6 Bulan Afnan

Maret 21, 2017 § Tinggalkan komentar

Uyeay. Afnan akhirnya memasuki usia 6 bulan. Periode penting dalam tumbuh kembang anak karena pada fasa ini mereka tidak lagi harus mengkonsumsi ASI sebagai asupan tunggal. Afnan akhirnya bisa mencicipi enaknya rendang, sedapnya ayam goreng, serta nikmatnya indomie rasa soto ayam di warung burjo terdekat.

Patut diakui nafsu makan afnan sangat besar. Sehari-hari ia menyusu dengan intensitas yang luar biasa sering. Makanya kini ia nampak begitu gempal dengan lingkar paha yang bahkan lebih besar daripada sang kakak yang satu setengah tahun lebih tua. Jeda antara mimik satu dan mimik lain dikira kurang dari satu jam. Sebuah rentang yang singkat mengingat bayi rata-rata dapat menyusu setidaknya dua jam sebelum disusui kembali.

Mengamati pola kembang dua orang anak, menurut gue, ASI memang jauh lebih baik ketimbang ASIP. Kondisi air susu yang lebih terjaga secara temperatur, tekanan, juga shear rate dan compression (ngomong opo?) juga adanya ‘bonding’ saat menyusi menjadikan anak yang menyusu langsung dengan ibunya menjadi lebih sehat dan memiliki antibodi yang lebih baik ketimbang harus menikmati ASI melalui dot atau bahkan menikmati susu sapi. Setidaknya dalam 6 bulan pertama.

Peranan ASI sangat penting dalam menjaga kesehatan bayi. Sejauh ini Afnan tidak menunjukkan tanda-tanda sakit. Hampir bisa dibilang tidak pernah sama sekali. Sesekali ia pilek namun langsung sembuh di hari yang sama. Beda halnya dengan Alby. Saat usia 6 bulan, Alby mengalami beberapa sakit mulai dari kolik, sakit mata, kulit dan sebagainya. Memang benar ada faktor lain, selain ASI, yang membedakan kondisi Alby dan Afnan sehingga yang satu lebih mudah sakit ketimbang yang lainnya. Misalnya saja kesiapan secara literatur dan psikologis dalam mengurus anak pertama dan anak kedua sangat berbeda. Meskipun demikian, gue tetep yakin bahwa ASI dan ASIP akan memberikan dampak yang berbeda terhadap tumbuh kembang anak.

Afnan kian hari kian lucu. Kepalanya yang botak dengan kontur sempurna, tidak peyang, disertai dengan muka yang bulet dan cubit-able, serta badan yang berisi membuat Afnan persis boneka hidup. Jika Alby kental dengan aspek fenotip orang sunda dengan senyum yang manis juga kulit yang putih bersih, maka Afnan lebih menunjukkan aura maskulin dengan garis muka yang tegas. Tidak terlalu putih tapi menjauhi corak warna ayahnya. Perih memang saat mendeksripsikan warna kulit. Gue bak anomali dalam keluarga. Deviasi warna kulit gue menyimpang jauh dari median.. haha.

Jika Alby, prediksi ayah, tumbuh menjadi seperti Nicholas saputra, maka Afnan kelak lebih mirip Rio Dewanto atau Chris Hemsworth. All hail, Thor!. Yang paling penting jangan menyerupai Young Lex ya, nak.

Hah, Alby dan Afnan tidak tahu Young Lex? Awkarin pun tak tahu? Baguslah kalo begitu.

Afnan, menurut dokter anak, mengalami tumbuh kembang yang normal. Ia sudah mahir tengkurep bahkan sudah nyaris duduk di usia 6 bulan. Permasalahannya adalah, lemak yang menimbun membuat Afnan males menggerakkan otot-otot agar bersinergi untuk membantunya membalikkan badan. Sehingga tengkurep adalah aktifitas yang mungkin paling ia benci. Memang, lemak berlebih adalah permasalahan setiap manusia. Ayah merasakan hal yang sama, nak. *liat perut*.

Sebelum tepat berusia 6 bulan pada 22 Maret, Afnan sudah melakukan trial beberapa buah untuk dicicipi. Ia sudah merasakan buah pir, pisang, apel dan alpuket. Afnan suka semua makanan yang ia cicipi. Bahkan ia menolak untuk berhenti mencicipi makanan-makanan tersebut. Ia mengekspresikan penolakan tersebut dengan menangis sekenceng mungkin agar bundanya takluk dan kembali menyuapi. Dasar licik kau, Fernandez.

Di usia mendekati setengah tahun, Afnan semakin sering bergumam. Ia acap kali menggumam ‘abuaaaa’ atau ‘mmaaaaa’. Sepertinya huruf ‘A’ adalah huruf yang paling diakrabi oleh bayi. Karena Alby maupun Afnan nyaris mendahului kemampuan bicara mereka dengan huruf ‘A. Seringnya sang bunda berinteraksi dengan anak, lebih-lebih saat menyusui, akan menstimulasi kemampuan bicara mereka. Belum lagi jika memasukkan variabel sang kakak, Alby, yang tidak pernah berhenti berceloteh setiap detiknya.

Alhamdulillah saat ini kedua jagoan gue sehat wal afiat. Gue harap mereka berdua terus tembuh menjadi anak yang kuat, sehat, cerdas, sholih dan beradab. Kelima aspek tersebut harus didahulukan ketimbang memasukkan variabel-variabel lain dalam berdoa.

Semoga kalian terus menjadi anak yang menyejukkan mata dan hati ayah serta bunda ya, sayang.

Don’t grow up too fast, son. Adulthood is a trap. Trust me!

p.s: Sejujurnya gue tidak begitu sering menuliskan kisah Afnan di blog ini. Tidak seperti halnya Alby yang nyaris per dua bulan kisahnya termuat dalam blog yang sama. Maafin ayah ya, Afnan.

 

A yang Keempat

September 29, 2016 § 4 Komentar

Gue mesti berterima kasih kepada Vina Panduwinata. Vina, seperti halnya Armand Maulana, telah memberikan semangat kebahagiaan dan kasih sayang pada bulan-bulan yang mereka jadikan sebagai tembang. Seturut terimakasih kasih juga tersampaikan pada Sapardi Djoko Darmono karena telah menyusun ‘Hujan Bulan Juni’ dengan sangat apik. Khusus untuk Vina, lagu September Ceria nya menjadi  backsound  yang tepat buat gue dan keluarga karena pada 22 September 2016 jam 08:28, anak kedua kami lahir dengan sehat wal-afi’at.

Sebuah kebahagiaan lagi untuk saya dan istri untuk diamanahi Putra kedua setelah 20 bulan sebelumnya kehidupan kami dilengkapi oleh kehadiran Alby. Kini rumah kecil kami akan kembali diramaikan oleh tangis bayi. Malam-malam gue, oopss.. Malam-malam istri gue, maksudnya (gue cuma kebagian pas wiken doang) akan kembali gaduh.

Selamat kembali menjadi manusia nokturnal, sayang.

Untuk merekam memori detik-detik proses persalinan, gue akan mengulasnya dengan rincian sebagai berikut.

22 September 2016, 03:30 WIB

Gue terbangun dari tidur lalu menuju kamar mandi untuk menunaikan hajat. Saat sedang khusyu’ ponsel gue berdering. Ternyata dari bini gue. Gue curiga ia akan segera lahiran karena belom pernah ada riwayatnya bini gue nelpon se-pagi itu. Telkomsel malah lebih perhatian. Subuh-subuh aja mereka ngirim SMS.

Gue telepon balik dan benar saja ia sudah pembukaan tiga dan tengah menunggu pembukaan berikutnya di rumah sakit.

05:30 WIB

Gue menuju Bandung menggunakan travel dengan keberangkatan paling awal. Tak lupa gue terus menelepon istri guna menanyakan kondisinya. Ia bilang bahwa mulesnya semakin menjadi. Namun belum diperiksa oleh dokter kandungan.

06:00 WIB

Bukaan lima!

Dokter kandungan menjelaskan bahwa sang anak mungkin lahir sekitar jam 10 atau 11 pagi. Gue merasa tenang karena dengan asumsi perjalanan Bintaro-Bandung memakan waktu paling lama 3 sampai 4 jam maka gue bisa tiba sebelum proses melahirkan. Gue merasa menjadi ayah terkutuk jika tiba tidak tepat pada waktunya.

06: 30 WIB

Jadwal Spongebob di Global TV

*ngapain lo tulis*

06:40 WIB

Masih bukaan lima. Bawel, lo.

07:00 WIB

Istri gue sudah berada di ruang persalinan. Nampaknya pembukaan jalan keluar bayi sudah semakin besar. Kontraksi semakin menjadi. Gue tidak bisa membantu apa-apa selain doa. Andai bisa, biarkan rasa sakit itu berpindah ke tubuh Jessica. Iya, Jessica yang sidang pembunuhannya tiap hari tayang di tivi. Biar Jessica merasakan bagaimana sakitnya empat puluh tulang dipatahkan sekaligus. Biar tidak ada lagi sidang-sidang nista itu.

08:00 WIB

Gue tiba di Bandung. Dan segera saja menuju ke rumah sakit. Ternyata dokter salah perkiraan. Proses persalinan yang diprediksi pukul 10.00 WIB ternyata meleset. Dedek bayi nya pengen keluar lebih cepat dan mematahkan asumsi dan perkiraan-perkiraan manusia. Istri gue tengah berupaya dengan sekuat tenaga untuk mendorong bayi keluar. Gue di sampingnya untuk membantu menguatkan dan memberikan semangat serta doa agar proses persalinan tersebut dimudahkan.

Sejujurnya proses persalinan kedua ini meninggalkan sedikit rasa khawatir, takut, cemas akan keselamatan ibu dan bayinya. Meskipun memang tidak se-intens saat menanti kelahiran Putra pertama.

Dokter dan perawat yang empat orang terus memberikan aba-aba kapan harus mendorong, kapan harus menarik napas, kapan harus menghembuskan nafas. Mereka terus mengarahkan agar pandangan sang ibu terus tertuju ke arah tempat keluarnya bayi agar sang ibu tidak teralihkan oleh hal-hal lain. Toko on-line misalnya.

08:28 WIB

Terdengar tangisan bayi yang pecah. Anak kedua kami, Alhamdulillah, terlahir dengan selamat. Begitu pun ibunya. Proses persalinannya terlihat lancar jaya. Perawat tidak perlu naik ke atas ranjang dan bersanggah pada dinding guna mendorong bayi keluar dari perut seperti pada proses persalinan pertama.

Anak kedua kami lahir dengan berat badan 3380 gram dengan panjang 48 cm. Ia terlihat gemuk dengan pipi yang cubit-able. Namun seperti Alby, anak kedua kami sepintas tidak mencetak fenotip ayah maupun ibunya. Ia terlihat seperti bayi oriental dengan mata yang agak sipit.

Usai Adzan di telingan kanan dan iqomah di telinga kiri, bayi tersebut kemudian didekatkan kepada sang ibu untuk proses IMD. Penting untuk bayi yang baru lahir, terlebih melalui proses persalinan dengan operasi, untuk mendapatkan inisiasi menyusui dini selama 1 jam pertama kehidupan bayi, menurut rekomendasi WHO.

Bayi lucu yang kini menjadi anggota keempat dalam keluarga kami diberi nama dengan inisial ‘A’ untuk melengkapi tiga A yang sudah terlebih dahulu hadir. Ia dinamai dengan Afnan Sakha Avicenna. Makna dari nama tersebut akan diurai pada tulisan lainnya. Yang jelas terselip doa sebesar-besarnya agar Afnan menjadi anak sholih, penyejuk mata dan hati kedua orang tua.

Welcome to the club, pal.

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with Afnan Sakha Avicenna at I Think, I Read, I Write.

%d blogger menyukai ini: