The Birthday Boy

Januari 19, 2016 § Tinggalkan komentar

20160116_134708Alhamdulillah. Alby berusia satu tahun pada 18 Januari 2016. Momen yang gue dan istri nantiin sejak sebelum 7 bola naga terkumpul akhirnya tiba. Alby menyentuh tahun pertama dalam sejarah kehidupannya.

Sabtu, 17 Januari 2015, bini gue mules-mules tanda bukaan satu. Setelah berdiskusi dengan dokter, kami disarankan untuk beristirahat di rumah karena jeda dari bukaan satu ke bukaan berikutnya relatif membutuhkan waktu. Sabtu sore mules itu semakin tidak tertahankan. Bini gue akhirnya dirawat sambil menanti saat-saat kelahiran sang buah hati. Lebih dari 12 jam tergeletak di ranjang dingin rumah sakit, bayi itu belum menunjukkan tanda-tanda akan keluar. Ia nampaknya betah berlama-lama di dalam rahim, menolak untuk bertemu dengan dunia yang kaku dan kejam.

Setelah bosan bersemayam di dalam perut akhirnya bayi tersebut, yang kami beri nama Alby Shofwan Moissani, memutuskan untuk keluar.

Hei, nak. Begitulah detik-detik pertemuan engkau dengan dunia. FYI son, momen dimana mengeluarkan engkau dari rahim adalah pertaruhan hidup dan mati. Bunda sekuat tenaga menemui engkau di dunia.

Perjalananmu dari nol hingga satu tahun kini kami abadikan dalam rekam gambar statis maupun dinamis agar kami tidak pernah terlewatkan momen-momen bersama engkau. Semoga ceritamu yang terekam baik dalam memori perangkat elektronik ini menjadi bahan kami untuk menapaktilasi perjalananmu di saat engkau kelak sudah dewasa.

1 Bulan

Momen-momen awal membersamaimu adalah masa yang cukup berat untuk kami lalui. Terutama bunda. Jadwal tidurmu berantakan. Siang tidur, malem begadang. Setiap dua jam kamu bangun dan minta susu. Wow, menjadi makhluk nokturnal itu tidak mudah, nak. Kebiasaanmu yang tidak bisa membedakan siang dan malam selama di kandungan membuat kami harus turut berpartisipasi dengan pola tersebut. Penglihatanmu pun belum sempurna. Kau belum bisa membedakan mana bunda mana ayah dan yang mana Ike Nurjanah.

Kami juga sempat khawatir ketika hasil cek darah menunjukkan bahwa kau terkena penyakit kuning karena asupan ASI yang kurang tepat satu pekan setelah hari persalinan. Padahal saat itu di rumah kita tengah dilaksanakan aqiqah. Bahagia dan haru bercampur aduk, nak.

Untungnya kamu segera pulih setelah dua hari ditangani oleh rumah sakit.

3 Bulan

Asupan ASI mu sepertinya bekerja dengan baik. Ditandai dengan berat badan yang meningkat dengan pesat setiap bulannya. Baru saja kami akan mengajak engkau untuk melakukan baby spa dan renang bayi tiba-tiba saja kamu menderita sakit (lagi). Alby males menyusu dan fesesmu juga berwarna hijau, nak. Mulanya orang-orang tua di sekitar rumah berucap bahwa feses berwarna hijau adalah sinyal akan bertambahnya kemampuan seroang bayi tapi kemudian ayah sadar bahwa ayah adalah bagian generasi Y sementara orang-orang tua itu adalah generasi X bahkan mungkin generasi O. Ada gap yang cukup jauh antar generasi sehingga tidak setiap masukan yang mereka sampaikan adalah sebuah doktrin kebenaran. Walau memang masih ada yang memiliki warisan nilai kebaikan.

Ternyata Alby menderita kolik, nak. Semacem gangguan pencernaan yang berakibat pada menghijaunya feses. Apa? Hulk juga menderita kolik? Iya mungkin sekali, nak. Koliknya Hulk menahun.

Di luar segala keresahan mengenai gangguan pencernaan, engkau mulai bisa bergumam dengan semangat. Seolah menandai satu tahun pernikahan ayah-bunda dengan omelanmu yang menyeracau.

5 bulan

Hore, Akhirnya Alby bisa tengkurep dan kembali ke posisi semula dengan sempurna. Sebenernya sejak usia 3 bulan Alby sudah mulai belajar untuk tengkurep. Tengkurepnya sih oke, hanya saja kau kesulitan untuk mengangkat kepala lebih-lebih untuk ngebalikin badan.

Kemampuan bayi memang berbeda-beda. Tetangga ayah bercerita bahwa anaknya sudah bisa duduk di usia 5 bulan. Tetangganya tetangga ayah bahkan lebih dahsyat. Di usia 5 bulan sudah bisa jualan hijab on-line. Luar biasa kan, nak?.

6 Bulan

Akhirnya… Bulan terakhir ASI eksklusif. Tepat dengan berlakunya MPASI, Alby mudik ke Palembang untuk silaturahim lebaran dengan om, tante, uwak, nenek dan keluarga besar di Palembang. Kepulangan ini terasa spesial karena menjadi momen pertama untuk menjumpai keluarga besar di belahan barat pulau jawa.

Kamu pasti senang kan bisa mencicipi rasa lain selain ASI? Akhirnya kamu bisa tahu betapa manisnya gula, betapa asinnya garam dan betapa pahitnya kalimat “kita temenan aja, ya!”.

Perkenalan pertama kamu dengan MPASI adalah saat di dalam pesawat. Untuk menghindari dengungan di telinga karena perbedaan tekanan, kamu mengunyah makanan sebagai pendamping ASI. Ayah lupa persisnya apa yang kamu makan. Antara durian atau nasi padang.

Kamu hebat, nak. Sejak bayi bahkan sejak dalam kandungan sudah wara-wiri ke Belitung, Palembang, Jakarta menggunakan pesawat terbang. Sementara ayah dan bunda mesti menunggu hingga usia belasan bahkan puluhan tahun untuk menggunakan moda transportasi yang sama. Duh, maaf nak ayah jadi curhat. Naluri keibuan ayah suka tiba-tiba muncul dalam situasi melankolis seperti ini *benerin lipstick*.

7 Bulan

Alby bisa duduk sendiri. Wah, melihat kamu bisa duduk sendiri menyajikan kebahagiaan buat kami. Kamu semakin bersemangat untuk mengacak-acak makanan yang ada di depanmu.

9 Bulan

Yeay. M.e.r.a.n.g.k.a.k.

Prestasi lainnya di usia sembilan bulanmu.

Tidak. Kamu tidak perlu merangkak keluar dari televisi. Itu tugasnya sadako. Kamu mah cukup merangkak mengelilingi rumah. Dan hasilnya adalah setiap sudut rumah kau jelajahi, nak. Mencari apa saja yang bisa ditelan. Rambut, pulpen, dorayaki. Asal jangan dompet ayah saja yang kamu telan. Karena jika iya, mohon hapus namamu dari kartu keluarga.

Sejak usia delapan bulan kamu juga gemar sekali tepuk tangan. Dalam setiap kesempatan kamu bisa tepuk tangan dengan semena-mena. Ayah sudah pernah mewanti-wanti bunda untuk tidak menonton ‘Bukan Empat Mata’ selama kau dalam kandungan :(.

Usia sembilan bulanmu juga bertepatan dengan wisuda pascasarjana bunda.

10 Bulan

Kamu tidak berhenti bergerak, nak. Untungnya kamu tidak punya peran mengelilingi matahari. Karena bisa-bisa satu tahun bukan 365 hari.

11 Bulan

Kamu mulai belajar berjalan. Mulanya dipegang dua tangan oleh bunda. Lalu berjalan dengan satu tangan dipegang ayah. Lalu perlahan berjalan merambat menggunakan media yang bisa kamu raih. Lama kelamaan kamu berjalan di atas air. Ah, yang terakhir ini bohong, nak. Tidak ada manusia yang bisa berjalan di atas air. Tidak pula Wiro Sableng atau Chris Angel. Wiro Sableng, sama halnya dengan artis mind freak, berjalan di atas air menggunakan sling, nak. Apa gunanya bisa berjalan di atas air jika tidak bisa berjalan di shirotolmustaqim. Subhanallah!.

12 Bulan

Akhirnya nak. 18 Januari 2016 menjadi saksi transformasi engkau dari seorang bayi yang lemah tak berdaya menjadi sosok balita yang lincah, sehat dan penuh semangat. Lidah yang tak berhenti berucap serta tangan, kaki dan badan yang tak berhenti bergerak.

*****

Sumber gambar : Facebook

Sumber gambar : Facebook

Nak, kini usiamu sudah 1 tahun. Semoga dengan bertambahnya usiamu bertambah pula segala apa-apa yang baik. Tidak ada yang lebih ayah dan bunda harapkan selain engkau kelak tumbuh menjadi anak yang sholeh, cerdas dan berwawasan luas. Tumbuh dengan baik dan sehat tanpa kekurangan satu apa pun.

Nak, maafkan kami jika dalam perjalanan membesarkan dan mendidikmu terselip kesalahan-kesalahan kata, khilaf tindakan, lacur perbuatan. Tak jarang kami kurang sabar menghadapi ulahmu sehingga rona-rona emosi terbersit nyala di hati. Padahal kau pun tak mengerti apa yang telah kau perbuat.

Nak, kami tahu bahwa setiap bisnis yang gagal maka selama ada upaya bisnis tersebut dapat bangkit kembali. Begitu pun dengan karir. Tapi jika kami salah mendidik engkau sedari dini maka tidak ada terminologi ‘diulang’ dalam parenting. Didikan kini adalah engkau di masa mendatang.

Kelak semakin bertambahnya usia, engkau akan semakin meniru apa yang kami lakukan. Kami tidak ingin engkau menjadi anak yang kikir karena kelalaian ayah bunda yang tak pernah mengajarkanmu makna berbagi. Kami enggan engkau menjadi anak pemarah disebabkan oleh perhatian kami yang tidak cukup untukmu. Kami berharap engkau tidak menjadi anak penakut akibat pembelaan membabi buta kami pada setiap kesalahan yang kau perbuat. Nak, di usia satu tahun ini. Doakan ayah juga bunda bisa senantiasa menjaga engkau. Menjadi role model orang tua terbaik untukmu. Memberikan asupan terbaik untuk jasmani maupun ruhani.

Dan semoga nasihat (alm) Ustad Rahmat Abdullah berikut mengiringi setiap pertambahan usiamu.

“Merendahlah, engkau akan seperti bintang gemintang. Berkilau dipandang orang di atas riak air dan sang bintang nan jauh tinggi. Janganlah seperti asap yang mengangkat diri tinggi di langit padahal dirinya rendah hina”.

Salam cinta untukmu, sayang.

-Ayah&Bunda-

*Menyambut pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean pada akhir tahun lalu, gue latah untuk ikut-ikutan. Hasilnya, judul tulisan gue nginggris biar tidak kalah bersaing dengan negara-negara di tenggara benua Asia.

Iklan

Tagged:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading The Birthday Boy at I Think, I Read, I Write.

meta

%d blogger menyukai ini: