Petrichor

Petrichor, pernahkah kau mendengar kata ini?

Mungkin tak pernah, namun hampir setiap kali kau merasakannya kau berteriak bahagia. Dengannya kau, mungkin juga aku, selalu merasa damai. Memang, tak semua yang kita cintai harus diberikan nama atau istilah atasnya.

Petrichor. Pernahkah kau mengenal ia?

Sesaat setelah hujan turun di kota ini, aku mencoba membaui hujan. Dalam setiap tetesan yang menjumpai bumi, Ia selalu menyediakan kedamaian di tengah hiruk pikuk dan lalu lalang kehidupan. Iya, mungkin seperti apa yang sudah kau kira. Petrichor adalah  bagaimana orang-orang menyebut aroma yang senantiasa dihadirkan oleh hujan manakala ia datang. Berterimakasihlah pada bakteri-bakteri, pada batu-batu yang kau injak dan kau hina, pada kekeringan yang melanda karena tanpa mereka semua, kau tak akan pernah merasakan kesejukan yang selalu dihadirkan oleh hujan.

Petrichor, engkau selalu mampu membangkitkan cerita-cerita yang pernah terjadi di bawah dentingan rinai. Pernah suatu ketika, aku berlari lincah menghindari kejaran teman-teman sebaya saat hujan datang beriringan. Saat itu aku tak takut dengan dinginnya. Yang lebih aku takutkan justru teriakan ibu atau sosok ayah yang sudah menunggu di depan pintu. Sesegera mungkin aku pulang ke rumah sebelum ayah dengan sigap menghukumku. Tapi, itu adalah bukti cinta mereka agar sang buah hati tidak lantas menggigil karena terlalu banyak memeluk hujan.

Masa-masa bercengkrama dengan hujan, menjadikannya sahabat dan wahana permainan tidak bertahan lama saat aku mencium aroma yang membawaku kembali ke masa-masa remaja. Kini hujan tidak lagi kuanggap sebagai teman permainan. Kedatangannya tak melulu menjadi inspirasi senyuman. Hujan hanya sebatas alasan untuk mengakrabkan diri dengan sahabat di dalam masjid sekolah. Bersenda gurau dan menghangatkan diri dengan canda tawa atas kekonyolan-kekonyolan manusia-manusia yang beranjak dewasa.

Petrichor. Aromamu menerbangkan khayalku dalam pergulatan kisah yang lebih jauh. Saat jatuh cinta,saat bertemu calon mertua, saat bersama sang teman hidup. Kini, aromamu akan membawa kami menanti kehadiran sang buah hati.

Petrichor. Hadirmu sangat berarti.

Penulis: andri0204

Pragmatis-oportunis. Menulis ya menulis saja. Sebuah ekspresi dari kecerdasan berpikir

2 thoughts on “Petrichor”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s