Siluet Ramadhan

Juni 22, 2015 § Tinggalkan komentar

PicsArt_1434959814287

Ramadhan sudah masuk hari kelima saat gue menuliskan postingan ini. Sayup-sayup masih terdengar nasihat dari pengisi ceramah di masjid kantor. Ia berujar bahwa salah satu tanda kiamat adalah perputaran waktu yang terasa semakin cepat. Ia menambahkan bahwa belum sempat kita melucuti diri dari dosa-dosa selepas ramadhan tahun lalu, dalam sekejap ramadhan baru sudah hadir dan kembali mendekap.

Siluet perjalanan ramadhan dari waktu ke waktu terselip di antara lamunan gue saat menyandarkan punggung usai mengerjakan laporan trial produk di customer. Terlintas bayang-bayang kisah menjalankan shaum di masa lampau. Ramadhan yang dihabiskan bersama keluarga. Dulu, gue selalu terdoktrin bahwa hari pertama puasa adalah hari paling berat dalam hidup hingga gue nyaris selalu batal puasa karena tidak tahan lapar. Di saat lain, gue berbuka puasa dengan menggunakan minuman rasa. Tak berselang lama, apa yang gue minum kembali gue keluarkan bersama dengan liur dan sisa-sisa makanan yang belum tercerna. Arggh!

Ramadhan di masa lalu juga berarti melaksanakan tarawih di mesjid plus bermain petasan hingga sumpah serapah mengalir dari mulut tetangga. Buku ramadhan yang dibagikan oleh guru agama juga harus diisi dengan konsep ‘siapa cepat dia dapat’. Yes, siapa yang lebih dulu menggapai imam sholat tarawih maka ia yang berhak menerima tanda-tangan berharga lebih awal di buku ramadahannya. Meskipun, tak jarang pak imam membalik tumpukan buku sehingga yang datang di awal malah mendapatkan urutan tanda tangan terakhir. Buat Pak Imam yang rela memberikan satu per satu tanda tangan ke bocah yang meramaikan masjid, YOU THE REAL MVP.

Kisah nan epik tidak berakhir sampai di situ. Masa-masa mengisi ramadhan dengan cara yang lebih dewasa mulai bersemi di bangku SMA. Berlomba dalam kebaikan atau ‘fastabiqul khairat’ menjadi momen yang selalu ditunggu. Tak jarang, temen gue berusaha dengan teknik kamuflase yang jauh lebih mahir dan rahasia daripada kawarimi demi mencuri tahu sudah sejauh apa mushaf yang dibaca penghuni mushola lainnya. Kami tak mau tertinggal dalam ibadah. Setidak-tidaknya dalam bacaan Al-Quran. Saat itu semangat begitu menggebu.

Dan kini, gue berdiri di antara tumpukan memori-memori ramadhan penuh kenangan. Memori yang hidup bersama dengan bayang-bayang orang terkasih. Terucap jua doa tulus untuk almarhum ayah yang tidak membersamai ramadhan kami dalam dua tahun terakhir. Semoga segala amal ibadahnya tak terputus akibat doa-doa yang kami panjatkan di sela waktu menunggu adzan maghrib saat doa terijabah.

Waktu berputar dengan terasa sangat cepat. Tak terasa satu tahun pernikahan sudah terlewati. Jika ramadhan lalu gue membersamai istri yang dilanda mual dan muntah karena hamil muda, kini kami sudah berkumpul bersama dengan sang bayi yang tengah masuk bulan kelima usianya tepat dengan 1 ramadhan.

Ramadhan selalu istimewa. Semoga segala kebaikan ramadhan selalu terlimpah untuk kita semua. Ramadhan Kareem!.

 p.s : Ditulis di saat gue kehilangan ide dan motivasi untuk bloging.

Tagged: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Siluet Ramadhan at I Think, I Read, I Write.

meta

%d blogger menyukai ini: