Shaf Sholatmu, Deritaku

Juni 5, 2017 § Tinggalkan komentar

Sumber: ibtimes.co.uk

Memang, sebelum kita bermegah-megahan dalam beramal, yang lebih utama daripadanya adalah ilmu. Dan sebaik-baik penuntut ilmu adalah mereka yang mendahulukan adab atasnya. “Jadikan ilmu sebagai garamnya, dan adab itulah tepungnya,” Kata Imam Syafi’i menggambarkan “roti” penopang kehidupan. Seperti dikutip oleh Ustad Salim A Fillah dalam Sunnah Sedirham Syurga. Ia menambahkan bahwa Imam Bin Al-Mubarak berkata “Hampir-hampir adab itu senilai dua pertiga agama”.

Omong-omong tentang ilmu sebelum amal, ada sebuah pemandangan unik setiap kali saya melakukan solat berjamaah di mesjid. Entah mengapa, sebagian jamaah mesjid yang saya temui di banyak tempat enggan untuk merapatkan shaf dalam solat. Keengganan ini banyak didominasi oleh kaum tua dan terjadi lebih masif di mesjid-mesjid di sudut kota. Atau kita jamak mengejanya sebagai ‘mesjid kampung’. Orang-orang tua lebih sulit untuk diajak berdiskusi. Keengganan karena memandang remeh si muda ataupun kebiasaan yang sudah melekat seumur-umur menjadikan hal-hal kecil namun penting dalam sholat ini sering kali dilewatkan. Sebenarnya anak-anak pun banyak yang tidak merapatkan shaf namun keadaan ini tidak genting mengingat mereka lebih mudah diarahkan.

Beberapa referensi menyampaikan pentingnya merapatkan shaf dalam sholat berjamaah. Bahkan hampir tiap kali imam menyengaja diri untuk mengingatkan jamaah agar merapatkan shafnya. Tapi nampaknya beberapa orang lebih percaya diri untuk menjaga jarak dengan jamaah di sebelah kanan dan kiri.

Saya mengalami dua kejadian unik dan miris sehubungan dengan merapatkan shaf. Pernah suatu waktu di sebuah mesjid sekitaran Cisitu Bandung, di saat sedang merapihkan shaf solat magrib, salah seorang bapak paruh baya yang tepat berada di sebelah saya senantiasa menjauhi ujung jarinya setiap kali saya mencoba merapatkan. Berkali-kali saya coba merapatkan shaf, berkali-kali pula ia menjauh. Puncaknya adalah saat solat tengah berlangsung. Merasa situasi sudah aman terkendali dan kemungkinan bapak itu menjauh akan mengecil saat solat sudah dilakukan, saya pelan-pelan merapatkan kembali shaf. Ternyata apa? Sang bapak nampaknya gerah. Buktinya, kaki saya yang mencoba menggapai kaki sang bapak demi rapatnya shaf, diinjek tanpa malu-malu. Di saat bersamaan saya merasa ingin tertawa. Untung masih inget kalo sedang sholat.

“Luar biasa” pikir saya.

Setelah adegan penginjakan kaki tersebut, saya tidak lagi memaksa diri untuk merapatkan shaf. Saya paham bahwa tidak semua orang ingin didekati. Yang pacaran lama aja bisa putus apalagi yang baru pendekatan, iya kan? Loh…

Lepas sholat, sang bapak menghilang tanpa jejak. Saya pun tidak berencana lebih lanjut mencarinya untuk menjelaskan perihal duduk perkara kemestian merapatkan shaf dalam sholat.

Cerita kedua terjadi saat sholat, lagi-lagi Maghrib, di mesjid sekitaran Bintaro. Meskipun mesjid ini ramai namun orang-orang tua yang mengerjakan sholat di mesjid ini acap kali bersikap kurang ramah. Terutama pada anak muda. Saya merasa ketidaknyamanan berada di antara jamaah mesjid ini. Semoga ini hanya sekedar firasat akibat ketidaktahuan saya sahaja.

Mirip dengan kejadian pertama, bapak yang berada di kanan saya, sedari iqomah, ogah merapatkan shafnya. Saya membaui mulut, tapi tidak bau. Meskipun tidak wangi. Maklum saya kehabisan permen penyegar mulut. Ingin menyemprotkan parfum baju ke mulut, rasanya kurang etis. Mulut saya tidak terbuat dari Nylon. Ditambah belum adanya fatwa halal menyemprotkan minyak wangi ke dalam deretan gigi. Saya juga tidak mengenal bapak ini sebelumnya. Lantas mengapa ada sentimen sehingga kita harus jauh-jauhan, pak. Jangan khawatir, saya bukan admin Lambe Turah.

Dan terjadi lagi…

Niat baik saya merapatkan shaf demi kesempurnaan sholat, seperti yang kerap didengungkan oleh imam, disalahartikan oleh jamaah di sebelah saya. Beliau tanpa ragu menyemprot saya, tepat sebelum imam takbir, dengan memberikan penekanan bahwa ia tidak mau merapatkan shaf dalam barisan sholat. “Kena deh” pikir saya. Belum puas, entah disengaja atau tidak bapak tersebut menyikutkan tangannya yang bersedekap dengan keras ke tangan saya. Ebuset. Begini banget yah. Kzl.

Dua kali mendapatkan jurus ‘mematikan’ dari jamaah sholat membuat saya sedikit banyak ‘kapok’ untuk bersemangat merapatkan shaf. Saya tidak mau mengalami kejadian serupa untuk ketiga kalinya. Sejak saat itu, tiap kali bersebelahan dengan bapak paruh baya, saya mengira-ngira seberapa besar probabilitas kaki saya diinjek atau disemprot jika harus merapatkan shaf. Saya menjadi cuek. Jika mau merapatkan silahkan, jika tidak, saya merelakan saja. Ampuni Baim, Ya Allah.

Pengetahuan yang kurang, ukuran sajadah yang terlalu besar, keengganan belajar menjadi kunci ketidaktahuan kita dalam beribadah. Oleh sebab itulah agama dan tatacara ibadahnya bukan lah sekedar warisan. Jika agama adalah warisan, maka bentu-bentuk tata-cara peribadatannya mengikuti, patuh, taqlid pada orang-orang terdahulu. Padahal landasan ibadah adalah ilmu bukan kebiasaan orang-orang terdahulu yang diwarisi.

Mari kita merapatkan shaf dalam sholat, ya.

سوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَفِّ مِنْ تَماَمِ الصَّلَاةِ

Selamat Ulang Tahun, Sayang

Maret 12, 2015 § 1 Komentar

IMG-20150311-WA0014

Selamat Ulang Tahun, Sayang.

7 maret menjadi hari yang spesial buatku. Setidaknya mulai dari tahun kemarin. Karena di tanggal ini, Tuhan mengizinkan engkau menyapa dunia bersama dengan segala catatan rezeki, jodoh dan takdir lainnya. Artinya, untuk tahun-tahun ke depan selama hayat masih di kandung badan (keselek), aku akan selalu menjadi orang pertama yang mengucapkan ‘selamat hari lahir’ buat engkau.

Selamat Ulang Tahun, Sayang.

Di tahun ini, engkau genap berusia 27 tahun. Segala harapan dan doa aku haturkan untukmu sebagai ungkapan cinta seorang suami atas segala perhatian, lelah, senyuman, dan kasih yang telah membersamai selama lebih kurang 10 bulan terakhir.

Tahun lalu, aku memberikan hadiah berupa buku dan miniatur eifel yang dibawa serta pada saat lamaran. Aku memang bukan suami yang romantis. Bahkan aku kebingungan untuk memberikan kado di hari ulang tahunmu. Entah kenapa, hadiah pertama yang aku bayangkan adalah memberikan sketsa dirimu dalam bentuk goretan berwarna. Jadilah, sketsa tersebut, walaupun tidak terlalu mirip, sebagai buah tangan yang aku berikan setibanya dari Jakarta. Lebih kurang jam dua belas lebih tiga puluh menit.

Selamat Ulang Tahun, Sayang.

Aku tidak bisa seperti suami lain yang membuatkan lagu di ulang tahun istrinya atau memberikan liontin mewah atau bahkan sekedar menggantikan pekerjaan rumah yang selama ini senantiasa kau kerjakan. Bukan karena ingin tampil berbeda namun karena memang aku tidak atau mungkin belum terbiasa dengan hal-hal demikian.

Sayang, tahukah engkau?. Menurut sumber yang aku baca, wanita senang diberikan hal-hal kecil namun simpatik. Lebih-lebih yang sifatnya kejutan. Kebetulan, sesaat sebelum menjemputmu di kampus, aku mengantongi tiga kuntum mawar merah dan putih sebagai buah tangan. Katanya mawar merah adalah simbol keindahan dan romantisme sementara mawar putih adalah simbol rasa cinta yang sejati dan keanggunan. Sejujurnya, sayang. Aku pun tak mengerti apa makna mawar-mawar itu. Tak usah jua kau berharap aku menambahkan prosa bersamaan dengannya. Aku tak pandai merangkai kata. Jangankan sebuah prosa, menganggit pantun pun aku alpa.

Aku mencoba menerka-nerka, apa lagi yang biasanya diberikan oleh seorang pria di hari ulang tahun wanita yang dicintainya. Ternyata simpel. Engkau doyan makan. Aku pun begitu. Maka mengajakmu ke tempat makan rasanya adalah pilihan yang sangat bijak. Alhamdulillah, engkau pun mengamini undangan makan yang aku ajukan. Tanpa sungkan engkau menunjuk hollycow sebagai tempat perayaan. Plus ada promo bagi sesiapa yang merayakan ulang tahun di Hollycow, ujarmu. Sungguh sebuah kebetulan yang sangat mencengangkan atau bahasa kerennya adalah serendipity. IMG-20150307-WA0026

Selamat Ulang Tahun, Sayang.

Kita pun menyadari bahwasanya ada yang lebih bermakna dari aneka hadiah yang nampak di mata. Ianya adalahi lantunan doa tulus sebagai harapan yang digantungkan di langit cinta. Berharap agar doa tersebut terijabah. Dipayungi oleh keberkahan-keberkahan atasnya. Karena keberkahan adalah puncak kebahagiaan. Tidak semua bahagia berarti berkah. Kebahagiaan yang semakin menjauhkan diri dan keluarga pada kecintaan terhadap Allah bukanlah sebuah ciri tanda keberkahan yang diharapkan.

Doa yang tulus aku persembahkan untukmu. Doa yang tertutur mesra agar engkau sentiasa menjadi wanita sholehah. Agar engkau meletakkan frasa istri dan anak pada posisi teratas dalam skalamu. Semoga kelak engkau menjadi wanita yang semakin dewasa. Tegar dalam menghadapi segala uji dan musibah. Selalu berada di sampingku di saat aku butuh maupun tidak butuh. Di usiamu yang semakin bertambah, aku mendoakan engkau menjadi wanita yang lebih tangguh hingga segenap masalah tak akan mudah menggoyangkanmu.

Aku berharap engkau menjadi ibu yang shalihah untuk anak-anak kita. Sekokoh cinta sang ibu, Fatimah pada Imam Syafi’i hingga sang faqih menamai karya terbaiknya dengan ‘Al-umm’. Iya Al Umm. Yang tak lain dan tak bukan artinya adalah ibu.

IMG-20150311-WA0015Dalam marahmu, hadirkan cinta. Seperti kisah Imam Sudais kecil yang menuangkan tanah ke dalam makanan yang disajikan untuk tamu. Besar kemurkaan sang ibu melihat polah anak yang memantik emosi. Namun sang ibu sadar bahwa setiap ucapan yang meluncur deras dari mulutnya bisa berarti adalah doa yang tak bersekat. Alih alih mengumpat atau mendoakan dengan ucapan semisal ‘anak durhaka’ atau ‘anak setan’, ia malah mendoakan sang anak menjadi Imam di Masjidil Haram. Dan Keridhoan Allah di atas keridhoan orang tua. Doa tersebut terijabah.

Sayang, rajin-rajin lah membaca. Karena anak-anak kita nanti menjadikan engkau sebagai guru pertama mereka. Ini-itu akan ditanya. Berulang kali dan berima.

Selamat Ulang Tahun, Sayang.

Semoga engkau selalu meneladanii khadijah yang dalam peluknya Muhammad merasa tentram. Juga laksana Aisyah yang cerdas dan menjadi teman terbaik berbagi cerita. Kepedulianmu pada setiap anggota keluarga yang akan menumbuhkan kami dalam cinta.

Berat bebanmu sebagai istri. Menanggung banyak hal, mendekapnya dengan erat. Ceritalah, saat engkau ingin cerita. Marahlah, jika engkau harus marah. Bahkan Umar pun hanya tertunduk diam saat istrinya memarahi.

‘Wahai Amirul Mukminin semula aku datang hendak mengadukan kejelekan akhlak istriku dan sikapnya yang membantahku. Lalu aku mendengar istrimu berbuat demikian, maka akupun kembali sambil berkata, ”Jika demikian keadaan Amirul Mukminin bersama istrinya, maka bagaimana dengan keadaanku?”
‘Wahai saudaraku, sesungguhnya aku bersabar atas sikapnya itu karena hak-haknya padaku demikian kata Umar’. “Dia yang memasakkan makananku, yang mencucikan pakaianku, yang menyusui anak-anaku dan hatiku tenang dengannya dari perkara yang haram. Karena itu aku bersabar atas sikapnya” lanjut Umar.

Dan akhirnya sayang, semoga kelak engkau terus membersamaiku dalam suka dan duka. Kelak kita akan menjadi tua bersama. Semoga dimudahkan setiap langkahmu untuk menempuh apa yang dicitakan. Dimudahkan studimu, dilancarkan proses mengemban amanah mencerdaskan ummat.

-Salam cinta untukmu-

Karya Ulama dan Karya Kita

Januari 2, 2015 § Tinggalkan komentar

Apa yg akan kita sombongkan dari karya kita:

1) Apa yang mau kita sombongkan; jika Imam An Nawawi menulis Syarh Shahih Muslim yang tebal itu sedang beliau tak punya Kitab Shahih Muslim?

2) Beliau menulisnya berdasar hafalan atas Kitab Shahih Muslim yang diperoleh dari Gurunya; lengkap dengan sanad inti & sanad tambahannya.

3) Sanad inti maksudnya; perawi antara Imam Muslim sampai RasuluLlah. Sanad tambahan yakni; mata-rantai dari An Nawawi hingga Imam Muslim.

4) Jadi bayangkan; ketika menulis penjabarannya, An Nawawi menghafal 7000-an hadits sekaligus sanadnya dari beliau ke Imam Muslim sekira 9-13 tingkat Gurunya; ditambah hafal sanad inti sekira 4-7 tingkat Rawi.

5) Yang menakjubkan lagi; penjabaran itu disertai perbandingan dengan hadits dari Kitab lain (yang jelas dari hafalan sebab beliau tak mendapati naskahnya), penjelasan kata maupun maksud dengan atsar sahabat, Tabi’in, & ‘Ulama; munasabatnya dengan Ayat & Tafsir, istinbath hukum yang diturunkan darinya; dan banyak hal lain lagi.

7) Hari ini kita menepuk dada; dengan karya yang hanya pantas jadi ganjal meja beliau, dengan kesulitan telaah yang tak ada seujung kukunya.

8) Hari ini kita jumawa; dengan alat menulis yang megah, dengan rujukan yang daring, & tak malu sedikit-sedikit bertanya pada Syaikh Google.

9) Kita baru menyebut 1 karya dari seorang ‘Alim saja sudah bagai langit & bumi rasanya. Bagaimana dengan kesemua karyanya yang hingga umur kita tuntaspun takkan habis dibaca?

10) Bagaimana kita mengerti kepayahan pada zaman mendapat 1 hadits harus berjalan berbulan-bulan?

11) Bagaimana kita mencerna; bahwa dari nyaris 1.000.000 hadits yang dikumpulkan & dihafal seumur hidup; Al Bukhari memilih 6000-an saja?

12) Atas ratusan ribu hadits yang digugurkan Al Bukhari; tidakkah kita renungi; mungkin semua ucap & tulisan kita jauh lebih layak dibuang?

13) Kita baru melihat 1 sisi saja bagaimana mereka berkarya; belum terhayati bahwa mereka juga bermandi darah & berhias luka di medan jihad.

14) Mereka kadang harus berhadapan dengan penguasa zhalim & siksaan pedihnya, si jahil yang dengki & gangguan kejinya. Betapa menyesakkan.

15) Kita mengeluh listrik mati atau data terhapus; Imam Asy Syafi’i tersenyum kala difitnah, dibelenggu, & dipaksa berjalan Shan’a-Baghdad.

16) Kita menyedihkan laptop yang ngadat & deadline yang gawat; punggung Imam Ahmad berbilur dipukuli pagi & petang hanya karena 1 kalimat.

17) Kita berduka atas agal terbitnya karya; Imam Al Mawardi berjuang menyembunyikan tulisan hingga menjelang ajal agar terhindar dari puja.

18) Mari kembali pada An Nawawi & tak usah bicara tentang Majmu’-nya yang dahsyat & Riyadhush Shalihin-nya yang permata; mari perhatikan karya tipisnya; Al Arba’in. Betapa barakah; disyarah berratus, dihafal berribu, dikaji berjuta manusia & tetap menakjubkan susunannya.

19) Maka tiap kali kita bangga dengan “best seller”, “nomor satu”, “juara”, “dahsyat”, & “terhebat”; liriklah kitab kecil itu. Lirik saja.

20) Agar kita tahu; bahwa kita belum apa-apa, belum ke mana-mana, & bukan siapa-siapa. Lalu belajar, berkarya, bersahaja.

Kultwit ust. Salim A. Fillah

Generasi Qurani

Juli 8, 2014 § Tinggalkan komentar

generasi quraniSejarah mencatat bahwa pada usia 7 tahun, seorang Imam Syafii telah menghafal 30 juz Al-Quran. Kegemilangannya berlanjut dengan menghafal kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik yang diperkirakakan mampu dihapal hanya dalam waktu 9 Malam. Kisah kecerdasan Muhammad bin Idris sudah sangat sering kita terdengar. Bahkan dalam riwayat lain disebutkan bahwa Syafii muda telah menjadi guru bagi banyak orang.

Dalam Kitab Fathul Majid karya Syeikh Muhammad Nawawi pun tercerita tentang seorang anak yang tak kalah hebat. Alkisah hiduplah seorang ulama sombong bernama Dahriyyah. Ia dikaruniai kemampuan lisan yang cakap untuk berdebat hingga tak seorangpun yang sanggup membantah. Keunggulan ini lantas menjadikan ia jumawa bahkan menghilangkan hakikat tuhan dalam kehidupannya. Singkat cerita, seorang anak berusia 7 tahun lantas mengajak Dahriyyah beradu argumen. Atas izin Allah, Imam Abu Hanifah kecil menghinakan Dahriyyah dengan kecakapan lidahnya.

Selama bulan ramadhan tahun ini, salah satu stasiun televisi swasta secara kontinu menayangkan acara bertajuk “Hafiz Cilik Indonesia”. Ia bak oase di tengah gersangnya tayangan yang berasas kebermanfaatan. Tidak mudah tegak berdiri dari gempuran sekian ratus acara yang hanya berisi guyonan, umbar syahwat dan kesia-siaan semata. Hafiz Cilik Indonesia berhasil mencuri perhatian pemirsa televisi yang peduli pada nilai dan keberkahan ramadhan.

Seperti judulnya, Hafiz Cilik Indonesia berupa tayangan anak-anak usia belia yang memamerkan kemampuan dalam menghafal kalamullah. Kita akan terkagum-kagum menyaksikan kekuatan hafalan mereka ketika murojaah, pun tak ketinggalan tajwid mereka terlatih dengan baik.

Dalam beberapa episode, gue tercekat ketika melihat seorang anak bernama Musa yang berusia 5 tahun lebih enam bulan mampu menghafal 29 juz. Subhanallah. Awalnya sang anak ditertawakan seisi ruangan ketika ia, sambil memamerkan gigi ompongnya, berkata bahwa hafalannya sudah 29 juz. Tapi semua terdiam saat sang ayah mengiyakan ucapan Musa. Penonton lalu larut dalam tangis tersedu dan terharu ketika menyaksikan dengan penuh takjub saat Musa berhasil dengan baik menyambung semua ayat-ayat yang ditanyakan oleh para juri bahkan oleh penonton.

Musa, ayahnya berujar, mampu menghafal 5 halaman per harinya. Kemampuan yang luar biasa karena menurut Syeikh Ali Jaber, salah seorang juri yang juga menjadi imam di salah satu kota di madinah, rata-rata kemampuan maksimal penghafal Al Quran di madinah saat dia tengah menempuh pendidikan hanya 1 halaman. Tak pelak, kedahsyatan seorang Musa membuat hati terenyuh dan kagum.

Masih menurut sang ayah, Musa terbiasa setiap harinya bangun jam setengah tiga pagi dan melakukan murojaah 8 jam per hari. Ia juga dijauhkan dari lingkungan yang kurang baik dan juga tontonan yang tidak bermanfaat. Musa lebih menyukai video Muhammad Thoha, Syaikh bin Baaz, nama-nama yang mungkin masih asing di telinga kita, ketimbang menyaksikan Spiderman, ipin-Upin dan Power ranger.

Beda Musa beda lagi dengan Rasyid, peserta asal Pekanbaru. Rasyid mampu membacakan Alquran dengan ‘lagu’ Imam Makkah, Syaikh Sudais dan Imam Madinah, Al Ghomidi. Selain itu, Rasyid secara otodidak menguasai bahasa arab baik lisan maupun tulisan. Menurut penuturan sang ibu, sejak usia 6 bulan rasyid sudah lantang berucap ‘Allah’. Untuk semua keluarbiasaannya, Syeikh Ali Jaber bahkan tak segan menyematkan ‘syaikh’ di depan namanya, dan meminta sang ibu memanggil Rasyid dengan ‘Syaikh Rasyid’.

Masih banyak lagi hafiz-hafiz cilik yang membuat kita takjub. Ada anak yatim, ada yang tuna netra, belum lagi sosok Muhammad Alvin, salah seorang juri yang masih berusia 10 tahun namun sudah mampu menghafal 17 Juz Alquran beserta artinya. Dan masih banyak keajaiban lainnya. Benarlah kiranya ketika Allah berfirman dalam Surat Al Qomar bahwa Ia telah memudahkan Al Quran untuk dapat dipelajari dan dipahami.

Acara semacam inilah yang sebenernya kita perlukan di tengah gempuran hegemoni hedonisme dan kapitalisme yang mengeruk iman dan adab bangsa Indonesia terutama generasi muda. Kita ingin anak-anak Indonesia hari ini lahir dengan lantunan merdu surat Ar-Rahman Syaikh Misairy sehingga mereka tumbuh menjadi generasi qurani. Generasi yang senantiasa dekat dengan Al quran dan menjadikannya sebagai pedoman kehidupan. Generasi yang diharapkan oleh ummat. Bukan generasi yang telah terceruk imannya, terjual akidahnya, terbuang fikrahnya oleh semua liberalisasi, semiotika, bahkan hermeunetika.

‘Mereka inilah, yang sangat mungkin membuat Indonesia dalam Rahmat-Nya” ujar syeikh Ali Jaber kepada anak-anak peserta Hafiz Cilik Indonesia.

Shalahudin Al Ayyubi, Muhammad Al Fatih, Hasan Al-Banna adalah para revolusioner yang berawal dengan mengakrabi Al-Quran. Tinta Emas agama ini selalu ditorehkan oleh para generasi qurani. Bukan generasi manja yang menangis saat mendengar lagu cinta.

Masa anak-anak memang fasa emas untuk tumbuh kembang dan pola pikir manusia. Sedari dini memang seharusnya seorang anak dibiasakan untuk berinteraksi dengan al quran dan ditanamkan nilai-nilai islami hingga mereka tumbuh menjadi generasi Qurani. Maka, peran orang tualah yang dominan dalam memfasilitasi anak untuk terus berkhalwat dengan kitab terbaik sepanjang zaman.

Sumber Gambar dari sini

Pengantin Al Quran

Juli 3, 2011 § Tinggalkan komentar

Tanpa dicari pun, cinta akan tiba pada waktunya..
Karena hati akan selalu tahu kemana ia akan melabuhkan dirinya..
Allah lah yg berkehendak atas cinta, maka cukup lah Allah sebagai muara perlabuhannya…

Quote di atas gw ambil dari status salah seorang temen yang baru saja menikah sehari sebelum gw buat tulisan ini.

Muhammad Hasan sirojudin adalah temen kampus yang merupakan temen satu kelompok gw selama lebih kurang tiga tahun . Sehari setelah menggenapkan usianya ke-22, ia juga mengggenapkan separuh agamanya, Subhanallah. Penghafal Al-quran yang satu ini seolah benar-benar merasakan bagaimana Allah menepati janjinya yang terfirman di surat An-Nur : 26

Perempuan yang keji mendapatkan laki-laki yang keji, sedangkan perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik (pula)

Seorang penghapal Quran pada akhirnya menikahi penghapal Quran juga. Sungguh sbuah keindahan yang dibalut dalam mahligai indah pernikahan. Begitu apik Rabb membuat skenario yang telah lama tersimpan dalam Lauhul Mahfudz. Hebatnya, kedua orang ini mempunyai visi untuk melahirkan generasi Qurani… Luar biasa akh!!

Perjuangan Hasan mencari pelabuhan tempat tambatan hatinya akhirnya terhenti pada seorang gadis yang ternyata adik kelas Hasan di SMP. Wow, kejadian ini makin buat gw yakin bahwa jodoh ternyata ga jauh-jauh dari kita,,,, *ngarep

Pernikahan ini terasa menjadi semakin khidmat di saat Hasan memberikan kado istimewa ke istri tercinta. Lantunan Ar-Rahman perlahan dan syahdu membuat setiap telinga yang mendengar takjub kepada pasangan tersebut.

Seperti inilah generasi Qurani, yang menjadikan Quran sebagai pegangan dalam setiap persoalan kehidupan. Semoga Quran tidak hanya menjadi teks yang dihapal tapi bagaimana ayat-ayat tersebut menjadi tanda, petunjuk yang senantiasa mengarahkan kehidupan hingga sampai ke Jannahnya. Amin

 

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with imam syafii at I Think, I Read, I Write.

%d blogger menyukai ini: