Afnan Sakha Avicenna

Oktober 5, 2016 § Tinggalkan komentar

Di era digital, bayi-bayi yang baru lahir ke dunia terbebani dengan nama-nama yang njelimet tidak karuan. Para orang tua berlomba-lomba memberikan nama unik, tidak pasaran dan berbeda daripada generasi sebelumnya. Tulisan di mojok sudah membahas dengan apik perihal betapa rempongnya nama-nama bayi yang lahir belakangan ini.

Beberapa bulan sebelum kelahiran bayi kedua, gue dan istri  gencar bergerilya mencari nama yang pas. Patokannya jelas, nama anak kami haruslah berawalan huruf ‘A’ biar kompak dengan tiga penghuni rumah lainnya. Selain itu harus terdiri dari tiga kata biar se-rima dengan anak pertama. Ternyata memilih nama dengan memadu-padankan dua unsur tersebut tidaklah mudah. Langkah pertama yang kami lakukan adalah mencari nama depan yang berawalan ‘A’.

Ada begitu banyak nama anak pria yang berawalan dengan huruf ‘A’. Meskipun hampir setiap referensi tidak pernah lagi merekomendasikan nama-nama ‘konvensional’ semisal Agus, Andi atau Ahmad. Gue dan istri mengerucutkan kandidat-kandidat nama berawalan ‘A’ menjadi beberapa saja. Ada Ahza, Agha, Abyan dan beberapa lainnya. Istri gue tidak bersepakat dengan Agha karena menurutnya penggunaan nama ‘Agha’ sedikit sulit untuk dieja. Sama halnya dengan Abyan. Ia jatuh hati dengan ‘Ahza’.

Saat gue dan anak pertama kami Alby berkeliling perumahan, gue bertemu dengan penghuni baru komplek. Ia tinggal bersama dengan seorang istri dan seorang anak berusia 1,5 tahun. Saat gue tanya siapa nama anak tersebut, bapaknya berkata . . . Ahza!.

Mengetahui hal tersebut, istri gue langsung bersegera mencari nama pengganti.  Kami mendapati nama Afnan dan Affan. Nama Affan terlalu melekat pada sosok Usman. Bukan berarti kami tidak mau menjadikan kesalihan dan kedermawanan utsman sebagai contoh. Kami hanya sekedar menyiapkan nama yang unik karena unsur kesalihan yang kami selipkan dalam doa bisa direkayasa pada nama lengkapnya. Jadilah kami memilih ‘Afnan’ sebagai nama depan. Afnan terkesan mudah untuk diucapkan. Afnan diambil dari Bahasa Arab yang berarti tampan.

Lalu untuk kata kedua kami memiliki kendala yang sama. Awalnya gue menyarankan nama ‘Faqih’ yang berarti berwawasan luas. Setelah ditelaah kembali ada baiknya nama tengah anak kedua kami berawalan ‘S’ seperti halnya Alby dengan ‘Shofwan’nya. Entah dapat Ilham dari mana gue tetiba kepikiran nama ‘Sakha’. Mungkin akibat novel ‘Sabtu Bersama Bapak’ di mana salah seorang tokohnya dinamai dengan Sakha. Gue juga sempat kagum dengan pemain Arsenal, Granit Xhaka. Selain karena permainannya yang ciamik namanya pun oke.

Sakha berarti dermawan. Gue berharap anak gue kelak menjadi anak yang menyantuni orang lain. Ya, mengikuti jejak Usman bin Affan dalam hal memposisikan harta.

Wajib kami akui bahwa penamaan Alby menjadi patron untuk nama anak berikutnya. Jika kami dulu memberikan Moissani pada Alby maka kata terakhir untuk anak kedua gue harus terdiri dari empat suku. Akan tetapi mencari nama berawalan huruf ‘M’ dan terdiri dari empat suku kata tidaklah mudah. Akhirnya kami berkesimpulan bahwa kata terakhirnya cukup memenuhi syarat jumlah suku kata. Setelah tetap mentok karena tidak menemukan pilihan yang pas, gue menyarankan ‘Avicenna’ sebagai kata terakhir.

Telah kita ketahui bersama bahwa Avicenna adalah sebutan oleh orang eropa untuk Ibnu Sina, bapak kedokteran islam yang kitabnya pernah menjadi rujukan kedokteran hingga abad ke-19. Ibnu Sina terkenal dengan kecerdasannya yang mendunia. Patut disadari bahwa kehidupan Ibnu Sina tidak lepas dari kontroversi. Imam Ghazali bahkan pernah ‘menyerang’ pemikiran filsafat Ibnu Sina dalam Tahafut al-falasifah. Gue, sejatinya, berniat mengadopsi semangat, ketekunan dan inteligensia seorang ibnu sina sahaja. Sementara unsur-unsur kontroversi seorang Ibnu Sina sebisa mungkin menjauh dari orbit kehidupan Afnan.

Jadi demikianlah asal-usul nama anak kedua kami, Afnan Sakha Avicenna. Semoga kelak Afnan menjadi anak yang tidak hanya menarik secara fisik namun juga memiliki nilai-nilai keluhuran budi juga kecerdasan yang bermanfaat untuk sesama juga memiliki kedermawanan serta zuhud dalam memandang dan memperlakukan harta.

Sehat-sehat terus ya dedek Afnan biar bisa main bareng kakak Alby.

Agama dan Kemajuan Sebuah Negara

Desember 16, 2015 § Tinggalkan komentar

abbas bin firnasBeberapa waktu lalu gue membaca status salah seorang kenalan di facebook yang diberi judul ‘Nalar HTRZ’. Ya, memang judulnya terkesan alay namun jika kita membaca isi status tersebut kita bisa mengira-ngira bahwa sang empu status adalah orang yang memiliki latar belakang pendidikan yang wah atau setidak-tidaknya ia adalah seorang pembaca yang baik. Status tersebut ditulis sebagai respon terhadap orang-orang di sosial media yang selalu membanding-bandingkan kemajuan sebuah negara terhadap kesalihan beragama. Disebutkan bahwa ada seorang netizen yang membandingkan kemajuan Korea Selatan dengan Indonesia. Indonesia dianggap sebagai negara tertinggal dalam segala aspek karena rakyatnya masih disibukkan dengan urusan remeh-temeh semacam mana yang lebih baik tarawih 8 atau 20 rakaat. Atau mana yang lebih shahih subuh pake qunut atau tidak. Mana yang lebih hebat Captain America atau Iron Man. Ia kesal karena terlalu banyak berhadapan dengan para adek-adek lucu pengguna sosial media yang sering menjadikan agama sebagai kambing hitam lambannya kemajuan sebuah negeri.

Sebagai antitesis, ia mengemukakan pandangan bahwa tidak sepatutnya kita menggunakan analisa cocoklogi untuk mengait-ngaitkan antara kesahihan beragama dengan kemunduran suatu bangsa. Karena pada dasarnya banyak faktor yang menyebabkan bangsa di dunia ini tidak memiliki kemajuan dalam ekonomi, teknologi maupun bidang lainnya. Si pemilik status yang kebetulan menyelesaikan studi master ekonomi di negerinya Geert Wilders lalu menyampaikan argumen-argumen dengan pendekatan konspirasi ekonomi. Ia memaparkan bahwa bisa jadi tanpa agama, khususnya Islam, maka Indonesia bisa jadi jauh lebih bobrok daripada kondisi saat ini dengan analisa-analisa yang bikin gue sebagai lulusan sains kimia cuma bisa mengangguk-angguk dan merasa iri mengapa ilmu kimia tidak bisa mengurai permasalahan kapitalisasi, komunisme dan ekonomi suatu negara.

Gue yang turut serta berpartisipasi membagikan status tersebut di dinding facebook sebagai bagian kampanye menentang kesoktauan para pemuja akal dan pendukung fremansory, illuminati, mamarika dan sebagainya mulanya bergairah dengan isi status tersebut. Tapi pada suatu titik gue mencoba berkontemplasi dan bertanya-tanya sendiri, apakah benar kemajuan sebuah negara dan agama bagaikan sepatu yang selalu bersama tapi tak bisa menyatu?.

Secara sederhana kita bisa dengan mudahnya mendapat bahwa negara-negara yang maju secara pengetahuan dan perekonomian adalah negara yang cenderung sekuler alias tak terlalu perduli terhadap agamanya. Amerika Serikat sebagai kiblat kemajuan negara-negara di dunia, setidaknya oleh negara di dunia ketiga, boleh mengaku bahwa sebagian besar pendudukny beragama Kristen/Katolik. Tapi apa lantas mereka menjadi umat yang religius ketika di negara tersebut terkenal dengan istilah four-wheel church alias gereja empat roda sebagai satir untuk menyindir orang-orang yang pergi ke gereja dengan menggunakan empat roda (mobil) hanya pada saat tiga waktu yakni pembaptisan, pernikahan dan kematian. Apakah dogma-dogma kristen memberikan semangat keilmuan yang menjadi dasar pengetahuan hanya karena George W.Bush mengatakan bahwa Yesus adalah sumber inspirasinya?.

Atau bagaimana Jepang yang mungkin mengaku masih menyembah matahari atau beragama Budha menjadikan agamanya sebagai worldview yang lalu menjadikan mereka semangat untuk menimba ilmu?.

Gue rasa tidak.

Masih berkaitan dengan status di atas, pada bagian komentar gue menemukan berbagai pendapat menarik yang sebagian besar sepakat dengan isi status. Di komen teratas gue mendapati komentar yang mengatakan bahwa majunya Korea Selatan saat ini disebabkan oleh dukungan penuh rakyat dan pemerintah untuk menggunakan produk lokal walau bagaimana pun jeleknya kualitas produk tersebut. Lalu melesatlah Samsung yang awalnya sebagai perusahaan pengeskpor ikan kering menjadi goliath teknologi. Berdasarkan komentar ini tidaklah tepat menjadikan alasan religiusitas masyarakat sebagai langkah mundur bagi suatu bangsa. Artinya agama tidak bisa dipaksa untuk dicocok-cocokkan menjadi dalil sebab-akibat yang berhubungan dengan kemajuan atau kemunduran suatu negeri.

Lalu di bagian lain komentar disebutkan bahwa memang pada kenyataannya agama seolah menjadi penyebab kemunduran sebuah negeri. Orang-orang beranggapan bahwa tidak mengapa hidup sulit di dunia asalkan mati masuk surga. Doktrin megah ini menjadi faktor yang mendemotivasi orang-orang agar tidak ngoyo dan pasrah saja terhadap semua keadaan yang dihadapi.

Jika sudah begini maka riwayat mengatakan bahwa orang-orang akan sibuk mencari argumen pembenaran bahwa memang ada suatu masa di mana agama dapat menjadi tulang punggung kemajuan suatu negara. Akan selalu ada proses membanding-bandingkan umat Islam sekarang dengan umat Islam di masa Kekhalifahan Abbasiyah dengan Baitul Hikmahnya dan juga kemegahan Dinasti Umayyah di Spanyol. Dan di lain kesempatan menjadikan trauma masyarakat barat terhadap kepongahan gereja yang menentang segala ilmu pengetahuan sebelum dan awal renaissance di mana Galileo menjadi tawanan rumah karena membuktikan bahwa bumi bukanlah pusat dari alam semesta.

Dua saja. Hanya dua argumen tersebut yang mendasari orang-orang zaman ini terus dininabobokan oleh kemegahan islam masa lalu tanpa ada upaya-upaya untuk meraihnya kembali. Dan juga menjadikan trauma kristen yang antagonis terhadap kemajuan peradaban di medieval age sebagai hikmah dan bahkan olok-olok.

Tapi apa iya kebangkitan peradaban islam dengan khazanah pengetahuannya yang bergelimang pada masa Dinasti Abbasiyah dan Umayyah spanyol berkorelasi kuat dengan kesalihan masyarakatnya?. Pertanyaan ini menggelayuti pikiran gue. Jika memang adagium ‘barat maju karena meninggalkan bibel sementara muslim tertinggal karena meninggalkan quran’ lantas apakah Ibnu sina, Ibnu rusyd, Alhazen, Alhaitam dan segudang ilmuwan muslim lain adalah orang-orang salih yang selain mendalami ilmu eksakta, sosial juga mendalami fiqih, tauhid dengan baik? Karena sepengetahuan gue seorang Imam Nawawi sangat tidak menyukai Canon Medicine atau Qanun Fi at Thib nya Ibn Sina. Baginya buku tersebut terlalu berbau filsafat dan dapat menjauhkan seseorang dari tuhan. Atau jangan-jangan sebagian besar ilmuwan tersebut bukan seorang muslim yang baik dalam konteks menjalankan agama sebagai entitas yang sacred. Bahasa kekiniannya mungkin semacam islam katepe atau mungkin Islam Liberal.

Maka para atheist akan meloncat gembira manakala mendapati Stephen Hawking dengan Theory of Everything atau Grand Design-nya adalah seorang yang tidak bertuhan. Atau secara halus disebutkan bahwa Stephen Hawking bukanlah seorang yang mempercayai tuhan secara personal melainkan impersonal. Sehingga Hawking tidak percaya konsep tuhan yang imanen. Atau sejak film tentang Alan Turing yang diperankan oleh Benedict Cumberbatch diputar di bioskop-bioskop, para pemuja akal bersatu padu membela patriotisme seorang Alan Turing yang meski memiliki kelainan seksual memiliki kontribusi besar mengakhiri Perang dunia II. Maka agama dianggap tidak selayaknya menghardik para pencinta sejenis. Lebih-lebih mereka yang berkontribusi pada aspek-aspek kemajuan dunia.

Sampai kapan pun akan tercipta polarisasi antara mereka yang percaya bahwa agama adalah bagian tak terpisahkan dari kemajuan suatu negara dan mereka yang bertahan dengan argumen bahwa agama hanya candu dan harus dibuang, dipisahkan dari kehidupan agar tercipta suatu kemajuan peradaban.

Dan gue pribadi termasuk golongan yang pertama.

*Sumber Gambar dari Sini

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with Ibnu Sina at I Think, I Read, I Write.

%d blogger menyukai ini: