Mengapa Harus Cinta?

November 25, 2014 § 2 Komentar

Gue tidak terlalu menyukai bacaan yang bertema cinta. Cinta, dalam segenap novel yang gue baca resensinya, nampak begitu lemah. Kisah-kisah dalam buku-buku itu hanyalah bentuk perulangan dari romantisme picisan tentang pria, wanita, kisah cinta yang menggelora, perpisahan, air mata dan kepiluan yang mendalam. Ahh, gue bingung kenapa tulisan dengan tema cinta masih terus menggelayuti pikiran anak muda. Bacaan-bacaan yang menjadi arus utama berputar di sekitaran obrolan tentang perasaaan. Dan untuk itu gue harus bilang bahwa kalian, pemuda indonesia adalah generasi rapuh. Dan gue pernah menjadi bagian dari generasi itu. Kalian ringkih!.

Memang tak semua tulisan bertemakan cinta berasaskan sifat mendayu-dayu dan klise. Beberapa judul buku menggambarkannya dengan lebih dewasa. Habiburahman El Shirazy menurut gue sukses besar dengan kisah Aisyah-Fachrie atau Azzam-Anna. Juga tulisan-tulisan suplemen bertema cinta dengan segudang ilmu di dalamnya ala Salim A Fillah.

Generasi muda kita dalam kondisi yang relatif aman dan nyaman hingga mereka harus mengais-ngais tema untuk menyokong dorongan biologis yang dikenal dengan pubertas. Beri mereka tulisan Asma Nadia atau Helvy Tiana Rosa dalam menyambut cinta dengan lebih logis. Lalu mereka akan berucap ‘buku seperti ini terlalu berat buatku’. Miris, bukan?.

Iya, tulisan ini hanyalah sebatas reaksi dari kegeraman gue pada semaraknya buku-buku beraliran melankolis yang seolah menggambarkan semangat anak muda kekinian. Gue mencoba membenturkan selera gue dengan orang lain. Salah? Memang.

Ya sudah begitu saja. Buat kalian para pemuda, apalagi yang mengaku aktifis dawah, coba luaskan bacaan kalian dengan segenap tulisan beraliran tema pemikiran, pergerakan, teknologi dan perkembangan dunia. Sadar pluto sudah tidak lagi menjadi bagian tata surya kita?. Atau pernah mendengar ‘String Theory’?. Atau kalian masih sibuk memikirkan pujaan hati sambil menghapus air mata seusai membaca novel bertemakan cinta?. Terlalu banyak mengkonsumsi gaya bahasa cemen percintaan membuat kalian berleye-leye hanya sekedar untuk memikirkan jodoh yang tak kunjung datang atau galau sehabis membaca buku ‘Tuhan Maha Romantis’. Ahh cukuplah bacaan-bacaan itu menggambarkan seperti apa mentalmu, anak muda. Pantas saja FTV laku.

Tagged: , ,

§ 2 Responses to Mengapa Harus Cinta?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Mengapa Harus Cinta? at I Think, I Read, I Write.

meta

%d blogger menyukai ini: