Kekhusyukan yang Tercecer

Maret 24, 2017 § Tinggalkan komentar

Sumber: Kingofwallpaper

Seperti ditulis oleh Ustad Salim A Fillah bahwasanya ada tiga revolusi dalam penyebaran pengetahuan. Kertas oleh Ts’ai Lun, mesin cetak oleh Gutenberg, dan Google oleh Larry Page-Sergey Brin. Dua nama awal menempati peringkat tujuh dan delapan secara berturutan sebagai manusia paling berpengaruh di dunia oleh Michael H. Hart. Hanya saja buku ini terbit pertama kali tahun 1978, jauh lebih tua ketimbang usia Google, sehingga Page-Brin tidak masuk dalam daftar isi bukunya. Gue yakin sosok Page-Brin yang ‘menemukan’ Google menjadi bagian tak terlepas dalam sejarah manusia paling berpengaruh.

Google, disusul oleh Facebook dkk, menandai era digital dengan kemajuan teknologi yang tak terbendung. Kemajuan tersebut dicirikan dengan arus informasi yang begitu masif dan super kilat. Kini industri teknologi semakin seksi. Selain menjadikan kisah manis Jobs, Bill Gates, Larry Elison hingga Elon Musk sebagai panutan, industri teknologi dirasa paling menjanjikan secara kapital. Daftar rilis Forbes tahun 2017 menunjukkan bahwa  10 orang terkaya di dunia masih didominasi para midas teknologi. Yang mengejutkan adalah sosok Marck Zuckerberg masuk dalam daftar tersebut menempati posisi 5 dengan kekayaan 56 miliar dolar dalam usia yang masih sangat muda.

Dan kini terjadi migrasi besar-besaran dari cara manusia berinteraksi akibat candu teknologi. Uber menggantikan taksi konvensional, belanja daring semakin menjamur, sapa dan senda gurau pun terasa begitu syahdu melalui layanan chat daring. Namun rasanya ada yang kurang dari semua interaksi yang melibatkan dunia maya.

Di balik semua kemegahan serta kemewahan yang ditawarkan oleh dunia maya dengan segala turunannya, menurut hemat gue, dewasa ini penggiat interaksi daring mengalami hilangnya kekhusyuan pada hal-hal yang mereka jalani. Dan kondisi ini cukup mengkhawatirkan.

Betapa seringnya kita mengingat ulang tahun sahabat, saudara, kolega dan orang-orang dekat dalam hidup kita. Tapi nampaknya kita lebih senang mengingat ultah mereka dengan cara latah. Ucapan-ucapan klise berseliweran di grup whatsapp. Cukup satu yang inget, yang lain hanya membebek ucapan serupa dengan sedikit modifikasi. Bahkan dalam banyak kasus ucapan tersebut di-copas persis dengan ucapan aslinya. Kita mengucapkan selamat ulang tahun sekedar menggugurkan kewajiban. Tidak ada kekhusyukan dalam ucapan yang kita sampaikan. Kita, bisa jadi, tidak mendoakan sebenar-benarnya.

Hai Alex, Happy Birthday ya. Semoga panjang umur dan sehat selalu

Selang beberapa saat

Hai Alex, Happy Birthday ya. Semoga panjang umur dan sehat selalu 🙂

Hai Alex, Happy Birthday ya. Semoga panjang umur dan sehat selalu

Hai Alex, Happy Birthday ya. Semoga panjang umur dan sehat selalu 🙂 😀

Hai Alex, Happy Birthday ya. Semoga panjang umur dan sehat selalu =)

Begitu seterusnya…

Atau kita sering kehilangan momen berharga bersama keluarga. Kita sibuk foto sana sini, swafoto gitu gini. Yang kemudian tidak wakof.  Swafoto itu kemudian disunting sedemikian rupa sehinga menghasilkan foto yang paling cantik mandraguna dan siap untuk diunggah ke sosial media. Derita kembali berlanjut saat harus membuat caption foto tersebut. Apakah harus dengan kata-kata mutiara yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan foto yang diunggah atau kata-kata bahasa inggris yang ditranslasi menggunakan google dengan tata bahasa ngalor ngidul. Lalu jika kita sudah dialihkan oleh ribetnya dunia maya, seberapa khusyu kita mampu menghayati momen bersama keluarga?.

Doa di atas meja makan kita ganti dengan foto yang berseliweran, disebarkan pada jejaring sosial. Dunia nampak perlu tahu apa yang kita kenakan. Kita lupa pakaian yang sejatinya berfungsi untuk menutup aurat dan menjaga kehormatan. Kita lupa makanan di hadapan untuk disyukuri bukan dipamerkan.

Gue juga sering bingung saat mendapati rekanan yang mengunggah foto atau kegiatan dalam atmosfer berduka. Misalnya sang anak tengah sakit atau kehilangan sesuatu. Respon seperti apa yang selayaknya gue berikan pada mereka yang tengah dirundung sedih seperti demikian. Apa gue harus me-like unggahan tersebut? Apakah hal demikian etis mengingat ‘like’ berkorelasi positif dengan kebahagiaan, rasa suka bukan pada kesedihan. Lalu jika duka seharusnya menjadi ajang kontemplasi maka apatah maknanya membagikan informasi tersebut ke khalayak ramai jika tujuannya hanya untuk merepot-repotkan diri memutakhirkan status di jejaring sosial yang kita punya.

Gue mengalami kegagapan serupa manakala banyak sebaran tentang donasi. Terkadang bukan tidak punya uang. Atau tidak punya waktu. Hanya saja gue sering melakukan pembenaran dan mengasumsikan bahwa membagikan kembali sebaran tersebut sudah cukup. Atau tindakan paling maksimal adalah menekan tombol ‘like’. Titik. Padahal sebelum teknologi sepesat ini, orang bisa tergerak hatinya dengan mudah untuk berdonasi sambil mendoakan dengan kesungguhan hati. Kini, ikut ‘mendoakan’ pun hanya sekedar caption yang ditambahkan di tautan yang turut serta kita bagikan agar lebih mendayu dan mengalami dramatisasi. Kekhusyuan-kekhusyuan aktifitas kita mulai memudar.

Ya patut diakui bahwa aspek positif keberadaan media sosial tidak kalah banyaknya. Hanya saja tulisan ini ingin menggugah kembali kekhusyukan kita dalam beraktifitas agar ia kembali bernyawa. Dalam sholat, kekhusyukan bukan faktor syarat sah. Orang yang solat, meskipun tidak khusyuk, sudah menggugurkan kewajibannya. Hanya saja sholat yang tidak disertai dengan kekhusyukan kehilangan mesranya berinteraksi dengan Tuhan. Ibadah tersebut kehilangan ruh yang menjadi inti dari ibadah. Dengan analogi sejenis, interaksi kita dengan sesama manusia tanpa diiringi kekhusyukan juga akan berakhir serupa.

Jadi, sudah saatnya kita memungut dan merangkai kembali kekhusyukan yang selama ini tercecer. Kita selayaknya kembali menghayati momen hari lahir kolega. Memaknai dengan iba semua berita duka. Menaruh perhatian pada makanan, pakaian dengan cara-cara beradab. Dengan demikian semoga hidup kita kembali bermakna.

 

Disclaimer : Tulisan ini dibuat sebagai pengingat untuk diri sendiri

Origin stories

Mei 5, 2014 § Tinggalkan komentar

The Grateful Dead had their breakthrough at Ken Kesey’s acid test parties.

Superman was raised by George and Martha Kent.

Hewlett Packard started in a garage.

We hear origin stories all the time. They’re magnetic enough that we write books and make movies about them.

Here’s the thing: The only thing they have in common is that they are all different.

You can’t reverse engineer success by researching origin stories. You can’t follow the same path as those you admire and expect you’ll end up in the same place.

Everything worthwhile has an origin, but those origins aren’t the reason that they are worthwhile. (Seth Godin, Origin Stories)

****

Sepakat. Gue sangat sepakat dengan tulisan singkat di atas. Seolah mengerti dengan apa yang selama ini menggema di otak gue, Seth Godin meresonansikannya menjadi sebuah tulisan yang padat dan berisi.

Sejak beberapa waktu yang lalu, gue selalu memikirkan hal yang sama tentang sebuah kesuksesan. Apakah kesuksesan seseorang bisa terulang pada orang lain? Apakah sukses itu berupa rima yang berpola? Selama ini para pakar terlalu sibuk mengumpulkan kisah orang-orang yang mengubah wajah dunia untuk diformulasikan menjadi pattern atau pola-pola yang diharapkan mampu memberikan motivasi dan sugesti bagi orang lain guna mengikuti kesuksesan yang sama.

Tercerita Steve Jobs, Bill Gates, Zuckerberg adalah para midas teknologi yang berhasil membangun kerajaan bisnisnya setelah ‘resign’ dari bangku kuliah. Gates dan Jobs malah menjadikan garasi sebagai cikal bakal Apple dan Microsoft. Terinspirasi, banyak yang kemudian percaya bahwa untuk meraih kejayaan serupa maka lulus kuliah dengan IPK 3,5 adalah sebuah ‘aib’ dan menutup celah untuk mengikuti langkah para jenius Sillicon Valley.

Kemudian orang-orang berbondong-bondong menjadikan pola hidup orang-orang panutan sebagai acuan guna meraih kesuksesan. Iya, gue percaya bahwa sejarah itu berulang. Tapi repetisi itu sifatnya acak dan tidak bisa diprediksi.

Menurut gue, tidak ada pola spesifik yang bisa mendefinisikan kesuksesan, kebahagian, kepedihan yang dialami oleh manusia di alam semesta. Pola yang ada hanya memberikan guratan kecendrungan yang bisa jadi berulang bisa jadi juga sangat berbeda. Semua peristiwa yang terjadi adalah kumpulan fragmen yang sifatnya tidak bisa diprediksi. Jadi tidak mesti duduk di bawah pohon apel untuk bisa menemukan filosofi gravitasi atau sengaja berdiam diri di dalam bak mandi demi sebuah frasa “eureka”.

Kesimpulannya, jika kita ingin melangkah, lakukan saja. Either it is good or bad, it’s not a big matter. Tidak perlu harus terpaku pada cerita yang sudah-sudah. Tapi bukan berarti kita tidak menyarikan kegagalan-kegagalan dan kesuksesan para pendahulu; bukan pula antisipasi kegagalan atau mengikuti rekam jejak kesuksesan akan secara mutlak memberikan hasil yang sama.

Everything worthwhile has an origin, but those origins aren’t the reason that they are worthwhile. You can’t follow the same path as those you admire and expect you’ll end up in the same place.

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with Bill Gates at I Think, I Read, I Write.

%d blogger menyukai ini: