Revolusi Mimbar

Juni 13, 2016 § Tinggalkan komentar

Sumber: Google

Sumber: Google

Gue rasa sebelum adanya diskursus mengenai revolusi mental, yang pertama kali kudu direvolusi adalah ceramah-ceramah di atas mimbar. Hasil riset gue selama bertahun-tahun menjadi pendengar setia ceramah di beberapa masjid tempat gue berburu tajil, Isi dan penyampaian ceramah masih itu-itu saja. Riset ini didukung oleh pengamatan sejenis dari acara-acara ceramah semi reality show yang saban hari nongol di TV. Itulah kenapa perlu adanya semacam gebrakan untuk memikirkan topik ceramah baru. Apalagi momennya bertepatan dengan bulan puasa. Ramadhan kan bulannya segala sesuatu berubah menjadi islami. Iklan di tivi mendadak syar’i, artis-artis berbondong-bondong menggotong semua kain lap, gorden hingga terpal untuk membungkus kepala bahkan broadcast di media sosial pun isinya tidak jauh-jauh dari nasihat ustad ini-itu, amalan saat ramadhan sampai contoh undangan berbuka puasa.

Konten ceramah kita perlu direvolusi. Jamaah sudah jenuh dengan tema-tema klasik. Belum lagi ceramah di tivi yang nampak terlalu didominasi oleh si miskin ilmu kaya popularitas.

Ceramah yang banyak beredar di masyarakat masih terlalu konvensional. Masih dengan gaya bahasa yang sama dan konten yang sejenis. Ceramahnya masih beredar tentang pentingnya menjaga diri dan keluarga dari apa neraka, jangan ghibah, serta tafsir yang tekstual pada ayat-ayat mutaghayyirat. Mentok-mentoknya membahas tentang jangan pilih pemimpin cina, kristen pulak.

Pola ceramah saat ini masih banyak terpengaruh oleh retorika (alm) Ust Zainudin MZ. Generasi yang paling baper dan melow, generasi 90-an, pasti setidak-tidaknya pernah mendengar ceramah da’i sejuta umat ini. Suara yang lantang, materi yang tepat sasaran hingga guyonan segar menjadi senjata andalan beliau sehingga setiap hari ada saja salah satu ceramahnya mengorbit.

Nah, sebagian dari ceramah yang beredar masih berupa replika dari penyampaian dan materi yang disampaikan oleh Zainudin MZ seolah belio Karl-Marx nya tausiyah di atas mimbar. Memang, dunia per-ceramah-an sempat diwarnai oleh kehadiran wajah lain semisal Aa Gym atau mendiang Uje. Tapi sangat jarang, jika tidak mau dikatakan nihil, penceramah yang mengadopsi gaya mereka berdua dalam beretorika apalagi materi sekelas manajemen qalbu. Berat, komandan!. Jadilah Zainudin MZ bertahan sebagai patron.

Mengapa ceramah menjadi penting dan berpengaruh besar pada akhlak dan keimanan seorang muslim?

Wii… cadas.

Jadi gini, dek. Zaman sekarang ini semua manusia nampak begitu sibuk. Di kota, penduduknya sibuk berpacu dengan waktu. Sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk memenuhi siklus gajian-bayar tagihan-bokek-gajian. Orang-orang desa pun tak kalah sibuknya. Mereka sibuk bertani lebih giat agar stok pangan tidak berkurang sehingga pemerintah berhenti impor, sibuk digusur lahannya buat dialih fungsikan menjadi pertambangan, bahkan saking sibuknya mereka bisa sholat tarawih (plus witir) 23 rakaat hanya dalam 10 menit. Zuper. Barry Allen aja minder.

Di tengah semua lelah menjadi bagian dari dunia yang semakin kapitalis, rohani yang kosong tidak jarang menjerit. Orang-orang yang mengalami kehampaan spiritual merasa perlu mendapatkan siraman rohani dan ceramah agama adalah salah satu solusinya. Karena sesungguhnya training ESQ itu mahal sementara ceramah agama bisa diperoleh dengan gratis.

Ceramah itu sifatnya lebih inklusif, terbuka, dan tidak mengkotak-kotak kan pendengarnya. Siapa saja boleh turut serta. Beda halnya dengan liqo, halaqoh atau ikut pengajian jamaah-jamaah tertentu yang menyekat-nyekat orang berdasarkan preferensi mazhabnya. Tidak pernah ada sejarahnya ceramah jumat di masjid kantor diinterupsi oleh orang-orang salafi yang bikin ceramah sendiri atau tiba-tiba Felix Siauw muncul buat ngasih ceramah tandingan tentang khilafah.

Mestinya ada semacam selebaran informasi untuk meyakinkan para santri, ulama, kyai dan urtis, ustad alias artis. Meyakinkan mereka untuk mengubah pola berceramah di masyarakat. Nampaknya itu lebih luhur ketimbang melobi pemerintah untuk memblokir google.

Oke lah, dalam tataran penyampaian kita bisa menemukan secercah harapan pada ustad Maulana. Gayanya yang enerjik meruntuhkan imaji seorang penceramah yang terhormat, bermaqom ma’rifat dan penuh wibawa. Tapi itu pun baru sebatas apa yang ditunjukkan bukan apa yang disampaikan. Materi ceramahnya malah menurut gue lebih bersifat nilai-nilai yang universal yang bisa kita dapatkan setiap kali menonton Golden Ways.

Ceramah bermuatan tafsir kontekstual tentang peradaban madani, fiqih prioritas, muamalat, halal-kah bank syariah dibarengi kemampuan public speaking ala Anthony Robbins bisa menjadi cukup penting untuk membangkitkan kembali kesadaran umat. Bernostalgia dengan kejayaan islam masa lampau seperti kisah Avicenna atau Baitul Hikmah sudah tidak up to date. Canon medicine sudah tidak lagi menjadi acuan buku-buku kedokteran. Aljabar pun sudah semakin kompleks. Berpura-pura bahagia dengan kisah masa lalu dan pasrah ketika sadar umat dalam keadaan terpuruk di masa kini seharusnya tidak menjadi pilihan yang logis.

Dulu, Muhammad Al-Fatih sering didongengkan nubuwat nabi perihal sebaik-baik pasukan adalah yang menakulukkan romawi. Tapi tidak berhenti di situ. Sultan Murad II, sang ayah, acapkali mengajak Muhammad muda untuk melihat benteng romawi timur yang kelak akan dihancurkannya. Jadi perubahan peradaban tidak terjadi hanya dengan mengulang dongeng lampau tanpa ada muatan visi.

Memang dibutuhkan pengetahuan yang mendalam untuk membahas hal-hal se-spesifik demikian. Maka sudah sepatutnya pihak yang memiliki otorisasi meng-upgrade dai-dai tersebut dengan khazanah pengetahuan yang luas yang lebih kontemporer.

Tapi jika ceramah, apalagi yang dibahas di tivi, masih diisi oleh dai yang merecoki urusan anak muda dibingkai dengan reality show murahan maka nampaknya umat harus menunggu lebih lama untuk dapat menjadi pemimpin peradaban. Jangan lagi ceramah hanya menjadi pelengkap acara tarawih atau obat mujarab pengantar tidur. Mimbar-mimbar ceramah harus direvolusi. Bukan begitu, Pak Ustad?

Iklan

Tagged: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Revolusi Mimbar at I Think, I Read, I Write.

meta

%d blogger menyukai ini: