Ramalan Astrologi : Fact or Bullshit?

Januari 28, 2014 § 1 Komentar

Tulisan ini hasil copy-paste salah satu thread kaskus. Sumber aslinya di sini

Apakah lo percaya astrologi? Apakah lo termasuk yang suka buka majalah hanya untuk ngeliat ramalan zodiak minggu ini? Gimana keadaan asmara lo minggu ini? Keuangan aman? Kesehatan drop karena sering begadang?

Eits, sebelum lo tenggelam lagi dalam kata-kata manis zodiak, gw ingin menantang belief lo tentang astrologi. Melalui tulisan ini, gw akan mengajak lo melihat apa itu sebenarnya ramalan astrologi, dari mana sejarahnya, kenapa ramalan astrologi bisa begitu populer, dan apakah sebenernya ramalan astrologi itu bohongan ato jangan-jangan ada benernya juga?

Oke, singkatnya nih.. lebih dari 2300 tahun yang lalu, orang Babilonia percaya bahwa dewa-dewa tinggal di antara bintang dan benda langit serta memiliki kekuatan untuk mengendalikan nasib manusia. Orang Babilonia membagi langit menjadi 12 rasi bintang yang sekarang kita kenal sebagai zodiak (sistem horoskop). Menurut sistem horoskop, kepribadian dan kejadian masa depan kita dapat diketahui dari posisi matahari, bulan, dan benda langit lainnya saat kita lahir. Semacam ada kekuatan yang mempengaruhi kehidupan di Bumi. Ada yang bilang kekuatan itu berupa gravitasi, elektromagnetik, dan lain-lain. Tapi kenyatannya, benarkah seperti itu? Yuk kita kupas tuntas semuanya tentang ramalan astrologi.

Astrologi vs. Astronomi

“Gue mau masuk jurusan astrologi.”
“Gimana ramalan astronomi lo minggu ini?”

Eh tunggu bentar, kebalik yah? Hehe.. Sebenarnya Astrologi sama Astronomi itu beda atau sama aja sih?

Jadi gini, jaman dulu pengetahuan para astronom masih sangat terbatas mengenai benda langit, kecuali dari apa yang bisa diobservasi melalui mata telanjang. Makanya, dulu astrologi masih digabungkan dengan astronomi, sampai akhirnya Galielo Galilei menjadi orang pertama yang menggunakan metode ilmiah untuk menguji astrologi secara objektif.

Tapi jelas, dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang begitu pesat, astrologi dan astronomi bukan hal yang sama lagi. Astronomi modern adalah studi ilmiah mengenai benda angkasa, yang ga ada hubungannya sama sekali dengan situasi asmara lo.

Tinjauan Psikologi terhadap Astrologi

Nah, kenapa kok astrologi itu kayaknya benar? Lo pernah denger gak tentang validasi subjektif?

“Validasi Subjektif” itu terjadi ketika dua peristiwa yang tidak terkait atau acak dianggap berhubungan karena keyakinan atau ekspektasi menuntut adanya hubungan antara dua peristiwa itu. Dengan kata lain, kita sendiri yang menghubung-hubungkan persepsi kepribadian diri dengan isi horoskop.

Konsep validasi subjektif diuji pertama kali oleh psikolog Bertram R. Forer. Forer memberikan tes kepribadian kepada siswa-siswa di sebuah kelas. Setelah itu, hasil/analisis kepribadian dibagikan ke setiap siswa. Dia bilang ke siswanya, kalo mereka dapet analisis yang unik (berbeda satu sama lain) sesuai hasil tes sebelumnya. Trus, mereka diminta untuk kasih skor ke analisis kepribadian yang mereka terima: skala 0 (sangat buruk) – 5 (sangat baik) kesesuaiannya dengan diri mereka.

Tapi ada triknya nih: setiap siswa menerima analisis yang sama persis. Tapi, rata-rata skor penilaian siswa satu kelas terhadap analisis yang mereka terima adalah 4,26. Menurut para siswa, analisisnya 85% akurat. Nah lho, kok bisa analisis yang sama dianggap akurat oleh banyak orang?

Kamu punya kebutuhan untuk disukai dan dipuja orang lain.
Kamu punya potensi besar yang belum kamu manfaatkan sebaik mungkin.
Beberapa impianmu cenderung tidak realistis.
Kamu adalah pemikir mandiri dan tidak menerima perkataan orang lain tanpa bukti yang jelas.

Kalimat-kalimat di atas umum banget, samar (vague), jadi bisa berlaku untuk siapa saja. Pernyataan ini disebut dengan Barnum statement.
Ini berlaku pada ramalan zodiak, kata-katanya samar, ga spesifik. Jadi bisa ngena/nge-hit siapa aja. Pisces itu katanya penuh kasih. Lah, gw tau teman gw yang Capricorn juga penuh kasih. Aries itu katanya mandiri. Lah, gw (yang katanya) Pisces juga mandiri. Semua orang juga bisa bilang dirinya mandiri.

Dalam eksperimen lain, seorang astrolog Perancis yang terkenal, Michael Gauquelin ingin menguji profesi astrologi secara ilmiah. Ia menawarkan ramalan horoskop individual gratis untuk setiap pembaca sebuah majalah dan meminta feedback mereka mengenai keakuratan analisis individualnya. Triknya sama dengan eksperimen Forer: ia menggunakan ramalan horoskop yang sama persis ke ribuan pembaca dengan horoskop yang berbeda-beda. Hasilnya? 94% pembaca menjawab bahwa ramalannya sangat akurat dan mendalam.

Ini adalah contoh validasi subjektif. Orang hanya fokus pada bagian yang benar, yang ngena (hits) dari sejumlah analisis umum. Astrolog mengandalkan kemampuan manusia untuk lebih mengingat “hits” dan melupakan ramalan yang meleset (selective bias). Bahkan kalo ada prediksi yang akurat, bisa jadi itu kebetulan belaka.

Mungkin lo bisa ngerasain sendiri ketika baca ramalan zodiak. Pas baca kalimat yang menurut lo ga make sense, ga lo peduliin. Sekalinya baca kalimat yang KEBETULAN benar dengan situasi yang sedang lo hadapi, “Wah bener banget!”

Sama juga dengan ramalan kejadian yang akan terjadi. Jika ramalan ga terjadi, ya lo nyantai aja. Ga terlalu menghiraukan. Toh, ramalan zodiak doang. Tapi sekalinya kebetulan tuh kejadian beneran, “Gila, ramalan bintang gw bener!”

Sebuah survey terhadap 2.978 pasangan menikah dan 478 pasangan yang bercerai menunjukkan bahwa tidak ada korelasi sama sekali antara perceraian dengan kecocokan zodiak.

Efek ini terus terakumulasi dari waktu ke waktu, membuat astrologi tetap berjaya dan dipercaya.

Coba pikir lagi baik-baik… 

Pas lo baca horoskop dan jika horoskop itu benar, kepikiran ga bahwa berarti 1/12 populasi dunia juga mengalami nasib serupa? Mungkin ga tuh? Kalo kita ambil asumsi populasi manusia di dunia sekarang ini sekitar 7 milyar manusia, dan katakanlah diasumsikan semua manusia lahir secara tersebar dalam 12 bulan. Berarti 1/12 populasi manusia itu ada 584 juta manusia. Sekarang kalo ramalan astrologi lo kebetulan bener bilang lo putus sama pacar, apakah 1/12 populasi bumi ini juga lagi putus sama pacarnya? Kalo minggu ini lo lagi kenal bisul di pantat, apakah ada 584 juta manusia lainnya juga ikutan kena bisul di pantat?

Mau coba sendiri nge-debunk astrologi? Gampang kok. Ramalan astrologi selalu ga konsisten. Kumpulin aja ramalan astrologi dari berbagai sumber. Bandingkan satu sama lain. Nih, gw contohin. Gw akan ambil ramalan zodiak gw, Pisces, untuk 12 November 2013 (sorry gak update ).

Horoskop #1 (id.she.yahoo.com): Fisik: Sinusitis kambuh

Horoskop #2 (vemale.com): Masalah terkait pencernaan akan menyerang Anda minggu ini. Jika ini terus terjadi selama beberapa hari, maka saatnya ke dokter dan memeriksakan diri. Ini adalah akibat dari pola makan dan juga kebiasaan makan sembarangan. Minggu ini, detoks diri dengan makanan sehat dan ringan. Jangan paksakan diri untuk makan berat.

Horoskop #3 (edsur.info): Kesehatan : Hilangkan segala kecamuk yang ada di dalam dada. Jika disimpan terus hanya akan membikin dada terasa sesak.

Horoskop #4 (kucoba.com): Kesehatan: Batuk pilek mulai datang lagi, untuk itu hindari makanan dan minuman yang dapat menyebabkan batuk pilek Anda bertambah parah saja.

Horoskop #5 (gen22.net): Kesehatan: Jangan tidur terlalu malam.

Keliatan kan. Baru dari 5 sumber aja, ramalan horoskop gw hari ini udah saling ga konsisten. Kenyataannya, hari ini kesehatan gw sedang baik-baik aja. Dan gw ga punya sinus ye.

Tinjauan Fisika dan Astronomi terhadap Astrologi

Oke, sekarang kita tinjau deh dari segi “teknis”-nya. Katanya nih, ramalan astrologi dikaitkan erat sama gravitasi dan elektromagnetik. Nah sekarang, jika ada kekuatan dari benda langit yang memiliki efek yang real ke urusan kemanusiaan di Bumi, mestinya bisa diukur dong. Coba kita telaah kekuatan gravitasi dan elektromagnetik yang sering disebut-sebut itu.

Nah pertama, coba deh lo liat gambar di atas tentang list horoscope dan hubungannya dengan benda-benda langit. Disitu ada matahari, bulan, dan beberapa planet lain dalam tata surya kita.

Di Fisika, kita belajar kalo gravitasi dipengaruhi oleh 2 hal, yaitu massa dan jarak. Gravitasi berbanding terbalik dengan kuadrat jarak. Semakin jauh sebuah objek dari kita, semakin kecil pula kekuatannya terhadap kita. Sekarang berapa sih jarak Bumi ke Matahari, Bulan, dan planet-planet lain? Jutaan kilometer, cin! Gimana bisa gravitasi mereka mempengaruhi kita langsung secara individu?

Dan katakanlah benda langit yang paling dekat dengan bumi adalah Bulan. Dengan sifat gravitasi yang berbanding terbalik dengan jarak, seharusnya pengaruh horoskop Cancer donk yang paling mempengaruhi dibandingkan zodiak yang lain, tapi para astrologer dari dulu bilangnya kekuatan pengaruh semua horoscope sama aja. Berarti gak sinkron dengan sifat gravitasi dalam fisika donk.

Gimana dengan elektromagnetik (EM)?
Nah di fisika kita tau bahwa elektromagnetik itu bergantung pada jarak dan muatan listrik. Secara keseluruhan, planet memiliki muatan netral. Ada sih yang punya muatan listrik, seperti Jupiter, tapi Jupiter nun jauh di sana. Benda langit yang memiliki kekuatan EM terbesar di tata surya kita adalah Matahari. Kalo gitu, seharusnya Leo (Sign Zodiac buat Matahari) juga punya pengaruh yang lebih besar donk dibandingkan horoscope yang lainnya. Gak sinkron lagi nih sama hukum fisika elektromagnetik.

Gimana kalo kekuatan itu tidak dapat dijangkau oleh sains?
Ya sama aja, seperti yang kita tahu, kekuatan berbanding terbalik dengan jarak. Kekuatan benda yang letaknya jauh, lebih kecil daripada kekuatan benda yang lebih dekat dari kita. Tapi kata para astrologer, kekuatan semua planet itu sama. Venus yang lebih dekat ke Bumi punya kekuatan yang sama dengan Pluto yang paling jauh dari Bumi.

Lah terus jadinya faktor kekuatannya apa dong? Jarak bukan, massa bukan. Trus gimana dengan asteroid yang juga anggota tata surya dan ratusan planet lain yang ditemukan melalui ilmu astronomi modern. Kenapa ga ada diperhitungkan dalam astrologi?

Astrologi lahir pada zaman di mana benda angkasa diamati dengan mata telanjang. Zaman di mana manusia masih meyakini kalo Bumi adalah pusat alam semesta (geosentris). Nyatanya, jelas kini kita tahu kalo Matahari lah pusat tata surya (heliosentris).

Menurut astrologi, tiap pagi tanggal kelahiran kita, matahari akan terbit dan melewati rasi bintang yang bersesuaian. Gw lahir pada tanggal 3 Maret. Berarti, setiap tanggal 3 Maret, (seharusnya) matahari akan terbit dan melewati rasi bintang Pisces. Apa iya? Iya, tapi itu 2000 tahun yang lalu, ketika orang Babilonia pertama kali melahirkan astrologi.

Dalam 2000 tahun terakhir, rotasi Bumi membuat Bumi bergeser dari porosnya, sehingga rasi bintang bergeser 1 derajat setiap 72 tahun. Akibatnya, zodiak kita bergeser satu. Jadi sekarang, kalo gw nungguin matahari terbit pada 3 Maret, matahari akan terbit melewati rasi bintang Aquarius, bukan Pisces lagi.

Dari sini kita bisa bilang kalo Astrologi adalah sistem yang primitif. Masih relevan kah untuk kita gunakan sekarang?

Bahaya Astrologi

Ya mungkin astrologi ga sepenuhnya benar. Tapi santai lah. Buat fun aja. Ga ada bahayanya kan? WRONG !

Saat ini, menurut jajak pendapat Gallup, 25% dari Amerika percaya Astrologi. Sekitar ratusan juta dolar dihabiskan untuk astrologi tiap tahunnya di US sana. Itu gede lho, dan kayaknya sia-sia aja dihabiskan untuk suatu hal yang ga jelas kebenarannya.

Pada tahun 1980an, Nancy Reagan, istri Presiden Amerika Serikat, Ronald Reagan, berkonsultasi ke seorang peramal astrologi untuk mengetahui peruntungan meeting dan rencana yang disusun pada hari itu. Suaminya, Presiden Amerika Serikat, oke-oke aja dengan “tingkah” istrinya.

Masih berpikir ini ga berbahaya? Orang se-powerful Ronald Reagan, menyusun jadwal pertemuan berdasarkan klaim random dan omong kosong dari sistem yang ga ilmiah. Bayangkan kalo presiden negara ini bikin keputusan pake astrologi! Wah, prihatin saya.. 

Bahaya yang paling mengkhawatirkan adalah astrologi mempromosikan uncritical thinking. Semakin kita mengajari orang untuk gampang aja menerima cerita anekdot, informasi yang dipilih secara cherry-picking (pilih yang mendukung, abaikan yang tidak mendukung), dan omong kosong, semakin sulit pula kita mengajarkan orang untuk berpikir jernih dan kritis.

Kalo lo ga bisa berpikir jernih, kemampuan lo sebagai manusia mandiri akan terkikis. Lo akan gampangnya disuapin berbagai hal oleh orang lain, yang kebenarannya masih belum jelas. Lo bakal gampang disetir oleh orang lain.

Teknologi Anti-Mainstream

Desember 20, 2013 § Tinggalkan komentar

ponsel

Salah satu momen paling menyebalkan di dalam hidup gue adalah saat gue harus menyikati gigi beruang kutub seusai hibernasi. Eh bukan bukan.. Momen yang menyebalkan itu adalah saat gue sedang sholat berjamaah trus ada handphone jamaah lain yang berdering dengan kencangnya dan….. nada dering yang digunakan adalah dangdut koplo pantura yang di mix dengan musik disko nya David Guetta plus sedikit percikan reggae Bob Marley.

Alamak, dalam sesaat lo berasa sedang solat di dalam pub.

“Yaelah lo, kyk pernah ke pub aje”.

Hahaha.. Itu cuma interpretasi tempat dugem yang sering gue liat di National Geographic. Lho?!!!

Sungguh, ponsel berdering dapat merusak konsentrasi peserta solat berjamaah. Untungnya selama ini gue kebanyakan jadi makmum. Kan gawat kalo pas jadi imam, gue lupa itu rakaat ketiga atau keempat. Selain mengganggu bacaan, nada dering ponsel juga berpotensi menimbulkan interferensi jamaah solat berupa prasangka di dalam hati yang seolah berbicara, persis saat ibu tiri merencanakan misi bales dendam ke Nikita Wily sambil ujung mata lirik-lirik penuh kemurkaan.

“ish, handphone siapa sih itu ganggu solat gue aja” (ceritanya ngomong dalam hati)

Seharusnya setiap orang yang ingin melakukan solat berjamaah sadar bahwa ponsel mereka harus dinon-aktifkan nada deringnya atau jika perlu dinon-aktifkan sama sekali. Tapi yang namanya manusia selalu menjadikan lupa sebagai alasan. Oleh karena itu, ide liar gue berpikir tentang bagaimana caranya masjid menciptakan mekanisme yang mampu mengendalikan para pengguna ponsel yang “nakal” dan “khilaf” ini saat mereka mengikuti solat berjamaah di masjid.

Salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan teknologi yang memungkinkan setiap sinyal radio ataupun gelombang elektromagnetik lainnya dialihkan atau dihilangkan saat mereka berada di dalam radius tertentu di dalam masjid. Entahlah, gue bukan expert di bidang itu. Tapi gue yakin para ahli teknologi mampu melakukannya. Teknisnya sih teknologi tersebut harus aktif hanya pada jam-jam solat berjamaah. Lebih baik lagi jika bisa terintegrasi dengan penunjuk waktu adzan.

Teknologi tepat guna seperti ini harus lebih banyak dimanfaatkan untuk mengatasi hal-hal yang dianggap sepele namun penting. Coba bayangkan, jika gegara satu jamaah yang nada dering ponselnya terdengar, banyak jamaah lain yang terganggu ibadahnya. Padahal kan sholat itu ibadah yang paling utama.

“Ah, Ali bin Abi Thalib meminta sahabat mencabut panah yang menancap di punggungnya saat beliau sedang sholat. Masa gegara nada dering, sholat kita jadi tidak khusyu”.

Bro, di dalam masjid itu ada banyak orang dengan pemahaman keagamaan yang berbeda-beda. Syukur kalo jamaahnya punya tingkat kekhusyuan solat luar biasa. Lah kalo jamaahnya macem gue, elo boro-boro ada nada dering, nihil gangguan pun konsentrasi udah pecah dengan sendirinya.

Contoh lain dari pemanfaatan teknologi anti-mainstream di masjid adalah penyediaan tools yang sengaja dipasang setiap hari jumat. Tools ini berupa gelombang yang menjalar lewat udara dan bergerak dengan frekuensi tertentu sehingga siapa saja yang tertidur pada saat khutbah jumat, akan mendapatkan sedikit “sengatan listrik” dengan tegangan kecil yang cukup untuk mengembalikan “kesadaran” peserta sholat.

Ide tersebut sangat mungkin dilakukan dengan memahami bahwa saat tidur, aktifitas jantung sedikit melemah. Oleh karena itu, masjid harus menyiapkan sensor yang mencatat perubahan fisik seseorang. Perubahan fisik inilah yang akan menjadi input bagi sensor guna memproses dan menghasilkan gelombang kejut yang dikenakan bagi mereka yang tertidur.

Tentunya juga hal ini sangat beririsan dengan “kebiasaan” para khatib yang menyampaikan khotbah dengan durasi yang panjang. Jika dan hanya jika para khatib mampu memendekkan khotbah tanpa mengurangi esensinya maka teknologi ini mungkin tidak diperlukan.

Pada akhirnya, pemanfaatan teknologi untuk kepentingan ibadah adalah upaya memadukan sains dan agama karena kita tidak ingin agama berada pada satu sisi dan sains berada di sisi lainnya seperti yang pernah terjadi pada era renaissance. Era di mana tumbuh sumburnya ilmu pengetahuan tidak jarang bertolak belakang dengan dogma-dogma gereja yang berkembang saat itu hingga menjadikan seorang Galileo sebagai tawanan rumah karena mendukung teori Heliosentris Copernicus dengan teleskop buatannya.

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with galileo at I Think, I Read, I Write.

%d blogger menyukai ini: