You Are What You Follow

November 17, 2014 § Tinggalkan komentar

Sudah menjadi hal umum aksioma bernada ‘you are what you read’ digaungkan untuk menandai bagaimana pola pikir individu sangat dipengaruhi oleh responnya terhadap apa yang ia baca. Bacaan tersebut akan menggambarkan seperti apa preferensi, hobi hingga kecendrungan sosial dari individu bersangkutan.

Di era media sosial, orang-orang berbondong-bondong membentuk sebuah jejaring luas yang menghubungkan mereka dengan manusia lainnya hingga lokasi paling terpencil di muka bumi. Media sosial menyediakan ruang seluas-luasnya untuk berinteraksi dan berbagi banyak informasi dan pengetahuan. Ia juga mampu menjadi senjata yang berperan ganda bak pisau bermata dua. Positif atau negatif. Lebih luas media sosial kini telah mendapati eksistensinya sebagai wahana untuk menyampaikan ide, aspirasi, pesan, opini yang akan melahirkan simpul-simpul sosial.

you areSebagai seseorang yang cukup teradiksi oleh facebook, twitter dan sejenisnya, gue mengambil suatu kesimpulan bahwa siapa yang menjadi teman kita, siapa yang kita ikuti di jejaring sosial akan menggambarkan siapa diri kita dan bagaimana cara kita berpikir. Terminologi ‘You are what you follow’ rasanya sangat pas untuk menggambarkan situasi seperti ini.  

Belom pudar dari ingatan kita bagaimana sengitnya ‘pertarungan’ dan friksi yang terjadi antara para pendukung dalam kancah pertarungan pemilihan presiden paling ‘berdarah-darah’ dalam sejarah Indonesia. Pada saat itu, pendukung masing-masing calon presiden saling sikut dan saling beradu opini. Demi menopang supremasi antar salah satu capres, seorang user media sosial rasanya ‘wajib’ berteman atau paling tidak follow mereka yang berhaluan dan memiliki kepentingan yang sama.

Contoh paling mudah adalah bagaimana sosok Jonru sangat berperan aktif dalam membentuk opini para pendukung Prabowo. Gue mengenal dan mengikuti sosok Jonru sejak tahun 2010. Jauh dari hingar bingar perebutan kursi panas padepokan negeri ini. Saat itu Jonru menjadi netizen yang menginspirasi dengan keberaniannya keluar dari kemapanan seorang karyawan untuk beralih ke kuadran IV ala Robert Kiyosaki. Semua berubah sejak memasuki tahun 2014. Sosok Jonru berubah menjadi corong untuk mengrkritisi gerak-gerik Jokowi. Awalnya gue merasa biasa namun lama kelamaan kritikan tersebut semakin menjadi-jadi dan tak terkendali. Padahal apa yang disampaikan Jonru dalam setiap postingannya di media sosial adalah sebatas membagikan kembali headline di koran nasional yang dibubuhi dengan caption yang menurut gue berbau propaganda, bukan didasari oleh keseksian ide-idenya.

Gue memutuskan unfollow Jonru setelah jengah dengan segala postingan tersebut meskipun gue berada pada pilihan calon presiden yang sama. Parahnya, banyak pendukung prabowo yang dengan penuh kesadaran menjadikan Jonru sebagai ‘model’ untuk ‘menyerang’ Jokowi. Sayang!

Saat ini gue lebih selektif untuk berteman di jejaring sosial. Selain kolega yang benar-benar dikenal, gue lebih tertarik mengikuti atau berteman dengan user facebook atau twitter yang memiliki kecemerlangan dalam mengemas ide-ide dengan ragam pembahasan untuk ditinggalkan di dinding facebook atau linimasa twitter mereka. Misalnya saja adalah akun facebook Tarli Nugroho atau akun twitter Ragil Nugroho yang sangat sering ‘menyentil’ segenap kebijakan Jokowi. Bedanya, kedua orang tersebut mampu memaparkan orisinalitas ide dengan gaya yang khas.

Gue juga mendapatkan banyak manfaat berteman atau mengikuti setiap postingan beberapa senior yang kuliah di luar negeri. Mereka notabene tidak mengenal gue namun yang paling penting adalah bagaimana gue bisa mengadsorpsi setiap tulisan mereka di media sosial sebagai pengetahuan yang belum gue ketahui. Tak jarang akun-akun tersebut bercerita atau berbagi tautan yang bermanfaat dan menambah wawasan.

Mereka, yang kita ikuti setiap postingan di jejaring sosialnya, akan mencerminkan seperti apa preferensi kita dan sangat mungkin mempengaruhi bagaimana cara kita berpikir terhadap sesuatu. Sebagai contoh, gue ambil pengalaman gue dalam bermedia sosial tentang betapa dahsyatnya ‘pertarungan’ antara komunitas Islam Liberal dan antidotnya, Anti JIL. Pengguna media sosial yang memiliki pemikiran nyeleneh dalam hakikatnya sebagai seorang muslim pasti menjadikan Ulil Abshar Abdala, Zuhairimisrawi atau Assyaukanie sebagai role model. Twitnya diagungkan, dibagikan dan dijadikan paten untuk logika liberalis dalam islam itu sendiri. Sementara mereka yang berada pada posisi bersebrangan akan lebih tertarik pada twit-twit atau status facebook seorang Akmal Sjafril, Yusuf Mansyur, Hafidz Ary dsb. Di era pertarungan pemikiran seperti saat ini, siapa yang kita simak dengan baik twit maupun postingannya di media sosial akan membantu kita dalam mengkontruksi cara berpikir.

Jadi tidak perlu sulit untuk menilai bagaimana karakter seseorang. Siapa yang mereka ikuti di jejaring sosialnya akan menunjukkan siapa diri mereka sebenarnya.

Sumber Gambar
Iklan

Tagged: , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading You Are What You Follow at I Think, I Read, I Write.

meta

%d blogger menyukai ini: