Sarkasme Anak

Juni 2, 2016 § 2 Komentar

Sumber : Facebook

Sumber : Facebook

Minggu malem kemaren, di sela waktu menunggu travel yang siap membawa gue dari Bandung menuju Jakarta, gue menyaksikan sebuah pemandangan nanar.

Kejadiannya begitu singkat. Sekejap setelah mata gue berpaling dari TV yang memutar Mars Perindo, gue melihat seorang anak berusia sekitar 8 atau 9 tahun tengah bermuka masam. Ia menggerutu, menggumam dan tak henti-hentinya menyimpul bibir pertanda sedang marah. Di sebelahnya duduk sang adik yang berusia sekira 4 tahun lebih muda. Jelas terdengar dari ceracauannya, bocah dengan tubuh tambun ini marah kepada adik dan juga kakeknya yang berada di lokasi serupa.

Entah apa yang menjadi penyebab kemurkaan sang anak. Yang jelas ekspresi kemarahan terbesar ia tujukan kepada kakeknya. Sang ibu merasa tidak enak atas ulah anak tersebut dan memaksanya untuk meminta maaf. Namun ia tetap bergeming. Drama yang gue saksiin terus berlanjut dengan si anak yang keras kepala masih menjadi tokoh antagonis. Kelakuannya mengingatkan gue pada Haji Muhidin versi under-age. Gusti, pengen rasanya gue bentak terus gue tabok pake kulkas dua pintu yang desainnya ergonomis. Gimana ga. Tampak jelas terlihat air muka sang kakek yang sedih dan kecewa melihat kelakuan sang cucu.

Kalo sudah ada adegan sedih-sedih seperti ini saya selalu teringat Hatchi. Lebah yang selalu kesepian dan terus-terusan mencari mamanya.

Mata gue tidak lepas mengamati tingkah sang bocah sambil sesekali ngasah cangkul yang sengaja gue beli di toko online. Siapa tahu kakek itu membutuhkan sukarelawan buat ngubur hidup-hidup anak di bawah umur tanpa ketahuan Kak Seto.

Kronis, si bocah tambun tak henti menggerutu sambil terus menyalahkan sang kakek dengan gestur dan bahasa yang melebihi usianya. Sayang, belum ada legenda cucu dikutuk menjadi batu.

Kakek yang terlihat emosional, dari raut wajahnya, nampak berpikir bagaimana mungkin anaknya, yang berarti ibu dari bocah tambun, tidak bisa mendidik sang cucu dengan baik hingga bersikap demikian. Itu sih perkiraan gue. Bisa jadi juga ia berpikir bahwa hanya di era Jokowi sebagai presiden ada cucu yang bisa se-kurang ajar ini terhadap kakeknya. Andai saja Prabowo yang jadi presiden, pasti….*ilang sinyal*. Ternyata sang kakek adalah fans berat Abangnda Jonru.

*****

Lain lagi cerita temen gue. Saat terakhir kali ke bandara, ia duduk untuk memesan makanan di salah satu warung cepat saji. Sejenak kemudian di sudut lain ruangan ia melihat seorang bapak dan dua orang anaknya yang masih balita tengah menikmati es krim. Semua berjalan normal hingga salah seorang anak menjatuhkan es krim yang ia punya. Sang bapak yang kesal kemudian marah dengan kerasnya.

Bapak ini marah karena anaknya tidak bisa menjaga dengan baik apa yang dia punya. Kalo menjaga es krim saja tidak bisa bagaimana mungkin ia bisa menjaga pasangan. Sang bapak baper mengenang masa-masa jomblo menahun.

Sontak saja. Kericuhan tersebut menarik perhatian orang-orang di sekitar.

Tak berselang lama, saat mereka beranjak pulang, es krim yang sempat terjatuh kini terinjak oleh anak yang lain. Semakin murka lah sang bapak. Tanpa berpikir panjang ia berteriak dengan lantang

‘Anjing semua!!!!’

Bapak dengan dua anak ini menghardik membabi-buta. Tak tahu kemana arah cacian tersebut ditujukan. Ia nampak begitu marah. Gue sebenernya ragu ada anjing berkeliaran di Bandara Soekarno-Hatta. Kalo ‘anjing’ yang dimaksud adalah kedua anaknya maka bapak itu apa? Mutan anjing yang menyamar menjadi manusia? Atau ia menikahi siluman anjing seperti dayang sumbi yang kawin dengan Tumang?.

Ada-ada saja. Manusia kok disamakan dengan anjing. Kesian kan anjingnya.

*****

Dua cuplikan cerita di atas mengajarkan gue bahwa mendidik anak itu tidak mudah.

Buat gue yang sudah berpredikat ‘ayah’, mendengar kata-kata kasar dari warisan genetis kita sendiri adalah situasi yang membuat emosi berkecamuk. Bagimana mungkin, anak-anak yang kita besarkan dengan lelah dan susah payah, berani bersikap kurang-ajar yang menohok harga diri sebagai orang tua. Namun, jika pada akhirnya anak-anak tidak berperilaku dengan baik maka keluarga sebagai lingkar terdekat adalah unsur yang pertama kali patut dipertanyakan.

Gue bukannya ga mau ber-husnudzon. Gue bisa saja berasumsi bocah tambun pada cerita pertama menjadi pemarah karena ia sedang nahan kentut sampe ke ubun-ubun atau kesal karena tidak tahu kemana Ultraman terbang sehabis berantem sama monster. Namun naluri alami kita sebagai manusia pasti mengasosiasikan perilaku negatif anak pada kegagalan orang tua dalam mendidik.

Gue sangat menyayangkan jika ada anak-anak yang tidak memiliki sopan-santun kepada orang yang lebih tua, lebih-lebih kakek atau orang tua kita sendiri. Tapi lebih disayangkan lagi jika melihat orang tua yang berperilaku minus di hadapan anak-anak. Apa yang diharapkan ayah serta ibu pada anaknya jika dalam keseharian mereka memberikan contoh yang negatif seperti mengucapkan ‘anjing’, ‘brengsek’, ‘bangsat’. Belum lagi ratusan cuplikan perilaku yang sama sekali tidak layak. Orang tua sering lupa bahwa ‘children see children do’.

Anak gue saat ini usianya 1,5 tahun. Di usianya saat ini, ia sudah bisa meniru gerakan solat yang kami lakukan meskipun, gue yakin, ia tidak sebenar-benarnya dalam tempo sesingkat-singkatnya tahu dan mengerti aktifitas apa yang tengah ia geluti. Sesekali pula ia mengangkat tangan meniru para muazin di TV yang seringkali membuat dia takzim dan takjub. Gue berpikir ulang. Anak-anak di usia sedini itu sudah bisa meniru apa yang dilakukan oleh orang terdekatnya. Jika lingkungannya baik maka ia baik. Ya meskipun kita sadar bahwa orang tua bukanlah faktor tunggal yang bisa membentuk karakter anak. Tapi setidaknya kita sudah berdamai dengan warisan genetis atas hal-hal yang tidak kita sukai yang berpotensi menjangkiti mereka.

Jadi kalo kita sebagai orang tua terlalu banyak menonton sinetron, berkata-kata kasar, mengumpat, merokok lalu bermuram durja saat anak-anak kita tawuran, melakukan kejahatan seksual. Siapa yang tolol?. Siapa? Coba jelaskan ke Hayati, bang!.

Kejadian-kejadian memilukan belakangan ini harusnya menyadarkan para orang-tua bahwa ada yang salah dengan remaja-remaja di sekitar kita. Sangat mungkin, perilaku negatif anak adalah sebuah bentuk sarkasme atas ketidakidealan orang tua dalam mendidik sehingga mereka melakukan hal yang serupa untuk ‘mengingatkan’ orang tua bahwa ‘ini loh, hasil didikan kalian selama ini’.

Gue juga ga tahu bakal seperti apa kelakuan anak-anak gue kelak. Tapi gue harus berikhtiar sekuat mungkin untuk setidak-tidaknya menghindari perilaku negatif di depan mereka. Gue emoh jika harus mendapati keturunan gue menampar keras hasil didikan orang-tuanya dengan rupa-rupa sarkasme yang brutal.

Tagged: , ,

§ 2 Responses to Sarkasme Anak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Sarkasme Anak at I Think, I Read, I Write.

meta

%d blogger menyukai ini: