Belajar Konsistensi dari Seth Godin

Juni 16, 2016 § Tinggalkan komentar

Sumber : Google

Sumber : Google

Setiap kali gue melihat profil seseorang atau mendengar presentasi dan ceramahnya atau membaca tulisannya maka hal pertama yang gue lakukan adalah mencari blog orang tersebut. Gue percaya bahwa kualitas seseorang dapat dilihat dari kualitas tulisannya. Itulah mengapa gue sangat menyayangkan jika mendapati orang-orang hebat tanpa keberadaan blog atau website sebagai etalase ide mereka.

Kemarin sore gue iseng-iseng blog surfing ke beberapa alamat yang sudah jarang dikunjungi. Ada blognya Goenawan Mohamad, Ustad Hamid Fahmi Zarkasy, Dan Ariely hingga blog miliknya Seth Godin. Sebenernya gue agak ragu buat berkunjung ke blog yang gue sebutin terakhir karena firewall internet kantor sempat secara anarkis dan tanpa konfirmasi dulu (lah, siapa gue?) memblokir blog tersebut. Jangan tanya alasan pemblokiran yang dilakukan. Sejatinya blog milik Seth Godin tidak mengajak orang bergabung dengan ISIS. Tidak berisi barang-barang jualan onlen. Juga tidak ikut memberikan opini terkait kericuhan penutupan warung makan di serang. Catet itu ya wahai kalian Divisi IT kantor gue!.

Sudah pernah tahu Seth Godin?

Gue pertama kali mengenal pria berkepala plontos ini melalui videonya di TED dengan judul ‘How to Get Ideas to Spread’. Videonya menarik dan masih menjadi salah satu favorit gue bersama dengan video milik Dan Ariely dan Sir Ken Robinson. Dalam presentasinya ia memaparkan bagaimana ide dapat tersebar dan mengklasifikasikan tipe-tipe orang berdasarkan kemampuan mereka menyebarkan dan menerima ide.

Selain melalui video, gue juga mendapati Seth Godin sebagai seorang bloger. Blognya banyak berisi tentang trik-trik marketing, organisasi, serta petuah-petuah kehidupan yang dikemas dengan bahasa singkat dan sederhana.

Setelah puluhan kali mampir ke blognya gue baru sadar bahwa ada hal unik yang ia coba kemukakan. Seth Godin sangat rajin memutakhirkan (update) blog yang ia asuh. Sepanjang pengetahuan Aliando, ia adalah salah satu bloger yang mengisi blognya hampir setiap hari.

Setiap hari?

Iya. Setiap hari.

Tiada satu hari pun ia lewatkan tanpa meramaikan blognya dengan konten. Kegiatan ini sudah dilakukan sejak awal blognya bergulir, sekitar tahun 2002. Sebuah aktifitas yang bahkan lebih sulit daripada menunggu nobita naik kelas. Emezing.

Memang, artikel yang dihasilkan sebagian besar berupa mini post alias tulisan-tulisan pendek. Tapi mini post yang berarti dan memiliki impak yang besar jauh lebih heits dibandingkan tulisan gue yang panjang sampe mars namun sering kali nir makna.

Mungkin Kalian bisa bilang ‘ah, kalo tulisan pendek kayak gitu mah gue juga bisa’. Nyinyir-an tersebut persis dengan para pelaut yang menghina Colombus sepulangnya ia dari berkelana menemukan amerika.

Atau berseru ‘ah gue kan sibuk. Mana mungkin bisa ngeblog sebanyak itu’.

Ketahuilah wahai kawan, Seth Godin itu bukan seorang bloger an sich. Ia juga entrepreneur, marketer, penulis hingga public speaker. Lha sampeyan itu apa? Bloger sekaligus Batman yang tiap malem kudu keliling Gotham City buat membasmi Joker, Penguin dan konco konconya?.

Alesan sebenar-benarnya mengapa kita, yang mendaku diri sebagai bloger, tidak bisa rajin nge-blog dan meninggalkan tulisan adalah karena kita miskin pengalaman dan ide. Seth Godin tidak sekedar ‘rajin’ menulis karena kalo sekedar rajin kita bisa menemukan ratusan blog abal-abal yang isinya copy-paste blas. Selain rajin, ia pun memikirkan konten yang sesuai dengan kapasitasnya. Istilah temen gue blognya memiliki niche-nya sendiri.

Seth Godin bisa dengan luwes membagi ide-idenya lewat blog, menurut gue, disebabkan juga oleh blog yang ia asuh bukan blog berbayar. Sehingga ia bisa tetap mempertahankan idealismenya dalam menulis tanpa takut ide-ide tersebut dipasung atau diarahkan oleh pihak sponsor.

Gue mencoba membandingkan blog Seth Godin dengan blog personal lainnya

Seth Godin bisa menjadi contoh yang baik perihal konsistensinya dalam menulis. Gue mencoba membandingkan konsistensi tersebut dengan para bloger Indonesia. Ternyata hasilnya cukup mencengangkan. Misalnya saja blog Enda Nasution yang diklaim sebagai ‘bapak bloger Indonesia’. Tahun ini blog tersebut baru menggulirkan dua buah tulisan. Belum lagi jika menyebut nama bloger Ndoro Kakung atau Raditya dika yang digadang-gadang sebagai kiblat para bloger ternyata tidak mampu menghasilkan tulisan yang konsisten.

Sejauh ini blog personal, yang berhasil radar gue tangkep, yang menunjukkan kekonsistenan dalam menulis adalah blog asuhan Bapak Rinaldi Munir, Sang Dosen Teknik Elektro ITB itu. Belio acap kali mengulas berbagai hal dalam blognya meskipun memang tidak serajin Seth Godin.

Konsistensi adalah suatu bentuk sikap yang paling sulit dijalankan oleh umat manusia. Berapa banyak sih orang yang semangat di awal namun layu di tengah perjalanan. Tidak cuma masalah tulis-menulis. Tapi dalam banyak hal lainnya.

Konsisten dalam menulis seperti yang dilakukan oleh Seth Godin adalah contoh sikap yang wajib ditiru jika kita ingin terus menyebarkan ide kita lewat tulisan. Tidak mudah memang. Tapi Seth Godin menunjukkan bahwa ia bisa. Ia juga mengajarkan bahwa impak dari sebuah tulisan tidak melulu dipengaruhi jumlah kata namun lebih kepada isi.

Jika penasaran silahkan kunjungi blog belio di link yang sudah gue sertakan di atas.

Jika tidak penasaran maka kalian pasti tidak punya kapasitas menjadi ilmuwan. Bye.

Sribulancer Untuk Penulis Lepas

Maret 14, 2016 § 5 Komentar

Otak gue mampet.

Ya. Beberapa bulan ke belakang daya kreasi otak gue untuk menghasilkan tulisan-tulisan ber-nas semakin berkurang. Ga ada lagi tuh tulisan bergaya naratif-eksplanatori saat gue membuat langkah-langkah jitu menghemat penggunaan BBM. Atau tulisan bernuansa melankolis penuh petualangan mendaki merbabu. Tulisan-tulisan gue kini tidak jauh-jauh dari urusan rumah tangga, bayi, nikahan temen, urusan rumah tangga tetangga, bayi tetangga beserta susu merek apa yang mereka minum dan uang siapa yang mereka gunakan untuk membeli susu tersebut. Apakah A, uang ayah. B, uang ibu. Atau C, uang sampah pada tempatnya. Hoamm….

Bukan berarti gue ga bahagia menuliskan perjalanan hidup Alby dari bayi nol bulan sampe saat ini. Gue bahagia kok. Tapi gue butuh topik baru untuk konten blog. Bahan bacaan gue pun ga banyak membantu. Lebih-lebih sejak kenal situs mojok gue malah berpura-pura satir dalam tulisan. Sok iye, kan?

Lagi-lagi gue mencari kambing hitam atas ketidakmampuan gue membuat tulisan dengan topik lain. Gue berkesimpulan bahwa blog yang kita asuh adalah perwujudan dari perjalanan hidup seseorang.

Saat kuliah gue banyak mengulas tentang serba-serbi kehidupan kampus, kisah jomblo dan tulisan ngalor ngidul ga jelas juntrungannya. Begitu juga waktu koneksi internet merajalela di rumah kontrakan, gue saban waktu mengulas banyak hal yang disajikan oleh situs semacem TED atau menceriterakan kembali paparan subtil oleh Dan Pink, Simon Sinek, Dan Ariely dan kroco-kroconya. Sekarang semua berbeda. Ritual kehidupan gue berputar antara kantor, kosan, rumah setiap akhir pekan, bercengkrama bersama keluarga, dan kembali ke kosan. Siklus ini membuat gue stagnan dalam berkreasi. Oke gue tahu membersamai keluarga adalah punchline dari narasi hidup. Yang jadi sorotan gue adalah bagian-bagian hari lainnya dalam seminggu. Inspirasi apa yang bisa didapat dari pekerjaan kantor? Menulis tentang troubleshooting ketidaksesuaian melt-flow-rate pada proses pembuatan plastik injection molding? Atau membuat tulisan korelasi antara kebahagiaan karyawan dengan warna kaos kaki bos? Tulisan-tulisan serius yang membuat dahi berkerut dan mulut mengerucut jelas-jelas bukan lapak gue.

Semakin lama konten blog rasanya semakin tersegmentasi. Temen SMA gue belakangan ini lebih sering menuliskan tentang tema-tema permainan anak beserta tips-tipsnya. Atau tutorial membuat gendongan dan cara menanam jagung tanpa lahan. Pokoknya yang soo emak-emak. Padahal dulu mah blognya berisi kontes cakep-cakepan (literally, ini judul tulisannya) juga berisi galau-galauan. Dunia berubah, manusia di dalamnya berubah, Power Ranger juga berubah. Yang ga berubah cuma cinta ibu pada anaknya dan belahan rambut Kak Seto.

Temen SMA gue lainnya juga mengikuti pola perubahan yang sama sehubungan dengan konten blog. Mulanya blog tersebut berisi doa-doa berharap jodoh, konten romansa jayus hingga kisah cinta syar’i. Tapi kini blognya berisi tentang doa-doa berharap jodoh, konten romansa jayus hingga kisah cinta syar’i.

Sori gue lupa. Temen gue yang ini jarang update blog.

Dan pada akhirnya gue harus memberi jeda tulisan-tulisan tentang bayi, urusan rumah tangga, parenting atau tulisan bertemakan ke-orang-tua-an lainnya.

Singkat cerita, temen kantor gue memberitahukan bahwa ada situs yang memberikan ruang bagi para freelancer termasuk penulis lepas abal-abal macam gue untuk berkarya. Nama situsnya Sribulancer *bukan blog berbayar*. Situs yang menghimpun para pencari kerja lepas maupun pemberi pekerjaan untuk dipertemukan dalam ikatan suci tanpa penghulu. Kalian bisa menemukan banyak sekali pekerjaan-pekerjaan menulis, web developer, penerjemahan dan lain-lain. Tentunya bukan pekerjaan yang serius seperti mengaudit harta kekayaan Budi Hartono. Pokoknya pekerjaan yang mengembalikan seorang freelancer pada khittahnya

Setelah melihat-lihat etalase situsnya, gue tertarik untuk bergabung. Bukan karena alesan nominal. Karena siapa sih gue. Nulis di Kompasiana aja kagak ada yang baca. Alesan utama buat join di situs ini adalah ia memberikan kesempatan buat tulisan-tulisan gue agar semakin tersebar di dunia maya dengan spektrum topik yang beragam. Semacam menambah portofolio. Mana tahu ada penerbit yang amnesia lalu secara tak sadar menerbitkan tulisan gue dan menjadikannya buku kemudian menarik buku tersebut dari peredaran setelah ingatannya pulih.

Demikianlah tulisan tidak penting gue kali ini.

*Ditulis dengan setengah sadar diakibatkan sepinya kantor*

6 Website Dengan Konten Bergizi

November 29, 2013 § Tinggalkan komentar

What’s happening on earth lately? Masihkah dokter-dokter melancarkan aksi mogok kerja selama sehari? Semoga tidak. Karena keberadaan mereka adalah secercah harapan bagi para pasien yang tergolek lemas di bangsal rumah sakit. Apakah aksi sadap-menyadap yang melibatkan Australia sudah usai? Apa kesimpulannya? Sebagai negara, Indonesia telah kehilangan supremasi? Mungkin iya. Kita bukan China, yang berani memboikot produk buatan Prancis saat pembawa obor Olimpiade mereka “dihadang” ketika hendak memasuki negerinya Zidane tersebut.

Forget those serious matter for a while. Gue  ingin berbagi informasi yang, menurut gue, penting terkait dengan aktifitas di dunia per-internet-an. Internet itu bukan cuma Googlenya Larry Page atau Facebooknya Marck Zuckerberg. Ia jauh lebih luas daripada dua website favorit tersebut. Ia memuat semua hal yang ingin kita ketahui.

Acapkali, saat membuka web-web dengan konten pengetahuan, kita dibuat terkagum kagum dan takjub terhadap luar biasanya perkembangan ilmu pengetahuan saat ini. Era informasi yang memungkinkan kita membuka cakrawala dunia hanya dengan mengetikkan hal-hal yang ingin kita ketahui di web browser dan alakazam, it will direct you in a blink.

Gue pribadi memiliki beberapa situs favorit yang sangat bermanfaat menambah wawasan dan hal-hal baru yang ingin kita ketahui. Web yang akan gue share ini semuanya berasal dari luar negeri. Pada lain kesempatan gue akan coba berbagi web lokal yang layak untuk dikunjungi.

Berikut adalah 6 website favorit gue yang penuh dengan hidangan pengetahuan sesuai segmennya masing-masing. Gue ingin berbagi informasi biar kalian juga punya referensi kalo kalo bosen twiteran, cape ngeliat meme path, atau mentok kehabisan pose buat instagram.

 1. TED

Gue menempatkan website ini pada posisi pertama. Tentu bukan berisi cerita stensilan ala boneka beruang “TED” yang populer itu. TED adalah website yang berisi video-video tentang berbagai macam ide yang disampaikan oleh para ahli di bidangnya masing-masing. Psikologi, kesehatan, pendidikan, keuangan dan banyak hal lainnya terangkum dalam setiap cuplikan video yang berdurasi 5-20 menit. tedTED sendiri memilik tagline “World Spreading Ideas”. Beberapa ide tentang hal-hal yang viral di dunia juga banyak diulas dalam kumpulan videonya. Pembicaranya pun bukan orang biasa, mulai dari David Blaine, Anthony Robbins, Malcolm Gladwell hingga Bill Gates. Setelah menonton video-video yang ada di laman TED, lo akan mendapatkan pengetahuan yang luar biasa bermanfaat.

Komunitas TED juga tersebar tidak hanya di Amerika, mereka sudah menjamah banyak negara termasuk Indonesia. Denny Darko pernah menjadi salah satu pembicaranya.

 2. Visual infographic

how-much-does-it-cost-to-be-batman_51e5a08ea22f9_w1500

Pernah dengar Infographic (infografik)? Infographic adalah informasi atau berita yang termuat dalam bentuk grafik dan disajikan secara sederhana. Era pemberitaan dengan ulasan yang lengkap,paparan yang mendetail kini menghadapi tantangan dari informasi singkat namun dikemas dengan unik dan sangat informatif seperti tersaji dalam infografik.

Website ini menyajikan banyak informasi mulai dari yang penting hingga yang bersifat trivia. Dan tentunya, data yang disajikan pada grafik-grafik tersebut bukan sembarang, ia melewati kajian komprehensif sebelumnya. Seperti misalnya infografik dari batman di atas. Terkesan sepele dan lucu namun data di atas sungguh menyuguhkan informasi penting jika suatu waktu Bruce Wayne wafat  dan kalian ingin menjadi Batman Versi Baru. Ssst Indosiar sudah ada Batman versinya sendiri.

 3. Lifehack

Lo pasti sering mendapatkan tips-tips dari berbagai sumber di internet, bukan? Tips menghindar dari penagih hutang, tips tidur tanpa perlu bernapas dan lain-lain. Nah, di Lifehack kamu akan memperoleh berbagai tips yang bermanfaat dalam menjalani kehidupan di dunia yang fana ini. Ngomong apa sih gue.

Lifehack berisi tips tentang teknologi seperti “How to back-up android devices”, pengembangan diri “5 tips to stay positive in negative situations” dan banyak lagi. Berapa banyak? ratusan. Lebih!

Tapi di sini lo ga akan nemuin tips fillet ikan atau tips menghindari bau ketiak. Silahkan tanya Chef Juna.

Situs ini terkesan biasa namun ternyata ia memuat ratusan tips-tips yang dekat dengan kehidupan kita. Tidak hanya memberikan tips namun juga nasihat dan quote-quote agar kita tetap bersemangat. Seperti quote dari Malcolm-X di bawah ini.

quote-Malcolm-X-a-man-who-stands-for-nothing-will-25342

 4. Truth or fiction

Pernah dengar kisah bagaimana Universitas Stanford berdiri? Cerita yang banyak tersebar di forum internet yang kemudian didengungkan oleh para pembicara seminar sebagi sebuah refleksi ketulusan orangtua yang tidak dihargai oleh Harvard.

Awalnya, gue termasuk yang percaya dengan cerita melankolis tersebut. Kisah yang mengetuk empati. Tapi beberapa waktu yang lalu gue tercerahkan setelah salah seorang di forum mengatakan bahwa cerita tersebut adalah fiksi. Dia menyarankan kami untuk membuka web ini guna meluruskan latar belakang berdirinya Stanford.

Cerita menarik lain dari situs ini adalah kisah Kevin Carter, seorang  fotografer yang mendapatkan potret seorang anak kelaparan di daerah rawan konflik, Sudan. Foto yang mengantarkan Kevin mendapatkan hadiah putlizer dan yang juga membuat ia depresi hingga bunuh diri. Apakah kisah ini benar terjadi? ada baiknya kalian membuka situs truth or fiction untuk keabsahan berita.

Selain kisah di atas, kita juga akan disuguhkan berbagai hal yang mungkin masih simpang siur kevalidannya. Dengan demikian kita tidak lagi terjebak dalam berita yang abu-abu dan tidak terseret arus Utama.

5. Dan Ariely and Seth Godin

Dua nama ini mungkin masih asing di telinga kalian. Gue pun pertama kali mengenal mereka lewat video TED dari rekomendasi seorang marketer handal. Mereka sangat narsis hingga webnya pun dinamai dengan nama mereka sendiri. Itu namanya self branding, bro. Oh gitu ya? Iya. Ok.

Dan menyajikan risetnya tentang “apakah kita bertindak atas kemuan kita sendiri”. Ia adalah seorang psikolog dan ekonom. Memaparkan hasil penelitiannya lewat TED dan kemudian termuat dalam buku “Predictably Irrational”. Webnya berisi tentang informasi seputar ekonomi praktis dan psikologi yang menarik. Ia juga memberikan kesempatan tanya jawab.

Seth Godin, pria berkepala plontos ini merupakan salah seorang marketer brilian. Ide-idenya sungguh jauh di luar kotak. Ia memberikan pemahaman tentang kreatifitas dalam marketing seperti kisah “Purple Cow”. Lalu ia juga memberikan gambaran tentang perilaku konsumen yang sangat menentukan  dalam penjualan.

seth godin

Dan adalah psikolog dan ekonom tangguh sementara Seth seorang marketer handal. Kedua web ini sangat cocok buat kalian para entrepreneur.

Web lain untuk para entrepreneur dan marketer adalah Businessinsider, Entrepreneur, dan Hubspot

6. Quora

Quora, web satu ini sedang naik daun. Pucuk pucuk pucuk (ala ulet di iklan teh). Gue mendapati google merekomendasikan “Quora” sebagai aplikasi layak download pada suatu waktu. Quora sangat simple. Berisi tentang orang-orang yang melempar pertanyaan ke forum sesuai dengan kesukaan mereka. Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan dijawab oleh orang dari seluruh dunia yang menjadi member quora. Sebuah jejaring social yang efektif dan menambah wawasan kita untuk berinteraksi dan memahami seperti apa orang di belahan bumi lain memandang sesuatu.

Quora sangat cocok buat kalian yang kepo maksimal. Kalian bisa bertanya tentang apa saja, dengan sebebas-bebasnya dan dalam tempo waktu sesingkat-singkatnya.

Contoh pertanyaan yang ada di quora baru-baru ini adalah

“What features do you wish facebook had?”

“What are some funny Google search querries?”

Dan banyak lagi pertanyaan bermutu lainnya. Jadi kalau kamu kepengen banget bertanya tentang kegalauan yang bergemuruh di dada, silahkan buka thread di Quora and ask them as you want. Yah paling-paling di’kick’ sama adminnya!.

Kalo menurut kalian, website apa lagi yang memiliki konten ‘bergizi’?

Random Post

Juni 28, 2013 § 4 Komentar

randomSeminggu lebih hilang dari peredaran dunia maya. Gue jadi tidak seaktif biasanya. Di saat bersamaan, banyak projek yang terhambat gegara raibnya koneksi internet di kosan.

Gue udah hapal banget dengan pepatah “sesuatu itu akan lebih terasa manfaatnya, saat ia sudah tiada”. Iya gue tau, selama ada internet wifi yang kenceng dan dapat diakses dengan mudah, gue tidak memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Gue ga bisa mengeksplorasi internet secara baik dan benar. Gue tidak bisa menjadikan internet sebagai ruang untuk meningkatkan kapasitas diri. Gue ga bisa ngejalanin hidup tanpa loe, net :(.

And now???

Di saat fasilitas wifi sudah tiada, karena sitra lagi maintenance yang konon memakan waktu sampe 4 bulan (itu maintenance apa masa iddah?), gue malah dikejar-kejar oleh berbagai kebutuhan untuk memanfaatkan internet.

Ada sih koneksi internet di hape. Tapi ya itu, gue ga bisa menggunakan dengan luwes. Paling gue gunain buat browsing, atau nyampah. Ga bisa lagi tuh streaming TED, youtub-ing, download dengan berleha-leha. Arggh,,, I need my wifi back.

Selain itu agenda marketisasi tokkipokki via twitter juga agak tersendat. Dan gue yakin bisa mempengaruhi penjualan. Karena biasanya gue suka menyapa customer lewat twitter atau memberikan quote dan hal-hal yang update. Tetapi ketiadaan internet di kosan membuat semuanya terhambat. Bahkan aku pun telat datang bulan :(.

Duh banyak banget yang pengen gue ceritain selama satu-dua minggu terakhir ini. Gue harusnya tumpah-ruahkan semua di dalam tulisan. Tapi apa daya, kesempatan ngenet gue cuma di kantor. And what did screw me up? Dalam beberapa waktu terakhir, gue disibuk dengan kerjaan-kerjaan yang bikin gue stop breathing. Kerjaan yang biasanya sangat langka ditemui di kantor. Bener kata raihan “gunakan masa lapangmu sebelum datang masa sempitmu”.

Untungnya modem gue yang sudah obsolete, sisa perjuangan zaman majapahit, masih ada. Repotnya pake modem, udah mah mahal, kudu nyolok-nyolok, rempong dah. Tapi lumayan daripada ga ada sama sekali. “Kan tidak ada dian sastro, asmirandah pun jadi”.

Gue paksain buat ngegunain modem ini. Why oh kenapa?

Karena gue lagi dikejer deadline buat sebuah projek yang nentuin masa depan dan kehidupan gue *sound effect*. Iye, gue kudu nyelesein projek IT bareng rombongan LFC. Kalo ga sekarang, kapan lagi. Sementara deadline nyawa di tempat kerja udah tinggal sedikit. Gue belom beli chakra lagi. Sudah abis ngelawan madara. Dengan sedikit terpaksa, gue gunain modem ini untuk digunain dengan sebaik-baiknya. Karena sebaik-baik modem adalah yang paling bermanfaat buat tuannya.. *maaf malem ini, saat gue nulis ini, otak gue lagi korslet*.

Gue nulisnya campur aduk ye. Yang penting ada postingan di bulan Juni ini.

Beberapa waktu yang lalu, saat gue jalan-jalan ke Gramedia. Gue ngeliat ke salah satu meja yang meletakkan buku baru. Covernya orange-biru. Gue seolah familiar dengan buku itu. Seperti pernah liat di suatu tempat. Benar saja, itu buku yang dititipkan oleh Tong Sam Cong kepadaku. Itu kitab suci dari barat :(. Kagak woi, becanda doang!!

Buku itu diberi judul “Irrational Customer”. Wow, seems interesting. Pas gue liat nama penulisnya, “Dan Ariely”. Oh, jackpot. He is one of my favourite speaker in TED. Dan Ariely ini seorang pengamat ekonomi dan juga psikolog. Videonya di TED adalah salah satu video yang paling gue suka. Doi menggambarkan bahwa setelah beberapa tahun (katakanlah dua tahun), seseorang yang sebelumnya menang lotere sebesar satu juta dolar dan seseorang pada tahun yang sama mengalami amputasi kaki, memiliki tingkat kebahagiaan yang serupa. Bung Dan ini juga memberikan gmbaran negara yang paling berbahagia di dunia. Dan menempatkan Indonesia menjadi salah satu negara tersebut.

Langsung gue beli buku itu. Karena memang pada videonya, dia menceritakan sekilas tentang isi buku tersebut. Stelah gue baca, bagian pertama buku ini saja sudah sangat menggiurkan. Dikemas dengan bahasa yang menarik dan ringan, hasil penelitian tentang bagaimana orang secara tidak rasional memberikan keputusan terrhadap suatu peristiwia, dapat tersampaikan dengan lancar. Got the point.

Bagian-bagian selanjutnya dari buku tersebut, memberikan paparan penelitian yang tidak kalah seru. Bagaimana efek “gratis” dapat membuat konsumen gelap mata, bagaimana persepsi mempengaruhi rasa dan banyak hal lainnya. Buku ini sangat menarik untuk dibaca setiap orang terlebih bagi para marketing strategic.

Hal terakhir yang ingin gue bahas adalah tentang perasaan #tsaahh. Sebenernya gue males ngebahas poin terakhir ini. Intinya gue sempet dibuat sedikit galau oleh seseorang yang gue temui di candi borobudur. Bukan stupa atau arca, plis gue jomblo tapi ga gila :D. Seseorang yang pada awalnya gue anggap sebagai jawaban dari doa yang selalu terpanjat. Tapi pada kenyataannya, semua belum berjalan dengan baik. Perlu gue garis bawahi “belum” bukan berarti “tidak”. Karena lo tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan sampe lo mengalami sendiri kejadian tersebut.

Tapi gue ga akan berlarut, karena waktu adalah obat terbaik dalam hidup.

Sorry kalo gue curcol, berceracau ria. Nulis ini kagak pake kerangka. Ngalir aja dari otak gue. Itung-itung uji kemampuan modem jadul gue ini dengan paket “hot offering” nya telkomsel. 60 ribu dapet 3 GB.

Semoga gue bisa manfaatin modem ini dengan sebaik-baiknya, sejujur-jujurnya dan seadil-adilnya. “Ngana pikir ini pilkada”.

Yasudah begitu saja,.

Wassalam

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with Dan Ariely at I Think, I Read, I Write.

%d blogger menyukai ini: