Karya Ulama dan Karya Kita

Januari 2, 2015 § Tinggalkan komentar

Apa yg akan kita sombongkan dari karya kita:

1) Apa yang mau kita sombongkan; jika Imam An Nawawi menulis Syarh Shahih Muslim yang tebal itu sedang beliau tak punya Kitab Shahih Muslim?

2) Beliau menulisnya berdasar hafalan atas Kitab Shahih Muslim yang diperoleh dari Gurunya; lengkap dengan sanad inti & sanad tambahannya.

3) Sanad inti maksudnya; perawi antara Imam Muslim sampai RasuluLlah. Sanad tambahan yakni; mata-rantai dari An Nawawi hingga Imam Muslim.

4) Jadi bayangkan; ketika menulis penjabarannya, An Nawawi menghafal 7000-an hadits sekaligus sanadnya dari beliau ke Imam Muslim sekira 9-13 tingkat Gurunya; ditambah hafal sanad inti sekira 4-7 tingkat Rawi.

5) Yang menakjubkan lagi; penjabaran itu disertai perbandingan dengan hadits dari Kitab lain (yang jelas dari hafalan sebab beliau tak mendapati naskahnya), penjelasan kata maupun maksud dengan atsar sahabat, Tabi’in, & ‘Ulama; munasabatnya dengan Ayat & Tafsir, istinbath hukum yang diturunkan darinya; dan banyak hal lain lagi.

7) Hari ini kita menepuk dada; dengan karya yang hanya pantas jadi ganjal meja beliau, dengan kesulitan telaah yang tak ada seujung kukunya.

8) Hari ini kita jumawa; dengan alat menulis yang megah, dengan rujukan yang daring, & tak malu sedikit-sedikit bertanya pada Syaikh Google.

9) Kita baru menyebut 1 karya dari seorang ‘Alim saja sudah bagai langit & bumi rasanya. Bagaimana dengan kesemua karyanya yang hingga umur kita tuntaspun takkan habis dibaca?

10) Bagaimana kita mengerti kepayahan pada zaman mendapat 1 hadits harus berjalan berbulan-bulan?

11) Bagaimana kita mencerna; bahwa dari nyaris 1.000.000 hadits yang dikumpulkan & dihafal seumur hidup; Al Bukhari memilih 6000-an saja?

12) Atas ratusan ribu hadits yang digugurkan Al Bukhari; tidakkah kita renungi; mungkin semua ucap & tulisan kita jauh lebih layak dibuang?

13) Kita baru melihat 1 sisi saja bagaimana mereka berkarya; belum terhayati bahwa mereka juga bermandi darah & berhias luka di medan jihad.

14) Mereka kadang harus berhadapan dengan penguasa zhalim & siksaan pedihnya, si jahil yang dengki & gangguan kejinya. Betapa menyesakkan.

15) Kita mengeluh listrik mati atau data terhapus; Imam Asy Syafi’i tersenyum kala difitnah, dibelenggu, & dipaksa berjalan Shan’a-Baghdad.

16) Kita menyedihkan laptop yang ngadat & deadline yang gawat; punggung Imam Ahmad berbilur dipukuli pagi & petang hanya karena 1 kalimat.

17) Kita berduka atas agal terbitnya karya; Imam Al Mawardi berjuang menyembunyikan tulisan hingga menjelang ajal agar terhindar dari puja.

18) Mari kembali pada An Nawawi & tak usah bicara tentang Majmu’-nya yang dahsyat & Riyadhush Shalihin-nya yang permata; mari perhatikan karya tipisnya; Al Arba’in. Betapa barakah; disyarah berratus, dihafal berribu, dikaji berjuta manusia & tetap menakjubkan susunannya.

19) Maka tiap kali kita bangga dengan “best seller”, “nomor satu”, “juara”, “dahsyat”, & “terhebat”; liriklah kitab kecil itu. Lirik saja.

20) Agar kita tahu; bahwa kita belum apa-apa, belum ke mana-mana, & bukan siapa-siapa. Lalu belajar, berkarya, bersahaja.

Kultwit ust. Salim A. Fillah

Rizqi dan Ikhtiar

Oktober 10, 2014 § Tinggalkan komentar

Mungkin kau tak tahu di mana rizqimu. Tapi rizqimu tahu di mana engkau. Dari langit, laut, gunung, & lembah; Rabb memerintahkannya menujumu.

Allah berjanji menjamin rizqimu. Maka melalaikan ketaatan padaNya demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijaminNya adalah kekeliruan berganda.

Tugas kita bukan mengkhawatiri rizqi atau bermuluk cita memiliki; melainkan menyiapkan jawaban “Dari Mana” & “Untuk Apa” atas tiap karunia.

Betapa banyak orang bercita menggenggam dunia; dia alpa bahwa hakikat rizqi bukanlah yang tertulis dalam angka; tapi apa yang dinikmatinya.

Betapa banyak orang bekerja membanting tulangnya, memeras keringatnya; demi angka simpanan gaji yang mungkin esok pagi ditinggalkannya mati.

Maka amat keliru jika bekerja dimaknai mentawakkalkan rizqi pada perbuatan kita. Bekerja itu bagian dari ibadah. Sedang rizqi itu urusanNya.

Kita bekerja tuk bersyukur, menegakkan taat & berbagi manfaat. Tapi rizqi tak selalu terletak di pekerjaan kita; Allah taruh sekehendakNya.

Bukankah Hajar berlari 7x bolak-balik dari Shafa ke Marwa; tapi Zam-zam justru terbit di kaki bayinya? Ikhtiar itu laku perbuatan. Rizqi itu kejutan.

Ia kejutan tuk disyukuri hamba bertaqwa; datang dari arah tak terduga. Tugasnya cuma menempuh jalan halal; Allah lah yang melimpahkan bekal.

Sekali lagi; yang terpenting di tiap kali kita meminta & Allah memberi karunia; jaga sikap saat menjemputnya & jawab soalanNya, “Buat apa?”

Betapa banyak yang merasa memiliki manisnya dunia; lupa bahwa semua hanya “hak pakai” yang halalnya akan dihisab & haramnya akan di’adzab.

Banyak yang mencampakkan keikhlasan ‘amal demi tambahan harta, plus dibumbui kata tuk bantu sesama; lupa bahwa ‘ibadah apapun semata atas pertolonganNya.

Dengan itu kita mohon “Ihdinash Shirathal Mustaqim”; petunjuk ke jalan orang nan diberi nikmat ikhlas di dunia & nikmat ridhaNya di akhirat.

Maka segala puji bagi Allah; hanya dengan nikmatNya-lah menjadi sempurna semua kebajikan.

Ya Allah mudahkanlah kami dalam mensyukuri karuniaMU..
Istiqomahkan kami dalam taat padaMU..
Matikanlah kami dalam keadaan ridho dan diridhoi..
Amiin…

*Tulisan ini adalah hasil saduran yang saya dapati dari lini masa salah seorang teman di facebook*

Seorang Ayah, di Lapis Berkah

Agustus 19, 2014 § Tinggalkan komentar

Sebagai seorang pria yang lika-liku hidupnya kelak akan diwarnai oleh pasangan, anak dan tatanan kehidupan yang lebih kompleks, adalah sangat elok untuk mendapatkan seputar nasihat tentang bagaimana hubungan peran seorang ayah dengan keimanan terhadap Allah agar kehidupan keluarga diwarnai oleh keberkahan. Ustad muda Salim A. Fillah telah membuat sebuah karya untuk para ayah dan calon ayah yang kelak akan menjadi pahlawan pertama putranya dan juga cinta pertama putrinya.

Mari kita simak tulisan berikut yang disadur dari blog beliau

*****

LLK 2a

Di lapis-lapis keberkahan, mari sejenak belajar dari seorang ayah, budak penggembala kambing yang bertubuh kurus, berkulit hitam, berhidung pesek, dan berkaki kecil. Tetapi manusia menggelar hamparan mereka baginya, membuka pintu mereka selebar-lebarnya, dan berdesak-desak demi menyimak kata-kata hikmahnya. Dia, Luqman ibn ‘Anqa’ ibn Sadun, yang digelari Al Hakim.

Seseorang pernah bertanya kepadanya, “Apa yang telah membuatmu mencapai kedudukan serupa ini?”

“Aku tahan pandanganku”, jawab Luqman, “Aku jaga lisanku, aku perhatikan makananku, aku pelihara kemaluanku, aku berkata jujur, aku menunaikan janji, aku hormati tamu, aku pedulikan tetanggaku, dan aku tinggalkan segala yang tak bermanfaat bagiku.”

Dia tak diberikan anugrah berupa nasab, kehormatan, harta, atau jabatan”, ujar Abud Darda’ Radhiyallahu ‘Anhu ketika menceritakan Luqman Al Hakim. “Akan tetapi dia adalah seorang yang tangguh, pendiam, pemikir, dan berpandangan mendalam. Dia tidak pernah terlihat oleh orang lain dalam keadaan tidur siang, meludah, berdahak, kencing, berak, menganggur, maupun tertawa seenaknya. Dia tak pernah mengulang kata-katanya, kecuali ucapan hikmah yang diminta penyebutannya kembali oleh orang lain.”

“Dan Kami telah mengaruniakan hikmah kepada Luqman, bahwasanya hendaklah engkau bersyukur kepada Allah. Dan barangsiapa bersyukur, maka hanyasanya dia bersyukur bagi dirinya. Dan barangsiapa mengkufuri nikmat, sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuja.” (QS Luqman [31]: 12)

“Hikmah”, tulis Imam Ibn Katsir dalam Tafsirnya, “Yakni pengetahuan, pemahaman, dan daya untuk mengambil pelajaran.” Inilah yang menjadikan Luqman berlimpah kebijaksanaan dalam kata maupun laku. Tetapi setinggi-tinggi hikmah itu adalah kemampuan Luqman untuk bersyukur dan kepandaiannya untuk mengungkapkan terimakasih.

“Kemampuan untuk mensyukuri suatu nikmat”, ujar ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz, “Adalah nikmat yang jauh lebih besar daripada nikmat yang disyukuri itu.” Dan pada Luqman, Allah mengaruniakannya hingga dia memahami hakikat kesyukuran secara mendalam. Bersyukur kepada Allah berarti mengambil maslahat, manfaat, dan tambahan nikmat yang berlipat-lipat bagi diri kita sendiri. Bersyukur kepada Allah seperti menuangkan air pada bejana yang penuh, lalu dari wadah itu tumpah ruah bagi kita minuman yang lebih lembut dari susu, lebih manis dari madu, lebih sejuk dari salju.

Adapun bagi yang mengkufuri Allah, adalah Dia Maha Kaya, tidak berhajat sama sekali pada para hambaNya, tidak memerlukan sama sekali ungkapan syukur mereka, dan tidak membutuhkan sama sekali balasan dari mereka. Lagi pula Dia Maha Terpuji, yang pujian padaNya dari makhluq tidaklah menambah pada kemahasempurnaanNya, yang kedurhakaan dari segenap ciptaanNya tidaklah mengurangi keagunganNya.

Maka Luqman adalah ahli syukur yang sempurna syukurnya kepada Allah. Dia mengakui segala nikmat Allah yang dianugrahkan padanya dan memujiNya atas karunia-karunia itu. Dia juga mempergunakan segala nikmat itu di jalan yang diridhai Allah. Dan dia pula berbagi atas nikmat itu kepada sesama sehingga menjadikannya kemanfaatan yang luas.

“Seseorang yang tidak pandai mensyukuri manusia”, demikian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam hadits riwayat Imam At Tirmidzi, “Sungguh dia belum bersyukur kepada Allah.” Maka asas di dalam mendidik dan mewariskan nilai kebaikan kepada anak-anak sebakda bersyukur kepada Allah sebagai pemberi karunia adalah bersyukur kepada sang karunia, yakni diri para bocah yang manis itu.

Di lapis-lapis keberkahan, rasa syukur yang diungkapkan kepada anak-anak kita adalah bagian dari bersusun-susun rasa surga dalam serumah keluarga.

“Nak, sungguh kami benar-benar beruntung ketika Allah mengaruniakan engkau sebagai buah hati, penyejuk mata, dan pewaris bagi kami. Nak, betapa kami sangat berbahagia, sebab engkaulah karunia Allah yang akan menyempurnakan pengabdian kami sebagai hambaNya dengan mendidikmu. Nak, bukan buatan kami amat bersyukur, sebab doa-doamulah yang nanti akan menyelamatkan kami dan memuliakan di dalam surga.”

Inilah Rasulullah yang mencontohkan pada kita ungkapan syukur itu bukan hanya dalam kata-kata, melainkan juga perbuatan mesra. “Ya Rasulallah, apakah kau mencium anak-anak kecil itu dan bercanda bersama mereka?”, tanya Al Aqra’ ibn Habis, pemuka Bani Tamim ketika menghadap beliau yang sedang direriung oleh cucu-cucu Baginda.

“Mereka adalah wewangian surga, yang Allah karuniakan pada kita di dunia”, jawab beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sembari tersenyum.

“Adalah aku”, sahut Al Aqra’ ibn Habis, “Memiliki sepuluh anak. Dan tak satupun di antara mereka pernah kucium.”

“Apa dayaku jika Allah telah mencabut rahmatNya dari hatimu? Barangsiapa yang tidak menyayangi, dia tidak akan disayangi.”

“Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya dan dia sedang memberi pengajaran kepadanya, ‘Duhai anakku tersayang, janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya kesyirikan adalah kezhaliman yang besar.” (QS Luqman [31]: 13)

Dengarlah Luqman memanggil putranya, Tsaran ibn Luqman dengan sapaan penuh cinta, “Ya Bunayya.. Anakku tersayang.” Alangkah besar hal yang akan dia ajarkan. Betapa agung nilai yang akan dia wariskan. Yakni tauhid. Bahwa Allah adalah Rabb, Dzat  yang telah mencipta, mengaruniakan rizqi, memelihara, memiliki, dan mengatur segala urusannya. Maka mempersekutukan Dia; dalam ibadah, pengabdian, dan ketaatan adalah sebuah kezhaliman yang besar.

Kenalkanlah Allah pada anak-anak kita sejak seawal-awalnya, dengan cara yang paling pantas bagi keagungan dan kemuliaanNya. Kenalkanlah Allah pada anak-anak kita dari semula-mulanya, dengan kalimat yang paling layak bagi kesucian dan keluhuranNya. Kenalkanlah Allah pada anak-anak kita mulai sepangkal-pangkalnya, dengan ungkapan dan permisalan yang paling sesuai bagi kesempurnaan dan kebesaranNya.

Sebab janji kehambaan seorang makhluq telah diikrarkan sejak di alam ruh, maka membisikkan tauhid ke dalam kandungan, melirihkannya pada telinga sang bayi dalam buaian, atau menyenandungkannya sebagai pengajaran adalah baik adanya.

“Dan Kami wasiatkan kepada manusia kebaikan terhadap kedua orangtuanya; ibunya yang telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, ‘Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua orangtuamu. KepadaKulah tempat kembalimu.”(QS Luqman [31]: 14)

Maha Mulia-lah Dzat yang dalam pembicaraan tentang keesaanNya dari pengajaran seorang ayah kepada putra, Dia meminta perhatian sejenak tentang hak kedua orangtua. Maha Agung-lah Dzat yang dalam penuturan tentang ketauhidanNya dari wasiat seorang bapak kepada anak, Dia mengingatkan kita tentang kebaikan yang wajib kita tanggung terhadap sosok yang telah mengandung, melahirkan, mendidik, dan menumbuhkan kita.

Sesungguhnya lisan perbuatan jauh lebih fasih daripada lisan perucapan. Maka apa yang dilihat oleh anak-anak kita akan terrekam lebih kokoh di dalam benak dan jiwa mereka dibanding semua kata-kata yang coba kita ajarkan padanya. Maka siapapun yang merindukan anak berbakti bakda ketaatannya kepada Allah, bagaimana dia memperlakukan kedua orangtua adalah cermin bagaimana kelak putra-putrinya berkhidmat kala usia telah menua.

Allah menyatukan antara kesyukuran padaNya dengan kesyukuran pada orangtua, sebab melalui ayah dan ibulah Dia mencipta kita, memelihara, mengaruniakan rizqi, serta mengatur urusan. Ayah dan ibu adalah sarana terjadinya kita, terjaganya, tercukupi keperluannya, serta tertata keadaannya. Maka Allah menganugerahkan kehormatan kepada mereka dengan doa yang indah, “Rabbighfirli wa li walidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira.

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tiada pengetahuan bagimu terhadapnya, maka janganlah kau taati keduanya. Dan persahabatilah mereka berdua di dunia dengan baik. Dan ikutilah jalan orang yang kembali bertaubat kepadaKu, kemudian hanya kepadaKulah tempat pulang kalian, maka akan Kuberitakan pada kalian apa-apa yang telah kalian kerjakan.” (QS Luqman [31]: 15)

Allah memberikan batas yang jelas tentang bakti kepada orangtua, yakni lagi-lagi tauhid itu sendiri. Tidak ada ketaatan kepada makhluq, siapapun dia, semulia apapun dia, dalam rangka bermaksiat kepada Al Khaliq. Tapi berbedanya keyakinan orangtua yang masih musyrik dengan kita yang mengesakan Allah sama sekali tak menggugurkan perlakuan yang patut dan sikap bakti yang terpuji terhadap mereka.

Jalan untuk menjadi orangtua yang mampu mendidik anaknya juga hendaknya mengikuti jalan orang-orang yang bertaubat nashuha. Sebab tak ada yang suci dari dosa selain Sang Nabi, maka sebaik-baik insan adalah yang menyesali salah, memohon ampun atasnya, memohon maaf kepada sesama, serta berbenah memperbaiki diri. Pun demikian terhadap anak-anak kita.

Banyakkan istighfar atas ucapan dan perlakuan kepada putra-putri kita. Jangan malu mengakui kekhilafan dan meminta maaf kepada mereka. Teruslah memperbaiki diri dengan ilmu dan pemahaman utuh bagaimana seharusnya menjadi seorang Ayah dan Ibu yang amanah. Sebab kelak, ketika seluruh ‘amal kita kembali tertampak, Allah pasti menanyakan segenap nikmat yang telah kita kecap, dan meminta pertanggungjawaban atas segala perbuatan. Pada hari itu, seorang anak yang tak dipenuhi hak-haknya oleh orangtua untuk mendapatkan ibunda yang baik, lingkungan yang baik, nama yang baik, serta pengajaran adab yang baik; berwenang untuk menggugat mereka.

“Duhai anakku tersayang, sungguh seandainya ada sesuatu yang seberat timbangan biji sawi tersembunyi di dalam sebuah batu, atau di lapis-lapis langit, atau di petala bumi; niscaya Allah akan mendatangkan balasannya. Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Tahu.” (QS Luqman [31]: 16)

Luqman melanjutkan pengajarannya dengan menjelaskan hakikat ‘amal baik dan buruk serta dasar dorongan beramal yang sejati. Ini dilakukannya sebelum memberi perintah tentang ‘amal shalih di kalimat berikutnya. Sungguh, menanamkan pada anak-anak kita bahwa Allah senantiasa ada, bersama, melihat, mendengar, mengawasi, dan mencatat perbuatan dan keadaan mereka, jauh lebih penting dibanding perintah ‘amal itu sendiri.

Sungguh memahamkan pada anak bahwa Allah-lah yang senantiasa hadir di setiap ‘amal maupun hal, bahwa Dia Maha Mengetahui segala yang tampak maupun tersembunyi, yang mereka lakukan kala ramai bersama maupun sunyi sendiri, adalah dasar terpenting sebelum memerintahkan kebajikan dan melarang dari kemunkaran. Dan bahwa Allah akan membalas semua itu dengan balasan yang setimpal dan sempurna.

Penting bagi kita untuk mengatakan pada mereka, “Nak, Ayah dan Ibu tak selalu bias bersamamu dan mengawasimu, tapi Allah senantiasa dekat dan mencatat perbuatanmu. Dia Maha Melihat dan Maha Mendengar. Jangan takut kalau kamu berlaku benar dan berbuat baik, sebab Dia akan selalu menolongmu. Jangan khawatir ketika kamu berlaku benar dan berbuat baik, sebab sekecil apapun ‘amal shalihmu, meski Ayah dan Ibu serta Gurumu tak tahu, tak dapat memuji maupun memberikan hadiah padamu; tetapi Allah selalu hadir dan balasan ganjaran dari Allah jauh lebih baik dari segala hal yang dapat diberikan oleh Ayah dan Ibu.”

“Demikian pula Nak, jika kamu berbuat keburukan atau berbohong, sekecil apapun itu, meski Ayah, Ibu, maupun Ustadzmu tak menyadarinya, sungguh Allah pasti tahu. Dialah Dzat yang tiada satu halpun lepas dari pengetahuan dan kuasaNya, hatta daun yang jatuh dan langkah seekor semut di malam gulita. Dan Allah juga pasti memberi balasan yang adil pada setiap kedurhakaan padaNya, juga atas keburukan yang kamu lakukan pada Ayah, Ibu, dan sesama manusia lainnya.”

Inilah dia pokok-pokok pengajaran; dari sejak rasa syukur, tauhid, bakti kepada orangtua, taubat, hingga pemahaman akan hakikat ‘amal di hadapan Allah. Ianya harus menjadi perhatian setiap orangtua bahkan sebelum memerintahkan ‘amal terpenting di hidup anak-anak mereka yang akan dihisab pertama kalinya, yakni shalat. Kini kita tepekur menganggukkan kepala, mengapa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberi arahan agar kita memerintahkan shalat kepada anak barulah ketika dia berumur tujuh, dan barulah orangtua diizinkan memberi pukulan yang tidak menyakitkan dan tidak menghinakan pada umur sepuluh tahun ketika anaknya menolak shalat.

Sebab sebelum tujuh tahun, ada hal-hal jauh lebih besar yang harus lebih didahulukan untuk ditanamkan padanya.

“Duhai anakku tersayang, tegakkanlah shalat, perintahkanlah yang ma’ruf, cegahlah dari yang munkar, dan bersabarlah atas apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara-perkara yang ditekankan.” (QS Luqman [31]: 17)

“Dirikanlah shalat dengan menegakkan batas-batasnya”, tulis Imam Ibn Katsir dalam Tafsirnya, “Menunaikan fardhu-fardhunya, serta menjaga waktu-waktunya.” Shalat yang mencegah perbuatan keji dan munkar pada diri selayaknya diikuti tindakan untuk mengajak dan menjaga manusia supaya tetap berada di dalam kebaikan dan terjauhkan dari keburukan. Shalat yang kita ajarkan pada anak-anak kita sudah selayaknya membentuk jiwa dakwah yang tangguh pada dirinya, hingga dia mampu bersabar atas segala yang menimpanya di dalam beriman, berislam, berihsan, berilmu, dan berdakwah.

“Dan janganlah engkau memalingkan muka dari manusia serta jangan berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah engkau dalam berjalan, serta tahanlah sebagian suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.” (QS Luqman [31]: 18-19)

Kata “Ash Sha’r”, menurut Imam Ath Thabari asalnya bermakna penyakit yang menimpa tengkuk seekor unta sehingga kepala dan punuknya melekat dengan wajah yang terangkat ke atas lagi bergerak ke kiri dan ke kanan di kala berjalan. Luqman melarang putranya dari mengangkat wajah dan memalingkan muka semacam itu dengan rasa sombong yang berjangkit di hati.

Inilah buah dari iman, ilmu, ‘amal, dan dakwah dari seorang putra yang dididik oleh ayahnya. Ialah akhlaq yang indah kepada sesama, berpangkal dari lenyapnya rasa angkuh dalam dada sebab mengenal dirinya dan merundukkan diri karena tahu bahwa dia hanya salah satu makhluq Allah yang memiliki banyak kelemahan serta kesalahan. Inilah akhlaq itu, yakni saripati yang manis, harum, dan lembut dari buah pohon yang akarnya kokoh menghunjam, batangnya tegak menjulang, dan cecabangnya rimbun menggapai langit.

Dan akhirnya, akhlaq itu disuguhkan dalam tampilan yang paling menawan berupa terjaganya Adab dengan cara berjalan yang sopan dan patut serta cara bicara yang lembut dan santun. Inilah pengajaran sempurna dari Luqman kepada putranya, digenapi dengan panduan mengejawantahkan akhlaq menjadi adab. Akhlaq adalah nilai kokoh yang menetap dalam jiwa. Adab mengenal zaman dan tempat yang bertepatan baginya.

Inilah bersusun-susun rasa surga di serumah keluarga, teladan dari Luqman dalam mewariskan nilai-nilai kebajikan pada anaknya, di lapis-lapis keberkahan yang penuh cinta.

sepenuh cinta,

-salim a. fillah-

Smile in Each Moment

Mei 14, 2013 § Tinggalkan komentar


smile

By Leo Babauta

There’s a tendency to get caught up in the tasks of our day, the urgency of what’s coming up, the distractions of being online.

And we forget to smile.

In the rush of the day, the stress of wanting things to happen a certain way, we lose the enjoyment of each moment.

In every moment, there’s the capacity for happiness. It’s not that we need to be ecstatic, full of pleasure, excited or even joyous each and every second of the day. Who needs that kind of pressure? And it’s not that we can never feel sadness or anger or stress. It’s that we can feel happiness, in some form, any moment we like, even in the midst of stress or sadness.

And it’s exceedingly simple. We just need to remember to smile.

You can smile in each and every moment.

OK, maybe you don’t need a smile on your face all day long — your cheeks will feel tired. But we can smile more, and in between physical smiles, we can have an internal smile.

Try an internal smile now: have a calm, unsmiling face, but think of the miracle of this moment, and find a thought to smile about. Feel the smiling feeling inside. Isn’t that amazing?

What do you have to smile about in this moment?

Some ideas:

  • You have someone in your life who cares about you.
  • There is beauty all around you, in many forms.
  • You are generous, compassionate, and good-hearted.
  • You have someone you can help.
  • You have eaten today.
  • You can move.
  • You can see the sun shining.
  • You can appreciate the leaves of a tree, rain falling, wind blowing.
  • You can taste chocolate.
  • You get to spend time with someone you love.
  • You have music in your life.
  • You get to create something.

And so on. You probably don’t have all of these, but you might have one or two, and if so, that’s a more than good enough cause to smile.

You’ll forget to smile in some moments, because your mind gets caught up in stories about the past, stresses about what might happen in the future. None of this is happening right now — it’s just movies playing in our heads.

Instead, remind yourself of what’s happening right now, and see the beauty in it, see the reason to smile. And then smile, externally and internally.

This changes your day, because now instead of being caught up in stress and stories, we are present, and happy. We can be content with every moment.

It changes your life, because too often we miss the smile-ability of life when we are not paying attention.

Source : Here

Takwa Adalah Pembeda

Maret 4, 2013 § 1 Komentar

#Kisah 1

lamborghini

Ferruccio adalah seorang petani yang hidup di Italia. Ia juga mengembangkan bisnis pembuatan traktor. Dengan bisnisnya tersebut ia memiliki kekayaan yang cukup untuk mengoleksi berbagai mobil mahal, mulai dari Mercedes-benz hingga maserati.

Suatu ketika, Ferruccio membeli sebuah mobil Ferrarri, 250GT pada tahun 1958. Setelah beberapa waktu menggunakannya, ia tidak merasa puas dengan performa mobil dengan logo kuda jingkrak tersebut. Dengan bakat mekanik yang dimiliki, ia menyadari bahwa kopling mobil ini sama dengan kopling yang digunakan pada traktor buatannya.

Mengetahui demikian, ferruccio menemui enzo ferrarri, si empunya mobil dan menyampaikan keluhan terkait performa mobilnya.  Mendapat kritikan, Enzo ferrari mengatakan bahwa Ferruccio hanyalah seorang pembuat traktor, dan tidak mengerti apa-apa tentang mobil. Mendapatkan respon demikian, Ferruccio bertekad untuk membuat mobil sport sendiri yang lebih baik dari ferrari. Tahukah anda siapa nama lengkap Ferruccio? Ferrruccio Lamborghini!!!.

#Kisah 2

stanford

Mungkin Anda sudah berulang kali mendengar kisah ini, tapi gue coba bercerita kembali

Seorang bapak-ibu dengan pakaian lusuh turun dari kereta api di boston. Mereka berdua dengan malu-malu berjalan menuju ruang pimpinan harvard university. Mendapat tamu yang ”biasa biasa saja”, sekretaris pimpinan menanggapi mereka dengan gesture merendahkan. Kedua orang tua tersebut dibiarkan menunggu selama 4 jam sambil berharap mereka bosan dan tidak lagi berniat bertemu dengan sang pimpinan.

Waktu berlalu, kedua orang tua yang lusuh ini masih setia menunggu, seolah ada hal penting yang ingin mereka sampaikan pada kampus harvard.

Akhirnya sang pimpinan menyerah, ia dengan ogah, menemui mereka.

Lamban, sang wanita bercerita “Kami memiliki seorang putra yang kuliah
tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di
sini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami
ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini.
bolehkah?”

 Mendengar pertanyaan tersebut, sang pemipin murka karena menganggap pasangan ini hanya menghabiskan waktunya yang berharga.  “Nyonya,” katanya dengan kasar, “Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini sudah akan seperti kuburan.”

“Oh, bukan,” Sang wanita menjelaskan dengan cepat, “Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk
Harvard.”

Mendengar ucapan tersebut, pimpinan harvard mulai semakin tidak percaya. Bagaimana mungkin dua orang renta dengan penampilan lusuh mampu membangun sebuah gedung untuk harvard. ”Apakah kalian tahu harga sebuah gedung? kalian perlu 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik harvard.

 Kedua orang tua itu terdiam. Sesaat, pimpinan harvarad merasa berhasil “mengintimidasi”. Sang wanita berkata pada suaminya. ”kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja?” Suaminya mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan.

Mr. dan Mrs Leland Standford bangkit dan berjalan pergi, melakukan perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi diperdulikan oleh Harvard.

Universitas tersebut adalah Stanford University , salah satu universitas favorit kelas atas di AS.

Demikianlah dua kisah tentang betapa, dalam keseharian kita, banyak orang yang kita abaikan keberadaanya. Bukankah kita selama ini mengdikotomi manusia atas dasar kacamata kita, baik-buruk, penting-tidak penting, kaya-miskin, padahal kita tahu bahwa manusia tidak layak untuk disekat atas dasar parameter dunia. Bukankah takwa yang menjadi pembeda?

Sejak kecil hingga saat ini. Kehidupan kita dipenuhi oleh orang-orang yang kadang kita lupa akan keberadaannya. Kita merasa menjadi manusia paling penting di alam semesta. Coba tengok masa lalu. Ada tangan-tangan yang senantiasa membantu.

Bahwa mungkin tanpa orang-orang tersebut, kita tidak dalam kondisi saat ini. Mereka yang mungkin pernah kita anggap remeh, berjasa besar menjadikan kita manusia yang sekarang. Mulai dari pedagang di kantin, supir angkutan umum, tuakng ojek langganan, tukang bubur ayam di depan kosan. Semuanya berperan penting. Tidak ada yang selaiknya kita anggap remeh. Karena mungkin tangan-tangan mereka lah yang mengantarkan kita menjadi manusia luar biasa.

Kita tidak sadar, bahwa begitu banyak orang yang berjasa, yang tidak mungkin dieja. Tidak hanya mereka yang bekerja secara langsung, jua ia yang membantu dalam diam.

Invisible hand, tangan-tangan tak terlihat yang membantu kita. Dalam alpa kita tergugu, diam menggerutu. Padahal Allah senantiasa membantu.

Tengok di sekitar kita. Semua yang kita peroleh tidak lantas sekedar atas apa yang kita usahakan. Allah mengizinkan dengan perantara ciptaanNya. Kita masih hidup, bekerja dengan layak. Bisa jadi atas doa dalam diam saudara kita. Yang menghabiskan sepertiga malamnya dan menyelipkan nama kita agar senantiasa dalam kebaikan.

Karena sebaik baik pujian adalah doa, dan semulia mulia celaan adalah teladan!

Jadi tidak sepatutnya kita merendahkan orang lain dengan apapun alasannya. Karena kita tidak pernah tahu darimana sumber kebaikan yang ada pada diri kita berasal. Tidak lantas dengan mudahnya lisan menggurui, tangan mengajari ketika mata bersimpuh pada diri yang lumpuh. Karena semua orang adalah sama di mata Allah. Yang beda hanya takwa!

Dia bukan Jodohku

Februari 17, 2012 § 5 Komentar

“Aku ga tau bisa dateng atau ga ke nikahan dia”

Sontak, isi sms seorang teman tersebut seolah menjadi bukti bahwa jodoh itu memang diatur dengan sangat indah oleh Sang Maha Pencipta. Betapapun kita berusaha untuk mengupayakannya namun tetap Dia yang memutuskan.

Tidak ada yang menjamin bahwa hubungan yang telah terjalin dengan sangat baik dapat berakhir di pelaminan. Aku mengenal dua orang sahabat yang pernah melangkahkan kaki seirama, beriringan dalam ikatan amanah. Banyaknya interaksi membuat mereka dekat. Kedekatan keduanya memang sulit terdeteksi oleh orang-orang. Hubungan yang terus dipupuk dan tumbuh itu kemudian mekar dengan lahirnya niatan sang pria untuk meminang sang gadis impian demi sebuah hubungan yang jauh lebih halal. Tapi semua tidak berjalan dengan sempurna.

Aku batal menikah dengannya

Ujarmu saat kau bercerita hari itu. Aku yang mendengar hanya bisa tertegun, diam. Mencoba untuk membesarkan hatimu bahwa jodoh itu sudah diatur dan jika memang berjodoh Insyaallah pasti dipertemukan kembali.

Aku pun bertanya apa yang menjadi penyebab kegagalan pernikahan tersebut. Dengan suara parau dan nada sedih kau mengatakan bahwa ada sedikit perbedaan pandangan dari keluarga perempuan. Ah, aku ikut sedih saat itu. Membayangkan betapa hancurnya hatimu dan hati sang wanita ketika pernikahan batal karena adanya perbedaan pendapat di antara keluarga. Aku pun sadar bahwa menikah bukan sekedar menyatukan dua orang manusia dalam suatu ikatan. Lebih jauh menikah merupakan janji yang mampu mengikat dua orang keluarga, dua sistem yang mungkin bersebrangan satu sama lain. Dan ketika terdapat celah di salah satunya maka menikah justru bisa menjadi masalah.

Padahal tahukah engkau sahabat bahwa setiap orang mengira kalian akan bersatu dalam sebuah janji suci. Kau dan dia sesungguhnya sangatlah serasi. Kau sholeh dan dia sholehah. Dia dewasa kau pun juga.

Tapi, mungkin tuhan telah menciptakan skenario yang jauh lebih indah dari apa yang sudah kita bayangkan selama ini. Dalam hati berharap dia yang akan menikah denganmu, tapi mungkin Allah telah menyiapkan calon pengganti yang jauh lebih menyejukkan hati. Dalam doa terselip untaian kata untuk menjadi pasangannya, namun Allah lebih tahu mana yang akan berakhir dengan kisah bahagia.

Kini dia, sang wanita telah menyiapkan pernikahannya. Bersiap untuk menjadi seorang istri sholehah. Seperti yang aku dan kau pun tahu, bahwa pria yang mempersuntingnya bukan engkau wahai sahabat. Aku tak tahu siapa pria itu. Tapi seperti yang aku dan kau pun yakini bahwa laki-laki tersebut pasti bukan pria asal-asalan. Dia pasti laki-laki dengan segudang prestasi, dengan segenap keluarbiasaan sama halnya dengan sang wanita. Tidak, bukan berarti kau tidak berprestasi. Bukan berarti kau tidak luar biasa. Tapi, seperti apa yang ustad pernah sampaikan

Wanita yang kau cintai mungkin memang wanita yang terbaik, tapi tidak terbaik untukmu. Dia terbaik untuk orang lain”.

Kini taujih saat itu seolah kembali berdengung di telingaku. Aku sejenak berpikir, mungkin pria yang namanya tertera di undangan tersebut adalah pria yang terbaik buat dia, teman wanita kita. Aku percaya kau pasti memiliki pikiran yang sama.

Tak usah kau sembunyikan sahabat, tak usah kau tutup-tutupi. Aku tahu kau sedih. Aku tahu mungkin saat ini hatimu sedang kalut, remuk redam. Mungkin saja kau berandai-andai bahwa harusnya namamu yang tertera di undangan itu. Tidak apa apa, berceritalah.

Dari sms mu aku bisa merasakan betapa kekecewaan itu masih terpendam. Saat kau ragu akan ajakanku untuk datang ke walimahnya. Kau yang biasanya bersemangat setiap kali ada undangan pernikahan kini seolah kehilangan itu semua saat tahu bahwa ia, wanita yang kau cinta yang akan menikah.

Aku yakin sebentar lagi luka yang menganga itu akan segera terobati. Tidak perduli berapa parah, betapa berdarah-darah engkau terluka. Saat penawarnya sudah tiba, bahkan kenangannya pun kau akan lupa. Sebentar lagi sahabat, Insyaallah. Dan engkau pun bisa berikrar setia.

Aku doakan engkau sahabat, begitu pun harapku kau bisa mendoakanku. Semoga Allah mendengar doa kita.

-Dedicated to you both-

 

Ego-Sentris

November 23, 2011 § 4 Komentar

Egosentris? Pernah denger istilah ini?

Yang jelas ga ada hubungan sama Teori Geosentrisnya Ptolemy yang menjadikan bumi sebagai pusat alam semesta dan juga ga berkorelasi sama teori Heliosentrisnya Nicolas Copernicus (Jago ya gw).

Entah kenapa gw jadi pengen membahas tentang apa yang disebut dengan Egosentris. Kalo berdasarkan definisi dari mbah gugel sih egosentris berarti menjadikan diri sebagai pusat pemikiran atau perbuatan. Tapi kalo bagi gw egosentris secara simpel berarti melakukan segala sesuatu untuk diri pribadi. Kalo ga setuju dengan definisi ini, monggo buat tulisan dengan definisi sendiri :D.

Berdasarkan pengamatan dari kacamata gw pribadi, tidak ada satu pun makhluk yang bernama manusia melakukan suatu tindakan, kegiatan, kerja, aktifitas bukan untuk dirinya sendiri. Mari kita amati!!!

Mari tengok yang terjadi pada Filantropis. Kebanyakan para filantropis mengaku bahwa mereka melakukan semua tindakan untuk orang lain. Mereka mungkin beratikulasi bahwa tindakan yang dilakukan berdasarkan kasih sayang dan tidak mendapatkan apa-apa atas apa yang mereka lakukan. Apakah benar begitu? Menurut gw sih kagak.

Orang yang melakukan kebaikan untuk orang lain pada dasarnya melakukan kebaikan untuk dirinya sendiri. Bohong jika mereka berkata bahwa mereka got nothing. Kepuasan diri, aktualisasi, kebahagiaan personal adalah manifestasi dari setiap aktifitas yang mereka kerjakan. Jika yang dijadikan parameter adalah wujud fisik mungkin para filantropis tidak memperoleh apa-apa. Namun jauh melebihi itu mereka memperoleh kebahagiaan yang memang kembali pada diri mereka pribadi.

Lalu bagaimana dengan pengabdian seseorang untuk daerah tertinggal misalnya, seperti yang sering kita saksikan dalam Program KickAndy Show. Melakukan kerja besar walau tak seorang pun yang peduli. Apakah mereka melakukan tindakan egosentris? Kalo gw yang ditanya maka jawabannya “iya”.

Tanyakan kembali pada mereka yang melakukan kerja keras, kerja ikhlas tanpa tanda jasa. Apa yang mereka rasakan ketika mandi keringat berusaha mati-matian untuk orang lain? Gw yakin pasti mereka senang melakukan itu. Mereka memiliki mimpi-mimpi atas kerja yang mereka lakukan. Paling tidak, sebagai makhluk beragama, mereka yakin akan pembalasan yang jauh lebih baik atas apa yang mereka kerjakan. Dan lagi lagi bukankah itu tindakan yang dilakukan untuk diri pribadi?

Bahkan gw berani berkata bahwa cinta kasih kedua orang tua kepada anaknya juga bersumber untuk kepentingan pribadi. Melihat anaknya tumbuh dewasa. Mengajari mereka berbicara walo kini kata-kata pedas yang sering mereka terima. Menjawab pertanyaan yang sama yang kita tanyakan berulang-ulang. Fragmen kisah seorang anak adalah lentera jiwa bagi orang tua. Walo belom pernah ngerasa jadi orang tua, setidaknya itu yang pernah gw denger.
Semua cinta, pengorbanan dan kasih sayang orang tua memang tidak berbalas. Pun halnya mereka tidak mengharapkan balasan dari kita. Karena bagi mereka, cinta itu adalah memberi bukan menerima.
Dan di saat mereka memberi maka kuncup cinta itu lahir, mekar dan berkembang. Mereka pun bahagia luar biasa saat si kecil mulai berkata. Tak bisa tertutupi rona saat kita berjalan terbata-bata. Saat kita diwisuda pun terpancar senyum terindah penuh warna.

Hierarchyo of Needs

Itulah egosentris. Semua bersumber untuk diri sendiri. Hal sekecil apapun dilakukan sejatinya  bukan untuk orang lain. Bahkan teori Hierarchy of Needsnya Abraham Maslow yang menjadikan Self Actualization di Puncak piramida bersumber atas kebutuhan untuk memenuhi kepuasan pribadi.

Jadi Kesimpulannya kalo kita melakukan sesuatu kebaikan untuk orang lain pada dasarnya kita terlebih dahulu merefleksikan kebaikan yang terjadi untuk diri kita.

Bahkan Al-Quran dalam salah satu ayatnya berbunyi (Lupa redaksi)
In ahsantum ahsantum li anfusikum, wa in asa’tum falahayang artinya kalo kita melakukan kebaikan maka kebaikan itu untuk diri kita sendiri dan kalo kita melakukan keburukan maka keburukan itu juga untuk diri kita sendiri.

Setuju dengan gw? Harus….. 😀

If I Got Stray

November 11, 2011 § 4 Komentar

Once upon a time, a boy prayed to the God and hopefully He would grant what he wished about. This boy didnt ask for ordinary stuff. He didnt pursue money nor wealthy. He asked for plea, simple and funny.

What do you wish about in this life”? God Ask
” ummm…ummm….” This boy mumble and ask doubtfully. Then he tried to continue his words

” If you don’t mind, I wonder that if I were stray one day, I want to get stray in Bandung”
“hmmmm….seems ridiculous. Actually, why do you hope so?”
God insist

“Because someday I want to deliver happiness to everyone.
and from what I’ve heard that peoples in Bandung always show you the direction, warmly point the right place, and keep their smiling to descibe where your destination is. They never neglect every lost person.
Hence I will keep questioning them where to go to spread joyful”. 
Boy explain vigorously.

“Hahaha..what a simple yet remarkable request. Then, Granted”

*Based on true experience by observing Bandung’s people.

Ta’liful Qulub

Juni 5, 2011 § 4 Komentar

Ta’liful Qulub, materi yang begitu sering disampaikan oleh guru, mentor, pemateri dan ustad pertama gw dalam lingkaran iman yang kami bentuk tiap pekannya. Ta’liful Qulub atau keterikatan hati merupakan bentuk ekspresi iman dalam indahnya ukhuwah islamiyah. Ia lahir dari kebersamaan yang beresonansi, berwujud pada cinta yang menggetarkan.

Ta’liful qulub adalah lambang kecintaan seorang saudara terhadap saudara seimannya. Ia lahir dari rahim tarbiyah yang mempererat dan menautkan hati. Dahsyatnya ta’liful qulub bisa kita rasakan manakala jarak memisahkan. Ia membuat rindu, bergumam syahdu. Karenanya, hati ini selalu bertaut. Bahkan jarak bukan lagi sebuah dimensi yang dapat merenggangkan, mematahkan ataupun memutuskan ikatan hati yang telah tumbuh berkembang di dalam diri. Justru perpisahan menjadi ajang untuk mengakumulasikan kerinduan.

Itulah ta’liful qulub, berawal dari Tarbiyah yang menumbuhkan dan bermuara pada ukhuwah yang merindukan. Semoga ukhuwah ini indah dan berakhir pada jannahnya.

Save Gaza

Agustus 6, 2010 § Tinggalkan komentar

Sabtu, 24 Juli 2010 pengurus masjid salman ITB mengadakan kuliah dhuha pekanan seperti biasa. Tapi ada yang unik dengan materi talim dhuha pekan ini yakni kesaksian langsung para relawan gaza asal Indonesia yang ikut serta dalam misi kemanusiaan untuk gaza dengan menggunakan kapal Mavi Marmara. Aku, yang biasanya enggan-engganan hadir tiba-tiba saja langsung bersemangat dan berazzam untuk ikut serta dalam kuliah dhuha tersebut.

Tiga orang saksi hidup yang turut serta dalam misi kemanusiaan bertajuk freedom flotilla atau armada perdamaian hadir pada kuliah dhuha ini. Mereka adalah pasangan suami istri Santi Soekanto-Dzikrullah dan salah seorang warga Indonesia yang menjadi korban kebiadaban israel yakni Surya Fahrizal. Ketiga orang ini secara bergantian menceritakan pengalaman mereka selama berlayar menuju Gaza. Mulai dari keberangkatan kapal Mavi Marmara dan beberapa kapal kecil lainnnya menuju Gaza hingga tragedi kemanusiaan yang dilakukan oleh laknatullah Israel saat menyerbu kapal kemanusiaan tersebut. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Hikmah category at I Think, I Read, I Write.

%d blogger menyukai ini: