#17 My Wedding

Mei 2, 2014 § Tinggalkan komentar

IMG-20140419-WA0019Finally.. It’s my turn.

My turn to promise in front of Father in law, in the center of crowd, to utter lifetime commitment, Mitsaqon Ghaliza. My heart thumped incessantly, My hand shake abnormally, It’s time for me to put off my solitude.

“Saya Terima Nikah dan Kawinnya Annisa Martina Dengan Mas Kawin tersebut Dibayar Tunai”

I response promptly what My father in law tells me about. And in a glance. The Witness said “Sah”. I feel relieved. It’s so heart-thumping.

Syahdu orang-orang yang menyaksikan akad berucap “Barokallahu lakuma Wa baroka ‘alaikuma wa jamaa baina kuma fi khair”. Doa terbaik yang dihaturkan untuk pasangan yang baru menikah. Lafal terindah yang menghantarkan sebuah pernikahan agar mencapai sebuah makna barokah.

Tanggal 18 April 2014 menjadi tonggak bersejarah dalam hidup saya. Saat dimana saya resmi menikahi seorang gadis sunda yang baru ditemui sebanyak 4 kali. Tak ada keyakinan yang lebih ajeg daripada ketetapan hati untuk menikahi seorang Annisa Martina. Mungkin keputusan ini bukan keputusan berlandaskan nafsu semata. Ia terharap berupa keridoan yang diberikan Allah sehingga berbuah ketenangan untuk melangkah.

Bukanlah durasi pertemuan yang menjadi jaminan. Bukan pula embel-embel keduniaan yang menjadi acuan. Saat doa terbaik sudah dipanjatkan, saat ikhtiar yang halal telah dilakukan maka semua keputusan hanya bisa kita pasrahkan kepada Allah semata. Bahwa dalam setiap kemudahan-kemudahan selama proses menjelang pernikahan bisa jadi adalah petunjuk keberkahan.

Pada akhirnya, ujung dari sebuah proses romansa alfa dan beta adalah sebuah perjanjian yang berat. Sebuah Mitsaqon Ghaliza. Ada yang berdarah-darah memperjuangkannya dengan penuh dosa. Ada yang tertatih-tatih menempuh lamanya waktu pacaran dengan harap-harap cemas dan tidak sedikit yang menanti dengan cara halal yang merupakan tuntunan agama.

Jika pada akhirnya kita memilih yang halal, mengapa pada tahapannya kita sengaja mengotori dengan aktifitas yang mendekati pada nilai haram?

Sekarang, saya sudah beroleh gelar ke-17 dari rangkaian panjang perjuangan temen-temen IPA A untuk menggenapkan separuh Agamanya. 17, sebuah angka yang merupakan simbol transisi biologis anak-anak ke usia dewasa. Karenanya banyak yang merayakan ultah ke-17 sebagai Sweet seventeen.

Semoga pernikahan kami mendapati keberkahan dan juga penuh ketenangan (Sakinah), penuh kasih sayang (Mawaddah) dan penuh rahmah (ampunan).

IMG-20140420-WA0024

Izinkah saya bersenandung ala dinda-nya Gradasi

Engkau sambut pagi
Dengan senyum ceria yang menawan
Mengantarkan daku pergi
Meraih mimpi ….kita

Andai ku bisa
Membuat diriku menjadi dua
Kutinggalkan yang satunya
Tuk temanimu…cinta duhai permataku

Reff:
Dinda…Sejuta pesonamu hadir dalam jiwa
Dinda…Senyummu mampu membuatku tak mengeluh
Dinda…Binar bola matamu terangi hariku
Dinda…Ketenangan bagai telaga yang kau berikan

Ketika ku pulang
Dibawah naungan lembayung senja
Kau berhias menantiku
Bertabur rindu …kita

#1 : Uchi’s wedding

November 16, 2009 § 4 Komentar

ahad, 15 november 2009

salah seorang temanku, suchi marselly menanggalkan status seorang gadis yang telah disematnya selama lebih dari 20 tahun..

yah, hari ahad itu dia menikah dengan pria terbaik untuknya, mas eko… kami semua turut berbahagia dengan acara tersebut meskipun aku dan beberapa teman yang berada di luar palembang tak bisa menghadiri resepsi maupun akadnya setidaknya aku mewakili teman-teman yang tidak bisa berkunjung telah mengirimkan sebuah video sebagai persembahan dari kami untuk pengantin baru tersebut…

Suchi Marselly, tidak pernah aku duga bahwa ia lah yang akan menjadi pengantin pertama dalam generasi IPA A’ers angkatan kami. sebuah keputusan yang sangat tepat tampaknya untuk sesegera mungkin mengakhiri masa lajang mengingat dewasa ini fitnah semakin  cepat menyebar dan menikah merupakan sebuah jalan keluar yang sangat baik untuk mengatasi semua fitnah yang ada. anak yang satu ini memiliki dialekta yang sama denganku, tidak bisa menyebutkan huruf “R” dengan benar. dengan rambut yang selalu diwarnai membuatnya tampil beda..

tapi tampaknya semua atribut seorang remaja akan perlahan terkikis seiring berjalannya wktu dan pergeseran status yang disematkan kepadanya. pernikahan tersebut aku harapkan menjadi sebuah wadah bagi uchi untuk mengenali jati dirinya dan suaminya lebih jauh. dengan demikian uchi bisa jadi lebih dewasa dalam kesehariannya dan semakin bijak menghadapi hidup…

Pernikahan uchi dihadiri oleh sekitar 11 orang IPA A’ers. sedikit memang, tapi setidaknya cukup mewakili keberadaan kami semua mengingat lebih dari setengah angkatan kami menempuh pendidikan di luar kota… tapi yang cukup membuatku miris adalah ketidakberadaan para cowok2 IPA A di acara tersebut. yah, mungkin mereka memiliki agenda tersendiri yang mungkin telah diagendakan lebih awal dan memiliki urgensi jauh lebih penting…aku tetap berharap bahwa sedikitnya yang hadir tidak mengurangi arti penting dan sakralnya pernikahan uchi…

uchi's wedding

nikahan uchi

 

Melihat foto yang diupload sonia melalui facebook yang menampilkan foto pernikahan uchi bersama dengan teman-temanku yang menghadiri pernikahan tersebut cukup membuat hatiku terhibur..senang rasanya melihat salah seorang sahabatku telah memasuki fasa baru dalam kehidupannya. sebuah episode kehidupan yang akan membuat kami bertanya banyak pada uchi selaku pendahulu. foto itu menggambarkan sebuah kebahagiaan yang terpancar dari kemilaunya senyum2 teman2ku…

Sejenak aku berpikir untuk bisa mengakhiri masa lajangku di kota kelahiranku tersebut. kontan saja hal ini sangat kontradiktif dengan apa yang sempat kupikirkan sebelumnya untuk menikah di kota di luar palembang. aku berpikir bahwa akan sangat seru jika semuIPA A’ers menghadiri pernikahanku, seolah-olah domain tersebut menjadi salah satu syarat suksesnya pernikahan yang akan aku lakukan..pemikiran yang aneh jika ku pikir lebih lanjut.

apapun yang akan terjadi nanti, semoga adlah yang terbaik. karena jodoh itu harus dijemput maka akan kupersiapkan bekal untuk menjemputnya..

to uchi : moga pernikahanmu berkah teman, jadi keluarga yang saling mencintai yap…

jangan lupain kita2..amin

nikah dan pelevelannya

November 8, 2009 § 8 Komentar

sabtu malem aku menyelami dunia maya mengingat tidak ada agenda malem itu. aku mencoba untuk membuka situs2 yang seperti biasanya, FB, twitter, plurk dan lainnya.  Dalam kesempatan tersebut aku melihat salah seorang teman SMA yang sekarang menempuh pendidikannya di salah satu institut negeri di Bogor sedang on line. langsung saja aku menyapa temanku tersebut dan menanyakan keadaannya. hari itu bertepatan dengan pernikahan slah seorang teman SMA di Palembang. seneng rasanya mendengar pernikahan slah seorang teman tersebut. tanpa terasa aku dan teman-temanku telah memasuki fasa baru dalam kehidupan kami, fasa pernikahan. sebuah fasa di mana kami akan mencoba mengarungi samudera kehidupan ini dengan orang lain.

kontan saja aku berdiskusi dengan temanku yang sedang on line tersebut mengenai pernikahan. kebetulan temanku ini merupakan seorang akhwat aktivis di kampusnya. mulanya kami membahas tentang salah seorang teman yang menikah tersebut. kami membahas mengenai betapa cepatnya waktu berlalu. melanjuti tema yang kami bawa, iseng2 aku bertanya dan berdiskusi mengenai pernikahan dengan temanku tersebut. lalu temanku menjelaskan tentang sebuah joke mengenai pernikahan. menurut guru ngaji beliau nikah itu ada level-levelnya. di antara level-level tersebut adalah sebagai berikut

1. pernikahan dengan level A : pernikahan ini jika terjadi antara pasangan yang berbeda kampus

2. pernikahan dengan level B : terjadi ketika pasangan yang mnikah berasal dari satu jurusan/fakultas di kampusnya

3. pernikahan dengan level C : pasangan yang menikah berada pada jurusan/fakultas yang sama dengan amanah yang sama pula

4. pernikahan dengan level D : pasangan tersebut berasal dari kelas yang sama dan memiliki amanah yang sama. level D artinya harus mengulang.

memang  joke ini tidak cukup substantif untuk dibahas akan tetapi menurut penjelasan temanku tersbut adalah bahwa menikah dengan pasangan yang memiliki amanah yang sama dan berasal dari kelas yang sama juga memungkinkan terjadinya fitnah yang sangat besar.

wallhu ‘alam

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with Nikah at I Think, I Read, I Write.

%d blogger menyukai ini: