Ketika Mas Gagah Pergi

Desember 17, 2009 § 2 Komentar

Mengharu biru. Tak terasa air mata ini hampir jatuh menetes membasahi pipi. Cerpen karangan Mbak Helvy Tiana Rosa benar-benar mengagumkan. Bukan pertama kali aku membaca cerpen dengan judul Ketika Mas Gagah Pergi.  Cerpen ini merupakan cerpen islami pertama yang aku baca. Masih segar terlintas dalam ingatan ketika pertama kali aku membacanya  saat aku duduk di bangku SMP. Cerpen yang sungguh menginspirasi. Entah mengapa belakangan aku sungguh ingin membacanya kembali. Memaknai kata demi kata. Akhirnya aku mendapatkan filenya dan aku resmi membaca kembali cerpen tersebut.  Kali ini aku mendapatkan sensasi yang berbeda. Dadaku sesak, seolah nafas terhenti beberapa saat. Cerpen ini berhasil memainkan emosi dan memaksa pembaca memfungsikan kelenjar air matanya hingga air mata mengalir membentuk sebuah muara. Sebuah rasa yang tidak aku rasakan sebelumnya. Aku berasumsi bahwa bertambahnya usia biologis mempengaruhi pemaknaan dari sebuah bacaan.

Sungguh luar biasa apa yang ditulis oleh Mbak Helvy Tiana Rosa dalam cerpen ini. Dengan cerdas beliau melukiskan seperti apa sosok pemuda islam yang sesungguhnya. Tanpa ragu beliau menggambarkan dengan gamblang sosok mas Gagah sebagai representasi pemuda yang dinanti umat. Yang sentiasa memberikan oase iman dalam keringnya dahaga kalbu. Cerdas tapi memahami batas. Sopan yang membuat orang lain segan. Santun yang menjadikannya seorang penuntun.

Adakah sosok mas gagah hari ini?? Pasti ada. Akan selalu ada. Pemuda-pemuda yang selalu menjaga izzahnya. Yang berani berikrar bahwa Islam adalah landasan berpikirnya, arah geraknya, dan tujuan hidupnya. Mas gagah mengajarkan kepada kita bahwa dawah terbaik adalah dengan keteladanan. Terlebih terhadap keluarga yang kita miliki. Sosok mas gagah sangat mengerti dan memahami bahwa dawah merupakan seruan yang bermuatan kebaikan sehingga secara naluriah setiap manusia akan menerima dawah. Karena manusia terlahir dalam keadaan fitrah dan selalu ada kuanta-kuanta kebaikan dalam setiap pribadi yang lahir ke dunia maka interaksi positif akan dihasilkan ketika dawah menyentuh dan meresap ke dalam jiwa.

Penulis memilih sebuah ending yang mengharukan di akhir cerita. Sebuah epilog menjadi saksi bagaimana bijaknya seorang kakak dalam menyambut sebuah perubahan pada saudarinya. Secara khusus ending ini bercerita bahwa kita akan merasa sangat memiliki ketika kita mulai kehilangan. Mas gagah tampil sebagai seorang kakak yang menjadi katalisator perubahan Gita, adiknya. « Read the rest of this entry »

memandang cinta dengan dimensi yang berbeda

Oktober 24, 2009 § 2 Komentar

Setelah sukses mengeluarkan buku-buku suplemen bagi pembacanya, Salim A fillah kembali menyusun rangkaian tulisan dengan tema yang tetap khas yakni masalah cinta. Inilah buku kelima Salim sejak ia sukses menulis buku pertamanya yang berjudul Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim. Penulis muda berbakat kelahiran Yogyakarta ini berhasil memadukan gaya bahasa anak muda dengan kedalaman berpikir orang dewasa. Dibahas dengan bahasa yang luwes dan lugas menjadikan buku ini semakin “renyah” untuk dinikmati. Walaupun orientasi buku ini diarahkan kepada para pemuda tapi tidak menutup kemungkinan bagi orang tua untuk membacanya karena konten yang dibawa cukup komprehensif.

Seperti beberapa buku sebelumnya  jalan cinta para pejuang tetap menampilkan kata pengantar oleh ustad Muhammad faudhil adhim yang telah lama menjadi guru, teman, sahabat, orang tua bagi penulis di bagian pertama buku ini. Kisah mengenai percintaan historis seorang Layla-majnun serta Romeo-Juliet menjadi menu pembuka dalam daftar hidangannya. Penulis memandang kisah percintaan dua anak manusia yang melegenda hingga saat ini dengan dimensi yang berbeda. Cinta dalam kisah itu menjadi sebuah bentuk penghambaan seorang manusia kepada makhluk yang dicintainya. Rela mati demi cinta dan orang yang dicintainya merupakan sebuah ending dari kedua kisah di atas. Cinta yang diumbar oleh Shakespeare dalam Romeo dan Juliet nya merupakan sebuah bentuk ketidakberdayaan seorang Romeo di hadapan tuhannya yang ia sebut sebagai cinta, cintanya kepada Juliet. Begitu pula dengan kisah Layla-Majnun. Majnun adalah bahasa Arab untuk menyebut gila. Yah, dalam kisah ini diceritakan bahwa Qais seorang pemuda arab menjadi gila karena hubungannya dengan Majnun  yang tidak mendapat restu orang tua. Lalu penulis berhasil menyentuh hati pembacanya dengan sebuah kiasan yang cukup unik. Dalam salah satu bagian penulis menuliskan bahwa kegilaan dalam cinta seperti dua kisah di atas memang indah dan mampu dikenang sepanjang masa. Akan tetapi tentu saja jika kita mengikuti langkah Qais ataupun Romeo maka kita tetaplah seorang pengekor dan pengekor takkan pernah dikenang. Sebuah kutipan yang cukup menarik dari penulis sehingga menyadarkan pembacanya untuk memandang cinta dengan sudut pandang yang berbeda. Di akhir bagian pertama bab ini penulis kembali berhasil menghipnotis dan memberikan sebuah sugesti positif bagi pembacanya dengan meyakinkan mereka bahwa ada jalan cinta lain yang lebih layak diikuti daripada apa yang dilakukan Qais maupun Romeo yakni jalan cinta para pejuang. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with Resensi at I Think, I Read, I Write.

%d blogger menyukai ini: