memandang cinta dengan dimensi yang berbeda

Oktober 24, 2009 § 2 Komentar

Setelah sukses mengeluarkan buku-buku suplemen bagi pembacanya, Salim A fillah kembali menyusun rangkaian tulisan dengan tema yang tetap khas yakni masalah cinta. Inilah buku kelima Salim sejak ia sukses menulis buku pertamanya yang berjudul Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim. Penulis muda berbakat kelahiran Yogyakarta ini berhasil memadukan gaya bahasa anak muda dengan kedalaman berpikir orang dewasa. Dibahas dengan bahasa yang luwes dan lugas menjadikan buku ini semakin “renyah” untuk dinikmati. Walaupun orientasi buku ini diarahkan kepada para pemuda tapi tidak menutup kemungkinan bagi orang tua untuk membacanya karena konten yang dibawa cukup komprehensif.

Seperti beberapa buku sebelumnya  jalan cinta para pejuang tetap menampilkan kata pengantar oleh ustad Muhammad faudhil adhim yang telah lama menjadi guru, teman, sahabat, orang tua bagi penulis di bagian pertama buku ini. Kisah mengenai percintaan historis seorang Layla-majnun serta Romeo-Juliet menjadi menu pembuka dalam daftar hidangannya. Penulis memandang kisah percintaan dua anak manusia yang melegenda hingga saat ini dengan dimensi yang berbeda. Cinta dalam kisah itu menjadi sebuah bentuk penghambaan seorang manusia kepada makhluk yang dicintainya. Rela mati demi cinta dan orang yang dicintainya merupakan sebuah ending dari kedua kisah di atas. Cinta yang diumbar oleh Shakespeare dalam Romeo dan Juliet nya merupakan sebuah bentuk ketidakberdayaan seorang Romeo di hadapan tuhannya yang ia sebut sebagai cinta, cintanya kepada Juliet. Begitu pula dengan kisah Layla-Majnun. Majnun adalah bahasa Arab untuk menyebut gila. Yah, dalam kisah ini diceritakan bahwa Qais seorang pemuda arab menjadi gila karena hubungannya dengan Majnun  yang tidak mendapat restu orang tua. Lalu penulis berhasil menyentuh hati pembacanya dengan sebuah kiasan yang cukup unik. Dalam salah satu bagian penulis menuliskan bahwa kegilaan dalam cinta seperti dua kisah di atas memang indah dan mampu dikenang sepanjang masa. Akan tetapi tentu saja jika kita mengikuti langkah Qais ataupun Romeo maka kita tetaplah seorang pengekor dan pengekor takkan pernah dikenang. Sebuah kutipan yang cukup menarik dari penulis sehingga menyadarkan pembacanya untuk memandang cinta dengan sudut pandang yang berbeda. Di akhir bagian pertama bab ini penulis kembali berhasil menghipnotis dan memberikan sebuah sugesti positif bagi pembacanya dengan meyakinkan mereka bahwa ada jalan cinta lain yang lebih layak diikuti daripada apa yang dilakukan Qais maupun Romeo yakni jalan cinta para pejuang. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with salim at I Think, I Read, I Write.

%d blogger menyukai ini: