Hujan Tak Pernah Sama

April 15, 2014 § Tinggalkan komentar

rain

Hujan tak pernah sama. Suatu waktu rinainya menari menggelayuti ranting dan dedaunan. Ia betah berlama lama di sana. Enggan turun hingga bosan.

Kay, waktu itu kau yang bersikeras menggoyang rantingnya. Agar lekas goyah rinainya, ujarmu.

“Aku tak suka saat rasa bersemayam terlalu lama. Aku ingin ia bebas. Seperti kita. Rasa ini bukan cinta. Ia hanya rindu yang terpupuk oleh frekuensi temu“.

Kau juga kay yang bersikukuh menafikan apa yg kita rasakan. Atau mungkin lebih tepatnya apa yng aku rasakan. Karena hingga saat ini, saat dimana planet menjauhi orbitalnya, aku masih tidak mengerti apa yang kau pikirkan. Di saat yg sama kau tau seperti apa aku.

Lain waktu, hujan turun dengan derasnya. Turunnya tak malu-malu. Kala itu kita bersengaja diri meneduh di salah satu mesjid di sekitaran kebayoran. Kita tersenyum kecil sambil menahan malu karena kekonyolan kita adu lari menjangkau halte yang kita tuju.

Belom tampak halte, hujan turun lebih cepat. Kau mengeluh. Mengapa hujan terlalu digdaya. Kita berlari adu kencang. Kau lupa kerudung birumu basah kuyup oleh cipratan air yang terinjak oleh setiap deru. Aku pun lupa, sepatu yongki komaladi yang senantiasa kupakai kiniĀ lepek.

Ah kay, kala itu hujan bukanlah tandingan.

Aku aneh denganmu kay. Kau tak pernah membawa payung yang mampu menjagamu dari ganasnya air yg turun dari langit dengan pongah. Tapi suatu hari kau justru yang membuatku terdiam tanpa kata di saat hujan yang lagi tak sama.

“Sini, aku payungi kamu!!”

“Kay, kau bawa payung? Wah, tumben sekali”. Ujarku yang mash bingung dengan kelakuan Kay saat hujan kembali menyapa.

“Iya, aku bosan bermandikan hujan. Tidak setiap saat dia datang, aku hanya bisa pasrah. Menerima basah dengan tangn terbuka. Aku punya hak untuk memilih”.

“Kay, bukankah kau bisa berlindung di bawah gedung atau mengendap menikmati hangatnya latte di kafe terdekat hingga ia reda?”

“Kau tahu? Berlindung mungkin tidak akan membasahimu. Tapi sadarkah, berlindung tidak akan mengubah situasi. Apalagi untuk setiap orang yg punya tujuan dari setiap perjalanannya. Tembok tembok itu hanya menghalusinasi dan menghambat langkah”.

“Oke Kay, kau memang dilahirkan untuk berdebat. Kau cocok menggantikan Marty Natalegawa untuk berdiplomasi dengan negara tetangga atau mensomasi amerika yang berjalan di atas bumi dengan seenak jidat”.

Kali ini kau hanya diam. Menyesuaikan gerak kakiku, berjalan di bawah payung. Meniti setiap jalanan yang tergenang.

Hari ini aku memandangi hujan dari balik kaca. Perciknya jatuh tak berirama. Sesaat ia turun dengan perlahan namun selang seperkian waktu, ia lalu turun bak air bah untuk kemudian kembali meluruh menjadi gemericik mesra. Hujan hujan ini membawa memori yang dulu pernah kita sintesa.

Segelas coklat mencoba menghangatkanku hingga aku tertawa sendiri mengenang betapa dialog kita dulu sangat hidup. Kau seolah memberikan jiwa pada setiap penggalan kata. Aku hanya bisa terdiam mendengarkanmu bercerita dengan penuh semangat.

Kay, hujan ini tak pernah sama.

Dulu kita menikmatinya dengan sejuta pengharapan dan rasa. Kita sadar bahwa cinta yang kurasa hanya bisa diterjemahkan oleh rasa yang sama. Dan tak ada cinta tanpa ijab qabul yg mendahului. Kau bersikukuh.

Sepatu-nya tulus masih melantun merdu dari salah satu speaker di kafe ini. Tulus, kau juga yang mengenalkanku padanya. Waktu itu kau memaksaku menyukai Sewindu.

Sambil termangu dan bernyanyi mengikuti dentingan lagu, gelas coklatku diserobot oleh makhluk mungil dengan cincin emas putih tersemat di jari manisnya.

Kamu selalu mengenang hujan ‘kita’ mas?

Kau selalu cerdas Kay sayang!!

Sumber Foto :

Foto Danbo keujanan dari sini

Tagged: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Hujan Tak Pernah Sama at I Think, I Read, I Write.

meta

%d blogger menyukai ini: