Langkah Pertama Alby

Februari 26, 2016 § Tinggalkan komentar

20160130_093053Apa yang lebih seru, rame, menyenangkan dan mengharukan daripada memiliki seorang bayi? Memiliki dua orang bayi. Iya bener, TAPI PERTANYAAN GUE RETORIS. Jadi ga usah dijawab.

Maksud gue, memiliki seorang bayi jauh lebih membahagiakan daripada diterima bekerja di Google menggantikan Sundar Pichai atau bahkan menikahi Jennifer Gates, putrinya orang paling kaya se-Planet Bumi. Itulah mengapa terkadang gue merasa heran dan sedih ketika membaca sejarah dimana ada masa saat semua bayi laki-laki harus dibunuh atau di saat bayi-bayi perempuan yang dianggap lemah harus dikubur hidup-hidup. Entah apa yang ada di pikiran kaum barbar di zaman baheula. Hanya demi sekedar aristokrasi, bayi-bayi yang tidak berbakat untuk menjadi ksatria harus dibunuh seperti terjadi oleh Bangsa Sparta.

Memiliki bayi dan mengamati setiap fasa pertumbuhan mereka selalu menghadirkan rona-rona kebahagiaan. Dalam setiap tahap perkembangannya, seorang bayi yang tumbuh menjadi balita selalu bertingkah menggemaskan yang mengundang decak kagum orang tua. Tanpa terkecuali. Begitu pun dengan Alby, jagoan gue.

Alby sekarang sudah melewati setahun pertamanya. Gue bersyukur ia tumbuh dengan sehat wal-afiat. Jumlah giginya sudah delapan. Empat di atas empat di bawah. Tingkat keaktifannya masih belum berkurang. Semakin sering menggumam dengan berbagai intonasi. Bahkan menurut gue Alby memiliki daya nalar yang cepet dan untuk saat ini gue mengganggap Alby anak yang cerdas.

Contohnya saja Alby bisa menuruni kasur dengan menggunakan pantat terlebih dahulu padahal di saat yang bersamaan, temen mainnya yang notabene seusia menuruni kasur yang sama dengan menggunakan kepala. Belum lagi di beberapa kesempatan dia secara sadar mencoba mengelabui gue dengan pura-pura bermain karpet. Saat gue meleng, dia langsung memasukkan sebuah benda antah berantah ke dalam mulut. Saat gue liatin lagi dia pura-pura maen karpet lagi. Saat gue meleng, dia masukin lagi bendanya ke mulut. Gitu aja terus sampe Haji Sulam maen lagi di Sinetron Tukang Bubur Naek Haji.

Alby juga pernah dengan sengaja melempar potongan puzzle demi bisa meraih stop- kontak yang ada di bawah box bayi. Iyes, dia sengaja melempar potongan tersebut biar gue ga curiga dan menghalangi dia mendekati stop-kontak. Sejujurnya gue ga tahu apakah anak di usia 1 tahun memang lazim melakukan hal tersebut atau memang Alby yang berpikir melebihi usianya.

Di luar segala kebisaan yang ada, Alby, di usia setahunnya, belum bisa berbicara dengan kata-kata yang jelas semisal memanggil ‘ayah’ dan ‘bunda’ juga belum bisa berjalan sendiri.

Kemampuan bicara pada anak-anak tidak selalu sama. Menurut referensi yang gue baca, di usia 12-15 bulan anak sudah bisa mengucapkan 1 hingga 3 kata. Terutama menggunakan panggilan untuk orang tua. Saat ini Alby lebih banyak menggumam dan belum bisa mengucapkan satu kata secara jelas. Dari referensi yang sama, anak yang terlambat bicara biasanya disebabkan oleh keaktifan sang anak yang tidak berhenti bergerak sehingga kurang konsentrasi dan fokus. Dengan demikian proses imitasi atau menirunya cenderung lebih lambat. Istilah kedokterannya adalah ADHD (Attention Deficit and Hyperactive Disorder). Deskripsi tersebut persis dengan kondisi Alby yang aktifnya sudah level premium.

Lambatnya Alby berbicara mungkin diwarisi oleh sang emak yang juga mengalami kemampuan berbicara agak sedikit lambat. Bundanya Alby baru bisa berbicara saat usia 2 tahun, itu pun langsung nyerocos, setelah sebelumnya menemui kendala yang sama dengan Alby.

Untuk urusan jalan, Alby sebenarnya belum bisa dikatakan ‘terlambat’ karena rata-rata anak belajar berjalan di usia 1 tahun. Tapi tetep saja gue was-was saat di usia 1 tahun lebih Alby belum menunjukkan tanda-tanda mampu untuk berjalan dengan kemampuannya sendiri. Lebih-lebih tetangga dan juga temen kantor bercerita bahwa anak mereka sudah dapat berjalan bahkan berlari di usia kurang dari setahun.

Berjalan itu tidak mudah, jenderal. Ia melibatkan kekuatan otot, keseimbangan dan tempramen anak.

Dan akhirnya gue menerapkan latihan berjalan intensif setelah tanpa sengaja saat gue menemani Alby bermain di sekitar rumah, tetangga gue tengah mengajak Arjuna, anaknya yang sebaya dengan Alby, belajar berjalan. Arjuna dituntun dengan dua tangan dan bahkan sesekali dengan satu tangan. Sejak saat itu Alby gue latih berjalan dengan penuh semangat. Mulanya gue tuntun dengan dua tangan, lalu perlahan gue tuntun dengan satu tangan meskipun kakinya belum begitu kuat untuk menapak.

Awal pekan kemarin istri gue membagikan sebuah video lewat LINE. Saat gue puter ternyata berisi rekaman Alby yang sedang berjalan. Iya berjalan. Tanpa dipegang dan tanpa merambat. Ekskalasi yang cukup cepat mengingat latihan intensifnya belum kelar. Dari dua video yang gue puter, Alby nampak begitu bahagia dengan kemampuan barunya. Ia mampu berjalan beberapa langkah untuk kemudian jatuh atau menjatuhkan diri. Berjalan lagi diiringi ketawa membahana dan lalu jatuh kembali. Dan pas, saat semalem gue scroll down Instagram, gue mendapati quote yang menarik dari 9gag

“When a child learns to walk and falls down 50 times, he never thinks himself : “maybe this isn’t for me?”

Ya, anak kecil menggajarkan kita dari betapa gigihnya mereka belajar berjalan. Tidak perduli berapa kali mereka jatuh mereka selalu bangkit kembali. Tak pernah sekalipun mereka merasa lelah dan berkata “ah, berjalan mungkin tidak cocok buat gue’. Tidak. Tidak pernah. Karena mereka tahu bahwa ketika mereka terus mencoba maka mereka akan mampu untuk berjalan seperti yang lainnya. Coba kalo mereka jalan lalu terjatuh dan tak bisa bangkit lagi. Tenggelam dalam lautan luka dalam. Ribet, kan?.

Dan lo nyerah buat nulis skripsi hanya karena bab 1 lo dicoret-coret sama pembimbing? Malu sama bayi, woi.

Sejak hari dimana Alby secara tiba-tiba melangkah tanpa bantuan ibu peri, Ia begitu bersemangat untuk berjalan di setiap tempat. Di atas karpet, di kasur, di atas kursi, di atas awan kinton. Semoga langkah pertama Alby dengan usahanya sendiri adalah langkah awal untuk menjelajahi segenap isi bumi dan langkah awalnya jua untuk menapaki langkah-langkah paling berat dalam sejarah kehidupan seorang anak laki-laki. Langkah menuju masjid.

p.s : Gambar tidak sesuai dengan tulisan. Gue awalnya berniat mengunggah video Alby tengah berjalan tapi nampaknya sulit secara teknis.

Tagged: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Langkah Pertama Alby at I Think, I Read, I Write.

meta

%d blogger menyukai ini: