House Of Wisdom Jilid II

November 11, 2014 § Tinggalkan komentar

house of wisdomDalam satu bulan terakhir, gue tertarik untuk membaca sejarah islam dan prestasi-prestasi yang telah diukir untuk dunia. Memang, Islam sendiri adalah warisan tak bernilai bagi umat Nabi Muhammad khususnya dan manusia secara keseluruhan pada umumnya. Ia jauh lebih berharga daripada ide-ide marxisme atau peninggalan relativitas Einstein. Namun untuk menjawab keraguan para muslim yang sudah kehilangan izzah atas identitas keislamannya, kita perlu membuka tabir tentang apa-apa saja yang telah diwariskan para generasi pendahulu kita bagi peradaban modern.

Kegemilangan Islam dalam ilmu dan teknologi sangat berkembang saat Kekhalifan Abbasiyah dan Umayyah (Spanyol) memimpin dunia. Warisan ilmu pengetahuan yang mereka tumbuh kembangkan adalah kilat cahaya yang menerangi eropa untuk bangkit dari era dark age menuju zaman renaissance. Eropa di awal milenium kedua sangat jauh tertinggal dari Islam. Mereka terkungkung pada mistisme dan kekakuan dogma gereja yang menentang habis-habisan ilmu pengetahuan. Namun perlahan, mundurnya kerajaan islam akibat terpecah belah menjadi kerajaan kecil serta penyakit wahn yang sedari awal sudah diingatkan oleh Nabi Muhammad, menjadi awal kebangkitan barat beserta perangkat ilmu pengetahuannya. Perlu dipahami bahwa kemajuan  tersebut berimbas pada majunya perdaban barat saat ini.

Berbicara mengenai ilmu pengetahuan tidak akan pernah terlepas dari ‘Baitul hikmah’ atau House of wisdom. House of Wisdom adalah tempat di mana para ilmuwan berkumpul dan membahas ragam ilmu mulai dari logika, metafisika, teologi, aljabar, geometri, trigonometri, fisika, kedokteran hingga bedah.

Dalam buku ‘Great Discoveries of Muslim’, penulis menjabarkan apa-apa saja prestasi muslim berkaitan dengan ilmu pengetahuan yang masih bisa kita rasakan saat ini. Dari sekian banyak kebermanfaatan tersebut, berikut ini adalah segelintir rinciannya. Gue tulis dalam versi bahasa inggris (langsung di salin ulang dari buku yang sama)

  1. Book of optics from Ibnu Al Haytam (Alhazen) was actually a critique of Ptolemy’s book Almagest. He was the first to introduce experimental evidence as a requirement for accepting a theory since physics before him was more like philosophy, without experiment.
  2. Napoleon Bonaparte French Military bands were equipped with Ottoman war musical instruments such as zil (cymbal) and the kettledrums.
  3. Ziryab or blackbird has become a fashion trend setter; disseminate ethic, sound system (music), and three course menu.
  4. Baghdad with ‘House of Wisdom’ was the world’s richest city and center for intellectual development. In muslim countries a thousand years ago, the school was the mosque. One of the first lessons in writing was to learn how to write ninety-nine most beautiful names of God and simple verses from the Quran. After this, the Quran was studied thoroughly and arithmetic was added. By the 10th century, teaching was moving away from mosque and into the teacher’s house. This means that gradually schools developed, in Persia first.
  5. On 1066, Seljuk built the Nizamiyah school, named after its founder, Vizier Nizam al-mulk of Baghdad invade England. This was the first proper school that had a separate teaching building.
  6. By the 15th century, the ottomans had revolutionized schools by setting up learning complexes in towns like Bursa and Edirne in Turkey. Their school system was called, Kulliye, and constituted a campus-like education.
  7. This university (al-qarawiyin in Fez, Morocco) was built in 841 CE by Fatima Al Fihri. At the Al Qarawiyin mosque students didn’t pay fee and were given monetary allowances for food and accommodation. The teaching was in study group, known as The certificates known as ijaza.
  8. Terms ‘chair’ as professional position like the chair of board or a committee was evolved from professor who was seated on ‘chair’ or ‘kursi’ around the students
  9. A great refinement of muslim mathematicians of the indian system was the wider definition and application of the zero. Muslim gave it a mathematical property such as that zero multiplied by a number equals zero. Arabic numbers came into Europe by 3 sources : Gerbert (Pope Sylvester 1) in the late of 10th century, who studied in cordoba. Robert of Chester in the 12th century, who translated the 2nd book of Al khawarizmi. And Fibonacci in the 13th century, who inherited and delivered them to the mass population of Europe. Fibonacci learn of them when he was sent by his father to the city of Bougie, Algeria. He learnt mathematics from a teacher called sidi omar.

Saat ini, kita tidak mengenal siapa itu Al-Khawarizmi, Ibnu Khaytam, Ibnu Rusyd dan banyak lainnya. Buku pelajaran lebih banyak mengulas kehebatan Plato, Aristoteles dan segala yang berbau helenisme atau kemajuan teknologi barat yang dikomandoi oleh Galileo Galilei dan Nicolaus Copernicus.

Berbeda dengan opini barat yang selama ini sering meng–undervalue kejayaan islam dan kemajuannya, Tim Wallace-Murphy dalam sebuah buku berjudul ‘What Islam did for US‘ menekankan perlunya Barat mengakui bahwa mereka mewarisi sains Yunani dan lain-lain adalah atas`jasa para ilmuwan dan penguasa Muslim. Di masa kegelapan Eropa tersebut, orang-orang Barat secara bebas menerjemahkan karya-karya berbahasa Arab – tanpa perlu membayar Hak Cipta. Sejarawan Louis Cochran menjelaskan, bahwa Adelard of Bath (c.1080-c.1150), yang dijuluki sebagai “the first English scientist”, berkeliling ke Syria dan Sicilia selama tujuh tahun, pada awal abad ke-12. Ia belajar bahasa Arab dan mendapatkan banyak sekali buku-buku para sarjana. Ia menerjemahkan “Elements” karya Euclidus, dan dengan demikian mengenalkan Eropa pada buku tentang geometri yang paling berpengaruh di sana. Buku ini menjadi standar pengajaran geometri selama 800 tahun kemudian. Adelard dengan menerjemahkan buku table asronomi, Zijj, karya al-Khawarizmi (d. 840) yang direvisi oleh Maslama al-Majriti of Madrid (d.1007). Buku itu merupakan pengatahuan astronomi termodern pada zamannya. (Adian Husaini).

Jonathan Lyons, peneliti di Global Terrosim Research Center, menambahkan dalam bukunya ‘The Great Bait Al Hikmah’ bahwasanya kehadiran sains dan filsafat Arab, yang menjadi warisan Adelard si pelopor dan orang-orang yang segera mengikuti teladannya, berhasil mengubah Barat yang terbelakang menjadi penguasa sains dan teknologi. Perjumpaan dengan sains Arab ini bahkan menghidupkan kembali ilmu mengenali waktu yang lenyap di kalangan kristen barat pada awal abad pertengahan. Tanpa kendali akurat atas jam dan penanggalan, pengorganisasian rasional atas masyarakat mustahil terwujud.

Lalu bagaimana dengan kondisi sekarang?

Masih menurut Dr Adian Husaini, barat telah membawa banyak pengetahuan dari muslim. Parahnya, mereka mensekulerisasi pengetahuan tersebut sehingga jauh dari nilai-nilai agama. Fenomena tersebut berlangsung hingga saat ini. Tidak sulit kita menemukan seorang cerdas yang ateis. Tengok saja bagaimana Stephen Hawking tidak mempercayai adanya peran tuhan dalam penciptaan dunia. Kita perlu menyampaikan pada muslim di luar sana bahwa Islam tidak pernah memisahkan agama dan pengetahuan. Justru ilmu pengetahuan haruslah menopang kepentingan agama.

Dalam buku Misykat karya Dr Hamid Fahmi Zarkasyi diceritakan bagaimana tiga orang profesor pada tahun 2010 menerbitkan hasil riset tentang hubungan antara keimanan dan kecerdasan. Menurut hasil riset tersebut, semakin cerdas seseorang, ia semakin sekuler dan bahkan ateis. Sementara semakin bodoh seseorang, ia semakin religius. Sebuah data ilmiah yang cukup menohok. Mereka seolah menggiring opini bahwa negara-negara dengan tingkat religiuitas yang tinggi menghasilkan masyarakat yang bodoh.

Kenyataannya, sampel dari hasil riset tersebut tidak perlu dibantah dengan kengototan. Sampel kecil dari studi empiris yang kita alami sehari-hari sepertinya menunjukkan hasil yang bertolak belakang. Di sekolah-sekolah umum, siswa yang beraktifitas di organisasi kerohanian sekolah notabene mendominasi prestasi-prestasi akademik maupun non akademik. Belum lagi karya Dr Warsito yang berhasil menemukan alat tomografi hingga diminati oleh NASA. Kita juga tidak banyak mendengar sosok Khoirul Anwar yang memiliki paten teknologi 4G. Patut diketahui bahwa kedua orang ini hanyalah segelintir ilmuwan yang sholeh dalam ibadah dan juga memiliki prestasi dalam ilmu pengetahuan. Mereka tidak memisahkan antara agama dan science. Dan studi tersebut sudah dibantah berdasarkan pengalaman empiris. Namun jawaban yang lebih ilmiah telah dijawab oleh Dr Hamid Fahmi dalam bukunya, Misykat.

Jadi, tidak sepatutnya seorang muslim merasa rendah diri pada apa-apa yang terjadi di barat. Celakanya, sebagian besar kita (mungkin termasuk gue) adalah orang-orang yang kagum dengan barat bukan dari etos kerja atau budaya disiplin yang mereka punya. Kita lebih banyak mengimitasi budaya permisif sehingga membentuk pola pikir kebaratan hanya sebatas pada tatanan hedonisme.

Masih banyak lagi penemuan-penemuan muslim di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Yang ingin gue sampaikan adalah seorang muslim tidak perlu merasa inferior dengan kemajuan yang saat ini berkembang di barat. Bukan tidak mungkin, generasi kita atau generasi setelah kita akan kembali membangun sebuah House of wisdom jilid II yang akan menempatkan islam dalam kejayaan. Hanya saja, semua ilmu pengetahuan tersebut pada hakikatnya harus semakin mendekatkan diri kepada sang khalik bukan justru memisahkan ilmu dari tuhannya seperti yang saat ini berkembang pesat di barat sana.

 Sumber Gambar dari sini

Tagged: , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading House Of Wisdom Jilid II at I Think, I Read, I Write.

meta

%d blogger menyukai ini: