Petrichor

Desember 6, 2014 § 2 Komentar

Petrichor, pernahkah kau mendengar kata ini?

Mungkin tak pernah, namun hampir setiap kali kau merasakannya kau berteriak bahagia. Dengannya kau, mungkin juga aku, selalu merasa damai. Memang, tak semua yang kita cintai harus diberikan nama atau istilah atasnya.

Petrichor. Pernahkah kau mengenal ia?

Sesaat setelah hujan turun di kota ini, aku mencoba membaui hujan. Dalam setiap tetesan yang menjumpai bumi, Ia selalu menyediakan kedamaian di tengah hiruk pikuk dan lalu lalang kehidupan. Iya, mungkin seperti apa yang sudah kau kira. Petrichor adalah  bagaimana orang-orang menyebut aroma yang senantiasa dihadirkan oleh hujan manakala ia datang. Berterimakasihlah pada bakteri-bakteri, pada batu-batu yang kau injak dan kau hina, pada kekeringan yang melanda karena tanpa mereka semua, kau tak akan pernah merasakan kesejukan yang selalu dihadirkan oleh hujan.

Petrichor, engkau selalu mampu membangkitkan cerita-cerita yang pernah terjadi di bawah dentingan rinai. Pernah suatu ketika, aku berlari lincah menghindari kejaran teman-teman sebaya saat hujan datang beriringan. Saat itu aku tak takut dengan dinginnya. Yang lebih aku takutkan justru teriakan ibu atau sosok ayah yang sudah menunggu di depan pintu. Sesegera mungkin aku pulang ke rumah sebelum ayah dengan sigap menghukumku. Tapi, itu adalah bukti cinta mereka agar sang buah hati tidak lantas menggigil karena terlalu banyak memeluk hujan.

Masa-masa bercengkrama dengan hujan, menjadikannya sahabat dan wahana permainan tidak bertahan lama saat aku mencium aroma yang membawaku kembali ke masa-masa remaja. Kini hujan tidak lagi kuanggap sebagai teman permainan. Kedatangannya tak melulu menjadi inspirasi senyuman. Hujan hanya sebatas alasan untuk mengakrabkan diri dengan sahabat di dalam masjid sekolah. Bersenda gurau dan menghangatkan diri dengan canda tawa atas kekonyolan-kekonyolan manusia-manusia yang beranjak dewasa.

Petrichor. Aromamu menerbangkan khayalku dalam pergulatan kisah yang lebih jauh. Saat jatuh cinta,saat bertemu calon mertua, saat bersama sang teman hidup. Kini, aromamu akan membawa kami menanti kehadiran sang buah hati.

Petrichor. Hadirmu sangat berarti.

#20 Hasbullah Suliyansyah, Mr H

September 23, 2014 § 1 Komentar

20140906_120309 (1)Banyak hal yang terjadi di dunia ini dan dianggap sebagai sebuah kebetulan. Padahal tidak ada terminologi ‘kebetulan’ dalam sebuah kehidupan. Bahkan setiap daun yang jatuh ke bumi adalah hasil rekayasa Sang Pencipta. Bukan kebetulan juga jika semakin banyak sinetron dengan nama-nama hewan. Setelah Ganteng-ganteng serigala dan Pacarku Manusia Harimau, kita mungkin ke depannya akan disajikan oleh sinetron Mertuaku Kera Tungpei atau Anakku Malu Menjadi Babi. Dengan begini kita akan jauh lebih mengenal dan menyayangi hewan di sekitar kita.

Perkara ‘kebetulan’ tidak hanya menghiasi layar kaca. Syahdan, pada tanggal 6 September 2014 selain sohib gue Periawan yang menikah, sahabat gue lainnya Hasbullah Suliyansyah alias Aas melakukan pernikahan pada tanggal yang sama.  Karena Ijab qabul Periawan 2,5 detik lebih cepet,  Aas mendapatkan prioritas di nomor lebih besar untuk postingan gue. *Sok penting lu do!*.

Gue mulai kenal baik Aas sejak kami bersama-sama nyemplung di Kelas 1 SMA. Saat itu Aas duduk persis di depan gue dan Peri. Tapi Aas curang, dia pergi ke sekolah ditemenin oleh bodyguard guede yang duduk di sebelahnya. Eh sorry, itu Dedy temen gue ding. Gue mulai susah membedakan mana temen gue mana yang bukan. Peace dedy *Kemudian diinjek-injek Dedy*.

Aas jadoel

Aas jadoel

Aas & Dedy

Aas & Dedy

Kontras. Itulah yang akan kalian rasakan jika kalian ada di posisi gue dan peri pada saat itu. Kalian akan menyaksikan sebuah pemandangan yang bertolak belakang antara Aas dan Dedy, terutama masalah postur. Aas yang kecil mungil dengan rambut belah tengah dan muka culunnya dan Dedy dengan ukuran dua (mungkin tiga) kali lebih besar. Saat berdiri bersebelahan, gue terbiasa terpana dengan angka 10 yang tidak simetris di depan bangku gue. Angka ‘1’ nya agak menciut. Mungkin minyak gorengnya kurang panas sehingga bentuknya bantet. Satu hal yang membuat perbedaan tersebut agak sedikit tereduksi adalah mereka sama-sama menggunakan kacamata.

Menikah di waktu yang bersamaan mungkin adalah sebuah kontrak kerja yang harus ditandatangani  mereka berdua saat dilantik menjadi ketua dan wakil ketua rohis SMA. Yes, Aas terpilih sebagai wakil ketua rohis untuk mendampingi Periawan. Posisi tersebut semakin mengukuhkan imej Aas sebagai cowo yang keren, shalih, dan berjiwa seni (Menurut fans Aas yang tersebar dari OSIS hingga PMR. Mulai dari Mawar, Melati hingga Bambang).

Wajib diakui, Aas memiliki imajinasi tinggi dalam sebuah nilai seni. Dia sukses membuat kaligrafi dalam bentuk drum dan juga menuliskan lafaz basmalah di bagian atas papan tulis kami yang masih bisa ditemukan hingga saat ini. Digital Camera

Jiwa seni Aas semakin menjadi – jadi. Karena imajinasinya yang kelewat batas, suara dua Aas selalu fals setiap saat kami latihan nasyid di mushola sekolah. Kami sadar bahwa kemampuan interpretasi musik tim nasyid kami yang rendah sehingga tidak mampu mengharmonisasi suara lead vocal dan suara dua oleh Aas. Bahahhaha.. this is absolutely not a compliment. Masih belum puas, Imajinasi yang meledak-ledak itu akhirnya mencapai klimaks ketika Aas dengan percaya diri mengendarai motor melewati turunan dil depan ruang guru sambil berucap ‘ternyata mudah ya naik motor’ dan diakhiri dengan bunyi.. brak.

Motor menabrak trotoar!!!

Teman kami Wahyu lalu memberikan sebuah kayu dan sebuah ban bekas untuk dipukul guna mengobati trauma aas mengendarai motor. Sakitnya di sini *tunjuk dada*.

Jiwa seni Aas bertolak belakang dengan fisiknya yang cenderung vulnerable atau bahasa indonesianya ringkih. Jangan ajak Aas melakukan olahraga berat karena asma yang ia derita bisa kapan saja menyerang. Gue sudah ingetin Aas buat pake Cha*m bod* fit biar asma nya tidak terus-terusan keluar. Tapi ia menolak. Dia lebih memilih mam* p*ko dengan alasan lebih hemat. Alasan inilah yang kerap kali diucapkan aas sehingga kami, dengan semangat 45, menggelari aas sebagai ‘Mr Hemat’ dengan kartu hematnya.

Berbicara tentang fans, udah gue sebutin di atas bahwa Aas diidolai oleh beberapa beberapa cewe di SMA. Sepengamatan gue, ada aja cewe yang tiba tiba menyatakan cintanya ke doi. Mulai dari nembak lewat surat kaleng hingga pake santet. Kadang ayam, tak jarang juga kambing. Garing woyyyy.. Itu sate bukan santet!!!!!

Tapi pada akhirnya Aas menolak mereka semua karena mereka terlalu baik sementara Aas ingin fokus belajar dan mengumpulkan uang untuk menaikkan haji tukang bubur.

Selesai SMA, Aas memilih jurusan arsitektur untuk melanjutkan semangat menggambarnya. Dia juga mulai menulis ke dalam blog. Tulisan-tulisan tersebut berkarakter melow, deksriptif, dengan tata bahasa yang rumit dan dirumit-rumitkan. Sebenarnya kemampuan Aas menulis sudah terlihat ketika ia menghasilkan sebuah cerpen yang menurut gue bagus. Ia, sama seperti gue, sangat menyukai hujan. Beberapa tulisannya memuat tema tersebut. Siapa sangka bahwa ‘hujan’ bak sebuah klu dengan siapa ia akan menikah kelak.

Di kampus, seorang Hasbullah memiliki reputasi yang cukup baik. Gue ga tau pasti apa amanah yang ia emban namun yang gue tahu adalah doi cukup dikenal di kampusnya. Bayangkan saja, hampir setiap lebaran ia silaturahim ke rumah wakil rektor. ‘wakil rektor suka bagi-bagi THR’ ujar Aas. LOL.

Banyak perubahan yang dialami aas setelah melepas seragam abu-abu. Aas yang sebelumnya hanya bisa memukul-mukul ban motor dengan kayu, kini bisa mengendarai motor, mobil, pesawat terbang bahkan siluman komodo indosiar.

Selepas lulus kuliah, Aas bertekad untuk tidak menjadi karyawan. Dengan bakat menggambar dan pengetahuan seputar dunia arsitektur, ia mencoba untuk membangun usahanya sendiri. Jika dulu karya gambarnya mampu menghiasi koran lokal, kini gambar tersebut bertransformasi sebagai sumber penghasilan. Lulus dari bangku kuliah adalah momen kampret di mana orang-orang ga berenti bertanya ‘KAPAN KAWIN?’. Aas pun berencana menggenapkan separuh agamanya.

Untuk ukuran pria, usia 25 tahun adalah fasa galau sudah mulai menjangkiti. Aas pun begitu. Saat gue tanya

‘As, teh nya manis apa ga?

Dia jawab ‘Ga penting manis, yang penting setia’ *muntah asam sulfat*

Sejak sering berdiskusi masalah pernikahan, Aas selalu berujar jika ia mengharapkan seorang dokter sebagai istri. Mengiyakan permohonan nenek, ujarnya. Pada akhirnya Aas memang menikahi seorang dokter. Dokter tersebut adalah adik ipar temen sekelas kami, Faizatul Mabruroh. Sementara Aas sebelumnya memang memiliki hubungan baik dengan kakak sang mempelai wanita. Gue menyimpulkan bahwa ada benarnya jika kita harus memvisualisasikan mimpi.

Mendekati hari pernikahan, Aas nampak semakin ekspresif di media sosial. karena kegemarannya memuat posting yang menstimulus orang-orang untuk reaktif. Kalian bisa trace akun facebook, Path nya di mana ia nampak sangat bersemangat mengakhiri masa lajangnya.

‘Alhamdulillah, buka puasa sendirian untuk terakhir kali’

‘Seneng banget, makan malam sendirian yang terakhir’

‘Akooh b4haGeeaA GhEEl4, BeC0g Ud4H b1$4 Sh0l4T s4m4 iStrEEE’

Akad nikah berlangsung dengan khidmat. Gue dateng ke kediaman setelah menghadiri ijab qabul peri karena waktu acara yang berdekatan. Sementara walimatul ursy dilansungkan sehari setelahnya.20140907_121422

Never Ending Selfie

Never Ending Selfie

Acara berlangsung dengan sangat meriah. Nampak seringai senyum menghiasi raut sang pengantin. Rona bahagia memenuhi atmosfir gedung. Sedikit canggung nampak terbersit oleh pengantin pria yang merasa ‘risih’ saat duduk bersanding bersama sang hujan. Namun semua kembali larut dalam harmonisasi suara yang dilantunkan oleh Senandung Hikmah. Gue bersyukur Aas tidak tiba-tiba meraih mikrofon dan memenuhi gedung dengan suara dua-nya. Mari berucap hamdalah :).

Walimatul ursy dihadiri oleh banyak orang penting mulai dari rektor, DPP PKS hingga tim nasyid. Selamat akhi, akhirnya ente tahu siapa yang menjadi rahasia Ar-Rahman. Selamat menari bersama hujan. Kini rahasia Ar-Rahman sudah terkuak. Membuka tabir yang selama ini hanya bisa diraba tanpa dirasa. Selamat juga buat Rian Hasni. Semoga keluarga kalian barokah. Selamat untuk gelar ke #20.

Senandung Cinta

Januari 2, 2010 § 17 Komentar

Cinta selalu memancarkan ragam warna dan rupa.  Warna keindahan dihiasi dengan pernak-pernik keagungan ataupun bias kepedihan berselimutkan awan kebencian. Biarkanlah setiap jiwa memilih warna cintanya sehingga warna itu akan menutupi rupa dan bentuk aslinya.

Cinta senantiasa menghadirkan sejuta pesona. Laksana pancaran aurora yang menyejukkan ataupun kilatan cahaya yang membutakan.

Selalu ada kesempatan untuk mendapatkan keduanya. Pun memilih satu di antara dua.

Cinta sejatinya bersenandung simfoni keindahan. Namun ada kalanya berujung pada ketidakharmonisan. Selalu ada nada yang terlupakan ataupun sengaja untuk dilewatkan. Pilihan akan terpampang di hadapan. Memilih untuk kembali bersenandung, berdendang ria atau justru menghardik dan menghakimi nada yang tak berdosa.

Cinta akan menunjukkan supremasinya di hadapan mereka yang berani. Berani mengatakan kebenaran untuk kebaikan bukan justru diam tergugu menghadapi kenyataan.

Cinta berwujud asa untuk setiap diri yang mau mencoba. Tentu ia tidak dimiliki oleh mereka yang mudah menyerah, pasrah, tidak berdaya atas pahitnya realita.

Senandung cinta akan selalu mengalir deras dalam dentingan irama kehidupan. Laksana air hujan yang turun selalu menumbuhkan, menyejukkan, menjadikan rasa aman. Cinta berkumpul menyatu dari butiran-butiran perasaan dan kenangan yang terhubung dengan ikatan pertemuan. Ketika angin asmara mulai mendera, cinta itu jatuh ke setiap tempat di bawahnya,, tak terkecuali. Semua merasakan, semua kebasahan.

Namun cinta juga dapat menghanyutkan. Laksana hujan yang dapat menghancurkan. Cinta tak terkendali menjadikan semua tak berarti. Segenap emosi semakin menjadi ketika cinta telah berubah menjadi amarah.

Mencintai tidak harus memiliki. Pepatah kuno yang terus terdengar. Memberikan sebuah harap, sebuah motivasi bahwa cinta sejati bukanlah cinta dengan tujuan untuk memiliki. Cinta sejati adalah cinta yang memberi, memberi yang terbaik bagi mereka yang dicintai. Bukan justru menganiaya kelemahan diri atau justru menyalahkan nasib yang tak berempati.

Senandung cinta akan senantiasa mengalun, mengalun perlahan ditemani titik hujan yang mengalir jatuh membasahi alam. Biarkanlah cinta itu jatuh, menetes setitik demi setitik hingga ia membentuk sebuah genangan air. Genangan yang dapat menjadi tempat setiap pribadi untuk refleksi. Karena sejatinya, cinta itu dapat tumbuh dan berkembang mengikuti karakter diri.

Biarkanlah cinta yang menentukan pilihannya. Jadikan setiap jiwa sebagai kendalinya. Karena cinta tak berwujud, maka lisan yang akan menyampaikan. Menyampaikan rasa yang dianggap cinta atau menahan asa hingga tiba waktunya meskipun jiwa teriris luka.

Biarlah waktu yang mencoba memberikan jawab. Namun, senandung cinta akan tetap mengalun merdu. Menghiasi hari-hari dengan keindahan penuh syahdu.

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with hujan at I Think, I Read, I Write.

%d blogger menyukai ini: