Curhat Mang Angkot : Sebuah Catatan

Desember 30, 2016 § Tinggalkan komentar

Persis beberapa malam lalu gue menaiki angkot tujuan Cileunyi-Cicaheum. Tak berapa lama, angkot tersebut menyisakan gue berdua saja dengan sang sopir. Khawatir ada setan sebagai pihak ketiga, gue mencairkan suasana dengan membahas situasi per-angkotan di Bandung saat ini.

Mang angkot ini benar nampak lusuh. Karenanya gue urungkan niatan untuk meminta ‘telolet’. Ia mengeluhkan pendapatan yang kian hari kian menukik tajam. Menurutnya beberapa waktu belakangan pengguna angkot semakin berkurang. Banyak faktor yang melatar-belakangi. Mulai dari keberadaan ojek online, murahnya harga motor, hingga kemajuan infrastruktur yang menyebabkan berkurangnya jumlah penumpang akibat hilangnya sentra ekonomi semisal pasar rakyat yang notabene menggunakan angkot sebagai sarana transportasi tepat guna.

Sebagai orang luar, gue nyaris tidak pernah terpikir bahwa keberadaan ojek online berdampak se-signifikan itu pada pendapatan supir angkot. Selama ini gue berasumsi bahwa Gojek dan sejenisnya hanya akan berkompetisi dengan ojek pangkalan. Ternyata salah. Imbas keberadaan ojek online juga terasa pada supir angkutan kota. Kita sering ber-eufimisme bahwa keberadaan ojek online sudah ‘sepatutnya’ menggeser moda transportasi lama yang tidak kunjung bertransformasi. Ternyata banyak hal tidak se-sederhana itu.

Keadaan semakin runyam jika kita memasukkan variabel murahnya harga motor sehingga sebagian besar masyarakat meninggalkan sarana transportasi tersebut.

Di Bandung, menurut sang supir, banyaknya pembangunan seiring dengan bergesernya kluster-kluster area transaksi jual-beli masyarakat. Pembangunan jalan berdampak pada berkurangnya arus hilir mudik pedagang dari dan ke pasar yang melalui trayek tersebut. Gue tidak bisa memvalidasi argumen mang angkot. Gue hanya bisa mengangguk setuju pada curhatannya.

Buat si mang angkot, yang tidak sempet gue tanya siapa namanya, pemerintahan Pak Jokowi adalah separah-parah nasib tukang supir angkutan kota. Bagaimana tidak, mereka dipaksa berpindah bahan bakar dengan cara halus demi meredam gejolak di masyarakat.

Ia menambahkan, perlahan-lahan masyarakat miskin semakin dimiskinkan. Premium sebagai variabel penting dalam kehidupan profesionalisme mereka pelan-pelan dimutilasi. Semakin banyak SPBU menghilangkan premium dari daftar jual. Bagi gue, kalian, kelas menengah ngehe yang terbiasa menggunakan pertalite atau bahkan pertamax, rasionalisasi kinerja mesin kendaraan acap kali menjadi latar belakang penggunaan BBM dengan angka oktan minimal 90. Namun bagi mang angkot, selisih beberapa ratus rupiah antara premium, pertalite dan pertamax akan berdampak pada tercapai tidak setoran, bawa uang buat makan atau tidak untuk hari itu.

Gue selama ini ngeh bahwasanya premium pelan-pelan mundur teratur dari peredaran. Ia bak mantan yang ogah balikan. Namun karena empati yang minus, gue tidak pernah menyangka eksesnya bener-bener terasa untuk kelas menengah ke bawah. Bagi mang supir, setoran 110 ribu kini semakin berat tergapai. ‘Pemaksaan’ pengalihan penggunaan energi mengharuskan mereka memutar otak agar pulang ke rumah tidak hanya membawa lelah dan keringat.

Mang supir ini sudah berprofesi sebagai tukang angkot saat gue masih kencing di popok. Supir angkot adalah profesi yang ia tekuni sejak Pak Harto masih menjabat. Artinya ia konsisten dan istiqomah menjadi supir angkot hingga pernah mengalami semua masa kepresidenan RI, kecuali Bung Karno.

Buatnya, titik nadir nasib supir angkot dimulai sejak Mega berkuasa, dilanjut saat Gusdur dan paling parah saat ini. Ia tidak menggunakan pendekatan ilmiah yang njelimet. Tidak ada hitung-hitungan inflasi, Gini Ratio, GDP, BEP, BTP atau apa pun yang sering didengung-dengungkan para intelektual saat mengevaluasi nasib rakyat kecil. Hanya sekedar naluri untuk bertahan hidup hingga mampu mengendus bagaimana pemerintah berkuasa hingga teresonasi pada lapisan masyarakat paling bawah.

Diskusi malem kemarin juga menyadarkan gue bahwa pada dasarnya tidak ada angkot yang secara sukarela ngetem berlama-lama di pinggir jalan. Ada motif ekonomi yang kuat yang mendasari mereka mencari penumpang dengan cara demikian. Jadi bolehlah kita memaafkan angkot-angkot yang sering ngetem dengan dalih empati. Tapi kalo ngetemnya kelamaan, silahkan misuh sepuas hati.

Selayaknya juga bagi kita yang berekecukupan untuk melebihkan bayaran. Setidak-tidaknya mengikhlaskan kembalian jika hanya berselisih 500-an. Toh, tidak akan membuat kita miskin dan tidak akan membuat mereka kaya.

Gue juga menyadari bahwa perspektif kita sangat dipengaruhi oleh ruang-ruang subjektifitas. Banyak kondisi di mana kita memang harus lebih banyak mendengar ketimbang berbicara. Meminjam ucapan Dalai Lama bahwa saat berbicara kita hanya mengulang hal-hal yang pernah ada. Namun saat mendengar, kita bisa mendapatkan hal-hal yang baru. Itulah yang gue rasakan.

Menaksir Kembali Wajah Media Sosial

September 18, 2015 § 3 Komentar

4112682_20150906042949

Media sosial kembali heboh. Salah seorang artis yang dikenal karena aktingnya membintangi sinetron hingga beratus-ratus episode menjadi objek tarik-menarik dukungan dan gontok-gontokan antara dua kelompok kepentingan. Perkaranya adalah sang artis menafikan dalil keagamaan salah satu mazhab sementara ia berpegang pada mazhab yang lain.

Genderang perang dimulai. Saling sikut dua kubu berlangsung sangat sengit. Melengkapi riuh ricuhnya jagat sosial media, khususnya di Indonesia, selama dua tahun terakhir. Segala rupa argumen dikemukakan dan dibagikan. Terkadang tanpa perlu dibaca terlebih dahulu isi dari artikel yang nangkring di beranda facebook atau linimasa twitter. Tanpa tedeng aling-aling.

Kericuhan-kericuhan sejenis adalah cuplikan dari boroknya wajah media sosial. Walaupun belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan seorang Jokowi. Bapak presiden satu ini adalah figur utama dalam kontes ribut-ribut pegiat media sosial di Indonesia. Apa saja kebijakan, keputusan, aktifitas yang beliau lakukan tidak pernah sepi dari hujatan, hinaan, kritik. Mesikpun barisan pembela die hard nya tidak pernah kehabisan ide untuk menyajikan arguemen tandingan. Dari yang ilmiah, absurd hingga berupa cacian serupa. Lucunya, masing-masing kelompok senantiasa berlindung dibalik kosakata ‘tabayyun’ atau yang berarti konfirmasi kebenaran suatu informasi manakala headline di media memojokkan jagoan mereka. Namun di saat jagoan lawan berada dalam situasi yang sama, mereka tiba-tiba amnesia. Serang membabi buta. Tabayyunnya entah kemana. Luar biasa!.

Masyarakat kita belum mampu bersikap dewasa menghadapi perbedaan. Padahal berbeda itu absolut sebagai sinyal otak yang berpikir. Lengkap sudah, kejumudan akal ditampung oleh sasana yang bernama facebook, twitter, blog, path dan lain-lain. Maka berbahagia lah Zuckerberg yang sedang bermain poker bersama dengan Jack Dorsey di Palo Alto. Mengapa tidak? Situs besutan mereka terus mencapai traffic yang diharapkan guna meraup pundi-pundi dolar. Peluang bisnis yang juga tidak bisa ditolak oleh situs media online mulai dari yang punya nama besar hingga media-media yang melacurkan diri dengan memuat berita-berita bohong, fitnah yang terintegrasi dengan jejaring sosial tersebut. Dalam kondisi ini, koran lampu merah atau lampu hijau terasa lebih jujur dan apa adanya.

Pegiat media sosial sudah menjadi nabi. Dengan pengikut dalam jumlah besar, mereka menyebarkan berita yang tidak jelas juntrungannya. Maka kaumnya pun menyebarkan hoax yang sama. Awalnya kita mengira imam Mahdi sudah datang. Beberapa bahkan menjadi Tuhan. Klik gambar jika ingin masuk surga atau abaikan jika ingin masuk neraka. Gue sedih, harga surga hanya sebatas kuota internet ceban plus akun facebook gratisan.

Media sosial saat ini tidak lebih baik daripada kampanye para calon presiden menjelang pemilu. Cari dukungan, serang, jatuhkan. Berbeda berarti gue bener, kalian salah. Oleh karena itu maka segenap pendapat yang berbeda harus dikubur hidup-hidup.

Bahkan twitter terkenal dengan ‘twitwar’. Sebuah diskursus untuk menciptakan konflik dan perang antar ide. Perang selalu menghasilkan pemenang dan pecundang. Sejarah pun ditulis oleh pemenang perang. Jadi jangan heran jika adu kuat-kuatan argumen di sosial media secara umum akan menggiring opini arus utama.

Wajah media sosial sudah semakin jelas. Artikel-artikel informatif yang seharusnya menjadi rival berat berita berita kontroversial ternyata kurang digemari. Pun saat berita tersebut memiliki konten yang layak maka kolom komentar lebih menarik untuk disimak. Jika bukan menghardik salah satu kubu berarti saling sahut dan saling meng-anjing-kan satu sama lain. Walau tidak terlalu yakin namun rasanya anjing tidak pernah melabeli lawannya saat sedang berkelahi.

Wajah lain media sosial adalah wajah lusuh para pengadu. Media sosial sudah menjadi rumah baru untuk menuliskan cerita yang dulu dilakoni oleh generasi 90-an melalui diary. Semakin buruk jika melihat borok yang diumbar kesana kemari. Belum lagi pamer ini itu. Makan waffle, pamer pernak pernik tas hermes 950 juta hingga rela meminjamkan password facebook demi mengunggah kemeriahan konser bon jovi walau empunya tidak berada langsung di senayan. Miris. Tuhan tidak bermain facebook jadi berhentilah merengek dan mengadu.

Nampaknya kita perlu memikirkan kembali seperti apa wajah media sosial yang seharusnya. Rupa elok dari sikap saling membantu atau semangat gotong royong yang dulu berseliweran menjadi topik utama pelajaran PPKN harus lebih digalakkan. Selama ini kita mengenal istilah crowdfunding, petisi online dan ruang-ruang yang bisa menjadikan media sosial jauh lebih berguna daripada sekedar caci maki dan sumpah serapah.

Berbagilah hal-hal yang bermanfaat jika dan hanya jika kita tidak bisa melakukan sesuatu yang berguna. Berhentilah mengemis ‘like’, ‘retweet’ karena jika sekedar ingin terkenal cukuplah kalian kencing di sumur zam zam. Dan berhentilah menjadi ‘monyet’ yang ikut-ikutan menyebarkan hoax. Kita hanya menjadi budak kapitalisasi media oleh segelintir orang.

Jika kita tidak memulai untuk berhenti mengotori media sosial dengan kebencian dan keburukan maka ada baiknya kita dikirim ke sebuah labirin berisi Griever di dalamnya.

Pesan Kyai Muhsin untuk Presiden RI 2014-2019

Juni 1, 2014 § Tinggalkan komentar

Ditulis oleh Dr Adian Husaini 

Kyai MuhsinOrang kampung memanggilnya Kyai Muhsin. Sehari-hari, ia berdagang di pasar kampungnya. Sepeda tuanya terkadang dinaikinya. Tapi lebih sering dituntunnya. Umurnya, diduga 70 tahunan. Hanya, ia belum pernah ia berurusan dengan rumah sakit. Tidak ada catatan resmi hari lahirnya. Kain sarung dan lantunan zikir menjadi ciri utamanya. Mengajar ngaji anak-anak adalah rutinitas kesahariannya. Tak pernah terlihat ia baca koran atau menonton berita. Hanya silaturrahim ke sana-sini menjadi hobinya. Uniknya, ia seperti paham kondisi politik negeri.  Sudah jadi tradisi, ia selalu bertanya tentang masalah politik kepada cucu-cucunya jika mereka berlibur dari kuliahnya.

 “Sopo Le sing arep dadi Presiden? Jokowi, Prabowo, opo Oma Irama?”  Mbah Muhsin bertanya kepada Sikirno, salah satu cucunya, saat liburan dari kuliahnya di Yogya.

Kirno gelagapan. Pertanyaan itulah yang hari-hari ini bergelayut di benaknya. Sebagai aktivis masjid kampus, ia juga diombang-ambingkan oleh berbagai informasi seputar para capres RI 2014-2019. Ia kebingungan, siapa yang seharusnya dipilih.  Maka, kesempatan itu pun ia manfaatkan untuk menggali informasi dari kakeknya, yang menurut ibunya, Mbahnya itu kadangkala memiliki pemikiran yang “aneh”, seperti bisa memahami masa depan.

“Bingung Mbah; kalau menurut Mbah siapa yang terbaik yang harus kita pilih?” tanya Kirno.

“Kalau kamu pilih siapa?” Mbah Muhsin bertanya balik ke cucunya.

“Ya, itu yang saya bingung Mbah. Teman-teman juga bingung. Seorang Ustad di kampus pernah bilang, pokoknya jangan pilih Jokowi, karena ia dikendalikan oleh kekuatan asing dan konglomerat hitam yang dulu merugikan keuangan negara ratusan trilyun. Amerika dan jaringan Yahudi juga katanya lebih mendukung Jokowi.  Kalau pilih Prabowo, katanya ia emosional, dan ada adiknya yang misionaris Kristen. Padahal saudaranya itu yang punya uang banyak. Prabowo juga dikabarkan kurang tekun ibadahnya. Tapi, ada beberapa tokoh Islam mengatakan ia suka membela orang Islam. Bagaimana ini Mbah. Bingung milihnya! Padahal, beberapa pengamat bilang, cuma dua calon itu yang kuat? Katanya, dulunya Jokowi diangkat untuk menjegal Prabowo; dan sebaliknya, hanya Prabowo yang bisa membendung Jokowi. Pokoknya, banyak sekali berita yang sulit bagi saya menerima atau menolaknya!”

“Yo, yo,yo…. , ngono yo Le…. wah pancen angel iki,” Mbah Muhsin bergumam sendiri, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya; kelihatan sedang merenungkan sesuatu.

“ Terus gimana Mbah? Apa tidak usah milih saja?” Kirno mendesak kakeknya.

“Kenapa tidak memilih?” tanya Mbah Muhsin.

“Ya, karena dua-duanya bisa merugikan Islam, karena mereka sekuler, tidak tulus ikhlas berpihak kepada aspirasi Islam?”

“ Kalau kamu tidak milih, apa lalu Presidennya bisa lebih baik?”

“Itulah Mbah yang membuat saya dan teman-teman bingung!”

“Ya, makanya,  jangan memutuskan tidak milih dulu! Dipikir yang baik. Nanti dulu, saya pikir baik-baik. Tunggu sebentar yo Le,” kata Mbah Muhsin yang berucap dalam bahasa Jawa campur bahasa Indonesia.

Kirno tidak tahu, apa yang dikerjakan Mbah Muhsin di dalam kamarnya. Sekitar 15 menit kemudian, Mbah Muhsin kembali menemui Kirno. “Kita ngomong di dalam saja, Kirno…, nggak enak didengar orang.”

Kirno menuruti langkah kakeknya. Tanpa diduganya, ia diajak memasuki kamar yang dipenuhi buku. Pemandangan di depannya nyaris membuatnya tak percaya. Kakeknya menyimpan begitu banyak koleksi buku. Penampilan kakeknya pun tak mencerminkan ia seorang peminat buku. Apalagi, tak pernah didengarnya sang kakek membicarakan masalah politik  dan keagamaan kontemporer.  Orang tuanya juga tidak pernah bercerita tentang hal ini.

“Kirno, sudah saatnya Mbah beritahu kamu satu rahasia. Ini kumpulan tulisan Mbah di sebuah majalah Islam tahun 1950-an.  Mbah gunakan nama samaran: Ki Sarmidi. Dulu Mbah aktif menulis tentang  pemikiran sekulerisme dan komunisme. Alhamdulillah, nama asli Mbah tidak pernah terbuka. Hanya redaksi saja yang tahu, dan mereka menyembunyikan identitas Mbah, sampai mereka semua meninggal dunia.”

Kirno hanya terdiam, terselimuti rasa takjub. Dibolak-baliknya lembaran-lembaran kliping artikel yang semakin mencoklat warnanya. Ada beberapa bagian sulit dibaca. Tatapannya terhenti pada sebuah artikel berjudul  “Jalan Kehancuran Negara Sekuler”. Sambil tetap berdiri, dibacanya pelan-pelan artikel yang sudah buram tulisannya itu. Hatinya takjub. Kalimat demi kalimat yang dibacanya terasa tajam dalam menguliti kekeliruan paham sekulerisme.

Melihat cucunya bersemangat membaca artikelnya, Mbah Muhsin mengambil sebuah diktat lusuh dari tumpukan koleksinya.  Diktat itu bertuliskan “Islam Sebagai Dasar Negara: Salinan dari buku Teks Pidato M. Natsir di muka sidang pleno Badan Konstituante, 20 Juli 1957 di Bandung.”  

“Ini kamu baca, Mbah tinggal dulu sebentar. Mbah  ada perlu.  InsyaAllah satu jam lagi kembali. Kita diskusikan isi diktat ini,” kata Mbah Muhsin, sambil bergegas meninggalkan cucunya. Dalam hatinya ia bersyukur, ada diantara garis keturunannya yang berminat memahami sejarah perjuangan Islam. Sudah lama ia menunggu-nunggu saat tepat untuk membuka tabir dirinya.

Sebagai aktivis mahasiswa Islam, Kirno sudah akrab dengan nama Mohammad  Natsir, tokoh dan pejuang Islam yang belakangan juga diakui sebagai salah satu Pahlawan Nasional.  Namanya sangat harum karena pemikiran dan akhlaknya bisa dijadikan teladan. Namun, Kirno belum membaca secara khusus pemikiran Pak Natsir dalam soal kenegaraan. Kini di tangannya terpampang dengan cukup jelas, uraian-uraian Pak Natsir tentang kekeliruan dan bahaya paham sekulerisme bagi bangsa Indonesia.  Uraian itu begitu mempesona dan mudah dipahami. Kalimat demi kalimat isi pidato Pak Natsir itu ia cerna dengan hati-hati:

*****

Pilihan kita, satu dari dua: sekulerisme atau agama….

Sdr. Ketua!

“Sejarah manusia umumnya pada tinjauan terakhirnya, memberikan kepada kita pada final analisisnya hanya dua alternatif  untuk meletakkan dasar negara dalam sikap asasnya (principle attitude-nya), yaitu: (1) faham sekulerisme (la-dieniyah) tanpa agama, atau (2) faham agama (dieny). 

Sdr. Ketua!

Apa itu sekulerisme, tanpa agama, la-dieniyah?

Sekulerisme adalah suatu cara hidup yang mengandung paham tujuan dan sikap hanya di dalam batas hidup keduniaan. Segala sesuatu dalam kehidupan kaum sekuleris tidak ditujukan kepada apa yang melebihi batas keduniaan. Ia tidak mengenal akhirat, Tuhan, dsb. Walaupun ada kalanya mereka mengakui akan adanya Tuhan, tapi dalam penghidupan perseorangan sehari-hari umpamanya, seorang sekuleris tidak menganggap perlu adanya hubungan jiwa dengan Tuhan, baik dalam sikap, tingkah laku dan tindakan sehari-hari, maupun hubungan jiwa dalam arti doa dan ibadah. Seorang sekuleris tidak mengakui adanya wahyu sebagai salah satu sumber kepercayaan dan pengetahuan. Ia menganggap bahwa kepercayaan dan nilai-nilai moral itu ditimbulkan oleh masyarakat semata-mata. Ia memandang bahwa nilai-nilai itu ditimbulkan oleh sejarah atau pun oleh bekas-bekas kehewanan manusia semata-mata, dan dipusatkan kepada kebahagiaan manusia dalam penghidupan saat ini belaka…

Di lapangan ilmu pengetahuan, Sdr. Ketua, sekulerisme menjadikan ilmu-ilmu terpisah daripada nilai-nilai hidup dan peradaban. Timbullah pandangan bahwa ilmu ekonomi harus dipisahkan dari etika. Ilmu sejarah harus dipisahkan dari etika. Ilmu sosial harus dipisahkan dari norma-norma moral, kultur dan kepercayaan. Demikian juga ilmu jiwa, filsafat, hukum, dsb. Sekedar untuk kepentingan obyektiviteit. Sikap memisahkan etika dari ilmu pengetahuan ada gunanya, tetapi ada batas-batas dimana kita tidak dapat memisahkan ilmu pengetahuan dari etika.

Kemajuan ilmu teknik dapat membuat bom atom. Apakah ahli-ahli ilmu pengetahuan yang turut menyumbangkan tenaga atas pembikinan bom tersebut harus ikut bertanggungjawab atas pemakaiannya atau tidak? Bagi yang memisahkan etika dari ilmu pengetahuan mudah saja untuk melepaskan tanggungjawab atas pemakaian  bom itu. Di sini kita lihat betapa jauhnya sekulerisme. Ilmu pengetahuan sudah dijadikan tujuan tersendiri, science for the sake of science. 

Di dalam penghidupan perseorangan dan masyarakat, sekulerisme la-dieniyah tidak memberi petunjuk-petunjuk yang tegas. Ukuran-ukuran yang dipakai oleh sekulerisme banyak macamnya. Ada yang berpendapat bahwa hidup bersama laki-laki dan wanita tanpa kawin tidak melanggar kesusilaan. Bagi satu negara menentukan sikap yang tegas terhadap hal ini adalah penting. Sekulerisme dalam hal ini tidak dapat memberi pandangan yang tegas, sedangkan agama dapat memberi keputusan yang terang. 

Pengakuan atas hak milik perseorangan, batas-batas yang harus ditentukan antara hak-hak buruh dan majikan, apa yang kita maksud dengan perkataan “adil dan makmur”, ini semua ditentukan oleh kepercayaan kita. Sekulerisme tidak mau menerima sumber ke-Tuhanan untuk menentukan soal-soal ini. Kalau demikian terpaksalah kita melihat sumber paham-paham dan nilai-nilai itu semata dari pertumbuhan masyarakat yang sudah berabad-abad berjalan sebagaimana yang didorongkan oleh sekulerisme. Ini tidak akan memberi pegangan yang teguh. Ada beribu-ribu masyarakat yang melahirkan bermacam-macam nilai. Ambillah, misalnya soal bunuh diri. Ada masyarakat yang mengijinkan dan ada yang melarang. Yang mana yang harus dipakai? Bagi suatu negara mengambil sikap yang menentukan adalah penting, karena hukum-hukum mengenai sikap yang menentukan adalah penting, karena hukum-hukum mengenai persoalan itu akan dipengaruhi oleh sikap tersebut. Lagi, disini sekulerisme tidap dapat memberikan pandangan yang positif. 

Jika timbul pertanyaan, apa arti penghidupan ini, sekulerisme tidak dapat menjawab dan tidak merasa perlu menjawabnya. Orang yang kehilangan arti tentang kehidupan, akan mengalami kerontokan rohani. Tidaklah heran, bahwa di dalam penghidupan perseorangan, sekulerisme menyuburkan penyakit syaraf  dan rohani. Manusia membutuhkan suatu pegangan hidup yang asasnya tidak berubah. Jika ini hilang, maka mudahlah baginya mengalami taufan rohani. Demikian akibat pemahaman sekulerisme dalam hidup orang perseorangan. Pengaruh agama terhadap kesehatan rohani ini telah diakui oleh ilmu jiwa jaman sekarang….

Ada satu pengaruh sekulerisme yang akibatnya paling berbahaya dibandingkan dengan yang saya telah sabut tadi. Sekuleris, sebagaimana kita telah terangkan, menurunkan sumber-sumber nilai hidup manusia dari taraf ke-Tuhanan kepada taraf  kemasyarakatan semata-mata. Ajaran tidak boleh membunuh, kasih sayang sesama manusia, semuanya itu menurut sekulerisme, sumbernya bukan wahyu Ilahi, akan tetapi apa yang dinamakan: Penghidupan masyarakat semata-mata. Umpamanya dahulu kala nenek moyang kita, pada suatu ketika, insaf bahwa jika mereka hidup damai dan tolong menolong tentu akan menguntungkan semua pihak. Maka dari situlah katanya timbul larangan terhadap membunuh dan bermusuhan.

Kita akan lihat betapa berbahayanya akibat pandangan yang demikian. Pertama, dengan menurunkan nulai-nilai adab dan kepercayaan ke taraf perbuatan manusia dalam pergolakan masyarakat, maka pandangan manusia terhadap nilai-nilai tersebut merosot. Dia merasa dirinya lebih tinggi daripada nilai-nilai itu! Ia menganggap nilai-nilai itu bukan sebagai sesuatu yang dijunjung tinggi, tapi sebagai alat semata-mata karena semua itu adalah ciptaan manusia sendiri… 

*****

Kirno terpekur merenungkan kalimat demi kalimat sebagian dari isi pidato Pak Natsir itu. Sebagai mahasiswa ilmu budaya, ia sangat akrab dengan pemikiran sekuler yang dikritik secara tajam oleh Pak Natsir.  Ia baru paham, mengapa di kampusnya ada Fakultas Ilmu Budaya, tetapi tidak ada Fakultas Ilmu Agama. Itulah sebagian pandangan sekulerisme yang sebenarnya telah menempatkan manusia sebagai “Tuhan”, karena merasa berhak menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang halal dan mana yang haram.

Belum tuntas ia melanjutkan renungannya, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Kakeknya segera menyapanya. “Pidato Pak Natsir itu yang menginspirasi tulisan Mbah tentang sekulerisme. Kamu boleh bawa diktat itu dengan hati-hati dan jangan bercerita kepada siapa pun, termasuk kepada bapak ibumu. Mbah tidak ingin rahasia ini terungkap sampai Mbah meninggal.”

Kirno diam. Hatinya dipenuhi banyak pertanyaan, tetapi ia enggan bertanya lebih jauh. Yang terpikir olehnya, bagaimana ia diijinkan kakeknya untuk membaca koleksi buku-bukunya. Seakan memahami keinginan cucunya, Mbah Muhsin pun berujar, “Kamu saya beri kunci kamar ini. Kapan saja ada waktu kamu boleh membaca di sini. Tapi, jangan sampai ada orang yang tahu. Itu syaratnya.”

Kirno mengangguk. Tapi, ia segera menukas, “Terus Mbah, untuk Presiden Indonesia tahun 2014 ini, pilih siapa? Jokowi, Prabowo, Oma Irama, atau Aburizal Bakrie, atau siapa?”

“Saya ini di kampung. Tidak banyak mendengar informasi politik. Hanya mendengar pembicaraan orang dari pasar dan warung-warung. Tapi kalau melihat informasi yang ada, sebelum memilih, mestinya tokoh-tokoh Islam mendatangi para calon Presiden itu. Semuanya mereka Muslim dan sudah haji. Tanyakan kepada mereka satu-satu, bagaimana komitmennya terhadap apirasi Islam dan khususnya sikap mereka terhadap sekulerisme. Kalau tidak ada yang ideal, maka pilih yang paling kecil mudharatnya bagi umat Islam. Minimal, ia tidak memusuhi dakwah Islam, tidak menindas umat Islam, dan tidak memberikan dukungan kepada kaum misionaris, kapitalis, dan sekuleris.”

“Itu masih terlalu normatif  Mbah. Kurang praktis!”

“Ijtihad politik bisa berbeda, tergantung informasi yang kita terima, karena calon-calon yang ada tidak secara jelas berlatarbelakang ulama atau aktivis Islam dan  mempunyai visi dan misi keislaman yang tersurat, sebagaimana Pak Natsir itu.”

“Kalau Oma Irama, Mbah?”

“Dari omongan orang, katanya belum pasti Oma Irama akan dimajukan sebagai capres. Mungkin ia selama ini hanya digunakan untuk menarik suara, karena sekarang artis sudah dipuja melebihi ulama.  Saya tidak meragukan komitmen Oma Irama terhadap Islam, karena saya tahu sejak tahun 1970-an ia punya komitmen yang tinggi terhadap partai Islam. Banyak lagunya yang bermuatan dakwah dan politik Islam. Nanti kalau sudah pasti siapa capresnya, kamu ke sini lagi.”

“Kalau antara Jokowi dan Prabowo siapa Mbah yang lebih baik dipilih?”

“Ada kyai di Solo, murid Pak Natsir yang kenal keduanya. Kamu tanya dia. Ia tokoh terkenal. Mudah mencarinya!”

“Saya ingin tahu dari Mbah sendiri. Dari mata batin Mbah sendiri. Siapa yang lebih baik dipilih, andaikan capresnya nanti cuma Jokowi dan Prabowo?”

“Disamping kelemahannya, kelebihan Prabowo itu tegas dan berani serta nekad. Ia sudah kaya raya sejak dulu, sehingga tidak butuh uang. Latar belakang tentaranya mungkin masih diperlukan untuk mengatasi berbagai ancaman separatisme. Saya dengar, ia kenal baik dengan Pak Natsir. Kalau Prabowo berjanji mau mengaji dan mendengar nasehat ulama-ulama yang soleh, itu sangat baik.”

“Kalau Jokowi. Mbah?”

“Mbah juga dengar, ia orang baik. Ia suka kerja keras dan dekat dengan rakyat. Beratnya, seperti yang kamu ceritakan, di belakang dan sekeliling dia, diberitakan ada orang-orang yang lebih berpihak kepada sekulerisme dan mungkin beberapa diantaranya kepanjangan tangan kepentingan Yahudi dan misionaris Kristen. Saya tidak tahu, apakah Jokowi bisa keluar dari jeratan para pendukungnya itu?   Yang berat juga, jika Jokowi jadi Presiden, maka yang jadi Gubernur Jakarta adalah orang kafir!  Tentu, itu sangat berat bagi para ulama dan umat Islam yang tidak sekuler dan sadar akan ajaran al-Quran.  Sebab, pemimpin dalam Islam itu mempunyai tanggung jawab dunia dan akhirat.  Bagaimana jika simbol pemimpin ibukota negara muslim terbesar di dunia adalah seorang kafir!  Apakah bumi Jakarta yang dimerdekakan dri penjajah kafir  dengan tetesan darah para syuhada itu ridho menerima kepemimpinan orang kafir? Solusinya mudah saja. Gubernur Jakarta mau belajar Islam dengan ikhlas dan membuka pintu hatinya menerima hidayah Allah, bersedia memeluk Islam. Ini bukan untuk kepentingan jabatan, tetapi lebih untuk keselamatan dia sendiri, di dunia dan akhirat. Menurut Islam, kasihan orang kafir, sudah bekerja keras, tetapi amalnya tidak bernilai di mata Allah, seperti fatamorgana. Kamu baca QS 24:39!”

 “Wah, kalau Mbah ngomong seperti itu di media massa sekarang, Mbah akan dituduh picik, sektarian, tidak pluralis, tidak berwawasan kebangsaan, dan lain-lain. Pokoknya akan dicemooh habis-habisan, Mbah!”

“Ya, Mbah ini orang kuno Le. Hanya bicara dari hati saja. Tidak mau munafik. Terserah orang mau ngomong apa. Tanggung jawab kita di akhirat kan masing-masing. Kita hanya wajib menyampaikan kebenaran. Itu sikap yang harusnya ditunjukkan para politisi Muslim, seperti kamu baca dalam pidato Pak Natsir itu! Kami dulu bangga sekali mempunyai pemimpin seperti Pak Natsir. Pemikirannya hebat,jujur, dan tegas. Bahkan, musuh-musuh ideologis Pak Natsir pun menghormatinya, karena integritas pribadinya yang sangat tinggi.”

“Jadi, Mbah, pilih Jokowi atau Prabowo?”

“Kamu kan mahasiswa. Mbah tidak kuliah seperti kamu. Kamu bisa menyimpulkan sendiri apa yang Mbah sampaikan. Sekarang, coba kamu usahakan ketemu Jokowi dan Prabowo! Sampaikan pesan Mbah: “Kalau jadi Presiden, ingat tanggung jawab kepada Allah di  akhirat. Jangan mikir dunia saja. Karena mengaku Muslim, maka ikhlaslah untuk menjadikan Nabi Muhammad saw sebagai teladan hidup dan kepemimpinan. Jangan membohongi umat Islam! Hanya dekat saat perlu dukungan mereka, tapi setelah itu mendukung sekulerisme, kemusyrikan dan kemaksiatan. Ingatkan mereka, agar mau belajar dari para pemimpin sebelumnya.Bagaimana nasib mereka yang berani menipu Allah dan Rasul-Nya serta umat Islam!”

“Tapi, Mbah… itu sangat susah Mbah. Bagaimana cara menyampaikannya?”

“Berjuang itu memang tidak mudah, Le! Kalau mau yang mudah-mudah terus, ya jangan berjuang!”

Kirno ingin terus bertanya, tetapi azan ashar terdengar mengalun. Mbah Muhsin pun mengajak cucunya ke surau sebelah rumah. Kirno menurut, diam. Tapi hatinya bergejolak; tertantang untuk menyampaikan pesan kakeknya itu ke semua capres RI 2014-2019.

**Gambar dan tulisan diambil dari web Dr. Adian Husaini dengan link berikut

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with Jokowi at I Think, I Read, I Write.

%d blogger menyukai ini: