#18 Yenni Arista

Mei 31, 2014 § Tinggalkan komentar

yenniKelang beberapa pekan selepas gue menyebarkan undangan pernikahan, terdengar desas-desus bahwa ada seorang lagi classmate yang akan melaksanakan pernikahan di waktu yang berdekatan. Gue mencoba mengingat kembali, apa iya gue pernah membuat sayembara nikah massal.

Seperti biasa, berita seperti ini paling menarik buat diinvestigasi. Berbekal predikat makhluk terkepo dalam ajang Kepo Award, gue langsung mencari tau secara detail perihal keabsahan informasi tersebut. Gue pengen membudayakan tabayyun, konfirmasi kebenaran suatu berita. Ngeles aja lo, tong!

Tanpa perlu menunggu album baru Pak SBY rilis, gue langsung japri dia yang pertama kali menyebarkan informasi tersebut.

“Eh, emang Marshanda beneran cerai sama Ben Kasyafani?”

“Iya beneran”

“Ih sayang banget, padahal ben kasyafani teh salah satu ben favorit aku”.

“Itu band (ben) woi. Dasar jepitan rambut. Lagian kenapa tiba-tiba nanyain hubungan Marshanda-Ben ke gue. Gue kenal mereka aja kagak”.

“Iya yak. Sori, tadi otak gue ketinggalan sesendok di kosan. Gue mau nanya, temen kita yang bakalan nikah habis gue, siapa?”

“Ah, kepo deh lo. Ntar aja. Nunggu doi nyebar undangannya. Baru deh lo tanya ke gue siapa yang mau nikah”.

Gue sudah duga, pasti temen gue ini ga bakalan ngasih jawaban dengan mudahnya. Setelah gue paksa, gue cambuk lalu gue setrum pake SUTET, baru dia ngasih jawaban.

Ternyata temen gue yang beroleh gelar ke 18 adalah Yenni Arista. Doi menikah seminggu setelah gue. Sekali lagi gue tekankan, gue ga janjian. Kalo misalkan pernikahan kami yang kelang seminggu ini mengundang respon tidak memuaskan dari media massa, kami bisa apa. Sungguh, ini bukan skenario. Tolong kameranya dijauhkan dari wajah saya. *Kemudian ditabok massa*.

Yenni Arista, dulu kami suka memplesetkan namanya menjadi Yenni Daratista. Meskipun dia ga bisa joget ngebor dan juga tidak mempunyai bisnis karoke keluarga di setiap sudut mall. Suaminya mirip Adam Suseno? Hmmm.. kumisnya mungkin!

Semasa SMA, Yenni melekat dengan anggota Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra). Sebagian besar riwayat organisasinya dihabiskan dengan latihan baris-berbaris, latihan baris-berbaris dan latihan baris-berbaris. Sori, gue ga tau yang dilakuin sama Paskibra selain baris-berbaris.

Tidak jarang Yenni mendapatkan tugas untuk berada di posisi tengah dalam formasi Paskibra saat upacara bendera. Ia diapit oleh dua orang pria di kanan dan kirinya. Formasi yang sangat pas mengingat lawan yang dihadapi adalah Barcelona.

Semasa SMA, Yenni mempunyai seorang soulmate bernama Silvia Prihety. Mereka bagai pinang dibelah kampak. Tidak terpisahkan bagai Dora dan monyetnya :D. Ya, Silvia Prihety juga mengambil peran di keanggotaan Paskibra. Tidak hanya itu, bentuk potongan rambut dan ikalnya pun sama. Gue sempet curiga mereka adalah kembar identik yang tidak mirip.

Yenni dan Silvi juga memiliki kesamaan lain. Mereka datang dari satu “geng” semasa SMP. Kalo tidak salah namanya adalah P6. Tentu saja mereka bukan Power Puff Girl dikali 2, atau seven Icon minus vanilla (mak, apal gini).

Karena ingetan gue mulai pudar seiring dengan ketidakjelasan hubungan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, gue merasa perlu mendapatkan tambahan informasi tentang yenni. Gue pun menginterogasi seseorang yang terkenal akrab dengan Yenni. Panggil saja namanya Bambang meskipun dia tak berjakun.

Berdasarkan hasil diskusi gue dengan Bambang, gue mendapatkan informasi baru. Menurut Bambang, Yenni itu penuh integritas. Selalu mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan individu. Dia ga pernah sekalipun mengeluh dengan tugas negara yang diembannya. Oleh sebab itu, Bambang mendukung Yenni menjadi Palembang 1.

“Bang, please. We’re not talking about governor election”

Menurut Bambang, Yenni pernah terjatuh dari motor sebelum berangkat ke sekolah. Kaki dan tangannya lecet dan luka. Perih sih. Tapi lebih perih kalo hubungan yang digantung… eaaa. Gegara terjatuh, rok yenni sobek namun ia tetep bela-belain ke sekolah karena harus mengikuti ujian biologi. Setelah ujian selesai, sakitnya baru terasa.

Masih menurut Bambang, Yenni juga sangat jarang sarapan. Jadi pas jam istirahat, dia langsung loncat dari lantai 2 menuju kantin sekolah.

Untuk semua hal yang berbau khas Palembang yang melekat pada Yenni, kami menyematkan panggilan ‘cek’ untuknya. Sebuah panggilan untuk perempuan yang dihormati atau dituakan. Rumah Yenni adalah salah satu tujuan terbaik untuk dikunjungi selama idul fitri. Kalian bisa makan pempek, model dengan citarasa Palembang yang sangat menggiurkan. Selain itu, kalian juga akan mendapati tenunan songket dan corak kebudayaan Palembang terpajang dengan rapih di dinding rumahnya.

Selepas sekolah menengah atas, Yenni melanjutkan kuliahnya di fakultas kedokteran Universitas Sriwijaya. Dan kini doi sudah mendapatkan gelar ‘dokter’ tersemat di depan namanya.

Yenni akhirnya menikahi seorang pria bernama Ahmad Hakim. Alhamdulillah. Selamat ya Yenni. Kamu beroleh gelar ke-18.

#16 Muhammad Fachrie

Februari 20, 2014 § Tinggalkan komentar

IMG-20140220-WA0004[1]Gue menuliskan kisah ini di bawah tekanan hebat. Orang yang namanya menjadi judul tulisan terus menerus memaksa untuk meninggalkan kisahnya di blog gue yang imut dan sederhana. *Tetot, majas litotes!*.

Gue pun menulis di bawah todongan pistol dan senapan mesin. Entah perasaan apa yang menjalar, untuk beberapa saat gue merasakan sensasi menjadi penulis yang dinanti-nanti karyanya namun di satu sisi keselamatan gue terancam. Lebay, tong.

Gue mulai dari mana ya… Hmmm!!

Suatu hari di sebuah sekolah menengah atas, terlihat beberapa orang pemuda dengan rona wajah yang ceria, baju rapih terselip ke dalam celana, bekas air wudhu masih membasahi rambut dan sela sela jari. Sambil mengibaskan rambut hingga percikan air tersebar kemana-mana, mereka serentak bersorak “ketombe, siapa takut?”

Para pemuda ramah ini tengah mencoba mengharmonisasi suara untuk turut serta dalam lomba nasyid di salah satu SMA di pojok Kota Palembang. Perlahan tapi pasti, salah seorang siswa yang mengenakan kacamata bersiap mengambil nada dan mengeluarkan cengkok mautnya saat secara tiba-tiba salah seorang personel menginterupsi tanpa perlu menunggu sidang pleno DPR. Sontak saja, vokalis dan anggota tim yang lain sewot dan bertanya-tanya kenapa ada interupsi di saat lagu akan mulai dinyanyikan.

“Gue ga mau jadi perkusi. Gue maunya jadi Elang”

“Hah, perkusi? perkutut maksud lo? Jangkrik, jauh banget!”

“Garing ye? Hahaha.. biarin aja dah. Maksud gue, gue ga mau jadi perkusi alias akapelis di grup nasyid ini. Gue maunya jadi vokalis biar eksis dan bisa dilihat orang-orang. Gimana menurut kalian?”.

Gue pelan-pelan memandang pemuda ini. Sambil mengernyitkan dahi, gue spontan bilang

“Kalo aku sih oke aja. Ga tau kalo Mas Dani dan Mas Anang”.

Alamak, anak satu ini pengen dijitak. Interupsi di tengah latihan cuma buat menyampaikan hal yang peluang terwujudnya sama kayak peluang Meyda Safira nikah sama gue. Nol besar. Hampir saja latihan nasyid tersebut berubah menjadi latihan menguliti siswa. Untungnya kami tengah berada di musola. Alarm di balik hijab jauh lebih mengerikan daripada apapun. Akhwat-akhwat akan berkicau “afwan akhi, ada yang lagi sholat”  jika ada sedikit saja kegaduhan di area ikhwan.

Personel nasyid yang tega-teganya menginterupsi latihan demi menyerukan aspirasi yang geje kami pangggil dengan Emon. Eh maaf, Muhammad Fachrie maksud gue.

fahriJangan banding-bandingin Fachrie temen gue dengan Fahri yang membuat Maria serta Aisyah jatuh cinta ye. Kalian akan kecewa!. *Kabur sebelum ditampol*

Sebut Saja Mawar Fachrie. Pria jangkung yang sangat menyukai dunia per-IT an. Sejak masuk SMA, dia langsung bergabung dengan salah satu organisasi sekolah yang memfasilitasi siswanya untuk mengenal jauh programming, hardware, software dan kroco-kroconya.

Semasa SMA, Fachrie adalah anak yang konyol atau bahasa inggrisnya “ucak-ucak”. Dengan mudahnya, tanpa menunggu komando dari batalyon atau resimen mahasiswa, ia bisa sekonyong-konyong membahas tentang pempek, pempek rasa ayam, dimana ada penjual pempek, saat yang lain tengah berdiskusi tentang gerak lurus berubah beraturan. Kami pun hanya bisa menerka apa yang terjadi dengan anak ini. Apakah aliran informasi ke otaknya sudah tersumbat oleh cuka pempek. Atau jangan-jangan, ia tengah berfantasi, berada di dunia paralel yang berisi pempek-man, iron-pempek, spiderpempek dan galau membedakan dunia nyata dan alam pempek fantasinya.

Orientasi fachrie dengan pempek sudah sampai pada tahap mengkhawatirkan. Jika discan dengan MRI, gue khawatir dia mengalami delusi akut. Pempek seolah mensekresikan oksitosin yang membuat dia nyaman.. haha.

Keanehan Fachrie tidak berhenti sampai di sini. Setiap kali makan siang, gue dan temen-temen menempuh jarak yang cukup jauh. Dua kali bolak-balik perjalanan Tong Sam Cong dan Sun Go Kong mencari kitab ke barat. Resiko tersebut harus ditempuh demi mendapatkan harga yang pas dengan kantong kami sebagai siswa SMA yang kere.

Dengan jarak tempat makan yang berada di seberang sekolah, kami harus melalui jembatan dan area yang terpapar oleh sinar matahari. Di sinilah kita bisa menemukan betapa uniknya seorang Hamba Allah bernama MUHAMMAD FACHRIE.

Berasa seorang count drakula, Fachrie selalu berusaha menghindari sinar matahari yang menyinari tubuhnya. Entah dengan alasan kulitnya bisa berfotosintesis lalu perlahan menguap menyisakan Fachrie dan tulangnya atau ia takut kulitnya menjadi semakin gelap. Dia lupa bahwa Vas*line sudah melakukan inovasi dengan SPF 46 yang mencegah radiasi kulit dan memperlambat penuaan *bukan blog berbayar*.

Nah, kalian mungkin bisa membayangkan bagaimana perasaan kami. Saat terkena sinar matahari, Fachrie perlahan bersembunyi di balik bangunan menjulang sambil lari berjinjit dan menutupi kepala dan wajahnya dengan tangan. Jika kondisi sudah begini, gue juga yang kesulitan buat memberikan klarifikasi kepada wartawan-wartawan.

dulur2 SMA (5)Semasa SMA, Fachrie adalah salah satu pentolan ROHIS dan Nasyid SMA 3. Dia juga berada pada kondisi intelektual yang tidak berbeda jauh dengan gue. Kami berada pada kelas bulu terbang. Selama tiga tahun setia duduk sebangku dengan Hafizzanovian. Sangat mengidolakan Sheila On 7. Saking ngefansnya, dia bisa memainkan beberapa melodi lagu SO7 serta mengimitasi sosok Eros. Kurusnya sama broo!.

Oh iya, Gue hampir lupa. Fachrie juga kerap kali dipanggil dengan “nyit-nyit”. Wallahu ‘alam kenapa panggilan yang awckward tersebut bisa tersematkan, hanya Fachrie dan ibu peri yang tau. Yang jelas kami nyaman memanggil fachrie dengan nyit-nyit bahkan sampai saat ini.

Seusai menempuh pendidikan di sekolah menengah atas, doi melanjutkan kuliah ke Institut Teknologi Telkom, Bandung. Di kampus inilah Fachrie mampu memaksimalkan segenap potensinya. Dia melejit dengan menorehkan berbagai prestasi dan yang paling utama, anak yang semasa SMA nya jauh dari kesan serius, mampu bertransformasi menjadi pemuda soleh yang merengkuh jabatan sebagai Sekjen LDK di kampusnya. Wow, sebuah prestasi yang luar biasa. Bener-bener gambaran perubahan yang keren bingits.

Setiap kali berkunjung ke IT Telkom, Gue sering bertemu doi tengah ngadem di masjid kampus entah sebagai jamaah atau menemukan Fachrie sedang berebut tajil sambil sikut-sikutan dengan bocah sekitaran Dayeuh Kolot. Aura Fachrie (bukan aura kasih) nampak berubah. Dia terkesan lebih dewasa dan gosong matang dengan pemahaman keagamaan yang semakin baik.

Selesai kuliah, Fachrie tidak serta merta memutuskan untuk bekerja. Ia lebih memilih melanjutkan pendidikan tentang Artificial Intelligence di kampus UGM.  Belum sempat menyelesaikan studinya, Fachrie sudah diterima menjadi dosen di tempat ia meraih gelar sarjana. Dia kebagian jatah untuk mengisi posisi dosen ilmu pempek dan percuka-an. Hahhaa.

Fachrie, Hani dan Perwakilan IPA A

Fachrie, Hani dan Perwakilan IPA A

Januari 2014, Fachrie mempersunting seorang Gadis Jawa yang Ayahnya merupakan salah seorang Guru Besar di UGM. Gadis ini sempat menempuh kuliah di Institut Teknologi Bandung. Kisah cinta Fachrie sungguh unik jika dirunut. Kuliah di Bandung, Nyari jodoh di Bandung, melanjutkan kuliah di jogja, jodohnya orang Jogja. Sungguh (bukan) sebuah kebetulan.

Selamet akhe, ente meraih gelar ke-16 member IPA A yang sudah menikah dan yang ketiga di antara para jejaka.

#15 Desfri Anggraini

Januari 30, 2014 § 3 Komentar

Image137Di sebuah sekolah yang terletak di pinggiran Jalan Sudirman, tampak beberapa siswa tengah menguap. Sesekali mereka mengusap mata yang perih karena tak kuat menahan kantuk. Sebagian lagi tampak begitu gelisah, bergumam dalam hati dan sepakat bertanya-tanya kapan penderitaan ini akan berakhir.

Sebenernya mereka tidak disuruh memastikan besaran tegangan listrik melalui respon kulit atau membedah perut bayi beruang prematur. Namun kelas biologi tidak pernah menarik. Kecuali untuk sebagian orang.

Angin bertiup riuh, menyemangati gue untuk menyandarkan kepala di atas meja, lelah mendengarkan teori mendel, genotif dan fenotif. Di depan kelas, sosok guru dengan kacamata tebalnya dan suara yang menggelegar memaksa kami melawan rasa kantuk dengan sekuat tenaga. Guru tersebut tak rela jika kami tertidur di kelas. Ia kemudian mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang baru saja dijelaskan. Suasana kantuk berubah menjadi tegang. Wajah-wajah lelah setelah menerima serangan biologi bertubi tubi kini berubah menjadi ekspresi panik. Gue pun mendadak tercekat, suara gue terasa berat mirip bayi lagi ngemil beton.

Tak berselang lama, gue teriak dalam hati saat menyadari bahwa yang beruntung untuk menjawab pertanyaan pertanyaan seputar mitosis, meiosis adalah temen gue yang duduk di sudut kiri kelas.

Satu per satu pertanyaan dilemparkan oleh sang guru. Otak kami sudah tidak fokus. Kami berharap sosok teman kami yang menjadi “tumbal” mampu menguras waktu hingga bel tanda pulang sekolah berbunyi.

Jackpot!

Bel berbunyi saat proses tanya-jawab ke-192 tentang evolusi kodok menjadi kera. “Horeee!!” teriak kami serentak dalam hati. Penderitaan pun segera berakhir. Semua mulai sumringah, bersemangat untuk mengakhiri kelas.

Ekspresi kegembiraan perlahan tercoreng saat melihat mimik wajah memelas dan sedih “sang juru selamat”. Ia yang berhasil mengalihkan perhatian ibu guru biologi dengan pertanyaannya secara tiba-tiba, tanpa komando, berteriak dengan kencang dan…. Cempreng!!.

Kelas yang awalnya gaduh oleh persiapan mereka yang akan segera pulang sontak terdiam karena teriakan yang mirip kaleng seng tipis digebuk dengan tongkat satpam yang gue pinjem kemarin malem. Nyaring!

Teriakan itu disela dengan isak tangis tersedu. Sambil sesenggukan dia berucap “ayamkuuu mana?”

Ternyata, setelah diselidiki lebih lanjut, kesedihan itu lahir setelah proses “debat” dengan guru biologi. Argumen-argumennya dibantah, umpan pendeknya diintersep, dan tendangannya mampu ditepis.

Ia tak kuasa menahan haru karena menurutnya tidak selayaknya kodok berevolusi menjadi kera. Kodok jauh lebih realistis bertransformasi menjadi pangeran #NowPlaying Pangeran kodok.

Lebih lebih, teman kami ini yang sedari awal bercita menjadi dokter syok saat guru biologi mengatakan

“Kamu tidak pantas menjadi dokter”

Pernyataan yang menohok. Lalu ia pun berniat membuktikan bahwa ia akan membuktikan jika guru biologi tersebut SALAH *pasang iket kepala*.

***

IMG_20140130_163252[1]

Kisah di atas adalah cerita nyata yang diselingin oleh science fiction ngaco. Gue ambil dari fragmen kisah saat kelas 3 SMA yang melibatkan teman kami, Desfri Anggraini atau Ades.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mempromosikan air mineral kemasan karena pada kenyataannya kami memang memanggil makhluk kurus putih ini dengan “Ades”.

Ades masuk dalam lingkaran IPA A saat kelas kami sudah berjalan satu tahun. Ia Bersama dengan Vidia, Peri, Marini dan beberapa lainnya berasal dari satu almamater saat sekolah menengah pertama. Sedari awal bergabung bersama kelas barunya, Ades berhasil merebut Vidia dari tangan jahat Edo.

Ades terkenal sebagai siswa yang cerdas terutama untuk pelajaran matematika. Ia dengan mudahnya menyelesaikan pertanyaan integral lipat tiga atau membuktikan 1 + 1 = 2.

Lepas SMA, Ades memilih jurusan kedokteran Universitas Sriwijaya.  Ia berhasil membuktikan bahwa apa yang pernah diucapkan oleh guru biologinya tidaklah benar. Bersama dengan yenni dan icha, yang juga memilih jurusan kedokteran di kampus yang sama, mereka membentuk girl band “TigaNagaImOeTz”.

Setelah merengkuh gelar dokter, Ades memutuskan menikah dengan seorang pria berprofesi sama. Pria beruntung ini menyunting Ades pada tanggal 21-12-13. Selang sehari kemudian mereka melangsungkan resepsi pernikahan.

Pernikahan mereka dihadiri oleh beberapa orang teman SMA. Entahlah apakah sang guru biologi hadir di pesta pernikahan tersebut. Lucu juga kalo ada pengantin yang berteriak lalu menangis tersedu di pelaminan.

Laporan dari temen gue yang datang, tidak ada aksi drama tereak atau tangis. Gue jamin, guru biologi bersangkutan tidak hadir.

Selamat Desfri Anggraini, Kamu beroleh predikat ke-15.

#14 Marini

Desember 15, 2013 § 1 Komentar

IMG-20131110-WA0007[1]

Tanggal 10 November kini tidak lagi dimonopoli oleh perayaan memperingati Hari Pahlawan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Buat Marini, 10 November 2013 adalah hari yang sifatnya jauh lebih privasi. Jauh dari hingar-bingar teriakan Bung Tomo yang diputar di stasiun televisi swasta. Tiada diskusi-diskusi ilmiah  tentang bagaimana cara menyikapi hari pahlawan dengan prinsip kekinian. 10 November adalah hari ketika Marini dan Suami merayakan syukuran pernikahan. Setelah dua hari sebelumnya, sesosok pria mengucapkan ijab qabul, mitsaqan ghaliza. Hari dimana seorang pahlawan di hati marini bersedia mengikat janji suci, anggitan dalam kasih.

Marini, sosok yang dikagumi bahkan sejak pertama ia menginjakkan kaki di Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Palembang.  Di antara sekian banyak kehebohan saat masa orientasi, Marini tetap menjadi sorotan. Sosoknya adalah pembeda di antara kericuhan yang ditimbulkan oleh Hafiz yang ikut serta dalam senam poco poco hingga nyaris “tewas” atau kekacauan yang dilahirkan oleh Edo dengan kekonyolannya. Desas-desus itu sudah terdengar sejak awal. Marini yang notabene adalah siswi cerdas seantero Palembang memilih SMA N 3 sebagai tempat perlabuhannya.

Kelas Kesenian

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Ia sudah berlimpah dengan prestasi. Bahkan ia pernah tercatat di Guiness Book Recod sebagai wanita pertama yang tidur sambil kayang. Hahaha… bercanda Mar!

Pernah tercatat sebagai siswi berprestasi se-Palembang, menjadi juara umum beberapa kali saat Sekolah Menengah Pertama, dan dilanjutkan dengan prestasi di SMA adalah gambaran betapa cerdasnya gadis mungil ini.

Marini adalah anak yang paling berbahagia saat mengikuti ujian yang mengharuskan siswa menandai nama mereka dengan buletan-buletan pensil. Dengan jumlah nama yang terdiri dari enam huruf, Marini bisa lebih cepat menyelesaikan pengisian data diri. Namun masalah timbul saat Ia ingin mendaftarkan namanya di jejaring sosial yang rerata mewajibkan setiap user untuk mengisi kolom “first name” dan “Last Name”. Tidak mungkin Marini memenggal namanya menjadi Ma-Rini. Dengan “Ma” di kolom first name dan “Rini” di kolom sisanya. Atau mengganti nama menjadi Marini aja, Marini doang, Marini senyoo, Just Marini. Itu ga original meennnn. Akan lebih baik jika menggunakan “Marini celalu cendili” atau “Marini yang tak pernah kesepian”. Damn!.

Gue rasa alesan tersebut yang mendorong Marini untuk menikah lebih awal agar ia bisa menyelipkan nama suami di belakang namanya.

IMG-20131108-WA0010[1]

Di SMA gue dulu, anak-anak keren ga cuma tergabung dalam unit basket. Sebagian besar mereka juga tergabung dalam Organisasi Wahana Siswa Gemar Matematika (WASIGMA). Unit bagi siswa yang geek dengan rumus-rumus, algebra, persamaan garis. Mereka adalah anak-anak keren dengan “Brain”, dan tentu Marini adalah salah satu dari anggota unit tersebut.

Entahlah, gue juga ga ngerti mengapa ada orang yang mewarisi DNA “cinta matematika”. Apa ga ada hal lain yang lebih “normal” untuk disukai. Suka dengan kimia kuantum misalnya.

Saat duduk di bangku kelas dua sekolah menengah atas, guru Bahasa Jerman meminta kami untuk terlibat dalam perpisahan siswa kelas 3. Kami (lebih tepatnya mereka yang terpilih) diminta memainkan role play dalam bahasa Jerman. Yaelah bu, belajar bahasa jerman baru berapa bulan, dan kami sudah diminta untuk bermain peran.

Yang terbayang saat itu adalah drama seperti

A : Hi, Dedy , Hast du haustier zu haus?

B : Ya, Ich habe aine katze, und sie?

A : Prima.. Aufwiderscehen

B : ?!?xv^^”:….ffsdff

Gue membayangkan hal-hal absurd bin awkward bakal terjadi saat drama dengan menggunakan bahasa jerman. Ternyata asumsi gue meleset. Marini yang ditunjuk sebagai pembuat naskah mampu menghasilkan cerita yang mengharukan. Terdengar dari penonton yang terisak, tersedu sedan sambil berteriak “turun woi, drama apaan. Gue kagak ngerti” sambil membawa kayu, obor, dan garpu sawah ke atas panggung.

Entah lauk apa yang dimakan Marini. Dia selalu bisa berprestasi di setiap level pendidikan yang ia tempuh. Sementara gue yang sudah berusaha mati-matian tetep aja dapet nilai standar. Gue udah berusaha belajar sebulan semalem sebelum ujian, membakar kertas pelajaran  yang dilarutkan di kopi dan kemudian meminumnya, mencari-cari contoh soal ujian di tengah-tengah komik Naruto, tapi tetep saja aku gagal.

Marini, Marina, Mariska, 3M ini selalu mendominasi saat pembacaan siswi dengan nilai terbaik ketika upacara berlangsung. Mereka ga pernah bosen dengan predikat itu. Ga bisa Move On dari kenyataan, hahaha. Tapi Marini ga bisa berpaling dari sosok Nurdina Utami (Ami). Teman sebangku yang setia menemani selama tiga tahun berturut-turut.

Seinget gue, Marini adalah anak yang perfeksionis. Dia ingin melakukan segala sesuatunya dengan sebaik mungkin. As the best as she can. Namun dia juga sedikit jutek dan emosional. Dia ga bisa mengontrol emosinya dengan baik. Yah, mungkin saat SMA marini masih mencari jati diri, galau dan labil.

Ilmu itu semakin diajarkan maka hakikatnya ia semakin bertambah. Adagium ini lah yang menjadi wajah seorang Marini. Ia tidak sungkan untuk mengajari teman-teman yang tidak mengerti tentang suatu materi pelajaran.

Lepas SMA, Marini melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Sebuah keputusan yang buat gue pribadi membingungkan. Gue selalu membayangkan Marini dengan baju operasi putih-putihnya. Seorang dokter bedah handal atau ia yang menyelesaikan proyek-proyek pembangunan di Selat Sunda sebagai Insyinyur yang cakap. Ternyata Marini memilih langkah untuk menjadi abdi negara lewat jalur berbeda.

Di Kampus STAN juga lah Marini mendapatkan hidayah untuk mengenakan hijab dan di kampus yang sama ia menemukan seseorang yang kelak menjadi pangerannya.

Akhirnya Marini menikah dengan seorang pria bernama Qori Kharismawan, seorang pria Asli Kebumen. Qory adalah sosok pria yang beruntung yang berhasil menaklukkan seorang Marini di saat yang lain gagal. Dengan segenap keluarbiasaannya, adalah wajar jika Marini memilih sosok yang juga luar biasa. Selamet Marini, kamu ada di posisi ke-14.

Kini, 10 November akan menjadi hari bersejarah yang akan selalu menggema. Bukan semata membangkitkan memori kisah perjuangan pahlawan lama namun juga menapaki episode-episode baru dalam kehidupan berumah tangga kalian.

#13 Putra Abu Sandra

November 5, 2013 § Tinggalkan komentar

Cerita kali ini adalah tentang seseorang yang cukup dikenal di kalangan SMA N 3 Palembang, khususnya di angkatan gue. Nama lengkapnya Putra Abu Sandra tapi kami lebih mengenal dia dengan “Putra”. Bareng-bareng gue sejak sekolah menengah pertama hingga sekolah menengah atas. Gue juga bingung kenapa putra selalu menjadikan gue sebagai role model hingga pilihan sekolah pun harus disama-samain. uhuk!.

Di sekolah menengah pertama, doi tidak terlalu menonjol secara akademis. Biasa-biasa saja. Namun Putra terkenal sebagai sosok “jagoan”. Dia kedapatan beberapa kali berkelahi dengan teman satu sekolah. Mulai dari masalah kecil hingga masalah sensitif. Misalnya ditanya tentang berat badan.

Dia berpedoman pada anekdot dari kota asalnya, sekayu “Mati dem asal top” atau bahasa indonesianya adalah tidak masalah mati, asal terkenal. Yah mirip-mirip wise word nya kurt cobain, Nirvana :D.Digital Camera

Pernah suatu ketika, Putra berkelahi karena membela teman satu bangkunya. Ia tidak rela temannya disakiti karena di PHP-in. Dia memang tipikal orang yang membela kebenaran dan persahabatan. Sangat cocok untuk menggantikan kotaro minami di balik kostum satria baja hitam. Fyuh!!

Cerita dengan seragam putih-biru berlalu begitu cepat saat gue bertemu lagi dengan Putra di Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Palembang. Di masa orientasi, gue baru tahu kalo Putra ternyata ikut ‘terjerumus’ dalam organisasi siswa intra sekolah atau OSIS. Entah apa yang membuatnya tertarik bergabung dengan unit tersebut. Padahal gue pengen merokemendasikan dia untuk gabung unit debus atau smackdown.

Gue sejak awal diwanti-wanti untuk tidak terlibat secara langsung dalam OSIS. Entah kenapa gue bersyukur atas keputusan tersebut. Soalnya yang gue denger, anak OSIS itu sangat sibuk dan sering dimarahi oleh seniornya. Belom lagi mereka juga tidak jarang latihan tari. Gue bingung, ini OSIS apa sanggar tari. Yakali saat mau bertemu perwakilan organisasi satu SMA mereka harus berjalan sambil jinjit ala balerina.

Selain itu, menjadi anggota OSIS juga berarti harus menjaga wibawa di depan siswa lainnya. Buset dah, kalo jalan kudu tegap, pasang pose berwibawa bak tentara penjaga perbatasan negara Indonesia-Papua Nugini.

Dan, terpilihlah saat itu Putra sebagai Ketua OSIS. Gue bangga punya temen SMP yang awalnya biasa-biasa saja dapat bertransformasi menjadi sosok kredibel yang sangat dipercaya oleh satu sekolah. Menjadi ketua OSIS berarti meningkatkan pamor di mata guru dan siswa satu sekolahan. Coba tanya kepada penjual mpek-mpek di Kantin. Siapa yang tidak kenal putra.

“Oh Putra. Yang suka ngutang kalo makan mpek-mpek kan?”.

Putra tetiba berubah menjadi sosok yang diandalkan oleh sekolah untuk memegang komando terhadap organisasi di bawah OSIS. Dan gue kehilangan sosok putra yang lugu, imut dan menggemaskan. Kucing gue, kemana aja lo!

Entahlah bener atau tidaknya, suatu ketika gue mendengar cerita dari salah seorang anggota OSIS lainnya. Sebut saja namanya Arsyad. Arsyad berseloroh bahwa semasa di OSIS, setiap junior pasti memiliki julukan masing-masing. Arsyad misalnya, dia berkata bahwa para senior selalu memanggilnya dengan “si ganteng”. Selepas dia cerita, gue dan beberapa orang temen langsung muntah di tempat. Sementara Putra, karena fisiknya yang lebih kecil dibandingkan dengan anggota OSIS yang lain, dikenal dengan “anak gelok (toples)” sebuah istilah lain untuk menyebut bayi tabung, what a n(l)ame!.

Putra adalah last born dari semua anggota IPA A. Dia baru masuk ke kelas kami pada saat naik kelas 3 SMA. Menggantikan Mariska yang harus menjalani program pertukaran pelajar ke Amerika. Jadilah kelas kami kehilangan sosok hebat dan digantikan oleh sosok hebat lainnya. Sayang, Putra ternyata memilih Edo sebagai teman sebangkunya,,,hahaha.

Meskipun duduk di bangku paling belakang bersama biang keributan, Putra tetep mampu menunjukkan kemampuan akademis yang signifikan. Dia adalah contof figur pekerja keras. Di tengah sulitnya soal-soal ujian masuk UGM, dia mampu lulus dan menembus jurusan Teknik Sipil. Di saat yang bersamaan, gue menyelesaikan soal bangun ruang pun sampe panas dingin.

Ilmu “jagoan” putra ternyata masih membekas hingga SMA. Pernah, suatu ketika kami pulang dari menghabiskan liburan di Bandar Lampung sehabis ujian semester. Saat itu kami tengah bersantai di dalam kereta yang tengah berhenti di Stasiun baturaja, daerah antara Palembang dan Lampung. Di saat tengah bersantai untuk menghibur hati gegara kehabisan uang saat liburan, datanglah para pengamen yang lebih mirip pemalak menyusuri gerbong-gerbong kereta hingga tiba di bangku kami. Saat gue dan yang lain pura-pura tertidur, Putra lah yang berani menghadapi para pengamen tersebut dengan mengeluarkan obeng dari dalam tas saat para pengamen telah meninggalkan kereta.

Sebuah cerita yang cukup heroik. Sepertinya layak untuk diliput oleh kick andy dengan judul “Jagoan dengan obeng”.

Kami bersyukur Putra menjadi salah satu mahasiswa UGM karena kami tidak perlu membayar tempat penginapan saat liburan ke Jogja, hehe. Selepas sarjana, Putra melanjutkan pendidikannya hingga meraih gelar master di jurusan dan kampus yang sama. Sebuah prestasi luar biasa dari anak Sekayu ini.

Tahun lalu, Putra berkoar akan menikah sehabis lebaran. Wah, saat itu kita sudah heboh mendengar pernyataan tersebut. Ternyata Putra lah pria pertama yang akan menikah mewakili rombongan IPA A. Tetapi apa mau dikata saat dia bilang

“Iya bener sehabis lebaran, tapi belum tentu lebaran kapan”

Sial, saat itu kami merasa dibohongi. Perih, sakit.

Dan ternyata, kebenaran dari kata-kata putra terwujud dalam sebuah pernikahan sehabis lebaran idul fitri tahun ini, satu tahun selepas ia mengucapkan niatan nikahnya di grup facebook. Putra menikahi gadis jawa.

Selamat bro, ente meraih gelar ke 13 dan juga cowo ke-2 IPA A yang menikah. Congratz!!.

#12 Apria Mariyati

November 5, 2013 § Tinggalkan komentar

20130824_125633[1]

Momen pasca idul fitri benar-benar menjadi salah satu tanggalan terbaik bagi muslim sedunia untuk melangsungkan pernikahan. Gue sengaja membuka kembali undangan-undangan pernikahan yang terserak di notifikasi facebook sambil bertanya-tanya, kapan giliran gue kirim undangan? Apa nanti facebook masih ada di saat itu? *nangis di pojokan*.

Di era media sosial, tidak ada lagi hambatan bagi seseorang untuk menginformasikan berita bahagia yang mereka alami. Jangankan undangan pernikahan, jatuh cinta, menang hadiah, naik kelas pun menjadi sebuah konteks kebahagiaan yang tersebar, sehingga banyak orang menjadi well-informed.

Kali ini gue akan berkisah tentang pernikahan anggota IPA A yang juga adalah temen SMP gue, Apria Mariyati.

Apria, dari namanya saja kita bisa menduga bahwa dia seorang wanita. A-pria, A adalah bukan dan pria adalah laki-laki. Jadi A-pria secara gamblang menginformasikan bahwa dia adalah seorang wanita. Karena dewasa ini tidak jarang kita menemukan nama “Mawar” yang ternyata adalah seorang pria. Miris.

Apria, sama halnya dengan gue, adalah penganut aliran R-iyah. Kami tidak bisa mengartikulasikan huruf tersebut dengan benar. Kami sedih karena aksen prancis kami bener-bener tidak dihargai di negara ini. R kami yang khas Palembang terkadang jadi bumerang.

Gue kenal Apria sejak duduk di Madrasah Tsanawiyah dan menjadi temen sekelas gue saat kelas 3. Dari kacamata gue dulu, dia anaknya pendiem dan pinter. Lepas SMP, kami ternyata dikumpulkan di SMA yang sama dan berada di satu kelas selama tiga tahun pelajaran.

Apria bener-bener pendiem. Mungkin bisa dihitung berapa kali dia bicara dalam setahun. Tapi ternyata di balik pelitnya Apria dalam bicara tidak berbanding lurus dengan volume suara yang dihasilkan. Suaranya kenceng, rek. Cukup dengan mendengar Apria teriak “Waktunya istirahat” dari lantai dua sekolah, maka kami semua bisa langsung bubar dari kelas untuk menuju kantin-kantin terdekat.

Selama tiga tahun, Apria duduk satu bangku dan satu posisi dengan Maya, the KID. Entah apa yang membuat mereka mesra dan setia duduk di posisi yang sama. Mengapa harus di pojokan? Mengapa harus di sebelah kiri? Semua pertanyaan-pertanyaan ini membuatku menjadi bingung. Siapa aku sebenarnya? Mengapa aku di sini? Siapa ayahku? *kemudian hening*.

Tiga tahun masa SMA, tidak membuat kami tahu dimana Apria tinggal. Kami bahkan sempat meminta Ki Gedeng Pamungkas buat mencari lokasi rumahnya. Dia termasuk yang ogah-ogahan dateng kalo ada acara kumpul-kumpul atau temu kangen selepas SMA. Kondisi ini membuat foto Apria sangat jarang tersimpan di harddisk komputer maupun ponsel gue.

Lepas SMA, Apria melanjutkan kuliahnya di jurusan Matematika FKIP UNSRI. Keputusan ini kemudian yang menjadikan dia sebagai seorang guru kelak di kemudian hari. Di bangku kuliah, dia bertemu dengan anggota IPA A lainnya, Endang. Entahlah, mungkin FKIP Matematika sengaja memilih gadis-gadis berjilbab, pendiam dan memiliki suara dengan tipe “loudspeaker”… hahaha.

Menurut penuturan Endang, Apria adalah tipe mahasiswi yang rajin. Setiap ada jadwal kuliah, dia memilih bangku paling depan bahkan sengaja menyediakan kursi persis di depan meja dosen dan selalu menolak jika diajak untuk duduk di belakang. Dedikasinya terhadap dunia pendidikan patut diacungi jempol. Semoga kelak Apria mendapatkan penghargaan atas karya hebatnya. Mungkin duduk di bangku paling depan selama masa kuliah adalah pesan terakhir dari Maya, temen sebangkunya saat SMA.

Apria tetap rajin hingga duduk di bangku kuliah. Kemana-mana selalu membawa buku. Sebuah kebiasaan baik yang sangat patut dicontoh.

Masih berdasarkan penuturan Endang selaku saksi hidup bagaimana Apria di kampusnya. Apria jauh lebih langsing sejak masuk kuliah dibandingkan saat masih berseragam SMA. Sepertinya dia lebih banyak mengunyah buku daripada mengunyah nasi. Yang jelas OCD mah lewat.

Apria akhirnya menikah dengan seorang guru. Suaminya menempuh pendidikan di jurusan Penjaskes di kampus yang sama.

Resepsi pernikahan berlangsung di aula universitas tridinanti. Acara pernikahan berlangsung khidmat dan dihadiri jua oleh wali kelas kami, Ibu Rosmidawati. Sebuah kebetulan bisa bertemu dengan guru kesayangan kami ini.

20130824_130819[1]

Cukup banyak member Ipa A yang hadir di pernikahan Apria termasuk  Gue, peri, dedy, endang, Ragil, vidia dan suami. Barokallahu lakuma Apria 🙂

Selamat Apria, kamu dapet gelar ke-12.

#11 Ayu Widya Lestari

Oktober 30, 2013 § Tinggalkan komentar

Ayu dan Suami

Ayu dan Suami

Sebelum Idul Fitri 1434 H, gue secara sengaja menghubungi setiap anggota IPA A terkait bisa/tidaknya mereka datang ke acara buka bersama yang memang rutin kami adakan setiap tahunnya. Sebagian berkata bisa dan sebagian lainnya belum bisa hadir dengan alasan-alasan tertentu. Ada yang mau menghadiri pernikahan sodaranya di Nigeria utara, ada yang beralasan dia bakalan sakit pada hari H buka bersama dan ada yang membuat gue memicingkan mata seperti alasan yang dikemukkan oleh Vidia.

“Aku ntar aja pulangnya, beberapa hari setelah lebaran. Sekalian dateng ke nikahan temen kita”.

Roman-romannya vidia kembali memaksa gue buat penasaran seperti yang sudah-sudah. Entah kenapa, anak satu ini doyang banget bikin orang kepo. Padahal dia tau gue adalah makhluk paling kepo se planet bumi dan planet saiya. Radar detektif gue mulai bekerja. Gue bertanya-tanya, siapa temen yang akan menikah setelah lebaran idul fitri.

Singkat cerita, Terbongkarlah informasi tentang siapa yang akan menikah. Ayu Widia pada akhirnya memberikan undangan unik berisi tata cara menjalankan pernikahan islami sesuai sunah rasul. Iya, Ayu widia promosi undangan dagangannya. Ayu akan menikah dengan anak IT Telkom which is temennya Hilal yang adalah suaminya Vidia yang adalah sama-sama keturunan Nabi Adam dan ummat Nabi Muhammad. Fyuh, memang dunia ini sempit. Six Degree separation theory itu bener adanya.

Ayu meminta kami dateng ke acara nikahannya, Gue dan Peri yang domisili di Jakarta pun “dipaksa” buat dateng. Setelah melewati drama, gue dan Peri dateng ke nikahan Ayu dengan berdarah-darah, berdebu dan berasap. Kami diminta untuk menjadi panitia penyambut tamu dan diharuskan memakai kostum minang yang pada akhirnya diwakilkan oleh bidadari IPA A untuk mengenakannya.

Ok, mari kita napak tilasi seperti apa ayu semasa SMA.

Ayu Widya, coba lo tanya ke anak-anak IPA A tentang profil beliau semasa SMA. Yang akan kalian denger adalah pendiem, tatapan mata tajam (walau sipit), keturunan cina, dan ketus. Jangan berani-berani bercanda sama ayu. Salah omong sedikit saja, kunai, shuriken hingga samurai bisa melayang. Itu yang ada dalam imajinasi kami (gue) waktu itu.

Ayu ini tipe-tipe “Like I care” Person. Perduli amat sama hendra yang ngomongin stensilan di kelas atau macky yang pukul-pukul dinding sambil sesekali nyasar ke Aas. Selama bisa diabaikan, dia akan abaikan.

Di luar imej kengerian yang ada dalam benak kami, Ayu juga identik dengan srikaya, makanan khas palembang. Srikaya bikinan (ibunya) Ayu paling enak se SMA 3 dan sekitarnya. Doi memang mewarisi darah Padang Sejati. Jualanlah selama kaki masih bisa berdiri lebih lama, tangan yang masih bisa memegang lebih kuat, dan mulut yang masih berteriak lebih kencang.

Imej ayu yang pendiem dan kurang supel luluh lantak sesaat dia menempuh pendidikan di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Setiap tahun saat pertemuan buka bersama, Ayu terlihat lebih supel, matanya sesekali berair, dan mulai tumbuh tanduk di kepalanya. What the,. Sorry Salah script.

Ayu pasca SMA terlihat lebih friendly, tidak kaku dan yang paling penting adalah ayu sudah bisa bercanda. Walau pun kami terkadang masih ragu-ragu untuk tertawa karena trauma. Kami ga yakin ayu sudah membuang semua senjata yang dia punya. Ampun Yu!! 😀

Pernah dalam beberapa kesempatan, Ayu berkunjung ke bandung dan berkumpul bersama kami yang saat itu masih berstatus mahasiswa.

Ayu dan Kami di Ciwidey

Ayu dan Kami di Ciwidey

Kunjungan ayu ke bandung untuk pertama kali terjadi pada tahun 500 SM. Waktu itu Ayu dan kakaknya sengaja berlibur ke kota parahyangan dan kami pun menemani ayu mengunjungi beberapa objek wisata seperti Gunung tangkuban perahu dan ciwidey.

Kunjungan kedua Ayu adalah pada saat dia beserta tante dan sepupunya turut serta bersama rombongan bandung untuk liburan di jogja. Liburan kami saat itu bertepatan dengan perayaan hari lahir ayu yang ke 22. Dengan alasan itu, gue dan temen-temen menyiapkan surprise kecil-kecilana.

Surprise pertama yang kami lakukan adalah dengan meminta kepada petugas Candi Borobudur untuk memberikan pengumuman “selamat ulang tahun” kepada ayu melalui speaker yang mampu menjangkau  luasnya area candi.

Apa mau dikata, suara yang keluar dari speaker tersebut tidak jelas terdengar sehingga misi kami pun gagal.^AyYaww^3917

Malam harinya saat sedang bersantap malam di lesehan malioboro, kami meminta pengamen menyanyikan lagu selamat ulang tahunnya jamrud. Selesai bersenandung, kami ingin melihat seperti apa reaksi ayu atas surprise tersebut. Dan reaksi ayu saat itu datar, tanpa ekspresi. Ok fine. “this will be hard day” gumam gue.

“Hampir aja gue secara sengaja melempar kue ulang tahun ke arah muka ayu untuk memberikan kejutan. Tapi saat itu gue belom mau mati. Gue takut ditebas ayu dengan samurai”.

Dan Kami sebenernya berucap syukur ketika menemukan profil ayu yang lebih bersahabat dengan tetep menjaga kehormatannya sebagai muslimah. Kini Ayu telah menemukan tempat melabuhkan hati. Seorang Pangeran Banten yang mempersunting Ayu hingga ke seberang pulau, mengarungi lembah, bersama teman ke samudera.

Barokallahulakuma wa baroka ‘alaikuma Ayu Widya Lestari. Semoga selalu dalam keberkahan Allah SWT guna melengkapi separuh agama. Salam Metal.

#10 Nessa Novarisa, Sang Idola

Oktober 30, 2013 § 1 Komentar

Waktu itu  tahun 2004. Saat semester dua telah berlangsung setengah jalan, Tri putriani memutuskan untuk pindah sekolah. Ia merasa bahwa SMA 3 bukan jalan ninjanya. Tak lama selepas kepindahan Tri putriani, siswi pindahan dari sekolah lain datang menggantikan posisinya.

Dari kejauhan nampak wanita berkerudung berjalan pelan menuju kelas kami. Semakin lama semakin dekat nampak semakin jelas juga keriput di wajahnya. Loh kok?. Oh ternyata itu adalah Ibu Fadilah, guru Kimia yang akan mengajar Struktur atom.

Damn, terus anak barunya mana? Aelah pada ga sabaran banget.

Pelan tapi pasti anak baru itu masuk kelas sambil diseret oleh guru yang mendampinginya. Setelah melalui sedikit proses perkenalan basa-basi, kami mengenal dia dengan Nessa Novarisa atau bisa dipanggil dengan “Nessa”. Sebagian kecil menamainya dengan “Nee-Chan”. Ia pindahan dari SMA 1 Padang. Ikut pindah bareng orang tua yang hijrah ke Palembang.

Satu hal yang membuat kami agak risau saat itu adalah Nessa harus duduk sebangku dengan seorang siswi bernama Marina. Wow, how unlucky she was. Asumsi gue, salah satu alasan Tri putriani pindah dari sekolah kami adalah karena sudah tidak tahan dengan KDRT yang dilakukan teman sebangkunya yang tidak lain adalah Marina. Tidak heran melihat Tri putriani setiap hari terlihat semakin kurus, :D.

Sejak awal, Nessa dikenal supel dan rame. Lokasi rumahnya yang berdekatan dengan lokasi sekolah membuat kami menitahkan nessa sebagai tuan rumah untuk acara perpisahan kelas 10 (1SMA). Dan acara berlangsung dengan sukses.

Perpisahan di rumah Nessa

Perpisahan di rumah Nessa

Nessa ternyata siswi yang cerdas, satu level dengan trio M (Mariska, Marini dan Marina) yang selalu berada di peringkat teratas siswa berotak encer di sekolah. Selain pinter, Nessa juga memiliki inner beauty yang membuat banyak siswa kelas kami kagum padanya.

Pernah suatu ketika gue, Peri, Macky dan Aas melakukan sebuah riset ngaco tentang siapa cewe yang paling oke di kelas berdasarkan beberapa parameter. Dari semua nama yang ada mengerucut pada nama Nessa. Hasil riset kami disetujui oleh LSI, Ki Joko Bodo, diuji di ITB dan IPB serta semua anggota pria IPA A. Kecuali Zeniferd yang masih menganggap Ona dan Ernita sebagai cewe paling kece se SMA 3 NEGERI PALEMBANG.

Nessa juga pernah terpilih sebagai perwakilan SMA N 3 untuk ikut serta dalam lomba TTS se Kota Palembang. Ia bergabung dengan manusia-manusia cerdas lainnya seperti Mariska, Ricky Hartaman dan Wilaga Perdana. Di saat yang bersamaan gue sedang asyik mengisi TTS yang gambar di depannya artis cewe jaman dulu.

Selepas SMA, Nessa melanjutkan pendidikan ke Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Dia kembali ke tanah leluhurnya. Sesekali berlatih silat harimau biar dapat peran di film Merantau 2, ujarnya. Sejak saat itu Nessa tak pernah pulang. Lebih dari tiga kali puasa dan tiga kali lebaran.

Momen dimana Nessa kembali ke Palembang adalah pada tahun 2008. Saat kepulangan Nessa adalah salah satu saat yang paling dinanti. Iya, kami ingin menagih hutang. Hahaha.

Soulmate

Soulmate

Nessa juga pernah berkunjung ke bandung pada suatu waktu. Lupa tahunnya. Gue, Peri dan Vidia menemani dia keliling kebun binatang bandung. Harga tiketnya masih murah loh waktu itu. Kami main perahu-perahuan. “GA penting woi!!!”. Oh iya, maaf.

Berita pernikahan Nessa sampai juga ke telinga kami. Lagi lagi, gue jadi salah seorang yang tahu lebih dulu. Hehehe. Nessa akan menikah dengan pria yang sudah lama dia kenal. Temen masa sekolahnya dulu.

Pernikahan berlangsung pada tanggal 17 agustus 2013. Pesta pernikahan pun diadakan di sebelah lokasi panjat pinang. Penganten turut serta dalam lomba balap karung dan makan kerupuk. Lebih-lebih sebelum ijab qabul berlangsung, diadakan upacara bendera.

Seperti yang gue jelaskan di atas bahwa sosok Nessa adalah seorang yang istri-able, meminjam istilah Desni Utami. Profil seorang wanita yang sangat ideal untuk dijadikan seorang istri. Oleh karena itu saat beliau akan menikah, para Fanboy Nessa turut sedih. Mulai dari yang mengagumi Nessa (gue termasuk) sampe yang bener-bener menaruh hati. Paragraf ini gue tulis dengan sejujur-jujurnya. Kita udah dewasa untuk menyikapi keadaan #tsahh.

Dan alhamdulillah Nessa sekarang sudah menjadi istri yang insyaallah sholihah. Menjadi pendamping pria yang juga luar biasa.

Oh iya, ijab qabul Nessa berbarengan dengan Hendra. Hampir saja kami menyangka bahwa mereka ijab qabul di depan satu penghulu dan di bawah satu kerudung. Ternyata mereka ijab qabul dengan pasangannya masing-masing :D.

Alhamdulillah, pada akhirnya kisah “kalian” berdua berakhir dengan sama-sama bahagia. Barokallahu lakum. Dan gelar 10 besar ditutup oleh Nessa Novarisa. Tapi tenang, masih ada 20, 30 dan 40 besar. Tapi mengingat menikah adalah ibadah, mari kita berlomba dalam kebaikan :).

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with Friendship at I Think, I Read, I Write.

%d blogger menyukai ini: