Islamic Book Fair 2015

Maret 7, 2015 § 2 Komentar

20150309_060307

Penulis yang hebat adalah pembaca yang rakus

Islamic Book Fair (IBF) hadir kembali mulai tanggal 27 Februari sampai 8 Maret 2015 di Istora Senayan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, gue selalu  bergembira dengan kehadiran pameran buku islam terbesar di Indonesia ini. Berada di tengah tumpukan buku adalah satu dari dua hal yang bisa dengan mudahnya membuat gue bahagia. Satunya lagi adalah menemukan jarum di dalam tumpukan jerami. Krik..krik!.

Masih jelas bayang-bayang kunjungan ke IBF tahun lalu. Saat itu, gue masih berstatus calon suami karena penyelenggaraan IBF 2014 berselisih beberapa hari dengan prosesi lamaran gue. Karena timing nya yang sangat pas, gue secara sengaja dan sadar membeli buku ‘kado pernikahan untuk istriku’ sebagai buah tangan yang dibawa turut serta pada saat lamaran. Lebih tepatnya, buku itu gue hadiahkan buat sang istri yang kebetulan berulang tahun satu hari sebelum kedatangan keluarga gue ke Cianjur untuk ngantri raskin. Menurut lo?!. Ya buat lamaran lah.

Beberapa buku yang gue beli tahun lalu masih tersampul rapih dan tersimpan di kardus di pojok kamar kontrakan. Mereka seolah tergugu. Tertunduk lesuh tak tersentuh. Buku Karen Armstrong tentang Perang Salib baru sepertujuhnya selesai dibaca. Biografi Malcolm X malah belum dijamah sama sekali. Di situ kadang buku saya merasa sedih.

Ada yang berbeda dengan IBF 2015 kali ini. Durasi gue untuk memburu buku tidak bisa seleluasa saat masih bersatus jomblo keren. Sekarang, gue harus mengunjungi anak dan istri tercinta yang ada di kota bunga setiap akhir pekan. Jadi, gue harus sempet-sempetin datang ke IBF sepulang jam kantor. Keterbatasan waktu ini juga yang menghalangi gue mencari buku dengan seksama.

Setelah berthawaf di sekitar Istora, gue memilih singggah di beberapa tenan. Tenan pertama yang gue kunjungi tidak lain dan tidak bukan adalah tenan pro u media. Memang, sudah sejak lama pro u media menjadi penerbit yang menghasilkan bacaan-bacaan sesuai dengan selera gue. Buku-bukunya ditulis oleh penulis yang relatif masih unyu dengan topik yang anak muda banget. Mulai dari Fadlan Al Ikhwani, Egha Zainur Ramadhani, Solikhin Abu Izzudin, hingga Salim A Fillah. Setelah melihat-lihat buku yang tersusun rapih di biliknya, tidak ada buku yang menarik perhatian saya dengan amat sangat. Berbeda dengan tahun lalu saat buku Lapis-Lapis Keberkahan Salim A Fillah mencuri perhatian banyak orang.

Sejak awal adanya IBF, gue sudah berazam dan berdiskusi dengan istri untuk mencari buku-buku bertemakan parenting. Jika tahun sebelumnya, gue sangat berapi-api untuk memperoleh buku bertemakan pernikahan maka kali ini gue lebih banyak memfokuskan diri untuk melengkapi koleksi buku tentang bagaimana cara mendidik anak dengan baik dan sesuai tuntunan Al-Quran. Karena segala sesuatu itu harus ada ilmunya. Seperti apa yang dinasihatkan oleh Ali bin Abi Thalib bahwa ibadah yang tidak ada ilmunya lebih besar potensi kerusakannya. Karena membimbing anak adalah sebuah ibadah maka diperlukan ilmu sebagai bekal. Berapa banyak orang tua yang mengaku memiliki anak tapi tidak tahu bagaimana cara mengurusnya. Berapa banyak di antara mereka percaya diri dengan melabeli ayah-ibu sebatas panggilan saja tanpa tahu bagaimana seharusnya seorang anak dibimbing dan diarahkan. Padahal ketahanan keluarga adalah pilar dalam membangun sebuah peradaban. 20150308_160504

Sebelumnya, gue sudah memiliki beberapa buku tentang Parenting seperti Prophetic Parenting, Buku karangan Ibnu Taimiyah hingga buah karya Ust Fauzil Adhim ‘Saat Terbaik Untuk Anak Kita’. Setibanya di Tenan Pro U Media, mata gue tertuju pada buku karangan Ust Fauzil Adhim yang berjudul ‘segenggam iman untuk anak kita’ dan ‘membuat anak gila membaca’. Fauzil Adhim sudah sangat dikenal dengan kemampuannya menganggit kata untuk disarikan menjadi nasihat bagi para orang tua agar menyadarkan orang tua akan pentingnya membekali anak-anak dengan iman, membangun jiwa anak-anak mereka. Dan kedua buku ini diharapkan menjadi wahana untuk mencapai tujuan tersebut.

Selain buku tentang parenting, sejujurnya tidak ada buku yang benar-benar menarik perhatian gue. Berbeda dengan tahun lalu saat buku milik Karen Armstrong dan Rapung Samuddin begitu menggoda untuk dibaca. Waktu berburu yang terbatas pun menjadi faktor utama ketidakbisaan gue melakukan pencarian buku secara mendalam,. Duh lebaynya!.

Di antara buku-buku yang bertebaran dan setelah mengelilingi hampir semua tenan yang ada, gue akhirnya menjatuhkan pilihan pada ‘wajah peradaban barat’ karangan Ust Adian Husaini. Gue sebenernya mengikuti tulisan-tulisan beliau sejak lama. Jauh sebelum negara api menyerang. Selama ini gue hanya bisa menyimak tulisan Ust Adian melalui Web Insist atau status-statusnya yang termuat di facebook. Tulisan beliau bagus dan bernas sebagai referensi untuk menghalau pemikiran-pemikiran liberal dan serangan-serangan orientalis terhadap islam.  Kebetulan sudah lama buku tersebut jadi target operasi.

Masih di rak buku yang sama, duduk manis ‘The Art of Deception’ nya Jerry D Gray. Buku yang memang gagal gue beli tahun lalu karena keterbatasan dana. The Art of Deception bercerita tentang peristiwa pembajakan WTC yang terjadi pada tahun 2001. Penulis memaparkan cerita dari sudut pandang ‘konspirasi’. Jadilah dua buku yang akan sangat berjasa menambah pengetahuan gue tentang peradaban barat serta wawasan tentang ‘penipuan’ yang selama ini terjadi di sekitar kita.

Di arena lain, gue mendapati tenan yang tenang nian sore itu. Tak banyak aktifitas kehidupan nampak di sana. Hanya ada penjaga tenan dan beberapa buku islami yang diobral 5-10 ribu. Sepintas gue melihat buku dengan judul ‘inilah politikku’ karangan Muhammad Elvandi. Gue sudah mengetahui sepak terjang sang penulis sejak menyelami tulisan di web yang ia asuh. Tulisannya sangat baik dengan referensi yang luas. Maklum, beliau adalah lulusan sarjana Mesir dan magister Prancis yang saat ini tengah menyelesaikan pendidikannya PHd nya di kampus Manchester, Inggris. Buku ini banyak bercerita tentang prinsip-prinsip politik islam di era modern. Sebuah tulisan yang cerdas dan sarat makna.

Sisanya, gue membeli buku tentang parenting lagi yang dijual secara paket. 4 buku seharga 100 ribu. Di antaranya bertemakan tentang pola asuh anak dan cara-cara menangani emosi anak. Lumayan, guna menambah referensi bagaimana cara menghadapi Alby, Si Jagoan. Ditambah lagi sebuah buku yang dibuat untuk meluruskan salah paham atas pemikiran dan aktifitas Sayyid Quthb. Pembela Ikhwanul Muslimin yang syahid di tiang gantungan setelah sebelumnya menggegerkan Mesir bahkan dunia dengan Tafsir fi Zhilail Quran dan buku ‘Petunjuk Jalan’.

Selain buku-buku yang berhamparan di rak-rak yang tersusun nan ajeg, hal lain yang membuat gue gembira selama berada di IBF adalah gue melihat kembali tenan yang menjual majalah Sabili dan Tarbawi. Sebagi informasi, Sabili sudah lama tidak hadir menemani pembacanya. Majalah umat yang berdiri sejak tahun 1994 ini sempat vakum selama beberapa tahun. Per Juni 2014, ia kembali hadir. Menurut mereka, selama ini terjadi kendala distribusi. Loper koran yang diamanahi menjual sabili banyak yang tidak menyetor uang kepada tim sabili. Untuk menghindari hal yang sama agar tidak terjadi lagi, Sabili kini tidak lagi dapat ditemui di loper-loper koran. Mereka menjual langsung kepada pembacanya.

Sabili adalah majalah yang sering gue baca sejak SMP. Dari majalah ini, gue banyak mendapatkan informasi tentang kondisi umat islam di berbagai belahan dunia. Betapa mencekamnya kehidupan di negeri-negeri non Muslim. Penindasan di Checnya, Palestina dan negara lain. Boleh dibilang Sabili adalah bacaan pertama yang membuka wawasan gue tentang betapa mirisnya nasib muslim di negara lain.

Majalah Tarbawi sendiri sudah 8 bulan tidak hadir menyapa pembacanya. Mereka berkilah bahwa tengah dilakukan evaluasi. Kini mereka hadir kembali untuk memperluas tsaqofah para pembacanya. Sejujurnya gue bukanlah pelanggan Tarbawi, namun mendapati majalah ini eksis kembali, gue ikut berbahagia.

Seperti itulah petualangan gue di IBF 2015. Semoga tahun-tahun berikutnya Islamic Book Fair tetap ada. Dan Semoga juga gue masih memiliki kesempatan untuk sowan untuk membeli buku-buku terbaik dengan harga miring.

House Of Wisdom Jilid II

November 11, 2014 § Tinggalkan komentar

house of wisdomDalam satu bulan terakhir, gue tertarik untuk membaca sejarah islam dan prestasi-prestasi yang telah diukir untuk dunia. Memang, Islam sendiri adalah warisan tak bernilai bagi umat Nabi Muhammad khususnya dan manusia secara keseluruhan pada umumnya. Ia jauh lebih berharga daripada ide-ide marxisme atau peninggalan relativitas Einstein. Namun untuk menjawab keraguan para muslim yang sudah kehilangan izzah atas identitas keislamannya, kita perlu membuka tabir tentang apa-apa saja yang telah diwariskan para generasi pendahulu kita bagi peradaban modern.

Kegemilangan Islam dalam ilmu dan teknologi sangat berkembang saat Kekhalifan Abbasiyah dan Umayyah (Spanyol) memimpin dunia. Warisan ilmu pengetahuan yang mereka tumbuh kembangkan adalah kilat cahaya yang menerangi eropa untuk bangkit dari era dark age menuju zaman renaissance. Eropa di awal milenium kedua sangat jauh tertinggal dari Islam. Mereka terkungkung pada mistisme dan kekakuan dogma gereja yang menentang habis-habisan ilmu pengetahuan. Namun perlahan, mundurnya kerajaan islam akibat terpecah belah menjadi kerajaan kecil serta penyakit wahn yang sedari awal sudah diingatkan oleh Nabi Muhammad, menjadi awal kebangkitan barat beserta perangkat ilmu pengetahuannya. Perlu dipahami bahwa kemajuan  tersebut berimbas pada majunya perdaban barat saat ini.

Berbicara mengenai ilmu pengetahuan tidak akan pernah terlepas dari ‘Baitul hikmah’ atau House of wisdom. House of Wisdom adalah tempat di mana para ilmuwan berkumpul dan membahas ragam ilmu mulai dari logika, metafisika, teologi, aljabar, geometri, trigonometri, fisika, kedokteran hingga bedah.

Dalam buku ‘Great Discoveries of Muslim’, penulis menjabarkan apa-apa saja prestasi muslim berkaitan dengan ilmu pengetahuan yang masih bisa kita rasakan saat ini. Dari sekian banyak kebermanfaatan tersebut, berikut ini adalah segelintir rinciannya. Gue tulis dalam versi bahasa inggris (langsung di salin ulang dari buku yang sama)

  1. Book of optics from Ibnu Al Haytam (Alhazen) was actually a critique of Ptolemy’s book Almagest. He was the first to introduce experimental evidence as a requirement for accepting a theory since physics before him was more like philosophy, without experiment.
  2. Napoleon Bonaparte French Military bands were equipped with Ottoman war musical instruments such as zil (cymbal) and the kettledrums.
  3. Ziryab or blackbird has become a fashion trend setter; disseminate ethic, sound system (music), and three course menu.
  4. Baghdad with ‘House of Wisdom’ was the world’s richest city and center for intellectual development. In muslim countries a thousand years ago, the school was the mosque. One of the first lessons in writing was to learn how to write ninety-nine most beautiful names of God and simple verses from the Quran. After this, the Quran was studied thoroughly and arithmetic was added. By the 10th century, teaching was moving away from mosque and into the teacher’s house. This means that gradually schools developed, in Persia first.
  5. On 1066, Seljuk built the Nizamiyah school, named after its founder, Vizier Nizam al-mulk of Baghdad invade England. This was the first proper school that had a separate teaching building.
  6. By the 15th century, the ottomans had revolutionized schools by setting up learning complexes in towns like Bursa and Edirne in Turkey. Their school system was called, Kulliye, and constituted a campus-like education.
  7. This university (al-qarawiyin in Fez, Morocco) was built in 841 CE by Fatima Al Fihri. At the Al Qarawiyin mosque students didn’t pay fee and were given monetary allowances for food and accommodation. The teaching was in study group, known as The certificates known as ijaza.
  8. Terms ‘chair’ as professional position like the chair of board or a committee was evolved from professor who was seated on ‘chair’ or ‘kursi’ around the students
  9. A great refinement of muslim mathematicians of the indian system was the wider definition and application of the zero. Muslim gave it a mathematical property such as that zero multiplied by a number equals zero. Arabic numbers came into Europe by 3 sources : Gerbert (Pope Sylvester 1) in the late of 10th century, who studied in cordoba. Robert of Chester in the 12th century, who translated the 2nd book of Al khawarizmi. And Fibonacci in the 13th century, who inherited and delivered them to the mass population of Europe. Fibonacci learn of them when he was sent by his father to the city of Bougie, Algeria. He learnt mathematics from a teacher called sidi omar.

Saat ini, kita tidak mengenal siapa itu Al-Khawarizmi, Ibnu Khaytam, Ibnu Rusyd dan banyak lainnya. Buku pelajaran lebih banyak mengulas kehebatan Plato, Aristoteles dan segala yang berbau helenisme atau kemajuan teknologi barat yang dikomandoi oleh Galileo Galilei dan Nicolaus Copernicus.

Berbeda dengan opini barat yang selama ini sering meng–undervalue kejayaan islam dan kemajuannya, Tim Wallace-Murphy dalam sebuah buku berjudul ‘What Islam did for US‘ menekankan perlunya Barat mengakui bahwa mereka mewarisi sains Yunani dan lain-lain adalah atas`jasa para ilmuwan dan penguasa Muslim. Di masa kegelapan Eropa tersebut, orang-orang Barat secara bebas menerjemahkan karya-karya berbahasa Arab – tanpa perlu membayar Hak Cipta. Sejarawan Louis Cochran menjelaskan, bahwa Adelard of Bath (c.1080-c.1150), yang dijuluki sebagai “the first English scientist”, berkeliling ke Syria dan Sicilia selama tujuh tahun, pada awal abad ke-12. Ia belajar bahasa Arab dan mendapatkan banyak sekali buku-buku para sarjana. Ia menerjemahkan “Elements” karya Euclidus, dan dengan demikian mengenalkan Eropa pada buku tentang geometri yang paling berpengaruh di sana. Buku ini menjadi standar pengajaran geometri selama 800 tahun kemudian. Adelard dengan menerjemahkan buku table asronomi, Zijj, karya al-Khawarizmi (d. 840) yang direvisi oleh Maslama al-Majriti of Madrid (d.1007). Buku itu merupakan pengatahuan astronomi termodern pada zamannya. (Adian Husaini).

Jonathan Lyons, peneliti di Global Terrosim Research Center, menambahkan dalam bukunya ‘The Great Bait Al Hikmah’ bahwasanya kehadiran sains dan filsafat Arab, yang menjadi warisan Adelard si pelopor dan orang-orang yang segera mengikuti teladannya, berhasil mengubah Barat yang terbelakang menjadi penguasa sains dan teknologi. Perjumpaan dengan sains Arab ini bahkan menghidupkan kembali ilmu mengenali waktu yang lenyap di kalangan kristen barat pada awal abad pertengahan. Tanpa kendali akurat atas jam dan penanggalan, pengorganisasian rasional atas masyarakat mustahil terwujud.

Lalu bagaimana dengan kondisi sekarang?

Masih menurut Dr Adian Husaini, barat telah membawa banyak pengetahuan dari muslim. Parahnya, mereka mensekulerisasi pengetahuan tersebut sehingga jauh dari nilai-nilai agama. Fenomena tersebut berlangsung hingga saat ini. Tidak sulit kita menemukan seorang cerdas yang ateis. Tengok saja bagaimana Stephen Hawking tidak mempercayai adanya peran tuhan dalam penciptaan dunia. Kita perlu menyampaikan pada muslim di luar sana bahwa Islam tidak pernah memisahkan agama dan pengetahuan. Justru ilmu pengetahuan haruslah menopang kepentingan agama.

Dalam buku Misykat karya Dr Hamid Fahmi Zarkasyi diceritakan bagaimana tiga orang profesor pada tahun 2010 menerbitkan hasil riset tentang hubungan antara keimanan dan kecerdasan. Menurut hasil riset tersebut, semakin cerdas seseorang, ia semakin sekuler dan bahkan ateis. Sementara semakin bodoh seseorang, ia semakin religius. Sebuah data ilmiah yang cukup menohok. Mereka seolah menggiring opini bahwa negara-negara dengan tingkat religiuitas yang tinggi menghasilkan masyarakat yang bodoh.

Kenyataannya, sampel dari hasil riset tersebut tidak perlu dibantah dengan kengototan. Sampel kecil dari studi empiris yang kita alami sehari-hari sepertinya menunjukkan hasil yang bertolak belakang. Di sekolah-sekolah umum, siswa yang beraktifitas di organisasi kerohanian sekolah notabene mendominasi prestasi-prestasi akademik maupun non akademik. Belum lagi karya Dr Warsito yang berhasil menemukan alat tomografi hingga diminati oleh NASA. Kita juga tidak banyak mendengar sosok Khoirul Anwar yang memiliki paten teknologi 4G. Patut diketahui bahwa kedua orang ini hanyalah segelintir ilmuwan yang sholeh dalam ibadah dan juga memiliki prestasi dalam ilmu pengetahuan. Mereka tidak memisahkan antara agama dan science. Dan studi tersebut sudah dibantah berdasarkan pengalaman empiris. Namun jawaban yang lebih ilmiah telah dijawab oleh Dr Hamid Fahmi dalam bukunya, Misykat.

Jadi, tidak sepatutnya seorang muslim merasa rendah diri pada apa-apa yang terjadi di barat. Celakanya, sebagian besar kita (mungkin termasuk gue) adalah orang-orang yang kagum dengan barat bukan dari etos kerja atau budaya disiplin yang mereka punya. Kita lebih banyak mengimitasi budaya permisif sehingga membentuk pola pikir kebaratan hanya sebatas pada tatanan hedonisme.

Masih banyak lagi penemuan-penemuan muslim di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Yang ingin gue sampaikan adalah seorang muslim tidak perlu merasa inferior dengan kemajuan yang saat ini berkembang di barat. Bukan tidak mungkin, generasi kita atau generasi setelah kita akan kembali membangun sebuah House of wisdom jilid II yang akan menempatkan islam dalam kejayaan. Hanya saja, semua ilmu pengetahuan tersebut pada hakikatnya harus semakin mendekatkan diri kepada sang khalik bukan justru memisahkan ilmu dari tuhannya seperti yang saat ini berkembang pesat di barat sana.

 Sumber Gambar dari sini

Pesan Kyai Muhsin untuk Presiden RI 2014-2019

Juni 1, 2014 § Tinggalkan komentar

Ditulis oleh Dr Adian Husaini 

Kyai MuhsinOrang kampung memanggilnya Kyai Muhsin. Sehari-hari, ia berdagang di pasar kampungnya. Sepeda tuanya terkadang dinaikinya. Tapi lebih sering dituntunnya. Umurnya, diduga 70 tahunan. Hanya, ia belum pernah ia berurusan dengan rumah sakit. Tidak ada catatan resmi hari lahirnya. Kain sarung dan lantunan zikir menjadi ciri utamanya. Mengajar ngaji anak-anak adalah rutinitas kesahariannya. Tak pernah terlihat ia baca koran atau menonton berita. Hanya silaturrahim ke sana-sini menjadi hobinya. Uniknya, ia seperti paham kondisi politik negeri.  Sudah jadi tradisi, ia selalu bertanya tentang masalah politik kepada cucu-cucunya jika mereka berlibur dari kuliahnya.

 “Sopo Le sing arep dadi Presiden? Jokowi, Prabowo, opo Oma Irama?”  Mbah Muhsin bertanya kepada Sikirno, salah satu cucunya, saat liburan dari kuliahnya di Yogya.

Kirno gelagapan. Pertanyaan itulah yang hari-hari ini bergelayut di benaknya. Sebagai aktivis masjid kampus, ia juga diombang-ambingkan oleh berbagai informasi seputar para capres RI 2014-2019. Ia kebingungan, siapa yang seharusnya dipilih.  Maka, kesempatan itu pun ia manfaatkan untuk menggali informasi dari kakeknya, yang menurut ibunya, Mbahnya itu kadangkala memiliki pemikiran yang “aneh”, seperti bisa memahami masa depan.

“Bingung Mbah; kalau menurut Mbah siapa yang terbaik yang harus kita pilih?” tanya Kirno.

“Kalau kamu pilih siapa?” Mbah Muhsin bertanya balik ke cucunya.

“Ya, itu yang saya bingung Mbah. Teman-teman juga bingung. Seorang Ustad di kampus pernah bilang, pokoknya jangan pilih Jokowi, karena ia dikendalikan oleh kekuatan asing dan konglomerat hitam yang dulu merugikan keuangan negara ratusan trilyun. Amerika dan jaringan Yahudi juga katanya lebih mendukung Jokowi.  Kalau pilih Prabowo, katanya ia emosional, dan ada adiknya yang misionaris Kristen. Padahal saudaranya itu yang punya uang banyak. Prabowo juga dikabarkan kurang tekun ibadahnya. Tapi, ada beberapa tokoh Islam mengatakan ia suka membela orang Islam. Bagaimana ini Mbah. Bingung milihnya! Padahal, beberapa pengamat bilang, cuma dua calon itu yang kuat? Katanya, dulunya Jokowi diangkat untuk menjegal Prabowo; dan sebaliknya, hanya Prabowo yang bisa membendung Jokowi. Pokoknya, banyak sekali berita yang sulit bagi saya menerima atau menolaknya!”

“Yo, yo,yo…. , ngono yo Le…. wah pancen angel iki,” Mbah Muhsin bergumam sendiri, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya; kelihatan sedang merenungkan sesuatu.

“ Terus gimana Mbah? Apa tidak usah milih saja?” Kirno mendesak kakeknya.

“Kenapa tidak memilih?” tanya Mbah Muhsin.

“Ya, karena dua-duanya bisa merugikan Islam, karena mereka sekuler, tidak tulus ikhlas berpihak kepada aspirasi Islam?”

“ Kalau kamu tidak milih, apa lalu Presidennya bisa lebih baik?”

“Itulah Mbah yang membuat saya dan teman-teman bingung!”

“Ya, makanya,  jangan memutuskan tidak milih dulu! Dipikir yang baik. Nanti dulu, saya pikir baik-baik. Tunggu sebentar yo Le,” kata Mbah Muhsin yang berucap dalam bahasa Jawa campur bahasa Indonesia.

Kirno tidak tahu, apa yang dikerjakan Mbah Muhsin di dalam kamarnya. Sekitar 15 menit kemudian, Mbah Muhsin kembali menemui Kirno. “Kita ngomong di dalam saja, Kirno…, nggak enak didengar orang.”

Kirno menuruti langkah kakeknya. Tanpa diduganya, ia diajak memasuki kamar yang dipenuhi buku. Pemandangan di depannya nyaris membuatnya tak percaya. Kakeknya menyimpan begitu banyak koleksi buku. Penampilan kakeknya pun tak mencerminkan ia seorang peminat buku. Apalagi, tak pernah didengarnya sang kakek membicarakan masalah politik  dan keagamaan kontemporer.  Orang tuanya juga tidak pernah bercerita tentang hal ini.

“Kirno, sudah saatnya Mbah beritahu kamu satu rahasia. Ini kumpulan tulisan Mbah di sebuah majalah Islam tahun 1950-an.  Mbah gunakan nama samaran: Ki Sarmidi. Dulu Mbah aktif menulis tentang  pemikiran sekulerisme dan komunisme. Alhamdulillah, nama asli Mbah tidak pernah terbuka. Hanya redaksi saja yang tahu, dan mereka menyembunyikan identitas Mbah, sampai mereka semua meninggal dunia.”

Kirno hanya terdiam, terselimuti rasa takjub. Dibolak-baliknya lembaran-lembaran kliping artikel yang semakin mencoklat warnanya. Ada beberapa bagian sulit dibaca. Tatapannya terhenti pada sebuah artikel berjudul  “Jalan Kehancuran Negara Sekuler”. Sambil tetap berdiri, dibacanya pelan-pelan artikel yang sudah buram tulisannya itu. Hatinya takjub. Kalimat demi kalimat yang dibacanya terasa tajam dalam menguliti kekeliruan paham sekulerisme.

Melihat cucunya bersemangat membaca artikelnya, Mbah Muhsin mengambil sebuah diktat lusuh dari tumpukan koleksinya.  Diktat itu bertuliskan “Islam Sebagai Dasar Negara: Salinan dari buku Teks Pidato M. Natsir di muka sidang pleno Badan Konstituante, 20 Juli 1957 di Bandung.”  

“Ini kamu baca, Mbah tinggal dulu sebentar. Mbah  ada perlu.  InsyaAllah satu jam lagi kembali. Kita diskusikan isi diktat ini,” kata Mbah Muhsin, sambil bergegas meninggalkan cucunya. Dalam hatinya ia bersyukur, ada diantara garis keturunannya yang berminat memahami sejarah perjuangan Islam. Sudah lama ia menunggu-nunggu saat tepat untuk membuka tabir dirinya.

Sebagai aktivis mahasiswa Islam, Kirno sudah akrab dengan nama Mohammad  Natsir, tokoh dan pejuang Islam yang belakangan juga diakui sebagai salah satu Pahlawan Nasional.  Namanya sangat harum karena pemikiran dan akhlaknya bisa dijadikan teladan. Namun, Kirno belum membaca secara khusus pemikiran Pak Natsir dalam soal kenegaraan. Kini di tangannya terpampang dengan cukup jelas, uraian-uraian Pak Natsir tentang kekeliruan dan bahaya paham sekulerisme bagi bangsa Indonesia.  Uraian itu begitu mempesona dan mudah dipahami. Kalimat demi kalimat isi pidato Pak Natsir itu ia cerna dengan hati-hati:

*****

Pilihan kita, satu dari dua: sekulerisme atau agama….

Sdr. Ketua!

“Sejarah manusia umumnya pada tinjauan terakhirnya, memberikan kepada kita pada final analisisnya hanya dua alternatif  untuk meletakkan dasar negara dalam sikap asasnya (principle attitude-nya), yaitu: (1) faham sekulerisme (la-dieniyah) tanpa agama, atau (2) faham agama (dieny). 

Sdr. Ketua!

Apa itu sekulerisme, tanpa agama, la-dieniyah?

Sekulerisme adalah suatu cara hidup yang mengandung paham tujuan dan sikap hanya di dalam batas hidup keduniaan. Segala sesuatu dalam kehidupan kaum sekuleris tidak ditujukan kepada apa yang melebihi batas keduniaan. Ia tidak mengenal akhirat, Tuhan, dsb. Walaupun ada kalanya mereka mengakui akan adanya Tuhan, tapi dalam penghidupan perseorangan sehari-hari umpamanya, seorang sekuleris tidak menganggap perlu adanya hubungan jiwa dengan Tuhan, baik dalam sikap, tingkah laku dan tindakan sehari-hari, maupun hubungan jiwa dalam arti doa dan ibadah. Seorang sekuleris tidak mengakui adanya wahyu sebagai salah satu sumber kepercayaan dan pengetahuan. Ia menganggap bahwa kepercayaan dan nilai-nilai moral itu ditimbulkan oleh masyarakat semata-mata. Ia memandang bahwa nilai-nilai itu ditimbulkan oleh sejarah atau pun oleh bekas-bekas kehewanan manusia semata-mata, dan dipusatkan kepada kebahagiaan manusia dalam penghidupan saat ini belaka…

Di lapangan ilmu pengetahuan, Sdr. Ketua, sekulerisme menjadikan ilmu-ilmu terpisah daripada nilai-nilai hidup dan peradaban. Timbullah pandangan bahwa ilmu ekonomi harus dipisahkan dari etika. Ilmu sejarah harus dipisahkan dari etika. Ilmu sosial harus dipisahkan dari norma-norma moral, kultur dan kepercayaan. Demikian juga ilmu jiwa, filsafat, hukum, dsb. Sekedar untuk kepentingan obyektiviteit. Sikap memisahkan etika dari ilmu pengetahuan ada gunanya, tetapi ada batas-batas dimana kita tidak dapat memisahkan ilmu pengetahuan dari etika.

Kemajuan ilmu teknik dapat membuat bom atom. Apakah ahli-ahli ilmu pengetahuan yang turut menyumbangkan tenaga atas pembikinan bom tersebut harus ikut bertanggungjawab atas pemakaiannya atau tidak? Bagi yang memisahkan etika dari ilmu pengetahuan mudah saja untuk melepaskan tanggungjawab atas pemakaian  bom itu. Di sini kita lihat betapa jauhnya sekulerisme. Ilmu pengetahuan sudah dijadikan tujuan tersendiri, science for the sake of science. 

Di dalam penghidupan perseorangan dan masyarakat, sekulerisme la-dieniyah tidak memberi petunjuk-petunjuk yang tegas. Ukuran-ukuran yang dipakai oleh sekulerisme banyak macamnya. Ada yang berpendapat bahwa hidup bersama laki-laki dan wanita tanpa kawin tidak melanggar kesusilaan. Bagi satu negara menentukan sikap yang tegas terhadap hal ini adalah penting. Sekulerisme dalam hal ini tidak dapat memberi pandangan yang tegas, sedangkan agama dapat memberi keputusan yang terang. 

Pengakuan atas hak milik perseorangan, batas-batas yang harus ditentukan antara hak-hak buruh dan majikan, apa yang kita maksud dengan perkataan “adil dan makmur”, ini semua ditentukan oleh kepercayaan kita. Sekulerisme tidak mau menerima sumber ke-Tuhanan untuk menentukan soal-soal ini. Kalau demikian terpaksalah kita melihat sumber paham-paham dan nilai-nilai itu semata dari pertumbuhan masyarakat yang sudah berabad-abad berjalan sebagaimana yang didorongkan oleh sekulerisme. Ini tidak akan memberi pegangan yang teguh. Ada beribu-ribu masyarakat yang melahirkan bermacam-macam nilai. Ambillah, misalnya soal bunuh diri. Ada masyarakat yang mengijinkan dan ada yang melarang. Yang mana yang harus dipakai? Bagi suatu negara mengambil sikap yang menentukan adalah penting, karena hukum-hukum mengenai sikap yang menentukan adalah penting, karena hukum-hukum mengenai persoalan itu akan dipengaruhi oleh sikap tersebut. Lagi, disini sekulerisme tidap dapat memberikan pandangan yang positif. 

Jika timbul pertanyaan, apa arti penghidupan ini, sekulerisme tidak dapat menjawab dan tidak merasa perlu menjawabnya. Orang yang kehilangan arti tentang kehidupan, akan mengalami kerontokan rohani. Tidaklah heran, bahwa di dalam penghidupan perseorangan, sekulerisme menyuburkan penyakit syaraf  dan rohani. Manusia membutuhkan suatu pegangan hidup yang asasnya tidak berubah. Jika ini hilang, maka mudahlah baginya mengalami taufan rohani. Demikian akibat pemahaman sekulerisme dalam hidup orang perseorangan. Pengaruh agama terhadap kesehatan rohani ini telah diakui oleh ilmu jiwa jaman sekarang….

Ada satu pengaruh sekulerisme yang akibatnya paling berbahaya dibandingkan dengan yang saya telah sabut tadi. Sekuleris, sebagaimana kita telah terangkan, menurunkan sumber-sumber nilai hidup manusia dari taraf ke-Tuhanan kepada taraf  kemasyarakatan semata-mata. Ajaran tidak boleh membunuh, kasih sayang sesama manusia, semuanya itu menurut sekulerisme, sumbernya bukan wahyu Ilahi, akan tetapi apa yang dinamakan: Penghidupan masyarakat semata-mata. Umpamanya dahulu kala nenek moyang kita, pada suatu ketika, insaf bahwa jika mereka hidup damai dan tolong menolong tentu akan menguntungkan semua pihak. Maka dari situlah katanya timbul larangan terhadap membunuh dan bermusuhan.

Kita akan lihat betapa berbahayanya akibat pandangan yang demikian. Pertama, dengan menurunkan nulai-nilai adab dan kepercayaan ke taraf perbuatan manusia dalam pergolakan masyarakat, maka pandangan manusia terhadap nilai-nilai tersebut merosot. Dia merasa dirinya lebih tinggi daripada nilai-nilai itu! Ia menganggap nilai-nilai itu bukan sebagai sesuatu yang dijunjung tinggi, tapi sebagai alat semata-mata karena semua itu adalah ciptaan manusia sendiri… 

*****

Kirno terpekur merenungkan kalimat demi kalimat sebagian dari isi pidato Pak Natsir itu. Sebagai mahasiswa ilmu budaya, ia sangat akrab dengan pemikiran sekuler yang dikritik secara tajam oleh Pak Natsir.  Ia baru paham, mengapa di kampusnya ada Fakultas Ilmu Budaya, tetapi tidak ada Fakultas Ilmu Agama. Itulah sebagian pandangan sekulerisme yang sebenarnya telah menempatkan manusia sebagai “Tuhan”, karena merasa berhak menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang halal dan mana yang haram.

Belum tuntas ia melanjutkan renungannya, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Kakeknya segera menyapanya. “Pidato Pak Natsir itu yang menginspirasi tulisan Mbah tentang sekulerisme. Kamu boleh bawa diktat itu dengan hati-hati dan jangan bercerita kepada siapa pun, termasuk kepada bapak ibumu. Mbah tidak ingin rahasia ini terungkap sampai Mbah meninggal.”

Kirno diam. Hatinya dipenuhi banyak pertanyaan, tetapi ia enggan bertanya lebih jauh. Yang terpikir olehnya, bagaimana ia diijinkan kakeknya untuk membaca koleksi buku-bukunya. Seakan memahami keinginan cucunya, Mbah Muhsin pun berujar, “Kamu saya beri kunci kamar ini. Kapan saja ada waktu kamu boleh membaca di sini. Tapi, jangan sampai ada orang yang tahu. Itu syaratnya.”

Kirno mengangguk. Tapi, ia segera menukas, “Terus Mbah, untuk Presiden Indonesia tahun 2014 ini, pilih siapa? Jokowi, Prabowo, Oma Irama, atau Aburizal Bakrie, atau siapa?”

“Saya ini di kampung. Tidak banyak mendengar informasi politik. Hanya mendengar pembicaraan orang dari pasar dan warung-warung. Tapi kalau melihat informasi yang ada, sebelum memilih, mestinya tokoh-tokoh Islam mendatangi para calon Presiden itu. Semuanya mereka Muslim dan sudah haji. Tanyakan kepada mereka satu-satu, bagaimana komitmennya terhadap apirasi Islam dan khususnya sikap mereka terhadap sekulerisme. Kalau tidak ada yang ideal, maka pilih yang paling kecil mudharatnya bagi umat Islam. Minimal, ia tidak memusuhi dakwah Islam, tidak menindas umat Islam, dan tidak memberikan dukungan kepada kaum misionaris, kapitalis, dan sekuleris.”

“Itu masih terlalu normatif  Mbah. Kurang praktis!”

“Ijtihad politik bisa berbeda, tergantung informasi yang kita terima, karena calon-calon yang ada tidak secara jelas berlatarbelakang ulama atau aktivis Islam dan  mempunyai visi dan misi keislaman yang tersurat, sebagaimana Pak Natsir itu.”

“Kalau Oma Irama, Mbah?”

“Dari omongan orang, katanya belum pasti Oma Irama akan dimajukan sebagai capres. Mungkin ia selama ini hanya digunakan untuk menarik suara, karena sekarang artis sudah dipuja melebihi ulama.  Saya tidak meragukan komitmen Oma Irama terhadap Islam, karena saya tahu sejak tahun 1970-an ia punya komitmen yang tinggi terhadap partai Islam. Banyak lagunya yang bermuatan dakwah dan politik Islam. Nanti kalau sudah pasti siapa capresnya, kamu ke sini lagi.”

“Kalau antara Jokowi dan Prabowo siapa Mbah yang lebih baik dipilih?”

“Ada kyai di Solo, murid Pak Natsir yang kenal keduanya. Kamu tanya dia. Ia tokoh terkenal. Mudah mencarinya!”

“Saya ingin tahu dari Mbah sendiri. Dari mata batin Mbah sendiri. Siapa yang lebih baik dipilih, andaikan capresnya nanti cuma Jokowi dan Prabowo?”

“Disamping kelemahannya, kelebihan Prabowo itu tegas dan berani serta nekad. Ia sudah kaya raya sejak dulu, sehingga tidak butuh uang. Latar belakang tentaranya mungkin masih diperlukan untuk mengatasi berbagai ancaman separatisme. Saya dengar, ia kenal baik dengan Pak Natsir. Kalau Prabowo berjanji mau mengaji dan mendengar nasehat ulama-ulama yang soleh, itu sangat baik.”

“Kalau Jokowi. Mbah?”

“Mbah juga dengar, ia orang baik. Ia suka kerja keras dan dekat dengan rakyat. Beratnya, seperti yang kamu ceritakan, di belakang dan sekeliling dia, diberitakan ada orang-orang yang lebih berpihak kepada sekulerisme dan mungkin beberapa diantaranya kepanjangan tangan kepentingan Yahudi dan misionaris Kristen. Saya tidak tahu, apakah Jokowi bisa keluar dari jeratan para pendukungnya itu?   Yang berat juga, jika Jokowi jadi Presiden, maka yang jadi Gubernur Jakarta adalah orang kafir!  Tentu, itu sangat berat bagi para ulama dan umat Islam yang tidak sekuler dan sadar akan ajaran al-Quran.  Sebab, pemimpin dalam Islam itu mempunyai tanggung jawab dunia dan akhirat.  Bagaimana jika simbol pemimpin ibukota negara muslim terbesar di dunia adalah seorang kafir!  Apakah bumi Jakarta yang dimerdekakan dri penjajah kafir  dengan tetesan darah para syuhada itu ridho menerima kepemimpinan orang kafir? Solusinya mudah saja. Gubernur Jakarta mau belajar Islam dengan ikhlas dan membuka pintu hatinya menerima hidayah Allah, bersedia memeluk Islam. Ini bukan untuk kepentingan jabatan, tetapi lebih untuk keselamatan dia sendiri, di dunia dan akhirat. Menurut Islam, kasihan orang kafir, sudah bekerja keras, tetapi amalnya tidak bernilai di mata Allah, seperti fatamorgana. Kamu baca QS 24:39!”

 “Wah, kalau Mbah ngomong seperti itu di media massa sekarang, Mbah akan dituduh picik, sektarian, tidak pluralis, tidak berwawasan kebangsaan, dan lain-lain. Pokoknya akan dicemooh habis-habisan, Mbah!”

“Ya, Mbah ini orang kuno Le. Hanya bicara dari hati saja. Tidak mau munafik. Terserah orang mau ngomong apa. Tanggung jawab kita di akhirat kan masing-masing. Kita hanya wajib menyampaikan kebenaran. Itu sikap yang harusnya ditunjukkan para politisi Muslim, seperti kamu baca dalam pidato Pak Natsir itu! Kami dulu bangga sekali mempunyai pemimpin seperti Pak Natsir. Pemikirannya hebat,jujur, dan tegas. Bahkan, musuh-musuh ideologis Pak Natsir pun menghormatinya, karena integritas pribadinya yang sangat tinggi.”

“Jadi, Mbah, pilih Jokowi atau Prabowo?”

“Kamu kan mahasiswa. Mbah tidak kuliah seperti kamu. Kamu bisa menyimpulkan sendiri apa yang Mbah sampaikan. Sekarang, coba kamu usahakan ketemu Jokowi dan Prabowo! Sampaikan pesan Mbah: “Kalau jadi Presiden, ingat tanggung jawab kepada Allah di  akhirat. Jangan mikir dunia saja. Karena mengaku Muslim, maka ikhlaslah untuk menjadikan Nabi Muhammad saw sebagai teladan hidup dan kepemimpinan. Jangan membohongi umat Islam! Hanya dekat saat perlu dukungan mereka, tapi setelah itu mendukung sekulerisme, kemusyrikan dan kemaksiatan. Ingatkan mereka, agar mau belajar dari para pemimpin sebelumnya.Bagaimana nasib mereka yang berani menipu Allah dan Rasul-Nya serta umat Islam!”

“Tapi, Mbah… itu sangat susah Mbah. Bagaimana cara menyampaikannya?”

“Berjuang itu memang tidak mudah, Le! Kalau mau yang mudah-mudah terus, ya jangan berjuang!”

Kirno ingin terus bertanya, tetapi azan ashar terdengar mengalun. Mbah Muhsin pun mengajak cucunya ke surau sebelah rumah. Kirno menurut, diam. Tapi hatinya bergejolak; tertantang untuk menyampaikan pesan kakeknya itu ke semua capres RI 2014-2019.

**Gambar dan tulisan diambil dari web Dr. Adian Husaini dengan link berikut

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with Adian Husaini at I Think, I Read, I Write.

%d blogger menyukai ini: