A yang Keempat

September 29, 2016 § 4 Komentar

Gue mesti berterima kasih kepada Vina Panduwinata. Vina, seperti halnya Armand Maulana, telah memberikan semangat kebahagiaan dan kasih sayang pada bulan-bulan yang mereka jadikan sebagai tembang. Seturut terimakasih kasih juga tersampaikan pada Sapardi Djoko Darmono karena telah menyusun ‘Hujan Bulan Juni’ dengan sangat apik. Khusus untuk Vina, lagu September Ceria nya menjadi  backsound  yang tepat buat gue dan keluarga karena pada 22 September 2016 jam 08:28, anak kedua kami lahir dengan sehat wal-afi’at.

Sebuah kebahagiaan lagi untuk saya dan istri untuk diamanahi Putra kedua setelah 20 bulan sebelumnya kehidupan kami dilengkapi oleh kehadiran Alby. Kini rumah kecil kami akan kembali diramaikan oleh tangis bayi. Malam-malam gue, oopss.. Malam-malam istri gue, maksudnya (gue cuma kebagian pas wiken doang) akan kembali gaduh.

Selamat kembali menjadi manusia nokturnal, sayang.

Untuk merekam memori detik-detik proses persalinan, gue akan mengulasnya dengan rincian sebagai berikut.

22 September 2016, 03:30 WIB

Gue terbangun dari tidur lalu menuju kamar mandi untuk menunaikan hajat. Saat sedang khusyu’ ponsel gue berdering. Ternyata dari bini gue. Gue curiga ia akan segera lahiran karena belom pernah ada riwayatnya bini gue nelpon se-pagi itu. Telkomsel malah lebih perhatian. Subuh-subuh aja mereka ngirim SMS.

Gue telepon balik dan benar saja ia sudah pembukaan tiga dan tengah menunggu pembukaan berikutnya di rumah sakit.

05:30 WIB

Gue menuju Bandung menggunakan travel dengan keberangkatan paling awal. Tak lupa gue terus menelepon istri guna menanyakan kondisinya. Ia bilang bahwa mulesnya semakin menjadi. Namun belum diperiksa oleh dokter kandungan.

06:00 WIB

Bukaan lima!

Dokter kandungan menjelaskan bahwa sang anak mungkin lahir sekitar jam 10 atau 11 pagi. Gue merasa tenang karena dengan asumsi perjalanan Bintaro-Bandung memakan waktu paling lama 3 sampai 4 jam maka gue bisa tiba sebelum proses melahirkan. Gue merasa menjadi ayah terkutuk jika tiba tidak tepat pada waktunya.

06: 30 WIB

Jadwal Spongebob di Global TV

*ngapain lo tulis*

06:40 WIB

Masih bukaan lima. Bawel, lo.

07:00 WIB

Istri gue sudah berada di ruang persalinan. Nampaknya pembukaan jalan keluar bayi sudah semakin besar. Kontraksi semakin menjadi. Gue tidak bisa membantu apa-apa selain doa. Andai bisa, biarkan rasa sakit itu berpindah ke tubuh Jessica. Iya, Jessica yang sidang pembunuhannya tiap hari tayang di tivi. Biar Jessica merasakan bagaimana sakitnya empat puluh tulang dipatahkan sekaligus. Biar tidak ada lagi sidang-sidang nista itu.

08:00 WIB

Gue tiba di Bandung. Dan segera saja menuju ke rumah sakit. Ternyata dokter salah perkiraan. Proses persalinan yang diprediksi pukul 10.00 WIB ternyata meleset. Dedek bayi nya pengen keluar lebih cepat dan mematahkan asumsi dan perkiraan-perkiraan manusia. Istri gue tengah berupaya dengan sekuat tenaga untuk mendorong bayi keluar. Gue di sampingnya untuk membantu menguatkan dan memberikan semangat serta doa agar proses persalinan tersebut dimudahkan.

Sejujurnya proses persalinan kedua ini meninggalkan sedikit rasa khawatir, takut, cemas akan keselamatan ibu dan bayinya. Meskipun memang tidak se-intens saat menanti kelahiran Putra pertama.

Dokter dan perawat yang empat orang terus memberikan aba-aba kapan harus mendorong, kapan harus menarik napas, kapan harus menghembuskan nafas. Mereka terus mengarahkan agar pandangan sang ibu terus tertuju ke arah tempat keluarnya bayi agar sang ibu tidak teralihkan oleh hal-hal lain. Toko on-line misalnya.

08:28 WIB

Terdengar tangisan bayi yang pecah. Anak kedua kami, Alhamdulillah, terlahir dengan selamat. Begitu pun ibunya. Proses persalinannya terlihat lancar jaya. Perawat tidak perlu naik ke atas ranjang dan bersanggah pada dinding guna mendorong bayi keluar dari perut seperti pada proses persalinan pertama.

Anak kedua kami lahir dengan berat badan 3380 gram dengan panjang 48 cm. Ia terlihat gemuk dengan pipi yang cubit-able. Namun seperti Alby, anak kedua kami sepintas tidak mencetak fenotip ayah maupun ibunya. Ia terlihat seperti bayi oriental dengan mata yang agak sipit.

Usai Adzan di telingan kanan dan iqomah di telinga kiri, bayi tersebut kemudian didekatkan kepada sang ibu untuk proses IMD. Penting untuk bayi yang baru lahir, terlebih melalui proses persalinan dengan operasi, untuk mendapatkan inisiasi menyusui dini selama 1 jam pertama kehidupan bayi, menurut rekomendasi WHO.

Bayi lucu yang kini menjadi anggota keempat dalam keluarga kami diberi nama dengan inisial ‘A’ untuk melengkapi tiga A yang sudah terlebih dahulu hadir. Ia dinamai dengan Afnan Sakha Avicenna. Makna dari nama tersebut akan diurai pada tulisan lainnya. Yang jelas terselip doa sebesar-besarnya agar Afnan menjadi anak sholih, penyejuk mata dan hati kedua orang tua.

Welcome to the club, pal.

Tagged: , , , ,

§ 4 Responses to A yang Keempat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading A yang Keempat at I Think, I Read, I Write.

meta

%d blogger menyukai ini: