, path dan teman-temannya.

3. Latihan Menulis 

Bagi orang yang patah hati, banyak masalah, menulis menjadi salah satu wadah paling efektif untuk menuangkan segala permasalahan tersebut. Saat lisan tak mau berkata, saat itulah tangan dan kepala bersinergi untuk menghasilkan tulisan yang menyejarah.

Kang Abik menulis Ayat-ayat cinta saat beliau tengah dirawat akibat patah kaki. Kisah dalam novel Tere-Liye gue rasa juga adalah buah dari pengalaman yang kemudian diubah menjadi pelajaran bagi orang yang berpikir.

Tuh, terbukti jika kita mau menuliskan apa yang ada di benak kita, bukan tidak mungkin ia berubah menjadi sebuah karya.

“Ah tapi gue kan bukan penulis, ga ngerti harus mulai dari mana”.

Matt Cutts dalam salah satu video TED mengatakan bahwa kita bisa menjadi apa saja dengan melakukan hal rutin dalam 30 hari. Lakukan selama 30 hari penuh dan lihat bagaimana hasilnya.

4. Tidak Terbatas Karakter 

Salah empat kelebihan dari Curhat di blog adalah tidak terbatas oleh karakter. Memang Facebook juga tidak dibatasi karakter namun gue jamin friendlist lo bakal berkurang drastis seandainya lo curhat di status facebook sampe dua halaman penuh. Ngeliat status curhat yang sedikit aja sudah bikin eneg, apalagi yang panjang.

“Itulah bedanya curhat di facebook dan blog. Kalo facebook curhatnya pendek, kalo blog curhatnya bisa panjang. Ga usah ada dikotomi”.

Ya silahkan aja kalo lo masih bersikukuh curhat di facebook. Tapi jangan salahkan gue kalo Detasemen Salep 88 nyergap kosan lo karena lo dianggap sebagai teroris yang berusaha melakukan makar atas pemerintahan yang resmi. *abaikan*.

5. Lebih Ekspresif 

Dengan curhat di blog, kalian bisa lebih ekspresif daripada sekedar menuangkan kata-kata di dinding facebook atau timeline twitter. Blog menyediakan ruang improvisasi untuk melengkapi tulisan dengan gambar, video, suara sekaligus dalam satu bentuk tulisan. Keunggulan yang tidak dipunyai oleh yang lain. Curhat kalian bisa lebih maksimal.

Banyak bloger berhasil menerbitkan buku gegara curhatan mereka yang mengalami berbagai benturan kondisi. Alit berhasil mengarang buku skripshit akibat mentok dengan tugas akhir yang tak kunjung kelar. Derma mampu dengan cerdas menyusun kenangan semasa kuliahnya dalam buku Derita Mahasiswa dan banyak lagi penulis yang berangkat dari blog.

Nah sekarang kalian tahu kan bagaimana mengekspresikan diri. Ada wadah bernama blog yang memberikan ruang untuk kita bercerita sepuasnya. Jadi jika kalian mempunyai dorongan sangat besar untuk update status tidak penting dan bermuatan curhat, tahan!. Alihkan status-status kalian tersebut ke dalam tulisan yang kemudian di share melalui blog.

Cukuplah media sosial berisi iklan-iklan online dan undangan bergabung di games facebook. Jangan menambah kalut keadaan dengan status yang absurd.

Namun sebaik baik curhat adalah curhat ke orang-orang terdekat yang bisa memberikan solusi atau bahkan sekedar mendengarkan curahan hati kita. Lebih baik lagi adalah cerita semua masalah kepada Sang Khalik karena Ia lah yang berkuasa atas segala sesuatunya *benerin jilbab*.

*Sumber Gambar

Gambar 1 diambil dari sini
Gambar 3 dari sini asalnya
Gambar 2 dari sini

Twitter Bapak Presiden

April 19, 2013 § Tinggalkan komentar

Welcome to twitland  bapak presiden tercinta, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Keberadaan jejaring sosial twitter,  kini sudah mulai menjamah orang no 1 republik Indonesia. Di masa jabatan yang tinggal 1 tahun lagi banyak spekulasi yang muncul terkait latar belakang akun twitter presiden tersebut. Sebagian orang berasumsi bahwa twitter  hanyalah  media pencitraan, sama seperti pencitraan-pencitraan lain yang sering dilakukan oleh beliau. Pencitraan kali ini diarahkan guna memperbaiki nama demokrat sebagai partai penguasa.

Sah-sah saja bagi mereka yang punya pendapat seperti itu.

Istana bereaksi dan beralasan bahwa di antara 20 pemimpin Negara G-20, hanya tinggal beberapa yang belum mempunyai akun twitter. Diharapkan dengan adanya twitter ini, komunikasi antar pemimpin gerakan tersebut dapat lebih akrab dan intens.

G-20 is a group of finance ministers and central bank governors from 20 major economies: 19 countries plus the European Union, which is represented by the President of the European Council and by the European Central Bank (Wikipedia)

Selain itu, presiden diharapkan dapat lebih dekat dengan rakyat. Menyapa rakyat secara langsung, komunikatif serta interaktif. Tapi, kenapa baru sekarang ya? Kenapa ga 9 tahun lalu saat presiden pertama kali dilantik? Ya kali, twitter aja baru dibikin bulan Maret tahun 2006.

Banyak orang yang menanggapi kehadiran Bapak Presiden di timeline. Tidak sedikit yang menyapa, ada juga yang bersenda gurau dan mencoba akrab. Dalam waktu beberapa hari saja, akun ini sudah mendapatkan follower sekitar 1 juta lebih.

Ada yang unik dengan penampakan display picture maupun display background Pak SBY. Akun tsb mirip dengan akun barrack obama, presiden US. Lihatlah bagaimana display background yang menggambarkan presiden di tengah kerumunan massa. Atau memang visualisasi demikian adalah standardisasi buat presiden? Entahlah…

sbyobama

Selain keunikan display background, terdengar informasi lain yang menceritakan bahwa SBY belajar twitter bukan dengan pakar telematika, Menkominfo, Jack Dorsey atau bahkan dari anggota keluarganya melainkan dari sesosok makhluk yang mungkin sangat tidak disukai di dunia kaskus. Makhluk ini adalah member dari boyband yang suka robek robek baju di video klipnya. SBY dikabarkan belajar twitter dari seorang Bisma SM*** (gue ga tega nulis nama lengkap boyband ini).

Reaksi dari orang-orang yang tahu kondisi demikian adalah:

“Oh my God, Pindahkan aku dari negeri ini. Bawa aku bawa aku ke planet lain”

“Bapak Presiden kita ternyata Smashblast”

Berbicara twitter tidak bisa terlepas dari twit serta follower dan following. Di awal udah gue sebutin bahwa follower SBY sudah mencapai sejuta lebih (pada saat tulisan ini dibuat). Di antara follower tersebut, ada yang berniat untuk mengkritik, membully, mendukung dan berbagai alasan lainnya.

Berbeda halnya dengan jumlah follower, jumlah following Pak SBY hanya beberapa puluh orang saja. tidak banyak memang. Beda halnya dengan following Obama yang mencapai ratusan ribu. Meskipun memang followernya Obama sudah sampe 30 jutaan sih :).

Di antara akun akun following beliau, sudah dapat dipastikan ada nama “Bisma sm***”,  Sang guru spiritual twitter.

Berikut adalah klasifikasi akun yang difollow pak presiden menurut pengamatan gue

1. Akun motivator

Dari beberapa akun yang difollow beliau, terselip nama-nama seperti Ippho santosa, pakar otak kanan. Tung desem waringin, komunikator no 1 Indonesia. Gue juga ga tau apa yang menjadi landasan presiden memfollow akun para motivator. Mungkin beliau butuh motivasi pada saat rakyat membully akunnya di twitter.

 ”super sekali pak SBY, janganlah kita berkeluh kesah, kalau tak ada gunanya, berkeluh kesah boleh saja, kalau ada perlunya” *rhoma irama – begadang*

Jadi pak presiden kita tidak perlu galau saat akunnya ”diserang” oleh kritikan rakyat. Ada para motivator yang siap membangkitkan kembali semangat.

Sayang, akunnya Mario Teguh belum difollow. Karena semua masalah bisa jadi mudah di hadapan mario teguh :D.

2.  Artis

Wiihhh, gaul beud dah presiden kita. Beberapa nama artis diikuti kicauannya. Pak SBY tau juga nih yang cakep-cakep. Ada julie estelle, masayu anastasia, Titi Rajo bintang, Olga syahputra (keselek!!). Ga lah, gila aje kalo Pak SBY follow Olga.

Menurut gue sih, Akun artis yang difollow beliau kurang strategis. Ada baiknya jika akun yang difollow adalah akun dengan follower yang jutaan. Seperti Sherina, Raditya Dika atau Lady Gaga (What, lady gaga???). Kan ok tuh jika kebijakan yang disampein lewat twitter bisa dibaca oleh jutaan follower artis bersangkutan. Artis yang difollow juga sebaiknya folbek dong ya. Kurang ajar banget kalo sampe ga folbek Pak Presiden. Ntar beliau prihatin :p.

Ada juga nama Memes dan Addie M.S. Gue kepikiran aja, Addie M.S dan titi rajo bintang adalah dua orang juri IMB selain Deddy corbuzier dan Soimah. Apa iya SBY penggemar acara Indonesia Mencari Bakat? Sampe-sampe jurinya aja difollow.

Atau mungkin dapet masukan dari Bisma Sm*** juga?

3. Cendekiawan

Diantaranya ada nama-nama seperti Goenawan Mohamad, dedengkotnya Tempo; A.Mustofa bisri (Kyai NU plus mertua Ulil);  Komarudin Hidayat (Rektor UIN Syarif Hidayatullah). Entah kebetulan atau tidak, ketiga nama cendekiawan tersebut adalah orang-orang yang dikenal sedikit banyak mendukung gerakan islam liberal. Mungkin prediksi gue salah, gue yakin Pak SBY Islamnya mah lurus-lurus aja. Ga liberal kyk ketiga akun tersebut.

Untungnya beliau tidak memfollow akun dedengkot JIL, Ulil Abshar Abdala yang level ke-JIL an nya udah stadium 6.  Ia yang berani mengatakan bahwa Al quran adalah produk budaya. Al quran pada beberapa poin sudah tidak relevan lagi dengan kondisi saat ini, ujarnya. Ulil mencoba menyelisihi ucapan Abu-Bakar, Sahabat Terbaik Rasul, yang berujar ”jikapun tali kekang untaku terlepas, maka akan kutemui ia di dalam Al quran”

4. Keluarga

Sudah seharusnya akun-akun keluarga harus menjadi prioritas untuk diikuti. Menunjukkan bahwa Pak Presiden adalah orang yang famili-sentris. Tengok saja bagaimana Partai Demokrat bak sebuah Dinasti Yudhoyono, hehe. Ada nama Ibas, sang putra penerus estafet kekuasaan SBY di partai demokrat. Juga Aliya Rajasa, Istri Ibas, Menantu SBY, dan Anaknya Hatta Rajasa, Menko Perekonomian. Juga tentunya Annisa Pohan, Menantu lainnya dari Pak SBY.

Kok Ibu Ani belum punya akun twitter? Mungkin takut difollow sama Bang Haji Rhoma. ”tunggu aku, Ani”.

rhoma

5. Politikus

Ada nama Jusuf Kalla, mantan partner beliau di Kabinet Indonesia Bersatu Jilid Pertama yang juga menjadi kompetitor dalam usaha merebut RI 1 pada periode jabatan presiden 2009-2013.

Boediono, mungkin Boediono bukanlah seorang politikus namun ekonom yang diangkat menjadi wakil presiden SBY. Jika selama ini Pak Boediono tidak ketahuan dimana rimbanya, mungkin kita bisa mention Pak SBY untuk menitipkan salam agar disampaikan ke akun boediono. Pak Boediono mungkin masih menjalani peran sebagai Bang Toyib yang tak pulang pulang setelah tiga kali puasa dan tiga kali lebaran.

Yusril Ihza Mahendra, politikus PBB dan mantan menteri. Urgensinya apa memfollow beliau? Wallahu ’alam.

Di antara akun lain yang difollow SBY, ada nama penulis semisal Asma Nadia dan Helvi Tiana Rosa, dua orang kakak beradik penulis novel islami. Pak SBY tampaknya ingin belajar menjadi penulis, setelah sebelumnya mampu menunjukkan kebolehan sebagai penyanyi dan pencipta lagu.

Bapak,  Anda sepertinya lebih cocok menjadi pekerja seni karena sudah punya bekal untuk berekspresi. Ekspresi keprhiatinan terhadap masalah bangsa, sungguh sangat menggugah.

Juga ada akun twitter yang highly recommended buat difollow kita, rakyat twitter indonesia yakni akun GNFI (good news from Indonesia). Dari namanya lo pasti tau bahwa akun ini adalah akun yang menyebarkan berita-berita bagus tentang Indonesia. Boleh jadi tentang prestasi anak bangsa, produk-produk dalam negeri di mata dunia dan semua yang membanggakan ktia sebagai keutuhan Indonesia.

Berita baik seperti ini perlu sebagai penyeimbang arus informasi yang hanya berisi berita-berita korupsi, pemerkosaan, pembunuhan yang memenuhi headline media-media cetak dan elektronik setiap hari.

Untuk akun sisanya gue ga punya ide mereka siapa. Bukan public figure. Atau mungkin gue yang kuper.  Kemungkinan sih mereka adalah teman presiden saat beliau masih pake seragam putih-merah.

Semoga dengan akun twitter, Presiden kita bisa lebih memahami keluh kesah rakyatnya. Tapi rakyat juga harus beretika dalam berdialog. Twit-twit ga penting yang biasanya dikirimkan untuk temen sekolah, rasanya tak perlu dimention pak presiden

”Follow akuh dong Pak SBY, entar aku traktir es pocong”. Bisa bisa lu yang dijadiin pocong sama paspampres.

”Pak, Kapan nih ngajarin aku jurus kagebunshin, biar bisa rangkap banyak tugas kyk bapak”.

”Wahai Bapak, poni lempar aku bagus ga?”

kagebunshin

Twit twit di atas dijamin tidak akan digubris. Gunakanlah bahasa yang baik dalam menyampaikan pendapat ataupun kritik. Karena temen gue pernah bilang ”Ngomong sama presiden sama aja kyk ngomong sama bapak kita, jadi mohon dihargai”. Bener apa yang temen gue sampein.

Gue sih sampe saat ini belum follow beliau. Gue harap Pak SBY juga bisa lebh banyak memfollow rakyat non alay, biar lebih terdengar jeritan rakyat kecil.

5 Kegiatan yang Cuma Bisa Dilakukan oleh Mahasiswa

Januari 3, 2013 § 1 Komentar

mahasiswa

Masa-masa kuliah itu unik. Belajar tapi tidak kaku. Bebas tapi tetap terbatas. Luwes tapi terkadang hasilnya pedes. Duduk di bangku kuliah sangat berbeda dengan ketika menghabiskan waktu di bangku sekolah SD-SMA, meskipun sama-sama dalam domain belajar. Karena mungkin dianggap sudah dewasa, mahasiswa cenderung lebih ”liberal” dalam memperoleh ilmu. Ada yang kuliah sesuka hati, ada yang dengan cerdas memanfaatkan jatah 20% absen, ada yang datang kuliah hanya saat ujian akhir. Semua boleh tergantung seberapa cerdas lo dan seberapa baik sang dosen :D.

Kalo gue sih tergolong mahasiswa pada umumnya. Pinter ga terlalu, bloon juga ga. Rajin lumayan, males kadang-kadang. Kuliah iya-organisasi ok. Kadang masuk kelas, kadang bolos. Yah general case mahasiswa sih. Ga terlalu spesial.

Gue mencoba menjalani masa kuliah just the way I am. Ga ikut-ikutan mereka yang tiap hari aksi, ga ikutan mereka yang tiap hari nongkrong di perpus, juga ga ikutan mereka yang tiap hari jalan-jalan ke mall. Semua yang sifatnya monoton kyk gitu bisa bikin gue mati berdiri. Gue lebih memilih jadi mahasiswa yang luwes aja.

Diajak aksi? Boleh aja sih, selama aksi itu jelas peruntukannya, jelas analisis kondisinya, ada tujuan dan outputnya. Diajak nongkrong ke perpus? Hayu. Apalagi saat ada peer yang susah dan ada yang niat ngajarin (ngerjain) PR kita. Wah, dengan senang hati gue menuju perpus. Walo harus ketemu penjaga perpus yang lebih galak daripada kerberos (anjingnya hades).

Diajakin nge-mall? No problemo, PVJ, IP, BIP, Ciwok hayu aja. Asal ada uang apalagi sampe ada yang traktir. *lap iler*

Sebagai mahasiswa biasa-biasa saja, gue masih inget beberapa kejadian di kampus yang menurut gue sangat jarang terjadi pada fase kehidupan yang laen.

  1. Ngumpulin tugas pagi-pagi

Suatu ketika gue lirik timeline, sesaat gue ngeliat twit adek kelas tentang ujian salah satu mata kuliah yang cukup horor. Pak Dosen yang ngasih soal ujian memberikan keleluasaan siswanya buat nyelesein soal-soal horor itu dengan limit waktu tertentu, mau open book silahkan, tanya temen boleh, tanya Einstein atau Niels Bohr juga ga masalah.

Soalnya memang sedikit, tapi penyelesaiannya subhanallah dahsyatnya. Dosen gue menyebutnya dengan soal terbuka.

Entah apa makna hakiki dari “soal terbuka”. Apakah mengerjakan soal itu di alam terbuka, mengerjakan soal dengan tangan terbuka (siap menerima contekan) atau mengerjakan soal dengan hati terbuka (tabah kalo dapet nilai jeblok), yang jelas soal terbuka pastilah bukan soal yang berhubungan dengan puasa ramadhan, ter-buka (yang paling buka #puasa –red) *jayus* *telen genteng*

Yang paling sering, soal diambil di ruangan dosen dan waktu pengerjaannya mulai dari 13.00 WIB dan dikumpul paling lambat 09.00 pagi keesokan harinya. Dan kegemparan pun dimulai. Ada yang heboh sendiri bahkan ketika belum melihat soalnya seperti apa. Ada yang langsung nyewa pesawat ulang alik NASA buat ngerjain soal di bulan. Biar tenang katanya.

“Kalo gue sih normal aja, ngerjain bareng-bareng temen. Paling ga, satu nasib satu penderitaaan.”

Biasanya kita sampe nginep buat ngerjain tugas ini. Berjamaah ngerjainnya. Yang otaknya paling encer, jadi imam, yang lain cukup bilang, Amiiin.

Kalo dipikir pikir lagi, soal tersebut memang susah. Tapi tidak serumit yang kami bayangkan. Jika memang sering masuk dan perhatiin ulasan pak/bu dosen, maka tidak perlu menghabiskan satu malam suntuk. Yang membuat durasi mengerjakan ujian menjadi panjang adalah kegiatan-kegiatan pengiringnya.

Agenda mengerjakan ujian bersama biasanya dimulai dengan makan malem bareng, heng-ot, ngopi-ngopi, kongkow dan ngobrol ngalor ngidul. Puas cerita dan perut kenyang, langsung menuju basecamp buat peregangan. Biar ga kaku otak dan otot. Peregangan biasanya dimulai dengan game—game lucu. Mulai dari maen UNO, maen tebak-tebakan, sampe maen perasaan #ehhhh.

Selesai maen, dan ketika otot serta otak mulai regang. Mulailah rasa ngantuk datang. Dengan susah payah melawan rasa ngantuk, satu per satu soal mulai dikerjain. Jelas, fokus beralih ke tempat tidur. Seringnya, karena tidak fokus pada soal ujian, kami mencari posisi PW masing-masing buat tidur, have a nice sleep. 

Sleeping time

Sleeping time

Dini hari langsung panik, teriak-teriak, kayang, salto, bingung dengan tugas yang belum selesai. Kemudian hening, mencoba mengerjakan soal satu demi satu.

Mendekati jam deadline, kepanikan bertambah dahsyat. Dengan kantung mata yang membesar, muka kucel, lecek, dateng ke tata usaha jurusan buat ngumpulin tugas.

Oh God, cant imagine our appearance at that time.

Tapi ngumpulin tugas pagi-pagi buta cuma gue temuin di kampus. Entah kalo sudah ada yang ngalamin ini sejak sekolah dasar.

        2.  Nge-lab sampe pagi

True story nih. Gue ga tau gimana cerita di kampus laen, tapi di kampus gajah, ngeleb sampe pagi itu hal biasa. Slogan ”masuk susah keluar susah” dari kampus ini bener-bener kami alami. Ga gampang bro dapet gelar sarjana di depan nama lo, jadi jangan disia-siain tuh.

Naif aja buat orang-orang yang menafikan gelar sarjananya, hanya karena doi memilih jadi entrepreneur. Seolah-olah gelar sarjana itu cuma buat nyari kerja. Think it over, dude. Lo sama aja ga ngehargain kerja keras lo sndiri, entah kalo misalnya TA itu hasil manipulasi data atau dikerjain orang laen. :D.

Kyknya semua jurusan di ITB pada labbing sampe pagi, terutama mendekati masa-masa kritis perkuliahan, Deadline Tugas Akhir. Ini bukan masalah mahasiswa rajin atau ga. Tapi masalah eksistensi di kampus. Bertahan atau keluar dengan tidak terhormat. Tapi nyantai, banyak orang sukses drop-out dari kampusnya toh?

Sensasi ngelab sampe pagi itu bener-bener luar biasa (buat gue). Ngampus malem-malem, ngalor-ngidul (tetep), terus baru ngelab kemudian. Sambil nunggu kerjaan lo running, lo bisa donlot film, gitar-gitaran, ngupil atau latihan drama sambil ngitungin laju reaksi pelarut-reaktan yang ada di labu bundar *telen buret plus klem*

Lebih seru lagi kalo ngeleb ditemenin radio yang muter cerita horor. Dan lebih rame, kalo banyak kisah-kisah angker di tempat lo ngelab. Ga bakalan ngantuk. Ntar pas lagi bengong, ada yang gedor-gedor lemari, atau ada yang lemparin tissue pas lagi sendirian di ruangan. Seru kan? Hahaha #FriendsTrueStory.

       3. Join aksi

Seperti cerita gue sebelumnya, gue pernah ikutan aksi. Bukan buat sombong tapi buat gue, aksi itu adalah sebuah kesempatan untuk dapat menyampaikan aspirasi kepada pemerintah. Tentunya dengan kapasitas kami sebagai seorang mahasiswa. Dalam kapasitas seorang insan terdidik yang gerah dengan kondisi bangsa.

Aksi seorang mahasiswa terdidik tidak ditandai dengan adanya kekerasan atau maen pukul-pukulan. Tindakan-tindakan cacat seperti itu justru mendiskreditkan posisi mahasiswa di mata masyarakat. Aksi yang gue ikuti adalah aksi damai, menyampaikan aspirasi yang didahului oleh kajian-kajian komprehensif dalam point of view seorang manusia dewasa dalam kategori mahasiswa.

Bukan Aksi Yang Seperti ini

Bukan Aksi Yang Seperti ini

Masa-masa menjadi pelajar sebelumnya tidak memungkinkan buat seseorang melakukan aksi untuk negeri. Kalau pun ada, mungkin sebatas aksi lokal menentang kesewenangan kepala sekolah dll.

Gue ga kebayang kalo ada anak SD dengan seragam putih-merahnya, memegang TOA sambil berorasi ”turunkan SBY, turunkan Boediono. Mereka mengkriminalisasi KPK”. Atau bakar-bakar foto presiden sambil berteriak, ”dimana keadilan, di saat sodara sodara kami mati kelaparan”.

Yang jelas, gue ga akan nyekolahin anak gue di SD tersebut!.

Banyak yang memicingkan mata terhadap aksi yang dilakukan mahasiswa. Mahasiswa disitir, mereka demonstran bayaran, mereka ditunggangi parpol dan berbagai hominem laen. Ah biarkan saja, anjing menggonggong dua tiga pulau terlampaui. Yang jelas, selama lo mahasiswa dimana idealisme sedanga berada di puncak, coba sekali sekali ikutan aksi. Tapi aksi yang dilatarbelakangi oleh pendekatan ilmiah. Bukan tindakan-tindakan bodoh yang teriak kanan kiri tapi tidak tau arti dan substansi. Ini sama saja bunuh diri.

      4.  Hangout di sela jam kuliah

Manfaatin masa-masa kuliah dengan baik dan sebijak-bijaknya sebelum masa kerja datang merampas semua. Manfaatin jam-jam siang buat nonton bareng temen, kongkow-kongkow di cafe. Karena ketika udah nyemplung di dunia kerja, jangan harep bisa keluar siang-siang seenak perut. Kecuali emang kerja di bioskop atau di mall.

Karena jadwal kuliah yang ga rigid kyk anak SD-SMA, kita bisa pandai-pandai mengatur waktu. Kapan harus kuliah, kapan harus belajar, kapan harus berorganisasi, dan kapan harus refreshing.

Misal lo ada kuliah jam 8-12, terus ada kuliah lagi jam 15-17. nah, kan bisa tuh nonton premier film “Kuntilanak bunuh diri”, atau “Jenglot maen layangan”. Untung-untung bisa nomat. Sehabisnya film, bisa balik ke kampus buat belajar (ngenet) lagi. Tapi inget, harus fokus dalam segala hal. Jangan sampe waktu nonton lo terus komat-kamit rumus ABC, atau teriak histeris ketika ngeliat ketapel yang lo asumsiin huruf psi dalam rumusnya schrodinger. Bisa-bisa lo ditendang dari bioskop.

Apa-apa yang ada di bioskop cukup ditinggalin di sana, tidak perlu di bawa ke dalam kelas. Gue takut pas dosen lagi bertanya siapa penemu radioaktif, lo jawab “Tony stark dengan iron man-nya” atau bilang ke dosen “pak, why so serious” sambil ketawa seremnya alm. Heath ledger. Itu mah nonton ga khusyuk, di kelas kena tabok.

Jadi anak kuliahan mah jangan kuper, jangan apa-apa disangkut pautin dengan teori relativitas, atau ketidakpastian heisenberg. Seize it all. Yang penting fokus pada apa yang di depan lo tanpa mengabaikan hal laen. Jangan kaku, membatasi diri pada hal tertentu.

      5. Twitteran di kelas

twitwar

twitwar

Nah poin yang ini gue ga recommend buat ditiru apalagi dishare ke orang-orang. Cukup gue yang mengalami. Intinya perlu sih ada sifat rebel, apalagi lo cowok. Ini pembenaran sebenernya. Dasar guenya yang rada nakal, hehehe.

Sebenernya kelakuan-kelakuan nakal pada saat guru menerangkan pelajaran tidak hanya terjadi di bangku kuliah, sejak SD pun gue rasa kita udah ngalamin. Cuma mungkin beda metoda. Kalo masih pake seragam putih-biru atau putih abu-abu, buat mecahin boringnya kelas dengerin metoda satu arah guru ngejelasin sejarah phitecantrhopus erectus, kita biasanya maen tebak-tebakan pake kertas, atau kalo sempet malah bisa maen petak umpet di kelas 😐 .

Nah berhubung gue baru kenal yang namanya media sosial macem twitter dan facebook pas jadi mahasiswa, kenakalan-kenakalan itu bertransformasi menjadi lebih canggih. Dari sebelumnya kertas sebagai media komunikasi dengan teman-teman satu kelas, kini saling mention di twitter lebih jadi pilihan.

Ntar yang pinter pinter, yang biasanya duduk di depan, cukup buat kultwit dengan tagar tertentu, misal #VolumeMolarParsial.

Tinggal dibuat chirpstory, mention deh temen-temen sekelas. Gampang? tapi tidak untuk ditiru.

Lalu kalo dosen, bertanya jawabnya via twitter aja. Misal : Ibnu, apa perbedaan ATR dan FTIR? Kita jawab via twitter aja, mention dosennya. Nanti kalo dosen tsb nanya ke siswa laen, doi cukup RT jawabannya ibnu. Simpel dan cepat. Pastiin sang dosen punya twitter, dan siap-siap aja ngulang matkulnya tahun depan..oops!.

Kalo misalkan tidak sependapat dengan materi yang disampaikan dosen, lo bisa twitwar. Bikin kultwit tandingan. Jangan lupa apdet lokasi juga di foursquare, biar jelas TKP perangnya.

Itulah serunya menjadi mahasiswa. Ketika idealisme bisa saling berbenturan. Tidak hanya di dunia nyata namun juga di dunia maya. Tidak lagi bisa dicekoki seenakya.

Kalo anak sekolah mah twitterannya paling jauh seputar kapan cherrybelle punya personel cowo, atau kenapa justin bieber rambutnya ga botak, paling serius ngomongin bocoran soal UAN atau pilihan-pilihan jurusan pas SNMPTN.

Yah itu sih yang menurut gue hal-hal khas yang Cuma bisa gue temuin di kampus. Ga di tempat atau masa yang laen. Kalo kurang berkenan, sorry ya semua.

*semua gambar diambil dari google

Bahagia itu adalah

Oktober 20, 2011 § 2 Komentar

Bahagia itu adalah sebuah ekspresi suka cita, kegembiraan, kesenangan terhadap suatu peristiwa yang terjadi, yang diperoleh. Setiap orang punya definisi pribadi untuk makna sebuah kebahagiaan. Bahagia di mata seseorang bisa jadi amarah bagi orang lain.

Sejak belajar bisnis, gw punya definisi sendiri tentang makna sebuah kebahagiaan. Bisnis delivery makanan korea ini memberikan alasan-alasan yang bisa membuat bahagia walo mungkin cuma hal sepele.

Tokkipokki

Tokkipokki

Dan memang kebahagiaan itu bukanlah sebuah pemungutan suara, bukan voting. Jadi tidak perlu memaksakan diri untuk ikut merasa bahagia usai membaca tulisan ini. Walau pada dasarnya emosi itu bisa menular.

Dengan sistem marketing secara on-line yang kami lakukan untuk promosi bisnis delivery, sebagian besar kebahagiaan itu lahir dari rahim interaksi terhadap jejaring sosial.

New Version of “bahagia” menurt gw adalah :

1. Saat gw aktifin Yahoo Messenger, udah banyak frenlist yang nunggu buat diapprove. “Artinya adalah promosi via online dengan mencantumkan id YM cukup berhasil. Sebagian besar customer justru memilih untuk order via YM ketimbang sms atau telepon, biar hemat kali ya dan ngobrolnya bisa panjang..hehehe. Siapa tau bisa sambil kenalan”….#ehhhhh

2. Pas onlen twitter, follower @tokkipokki udah semakin banyak, melebihi jumlah following. Padahal di awal buat akunnya, ratio of followingnya timpang banget. Tips : follow akun yang berafiliasi dengan target pasar dan memiliki follower ribuan

Followernya tokkipokki

Followernya tokkipokki

3. Saat buka TL (ga ada hubungan sama ITB), liat yang ngemention, hati gw langsung berbunga-bunga (adegan didramatisr) waktu ada yang nanya-nanya tentang menu.
Syukur-syukur ada yang langsung mau beli. Kalo ga ya it doesn’t matter, nambah koneksi. Karena dari buku psikologi tipping point, kenalan itu justru yang memberikan peluang pekerjaan lebih besar daripada teman yang kenal sudah lama. Jadi lebih baik banyak kenalan daripada banyak teman deket. lho!!!

4. Bahagia itu adalah ketika tokkipokki nulis di Timelinenya akun twitter yang punya follower bejibun, kita di RT a.k.a di Ritwit. Kalo berkicau di Timeline sendiri kurang efektif. So, kita coba memanfaatkan akun dengan follower yang ribuan sehingga promosi terasa lebih mudah.

5. Ehh, ada yang mention tokkipokki sambil mengeluarkan sejuta ucapan pujian terhadap rasa, harga dan pelayanan. Wah, kalo udah dipuji gini kita langsung meleleh

Gomawo unnie

Gomawo unnie

6. Saat buka fanpagenya Tokki pokki di facebook, ada notification yang terlihat. Indikasi ada fesbuker yang ninggalin jejak di fanpage. Entah itu buat mesen atau memang cuma buat tegur sapa,, annyeong.

Silahkan di-like fanpagenya

Silahkan di-like fanpagenya

7. Bahagia itu adalah, sewaktu hape esia jadul kami berdering. Entah itu sms atau telepon. Baik yang mau mesen atau orang iseng miskol, atau bahkan cuma mau denger suara mas kurir..hehe

8. Saat malem-malem, kudu nganterin pesenan ke luar Bandung. Kabupaten Bandung maksudnya…walau cape dan sebel karena jauh, tapi dibawa happy aja. itung-itung wisata malem.

9. Sewaktu Lo nganterin makanan, makanan lo dipromosiin sama calon ketua Ikatan Alumni ITB, hehehe.. Ini kisah nyata. Ada di fanpagenya Tokki pokki 🙂

Bersama ibu Nining, calon ketua IA-ITB

Bersama ibu Nining, calon ketua IA-ITB

10. Salah satu yang paling membahagiakan dari bisnis ini adalah saat

TL ITB banyak akhwatnya.. :D

TL ITB banyak akhwatnya.. 😀

harus dan tidak terpaksa delivery makanan ke yang ijo-ijo alias Teknik Lingkungan ITB. Wah,..  kalo nganter ke TL mah, ane rela ga dibayar juga neng.. *punten ran, adha, hereuy!!

11. Adalah saat banyak pelanggan yang memesan lagi dan lagi sampe-sampe ada yang ngasih saran untuk segera buka kedainya…Amin, mohon doanya chingu

12. Bahagia itu adalah saat perusahaan online marketing menawarkan kerjasama dengan usaha yang baru berdiri selama dua minggu.

Kejadian ini kami alami saat web promosi online Disdus.Com mengajak kerjasama untuk memasarkan produk tokkipokki karena dianggap unik. Kami pun merasa tersanjung dengan tawaran tersebut,

13. Dan definisi bahagia terakhir versi gw adalah ketika pelanggan puas dengan pelayanan dari tokki pokki 

Ternyata bisnis memang luar biasa. Kejadian hebat bisa datang tanpa terduga. Benarlah apa yang dikatakan Rasul bahwa 9 dari 10 pintu rejeki itu ada pada perdagangan

Galau dan Jejaring Sosial

September 28, 2011 § 8 Komentar

Galau, Kata ini sepertinya sudah tidak asing di telinga kita seperti halnya istilah alay dan lebay. Terlebih era jejaring sosial semakin mengokohkan posisi galau dalam istilah anak muda zaman sekarang. Galau seolah menjadi metafor umum bagi semua orang. Sedikit masalah yang terjadi langsung dapat terekspresikan baik itu twitter, facebook dan jejaring sosial lainnya. Dalam kata berujar untuk tidak mengumbar kisah luka, tapi status galau selalu tebar pesona. Miris kan ya?

Lalu sebenernya apa definisi galau sesuai dengan kaidah bahasa yang baik dan benar? Kalo yang jadi acuan adalah KBBI Galau adalah keadaan sibuk beramai-ramai atau pikiran kacau tidak keruan.
Lain lagi definisi galau versi Rerey “Galau adalah suatu keadaan ketika suasana hati menginginkan kebebasan, namun ada yang mengikat, gak mau lepas”.
Menurut Spica Arumning (blogger) Galau adalah suatu keadaan dimana kita memikirkan suatu hal secara berlebihan, bingung apa yang harus dilakukan dengan suatu hal ini .. Dengan pikirannya sendiri sehingga menimbulkan efek emosi melabil, pikiran pusing, dan mendadak insomnia. sumber

Begitu banyak definisi galau namun kita bisa menyimpulkan bahwa galau adalah sebuah kondisi dimana perasaan menjadi begitu kalut, bingung terhadap masalah yang dihadapi dan terkadang diekspresikan secara berlebihan. Ada korelasi yang kuat antara istilah galau dengan peranan media sosial. Galau belomlah sempurna jika tidak update status facebook atau tweet bahkan status yahoo messenger. Galau sebatas konsumsi pribadi masih pada tahap kekalutan perasaan saja.

Ekspresi-ekspresi kegalauan dapat dengan mudah ditemukan. Twitter pun jadi ajang promosi. Ada akun twitter @GaneshaLau, @Pocoong dan akun lainnya dengan variasi kegalauan yang ditawarkan. Belom lagi status-status di facebook yang diganti setiap menitnya hanya untuk menggambarkan betapa bergejolaknya perasaan yang terjadi. Dua Jejaring sosial ini memang menjadi ajang pamer kegalauan.

Kenapa harus galau? dan kenapa ketika galau harus diungkapkan kepada semua orang?
ah, saya mah ga maksud untuk bercerita ke orang lain apa yang terjadi pada saya“. Sering mendengar para pelaku kegalauan menampik tindakan mereka sendiri? Jika iya, berarti kita sama. Padahal anak yang baru bisa baca pun tahu betapa menyebalkannya melihat TimeLine dipenuhi dengan tweet seperti “aduh, perasaan apa ini? kok gw jadi mikirin dia” atau twit serupa “dia suka akuhhh ga yah? kangen dech liat senyumnya”. Padahal orang-orang tidak perduli apa yang terjadi pada kita.
Yang bingung justru teman atau follower si pelaku kegalauan ini. Diunfollow atau diblock rasanya kurang etis (karena biasanya yang ngetwit temen sendiri), tetep difollow mata jadi sakit liat status galau. Satu hal yang dilupakan adalah di samping memiliki akses privasi di jejaring sosial, kita juga memiliki domain umum yang bisa diakses semua orang. Jadi alangkah baiknya jika kita menjadi pengguna jejaring sosial yang bijak.

Pada akhirnya galau itu menunjukkan kurang bersyukurnya seseorang. Galau itu identik dengan keluhan. Padahal jika memang punya masalah cerita ke orang yang terpercaya rasanya jauh lebih berguna.
Let’s say No to Galau

Hidup lebih bahagia dengan bersyukur

Gw Skeptis Sama Status

Maret 18, 2011 § 18 Komentar

Pernah denger istilah skeptis?

Dalam bahasa inggris digunain kata skeptic atau skeptical, artinya ragu-ragu atau curiga. Kata ini juga telah mengalami asimiliasi ke dalam bahasa indonesia dengan definisi yang sama.
Setiap kita pasti pernah ragu-ragu terhadap suatu hal hingga membuat kita sinis dan benci terhadap objek tersebut. Itu juga yang gw rasain sekarang. Gw lagi skeptis!!!

Gw lagi skeptis sama status. Gw skeptis sama orang-orang yang apdet status di facebook ataupun twitter yang sok-sokan bernada nasihat, berirama taubat, bersenandung anti maksiat tapi apa?? tapi ternyata status tersebut dibuat cuma demi mendapatkan perhatian dalam bentuk “jempol” atau dikomen dengan nasihat dan kata-kata mutiara balesan. Seolah status tersebut memang sengaja dibuat untuk menjaring perhatian orang lain sebanyak-banyaknya. Bentuk perhatian tersebut terjewantahkan dalam bentuk berapa banyak teman yang “like” dan memberikan tanggapan ke status tersebut.

Bukankah memang sebagian besar status yang diapdet di facebook dan jejaring sosia lainnya dalam bentuk kata-kata mutiara ataupun nasihat ditujukan untuk itu? untuk dianggap cerdas, tangkas, berwawasan luas.

Kenapa gw punya pikiran kek gini?  seolah gw tau apa yang ada di benak para pencari “jempol” !! dan bukannya gw justru totally suudzon?

Sekali lagi gw bilang kalo gw lagi skeptis. Bagi gw, status seseorang yang berasal murni dari hati dan memang datang untuk memberikan informasi kebaikan bisa gw bedakan dari intuisi. Meskipun gw ga tau intuisi gw bener ato ga.. Gw yakin kok,, apa yang berasal dari hati pasti akan menyentuh hati. Ketika gw baca status “lenje” dan seolah minta dikuatin sama temen-temen di frenlist sambil bermanis-manis ria, hati gw ga bisa nerima meskipun substansi status tersbut berupa sbuah nasihat.

Biar gw terperangkap dalam dogma sketpis gw. Toh cuma gw yang bisa bedain mana status “klise” nan alay dan mana status pure tanpa embel-embel ngarep jempol ataupun komen. Biasanya mereka yang bikin status klise itu bakalan sebel kalo ga ada yang komen atau ngasih jempol ke statusnya. Pengalamaan pribadi gw juga bilang gt.

So, ga usah sok-sokan pasang status facebook atau ngetwit yang ngasih pencerahan deh kalo niatnya cuma pengen dianggap arif nan bijaksana. Daripada kita masuk neraka gara-gara riya. la wong ga pasang status kek gtu aj kita masuk neraka, masa beban neraka kita mau ditambah dengan status2 klise.

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with twitter at I Think, I Read, I Write.

%d blogger menyukai ini: