Sebelas Bulan

20151017_163728
Try harder, son

Gue awalnya bingung memberikan judul untuk tulisan ini. Mulanya gue berniat memberi judul ‘Karpet Alby’ merujuk pada interaksi Alby dengan karpet plastiknya. Akan tetapi judul tersebut tidak cukup seksi. Lalu muncul niatan memberi tajuk ‘Road to 1 Year’ sebagai persiapan menuju ulang tahun pertama putra gue. Tapi ya terlalu kebarat-baratan. Haram. Kurang Nasionalis. Cukuplah para pejabat yang akan memperpanjang kontrak kerja Freeport yang di-cap ‘Paling Nasionalis’. Kemudian gue berusaha menggantinya dengan ‘Perjalanan menuju 1 tahun’. Namun malah mirip-mirip misi suci kera sakti.

Setelah gue cermati, judul-judul di atas terlalu spesifik, mengkotak-kotakkan alias memisah-misahkan topik. Bisa-bisa gue diciduk sama Densus 88 karena membuat judul tulisan yang dianggap separatis dan diduga melakukan makar. Asa teu nyambung, jang!.

Setelah bertapa beberapa waktu di Kebun Bunga Amarlysis hingga berhasil diinjek-injek oleh Hesti dan generasi fakir eksistensi, akhirnya gue memberikan judul tulisan secara umum. Karena otak gue sudah ‘diracuni’ oleh tingkah laku Alby yang semakin hari bikin gue ngakak dan takjub menjadi seorang ayah, gue akhirnya membuat judul seperti di atas. Sebelas bulan.

Tentu saja tulisan ini tidak akan membahas jumlah bulan yang ada di bumi atau membahas jarak antara Phobos dan Demos yang rajin banget muterin Mars. Tidak juga membahas siklus periodik para wanita yang marahnya lebih serem daripada bacot Ahok. Bercerita tentang wanita, dalam salah satu meme di internet tertulis bahwa jika ada wanita yang berkata ‘tunggu ya 5 menit’ maka kamu bisa menggunakan 5 menit itu untuk menikah, backpackeran keliling dunia, ngumpulin 7 bola naga hingga menyelamatkan dunia bersama Power Ranger. Sadis memang.

Tulisan ini bercerita kembali tentang Alby yang memasuki usia ke sebelas bulan. Walau cuma dua hari dalam seminggu gue bisa ketemu jagoan gue, tapi dua hari itu menjadi dua hari yang selalu bisa membuat beban pekerjaan, permasalahan dan semua lelah terasa menguap begitu saja. Itu sebenernya beban apa air cucian ye.

Gue bingung formulasi apa yang gue gunain pas bikin Alby hingga ia bisa selucu dan semenggemaskan seperti sekarang. Di usia sebelas bulan ia memiliki kebiasaan baru yaitu menggigit dan mengunyah karpet puzzle yang terbuat dari plastik. Atau mungkin karet?. Atau mungkin terbuat dari bayang-bayang masa lalu?. Entahlah. Siapa yang perduli. Yang penting mainan tersebut bukan pemberian bawang merah. Dan yang jelas ia aman buat balita.

Bukan tanpa alasan setiap sudut rumah kami dipenuhi dengan karpet puzzle. Setiap saat Alby bermain dengan lincah hampir selalu diakhiri dengan persentuhan kulit pada bagian tubuh, terutama bagian kepala, dengan benda-benda yang lebih keras yang tersusun dari semen, bata dan cat atau bahasa sederhananya adalah kejedot. Bayi satu ini sangat mendalami peran kejedot dalam kesehariannya. Oleh karena itu, untuk mengurangi resiko cedera saat bermain, lantai rumah kami diramaikan dengan keberadaan karpet puzzle. Bukan berarti kami ingin selalu memberikan situasi aman bagi sang anak. Ada masanya kita harus melindungi mereka dengan sepenuh tenaga. Memberikan keamanan dan kenyamanan setiap saat. Dan ada kalanya kita harus membiarkan mereka terjatuh agar mereka tahu jatuh itu sakit. Dan tahu bagaimana caranya untuk bangkit setelah jatuh. Untuk saat ini, Alby masih dalam tahap pertama.

Alby punya caranya sendiri untuk membuat kami khawatir sekaligus terhibur. Bagian-bagian kecil dari puzzle dengan semena-mena ia lepas lalu dimasukkan ke mulut untuk kemudian dikunyah seperti permen. Kami cukup khawatir kalo sampe potongan puzzle tersebut tertelan. Puzzle itu kan lumayan mahal. Kami perlu menabung lagi untuk membelinya jika hilang. Apalagi yang motif angka. Itu lucu banget. Eh sori, gue salah fokus. Maksudnya puzzle tersebut berpotensi membahayakan kesehatan Alby jika sampe nyasar masuk tenggorokan. Beruntung, Alby tidak pernah (dan jangan sampe) menelan benda asing. Mekanisme sensor di mulutnya bekerja dengan cukup selektif. Itulah mengapa setiap kali gue kasih obeng, kunci inggris atau linggis, Alby tidak pernah menelannya. Good job, son.

Bayi gue masih seperti Alby yang pernah gue ceritain sebelumnya. Aktif tanpa batas. Keaktifan-nya sudah sampe maqom makrifat. Lebih aktif daripada Raffi Ahmad yang dalam satu hari bisa tampil di 3 stasiun tivi berbeda.

Alby kini sudah meninggalkan dunia per-baby walker-an karena lebih memilih merangkak atau berjalan merambat. Ia bisa pelan-pelan berpegangan pada apa yang bisa diraihnya seperti bangku, meja, cita-cita lalu berdiri sejenak dan kemudian merambat kesana kemari. Tapi bagian terbaiknya adalah manakala Alby merangkak dengan penuh passion menuju ke arah gue setiap kali gue panggil. Alby, sit. *kemudian digigit Alby dengan dua giginya*.

Sesekali gue bersembunyi di kamar sambil mengawasi ia celingak-celinguk mencari. Ekspresi kepolosan dengan pipi yang cubit-able ditambah senyum menawan membuat gue pengen selalu berlama-lama bermain bersama.

Alby tetap tak berhenti bergerak. Saat di mana Alby berhenti berorbit adalah saat sakit. Beberapa pekan lalu ia menghabiskan satu pekan di rumah aki/niniknya di Sindangbarang, 100 km sebelah selatan Cianjur kota. Wilayah ini berbatasan langsung dengan laut sehingga cuacanya relatif lebih panas. Sepulang dari Sindangbarang, Alby beberapa kali muntah seusai minum ASI. Bukan karena bundanya memberikan ASI basi. Kulitnya juga banyak bercak merah dan mengelupas. Usut punya usut dan setelah berkonsultasi dengan dokter, Alby diduga mengalami kondisi tersebut karena fisiknya tidak kuat menghadapi perubahan cuaca. Ditambah lagi kebimbangan Menteri Perhubungan menentukan apakah Gojek jadi dilarang atau tidak menambah buruk keadaan.

Kami cukup khawatir setiap kali melihat Alby tidak seaktif biasanya.

Saat ini Alby sudah sehat kembali. Sudah selincah sedia kala. Tapi ya itu. Sekarang dia sulit banget makan nasi. Dia bisa makan apa saja kecuali makanan full karbohidrat tersebut. Apa jangan-jangan Alby sedang diet karbo?. Atau dia ikutan OCD?. Buat Alby, karpet puzzle jauh lebih enak daripada makanan apa pun.

Gue sempet menyesalkan kenapa tidak ada karakter kartun Indonesia yang mirip Popeye. Kalo Popeye bisa kuat habis makan bayem, harusnya kartunis Indonesia membuat tokoh yang kuat menjomblo bertahun-tahun atau bisa berantem dengan serigala-serigala yang ganteng hanya dengan makan nasi. Gue yakin anak-anak balita sak Indonesia pasti ga ada yang emoh makan nasi. Apalagi kalo yang meranin karakternya Jeremy Teti atau Saiful Jamil. Beh. hacep banget pastinya.

Sekarang, kemana-mana Alby sering sekali bergumam ‘haaa’ dengan intonasi sok-sok diseremin. Persis dengan cara orang dewasa menakuti anak-anak. Sekonyong-konyong ia bisa bertingkah seperti itu di rumah, di mobil dan dimanapun ia mau. Bundanya bahkan tidak tahu dia belajar darimana atau mengimitasi siapa. Tidak semua hal baru yang dilakukan oleh anak-anak bisa diketahui dari mana ia belajar. Bertanya sumber imitasi balita sama aja kayak nonton pertandingan bola terus nanya mana yang jahat mana yang baik di antara dua tim yang tanding. Absurd. Pokoknya gumaman tersebut bisa membuat kami tertawa lepas karena menurut bundanya ekspresi tersebut cocok buat nakut-nakutin semut.

Bulan depan Alby setahun. Menikmati pertumbuhan Alby dari waktu ke waktu menyajikan spektrum kebahagiaan tersendiri buat gue dan istri sebagai orang tua. Semoga Alby tetap terus tumbuh dengan sehat dan cerdas. Semoga ia tumbuh menjadi anak yang shalih, berkarakter dan ber-adab.

Salam Cinta untukmu, nak.

Penulis: andri0204

Pragmatis-oportunis. Menulis ya menulis saja. Sebuah ekspresi dari kecerdasan berpikir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s