The ‘A’ Team

Mei 8, 2015 § Tinggalkan komentar

IMG-20150501-WA002718 April 2015 adalah hari yang spesial buat keluarga gue karena pada tanggal tersebut ada dua momen yang kami rayakan yaitu satu tahun pernikahan dan juga 3 bulan-an Alby. Satu tahun bisa dikatakan sebagai usia yang masih sangat belia untuk ukuran sebuah rumah tangga. Bahkan, orang-orang terdahulu berani menjamin bahwa setahun pertama menikah adalah fasa-fasa termudah yang dilewati oleh suami-istri. Ke depannya tantangan akan jauh lebih berat guna mengarahkan bahtera agar tidak karam terhantam karang.

Belum banyak hal yang bisa digambarkan atas periode 12 bulan setelah ijab qabul. Terlalu dini jika kita mencoba mengekstrapolasi keharmonisan rumah tangga hanya dengan mengambil kepingan-kepingan dari satu tahun pertama puzzle yang bernama pernikahan. Menikah bukan data-data eksakta yang bisa ditentukan dengan memasukkan variabel A dan B. Permasalahan tersulit manusia dari zaman dahulu kala, selain nasib jomblo ngenes (jones), adalah permasalahan yang ada dalam pernikahan sebab terdapat dua kepala yang isi dan pernak pernik kehidupan serta latar belakangnya bisa jadi benar-benar berbeda. Tiap-tiap diri punya ego. Maka ketika Qabil membunuh Habil, itu pun didasari atas sentimental untuk berpasang-pasangan. Qabil tidak rela menikahi Labudah.

Setidaknya setahun pernikahan bisa menjadi sedikit gambaran seperti apa wajah keutuhan sebuah pasangan. Buat gue pribadi, satu tahun terakhir adalah satu tahun terbaik yang pernah gue alami. Menikah dan mempunyai seorang bayi yang lucu benar-benar melengkapi episode kehidupan gue.

Sejauh ini, gue dan istri Alhamdulillah masih menjalani segala sesuatunya dengan baik dan lancar. Belum ada riak maupun onak yang benar-benar tajam yang mencederai keharmonisan keluarga kami. Kunci terbaik dalam mengatasi permasalahan rumah tangga adalah menahan egoisme dan menjalin komunikasi aktif serta selalu berprasangka baik terhadap pasangan. Selain kemampuan untuk meredam ego dan memformulasikan visi bersama, hal terpenting yang melandasi sebuah mahligai Indah rumah tangga adalah menikahi wanita shalihah. Karena syarat tersebut adalah langkah pertama yang sangat mungkin menentukan langkah-langkah berikutnya. Istri shalihah adalah jaminan keamanan, rasa nyaman dan cinta dalam keluarga. Benarlah jika Rasul menekankan agama sebagai dasar seseorang sebelum memilih dan memilah pasangan hidup.

Setelah satu tahun pernikahan, keluarga kami semakin kental dengan nuansa huruf pertama abjad latin. Dengan inisial huruf ‘A’ keluarga ini akan menjadi The ‘A’ team. Kelak anak kedua, tiga dan seterusnya akan mewarisi huruf ‘A’ di depan namanya.

A pertama adalah Annisa Martina. Setelah satu tahun, gue makin mengenal karakter doi. Gue dan istri punya banyak kesamaan. Kami sama-sama memiliki golongan darah O, kami seneng ngomong, kami berdua doyan makan dan yang paling penting adalah kami sama-sama bernapas. Meskipun begitu kami juga memiliki banyak perbedaan. Selain beda kelamin, istri gue cenderung tidak terlalu aktif di sosial media jika dibandingkan dengan gue yang setiap menit mengakses situs-situs facebook, instagram dkk. Keadaan tersebut sebenarnya menjadi anugerah tersendiri. Istri gue bukanlah orang yang suka curhat ini-itu di facebook. Atau pasang foto mesra-mesraan. Ia juga tidak sudi membuat status dan semua hal yang terjadi di dinding laman web besutan Zuckerberg. 008968 01 4R

Gue seneng nonton, suka update hal-hal yang kekinian, seneng baca buku-buku tentang pemikiran, ide dan pengetahuan. Sementara istri gue lebih seneng baca harga pa*mpers yang didiskon di Ele*nia. Hal itu sangat membantu masalah keuangan keluarga. Rasanya memang tidak perlu memaksakan kepada pasangan apa yang kita suka karena mereka memiliki hobi dan kecintaannya sendiri. Tidak perlu menjadi orang lain untuk menunjukkan rasa cinta.

Gue akui bahwa istri gue punya banyak kekuarangan tapi rasanya kelebihannya jauh lebih banyak. Salah satu kelebihan tersebut adalah dia mau menikah sama gue yang agak weird. Kalo kita berfokus pada kekurangan rasanya kita tidak akan pernah menemukan kebahagiaan dalam berumah tangga. Pasangan yang baik adalah mereka yang mendukung satu sama lain untuk berkembang dengan apa yang mereka suka dan menjadi diri mereka. Rasul pun adu lari dengan Aisyah, menggendong Aisyah di tengah keramaian. Arggh, kenapa gue jadi berasa Mario Teguh gini. Gue keinget dengan caption di instagram ‘we come to love not by finding a perfect person, but by learning to see an imperfect person perfectly’. Widih, gue mesra banget ya yang. Tolong masakin semur ayam ya sehabis baca tulisan ini :D.

A yang kedua adalah Alby Shofwan Moissani. Tepat di hari yang sama, Alby merayakan usia ketiga bulannya. Ia kini mampu berceloteh banyak hal. Mengajak kami berdiskusi seolah kami mengerti. Kami berharap Alby dapat menjadi anak yang sholeh, berbakti dan menjadi panutan bagi adik-adiknya kelak. 008968 02 4R

Memiliki bayi adalah pengalaman yang luar biasa. Saat melihat senyumnya, tawanya, tangisnya adalah momen-momen terbaik yang bisa menghidupkan hari. Setiap saat gue menanti hal-hal baru apa yang ia lakukan. Detik-detik pertama kali mendengar Alby berceloteh membuat gue meleleh. Belom lagi saat melihat ia belajar tengkurep, duduk di pangkuan emaknya, kehebohan saat mandi. Gue merasa bingung dengan negara-negara dengan angka kelahiran yang rendah. Mereka seolah terbebani dengan kehadiran seorang bayi. Mungkin dalam benak mereka memiliki bayi berarti merelakan diri untuk mengurus makhluk hidup yang lemah yang hanya bisa menangis dan merengek. Itu benar. Namun membersamai tumbuh kembang sang anak jauh melewati kelelahan fisik saat mengurus mereka. Gue yakin para ibu sedunia sepakat dengan hal ini.

Memiliki bayi juga berarti mencurahkan semua perhatian dan fokus pada mereka. Saat mereka sakit maka kita juga akan merasa sakit. Sekarang gue mengerti mengapa Lara dan Zor-el menyelamatkan Kal-el dari kehancuran planetnya. Gue juga mengerti pedihnya perasaan orang tua Son goku saat merelakan anaknya pergi ke bumi sebelum Planet Saiya meledak. Anakku Alby, maaf jika ayah terlalu banyak menonton kartun :D.

A terakhir tentulah gue sendiri, Andri Wijaya alias Andrew alias Jay atau Jayho. Gue sengaja menulis kisah gue di akhir cerita karena gue sangat mengidolakan Inspektur Vijay yang selalu hadir di saat penjahat sudah kalah. Sudah, tentang gue tidak usah banyak dibahas. Gue lebih enak diajak cerita daripada dibaca kisahnya. Tsah!.

Setelah satu tahun pernikahan, banyak rintangan yang akan terjadi ke depannya. Banyak ujian yang siap menanti. Namun semoga setiap permasalahan dapat diselesaikan. Karena menikah itu sebenarnya adalah seni untuk mencari solusi dalam setiap ruangan yang berisi permasalahan dan tantangan.

Tagged: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading The ‘A’ Team at I Think, I Read, I Write.

meta

%d blogger menyukai ini: