#33 Lili Anggraini

Desember 20, 2016 § 1 Komentar

liliMasa-masa SMA kerap kali disematkan sebagai salah satu fasa terbaik dalam kehidupan manusia. Di dalamnya berisi dengan pernak-pernik memorabilia yang dapat menghidupkan kembali ingatan setiap kali satu-dua kejadian-kejadian lucu, sedih, konyol, hingga yang memalukan diceritakan bertahun-tahun selepas kelulusan.

Setiap generasi memiliki kekhasan dalam menjalani momen saat mengenakan seragam putih abu-abu. Jika generasi centennial gandrung dengan segala kesemrawutan internet maka generasi milenial menghayati dengan cara berbeda. Gen-Y adalah generasi transisi antara Gen-X yang memiliki kecendrungan gagap dalam teknologi dan Gen-Z yang melek teknologi hingga ke tulang-tulangnya. Oleh karena itu, Gen-Y masih mendapati momen-momen bersejarah menggunakan teknologi nir-kabel semisal SMS namun tetap tidak melewati indahnya berbalas kisah melalui surat juga telepon umum. Jadi tidak heran jika Gen-Y yang acapkali diwakilkan oleh generasi 90-an dianggap sebagai generasi ter-baper se-abad ini. Bagaimana tidak. Generasi ini selalu membanding-bandingkan masa yang mereka alami dengan kejumudan generasi setelahnya terhadap gadget mereka.

Gue yakin, Jika mau, Gen-X dapat dengan mudahnya melahap semua argumen pongah Gen-Y tentang definisi kebahagiaan. Saat Gen-Y riuh dengan adegan mendayu-dayu rangga-cinta maka Gen-X sudah lebih dulu termehek-mehek dengan Galih-Ratna yang cintanya abadi. Jika Gen-Y bangga dengan Coldplay, Nirvana hingga Maroon 5 maka sesungguhnya mereka lupa bahwa The Beatles, Queen hingga The Rolling Stones telah lama menggema seantero raya. Bahkan konser Rod Stewart di Brazil mampu menghadirkan lebih dari 4 juta pasang mata.

Jadi wahai Gen-Y, kurangi baper, perbanyak istighfar. Subhanallah!.

Dan Gen-Y yang akan gue ulas kali ini adalah temen SD yang dipertemukan kembali di SMA. Karena awal bulan Desember ia menikah maka sebagai temen yang baik, gue akan mengulas kisah beliau sebagai satu dari rangkaian tulisan tentang temen-temen SMA gue yang mengakhiri masa lajangnya.

Nama lengkapnya Lili Anggraini. Tidak seperti yang lain, doi nyaman dipanggil dengan nama asli, Lili. Gue kenal Lili sejak kelas, kalo tidak salah, 4 SD. Seinget gue . . . Duh, gue hampir lupa semua cerita di sekolah dasar. Pokoknya doi pinter dan sering menjadi saingan berat gue untuk meraih tiga besar di kelas. Kami juga akrab di luar aktifitas belajar. Tidak jarang kami bersilaturahim ke rumah guru saat lebaran tiba. Lili juga gemar mengkoleksi kertas warna-warni. Bener ga sih, Li? Haha . . . Gue beneran lupa.

Yang paling membekas di ingetan gue adalah Lili merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya, pas gue SD, masih sangat kecil. Namanya pun masih gue apal. Karenanya pas belakangan ini Lili sering memajang foto sang adek di jejaring sosial, gue sontak kaget. Sang adek sudah tumbuh dewasa.

“Aelah, anak lo aja udah dua”.

Iya sih. . .

Lepas sekolah dasar, gue melanjutkan SMP di kompleks yang sama dengan sekolah dasar. Sementara Lili memilih sekolah yang berbeda. Sekolah pra-nikah. Busetttt . . .

Kami bertemu kembali saat menginjak Sekolah Menengah Atas. Lili adalah satu dari sedikit temen SD gue yang masuk SMA yang sama. Mulanya gue dan Lili ditempatkan di kelas 10 B. Lalu saat pembentukan kelas baru yang diproyeksikan sebagai ‘kelas unggulan’ lagi-lagi gue ditakdirkan menempati kelas yang sama. Untung saja kebetulan itu tidak terendus oleh media. Bisa-bisa gue masuk infotainment setiap hari mulai dari insert pagi, Silet, Kabar-Kabari, Seputar Indonesia, Laptop Si Unyil, Reportase Investigasi, American Next Top Model. Lah?

Di SMA, gue dan Lili tidak se-akrab saat SD. Kami tidak lagi bermain petak umpet bareng atau tukar-tukaran kerudung. Zona nyaman kami berbeda. Jika gue lebih banyak berinteraksi dengan akhi-ukhti di organisasi kerohanian islam (ROHIS) maka Lili lebih banyak beredar di Wahana Siswa Gemar Matematika (WASIGMA), organisasi tempat mereka yang menggemari pitagoras, bangun tiga dimensi dan aritmatika. Belakangan gue takjub dengan organisasi sekolah yang disebut terakhir. Betapa tidak. Masih ada sekelompok manusia yang menjadikan ‘matematika’ sebagai sesuatu yang harus digemari. Bukan Raissa, Pevita, atau Elly Sugigi. *Cium satu-satu tangan anggota WASIGMA*.

Selain itu, SMA tempat gue bersekolah, merupakan semacam sekolah lanjutan bagi siswa-siswi SMP Negeri 3 Palembang. Jadi wajar sesiapa yang dulunya bersekolah di SMP N 3 memiliki banyak teman di SMA N 3. Sementara gue yang berasal dari MTs N 1 adalah kaum marjinal yang terseok-seok mencari pengakuan eksistensial dari mayoritas yang angkuh. Wow. Keren ye narasi gue? 😀

Dilatarbelakangi oleh kondisi tersebut spektrum pergaulan Lili menjadi sangat luas. Ia bisa melenggang dengan leluasa ke kelas-kelas lain mengingat ada banyak temen SMP-nya di kelas tersebut. Sementara gue masih sibuk menghapal satu-satu nama makhluk yang ada di kelas.

“Yang gede itu namanya Dedy. Tapi . . . ada dua Dedy. Dan dua-duanya gede. Yang lebih gede berarti Dedy 1, yang gede (aja) Dedy 2. Yang kurus dan eksotis (amelioratif dari ‘gelep’ :p) itu Zeniferd. Yang jayus itu Hendra. Yang kecil . . . umm. Oh itu Bu Da*lis!. Oops. Maaf, bu.”

Lili tidak meledak-ledak di kelas. Tidak sepinter Mariska atau Marini memang. Namun ia tergolong siswi yang rajin. Jika dulu gue dan Lili kerap bersaing untuk berebut tiga besar di kelas maka hal tersebut tidak berlaku lagi saat di SMA. Sesaknya kelas dengan siswa-siswi cerdas dari segenap Palembang membuat persaingan semakin sengit. Tidak lagi menjadikan gue atau Lili sebagai pesaing kuat untuk meraih mahkota siswa dengan nilai terbaik.

Lili kemudian melanjutkan ke sekolah kebidanan di ujung sumatra. Ia ingin mengabdi pada ibu-ibu hamil. Buat gue yang sudah menyaksikan secara langsung, proses melahirkan itu benar-benar kondisi antara hidup dan mati. Maka terpujilah orang-orang yang menjadikan ‘bidan’ sebagai profesi. Dan buat para die hard pembela argumen wanita tidak boleh bekerja dengan apapun alasannya, silahkan mencari bidan pria saat keluarga anda melahirkan. Atau jika tidak, bolehlah ngarep dapet hadiah anak dari bungkus chiki. Semacem Tazos gitu.

Sejak SMA kisah cinta Lili nyaris tidak terdeteksi. Namun saat kuliah gue sesekali mendapati informasi bahwa Lili tengah deket dengan temen kelas gue. Di waktu lain informasi yang gue dapet ia deket dengan temen kelas gue lainnya. Entahlah bagaimana derajat kesahihan informasi itu. Yang jelas waktu membuktikan bahwa tidak pernah secara kasat mata ada semacam press release oleh Lili bahwa ia menjalin suatu hubungan dengan siapa pun itu. Entah itu Rangga, Boy, atau Emon.

Hingga akhirnya akhir November kemarin Lili secara resmi mengundang gue ke akad nikah dan resepsinya. Meskipun tidak dapat hadir ke acara tersebut, gue panjatkan setulus doa untuk Lili dan sang suami. Semoga pernikahan tersebut penuh dengan keberkahan.

Setiap mendengar pernikahan, lebih-lebih yang datang dari orang terdekat, gue selalu berbahagia. Kini sudah 33 dari mereka yang menikah. Meninggalkan 12 slot tersisa dengan tiga di antaranya pria. Kami doakan semoga dimudahkan untuk yang tersisa. Semoga Tuhan selalu memudahkan niat baik kalian.

Jadi, ada yang berniat menjadi nomor 45? 😀

*Referensi bacaan:

http://socialmarketing.org/archives/generations-xy-z-and-the-others/

Iklan

Tagged: , , , ,

§ One Response to #33 Lili Anggraini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading #33 Lili Anggraini at I Think, I Read, I Write.

meta

%d blogger menyukai ini: