Ketupat Lebaran

Juli 15, 2015 § Tinggalkan komentar

Alby

Satu hari usai tulisan ini diterbitkan oleh WordPress, ramadhan sudah berakhir untuk digantikan oleh idul fitri. Lebaran tahun 2015 Masehi atau 1436 Hijriah terasa spesial mengingat tidak perlu ada ‘perpecahan’ antara pemerintah dan ormas-ormas sehubungan dengan tanggal jatuhnya idul fitri. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya dimana pemerintah yang menentukan 1 Syawal dengan Ru’yatul Hilal harus ‘berhadapan’ dengan ormas seperti Muhammadiyah yang menggunakan metoda Hisab. Belum lagi aliran seperti Naqsabandiyah atau Jamaah Aboge yang menggunakan metoda lainnya.

Lebaran tahun ini juga menjadi lebaran pertama Alby. Walau mungkin di usia enam bulannya, ia belum mengerti tentang gegap gempita hari raya. Alby juga untuk pertama kali akan mudik ke Palembang. Pertama kali naik pesawat. Dan pertama kali juga bertemu dengan sepupu, nenek serta om-tante yang ada di Palembang. Sebuah ekskalasi yang hebat mengingat gue ataupun istri baru mencicipi pesawat terbang untuk pertama kali saat mengingjak usia belasan.

Saat berangkat ke kantor tadi pagi, gue sekilas melihat rombongan penjual dadakan yang menggantung ketupat untuk dijajakan di sepanjang jalan Veteran, Bintaro. Hari Raya memang menjadi suatu fenomena ekonomi yang mendorong  terjadinya bisnis-bisnis insidental. Pola yang sama dilakukan oleh penyedia jasa tukar uang untuk THR yang berada di pinggir-pinggir jalan kota besar. Meskipun pada praktiknya, mereka menjalankan bisnis riba.

Ketupat sudah menjadi bagian dari tradisi lebaran di Indonesia. Sejak kecil, keluarga gue tidak pernah melewatkan ketupat sebagai pelengkap momen idul fitri. Ketupat akan disajikan bersamaan dengan lauk pauk khas daerah masing-masing. Di Pariaman, ketupat biasanya ditemani oleh Tunjang. Sementara di Palembang kami biasanya menyantap ketupat bersama dengan Opor dan Malbi.

Gue mencoba mencari tahu apa yang melatarbelakangi ketupat hingga begitu lekat dengan momen lebaran. Dari referensi yang gue baca, ketupat menjadi simbol perayaan hari raya islam dimulai pada masa pemerintahan Kerajaan Islam Demak, awal abad ke-15. Penjelasan ini disampaikan oleh H.J. de Graff dalam Malay Annal. Ia menambahkan bahwa daun ketupat dari janur mendeskripsikan masyarakat pesisir yang ditumbuhi oleh banyak kelapa. Sementara warna kuning janur melambangkan identitas masyarakat Jawa untuk membedakan dengan warna hijau timur tengah atau warna merah asia timur.

Sunan Kalijaga menjadikan ketupat sebagai perayaan tersendiri dengan istilah Lebaran Ketupat seminggu setelah idul fitri atau setiap tanggal 8 syawal. Lebaran ketupat diangkat dari pemujaan Dewi Sri, Dewi pertanian dan kesuburan yang dipercaya oleh masyarakat pra islam. Asimilasi budaya selalu menjadi bagian dari tradisi keagamaan selalu menjadi instrumen penyebaran agama islam oleh wali songo.

Sementara Menurut Slamet Mulyono dalam Kamus Pepak Basa Jawa, Kata ‘ketupat’ berasal dari ‘kupat’ yang berarti ngaku lepat atau mengakui dosa. Sementara Janur adalah singkatan dari Jatining nur atau hati nurani. Beras yang dimasukkan ke dalam janur adalah simbol nafsu duniawi. Jadi ketupat melambangkan nafsu duniawi yang dibungkus oleh hati nurani. Bagi sebagian masyarakat jawa, bentuk persegi ketupat menggambarkan empat arah mata angin.

Pendapat lain menjelaskan bahwa anyaman bungkus ketupat adalah simbol kesalahan manusia yang rumit. Setelah dibuka akan nampak beras/nasi putih yang berarti kebersihan dan kesucian hati memohon ampun atas segala kesalahan. Gue Pribadi cenderung sepakat dengan pendapat kedua ini.

Apapun definisinya, ketupat lebaran selalu menjadi ciri khas lebaran di sebagian besar masyarakat Indonesia. Ia nya adalah penyemarak momen lebaran. Disantap bersama dengan kuah santan atau lauk-pauk khas daerah. Semoga lebaran kita tidak hanya menyemangati masak ketupat, atau bersibuk dengan segala hal yang baru mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Lebaran kita akan jauh lebih bermakna jika ramadhan kita sukses. Suksesnya dapat diinterpretasikan dari pribadi yang lebih baik nan bersahaja selepas melewati pesantren ramadhan.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H.

Taqobbalallahu minna wa minkum. Shiyamana wa shiyamakum.

Tagged: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Ketupat Lebaran at I Think, I Read, I Write.

meta

%d blogger menyukai ini: