Mengapa Blog Menjadi Tempat Curhat yang Lebih Baik

Februari 2, 2014 § 13 Komentar

Joni ga sayang aku lagi. Dia udah ga mau diajakin jalan bareng. Kemarin, waktu dia jalan sama emaknya ke pasar naek sepeda, aku ga dibolehin bonceng tiga. Kalo begini aku lebih baik ngelupain dia. Udah ga ada lagi orang yang sayang sama aku. Lebih baik mati saja *pasang foto tangan yang disilet* pake hestek #luka #korbancinta #merahmerona #gudbye (Posted on Wed, 08:00 AM) 

Masih ada aja makhluk norak bernama manusia yang lalu lalang memajang status curhat. Padahal udah sering gue ingetin bahwa ga ada orang yang akan peduli. Emaknya aja belum tentu ngeh. Orang-orang sadar bahwa mereka yang curhat dan galau putus cinta hingga harus update status di jejaring sosial sebelum bunuh diri tidak pernah benar-benar serius untuk menemui Sang Pencipta lebih cepat. Alih-alih mendapatkan dukungan moral, banyak orang yang mendukung bunuh diri tersebut benar-benar dilakukan, tidak sebatas wacana di status sahaja.

status alay

For God Sake, Gue bisa dengan mudahnya mencari status curhat di media sosial yang bergentayangan di mesin pencari. Dan yang biasanya curhat di facebook punya username yang umm.. *speechless*.

Jejaring sosial mainstream masih mendapatkan porsi perhatian yang besar dari curhat-ers. Posting kegalauan di facebook sudah mirip minum obat, 3x shari, 1×24 jam tamu wajib lapor. Namun kini seiring dengan majunya rhoma irama sebagai capres, status-status curhat di facebook semakin berkurang dan berpindah menjadi twit galau yang menjamah dunia twitter bikinan Jack Dorsey.

Sepertinya ada korelasi yang kuat antara media sosial dengan curhat. Ikatan yang terjalin ini bahkan lebih kuat dari hubungan gelap Tuan Krab yang entah bagaimana bisa melahirkan anak seekor paus.

Bersyukurnya Twitter dibatasi dengan 140 karakter (ada rimanya –ter). Dengan demikian para curhat-ers tidak bisa menceritakan kegalauan mereka dengan semena-mena. Tapi tetap saja. Limitation drives your creativity. Mereka bisa membuat twit bersambung dengan hestek tertentu, curhatnya dikasih nomor sampe sekian ratus yang berisi kisah cinta remaja. In the name of God, Please annihilate them.

Path jauh lebih strict terhadap status-status labil. Kecenderungan user path memanfaatkan media ini untuk posting meme dan update buku, film atau musik yang sedang dinikmati. Sangat jarang ditemui user yang membuat status galau. Kalaupun ada, makhluk tersebut pasti sudah galau akut dan kronis. Mereka perlu diruqyah!

Gue khawatir, kerjasama Dave Morin (yang punya path) dengan Bakrie group justru akan membuat mandul path dalam mengatasi curhat jamaah. ARB jangan sampe memanfaatkan path untuk curhat tentang kondisi perpolitikan dan kansnya jadi presiden (Lah siapa gue). Meme-Path-Bakrie-3

Jauh sebelum jejaring sosial menjamur sebagai tempat berbagi semua keluh kesah dan cerita, orang-orang terdahulu lebih banyak bersikap introvert untuk hal-hal yang sifatnya pribadi. Generasi 80 dan 90 an cenderung memanfaatkan diary untuk bercerita, terutama buat cewe. Diary sifatnya sangat pribadi dan disimpan di tempat yang lebih rahasia daripada lokasi Davy Jones menyimpan harta karunnya.

Berkembangnya internet mengubah perilaku sosial dan budaya masyarakat. Orang-orang lebih terbuka dalam menuangkan ide dan perasaan. Pada tahun 1997, Jorn Barger mengenalkan istilah Web log yang kemudian dengan setengah bercanda, Peter Merholz menyingkatnya menjadi “We blog”. Akhirnya Evan Williams dan Pyra labs menggunakan istilah “blog” sebagai kata benda maupun kata kerja untuk aktifitas bloging yang dikenal hingga saat ini (Wikipedia).

Nah kebiasaan menulis hal-hal penting, krusial, sampe yang paling bizarre pun kemudian berpindah dari pulpen ke tuts keyboard, yang awalnya tertulis di kertas kini tercetak di monitor PC/laptop. Namun esensinya tetap sama, bercerita suka-suka.

WRITEBlog bukan didesain untuk para penulis profesional semata, karena pada dasarnya mereka yang bisa membaca pasti bisa menulis. Penulis terkesan seseorang yang mendedikasikan hidupnya untuk membuat tulisan-tulisan megah, dengan gaya bahasa digdaya. Padahal ga. Lo yang demen curhat di status juga bisa menjadi penulis. Lo tinggal copy-paste aja status alay lo itu ke blog dan tara.. lo seketika menjadi bloger. That simple!

Jangan bayangin ngeblog itu adalah selalu bicara tentang penulis hebat. Ga usah ngarep juga setiap kali posting tulisan, ada penerbit yang ngeliat tulisan lo lalu postingan curhat lo yang miris, lebih sedih daripada kisah cinta Asmirandah-Jonas Rivano, dijadiin buku yang lepas beberapa bulan kemudian dibuat filmnya. Lalu buku lo terbit sekuelnya, filmnya dibuat lagi, lalu dibuat sinetronnya sampe 700 episode dan lo tiba-tiba jadi milyuner menyaingi J.K Rowling atau Stephen King hanya dengan menceritakan cerita cinta lo yang kandas.

Ada beberapa alasan yang menjadikan blog sebagai tempat yang lebih layak, lebih pantas untuk menceritakan semua kisah dan cerita yang kita alami sehari-hari.

1. Lebih Menjaga Privasi

Alasan pertama adalah blog sifatnya jauh lebih privasi daripada facebook dkk. Maksud gue, setiap tulisan berisi curhatan lo tidak dengan mudahnya dapat dibaca oleh pengguna internet yang lain. Jumlah bloger yang tidak semasif penggunaan media sosial mainstream juga turut serta dalam menjaga privasi muatan yang ditulis di blog pribadi. 

Meskipun blog tidak se-strict diary dalam menjaga kerahasiaan tulisan, karena pada dasarnya blog adalah tempat berbagi, namun tetap saja curhatan di blog tidak leluasa diakses. Untuk setiap blog yang terintegrasi dengan twitter, linkedin, G+ dll mengharuskan orang-orang membuka link yang tertaut di akun jejaring sosial kita. Kondisi ini sedikit banyak membuat orang tidak serta merta membaca curahan hati yang menohok yang termuat dalam blog. Tidak seperti facebook yang semua orang bisa dengan mudahnya membaca status yang kita buat.

“Apa ruginya jika orang lain membaca status curhatan kita”?

Ga ada sih. Paling lo dianggap makhluk paling merana dan masuk dalam list 7 makhluk paling menyedihkan di dunia versi on the spot.

2. Lebih Berkelas 

Saat curhat di facebook dan twitter lekat dengan kesan remaja alay dan labil maka curhat di blog terkesan lebih berkelas. Setiap orang yang menuliskan curhatan di blog dituntut untuk meninggalkan jejak tulisan yang baik. Tidak seperti curhat di facebook atau twitter yang cenderung seenaknya saja tanpa dipikir panjang terlebih dahulu.

Mereka yang memuat jeritan hati lewat blog mampu menggubah puisi paling indah, menyisakan prosa paling bijaksana dan merangkai kata penuh romansa. Bukan curhat tidak jelas yang dipenuhi dengan makian dan sumpah serapah nista.

Curhatlah di blog, siapa tau kalian akan menjadi the next Raditya Dika atau paling tidak kalian mengurangi populasi orang bodoh yang curhat ga jelas di facebook, twitter, path dan teman-temannya.

3. Latihan Menulis 

Bagi orang yang patah hati, banyak masalah, menulis menjadi salah satu wadah paling efektif untuk menuangkan segala permasalahan tersebut. Saat lisan tak mau berkata, saat itulah tangan dan kepala bersinergi untuk menghasilkan tulisan yang menyejarah.

Kang Abik menulis Ayat-ayat cinta saat beliau tengah dirawat akibat patah kaki. Kisah dalam novel Tere-Liye gue rasa juga adalah buah dari pengalaman yang kemudian diubah menjadi pelajaran bagi orang yang berpikir.

Tuh, terbukti jika kita mau menuliskan apa yang ada di benak kita, bukan tidak mungkin ia berubah menjadi sebuah karya.

“Ah tapi gue kan bukan penulis, ga ngerti harus mulai dari mana”.

Matt Cutts dalam salah satu video TED mengatakan bahwa kita bisa menjadi apa saja dengan melakukan hal rutin dalam 30 hari. Lakukan selama 30 hari penuh dan lihat bagaimana hasilnya.

4. Tidak Terbatas Karakter 

Salah empat kelebihan dari Curhat di blog adalah tidak terbatas oleh karakter. Memang Facebook juga tidak dibatasi karakter namun gue jamin friendlist lo bakal berkurang drastis seandainya lo curhat di status facebook sampe dua halaman penuh. Ngeliat status curhat yang sedikit aja sudah bikin eneg, apalagi yang panjang.

“Itulah bedanya curhat di facebook dan blog. Kalo facebook curhatnya pendek, kalo blog curhatnya bisa panjang. Ga usah ada dikotomi”.

Ya silahkan aja kalo lo masih bersikukuh curhat di facebook. Tapi jangan salahkan gue kalo Detasemen Salep 88 nyergap kosan lo karena lo dianggap sebagai teroris yang berusaha melakukan makar atas pemerintahan yang resmi. *abaikan*.

5. Lebih Ekspresif 

Dengan curhat di blog, kalian bisa lebih ekspresif daripada sekedar menuangkan kata-kata di dinding facebook atau timeline twitter. Blog menyediakan ruang improvisasi untuk melengkapi tulisan dengan gambar, video, suara sekaligus dalam satu bentuk tulisan. Keunggulan yang tidak dipunyai oleh yang lain. Curhat kalian bisa lebih maksimal.

Banyak bloger berhasil menerbitkan buku gegara curhatan mereka yang mengalami berbagai benturan kondisi. Alit berhasil mengarang buku skripshit akibat mentok dengan tugas akhir yang tak kunjung kelar. Derma mampu dengan cerdas menyusun kenangan semasa kuliahnya dalam buku Derita Mahasiswa dan banyak lagi penulis yang berangkat dari blog.

Nah sekarang kalian tahu kan bagaimana mengekspresikan diri. Ada wadah bernama blog yang memberikan ruang untuk kita bercerita sepuasnya. Jadi jika kalian mempunyai dorongan sangat besar untuk update status tidak penting dan bermuatan curhat, tahan!. Alihkan status-status kalian tersebut ke dalam tulisan yang kemudian di share melalui blog.

Cukuplah media sosial berisi iklan-iklan online dan undangan bergabung di games facebook. Jangan menambah kalut keadaan dengan status yang absurd.

Namun sebaik baik curhat adalah curhat ke orang-orang terdekat yang bisa memberikan solusi atau bahkan sekedar mendengarkan curahan hati kita. Lebih baik lagi adalah cerita semua masalah kepada Sang Khalik karena Ia lah yang berkuasa atas segala sesuatunya *benerin jilbab*.

*Sumber Gambar

Gambar 1 diambil dari sini
Gambar 3 dari sini asalnya
Gambar 2 dari sini

keep reading and U’ll keep writing

April 10, 2010 § 8 Komentar

Ada korelasi yang erat antara tulisan yang dihasilkan di blog dengan kuantitas dan kualitas bacaan sehari-hari.Semakin sedikit kita membaca maka semakin minim karya yang ada. Ide-ide segar dalam menulis tidak jarang merupakan inspirasi dari berbagai referensi bacaan. Pun seandainya berbagai tulisan hadir di blog maka bukanlah buah pikiran yang cemerlang. kalo ga hasil copy-paste yah tulisan seadanya.

Seolah mengejar setoran untuk terus mengupdate blog, tidak jarang bloger memposting tulisan yang entah darimana sumbernya. Lebih parah lagi para bloger yang mencari pengunjung dengan tulisan dengan muatan-muatan pornografi. Tidak bisa disalahkan memang bloger seperti ini karena pada kenyataannya blog dengan konten seks memang banyak dikunjungi bloger lain yang mungkin “penasaran” di awal lalu “ketagihan” di akhir.

Semakin banyak buku yang dibaca maka semakin kaya otak kita dengan ilmu yang mampu dibagi untuk orang lain. Jadi hemat saya, setiap orang yang suka membaca pasti mampu untuk menulis.Tinggal bagaimana orang tersebut mampu memvisualisasikan, mampu menterjemahkan, mampu mengkonversi hasil bacaannya tersebut menjadi sebuah tulisan dibumbui dengan kekhasan pribadi. Tidak ada alasan bagi mereka yang suka membaca tidak mampu menghasilkan sebuah tulisan.

Orang-orang hebat pasti mempunyai perpustakaan pribadi. Dengan berbagai koleksi yang dapat disitasi, buku tersebut tidak lagi menjadi konsumsi pribadi namun berhasil diceritakan dengan kemasan baru yang fresh from mind. Membaca terlebih dahulu baru kita bisa menulis.

mari kita budayakan membaca dan menulis. karena salah satu indikator intelektualitas seseorang adalah kualitas bacaan dan kualitas tulisannya.

SO, keep reading and you’ll keep writing.

Blog itu…

Januari 17, 2010 § 10 Komentar

Sejak bulan September aku memiliki hobi baru yakni blogging. Sebenernya udah lama pengen tapi karena ga punya banyak waktu jadinya keinginan ini ditunda. Sekarang blogku udah running sekitar lima bulan. Selama itu juga aku telah menghasilkan tiga puluh lebih tulisan yang notabene adalah tulisanku pribadi dan beberapa hasil ”copas” dari sumber lain. Hobi baru ini cukup menyedot perhatianku dan memberikan sebuah fokus tersendiri terhadapnya.

Suatu malam seorang teman memberikan komentar tentang blogku. Ia berujar “blog kamu terlalu berat (dalam asumsiku penggunaan bahasa yang aku tulis terlalu rumit dan meninggi), jadinya gw males ngasih komen”. Oh begitu! … Aku menyikapi komentarnya.

Setelah kubuka ulang dan membaca tulisan yang ada di blog, aku menyadari bahwa beberapa tulisan yang aku buat terutama karya-karya terakhir terlalu berparas “mellow” dan menggunakan bahasa yang memang aku sendiri menyadari bahwa bahasanya agak tidak biasa. Temanku lalu menyarankan untuk membuka sebuah blog dengan inisial nama rindu yang konon menggunakan bahasa yang juga cukup rumit namun enak dibaca. Sontak saja aku berkonklusi bahwa tulisanku rumit tapi tidak enak dibaca, (rese niy temenku J).

Aku coba buka blog dengan inisial rindu tersebut dan menemukan tulisan-tulisan dengan segala macam cerita yang notabene dapat aku simpulkan bernada kisah pribadi yang bisa digali hikmahnya secara mendalam dari buah pikiran yang tertuang dalam tulisan tersebut. Entah mengapa, sense membacaku tidak menemukan sesuatu yang sangat special dari tulisan-tulisan rindu.  Namun mungkin karena tulisan itu bersumber dari kisah nyata dan benar-benar terjadi, penulisnya mampu memberikan sentuhan emosi dalam setiap kata yang tercipta.

Seusai fragmen kisah tentang komentar pada blogku, aku berpikir sejenak mencoba mengkritisi dan mengevaluasi secara pribadi blog yang ada. “ikatlah ilmu dengan menulisnya”  aku memberikan judul untuk blogku dengan harapan bahwa apa yang tertulis menjadi sebuah ilmu yang dapat bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Aku menyadari bahwa blogku belum memiliki blog stats sebanyak teman lainnya. Bahkan komentar yang terpampang dan menghiasi tulisanku berasal dari orang yang sama. berbagai variabel yang ada memaksaku untuk  mencoba mengubah gaya menulis dengan memberikan sentuhan  yang agak ringan dan dengan bahasa yang sederhana. Aku berpikr keras, menggali ide-ide yang akan kukembangkan dalam tulisan tapi hasilnya nihil, nol besar.

Lalu aku bertanya kembali hakikat sebuah blog. Benarkah blog yang kita buat dan kita hiasi dengan tulisan-tulisan kita hanya mencari sebanyak-banyaknya pengunjung hingga blog statsnya semakin banyak? Pertanyaanku berikutnya adalah haruskah aku mengubah cara ataupun gaya menulisku agar orang lain mau mengunjungi blogku dan memberikan komentarnya? Ternyata bagiku jawabannya adalah tidak. Untuk apa menjadi orang lain jika kita bisa menjadi teladan. Untuk apa mengubah karakter kita seandainya kita mampu berbuat yang sama dan mungkin bahkan lebih baik.

Menulis adalah aktualisasi diri, setidaknya itu buatku. Mencerahkan hari dari penatnya dunia yang semakin keruh. Menggali dan mencari karya tersembunyi dari balik bilik-bilik otak kita. Mengisi waktu kosong yang terbuang percuma tanpa makna. Banyaknya komentar pada blog, ataupun kunjungan ke blog kita hanyalah sebuah konsekuensi. Sebuah efek dari kemampuan penulis menghipnotis para pembacanya. Tap bukan itu substansinya, bukan itu hakikatnya.

Blog akan menjadi sangat berguna jika memuat tulisan yang bermanfaat. Menambah khazanah pengetahuan bagi para pembacanya. Blog akan kehilangan nilainya ketika bloger lain hanya memberikan sebuah respon singkat pada blog yang dituju dengan alesan menambah tautan teman saja. Sangat disayangkan sekali jika blog kehilangan jatidirinya. Karena blog menjadi sebuah wadah, sebuah sarana bagi rakyat Indonesia dalam upaya peningkatan kemauan membaca bangsa kita. Minat membaca rakyat Indonesia sangat minim, oleh karena itu jika blog dapat difungsikan dengan baik bukan tidak mungkin blog menjadi mitra pas bagi masyarakat untuk memperkaya instrument pencerdasan bangsa.

Pada akhirnya aku membuat sebuah kesimpulan bahwa setiap orang, setiap bloger memiliki karakternya masing-masing dalam menulis. Tidak perlu mengubah gaya menulis karena yakinlah bahwasanya dunia tidak sesempit yang dibayangkan. Selalu ada tesis dan antithesis dalam semua agenda. Daripada aku menurunkan kualitas tulisan lebih baik aku meninggikan kualitas para pembaca yang singgah di blogku.

just be MySeLf

::Ternyata kritikan dapat menjadi pelecut semangat yang luar biasa. Untuk membuktikan bahwa kita tidaklah serendah apa yang dicitra::

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with blog at I Think, I Read, I Write.

%d blogger menyukai ini: