Agama dan Kemajuan Sebuah Negara

Desember 16, 2015 § Tinggalkan komentar

abbas bin firnasBeberapa waktu lalu gue membaca status salah seorang kenalan di facebook yang diberi judul ‘Nalar HTRZ’. Ya, memang judulnya terkesan alay namun jika kita membaca isi status tersebut kita bisa mengira-ngira bahwa sang empu status adalah orang yang memiliki latar belakang pendidikan yang wah atau setidak-tidaknya ia adalah seorang pembaca yang baik. Status tersebut ditulis sebagai respon terhadap orang-orang di sosial media yang selalu membanding-bandingkan kemajuan sebuah negara terhadap kesalihan beragama. Disebutkan bahwa ada seorang netizen yang membandingkan kemajuan Korea Selatan dengan Indonesia. Indonesia dianggap sebagai negara tertinggal dalam segala aspek karena rakyatnya masih disibukkan dengan urusan remeh-temeh semacam mana yang lebih baik tarawih 8 atau 20 rakaat. Atau mana yang lebih shahih subuh pake qunut atau tidak. Mana yang lebih hebat Captain America atau Iron Man. Ia kesal karena terlalu banyak berhadapan dengan para adek-adek lucu pengguna sosial media yang sering menjadikan agama sebagai kambing hitam lambannya kemajuan sebuah negeri.

Sebagai antitesis, ia mengemukakan pandangan bahwa tidak sepatutnya kita menggunakan analisa cocoklogi untuk mengait-ngaitkan antara kesahihan beragama dengan kemunduran suatu bangsa. Karena pada dasarnya banyak faktor yang menyebabkan bangsa di dunia ini tidak memiliki kemajuan dalam ekonomi, teknologi maupun bidang lainnya. Si pemilik status yang kebetulan menyelesaikan studi master ekonomi di negerinya Geert Wilders lalu menyampaikan argumen-argumen dengan pendekatan konspirasi ekonomi. Ia memaparkan bahwa bisa jadi tanpa agama, khususnya Islam, maka Indonesia bisa jadi jauh lebih bobrok daripada kondisi saat ini dengan analisa-analisa yang bikin gue sebagai lulusan sains kimia cuma bisa mengangguk-angguk dan merasa iri mengapa ilmu kimia tidak bisa mengurai permasalahan kapitalisasi, komunisme dan ekonomi suatu negara.

Gue yang turut serta berpartisipasi membagikan status tersebut di dinding facebook sebagai bagian kampanye menentang kesoktauan para pemuja akal dan pendukung fremansory, illuminati, mamarika dan sebagainya mulanya bergairah dengan isi status tersebut. Tapi pada suatu titik gue mencoba berkontemplasi dan bertanya-tanya sendiri, apakah benar kemajuan sebuah negara dan agama bagaikan sepatu yang selalu bersama tapi tak bisa menyatu?.

Secara sederhana kita bisa dengan mudahnya mendapat bahwa negara-negara yang maju secara pengetahuan dan perekonomian adalah negara yang cenderung sekuler alias tak terlalu perduli terhadap agamanya. Amerika Serikat sebagai kiblat kemajuan negara-negara di dunia, setidaknya oleh negara di dunia ketiga, boleh mengaku bahwa sebagian besar pendudukny beragama Kristen/Katolik. Tapi apa lantas mereka menjadi umat yang religius ketika di negara tersebut terkenal dengan istilah four-wheel church alias gereja empat roda sebagai satir untuk menyindir orang-orang yang pergi ke gereja dengan menggunakan empat roda (mobil) hanya pada saat tiga waktu yakni pembaptisan, pernikahan dan kematian. Apakah dogma-dogma kristen memberikan semangat keilmuan yang menjadi dasar pengetahuan hanya karena George W.Bush mengatakan bahwa Yesus adalah sumber inspirasinya?.

Atau bagaimana Jepang yang mungkin mengaku masih menyembah matahari atau beragama Budha menjadikan agamanya sebagai worldview yang lalu menjadikan mereka semangat untuk menimba ilmu?.

Gue rasa tidak.

Masih berkaitan dengan status di atas, pada bagian komentar gue menemukan berbagai pendapat menarik yang sebagian besar sepakat dengan isi status. Di komen teratas gue mendapati komentar yang mengatakan bahwa majunya Korea Selatan saat ini disebabkan oleh dukungan penuh rakyat dan pemerintah untuk menggunakan produk lokal walau bagaimana pun jeleknya kualitas produk tersebut. Lalu melesatlah Samsung yang awalnya sebagai perusahaan pengeskpor ikan kering menjadi goliath teknologi. Berdasarkan komentar ini tidaklah tepat menjadikan alasan religiusitas masyarakat sebagai langkah mundur bagi suatu bangsa. Artinya agama tidak bisa dipaksa untuk dicocok-cocokkan menjadi dalil sebab-akibat yang berhubungan dengan kemajuan atau kemunduran suatu negeri.

Lalu di bagian lain komentar disebutkan bahwa memang pada kenyataannya agama seolah menjadi penyebab kemunduran sebuah negeri. Orang-orang beranggapan bahwa tidak mengapa hidup sulit di dunia asalkan mati masuk surga. Doktrin megah ini menjadi faktor yang mendemotivasi orang-orang agar tidak ngoyo dan pasrah saja terhadap semua keadaan yang dihadapi.

Jika sudah begini maka riwayat mengatakan bahwa orang-orang akan sibuk mencari argumen pembenaran bahwa memang ada suatu masa di mana agama dapat menjadi tulang punggung kemajuan suatu negara. Akan selalu ada proses membanding-bandingkan umat Islam sekarang dengan umat Islam di masa Kekhalifahan Abbasiyah dengan Baitul Hikmahnya dan juga kemegahan Dinasti Umayyah di Spanyol. Dan di lain kesempatan menjadikan trauma masyarakat barat terhadap kepongahan gereja yang menentang segala ilmu pengetahuan sebelum dan awal renaissance di mana Galileo menjadi tawanan rumah karena membuktikan bahwa bumi bukanlah pusat dari alam semesta.

Dua saja. Hanya dua argumen tersebut yang mendasari orang-orang zaman ini terus dininabobokan oleh kemegahan islam masa lalu tanpa ada upaya-upaya untuk meraihnya kembali. Dan juga menjadikan trauma kristen yang antagonis terhadap kemajuan peradaban di medieval age sebagai hikmah dan bahkan olok-olok.

Tapi apa iya kebangkitan peradaban islam dengan khazanah pengetahuannya yang bergelimang pada masa Dinasti Abbasiyah dan Umayyah spanyol berkorelasi kuat dengan kesalihan masyarakatnya?. Pertanyaan ini menggelayuti pikiran gue. Jika memang adagium ‘barat maju karena meninggalkan bibel sementara muslim tertinggal karena meninggalkan quran’ lantas apakah Ibnu sina, Ibnu rusyd, Alhazen, Alhaitam dan segudang ilmuwan muslim lain adalah orang-orang salih yang selain mendalami ilmu eksakta, sosial juga mendalami fiqih, tauhid dengan baik? Karena sepengetahuan gue seorang Imam Nawawi sangat tidak menyukai Canon Medicine atau Qanun Fi at Thib nya Ibn Sina. Baginya buku tersebut terlalu berbau filsafat dan dapat menjauhkan seseorang dari tuhan. Atau jangan-jangan sebagian besar ilmuwan tersebut bukan seorang muslim yang baik dalam konteks menjalankan agama sebagai entitas yang sacred. Bahasa kekiniannya mungkin semacam islam katepe atau mungkin Islam Liberal.

Maka para atheist akan meloncat gembira manakala mendapati Stephen Hawking dengan Theory of Everything atau Grand Design-nya adalah seorang yang tidak bertuhan. Atau secara halus disebutkan bahwa Stephen Hawking bukanlah seorang yang mempercayai tuhan secara personal melainkan impersonal. Sehingga Hawking tidak percaya konsep tuhan yang imanen. Atau sejak film tentang Alan Turing yang diperankan oleh Benedict Cumberbatch diputar di bioskop-bioskop, para pemuja akal bersatu padu membela patriotisme seorang Alan Turing yang meski memiliki kelainan seksual memiliki kontribusi besar mengakhiri Perang dunia II. Maka agama dianggap tidak selayaknya menghardik para pencinta sejenis. Lebih-lebih mereka yang berkontribusi pada aspek-aspek kemajuan dunia.

Sampai kapan pun akan tercipta polarisasi antara mereka yang percaya bahwa agama adalah bagian tak terpisahkan dari kemajuan suatu negara dan mereka yang bertahan dengan argumen bahwa agama hanya candu dan harus dibuang, dipisahkan dari kehidupan agar tercipta suatu kemajuan peradaban.

Dan gue pribadi termasuk golongan yang pertama.

*Sumber Gambar dari Sini

House Of Wisdom Jilid II

November 11, 2014 § Tinggalkan komentar

house of wisdomDalam satu bulan terakhir, gue tertarik untuk membaca sejarah islam dan prestasi-prestasi yang telah diukir untuk dunia. Memang, Islam sendiri adalah warisan tak bernilai bagi umat Nabi Muhammad khususnya dan manusia secara keseluruhan pada umumnya. Ia jauh lebih berharga daripada ide-ide marxisme atau peninggalan relativitas Einstein. Namun untuk menjawab keraguan para muslim yang sudah kehilangan izzah atas identitas keislamannya, kita perlu membuka tabir tentang apa-apa saja yang telah diwariskan para generasi pendahulu kita bagi peradaban modern.

Kegemilangan Islam dalam ilmu dan teknologi sangat berkembang saat Kekhalifan Abbasiyah dan Umayyah (Spanyol) memimpin dunia. Warisan ilmu pengetahuan yang mereka tumbuh kembangkan adalah kilat cahaya yang menerangi eropa untuk bangkit dari era dark age menuju zaman renaissance. Eropa di awal milenium kedua sangat jauh tertinggal dari Islam. Mereka terkungkung pada mistisme dan kekakuan dogma gereja yang menentang habis-habisan ilmu pengetahuan. Namun perlahan, mundurnya kerajaan islam akibat terpecah belah menjadi kerajaan kecil serta penyakit wahn yang sedari awal sudah diingatkan oleh Nabi Muhammad, menjadi awal kebangkitan barat beserta perangkat ilmu pengetahuannya. Perlu dipahami bahwa kemajuan  tersebut berimbas pada majunya perdaban barat saat ini.

Berbicara mengenai ilmu pengetahuan tidak akan pernah terlepas dari ‘Baitul hikmah’ atau House of wisdom. House of Wisdom adalah tempat di mana para ilmuwan berkumpul dan membahas ragam ilmu mulai dari logika, metafisika, teologi, aljabar, geometri, trigonometri, fisika, kedokteran hingga bedah.

Dalam buku ‘Great Discoveries of Muslim’, penulis menjabarkan apa-apa saja prestasi muslim berkaitan dengan ilmu pengetahuan yang masih bisa kita rasakan saat ini. Dari sekian banyak kebermanfaatan tersebut, berikut ini adalah segelintir rinciannya. Gue tulis dalam versi bahasa inggris (langsung di salin ulang dari buku yang sama)

  1. Book of optics from Ibnu Al Haytam (Alhazen) was actually a critique of Ptolemy’s book Almagest. He was the first to introduce experimental evidence as a requirement for accepting a theory since physics before him was more like philosophy, without experiment.
  2. Napoleon Bonaparte French Military bands were equipped with Ottoman war musical instruments such as zil (cymbal) and the kettledrums.
  3. Ziryab or blackbird has become a fashion trend setter; disseminate ethic, sound system (music), and three course menu.
  4. Baghdad with ‘House of Wisdom’ was the world’s richest city and center for intellectual development. In muslim countries a thousand years ago, the school was the mosque. One of the first lessons in writing was to learn how to write ninety-nine most beautiful names of God and simple verses from the Quran. After this, the Quran was studied thoroughly and arithmetic was added. By the 10th century, teaching was moving away from mosque and into the teacher’s house. This means that gradually schools developed, in Persia first.
  5. On 1066, Seljuk built the Nizamiyah school, named after its founder, Vizier Nizam al-mulk of Baghdad invade England. This was the first proper school that had a separate teaching building.
  6. By the 15th century, the ottomans had revolutionized schools by setting up learning complexes in towns like Bursa and Edirne in Turkey. Their school system was called, Kulliye, and constituted a campus-like education.
  7. This university (al-qarawiyin in Fez, Morocco) was built in 841 CE by Fatima Al Fihri. At the Al Qarawiyin mosque students didn’t pay fee and were given monetary allowances for food and accommodation. The teaching was in study group, known as The certificates known as ijaza.
  8. Terms ‘chair’ as professional position like the chair of board or a committee was evolved from professor who was seated on ‘chair’ or ‘kursi’ around the students
  9. A great refinement of muslim mathematicians of the indian system was the wider definition and application of the zero. Muslim gave it a mathematical property such as that zero multiplied by a number equals zero. Arabic numbers came into Europe by 3 sources : Gerbert (Pope Sylvester 1) in the late of 10th century, who studied in cordoba. Robert of Chester in the 12th century, who translated the 2nd book of Al khawarizmi. And Fibonacci in the 13th century, who inherited and delivered them to the mass population of Europe. Fibonacci learn of them when he was sent by his father to the city of Bougie, Algeria. He learnt mathematics from a teacher called sidi omar.

Saat ini, kita tidak mengenal siapa itu Al-Khawarizmi, Ibnu Khaytam, Ibnu Rusyd dan banyak lainnya. Buku pelajaran lebih banyak mengulas kehebatan Plato, Aristoteles dan segala yang berbau helenisme atau kemajuan teknologi barat yang dikomandoi oleh Galileo Galilei dan Nicolaus Copernicus.

Berbeda dengan opini barat yang selama ini sering meng–undervalue kejayaan islam dan kemajuannya, Tim Wallace-Murphy dalam sebuah buku berjudul ‘What Islam did for US‘ menekankan perlunya Barat mengakui bahwa mereka mewarisi sains Yunani dan lain-lain adalah atas`jasa para ilmuwan dan penguasa Muslim. Di masa kegelapan Eropa tersebut, orang-orang Barat secara bebas menerjemahkan karya-karya berbahasa Arab – tanpa perlu membayar Hak Cipta. Sejarawan Louis Cochran menjelaskan, bahwa Adelard of Bath (c.1080-c.1150), yang dijuluki sebagai “the first English scientist”, berkeliling ke Syria dan Sicilia selama tujuh tahun, pada awal abad ke-12. Ia belajar bahasa Arab dan mendapatkan banyak sekali buku-buku para sarjana. Ia menerjemahkan “Elements” karya Euclidus, dan dengan demikian mengenalkan Eropa pada buku tentang geometri yang paling berpengaruh di sana. Buku ini menjadi standar pengajaran geometri selama 800 tahun kemudian. Adelard dengan menerjemahkan buku table asronomi, Zijj, karya al-Khawarizmi (d. 840) yang direvisi oleh Maslama al-Majriti of Madrid (d.1007). Buku itu merupakan pengatahuan astronomi termodern pada zamannya. (Adian Husaini).

Jonathan Lyons, peneliti di Global Terrosim Research Center, menambahkan dalam bukunya ‘The Great Bait Al Hikmah’ bahwasanya kehadiran sains dan filsafat Arab, yang menjadi warisan Adelard si pelopor dan orang-orang yang segera mengikuti teladannya, berhasil mengubah Barat yang terbelakang menjadi penguasa sains dan teknologi. Perjumpaan dengan sains Arab ini bahkan menghidupkan kembali ilmu mengenali waktu yang lenyap di kalangan kristen barat pada awal abad pertengahan. Tanpa kendali akurat atas jam dan penanggalan, pengorganisasian rasional atas masyarakat mustahil terwujud.

Lalu bagaimana dengan kondisi sekarang?

Masih menurut Dr Adian Husaini, barat telah membawa banyak pengetahuan dari muslim. Parahnya, mereka mensekulerisasi pengetahuan tersebut sehingga jauh dari nilai-nilai agama. Fenomena tersebut berlangsung hingga saat ini. Tidak sulit kita menemukan seorang cerdas yang ateis. Tengok saja bagaimana Stephen Hawking tidak mempercayai adanya peran tuhan dalam penciptaan dunia. Kita perlu menyampaikan pada muslim di luar sana bahwa Islam tidak pernah memisahkan agama dan pengetahuan. Justru ilmu pengetahuan haruslah menopang kepentingan agama.

Dalam buku Misykat karya Dr Hamid Fahmi Zarkasyi diceritakan bagaimana tiga orang profesor pada tahun 2010 menerbitkan hasil riset tentang hubungan antara keimanan dan kecerdasan. Menurut hasil riset tersebut, semakin cerdas seseorang, ia semakin sekuler dan bahkan ateis. Sementara semakin bodoh seseorang, ia semakin religius. Sebuah data ilmiah yang cukup menohok. Mereka seolah menggiring opini bahwa negara-negara dengan tingkat religiuitas yang tinggi menghasilkan masyarakat yang bodoh.

Kenyataannya, sampel dari hasil riset tersebut tidak perlu dibantah dengan kengototan. Sampel kecil dari studi empiris yang kita alami sehari-hari sepertinya menunjukkan hasil yang bertolak belakang. Di sekolah-sekolah umum, siswa yang beraktifitas di organisasi kerohanian sekolah notabene mendominasi prestasi-prestasi akademik maupun non akademik. Belum lagi karya Dr Warsito yang berhasil menemukan alat tomografi hingga diminati oleh NASA. Kita juga tidak banyak mendengar sosok Khoirul Anwar yang memiliki paten teknologi 4G. Patut diketahui bahwa kedua orang ini hanyalah segelintir ilmuwan yang sholeh dalam ibadah dan juga memiliki prestasi dalam ilmu pengetahuan. Mereka tidak memisahkan antara agama dan science. Dan studi tersebut sudah dibantah berdasarkan pengalaman empiris. Namun jawaban yang lebih ilmiah telah dijawab oleh Dr Hamid Fahmi dalam bukunya, Misykat.

Jadi, tidak sepatutnya seorang muslim merasa rendah diri pada apa-apa yang terjadi di barat. Celakanya, sebagian besar kita (mungkin termasuk gue) adalah orang-orang yang kagum dengan barat bukan dari etos kerja atau budaya disiplin yang mereka punya. Kita lebih banyak mengimitasi budaya permisif sehingga membentuk pola pikir kebaratan hanya sebatas pada tatanan hedonisme.

Masih banyak lagi penemuan-penemuan muslim di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Yang ingin gue sampaikan adalah seorang muslim tidak perlu merasa inferior dengan kemajuan yang saat ini berkembang di barat. Bukan tidak mungkin, generasi kita atau generasi setelah kita akan kembali membangun sebuah House of wisdom jilid II yang akan menempatkan islam dalam kejayaan. Hanya saja, semua ilmu pengetahuan tersebut pada hakikatnya harus semakin mendekatkan diri kepada sang khalik bukan justru memisahkan ilmu dari tuhannya seperti yang saat ini berkembang pesat di barat sana.

 Sumber Gambar dari sini

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with alhazen at I Think, I Read, I Write.

%d blogger menyukai ini: