Alby dan Adiknya

Juli 26, 2016 § Tinggalkan komentar

DSC_0158

Hai.. Halo apa kabar?

Nyaris sebulan gue ga memutakhirkan blog ini. Tidak lain tidak bukan alesannya karena gue harus menghabiskan waktu berkualitas gue yang dua minggu lebih itu bersama keluarga besar di bagian selatan pulau Sumatra.

Apa kabar jagat media sosial? Sesekali (baca: sering) menengok isi timeline facebook, gue masih mendapati medsosnya Jukerbek ini masih dipenuhi oleh makhluk-makhluk sumbu pendek dan para pelaku pro-kontra isu-isu sentimental. Apa kabar Erdogan? Sudah selesai kudetanya? Itu para fanboy garis keras masih ribut-ribut dan membahas dari A sampai Z faktor kegagalan kudeta? Apa sekarang sudah saling serang dan saling tuding dengan para pembela Fethullah Gulen?.

Itu yang suka pamer-pamer ini itu di jejaring sosial sudah pada tobatkah? Atau masih terjebak pada hegemoni ala bocah alay yang dikit-dikit mengemis perhatian dan like para jejaringnya? Kalo kehabisan ide dan bahan buat dipamerin, kalian mungkin bisa foto isi kulkas atau isi lemari terus diunggah ke semua media sosial yang kalian punya disertai dengan caption religius semisal ‘ah, nikmat Tuhan mana lagi yang kalian dustakan’ atau sedikit melankolik ‘isi kulkas boleh ganti-ganti. Tapi kang mas selalu di hati’. Iya gue tengah nyinyir.

Saat ini banyak-banyak berinteraksi dengan media sosial rasanya lebih ampuh bikin otak bego ketimbang nyemil mecin.

*****

Dalam beberapa bulan ke depan, Insyaallah keluarga kami akan kehadiran anggota baru. Berdasarkan hasil USG, calon bayi ini memiliki kelamin laki-laki. Tentu, hasil USG bukanlah suatu hal yang wajib diimani seratus persen layaknya rukun iman. Namun juga tidak bisa ditolak mentah-mentah dengan alasan mendahului ketetapan tuhan.

Hasil USG pekan kemarin menunjukkan kandungan istri saya memasuki usia 31 pekan. Beratnya sudah mencapai 1,5 kg dengan lingkar kepala dan kondisi yang sehat. Alhamdulillah. Berat yang sama juga dimiliki kakaknya, Alby, di usia serupa. Implikasi dari hasil USG tersebut adalah persiapan rupa-rupa untuk sang calon bayi. Mulai dari nama, pakaian yang disiapkan, hingga jumlah kambing untuk persiapan aqiqah.

Mulanya kami berniat untuk melakukan USG 4D. Kami mengupayakan 4D untuk melihat seperti apa kondisi detail dede janin sejauh ini. Namun sulitnya mendapatkan dokter perempuan membuat kami mengurungkan niat dan menunda hingga syaratnya terpenuhi. Menyadari kenyataan ini gue terkadang kesel dengan orang-orang yang berkoar-koar menolak wanita untuk bekerja. Dunia ini tetap membutuhkan wanita untuk profesi-profesi yang memang diperlukan. Mereka yang menghimbau agar wanita menjauhi keprofesian tak jarang juga ujung-ujungnya mencari dokter perempuan manakala sang istri akan melahirkan. Hypocrite as its best.

Untuk kehamilan kedua ini, kami sebagai orang tua lebih siap secara mental. Euforia menyambut kehadiran buah hati, gue akui, tidak segegap gempita seperti menyambut kehadiran putra pertama. Kami tidak menyiapkan perlengkapan secara berlebihan mengingat beberapa pakaian dan kebutuhan bayi masih bisa diwariskan dari kelahiran pertama karena jarak yang relatif cukup dekat. Hanya kelang kurang dari dua tahun. Gue juga tidak membuatkan surat terbuka di blog seperti yang gue lakuin sebelum kelahiran Alby.

Yang tetap sama antara kelahiran pertama dan kedua adalah doa yang kami panjatkan agar proses kehamilan hingga proses persalinan diberikan kemudahan dan kelancaran. Juga doa terpanjat agar calon bayi tersebut lahir dalam keadaan selamat, sehat wal afiat, normal dan tanpa kekurangan satu apa pun. Lebih jauh sedari dini kami mendoakan ia menjadi anak yang sholeh jika nantinya benar berkelamin pria dan solehah jika prediksi via USG ternyata salah.

Tokoh lainnya dalam tulisan ini adalah Alby. Alby Shofwan Moisaani.

Entah Alby sadar atau tidak bahwasanya sebentar lagi ia akan punya adik. Fase yang akan membuatnya kehilangan peran protagonis utama dalam keluarga. Keseluruhan perhatian dan kasih sayang orang tua akan terpecah dan tidak lagi menjadikan ia sebagai pusat gravitasi.

Sejauh ini Alby kerap kali bergumam ‘dede’ manakala melihat perut sang ibu yang semakin membuncit. Mulanya kami mengira ia benar-benar tahu bahwa ada janin bukan TV layar datar, yang bersemayam di dalam perut ibunya. Tapi ternyata ia menggunakan gumaman sejenis setiap kali melihat perut yang tidak rata. Ia memanggil perutnya sendiri sebagai dede. Perut teman sebayanya sebagai dede. Dan mutlak. Perut ayahnya sudah pasti dinamai dengan dede.

Di usia satu tahun lebih enam bulan Alby sudah bisa mengikuti perintah sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, mengambilkan barang, mendatangi kala dipanggil serta pulang tanpa diantar. Menurut dokter, tahap perkembangan Alby termasuk normal. Hanya saja ia perlu lebih banyak diajak berkomunikasi agar kosakatanya bertambah tidak hanya ‘ayah’, ‘aduh’, ‘dede’, dan ‘udah’. Kami hampir setiap hari mengajak Alby ngobrol mengenai pengaruh tax amnesty pada audisi tatanan dunia baru. Tapi Alby lebih senang menyimak ipin juga upin bercakap dalam Bahasa Melayu yang seronok sangat. Macem mane ini?.

Tapi sebenernya kami masih merasa cukup tenang mengingat tetangga kami yang memiliki anak sebaya dengan Alby memiliki laju perkembangan yang tidak jauh beda. Atau kami sering menggunakan alasan gender dengan menyebut bahwa balita perempuan memiliki tahap perkembangan yang lebih cepat ketimbang anak pria.

Satu hal yang masih sering dialami Alby adalah kejedot tembok. Hampir setiap hari ada saja aksi kepala bersentuhan mesra dengan dinding rumah dengan laju dan energi yang cukup untuk membuatnya menangis. Kami berupaya sebisa mungkin untuk menghindari Alby dari terbentur untuk yang kesekian kalinya guna menghindari cedera otak atau menjauhkan ia dari anak yang keras kepala.

Pada akhirnya Alby harus sadar bahwa ia akan mengemban peran baru sebagai kakak yang harus melindungi, mengayomi dan menjaga adik-adiknya. Peran baru yang menjadikan ia sebagai wakil saya sebagai kepala keluarga.

Iklan

Tagged: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Alby dan Adiknya at I Think, I Read, I Write.

meta

%d blogger menyukai ini: