Kala Alby Sakit

September 16, 2016 § Tinggalkan komentar

dsc_0091Di suatu siang ponsel gue bergetar hebat. Terpampang nama “mon amour” panggilan gue untuk istri. Di ujung telepon istri gue berucap dengan suara parau

“Yah, aku hapal Mars Perindo”

“Terus?” sambung gue

“Dengan not baloknya”

Bangke!!

Istri gue terisak berseru bahwa Alby tengah demam tinggi. Mulanya gue bersikap tenang mengingat bukan sekali dua Alby panas hingga nyaris 40°C. Namun ketika dipertegas dengan keadaan Alby yang sempat step alias kejang akibat demam yang ekstrim, gue tercekat. Istri gue melanjutkan bahwa sejak pagi Alby demam lalu tiba-tiba saat hendak tidur siang, matanya melotot melihat tagihan listrik dan mulutnya mengeluarkan buih. Tapi, lanjut bini gue, Alby tidak meraung-raung seperti macan layaknya acara pemburu hantu di stasiun TV swasta.

Gue makin panik karena yakin bahwa Alby tidak sedang syuting.

Tidak menunggu lama, Alby dibawa ke rumah sakit terdekat. Istri gue sangat panik melihat Alby yang kejang sepanjang perjalanan. Baru pertama kali kami mendapati kondisi seperti ini. Istri gue menambahkan bahwa Alby langsung ditempatkan di unit gawat darurat.

Lepas maghrib gue tiba di Bandung dan bersegera menuju rumah sakit. Miris. Itu kata pertama yang berada di otak gue saat menyaksikan bagaimana kondisi UGD di rumah sakit tempat Alby dirawat. Pasien berserakan. Sebagian tidak mendapatkan partisi ruangan.

Kondisi Alby tidak lebih baik. Di tengah penuh sesaknya ruangan berisi pasien dengan segala jenis penyakit, Alby terbaring lemah dengan tusukan infus di lengan kiri. Ia nampak begitu tak berdaya.

Istri gue menjelaskan bahwa selain panasnya yang mencapai 41°C, Alby juga mengalami diare akut. Infus yang tertanam di lengannya adalah tusukan kesekian setelah beberapa kali percobaan. Pelayanan di rumah sakit tersebut tidak mumpuni. Jumlah pasien sangat tidak sebanding dengan dokter maupun perawat.

Rumah sakit pemerintah nampaknya harus berpuas diri memberikan pelayanan se-ala kadarnya mengingat sebagian besar pasien tidak dijamin oleh asuransi-asuransi swasta juga tidak berasal dari kalangan berada. Mentok-mentoknya dijamin oleh BPJS. Gue pun tak mampu menyalahkan pelayanan minim demikian mengingat banyaknya keterbatasan rumah sakit. Gue berkesimpulan bahwa orang miskin memang tidak boleh sakit. Kalo mau sakit maka berpuaslah dengan pelayanan apa adanya.

Tidak tahan melihat keadaan Alby yang nampak tidak membaik, kami memutuskan untuk memindahkan perawatan ke rumah sakit tempat Alby dilahirkan. Mengingat dokter spesialis anak (DSA) langganan kami pun berada di lokasi yang sama. Saat hendak transfer rumah sakit  kami menghadapi kendala lainnya. Pihak rumah sakit tempat Alby dirawat memberikan informasi berbeda terkait dengan proses transfer pasisen. Dokter yang kami tanyai menyatakan bahwa tidak ada ambulans untuk keperluan tersebut. Sementara bagian administrasi menyatakan sebaliknya. Setelah ngotot-ngototan dengan pihak rumah sakit kami akhirnya diperbolehkan menggunakan ambulans untuk memindahkan Alby.

Pindah Rumah Sakit

Alby langsung ditangani oleh suster setempat. Ia masih nampak lemes. Mencretnya tidak berkurang. Pospak yang sebungkus isi 24  habis dalam sehari semalem. Di RSIA ini, jarum infus pun masih tidak bersahabat. Lebih kurang 14 tusukan mampir ke lengan hingga kakinya. Nadi yang kecil ditambah rapuh akibat panas terlalu tinggi membuat suster kesulitan. Jadilah, semua obat harus diminum dengan menggunakan media pipet.

Untungnya Alby masih suka susu sehingga cairan tubuhnya tidak terkuras secara dramatis. Susu pun harus diganti dengan yang non-laktosa untuk mengurangi resiko mencret. Efisiensi pencernaan Alby nyaris 100%. Mirip Hukum Kirchoff 1 di mana arus masuk sama dengan arus keluar. Berapa banyak susu yang masuk nyaris segitu juga yang keluar. Seolah-oleh usus hanya sekedar gerbang tol.

Hasil pengecekan awal laboratorium menunjukkan bahwa alby ter-infeksi virus pencernaan sehingga membuatnya sering poop. Kondisi Alby perlahan mulai membaik setelah dua malam di rumah sakit. Panasnya tidak lagi se-tinggi sebelumnya meskipun terkadang masih naik-turun akibat daya tahan tubuh yang bergerilya melawan virus.

Obat-obat yang diberikan untuk mengatasi virus tersebut ternyata belum mampu membendung poop nya Alby yang masih sering. Pengecekan feses kedua menunjukkan bahwa Alby menderita penyakit paratifus. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri turunan salmonella yang notabene menyerang usus. Sejenis penyakit tipes yang diakibatkan oleh kondisi tubuh tidak fit juga oleh asupan makanan yang kurang higienis.

Penyakit Alby memang agak aneh. Tipes dan turunannya tidak seharusnya menjangkiti balita. Tipes lazimnya menjangkiti mahasiswa atau anak kos lainnya akibat terlalu gandrung dengan mie instan juga akibat sanitasi yang buruk. Gue pun sempet satu pekan full tepar di kosan akibat tipes. Waktu itu belum nikah jadi ga ada yang ngerawat. Hampir saja gue buat surat wasiat andaikan gue tidak disemangati oleh angan-angan jangan mati sebelum menikah.

Alby memang sering memasukkan apa saja ke dalam mulut. Kebiasaan yang masih belum berubah hingga di usia ke 19 bulan-nya. Karpet puzzle, makanan yang sudah jatuh ke lantai lebih dari 5 menit, bahkan kami mendapati kotoran cicak pun ia telan. Hiks. Perlukah ayah mendaftarkanmu ke MURI, nak?

Berbagai hipotesis berhasil gue dan istri kemukakan sehubungan dengan alasan Alby bisa terjangkiti oleh tipes. Selain karena kebiasaan Alby memasukkan semua jenis barang ke dalam mulut, faktor lain juga menentukan semisal higienitas masakan yang dibuat untuk Alby hingga kebersihan mereka yang menyuapi Alby saat makan.

Alby berangsur pulih

Memasuki hari ke-4 Alby sudah bisa makan makanan dengan tekstur lembut. Poop nya mulai berkurang. Kondisi ini menunjukkan Alby sudah jauh lebih baik. Dan pada hari keenam sejak ia kejang, Alby diperbolehkan pulang namun tetap dalam pantauan dokter anak.

Kejadian kejang ini memang membuat kami panik. Banyak fakta ataupun mitos sehubungan dengan kejang pada anak. Namun menurut DSA nya kejang bisa disebabkan dua hal. Yang pertama adalah karena panas yang terlalu tinggi dan yang kedua adanya gangguan pada otak. Kejang akibat demam biasanya merupakan sifat bawaan alias genetis. Anak yang pernah mengalami kejang jenis ini relatif berpotensi untuk kejang kembali manakala panasnya cukup tinggi di kemudian hari. Kondisi ini bisa terjadi hingga mereka mencapai usia 5 tahun. Lepas 5 tahun, kejang serupa mengindikasikan adanya gangguan pada syaraf maupun otak.

Wanti-wanti dari dokter membuat kami harus waspada. Semua obat demam harus siap sedia untuk menghindari kejang lainnya. Menurut suster tempat Alby dirawat, kejang disebabkan oleh kurangnya pasokan oksigen ke otak. Mirip dengan penyebab ngantuk. Karena pemicunya sama maka bisa jadi obat penangkalnya sama yaitu kopi. Beberapa orang pun menasihati hal serupa bahwa kopi adalah salah satu cara untuk menghindari kejang pada anak. Namun secara medis, belum ada penelitian yang menunjukkan kopi dapat mengurangi kejang. Malah sebaliknya.

Sakitnya Alby mengajarkan kami banyak hal. Yang pertama adalah mencegah itu memang jauh lebih baik daripada mengobati. Kami, mulai saat ini, akan lebih over-protective terhadap asupan gizi Alby. Proses memasak hingga menyuapi harus lebih higienis. Pelajaran kedua yang tak kalah pentingnya adalah kami semakin sadar bahwa sakit itu mahal, komandan. Meskipun gue wajib bersyukur bahwa tagihan yang nyaris 10 juta itu dibayarin sepenuhnya oleh kantor. Alhamdulillah. Jika harus bayar sendiri, gue pun bingung barang mana di rumah yang layak untuk digadaikan.. Hahaha. I mean it literally.

Tagged: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Kala Alby Sakit at I Think, I Read, I Write.

meta

%d blogger menyukai ini: